Oleh: Gusti Sudiartama | Oktober 16, 2014

Konsep Ketuhanan Dalam Daksina Linggih

Pendahuluan

Dalam Pandangan Veda, agama Hindu meyakini bahwa Tuhan itu bersifat Monotheisme Transendent, Monotheisme Imanent, dan Monisme. Monotheisme Transendent, yaitu tuhan yang digambarkan dalam wujud yang Impersonal God (Tuhan yang tidak berpribadi).Tidak ada satu kekuatan apapun yang dapat menjangkauNya (Acintya) Monotheisme Imanent, yaitu penggambaran Tuhan sebagai Personal God (Tuhan yang berpribadi), dalam hal ini tuhan telah memiliki sifat, seperti; maha pengasih, maha penyayang, maha tahu dan sebagainya.

Dalam konteks penulisan ini penulis mencoba akan mengkaji Konsep Tuhan yang Imanent (Personal God), dan salah satu wujud dari tuhan itu digambarkan melalui simbol-simbol, seperti Daksina linggih sebagai salah satunya. Dalam Bhagavadgita, ada dijelaskan “ bahwa pemujaan Tuhan dengan menggunakan media jauh lebih mudah dan efektif dibandingkan dengan memujaNya tanpa media”. Karena dapat dilaksanakan oleh semua lapisan masyarakat, sebagai bentuk puja bhaktinya.

Pokok-pokok ajaran agama Hindu didasarkan atas berbagai tradisi. Di dalam bahasa kawi atau bahasa sanskerta pelaksanaan ini disebut drsta atau acara. Kebiasaan atau tradisi ialah tingkah laku manusia baik perorangan maupun kelompok masyarakat yang didasarkan atas suatu kaidah-kaidah hukum yang ajeg. Biasanya kaidah-daidah ini diikuti berdasarkan apa yang telah berlaku atau dilakukan oleh orang-orang tua yang dianggap sebagai sesepuh atau tingkah laku para Maharsi, atau orang-orang terkemuka yang merupakan tokoh-tokoh agama Hindu yang dianut mereka. Berdasarkan bentuknya sumber drsta atau acara ada yang bersumber pada kitab-kitab suci dan kitab-kitab agama Hindu lainnya yang dianggap suci.

Tingkah laku yang berdasarkan kaidah-kaidah tertulis di dalam kitab suci disebut menurut Sastra Drsta. Sebaliknya kaidah-kaidah yang diikuti berdasarkan kebiasaan yang tidak bersumber pada kitab suci melainkan berdasarkan kebiasaan-kebiasaan tempat setempat disebut loka drsta atau desa drsta. Loka Drsta ini lebih lazim disebut desa-acara (desacara). Desa ini dibeda-bedakan antara kula drsta (kula acara) dan warna acara. Kula acara ialah kebiasaan-kebiasaan yang diikuti oleh sekelompok keluarga dan merupakan tradisi keluarga. Dengan demikian di dalam satu daerah terdapat beberapa tradisi yang mungkin berbeda antara yang satu dari yang lainnya. Varna Acara yaitu tradisi yang diikuti oleh kelompok-kelompok masyarakat tertentu. Kelompok masyarakat ini secara tradisional disebut kelompok kasta atau di dalam ilmu sosial kelompok ini disebut kelas masyarakat (soscial group) menurut kekaryaannya. Menurut agama Hindu, kedua jenis drsta ini diakui adanya dan merupakan sistem sosial yang mengakibatkan individu dengan kelompoknya sebagai satu masyarakat yang disebut Dharma Santana, yaitu masyarakat yang hidupnya diatur berdasarkan Dharma atau Sanatana Dharma. Sanatana Dharma adalah nama lain untuk agama Hindu. Sanatana Dharma inilah nama asli Hindu. Adapun nama Hindu yang sekarang lazim dikenal di dunia ilmu dan telah dipergunakan sendiri karena nama itu diberikan oleh orang yang bukan Hindu. Nama itu diberikan kepada kelompok masyarakat yang memiliki agama dan tradisi Dharma itu. Karena mula-mula ajaran Dharma itu berasal dari lembah sungai Indrus (Sindhu), salah satu sungai yang besar yang terdapat di Pakistan. Ajaran Dharma itu dikenal dengan nama Indrus Culture atau kebudayaan lembah sungai Sindhu (Indus).

Di dalam pengucapan, perubahan lafal “S” ke “H” mempengaruhi ejaan Shindu menjadi Hindu yang kemudian ditulis Hindu hingga sekarang. Jadi istilah ini berasal dari penamaan orang luar.

Ajaran Dharma atau Sanatana Dharma yang sekarang kita kenal dengan Nama Hindu, berdasarkan pokok-pokok ajaran dan kaidah-kaidah beserta ibadahnya pada Drsta, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Kaidah-kaidah yang tertulis itu merupakan kaidah pokok yang mengatur apa yang harus dilakukan atau dihindari, apa yang baik dilakukan dan yang tidak baik dijalankan, yang dianjurkan dan ada pula yang bersifat umum dengan janji akan memperoleh pahala kalau dilakukan atau tidak dilakukan. Ajaran ini sangat luas dan banyak. Semua kaidah itu diajarkan dengan maksud tertentu yang merupakan tujuan atau hakikat dari hidup beragama. Tujuan ini secara definitip ditegaskan di dalam ajaran dharma (agama Hindu). Karena kepercayaan (Sraddha) inilah maka masyarakat Hindu menganggap bahwa Daksina Linggih dalam suatu sarana upacara ritual keagamaan yang berlangsung di masing-masing tempat suci (Pura) sangat diyakini sebagai perwujudan Tuhan yang akan disembah. Maka konsep ketuhanannya sangat kental pada masyarakat Hindu, khususnya agama Hindu di Indonesia.

Karena sifat keimanan di dalam agama bersumber dari sabda apakah itu wahyu atau dikatakan oleh orang terpercaya, karena itu agama adalah mencakup aspek agama pramana. Keimanan ini sangat luas dan dikembangkan terus. Keimanan ini ciri khas dari suatu agama. Agama diwarnai oleh sistem keimanannya. Keimanan disebut Sraddha. Bangunan suatu agama diwarnai oleh sistem keimanannya. Salah satu yang menonjol di dalam agama Hindu adanya ketentuan yang menganjurkan untuk memperkembangkan pokok-pokok keimanan itu. Pengembangan ini mempunyai konskwensi berkembangnya dan meluasnya isi keimanan, disesuaikan menurut adat dan tradisi setempat. Sraddha sebagai kepercayaan dirumuskan sebagaimana terbaca di dalam Atharvaveda XII,1.1;

“satyam brhad rtam ugram diksa, tapa brahma yajna prthivim dharayanti;
“sesungguhnya satya brhad rtam ugram diksa, tapa brahma dan yajna yang menyangga dunia”

Dengan sloka itu maka dijelaskan bahwa dunia ini ditunjang oleh Satya Rta, Diksa, Tapa Brahma dan Yajna. Adapun dharma yang menyangga dunia terdiri dari Satya Rta, Diksa, Tapa Brahma dan Yajna itu sehingga dengan demikian keenam unsur itu merupakan dharma yang memelihara kehidupan ini. Dalam Yayurveda XIX, 30 dan 77 yang mengatakan:

Sraddhaya Sathyam Apyate (dengan Sraddha orang akan mencapai Tuhan). Ssraddham Sathye Prajaptih (Tuhan menetapkan, dengan Sraddha menuju kepada (Sathya).

Dalam uraian lainnya dapat pula kita jumpai ketentuan yang mengatakan:

“Vratena diksam apnoti, Diksayapnoti daksinam, Daksinam sraddham apnoti, Sraddhaya satyam ayate”

Dari uraian itu, jelas bahwa Sraddha mempunyai kedudukan dan fungsi tertentu di dalam agama Hindu. Dengan berpedoman pada Sraddha itulah berbagai dasar pengertian keagamaan agama Hindu akan dapat dijelaskan. Karena itu Sraddha adalah kerangka dasar yang membentuk berbagai ajaran di dalam agama Hindu yang perlu diyakini dengan penuh pengertian.

Bentuk, Mutu, dan Fungsi Upakara Daksina Linggih

Daksina Linggih mempunyai bentuk yang sangat artistik, yang dibuat dengan menggunakan bahan-bahan pilihan yang terbaik sesuai dengan tujuannya, yaitu untuk persembahan dan sekaligus untuk disembah sebagai simbol Hyang Widhi/ Tuhan Yang Maha Esa. Mutu Daksina Linggih ditentukan oleh cara pembuatannya, bahan-bahan yang dipergunakan diharapkan menggunakan bahan yang bermutu dan cara membuatnya dilandasi dengan pikiran yang suci.

Mutu upacara yajna: Dalam pustaka suci (Bhagavadgita XVII.11-13) disebutkan ada tiga sifat yajna yaitu:

Yajna yang bersifat sattvika ialah yajna yang dilaksanakan menurut petunjuk kitab-kitab suci, yang dilakukan tanpa mengharapkan pahala dan percaya sepenuhnya bahwa upacara ini dilaksanakan adalah sebagai tugas dan kewajiban. Upakara yajna ini dapat dikatakan sattvika jika dalam pelaksanaannya terdapat unsur-unsur yang melengkapi seperti, sraddha yaitu penuh dengan tuntunan sastra, mantra yaitu ada sulinggih yang memuput, ada gita yaitu kidung-kidung suci yang dikumendangkan, ada daksina yaitu pemberian kepada yang memuput upakara, nasmita yaitu tidak ada unsur pamer, lascarya yaitu dilakukan dengan ketulusan hati dan anasewa; ada jamuan makanan kepada pemedek yang hadir. Jika semua ini terpenuhi barulah yajna bisa dikatakan sattwika.

Yajna yang bersifat rajasika: ialah yajna yang dilaksanakan dengan penuh kemegahan, hanya semata-mata menonjolkan kemampuannya atau keakuannya.

Yajna yang bersifat tamasika yaitu yajna yang dilaksanakan tidak melalui aturan, tanpa mantra, tanpa daksina, tanpa menghidangkan makanan dan tanpa keimanan.

Penggunaan Daksina dalam Upacara Deva Yajna.

Dalam Pujawali atau Piodalan di Pura Agung Tirtha Buana selalu menggunakan sarana Daksina Linggih sebagai simbol untuk pemujaan Yang dimaksud dengan penggunaan daksina di sini adalah peran serta fungsi daksina itu sendiri dalam upacara Deva Yajna. Mengingat penggunaan daksina dalam upacara Deva yajna cukup banyak, baik jumlah maupun jenisnya dan hampir setiap upacara Dewa yajna menggunakan daksina, maka penulis akan mencoba untuk memaparkan sesuai dengan keterbatasan kemampuan, kegunaan daksina dalam upacara Deva Yajna saja, yang sesuai dengan penelitian dan kajian yang telah ditetapkan, dengan harapan dan tujuan tidak akan terjadikesalahan pemaknaan. Ada beberapa fungsi Daksina Linggih dalam upacara, yaitu:

Daksina Lingggih/pralingga atau Tapakan yang berarti Sthana Yang artinya tempat duduk. Hal ini dapat kita jumpai pada waktu kita melaksanakan upacara Dewa yajna yaitu disebut upacara nedunang Bhatara. Upacara ini adalah merupakan upacara permohonan kehadapan Ida Bhatara (Deva sebagai manifestasi Hyang Widhi) agar beliau berkenan turun hadir di pura tersebut sedang melaksanakan pujawali/ piodalan, untuk memberikan waranugraha, menerima an menyaksikan pelaksanaan upacara yajna yang berupa persembahan oleh umatnya. Adanya istilah Ida Bhatara Tedun (turun) ke pura adalah karena keyakinan umat Hindu bahwa alam Dewata yang suci itu berada di atas alamnya manusia yakni di alam Svah Loka (sorga).

Upacara Ngenteg Linggih, ialah upacara mensthanakan Ida Bhatara pada Daksina pelimggih yang telah dipersiapkan sebelumnya dan sekaligus memohon perkenan beliau untuk berada atau duduk di Pelinggih (bangunan suci) masing-masing. Melalui upacara Nedunang dan Ngelinggihan ini nejadikan umat Hindu semakin mantap dapat merasakan kehadiran Hyang Widhi dalam rangka menyaksikan dan menerima yajna dari umatnya.

Daksina Linggih tempatnya disebut bedogan yang terbuat dari janur. Kemudian bedogan tersebut dialasi wakul/ bakul dari bambu yang bentuknya menyerupai selinder, di samping wakul dari bambu masih diberi alas bokor, yaitu sebuah tempat yang menyerupai mangkok yang terbuat dari emas, perak atau bahan dari logam lainnya. Selanjutnya diberi serobong yang terbuat dari daun janur atau ental (daun lontar), adapun gegantusan isinya terdiri dari tampak, beras, benang tukelan, kelapa, , pesel-peselan, bija ratus, pisang, telur itik, uang kepeng, khusus untuk daksina linggih/pralingga selain uang kepeng yang ditempatkan di kojong, juga menggunakan uang kepeng yang diikat sedemikian rupa sehingga membentuk lingkaran, jumlahnya 225 buah untuk landasan bawah yang disebut lekeh.

Delengkapi dengan canang payasan yang tempatnya berbentuk segi tiga (ituk-ituk) dilengkapi dengan porosan, merupakan unsur terpenting yang dibuat dari daun sirih, irisan pinang, dan kapur. Ketiga bahan ini digabung menjadi satu diikat denga janur, lalu di atas porosan ini diberi bunga segar dan harum. Bagian luarnya yaitu bedongannya diberi wastra (kain putih kuning seperti layaknya kita memakai kain).

Daksina Linggih ini dilengkapi dengan peperai/ wajah/ muka, bisa terbuat dari janur yang menyerupai cili (berbentuk kipas) atau daun lontar yang dibuat sifatnya permanen dengan maksud bisa disimpan dan dapat dipergunakan pada waktu kesempatan lain. Model atau bentuknya bisa dibuat bermacam-macam sesuai sesuai dengan seni yang membuatnya.

Untuk peperai (bentuk/ wajak/ muka) ini bisa juga dibuat dari bahan kawat, bentuk ini pada kelompok upakara dikenal dengan nama dendeng ai. Bentuk lain dari pererai ini bisa juga dibuat dari lempengan kayu cendana, lempengan logam seperti perak, emas, yang mengembil bentuk lebih riil, yaitu dibuat atau dilukis seperti muka manusia ada mata, alis, mulut dan sebagainya. Kemudian dihias dengan menambahkan bunga-bunga segar yang berwarna putih kuning atau bunga yang dibuat dari emas atau perak. Dengan tambahan kain atau wastra, pererai yang dihias membuat Daksina Linggih berbeda dari daksina alit/ kecil pada umumnya dalam penampilannya. Daksina Tapakan/Linggih pada umumnya dipergunakan pada waktu ada pujawali/ Piodalan di pura-pura. Biasanya daksina ini diletakkan di depan padmasana atau pada bangunan suci di pura yang sedang melangsungkan upacara piodalan.

Daksina sebagai simbol Hyang Tunggal/ Hyang Guru:

Membuat sarana perlengkapan daksina yang begitu lengkapnya sehingga dianggap cukup untuk mewakili isi seluruh alam semesta yang ada. Maka dengan demikian daksina diartikan sebagai satu kesatuan dan sekaligus sebagai simbol Hyang Tunggal atau Hyang Guru sebagai manifestasi dari Deva Siva sebagai penguasa alam semesta ini.

Daksina sebagai sarana persembahan dalam upacara Yajna:

Daksina adalah sarana perlengkapan yang paling penting dari beberapa jenis upacara Yajna. Sebesar dan semegah apapun pelaksanaan upacara Dewa Yajna, tanpa menggunakan sarana daksina, maka upacara itu belum dianggap sempurna karena menggunakan daksina dianggap sebagai media untuk mendekatkan diri dan mewujudkan kuasa Tuhan, agar tercipta hubungan manusia sebagai bakta yang akan menyembah Hyang Widhi/ Tuhan Yang Maha Esa yang akan disembah.

Daksina sebagai cetusan rasa terima kasih:

Daksina dipersembahkan oleh para baktanya, untuk menyampaikan rasa angayubagia kepada Hyang Widhi beserta manifestasiNya, karena apa yang dimohon bakta dalam melaksanakan dharmanya sehari-hari sebagai umat Hindu mendapatkan sesuai yang diinginkan. Fungsi lain dari daksina ini adalah sebagai sarana untuk media menyempaikan terima kasih kepada para sulinggih atau para pinandita yang ditugaskan untuk melaksanakan/ memuput upacara, juga sebagai bukti rasa bhakti para umatnya disatu sisi merupakan bentuk pelayanan para pandita dan pinandita kepada umatnya.

Daksina untuk memohon keselamatan

Sebagai manusia yang sangat menyadari bahwa jauh dari sempurna, sehingga manusia tidak akan luput dari kesalahan/ khilap serta segala kekurangan-kekurangan, kesalahan dan lupa karena keterbatasan pikiran maka perlu melaksanakan permohonan keselamatan. Khususnya bagi para tukang banten (Serati Banten) kehadiran banten daksina sebagai Sthana Hyang Widhi mutlak sangat diperlukan. Hyang Widhi sebagai manifestasiNya Sang Hyang Devi Tapeni/ Bhatari Tapeni (Devanya Serati Banten) untuk memohon bimbigan keselamatan, dalam melaksanakan pembuatan banten untuk upacara Deva Yajna tidak sampai melakukan kesalahan akibat keterbatasan pikiran seperti, kelupaan. Kebingungan dan lain sebagainya. Para Serati Banten biasanya jika akan membuat sarana bebantenan untuk upacara/ upakara maka akan meletakkan daksina disertai perlengkapan banten yang lain diletakkan di mana sudah disiapkan tempat banten/ pelangkiran di mana para Serati Banten akan bekerja untuk membuat banten. Daksina tidak saja diperlukan oleh Serati Banten, tetapi juga bagi tukang-tukang lainnya seperti tukang unagi bangunan, tukang terang, tukang membuat gayah, tukang gamelan, tukang ukir dan lain-lain yang semua tujuannya untuk ngaturang piuning supaya dalam melaksanakan tugasnya mendapat bimbingan dan keselamatan oleh Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa.

Daksina sebagai Upasaksi (Lambang Hyang Guru):

Pengertian upasaksi terdiri dari dua suku kata, yaitu upa dan saksi, upa dapat diartikan sebagai perantara dan saksi dapat berarti mengetahui. Jadi upasaksi dapat mengendung pengertian sebagai sarana untuk diketahui atau mempermaklumkan, dalam hal ini kepada Hyang Widhi dengan manifestasiNya. Tempat untuk menghaturkan banten upasaksi biasanya dibuat khusus yang diberi nama Sanggar Upasaksi, Sanggar Surya atau bisa juga Sanggar Tawang tergantung besar kecilnya upacara yang dilaksanakan. Sanggar Tawang bisa juga disebut Sanggar Agung biasanya dibentuk bangunan temporer dari bambu petung atau batang pinang yang sudah dikupas terlebih dahulu.

Bentuknya dibikin sederhana ruang atas yang dibagi menjadi tiga ruangan, apabila memakai satu ruangan maka disebut Sanggar Surya. Maka sesuai dengan namanya, maka Sanggar Tawang berarti sthana di angkasa, dan fungsinya adalah untuk mensthanakan Hyang Widhi sebagai aspeknya, sebagai Sang Hyang Catur Lokapala atau Hyang Tri Murti. Oleh umat Hindu sangat diyakini bahwa sthanaNya yang abadi berada di luhuring akasa (di atas angkasa).Setiap aktifitas ritual umat Hindu dari pelaksanaan upacara yang sederhana (nista) sampai ketingkatan upacara yang besar (utama) senantiasa dibuatkan Sanggar Surya atau Sanggar Tawang untuk memohon kehadiran Hyang Surya guna menyaksikan ketulusan hati umatnya yang sedang melaksanakan upacara/ Yajna.

Sebagai upasaksi, banten daksina dijadikan sthana Hyang Widhi, apabila banten daksina tersebut diletakkan pada Sanggar Surya atau Sanggar Tawang sebagai upasaksi, maka sudah jelaslah fungsinya. Biasanya banten daksina di Sanggar Surya atau di Sanggar Tawang tidak berdiri sendiri, tetapi melengkapi atau menyertai banten-banten yang lainnya, seperti banten pejati, banten peras, banten dewa-dewi, catur, suci dan banten lainnya.

Daksina sebagai banten pelengkap.

Mengingat daksina sebagai pelengkap banten-banten lainnya seperti banten pejati, banten pebangkit, banten pulegembal, dan masih banyak lagi banten yang lainnya yang tidak penulis sebutkan satu-persatu. Hal ini disebabkan karena upacara/ upakara atau banten yang digunakan dalam suatu upacara merupakan satu kumpulan ari beberapa jenis banten yang disebut soroh dan setiap soroh hampir selalu menggunakan daksina sebagai runtutannya. Adapun kedudukan daksina yang selalu menyertai banten-banten yang yang lain adalah karena memang unsur yang terdapat dalam daksina sangatlah lengkap, selain itu daksina merupakan kekuatan atau saktinya suatu Yajna. Dengan kata lain suatu upakara Yajna akan menjadi sempurna apabila ada daksinenya. Lebih jelas kita lihat pada upacara Deva Yajna, seperti melaspas, mecaru, Ngenteg Linggih, Upacara Pujawali, Panca Walikrama dan Eka Dasa Rudra. Adapun urut-urutan rangkaian upacara yang umum dilaksanakan adalah sebagai berikut:

Upakara Ngatur Piuning memulai karya (Nuasin Karya), upakara Nuur (Mendak) Tirtha, upakara untuk Serati Banten (ngelinggihang Sang Hyang Tapini) yaitu Devanya Serati Banten, Upakara RsiBijana, Upakara Mapapada (pada Sanggar Pesaksi) yang ditujukan kehadapan Siwa Raditya dan Giripati, dan upakara di bale Pawedan. Adapun banten daksina yang digunakan disesuaikan dengan besar kecilnya upakara (nista, madya, utama). Namun umumnya pada upacara Deva Yajna dapat penulis sebutkan di atas masih kebanyakan menggunakan daksina gede atau daksina pemogpog di samping daksina pelinggih dan daksina alit.

Daksina sebagai sarana penebusan :

Daksina juga berfungsi sebagai penebusan atas kekurangan alam upakara yang dilaksanakan, terletak pada sesari/ uang. Selain itu uang sesari yang mengandung juga makna simbol ketulusan hati/ sarining manah. Ada juga yang menyebut daksina pemogpog yang mengandung makna sebagai menutup bilamana dalam melaksanakan upakara yajna ada kekurangan, maknanya hampir sama yaitu untuk penebusan.

Penggunaan Daksina Linggih sebagai pralingga di dalam memuja Hyang Widhi/ Tuhan Yang Maha Esa dilandasi oleh konsepsi Ketuhanan yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Kalau pada jaman Empu Kuturan di Bali pemujaan pada Hyang Widhi baru hanya sampai tingkat manifestasi beliau yang disebut Dewa atau Bhatara. Maka sejak kedatangan Dangn Hyang Dwijendra ke Bali pemujaan kepada Hyang Widhi bukan saja melalui Deva/ Bhatara yang merupakan prabawa atau sinar suci dari Hyang Widhi dapat diwujudkan dalam imajinasi manusia sehingga diproyeksikan wujud konkrit dalam benda suci yang disebut arca/ pratima sebagai ekspresi imaginasi abstrak manusia tentang wujud beliau. Maka arca/ pratima itu berfungsi sebagai pralingga Deva/ Bhatara.

Daksina Pelinggih adalah sebagai Pralingga Hyang Widhi yang merupakan pengganti dari arca atau pratima. Daksina Pelinggih mempunyai makna religius karena merupakan simbulnya dari Hyang Widhi atau merupakan simbolis miniatur kosmis pralingga Hyang Widhi. Hal ini dilandasi karena Tuhan bersifat Acintya yang sangat sulit dibayangkan oleh manusia, karena itu Daksina Pelinggih sebagai miniatur osmis pralingga Tuhan.

From: “wayan sudarma”
Date: Mon, January 23, 2006 5:39 pm

Oleh: Gusti Sudiartama | Oktober 16, 2014

TATANAN UPACARA MEKINGSAN DI GNI

PENDAHULUAN

Upacara Sawa Preteka Mapendem Ring Geni adalah bentuk upacara pembakaran bagi jenasah yang baru meninggal dunia, tetapi belum dapat disebut Ngaben. Cara ini ditempuh bilamana:

  1. Kekurangan biaya ngaben.
  2. Bila masih ada panglingsir sang lina yang belum diaben.
  3. Ada rencana dalam waktu dekat akan ngaben bersama keluarga lain.
  4. Sang lina tidak boleh di-pendem di pertiwi karena ketika hidup menjadi Pamangku, Dalang, dll.
  5. Untuk menghindari beberatan cuntaka karena keluarga akan mengadakan upacara Dewa Yadnya dalam waktu dekat.
  6. Sang lina berada jauh dari keluarga.

Dalam Lontar Tattwa Kepatian disebutkan bahwa status Atma dalam upacara Mapendem Ring Geni sama dengan Mapendem Ring Pertiwi di mana batas waktu untuk upacara Ngaben selambat-lambatnya satu tahun.

Jika tidak maka “kepastu” oleh Bethara Yama; tulang atau arang/ abunya akan berbadan Bhuta Cuil dan Atma menemui kesengsaraan yang mana mengakibatkan keluarganya hidup menderita.

URUTAN UPACARA DAN UPAKARA YANG DIGUNAKAN

  1. Mabersih.

Jenasah diturunkan ke pepaga yang sudah dialasi tikar dan ada bantal di bawahnya diisi jinah kepeng satakan lalu di atas sawa dipasang leluhur kain putih, pakaiannya dilugar kemaluannya ditutup (kalau laki-laki ditutup dengan kain dan daun tuwung bola, kalau perempuan ditutup dengan kain dan daun tunjung).

Selanjunya disiram dengan air, disabuni, dikramas, diberi bablonyoh putih-kuning, disiram dengan yeh kumkuman, selanjutnya mulutnya dikumuri air, disisig.

Rambut diminyaki, disisir yang rapi. Kuku dikerik dan kerikannya dibungkus daun dapdap ditaruh diteben sawa.

Menempatkan sarana-sarana: daun intaran di kedua alis, pusuh menuh di hidung, kaca di mata, waja digigi, sikapa di atas dada, serbuk bebek di atas perut, malem di telinga, daun terung bola di atas kelamin laki-laki atau daun tunjung di atas kelamin perempuan.

Kedua jempol kaki diikat benang putih, tangan sikap amusti diisi kwangen dengan uang kepeng 11, monmon mirah dimasukkan ke mulut, beberapa kwangen diletakkan di tubuh sbb.:

  • Kwangen berisi pucuk dapdap ditaruh di jidat menghadap ke bawah
  • Kwangen berisi uang kepeng 11 ditaruh di dada menghadap ke atas
  • Kwangen berisi uang kepeng 9 dan bunga tunjung ditaruh di ulu hati menghadap ke atas
  • Kwangen berisi pucuk bunga cempaka putih ditaruh di tangan kanan-kiri, kaki kanan-kiri

Sawa diperciki tirta pelukatan/ pebersihan. Setelah itu sawa digulung dengan kain putih dan tikar kalasa, dilante dan diikat kuat. Di atas pengulungan ditaruh daun telujungan dan kain putih secukupnya dan tatindih.

  1. Nyumbah.

Sawa diangkat digelindingi telur ayam mentah, lalu preti sentana masulub di bawah sawa.

  1. Persembahan.

Sawa ditidurkan di bale, dihaturi soda dan tataban. Upasaksi ke Surya banten suci satu soroh. Banten ditatabkan ke sawa, kemudian preti sentana menyuapi soda dengan daun dapdap menggunakan tangan kiri.

  1. Pembakaran.

Pada hari “dewasa” yang baik sawa diusung ke setra setelah melewati caru aperancak. Meprasawya tiga kali masing-masing: di depan rumah, di perapatan agung, di cangkem setra, dan di pamuunan.

Sawa diletakkan di atas pemasmian, lante dan penutup wajah dibuka, di atas dada sawa ditaruh banten: nasi angkeb, bubuh pirata. Kepala sawa diperciki tirta-tirta: pelukatan, pabersihan, pengentas, merajan suwun, kawitan, kahyangan tiga.

Setelah itu sawa dibakar dengan cita ageni Ida Pandita dan api biasa. Bila tulang sudah jadi arang, sirati dengan tirta panyeeb, lalu gelari caru geblagan.

Ambil kuskusan baru, semua arang tulang diambil ditaruh di atas kuskusan. Cuci/siram dengan air sampai bersih, terakhir siram dengan yeh kumkuman.

Arang tulang yang sudah bersih dibungkus kain putih diikat dan dibentuk seperti kepala manusia, dialasi bokor, dihias dengan pakaian putih kuning, destar, bunga dll. Bokor itu lalu disangkol preti sentana dan dihadapkan ke banten ayaban.

  1. Banten di Setra.

Banten di sanggar surya sama dengan diarepan Pandita yaitu suci asoroh dan pasipatan. Pengayatan ke kahyangan tiga suci tiga soroh, Prajapati suci satu soroh, Sedaan bangbang suci satu soroh. Banten tarpana terdiri dari suci satu soroh, nasi angkeb, bubur pirata.

