Oleh: Gusti Sudiartama | April 14, 2014

Cuntaka terkait Ngaben ngelanus dan mekingsan di geni

KEPUTUSAN

PARUMAN SULINGGIH

TINGKAT PROVINSI

TH. 1994/1995

TENTANG

NGABEN DAN TATA CARA

MEMBAWA PULANG ABU JENAZAH

 

 

1. Tentang Cuntaka dalam hubungan ngaben Tumandang mantri dan ngelanus.

a. Yang dimaksud dengan Ngaben Tumandang Mantri adalah apabila hari saat meninggalnya dilanjutkan dengan upacara pengabenan, hingga nyekah hari itu juga.

b. Yang dimaksud dengan Ngaben Ngelanus adalah apabila antara pelaksanaan upacara pengabenan dengan upacara Nyekah tidak berselang dan pada hari yang sama.

c. Upacara pengabenan yang dilanjutkan dengan Nyekah (Ngelanus) tidak memperhitungkan cuntaka lagi, dengan dilaksanakannya upacara pemarisudha seperti biyakaon, prayascitta, caru dan upacara pembersihan lainnya.

 

Ngaben

2. Meninggal di luar daerah dan tata cara membawa pulang abu jenazah.

 

a. Setiap jenazah yang sudah pernah diupacarai di Setra dengan upacara yang berhubungan dengan kematiannya, baik yang masih berupa jenazah maupun yang dibakar berupa abu jenazah, tidak dibenarkan untuk dibawa pulang atau masuk ke wilayah Desa Adat.

b. Apabila jenazah tersebut belum mendapat upacara yang berhubungan dengan upacara kematiannya, dapat dibenarkan bila akan dibawa pulang, baik yang masih berwujud jenazah, maupun yang sudah dibakar berupa abu jenazah.

 

3. Upacara Ngulapin di Setra dalam hubungan dengan upacara pengabenan.

a. Ngulapin di Setra (kuburan) dalam hubungannya akan dilaksanakan upacara Pengabenan tidak dibenarkan untuk mengambil dan membawa tanah Setra ke rumah/tempat dilaksanakan upacara Pengabenan.

b. Tata cara pelaksanaan upacara Ngulapin di Setra dalam hubungan akan dilaksanakan upacara Pengabenan sesuai dengan ketentuan sastra agama.

 

4. Tentang Makingsan di Geni dan mengabukan jenazah.

Makingsan di Geni pada dasarnya bukan merupakan upacara Pengabenan, melainkan setingkat dengan upacara Penguburan biasa. Bedanya jenazah tidak dikubur, melainkan dibakar. Apabila dimaksudkan seperti itu, maka setelah selesainya membakar, abunya agar dibuang ke laut (anyut).

Sedangkan apabila dimaksudkan untuk mengabukan sambil menunggu upacara pengabenan yang segera dilaksanakan maka setelah selesai dibakar, abunya dapat disimpan dengan periuk atau tempat lainnya dan selanjutnya ditaruh pada tempat darurat (asagan) yang ditempatkan di Setra.

 

5. Tentang Ngaben Ngelungah

Bayi yang berumur 42 hari hingga sebelum tanggal gigi, bila meninggal dunia agar segera dikubur. Upacara selanjutnya, yaitu Ngelungah dapat dilaksanakan bilamana ada kegiatan upacara pengabenan yang lain.

 

6. Tentang yang berhak muput upacara Pengabenan

Yang berhak muput upacara pengabenan adalah Sulinggih (Dwijati) sesuai dengan yang telah diputuskan pada Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-aspek Agama Hindu.

 

Oleh: Gusti Sudiartama | Maret 27, 2014

Kepemimpinan dalam perspektif pemilu 2014

Didalam ajaran agama Hindu konsep kepemimpinan di jelaskan didalam ajaran asta brata, atau delapan karakter yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin mulai dengan :

