IDA SANGHYANG WIDHI MENCIPTAKAN BUMI UNTUK KESEJAHTERAAN MANUSIA

November 29, 2009
Oleh: Ida Pandita Rsi Agung Dwija Bharadwaja & Bhagawan Dwija


Awalnya bumi diciptakan berupa air. Di atas air Dewa Wisnu beryoga; kemudian dari pusar-Nya keluar bunga teratai. Dari bunga teratai keluarlah Dewa Brahma. Ketika Dewa Brahma bertanya tentang diri-Nya, Wisnu menjelaskan bahwa Brahma dilahirkan oleh-Nya, namun Brahma menyangkal. Di saat pertentangan Wisnu dan Brahma memuncak tiba-tiba muncul sebuah Lingga yang besar dan sangat tinggi. Wisnu dan Brahma bertarung untuk membuktikan kesaktian masing-masing dengan cara menemukan pangkal dan puncak Lingga.Wisnu mencari pangkal Lingga; untuk itu Ia berubah menjadi seekor babi. Brahma mencari puncak Lingga, untuk itu Ia berubah menjadi seekor angsa. Keduanya tak berhasil dan seketika hadirlah Dewa Siwa seraya menjelaskan bahwa Mereka bertiga adalah Brahman yang Maha Tunggal di mana segala penciptaan dilaksanakan oleh Brahma, pemeliharaan oleh Wisnu, dan pemusnahan oleh Siwa.
Setelah itu Siwa berubah menjadi Mahakala yang sangat kuat, penguasa ruang, waktu, usia dan takdir sehingga dinamakan Mahamrtyunjaya, atau penguasa kematian. Untuk memancarkan energinya, Mahakala lalu menjadi Surya yang mempunyai kekuatan penghancur. Di lain pihak Brahma sebagai pencipta berupaya mengurangi kekuatan Surya agar kehidupan dapat terwujud. Untuk itu Brahma bersama putra-putranya : Kurdama, Daksa, Marici dan Kasyapa menyerap sebagian energy Surya. Kurdama, Daksa dan Marici menciptakan tumbuh-tumbuhan. Tumbuh-tumbuhan menyerap sari-sari bumi dan energi Surya digunakan untuk mengembangkan batang, daun, bunga dan buah. Dengan demikian maka tumbuh-tumbuhan bisa berkembang biak. Kasyapa menciptakan binatang pemakan tumbuh-tumbuhan. Oleh karena tumbuh-tumbuhan menyerap sari-sari bumi, maka Surya masuk ke bumi. Bumi menjadi berlapis-lapis, dari lapisan pertama di permukaan sampai lapisan ke tujuh di pusat bumi, masing-masing bernama : Patala, Witala, Nitala, Sutala, Tatala, Ratala, dan Satala. Di lapisan-lapisan itu terjadilah pembakaran oleh Surya yang menghasilkan batu mulia, minyak, gas, dan berbagai fosil. Di lapisan paling dalam (Satala) energi Surya terpusat menjadi cairan yang sangat panas, disebut Bedawang. Untuk menjaga kestabilan bumi dan juga agar Bedawang yang merupakan inti panas bumi tidak muncrat keluar, maka Bedawang dibelit dua ekor naga yakni Naga Basuki dan Naga Anantaboga. Dengan kondisi seperti ini maka Surya atau Mahakala yang mempunyai energi sangat besar dapat dikendalikan. Bumi selanjutnya menjadi dingin dan air berangsur-angsur menyurut, membeku dan terkonsentrasi di kutub utara dan di kutub selatan. Timbullah daratan atau benua yang luas. Akhirnya manusia diciptakan oleh Sanghyang Widhi dari Panca Mahabhuta yaitu : tanah (pertiwi), air (apah), angin (bayu), surya (teja) dan atmosphere (akasa).
Reg Weda, Mandala VIII, Sukta 4.5 : Ayo yonim devakrtam sasada kratva hy agnir amrtam atarit tam osadhis ca vaninas ca garbham bhumis ca visvadhayasambibharti : Mahluk hidup, pepohonan dan bumi mengandung api. Sanghyang Widhi yang mencipta segalanya ini sebagai sumber. Ia menempatkan diri sesuai yang direncanakan alam. Semoga Dia sebagai salah satu fungsi-Nya menerima penghormatan kami atas kekuatan-Nya yang abadi.
Manusia yang kemudian tercipta setelah adanya tumbuh-tumbuhan dan binatang, menikmati kamadhuk atau alam semesta bagi kehidupannya. Populasi manusia kemudian bertambah banyak dan kepandaiannyapun makin berkembang. Manusia bisa membuat api yang tersimpan di tetumbuhan dan di bumi. Pembakaran-pembakaran, penggalian tanah, dan penebangan hutan dilakukan sehingga kekuatan Mahakala yang tersimpan kini bangkit dan energynya mencairkan es di kedua kutub. Permukaan air laut pun meninggi dan terbentuklah pulau-pulau yang tadinya berupa daratan atau benua. Manusia pada mulanya hidup dari hasil pertanian dan peternakan. Ketika itu keharmonisan hubungan manusia dengan alam terjaga baik, karena manusia sangat berkepentingan pada kelestarian alam.
Pola hidup sebagai petani diliputi nilai-nilai spiritual, karena keyakinan bahwa Sanghyang Widhi telah menganugrahkan kebahagiaan dan kesejahteraan. Tanah, tetumbuhan, binatang, dan sumber-sumber air dihormati dan disayangi, dijaga kelestariannya dan disakralkan dengan menstanakan Wisnu dalam berbagai bentuk manifestasi-Nya. Keyakinan yang menjadi kepercayaan seperti ini berlanjut turun temurun, sampai pada abad ke-19 di saat mana manusia mulai berpikir lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Revolusi industri kemudian bergulir ke seluruh dunia, mengajarkan pola hidup manusia yang baru, yang mengabaikan kesakralan tanah, air, tetumbuhan, dan binatang-binatang. Tiada lagi rasa bersalah atau berdosa karena merusak tanah demi kepentingan usaha-usaha : industri, perdagangan, jasa-jasa, atau untuk real estate/pemukiman. Tetumbuhan makin berkurang, mata air berkurang, dan bumi dibor untuk pertambangan dan penggalian sumur-sumur minyak bumi, batu bara, dan gas. Pertanian yang tadinya menggunakan pupuk organik diganti dengan pupuk kimia, sehingga tetumbuhan menderita keracunan pada akar, batang, daun dan buah. Akibatnya kemampuan tetumbuhan mengelola energi Surya berkurang, tanah menjadi keras dan tak mampu menyerap energi Surya untuk disalurkan ke lapisan Satala. Oleh karena itu maka energi Surya yang terpendam kembali bangkit menjadi Mahakala. Bedawang terguncang; lilitan Naga Basuki dan Naga Anantabhoga mengendur sehingga energi di lapisan Satala keluar dari pusat bumi. Terjadilah letusan gunung, gempa bumi, laut pasang/tsunami, bumi yang memanas dan perubahan iklim tak menentu. Es di kedua kutub dan di puncak-puncak gunung mencair, permukaan laut meninggi, sehingga pulau-pulau dan benua-benua akan tenggelam bersama-sama dengan segala bentuk kehidupan di atasnya. Dalam purana, keadaan ini disebut Pralaya.

Intisari Upanisad yang ada di Brahma Purana dan Siwa Purana seperti diuraikan di atas telah mulai nampak dalam kenyataannya sekarang. Pertanyaan yang muncul, sebagai akhir tulisan ini : Sadarkah umat manusia akan ancaman yang dihadapi ? Selanjutnya : Apa upaya kita untuk menanggulangi atau meminimalisir kerusakan alam ?

Om Trayambhakam yajamahe, sugandhim pusti varadhanam, urvarukam iva bandhanat, mrtyor muksiya mamratat.


HARI KIAMAT MENURUT HINDU

November 29, 2009

Oleh Bhagawan Dwija


Apakah akan terjadi “Kiamat” ? Ya, disuatu saat kiamat atau dalam agama Hindu-Bali, disebut “Pralaya” pasti akan terjadi. Namun tidak seorang manusiapun bisa memperkirakan atau meramalkan kapan pralaya itu akan terjadi. Kenapa pralaya itu harus terjadi ? Karena Sanghyang Widhi akan menciptakan pembaharuan total pada kehidupan di dunia. Sumber sastra apa yang menyatakan hal ini ? Ada dalam Maha Bharata, khususnya dalam Bharata Yudha, dimana Prabu Salya berkata kepada cucu-cucunya : Nakula dan Sadewa : Dunia ini dibagi dalam empat zaman : Kerthayuga, Trityayuga, Dwaparayuga, dan Kaliyuga. Setelah zaman Kaliyuga, terjadilah pralaya. Ciri-ciri kehidupan manusia di keempat zaman itu : pada zaman Kerthayuga manusia hidup rukun damai, dharma, taat beragama dan sejahtera. Di zaman Trityayuga sudah ada sebagian kecil manusia yang sudah berbuat dosa, tidak melaksanakan dharma. Di zaman Dwaparayuga, manusia selalu terbelah dua, ada yang berbuat dharma, dan ada yang berbuat adharma, selalu bermusuhan, terjadi peperangan, saling mencurigai. Di zaman Kaliyuga, manusia sudah mengutamakan pemilikan benda-benda materi, harta menjadi objek utama yang dikejar dalam kehidupan, ingin memilikinya dengan cara apapun, alam dirusak demi kehidupan, jumlah manusia bertambah berlipat-lipat sehingga alam tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan manusia, peperangan, teror dimana-mana, pemimpin pemerintahan berkongsi dengan pencuri dan penjahat, pemimpin agama dicaci-maki, manusia tidak takut kepata Tuhan, berbuat adharma tidak segan-segan, tidak ada rasa malu apalagi rasa berdosa.

Maka alam yang dirusak manusia murka. Terjadi bencana alam yang hebat : banjir, longsor, gempa bumi, tsunami, badai, gunung meletus dan lain-lain. Bila manusia merusak alam apakah alam akan binasa ? Tidak, tidak, tidak. Bila manusia merusak alam, maka alam akan membalas memusnahkan manusia. Alam tidak akan kalah, tetapi manusialah yang akan kalah. Kenapa ? karena tubuh manusia diciptakan dari unsur-unsur alam : pertiwi (tanah), apah (air), bayu (angin), teja (matahari), dan akasa (angkasa).

Bila manusia merusak alam, maka alam (bhuwana agung) akan menarik kembali bagiannya (bhuwana alit = tubuh manusia) untuk menyatu kepada-Nya. Dengan kata lain : ALAM TIDAK AKAN PERNAH MUSNAH. Yang musnah itu manusia. Setelah manusia dimusnahkan, maka alam akan menata kembali kehidupan baru, kembali ke zaman Kerthayuga. Itulah perlunya ada pralaya.

Bagaimana proses kejadian pralaya itu ? Seperti ketika awal penciptaan bumi, maka seluruh permukaan bumi akan tenggelam oleh air. Seluruhnya menjadi laut, tidak ada daratan sama sekali. Tidak ada kehidupan dalam jangka waktu lama. Selanjutnya Sanghyang Widhi akan menciptakan kembali kehidupan baru seperti kejadian pertama (baca di web ini : Tuhan menciptakan bumi untuk kesejahteraan manusia)

Kapankah zaman Kaliyuga dimulai ? Zaman Kaliyuga dimulai ketika Parikesit (cucu Arjuna) menjadi Raja Astinapura. Sekarang kita telah berada dizaman Kaliyuga. Lihatlah fenomena disekitar kita, sesuai dengan ciri-ciri pra-pralaya.

Om Awignamastu namo sidham


PURA DASAR BHUANA GELGEL, PENGHORMATAN PADA EMPU GHANA

November 28, 2009

Pura Dasar Bhuana Gelgel——-
Berkonsep Kaula Gusti Menunggal,
Penghormatan pada Empu Ghana

Pura Dasar Bhuana di Desa Gelgel, Klungkung merupakan salah satu peninggalan sejarah Klungkung yang notabene sebagai pusat kerajaan di Bali. Selain sebagai satu-satunya pura dasar yang ada di Bali, pura ini juga memiliki keunikan dan fungsi khusus. Seperti apa keunikan dan fungsi dari keberadaan pura ini?

————————————————————

PURA Dasar Bhuana dibangun Mpu Dwijaksara dari Kerajaan Wilwatikta (Kerajaan Majapahit) pada tahun Caka 1189 atau tahun 1267 Masehi. Pura ini merupakan salah satu Dang Kahyangan Jagat di Bali. Pada masa Kerajaan Majapahit, Pura Dang Kahyangan dibangun untuk menghormati jasa-jasa pandita (guru suci). Pura Dang Khayangan dikelompokkan berdasarkan sejarah. Di mana, pura yang notabene tempat pemujaan di masa kerajaan di Bali, dimasukkan ke dalam kelompok Pura Dang Kahyangan Jagat. Keberadaan Pura Dang Kahyangan tidak bisa dilepaskan dari ajaran Rsi Rena dalam agama Hindu.

Pura atau Ashram dibangun pada tempat di mana Maharsi melakukan yoga semadi. Itu dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Maharsi. Seperti Pura Silayukti di Karangasem. Silayukti diyakini sebagai tempat moksanya Mpu Kuturan. Demikian pula dengan Pura Dasar Bhuana Gelgel yang dibangun sebagai penghormatan terhadap Empu Ghana. Di pura inilah Mpu Ghana yang notabene seorang Brahmana yang memiliki peran penting perkembangan agama Hindu di Bali, beryoga semadi (berparahyangan).

”Sebagaimana namanya, Pura Dasar Bhuana merupakan dasar jagatnya Bali. Kalau pura luhur, jumlahnya banyak. Pura Dasar Bhuana satu-satunya pura dasar di Bali,” ungkap Sekretaris Pengeling Pura Dasar Bhuana Gelgel A.A. Gde Anom Wijaya. Selain sebagai Dang Kahyangan, pura yang berjarak sekitar 3 kilometer dari Kota Semarapura, Klungkung itu juga merupakan pusat panyungsungan catur warga yang berasal dari soroh/klan di antaranya soroh/klan Satria Dalem, Pasek (Maha Gotra Sanak Sapta Rsi), soroh Pande (Mahasamaya Warga Pande) dan klan Brahmana Siwa. Semuanya merupakan pengabih Ida Batara di Pura Dasar Bhuana Gelgel.