  1. Nganyut ke Segara.

Setelah Ida Pandita selesai mapuja, dilanjutkan dengan pamuspaan dan nyumbah sang lina, matirta dan mabija, lalu yang nyangkol arang tulang bangun, mundur tiga langkah, maprasawya keliling pamuunan tiga kali, terus menuju ke segara.

Sampai di segara diadakan pemujaan kepada Bethara Baruna dengan suci satu soroh. Setelah itu arang tulang ditenggelamkan di laut. Upacara ngulapin dengan rantasan dan banten suci satu soroh.

  1. Nangkilang ke Jabaan Pura Dalem.

Rantasan dibawa ke jabaan Pura Dalem, dihaturi piuning kepada Ida Bethari Durga dengan suci satu soroh. Kemudian rantasan diampigang. Para pelayat kembali ke rumah duka.

  1. Macaru, Mapepegat, Mabeakala, Maprayascita.

Agar supaya tuntas, maka setelah acara nomor 7 langsung diadakan upacara macaru abrunbunan di rumah duka, diteruskan dengan mabeakala, maprayascita, dan mapepegat oleh semua keluarga. Dengan demikian maka keluarga sudah langsung bebas dari cuntaka.

REKAPITULASI UPAKARA YANG DIGUNAKAN

  1. Papaga, tikar kalasa, kain putih, jinah satakan, daun tuwung bola, daun tunjung, bablonyoh putih-kuning, yeh kumkuman, sisig, minyak rambut, sisir, daun dapdap, daun intaran, pusuh menuh, kaca, waja, serbuk bebek, malem, benang putih, mirah monmon, kwangen dengan: jinah 11 dua buah, jinah 9 satu, kwangen dengan bunga pucuk dapdap, kwangen dengan bunga tunjung, kwangen dengan pucuk bunga cempaka putih empat buah, lante, daun telujungan, tatindih, tali pengikat lante tiga buah, telur ayam mentah satu.
  2. Banten sorohan suci = 12, Soda = 1, Segehan aperancak = 3, Nasi angkeb = 2, Bubuh pirata = 2, Kuskusan nasi baru = 1, Bokor perak = 1, Yeh kumkuman = 1 ember, Pasipatan = 2, Caru abrunbunan = 1, Beakala = 1, Prayascita = 1, Papegatan = 1
  3. Tirta-tirta: palukatan, pabersihan, pangentas, merajan suwun, kawitan, kahyangan tiga, panyeeb, beakala, prayascita, banten, caru.
Oleh: Gusti Sudiartama | Oktober 16, 2014

Sekilas Sasana Kepemangkuan

SASANA: ETIKA DAN TUGAS PEMANGKU

  1. Pendahuluan

Bila kita perhatikan kegiatan keagamaan di Bali tidak lepas di dalamnya terkandung suatu ajaran mengenai etika, susila, upakara dan tampaknya aktivitas upakara dan upacara yang sangat mendominasi aktivitas kegiatan sehari-hari oleh umat Hindu di Bali. Dalam kegiatan tersebut diperlukan seorang yang diyakini mampu untuk memimpin upacara tersebut sesuai dengan tingkat upacara, untuk kegiatan tingkat upacara kecil dan menengah diperlukan seorang pemangku untuk mengantar pelaksanaan suatu upacara.

Dibalik hal tersebut di atas sebenarnya pemangku juga sangat berperan penting di dalam menuntun umat dalam memahami ajaran agama Hindu, dimana di jaman global dan informasi, seorang pemangku dituntut untuk bisa mampu membina umat terutama kepada generasi muda yang merupakan generasi penerus dalam pengemban ajaran agama Hindu, sehingga para generasi muda betul-betul memahami agamanya sendiri dan tidak terjerumus terhadap hal-hal yang negatif. Seorang pemangku diharapkan dapat meningkatkan kualitas penghayatan serta pengamalan ajaran agama sehingga diperlukan pembekalan yang cukup bari para pemangku maupun calon pemangku.

Melalui tulisan ini tanpa bermaksud untuk menggurui, diharapkan dapat membuka cakrawala dan menambah wawasan seorang pemangku maupun calon pemangku sehingga dapat mengetahui peran, tugas dan tanggung jawab sebagai pemangku dalam arti seorang pemangku tidak semata-mata bertugas menghaturkan upakara saja (dari satu sisi saja) tetapi yang utama adalah menuntun umat agar memahami hakikat ajaran agama Hindu.

  1. Pengertian

Pada umumnya kita di Bali mendengar kata pemangku (Jro Mangku) memang hal yang sudah biasa, namun perlu kita ketahui apakah yang terkandung tersirat dari makna kata yang terkandung didalamnya pada bagian ini kita akan bahas dari beberapa sumber yang menyebutkan makna dari kata pemangku. Menurut lontar Widhi Sastra kata pemangku diuraikan menjadi ‘Pa’, bermakna “Pastika pasti”, yang artinya paham akan hakikat kesucian, dan kata ‘Mang’ bermakna “Weruh ring titining Agama” artinya paham mengenai pelaksanaan ajaran Agama. Mengingat ‘Mang’ sebagai suku kata aksara suci Dewa Iswara atau Siwa sendiri sebagai guru niskala bagi warga desa, beliau juga dijuluki sebagai Sanghyang Ramadesa. ‘Ku’ bermakna “Kukuh ring Widhi” yang artinya teguh dan konsisten berpegangan kepada Tuhan/ Ida Sanghyang Widhi.

Kemudian dari kata Widhi, diperoleh suku kata ‘di’ yang artinya “dina” (hari), dari kata ‘dina’ diperoleh suku kata ‘na’ artinya “amertha” (sumber kehidupan) dari kata amertha diperoleh suku kata ‘ta’ artinya “toya” (air), dari kata toya diperoleh suku kayaa ‘ya’ artinya “jati jatining kaweruhan ring kahananing bhuana agung muang bhuana alit (hakikat pengetahuan mengenai bhuana agung dan bhuana alit).

Dalam Lontar Sukretaning Pamangku, dinyatakan bahwa pemangku adalah perwujudan I Rare Angon (Dewa Gembala/Pengangon) yang merupakan perwujudan dari Dewa Siwa seperti dinyatakan sebagai berikut”

‘Ikang sukretaning pamangku ring khayangan, wnang tegesin pamangku kawruhakena kang mawak pamangku ring sariranta. I Rare Angon mawak pamangku ring sariranta’.

Dalam beberapa sumber lain pengertian Pemangku berasal dari bahasa Jawa Kuno, dari kata ‘pangku’ berubah menjadi kata amangku, mangku, pinangku, kapangku, yang berarti memangku, mengangga, menopang, membawa pada kedua tangan di depan dada (Zoetmulder, 1995:750). Dalam bahasa Bali, kata ini berarti nampa, menyangga, memikul beban atau memikul tanggung jawab sebagai pelayan atau perantara anatara yang punya kerja dengan Ida Sanghyang Widhi, dengan kata lain yakni orang yang menerima tugas pekerjaan untuk memikul beban atau tanggung jawab sebagai pelayan Sanghyang Widhi Wasa sekaligus sebagai pelayan masyarakat (Suhadana, 2006:6).

Menurut Keputusan Mahasabha Parisadha Hindu Dharma Indonesia II tanggal 5 Desember 1968, yang dimaksud dengan pemangku adalah mereka yang telah melaksanakan upacara yadnya pawintenan sampai adiksa widhi, tanpa ditapak dan amari aran.

Dengan berpedoman pada sastra di atas, bahwa seorang pemangku tugas pokoknya tidak cukup memberikan pelayanan kepada umat dalam rangka menyelesaikan upacara yajna saja, pemangku juga wajib menjaga kesucian diri baik untuk pribadi maupun orang lain mengingat beliau merupakan perwujudan Siwa sekala, atau Siwaning desa pakraman, sebagai pengembala umat yang bertugas menuntun umat setiap hari dalam rangka pencarian hakikat sang diri demi terwujudnya kerahayuan jagat.

Dalam aspek yuridis formal seorang pemangku adalah orang-orang yang masih tergolong ekajati, mengingat upacara penyucian sebatas mapadengen-dengenan dan pawintenan.

  1. Hakikat Pemangku

Iki Sukretaning Pemangku:

‘iki sukretaning pemangku ring kahyangan wnang tegesing pemangku kawruhakena kang mawak pemangku ring sariranta. I Rare Angon mawak pemangku ring sariranta. Saisining bhuana agung bhuana alit ring sariranta magenah ring pangantungan hatinta ngaran. Ika ngaran I Rare Angon wruh ring sakwehing Dewa mwang maka ratuning sariranta. Mwang bhuta kala ring sariranta sami padha kawengku dening I Rare Angon.

Kunang yang ring bhuana agung ngaran pemangku, hana sunya maha rata, tan hana paran paran, paran ikang kabeh, kabeh nora hana, hana windu suwung, ika mayoga mijil ikang padma nglayang, ikang padma masarira Taya, ngaran madya asana, sang hyang malengis ngaran, sanghyang ananta wisesa ngaran Sanghyang Murtining luwih ngaran, kami nimitaning hyang kabeh, guruning hyang guru ngaran, lwirnya alit tan hana alitan, luhur tan hana luhuran, maraga bhatara Suci Suksmaning Hyang, hyang ning hyang ngaran, sakalwiring hyang kabeh sami kawengku dening Sanghyang Murtining luwih.

Anghing haywawera, bwat apadrawa denya, hana pawekasing bhatara ring pemangku, yan rawuh patatoyan Ida Bhatara ring madyapada, raris angicen bajra patatoyan, maka wruh ikang pemangku, kawit kretaning pemangku nora angagem bajra, nora wruh ring kapamangkuan, angaru-ara sira dadi pemangku, angiya-ngiya sira ngaran, kena sapaning bhatara, meh tumbuh edan, karogan-rogan, anyolong angedih-edih ring pisaga.

Yan ngastawa Bhatara aseha-seha nora turun Ida Bathara, apan sira tan eling kawit kandaning pamangku, angganggo lobha angkara, undura cara kita, kalinganya tan menget ring agamaning bhatara, tuhu sira dusun angger, Ida Pamongmong ngaran.

Iki wenang tegesing tingkahe angagem kapemangkuan, kunang yajna sregep angangge pustaka iki, tirunen sira mangku sang kulputih’.

Iki ling ning Widhi Sastra:

‘Yan hana pemangku durung adhiksa widhi muang katapak de sang Pandita Putus, tan kawenangan mabebajran, amada-mada sira mangku sang kulputih, tinemah pwa sira denira sang kulputih. Jahtasmat tan manadi jadma mwah, tan mangku ngaku mangku, yan sampun adhiksa widhi katapak dening Sang Pandita Putus, wenang sang pemangku mabebajran, mwang ngaloka pala sraya, maka walining yajna, wenang pemangku nyirating sawangsa ring pakraman. Sang mangku wenang ngawalinin yajna manut panugrahan saking Sang Nabe/Guru’.

Ling ning Kusuma Dewa:

‘Iki uttamaning pemangku, yening mangku jagat, mangku dalem ngaranya, wenang masuci purnama mwang tilem, nganggehang brata, tapa yoga, samadhi, satya ring tingkahing kadharman, mangkana tingkahing mangku jagat’.

‘Yan nora pageh ngalaksanayang kadharman, mangku sira mangku sorbet ngaran, kawenangan sira lumaku ring sor, tan kawenangan sira ngangge pustaka, kawenangan sira kabasa mangku, cantule sira nampi, dudu weruh ngaku weruh, tuhu sira dusun, salah tampen’.

‘Iki ngaran Kusuma Dewa panganggen nira sang mangku jagat, kawenangan pinaka nyuci adnyana nirmala, ngaran nare pinaka raga, bahu pinaka sirah tripada, sirah siwambha madaging tirtha, ring selaning lelata, Ongkara sumungsang pinaka candana, citta nirmala pinaka bija, sucining awak pinaka dipa, nitra manis pinaka dupa, ujar tuwi rahayu mangenakin pangrengenta, Agni ring Nabi, pinaka sekar tunjung, kucuping tangan kalih pinaka gentha, tutuknya pinaka hyang ngaran, saika tingkahing amuja, samangkana sang mangku jagat’.

‘Iki kaweruhaken tingkahing dadi mangku, wenang sor wenang luhur, sira mangku, kaya iki sira mangku kaweruhung aji, angganing sapta jati, sapta ngaran pitu, pitu ngaran pitutur, pitu ngaran putus, tus ngaran tas, tas ngaran tatas, ring daging raga sariranta’.

Ling ning Adhi Purwa Gama Sesana

‘Yan hana wwang kengin kumaweruha ri kahananing Sang Hyang Aji Aksara, yogya ngupadhayaya awak sarisanya ruhun, lumaksana tan kaharuning letuh, lamakana weruh ri jatining manusa, wenang sira mawinten rumuhun, mwang katapak denira Sang Guru Nabe, apan sira Sang Guru Nabe bipraya angupadhayaya, mwang nuntun sang sisya kayeng kawekas. Mawastu mijil saking aksara ngaranya’.

‘Yan hana wwang kengin kawruha ri kahananing sang hyang aji, tan mangupadhayaya, tan maupakara, tan matapak mwah tanpa guru, papa ikang wwong, yan mangkana Babinjat wwang ika ngaranya, apan mijil tanpa guru tan mangaskara dening niwedya, kweh prabedanya wwang mangkana, papnehnya bawak, polahnya mumpang laku, wahya kadi sato, juga kahidepannya, ri pademnya dlaha, atmanya wwang mangkana kadanda dening watek Kingkara Bala manadi entiping kawah Tambra Gohmuka, yan mangjadma mwah, matemahan ta sira sarwa Triyak Yoni, amangguhaken kasangsaran’.

‘Mne hana piteketku, yan hana wwang durung adhiksa Dwijati, haywa wehana gumelaraken Sodasa Mudra, kopedrawa ta sira denira Sang Hyang Asta Dewata, kewala amusti juga kawenang rikang wwang durung adhiksa Dwijati, ri sang arep anembah Dewa Hamreyoga aken Sang Hyang ri dalemning sarira. Mangkana piteketku ri wwang kabeh, hayma marlupa, hila hila dahat’.

  1. Jenis Pemangku

Sesuai dengan ketetapan Mahasabha II PHDI tahun 1968 disebutkan pula, bahwa yang tergolong ke dalam rohaniman dalam tingkat Ekajati selain pemangku adalah Wasi atau Pinandita, Mangku Balian, Mangku Dalang, Pangemban, Dharma Acharya. Beliau-beliau ini tidak memiliki ikatan dengan suatu tempat suci tertentu, oleh karena itu rohaniman ini dalam melaksanakan tugasnya lebih bersifat umum, seperti menyelesaikan upacara perkawinan, upacara manusa yadnya lainnya, upacara kematian dan sebagainya.

Menurut isi Lontar Raja Purana Gama, Ekajati yang tergolong pemangku ini dibedakan menjadi 12 (dua belas) jenis sesuai dengan tempat dan kedudukan beliau-beliau ini dalam melaksanakan tugasnya.

  1. Pamangku Kahyangan Tiga.

Pemangku yang bertugas di Kahyangan Tiga, seperti pemangku Pura Desa, Puseh dan Dalem.

  1. Pamangku Pamongmong.

Pemangku yang hanya bertugas sebagai pembantu daripada pemangku yang utama di suatu pura, dengan tugas pokok mengatur tata pelaksanaan dan jalannya upacara.

  1. Pamangku Jan Banggul.

Pemangku yang hanya bertugas sebagai pembantu di pura, dalam tugas-tugas mengatur sesajen, menurunkan arca, pratima, memasang busana pada palinggih, membagikan wangsuh pada dan bija kepada umat yang sembahyang. Di beberapa tempat dikenal dengan istilah sadeg, juru sunggi, dll.

  1. Pamangku Cungkub.

Pemangku yang bertugas di Mrajan Gede yang memiliki jumlah palinggih sebanyak sepuluh buah atau lebih.

  1. Pamangku Nilarta.

Pemangku pada pura keluarga atau kawitan.

  1. Pamangku Pandita.

Pemangku yang memiliki tugas muput yajna seperti Pandita, adanya pemangku seperti ini didasarkan adanya tradisi atau purana pada daerah tertentu yang tidak diperkenankan menggunakan pemuput Pandita. Sehingga segala tugas, menyangkut pelaksanaan Panca Yajna diselesaikan oleh pemangku ini.

  1. Pamangku Bhujangga.

Pemangku yang memiliki tugas pada Pura Leluhur atau Kawitan yang tergolong paibon.

  1. Pamangku Balian.

Pemangku yang melaksanakan swadharmanya sebagai balian, mengobati orang sakit.

  1. Pamangku Dalang.

Pemangku yang melaksanakan tugas / swadharmanya sebagai dalang.

  1. Pamangku Lancuban.

Pemangku yang bertugas sebagai mediator membantu dalam matuwun, untuk memohon petunjuk dari dunia niskala.

  1. Pamangku Tukang.

Pemangu yang paham ajaran wiswakarma, serta segala yang tergolong pekerjaan tukang undagi, sangging, pande, dan sejenisnya.

  1. Pamangku Kortenu

Pamangku yang bertugas di Pura Prajapati atau Pengulun Setra.

  1. Kewenangan Pemangku

Pemangku memiliki batas kewenangan yang berbeda dengan sulinggih di dalam mengantar yajna, berdasarkan keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu IX Tahun 1986, yaitu:

  1. Menyelesaikan upacara rutin atau pujawali/ piodalan pada pura yang diemongnya serta mohon tirtha kehadapan ista dewata yang distanakan di pura tersebut termasuk upacara pembayar kaul/ sesangi.
  2. Bila menyelesaikan tugas kepemangkuan di luar pura yang diemong, pemangku/pinandita tidak diperkenankan muput, melainkan nganteb, dengan tirtha pamuput dari sulinggih.
  3. Dalam penyelesaian upacara, pemangku diberi wewenang, bhuta yajna sampai pancasata, ayaban sampai pulagembal, manusa yajna dari bayi lahir sampai dengan otonan biasa, pitra yajna wewenang diberikan sampai pada mendem sawa disesuaikan pula dengan catur dresta yang ada.

Menurut dalam Lontar Tattwa Dewata disebutkan kewenangan pemangku ngantebang upakara yang isinya:

‘Mwah kang wenang ngaturang pabanten de mangku juga wenang sane wruh ring kandaning dewa tur ya wruh ring utpeti, stiti, pralinaning dewa, ikang wruh ring tatwaning sad rasa, ika juga maka wnangane angasrenin haturan ring bhatara mwah sakahyangan sang haji bali’.

Bila seorang pemangku menggunakan Genta di  dalam pelaksanaan upacara disebutkan di dalam Lontar Kusuma Dewa:

‘Hana pweksing Bhatara ring pamangku Ida, yan rawuh tatoyan ring mrecapada, raris angicen bajra tatoyan, maka wruh ikang pamangku kawit kretaning bhatara. Yan nora nganggen bajra, nora weruh ring kapamangkuan angaru ara sira, dadi pamangu angiya-iya sira’.

Kewenangan pemangku menurut Lontar Sangkulputih sebagai berikut:

‘Kunang kramanira yan sampun sira abersih anuwun pada ring sang brahmana Pandita Siwa Yogiwara, wawu wenang sira angrasukaken sakbwating haji sangkulputih, yan durung samangkana, tan wenang tulah pwakita, kena sodha denira Sanghyang Weda, apan kita langgana tulah tempal ngaran’.

‘Kunang yan sira ki pamangku wawu abersih dening pawintenan olih nugrahanira sang pandita, bwatning dharma pawintenan agama, marajah sastra ring raga, wenang iki tutakena, aja nuna lewihin, apan krama wus spatika, nugrahanira Sanghyang Haji, yan tan mangkana, baya keneng dosa sira de bhatara’.

Yang disebut ‘abersih anuwun pada’ dalam hal ini maksudnya bukan ditapak oleh Ida Sulinggih, tetapi tingkat banten pawintenan dan rerajahannya yang dapat disebut Mangku Gede atau Pamangku Putus dibenarkan memakai pangastawa Sangkulputih.

  1. Tugas dan Kewajiban.

Secara rinci tugas dan kewajiban pemangku telah diatur dalam awig-awig Desa Pakraman, untuk Pamangku Kahyangan Desa. Jika Pamangku Kawitan atau Pamangku Pura Keluarga diatur berdasarkan kesepakatan pangemponnya, namun secara umum tugas dan kewajiban pemangku adalah sebagai berikut:

  1. Melaksanakan tugas kepemangkuan dengan konsisten dimana yang bersangkutan ditetapkan sebagai pemangku. Senantiasa selalu menjaga kesucian diri dan pura.
  2. Menjaga artha milik pura dan memelihara kebersihan serta kesucian pura dan segala hal yang dipandang dapat menodai kesucian pura.
  3. Menuntun umat dalam menciptakan ketertiban dan kehikmadan pelaksanaan upacara.
  4. Sebagai duta dharma yang senantiasa memberikan tuntunan kepada umat menyangkut pengembangan ajaran-ajaran agama.
  1. Sarana Kepemangkuan.

Dalam Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Aspek-Aspek Agama Hindu VI Tahun 1980 disebutkan:

  1. Busana lan upakarana pamangku.
  • Pada saat pemangku melaksanakan tugas kepemangkuannya supaya berpakaian serba putih dan tata busananya sesuai dengan etika kepemangkuan.
  • Seorang pemangku tidak dibenarkan menggunakan perlengkapan Siwa Upakarana: lungka-lungka, padamaran, sasirat, genitri gondala, sempet tripada, siwamba layaknya perlengkapan dan busana Sulinggih, seorang pemangku patut menggunakan Mangkupakarana seperti: genta, dupa sesirat kusangra, sekar, padma janur, pasepan, caratan toya anyar, menyan astinggi, sangku atau payuk anyar tirtha panglukatan, bija, tetabuhan arak berem, canting tirtha kakuluh, tatakan dulang.
  1. Kesepungan letuh dan kecuntakan.

Semua tindakan yang tidak baik dan tercela harus dihindari oleh seorang pemangku sebeb kesemuanya itu akan menyebabkan kekotoran di dunia ini hal ini telah disebutkan di dalam Bhagawad Gita XVI.21 ‘Triwidham narakasyedam dwaram nasanam atmanah, kamah krodhas tatha lobhas tasmad etat trayam tyajet’. Artinya “Ada tiga jalan menuju ke neraka, kama, krodha dan lobha, setiap orang hendaknya menjauhkan sifat yang ketiga tersebut sebab ketiga hal tersebut akan menjerumuskan kita dari tujuan hidup dan menempatkan sang atma ke alam neraka”.

Ketiga sifat tersebut di atas akan menyebabkan sifat dan perilaku kita sebagai berikut:

  1. Tri Mala:

1)      Mithya Hrdaya   : kahyune sane linyok.

2)      Mithya Wacana : linyok ring semaya.

3)      Mithya Laksana : berperilaku tidak baik (dudu)

  1. Sad Ripu:

1)      Kama     : ngulurin indriya

2)      Lobha     : loba drowaka

3)      Krodha   : setata gedeg

4)      Mada      : mamunyah

5)      Moha      : inguh lan bingung

6)      Matsarya : irihati

  1. Panca Ma

1)      Mamotoh             : senang berjudi

2)      Mamaling             : mencuri

3)      Mamunyah           : suka mabuk minuman keras

4)      Mamadat             : merokok, narkotika

5)      Mamitra               : berselingkuh

  1. Kacuntakaning Pamangku
  2. Menurut Lontar Tata Krama Pura seorang pemangku tidak kena cuntaka apabila:
  • Kalau ada salah satu krama desa, banjar atau keluarga yang meninggal yang berlainan pekarangan (tidak dalam satu pekarangan) seorang pemangku tidak kena cuntaka oleh sebab itu seorang pemangku bisa menjalankan tugas kepemangkuannya. Jika yng meninggal satu pekarangan dengan pemangku, Ki Pamangku kena cuntaka 3 hari atau lebih menurut dresta/ aturan yang berlaku di desa tersebut. Kalau ada anak putu ki pamangku meninggal, kena cuntaka tujuh hari setelah itu ki pamangku wajib aprayascita. Sedangkan seorang Brahmana Pandita tidak kena cuntaka.
  1. Menurut ketusan Lontar Widhi Sastra Swa Mandala sebagai berikut:
  • ‘Mawah yan hana kahyangan panyiwian sang ratu, yaduam prasadha ring kahyangan ika, masanding umahnia maparek, tan pabelat marga ri tekaning kapatian de mangku hageakna pprateka haywa ngaliwat salek suwenya. Yan hana halangan bhumi bhaya kinwande sang ratu dohaken anyekah wangke ika , yan prahimba marep juga same anyekah wangke, yan anti amreteka, wenang mulih ring dunungania nguni, haywa nyekeh sawa ring dunungan de mangku sasuwe-suwenia lemah ikang parhyangan sang ratu, palania sang ratu gering, reh de mangku angungku cemer. Yan doh anyekeh wangke selat marga rurung, limang dina de mangku kacuntakan dadi de mangku ulah ulih ring kahyangan, ngaturang pasucian. Yan de mangku nyekeh wangke ring umahe, salawase tankawasa de mangku ka kahyangan sapuputan sawa ika mabhasmi luwar cuntakania’.
  1. Menurut Lontar Tattwa Siwa Purana.
  • ‘Yan sampun madeg pamangku, tan kawenangan cemer, yan wenten pamangku malih ngambil rabi, ri wusnia mapawarangan, wenang sira mangku malih manyepuh, pawintenan nguni, mwah ngaturang pasapuh ring pura, mwah wadonne punika wenang nyepuh. Apan tan kari karaketan letuh, yan marabi saking paican nabe, mwang guru wisesa, kalih saking pakramane, ngaturin marabi, punika dados ngaturang pangrebu alit, ring pura-puura nente ja masasap’.
  1. Kacuntakan Mangku Istri

Mangku Istri kena cuntaka, disebabkan oleh datang bulan (kotor kain) lamanya sama seperti kebiasaan, sesudah bersih, berkeramas dan maprayascita, setidak-tidaknya matirtha panglukatan sebelum ngaturang ayah ke pura.

Menurut Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Aspek-Aspek Agama Hindu VI Tahun 1980 disebutkan:

  1. Kecuntakaan akibat melahirkan yang kena cuntaka suami termasuk rumah yang ditempati, istrinya lamanya cuntaka 42 hari, sedangkan suami lamanya cuntaka setidak-tidaknya sampai bayi kepus pungsed.
  2. Cuntaka disebabkan kelabuhan bobot (abortus), lanang istri termasuk rumahnya lamanya cuntka 42 hari setelah itu aprayascita.
  1. Larangan Bagi Pemangku.

Dalam upaya memelihara kesucian diri sebagai pemangku, berdasarkan sumber sastra yang ada, beberapa larangan yang patut dijauhi oleh seorang pemangku:

  1. Dalam Lontar Kusuma Dewa diuraikan sebagai berikut:
  • ‘Yan Hana pamangku widhi atampak tali, cuntaka dadi pamangku, wenang malih maprayascita kadi nguni upakarania, wenang dadi pamangku widhi malih yan nora mangkana phalania tan mahyunin bhatara mahyang ring kahyangan’.

Terjemahan:

“Bilamana seorang pemangku pura pernah diikat/ diborgol dipandang tidak suci pemangku tersebut, wajib kembali melaksanakan upacara penyucian seperti sedia kala, dibenarkan ditetapkan kembali sebagai pemangku bila tidak demikian akibatnya tidak berkenan Tuhan turun di pura”.

  • ‘Yan hana mangku widhi sampun putus madiksa widhi mawinten, mapahayu agung, ikanang antaka away pinendem, tan wenang ila-ila dahat, ikang bhumi kena upadrawa ikang panenggeking bhumi’.

Terjemahan:

“Blia ada pamangku pura yang telah melaksanakan pewintenan hingga tingkat mapahayu agung, tatkala kematiannya jangan dikubur, bahaya akan mengancam, kena kutukan penguasa pemerintah”.

  • ‘Aja sira pati pikul-pikulan, aja sira kaungkulan ring warung banijakarma, aja sira munggah ring soring tatarub camarayudha, saluwiring pajudian, mwang aja sira parek saluwiring naya dusta’.

Terjemahan:

“Pemangku jangan sembarangan memikul, jangan masuk ke warung tempat berjualan yang tidak diupacarai, jangan duduk di arena sabung ayam, semua jenis perjudian, dan jangan dekat dengan niat yang jahat”.

  • ‘Yan pamangku mawaywahara, tan wenang kita anayub cor teka wenang adewa saksi’.

Terjemahan:

“Bilamana pemangku bersengketa, berperkara tidak patut mengangkat sumpah dengan cor, yang patut dilakukan adalah mohon pesaksi kehadapan Hyang Widhi”.

  • ‘Samaliha tingkahing pamangku, tan kawasa keneng sebelan sira pamangku, yan hana wwang namping babatang tan kawasa sira mangku marika, tur tan kawasa amukti drewening wwang namping babatang’.

Terjemahan:

“Dan lagi perilaku menjadi pemangku, tidak dibenarkan dinodai oleh cuntaka, bila ada orang yang punya kematian (jenasah) tidak dibenarkan pemangku mengunjungi orang yang kedukaan tersebut, apalagi menikmati makanan dan minuman di tempat tersebut”.

