Oleh: Gusti Sudiartama | Juni 26, 2012

Yoga Sutra(17)Pelatihan Tubuh dan Pembentukan Sikap Mental.

 Sikap-tubuh (asana) dalam latihan hendaknya mantap dan nyaman. Dengan lepasnya ketegangan tubuh dan mental, transformasi batin dimungkinkan mencapai ketidak-terbatasan. Darisana bentuk-bentuk batin dualistik (dvandva) tak lagi mengganggu. [YS II.46 - II.48] Patanjali memang tidak secara khusus menyebutkan ataupun merekomendasikan sikap-tubuh tertentu, namun banyak penekun dan Guru spiritual menemukan manfaat besar dari sikap-tubuh padmãsana (sikap duduk bagai bunga lotus), siddhãsana (sikap duduk para orang suci), swastikãsana (sikap duduk bagai simbol swastika) dan sukhãsana (sikap duduk sesuka hati, namun tetap bersila dengan tulang-punggung tegak). Banyak yang menyebutkan bahwa padmãsana-lah yang paling utama diantaranya. Yang perlu untuk digunakan pegangan dalam duduk bermeditasi adalah, kepala, leher dan tubuh dipertahankan agar tetap dalam satu garis lurus dan tegak. Tidak condong ke depan, ke belakang atau ke samping. Pilihlah satu sikap duduk yang paling sesuai bagi Anda, dan jangan setiap kali merubah sikap duduk. Pertahankan satu sikap duduk dengan mantap. Secara khusus, Hatha Yoga —atau juga disebut Yogãsana—mengajarkan dan melatih semua sikap-sikap tubuh, yang amat bermanfaat bagi kesehatan dan kelenturan tubuh, dan tidak kita bicarakan secara khusus disini. Sikap-sikap tubuh ini sangat kondusif di dalam membentuk atau menghadirkan sikap-mental yang sesuai dengan yang diperlukan dalam melaksanakan japa dan langkah selanjutnya, yakni pranayama dan dhyana. Disamping kesehatan tubuh, pembentukan sikap-mental merupakan tujuan utama dari laku asana ini. Bahkan Sri Swami Sivananda menyatakan “bila tak dapat melaksanakan asana dengan sempurna, tidak akan dapat melakukan dhyana dengan baik”. Sikap dan kondisi tubuh, ekspresi wajah, diketahui sebagai punya kaitan erat sekali dengan kondisi mental. Ambil contoh anjuran“keep on smiling” misalnya. Adakah landasan ilmiah —selain empiris—dari anjuran ini? Ternyata ada; seorang psikolog Jerman, Fritz Stark, pernah mengadakan penelitian ilmiah terhadap senyum, dalam kaitannya dengan pengkondisian batin kita. Menurutnya, membuat senyuman dengan otot-otot wajah, menipu otak untuk merespon dengan perasaan yang relevan. Pernyataan ilmiahnya ini, ternyata juga dikuatkan lagi oleh David Lykken —pensiunan profesor psikologi dari University of Minnesota, Minneapolis USA— dengan menyatakan “Emosi merupakan perpaduan antara perasaan internal dengan respons fisik yang memberikan umpan-balik pada otak kita”. Sebetulnya, hingga saat ini memang telah banyak bukti-bukti sebagai hasil empiris perseorangan, perkumpulan Yogãsana maupun penelitian-penelitian ilmiah tentang nilai manfaat langsungnya secara fisik maupun psikis. Asana tertentu —secara phisioterapis— dapat menyembuhkan penyakit tertentu, bahkan Yogãsana diyakini juga sebagai Yoga Kesehatan. Kondisi tubuh yang sehat, otot-otot yang lentur, tidak tegang, menimbulkan rasa nyaman dan mengurangi kegelisahan mental. Dan ini amat membantu dalam tercapainya keterpusatan saat berlatih meditasi (dhyana). “Kalau Anda dapat duduk hanya untuk satu jam saja, Anda dapat memusatkan pikiran dan merasakan kesentosaan dan kebahagiaan”, papar Sri Swami Sivananda dengan amat meyakinkan. Sebagai pembentuk sikap-mental, dan bukan semata-mata sikap-tubuh layaknya senam dan bentuk-bentuk olah-raga lainnya, asana sesungguhnya telah terbentuk ketika Yama-Niyama benar-benar diterapkan di dalam kehidupan. Di Nusantara dikenal—apa yang disebut dengan—sasana, disiplin mental dan prilaku yang pantas. Pemposisian asana sebagai tahapan ketiga—setelah Yama dan Niyama—seakan-akan mengisyaratkan bahwa, ‘tiada sadhana yang terlaksana dengan baik, tanpa didasari oleh sikap-mental yang baik’. Makanya, dalam yogasadhana, Yama-Niyama tetap menjadi kunci keberhasilan. Pelaksanaan tiga aspek dari Niyama saja—yakni Tapa, Svadhyaya dan Isvarapranidhana—sudah layak diperhitungkan sebagai melaksanakan Kriya Yoga.

 

 Kematian dan Kekuatan Maitri.  Karmaphala ada dua jenis; yang sedang berlangsung dan yang belum aktif; melalui Samyama terhadapnya, diketahui tanda-tanda dan saat kematian. [YS III.23]
 

Seorang Yogi terbiasa mengamati dengan jernih melalui visi-spiritualnya; beliau dapat mengetahui hampir segala sesuatu melalui Samyama. Semua itu hanyalah dampak dari proses pemurnian citta yang telah beliau jalani; tidak ada sesuatu yang terlalu aneh atau gaib sehingga tak terjelaskan dalam Yoga. Ia memang tampak aneh atau gaib di mata awam, karena awam masih belum menyentuh tataran citta, dan masih bergelimang dalam kekotoran, insting-insting destruktif dan dikacaukan oleh pusaran-pusaran berbagai bentuk pemikiran dan perasaan.

Sejauh-jauhnya yang dapat tersentuh oleh awam adalah tataran intelek atau kecerdasan (buddhi), yang masih di bawah strata citta. Bhagavad Gita menjelaskan bahwa, yang lebih tinggi dari kemampuan semua indriya adalah manas, yang lebih tinggi dari kemampuan manas adalah buddhi; dan citta mengatasi semua itu.
Melalui rasa persahabatan dan welas asih universal (maitry), muncul kekuatan (balani). Melalui kekuatan ini diperoleh kekuatan spiritual yang lebih besar lagi. [YS III.24 dan III.25] 

Maitri, welas asih universal, disini diketengahkan sebagai salah-satu contoh. Sesungguhnya, baik maitri, karuna, mudhita maupun upeksa merupakan empat kekuatan dahsyat. Sifat-sifat luhur kedewataan ini juga merupakan kekuatan-kekuatan luhur kedewataan. Inilah jenis kekuatan yang amat bermanfaat bagi Sang Yogi maupun bagi makhluk lain dan alam sekelilingnya. Dalam ajaran Buddha, mereka disebut Brahma Vihara. Dapat dibayangkan, betapa besar kekuatan dari makhluk hidup yang bersemayam di alam penciptaan itu. Jadi memang dapat dipahami bila mereka disebut Empat Kesempurnaan (catur pamartha) dalam Hindu, yang layak dikembangkan oleh setiap orang.
Mendulang Kemampuan dan Pengetahuan yang bermanfaat.  Melalui pancaran cahaya, yang halus, yang tersembunyi dan yang jauh, dapat diketahui. Pengetahuan tentang semesta diperoleh lewat Samyama pada matahari (surya), lewat Samyama pada bulan (candra), pengetahuan tentang tata-surya diperoleh; lewat Samyama pada bintang-kutub (dhruva), pengetahuan tentang peredaran benda-benda langit diperoleh; lewat Samyama pada pusar (nabhi cakra), diperoleh pengetahuan tentang metabolisme tubuh; lewat Samyama pada rongga kerongkongan (kantha), diperoleh pengetahuan dan kekuatan menahan lapar dan haus; lewat Samyama pada pusat gravitasi (kurma nadi), diperoleh kemantapan pada badan; lewat Samyama pada cahaya di ubun-ubun (murdha), diperoleh kekuatan persepsi langsung seperti yang dipunyai oleh para siddha[1]; lewat Samyama pada intuisi (pratibha), diperoleh pengetahuan tentang segala sesuatu; lewat Samyama pada jantung (hrdaye), diperoleh pengetahuan tentang berbagai kondisi citta.

[YS III.26 - III.35]
 

Sutra-sutra ini memberi paparan contoh-contoh dari keampuhan Samyama serta dampak internalnya bagi peningkatan Sang Yogi. Terhadapnya, ada yang menterjemahkan secara eksternal. Memang bagi eksternalis, kekuatan Samyama bisa diarahkan pada pertunjukan kekuatan-kekuatan gaib; oleh karenanyalah Patanjali juga mengingatkan lewat sutra III.38 (mendatang), tentang bahaya dari eksternalisasi itu.

Menurut Swami Satya Prakas, kekuatan-kekuatan itu dapat menyeret penekun menuju kejatuhan yang fatal. Sementara Swami Sivananda wanti-wanti mengingatkan, sampai-sampai beliau secara khusus menurunkan tulisan: “Beware of Siddhis”. Sebaliknya, beliau amat menekankan pada vairagya, pelepasan bebagai kemelekatan indriawi dan keduniawian. Seorang Yogi, yang penulis kenal dengan baik, juga mengingatkan bahwa permainan siddhi seperti itu, hanyalah ‘mainan anak-anak’, yang menghambat kematangan dalam Yoga, bahkan menjerumuskan dan menyesatkan. Menjelang mengakhiri Pãda ini, kembali kita akan diingatkan pada kejatuhan Sang Yogi sebagai akibat membangga-banggakan posisi tinggi yang telah diraihnya.