Masing-masing warga memiliki panyungsungan, seperti Meru Tumpang Solas — panyungsungan Para Arya dan Satria Dalem. Meru Tumpang Tiga — panyungsungan Keturunan Mpu Geni yang menurunkan trah Pasek. Meru Tumpang Tiga sebagai penyungsungan warga Pande. Padma Tiga yang berada di antara Meru Tumpang Solas dan Meru Tumpang Sia (sembilna), panyungsungan warga Brahmana. Dengan banyaknya soroh/klan yang ada di dalamnya, diyakini Pura Dasar Bhuana merupakan pemersatu jagat dengan konsep bersatunya semua klan yang ada di Bali dengan konsep ”kaula gusti menunggal”. ”Konsep itu sangat terasa begitu masuk ke pura itu,” tandas Agung Gde Anom Wijaya. Pegawai di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Klungkung itu menyebutkan, ketika manusia berada di hadapan-Nya, tidak ada lagi istilah perbedaan trah. Pande, Pasek atau Satria Dalem, semuanya sama.

Pura yang dibangun di atas areal cukup luas itu, juga menjadi panyungsungan Subak Gde Suwecapura. Di antaranya Subak Pegatepan, Kacang Dawa, Toya Ehe dan Toya Cawu. Panyungsungan dilakukan saat Karya Pedudusan Agung lan Pawintenan yang bertepatan dengan Purnama Kapat. Agung Anom Wijaya juga menambahkan, Pura Dasar Bhuana sempat dijadikan objek penelitian oleh peneliti asal Belanda. Di mana, hasilnya diyakini bahwa situs Pura Dasar Bhuana Gelgel hampir mirip dengan situs bekas Kerajaan Majapahit. ”Katanya Gelung Kori Agung mirip dengan Gelung Kori Kerajaan Majapahit,” sebutnya.

Pura Dasar Bhuana terletak di Desa Gelgel, Klungkung. Dari Denpasar, berjarak sekitar 42 kilometer. Pura ini berdiri di atas lahan yang cukup luas. Berdiri megah dan tampak asri di pinggir jalan utama Gelgel-Jumpai. Sebagimana umumnya Pura-pura di Bali, Pura Dasar Bhuana memiliki tiga mandala — Nista Mandala, Madya Mandala dan Utama Mandala. Di bagian Nista Mandala terlihat keangkeran pohon beringin besar yang tumbuh sejak berabad-abad lamanya.
Masuk ke Madya Mandala, pamedek bisa melihat bangunan-bangunan berupa Pelinggih Bale Agung. Pelinggih ini tampak unik karena panjangnya mencapai 12 meter. Bersebelahan dengan Bale Pesanekan dan pelinggih tempat berstanakan seluruh petapakan dan pratima Pura-pura yang ada di Desa Pakraman Gelgel. Pratima maupun petapakan itu tedun dan distanakan saat berlangsung Karya Agung Pedudusan (Ngusaba) yang dilaksanakan bertepatan dengan Purnama Kapat.

Sementara di Utama Mandala terdapat belasan pelinggih di antaranya Meru Tumpang Solas, Meru Tumpang Telu, Padma Tiga dan banyak lagi pelinggih lainnya. Dalam setahun, ada dua wali/karya digelar yakni wali bertepatan dengan Pamacekan Agung, serta wali/karya Padudusan yang jatuh pada Purnama Kapat.

Pura Dasar Bhuana di-empon Desa Pakraman Gelgel yang terdiri atas 28 banjar dan tiga desa dinas — Desa Gelgel, Desa Kamasan dan Desa Tojan. Keberadaannya berkaitan erat dengan keberadaan Keraton Suwecapura tempo dulu yang juga berada di Gelgel. Namun, jika melihat tahun berdirinya, pura ini sudah ada jauh sebelum Gelgel diperintah raja pertama, Dalem Ketut Ngulesir (1380-1400). Pura yang merupakan warisan maha-agung ini didirikan pada tahun Saka 1189 atau tahun 1267 Masehi.

Sebagaimana sejarahnya, Pura Dasar Bhuana erat kaitannya dengan Mpu Ghana yang hidup pada akhir abad IX Masehi. Pura Dasar Bhuana dibangun Mpu Dwijaksara dari Kerajaan Wilwatika sebagai bentuk penghormatan terhadap Mpu Ghana. Empu Ghana merupakan seorang brahmana dengan peran sangat besar terhadap perkembangan agama Hindu di Bali.

Empu Ghana adalah orang suci yang berasal dari Jawa. Tiba di Bali pada masa pemerintahan (suami-istri) Udayana Warmadewa dan Gunapraya Gharmapatni yang berkuasa dan memerintah Bali pada tahun Caka 910 sampai tahun Saka 933 (tahun 988-1011 Masehi). Empu Ghana merupakan brahmana penganut paham Ghanapatya. Seumur hidup menjalankan ajaran Sukla Brahmacari yakni tidak menjalani masa Grahasta (tidak menikah). Kaitannya setelah berdirinya Kerajaan Suwecapura, pura ini dipakai sebagai merajan keluarga raja saat itu. Letak pura ini persis berada di timur laut Keraton Suwecapura. Pada zaman itu, Keraton Suwecapura berdiri di Banjar Jero Agung, Gelgel.

”Letak pura ini berada di hulu Keraton Suwecapura. Dulunya, disungsung keluarga Raja Gelgel,” tutur Agung Anom Wijaya. Pura ini memang erat kaitannya dengan keberadaan Kerajaan Suwecapura. Sejumlah situs peninggalan Kerajaan Suwecapura masih tetap dilestarikan di pura ini sampai sekarang. * baliputra

sumber: BaliPost.co.id

 


SEJARAH BALI

November 28, 2009

Ekspedisi Gajah Mada Ke Bali
Setelah pemerintahan raja Sri Mahaguru tahun 1324-1328 M. Maka pemerintahan dipegang oleh Bhatara Sri Astasura Ratna Bhumi Banten yang disebut dalam prasasti Patapan Langgahan tahun1337 M. Selain itu ada pula sebuah patung yang disimpan di Pura Tegeh Koripan termasuk Desa Kintamani. Pada bagian belakang patung itu ada tulisan yang sangat rusak keadaannya.

Baginda mengangkat seorang mangkubumi yang gagah perkasa bernama Ki Pasunggrigis, yang tinggal di desa Tengkulak dekat istana Bedahulu di mana raja Astasura bersemayam. Sebagai pembantunya diangkat Ki Kebo Iwa alias Kebo Taruna yang tinggal di Desa Belahbatuh. Para menterinya di sebutkan Krian Girikmana tinggal di Desa Loring Giri (Buleleng), Krian Ambiak tinggal di desa Jimbaran, Krian Tunjung Tutur tinggal di desa Tenganan. Sedangkan Krian Buahan tinggal di desa Batur, Krian Tunjung Biru di desa Tianyar, Krian Kopang tinggal di desa Seraya dan Walungsari tinggal di desa Taro.

Sebelum Gajah Mada melakukan penyerangan ke Bali maka terlebih dahulu ia berminat menyingkirkan Kebo Iwa sebagai orang yang kuat dan sakti di Bali. Jalan yang ditempuh dengan tipu muslihat yaitu raja putri Tribhuwana Tunggadewi mengutus Gajah Mada ke Bali dengan membawa surat yang isinya seakan-akan raja putri menginginkan persahabatan dengan raja Bedahulu.

Amangkubhumi Pasanggrigis menggantikan Kebo Iwa mengorganisir pasukannya menentang Majapahit. Ketika diadakan rapat di Bedahulu membicarakan berita kematian Kebo Iwa seluruh hadirin sepakat mempertahankan Bali dan tidak mau tunduk kepada Majapahit. Setelah itu Gajah Mada mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk menyerang Bali. Terjadilah ekspedisi Gajah Mada ke Bali pada tahun 1334 dengan Candrasangkala Caka isu rasaksi nabhi (anak panah, rasa, mata pusat). Pasukan Majapahit dipimpin oleh Gajah Mada sendiri bersama panglima Arya Damar dibantu oleh beberapa Arya. Setelah sampai di pantai Banyuwangi, tentara Majapahit berhenti sebentar untuk mengatur siasat peperangan.

ke atas

Pengangkatan Dinasti Sri Kresna Kepakisan

Setelah jatuhnya kerajaan Bedahulu tahun 1334 maka terjadilah kekosongan pimpinan di daerah Bali dan sering terjadi perselisihan antara orang-orang Bali-Aga dengan pasukan Majapahit yang ditugaskan menjaga keamanan di Bali.

Satu-satunya orang yang masih disegani pada waktu itu adalah Patih Ulung tetapi tidak mempunyai wewenang apapun untuk mengatasi situasi yang tidak tentram di Bali.

Terdorong oleh keinginan luhur untuk menjaga keutuhan Bali maka Patih Ulung bersama dua orang keluarganya Arya Pemacekan dan Arya Kepasekan memberanikan diri menghadap ke Majapahit yang bertujuan mohon supaya diadakan wakil raja di Bali yang mampu meredkan ketegangan di Bali.

Untuk lebih jelasnya asal-usul dari Sri Kresna Kepakisan maka di sini akan dijelaskan silsilahnya sebagai berikut: diceritakan Mpu Wira Dharma berputra tiga orang yaitu: Mpu Lampita, Mpu Adnyana, Mpu Pastika. Selanjutnya Mpu Pastika berputra dua orang yaitu: Mpu Kuturan berasrama di Lemah Tulis dan Mpu Beradah pergi ke Daha serta menjadi pendeta kerajaan (bhagawanta) dari Raja Airlangga dan dikaitkan dengan cerita Calonarang yang amat terkenal di Bali. Kemudian Mpu Beradah berputra seorang yang bernama Mpu Bahula yang kemudian kawin dengan Ratnamanggali. Dari perkawinan ini lahirlah beberapa putra: Mpu Panawasikan, Mpu Asmaranatha, Mpu Kepakisan dan Mpu Sidimantra. Akhirnya Mpu Panawasikan berputra: Mpu Angsoka, Mpu Nirartha. Mpu Kepakisan yang berputra empat orang yaitu: tiga putra dan seorang putri. Putra yang bungsu Mpu Kresna Kepakisan diangkat menjadi raja di Bali.

ke atas

Sri Kresna Kepakisan Diangkat menjadi raja di Bali

pada tahun Caka 1274 (=yogan muni rwan ring bhuwana) atau tahun 1352 Masehi. Namanya sering pula disebut: Dalem Wawu Rawuh. Dalem Tegal Besung. Pusat Kerajaan terpilih Desa Samprangan. Karena ketika ekspedisi Gajah Mada desa Samprangan mempunyai arti historis, yaitu sebagai perkemahan Gajah Mada serta mengatur strategi untuk menyerang Bedahulu. Dalam kenyataan menunjukkan bahwa jarak desa Bedahulu ke Samprangan hanya kurang lebih 5 km.

Menurut sumber tradisional di Bali diceritakan Airlangga seorang putra Bali keturunan Warmadewa yang diangkat menjadi menantu oleh Raja Dharmawangsa di kerajaan Daha di Jawa Timur. Airlangga mempunyai tiga orang putra yaitu seorang putri dan dua orang laki-laki, masing-masing bernama Sri Jayabaya dan Sri Jayasabha. Sedangkan Sri Jayasabha menurunkan Siarya Kadiri dan Sri Arya Kadiri berputra Sirarya Kapakisan yang menyertai kepergian Dalem ke Bali.

Semasa pemerintahan Sri kresna Kepakisan di Samprangan diwarnai dengan pemberontakan-pemberontakan di desa-desa Bali Aga seperti: desa Batur, Cempaga, Songan, Kedisan, Abang, Pinggan, Munting, Manikliyu, Bonyoh, Katung, Taro, Bayan, Tista, Margatiga, Bwahan, Bulakan, Merita, Wasudawa, Bantas, Pedahan, Belong, Paselatan, Kadampal dan beberapa desa yang lain. Atas peristiwa pemberontakan yang terus-menerus Dalem merasa putus asa dan mengirim utusan ke Majapahit, melaporkan bahwa Dalem tidak mampu mengatasi situasi di Bali.

ke atas

Dalem Agra Samprangan

Sesuai dengan adat istiadat yang berlaku maka setelah Dalem Ktut Kresna Kepakisan wafat, maka beliau digantikan oleh putranya yang sulung yaitu: Dalem Agra Samprangan. Namun Baginda tidak sukses dalam mengendalikan roda pemerintahan karana wataknya yang lamban dan gemar bersolek sehingga diberikan julukan Dalem Ile. Akhirnya baginda kurang berwibawa di mata masyarakat.

Pada masa pemerintahan Dalem Agra Samprangan, para Arya pejabat-pejabat mentri terdahulu kebanyakan telah lanjut usia, sehingga untuk menjabat kedudukan sebagai mentri digantikan oleh para putra Arya itu masing-masing.

Para mentri semakin cemas akan kehancuran yang mengancam keutuhan kerajaan Bali karena gejala perpecahan semakin menonjol,. Akhirnya Kyai Klapodnyana (Kyai Kubaon Tubuh) bendesa Gelgel putra pertama Arya Kutawaringin, dengan tegas mengambil keputusan untuk mencari I Dewa Ketut Ngulesir, hendak dinobatkan menjadi raja, dengan penuh tanggung jawab dan segala resiko yang ditimbulkan. Sebab I Dewa Tegal Besung masih kanak-kanak, belum pantas dinobatkan sebagai kepala pemerintahan.

Setelah mengadakan musyawarah para Arya dan berikrar yang tempatnya di pura Dalem Tugu (Gelgel) dan setelah mencapai kata sepakat, rombongan yang dipimpin sendiri oleh Kyai Klapodnyana berangkat mencari I Dewa Ktut Ngulesir. Kemudian rombongan tiba di desa Pandak (Tabanan), di mana I Dewa Ketut Ngulesir didapati sedang berada di tempat judian. Tanpa ragu-ragu dengan sangat sopan dan hormat, serta dilandasi dengan ketulusan hati yang mendalam, memohon perkenan I Dewa Ketut Ngulesir untuk kembali ke Istana menduduki singgasana kerajaan, supaya kerajaan Bali terhindar dari malapetaka kehancuran, sebab tidak ada pilihan lain lagi.