Walaupun demikian dalam situasi dan keadaan tertentu, pemangku sering dihadapkan pada pilihan yang sulit, jika keluarga meninggal misalnya atau tanpa sengaja terlibat dengan aktivitas yang tidak terjamin kesuciannya. Lontar Sodasiwikerama memberikan jalan keluarnya, maka seorang pemangku diwajibkan mengucapkan mantra Aji Panusangan:

‘Iki Sang Hyang Aji Panusangan, ngaran, pangeleburan letuhing sarira, palania tan keneng sebelan, salwiring mageleh ring prajamandala, wenang sakama-kama apan sang hyang mantra utama, yan tasak dening ngarangsukan mantra iki, saksat mawinten ping telu, gelaraken siang latri’.

Mantra:

“Idep aku anganggo Aji Kotamah, amangsa-amungsung aku tan pabersihan, aku pawaking sera, suka kang akasa, suka kang perthiwi, tan ana aku keneng sebelan, apan aku teka ameresihin awak sariranku (teka bersih-bersih-bersih)”. 3X

  1. Dalam Lontar Tattwa Siwapurana
  • ‘Samaliha yan sampun madeg pamangku tan wenang ngambil banteng, mikul tenggala mwang lampit, tan palangkahin sawa, sarwa sato, salwiring sane kinucap cemer’.

Terjemahan:

“Dan lagi bila sudah menjadi pemangku, tidak patut mengaambil sapi, memikul alat bajak, tidak dilangkahi jenazah, binatang maupin segala yang tergolong ternoda dalam aspek keagamaan”.

Dalam Paruman Sulinggih Tingkat Provinsi Bali tahun 1992 telah diambil suatu kesimpulan yaitu: ‘pamangku tan pati pikul-pikul’, tidak dibenarkan ikut ngarap sawa, tan wenang cemer. Bila terbukti, pemangku patut melaksanakan aprayascita atau nyepuh.

  1. Brata Pemangku

Dalam melaksanakan tugas sebagai seorang pemangku, pemangku senantiasa harus melandaskan dirinya dengan selalu berpegang teguh pada sastra agama, pemangku dipantangkan untuk melakukan tindakan yang disebut dengan ‘Nyamuka’ yaitu ‘Angwikoni awaknya dewek’, artinya menjadikan dirinya selaku pandita yang sesungguhnya belum memiliki kewenangan untuk itu.

Untuk menyangga tugas yang begitu mulia itu seorang pemangku wajib melaksanakan brata disiplin yang ketat, sebagai landasan untuk mencapai tuhan, sesuai pernyataan Yajurweda XIX.35 sebagai berikut:

‘Vratena diksam apnoti, diksaya apnoti daksinam, daksina srasddham apnoti, sraddhaya satyam apyate’.

Terjemahan:

“Dengan menjalankan brata (disiplin diri) seseorang mencaai diksa (penyucian diri), dengan diksa seseorang memperoleh daksina (penghormatan), dengan daksina seseorang memperoleh sraddha (keyakinan yang teduh), melalui sraddha seseorang memperoleh satya (Hyang Widhi)”.

Lebih lanjut brata ini dijabarkan menjadi Yama dan Niyama Brata, terdiri dari:

  1. Yama Brata terdiri dari:
  2. Ahimsa                          : tidak membunuh, menyakiti makhluk lain
  3. Brahmacari                    : tekun memperdalam ilmu keagamaan
  4. Awyawahara                 : tidak pamer dan dapat mengekang hawa nafsu
  5. Asteya                           : tidak suka mencuri, korupsi, mengambil milik orang lain
  6. Satya                             : senantiasa menjunjung kebenaran, taat dan jujur
  7. Nyama Brata terdiri dari:
  8. Akroda              : mengekang api amarah, nafsu serta berusaha   mengendalikan diri.
  9. Guru susrusa       : selalu taat kepada perintah guru, serta mengikuti semua ajarannya.
  10. Sauca                 : selalu melembagakan kesucian dalam kehidupan sehari-hari.
  11. Aharalagawa       : tidak sembarang makan dimakan.
  12. Apramada          : tidak menghina, melecehkan pendapat orang lain serta mabuk terhadap apa yang dimiliki.

Secara khusus bebratan tentang kepemangkuan ini termuat dalam Lontar Tattwa Dewa sebagai berikut: ‘Pamangku tan amisesa gelah anake juang, tembe-tembe ring niskala’. Artinya: “pemangku tidak dibenarkan mengambil milik orang lain, lebih-lebih milik pura”. Hal ini mengingatkan agar para pemangku tidak rakus terhadap kepunyaan pura, seperti sesari maupun barang-barang lainnya yang dipersembahkan oleh umat.

Selanjutnya tentang bebratan pemangku dalam rangka menjaga kesucian diri ‘susila ambeking budhi’ dan menghindari perbuatan dursila maupun yang dipandang mencemari dirinya secara lahhir batin, juga ada brata lainnya disebutkan dengan brata haji kreta namanya, sebagai berikut:

‘Nihan haji kretta ngaran, tingkahe mamangku, asuci purnama tilem, ika maka wenang adenging abrata, kawasa mangan sekul, kacang-kacang garam, aywa mangan ulam bawi lonia satahun, malih abrata mangan sekul iwaknia tasik lonia solas dina, malih abrata amangan sekul iwaknia sarwa sekar lonia tiga dina, nihan brata amurti wisnu ngaran, kawasa mangan sekul iwaknia sambeda, aywa nginum toya solas dina lonia, brataning abrata ngaran’.

Terjemahan:

“inilah haji kreta namanya, perilaku menjadi pemangku, menyucikan diri purnama tilem, itulah kelengkapan melaksanakan brata, diwajibkan makan nasi, kacang-kacang, garam, jangan makan daging babi lamanya setahun, dan lagi makan nasi dengan lauk garam lamanya sebelas hari, dan lagi abrata makan nasi lauknya bunga-bungaan lamanya tiga hari, ini brata amurti wisnu namanya, dibenarkan makan nasi lauknya sembarangan namun jangan minum air sebelas hari puncak brata namanya”.

  1. Hak-Hak Seorang Pemangku.

Sebagai wujud penghargaan terhadap tugas dan kewajiban pemangku yang cukup berat, Seminar Kesatuan Tafsir Aspek-Aspek Agama Hindu VI tahun 1980 ditetapkan sebagai berikut:

  1. Bebas dari ayahan desa, sesuai dengan tingkat kepemangkuannya.
  2. Dapat menerima bagian sesari aturan atau sesangi.
  3. Dapat menerima bagian hasil pelaba pura (bagi pura yang memiliki)

Walau telah diatur seperti di atas, pelaksanaannya tetap disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat maupun awig-awig yang telah disepakati, baik yang berlaku di lingkungan suatu pura maupun desa adat, pemangku kahyangan desa menjadi tanggung jawab Desa Pakraman.

Bagi pemangku yang bertugas di luar Kahyangan Desa, mendapatkan penghargaan dan hak dari kelompok pangempon pura tempatnya bertugas sebagai pemangku, sedangkan kewajiban terhadap Desa Pakraman dan Pura Kahyangan Desa masih dibebani dalam tingkat tertentu sesuai dengan awig-awig setempat.

Sedangkan pemangku jenis Pinandita, Pemangku Dalang, Pemangku Tukang, tidak mendapat luput, karena tugasnya tidak terkait secara langsung dengan suatu pura tertentu.

Di luar dari hak yang berupa penghargaan kepada pemangku seperti tersebut di atas, berdasarkan kesepakatan maupun awig-awig pemangku sering diberi penghargaan berupa:

  1. Punia berupa pakaian setiap setahun sekali atau berupa dana/ uang dari perseorangan maupun lembaga yang sifatnya tidak mengikat.
  2. Bila meninggal, biaya pengabenan ditanggung Desa Pakraman atau pengempon pura dimana pemangku tersebut bertugas.
  1. PENUTUP

Demikianlah pemangku sebagai panutan masyarakat, patut memimpin dan menuntun masyarakat dalam melakukan upacara yajna, baik di pura maupun di masyarakat sebagai komunikator umat kepada Tuhan. Untuk itu pemangku wajib memahami ajaran-ajaran susastra suci agama Hindu yang telah ditetapkan kemudian lanjut mengamalkan dalam tugas dan kehidupan sehari-hari.
Sumber: “Modul Panduan Pendidikan Kepemangkuan” oleh: Ida Pandita Dukuh Acharya Dhaksa, Padukuhan Samiaga Penatih-Denpasar.

Oleh: Gusti Sudiartama | Oktober 16, 2014

SIWA SASANA

Lontar Druwe: Ida Pedanda Gde Putra Tambahu, Griya Ahan-Klungkung-Bali

Oleh:  I Wayan Sudarma (Shri Danu Dharma P)

Om Swastyastu

KATA PENGANTAR

Di antara sasana–sasana dalam bahasa Jawa Kuno yaitu Vrati Sasana, Rsi Sasana, Stri Sasana maka agaknya Siwa Sasanalah yang paling tua usianya. Hal ini didasarkan atas kosa kata dan gaya bahasanya.

Seperti ditunjukan oleh namanya, Siwa Sasana, maka sasana ini adalah untuk para pandita Saiwa. Karena di dalamnya ada menyebutkan bahwa sasana ini untuk pandita Saiva di Jawa, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa lontar ini ditulis di Jawa.

Kalau diamati ternyatalah bahwa agama Hindu di Indonesia adalah agama Hindu yang memuja Bhatara Siwa sebagai Tuhan yang tertinggi. Sanghyang Widhi Wasa adalah sebutan Tuhan yang amat umum. Bhatara Siwa adalah Sanghyang Widhi sendiri.

Bhatara Siwa dipuja oleh umat Hindu Indonesia. Ia dipuja sebagai Trimurti yaitu : Brahma, Wisnu dan Iswara, sebagai Panca Brahma yaitu: Sadya/Sadyajata, Bamadewa, Tatpurusa, Aghora dan Isana sebagai Dewata Nawa Sangha yaitu ; Mahesvara, Brahma, Rudra, Mahadewa, Sangkara, Wisnu, Sambhu dan Siwa.

Ajaran Ketuhanan seperti ini direalisasikan dalam membangun merajan, sanggah, pura, dalam banten, dalam puja dan sebagainya.

Padma Tiga di Besakih, gedong di pura, kemulan di sanggah adalah tempat memuja Bhatara Siwa apakah sebagai Tri Murti atau Pitara sebagai wujud Bhatara Siwa. Jelas bahwa tawur, bagia pulakerti dan sebagainya merupakan banten yang diilhami oleh konsep Ketuhanan sebagai Dewata Nawa Sangha. Pujapun demikian. Sebagian besar puja (demikian pula saa) ditunjukan kepada Bhatara Siwa dalam berbagai-bagai manifestasinya.

Di dalam Siwa Sasana disebutkan adanya “paksa-paksa (sekte)”- Saiwa yaitu Saiwa Siddhanta, Waisnawa, Pasupata, Lepaka, Canaka, Ratnahara dan Sambhu. Diantara nama sekte-sekte itu yang masih sampai sekarang ialah Saiwa Siddhanta untuk menamakan ajaran agama Hindu Indonesia. Bila diamati ternyata lainlah Saiwa Siddhanta Indonesia dengan Saiwa Siddhanta di India. Saiwa Siddhanta Indonesia merupakan kristalisasi dari berbagai ajaran agama Hindu khususnya dari kitab-kitab Purana. Sehubungan dengan itu maka Saiva Indonesia kadang-kadang disebut Saiwa Purana. Siwa Sasana adalah sasana untuk pandita Saiwa. Karena agama Hindu Indonesia memuja Bhatara Siwa, maka Siwa Sasana adalah untuk semua sulinggih Hindu Indonesia.

Dalam Siwa Sasana penggunaan kata-kata sadhaka dang upadhyaya sering benar, kadang-kadang berselang-seling. Semuanya menunjuk pada seseorang yang melaksanakan hidup kerohanian sebagai pandita. Acarya dan dang upadhyaya lebih cenderung berarti seorang pandita guru.

Disamping itu ada pandita yang disebut dang acarya wrddha pandita, sriguru pata, dang upadhyaya pita maha, prapita maha, dan bhagawanta yang masing-masing berarti pandita guru yang agung, guru yang mulia yang senang membaca, kakek guru, kakek yan agung, dan bhagawan. Perbedaan diantara para pandita tersebut didalam Siwa Sasana tidak dijelaskan.

Kepada mereka itulah Siwa Sasana ini ditunjukan untuk dilaksanakan dengan tujuan agar mereka dapat mempertahankan martabatnya sebagai pandita, dan menegakkan dharmanya. Suatu uraian yang panjang dalam lontar ini ialah uraian tentang syarat-syarat seorang acarya yang dapat dijadikan guru dan yang harus dihindari sebagai guru.

Syarat-syarat ini amat berat sehingga sukarlah kita mendapatkan acarya seperti itu. Walaupun demikian syarat-syarat ini mencerminkan acarya yang ideal. Syarat-syarat acarya yang baik dijadikan guru ialah :

-           Berkepribadian baik

-          Sastrawan

-          Ahli Weda

-          Menguasai hawa nafsu

-          Taat melaksanakan brata

-          Senior dalam umur

-          Ahli bahasa

Acarya krta diksita yaitu acarya yang menjadi gurunya guru ialah acarya keturunan sadhaka yang memang disiapkan untuk menjadi acarya. Ia juga disebut dang upadhyaya. Acarya yang demikianlah  tempat orang mohon sangaskara (penyucian) dan bhasma (abu suci).

Dia yang di-sangaskara oleh acarya seperti itu akan :

-          Hilang nodanya

-          Hilang papanya

-          Bebas dari mara bahaya

-          Bebas dari duka nestapa

Orang harus menghindari acarya yang tidak baik untuk dijadikan guru. Acarya yang demikian ialah acarya yang :

-          Pengetahuannya rendah, acuh tak acuh, cepat bingung, linglung, kaku.

-          Duryasa yaitu bermoral rendah seperti rendah budi, congkak, curang, senang mabuk, licik, angkara murka, iri hati, senang berbohong, benci berbuat jasa, bermusuh pada teman, menghina ibu bapaknya, menghina brahmana dan menghina Tuhan. Acarya yang demikian akan terbentur-bentur kesana kemari karena bodohnya sehingga ia akan menanggung hukuman para dewa. Akibat dari semua ini, maka acarya yang demikian itu akan tetap hanyut dalam perbuatan yang melawan dharma sehingga pintu neraka terbuka lebar-lebar untuknya.

Seorang acarya, walaupun ia sudah termasuk acarya yang baik, tidak baik tergesa-gesa melaksanakan krta diksa. Ia harus :

-          Mengamat-amati akan sifat-sifat baik dan dosa pada dirinya dan berusaha menjadikan dirinya suci.

-          Melaksanakan tugas-tugasnya sampai selesai.

-          Mengembangkan keluhuran budi dan kecerdasan akal.

Dasar untuk mewujudkan hal-hal tersebut diatas ialah  trikaya yaitu :

-          Kaya yaitu badan /perbuatan

-          Wak yaitu kata-kata

-          Manah yaitu pikiran

Trikaya ini dilaksanakan berdasarkan subhakarma perbuatan-perbuatan baik. Bila ketiga-tiganya sudah dilaksanakan dengan baik maka ia disebut trikayaparamartha.

Seorang dang upadhyaya harus melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan kaya sebagai berikut :

-          Senang bekerja

-          Melangsungkan yadnya

-          Melaksanakan puja dan japa

-          Memuja Bhatara

-          Terus mendalami sastra agama

-          Mengajar

-          Menerima tamu sadhaka

-          Membantu yang melaksanakan yoga dengan dana punya yang diperlukan.

Seorang Dang Upadhyaya harus melaksanakan kegiatan-kegiatan yang bersangkut-paut dengan wak yaitu :

-          Memperbincangkan tentang pemujaan kepada para dewa dan Brahmana.

-          Mendiskusikan pengetahuan, filsafat dan agama.

-          Mempelajari dan merapal mantra-mantra Weda.

-          Berkata jujur

-          Menepati janji

-          Tidak berkata-kata yang menyakitkan hati.

-          Tidak mengeluarkan kata-kata kasar

-          Tidak memfitnah.

-          Tidak berbohong.

-          Tidak menghina.

-          Tidak mencerca sesama sadhaka dangupadhyaya.

-          Tidak mencela brata sesama sadhaka.

Ia harus mengucapkan :

-          Kata-kata yang manis.

-          Kata-kata yang benar.

-          Kata-kata yang lembut.

-          Kata-kata yang menarik hati.

-          Kata-kata yang bersahaja.

Pikiran seorang Upadhyaya hendaknya :

-          Bersih.

-          Budiman.

-          Tenang.

-          Tangguh.

-          Senang mengampuni.

-          Lapang hati yang berdasarkan maitri, karuna, mudita, dan upeksa.

-          Kasih sayang.

Ia hendaknya tidak:

-          Curang.

-          Licik.

-          Sombong.

-          Mabuk.

-          Congkak.

-          Loba.

-          Bingung.

-          Cepat naik darah.

-          Keras kepala.

-          Iri hati.

-          Busuk hati.

-          Durhaka.

-          Menghina teman.

Ia hendaknya :

-          Ikhlas.

-          Berbudi baik.

-          Hormat.

-          Jujur.

Walaupun hal-hal tersebut di atas sudah dipenuhi, maka seseorang dang upadhyaya juga tidak boleh tergesa-gesa melaksanakan krta diksa terhadap seorang sadhaka. Sadhaka yang akan diberikan krta diksa perlu diteliti :

-          Umurnya.

-          Umur istrinya.

Bila sadhaka itu masih keluarga dang upadhyaya itu dapat diberikan krta diksa pada umur 50 tahun, dan bila tidak keluarganya pada umur 60 tahun. Bila umurnya sudah memenuhi syarat pada waktu itulah ia dapat melaksanakan krta diksita dan yang didiksa boleh mempergunakan/siwa upakarana yaitu perlengkapan seorang pandita dalam melakukan pemujaan.

Setiap sisya yang akan didiksa harus dipilih. Tidak boleh sembarang orang dijadikan sisya. Yang patut dijadikan sisya dan dapat didiksa ialah :

-          Punya janma                     : orang baik-baik.

-          Maha prajnana                   : arif bijaksana.

-          Satya wak                         : setia dengan kata-kata.

-          Sadhu                              : saleh.

-          Silawan                             : berbudi baik.

-          Sthira                               : tangguh.

-          Dhairya                            : berani.

-          Swami bhaktya                  : bhakti kepada junjungan.

-          Dharma wista                              : ?

Kemudian ditambah lagi syarat lain :

-          Suddha janma: orang suci.

-          Maha pawitra kawangannya: kelahiran dari keluarga suci.

-          Wwang satya wacana: orang yang jujur berkata-kata.

-          Wwang sujana tuhu-tuhu: orang yang baik yang benar-benar mahardika

-          Wwang prajna wruh mengaji : orang pandai yang tahu mengkaji pengetahuan.

-          Wwang satwika sadhu mahardika: orang  yang  sungguh – sungguh  saleh  (Bijaksana)

-          Wwang susila apageh ring winaya : orang berbudi baik tetap hati pada winaya

-          Wwang sthira stiti ring abhipraya: orang yang teguh dengan tujuan

-          Wwang dherya dharaka angelaken : orang  yang  tahan  uji  menanggung  suka Suka

-          Wwang satya bhakti matuhan : orang yang setia bakti kepada junjungan.

-          Wwang mahyun ring kagayaning: orang yang mau melaksanakan dharma (Dharma karya)

-          Wwang mapageh magawe tapa : orang yang teguh melaksanakan tapa.

Sedangkan yang tidak patut dijadikan sisya dan dapat didiksa ialah :

-          Wwang cuntaka: seperti orang memegang mayat, pernah dihukum, pernah dikencingi, pernah dipukul kepalanya dan sebagainya.

-          Wwang patita walaka: seperti orang yang menyembah orang yang paling rendah derajatnya, orang yang memikul usungan yang berisi orang, tikar, kasur dan sebagainya.

-          Wwang sadigawe seperti : mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang hina.

-          Wwang banijakrama: yaitu berjual beli.

-          Wwang wulu-wulu: seperti membuat periuk, menjadi tukang dan sebagainya.

-          Wwang candala: seperti menjadi gagal, tukang cuci dan sebagainya.

-          Wwang kuci angga: seperti orang cebol, bungkuk, bulai dan sebagainya.

-          Wwang maha duhka: seperti orang yang menderita penyakit kusta, gila, ayan, buta, tuli, bisu, pincang dan sebagainya.

Orang yang sudah didiksa juga tidak boleh didiksa lagi. Bila syarat-syarat tersebut dilanggar maka baik guru maupun sisya sama-sama akan mendapatkan hukuman. Hukumannya antara lain nama diksanya harus ditarik lagi dan yang bersangkutan harus dibuang keluar pulau Jawa. Namun bila syarat-syarat orang menjadi sisya dipenuhi maka ia dapat didiksa. Dalam pada itu dang acarnya harus selalu melaksanakan kewajibannya sebagai guru yaitu:

-          Majarana-dharma ning sisya yaitu mengajar dharmanya sisya.

-          Maweha kriya : memberikan sisya tugas

-          Mawaraha ring dasasila mwang pancasiksa, guru talpaka lawan trikaya paramartha : mengajarkan dasasila dan pancasiksa, guru talpaka dan trikaya paramartha.

-          Mangajarana kaling acara mwang karma sila winaya : mengajarkan hakekat tingkah laku dan perbuatan sila dan winaya.

-          Mohuta ng upakrama ring agamanya : mencegah penyelewengan terhadap agamanya

-          Swikarapageh deyanya gumegosanghyang Siwa brata : bersungguh-sungguh dan teguh usahanya mengamalkan brata Sanghyang Siwa.

-          Aywa wimarga sake kabhujangganya : jangan menyimpang dari tata tertib kependetaannya.

Adapun sikap dan cara dang acarya mengajar muridnya adalah :

-          Aywa krodha: jangan marah

-          Aywa lobha : jangan loba

-          Aywa parusya : jangan kasar

-          Aywa irsya : jangan iri

-          Aywa drohi : jangan berkianat

Dan sikap dang acarya yang lain :

-          Aywa sang guru nistura tumon sisya dina kalaran manmu dukha : janganlah sang guru tidak menaruh kasih sayang terhadap muridnya yang hina menderita menanggung duka.

-          Aywa lwirtan uninga tumon sisya salah silanya mwang swabhawanya : janganlah acuh tak acuh melihat tingkah laku dan keadaan muridnya yang salah.

-          Aywa gigu mohut ri sisya magawe papakarma angde patitanya : janganlah ragu-ragu mencegah murid berbuat hina yang menyebabkan jatuhnya.

-          Aywanangguh patita ring sisya mon ta byakta cihnanyan patita : janganlah menuduh murid jatuh bila tanda-tanda jatuhnya tidak jelas.

-          Aywagya kumaniscaya percaya ring sila mwang brata ning sisya : janganlah cepat percaya akan tingkah laku dan bratanya murid.

-          Aywa tan parcaya yan kateher byata ning silanya : janganlah tidak percaya bila tingkah lakunya jernih terus menerus.

-          Aywa ninda pracoda : jangan mencela.

-          Aywa mucca sisya tan sayang akrama denda dosa : janganlah menyakiti sisya, tidak sayang pada yang berbuat salah dan dosa.

-          Aywa mucca sisya sulaksana : janganlah menyakiti sisya yang bertingkah laku yang baik.

Siwasasana diakhiri dengan ancaman hukuman keras kepada barangsiapa yang berani melakukan upawada (cercaan) kepada para sadhaka. Hukuman ini sudah tidak dapat diterima pada jaman sekarang.

SALINAN LONTAR SIWA SASANA

Nihan sanghyang Siwa Sasana kayatnakna, de sang watek sadhaka makabehan, sahananira para dhangacaryya saiwa paksa, Iwir nira, saiwa siddhanta, wesnawa, pasupata, lepaka, canaka, ratnahara, sambu, nahan Iwir nira sang sadhaka saiwa paksa, pramuka sira dhangacaryya wirddha pandita, sri guru pata, dhangupadhyaya pita maha, prapita maha, bhagawantha, nahan Iwir nira kabeh, yatika kapwa kumayatnakna mrihakmitana sanghyang agama siwa sasana, maka don karaksaning kabhujangganira, mwang kawinayanira, pagehaning karmmanira, sela nira, mwang kasudharmanira, nguniweh teguhaning tapa brata nira, ritan hananing wimarga hamanasara sakeng sanghyang kabhujanggan, nahan hetu sanghyang agama siwa sasana winakta de sang purwwacaryya wrddha pinandita, ndan Iwir nira sang sadhaka dhang acaryya sang yogya pinaka pagurwan, mwang tan yukti pinaka guru, ya ta cinaritan kramanira rumuhun, nihan lwir nira: sajjanah, wrddha wehaso, sastrajnah, wedaparagah, dharmajjah, sila sampanah, jitendriyah, drdha bratah.

Nihan lwira sang sadhakanung yogya dhangguru upadhyaya dening loka, acaryya wrddha pandita, wrddharing wayah tuwi, acaryya prajja sabdikawruh mangaji wala widya mwang tarkka wyakaranadi, acaryya weda paraga, wruh ringangga pangupangganyaning Sang hyang catur weda, wruh ring kaswadayan sanghyang sruti smrti, acaryya stiti gumawe dharma sadhana, sakti ring kagawayaning yasa dana kirtti, acaryya, suddha sila, apageh manutta sadhu winayan, pawitra sulaksana kuneng, acaryya jitendriya, tyaga kasakta ring bhoga wisaya, acaryya sudhira dharaka teguh ring tapa brata, nahan Iwir nira sang sadhu wenang gawayen dhang upadhaya, nga, dhangacaryya krtta diksita, pinaka guru guru, panadhahan sangskara mwang bhasma, wenang sadhakanung wenang dumiksanangaskara sakala janma sadhaka wangsa parampara, kinaryya nimitta wiku, tumut sadhaka saiwa paksa, sang sadhaka mangkana kramanya, sirata wiku maha pawitra wenang sira dhangupadhyaya ngaranira, kuneng sang sadhaka sinangguh pangupadhyaya, pilihana jatinira de sang pudghala, ring sedeng nira hyunira sangskara, hyunira sangskara, ikangacaryya sapatuduh inghulun juga pilihana. Deledelen salah siki gawayen guru, sangksepanya, madumpi-dumpilana juga de yaning sisya mangungsi guru, aywanaku guru tahun sing maha pawitra laksana nira paten guru. Aparan kaphalaning manembah ring kadi sira sadhaka, wiku maha pawitra, nyapan tahan kwa linganta. Nihan kottamanya kapawitraning maguru sulaksana.

Laksmi duhka sahasrani sangsara papanasanam paratre naraka, nasti siwa lokam apnuyat.

Nihan kadiwyaning telas diniksa de dhangacaryya wiku mahapawitra huwus wrddha pandita, byakta ilang mala kaluusanikangwang, athawa tan kataplan dening wighna sabhaya, duhka wedhana, luput saking sangsara pataka, pira takuneng kwehaning papa ningwang, mwang gongngaya, yadyan sewu kwehaning papa, sabhumi sasumeru gonganya lawan ngyetnya, niyata katerilanganya matmahana mukta wisarjjana, mon diksana de dhangaryya maha pandita, gatinyan lalu kapawitran sang sadhaka pandita maha wisesa, wenang umilangaken papaning sisya, dumehnya mangkana, ya ta matangnyan dhangupadhyaya wenang pagurwaning sisya, away bhangbhang guru, nyapan tahan kadurus ngwang dening kadurlaksananing guru, bhangbhang guru, umungsir guru maminta diniksa dening sadhaka, nga, alpa sastra, dusprajja, kurang wiweka, nirwicaksana, pisaningun wruha prakr taning aji kdhikkdhik, ngaya durmmeda wippaaryya, lumud jugul jadha linglung lelengo, mungeng, bingung, kumwa prakrtinya, yeka sadhaka mudha, nga. Acaryya duryyasa, nga, adharma, crol nicca prakrtinya, ambeknya mada moha karana durtta murkka madulur katungka, irsya matsara kimbhuru, marta wada mitya sing wuwusnya, sinahajaring kadusilan, durniti durwinaya, nawimukha ringayu, melik ring kagawayaning yasa, manasir sakeng agama rasa, ninda ring hyang lawan ring brahmana, drohiri mitranya, talpaka ring gurunya, masampaying yayah mwang bibinya, yaapwan hana sira sadhaka kumwa kramanya, yeka sadhaka duryyasa, banda tan yukti gawayen guru desang pudghala, aparan kari dosaning wiku mudha duryyasa tan yukti gurwaning rat, dumiksana ring sakala jana mahyun wikwa, nyapan tahan kwa linganta, nihan olanya mpih, katatwanika wwang mudha tan wruh ring nayopadeya mwang parartha mwang tan wenang rumaksa dharmma, wetning wiparyyayayynya, matmahan pati purug, mwanganunggawehayu, niyatatmah dosa, nimittaning manemu dewa dhenda, rapuh ning dewa dhendha, mangdadyaken klesa, nirartha kahenengan ya wekasan, nahan halaning mudha, kunang halaning duryyasa, ikang wwang jenek ring adharmma, duma patapa tuwasnya, mamrddhyaken kwehning klesanya, mwang gongning papanya, amngaken babahaningnaraka loka agyagyan, mapalaywan arep mukti pancagati sangsara, pisaningu mahlya muliha ring kasugatin, yata matangnyan sahana nira padha ngacaryya mon mudha duryyasa laksana, nda tan yukti paten guru de sang pudghala. Sangksepanya duryyasa, basama kelutibeng yama laya, tahun tikang sadhaka kadi lingku nguni juga swikaran peten guru, ikang wiku nahan pawitra suddha pandita juga sembahenta, mwang dumiksaha kita.