  1. Indra Brata = Artinya pemimpin hendaknya laksana  Dewa Indra sebagai dewa  pemberi hujan, memberi kesejahtraan kepada  seluruh rakyat, tanpa kecuali .
  2. Yama Brata = Artinya pemimpin harus berani menegakkan, menegakkan hukum dan memberikan hukuman secara adil kepada setiap orang yang bersalah, laksana dewa Yama.
  3. Surya Brata = Hendaknya pemimpin memberikan penerangan secara adil dan merata kepada seluruh rakyat yang dipimpinnya serta selalu berbuat berhati-hati seperti matahari sangat berhati-hati dalam menyerap air.
  4. Candra Brata = Pemimpin hendaknya selalu dapat memperlihatkan wajah yang tenang dan menginspirasi rakyatnya sehingga masyarakat yang dipimpinnya memiliki keyakinan dan keteduhan.
  5. Bayu Brata = Pemimpin hendaknya selalu dapat mengetahui dan menyelidiki keadaan serta kehendak yang sebenarnya terutama keadaan masyarakat yang hidupnya paling menderita
  6. Kuwera Brata = Pemimpin hendaknya bijaksana mempergunakan dana atau uang serta selalu ada hasrat untuk mensejahtrakan masyarakat dan tidak menjadi pemboros yang akirnya dapat merugikan Negara dan Masyarakat.
  7. Baruna Brata =Pemimpin hendaknya dapat memberantas segala bentuk penyakit yang berkembang di masyarakat , seperti pengangguran, kenakalan remaja, pencurian dan pengacau keamanan Negara.
  8. Agni Brata = Pemimpin harus memiliki sifat-sifat selalu dapat memotivasi tumbuhnya sifat ksatria dan semangat yang berkobar dalam menundukkan musuh-musuhnya.

Menyambut pemilu legislatif dan pilpress 2014 ini, berkaca dari pemaparan asta brata diatas,  membangkitkan asa dan mimpi saya akan sosok pemimpin yang mampu memenuhi kreteria diatas. Begitu banyak calon pemimpin yang menawarkan dirinya untuk dipilih bahkan ada yang menggunakan cara cara yang kurang terpuji. Mimpi saya mungkin juga mimpi masyarakat Indonesia tentang sosok pemimpin yang mampu memberi pengayoman, menginspirasi, memberi semangat dan penuh dengan ide ide cemerlang akan terwujudnya tatanan sebuah bangsa yang memiliki harga diri, santun, berkarakter, dan tentu saja makmur.

Cita cita bangsa sebagaimana yang tertuang didalam Pembukaan UUD 1945 sudah sangat jelas, setidaknya kita sebagai sebuah bangsa telah diwariskan sebuah angan-angan akan dihadirkannya masa depan yang indah, dimana setiap anak bangsa sama dihargai, sama dilayani, sama berhak untuk sebuah kemakmuran, tidak ada nuansa mayoritas dan minoritas d idalam cita cita itu. Setidaknya pendiri bangsa ini telah mampu menangkap arti sebuah kesamaan hak sebagai satu bangsa yang merdeka.

Cita cita hanyalah sebuah cita cita jika tidak ada usaha untuk mewujudkan cita cita itu. Pemilu sebagi sebuah tahapan adalah satu langkah menuju cita cita itu. Sayangnya kita sebagai sebuah bangsa , belum mampu menggunakan pemilu itu sebagaimana harusnya. Banyak dari kita tidak tertarik untuk mencermati gagasan gagasan calon pemimpin, tetapi terjebak didalam konsep transaksional sehingga memuluskan mereka yang jauh dari  konsep asta brata akhirnya terpilih, justru orang yang tulus ingin mengabdikan dirinya untuk mewujudkan cita cita mulia itu menjadi terpinggirkan.

Pemilu di tahun 2014 ini sudah memperlihatkan kepada kita bagaimana kerasnya pertarungan itu, bagaimana jauhnya sosok pemimpin yang kita idam idamkan itu. Pemimpin yang kita butuhkan bukanlah pemimpin yang tampil bak artis,  menghibur kita, meninabobokkan kita dengan janji janji kosong, tetapi dia adalah sosok yang memberi kita inspirasi, mampu membangkitkan semangat nasionalisme kita, kebanggaan kita sebagi sebuah bangsa. Pemimpin idealnya adalah dia yang memberi kita keteladanan akan pentingnya kerja keras , kesungguhan, keteguhan dan kekuatan iman, tidak mudah terbawa emosi, tidak mudah larut dalam kesedihan berkepanjangan, tetapi dia mampu hadir ditengah kerasnya perjuangan sebagai pemberi semangat, sekaligus menjadi contoh.

Pemimpin seperti ini hanya dapat kita lihat dari rekam jejaknya, sebelum dia mencalonkan diri, seperti apa sosok pemimpin itu didalam kesehariannya, seperti apa dia menghidupi keluarganya, seperti apa dia berhubungan dengan lingkungannya, seperti apa dia memperlakukan orang orang yang tidak menyukainya. Disitulah  kekurangan pemilu kita tahun 2014 ini, sangat sedikit sumber yang mampu di akses oleh masyarakat untuk mengetahui sosok calon pemimpinnya, atau bahkan masyarakat juga tidak peduli dengan latar belakang mereka, yang penting siapa yang memberi apa?