Dalem Agra Samprangan setelah menerima hal itu, tidak menghiraukan kedudukannya I Dewa Ktut Ngulesir di Gelgel, demikian pula sebaliknya Dalem Ktut tidak durhaka atas kekuasaan Dalem Samprangan. Jadi seolah-olah dua kerajaan kembar yang saling menghormati, sampai saat wafatnya Dalem Agra Samprangan, yang berarti berakhirnya kerajaan Samprangan dan menjadi besarnya kerajaan Gelgel.

ke atas

Aspek Sosial Budaya

a. Struktur Pemerintahan
Masa pemerintahan Sri Kresna Kepakisan di Bali merupakan awal terbentuknya dinasti baru yaitu dinasti Kresna Kepakisan yang kemudian berkuasa di Bali sampai awal abad ke-20 (1908). Beliau membawa pengaruh-pengaruh baru dari Majapahit termasuk para bangsawan. Bangsawan baru ini merupakan kelompok elite yang menempati status dan peranan penting atas struktur pelapisan masyarakat Bali. Hal ini sekaligus menggeser kedudukan dan peranan bangsawan dari kerajaan Bali Kuno.

b. Sistem Kepemimpinan
Raja yang dianggap sebagai penjelmaan dewa di dunia, memegang otoritas politik tertinggi dan menduduki puncak hierarki kerajaan. Dalam melaksanakan pemerintahan, raja dibantu sejumlah pejabat birokrasi. Para putra dan kerabat dekat raja diberi kedudukan tinggi dalam jabatan birokrasi. Para putra mahkota sebelum menjadi raja biasanya mereka diberi kedudukan sebagai raja muda (Yuwaraja). Raja dibantu oleh suatu lembaga yang merupakan dewan pertimbangan pada raja. Anggotanya ialah para sanak saudara raja. Dalam kekawin Negara Kertagama disebut dengan nama Pahem Narendra.

Jabatan yang lain ialah Dharma Dhyaksa ialah pejabat tinggi kerajaan yang bertugas menjalankan fungsi yurisdiksi keagamaan. Ada dua Dharma Dhyaksa yaitu Dharma Dhyaksa ring Kasaiwan untuk urusan agama Siwa, dan Dharma Dhyaksa ring Kasogatan untuk urusan agama Budha.

c. Kehidupan beragama
Mengenai kehidupan beragama pada masa kerajaan Samprangan tidak begitu banyak diketahui karena kerajaan Samprangan berlangsung tidak begitu lama yaitu kurang dari setengah abad. Selain itu keadaan pemerintahan belum stabil sebagai akibat munculnya pemberontakan pada desa-desa Bali Aga. Agama yang dianut masyarakat pada masa ini adalah diduga Siwa-Budha, dimana dalam upacara-upacara keagamaan kedua pendeta itu mempunyai peranan yang penting. Apabila ditinjau dari segi jumlah penganut dan pengaruhnya, agama Siwa tergolong lebih besar dari agama Budha, karena menurut sumber-sumber arkeologi agama Siwa berkembang lebih dulu dari agama Budha.

Agama Siwa yang dipuja ketika ini adalah dari aliran Siwa-Sidhanta dengan konsep ke-Tuhanannya yang disebut Tri Murti yaitu tiga kemahakuasaan Hyang Widhi: Brahma, Wisnu, dan Siwa. Ketiga Dewa Tri Murti tadi akhirnya dimanifestasikan ke dalam setiap desa adat di Bali yang terkenal dengan nama Pura Kahyangan Tiga, yaitu: Pura Desa/Bale Agung sebagai sthana dari Dewa Brahma, Pura Puseh sthana Wisnu dan Pura Dalem sthana Siwa. Selain pura-pura untuk pemujaan Hyang Widhi beserta manifestasinya juga terdapat tempat pemujaan untuk roh suci leluhur yakni Bhatara/Bhatari yang disebut: Sanggah/Pemerajan, Dadia/Paibon, Padharman.

d. Bidang Kesenian dan Kesusastraan
Kehidupan seni budaya ketika itu telah berkembang dengan baik sebagai kelanjutan perkembangan seni budaya jaman Bali Kuna abad 10-14 M. Ketika itu masyarakat Bali telah mengenal beberapa jenis kesenian seperti: lakon topeng, diman pada jaman Bali Kuna disebut dengan nama pertapukan. Demikian pula tontonan wayang telah dikenal pada masa Bali Kuna yang disebut Parbwayang. Seni tabuh telah pula dikenal dalam prasasti Bali Kuna disebut-sebut nama alat pemukul gamelan, tukang kendang, peniup seruling dan lain- lainnya.

Ketika masa Samprangan masyarakat Bali telah mengenal beberapa kitab kesusastraan yang berfungsi sebagai penuntun kejiwaan masyarakat, sehingga mereka dapat berbuat sesuai dengan ajaran-ajaran agama. Beberapa kitab kesusastraan yang dikenal ketika masa Samprangan adalah: kesusastraan Calonarang, Bharatayuddha, Ramayana, Arjuna Wiwaha dan lain-lain.
(SEPERTI DI KUTIP DI HARIAN BALIAGA)


Cara Mendekatkan Diri Dengan KANDAPAT

November 24, 2009

Oleh : Bhagawan Dwija

Om Swastyastu,

Kanda Pat adalah Empat Teman: Kanda = teman, Pat = empat, yaitu kekuatan-kekuatan Hyang Widhi yang selalu menyertai roh (Atman) manusia sejak embrio sampai meninggal dunia mencapai Nirwana. Menurut Kitab Suci Lontar Tutur Panus Karma, nama-nama Kanda Pat berubah-ubah menurut keadaan/ usia manusia:

Usia Manusia Kanda 1 Kanda 2 Kanda 3 Kanda 4
Kandapat Rare:
Embrio Karen Bra Angdian Lembana
Kandungan 20 hari Anta Prata Kala Dengen
Kandungan 40 minggu Ari-ari Lamas Getih Yeh-nyom
Lahir, tali pusar putus Mekair Salabir Mokair Selair
Kandapat Bhuta:
Bayi bisa bersuara Anggapati Prajapati Banaspati Banaspatiraja
Kandapat Sari:
14 tahun Sidasakti Sidarasa Maskuina Ajiputrapetak
Bercucu Podgala Kroda Sari Yasren
Kandapat Atma:
Meninggal dunia Suratman Jogormanik Mahakala Dorakala
Kandapat Dewa:
Manunggal (Moksa) Siwa Sadasiwa Paramasiwa Suniasiwa

Bentuk-bentuk kandapat yang dapat dilihat dan diraba secara nyata adalah ari-ari, lamas, getih, dan yeh-nyom. Setelah mereka dikuburkan (segera setelah bayi lahir) maka perubahan selanjutnya adalah abstrak (tak berwujud) namun dapat dirasakan oleh manusia yang kekuatan bathinnya terpelihara.

Bagan di atas dapat juga dibaca terbalik dengan pengertian sebagai berikut:

Hyang Widhi mewujudkan diri menjadi empat manifestasi, kemudian keempatnya itu, yaitu:
1. Hyang Siwa selanjutnya mewujudkan dirinya menjadi ari-ari
2. Hyang Sadasiwa mewujudkan diri sebagai lamas
3. Hyang Paramasiwa mewujudkan diri menjadi getih, dan
4. Hyang Suniasiwa mewujudkan diri menjadi Yeh-nyom.

Keempat teman yang abstrak ini menyertai terus sampai manusia mati dan rohnya menghadap ke Hyang Widhi. Mereka juga menjaga dan melindungi roh, serta mencatat sejauh mana atman (roh) terpengaruh oleh indria keduniawian. Semua pengalaman hidup di record oleh Sang Suratman yang dahulu berbentuk ari-ari. Inilah catatan subha dan asubha karma yang menjadi penilaian dan pertimbangan kesucian roh untuk menentukan tercapainya moksa (bersatunya atman-brahman) ataukah samsara (menjelma kembali). Kandapat ada dalam diri/ tubuh manusia, namun ketika tidur, kandapat keluar dari tubuh. Maka mereka perlu dibuatkan pelinggih berupa “pelangkiran” di kamar tidur, tempat bersemayamnya kanda pat ketika kita tidur pulas.

Kandapat namanya selalu berubah sesuai dengan pertumbuhan manusia, karena pengaruh Panca Indria kepada Roh/ Atma juga berubah-ubah. Jadi nama yang berubah untuk memberi batasan pada masing-masing tingkat kekuatan pengaruh panca indria sejalan dengan pertumbuhan manusia. Panca Indria dapat menyebabkan keterikatan atman oleh karena itu atman perlu dilindungi. Yang bisa membantu manusia melindungi dirinya dari godaan panca indria adalah Kandapat.

Jika jalinan/ hubungan manusia dengan Kandapat terhambat atau bahkan tidak ada hubungan sama sekali (“tusing pati rungu”) maka perlindungan Kandapat-pun berkurang atau tidak ada. Seperti lagunya Bimbo saja: …”Engkau dekat, Aku dekat, engkau jauh, Aku jauh”… begitu kira-kira logikanya. Orang-orang kebathinan biasanya mulai dengan menguatkan Kandapatnya ini dengan cara selalu ingat dan membagi suka/ duka dengannya. Jika sudah dekat, Kandapat bisa jadi guru dan penuntun karena pada hakekatnya Kandapat itu juga Manifestasi Hyang Widhi.

Kandapat adalah manifestasi Brahman (Hyang Widhi) yang Esa; jadi ia akan selalu ada dan selalu sama pada penjelmaan-penjelmaan manusia berikutnya.

Beberapa cara mendekatkan diri (roh dalam diri) dengan Kandapat :

1. Membuat pelangkiran dari kayu di atas tempat tidur, sebagai stana Kandapat, sedangkan Kandapat diwujudkan dalam bentuk daksina lingga, yakni sebuah daksina yang dibungkus dengan kain putih/kuning. Kemudian dihaturi banten tegteg-daksina-peras-ajuman (pejati) dan setiap bulan purnama dibaharui/diganti, daksina lingganya tidak perlu diganti (biarkan selamanya di situ)
2. Setiap hari dihaturi banten saiban/jotan
3. Setiap mau meninggalkan rumah pamit ke Kandapat dan pulangnya membawa oleh-oleh makanan/kuwe, dll. sekedarnya saja, tanda ingat.
4. Setiap mau tidur sembahyang, seraya memohon Kandapat menjaga kita selama tidur.
5. Permohonan lain dapat juga diajukan di Kandapat itu.
6. Kalau gajian/mendapat hasil uang, dihaturkan dahulu di situ, biarkan semalam, keesokan harinya baru ‘dilungsur’ (tapi hati-hati pada pencuri, artinya pintu kamar dikunci)

Om Santih, Santih, Santih, Om


Yang Mungkin Terjadi Saat Malam Pertama

November 14, 2009

Kompas – Rabu, Juni 10

KOMPAS.com – Banyak istri yang cemas atau mungkin takut menghadapi malam pertama. Merasa risih, malu atau tidak siap. Akibatnya, akan menimbulkan kekecewaan di salah satu pihak atau bahkan keduanya. Nah, apalagi yang mungkin terjadi pada malam pengantin dan sesudahnya?

1. NYERI SENGGAMA
Awalnya, senggama mungkin memang nyeri, tapi tidak di malam-malam berikutnya. Jika nyeri sampai berminggu-minggu, tentu ini tidak normal. Robekan selaput dara pun tidak senyeri yang dikatakan mitos-mitos yang beredar, kecuali kalau sampai pecah pembuluh darah, sehingga lebih banyak darah keluar.

Nyeri senggama yang luar biasa juga dialami jika ada gangguan di mulut vagina (vulva). Penyebabnya bisa karena infeksi (vulvitis), luka, kekejangan otot, atau reaksi kecemasan sendiri.

Jika kondisi vulva dan vagina sudah sehat, tapi senggama masih nyeri atau rasa tidak enak, mungkin belum tercipta penyesuaian emosi, jiwa, dan kondisi fisik antara suami istri. Jadi, komunikasi seksual tidak boleh tersumbat.

2. ANYANG-ANYANGAN
Dua-tiga hari setelah malam pengantin, mendadak nyeri berkemih, tidak enak badan, mual, nyeri kepala, dan jika hebat, air seni pink atau merah. Ini khas terjadi pada pengantin baru.
Tentu saja, perlu segera diberi obat antibiotika pembunuh kumannya, selain obat pereda nyeri berkemih. Biasanya dalam 3 hari anyang-anyangan sudah sembuh, namun bisa kambuh. Terlebih jika tidak langsung berkemih begitu selesai senggama.

3. MALAM PERTAMA TIDAK BERDARAH
Meskipun masih gadis, bisa saja ketika malam pertama tidak mengeluarkan darah. Hal itu karena selaput dara tak hanya satu macam, baik lubangnya maupun elastisitasnya.
Pada wanita yang selaput daranya lebih kaku, kemungkinan tidak langsung berdarah pada malam pertama, dan baru pada malam-malam berikutnya, atau bahkan baru koyak betulan setelah melahirkan anak. Kasus ini sering menjadi prahara di awal perkawinan. Suami umumnya serta-merta mendakwa istri sudah tidak gadis lagi.

Itulah maka, betapa penting pendidikan seks buat anak laki-laki maupun perempuan. Kalau saja setiap suami tahu bahwa selaput dara itu berjenis-jenis, tentu ia akan lebih arif menghadapi istri yang sesungguhnya masih perawan itu.

4. TIDAK SAMPAI ORGASME
Malam pertama belum tentu selalu berhasil. Pihak suami bisa saja puas kalau sudah sampai ejakulasi, namun belum tentu pihak istri. Wanita baru mencapai puncak atau orgasme jika permainan pendahuluan cukup lama, secara organ maupun jiwa sudah siap penuh, dan istri sudah merasa pasrah total. Seperti apa? Rasa nikmat sejahtera, sensasi luar biasa yang dirasakan badan maupun jiwa, tak tergambar dengan kata-kata, yang bisa berulang-ulang bagai gelombang laut menyisir pantai.


Upacara Manusa Yadnya

November 11, 2009

materi manusa yadnya ini disadur dari Diktat Catur Yadnya PHDI Kab.Tabanan th. 1976 , semoga ada manfaatnya.