Tlas kojaran sang sadhakanung yogya pagurwana, kuneng getyakna tingkahning krama sang sadhakan sampun dhangupadhyaya caritan kramanya, yan hana sira dhangacaryya, sinambgawa gawayen pagurwana, nda haywa ta sira gya lumkas krtta diksita mon turung nipuna ring kriya mwang turung tasak ri tatwa sanghyang kabhujangan, athawa yan turunganiscaya ri rasa sanghyang siwagama, away siragya lumkas, apayapan tan dadi ring dhangupadhyaya, yanagwala mwang amana manaha amuranya kasiwatwan, kuneng deya nira, prakrtining swa sarira nira waswasen rumuhun, rapwan tan katona ngamung, ndya deyaning dumela prawrtti. Sugyan kwa linganta. Nihan kramnya mpih delenta hananing guna dosa ring awak, swikaran gonging sarwa guna wehen parisuddha, aryyaken sahaning dosa, jnengakna sanghyang kabhujanggan, inget-ingetan mula madhy wasananya, kriya sang sadhaka wehen samapta, pahenak byaktaning padarthanya, saha prayoganya, pahayun kapagehaning karmma mwang sila nira, nguniweh kasadhuning winaya nira mwang kasudharmma nira, Kuneng sadananing mamagehana riya, hana sanghyang trikaya paramartha, nga. Gegen sang sadhaka, Iwirnya nihan :

Kayika wacikascewa,

Manasikas tratiyaka,

Subha karmma niyowyantu,

Trikayamiti kawyate.

Trikaya, nga, kaya wwang manah kaya, sarira wak, nga, sabda, mana, nga, ambek, ika ta katiga pinasangaken manutang dharmma karyya de sang pandita, kapwadine maka bhummnya subha, karmma, wyaktinya dharma nika yaya sinangguh kayika dharmaning wak ya sinangguh wacika, dharmaning wak ya sinangguh wacika, Dharmaning manah ya sinangguh manasika, ika ta kapwa tlas siniddhikara maprawrttya rahayu, maka bumi dharma sadana, ya kayika wacika manasika, nga. Ri pageh nika katiga, yeka sinangguhan trikaya paramartha, nga. Iing sang pandita, ndayanung ta karih de sang sadhaka rumegepa sanghyang trikaya, aparan sadananing manuta ring dharmanya. Nyapan tahan ta linga sang sadhaka, Om nihan mpih kagegyenira, unyangulaha sang sadhaka mon sampun dang upadhyaya, sarwa kriyodyuta, protsaha ta sira mangatya sakagawayaningkriya, nityaha siranggonga pakaryya yajna puja, japa mangarccaneng bhatara satata, lota mangabyasa sastra mwang amarahana mangaji, magawaya yasa mwang kirtti, byetswagata ring sadhaka tamuy, nitya saweha dhana sadyana yoga samadhi samahita, lota magawe siwa smarana nitya kala, nahan ulahanira sang sadhaka dhang upadhyaya, nyang posikaning sabda pajarakna denira, mujarakna kasthawaning dewa mwang brahmana, nguniweh kasthawan sang maharddhika wrddha pandita, umucaranakna prakrttaning sastra wakya amarahana mangaji, mamicara awala widya mwang amiweka atatwa parijnana mwang agamokta, masari-sartta swabhaya anguccaranakna weda mantra, mwang satya adenirojar, satya ring utpanna, away angujaraken karnna sula ring para, away angujaraken wak parusya  mwang pisuna mrsawada ring para, ndan away ninda para codya ring kapwa nira sadhaka, mwang kapwanira dhang upadhyaya, away ninda ring kriya mwang gunawan brataning kapwa nira sadhaka, kewalya sira angujarakna satya wakya, mwang katha komala rum manohararjjawa, nahan Iwiraning sabda wuwusakna de dhang upadhyaya, nyang Iwiraning buddhi sang sadhaka dan upadhyaya, ambek suddha satya sadhu santa, dhrti, ksama pagehakna sang sadhaka, maka pagwana buddhi dhira ibarata nityasa, maka bhummyang metri, karuna, mudita, upeksa, sama ta anumana ring rat, away sira maka buddhi crol, dhurtta murkka mada mana lobha moha, ndan away sira gong krodha sanghet, magalak ring kapwa nira sadhaka, away bhangga irsya katungka matsara kimburu ring kapwa nira sadhaka, away drohaka sampay awamana ring kapwa nira sadhaka, mwang ring kapwa nira dhang upadhyaya, kewalya gong srddha gong prasada dara duga duga ta juga paka budhi sang sadhaka ring parampara mwang kapwa nira sadhaka, nahan Iwiraning buddhi dhang upadhyaya, anghing samangkana ta juga gegon de dhang upadhyaya sadhananing krta diksita, sugyan kwa linganta nihan mpih. Anywa gya juga sira lumkas, nanghera juga sakareng yadyastun huwusa menaka pageh sila mwang winaya sang sadhaka, nguwineh samaptaha ring kriya nira tuwi, ndan away juga agya lumkas, ayusya nira herakna, delen wang ning wayah sang sadhaka mwang wrddhaning wayah nira, sangksepanya, ajwa sang sadhaka lumkas krtta diksita, duga mwang tuwuh nira, mwang manwam tuwuhning anakbi nira, basama nanmu wighnaninga lumkas krtta diksita, mon, sira tapwan panitiha ring samangka, kuneng deya niran pangantya, ya sampun wrddha nggawayawa nira sira lumkas, kuneng ingananing dawaning yusa nira, mon sadhaka wet bet ning krta diksita, putra potraka pinangkanggeh nira, yapwan gnep limang puluh tahun, hinganing wayahning tuwuh nira, yogya lumkasa krtta diksita, kuneng yan tan wasaning krtta diksita, ahingan nmang puluh tahun tuwuh nira yogya sira lumkasa krtta diksita, away sang ksepanya, away sang sadhaka lumkas krtta diksita, mon lagi yowana, mwang lagi yowana ng anakbi nira, away lumkas krtta diksita mon srti nira turung maren raja swala, yan sampun tlas matuha lakih, lumkas ira dumiksa, nahan hingananing wala niran lumaksana krtta diksita. Ring huwusning prapta wayah sang sadhaka, an genep tuhuning tuwuh nira, irika ta sira lumkas krtta diksita, away sangsaya, parekakna tang pudghala tang sinambhal diksan, manganakna ta sira diksopacara, magawaya dewa grha, kundha, sthandhila, mamarekakna siwopakarana, Iwirnya : bhasma, ganitri, guduha, kundhala, wulang hulu, brahma sutra, ambulungun, pawwahan, camara, argha, tripada sangka, ghanta, jayaghanti, ika ta kabih siwopakarana, nga, anung drwya sang sandhaka. Tlas masna pweha kabeh, parekakna tang sisya kamna sangskaran, ndan humera ta mpu sakareng, ikang wwang masna gawayen pudghala, pilihana rumuhun away bhangbhang sisya, away wawang winikwan, kunengde sang sandhaka dumele Iwiraning yogyaning yogya sisya nihan. Punya janma, maha prajna, satya wak, sadhu silawan, sthira dhairrya, swami bhaktya, dharma wista, tapo nodhah. Nihan Iwiraning wwang pilihen gawayana sisya, wwang suddha janma, maha pawitra kawanganya, wwang satya wacana tan mrasodita, wwang sujana tuhu-tuhu maharddhika, wwang prajna wruh mangaji, wwang satwika sadhu maharddhika, wwang susilapageh ring winaya, wwang athira sthiti ring abhigpraya, wwang dheryya dharaka angelaken suka duhka, wwang satya bhakti matuhan, nguniweh ring wwang atuha, wwang mahyun ring kagawayaning dharma karyya, wwang magapeh magawe tapa, nahan Iwir ning wwang gawayen sisya, yogya diksan. Lwirning tan yogya diksa nihan, yadyan bramangsa bhasmangkara jati nikang wwang away sinangskara mon tan yogya diksan de sang guru, ndya Iwirnya, wwang cutaka, wwang patita wacaka, wwang kuci angga, wwang walaka, wwang maha duhka. Cutaka janma, nga, wwang taluwah, Iwirnya, wwang pinaka niwedya, wwang pinaka saji, wwang dana kalaning sawa, pamaha wwang rahupning sawa, wwang tadhah rah tadhah wuk, wwang wliyan, winli huripnya kalaning padosan, wwang binandhana, pinanjara, rinantay, ginantung, pinasar, wwang wurung bela, wurung tinewek, huwus winaweng pamanggahan smasana, catuspata, wwang malabuh pasir, malabuh parang, malabuh wwai, malabuh bahni, tapwan mati, wwang kalebu ring sumur, kalebu ring patahyan, wwang dinyus hulunya ring mutra mwang purisa, wwang sinyukan wwai ring padhamwaning stri, wwang inmukan kupina mwangken dening adhamajanma, wwang tembha, inisingan ineyehan kuneng dinulangan purisa eyeh, wwang tembha, inisingan ineyehan kuneng dinulangan purisa eyeh, mwang tinpak tinampyal dinedel sirahnya mwang mukanya dening pujut, bondan, kake sangraha kuneng, ika ta kabeh cutaka janma, nga, wwang manembah ring adhama janma, mamangan tadhahnya, ginunting romanya sinuyuran kuneng, wwang manembah ring cutaka janma, manembah ring tapodhara, wwang mangasraya ring adharma janma, wwang mamikul dhampa wimana sedheng hana manunggang, wwang mamikul phalana, padaraksa, padamwan, kalasa, tilam pramadhani, yeka patita, nga, mwah sahananing wwang sadigawe, sadigawe, nga, samudaya, mwang dhang acarya wrddha pandita, pinangen sang para dhang upadhyaya, pitamaha, prapita maha, bhagawanta, deyaning mahon kapwa malinggieng sabha, amacaha sanghyang siwa dharma mwang sanghyang siwa sasana, wehen karengwa de sang sadhaka samirha, anung donya ri tan hanani agamana managa warga karma mangkana, tibana tapidana gurunya mwang sisyanya, deyaning mamigraha gurunya pasasan de sang sandhaka kabeh, adapana nama de anyandung sangskara wayakna namanya walaka alapana kriyanya mwang Siwopakaranya, huwus pwa pinucca, nyan ta de sang prabhu, bwangen tundhungen umarang nusantara, aywa wineh mangan tya ring bhumi jawa, kumwa deyaning mamucca gurunya, kunang sisyanya bandanen ring hwi walatung, bwangen de sang prabhu mareng sagara, mawana plawa, prapta pwayeng lod pokanata griwanya pasahaken mwang lawayanya, angganya mwang sirsanya, tibaken telenging payonidhi, ndah mangkana ta dosaning dwanitinamana diksita, tan rinakwa pamangguhnya papa duhka, hinganyan lalu tuwasning sadhaka paksa nipuna, teher sara ngukir, ati tan pweka, kuneng Iwira sang tuhu nipuna sadhu pajarakna ri tlasnira madumpi-dumpilan, wwang yogya sinambha sisya, nda aywa tampu sangsaya ri kalekasa nigawayaning diksa widhi, parekaknang pudgala, lumarisa diksana sakweh kdhiknya, bahu sisya kuneng kita, nda aywa ta mpu wismrti ring dharmaning sadhaka pinaka guru tutanangkwa nyapan tahan kwa linganta, nihan mpih deya sang sadhaka guru, majarana dharmaning sisya mwang pudghala, maweha kriya, mohuta ring sisya nguccaratanacara, mawaraha ring dasa sila mwang panca siksa, guru talpaka lawan tri karya paramartha, mangajarana kalingacara mwang karmma sila winaya ring sisya, mahutang apakrama ring agamanyu, swikane pageh deyanya gumego sanghyang siwa brata, patehen, karmanya, aywa wimarga sake kabhujanggannya, kumwa deya nira amarah-maraha ring sisya, mwang buddhya sang guru ring sisya, aywa krodha, aywa lobha, aywa parusya, aywa irsya, aywa drohi ri sisya, krodha, nga, abhimana mwang galak, masenghi ta tumon sisya, lobha, nga, mahyun mamunpuna wastu drwyaning sisya, parusya, nga capala tangan, nga,mamalu, mamrep, manampyal ring sisya, capala wuwus, nga, mangajaraken karnna sula sapata pisuna ri sisya, irsya, denggya, matsarya, kimbhuru, bwat iryan ring sisya, drohi, nga, mangupaya halaning sisya, maka nimitta ingsa karma, mwaang raga dwesa, murkka, nga, crol, kuhaka mada mana katungka pinaka srayanya, ngalaha lama ring sisyanya, ingsa karma, nga, makira-kira ma matyana, mamatyani kuneng, mahyun manimbatamranganu duka raga, nga, makira-kira maka nimitta raga wisaya, kahyun kahala lumakwa macidra ring tanaya dharaning sisya, saha cihna kuneng makuren makridha cumbana mwang anakbining sisya, dwesa, nga, manupaya halaning sisya, maka nimittang iliknya moghaten mamucca, haten namidhana, aten dumosana, aten sahasika sakeng duleknya ring sisyanya, ika ta kabeh sisya drohaka, nga, aywa sang wiku makam bekika duryyasa, nga, mwang deyan ta muwah, aywa sang guru nistura tumon sisya dina kalaran manmu duhka, aywalwir tan uninga tumon sisya salah silanya mwang swabhawanya, aywan durusaken sisya tan wruh ring krama, aywa gigumohut ri sisya magawe papa karmangde patitanya, aywanangguh patita ring sisya mon tan byakta cihnanyan patita aywagya kumeniscaya parccaya ring sila mwang hartaning sisya, aywa tan parccaya yan kateher byaktaning silanya. Aywa ninda pracodya ring sisyanta, aywa mucca sisya tan sayanga krama dendha dosa, away mucca sisya sulaksana, maka nimitta krodha mwangilikta, away nganumana sisya, pasita durlaksana maka mimitta sraddhanta sih ta, sang ksepanya, mon kita mucca sisya, away tan sayangakrama dhendha dosa, mon kita nganumana, away tan sayanga kraman anuta pajaring agama, kuneng yan hana sisyanta hinapawada dening kapwanya sabha, aywagya kita mamituhu, basa malebok gatining para codya, kuneng deyanta pariksan sudhi-sudhin, dele-delen tuhuning dosanya tanyanen prihen sarjawanya, yapwan tan ulih kita kita mariksa sisyanta, teher tamaren pabodyaning para, swikaranta sisya, ajnana denta, kon magawaya sapata, pangadesana yan tan tuhu patita, kuneng pagawayana sapata, ring siwa, grha ring agni ring jro kundha, ring lingga, ring parhyangan, ring Siwa pada, ring pada sang guru, irika pagawayana sapata kasaksyana dening guru, mwang dhangen sanak, kalanyan masapata, tlasnya masapata, nda tan kaparccaya dening gurunya pwaya wih, wetning gongning para pawada, mur angdoha taya muwah, swikaran madewasraya, manghyanga ring silagraha, ripungann tirtha, ring samudra tira, ring guha, ring tapowana, nahan parana dening sisya, lawasnya lungha, sewu pitung puluh dina, kuneng mon tan pamangguh wighna ring sapata kala, mwang sahinganing dewa sarana kala, mwang tan tuhun ika patita, away pinucsa dening guru yan pamanggih wighna pwa ri sahinganing sapata, mwang dewasraya kala, puccan de sang gurunya, aywa inanumana, kuneng hangghyaning sadhaka hinapa wada dening kapwa sadhaka, nirupadrawa sehinganing lawasnyan padewa saksi, tan tuhu ika patita, ikang sadhaka mangapawada ring gatinya walesanya juga, puccan dening gurunya, mwang dhngen sanaknya, apayapan walatkara ridiksita padhanya sadhaka ikang mangapawada purwwa puccan away hinanumana dening gurunya, kumwa sasananya ling sanghyang agama.

Yapwan walaka wrti pwa mangapawada ri dhang acaryya, manangguh patita, nda tan hana wyaktinyan patita, swikaran ta dening gurunya ika sadhaka katkan parapawada, kon madewa saksya purwwa wat, kuneng yapwan katon byaktanya, aywa pinucca de sang guru, ikang walaka mangapawada purwwaka pidhanan de sang prabhu, pokkana denira, sirsanya, pasahaken lawan kamandhanya, aywa ta wineh tiba ring rat, angganya, rahnya, sirahnya, bwangen, mareng lod tibaken telenging payonidhi, kumwa dhendhaning walaka ngapawada ring sadhaka, mangamuk sangskaraning sadhaka, nga, Hana wwang mangapawada ring sadhaka winalingnya tan wet nget brahma kula mwang bhasmangkara, tuwi sudhinta jatining sadhaka dening gurunya, paranuswa desani yayah renanya, mon sadhaka yayah renanya mwang kakinyandhunya kuneng, ikang mangapawada, walesen purwwa wat dhandhanya agalah tuna, nga, yan srti mangapawada ring sadhaka, manangguh patita, manangguh tan brahma kula bhasmangkara, kramanya desang guru, kon madewa saksya tang sisya purwat, kuneng yan tan polih pangapawadaning srti, ikang srti pidhanan de sang narendra, tewere lidahnya, mwang nasikaning bhaganya, wehen malyangan, tundukana pasa wesi sedheng abang, dening apuy, tuntun weh katona dening wwang akweh puger tpining awan, aywa limputan makahingan patinya, kumwa pidhananya padha mwang angarwwana ring sadhaka, nahan tmahaning mangapawada ring sadhaka, tan wurung manemu pamaksaning panyodyanya, sangksepanya, yawat sing sadhaka hinapawada, tawat madewa saksi, yawat wwang mangapawada ri dhang acaryya, sing sawakanya, mon sadhaka, mon tapo dhara. Mon walaka, mon laki-laki mon srti, mon sahasika ngupawada yan tan sayata cihna yangawyakti, tawat winales dening apwadhanya, tan wurung manemu duhka dening panindanya ring para , ya ta matangnyan aywa sadigawe jati ni kang wwang, nyapan tan kawalesan yeka. Kuneng tata kramaning sadhaka kabeh caritan, ndya ta Iwirning karmaning para sadhaka, aparan rupaning silanya, nyapan tahan linganta, o nihan pih deya sang sadhaka, siwapaksa kabeh, aywa pamada ring kabhujangganya, yatna amriha ri karaksaning kasadhakanya, tuhun karaksaning sarwa sarira waya wanta raksan rumuhun, tumuta karaksaning karma.O.

Iti sanghyang Siwa Sasana, tlasinurating siku srama, isaka 1559. Tithinawami kresna paksa, ring cetra masa. Pa, pa, Su, wara dungulan, irika diwasanya sampurnnaning pustaka odyakna kasiddhyan sang anulis, mwang dirggha yusya nira sang amaca, siddhi rastu, tathastu, astu, Om Om Sri pasupataye namah.

Ri sampuning alawas “Ida Padanda Tambahu”, asrama ring Ahan, malih tinurun sanghyang Siwa Sasana, reh sampun awuk, puput anurun ring dina, wu, u, wr, wara Dungulan, tithi krsna paksa ring sasti, phalguna masa, isaka 1867.

TERJEMAHAN BAHASA INDONESIA

Hendaknyalah Siwa Sasana ini diperhatikan oleh para sadhaka semua, semua dang acarya mazab Saiwa yang terdiri dari Saiwa siddhanta, Wesnawa, Pasupata, Lepaka, Canaka, Ratnahara dan Sambhu.

Demikian rincian sang sadhaka mazab Saiwa, terutama dang acarya pandita yang agung, sri gurupata, dang upadhayaya, pitamaka, parapitamaha, bhagawanta. Demikian adanya semua.

Mereka semua hendaknya dengan seksama mengusahakan mempertahankan hukum-hukum Siwa Sasana dengan tujuan menegakan kependetaannya, tertib hidupnya, kelangsungan usaha-usahanya, perilakunya yang baik, dan dharmanya yang mulia, lebih-lebih pula tetap berlangsungnya tapa bratanya agar jangan menyimpang dan menyasar dari hukum kependetaan. Itulah sebabnya hukum Siwasasana diajarkan oleh sang pendeta guru agung pada jaman dahulu. Adapun sang sadhaka, dang acarya yang patut dijadikan guru, dan yang tidak baik dijadikan guru, itulah yang akan dijelaskan terlebih dahulu yaitu :

Sajjanah – orang sejati

Wredaha wehasa – ?

Sastrajnah – pandai tentang sastra

Wedaparagah – ahli weda

Dharmajnah – pandai tentang dharma

Sila sampanah – berbudi baik

Jitendriyah – menguasai hawa nafsu

Drda bratah – taat melaksanakan brata

Inilah sang sadhaka yang patut dijadikan guru pengajar oleh masyarakat, yaitu pandita guru yang senior, senior dalam umur, acarya yang menguasai ilmu bahasa, menguasai bermacam-macam pengetahuan, ilmu logika, tata bahasa dan lain-lainnya.

Acarya yang ahli Weda, yang menguasai bagian-bagian Sanghyang catur Weda, dapat menghapalkan Sanghyang Sruti dan Smreti. Acarya yang teguh menerapkan dharma, mampu melaksanakan yasa, dana, dan kirti. Acarya yang suci hatinya, berketetapan hati untuk menuruti tuntunan hidup yang saleh, lagi pula suci, bertingkah laku yang baik.  Acarya yang dapat menaklukan hawa nafsunya, dapat melepaskan diri dari ikatan kenikmatan duniawi. Acarya yang tabah, teguh, tetap hati dalam tapa brata. Orang mulia seperti itulah yang patut dijadikan dang upadhyaya.

Yang disebut acarya krta diksita (pandita guru yang sudah didiksa) ialah gurunya guru, tempat mendapatkan sangaskara (penyucian) dan bhasma (abu suci), sadhaka yang berwenang memberikan diksa sangaskara kepada sesama manusia ialah keturunan sadhaka terus menerus, yang memang disiapkan untuk menjadi wiku, mematuhi dharma sadhaka mazab Saiwa.

Sadhaka yang demikian itu, adalah wiku yang maha suci dapat disebut dang upadhyaaya (guru besar). Adapun diteliti keturunannya oleh sang penganut mazab Saiwa ketika ingin mendapatkan sangaskara. Hendaknya acarya yang aku tunjukan (kepadamu) juga dipilih. Perhatikan dengan sungguh-sungguh bila memilih salah seorang untuk menjadi guru.

Kesimpulannya, hendaknya sisya ikut berperan dalam usaha mencari guru. Janganlah anakku………………………..

Apakah pahalanya menyembah sang sadhaka, wiku yang maha suci.

Mungkin demikianlah pertanyaanmu.

Inilah keutamaan kesucian berguru kepada guru yang berbudi luhur.

Laksmi duhkha sahasrani

Samsara papa nasanam

Paratre naraka nasti

Siva lokam avapnuyat.

Inilah kemuliaannya dia yang telah didiksa oleh dang acarya. Yaitu wiku yang maha suci, pandita yang sudah senior, ialah hilangnya noda kecemaran orang itu. Atau ia tidak akan tersentuh oleh segala marabahaya, duka nestapa, bebas dari sengsara malapetaka. Berapapun banyaknya papa orang, berapapun besarnya, meskipun seribu banyaknya, sebesar bumi dan gunung Semeru besarnya dan beratnya, tentu akan lenyap menjadi hilang sama sekali.

Bila didiksa oleh pendeta guru maha pandita. Besar benar kesucian sang pendeta guru maha agung, mampu menghilangkan papa muridnya. Sebab itu maka hendaknya dipilih pendeta guru yang dapat dijadikan tempat berguru oleh sisyanya. Janganlah berguru kepada guru yang berbudi rendah.

Boleh jadi orang akan terlanjur dipengaruhi oleh sifat-sifat aib sang guru bila mendatangi seorang guru, memohon agar didiksa oleh seorang sadhaka yang buruk tingkah lakunya, sadhaka yang bodoh, yang tidak banyak mengetahui sastra, yang kurang berpengetahuan, yang kurang pertimbangan, yang tidak bijaksana.

Lebih-lebih lagi seorang sadhaka yang tahu sedikit-sedikit saja pengertian yang terkandung dalam pengetahuan, sehingga ia bodoh, sering salah, ditambah lagi bebal, acuh tak acuh, linglung, melongo, kaku, bingung. Bila demikian perilakunya maka itu adalah sadhaka bodoh namanya.

Acarya duryasa ialah acarya yang tidak melaksanakan dharma, curang, berbudi hina, congkak, mabuk yang menyebabkan ia bersifat lirih, angkara murka serta jahat, iri hati, tampak cemburu, mrsawada yaitu segala kata-katanya tidak apat dipercaya. Serta pula dengan berbudi buruk, tidak memperhatikan tuntunan berbuat sesuatu, memalingkan muka dari yang baik benci pada pekerjaanyang berbentuk yasa, menyimpang dari ajaran agama, menghina Tuhan dan Brahmana, bersikap bermusuhan terhadap teman, menentang guru, menghina ibu dan bapaknya.

Bila ada sadhaka yang demikian perilakunya, itulah sadhaka duryasa, Tawan. Tidak benar untuk dijadikan guru oleh seorang pengikut Saiwapaksa. Apakah lagi dosanya  wiku yang dungu, duryasa yang tidak benar dijadikan guru oleh orang banyak, melaksanakan diksa pada setiap orang yang ingin menjadi wiku ? Mungkin demikian pertanyaanmu.

Inilah buruknya. Dasarnya orang dungu, tidak tahu petunjuk-petunjuk tuntunan hidup dan kasih sayang kepada orang lain dan tidak sanggup melaksanakan dharma karena bingungnya sehingga menjadi terantuk kesana kemari ………

(mwang anung gawe ayu?) selalu mendapat dosa sehingga mendapat hukuman dewa.

Bila hukuman dewa telah mengusut, akan menanggung aib, menjadi orang tak berguna dan akhirnya membisu tanpa kata-kata. Demikian bahaya kebodohan itu.

Adapun bahayanya duryasa, tetap terlena dalam perilaku yang melawan  dharma, tertutup hatinya (?), mengembangkan aibnya, dan besar papanya, membuka lebar-lebar pintu narakaloka dengan tergesa-gesa, berlari-lari ingin mengecap pancagati sangsara, mustahil akan berubah menjadi tingkah laku yang baik.

Itulah sebabnya acarya bila dungu, duryasa perilakunya, tidak patut diusahakan oleh seorang penganut Saiwapaksa untuk menjadi guru.

Kesimpulannya orang yang sadar, janganlah berguru pada seorang sadhaka yang hina dan duryasa, boleh jadi akan terseret ikut jatuh ke Yamaloka. Hendaknya hanya sadhaka yang aku sampaikan dahulu saja usahakan dengan sungguh-sungguh dicari untuk menjadi guru. Wiku yang maha suci, pandita bersih saja hendaknya kamu sembah dan mendiksa kamu.

Telah kusampaikan sang sadhaka yang wajar dijadikan guru. Mari kita paparkan apa yang ingin diwujudkan dalam perilaku sang sadhaka yang sudah menjadi dang upadhyaya.

Bila ada dang acarya yang pantas dijadikan tempat berguru, janganlah hendaknya ia tergesa-gesa melaksanakan diksa bila ia belum sempurna dalam pekerjaan dan belum matang tentang hakekat ajaran kependetaan, atau belum yakin benar akan isi ajaran Siwagama. Janganlah ia tergesa-gesa berbuat, sebab dang upadhyaya tidak boleh hanya menjadikan tanda dan bermaksud membawa kesana kemari ajaran Siwaan itu? Adapun usahanya ialah amat-amatilah pekerti diri sendiri terlebih dahulu agar tidak tampak ngawur. Bagaimana caranya mengamati perilaku itu? Boleh jadi demikian pertanyaanmu.

Perhatikan akan adanya “guna” (sifat-sifat baik) dan dosa pada dirimu, usahakan dengan sungguh-sungguh perkembangan semua sifat-sifat baik dan biarkan supaya menjadi suci.Tinggalkanlah segala macam dosa, tegakkan kependetaan itu, ingat-ingat awal, tengah dan akhir dari padanya. Tugas sang sadhaka selesaikanlah. Buatlah mudah isinya dan penggunaanya. Buatlah lebih baik kelangsungan akan tugas-tugas dan budi pekertinya, terlebih-lebih tentang keluhuran budi, kecerdasan akal dan kesudarmannya.

Adapun sarana untuk mempertahankan itu ialah apa yang disebut trikaya paramartha, pegangan sang  sadhaka. Rinciannya ialah :

Kayika vacikasceva,

Manasikas tratiyaka,

Subhakarmaniyovyantu,

Trikayam iti kavyate.

Tirkaya ialah kaya, wak dan manah. Kaya adalah badan wak adalah kata-kata, manah ialah pikiran. Ketiga-tiganya itu hendaknya ditempatkan sesuai dengan usaha-usaha yang berdasarkan dharma oleh sang pandita. Semuanya supaya berdasarkan subhakarma (perbuatan yan baik). Sebenarnya dharma kaya disebut kayika, dharmanya wak disebut wacika dan dharmanya manah disebut manacika. Semuanya itu supaya diusahakan sampai berhasil berbuat yang baik berdasrkan atas pelaksanaan ajaran dharma. Itulah kayika, wacika, manacika.

Bila ketiga-tiganya sudah kokoh, maka disebut tri kayaparamartha. Demikian kata sang pandita. Apakah lagi yang patut sang sadhaka renungkan tentang trikaya itu? Apakah syarat untuk menuruti dharmanya? Mungkin demikianlah pertanyaan sang sadhaka.