Beberapa hasil dari Samyama tadi mungkin saja memang diperlukan oleh Sang Yogi untuk mengatasi halangan-halangan fisik, seperti lapar dan haus atau untuk memahami metabolisme tubuh dan menjaga kesehatan beliau, memberdayakan dan meningkatkan kemampuan daya-vital ataupun pengetahuan-pengetahuan lain yang bermanfaat bagi beliau dan orang banyak.
Mengetahui kondisi citta, meningkatkan dan mengembangkan persepsi dan intuisi misalnya, sudah barang tentu amat kondusif sekaligus bermanfaat bagi Sang Yogi guna memcapai kesempurnaannya. Namun jelas semua itu bukan untuk dipamerkan atau guna menarik perhatian khalayak demi popularitas dan menarik pengikut ataupun demi kepentingan pribadi lain berdasarkan ke-aku-an. Justru hasrat-hasrat egoistis serupa inilah mesti dikikis.

[1] Para Siddha adalah beliau-beliau yang teranugrahi—baik berupa bakat bawaan maupun berkat upayanya sendiri, atau kombinasi dari keduanya—siddhi-siddhi, kekuatan-kekuatan adikodrati.

 
Walaupun dipisahkan oleh kelahiran (jati), tempat (desa), maupun waktu (kala), yang berkaitan dengan ingatan (smrti), kesan-kesan (samskara) serta kebiasaan-kebiasaan tetap berlangsung, karena yang merangsangnya tetap ada, namun itu tidak menjadi penyebab lagi (anadhitvam).
Hadirnya sebab, motif, struktur, dan tujuannya tetap mempersatukan mereka (smrti, samskara serta kebiasaan-kebiasaan); hanya dengan tidak hadirnya semua (sebab, motif, struktur, dan tujuan) itulah mereka tidak hadir pula.
Masa lampau dan masa depan (atita-anagata) eksis secara bergantian betapa adanya, mengikuti prinsip-prinsip kosmis yang mengaturnya (dharmanah).
Baik berwujud kasar maupun halus, mereka hanyalah guna yang menyertai Atman (guna atmanah).
(Sedangkan) evolusi menuju panunggalan merupakan realitas dari keberadaan Sang Yogi kini (vastu tattvam).
[YS IV.9 - IV.14]

EVOLUSI KOSMIS DAN TUJUAN.

Evolusi Kosmis tetap berjalan sesuai hukumnya.
 
Walaupun dipisahkan oleh kelahiran (jati), tempat (desa), maupun waktu (kala), yang berkaitan dengan ingatan (smrti), kesan-kesan (samskara) serta kebiasaan-kebiasaan tetap berlangsung, karena yang merangsangnya tetap ada, namun itu tidak menjadi penyebab lagi (anadhitvam).
Hadirnya sebab, motif, struktur, dan tujuannya tetap mempersatukan mereka (smrti, samskara serta kebiasaan-kebiasaan); hanya dengan tidak hadirnya semua (sebab, motif, struktur, dan tujuan) itulah mereka tidak hadir pula.
Masa lampau dan masa depan (atita-anagata) eksis secara bergantian betapa adanya, mengikuti prinsip-prinsip kosmis yang mengaturnya (dharmanah).
Baik berwujud kasar maupun halus, mereka hanyalah guna yang menyertai Atman (guna atmanah).
(Sedangkan) evolusi menuju panunggalan merupakan realitas dari keberadaan Sang Yogi kini (vastu tattvam).
[YS IV.9 - IV.14]

Sebagai penjelasan atas paparan sutra-sutra sebelumnya, kini Patanjali memaparkan prinsip hukum semesta berkaitan dengan sebab-akibat yang saling bergantungan dari semua keberadaan, disamping kesinambungan proses evolusi yang dialami oleh seorang Yogi yang belum berhasil menuntaskan evolusinya.
Sepanjang masih ada yang memotivasi kemunculan suatu sebab, maka selama itu pula akibat akan tetap menyertainya. Segala macam bentuk kelahiran, berapa lama, kapan serta dimana kelahiran itu terjadi, apakah dalam wujud kasar —dengan panca mahabhuta— maupun halus hanya menggunakan kelima atau beberapa tan-matra saja, akan selalu terjadi. Semua itu berpangkal pada adanya penyebab, motif, struktur atau susunannya, serta tujuan-tujuannya yang masih tersisa. Demikian pula pada waktu atau jaman apa kelahiran berikutnya akan terjadi, dan berapa lama harus dialami.
Dalam pada itu, kelangsungan waktu berjalan sesuai hukumnya, masa depan menjadi masa kini, dan masa kini terlewati dan menjadi masa lalu. Prinsip kosmis yang mengatur segala keberadaan. Berdasarkan hukum kosmis itulah, bila seorang pendamba kebebasan, penyatuan, dalam kurun tertentu mengakhiri hidupnya pada satu alam kehidupan tertentu, kesan-kesan (samskara) serta ingatan-ingatannya akan dambaannya itu tetap terbawa sebagai benih-benih perbuatan bagi kelahiran berikutnya (kriyamana karma vasana) untuk diteruskannya. Kriyamana karma-vasana inilah yang menjadi benih kelahiran demi kelahiran di berbagai alam kehidupan, kasar maupun halus. Ia menjadi sahabat setia dalam berbagai kelahiran.
Beruntunglah mereka yang telah terjun ke dalam Yoga, para pendamba penyatuan dan kebebasan (mumukshu) dalam kelahirannya ini; pencapaian yang diraihnya dalam kehidupan ini membentuk vasana-nya dan akan terus membimbingnya dalam evolusi spiritual pada kelahiran-kelahiran berikutnya. Itulah sesungguhnya yang menjadi realitas keberadaannya; evolusi yang berkelanjutan hingga tercapainya tujuan akhir, menyatu dan melebur di dalam-Nya. Paradigma ini, juga ditegaskan oleh Sri Krishna dalam Bhagavad Gita.
Tujuan tetap sama, hanya pengkondisinya yang berbeda.
 
Tujuan (vastu) tetap sama, sementara kondisi yang menyertai citta-lah yang berbeda—karena cara kerjanya berbeda.
Vastu tidaklah tergantung pada satu kondisi tertentu dari citta saja, karena bila kondisi itu tak hadir, lantas apa yang akan terjadi padanya?
Oleh terjadinya pencitraan terhadap citta —yang disebabkan oleh pusaran-pusaran pikiran— inilah vastu menjadi disadari atau tidak disadari (jñatãjñatam).
Pengetahuan yang ajeg merupakan modifikasi-modifikasi dari citta juga adanya, namun bagi Sang Yogi, itu terkendali sepenuhnya oleh kehadiran Hyang Purusa yang tiada berubah.
[YS IV.15 - IV.18]

Bagi yang telah terjun menuju kebebasan, tujuan satu-satunya adalah kaivalyam. Mereka ini juga disebut sebagai ‘pelawan arus’, yang dengan gagah-berani terjun melawan arus tumimbal-lahir yang maha-deras ini. Sekali tujuan ditetapkan dalam suatu kelahiran, ia akan mengalir sebagai missi lanjutan dalam kelahiran-kelahiran berikutnya.
Mungkin saja citta dalam suatu kelahirannya atau dalam kondisi tertentu, tampak berbeda; akan tetapi citta sesungguhnya jernih, dan kembali terjernihkan seperti sediakala. Pengalaman-pengalaman dari pendakian spiritualnya di masa lalu, pasti muncul kembali sebagai ‘vasana spiritual’. Paradigma ini seringkali mengecoh banyak orang. Jangankan orang awam, para peminat dan penekun-pun bisa terkecoh karenanya; padahal keterkecohan itu tak perlu terjadi bila Hukum Karma Phala dan Samsara benar-benar dipahami. Yang bijak mengatakan bahwa, derajat kesucian batin seseorang hanya dapat diketahui oleh mereka yang memiliki kesucian batin yang sekurang-kurangnya setara dengannya.
Pengalaman-pengalaman pada kehidupan lampau yang tersublimasi berupa vasana inilah yang mewarnai atau memberi citra-artifisial kepada pandangan murni, seperti juga halnya dengan pengalaman-pengalaman dalam kehidupan ini. Mereka mengendap sebagai kesan-kesan mental dan ingatan dan membentuk kebiasaan-kebiasaan. Nah, kumpulan mereka inilah yang ter-refleksi di permukaan berupa kepribadian berikut nasib seseorang dalam setiap kelahirannya.