UPACARA MANUSA YADNYA

 

  1. PEGEDONG-GEDONGAN

 

  1. 1. URAIAN UPACARA :

Upacara ini ditujukan kehadapan si bayi yang ada di dalam kandungan dan merupakan upacara yang pertama kali dialami sejak terciptanya sebagai manusia. Oleh karenanya upacara ini dilakukan setelah kehamilan berumur 5 bulan ( 6 bulan kalender ) sebelum bayi itu lahir. Kehamilan yang berumur di bawah 5 bulan dianggap jasmani si bayi belum sempurna, dan tidak boleh diberi upacara manusa yadnya (menurut lontar kuno dresthi).

Tujuannya adalah untuk membersihkan dan mohon keselamatan jiwa raga si bayi, agar kelak menjadi orang yang berguna dimasyarakat (kalau laki-laki menjadi pahlawan pembela negara/titundung musuh dan kalau perempuan menjadi istri yang utama).

 

  1. 2. SUSUNAN UPAKARA
  2. UPAKARA YANG KECIL

Untuk pembersihan       : byakala dan prayascita

Untuk tataban               :  sesayut, pengambyan, peras, penyeneng, dan sesayut pemahayu tuwuh

  1. UPAKARA YANG LEBIH BESAR :

Untuk pembersihan       :  byakala, prayascita, dan pengelukatan

Untuk tataban               :  seperti diatas dilengkapi dengan banten pegedongan matah

 

  1. 3. TATA UPACARA :

Upacara dilakukan dipermandian (dirumah membuat permandian darurat) terlebih dahulu orang yang hamil mabyakala dan maprayascita. Di hadapan sanggah kemulan ditaruh perlengkapan upacara seperti benang hitam 1 (satu) tukel yang kedua ujungnya diikat pada cabang kayu dadap, bambu buluh runcing (gelanggang), daun kumbang diisi air dan ikan sawah yang hidup yaitu belut, nyalian, ketam, ceraken, dibungkus dengan kain yang baru.

Pelaksanaannya :

  1. Kedua cabang kayu dadap yang terikat dengan benang hitam ditancapkan pada pintu gerbang (arah benang agar menuju pintu gerbang).
  2. Si Perempuan mengusung ceraken tersebut, tangan kanan menjinjing daun kumbang yang berisi air dan ikan tadi.
  3. Yang laki (suami) tangan kirinya memegang benang dan tangan kanannya memegang gelangang tersebut tadi.

Sudah itu sajen segehan diperciki untuk bhuta yang sering menggoda.

  1. Setelah yang laki berjalan serta memegang benang sambil menusuk daun kumbang yang berisi air yang dijinjing oleh si perempuan sampai keluar ikan dan airnya.

Setelah itu suami istri bersembahyang agar selamat kandungannya, tidak tergoda oleh segala godaan sampai pada lahirnya selamat.

Upakara ini dilanjutkan dengan pengelukatan dan akhirnya natab.

 

MANTRA DARI PAGEDONGAN

Om Sanghyang paduka Ibu Pertiwi Betari Gayatri, Betari Sawitri, Betari Suparni, Betari Wastu, Batari Kedep, Betari Angukuhi, Betari Kundangkasih, Betari Kamajaya-Kamaratih, mekadi pakulun Hyang Widiadara-Widiadari, Hyang Kuranta-kuranti, sama daya iki tadah saji aturan manusa ira si anu ajakan sarowangan ira amangan anginum, manawi ana kirangan kaluputan ipun den agung ampura. Nen manusa nira, mangke ulun aminta nugraharing sira samua aja sira angedonging, angancinging muwang anyangkalen, uwakakena lawangira selacakdana uwakakena den alon sepungana nuta anak-anak andepun denapekik dirgayusayowana weta urif tan ane saminaksan ipun. Om siddhi rastu swaha.

 

  1. 4. PENJELASAN BEBERAPA BUAH BANTEN :

1)      BANTEN PEGEDONGAN MENTAH

Sebuah bakul/paso yang berisi beras, kelapa, telur, benang putih, ketan, injin, pisang mentah, sudang (ikan teri), tingkih, pangi, bija ratus, palawa, peselan, base tampel dll seperti isi daksina masing-masing satu biji / butir.

2)      Sesayut pemahayu tuwuh

Alasnya disebut kulit sesayut, diatasnya diisi penek/tumpeng kuning, ikan ayam satu ekor, dilengkapi dengan buah-buahan, jajan, rerasmen, sampian nagasari, dan penyenang yang berisi tetebusan benang tridatu (hitam, merah dan putih).

 

  1. 5. BRATA

Beberapa pantangan bagi orang yang sedang hamil adalah :

  1. Wak capala
  2. Wak Purusya
  3. Tidak menyembah mayat (Cawa)
  4. Tidak mendukung tirta pengentas

Sebaliknya sang suami tidak boleh membikin cemburu, terkejut. Usahakan agar selalu adanya ketenangan dengan membaca lontar dan ajaran-ajaran agama yang lainnya.

 

II.                BAYI LAHIR

Upacara ini tidak mempunyai arti yang istimewa, kecuali merupakan rasa gembira dan angayu bagia atas kelahiran si bayi kedunia. Upakaranya disebut dapetan dan terdiri dari :

  1. Dalam tingkatan yang kecil

Nasi muncuk kuskusan, dilengkapi dengan buah-buahan (raka-raka), rerasmen (kacang saur, garam, sambel dan ikan), sampian jaet, dan canang sari / canang genten, serta sebuah penyeneng. Upakara ini dihaturkan kehadapan sang Dumadi.

  1. Upakara yang lebih besar

Seperti diatas dilengkapi dengan jerimpen di wakul yaitu sebuah wakul berisi sebuah tumpeng lengkap dengan raka-raka, rerasmen, dan sampian jaet.

 

PERAWATAN terhadap ARI-ARI

Setelah ari-ari itu dibersihkan lalu dimasukkan kedalam sebuah kelapa yang dibelah dua (airnya dibuang). Bagian atas dari kepala itu diisi tulisan “Ongkara”, sedangkan bagian bawahnya diisi tulisan angkara.

Selain dari pada itu kedalam kelapa tadi dimasukkan pula beberapa jenis duri seperti duri terung, mawar dsbnya, sirih lekesan selengkapnya. Lalu kedua buah kelapa itu dicakupkan kembali, dibungkus dengan ijuk dan kain putih kemudian di pendam (kalau tidak ada hijuk, cukuplah dengan kain putih saja). Tempat memendam yaitu kalau si bayi laki-laki, maka arinya dipendam di sebelah kanan pintu balai, sedangkan kalau perempuan dipendam di sebelah kiri (lihat dari dalam rumah).

Ucapan waktu memendam ari-ari adalah sebagai berikut :

Ong Sang Ibu Pertiwi rumaga bayu, rumaga amerta, sanjiwani angemertanin sarwa tumuwuh (nama si bayi ……………), mangda dirgayusa nutugang tuwuh.

Sebenarnya masing-masing lontar berbeda ucapannya, tetapi disini dikemukakan yang agak sederhana dan mudah dihafalkan. Setelah selesai mengucapkan kata-kata tersebut barulah ari-ari itu ditimbuni, ditindihi batu hitam (batu bulitan) ditandai dengan pohon pandan yang berduri. Secara rokhaniah, bertujuan menolak gangguan oleh hewan, dan secara rokhaniah bertujuan untuk menolak gangguan rokh-rokh jahat. Upakara yang diturunkan kepada ari-ari itu adalah nasi kepel 4 kepel, ikannya bawang jahe, garam yang dicampur dengan areng, dan dilengkapi dengan canang genten / canang burat wangi.

Banten itu dihaturkan kehadapan sang Catur Sanak dari pada bayi.

Demikianlah perawatan terhadap ari-ari dianggap selesai dan setiap ada upacara yang ditujukan kepada si bayi, hendaknya ari-arinya tidak dilupakan. Disamping itu perlu kiranya dikemukakan bahwa bila keadaan tidak mengijinkan maka ada kalanya ari-ari itu (setelah dibungkus dengan kelapa seperti di atas) lalu dibuang kelaut.

 

III.             KEPUS PUSER

  1. 1. URAIAN UPACARA

Apabila puser si bayi sudah lepas (kepus), dibuatkan suatu upakara yang bertujuan untuk membersihkan secara rokhaniah tempat-tempat suci, dan bangunan yang ada disekitarnya, seperti sanggah kamulan, sumur, dapur, bale dsbnya.

Puser di bayi dibungkus dengan secarik kain, lalu dimasukkan kedalam sebuah tipat (tipat kukur), disertai dengan anget-anget (sejenis rempah-rempah, seperti sintok, mesui, katik tengkeh, dsbnya), kemudian digantungkan di tempat tidur si bayi agak ke tebenan (hilir). Kepada si Ibu mulai diberi makan berjenis-jenis ikan/daging dan lauk pauk lainnya. Hal ini bertujuan agar si bayi terlatih terhadap berjenis-jenis ikan/daging. Seperti diketahui banyak orang yang tidak berani (tubuhnya tidak tahan terhadap ikan laut atau daging babi misalnya.

Selain dari pada itu mulai saat itu si bayi diasuh oleh Sang Hyang Kumara dan untuk beliau dibuatkanlah sebuah tempat di atas tempat tidur si bayi yang disebut Pelangkiran (kemara).

Menurut mithologi (lontar Siwa-gama) Sang Hyang Kumara adalah salah satu Putra Bhatara Siwa dan beliau dikutuk tetap berwujud anak-anak agar tidak termakan / terbunuh oleh kakaknya (Dewa Gana). Dan untuk selanjutnya Sang Hyang Kumara ditugaskan oleh ayahnya untuk mengasuh / untuk melindungi anak-anak yang belum maketus (lepas gigi).

 

  1. 2. SUSUNAN UPACARA
  2. UPAKARA YANG PALING KECIL

Banten penelahan, banten kumara, banten labaan di ibu dan banten ari-ari

  1. UPAKARA YANG LEBIH BESAR

Seperti di atas dilengkapi dengan banten tataban seperti waktu lahir.

Penjelasan beberapa jenis banten :

  1. Banten Penelahan

Alasnya adalah sebuah ceper yang isinya sebagai pasucian / pabersihan dilengkapi dengan beras kuning dialasi dengan daun dadap.

  1. Banten Labaan si ibu

Sebuah ajuman yang berisi ikan / berjenis-jenis daging

  1. Banten Kumara (Yang kecil)

Sebuah ajuman yang nasinya berwarna putih dan kuning, ikannya telur dadar, rakanya kekiping, pisang mas, geti-geti nyahnyah gula kelapa dan canang lengewangi-buratwangi / canang sari. Kumaranya dihiasi dengan bunga yang harum-harum dan sedapat mungkin berwarna putih dan kuning.

  1. Banten Ari-ari

Di tempat menanam ari-ari menghaturkan banten : segehan kepel 4 tanding masing-masing berwarna merah, putih, kuning dan hitam, ikannya adalah bawang jahe dan garam. Ada pula yang menyebut bahwa ikannya adalah sebagai berikut : segehan kepel yang putih ikannya jae, segeghan kepel yang merah ikannya bawang merah, segehan yang kuning ikannya kunir dan segehan yang hitam ikannya garam yang dicampur dengan areng (uyah-areng). Masing-masing segehan itu dilengkapi dengan sebuah canang buratwangi canang genten.

Banten ini dihaturkan kehadapan Sang Ante Preta. Dan kalau keadaan mengijinkan maka pada tempat menanam ari-ari itu didirikan sebuah sanggah cucuk bertudung upih yang disebut Sato-Yoni. Disamping sanggah cucuk ditaruh kayu api dan pada cabang dibawah sanggah itu diisi lampu (pelita). Tiap malam lampu dinyalakan dan kayu api dibakar. Sanggah cucuk diisi dengan banten kumara dan dihaturkan kehadapan Hyang Ning Ari-ari.

 

IV.              UPACARA NGELEPAS HAWON

Upacara ini dilaksanakan setelah bayi berumur 12 (dua belas hari) dan disebut upakara ngelepas hawon. Upakara (banten) yang diperlukan pada saat ini sama dengan upacara pada waktu kepus udel.

 

  1. V. UPACARA KAMBUHAN(SATU BULAN TUJUH HARI)

Uraian Upacara: Setelah si bayi berumur satu bulan tujuh hari (42 hari), diadakanlah upacara yang sering disebut “Upacara Macolongan”. Dalam upacara ini disamping pembersihan jiwa raga si bayi dari segala noda dan kotoran, juga bertujuan untuk mengembalikan Nyama Bajang si Bayi dan pembersihan si Ibu agar dapat memasuki tempat-tempat suci seperti Merajan, Pura dsbnya. Kiranya perlu dikemukakan perbedaan antara “Catur Sanak” dengan “Nyama Bajang”.

Catur sanak berarti saudara empat. Yang dimaksud dalam hal ini adalah empat unsur (benda beserta kekuatannya) yang dianggap sangat membantu pertumbuhan dan keselamatan si Bayi sejak mulai terciptanya di dalam kandungan sampai dia lahir. Wujud dari pada saudara empat itu adalah : Darah, Lamad, Yeh nyom, dan Ari-ari. Nama dari saudara empat ini akan berganti-ganti sesuai dengan pertumbuhan si bayi di dalam kandungan dan setelah lahir, sehingga akan dapat banyak nama untuk mereka. Oleh karean sang catur sanak itu dianggap sangat berjasa, maka diajurkan agar setiap orang tidak melupakan mereka baik dalam keadaan suka maupun dalam keadaan duka.

Kemudian yang dimaksud dengan Nyama Bajang adalah semua kekuatan-kekuatan yang membantu Sang Catur Sanak di dalam kandungan, dalam proses pertumbuhan, penyempurnaan jasmani serta keselamatan si bayi.

Menurut penjelasan beberapa sulinggih banyak Nyama Bajang ini adalah 108 misalnya : bajang colong, bajang bukal, bajang yeh, bajang tukad, bajang ambengan, bajang papah, bajang lengis, bajang dodot, dllnya.

Setelah bayi itu lahir maka nyama bajang ini dianggap tidak mempunyai tugas lagi, bahkan kadang sering mengganggu si bayi. Oleh akrena itu pada waktu si bayi berumur 42 hari dianggap sudah waktunya untuk mengembalikan mereka ketempatnya masing-masing (keasalnya).

Disamping itu untuk pertama kalinya si bayi dimohonkan pengelukatan kehadapan Bhatara Brahma (di dapur), Bhatara Wisnu (permandian), dan Bhatara Siwa / Hyang Guru (disanggah kemulan).