Om inilah pegangannya. Hendaknya ia mengetahui perilaku sang sadhaka bila sudah menjadi dan upadhyaya. Ia harus mantap bekerja, ia harus terdorong memperhatikan segala jenis kerja, Ia selalu meningkatkan membuat yadnya, puja dan japa. Ia selalu memuja Bhatara, selalu mendalami sastra agama dan mengajar, membuat yasa dan kirti, sopan menerima tamu sadhaka, selalu memberikan sedekah yang diperlukan untuk beryoga dan bersemadi memusatkan pikiran, selalu melaksanakan Siwasmarana (pemusatan pikiran pada Bhatara Siwa). Demikianlah perilaku sang sadhaka yang telah menjadi dang upadhyaya.

Inilah sifat kata-kata yang patut disampaikan olehnya. Yaitu membicarakan tentang pemujaan para dewa dan pujian kepada Brahmana, lebih-lebih lagi pujian kepada pandita senior yang maha bijaksana, menghafalkan perihal ucap-ucap sastra agama, memberikan pelajaran, memperbincangkan segala macam ilmu pengetahuan dan mengkaji pengetahuan filsafat dan ajaran agama, selalu (?) mempelajari dan merapalkan mantra-mantra Weda. Dan ia berkata jujur, setia pada janji dan ia jangan mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan telinga orang, jangan berkata-kata kasar, dan memfitnah, dan jangan berbohong kepada orang. Dan janganlah menghina orang, jangan mencerca kerja dan sifat brata sesama sadhaka. Hanya kata-kata yang benarlah dan kata-kata yang manis, lemah lembut, menarik hati dan bersahaja yang harus ia ucapkan. Demikianlah kata-kata yang sebarusnya disampaikan oleh dang upadhyaya.

Inilah sifat-sifat sang sadhaka yang telah menjadi dang upadhyaya yang harus ditegakkannya. Yaitu pikiran yang bersih, setya, budiman, tenang, tangguh, dan pengampun yang harus dipegangnya teguh dan kuat, beralaskan keteguhan hati, selalu lapang hati, mendasarkan mentri, karuna, mudita dan upeksa dan sayang kepada orang.

Janganlah ia curang, licik, sombong, mabuk, congkak, loba, binggung. Dan janganlah ia cepat naik darah, galak terhadap teman sadhakanya, janganlah ia keras kepala, iri, busuk hati, cemburu kepada temannya sesama sadhaka. Janganlah durhaka, menghina dan tekebur terhadap temannya sesama sadhaka dan sesama dang upadhyaya. Hanya keikhlasan yang  mendalam, budi baik, hormat, jujur saja yang menjadi budi sang sadhaka merasa pada seorang dan berlanjut pada yang lain-lain kepada temannya sesama sadhaka.

Demikianlah budi dang upadhyaya. Hanya yang demikian itu sajalah hendaknya dipegang teguh oleh sang sadhaka sebagai sarana diksa ? Barangkali demikian pertanyaanmu. Begini ! Jangan juga terburu-buru berbuat, tunggu pula sebentar walaupun perilaku dan disiplin sang sadhaka sudah meyakinkan dan kuat, lebih-lebih pula sudah menyelesaikan tugas-tugasnya, namun walaupun demikian jangan juga terburu-buru berbuat.

Hendaknya usianya ditunggu, teliti muda umurnya sang sadhaka dan kematangan umurnya. Singkatnya, janganlah sang sadhaka buru-buru didiksa. Perkirakan muda umurnya dan muda umur isterinya. Berbahaya akan mendapatkan bahaya bila melaksanakan pemberian diksa, bila ia belum mengatasi hal-hal yang demikian itu.

Adapun tujuan menunggu itu ialah sempurnanya perkembangan jasmaninya untuk mulai bertindak. Adapun batas umurnya, bila ia sadhaka keturunan dari yang sudah didiksa. Bila ia tidak kekerasan dari yang sudah didiksa, maka batas umurnya ialah enam puluh tahun baru ia dapat melaksanakan diksa. Kesimpulannya janganlah sang sadhaka, menjalankan diksa, bila masih muda dan isterinya juga masih muda. Janganlah melaksanakan diksa bila isterinya belum berhenti datang bulan. Bila kedua-duanya sudah cukup tua umurnya, maka ia dapat melaksanakan diksa.

Demikianlah wala (=jaminan?)nya untuk melaksanakan diksa. Apabila telah tiba usia sang sadhaka dan cukup tua usianya maka pada waktu itulah ia melakukan diksa dan jangan ragu-ragu.

Hadapilah yang berpudgala dan alat-alat diksa itu, mengenakan pakaian upacara diksa, membuat Dewagrha, kundha, sthandila, menghadapi alat-alat Siwapakarana, seperti bhasma, ganitri, guduha, kundala, wulang hulu, brahma sutra, ambulungan, pawawahan, camara, argha, tripada, sangka, ghanta, dan jayaghanti.

Setelah lengkap semuanya itu, hadapkan sisia itu sebelum upacara. Kemudian tunggulah sebentar. Orang yang datang hendak mendiksa supaya dipilih terlebih dahulu. Jangan asal sisia, jangan tergesa-gesa menjadikannya wiku. Adapun sang sadhakadalam meneliti macam-macam sisia yang boleh didiksa adalah sebagai berikut, bersifat sosial, orang bijaksana, setia pada ucapannya, yang memiliki kesusilaan, teguh pendirian, setia bhakti terhadap suami, teguh pada dharma tanpa noda. Demikian macam orang yang dipilih menjadi sisia. Keturunan orang suci, sangat suci keturunannya, orang yang setia terhadap ucapannya, tidak berbohong, pandai dalam ilmu, orang yang benar-benar berjiwa besar, orang mulia, suci, berjiwa besar, orang yang susila, tegas dalam hal siasat, orang yang kuat menahan suka dan duka, orang yang setia terhadap atasan, apalagi terhadap orang tua, orang yang gemar melaksanakan ajaran dharma, orang yang teguh melaksanakan tapa, demikianlah macam orang yang dijadikan sisia yang patut didiksa.

Adapun macam orang yang tidak boleh didiksa adalah sebagai berikut. Meskipun brahmana keturunan bhasmangkara, orang itu jangan didiksa. Ingat tak boleh didiksa oleh nabe, seperti dibawah ini, yaitu : orang yang kapatita, orang yang jatuh sebagai walaka, orang cacat tubuh, orang yang sangat menderita.

Cuntaka janma berarti orang hina, seperti orang yang dijadikan kurban, orang yang dijadikan sesaji, orang yang diserahkan pada waktu melakukan upacara sawa widhana, asti widana, tukang pemikul mayat, pembawa pencuci muka mayat, penadah darah, penadah barang naziz, orang belian, dibeli hidupnya pada waktu dihukum, orang yang dihukum penjarakan, dirantai, digantung, dipasarkan, orang yang gagal dibela, batal ditusuk, telah dibawa kelapangan kuburan, catuspata, orang yang ditenggelamkan bersama pasir, dihukum pancung, ditenggelamkan ke  dalam air, dibakar, orang yang belum mati, seperti : tenggelam jatuh ke sumur, jatuh kekakus, orang yang disiram kepalanya dengan mutra dan kotoran manusia, orang yang disiram air jemuran perempuan, orang yang dibungkus cawat oleh orang hina, orang tembha diising disiram air kencing, juga yang dimelangan kotoran kencing, orang yang ditapak, ditempeleng kepala dan mukanya dengan cemeti, diikat dan dijambak rambutnya. Semuanya itu cuntaka janma namanya.

Orang yang menyembah terhadap orang yang hina, memakan makanannya, digunting rambutnya, (dan) juga yang diguyur (rambutnya) orang yang menyembah kepada oang cuntaka, menyembah kepada tapadhara, orang yang berlindung kepada orang yang nista, orang yang memikul bangku tempat duduk yang sedang ada yang menduduki, tukang pikul palana, padaraksa, jemuran, tikar, tikar permadani. Semua itu patita namanya dan segala orang sadigawe.

Sadigawe berarti turut dengan adhah kriya. Adhah kriya berarti segala yang sudra, candala dan mleca. Sudra berarti orang banija krama dan wulu-wulu. Banija krama berarti berdagang, alampuran, atasana, apalya, buncangaji.

Segala yang menjual belikan dagangannya, bajija namanya. Andhyun, angendhi, pan nya, banija namanya.

Andhyun, angendhi, pande segala macam pande, undagi, amaranggi, jalagraha, mengukir, melukis, mengapus, menjahit, membuat wayang, menmon, ijo-ijo, ang godha, amidhu, apacangah, araktan, semua itu wulu-wulu namanya.

Candhala berarti memahat, menjagal, melempar, memutar, mencungkil, mendulit, memukul, membudak, semua itu candhala namanya.

Mleca berarti paandai emas, dukun suratman, warung kedhi, juru rurih, semua itu mleca namanya. Demikian pula kalau ada keturunan brahmana ikut dengan pekerjaan orang sudra, candhala dan sebagainya, orang seperti itu, manusia sandigawe namanya, sebab salah hurara namanya.

Manusia kuci angga berarti orang cacat tubuhnya, seperti orang wwal, oarng bungkuk, kayang, kerdil, drmidari, lampang, bule, belang, lampir, wiwang, semua itu kuci angga namanya.Maha duhka berarti orang yang menderita tubuhnya oleh karena sengsara, seperti orang kusta, gila, ayan, menju, lajwa, wlu, dhusul, bwalen, busung, tahi panden, kesakitan, apalagi yang buta, tuli, bisu, cungik, umbung, tlihen, timpang, kejang, pingker, keteng. Demikianlah namanya cacat menderita. Itulah manusia maha duhka keadaannya. Segala orang seperti itu, manusia durlaksana namanya.Tidak patut dijadikan sisia dan dipodgala.

Kesimpulannya, jangan didiksa oarang-orang itu oleh dhang guru sebab jangankan mendapat pahala, bahkan mendapat dosa dan sengsaralah kita kalau disembah olehnya. Itulah sebabnya jangan sang sadhaka memberi diksa orang durlaksana.

Sebagai tambahan, janganlah sang sadhaka mendiksa orang yang telah didiksa oleh dhang guru yang lain, didiksa oleh sadhaka yang belum krrta diksita. Jangan mendiksa orang yang telah melakukan upacara suci, memohon restu kepada tapodhara. Tidak benar tingkah seperti itu, menumpuki upacara namanya. Lagipula janganlah dhang guru mendiksa orang keturunan biasa, bukan brahma wangsa dan bukan bhasmangkara.

Brahma wangsa berarti keturunan brahmana, putra putra pandita sejati, itulah brahma wangsa namanya. Bhasmangkara berarti memang keturunan sadhaka, berasal dari pandita Siwa Budha, apakah itu anak, cucu dan juga keponakan, itulah yang disebut bhasmangkara. Orang yang lain dari itu, orang biasa namanya, tidak boleh diupacarakan seperti yang berlaku bagi sadhaka. Namun jika keras keinginannya berguru, didiksa juga oleh sang guru namun jangan dipudgala. Upacara sederhana saja. Hanya mendapat restu saja. Kapunta caraka gelarnya. Tidak ikut disebut sadhaka, tidak memakai cikadhara dan tidak mengenakan upacara pandita Siwa. Apakah bahayanya mendiksa orang kebanyakan ?

Betapa dosanya kalau menjadikannya sadhaka, agar engkau ketahui bahayanya. Kalau ada dhang upadhyaya melakukan diksa kepada orang kebanyakan, dunia menuju maha qiamat dan negara menjadi hura-hura. Sebenarnya ia disidangkan oleh para dhang Acarya seluruhnya dan bersama dengan dhang Acarya Pandita senior. Mintalah kepada sidang pertemuan, berkumpul dalam sidang umum, memecahkan tentang hukum pandita Siwa dan mengenal tata laksana Pandita Siwa agar diperdengarkan kepada sadhaka, semua. Adapun tujuannya adalah adanya ketidak tentraman melakukan perbuatan seperti itu. Jatuhkan hukuman pada guru maupun sisianya, karena merusak gurunya. Dikucilkan oleh para sadhaka semua, dicabut gelarnya karena melanggar pensucian. Kembalikan namanya menjadi walaka. Cabut kewajibannya beserta alat upacara siwanya. Setelah dihapuskan semuanya, kemudian inilah yang dilakukan oleh raja. Supaya dibuang, disuruh pergi keluar wilayah jangan diperkenankan bertempat tinggal dipulau jawa. Demikianlah cara menghukum gurunya.

Adapun muridnya, ikat dalam dengan duri kaktus, supaya dibuang oleh raja kelaut memakai sampan. Setelah sampai ketengah laut pancung kepalanya, pisahkan dari tubuhnya. Badan dan kepalanya, buang ketengah samudra. Nah demikian dosanya memberi nama diksa dua kali. Tak dapat tiada akan mendapat papa sengsara. Kesimpulannya, ikhlas hati sang sengsara. Kesimpulannya, ikhlas hati sang sadhaka yang berjiwa bijaksana tetap tegak seperti gunung. Demikianlah hendaknya.

Setelah selesai hal itu, marilah kita bicarakan sekarang tentang orang-orang yang benar-benar suci dan bijaksana, setelah ia memikirkan masak-masak terhadap orang yang patut dijadikan sisya.

Hendaknya engkau jangan ragu-ragu melaksanakan diksa suci secepatnya. Hadapi pudgala itu. Teruskan melakukan diksa. Banyak atau sedikit. Mungkin engkau mempunyai banyak sisia, namun janganlah sampai engkau lupa pada kewajiban sebagai sadhaka yang dijadikaan guru. Tingkah lakumu perlihatkan kepada dunia bagaimana dharma sang sadhaka yang menjadi guru yang patut diikuti.

Agar engkau ketahui, saya memperingatkan. Nah inilah kewajiban sang sadhaka guru. Membicarakan kewajiban sisia dan pudgala. Memberikan pekerjaan, memperingatkan kepada para sisia yang benar dan yang salah. Mengajarkan tentang dosa, tingkah laku dan pancasiksa, melawan guru dan perbuatan sila kepada sisia. Mengingatkan tentang tata cara dari agamanya. Diusahakan agar memegang teguh kepercayaan kepada ketentuan-ketentuan agama Siwa agar sama perbuatannya. Janganlah menyimpaang dari ketentuan itu. Demikianlah caranya mengajar kepada sisia dan budhi sang guru kepada sisianya.

Jangan marah, jangan loba, jangan mencaci maki, jangan iri hati, jangan khianat kepada sisia. Lobha berarti ingin memiliki benda kepunyaan sisia. Parusya berarti lancang tangan berarti memukul, menerkam, menempeleng kepada sisia. Lancang mulut berarti mengajarkan yang menyakiti telinga, menyebar fitnah kepada sisia, irihati, dengki, sakit hati terhadap orang lain, cemburu, menanamkan irihati kepada sisia. Derohi berarti berusaha mencelakakan sisia yang menyebabkan suka membunuh dan membenci. Murka berarti, dusta, jahat, mabuk, tinggi hati, pikiran kotorlah yang menjadi sahabatnya. Selalu membayangkan kepada sisianya. Ingsa karma berarti merencanakan untuk membunuh, termasuk pembunuhan, ingin menikmati tanpa menghadapi kesulitan. Raga berarti merencanakan untuk menjadikan kepuasan hawa nafsu, keinginan jahat dengan jalan curang, menghendaki anak gadis sisia dengan alasan mengawini, melakukan senggama, bercumbu rayu dengan anak istri sisia. Dwesa berarti berusaha mencelakakan sisia, karena dengkinya ingin menghapus, menghukum melakukan dosa, berlaku sadis terhadap sisianya. Janganlah sang wiku melakukan pekerti seperti itu. Hina namanya.

Yang patut engkau lakukan, adalah, janganlah sang guru berhati kejam, melihat sisia papa sengsara mengidap derita. Jangan bersikap seolah-olah tidak tahu terhadap sisia yang salah tingkah laku dan pekertinya. Jangan dibiarkan sisia itu tidak tahu terhadap kewajibannya. Jangan ragu-ragu memberi teguran kepada sisia. Adalah perbuatan dosa membiarkan ia jatuh. Jangan menganggap seorang sisia patita jika tidak jelas faktanya, Jangan cepat-cepat yakin percaya terhadap tingkah laku dan warta sisia. Jangan tidak percaya kalau benar-benar terjadi bukti dari tingkah lakunya. Jangan menghukum cambuk sisiamu. Jangan menghukum sisia tanpa nengetahui tata cara denda dan dosa. Jangan mencegah sisia yang bertingkah laku baik karena marah dan dengki. Jangan belas kasihan kepada siswa tercela dan buruk laku yang disebabkan oleh kepercayaan dan kasih sayangmu. Kesimpulannya, kalau engkau menghukum sisia jangan hendaknya tidak tahu tentang denda dan dosa. Jangan sampai tidak tahu tata cara yang ditetapkan menurut ajaran agama. Namun kalau ada sisiamu yang dimarahi oleh sesamanya ditempat umum, jangan cepat-cepat engkau percaya, terpengaruh oleh sesamanya ditempat umum, jangan cepat-cepat engkau percaya, terpengaruh oleh bunyi dan tingkah laku para pencela. Yang patut engkau lakukan periksalah sebaik baiknya. Perhatikan betul betul dosa yang sebenarnya.

Tanyakanlah, usahakan mengenal kejujuran kalau tak dapat engkau memeriksa sisiamu, perintahkan kepadanya agar membuat kutukan diri sendiri itu, dilakukan diastanasiwa, ditempat agni, didalam kunda ditempat lingga, diparyangan, dikaki Siwa, didepan sang guru dan keluarga pada waktu bertobat. Setelah bertobat tidak juga percaya oleh gurunya, karena besarnya celaan yang ditimpakan oleh umum, maka pergilah menjauhkan diri lagi, melakukan dewasraya, memuja dipuncak batu yang tertinggi, ditempat tirta utama, ditepi samudra, didalam gua, dihutan dan digunung. Itulah tempat yang didatangi oleh sisia.

Bila seorang sadhaka dicemarkan oleh sesama sadhaka, namun tak terhalang sesama sadhaka, namun tak terhalang selama melakukan dewa sakti, tidak patut ia dihina. Sadhaka yang mencemarkan tadi hendaknya dibalas juga.

Dihukum oleh keluarganya sebab sama dengan merusak diksa. Sadhaka yang mencemarkan tadi harus dihukum oleh gurunya, tak dapat diampuni. Demikian peraturannya, yang tercantum dalam Agama.

Bila walaka yang melakukan penghinaan kepada dhang acarya, menuduh patita, sedangkan tidak benar tuduhan itu, hendaknya gurunya mendesak agar sadhaka yang dituduh itu melakukan dewa saksi menghadap ketimur. Bila tidak nyata kebenarannya, janganlah dihukum oleh sang guru. Walaka yang menghina itu dihukum oleh raja, dipancung kepalanya, dipisahkan dari tubuhnya. Darahnya maupun kepalanya dibuang kelaut, dilemparkan ditengah samudra. Demikianlah hukuman walaka yang menghina terhadap sadhaka , merusak diksa sadhaka namanya.

Ada orang menghina sadhaka dengan menuduhnya bukan keturunan brahmana dan tidak memakai bhasma dengan abu, namun benar didhiksa keturunan sadhaka itu oleh gurunya, selidikilah tempat tinggal orang tuanya. Jika benar orang tuanya adalah sadhaka dan (juga) nenek moyangnya, orang yang menghina itu harus dibalas dengan melaksanakan dhiksa menghadap ke timur. Dendanya adalah tuna namanya.

Jika wanita menghina terhadap sadhaka, menuduh rendah derajatnya, menuduh bukan keturunan brahmana dan tidak melakukan bhasmangkara, menurut peraturan, sang guru menyuruh melakukan Dewa saksi menghadap ke timur. Jika tidak benar tuduhan wanita itu, wanita tersebut dihukum raja. Dipotong lidahnya dan bagian ujung hidungnya diberi logam, ditekan dengan tali besi yang sedang membara. Giring agar dilihat orang banyak. Diikat dipinggir jalan. Jangan terbatas penyebab kematiannya.

Om Santih Santih Santih Om

Salinan Lontar Siwa Sasana Oleh: I Wayan Sudarma (Shri Danu D.P)- Bekasi

Disampaikan sebagai Bahan Penataran Terpadu Calon Pinandita, Serati Banten & Ketua Adat Se-Sumatera Selatan, 15-20 Juli 2009

Oleh: Gusti Sudiartama | Oktober 16, 2014

TETANDINGAN BANTEN TATEBASAN UTAWI SESAYUT

 KAPUPULANG DARI BERBAGAI SUMBER

OLEH :

I GUSTI PUTU SUDIARTAMA

UNTUK KEPERLUAN PASRAMAN DI DESA PAKRAMAN PENEBEL

 

 

1.SESAYUT ARDHANARESWARI

Medasar antuk aled kulit sesayut, masusun tumpeng putih asiki, tumpeng kuning asiki, tulung kalih (2) medaging nasi putih asiki, nasi kuning asiki. Tangga kalih (2), kewangen (2), base silih   asih, toya anyar atakir, raka woh-wohan saka wenang, penyeneng alit asiki, peras alit asiki, canang pahyasan, sampyan nagasari. Sesayut puniki kaatur ring Bhatara Surya.

 

2.SESAYUT ADNYAWATI

Medasar antuk dulang, duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin tumpeng 11 bungkul, tumpenge metatakan sekar ura, matanceb lilit linting magreteng jinah bolong padha asiki soang-soang tumpeng, sampyan penek padha ngawa soang-soang tumpeng, ulam nyane itik maguling, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, sampyang Nagasari, canang Pahyasan. Sesayut puniki magenah ring Banten Pamereman / Piodalan.

 

3.TATEBASAN ATMA TEKA

Medasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi mawadhah piring sutra duwu nyane susunin taluh medadar mapinda padma, tancebin sekar tunjung 1, kawangen 1, ssesangan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit ( tahenan ) 1, pras alit 1, sampyan Nagasari, Canang Pahyasan. Sesayut puniki ka-anggen rikala Manusa Yadnya utawi rikala nyayut premananing wang lara.

 

4.SESAYUT AMANGGUH KEWUH

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi biru ring tengah nyane kuning, gagemolan sekar cempaka ring tengah nyane, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan tatebus biru lan kuning.

 

5.SESAYUT AGUNG

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane susunin antuk tumpeng agung mapucak manik (taluh bebek lebeng), kawangen 4 siki, sekar ireng 4 katih, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, kojong rangkadan medaging rerasmen, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan. Yan nyatur magenah Kaler.

6.SESAYUT BRAHMASTAWA DEWA

Medasar antuk dulang, duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane medaging tumpeng 1,metanceb kayu mas 11 muncuk, ulam nyane udang, sesanganan raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, sampyang Nagasari, canang Pahyasan. Sesayut puniki ka-atur ring Pura Prajapati.

 

7.TATEBASAN BAGIA SETATA SARI

Madasar antuk dulang, duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi penek ageng 1 (nasi sodaan), metatakan don kayu sugih mailehan, sesangan sarwa galahan raka-raka sejangkep nyane, katipat bagia 6, katipat sari 6, penyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, sampyang Nagasari, canang Pahyasan. Sesayut puniki ka-atur ring Ida Bhatara Sedahana.

8.TATEBASAN BENDU PIDUHKA :

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi tumpeng 1, ulam nyane rerasmen, sudn taluh, tulung 1, canang pawitra maraca sesanganan bendu, raka-raka sejangkep nyaen, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari, Canang pahyaan. Sesayut puniki ka-anggen rikala ngaturan Bendu Piduhka.

 

9.SESAYUT BIAKALA AGUNG

Medasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin tumpeng abungkul, berasan 2 catu, tumpeng alit 4 bungkul, tulung 5, ulam nyane sate asem, sate lambat, calon padha 5 katih, ebet-ebetan 5 tanding, ayam biying mapanggang, balung gagending, jajron, pisang apasang, beten aled sesayut nyane medaging beras acatu, benang atukel, jinah 200, mapagpag sampian gunting 5, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan.

 

10.SESAYUT BAYU LESU

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane susunin antuk nasi aji keteng, taluh abungkul, bawang putih, sere barak, tasik atakir, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan. Sesayut puniki banten ring Sanggar.

 

11.SESAYUT BYAKAWONAN

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane susunin antuk nasi masasahan belah kalih, kulit sesayut nyane antuk don pandan, ulam nyane nyalian, lindung miwah ayam brumbun mapanggang, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit, pras alit, sampyan nagasari, canang pahyasan. Sesayut puniki ka-anggen rikala Upacara Bhuta Yadnya, megenah ring Banten Caru.

 

12.TETANDINGAN SESAYUT BAYU RAWUH SAHI

Madasar antuk dulang, duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi popolan duwur nyane susunin antuk cawan medaging nasi masusun sesawur kacang tancebin taluh bebek lebeng abungkul, taluh nyane tancebin lilit linting 1, sekar cempaka 3 katih, muncuk don pandan 3 muncuk, sesangan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan. Sesayut puniki ma-anggen rikala Upacara Manusa Yadnya utawi ring Pawetonan.

 

13.TATEBASAN BIYAKALA :

Anggen rikala pakala-pakalan Pawiwahan; Tetandingan nyane, Medasar antuk ngiyu duwur nyane susunin antuk aleed sesayut, duwur nyane medaging nasi makaput antuk don biyu kayu asiki, tancebin bawang jahe, mulam balung gagending, getih matah atakir, isuh-isuh, sampat, tulud, mategul antuk benang tridatu, base tulak, lis peselan, bebulu, padma, toya aruan atakir, pras tulung sesayut, penyeneng alit 1, sampan nagasari, canang pahyasan, tatebus putih, sesedep tepung tawar, coblong asiki, payuk pere asiki, sami eteh-eteh nyane melakar antuk slepan. Tatebasan punki ka-anggen rikala Pakala-kalan pawiwahan.

 

14.SESAYUT BUMI TAN PEGAT GRING KEMRANAN,

BANTEN GIRI KUSUMA

Medasar antuk aled sesayut, medaging beras manca warna acatu, dados tmpeng 5 siki, rakan nyane manca warna, ulam nyane ayam brumbun ingolah den asangkep, iwak segara, iwak sawah, sekar nyane warna sya (9) siki, sekar sarwa wangi ring puncak, artha nyane siyu satyus (1.100), canang pabersihan, burat wangi, lenga wangi, nuwur thirta ring sang meraga pandhita, mwang ring Dalem, Puseh, lan Bale Agung.

 

15.SESAYUT CANDRA AGNI MURUB

Medasar antuk dulang, duwur nyane susunin antuk wastra barak, beras barak 2 kulak, base tampelan, plawa bang, warirang bang, duwur nyane susunin antuk aled sesayut, tumpeng barak 1, muncuk tumpenge susunin kulit taluh ayam medaging minyak lan sigi (dammar kulit taluh), kawangen 3, tumpenge tancebin sekar pucuk bang 4 katih, maileh antuk benang barak, sesangan sarwa barak, biyu udang, raka-raka sarwa barak, tulung 2, ayam wiring/biing mapanggang, penyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, sampyang Nagasari, Canang pahyasan. Sesayut puniki ka-atur ring Ida Bhatara Brahma. Yan nyatur megenah Kelod.

 

SESAYUT CANDI KUSUMA

Medasar antuk dulang, duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin tumpeng ageng 1, muncuk tumpenge tancebin sekar tunjung akatih, ring bongkol tumpenge tancebin sekar gumitir genah nyane mabucu telu, ring selagan bunga gumitire dagingin kawangen 3, masadah ring sisin tumpenge, tulung 2, sesanganan sarwa galahan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit (tahenan), pras alit 1, Sampyang Nagasari, Canang pahyasan. Sesayut puniki ka-atur ring Ida Bhatara Sangkara. Yan nyatur megenah Kaja Kawuh.

 

ITI SESAYUT CANDRA MAYA

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane susunin antuk nasi catur warna, ulam itik mapanggang, tuwak, nasi putih ulam nyane putih taluh, nasi kuning ulam nyane kuning taluh, nasi selem ulam nyane kakul, nasi barak ulam nyane gerang, nasine ma-alas antuk kain manut warnaning nasi, sekar 4 warna, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, sedha, jambe, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan tatebus 4 warna.

 

SESAYUT CATUR GHANDA GENI

Medasar antuk aled sesaut, medaging tumpeng barak / bang tiga (3), duwur tumpenge madaging cawan misi minyak lan sigi (damar Bali), kewangen 9, sekar warna barak 9, raka woh-wohan sarwa barak, panyeneng alit siki, peras alit siki, canang pahyasan, sampyan nagasari, tatebus barak. Sesayut puniki kaatur ring Bhatara Brahma, yan nyatur magenah ring Kelod / Daksina.

SESAYUT CITTA RENGGA

Madasar antuk dulang, duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi selem, ulam nyane ayam selem mapanggang, mapecel mabasa mica ginten, nasine matanceb sekar selem 4 katih, ayame mapukang-pukang dados 5, winangun urip, magenah duwur nasine, sesangan, raka-raka sejangkep nyane, panyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, sampyan Nagasari, canang Pahyasan tatebus selem. Sesayut puniki ka-anggen rikala Mabayuh Paweton ring rahina Soma.