Suara, makna, dan gagasan yang melatarinya seringkali baur satu dengan yang lainnya sehingga membingungkan; menganalisanya melalui Samyama menghadirkan pengertian terhadap suara dari berbagai makhluk hidup.
Melalui mengamati dengan seksama ikhwal munculnya kesan-kesan mental (samskara), kehidupan lampau dapat diketahui.
[YS III.17 dan III.18]

Seperti perumpamaan atau pengandaian sebelumnya, satelit dapat mengamati apa saja dan bergerak kemana saja dengan mudah; demikian pula bila ia harus mengamati suara makhluk hidup maupun kesan-kesan mental. Ucapan atau kata-kata adalah tuangan perasaan atau ekspresi kondisi dan kesan-kesan mental lewat suara. Memahami hakekat dan bagaimana bekerjanya perasaan dan pikiran, maksud, makna serta gagasan yang melatari setiap ucapan atau suara mudah dipahami.
Dari kehidupan yang lampau, kita membawa benih-benih perbuatan (vasana), demikian pula makhluk hidup lainnya. Vasana-vasana itu, dulunya atau pada kehidupan yang bersangkutan merupakan kesan-kesan mental yang mendalam (samskara). Demikian juga samskara yang terbentuk kini, bila belum tersalur dan habis enerji potensialnya dalam kehidupan ini juga, menjadi vasana untuk kehidupan mendatang. Memahami kejadiannya demikian, dengan mengamati samskara dalam kejernihan citta, dipahami juga vasana; dengan mencermati vasana dan samskara melalui kejernihan citta akan dipahami kehidupan lampau maupun yang akan datang makhluk-makhluk lain.
Mengetahui Maksud dan Asal suara halus.

Melalui Samyama (terhadap samskara ini), kondisi citta makhluk hidup diketahui;
tetapi itu belum mendukung untuk mengetahui isinya, bila ia tidak direfleksikan dalam kehidupannya (melalui tindakan maupun ucapan).
Melalui Samyama terhadap wujud (rupa), daya sensorik yang terhalang karena mata tidak mengadakan kontak-langsung dengan cahaya, dapat diketahui ‘nilai internalnya’ (antardhanam). Dengan antardhanam inilah sabda dapat dipahami.
[YS III.19 - III.22]

Sutra III.19 – III.22 ini sebetulnya masih dalam suatu keterkaitan dengan sutra III.17 dan III.18, sebelumnya. Secara implisit, penjelasannya sebetulnya telah disampaikan pada sutra-sutra sebelumnya. Tambahan khususnya disini adalah, bagaimana bila hanya sabda yang terdengar, namun sumber sabda tidak terlihat? Inilah yang diperjelas dalam sutra III.21 dan III.22.
Sabda dan rupa adalah dua unsur halus dari Panca Tanmatra—lima unsur halus yang membentuk jasad manusia—disamping rasa, gandha dan sparsa tanmatra. Mereka ada pada setiap makhluk berjasad. Mereka jugalah yang merupakan objek cerapan indria sensorik yang ada dalam setiap makhluk hidup. Melalui kewaspadaan, keterpusatan dan kejernihan Samyama, daya asosiatif dari sensasi luar dengan yang di dalam meningkat kepekaannya. Peningkatan daya asosiatif ini yang didukung oleh ketajaman kelima indria sensorik inilah yang melahirkan kemampuan ekstra-sensorik bagi sang penekun. Dengan kemampuan ini, sang penekun mampu mengetahui yang tidak kasat-indria, ‘yang tersembunyi’, ‘yang rahasia’.
Apa yang sesungguhnya perlu kita ketahui dari sebentuk prilaku atau tindakan dan ucapan, adalah maksud atau motifnya. Bukan sekedar apa yang kasat-indria saja. Bukankah kita bertindak pun berucap berdasarkan motif atau maksud ini? Bukankah ini sebagai ‘nilai internal’ dari setiap tindakan dan ucapan kita. Namun, darimanakah maksud atau motif itu berasal? Bila kita menyelidikinya ke dalam, akan kita temukan kalau mereka semua merupakan ekspresi dari keinginan atau hasrat terpendam sehubungan dengan kesan-kesan mental yang terbentuk pada pengalaman sebelumnya (samskara), yang juga membentuk ingatan (smrtti), yang mengisi gudang ingatan.
Ada pula yang menterjemahkan sutra III.21 sebagai: “Dengan pelaksanaan Samyama pada rupa, pada penundaan dari daya reseptif (daya yang memudahkan untuk menerima gagasan baru), hubungan antara mata (dari si pengamat) dan sinar (dari badan) dipecahkan dan badan menjadi ‘tak terlihat’”. Menterjemahkannya demikian, mengakibatkan kesinambungannya dengan sutra-sutra yang mendahului dan mengikutinya terputus, sehingga mengaburkan pengertian yang dikandungnya.

Oleh: Gusti Sudiartama | Juni 18, 2012

Yoga Sutra(18). Regulasi Nafas Dan Pengendalian Daya Vital

  Print E-mail
ImageSetelah Asana, memupuk perhatian murni pada pergerakan keluar dan masuknya daya-vital (prana), yang disebut Pranayama, dilaksanakan. Prana keluar (bahya), masuk (abhyantra) dan diam (stambha) dalam hening adalah perubahan-perubahan yang terjadi dalam pengaturan prana menurut ruang, waktu, dan jumlah kalinya sedemikian rupa, hingga nafas terasa semakin dalam dan semakin halus.  Ada juga langkah ke-empat berupa penahanan di antara keluar dan masuknya (bahya abhyantara). Dengan ini, tabir yang menutupi cahaya batin dapat disingkirkan, sehingga batinpun siap dan layak memasuki Dharana. [YS II.49 - II.53].

Prana sendiri adalah daya-vital, daya-hidup; sedangkan yama adalah pengekangan, pengendalian atau pengaturan. Secara harfiah saja, Pranayama berarti pengaturan daya-hidup itu sendiri, dan jelas bukan sekedar mengendalikan keluar-masuknya nafas. Dalam Yoga Sutra ini, laku Pranayama lebih diarahkan pada yang bersifat yang esensial —menyingkirkan tabir yang menutupi cahaya batin— bagi persiapan untuk memasuki anga [baca: angga] atau tahap berikutnya, yakni Pratyãhãra dan Dharana.  Pranayama yang hanya dikaitkan dengan regulasi nafas, termasuk dalam bidang pelatihan tubuh dalam sistem Hatha Yoga.

Swami Satya Prakas Saraswati di dalam “Patanjali RAJA YOGA”-nya, memang menyatakan bahwa Pranayama berhubungan dengan sistem pernafasan, dimana sikap duduk Siddhãsana (kaki dilipat dengan kaki kanan di atas kaki kiri) dipandang sebagai sikap duduk terbaik di dalam latihan regulasi nafas ini. Dalam kitabnya ini, beliau bahkan memaparkan secara panjang-lebar tentang prana dan Pranayama dalam dua bab tersendiri, dimana antara lain disebutkan bahwa, prana adalah daya-vital yang tidak kelihatan, dan yang memungkinkan kita untuk bernafas. Prana sudah ada pada kita sejak lahir dan tetap ada pada kita selama hidup dalam jasad ini. Ditegaskan bahwa, prana bukanlah sekedar nafas atau yang terkait dengan bernafas saja, melainkan adalah daya-vital di belakang segenap susunan sistem pernafasan dan segala aktivitas otot-otot dan syaraf. Menurutnya, kata prana berasal dari urat-kata ‘an’, yang berarti bergerak, menghidupkan, memasukkan kekuatan. Pikiran berfungsi karena adanya prana; dan dengan penguasaan prana, pikiran bisa ditenangkan.

Bahkan, menurut Sri Swami Sivananda, prana bersama-sama dengan materi dan pikiran, merupakan tiga manifestasi relatif dari Yang Absolut. Prana benar-benar merupakan sebentuk modifikasi pikiran. Disebutkan bahwa prana adalah Kriya Sakti atau kerja tingkat tinggi. Materi dihasilkan oleh prana. Prana merupakan kelanjutan dari pikiran. Materi berada di bawah Prana, sedangkan Prana berada di antara materi dengan pikiran. Prana bersifat positif bagi materi, namun negatif bagi pikiran. Pikiran bersifat positif, baik bagi prana maupun materi; namun negatif bagi Kehendak —yang merupakan komunikator antara intuisi dengan pikiran.

Prasna Upanishad antara lain juga mengandaikan prana sebagai ruji dalam sebuah roda, dimana semua didasarkan prana, didasarkan prinsip-kehidupan ini. Sri Swami Sivananda memaparkan bahwa, Pranayama mengantarkan penekun untuk bertatap-muka langsung dengan prinsip-kehidupan. Mengendalikan prinsip-kehidupan, memberi suatu pandangan mendalam pada kekuatan yang memotivasinya.

Taittiriya Upanishad menyebut pranamaya kosa (selubung daya-vital) ini sebagai penghubung antara annamaya kosa (selubung jasmaniah yang terbuat dari sari-sari makanan) dengan manomaya kosa (selubung mental). Kitab Wrhaspati Tattwa menyebutkan tentang Dasaprana, sepuluh prana, yang masing-masing daripadanya adalah: prana, apana, samana, udana, vyana, naga, kurma, krakara, devadata dan dhananjaya. Penggolongan prana seperti ini juga ditemukan pula dalam Yajurveda, Atharvaveda, Taittiriya Upanishad, Chandogya Upanishad, Prasnopanishad dan Brhadaranyaka Upanishad. Lima prana —naga, kurma, krakara, devadata dan dhananjaya— disebut sebagai prana minor di dalam Brhadaranyaka Upanishad.

Akan tetapi, bagaimana dengan latihan praktis Pranayama sendiri?