 

2. SUSUNAN UPAKARA

  1. Upakara yang kecil

Untuk Ibu byakaonan dan prayascita lengkap dengan tirta pengelukatan dan pebersihan. Untuk si bayi banten pasuwugan, banten kumara dan dapetan seadanya.

  1. Upakara yang lebih besar

Untuk si ibu seperti diatas

Untuk si bayi banten pasuwugan, banten kumara, jejanganan, banten pacolongan (di dapur, di permandian dan di sanggah kamulan) serta tataban seadanya.

 

3. TATA UPACARA

Terlebih dahulu si ibu dan si bayi mabyakaonan dan maprayascita lalu si bayi (beserta orang tuanya) diantar ke sanggah kamulan untuk natab / diupacarai dengan upakara-upakara yang tersebut di atas. Bila mengambil tingkatan upakara yang lebih besar, maka terlebih dahulu si bayi melukat di dapur, kemudian dipermandian dan akhirnya di Sanggah Kamulan / disertai dengan natab.

MANTERA-MANTERA / PUJA DALAM RANGKAIAN UPACARA TSB DIATAS

 

  1. 1. MANTERA PENGELUKATAN DI DAPUR

Om Indah ta kita Sang Hyang Utasana sira mesarira sarwa baksa iki manusane sianu(sebut  nama ibu/bapak), aneda nugraha widhi, angeseng lara rogo wigena, mala papa petakane sianu, wastu geseng dadi awu. Om Ang rigeni Rudra Ujuala niya namah.

  1. 2. MANTERA PENGELUKATAN DIPERMANDIAN (SUMUR)

Om Ung Gangga Supta jiwa ya namah, Om Gangga Mili ya namah, pukulun ulun aminta atmane sianu, manwi ta atmane pun anu ketepuk ketengah olih sarwa Bhuta Kala, karem ring sumur agung daweg antukakena ring raga walunan ipun, ulun anebas ring sira Hyang Betari Gangga Pati. Om Sriyam bawantu, purnambawantu, sukanmbawantu swaha.

  1. 3. Panebasan Pengelukatan ring Hyang Guru Kemulan

Om pakulun Sanghyang Guru Reka, Sang Hyang kawi swara, Sang Hyang Saraswati Suksma, Sang Hyang Brahma Wisnu Iswara, mekadi Sang Hyang Surya Candra lintang teranggang, ulun anede nugraha widhi, angalukat, dasamala, papa patakane sianu, Om sidhi rastu yanama swaha.

  1. 4. Ring Sang Tinebasan

Om Dirgayusa awetaning raga langgeng, angapusing balung pila pilu. Angapusing atot pila pilu, angapusing atme juwitane sang tinebas-tebasan, tunggunen de nira sang Hyang Bayu Pramana, amuwuhana tuwuh ipun. Om Dirgayusa aweta urip sidhi rastu tatastu swaha.

  1. 5. Mantram Bajang Colong
    1. Om Sang Kosika, Sang Garga, Sang Metri, Sang Kurusia, Sang Pretanjala, Imalipa I Malipi, mekadi bapa bajang, babu Bajang, Bajang toya, Bajang Lenga (Lengis), Bajang Dodot, Bajang sembur, Bajang Deleg, Bajang Bejulit, Bajang Sapi, Bajang Kebo, Bajang papah, mwah sakwehing ingaranan sarwa bajang-bajang susila, si bajang weking, iki tadah sajin ira dena becik menawi wenten kakirangan ipun, iki pirak satak pitu likur, benang setukel nggenatuku ring pasar agung apan kita agawe ala ayu. Mangkin ulun aminta sih nugraha ring kita sedaya, turunan atmaning rare maring rega walunan nira-malih, aja sira munah-munih, wastu pukulan sida rahayu seger oger urip waras, embanen rahina wengi. Om, sidhi rastu yanamah swaha.
    2. Om Sang Kosala, Sang Garga, Sang Metri, Sang Kurusia, Sang Patanjala, Sang Malipa, Sang Malipi, Pinaka Bapa Bajang, yan wus sira amukti, Pamuliha kita kedesanira sowing-sowang. Om Syah, syah, ayah poma.
    3. 6. Mantram Jejanganan

Om Bapa Banglong, babu Benong, Babu Calungkup, Babu Gadonyah, Babu Suparni, Babu Dukutsabhumi, miwahsakwehing araning babu bajangan, iki tadah sajinira, sekul liwat, jangan kacang satingkeban, amuktia sari sira, aja sira nyumet, aja sira nyedut, asungana rare ning nghulun, anak amangan anak aturu, anak emang-emang, sahundan-hundan tekeng jejaka luputa ring lara roga, sahut bagya sangkalan ipun, asing kirang asing luput sampun ta agang sampura nira, amuktia, atuku sira ring pasar agung wus sira amuktia sarisun amintia sari sira, lan babekelan nira kabeh, iki ta pipis satak selata sih raksanen ta rare ning hulun amongan tasunu mangkana pangeraksanira ring bajang bayi, kadep sidhi pamastunku. Om sriyame nama namah.

 

4. PENJELASAN BEBERAPA BUAH BANTEN

1. BANTEN PASUWUGAN

Banten ini berfungsi sebagai pembersihan terhadap jasmani si bayi, serta terdiri dari : peras, ajuman, daksina, suci, soroan alit, pengelukatan, pengambyan, penyeneng, nasi 6 ceper, masing-masing dengan ikan yang berbeda-beda yaitu ikan ayam, itik, telur, siput, daging babi, dan kacang-kacang. Kemudian dilengkapi dengan dua buah kungkang sejenis jejahitan yang berisi nasi, lauk-pauk dan ikannya sesate, kemudian keduanya dialasi dnegan sebuah bokor yang berisi beras, sirih-tampeh, benang, telur ayam yang mentah dan uang 25 kepeng.

 

2. BANTEN PENGELUKATAN DI DAPUR

Peras dengan tumpengnya merah, ikannya ayam biying, dilengkapi dengan ajuman, daksina, pengulapan-pengambyan, penyeneng dan soroan alit, masing-masing sebuah, serta sebuah periuk yang berisi air dan bungan yang harum untuk mpengelukatan.

 

3. BANTEN DI PERMANDIAN (SUMUR)

seperti diatas hanya tumpengnya hitam dan ikannya ayam hitam.

 

4. BANTEN DI SANGGAH KEMULAN

Seperti diatas hanya tumpengnya putih, dan ikannya ayam putih dipanggang.

 

  1. 5. BANTEN PACOLONGAN

Sebuah buki (periyuk tanah yang bagian bawahnya sudah pecah) diberi kalung tapis kemudian kedalamnya dimasukkan sebuah pusuh biyu (jantung pisang) dan pelapah kelapa yang berlubang (papah nyuh bolong), pusuh biyu itu disisipi dengan uang 3 kepeng, sedangkan lubang dari kelapa itu digantungi tipat belayag, keduanya tidak diisi beras) dan gantung-gantungan dari busung.

Disamping itu baik buki, pusuh biyu, dan pelapah kelapa tersebut diberi secarik kain dan ditandai dengan kapur yang berbentuk tampak dara. Semuanya itu dapat dianggap sebagai perwujudan dari Nyama Bajang. Kemudian disebelahnya diisi sebuah penjor dari pelapah enau (jak) yang masih berisi daun dan lidinya ditusuki bunga-bunga yang berwarna merah (kalau dapat bunga sepatu yang merah)

Bantennya adalah dua buah untek (penek kecil) yang dialasi dengan ceper, dilengkapi dengan jajan, buah-buahan dan canang burat wangi. Sampian tangga yang kecil, sedangkan ikannya adalah : ceper yang pertama berisi guling katak, ceper yang kedua memakai guling capung, ceper yang ketiga memakai guling baling dan ceper yang keempat memakai guling ayam semululung yang diperoleh di tengah jalan (semululung = ayam kecil).

Kemudian dilengkapi dengan tengen-tengenan (salaran kecil tidak dengan ayam dan itik). Setelah upacara semua banten ini dibuang diperempatan jalan di jalan raya.

 

  1. 6. JEJANGANAN

Untuk tempatnya sedapat mungkin yang agak besar dan diisi beras, sirih tampel, benang putih dan wang. Diatasnya disusun sebuah taledan, kemudian barulah diisi perlengkapan sebagai berikut : Peras, ajuman, daksina, suci, tipat kelanan masing-masing satu tanding uang 225, nasi yang berbentuk matahari, nasi yang berbentuk burung, nasi yang berbentuk jalan, nasi yang berbentuk tangkariga (tulang belakang dan rusuk), nasi beberapa kepel masing-masing diisi conger (tanda yang berbeda-beda yaitu ada yang memakai tanda bulu ayan, bulu itik, bulu angsa, bunga terung, ikan siput, terasi mentah, bawang jahe, kunir, lombok, laos, padang lepas, pelas (bumbu yang sudah dimasak), ikan banding, ikan laut, telur, kacang-kacang dan garam. Kemudian terdapat pula nasi takilan (nasi dengan lauk-lauk dibungkus dengan daun pisang), penek among (penek yang disisipi kecai mentah, bawang dan jahe), tumpeng gurih (tumpeng yang dicampur dengan kelapa dan kacang putih), bubur kacang, sayur-sayuran (108 jenis), tulung bertingkat 3, bertingkat 5, masing-masing berisi nasi dan lauk-pauk. Dan akhirnya banten ini dilengkapi dengan sampian nagasari, canang buratwangi dan ikannya adalah ayam yang dipanggang. (dalam upacara yang agak besar jejanganan ini dilengkapi dengan jajan seperti jajan gula gembal).

 

V. UPACARA TIGA BULANAN ( NYAMBUTIN )

  1. 1. URAIAN UPACARA

Upacara ini disebut pula upacara “Nelu-Bulanin”. Tujuannya adalah agar jiwa-atma si bayi benar-benar kembali berada pada raganya. Disamping itu upacara ini juga merupakan pembersihan serta penegasan nama si bayi. Serangkaian dengan upacara ini biasanya dilakukan pula upacara turun tanah.

Tujuannya adalah untuk mohon waranugraha kehadapan Ibu Pertiwi bahwa si anak akan menginjak kakinya dan agar beliau melindungi / mengasuhnya.

  1. 2. SUSUNAN UPAKARANYA
    1. Upakara yang kecil

Pengelepas aon, penyambutan, jejanganan, banten kumara, dan tataban.

  1. Upakara yang lebih besar

Seperti diatas, tetapi tetatabannya memakai pula gembal, banten pengelukatan dan banten turun tanah.

  1. 3. TATA UPACARA

Dalam hal ini upacara langsung dipimpin oleh pimpinan upacara (dilakukan di depan beliau). Setelah itu barulah dilaksanakan upacara turun tanah.

Pelaksanaannya setelah selesai mohon tirtha pengelukatan kemudian tirtha dipercikkan pada si bayi dibuatkan keroncongan (rantai bahu), gelang tangan dan kaki. Sebelum alat-alat tersebut dikenakan pada si bayi terlebih dahulu alat-alat itu diperciki segau, diperciki tirtha dan dilukat. Kemudian si bayi disembahyangkan 3 (tiga) kali dengan memohonkan semoga si bayi tidak ternoda karena mulai saat ini ia memakai ratna kencana (permata emas). Setelah sembahyang lain diberi tirtha pengening dan barulah kemudian ngayab jejanganan yang maksudnya memberi upakara kepada babu/rare bajang agar jangan menggodanya. Setelah itu si bayi diberi natab banten ayaban yang maksudnya agar si bayi selamat berumur tiga bulan.

 

  1. 4. PENJELASAN BEBERAPA BUAH BANTEN

Banten pangelepas aon

Sebagai alasnya adalah daun telujungan, diatasnya diisi nasi muncuk kuskusan, buah-buahan, jajan, lauk-lauk, sampian nagasari, canang buratwangi, pasucian/pebersihan dan lis/bebuu. Pada nasi muncuk kuskusan itu disisipi 3 buah linting, dan masing-masing tangkainya digantungi sebuah pipil yang berisi calon nama si bayi misalnya kalau laki-laki I Wijana, I Sparsa, I Yudana, dsbnya. Sedagkan kalau perempuan Ni Kumuda, Ni Menuh, Ni Rijata, dstnya. (nama tersebut adalah menurut petunjuk dalam lontar tetapi kiranya nama-nama itu dapat disesuaikan menurut kehendak si ayah dan si ibu).

Pada waktu upacara linting itu dinyalakan, dan nama yang tercantum pada linting yang terakhirnya mati, dipakai sebagai nama si bayi dan abunya ditaruh pada dahinya.

 

2. BANTEN PENYAMBUTAN

Alasnya berbentuk bundar, diatasnya diisi beras, kelapa telur itik, dll seperti isi daksina, masing-masing satu biji. Kemudian dilengkapi dengan 4 buah tumpeng yang ditaruh pada setiap sudut, serta jajan, buah-buahan, lauk-pauk, ikannya ayam dipanggang, canang buratwangi, sampian nagasari, peras,s esayut, sanggah urip penyenang dan pesucian, masing-masing satu tanding.

 

3. BANTEN MENGELILINGI LESUNG

Tempat upacara dihalaman sanggah kemulan. Sebagai alat perlengkapan adalah sebuah lesung (lumpung), paso yang diberi air ditaruh diatas lesung sedangkan di dalam paso itu diisi jejahitan taman dari busung. Di dalam jejahitan taman padma pada paso itu diisi beberapa jenis perhiasan seperti gelang, cincin, kalung, subeng, dsbnya.

Bantennya adalah : peras, ajuman, daksina, suci, pengulapan, pengambean, penyambutan, jejanganan, dan tetataban seadanya. Lain dari itu terdapat pula anak-anak dari belego (ketimun), batu dan pusuh biyu (jantung pisang).

Waktu mengelilingi lesung, bayi memakai tongkat bumbungan (bambu yang tidak masih ruasnya). Upacara ini adalah sebagai simbul, bahwa si bayi pergi ketaman untuk mandi dan memperoleh perhiasan, serta ditegaskan bahwa ia adalah anak manusia.

 

4. BANTEN TURUN TANAH

Tempatnya adalah didepan Sanggah Kemulan,serta tanah yang akan diinjak dirajah berbentuk bedawang nala. Bantennya adalah peras, ajuman, daksina dan tipat kelanan.

 

BEBERAPA BUAH MANTERA

  1. Mantera pengelepas aon

Pakulun betara Brahma, betara Wisnu Betara Iswara, manusa sira si anu angelepas-aon ipun ri betara tiga, pakulun anyuda letuh ipun, teka suda, teka suda, teka suda, lepas malan ipun.