 

SESAYUT DHARMA WIKU

Medasar antuk dulang, duwur nyane susunin aled sesayut, medaging nasi 3 pulung genah nyane ngadeg, duwur nyane susunin antuk taluh medadar merepat, muncuk nasi ne tancebin sekar putih padha akatih, ulam taluh bekasem, tulung 2, sesangan sarwa galahan, sedah woh, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, sampyang Nagasari, Canang pahyasan. Sesayut puniki ka-atur ring Ida Bhatara Siwa. Yan nyatur magenah ring Tengah / Madhya

SESAYUT DHARMA WIKU CATUR

Medasar antuk dulang, duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane susunin antuk penek agung 1, penek tapak 4, medasar antuk beras putih, jinah 11 keteng, kawangen 4, sekar kuning 4 katih, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, sampyang Nagasari, canang Pahyasan, penyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1.

TATEBASAN DURGHA DEWI

Medasar antuk dulang, duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane medaging tumpeng 1 panjang nyane sa-astha (asiku), makarowistha, kalpika, kawangen 1, ulam nyane ayam putih mapanggang, sesanganan raka-raka sejangkep nyane, panyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, sampyang Nagasari, canang Pahyasan. Sesayut puniki ka-atur ring Pura Dalem.

 

 

SESAYUT DURMIKI :

Medasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi tumpeng 1, kawangen 1, katipat sidha hayu 1, tulung urip 1, tulung sangkur 1, kalungah nyuh gadhing, lis peselan, padma, cameng asiki, ulam nyane ayam sebulu-bulu mapanggang, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan.

 

SESAYUT DURMANGGALA :

Medasar antuk dulang/ngiyu duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi penek matanceb bawang jahe, ssere barak ( udang ), daksina 1, jinah 225, ketipat kelanan, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit 1, pras alit 1, lis peselan, padma, ulam ayam ireng mapanggang, sampyan Nagasari, canang pahyasan, sami eteh-eteh nyane melakar antuk slepan. Sesayut/Tatebusan puniki kanggen rikala upacara Bhuta Yadnya.

 

SESAYUT DREMAN MAKOLIHAN

Medasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi klopokan, maulam taluh pinecel, sudang ukudan, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan.

 

SESAYUT DREMAN WISESA

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi klopokan, tinumpangan nasi injin, ulam nyane daging kebo, jejatah lembat asem padha 5 katih magoreng, taluh madadar 1, sesawur, tancebin muncuk bingin, muncuk nagasari padha 5 pesel, mategul antuk benang tridhatu, tatebus ireng, sedah ambungan, buah bancangan, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan.

 

SESAYUT DURMIKI

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane susunin antuk tumpeng 1, katipat siddha hayu 1, tulung urip 1, tulung sangkur 1, kalungah nyuh gadhing kinasturi 1, ulam nyane ayam sebulu-bulu mapanggang, sujang saha cemeng padha asiki, lis peselan, padma, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan

 

SESAYUT DIRGHAYUSA BHUMI

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane susunin antuk tumpeng 9 bungkul, padha matanceb sekar tunjung, kawangen 9, padha majinah 2 keteng soang-soang, muncuk dapdap padha akatih ring soang-soang tumpeng, sampyan nagasari 9 siki (padha ngawa), ulam ayam brumbun mapanggang, sesanganan, raka-raka sarwa galahan, pancaphala, sedah woh, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan.

 

SESAYUT DURMITA

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane susunin antuk nasi penek abungkul, maaled antuk don pandan matatakan klakat suddhamala, nasine dagingin lis asiki, kalungah nyuh gadhing 1, cemeng 2, medaging tuwak lan arak, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan. Sesayut puniki ka-atur ring Bhatara Surya.

 

SESAYUT DHIRGAYUSA

Medasar antuk aled sesaut, medaging nasi penek asiki, katupang lebeng asiki, calon pawinda, pisang saliran, tatebus tridatu, raka woh-wohan saka wenang, penyeneng alit asiki, peas alit saiki, canang pahyasan, sampyan nagasari.

 

SESAYUT DUMA DEWATA

Medasar antuk aled kulit sesayut, medaging tumpeng agung asiki kaiterin antuk tumpeng alit 5 siki (panca warna), penek agung asiki susunin cawan medaging nasi pulungan asiki, raka woh-wohan saka wenang, penyeneng alit asiki, peras alit asiki, canang pahyasan, sampyan nagasari. Sesayut puniki kaatur ring Bhatara Rudra, yan nyatur magenah ring kelod kauh.

 

 

TATEBASAN DHARMANING ANGKEB SARI

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi putih maklongkong 1, nasi barak maklongkong asiki, nasi kuning maklongkong asiki, nasi selem maklongkong asiki, medaging kojong rangkadan padha soang-soang tumpeng/nasi, ring soang-soang nasi macongger antuk padang derman miwah don nagasari, uyah atakir, sedhah woh, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan tatebus manut warnaning nasi. Sesayut puniki ka-anggen rikala Upacara Pangekeban ring Manusa Yadnya.

 

TETANDINGAN SESAYUT DREMAN ANGUPTI SARI

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi klopokan selem, duwur nasine susunin antuk nasi kuning, maulam taluh melablab, reb pinarah lelima, lawe pat, base sulasih/silih asuh, tuli ingapon, kedapan Nagasari, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit ( tahenan ) 1, pras alit 1, sampyan Nagasari, Canang pahyasan tatebus selem. Sesayut puniki ka-anggen rikala upacara Pengekeban ring manusa yadnya.

 

 

SESAYUT DASA PAGEH

Medasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dgingin nasi tumpeng ngede 1, ulam nyane lalada ayam utawi bebek wenang, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit ( tahenan ) 1, pras alit 1, Sampyan Nagasari, Canang pahyasan. Sesayut puniki ka-anggen rikala manusa yadnya, rikala mapangidep hati.

SESAYUT / TATEBASAN GNI GLAYANG

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane susunin antuk nasi tumpeng 5 bungkul, ring tengah tumpeng agung, barak ne-4, padha aron-aron, payeh sekadi tumpeng gurune, padha medaging taluh ayam biying, ulam nyane ayam biying mapanggang, genahang ring duwur tumpenge ring tengah, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit, pras alit, sampyan nagasari, canang pahyasan tatebus kutus warna. Anggen ring Dewa-Yadnya utawi rikala Maruwat/Malukat.

 

SESAYUT GURU

Medasar antuk dulang, duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane susunin antuk wastra putih, beras putih masasahan, base tampelan 1, jinah 11 keteng, duwur nyane susunin antuk tumpeng gde asiki, muncuk tumpenge medaging taluh bebek lebeng 1, tulung urip 2, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, ulam nyane ayam putih mulus mapanggang, penyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, sampyangNagasari, canang Pahyasan 1. sesayut puniki ka-atur ring Ida Bhatara Hyang Guru.

 

SESAYUT GIRI KUSUMA

Medasar antuk dulang, duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane medaging sekar solas warna, duwur sekar nyane genahang tumpeng gde 1, muncuk tumpeng tancebin sekar miyik akatih, ring madhyaning tumpeng tancebin taji 11 katih, rikala nanceban tajine mangdane mamona, bongkol tumpengan medaging kawangen 11 siki, sedah woh 4 ceper, tubungan 4 ceper, sesangan sarwa galahan, raka-raka sejangkep nyane, tulung 11, daksina 1, arthanya 1100, penyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, sampyan Nagasari, canang Pahyasan. Sesayut puniki magenah ring Luhuring Akasa utawi ring Banten Pamereman / Piodalan.

 

SESAYUT GANDHA KUSUMA JATI

Medasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi dadu, ulam nyane ayam wangkas mapanggang, mapukang-pukang dados 5 winangun urip, magenah duwur nasine, peresing tebu ratu, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, sampyan Nagasari, canang Pahyasan tatebus dadu. Sesayut puniki ka-anggen rikala mabayuh Paweton ring Rahina Wrespati.

 

SESAYUT GNI BANG KUSUMAJATI

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi barak tinelopokan, maulam ayam biying mapanggang, mapukang-pukang dados 5, winangun urip, magenah duwur nasine, masesawur sambel cabe ginoreng tan tineresan, sekar pucuk bang 9 katih, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, daksina 1, jinah 9999, sampyan nagasari, canang pahyasan tatebus barak. Sesayut puniki ka-anggen rikala mabayuh Paweton ring rahina Saniscara.

 

SESAYUT GERING MERARADAN

Medasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane daging nasi mawadhah tangkih ron masibeh busung nganutin urippanca wara, medaging kacang komak, metanceb lidin ron, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit ( tahenan ) 1, pras alit 1, sampyan nagasari. Canang pahyasan. Sesayut punki ka-anggen rikala uapcara Manusa Yadnya.

 

TATEBASAN GNI ANGALAYANG :

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi tumpeng 5 bungkul, ring tengah tumpeng agung, mawarna barak 4 bungkul, padha aron-aron, padha gurune, padha madaging taluh, ulam nyane ayam biying sapelaken mapanggang, magenah nangkeb tumpenge ring tengah, tatebus 8 warna, sesanganan, raka-raka sarwa galahan, penyeneng alit ( tahenan ) 1, pras alit 1, sampyan nagasari, Canang pahyasan. Sesayut puniki ka-anggen rikala wang alukat.

 

ITI SESAYUT GURU PIDUHKA :

Medasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin beras akulak, ginawe tumpeng ageng mapucuk taluh bebek lebeng, ulam nyane itik putih ginuling, tumpenge masawung maplekir, lawe/benang atukel, jinah 225, tulung agung 1, kawangen 3, katipat siddhapurna 1, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit ( tahenan ) 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan. Sesayut punki ka-anggen rikala Maguru Piduhka

 

SESAYUT GUNUNG SARI

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin tumpeng agung 1, ulam nyane kacang komak, ayam mapanggang, tumpeng nyane tinancebin sarwa sekar, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan.

 

SESAYUT GNI KENCANA

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane susunin antuk tumpeng ageng 1, kawangen 11, sane 7 genahang ring luhuring tumpeng, sane malih patpat genahang ring bongkol tumpenge, tancebin taji 4 ring bongkol, ring muncuk 11, muncuk tumpenge tancebin sekar 11 katih, daksina 1, jinah 1700, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, tulung, sedhah woh 4, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan. Sesayut puniki ka-atur ring Hyang Akasa.

 

ITI SESAYUT GURU ASIH

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane susunin antuk nasi tumpeng 1, tancebin sekar sulasih miyik, tunjung, cempaka saha taji asiki, kojong rangkadan medaging rerasmen, calon 5 mawadhah takir, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan.

 

SESAYUT GURU PIDHUKA

Madasar antuk kulit sesayut, medaging beras akulak, ginawe tumpeng asiki, tumpenge mapuncak taluh bebek lebeng asiki, iwak ayam putih pinanggnag, tumpenge masawung maplekir busung, duwur kulit sayute dagingin beras akulak, lawe satukel, artha 225, panyeneng alit asiki, peras alit asiki, raka sagenepan, canang pahyasan, sampyan nagasari, tatebus putih, tumpenge taler tancebin atin

 

SESAYUT / TATEBASAN GNI GLAYANG

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane susunin antuk nasi tumpeng 5 bungkul, ring tengah tumpeng agung, barak ne-4, padha aron-aron, payeh sekadi tumpeng gurune, padha medaging taluh ayam biying, ulam nyane ayam biying mapanggang, genahang ring duwur tumpenge ring tengah, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit, pras alit, sampyan nagasari, canang pahyasan tatebus kutus warna. Anggen ring Dewa-Yadnya utawi rikala Maruwat/Malukat.

 

SESAYUT IDER BHUWANA

Medasar antuk aled kulit sesayut, medaging sego / nasi marepat / cditakan, kewangen 4 , magenah ring bucun nasi macitak, ring sisin nasine dagingin tulung matangga kalih (2) siki, ulam nyane saka sidan, sanganan sarwa galahan, raka woh-wohan saka wenang, penyeneng alit asiki. Peras alit asiki, canang pahyasan, sampyan nagasari.Sesayut puniki kaatur ring Bhatari Prethiwi utawi ring gedong Ibu.

SESAYUT IMBUH TUWUH

Medasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi putih dena bresih, tanekan akulak agung, sesawur ajumput, ulam nyane sawung pintel, sudang taluh, dandanan tulung 5, tadah pawitra, biyu ahijas, raka woh-wohan sapanca dandanan, tasik cemeng, tatebus putih, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan. Sesayut puniki ka-anggen ring kamanusan.

SESAYUT JINGGA WATI KUSUMA

Medasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane daingin nasi kuning tinalopokan, ulam nyane ayam kelawu kuning mapanggang, mapukang-pukang dados 5 winangun urip, magenah duwur nasine, dagingin sesawur sambel cabe, siniyokan lenga/minyak, matanceb sekar kuranta 3 katih, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, sampyan Nagasari, canang Pahyasan tataebus kuranta/jingga. Sesayut puniki ka-anggen rikala mabayuh Paweton ring Rahina Anggara.

SESAYUT JIWA SAMPURNNA

Medasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi klopokan 1, ulam nyane balung gagending, jangan kinulub ( melablab ) mawadah takir, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit ( tahenan ) 1, pras alit 1, sampyan Nagasari, Canang pahyasan. Sesayut puniki kaanggen ring Manusa Yadnya.

pahyasan. Sesayut puniki ka-anggen rikala upacara Manusa Yadnya ring Pegedong-gedongan sang mobot.

SESAYUT JAGA SATRU :

Medasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi tadekan skulak, maulam ayam ungolah dados sesate 5, tum 5, abatan 5 tanding, nyahnyah gringsing, gula kelap mawadhah ceper nganutin dina pancawara, ssesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit 1, prasa alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan. Sesayut puniki ka-anggen rikala upacara Bhuta Yadnya.

TATEBASAN   JAGA SATRU :

Madasar antuk tetempeh/ ngiyu masrembeng, susunin aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi wong-wongan barak 2 tanding, nasi wong-wongan putih 2 tandin, maulam bawang jahe, nasi kojongan maulam bawang jahe 9 kojong, nasi kepelan 9 kepel, daksina 1, jinah 225, sodaan, ketipat kelanan, penyeneng alit 1, pras alit 1, dhupa 11 katih, tatebusan puniki ka-atur ring Hyang Ibu Prethiwi, rikala pacing ngruwak utawi nyapuh tanah miwah ring sajeroning Bhuta Yadnya.

SESAYUT JAGA SATRU :

Medasar antuk dulang duwur nyane susunn antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi urahan dandang akulak, ulam nyane ayam gumerot ingolah, balung nyane magoreng, winangun urip,getih nyane linangsub, sate calon 6 katih, pencok kacang, tuwak saguci, pisang satangkep ( ahijas ), sedah woh manut uriping dina, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan Nagaari, canang pahyasan. Sesayut puniki angge ring bale sane umahin tabwan, nyawan lan sane siyosan, sane ngawinan bale ne cacad.

ITI SESAYUT JATI SMARA

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane susunin antuk nasi tumpeng putih abungkul, ulam ayam putih mulus mapanggang, sesanganan sarwa putih, raka-raka sejangkep nyane,kacang komak 1 tangkih, calon 5 siki, kojong rangkadan medaging rerasmen, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan. Sesayut puniki ka-anggen rikala upacara Pawiwahan.

SESAYUT JIWA SAMPURNA

Medasar antuk kulit sesayut, medaging nasi klopokan, iwak balung gagending, janganan kulub mawadah takir, raka-rakasaka sidan, penyeneng alit asiki (1), canang pahyasan, sampyan nagaari, sasedep tepung tawar.

TATEBASAN KUKUS HARUM

Medasar antuk dulang, duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin jaja kukus putih miwah jaja kukus selem, susunin nasi masisir, madaging carawis, asep menyan, ring sisin nasine medaging minyak, medaging tadah sukla, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit ( tahenan ) 1, pras alit 1, Sampyan nagasari, canang pahyasan. Sesayut puniki magenah ring banten piodalan pamereman.

SESAYUT KUSUMA DEWA

Medasar antuk aled kulit sesayut, medaging tumpeng 7 bungkul, iwak nyane taluh, kewangen 7, metatakan antuk ceper, misi sekar kuning 7 sowan, raka woh-wohan saka wenang, penyeneng alit asiki, peas alit asiki, canang pahyasan, sampyan nagasari. Sesayut puni magenah ring banten piodalan nyane.

ITI SESAYUT KALA SIMPANG

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi 3 pulung, maulam taluh bungkulan, sesanganan, raka-raka sarwa galahan, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan. Sesayut puniki ka-atur rikala Bhuta Yadnya.

SESAYUT KENENG UPAYA

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi pulungan 3 pulung, katipat siddha hayu 3, genahang duwur nasine, ulam jejatah 3 katih, balung katupang 3, rerasmen kacang komak sami padha 3 takir, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan.

SESAYUT KATUTUTAN

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi klopokan 1, tinumpangan nyuh masisir, rerasmen genep, ring samping tumpenge kaputan basan ubad, pamor/apuh akaputan, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyenng alit ( tahenan ) 1, pras alit 1, sampyan Nagasari, Canang

SESAYUT KUSUMA GANDHAYUDHA

Medasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi barak, maulam ayam biying bang karna mapanggang, mapukang-pukang dados 5, winangun urip, mapecel peresing tebu cemeng, mabasa mica ginten, sekar barak 9 katih, sesangan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, sampyan Nagasari, canang pahyasan tatebus barak. Sesayut puniki ka-anggen mabayuh Paweton ring rahina Saniscara.

SESAYUT / TATEBASAN KUSUMA DEWA

Medasar antuk dulang, duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin tumpeng kuning 7 bungkul, ulam nyane taluh, tumpenge metatakan antuk ceper medaging takir misi sekar kuning, soang-soang tumpeng padha asiki, tumpenge metanceb kawangen padha asiki, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, sampyan Nagasari, canang Pahyasan. Sesayut puniki magenah ring Banten Pamereman / Piodalan.

SESAYUT KALA PURNA :

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi maklongkong 1, kojong rangkadan 1, nasine maileh antuk sekar, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan Nagasari, Canang pahyasan. Sesayut puniki ka-anggen rikala upacara Bhuta Yadnya.

SESAYUT TAN KENENG KUKIH

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi lebaran, ulam taluh melablab abungkul, celakang ring nasine mangdane ilid, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan.

ITI TATEBUSAN KABUYUTAN

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin tumpeng agung 2 bungkul, ulam nyane ayam kelawu klidungan 1, daging nyane maolah jejatah 9, urab barak urab putih, linawar bawang jahe, kasuna cekuh, sere, gula, ayam hyane winangu urip ebat nyane, sajeng saguci, jangan sakawali, palawa don sembung, toya mawadhah beruk anyar, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan, winastu ring arepin karubuhan. Sesayut puniki ka-anggen rikala wenten karubuhan lumbung, graha, karubuhan taru agung, miwah sehananing karubuhan.

ITI SESAYUT KENENG UPAYA

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane susunin antuk nasi 3 pulung, katipat siddha hayu 3, magenah duwur nasine, ulam jejatah 3, balung katupang 3, rerasmen kacang komak sami padha 3 takir, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan.

ITI SESAYUT KALA KALA GREHA

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin beras akulak, jinah 200, benang atukel, raris susunin antuk aled sesayut, duwur nyane susunin antuk nasi tumpeng agung 1 melakar antuk beras 8 catu, maweweh tumpeng alit nganutin uriping Wuku, ring soang-soang tumpenge sane alit tancebin lilit linting magrenteng jinah bolong padha aketeng, mategul antuk benang tridhatu, tumpenge sane ageng muncuk nyane medaging lampu (damar), ring sor nyane tancebin taji manut uriping Wuku, kawangen manut uriping Wuku, tulung manut uriping wuku, ulam itik maguling, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan.

ITI SESAYUT KALA PREKEMPA

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane susunin antuk nasi tandekan acatu agung, ulam nyane ayam pinecel, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, sedah anut dina, pisang satangkep, bulun sawang anut dina, dadaring antiga/taluh, sesari 225, beras acatu, benang tatebus, sudang taluh, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan.

ITI SESAYUT KILAP PREMANA

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane susunin antuk nasi tanekan acatu agung, maulam ayam mapecel, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, sedhah manut uriping dina, pisang satangkep, uluning sawung manut dina, taluh madadar, jinah 225, beras 2 catu, sedah woh, benang atukel, sudang taluh, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan. Carunen ring Dengen. Ka-atur ring sang Kala Wisesa, Sang Kala Sakti mwah ring sarwa Kala.

SESAYUT KATUTUTAN

Medasar antuk aled sesayut, medagin kelapa makelas abungkul, nasi masrembeng antuk busung asiki, maulam anget-anget, apuh mekaput antuk kraras, saha raka woh-wohan dena jangkep, panyeneng alit asiki, peras alit asiki, canang pahyasan, sampyan nagasari. Sesayut puniki kaanggen rikala pujawali / piodalan.

SESAYUT KUKUS ARUM CATUR

Medasar antuk aled kulit sesayut, medaging nasi matumpeng limang warna, mapuncak sekar tunjung, kewangen 5, dupa 5, maraca woh-wohan sejangkep nyane, penyeneng alit asiki, peras alit asiki, canang pahyasan, sampyan nagasari. Sesayut puniki yan nyatur magenah ring Tengah.

SESAYUT KENENG UPAYA

Medasar antuk kulit sesayut, medaging nasi pulung 3, katipat sidha ayu 3, genah tipat duur nasine, iwak nyane jejatah 3 katih, balung katupang 3, rerasmen kacang komak, sami pada 3 ceper / takir, raka-raka saka wnang, penyeneng alit asiki, sampyan nagasari, canang pahyasan, tatebus putih.

SESAYUT / TATEBASAN KUCUP MANDI

Medasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi tumpeng ageng 1, tinancebin tabya asiki, ulam nyane taluh, kacang komak padha mawadhah tangkih, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyaan. Sesayut puniki ka-anggen ring Manusa Yadnya.

TETANDINGAN TATEBUSAN LARA MALARADAN

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi kuning apasang mawadah tangkih mesibeh antuk busung, maulam janganan paku manut uriping dina sang mapaweton, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan. Sesayut puniki ma-anggen ring upacara manusa yadnya/Pawetonan.

ITI SESAYUT LANGLANG BHUWANA

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane susunin antuk nasi punjungan, ulam nyane nyawan lan banding, taluh madadar, sekar sarasija, raka muncuk gedang (pisang), sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan tatebus manca warna.

SESAYUT LABA MERAJAH

Medasar antuk aled kulit sesayut, medaging nasi / sekul kuning apasang mawadah tangkih busung masibeh, maulam jangan paku, manut uripan dine / sapta wara . Tetandingan nyane pepek sekadi tetandingan sesayut, raka woh-wohan saka wenang, penyeneng alit asiki, peras alit asiki, peras alit asiki, canang pahyasan, sampyan nagasari.

SESAYUT LANGGENG AMUKTI SAKTI

Medasar antuk dulang, duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin penek ageng 1 medaging kalpika 5, muncuk don dapdap, sesanganan, raka-raka sarwa galahan, ulam nyane saka siddhan, penyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, sampyan Nagasari, canang Pahyasan. Sesayut puniki magenah ring Banten Piodalan / Pemereman.

SESAYUT LARA TAN TINAMBAN

Medasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi pulung catur warna, ulam nyane ayam syungan mapanggnag, sate 7, calon 7, kawangen 7, tatebus putih, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, panyeneng alit ( tahenan ) 1, pras alit 1, sampyan Nagasari, canang pahyasan. Sesayut puniki ka-anggen rikala manusa yadnya utawi nyayut wang lara.

SESAYUT MUNGGAH TAPA

Medasar antuk dulang, duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin tumpeng gde 1, muncuk tumpenge tancebin sekar putih akatih, pangawak tumpenge tancebin sekar putih mailehan, ulam nyane taluh ayam 1, tulung 2, sesanganan sarwa galahan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, sampyang Nagasari, canang Pahyasan. Sesayut puniki ka-atur ring Luhur utawi ring Banten Pamereman utawi ring Tengah.

SESAYUT MERTHA DEWA

Madasar antuk dulang, duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin penek ageng 1, beras atakir, kawangen 1, ulam sakasidhan, sesanagn, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit ( tahenan ) 1, Pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan. Sesayut puniki magenah ring banten Pamereman/piodalan.

TATEBASAN MERTHA TEKA SAHI

Medasar antuk dulang, duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin tumpeng 1, ulam nyane saka sidhan, kawangen 1, minyak cendana atakir, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng ( tahenan ) 1, Pras alit 1, Sampyan Nagasari, canang pahyasan. Sesayut puniki ka-atur ring Ida Bhatari Sri utawi ring Jineng.

SESAYUT MERTHA UTAMA

Medasar antuk dulang, duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin beras kuning susunin nasi penek 1, sesanganan, raka-raa sarwa galahan, Penyeneg alit ( tahenan ) 1, Pras alit 1, sampyan Nagasari, canang pahyasan. Sesayut puniki ka-atur ring Bhatara Sri utawi ka-angen rikala upacara

TATEBASAN MERTHA RAWUH SAI

Medasar antuk dulang, duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi penek 5, maulam bija tatus 5 takir, kawangen 5, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit (tehenan) 1, pras alit 1, sampyang Nagasari, canang Pahyasan. Sesayut puniki ka-atur rinbg Hyang Sri Suci utawi Sang Hyang Amertha, taler kaanggen ring Pedagangan.

ITI SESAYUT MAYA LUPA

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane susunin antuk nasi 9 pulung, sami nasine mapupuk antuk kuning taluh, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan. Wus punika raris katatab, nasin nyane ka-ajeng antuk sang natab ngawit saking nasi ne sane ring tengah.

ITI SESAYUT MERTHA KARYA

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane susunin antuk nasi perepat (segi empat), ring tengah-tengah nasi ne dagingin tumpeng angeng 1, tumpeng alit 2, genah nyane ngapit tumpenge sane ageng, ring bucuning nasi sane merepat tancebin kawangen padha asiki, muncuk tumpenge sane ageng tancebin sekar tunjung akatih, tulung 2, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane kojong rangkadan medaging kacang sesawur sudang taluh (Rerasmen), penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan.

SESAYUT MERTHA SARI LUWIH

Medasar antuk aled kulit sesayut, medaging penek kuning 5, tumpeng putih 5, metanceb sekar putih 5 katih,   beras / bijaatakir, cendana atakir, misi bunga kuning, meraka woh-wohan sejangkep nyane, penyeneng alit asiki, peras alit asiki, canag pahyasan, sampyan nagasari. Sesayut punki yan nyatur magenah ring tengah.

SESAYUT MAHASORA

Medasar antuk aled kulit sesayut, medaging tumpeng agung asiki kaiterin antuk sekar, tumpeng alit asiki metanceb antuk sekar putoh, malih asiki tumpenge alit metanceb antuk sekar kuning, raka woh-wohan saka wenang, penyeneng alit asiki, peas alit asiki, canang pahyasan, sampyan nagasari. Sesayut puniki kaatur ring Bhatara Maheswara, yan nyatur magenah ring Kelod Kangin.

ITI SESAYUT MANGGUH PAKEWUH

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane susunin antuk nasi biru ring tengah nyane kuning, tinumpangan sekar-sekar cempaka ring tengah, kojong rangkadan medaging rerasmen sudang taluh, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan.

ITI SESAYUT MERTHA SARI LEWIH

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane susunin antuk penek kuning 5 siki, penek putih 5 siki, metanceb sekar putih 5 siki, beras wija atakir, toya cendana atakir, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan, yan nyatur magenah ring Tengah.

 

SESAYUT NILA KUSUMA JATI

Madasar antu dulang, duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi selem klopokan, ulam nyane ayam ireng mapanggang, masambel mica ginten, siniyokan lenga/minyak, sasrojan, ayame mapukang-pukang dados 5 winangun urip, magenah duwur nasine, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, daksina 1, jinah 4444, panyaneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, sampyan Nagasari, canang Pahyasan tatebus ireng. Sesayut puniki ka-anggen rikala Mabyuh Paweton ring Rahina Soma.

TATEBASAN NGAYUT LARA

Medaar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi tumpeng 5 bungkul manca warna, genah nyane nyatur desa manut warnaning tumpeng, ulam nyane yam brumbun mapanggang, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, 1, padma 1, kalungah nyuh gadhing 1, penyeneng alit ( tahenan ) 1, pras alit 1, sampyan Nagasari, canang pahyasan. Sesayut puniki ka-anggen rikala manusa yadnya utawi ngalukat wang lara.

SESAYUT NGALIWATAKEN SEMAYA

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi putih, maulam taluh madadar, gerang, macongger bungan dapdap, sekar cempaka, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan.

ITI SESAYUT NGIPI HALA

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane susunin antuk nasi tumpeng 9 bungkul melakar antuk beras aceheng, ulam nyane ayam wiring mapanggang, sesanganan 9, raka-raka sarwa 9, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan.

ITI SESAYUT NIRBHAYA

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane susunin antuk nasi mawadhah limas 5 siki, kawangen 5, medaging jinah 11 keteng soang-soang, ulam nyane bawi ingolah, gagencok penumpuhankening/susunin anut nasi manca warna, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit , pras alit, sampyan nagasari, canang pahyasan.

ITI SESAYUT NIRMALA KASUNARAN

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane susunin antuk nasi tumpeng 1, ulam ayam mapanggang mabasa bawang jahe, jaja begina selem, putih, bekayu, kekiping, tape, raka woh-wohan pisang pancaphala (5 jenis buah), kojong rangkadan medaging rerasmen, calon 5 siki, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan.