Seorang Guru pernah mengingatkan siswanya, “Gunakanlah nafasmu sebagai pegangan; dengan demikian pikiranmu dengan mudah kamu pusatkan. Pranayama akan amat membantumu dalam mencapai Samãdhi”. Sementara itu, Chandogya Upanishad mengilustrasikan: “Bagai burung yang di-ikat dengan tali; setelah terbang kesana-kemari tanpa menemukan tempat tinggal, ia akan kembali untuk beristirahat, justru pada tempat dimana ia terikat; begitu pula pikiran, setelah terbang kesana-kemari tanpa menemukan tempat tinggal, akan kembali beristirahat pada nafas, karena pikiran punya nafas sebagai pengikatnya.”
 
Tampaknya, praktek Pranayama mau-tak-mau mesti dikaitkan dengan praktek pengaturan pernafasan. Secara garis besar, praktek pengaturan nafas terdiri dari empat tindakan dasar yakni: (i) menarik nafas (puraka), (ii) menahan nafas dalam kondisi penuh (antah-kumbaka), (iii) menghembuskan nafas hingga kosong (recaka) dan (iv) membiarkan kondisi kosong (bahih-kumbaka).

Dalam hal ini, Wrhaspati Tattwa memberi petunjuk: “Tutup semua lubang yang ada dalam tubuh, seperti: mata, hidung, mulut, telinga; udara, yang sebelumnya telah terisap, itu dikeluarkan melalui ubun-ubun. Bila tidak terbiasa mengeluarkan udara melalui jalan itu, udara dapat dikeluarkan melalui hidung, namun secara perlahan-lahan. Itulah yang disebut Pranayamayoga.”

Praktek Pranayama menjadi ideal bila disertai Pranava Japa. Disini pengaturan nafas hanya dalam tiga tahapan saja, dimana menahan nafas saat kosong (bahih-kumbhaka) dibiarkan saja kosong tanpa pelafalan dalam hati (manasu). Lafalkan dalam hati suara A(ng) saat menarik nafas (puraka), U(ng) saat menahan nafas (antah-kumbhaka) dan M(ang) saat menghembuskan nafas (recaka).
• Bersamaan dengan puraka dengan manasu A(ng), bayangkanlah Tuhan sebagai Sang Maha Pencipta yang penuh anugrah;
• Bersamaan dengan antah-kumbhaka dengan manasu U(ng), bayangkan Tuhan sebagai Sang Maha Pemelihara yang penuh dengan Cinta-kasih;
• Bersamaan dengan recaka dengan manasu M(ang), bayangkan Tuhan sebagai Sang Maha Suci, pelebur segala kekotoran batin dan dosa-dosa.
Bilamana dilakukan pengaturan dalam empat tahapan, dianjurkan untuk melafalkankan dalam hati Gayatrimantram sebagai berikut:
• OM – Bhur – Bhvah – Svah…….bersamaan dengan puraka;
• Tat – Savitur – vare – niyam……bersamaan dengan antah-kumbhaka;
• Bhargo – devasya – dimahi…….bersamaan dengan recaka;
• Dhiyo – yonah – pracodayat…..bersamaan dengan bhih-kumbhaka.
Kedua praktek ini adalah yang paling praktis dan paling umum dilakukan oleh berbagai kalangan dan tingkatan penekun. Baik Pranayama dan Japa tiga tahapan maupun empat tahapan, ada yang menyertai dengan penghitungan bulir-bulir tasbih. Namun, bagi sementara penekun yang merasakan ini sebagai kurang praktis dan menyolok perhatian [terutama kalau sedang berada di tempat-tempat umum], bisa menggunakan nafasnya langsung sebagai tasbih. Yang manapun yang dipilih, hendaknya disesuaikan dengan kondisi, kepentingan dan kebiasaan masing-masing, agar ia dapat dipraktekkan dengan santai, tanpa ketegangan yang tak perlu. Ingat, tujuan utamanya adalah membersihkan atau menentramkan vritti.

Sri Swami Sivananda menjelaskan bahwa, dengan mempraktekkan pengaturan nafas ini seorang sadhaka bisa memperoleh umur panjang. Seorang lelaki sehat bernafas 14 sampai 16 kali dalam semenit. Pengurangan frekuensi nafas melalui pelatihan, meningkatkan ketahanan paru-paru. Konon, semakin rendah frekuensi nafas, semakin panjang umur makhluk hidup. Beberapa contoh pada binatang menunjukkan hal ini. Anjing misalnya, frekuensi nafasnya mendekati 50 kali per menit, dan umurnya hanya sampai sekitar 14 tahun saja. Sedangkan kuda yang frekuensi nafasnya 35 kali per menit, umurnya bisa mencapai 29 sampai 30 tahun. Gajah yang bernafas 20 kali per menit, umurnya bisa mencapai 100 tahun. Sementara seekor kura-kura lebih rendah lagi frekuensi nafasnya, yakni hanya 5 kali dalam semenit; oleh karenanya umurnya hingga 400 tahun. Yang lebih rendah lagi adalah ular; ular hanya bernafas 2 sampai 3 kali per menit. Ular umurnya bisa 500 sampai 1000 tahun.

Sehubungan dengan kaitan antara frekuensi nafas dengan kehidupan spiritual, Sri Swami Sivananda menyatakan bahwa, ‘semakin sedikit nafsu keinginan seseorang, semakin rendah frekwensi nafasnya, demikian juga sebaliknya.’ Ia yang mempraktekkan japa, meditasi dan hidup membujang serta mempelajari kitab-kitab spiritual-religius atau kitab-kitab suci, punya frekuensi nafas yang lebih rendah dan punya konsentrasi yang lebih baik. Semakin rendah frekuensi nafas seseorang, juga berarti semakin meningkatnya konsentrasi, dan lebih tenteram hidupnya.

Jadi, semakin jelas bahwa pengaturan nafas bukan saja berkait dengan kesehatan dan umur seseorang, namun terbukti memang memungkinkan konservasi serta pengaturan daya-vital yang baik sehingga amat kondusif dalam pengembangan batin. Yang paling perlu diperhatikan baik-baik adalah, latihan Yoga —jenis apa saja— harus dibawah bimbingan seorang Guru Yoga yang handal, berpengalaman dan terpercaya.Yang pasti, Yoga tak mungkin dipelajari hanya lewat buku-buku.