  1. Mantra Penyambutan

Pekulun kaki sambut, nini sambut, tan edanan sambut agung sambut alit, yan lunga mangetan, mangidul, mangalor, mangulon, mwang maring tengah atmane si jabang bayi tinututan dening prawatek dewata pinayungan. Kala cakra, pinageran wesi sambut ulihana atma bayu pramana ne si jabang bayi,

  1. Mantra mengelilingi lesung (lumpang)

Om Sang Wawu pada wawu, anak ira si Tunggal Ametung, putun ira si karang jarat, sira anak-anakan beligo, ingsun anak-anakan pusuh, ingsun anak-anakan watu, anak-anakan antiga, ingsun anak-anakan manusa.

  1. Mantra ngayab / natab banten penyambutan, tataban dllnya

Pakulun kaki prajapati, nini Prajapati, kaki Citragotra, nini Citragotri, ingsun aneda sih nugraha ring kita, sambutan ulapi, atmane sianu, manawi wenten atman anganti ring pingiring samudra, ring tengahing udadi, ndaweg ulihakene awaknia si anu, denpun tetep, mandel, denpun kukuh pageh aweta urip (dilanjutkan dengan Ayu Wredi…………….)

  1. Mantra menurunkan bayi

Pakulun kaki Citragotra, nini Citragotri, ingsun mintanugraha nurunaken rare, ring lemah, turun ayam, ameng-ameng sarwa kencana sri-sedana, katur ring betari Nungkurat, betari wastu, betari kedep, meka I kaki Citragotra, nini Citragotri, iki aturan ipun srahatos, ameta urip waras dirgayusa, tan kemeng geget, wewedinan, asungana, aweta urip, teguh timbul, bujangga kulit, akulit tembaga, aotot kawat, abalung besi, anganti matungked bungbungan, angantos batu makocok, ulihakena pramanannia maka satus dualapan maring raga walunannia si bajang bayi. Om Tebel Akasa tebel pertiwi, mangkana tebel akukuh, atma yusa ne sirare jabang bayi.

 

Catatan :

  1. Upacara mengelilingi lesung itu hanyalah merupakan penyempurnaan dari pada pengelepas aon, yang berfungsi sebagai pembersihan. Dalam hal ini adalah mandi ketaman. Lesung beserta perlengkapannya adalah sebagai simbul tetamanan.
  2. Bayi yang meninggal sebelum umur 3 (tiga) bulan tidak dibuatkan upakara pitra yadnya. Apabila telah berumur 3 (tiga) bulan dan telah maketus pitra yadnya adalah Ngalungah.

 

UPACARA SATU OTON (6 BULAN)

 

  1. 1. URAIAN UPACARA

Yang dimaksud satu oton disini adalah 210 hari.

Upacara ini bertujuan untuk memperingati hari kelahiran dan biasanya diikuti dengan upacara pemotongan rambut yang pertama kali (magundul), yang bertujuan untuk membersihkan siwa-dwara (ubun-ubun). Upacara ini sering pula dilakukan setelah si bayi berumur 3 oton. Hal ini mungkin bermaksud untuk menjaga kesehatan si bayi. Tetapi sering juga upacara pengguntingan pertama dilakukan pada waktu tiga bulan, hanya saja tidak digundul sampai bersih, melainkan merupakan simbolis saja. Demikian pula menurut lontar-lontar upacara turun tanah dilakukan pada waktu otonan yang pertama kali ini. Tetapi kalau diperhatikan, anak-anak sekarang telah mulai belajar berjalan sebelum berumur satu oton.

Dan tujuan dari pada upcara turun tanah itu adalah mohon waranugraha kehadapan Ibu Pertiwi, maka kiranya upacara tersebut baiknya dilakukan sebelum si bayi belajar berjalan. Di samping si bayi untuk pertama kali diperkenalkan kehadapan Ida Betara Betari yang ada di Dasarnya, yaitu diwujudkan dengan menghaturkan pejati / pesaksi ke Bale Agung (Pura Desa).

 

  1. SUSUNAN UPAKARANYA
  2. Upacara yang paling kecil

Prayascita, parurubayan (untuk magundul), jejanganan, tataban seadanya, peras lis, banten pesaksi ke Bale Agung / pura Desa, ajuman 12 tanding), banten turun tanah dan banten kumara.

  1. Upacara yang lebih besar

Seperti diatas, hanya saja parurubannya dilengkapi dengan guling babi, dan tatabannya dilengkapi dengan pulagembal / bebangkit.

 

Catatan :

Upakara / alat perlengkapan untuk magundul adalah :

Gunting, cincin (kalau dapat bermata mirah), kartika, 5 buah seet mingmang, karawista dan belayag (untuk tempat rambut).

 

  1. TATA UPACARA

Setelah memuja sajen (termasuk menghaturkan sebagai saksi ke Dewa) dilakukan persembahyangan yakni :

1)      ke Surya sebagai pesaksi

2)      Bhatara-bhatari juga sebagai pesaksi

3)      Sembahyang peguntingan dan yang terakhir

4)      Sembahyang oton

Sesudah itu dilakukan peguntingan. Ketika ini, si bayi kepalanya (paban) berisi bunga tunjung, masirat (maketis) sirat cendana berisi garboda lalu sang Sulinggih mengambil gunting (tangan berisi andel-andel) dan cincin yang berisi karawista, kemudian memotong rambut si bayi. Rambut si bayi yang akan dipotong ditempeli kartika, seet mingmang dan cincin dan kemudian digunting di depan, di sebelah kanan, di sebelah kiri, dan dibelakang dan ditengah. Setelah selesai rambut ditanam dibelakang Sanggah Kemulan. Setelah itu lalu diberi prayascita, pebersihan dsbnya yang berfungsi sebagai penyucian, kemudian dilanjutkan dengan natab banten dan akhirnya turun tanah serta bersembahyang / mohon wangsuh pada.

 

BEBERAPA MANTRA

  1. Mantra untuk gunting rambut / mapetik

Om yata way sakel panem ikesame anidih papa klesa winasa syat Banghara mantram utaman.

  1. Mantra Cincin

Om Eng tejo sakalpanem suci ka tri mahesidhi, papa klesa winasa syat takara Mantra Utaman

  1. Mantra panca kusika (seet-mingmang)

Om Kusa sri kusa widnyanan pawitran, papasasanem, papa klesa winasa syat Nangkara aksara taman

  1. Mantra megunting rambut di depan

Om Sang Sadya yanamah, hilanganing papa klesa peteka

  1. Mantra menggunting rambut di depan

Om Bhang, bana dewaya nama, hilanganing lara roga wigena

  1. Mantra menggunting rambut di sebelah kiri yang dipotong / mapetik

Om Ang hagora yanamah, hilanganing gering sasab marana

  1. Mantra menggunting rambut di belakang

Om Tang tat purusayanamah, hilanganing gagodan satru musuh

  1. Mantra menggunting rambut ditengah

Om Ing isana yanamah. Hilanganing sebel kandel sang pemetik.

 

  1. Penjelasan Banten

BANTEN PERURUBAYAN (yang kecil)

Alasnya dilengkapi sebuah dulang atau yang lain diatasnya diisi tumpeng putih dan kuning masing-masing sebuah, jajan, buah-buahan, lauk-pauk dan ikan ayam dipanggang.

Di sebelah ditaruh dua buah wakul yang berisi jajan, buah-buahan, tumpeng masing-masing sebuah dan ikannya ayam dipanggang. Dalam upacara yang besar banten ini dilengkapi dengan guling babi yang memakai jembor, dan babi yang dipakai adalah babi jantan tetapi bukan kucit butuan, melainkan yang sudah dikebiri.

Demikian pula pada banten perurubayan ini dilengkapi dengan peras, ajuman, daksina, tulung sesayut, pesucian / pebersihan, penyeneng, atau kadang-kadang suci masing-masing satu buah / tanding.

 

 

VII. TUMBUH GIGI

  1. URAIAN UPACARA

Upacara ini disebut pula Ngempugin dan sedapat mungkin dilakukan pada waktu matahari mulai terbit.

Tujuan adalah untuk memohon kehadapan Betara Surya, Betara Brahma, dan Dewi Sri agar gigi si bayi tumbuh dengan baik, putih bersih, tidak jamuran / candawanan atau dimakan ulat.

  1. UPAKARA-UPAKARANYA
    1. UPAKARA YANG KECIL

Petinjo kukus dengan ikannya telur

  1. UPAKARA YANG LEBIH BESAR

Adalah petinjo kukus dengan ikannya ayam atau itik yang diguling, dilengkapi dengan tataban.

Banten petinjo kukus.

Alasnya adalah sebuah taledan, kemudian diisi sebuah jit kuskusan (nasi muncuk kuskusan), dilengkapi dengan buah-buahan, jajan lauk-pauk dan ikannya sesuai dengan tingkatan upakaranya. Disekitarnya dilengkapi dengan peras, tulung, sesayut, penyeneng, pasucian, ajuman dan canang.

MANTRA NGEMPUGIN

Om Sang Hyang Surya, Brahma, ndih empug saka wenten, empug untune sianu wesi kari pinaka untune, bumi kari pinaka gusine, arata jajara kaya walandingan siniger, sire Betari sri angelukata untune sianu, tan keneng jejamuran, tan keneng subatahan, munggah untune Maha Betari Siwa Bumi Maha Sidhi.

  1. TATA UPACARA

Setelah saji diaturkan lalu natab,sesudah itu layudannya terutama ikan digosokkan pada gusi bayi, lalu ngelayud.

 

VIII MAKETUS ( LEPAS GIGI )

Upacara ini disebut juga makupak. Upacara ini dilaksanakan apabila si anak sudah lepas giginya (maketus untuk pertama kalinya). Pada upacara ini dibuatkanlah upacara yang agak berbeda dengan yang sudah-sudah, yaitu pabyakalaan dan sesayut / tatebasan. Mulai saat itu dia tidak diperkenankan lagi untuk natab jejanganan dan penyambutan, melainkan diganti dengan pabyakalaan dan sesayut / tatebasan (sesayut Pangerti Swara).

Menurut lontar Siwa Gana si anak tidak lagi diasuh oleh Sang Hyang Kumara, oleh karena itu tidak perlu lagi membuat banten Kumara.

Si anak mulai mempersiapkan diri untuk mepelajari pengetahuan. Upakara-upakara dalam hal ini tidaklah begitu banyak, dan biasanya dilakukan pada waktu otonan berikutnya, yaitu dilengkapi dengan pabyakalaan dan sesayut / tatebasan. Mengenai jenis sesayut / tatebasan yang dimaksudkan sebaiknya mohon petunjuk kehadapan tukang / orang yang dianggap tahu.

 

 

 

IX MENINGKAT DEWASA (MUNGGAH DEHA / TERUNA)

 

  1. URAIAN UPACARA

Sebagai tanda kedewasaan bagi seorang laki-laki adalah suaranya mulai membesar )ngembakin), sedangkan tanda kedewasaan bagi seorang wanita adalah untuk pertama kalinya dia mengalami datang bulan (haid).

Sejak itu seseorang merasakan getaran-getaran samara karena Dewa Asmara mulai menempati lubuk hatinya. Upacara-upacara dalam hal ini terutama ditunjukkan kehadapan Sang Semara Ratih, dengan penghargaan agar beliau benar-benar dapat menjadi pembimbing dan teman hidup yang baik, berguna serta tidak menyesatkan hidup orang yang bersangkutan. Demikianlah orang yang meningkat dewasa itu disimbulkan kawin dengan Sang Hyang Semara Ratih.

Biasanya upacara meningkat dewasa ini dititik beratkan pada orang perempuan. Hal ini mungkin disebabkan karena kaum wanita dianggap sebagai kaum lemah, dan lebih memungkinkan untuk menanggung akibat perbuatan samara yang tersesat. Lain dari pada itu kiranya moral kaum wanita dapat dianggap sebagai barometer tinggi rendahnya, tegak runtuhnya moral suatu bangsa (alam manusia), seperti disebutkan di dalam Bhagawad Gita sebagai berikut :

kulaksaye pranasyanti

kuladharmaht sanatanah

dharma naste kulan krtsnam

udharmo bhibhavaty ute (1)

artinya :

keluarga yang didalam keadaan keruntuhan

dharmanya menemui ajal-nya

jika dharma menemui ajalnya seluruh keluarga diliputi oleh

perasaan adharma (1)

 

adharmabhibhavat krsna

pradusyanti kulastriyah

strisudustasu vasneya

jayate varnasamkarah (2)

artinya :

dan jika adharma meliputi suasana o Krishna

maka para wanita dari kaum keluarga itu menjadi jatuh ramalnya

dan bila para wanita moralnya jatuh, o Krishna maka terjadilah kekacauan alam manusia (2)

 

  1. SUSUNAN UPAKARA
    1. Upakara yang kecil

Banten pabyakalaan, prayascita, dapetan (tataban) dilengkapi dengan sesayut,sabuh rah, kalau perempuan) atau sesayut “ngeraja singa” (kalau laki-laki”. Dan banten padedarian.

  1. Upakara yang lebih besar

Seperti diatas, dilengkapi dengan banten pesaksi di dapur, dan tataban memakai sorohan pulagembal.

 

  1. TATA UPACARA

Terlebih dahulu mabyakala dan maprayascita, lalu bersembahyang di dapur dan akhirnya natab sesayut sabuh rah / ngeraja singa.

  1. Penjelasan Beberapa Buah Banten
  1. Sesayut sabuh rah

(1), (2), Bhagawad Gita, Bab I, No.40 dan 41

alasnya disebut kulit sesayut, di atasnya diisi merah, disisipi bunga pucuk bang (kembang sepatu yang merah), darah mentah yang dialasi dengan takir, dan dilengkapi dengan sampian nagasari, buah-buahan, jajan, penyeneng dan canang buratwangi atau yang lain.

  1. Sesayut Ngeraja Singa

Alasnya disebut kulit sesayut, diatasnya diisi 9 buah tumpeng yang dikalungi pekir (busung) dan setiap tumpeng berisi sebuah kawangen.

Disekitarnya dilengkapi dengan tulung urip 9 buah, tipat sidapurna 9 buah, jajan, buah-buahan, sampian nagasari, penyeneng, pasucian/pebersihan dan ikan ayam gumerot.