 

TETANDINGAN SESAYUT NGRAJA SINGHA

Medasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi tumpeng 9 bungkul, sami makalung maplekir busung, tulung urip 9, ketipat siddha purnna 9, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, smapyan nagasari, canang pahyasan. Sesayut puniki ma-anggen rikala upacara Manusa Yadnya munggah Deha Sang Lanang.

 

SESAYUT PUJA KERTI

Medasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane medaging nasi isehan, maulam ayam putih mulus mapanggang, tancebin sekar tunjung, kawangen 3, kawangene magenah ring kampid 2, ring ikuh 1, jaja raka-raka sarwa galahan, sedah who, ulam nyane magenah ring duwur nasine, penyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, sampyang Nagasari, canang pahyasan. Sesayut puniki ka-atur ring Ida Bhatara Iswara. Yan nyatur megenah Kangin.

SESAYUT PATEMON/PAWARANGAN

Madasar antuk dulang duwur nyane susuni antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi tumpeng putih 1, maulam ayam putih mulus mapanggang, sesanganan, rkaa-raka sejangkep nyane, penyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan tatebus putih. Sesayut puniki ka-anggen rikala upacara Pawiwahan, maka nyasa kama petak, kagael ring sang lanang.

SESAYUT PURNA ASIH

Medasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane susunin antuk kain selem lan kain kuning magambar Smara Ratih, aled sesayut nyane melakar antuk busung nyuh gadang, medaging beras, ketan lan injin, susunin antuk nasi pangkonan asibakselem asibak kuning, sisin nyane medaging tumpeng selem 4, tumpeng kunng 7, canang sari, canang pangrawos, canang gantal, sekar selem, sekar kuning, tulung 2, ulam ayam ireng mapangggang, ayam putih syungan mapanggang, magenah nganutin tumpeng, sami winangun urip, jinah 225, jangan bayem luhur aceper, sambal mica ginten atakir, tabya bungkut atakir, kalungah nyuh gadang 1, lis senjata antuk busung, padma, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit ( tahenan ) 1, pras alit 1, Sampyan Nagasari, tatebasan selem lan kuning. Sesayut puniki ka-anggen rikala upacara pawiwahan.

TATEBASAN PAMLEPEH

Medasar antuk dulang duwur nyane susunin anuk aled sesayut, duwur nyane dagingin beras acatu, matatakan kampil anyar, base tampelan 5, susunin antuk tumpeng barak 1, maulam sere barak ( sere udang ), sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit ( tahenan ) 1,pras alit 1, salaran saha tegen-tegenan antuk tebu cemeng, kalungah nyuh gadang 1, lis peselan, padma, isuh-isuh, daksina 1, jinah 225, benang atukel, sampyan Nagasari, Canang pahyasan, coblong 1, payuk pere 1. Sesayut puniki ka-anggen

SESAYUT SYAMANI LOKA

Medasar antuk dulang, duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane medaging tumpeng ageng 1, tumpeng alit 4, tumpenge sane gede magenah ring tengah kaiter antuk tumpenge alit, muncuk tumpenge sane gede medaging minyak mwah sigi (Damar taluh), tulung 2, sedah woh, sesangan sarwa galahan, raka-raka sejangkep nyane, ulam nyane sakasiddhan, penyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, sampyan Nagasari, canang Pahyasan. Sesayut puniki ka-atur ring Ida Bhatara Gana. Megenah ring Luhur tan dados ring sor.

TATEBASAN SARI WREDDHI

Medasar antuk dulang, duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin tumpeng ageng 1, tumpenge mawarna catur, dasar nyane selem, duwur nyane barak, susunin antuk nasi putih saha muncuk nyane nasi kuning, ketipat sari 4, sesanganan sarwa galahan, raka-raka catur warna, ulam nyane ayam brumbun mapanggang, penyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, sampyan Nagasari, canang Pahyasan. Sesayut puniki ka-atur ring Pura Bale Agung.

SESAYUT SUGIH RENDAH

Medasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi tumpeng putih asiki, kailehin antuk tumpeng alit 8 bungkul, manut warnaning pangider-ideran, ring tumpeng sane ageng genehang katipat cakra asiki, kojong rangkadan, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit ( tahenan ) 1, Pras alit 1, sampyan Nagasari, canang pahyasan. Sesayut punki kaanggen rikala upacara Negteg Pulu.

SESAYUT TULUS DADI

Medasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi penek barak 1, nasi penek selem 1, ulam nyane ayam selem mapanngggang, sedah anuting uriping dina pagutan jinapit tunggal, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit ( tahenan ) 1, pras alit 1, sampyan Nagasari, Canang Pahyasan. Sesayut punikika-anggen rikala upacara pagedong-gedongan sang mobot.

SESAYUT TULUS AYU

Medasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi putih kuning jinapit tunggal, ulam nyane ayam putih syungan mapanggang, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit ( tahenan ) 1, Pras alit 1, Sampyan nagasari, canang pahyasan. Sesayut puniki ka-anggen rikala upacara Mnausa Yadnya Pagedong-gedongan sang mobot.

SESAYUT PAMAHAYU TUWUH

Medasar antuk dulang duwur nyane susunin antk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi penek gde 1, keapit antuk tumpeng tri warna ( putih, selem, barak, padh asiki ), maulam ayam srawah mapanggang, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit ( tahenan ) 1, pras alit 1, Sampyan Nagasari, Canang pahyasan. Sesayut punki ka-anggen rukala upacara manusa yadnya pagedong-gedongan sang mobot, miwah rikala mapahayu kauripan.

SESAYUT PAMANDA YUSA

Medasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi tumpeng panca warna 5 bungkul, maaru antuk toya cendana, tinanceban sekar manca warna, kawangen 5, sesanganan, raka-raka sarwa lima, ulam nyane itik maguling 1, masekar wangi-wangi, tumpenge meambed benang 9 warna, gerang kepiting, isin padha magoreng, mawadhah takir, soring taledan medaging beras 2 kulak, jnah 500, Penyeneng alit ( tahenan ) 1, Pras alit 1, sampyan Nagasari, Canang pahyasan. Sesayut punki patut kawewehin antuk Sesayut Pangenteg bayu.

SESAYUT PANYEGJEG TUWUH

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi tumpeng 9 bungkul, ulam nyane ayam brumbun 2 ukud, maolah ddi 9 tanding, balulang nyane winangun urip, biyu ahijas, tatebus tridhatu, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit ( tahenan ) 1, pras alit 1, sampyan nagasari, Canang pahyas. Sesayut puniki kaanggen rikala mapahayu jagat miwah mapahayu kauripan.

TATEBASAN PAGEH URIP

Medasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi putih akulak tinelopokan, duwur nyane susunin tumpeng putih kuning padha asiki, maaru antuk toya cendana, pinageran wesi 9, tumpenge masekar cempaka putih kuning padha apasang, tunjung putih lan biru padha asiki, sesanganan, raka-raka sarwa suci, magula tebu, pisang gadhing ahijas, tulung urip, tulung sangkur, padha 5 siki, katipat pandawa, katipat sari, ulam itik maguling, tatebus putih kuning, sedah woh roro ingapon, canang miyik-miyikan, canang pabresuhan, penyeneng alit ( tahenan ) 1, Sampyan Nagasari. Sesayut puniki ka-anggen rikala mahayu jagat miwah mahayu sarira.

TATEBASAN PEPEK TUWUH

Medasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi tumpeng asiki, maileh antuk rerasmen, rujak alimas, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit ( tahenan ) 1, pras alit 1, sampyan Nagasari Canang pahyasan. Sesayut punki ka-anggen rikala Manusa Yadnya.

SESAYUT PANYEGJEG TUWUH :

Medasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin penek ageng 1, katipat sawarnan nyane, sate asem pinanggang, sesanganan sarwa galahan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit ( tahenan ) 1, pras alit 1, sampyan Nagasari, Cannag pahyasan. Sesayut puniki ka-anggen mapahayu tuwuhing jagat miwah mapahayu tuwuhing manusa.

TATEBASAN PANCA KELUD :

Medasar antukdulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin tumpeng poleng maplekir asiki, kawangen 5, padhang lepas 5 katih, muncuk ambengan 5 muncuk, anggen sehet mingmang, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan Nagasari. Canang pahyasan. Saha maweweh sesayut nyatur desa, sane kangin metatakan antuk aled sesayut alit, medaging tumpeng putih asiki, maulam nyalian, sane kelod metatakan aled sesayut medaging tumpeng barak asiki, maulam udang, sane kawuh metatakan aled sesayutmedaging tumpeng kuning asiki, maulam yuyu, sane kaja metatakan aled sesayut medaging tumpeng selem asiki, maulam lele, sane ring tengah metatakan antuk aled sesayut medaging tumpeng brumbun asiki, maulam sradu, padha medaging sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, sampyan nagasari pada ngawa soang-soang tumpeng, kalungah nyuh gadhing 1, coblong 1, payuk pere 1. Sesayut puniki ka-anggen rikala upacara Bhuta Yadnya utawi ring padengen-gengenan sadurunge pacang mapawintenan Kepemangkuan.

SESAYUT PAMIAK KALA :

Medasar antuk aled sesayut duwur nyane dagingin nasi mawadhah ceper, nasine mapiyak dados 4 belatin antuk don pandan, maulam bawang jahe, kawangen 4, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, panyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan. Sesayut puniki ka-anggen rikala upacara Bhuta Yadnya.

SESAYUT PANUNDUNG KALA :

Medasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi tumpeng 2 bungkul, tumpenge tancebin taji ngaad padha asiki, maulam sate ayam biying kuning, tulung urip 2, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan. Sesayut puniki ka-anggen rikala upacara Bhuta Yadnya.

SESAYUT PRABHU WIBHUH :

Medasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi tumpeng 1, beras 2 catu, ulam nyane jatah asem, lembat, kablet, kakuwung, gunting, pemada, brengkes, dadeleg, sami padha 5 katih matanceb maileh ring tumpenge, jangkepin saha ebat-ebatan nyane, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan Nagasari, Canang pahyasan.

SESAYUT PAGEH URIP :

Medasar antuk dulang duwur nyanesusunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi putih tandekan akulak, tinelopokan, tinumpangan tumpeng kunin padha asiki, tumpeng punika masekar cempaka putih kuning padha apasang, tunjung putih, tunjung biru padha akatih, sesanganan sarwa suci, magula tebu, pisang gadhing ahijas, raka-raka sarwa galahan, tulung urip, tulung sangkur padha 5 besik, katipat pandawa, katipat sidha purna, katipat ari, ulam nynae itik maguling, tatebus putih kuning, sedah roro ingapo, canang harum, penyeneng alit 1, pra alit 1, sampyan nagasari, canang pabresihan. Sesayut puniki ka-anggen rikala mapahayu kauripan, utawi mapahayu wang wus wreddha.

SESAYUT PEPEK TUWUH

Medasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi tumpeng asiki, ingideran nasi penek manut panca wara, rujak alimas, pencok kacang, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan. Sesayut puniki ka-anggen ring Kamanusan.

SESAYUT PURNA JIWA

Medasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi sokan pinulung 3, ulam taluh melablab, mapah tiga, tinanceban sekar tunjung, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan.

SESAYUT PANYEGJEG URIP

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin tumpeng abungkul, beras 2 catu, ulam nyane ayam mapanggang, saha tumpeng alit manut wuku, kacang komak miwah rerasmen manut wuku, saha bantal agalah, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan. Sesayut puniki ka-anggen rikala upacara Manusa Yadnya.

SESAYUT PULAWA BAYA

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi 9 pulung, katipat kedis 9, tulung 9, sekar tunjung 9 katih, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan. Sesayut puniki ka-anggen rikala nyayut wang kalebu/hanyut ring segara.

SESAYUT PURNAMA SADA

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi tumpeng 2 bungkul, masawang maplekir antuk busung, tumpenge matatakan antuk don miana cemeng, kawangen 2, majinah padha 11 keteng, sekar sarwa wangi, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan, tatebus putih.

SESAYUT PANCA RENGGA

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi tumpeng putih 5 bungkul, maulam ayam putih mapanggang, kawangen 5, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari antuk busung nyuh gadhing, aled sesayut nyane antuk busung nyuh bulan, canang pahyasan tatebus putih.

SESAYUT PANCA SANAK

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi 5 pulung, putih, barak, kuning, selem, brumbun padha apulung, maulam ayam brumbun mapanggang genahang duwur nasine, dadaran antiga/telor 5, rineka sejnjata manut paider-ideran, kawangen 5, sedah sapatindih, tatebus manca warna lenga wangi burat wangi, sesanganan, raka-raka sarwa galahan, penyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan.

ITI SESAYUT PASUPATI

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane susunin antuk wastra barak, dagingin beras barak 2 kulak, base tampelan 9, palawa bang, tumpeng barak 1, muncuk tumpenge susunin antuk dammar antuk kulit taluh medaging minyak lan sigi, beten damare punika tancebin sekar pucuk bang mailehan, warirang bang, sesanganan barak 9, raka-raka sarwa barak, biyu udang ahijas, tebu barak, kawangen 9 siki, tulung 2, ulam nyane ayam wiring mapanggang, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan tatebus barak apasang. Sesayut puniki ka-atur ring Ida Sang Hyang Pasupati.

ITI SESAYUT PAGER WESI

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi punjungan, tanekan akulak, tancebin wesi, medaging sekar tunjung 3 warna, ulam nyane itik selem, tulung urip 5, katipat siddha purna 5, katipat bagia 4, kalungah nyuh gadhing kinasturi 4, katipat nyane sami masekar padha akatih, jinah 800, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan. Sesayut puniki ka-anggen rikala jagate gerah utawi kepanesan.

ITI SESAYUT PATULUNG URIP

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi putih, tulung nasi, ulam taluh maguling 1, tulung alit 11, genah nyane ngilehin nasine punika, sampyan nagasari alit 11 siki, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit, pras alit, canang pahyasan tatebus putih apasang.

ITI SESAYUT PAJEG ASTAMAHA BHAYA

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane susunin antuk nasi berasan petang catu, ulam nyane jejatah bawi, sate asem, lembat padha akutus katih, genep saha ebat-ebatan nyane, balung akutus, sami mawadhah ceper, taluh madadar, duwur taluh nyane tancebin sekar tunjung akatih, ebat-ebatan nyane tancebin sekar manut warnaning pangideran, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit, pras alit, sampyan nagasari, canang pahyasan tatebus manca warna.

ITI TATEBUSAN PANGULENG DEWA

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane susunin antuk beras akulak, nyuh abungkul, taluh abungkul, gegantusan/bija ratus, benang atukel, jinah 225, duwur beras nyane susunin sangku medaging toya anyar, lis sanjata pahideran masadah ring sangkune, padma 1, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, sampyan nagasari, canang pahyasan. Tatebusan puniki ka-anggen rikala mapahayu Pemangku.

ITI TATEBASAN PANGENTEG LINGGIH

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane susunin antuk nasi bunter maplekit, duwur nasine susunin natuk nasi penek tri warna, matanceb sekar tri warna padha 5 katih, horthi 5 katih, tulung agung 1, tulung sangkur 2, katipat sesayut 1, ring pinggir nyane kaiter antuk sekar, sesanganan, raka-raka sarwa galahan, sedhah woh, katipat siddha purna 1, katipat cakra 1, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan. Tatebasan puniki ka-anggen rikala ngenteg linggih ring Parahyangan.

ITI SESAYUT PANGGALANG HATI

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane susunin antuk penek bolong, maulam atin ayam mawilahan, bubuh pelasa atakir, byaung buluh atakir, nasi masisir atakir, nasi wedya misi unti atakir, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan. Sesayut puniki kemargiang kawewehin antuk banten Tatebasan Prayascitta, Tatebasan Durmanggala, miwah sesayut Pageh Tuwuh.

ITI SESAYUT PEPEK SARI

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane susunin antuk nasi tumpeng 5 bungkul, kawangen 5 masadah ring tumpenge, orthi 5 matanceb ring tumpenge, ketipat sari 5, tulung antuk ron 5, tulung urip 5, ulam ayam mapanggang, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan.

ITI SESAYUT PAKALA MIJIAN

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane susunin antuk tumpeng 2 bungkul, ulam ayam mapanggang, peras cacan base ambungan, buah bancangan, Rerasmen (kojong rangkadan), sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit 1, pras alit 1, kalungah nyuh gadhing mategul antuk benang tridhatu, lis peselan, padma, sampyan nagasari, canang pahyasan tatebus putih, jinah 225.

ITI SESAYUT PANGLIPUR MANAH

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane susunin antuk nasi lembaran, taluh medadar, kakul 2 siki, kacang magoreng, kojong rangkadan (rerasmen), sekar turi, cempaka, kenyeri lan jepun soang-soang padha apasang, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan.

ITI SESAYUT PASUPATI  

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk beras barak, tampelan 9, duwur nyane susunin aled sesayut, duwur nyane susunin antuk nasi tumpeng barak ageng 1, maiter antuk tumpeng barak alit 9, maiter antuk sekar pucuk bang 9 katih, ring muncuk tumpenge tancebin sekar pucuk bang akatih, dhupa 9 katih, katipat bagia, katipat pandawa, sami padha 9 bungkul, kawangen 9, raka manggis, buluan, salak, leci, pisang udang, tulung alit 9, tulung urip 9, sampyan nagasari 9, rantasan barak, penyeneng alit 1, pras alit 1, canang burat wangi lenga wangi, canang gantal, canang pahyasan, ulam itik bang maguling maurat jinah 9 keteng.

ITI SESAYUT PRAYASCITTA AYU PASEK PAGEH AMUKTI

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane susunin antuk nasi malakar antuk beras 8 catu/kulak, nasi kepelan 5 kepel, tancebin sekar delima 5 katih, ayam mapanggang, mapukang-pukang winangun urip, duwur ayame dagingin jaja dadar, ring ikur nyane dagingin nasi kuning aruan, tancebin antuk sekar tunjung akatih, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan.

ITI SESAYUT PANCA KORSIKA

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane susunin antuk nasi kepelan barak 5 kepal, tancebin sarin bungan pucuk bang padha asiki, taluh abungkul, kojong rangkadan medaging rerasmen, sesanganan buntilan barak putih soang-soang padha 5 siki, bantal lan tape padha 5 siki, raka woh-wohan 5 warna, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan.

ITI SESAYUT PANGENTEG SMARA

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane susunin antuk nasi tumpeng 5 bungkul magenah manca desa, tumpenge sane ring tengah tancebin tum, jepit babi saha sate letlet, tumpenge sane malih 4 bungkul tancebin kober, gula kelapa mabelat antuk benang putih 11 ileh, ring bangkyang tumpenge tancebin kawangen, ulam ayam mepanggang, mapukang-pukang, malih winangun urip mebasa sambel, jaja matunu 11 siki, pisang siulan 11 bulih, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan.

ITI SESAYUT PENGUKUP JIWA

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane susunin antuk nasi marepat/segi empat, duwur nyane tancebin biji-bijian, ulam itik meguling, calon agung, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang 2 tanding, canang pahyasan.

ITI SESAYUT PANCA BHAYA

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane susunin antuk nasi biru, ulam nyane gagecok bawi, duwur nyane medaging sekar tunjung 5 katih, duwur nyane susunin antuk getih matah atakir, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan. Sesayut puniki ka-anggen maripurnayang sang kapanca bhaya, upacara nyane kemargiang ping kalih, ke margiang ring mrajan / sanggah.

ITI SESAYUT PANGIPUK SMARA

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane susunin antuk nasi penek kuning, ulam ayam putih syungan mapanggang, bantal kuning 10 siki, pisang keladi 10 siki, sesanganan sarwa kuning, raka-raka sarwa kuning, tape 7 siki, kacang komak 1 ceper, calon 2, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan tatebus kuning. Sesayut puniki ka-anggen rikala Upacara Pawiwahan.

ITI SESAYUT PANCA RSI

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane susunin beras catur warna, duwur nyane susunin antuk nasi tumpeng panca warna, padha abungkul, sane putih uolam nyane putih taluh, sane barak ulam nyane udang, sane kuning ulam nyane kuning taluh, sane selem ulam nyane kakul, sane brumbun ulam nyane sradu/karangan, kawangen 5, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, kalungah nyuh gadhing 1, lis senjata, padma, ambengan 11 katih, tirtha empul mawadhah payuk pere, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari padha ngawa (5), canang pahyasan 5 tanding.

SESAYUT PUJA KERTI

Medasar antuk aled kulit sesayut, medaging sego / nasi isehan, maulam ayam putoh mulus pinanggang, tancebin sekar tunjung lan kawangen 3 genahang ring ikuh nyane asiki (1), ring kampid nyane kalih (2). Sesanganan sarwa galahan, raka woh-wohan sarwa galahan, sedah woh saha phala jangkep, ulam nyane kaengkeban ring nasine. Penyeneng alit asiki, peras alit asiki, canang pahyasan, sampyan nagasari. Sesayut punika kaatur ring Bhatara Iswara, yan nyatur magenah ring Kangin / Purwa.

SESAYUT PAMLEPEH

Medasar antuk aled kulit sesayut, medaging kaping anyar, susunin beras acatu, base tampel 5, tumpeng bang / barak asiki, iwak nyane sre, raka woh-wohan sejangkep nyane, penyeneng alit asiki, peras alit asiki, lis asiki, padma asiki, kalungah nyuh gadang asiki, isuh-isuh, sesari 225 utawi 9 keteng, benang atukel, canang pahyasan, sampyan nagasari, tatebus selem. Sesaut puniki yan nyatur magenah ring Tengah.

ITI TATEBASAN PANCA KELUD / PAMIYA KALA

Medasar antuk kulit sesayut, susunin tumpeng poleng asiki (1), makalung maplekir, kewangen 5, padang lepas 5 katih, muncuk ambengan 5 muncuk, anggen sehet mingmang. Sisin tumpeng poleng dagingin penek, nyatur desa genah nyane, ring kangin penek putih, ulam nyane nylian. Ring kelod penek barak ulam nyane udang, ring kauh penek nyane kuning ulam yuyu. Kaja penek selem ulam nyane lele. Tumpeng poleng genah nyane ring tengah, ulam nyane seradu. Raka-raka saka wenang, smai pada matatakan antuk kulit sesayut, payuk asiki madaging toya mwang sehet mingmang, tur bungkak nyuh gading asiki.

SESAYUT PEMANDA YUSA

Medasar antuk kulit sesayut, medaging tumpeng panca rupa 5, sami maaru toya candana, masekar ,manca rupa, kewangen 5, tulung sangkur 5, katipat sari 5, saha susi asoroh, iwak ayam bebek putih ginuling asiki 91), sekar sarwa wangi, tumpenge meambed antuk benang, sampyan canang pahyasan, pabresihan, pisang gading saliran, pisang mas saliran, sesanganan magula tebu / gula pasir, raka woh-wohan sejangkep nyane.

SESAYUT PANCA RENGGA

Medasar antuk aled sesayut, medaging tumpeng putih 5 bungkul, iwak ayam putih pinangggang, kewangen 5, raka sarwa galahan, sdah woh, pisang kembar saliran, tatebus putih, aled sesayut antuk janur nyuh sasih / nulan, masampyan nagasari antuk busung nyuh gading, mawadah dulang, penyeneng alit asiki (1), peras alit asiki (1), canang pahyasan, sasedep tepung tawar.

SESAYUT PAGERWESI

Medasar antuk kulit sesaut, medaging nasi pujungan, tanekan akulak, tinanceban tingkah kadi katik bagia, medaging sekar tunjung tri warna, iwak nyane bebek selem, tulung urip 5, katipat sidhapurna 5, katipat bagia 5, nyuh gading kinasturi, kalipatan, sami pada masekar akatih, peras alit asiki, panyeneng alit asiki, sesantun asiki, arthanya 800, kaatur ring Hyang Perthiwi, mwang Sang Hyang Ananta Bhoga, rikala jagat kageringan.

SESAYUT PRAYASCITTA BHUMI

Medasar antuk kulit sesayut, medaging tumpeng sya(9) warna, genah nyane amanca desa anut pangideran, katipat sari, katipat sidhapurna, katipat pandaw, tulung urip, tulung snagkur, penek makasami sarwa lima (5), iwak itik ginuling, lis antuk busung nyuh gading, sibuh pepek selem, medaging thirta empul, kukudangan, kaanggen rikala jagat kadurmangala.

SESAYUT PANCA SANAK

Medasar antuk kulit ssesayut, madaging nasi limang (5) pulung; putih, abang / barak, kuning, selem, brumbun, iwak ayambrumbun pinanggang, dadaran tiga limang (5) siki, rineka sanjata, purwa Bajra, daksina Gaa, pascima Nagapasa,utara Cakra, madya Padma. Kewangen 5, sedah sapatindh, tetebus manca warna, kembang pahyas, lenga wangi, burta wangi, ulam nyane genahang duwur nasine, penyeneng alit asiki (1), peras alit asiki (1), canang pahyasan, sampyan nagasari.

SESAYUT PANYEGJEG TUWUH

Medaar anuk kulit sesayut, medaging nasi tumpeng sya (9), iwak ayam brumbun 2, sane brumbun asiki inolah dadi sya tanding, balungane winangun urip, gedang / pisang setangkep, tetebus triaru, raka woh-wohan saka wenang, penyeneng alit asiki, peras alit saiki, canang pahyasan, sampyan nagasari.

SESAYUT PASUPATI

Medasar antuk kulit sesayut, medaging nasi / sega barak, maaled don andong bang, iwak ayam biing gumerot pinanggnag, penyeneng alit antuk don andong asiki, padma antuk don andong asiki, rumbah gile, mawadah limas, calon lebeng asibak adasa (10) katih, daksina asiki, jinah 225, sekar sarwa barak, raka woh-wohan sarwa barak, canang pahyasan, sampyan nagasari, makasami antuk don andong bang, tatebus bang.

SESAYUT PHALA BUAYA

Medasar antuk kulit sesayut, medagng nasi sya (9) pulung, katipat kedis sya (9), tulung sya (9), sekar tunjung 9, saha raka-raka segenepan, rerasmen, penyeneng alit asiki, peras alit asiki, canang pahyasan, sampyan nagasari. Tingkahing nanding nasine iderin antuk srkar tunjunge, talinin antuk tatebus putih. Ring pinggir sekar tunjunge dagingin rerasmen mwang raka-raka, lan iderin antuk kayipat mwang tulung. Kaanggen nyayut wong kalebu ring tengahin segara.

SESAYUT PAWAL KUSUMA JATI

Medasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi dadu tinelopokan, ulam nyane ayam wangkas mapanggang, mapukang-pukang dados 5, winangun urip, magenah duwur nasine, masambel kacicang, siniyokan lenga/minyak, sesawur, sekar ucuk dadu 8 katih, sasrojan, sesangan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit ( tahenan ) 1, pras alit 1, daksina 1, jinah 8888, sampyan nagasari, canang pahyasan tatebus dadu. Sesayut puniki ka-anggen rikala mabayuh Pawetonan ring rahina Wraspati. Rikala pawetonan nyane ring rahina Wraspati, ukur, riantukan paweton nyane matehang piodalan Ida Bethara Guru, sering pacing mamilara. Kawentenan upakaran nyane pateh sekadi tetandingan banten Pengambian sakewanten maweweh bantal pudak 8 besik, yan lanang sang maweton banten nyane maulam bebek maguling, yan istri sang maweton banten nyane maulam ayam mapanggang, sesampune puput natab bebanten nyane, sang maweton raris ngajeng/ngerayunin ulam nyane matimpal bantal, raka-raka nyane matimpal nasi, sapunika kawentenan pemargin nyane.

TETANDINGAN SESAYUT PENGENTEG BAYU

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi klopokan asiki, susunin tumpeng gurih asiki, penek asiki, maileh antuk takir 5 medaging toya pancoran 5 soan, base tampelan 5, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan. Sesayut puniki ma-anggen rikala upacara Manusa Yadnya / Pawetonan.

SESAYUT PASUPATI

Medasar antuk dulang, duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin tumpeng barak 1, maulam ayam biying mapanggang, daksina 1, jinah 225, rumbah gile/lawar getih matah alimas, calon lebeng asibak 10 besik, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, smapyan Nagasari, canang Pahyasan, sami eteh-eteh nyane malakar antuk don andong bang. Sesayut puniki kanggen rikala Tupek Landep, katur ring Ida Sang Hyang pasupati.

SESAYUT PITA KUSUMA JATI

Medasar abtuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi kuning tinelopokan, ulam nyane ayam putih syungan mapanggang, mapukang-pukang dados 5 winangun urip, magenah duwur nasine, masesawur sambel isen, siniyokan lenga/minyak, sekar kuning 7 katih, sesangan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, daksina 1, jinah 7777, sampyan Nagasari, canang Pahyasan tatebus kuning. Sesayut puniki ka-anggen rikala mabayuh Paweton ring Rahina Budha.

SESAYUT PURNA SUKHA

Medasar antuk dulang, duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi kuning, masamsam dalima wanta, ulam nyane ayam putih syungan mapanggang, mapukang-pukang dados 5 winangun urip, matanceb sekar cempaka kuning 7 katih, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang Pahyasan tatebus kuning. Sesayut puniki ka-anggen rikala mabayuh Paweton ring Rahina Budha.

SESAYUT PANGASTI DEWA

Medasar antuk dulang, duwur nyane susunin antuk ssesayut antuk busung, susunin antuk akin putih, duwur nyane dagingin tumpeng 2, beras aceheng, jinah 225, benang atukel, tulungn urip 2, maulam pudak, sesangan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit ( tahenan ) 1, pras alit 1, sampyan Nagasari, canang Pahyasan. Sesayut puniki magenah ring banten pamereman/piodalan utawi munggah ring pelinggih.