Citta MEMANIFESTASIKAN CAHAYA KEBIJAKSANAAN DAN TIGA BENTUK TRANSFORMASI CITTA. Melalui penguasaan Samyama, termanifestasikan Cahaya Kebijaksanaan (prajña’lokah). Demikianlah Samyama merupakan proses tiga tahap dalam Yoga. Yang tiga —Dharana, Dhyana dan Samãdhi— ini sudah bersifat lebih internal (antarangam) dibanding yang sebelumnya, walaupun masih lebih eksternal (bahirangam) dibanding Nirbija. [YS III.5 - III.8] Kebijaksanaan (prajña) hadir berangsur-angsur, namun pasti, bersama dengan semakin jernihnya citta. Dalam sutra III.5 diingatkan kalau Samyama hendaknya dialokasikan pada pencapaian Kebijaksanaan; bukan yang lainnya. Bilamana sesuatu yang lebih tinggi dan lebih internal dimungkinkan dengan upaya yang sama, kenapa mesti mengupayakan sesuatu yang lebih rendah dan lebih eksternal? Samyama jelas lebih internal bila dibandingkan dengan Yama, Niyama, Asana, Pranayama dan Pratyãhãra. Ia sepenuhnya fenomena internal, yang berlangsung di dalam tataran batiniah sang penekun, dimana ia tidak lagi terkait dengan prana, apalagi dengan raga. Penarikan perhatian ke dalam atau Pratyãhãra, telah terlaksana. Samyama dan pencapaiannya yang akan dipaparkan dalam sutra-sutra berikut masih lebih eksternal dibanding Nirbija Samãdhi. Tiga Bentuk dan Tiga Proses Transformasi Batin. Nirodha Parinama adalah transformasi citta bersamaan dengan semakin majunya kemampuan pengendalian pikiran berkat musnahnya insting-insting destruktif, baik yang sedang berlangsung maupun yang datang menyusulnya. Alurnya berlangsung dengan kalem, layaknya suatu kebiasaan saja. Bila transformasi citta dihasilkan berkat keberhasilan dalam menyatukan bentuk-bentuk pemikiran yang buyar dan beraneka-ragam itu, ini disebut Samãdhi Parinama. Ekagrata Parinama adalah transformasi citta bila ia dicapai dalam kondisi terpusat dalam kedamaian. Melalui tiga prinsip transformasi (parinama) tersebut, perubahan terhadap bentuk, waktu dan kondisi dari elemen-elemen sensasional kasar maupun halus, dapat diikuti dengan amat jelas—apakah ketika alirannya tenang, aktif, maupun campuran. Perbedaan bentuk transformasi seperti itu, disebabkan oleh perbedaan pada proses yang melandasinya. [YS III.9 - III.15] Masing-masing penekun tentu mempunyai kekuatan atau kelebihan dan kelemahan atau kekurangannya sendiri. Itulah bagian dari keberadaannya. Kekuatan dikembangkan dan disempurnakan, sementara kelemahan dikuatkan dan kekurangannya ditambahkan. Pratipaksa Bhavana, seperti yang telah disebut sebelumnya, adalah metode yang dianjurkan oleh Patanjali untuk ini. Transformasi batin yang dicapai bisa mengambil tiga bentuk, sesuai keberadaan dari penekun itu sendiri. Masing-masing bentuk proses transformasi tersebut tergantung pada keberadaan dan landasan berpijak darimana penekun memulai pendakian spiritualnya ini. Bila seorang penekun berpijak pada kemampuan memusnahkan pengaruh kesan-kesan mental yang bermunculan serta insting-insting destruktifnya, maka ia menggunakan proses Nirodha Parinama; bila ia kuat dalam berkonsentrasi, dalam menyatukan berbagai bentuk dan kebuyaran pikirannya, maka ia menggunakan Samãdhi Parinama. Sedangkan bila ia lebih berkemampuan pada memegang satu objek dengan kuat, sehingga tak ada tempat bagi yang lain kecuali objek tersebut, maka ia disebut menggunakan proses Ekagrata Parinama. Setiap penekun dianjurkan menggunakan bakat, kecenderungan dan kekuatannya masing-masing. Untuk itu, ia tentu mesti tahu terlebih dahulu apa bakat dan kecenderungannya, dan apa kekuatannya yang dapat ia handalkan untuk bertransformasi. Pratyãhãra mengantarkan penekun mengetahui semua itu. Yang pasti, dalam perjalanan transformasi itu perhatian dan kewaspadaan harus senantiasa terjaga alirannya. Segala fenomena dan proses transformatif internal teramati dengan baik, cermat dan seksama. Sang penekun menjadi benar-benar memahami bagaimana sebetulnya ‘berlangsungnya proses perubahan internal’ tersebut. Melalui Samyama terhadap tiga macam proses transformasi tersebut —nirodha, ekagrata dan samãdhi parinama— diperoleh pengetahuan tentang masa lampau dan masa mendatang (atita-anagata jñanam). [YS III.16] Nah…disini jelas disebutkan kalau yang menjadi objek Samyama proses transformasi itu sendiri, sang penekun teranugrahi pengetahuan atau kemampuan untuk dapat menyeberangi tiga-masa. Pada kesempatan terdahulu, saat membahas sutra-sutra terkait dengan Pratyãhãra telah disinggung anjuran untuk menjadikan Pratyãhãra sebagai terminal. Terminal dalam arti suatu pemberhentian, dimana kita istirahat saat datang dari atau akan menuju ke suatu tempat tertentu. Dengan demikian, batin senantiasa dalam keadaan siaga penuh. Bila sewaktu-waktu harus melaksanakan tugas Samyama, batin tak perlu mengumpulkan serpihan-serpihan pikiran yang terpencar terlebih dahulu. Dengan berterminal pada Pratyãhãra, disamping kesiagaan di peroleh, juga enerji vital terkonservasi dengan baik dan siap sewaktu-waktu digunakan sebagai daya dorong roket Samyama. Agar tak terlalu meruwetkan, bayangkanlah sebuah roket pelontar dan pengorbit sebuah satelit. Ia butuh tenaga besar untuk melawan gravitasi dan keluar dari atmosfir. Untuk itu ia butuh hidrogen cair dalam jumlah besar, yang ditempatkan dalam beberapa tangki secara tersusun bertingkat-tingkat. Tidak semua tangki dibawanya ke luar-angkasa, yang tanpa bobot itu. Tangki paling bawah dilepas bersamaan dengan tercapainya ketinggian tertentu, langsung disusul dengan berfungsinya tangki berikutnya. Demikian seterusnya, transformasi terjadi silih-berganti hingga satelit mencapai orbit-geostiosinernya. Bandingkan formasi roket yang berbeda-beda pada setiap tahap ini sebagai proses parinama, dimana tangki bahan-bakarnya yang tersusun itu sebagai prana; dan pesawat ulang-aliknya sendiri sebagai citta. Nah….memandang dari orbit-geostiosinernya itu, pesawat —yang kini berfungsi bak satelit— dapat mengamati dengan jelas apa yang terjadi di bumi dan sekitarnya. Disana ia juga bergerak dengan amat ringan, karena disana tak bekerja gravitasi. Demikianlah kurang-lebih kita membayangkan proses Samyama terhadap parinama ini, untuk lebih memudahkan.

Oleh: Gusti Sudiartama | Juni 16, 2012

Yoga Sutra(09). KRIYA YOGA, MENGAWALI PENDAKIAN SPIRITUAL.

 Memasuki Sãdhana Pãda, berarti memasuki paparan spiritual praktis dalam rangka mencapai Samãdhi, dalam berbagai kategori, seperti yang dipaparkan dalam Samãdhi Pãda sebelumnya. Dalam Samãdhi Pãda kita telah disajikan idealisasi-idealisasi terpenting dari Yoga untuk dicapai; dan kini, Patanjali mulai memaparkan bagaimana mencapai semua itu.

Sãdhana Pãda, sebagai paparan praktis praktek spiritual, dibuka oleh Patanjali dengan Kriya Yoga melalui dua sutra berikut.

Hidup sederhana dengan penuh kedisiplinan (tapa), mempelajari ajaran-ajaran suci secara mandiri (svadhyaya), dan penyerahan diri, kerja dan hasil kerja dalam pengabdian kepada-Nya (Isvarapranidhana) guna meraih penunggalan, disebut Kriya Yoga. 
Ini dilaksanakan guna melenyapkan kléša dan mencapai Samãdhi.
[YS II.1 dan II.2]

Tapa, Svadhyaya dan Isvarapranidhana merupakan tiga sadhana utama dari Kriya Yoga. Swami Satya Prakas Saraswati menyebutnya sebagai ‘Yoga Pendahuluan’. Kenapa disebut ‘Pendahuluan’?
Ketiga sadhana utama yang termaktub dalam Niyama hanyalah tiga dari lima disiplin mental Niyama. Seperti dimaklumi —dan akan dijelaskan pada sutra-sutra berikutnya—Niyama merupakan tahapan kedua dalam delapan tahap Yoga-nya Patanjali, dan hanya diperuntukkan sebagai pembentuk sikap batin yang merupakan landasan moral dari seorang Raja Yogi. Bila hanya tiga dari disiplin moral-spiritual (brata) saja sudah layak memperoleh sebutan Kriya Yoga, dapat dibayangkan betapa tingginya ajaran Ashtanga Yoga yang dipersembahkan Patanjali kepada umat manusia ini.

Kriya Yoga diperuntukkan guna melenyapkan kléša atau kekotoran batin, yang merupakan hambatan-hambatan utama dalam praktek Yoga. Batin yang telah lenyap kekotorannya menjadi suci atau murni (sauca). Sementara itu sauca sendiri juga merupakan salah-satu disiplin dalam Niyama. Ada kepaduan langkah pengembangan batin yang menyeluruh, hanya dalam praktek Niyama saja. Kendati disebut sebagai ‘pendahuluan’ itu sudah dikategorikan sebagai Yoga. Di Barat, Kriya Yoga ini dipopulerkan oleh Sri Paramahamsa Yogananda. Mengenai kléša akan dibicarakan pada sutra II.3 sampai dengan II.9.

Menurut Shrii Shrii Anandamurti, Tapa diterapkan dengan menahan kesulitan-kesulitan fisik maupun mental demi kebahagiaan orang atau makhluk lain dan melakukan pengabdian tanpa pamerih. Dikatakan juga bahwa Tapa, sebagai pengabdian tanpa pamerih sendiri, ada empat jenis ragamnya, yakni:
• Bhuta Yajña —pengabdian untuk kepentingan alam ciptaan.
• Pitra Yajña —pengabdian kepada nenek-moyang atau leluhur.
• Adhyatma Yajña —pengabdian lewat jalan spiritual.
• Nr Yajña atau Manusa Yajña —pengabdian untuk kepentingan sesama manusia.
Jadi Yajña, persembahan suci yang tulus ikhlas ini, juga dimaknai sebagai pelaksanaan Tapa oleh guru besar pendiri Ananda Marga itu. Pandangan ini ternyata sejalan dengan wejangan Sri Krishna dalam Bhagavad Gita IV.28: “Ada yang beryajña dengan harta-benda miliknya (drawya yajña), beryajña dengan Tapa (tapa yajña), beryajña dengan Yoga (yoga yajña) dan yang lainnya ada pula yang beryajña dengan Svadhyaya (svadhyaya yajña), serta dengan Jñana (jñana yajña); demikianlah mereka yang taat melaksanakan disiplin hidup kerokhanian (vrata).” Dua sutra pembukaan tadi ternyata memperoleh dukungan kuat dari Bhagavad Gita; bentuk-bentuk persembahan dalam Isvarapranidhana-pun dipaparkan, sebagai praktek langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Bhagavan Sathya Narayana, dalam “Jñana Vahini”, membedakan Tapa atas 3 hal, yakni: Tapa Mental, Tapa Fisik dan Tapa Pembicaraan. Pembagian dan penjelasannya tentang ketiga hal yang di-tapa-kan ini, amat mirip dengan konsep etika-moral Hindu, Trikaya Parisuddha, yang sudah tak asing lagi di Nusantara, terdiri dari:
• pensucian pikiran (manacika),
• pensucian ucapan (wacika) dan
• pensucian perbuatan (kayika).
Ini merupakan upaya pensucian integral terhadap tiga modus utama perbuatan. Dalam Trikaya Parisuddha secara inklusif terangkum hampir semua landasan moral-etik Yoga, Yama-Niyama. Ia juga mewakili pelaksanaan tiga dari Jalan Utama Beruas Delapan dari Buddhisme, yakni: Pikiran Benar (sammã-sankappa), Ucapan Benar (sammã-vaca) dan Perbuatan Benar (sammã-kammanta). Secara praktis, membiasakan tiga etika-moral-spiritual (abhyasa) ini mengantarkan pada vairagya dan viveka, yang akan amat diperlukan demi terjaminnya pencapaian tujuan akhir.