  1. Banten Pededarian yang kecil

Nasi putih 11 ceper, nasi kuning 11 ceper dilengkapi dengan lauk-pauk, ikannya telur itik yang didadar, canang burat wangi, buah-buahan, pisang mas jajan kekiping, nyahnyah gula kepala, dan bungan yang harum serta berwarna putih dan kuning. (nyahnyah gula kelapa adalah campuran dari beras, ketan, injin yang dinyahnyah, lalu dicampur dengan kelapa yang disisir dan gula tebu / gula pasir).

Banten ini dilengkapi dengan peras ajuman, daksina dan suci. Banten ini ditaruh diatas tempat tidur dan dihaturkan kehadapan Sang Hyang Semara Ratih.

  1. Banten pesaksi di dapur

Peras, ajuman, daksina, pebersihan, lis (bebuu), canang lengewangi buratwangi, canang sari dengan raka kekiping, pisang mas, nyahnyah gula kelapa dan sesari 225. kadang-kadang dilengkapi dengan tataban seadanya serta sesayut sabuh rah.

 

 

X UPACARA POTONG GIGI (MAPANDES)

 

  1. URAIAN UPACARA

Upacara ini dapat dijadikan satu dengan upacara meningkat dewasa, dan mapetik, dan penambahan upakaranya tidaklah begitu banyak. Upacara ini bertujuan untuk mengurangi Sad Ripu dari seseorang dan sebagai simbulnya akan dipotong 6 buah gigi atas (4 buah gigi dan 2 taring).

Yang dimaksud dengan Sad Ripu adalah 6 sifat manusia yang dianggap kurang baik, bahkan sering dianggap sebagai musuh didalam diri sendiri. Keenam sifat tersebut ditimbulkan oleh Budi Rajas dan Budi Tamas.

Sebenarnya kita sebagai manusia memiliki 3 budi yaitu : Budi Rajas, Budi Tamas, Budi Satwam, sedangkan pada binatang memiliki 2 budi yaitu : Budi Rajas, dan Budi Tamas. Oleh karena itu segala pengaruh-pengaruh yang ditimbulkan oleh Budi Rajas, dan Budi Tamas kiranya dapat dianggap sebagai sifat-sifat kebinatangan yang tidak selayaknya menguasai diri kita sebagai manusia ini bukannya berarti bahwa Budi rajas, dan Tamas beserta pengaruh-pengaruhnya itu tidak perlu, tetapi hendaknya ada keseimbangan antara Budi Rajas, Tamas dan Budi Satwam sebagai penuntunnya. Adapun yang dimaksud dengan Sad Ripu :

1.   Tamak / loba

  1. Suka menipu
  2. Suka dipuji (moha)
  3. Murka / kroda (suka marah)
  4. Suka menyakiti sesame makhluk
  5. Suka memfitnah

Demikianlah upacara potong gigi itu bukanlah semata-mata mencari keindahan / kecantikan belaka, melainkan mempunyai tujuan yang mulia.

 

2. SUSUNAN UPAKARANYA

  1. Upakara yang paling kecil

Banten pabyakalaan, prayascita, pengelukatan dan tataban seadanya.

  1. Upakara yang lebih besar

Seperti diatas, tetapi tatabannya memakai pulagembal.

 

CATATAN

Disamping upakara-upakara tersebut, terdapat pula upakara/perlengkapan lainnya yaitu :

  1. Membuat / menyediakan sebuah balai-balai (dipan) untuk tempat upacara potong gigi. Pada tempat tersebut diisi perlengkapan seperti bantal, kasur, seprai, (permandian) dan tikar yang berisi gambaran Semara Ratih.
  2. Bale Gading itu dibuat dari bamboo gading (yang lain) dihias dengan bunga-bunga yang berwarna putih dan kuning, serta didalamnya diisi banten peras, ajuman, daksina (kadang-kadang dapat dilengkapi dengan suci), canang buratwangi, canang sari dengan raka-raka : kekiping, pisang mas, nyahnyah kelapa. Bale gading ini adalah : sebagai tempat (pelinggih) dari Sang Hyang Semara Ratih.
  3. Tegteg

Yang dimaksud dengan tegteg adalah sejenis jejahitan yang berisi jajan dan sampian tegteg. Biasanya dipakai daun rontal.

  1. Kelapa gading yang dikasturi, airnya dibuang dan ditulisi Ardanareswari (gambar samara ratih). Kelapa gading ini akan dipakai sebagai tempat ludah dan singgang gigi yang sudah dipakai. Setelah upacara, kelapa gading ini dipendam dibelakang Sanggah Kemulan.
  2. Untuk singgah gigi (pedangal), adalah tiga potong cabang dadap dan tiga potong tebu malem / tebu ratu. Panjang pedangal ini kira-kira 1 cm atau 1, 5 cm
  3. “Pengilap” yaitu sebuah cincin bermata mirah
  4. Untuk pengurif-urif, adalah empat kunir (isin kunyit) yang dikupas sampai bersih, dan kapur.
  5. Sebuah bokor yang berisi : kikir, cermin dan pahat (biasanya pengilap yang tersebut di atas ditaruh pada bokor ini. Demikian pula pangurip-uripnya.
  6. Sebuah tempat sirih lengkap dengan sirih lekesan, tembakau, pinang, dan gambir. (didalam leesan itu sudah berisi kapur).
  7. Beberapa potong kain (yang agak baik) dipakai untuk menutupi badan waktu upacara dan disebut rurub.
  8. Banten tetingkeb yang akan diinjak waktu turun (dapat diganti dengan segehan agung).

 

3. TATA UPACARA

Seperti biasa dilakukan upacara mabyakala dan maprayascita lalu bersembahyang kehadapan Betara Surya, dan Sang Hyang Semara Ratih. Kemudian naik ke tempat upacara potong gigi (kebalai yang disebut did epan) serta duduk menghadap kehulu (keluanan). Pimpinan upacara mengambil cincin yang akan dipakai untuk nge”rajah” pada beberapa tempat yaitu :

Pada dahi (antara kedua kening) dengan huruf               (                                   )

Pada taring sebelah kanan dengan huruf                         (                                   )

Pada taring sebelah kiri dengan huruf                                         (                                   )

Pada gigi atas dengan huruf                                                       (                                   )

Pada gigi bawah dengan huruf                                       (                                   )

Pada lidah bawah dengan huruf                                     (                                   )

Pada dada dengan huruf                                                            (                                   )

Pada nabi puser dengan huruf                                                    (                                   )

Pada paha kanan dan kiri dengan huruf                          (                                   )

Setelah itu barulah diperciki tirtha pasangihan, selanjutnya upacara dipimpin oleh Sanggih yaitu orang yang bisa memotong gigi (nyangihin). Setelah orang yang bersangkutan tidur serta memakai rurub, maka sangging mengambil kikir, lalu dipujai.  Orang yang akan diupacarai diberi pedangal tebu, disebelah kanan (kalau orang laki-laki, sedangkan kalau perempuan dipasang di sebelah kiri terlebih dahulu).

Setelah kikir dipujai, lalu dimulailah pelaksanaan potong gigi dengan disertai puja, kemudian pedangal diganti, orang yang bersangkutan disuruh meludah, pedangel diganti, dan demikian seterusnya sampai dianggap cukup (ludah dan pedangal dibuang kedalam kelapa gading).

Bila dianggap sudah cukup rata, lalu diberi pengurip-urip (kunir), kemudian berkumur dengan air cendana, selanjutnya makan sirih (ludahnya ditelan tiga kali), dan sisanya dibuang kedalam kelapa gading. Selanjutnya natab banten peras, dan waktu turun menginjakkan kakinya pada tetingkeb (segehan agung) tiga kali. Sore hari setelah pemujaan sajen, dilakukan muspa kehadapan Surya Candra. Kemudian dilanjutkan dengan ma jaya-jaya dan natab.

 

BEBERAPA MANTRA

  1. MANTRA KIKIR

Om Sang perigi manik, aja sira geger lunga, antinen kakang nira sri Kanaka teke kekeh pageh, tan katekaning lara wigena, take awet-awet.

  1. MANTRA WAKTU PEMOTONGAN GIGI YANG PERTAMA

Om lunga ayu, teka yu (diucapkan 3 kali)

  1. MANTRA PANGURIP-URIP

Om Urip-uriping bayu, sabda, teka urip, ang Ah.

  1. MANTRA KEKESAN

Om suruh mara, jambe mara, timiba pwa ring lidah Sang Hyang Bumi Ratih ngaranira, tumiba pwa sira ring hati, kunti pepet arannira, katemu-temu delaha, samangkana lawan tembe, metu pwa sira ring wewadonan Sang Hyang Sumarasa aran nira, wastu kedep mantranku.

Catatan :

Menurut Lontar Castra Proktah (tutur Sang Hyang Yama) tidak wajar Cawa (mayat) itu ditadah, ngeludin wangke ngaran.

 

XI UPACARA MAWINTEN

 

  1. URAIAN UPACARA

Upacara ini bertujuan untuk mohon waranugraha akan mempelajari ilmu pengetahuan seperti kesusilaan, keagamaan, weda dsbnya.

Pemujaan disini diutamakan kehadapan tiga dewa yaitu : betara guru sebagai pembimbing (guru), betara gana, sebagai pelindung serta pembebas daris egala tintangan / kesukaran, dan dewi Saraswati sebagai dewi penguasa ilmu pengetahuan.

  1. SUSUNAN UPAKARANYA

Sebagai pasaksi adalah : peras, ajuman, daksina, banten “saraswati” dan sebuah cakepan (pustaka). Di depan Sanggar Pasaksi : banten pawintenan serta perlengkapannya/tataban. Untuk yang akan mawinten : tiap orang menghadapi banten-banten peras 1 tanding, byakala, dan segehan untuk bhuta.

  1. PENJELASAN BEBERAPA BUAH BANTEN
  1. BANTEN SARASWATI

Sebuah tamas yang berisi pisang mas, bubur precet 22 takir, bubur dibungkus dengan daun beringin 22 biji (dibungkus dengan keraras 22 biji, air cendana, empehan, madu nyahnyah gula kelapa, serta jajan-jajan yang lain, buah-buahan, canang mererepe, lenge wangi buratwangi, dan canang sari. Di samping itu pada tamas yang lain diisi bunga-bunga yang berwarna putih seperti menuh, gambir yang melukiskan Dewa Gana, tunjung sudamala, cecek dll.

  1. BANTEN PAWINTENAN (YANG KECIL)

Alasnya adalah kulit sesayut, diatasnya diisi sebuah tumpeng dengan puncaknya telur itik yang direbus, ikannya itik putih yang diguling, dilengkapi dengan buah-buahan, jajan, jaja saraswati 11 buah dllnya.

Perlengkapan untuk ngarajah adalah : lekesan dengan ujungnya berisi tunjung biru, pinang 25 buah. Lekesan 25 buah ini dipakai sebagai labahan.

Kemudian lekesan yang sama lagi 3 biji tetapi berisi tulisan triaksara (Ang, Ung, Mang). Sirih ini akan ditelan (until). Lain dari pada itu terdapat madu 1 takir dan tangkai sirih sebanyak orang yang akan mawinten. Ini dipakai untuk ngarajah. Ngarajah (rerajahan) dan madu diperlukan apabila diadakan pawintenan Pemangku. Sedangkan pawintenan Saraswati (untuk permulaan belajar) tidak diperlukan rajahan, peguntingan dan madu.

 

  1. TATA UPACARA

Pertama dilakukan upacara pelukatan, kemudian peguntingan dna ngerajah. Setelah itu barulah orang yang mewinten muspa selengkapnya. Upacara pawintenan hendaknya dilakukan bersama istri.

  1. BRATAN PEMANGKU
  1. Diusahakan berambut panjang, kalau dipotong oleh sesame pemangku atau oleh diri sendiri.
  2. Pada waktu menjalankan swadarma hendaknya menurut busana pemangku
  3. Tidak boleh makan daging sapi dan babi piaraan
  4. Dalam hal kematian (kecuntakaan) hendaknya membatasi diri, tidak ikut ngarap cawa dan mengecap sesuatu yang berasal darinya. Dan kegiatannya hanya terbatas pada pelaksanaan upacara.

 

XII UPACARA PERKAWINAN

  1. URAIAN UPACARA

Upacara perkawinan adalah merupakan persaksian baik kehadapan I.S.W, maupun kepada masyarakat bahwa kedua orang tersebut mengikatkan diri sebagai suami istri, dan segala akibat perbuatannya menjadi tanggung jawab mereka bersama. Disamping itu upacara tersebut juga merupakan pembersihan terhadap “Sukla swanita” (bibit) serta lahir bathinnya.

Hal ini dimaksud agar bibit dari kedua mempelai bebas dari pengaruh-pengaruh buruk (gangguan Bhuta Kala), sehingga kalau keduanya bertemu (terjadi pembuahan) akan terbentuklah sebuah Manik yang sudah bersih. Dengan demikian diharapkan agar roh yang akan menjiwai Manik itu adalah roh yang baik/suci, dan kemudian akan lahirlah seorang anak yang berguna di masyarakat menjadi idaman orang tuanya). Lain dari pada itu, dengan adanya upacara perkawinan secara Agama Hindu, berarti pula bahwa kedua mempelai telah memilih Agama Hindu serta ajaran-ajarannya sebagai pegangan hidup didalam membina rumah tangganya.