SESAYUT PANGENTEG LINGGIH

Medasar antuk dulang, Duwur nyane susunin antuk aled sesayut, susunin antuk kain putih, duwur nyane dagingin beras akulek, benang atukel, jinah 225, susunin antuk tumpeng lelima ( 5 ) bungkul, tumpenge tancebin orthi alit padha asiki, kawangen 5 masadah ring tumpenge, tulung urip 5, tipat kedis 5, maulam ayam putih mapanggang, sesangan sarwa galahan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, sampyan nagasari, Canang pahyasan. Sesayut puniki ka-anggen rikala Ngenteg Linggih.

TATEBASAN PRAYASCITTA SARI

Medasar antuk dulang, duwur nyane susunin antuk aled sesayut duwur nyane dagingin tumpeng putih mamuncuk kuning panjang nyane sa-astha, penek kuning 4, maaled nasi catur warna, ulam itik putih maguling, sesangan raka-raka sarwa pat, tumpenge matajer sekar tunjung putih, penek nyane petanceb kedapan mwang sekar Nagasari, padha 5 katih, katipat sari 5, tulung urip 5, penyeneng alit (tahenan) 1 pras alit 1, kawangen manut tumpeng, sampyan Nagasari, canang Pahyasan, kalungah nyuh gadhing 1, tatebus putih kuning. Sami eteh-eteh nyane melakar antuk busung nyuh gadhing. Tatebasan puniki ka-anggen rikala Pecaruan miwah rikala Pelastian.

SESAYUT PRAYASCITTA BHUMI

Medasar antuk dulng, duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin tumpeng sya (9) warna manut tatanin manca desa, katipat siddha purna, katipat Pandawa, katipat sari, tulung urip, tulung sangkur, sesangan raka-raka sarwa 5, bantal pudak 5, pisang gadhing 5, ulam nyane itik putihmaguling, Lis, padma, tumpenge ring tengah matanceb orthi, miwah tumpenge matanceb sekar manut warnaning tumpeng, kawangen 9tunjung tri warna, daksina 1 jinah 400, tumpenge sami tancebin sekar sulasih miyik, muncuk don dapdap, tatebusan 9 warna, canang harum, canang pabresihan, kalungah nyuh gadhing 1, dagingin beras kuning lan sekar kuning, penyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, sampyan Nagasari, canang Pahyasan. Sami eteh-eteh nyane malakar antuk busung nyuh gadhing. Sesayut puniki kaanggen rikala Ngawentenan Karya Agung.

SESAYUT PRAYASCITTA KAWI

Medasar antuk dulang, duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagngin tumpeng gde 1, tumpeng alit 2, tumpenge sane gde tancebin kawangen 3, tatebus 3 pasang, antuk benang putih, suddhamala mwang tridhatu, tumpenge sane alit tancebin sarwa sekar, tulung , sesangan sarwa galahan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit (taenan) 1, pras alit 1, sampyan Nagasari, canang Pahyasan. Sesayut puniki magenah ring Madhya.

TATEBASAN PRAYASCITTA ASIH

Medasar antuk dulang, duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin sega/nasi popolan, ulam nyane ayam mapecel, katipat kukur, macarawir tetanduk 4, kacang komak padha atangkih, sesangan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, sampyan Nagasari, canang Pahyasan.

TATEBASAN PRAYASCITTA PAGE

Madasar antuk dulang, duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin penek 9, matanceb muncuk don dapdap 9 muncuk, tulung 9, katipat 9, sheet mingmang 9, ulam nyane ayam mapanggang, sesangan, raka-raka sejangkep nyane,penyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, sampyan Nagasari, canang Pahyasan. Sesayut puniki kaanggen ring Kamanusan rikala Mapageh urip.

SESAYUT PRATISTHA KAWI

Medasar antuk dulang, duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane medaging tumpeng gde 1, tumpeng alit 2, tumpenge gde tancebin kawangen 3, tatebus teluing pasang, antuk benang putih, benang suddhamala, benang tridhatu, tumpenge sane alit tancebin sarwa sekar, tulung 2, sesanganan sarwa galahan, raka-raka sejangkep nyane, kojong rangkadan medaging rerasmen sudhang taluh, penyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, sampyang Nagasari, canang Pahyasan. Sesayut puniki ka-atur ring Pelinggih-pelinggih utawi magenah ring Banten Pamereman / Piodalan.

TATEBASAN PAMAHAYU SOT

Madasar antuk dulang, duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin beras aperpatan, base tampelan, benang atukel, jinah 225, duwur nyane susunin antuk nasi maklongkong 1, duwur nasine medaging tulung urip 1 medaging nasi ulam taluh bekasem, kawangen 11 siki, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, sangku medaging toya anyar, panyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, sampyang Nagasari, canang Pahyasan. Sesayut puniki munggah ring Sanggar Kamulan.

SESAYUT PABRESIHAN

Madasar antuk dulang, duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi punjungan ageng 1, tasik atakir, ulam taluh madadar, sekar putih 5 katih, kawangen 1, sedah who, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit ( tahenan ) 1, Pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan. Sesayut puniki magenah ring banten pamereman/ piodalan utawi munggah ring pelinggih

SESAYUT TIRTHA MERTHA SARI

Madasar antuk dulang, duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane medaging tumpeng 1, tancebin sarwa sekar, kawangen 3, ulam nyane taluh melablab 1, tulung 2, sesanganan sarwa galahan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit (tahenn) 1, pras alit 1, sampyang Nagasari, canang Pahyasan. Sesayut puniki ka-atur ring Ida Bhatara Mahadewa. Yan nyatur magenah Kawuh.

SESAYUT SIDDHA KARYA

Medasar antuk dulang, duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane medaging nasi merepat (sekadi citakan), duwur nasine susunin antuk tumpeng putih 1, kawangen 4, matanceb ring bucuning tumpeng padha asiki, sekar cempaka putih 4 katih, maulam bawang putih, kelapa abungkul, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, sampyang Nagasari, Canang Pahyasan. Sesayut puniki ka-atur ring Ida Bhatara Mahesora. Yan nyatur megenah Kelod Kangin.

SESAYUT SIDDHA MALUNGGUH

Medasar antuk dulang, duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane medaging nasi bunter, duwur nasine susunin antuk cawan medaging nasi punjungan, duwur nasi punjungan nyane tancebin sekar pucuk barak akatih, ring sisin nasine bunter dagingin nasi pancung 4, matanceb kawangen 4 siki genah nyane nyatur, sesanganan sarwa galahan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, tulung 3, Sampayang nagasari, Canang Pahyasan. Sesayut puniki ka-atur ring Ida Bhatara Ludra. Yan nyatur magenah Kelod Kawuh.

SESAYUT SIWA MURTI

Medasar antuk aled sesayut, susunin antuk tumpeng agung 1, tumpeng alit 2, tumpeng agunge matanceb sekar catur warna maileh, malih tumpeng catur warna 1 mapuncak cawan medaging toya anyar, sekar tunjung 1, malih medaging nasi bunter 1 ring tengah nyane medaging nasi pulungan 1, matatakan antuk cawan, kawangen 5, raka-raka limang warna, maulam ayam putih mapanggang, jinah 225, penyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, sampyan Nagasari, canang Pahyasan. Sesayut puniki ka-atur ring Ida Bhatara Siwa. Yan nyatur megenah ring Madhya.

TATEBASAN SARI RAWUH SAHI

Medasar antuk dulang, duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin tumpeng brumbun 1, maulam ayam brumbun mapanggang, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, panyeneng alit 9tahenan) 1, pras alit 1, sampyan Nagasari, canang Pahyasan. Sesayut puniki ka-atur ring Pedagangan ring Sang Kala Goncang, sane ngamel sedhanane ring Pedagangan.

TETANDINGAN TATEBASAN SAPUH LARA

Medasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi mawadah tangkih petang (4) tangkih, ambengan 4 katih mategul antuk benang tridhatu, maulam kacang komak 4 tangkih, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan. Tatebasan puniki ma-anggen ring Manusa Yadnya utawi ring Pawetonan.

TETANDINGAN TATEBASAN SIDDHA SAMPURNNA

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi punjungan 1, ketipat siddha purnna 5, ulam nyane udang, sekar barak, sedah woh, kawangen 1, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan. Tatebasan puniki ma-anggen rikala upacara Manusa Yadnya /Pawetonan.

TETANDINGAN SESAYUT SABUH RAH

Medasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin tumpeng barak asiki, macongger sekar pucuk bang 1, getih matah atakir, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan. Sami eteh-eteh nyane makalar antuk don andong bang. Sesayut puniki ma-anggen rikala upacara Manusa Yadnya munggah Deha Sang Istri.

SESAYUT SARI UTTAMA

Medasar antuk dulang, duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin penek gede 1, muncuk nyane tancebin bawang putih,. Muncuk cemara, padhang kasna, tunjung, ring sor nyane tancebin sekar mawarna, ulam nyane ayam mapanggang, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit ( tahenan ) 1, Pras alit 1, sampyan Nagasari, canang pahyasan. Sesayut puniki ka-anggen rikala upacara Negteg karya.

SESAYUT SAMBUT URIP

Madasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin ansi kuning, ualm olahan bebek sawangan, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit ( tahenan ) 1, pras alit 1, sampyan Nagasari, Canang pahyasan. Stawa Sang Hyang Yogiswara, Sang Hyang Mrtyunjaya. Sesayut punki ka-anggen rikala manusa yadnya rikalaning wang kasambut.

TATEBASAN SAPUH LARA

Medasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi mawadhah tangkih 4 tangkih, ambenan 4 pesel, tegul antuk benang tridhatu, kacang komak 4 tangkih, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit ( tahenan ) 1, pras alit 1, sampyan nagasari, Canang pahyasan. Sesayut puniki ka-anggen rikala Manusa Yadnya utawi nyayut wang wawu seger.

SESAYUT SAMBUT URIP :

Medasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi sasahan maulam ati bawi, aji 9 aja ngimbuhin, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit ( tahenan ) 1, penyeneng alit 1, sampyan Nagasari, Canang pahyasan. Sesayut puniki ka-anggen rikala Manusa Yadnya.

SESAYUT SUDHAMALA :

Medasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi klopokan maplekir 1, nasi kepelan 5 kepel, putih, barak, kuning, selem, brumbun, sami padha matatakan don sudha mala, matanceb/susunin sekar sudhamala, maulam ayam sudhamala mapanggang, katipat sudhamala 5, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, penyeneng alit ( tahenan ) 1, pras alit 1, sampyan nagasari, Canang pahyasan tatebus tridhatu.

  • Gusti Sudiartama:

    sebuah pemaparan yang sangat menarik…..

    Originally posted on Renungan Triwidodo......................................................... satu bumi, satu langit, satu umat manusia:

    Daksha adalah salah satu putra Brahma diantara 9 putra Brahma yang diangkat sebagai “prajapati”, yang mencipta dan menjaga kelestarian makhluk. Brahma kawin dengan Prasuti putri dari Swayambhu Manu dan mereka dikaruniai 15 putri. Sati adalah salah satu putrinya yang dikawinkan dengan Mahadewa. Pada suatu saat diadakan upacara Yajna Agung yang diketuai oleh Marici, kakak Daksha. Semua penduduk kahyangan hadir. Dan, pada saat Daksha masuk dia nampak begitu berwibawa seperti matahari yang menyinari ruangan upacara. Semua resi berdiri dan menghormat Daksha kecuali Brahma dan Mahadewa. Daksha kemudian bersujud mengambil debu di kaki Brahma, sang ayahanda dan meletakkannya di kepala. Akan tetapi Daksha tersinggung dan marah kepada Mahadewa yang tidak berdiri menyambutnya seperti resi-resi yang lain, padahal Mahadewa adalah menantunya.

    Dalam buku “Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2005 disampaikan……. Kesadaran kita mengalami kemerosotan karena adanya rasa angkuh, karena ke “aku”an. Kesadaran dan ke “aku”an seolah…

    View original 1.966 more words

    Oleh: Gusti Sudiartama | Mei 26, 2014

    Memahami pilpres 2014

    Politik itu adalah kepentingan atau politik itu adalah cara untuk mendapatkan sesuatu, sesuatu itu bisa kekuasaan, materi, bahkan fasilitas. Dua kubu yang bertarung dalam pilpress 2014 pun dapat dimaknai seperti itu, walaupun salah satu kubu menyatakan tidak ada deal deal kursi atau deal deal kekuasaan saat koalisi di sepakati. Namun tidak akan jauh dari fenomena itu pada saat menang pilpress, tidak akan ada yang murni “ngayah” karena memang demikianlah politik itu.

    Setidaknya diantara kedua calon perlu dicermati latar belakang kehidupannya, keluarganya, karena belajar dari sejarah pemimpin di Indonesia, kejatuhan mereka dapat “diraba” dari situ. BungKarno adalah pemimpin yang dipuja oleh rakyat Indonesia ketika itu, dikagumi dan disegani oleh bangsa lain, karena memiliki karakter yang kuat, mampu menggerakkan massa, melalui orasinya yang menggebu, setidaknya jaman itu pemimpin seperti itulah yang dibutuhkan oleh NKRI saat itu. Namun Sukarno bukanlah nabi, dia juga punya kekurangan, yaitu suka tampil wah… mempunyai banyak istri… dst..nya, singkat kata tidak sempurna. Suharto-pun demikian, tegas dan keras menghabisi lawan politiknya walaupun dengan alasan stabilitas, kuat dalam program pembangunan, namun lemah terhadap penegakan hukum, terutama bagi kroni dan keluarganya. Megawati dan Habibi tidak perlu di ulas karena hanya sebentar. SBY, tampil sangat santun, baik dalam tutur kata, kelihatan intelek, dari segi penampilan hampir sempurna, tapi banyak yang menilai lambat dan gagap dalam mengambil keputusan disaat saat genting, penegakan hukum terbilang cukup baik walupun baru kelihatan di akhir masa jabatannya. Dari ketiga presiden kita itu, kelihatan sekali tipikal mereka masing-masing, kelebihan dan kekurangannya, setidaknya jamanlah yang memilih sesuai dengan kebutuhannya.

    Di tahun 2014 ada dua kandidat yang akan bertarung, Prabowo tercermin dalam setiap penampilannya meniru-niru Sukarno.., suka tampil dalam bingkai kesempurnaan, mengebu-gebu, bahkan cenderung penuh retorika. Namun masih kurang merakyat, pemimpin model ini cenderung kelihatan eksklusif, sehingga selalu terasa ada jarak antara yang dipimpin dan rakyatnya, penilaian ini boleh jadi subyektif, karena saya analogikan dari kegemarannya naik kuda, helikopter mobil mewah dst.nya. Sedangkan Jokowi tercermin dari kesukaannya blusukan, penampilannya yang apa adanya kelihatan lugu, tidak beda dengan rakyat biasa, membuatnya hampir tidak jauh dari rakyat, kemanapun jokowi hadir selalu dikerubuti oleh masyarakat, karena dia itu unik. Namun penampilannya ini juga mengurangi respek orang akan kepemimpinannya, karena hampir tidak ada bedanya dengan rakyat biasa, membuat orang yang mempunyai mitos Priyayi tentang sosok  pemimpin akan menjadi ragu akan kapasitasnya.

    Kembali lagi kepada pilpres 2014, sosok pemimpin yang seperti apakah yang diperlukan oleg NKRI kedepan? bagi saya disitulah pemilih sebaiknya, memulai. Apakah kedepannya NKRI memerlukan sosok yang seperti Prabowo yang selalu tampil berapi api ketika berorasi, berkomentar sangat keras terhadap orang orang yang berseberangan dengannya, ataukah kita perlu pemimpin yang setiap hari blusukan bercengkrama dengan rakyat, sehingga kita dengan mudah mengekspresikan keluhan dan kekecewaan kita tanpa merasa takut akan “dikerasi”?.

    Tugas kita semua adalah mencari tahu tentang latar belakang dua sosok ini setidaknya lima tahun bahkan sepuluh tahun yang lalu, karena saat itu mereka belum nyapres, berusaha obyektif terhadap setiap opini, bahkan opini yang saya kemukakan diatas, karena masing masing dari kita berhak untuk menilai sesuai kadar intelektual kita masing masing, kemudian menilai kehidupan mereka , kehidupan dikeluarga mereka sekarang, dari situ mungkin kita akan mendapatkan kemantapan hati untuk menentukan pilihan. Mudah mudahan bangsa ini akan mendapatkan pemimpin yang terbaik setidaknya untuk masa kini…

    Oleh: Gusti Sudiartama | April 14, 2014

    Cuntaka terkait Ngaben ngelanus dan mekingsan di geni

    KEPUTUSAN

    PARUMAN SULINGGIH

    TINGKAT PROVINSI

    TH. 1994/1995

    TENTANG

    NGABEN DAN TATA CARA

    MEMBAWA PULANG ABU JENAZAH

     

     

    1. Tentang Cuntaka dalam hubungan ngaben Tumandang mantri dan ngelanus.

    a. Yang dimaksud dengan Ngaben Tumandang Mantri adalah apabila hari saat meninggalnya dilanjutkan dengan upacara pengabenan, hingga nyekah hari itu juga.

    b. Yang dimaksud dengan Ngaben Ngelanus adalah apabila antara pelaksanaan upacara pengabenan dengan upacara Nyekah tidak berselang dan pada hari yang sama.

    c. Upacara pengabenan yang dilanjutkan dengan Nyekah (Ngelanus) tidak memperhitungkan cuntaka lagi, dengan dilaksanakannya upacara pemarisudha seperti biyakaon, prayascitta, caru dan upacara pembersihan lainnya.

     

    Ngaben

    2. Meninggal di luar daerah dan tata cara membawa pulang abu jenazah.

     

    a. Setiap jenazah yang sudah pernah diupacarai di Setra dengan upacara yang berhubungan dengan kematiannya, baik yang masih berupa jenazah maupun yang dibakar berupa abu jenazah, tidak dibenarkan untuk dibawa pulang atau masuk ke wilayah Desa Adat.

    b. Apabila jenazah tersebut belum mendapat upacara yang berhubungan dengan upacara kematiannya, dapat dibenarkan bila akan dibawa pulang, baik yang masih berwujud jenazah, maupun yang sudah dibakar berupa abu jenazah.

     

    3. Upacara Ngulapin di Setra dalam hubungan dengan upacara pengabenan.

    a. Ngulapin di Setra (kuburan) dalam hubungannya akan dilaksanakan upacara Pengabenan tidak dibenarkan untuk mengambil dan membawa tanah Setra ke rumah/tempat dilaksanakan upacara Pengabenan.

    b. Tata cara pelaksanaan upacara Ngulapin di Setra dalam hubungan akan dilaksanakan upacara Pengabenan sesuai dengan ketentuan sastra agama.

     

    4. Tentang Makingsan di Geni dan mengabukan jenazah.

    Makingsan di Geni pada dasarnya bukan merupakan upacara Pengabenan, melainkan setingkat dengan upacara Penguburan biasa. Bedanya jenazah tidak dikubur, melainkan dibakar. Apabila dimaksudkan seperti itu, maka setelah selesainya membakar, abunya agar dibuang ke laut (anyut).

    Sedangkan apabila dimaksudkan untuk mengabukan sambil menunggu upacara pengabenan yang segera dilaksanakan maka setelah selesai dibakar, abunya dapat disimpan dengan periuk atau tempat lainnya dan selanjutnya ditaruh pada tempat darurat (asagan) yang ditempatkan di Setra.

     

    5. Tentang Ngaben Ngelungah

    Bayi yang berumur 42 hari hingga sebelum tanggal gigi, bila meninggal dunia agar segera dikubur. Upacara selanjutnya, yaitu Ngelungah dapat dilaksanakan bilamana ada kegiatan upacara pengabenan yang lain.

     

    6. Tentang yang berhak muput upacara Pengabenan

    Yang berhak muput upacara pengabenan adalah Sulinggih (Dwijati) sesuai dengan yang telah diputuskan pada Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-aspek Agama Hindu.

     

    Oleh: Gusti Sudiartama | Maret 27, 2014

    Kepemimpinan dalam perspektif pemilu 2014

    Didalam ajaran agama Hindu konsep kepemimpinan di jelaskan didalam ajaran asta brata, atau delapan karakter yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin mulai dengan :

    1. Indra Brata = Artinya pemimpin hendaknya laksana  Dewa Indra sebagai dewa  pemberi hujan, memberi kesejahtraan kepada  seluruh rakyat, tanpa kecuali .
    2. Yama Brata = Artinya pemimpin harus berani menegakkan, menegakkan hukum dan memberikan hukuman secara adil kepada setiap orang yang bersalah, laksana dewa Yama.
    3. Surya Brata = Hendaknya pemimpin memberikan penerangan secara adil dan merata kepada seluruh rakyat yang dipimpinnya serta selalu berbuat berhati-hati seperti matahari sangat berhati-hati dalam menyerap air.
    4. Candra Brata = Pemimpin hendaknya selalu dapat memperlihatkan wajah yang tenang dan menginspirasi rakyatnya sehingga masyarakat yang dipimpinnya memiliki keyakinan dan keteduhan.
    5. Bayu Brata = Pemimpin hendaknya selalu dapat mengetahui dan menyelidiki keadaan serta kehendak yang sebenarnya terutama keadaan masyarakat yang hidupnya paling menderita
    6. Kuwera Brata = Pemimpin hendaknya bijaksana mempergunakan dana atau uang serta selalu ada hasrat untuk mensejahtrakan masyarakat dan tidak menjadi pemboros yang akirnya dapat merugikan Negara dan Masyarakat.
    7. Baruna Brata =Pemimpin hendaknya dapat memberantas segala bentuk penyakit yang berkembang di masyarakat , seperti pengangguran, kenakalan remaja, pencurian dan pengacau keamanan Negara.
    8. Agni Brata = Pemimpin harus memiliki sifat-sifat selalu dapat memotivasi tumbuhnya sifat ksatria dan semangat yang berkobar dalam menundukkan musuh-musuhnya.

    Menyambut pemilu legislatif dan pilpress 2014 ini, berkaca dari pemaparan asta brata diatas,  membangkitkan asa dan mimpi saya akan sosok pemimpin yang mampu memenuhi kreteria diatas. Begitu banyak calon pemimpin yang menawarkan dirinya untuk dipilih bahkan ada yang menggunakan cara cara yang kurang terpuji. Mimpi saya mungkin juga mimpi masyarakat Indonesia tentang sosok pemimpin yang mampu memberi pengayoman, menginspirasi, memberi semangat dan penuh dengan ide ide cemerlang akan terwujudnya tatanan sebuah bangsa yang memiliki harga diri, santun, berkarakter, dan tentu saja makmur.

    Cita cita bangsa sebagaimana yang tertuang didalam Pembukaan UUD 1945 sudah sangat jelas, setidaknya kita sebagai sebuah bangsa telah diwariskan sebuah angan-angan akan dihadirkannya masa depan yang indah, dimana setiap anak bangsa sama dihargai, sama dilayani, sama berhak untuk sebuah kemakmuran, tidak ada nuansa mayoritas dan minoritas d idalam cita cita itu. Setidaknya pendiri bangsa ini telah mampu menangkap arti sebuah kesamaan hak sebagai satu bangsa yang merdeka.

    Cita cita hanyalah sebuah cita cita jika tidak ada usaha untuk mewujudkan cita cita itu. Pemilu sebagi sebuah tahapan adalah satu langkah menuju cita cita itu. Sayangnya kita sebagai sebuah bangsa , belum mampu menggunakan pemilu itu sebagaimana harusnya. Banyak dari kita tidak tertarik untuk mencermati gagasan gagasan calon pemimpin, tetapi terjebak didalam konsep transaksional sehingga memuluskan mereka yang jauh dari  konsep asta brata akhirnya terpilih, justru orang yang tulus ingin mengabdikan dirinya untuk mewujudkan cita cita mulia itu menjadi terpinggirkan.

    Pemilu di tahun 2014 ini sudah memperlihatkan kepada kita bagaimana kerasnya pertarungan itu, bagaimana jauhnya sosok pemimpin yang kita idam idamkan itu. Pemimpin yang kita butuhkan bukanlah pemimpin yang tampil bak artis,  menghibur kita, meninabobokkan kita dengan janji janji kosong, tetapi dia adalah sosok yang memberi kita inspirasi, mampu membangkitkan semangat nasionalisme kita, kebanggaan kita sebagi sebuah bangsa. Pemimpin idealnya adalah dia yang memberi kita keteladanan akan pentingnya kerja keras , kesungguhan, keteguhan dan kekuatan iman, tidak mudah terbawa emosi, tidak mudah larut dalam kesedihan berkepanjangan, tetapi dia mampu hadir ditengah kerasnya perjuangan sebagai pemberi semangat, sekaligus menjadi contoh.

    Pemimpin seperti ini hanya dapat kita lihat dari rekam jejaknya, sebelum dia mencalonkan diri, seperti apa sosok pemimpin itu didalam kesehariannya, seperti apa dia menghidupi keluarganya, seperti apa dia berhubungan dengan lingkungannya, seperti apa dia memperlakukan orang orang yang tidak menyukainya. Disitulah  kekurangan pemilu kita tahun 2014 ini, sangat sedikit sumber yang mampu di akses oleh masyarakat untuk mengetahui sosok calon pemimpinnya, atau bahkan masyarakat juga tidak peduli dengan latar belakang mereka, yang penting siapa yang memberi apa?

    Oleh: Gusti Sudiartama | Maret 18, 2014

    Pemilu dan Satrio Piningit

    Belum satu minggu  kampanye pemilihan legislatif dimulai, perdebatan dan penggalangan opini sudah demikian kuat. Semakin menarik mengamati pergulatan politik nasional setelah JokoWi menyatakan kesiapan untuk maju menjadi Capres. Luar biasa sebuah fenomena yang sangat unik mematahkan semua kalkulasi calon dan parpol lain.

    Acungan dua jempol memang patut diberikan untuk seorang Megawati atas pengorbanan dan kebesaran jiwanya yang legowo menyerahkan “kekuasaan” tertinggi kepada seorang kader yang diyakini memang merupakan pilihan rakyat. Sungguh sebuah pengorbanan luar biasa yang telah mengesampingkan ego dan kerakusan kekuasaan, mencerminkan kematangan dan kenegarawanan seorang ibu bangsa, terlepas dari berbagai kalkulasi politik yang dilakukan oleh PDIP.

    Sebagai seorang yang jauh dari hingar bingar dunia politik, cukup mengundang ketertarikan untuk mempelajari dan mengamati seperti apa nanti hadirnya sebuah “revolusi”  sosial dari wong cilik yang mulai sadar bahwa selalu ada harapan bila mau menggunakan akal sehat dan nurani untuk menentukan pilihan dan juga tanpa menafik-kan hadirnya tangan tangan Tuhan yang memang memiliki skenario dan tujuan yang sangat misterius bagi bangsa ini.

    Sudah saatnya kita semua memasang harapan dan tidak lupa memohon kehadapan Ida Hyang Widhi agar kita semua diberi kekuatan untuk nenentukan pilihan dan menentukan masa depan bangsa. Lakukan kewajiban sebagai warga bangsa dengan penuh tanggung jawab, biarlah perbedaan itu hadir ditengah tengah kita sebagai sebuah kenyataan yang patut disyukuri, dan pilihlah menurut akal sehat dan logika sehat bukan atas iming-iming recehan.

    Hadirnya tokoh Jokowi perlu diberi catatan khusus, karena sejak kemunculannya dalam pilgub DKI sosok ini digadang gadang akan mampu memberi inspirasi kepada generasi muda bangsa, bahkan tidak sedikit yang memposisikan Jokowi sebagai bagian dari skenario besar Hyang widhi  akan hadirnya satrio piningit. Namun sosok ini kenyataannya memang menyedot simpati yang sangat besar, sampai sampai tokoh PKS pun menyatakan ada tangan Tuhan yang bermain dalam pemenangan Jokowi di DKI. Apapun skenario yang dikehendaki oleh Beliau itulah yang akan terjadi, tugas kita hanyalah  menentukan pilihan dengan cara yang benar, santun dan bertang,gung jawab. Bangsa ini akan menjadi sebagaimana kehendak Beliau, hanya saja kalau sekarang kita mampu memahami isyrarat /tanda alam kita akan sejalan dengan kehendak Beliau, kalau tidak akan terjadi sedikit “pemaksaan untuk on the track”.

    Sadar bahwa apapun yang kita lakukan berimplikasi kepada alam, sebaliknya alampun memberi pengaruh kepada kita, kalau kita berkeinginan agar kedepan kita menyongsong masa depan gemilang, yakinlah akan hadirnya kegemilangan, hadirkan pikiran baik dan kegemilangan itu didalam pikiran kita masing-masing. Jauhkan pikiran dengki iri hati dan saling menjatuhkan karena pikiran seperti itu selamanya tidak akan bersinergi dengan alam.

    Mari kita songsong pemilihan legislatif dengan penuh harapan positif akan masa depan yang lebih baik, pilihlah mereka yang terbaik dari segi moral bukan kalkulasi politik dan materi, jauhkan pikiran negatif apalagi destruktif, belajarlah dari sejarah pahit tahun 1965. Selebihnya serahkan kepada Beliau karena Beliau sudah mempunyai skenario besar untuk bangsa ini…

    Older Posts »

    Kategori

    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.