Kena Upanishad menyebut Tapa sebagai salah-satu tiang Brahmavidya (Pengetahuan Ketuhanan), disamping Dama (pengekangan diri) dan Karma (kegiatan dalam kebajikan). Dalam Prasna Upanishad-pun Tapa mendapat tempat istimewa dengan ditekankannya secara berulang-ulang. Swami Satya Prakas Saraswati menyebutkan toleransi, kesabaran dan latihan yang terus menerus dengan tekun sebagai tiga aspek dari Tapa, yang mematangkan seorang siswa spiritual (sadhaka). Setiap usaha untuk mencapai pengalaman duniawi maupun transenden merupakan Tapa. Hanya dalam artian yang terbatas sajalah Tapa diartikan sebagai kesederhanaan. Disebutkan pula, secara menyeluruh Tapa dilakukan bukan saja pada lima indria sensorik dan lima indria motorik, akan tetapi juga dilakukan bagi sikap mental dan daya vital (prana). Jadi, Tapa merupakan upaya pensucian menyeluruh, lahir maupun batin. Manusmrti —kitab suci Smrti yang hingga kini masih paling sering diacu dalam jenisnya—juga menyebutkannya demikian.

Di dalam Manusmrti atau Manava Dharmasastra Tapa dan Brata dipaparkan secara panjang lebar dalam banyak sloka-slokanya. Beberapa diantaranya, yang khusus menyangkut Tapa pada adhyaya XI, dikutipkan berikut ini.
 
Para Rshi mengendalikan diri beliau dengan hidup hanya dari buah-buahan, umbi-umbian dan udara, beliau mengarungi triloka bertemu dengan makhluk bergerak maupun tidak bergerak, hanya melalui kesucian Tapa.
Apapun yang sukar untuk dilalui, apapun yang sukar untuk dicapai, apapun yang sukar untuk diperoleh, apapun yang sukar untuk dilakukan, semuanya dapat dicapai dengan kesucian Tapa, karena Tapa mempunyai kekuatan untuk melintasinya. Mereka yang telah melakukan dosa besar dan beberapa kesalahan lainnya, dapat dibebaskan dengan melakukan Tapa. Serangga, ular, ngengat, kumbang, burung dan makhluk lainnya, berhenti bergerak dan mencapai surga hanya karena Tapa-nya. Apapun dosa-dosa yang telah diperbuat oleh seseorang melalui pikirannya, perkataannya ataupun perbuatan-perbuatannya, semua dapat dimusnahkan dengan segera melalui Tapa-nya yang teguh, terjaga bak hartawan menjaga kekayaannya. Para Dewa-Dewa menerima setiap persembahan para Brahmana, yang telah disucikan oleh Tapa-nya, akan menerima pahala dan dikabulkan semua permintaannya. Yang Maha Kuasa, Hyang Prajapati, menciptakan lembaga suci itu melalui Tapa-Nya; demikian pula halnya dengan para Rshi, menerima wahyu Veda karena Tapa mereka. Para Dewa-Dewa melalui Tapa-nya kembali ke alam kesucian; demikianlah keutamaan dari Tapa.” [MDs. XI: 237, 239, 240, 241, 242, 243, 244 dan 245]

Dalam banyak pustaka suci dan ajaran mental-spiritual Tapa berkait erat dengan Sauca, pensucian lahir-batin (yang dibicarakan nanti dalam pembahasan sutra II.40 dan II.41); dan menduduki posisi fundamental dalam praktek kehidupan spiritual. Tapa berkaitan langsung dengan kehidupan suci itu sendiri. Bahkan, para rshi di jaman dahulu menerima wahyu-wahyu melalui kehidupan suci ini.
Svadhyaya adalah upaya mempelajari kitab-kitab suci atau kitab-kitab spiritual-filosofis secara mandiri, guna memperoleh pengertian yang sejelas-jelasnya tentang hakekat yang terkandung di dalamnya. Mempertanyakan (vicara), melakukan analisa-analisa penalaran (vitarka), maupun perenungan-perenungan mendalam serta perbandingan dengan kejadian sehari-hari terhadapnya, merupakan beberapa langkah dalam pembelajaran secara mandiri yang amat bermanfaat dalam memberi pengertian serta menumbuhkan pemahaman yang baik dan kian mendalam. Yang pasti, svadhyaya hendaknya tidak hanya diartikan sebagai membaca saja, belajar dari buku-buku saja, mengingat setiap bait sloka atau sutra, bahkan setiap kata dari kitab-kitab suci atau kitab-kitab spiritual-filosofis—seperti Yoga Sutra ini misalnya—mempunyai makna yang padat dan dalam. Mereka tak dapat dipahami dengan baik, bila hanya mengartikan secara harfiah, seperti membaca koran, atau buku-buku pelajaran sekolahan saja.
Mereka yang hanya berpegang dan terpatok pada arti harfiah, dan memperlakukan kitab-kitab ajaran hanya seperti buku-buku pelajaran sekolahan, dapat dipastikan akan memperoleh pemahaman yang amat dangkal, sebatas kata-kata saja. Cara pembelajaran seperti inilah yang punya andil besar di dalam melahirkan sikap dogmatis, yang menjurus pada fanatisme. Dalam masyarakat heterogen, global dan terbuka seperti sekarang ini, sikap-sikap dogmatis dan fanatis bisa amat membahayakan masyarakat luas dan juga penganutnya. Bukti-bukti tentang fenomena ini, dapat kita lihat dengan mudah di sekeliling kita.
Dalam proses pembelajaran secara mandiri ini, ‘mengetahui’ adalah yang mula pertama diperoleh. Apa yang kita ketahui harus dimatangkan lagi sehingga kita menjadi benar-benar ‘mengerti’. Dari sinilah tumbuh pengertian-pengertian tentang apa yang diketahui tersebut. Bersama dengan berjalannya waktu, mendengar, membandingkan, bertukar-pikiran atau berdiskusi dengan mereka yang telah lebih dahulu mengetahui atau mengerti, apalagi berpengalaman, secara akumulatif akan membentuk ‘pengertian’ yang semakin baik, lengkap dan kian mendalam tentang apa yang kita pelajari. Melalui perenungan-perenungan serta pembuktian-pembuktian seperlunya, pengertian kita lambat laun meningkat menjadi ‘pemahaman’. Nah….dengan semakin halus dan mendalamnya ‘pemahaman’ kita, pengetahuanpun semakin mengembang dengan sendirinya. Yang pasti, dalam Yoga Sutra ini Patanjali telah telah menegaskan bahwa ‘pengamatan langsung (pratyaksa), penyimpulan (anumana) dan penegasan para bijak dan kitab-kitab ajaran (agama), membentuk suatu rangkaian metode penalaran yang baik’.
Isvarapranidhana adalah penyerahan diri kepada Isvara (Tuhan), dengan menerima sepenuhnya serta menjadikan-Nya sebagai satu-satunya perlindungan. Bahkan disebutkan, nanti dalam sutra II.45, bahwa pencapaian Samãdhi merupakan siddhi dari praktek Isvarapranidhana. Menurut Swami Satya Prakas Saraswati, ia merupakan suatu istilah spiritual-teknis khusus ciptaan Patanjali, yang tidak disebut-sebut oleh Maharshi Kapila dalam Sankhya Darsana-nya.
Bilamana ketiganya diterapkan dengan baik dan benar, walaupun ia disebut sebagai “Yoga Pendahuluan”, memberikan nilai manfaat spiritual yang tinggi kepada penekunnya. Ia menumbuhkan sikap batin yang kokoh, mantap, untuk mulai melanjutkan ke jenjang-jenjang berikutnya dengan pemahaman yang baik, dan tanpa disertai sikap-sikap dogmatis dan fanatis. Iapun mengarahkan penekun menjauh dari sikap ekstrim atau mempertontonkan ke-ekstrim-an pada khalayak.
Dalam Jñana Vahini, Bhagavan Sathya Narayana bahkan menyatakan bahwa melalui Tapa (dalam arti luas) saja, seseorang dapat mencapai tingkat yang tertinggi. Bukan main memang kekuatan yang dapat dihasilkan Yoga guna mencapai realisasi Diri-Jati dan Kebebasan.
Dipublikasikan di majalah Media Hindu No. 15 — Edisi Mei 2005.

Oleh: Gusti Sudiartama | Juni 16, 2012

Yoga Sutra(10). Hambatan Utama Dan Kiat Memusnahkannya

Kebodohan atau kegelapan batiniah (avidya), egoisme (asmita), kelekatan atau kecintaan ragawi (raga), kebencian (dvesa), dan kecintaan yang amat sangat pada kehidupan sehingga amat takut mati (abhinivesa) adalah lima kekotoran batin penghambat (panca kléša). Avidya merupakan ‘bidang gerak’ bagi yang lainnya; apakah mereka terpendam, kemudian menghilang, teratasi, ataupun malah lebih meluas.