Selanjutnya menurut beberapa lontar seperti Kuno dresta, Eka pertama dllnya, dikemukakan bahwa hubungan sex (didalam suatu perkawinan) yang tidak didahului dengan upacara pedengan-dengan (pekla-kalaan) dianggap tidka baik, dan disebut Kamakeparagan. Kalau kedua kama itu bertemu atau terjadi pembuahan maka, lahirlah anak yang disebut Rare-dia-diu, yang tidak mendengarkan nasehat orang tua atau ajaran-ajaran agama. Hal ini mungkin ditujukan kepada perkawinan yang direstui / disetujui oleh kedua belah pihak (pihak orang tua si gadis dan pihak orang tua si pemuda). Tetapi di Bali masih sering terjadi perkawinan secara Ngerorod, sehingga kemudian sekali segala upacara akan tertunda sampai tecapainya kata sepakat antara kedua belah pihak. Dan hubungan sex yang mungkin terjadi dalam hal ini, kiranya tidaklah dilakukan dengan penuh kesadaran dan rasa tanggung jawab atas segala akibatnya. Sebagai contoh dapatlah dikemukakan perkainan antara Dewi Sankuntala dengan Prabhu Duswanta, dimana menurut ceritanya perkawinan itu tidak disertai dengan suatu upacara / upacara apapun. Kemudian kalau diperhatikan upacara-upacara didalam perkawinan kiranya dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu :

  1. Upacara Madengen-dengenan (=makala-kalaan) adalah merupakan upacara yang terpenting (pokok) didalam perkawinan, karena didalam upacara inilah dilakukan pembersihan secara rokhaniah terhadap bibit kedua mempelai, dan pesaksi atas perkawinannya, baik dihadapan I.S.W dan masyarakat. Oleh karena itu pelaksanaannya sedapat mungkin tidak tertunda.
  2. Upacara natab, dan mapejati (ngaba jaja) adalah merupakan penyempurnaan didalam perkawinan. Tujuan adalah untuk membersihkan lahir bathin kedua mempelai, memberikan bimbingan hidup dan menentukan status salah satu pihak. Pelaksanaannya kadang-kadang tertunda beberapa hari tergantung pada keadaan.

 

  1. SUSUNAN UPACARANYA
    1. UPACARA YANG KECIL

Untuk penyemputan dimuka rumah si suami

Segehan cacahan warna lima, api takep dan tetabuhan.

Untuk peresmian perkawinan

Banten dengen-denganan (pekala-kalaan), tataban seadanya dan pejati.

 

  1. UPACARA YANG LEBIH BESAR

Untuk penyemputan di muka rumah si suami.

Seperti diatas, dilengkapi dengan carun patemon

Untuk peresmian perkawinan

Seperti diatas, dilengkapi dengan carun-petemon dan tataban pula gembal, serta sesayut nganten.

 

  1. PENJELASAN BEBERAPA BUAH BANTEN
  1. Banten pedengen-dengenan (pekala-kalaan) yang terdiri dari : peras, ajuman, daksina, suci dengan ikannya telur itik yang direbus, tipat kelanan, sesayut, pengambyan, penyeneng, tulung, sanggah urip, pemubug. (tumpeng kecil 5 buah dialasi dengan kulit sesayut dengan raka-raka dan lauk-lauk), solasan 22 tanding (= nasi yang dialasi dengan taledan kecil), dilengkapi dengan lauk-pauk, ikannya sesate dan lekesan/sirih selengkapnya), bayunan (=penek warna 5 dialasi dengan daun tulujungan ikannya olahan ayam berumbum, dan kulit dari ayam tersebut ditaruh diatasnya dilengkapi dengan kewangen, jika tidak mungkin membuat olahan / sesate maka ayam itu dapat pula dipanggang). Kemudian dilengkapi dengan pabyakalaan, prayascita, lism gelar sanga, tetabuhan, dan beberapa perlengkapan seperti :
    1. Tikeh dadakan : adalah sebuah tikar kecil yang dibuat dari daun pandan yang masih hijau. Ini adalah merupakan simbul kesucian di gadis.
    2. Kala Sepetan : adalah sebuah bakul yang berisi telur ayam yang mentah, sebutir, batu bulitan sebuah, uang 25, kunir, keladi, andong, kapas, lalu bakul itu ditutupi dengan serabut yang dibelah tiga dan berasal dari sebutir kelapa. Serabut itu diikat dengan benang merah putih dan hitam, diatasnya diisi muncuk dadap dan lidi masing-masing 3 buah. Ini adalah merupakan perwujudan dari pada Sang Kala Sepetan yaitu salah satu Bhuta Kala yang menerima banten pedengen-dengenan.
    3. Tegen-tegenan, terdiri dari : cangkul, sebatang tebu, dan cabang dadap. Pada salah satu ujungnya digantungi periyuk yang berisi tutup, dan ujungnya yang lain digantungi bakul berisi uang.
    4. Sok pedagangan : adalah sebuah bakul yang berisi beras, kain, bumbuan, rempah-rempah, pohon kunir, keladi dan andong.
    5. Penegtegan : biasanya dipakai tiang dari pada Sanggah Kemulan yang disebelah kanan, yaitu diisi sebuah keris lengkap dengan pakaiannya. Ini adalah sebagai simbul kelaki-lakian.
    6. Pepegatan : dibuat dari dua buah cabang dadap, yang ditancapkan agak berjauhan dan keduanya dihubungkan dengan benang putih.
    7. Tetimpug : dibuat dari beberapa potong bambu yang masih kedua ruasnya. Dalam upacara nanti bambu ini dibakar sampai mengeluarkan bunyi (meletus).
  2. Carun patemon yang terletak dijalan

Nasi dialasi dengan bakul, ikannya karangan babi (atau yang lain), nasi yang digulung dengan upih (daun) (ikannya hati) dilengkapi dengan bunga cempaka 2 buah, canang buratwangi, sesari 25 dan tetabuhan. Banten ini dihaturkan kehadapan Sang Bhuta Hulu lembu, Sang Bhuta Harta, dan Sang Bhuta Kilang-kilung.

  1. Carun patemon yang terletak diatas pintu

Nasi takilan yang ikannya darah mentah yang dialasi dengan limas (tangkih), bawang jae, dan garam. Banten ini dihaturkan kehadapan Sang Bhuta Pila-pilu, Sanghyang Sasarudira, Sanghyang kuladrawa, Sanghyang Ragapanguwus, Kaki Ranggaulung, dan Kaki Rangga tan kewuh.

  1. Banten Pejati (Jauman)

Peras, ajuman, daksina, suci dengan ikannya itik diguling, tipat kelanan, bantal, jaja kuskus, dan beberapa jenis jajan lainnya, dilengkapi dengan sirih, pinang, tembakau, gambir, rantasan saparadeg (pakaian istel) dan kadang-kadang dilengkapi dengan 2 buah tumpeng lengkap dengan guling babi. Banten ini dihaturkan di Sanggah Kemulan, kemudian diserahkan kepada orang tua si gadis.

 

BEBERAPA MANTERA

  1. MANTERA PENGELUKATAN

Om Sanghyang Kama Jaya-Kama ratih, sira ta maka uriping carmaning ngulun, yan sira angawe manusa, aja sira amiruda, amrisakiti, wehana pengelukatan luputan luputa ring lara roga, sanut sangkala, sebel kendel, awak ring sariran ipun. Om siddhi rastu, Om, Cri Criambawane sarwa roga winasaya, sarwa papa winasanem, sarwa klesa winase ya namo namah.

 

Mantra natab Banten Pedengen-dengen

Om indah ta kita Sang Kala Kali, puniki pabyakala kalane sianu katur ring Sang Kala-kali sedaya, sira reka pakulun angeluwaraken, sakwehing kala, kala pati, kala karapan, kala karongan, kala mujar, kala kapepengan, kala sepetan, kala kapepek, kala cangkingan, kala durbala durbali, kala brahma makadi sakwehing kala heneng ring awak sariran ipun si anu, sami pada kaluwarane de nira betara Siwa wruh ya sira ring Hyang Hyanggani awak sarirania, kejenengana denira Sanghyang Tri purusangkara, kasaksenan denira sanghyang Triodasa-saksi lan ya maruwaten sang kala-kali mundura dulurane rahayu dan nutugang tuwuh ipun si anutunggunen dening bayu pramana, mwang wreddhi putra listu ayu (kadang-kadang dilanjutkan dengan : “Ayu wreddhi”……………………….)

 

4. TATA UPACARA MEDENGEN-DENGENAN

Seperti biasa terlebih dahulu ma-byakala, dan ma-prayascita, kemudian mempelai disuruh duduk menghadap Sanggah Kemulan serta banten medengen-dengen. Setelah banten tersebut dipujai seperlunya lalu kedua mempelai bersembahyang, kemudian diupakarai dengan alat-alat yang ada pada pebersihan seperti : sisig, keramas, segara tepung tawar dsb-nya, lalu diberi pengelukatan, dan kemudian natab banten pedengen-dengenan. Selanjutnya kedua mempelai berjalan mengelilingi Sanggah Kemulan, Sanggar Pesaksi, tiap kali melewati Kala Sepetan kakinya disentuhkan sebagai simbul pembersihan sukla-swanita dan dirinya. Setelah tiga kali, lalu penganten yang laki berbelanja, sedangkan yang perempuan menjual segala yang ada pada “sok bebelanja” (waktu berjalan penganten yang laki memikul tegen-tegenan yang perempuan menjunjung sok bebelanjan).

Upacara jual beli ini mungkin sebagai simbul tercapainya kata sepakat untuk memperoleh keturunan. Kemudian dilanjutkan dengan “merobek tikar” (tikar dadakan), dimana pengantin yang peremuan memegang tikar tersebut dan yang laki merobek dengan keris yang berada pada penegtegan.

Hal ini merupakan simbul “pemecahan selaput gadis”. Setelah itu kedua mempelai memutuskan benang yang terlentang pada cabang dadap (pepegatan) sebagai tanda bahwa mereka telah melampaui masa remajanya, dan kini berada pada fase yang baru sebagai suami istri. Kemudian bersama-sama menanam pohon kunir, andongan dan keladi di belakang Sanggah Kemulan, dilanjutkan dengan mandi / berganti pakaian.

Sore harinya dilakukan upacara melukat, mejaya-jaya dan natab dapetan seadanya, dan akhirnya mepejati (ngaba jaja). Upacara mepejati itu bertujuan menyatakan bahwa mulai saat ini si gadis tidak masih menjadi tanggung jawab dan hak waris keluarganya.

Dengan demikian upacara perkawinan dianggap selesai.

 


Ambalat, akankah seperti Sipadan&Ligitan?

Juni 11, 2009

Beberapa minggu ini , Bangsa Indonesia dibuat gerah oleh aksi AL Malaysia yang berusaha memprovokasi AL Indonesia. Bagi rakyat Indonesia, provokasi semacam itu ditanggapi beragam, mulai dari sekedar pemanasan, sampai serius ke pembicaraan perang terhadap Malaysia. Sebagai bangsa yang berdaulat, seharusnya kita lebih tegas menghadapi  sikap Malaysia. Kalo perlu sekali-kali kita harus berani menabrak kapal Malaysia . Pemerintah kita terkesan kurang tanggap terhadap emosi masyarakatnya, Deplu terkesan terlalu berhati-hati, sehingga di mata masyarakat  terkesan pemerintah takut terhadap Malaysia.

Walaupun pada akhirnya Malaysia mau meminta maaf, atas insiden ini, sebagai bangsa kita seharusnya tidak pernah mengendurkan perhatian kita terhadap masalah Ambalat. Ambalat, kalo benar mempunyai kekayaan yang melimpah, tentu tidak akan begitu saja mau dilepas oleh Malaysia, siapa tahu ini hanya taktik untuk membuat kita kembali lengah, karena ada kesan bangsa kita mudah melupakan.

Pertegas sikap kita bahwa Amabalat adalah wilayah Indonesia, sampai kapanpun, dan tidak akan pernah kita lepas dengan cara apapun, kalo perlu kita eksplorasi kekayaan kita di Ambalat, sekarang juga biar  Malaysia tahu diri


detikcom : Cari Bangkai Air France, Perancis Kerahkan Kapal Selam Nuklir

Juni 6, 2009

title : Cari Bangkai Air France, Perancis Kerahkan Kapal Selam Nuklir
summary : Perancis mengirimkan kapal selam nuklirnya untuk menemukan pesawat Air France yang menghilang di Samudera Atlantik. (read more)


Acer Aspire One AO75ih dan AOD250 , Lawan Berat Pico

Mei 29, 2009

Nampaknya persaingan dikelas netbook mini kelas dibawah 5 jutaan makin seru, setelah selama ini Pico yang dirilis axioo muncul dengan bawaan komplit dan harga dibawah 5 juta (+ 4,7 Juta) saat ini Acer tidak mau kalah , dengan Aspire One AO75ih memamerkan layar 11,6 inci, dan AOD250 berlayar 10,1 inci. Sepeerti yang dirilis Kompas Mei 26 , netbook ini merupakan varian baru yang bakal banyak dilirik konsumen.

Produsen asal Taiwan ini baru saja menambah jajaran Aspire One-nya dengan dua netbook baru. Keduanya mengusung ukuran layar yang berbeda. AO75ih memamerkan layar 11,6 inci, ukuran yang baru di ajang netbook. Sementara itu, AOD250 berlayar 10,1 inci, ukuran yang kian banyak diusung mayoritas netbook terbaru. Berbobot 1,25 kg, dan menggunakan prosesor Intel Atom Z520 1,22GHz, RAM DDR2 mencapai 2GB dan harddisk berkapasitas 250GB, AO75ih disebut-sebut sebagai netbook 11,6 inci pertama di dunia. Menurut Acer, keyboard full-sized, webcam, layar lebar LED-backlit HD 16:9, serta touchpad yang mendukung multi-gesture pada AO75ih tersebut akan mampu mengimbangi harga netbook yang berkisar 380 dollar AS itu. O ya, baterai AO751h adalah 6-cell. Fitur multi-gesture pada touchpad AO75ih memungkinkan penggunanya untuk merapatkan, mengembangkan, dan memutar jari-jemarinya ketika ingin men-zoom atau membalik-balik saat sedang berkeliaran di Google Earth atau menyunting video dan gambar. Sementara itu, baterai 6-cell diklaim mampu menyuguhkan daya sampai delapan jam, atau dua kali baterai 3-cell. Tentu saja, netbook ini sudah dipersenjatai dengan kemampuan nirkabel, termasuk Wi-Fi dan Bluetooth yang sudah tertanam di dalam. Bagaimana dengan AOD250? Netbook ini mengusung Intel Atom N270 1,6GHz, SDRAM DDR2 533 1GB, harddisk 160GB, dan layar 10,1 inci. Bobotnya 1,1kg. Sebuah webcam dan tiga port USB 2.0 sudah terpasang pada netbook dengan harga kisaran 300 dollar AS ini. Baterainya sendiri bisa dipilih antara 3 dan 6 cell. Menurut Acer, baterai 6-cell di AOD250 mampu bertahan sampai 6 jam. Kedua netbook ini sudah dipasangi MS Windows XP Home. O ya, harga kedua netbook ini di Indonesia belum tentu seperti yang disebutkan di atas. Di pertokoan Ratu Plaza, Jakarta, AOD250 diberi banderol harga Rp 4,999 juta, sementara AO75ih belum hadir.

Dikutip dari Yahoo News