Terhubung dengan yang tak-kekal, tak-murni, yang bukan-jiwa, yang dalam kondisi menyedihkan, yang kekal, murni, kesadaran dari jiwa —yang sebetulnya berbahagia—juga jadi terselimuti oleh avidya.
Ada dalam liputan kabut asmita, Sang Subjek tampak teridentifikasikan dengan kekuatan penglihatan.
Terbenam di dalam kenikmatan dunia dan ragawi adalah kemelekatan atau kecintaan (raga);
(Sebaliknya) tersusupi oleh penderitaan sehingga menimbulkan sikap penolakan adalah dvesa.
Seakan-akan mengalir dengan sendirinya demikian, bahkan seorang bijak-pun masih bisa mencintai hidupnya ini dan takut pada kematian (abhinivesa).
[YS II.3 - II.9]

Disebutkan bahwa avidya adalah cikal-bakal Samsara. Yang satu ini memang amat patut untuk ditakuti oleh seorang penekun jalan spiritual, yang mendambakan kebebasan. Berpangkal pada avidya inilah bermunculan kléša-kléša yang lainnya, yang pada gilirannya menjadi sumber dari segala sumber penderitaan; persis seperti disebutkan bahwa, Avidya merupakan ‘bidang gerak’ bagi yang lainnya, apakah mereka terpendam, menghilang, teratasi, ataupun malah lebih meluas.
Sebaliknya, terhapusnya avidya oleh vidya, berarti meniadakan ‘bidang gerak’ dari kléša-kléša yang lainnya, sehingga merekapun tiada menemukan pijakan dalam batin kita. Dalam konteks ini, vidya dikelompokkan dalam dua kelompok besarkan yakni Paravidya (pengetahuan duniawi atau yang umum sifatnya) dan Aparavidya atau Brahmavidya (pengetahuan spiritual-filosofis, kebenaran atau ketuhanan). Penguasaan Paravidya menunjang pencapaian Brahmavidya, bila diarahkan dengan baik. Ia juga mengkondisikan dan menunjukkan bukti-bukti konkret, yang mudah dicerap dan dimengerti, atas nilai-nilai luhur dan kebenaran yang terkandung didalam Brahmavidya. Oleh karenanyalah, Brahmavidya dapat pula disebut Dharmavidya.
Bukan saja sebagai penunjang dan pengkondisi, Paravidya juga merupakan bekal hidup pada kehidupan ini. Ia memberi kemudahan-kemudahan dalam menjalani hidup. Apa yang kita sebut sebagai sains dan teknologi adalah Paravidya itu adanya. Bukankah penguasaannya memberi kemudahan-kemudahan dan kenyamanan fisik dan psikis bagi manusia? Akan tetapi, terhenti dan mandek hanya sampai disana, bukan saja perlu disayangkan namun bisa berbahaya bagi penguasanya. Peningkatan penguasaan Paravidya, mutlak perlu di-imbangi dengan dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk meraih Brahmavidya. Ini sejalan dengan lontaran Albert Einstein, yang terkenal: “Pengetahuan tanpa agama adalah pincang. Sedang agama tanpa pengetahuan adalah buta.” ini. Dengan penuh keyakinan ia juga mengemukakan pandangannya: “Setiap orang yang terlibat secara serius di dalam pencarian pengetahuan, menjadi yakin bahwasanya, ada suatu jiwa termanifestasikan pada hukum semesta raya —jiwa yang secara luas superior terhadap jiwa-jiwa manusia, dan sesuatu dimana di hadapan-Nya, kita beserta kekuatan mutahir kita terasa sedemikian lemahnya.”
Avidya melahirkan ke-aku-an semu (asmita); hadirnya asmita melahirkan suka-tidak-suka (raga-dvesa); segala penilaian yang berdasarkan atas raga-dvesa, semakin mempertebal kabut avidya dan memperkuat asmita. Dengan semakin kuatnya asmita, mempertebal kepemilikan atas segala sesuatu, termasuk hidup atau kelahiran ini. “Kekayaan-ku, keluarga-ku, anak-ku, istri-ku, suami-ku, tubuh-ku, diri-ku, hidup-ku….dll.”, demikianlah ungkapan mereka yang tebal dan kuat asmita-nya. Dengan demikian abhinivesa berkembang dengan subur.
Namun jangan keliru, mengikis abhinivesa bukan berarti membahayakan atau menyiksa diri, atau sebaliknya menyia-nyiakan kelahiran dalam jasad manusia ini dengan cara memanjakannya. Kitab Sarasamuschaya menegaskan bahwa, hendaknya kelahiran dalam jasad manusia, yang sangat berharga ini dimanfaatkan sebaik-baiknya. Dimanfaatkan untuk memupuk kebajikan dan mencapai kebebasan. Bagaimana itu bisa dilakukan? Dalam sutra-sutra berikut akan kita temukan penjelasannya.
Kiat Memusnahkan Hambatan-hambatan.
 
Semua itu dapat diatasi lewat perambatan yang berlawanan (pratiprasava) menuju penghalusannya (suksmah).
Meditasi (dhyana) mengatasi pengaruh pusaran atau modifikasi (vritti)-nya.
Panca kléša menyebabkan pola-pola perbuatan yang menyebabkan derita dalam kehidupan ini maupun kehidupan berikutnya.
Selama akar-akarnya semula masih ada, mereka mematangkan tumimbal-lahir ke dalam golongan, kehidupan dan pengalaman makhluk hidup.
Mereka menyajikan pahala berupa ‘kebahagiaan’ atau penderitaan, yang disebabkan oleh kebajikan atau kejahatan.
[YS II.10 - II.14]

Yang menarik untuk dicermati lebih jauh adalah apa yang disebut dengan istilah ‘pratiprasava’ atau mengatasi suatu kecenderungan melalui perambatan atau menghadirkan serta membiasakan yang berlawanan dengannya. Ini dapat disebut sebagai suatu ‘metode tandingan’, metode untuk memusnahkan yang buruk dengan menandinginya dengan yang baik, atau sejenis itu. Prinsip atau esensi serupa diulang lagi nanti pada sutra II.33 oleh Patanjali dengan menyebutnya sebagai: Pratipaksa Bhavana. Inilah metode praktis dalam yogasadhana yang diajukannya.
Bila panca kléša juga menghadirkan ‘kebahagiaan’ —seperti yang disebutkan dalam sutra II.14.—mengapa mesti dihapus? Pertanyaan seperti itu bisa saja muncul dalam benak kita bukan? Sesungguhnya, dalam sutra sebelumnya, secara implisit, pertanyaan ini telah dijawab. Tujuan utama kita adalah terbebas dari lingkaran tumimbal-lahir yang tiada berkesudahan, yang tiada lain dari rangkaian kesengsaraan dan penderitaan. Samsara, sesungguhnya juga terbaca Sangsara; seperti juga Ahamkara dibaca Ahangkara, dan yang lainnya.
Kebahagiaan yang disebutkan tadi, yang merupakan pahala dari kebajikan adalah kebahagiaan temporer dan semu, yang diperoleh dalam kehidupan berjasad (kasar maupun halus) berupa kenikmatan-kenikmatan pemenuhan nafsu dan keinginan-keinginan yang tak terhitung banyaknya itu; bukan kebahagiaan sejati, anandam.
Bagi seorang pertapa yang telah menghacurkan kesan-kesan pengalamannya (samskara) dan mengembangkan daya memilih dan memilah-milah (viveka) memahami bahwa berbagai derita (dukha) yang disebabkan oleh perubahan-perubahan (vritti) bentuk-bentuk pikiran dan perasaan yang berlawanan (rwabhinneda, seperti: senang-susah, untung-rugi, sehat-sakit dsb.)
dan pengaruh tiga sifat (sattva, rajas dan tamas) adalah derita adanya.
Dukha yang belum muncul (anãgata), dapat dihindari.
Penghindaran dimungkinkan melalui peniadaan sebabnya;
sebabnya adalah ‘si pengamat’ (drastr) mengidentifikasikan-diri sebagai ‘yang diamati’ (drsyayoh).
[YS II.15 - II.17]

Dalam dua sutra terakhir dengan gamblang disebutkan bahwa, sebab dari dukha adalah adanya kecenderungan manusia untuk mengidentifikasikan-diri sebagai ‘yang diamati’ (drsyayoh). Kecenderungan inilah yang menimbulkan hasrat untuk memiliki atau ‘ingin menjadi’. Inilah yang menggerakkan atau menjadi motivasi utama manusia untuk berbuat dan berbuat atau menghindari perbuatan tertentu. Hampir semua aktivitasnya bersandar pada motivasi ini. Semakin sempit lingkup manfaat aktivitasnya, semakin menguatlah asmita-nya.
Namun secara keseluruhan, secara lebih luas lagi, paparan dalam kedua sutra itu menunjukkan satu prinsip dasar yakni ‘meniadakan akibat dengan cara meniadakan sebab yang mendahuluinya.’ Inilah sesungguhnya pengejawantahan dari Hukum Kausalitas Universal yang mendasari semua kejadian dan ciptaan. Paradigma ini akan lebih diperjelas lagi dalam sutra-sutra berikut.
Dipublikasikan di majalah Media Hindu No.16—Edisi Juni 2005

Oleh: Gusti Sudiartama | Juni 13, 2012

Nunas Ica

Dulu.. ketika ke pura dimaknai sebagai saat “ngayah”, saat  yang dinanti-nanti karena saat  itulah seorang bhakta memiliki kesempatan untuk melakukan sesuatu yang berarti bagi Sang Maha Pencipta. Ketika itu ngayah masih boleh mendominasi kehidupan masyarakat Bali, belum dikenal kerja di hotel, di kantoran, segala aktivitas dimaknai sebagai sebuah ritual, sebagai sebuah bhakti, belum dikenal “Time is Money” , Masyarakat akan sangat sukarela menghentikan kegiatannya untuk ngayah…   ujungnya hanyalah sebuah ritual sederhana “nyakupan tangan karo ==Nunas Ica==” , bukan nunas urip, bukan nunas merta, bukan pula nunas kemakmuran, tapi nunas ica.

Saat ini ketika jagat Bali sudah demikian maju, jalan-jalan sudah sangat banyak, kendaraan apalagi…  kehidupan masyarakat-pun sudah sangat maju, bahkan dibandingkan dengan tempat lain di Indonesia Bali boleh dikata ada di level atas. Kini  ritual telah dikemas dengan konsep manajemen, upakara ditata dengan tuntunan sastra, banten dimaknai dengan sangat apik, karena telah ditemukan atau dicarikan rujukan sastranya…  akal budi manusia telah semakin maju … semuanya harus dijabarkan dengan logika,   jawaban nak mulo keto, sangat tidak bisa diterima … karena sangat bertolak belakang dengan semangat ”menata dan merasionalisasi” upacara dan upakara. Bahkan doa pemangku yang dulu cukup dengan “sesontengan”  apa adanya tidak lagi bisa diterima, mantra yang diucapkan oleh pemangku dan pandita harus jelas didengar, bila perlu dipasang speaker agar semua pemedek mendengar “getaran mantra” yang diucapkan oleh pandita, sungguh sebuah semangat yang luar biasa, nunas ica-pun mulai dimaknai sebagai mengungkapkan permohonan yang beribu-ribu macamnya, “ica”-pun sudah tidak lagi menjadi permohonan utama.

 Nunas Ica.. kenapa nunas ica ?.. kalau saya terjemahkan… kurang lebih mohon senyum, atau memohon agar bisa tersenyum…   sebuah permohonan yang sangat sederhana…  namun sangat sarat makna.

Hidup tidak pernah lepas dari dualitas, senang-sedih, tangisan dan tawa bahagia, sudah merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan. Manusia dalam kehidupannya tidak akan pernah mampu keluar atau terlepas dari hukum ini… Semua peristiwa yang hadir… kejadian apapun yang  telah terjadi bahkan yang akan terjadi esok hari… adalah bagian yang tak terpisahkan dari guratan tangan. Para tetua bali telah sangat paham akan hukum alam ini, sangat paham akan hukum sebab akibat, namun mereka tidak memohon untuk terbebas dari akibat perbuatan, tapi selalu memohon untuk bisa tersenyum, agar selalu dianugrahi senyum dalam menjalani guratan kehidupan, selalu bisa tersenyum disaat kehidupan mengajarkan  kesedihan bahkan kehilangan orang yang dikasihi . Selalu “nyakupan tangan karo Nunas Ica” bahkan disaat malaikat maut datang menjemput sekalipun, karena bagi mereka yang paham akan hakekat kehidupan senyum yang hadir dari dalam, senyum yang tulus adalah obat sekaligus senjata  untuk menang dalam pertempuran Bharata Yuda kehidupannya. Senyum yang tulus membutuhkan kekuatan batin , sangat mudah bibir ini tersenyum dikala apa yang diharapkan terkabul, namun senyum harus tetap diperjuangkan untuk hadir didalam kesedihan tengah memaparkan makna hidup…   hanya dengan senyum… keikhlasan itu mendekat… karena hanya dengan senyum yang tulus, senyum yang hadir dari dalam, kekuatan batin itu hadir.

Oleh: Gusti Sudiartama | Juni 12, 2012

Yoga Sutra(11). Musnahnya Identitas Diri Dalam Pencerahan

MUSNAHNYA IDENTITAS-DIRI DALAM PENCERAHAN.. Kejelasan bahwasanya kegiatan (kriya), dan pemeliharaan kelangsungannya (sthiti) di dalam kegiatan mengamati, hanya merupakan kehebatan dari bekerjanya elemen-elemen dasar (bhuta) dan sensasi-sensasi indriawi, yang terbentuk dari sari-sari makanan (bhoga); makanya, pengalaman yang diperoleh dari pengamatan itu hendaknyalah ditujukan hanya demi meraih Kebebasan. Baik yang universal maupun tidak universal, yang pasti maupun yang tak-pasti, hanyalah tahapan-tahapan spesifik dari bekerjanya tiga sifat-dasar, triguna (sattvam, rajas dan tamas). Si pengamat sesungguhnya hanyalah matra persepsi murni (drsimatrah suddho); walaupun demikian, pengamatan berlangsung melalui campur-tangan citra mental. Padahal semua itu hanya dimaksudkan untuk pencarian Sang Diri-Jati lewat mengamati semesta (drsyasãtma). Walaupun semua itu musnah bagi Sang Yogi yang telah tercerahi, namun belum bagi kebanyakan orang. [YS II.18 - II.22] Ditegaskan kembali disini bahwasanya setiap kegiatan yang dilakukan manusia melalui segenap indria-indrianya hendaknya ditujukan bagi tercapainya Kebebasan itu sendiri—tentunya termasuk kebebasan dari kungkungan indria-indria itu sendiri. Terlebih lagi kalau telah disadari bahwa semua itu hanya kerja dari sintesa lima elemen-elemen dasar (mahabhuta) pembentuknya yang kita peroleh dari sari-sari makanan dan minuman yang dikonsumsi, yang punya tiga sifat-dasar—aktif, pasif dan netral. Si pengamat sendiri bukan semua itu. Ia bukan pelaku. Ia matra persepsi murni yang tiada tercemar. Sayangnya, di dalam melangsungkan pengamatan campur-tangan beraneka citra mental atau kesan-kesan batin—yang terbentuk pada pengalaman-pengalaman sebelumnya—menodai kemurnian persepsinya. Terbitnya serta semakin dimatangkannya viveka merupakan pencerahan buddhi, yang hanya dipengaruhi guna sattvam. Pencerahan ini merupakan ‘pencerahan awal’, sebagai pijakan yang semakin berkembang lewat penguasaan jñana menuju semakin bersinarnya kebijaksanaan (prajña). Semua ini mesti diperjuangkan secara mandiri, bukan secara kolektif atau massal. Pencerahan yang dihasilkannyapun langsung dirasakan hanya oleh Sang Yogi sendiri. Oleh karenanya pula disebutkan bahwa, ‘walaupun semua itu musnah bagi Sang Yogi yang telah tercerahi, namun belum bagi kebanyakan orang’. Tidak seperti Bhakti dan Karma Yoga yang memang dirancang sebagai praktek kolektif atau massal, Raja Yoga jelas merupakan praktek pribadi yang mandiri. Pada tahap-tahap awal saja sang sadhaka masih punya ketergantungan besar kepada Guru-nya ataupun saudara seperguruannya; selanjutnya, secara berangsur-angsur mau-tak-mau ia mesti semakin mandiri, hingga akhirnya sepenuhnya mandiri. Hanya sesudahnyalah beliau benar-benar mampu dan berkompeten memberikan petunjuk dan bimbingan bagi awam di jalan kecerahan dan kebebasan ini. IDENTIFIKASI-DIRI DAN KEMUSNAHAN IDENTITAS-DIRI SEMU Penyamaan (samyoga) antara orang yang memiliki kekuatan-kekuatan spiritual dengan kekuatan-kekuatan spiritual (sakti) yang dicapainya itu sendiri, melahirkan ‘identitas-diri semu’ (swarupopalabdhi). Femomena itu disebabkan oleh Avidya. Sebaliknya, dengan tidak hadirnya penyamaan itu, musnah pulalah ‘identitas-diri semu’ ini; inilah yang menghadirkan Kebebasan (kaivalyam) bagi si pengamat (drseh). [YS II.23 - II.25] Samyoga disini adalah identifikasi-diri terhadap berbagai hal atau segala sesuatu. Di permukaan ia berupa sikap ‘mengakui’, yang juga butuh ‘pengakuan’ pihak luar. Bila identifikasi ini tertuju pada pencapaian-pencapain dalam Yoga, nyaris pasti menimbulkan keangkuhan, atau setidaknya rasa bangga-diri. Akibatnya, ke-aku-an (asmita) dibuatnya kian menjadi-jadi. Identifikasi-diri seperti ini telah menjadi kebiasaan mental kita. Di kalangan pejalan spiritual, bentuk halusnya adalah idenfikasi-diri pada Guru-nya. Fenomena ini didorong oleh rasa ‘ingin menjadi’. Ia ingin menjadi ‘seperti’ Guru-nya. Walaupun ini teramat sangat halus —dan oleh karenanya seringkali diwajarkan — hadirnya viveka memungkinkan sang penekun menyadarinya. Bila belenggu halus dan kuat ini telat disadari, ia menjadi semakin halus dan semakin kuat daya-ikatnya. Ia akan amat sulit dikendorkan, apalagi dilepas. Akibatnya, kebebasan yang dicita-citakanpun tak kunjung datang. Ini sangat patut diwaspadai oleh setiap sadhaka.

Tulisan Sebelumnya »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.