Oleh: Gusti Sudiartama | Maret 18, 2014

Pemilu dan Satrio Piningit

Belum satu minggu  kampanye pemilihan legislatif dimulai, perdebatan dan penggalangan opini sudah demikian kuat. Semakin menarik mengamati pergulatan politik nasional setelah JokoWi menyatakan kesiapan untuk maju menjadi Capres. Luar biasa sebuah fenomena yang sangat unik mematahkan semua kalkulasi calon dan parpol lain.

Acungan dua jempol memang patut diberikan untuk seorang Megawati atas pengorbanan dan kebesaran jiwanya yang legowo menyerahkan “kekuasaan” tertinggi kepada seorang kader yang diyakini memang merupakan pilihan rakyat. Sungguh sebuah pengorbanan luar biasa yang telah mengesampingkan ego dan kerakusan kekuasaan, mencerminkan kematangan dan kenegarawanan seorang ibu bangsa, terlepas dari berbagai kalkulasi politik yang dilakukan oleh PDIP.

Sebagai seorang yang jauh dari hingar bingar dunia politik, cukup mengundang ketertarikan untuk mempelajari dan mengamati seperti apa nanti hadirnya sebuah “revolusi”  sosial dari wong cilik yang mulai sadar bahwa selalu ada harapan bila mau menggunakan akal sehat dan nurani untuk menentukan pilihan dan juga tanpa menafik-kan hadirnya tangan tangan Tuhan yang memang memiliki skenario dan tujuan yang sangat misterius bagi bangsa ini.

Sudah saatnya kita semua memasang harapan dan tidak lupa memohon kehadapan Ida Hyang Widhi agar kita semua diberi kekuatan untuk nenentukan pilihan dan menentukan masa depan bangsa. Lakukan kewajiban sebagai warga bangsa dengan penuh tanggung jawab, biarlah perbedaan itu hadir ditengah tengah kita sebagai sebuah kenyataan yang patut disyukuri, dan pilihlah menurut akal sehat dan logika sehat bukan atas iming-iming recehan.

Hadirnya tokoh Jokowi perlu diberi catatan khusus, karena sejak kemunculannya dalam pilgub DKI sosok ini digadang gadang akan mampu memberi inspirasi kepada generasi muda bangsa, bahkan tidak sedikit yang memposisikan Jokowi sebagai bagian dari skenario besar Hyang widhi  akan hadirnya satrio piningit. Namun sosok ini kenyataannya memang menyedot simpati yang sangat besar, sampai sampai tokoh PKS pun menyatakan ada tangan Tuhan yang bermain dalam pemenangan Jokowi di DKI. Apapun skenario yang dikehendaki oleh Beliau itulah yang akan terjadi, tugas kita hanyalah  menentukan pilihan dengan cara yang benar, santun dan bertang,gung jawab. Bangsa ini akan menjadi sebagaimana kehendak Beliau, hanya saja kalau sekarang kita mampu memahami isyrarat /tanda alam kita akan sejalan dengan kehendak Beliau, kalau tidak akan terjadi sedikit “pemaksaan untuk on the track”.

Sadar bahwa apapun yang kita lakukan berimplikasi kepada alam, sebaliknya alampun memberi pengaruh kepada kita, kalau kita berkeinginan agar kedepan kita menyongsong masa depan gemilang, yakinlah akan hadirnya kegemilangan, hadirkan pikiran baik dan kegemilangan itu didalam pikiran kita masing-masing. Jauhkan pikiran dengki iri hati dan saling menjatuhkan karena pikiran seperti itu selamanya tidak akan bersinergi dengan alam.

Mari kita songsong pemilihan legislatif dengan penuh harapan positif akan masa depan yang lebih baik, pilihlah mereka yang terbaik dari segi moral bukan kalkulasi politik dan materi, jauhkan pikiran negatif apalagi destruktif, belajarlah dari sejarah pahit tahun 1965. Selebihnya serahkan kepada Beliau karena Beliau sudah mempunyai skenario besar untuk bangsa ini…

Oleh: Gusti Sudiartama | Maret 5, 2014

Viveka

siva07

Kelebihan manusia dibandingkan dengan ciptaan Hyang Kuasa lainnya adalah dianugrahinya manusia dengan pikiran. Pikiran bahkan bisa diumpamakan sebagai sebuah “senjata” utama manusia didalam menjalankan karmanya dikehidupan ini. Tak jarang karena demikian kuatnya atau “sakti” nya senjata pikiran ini, membuat manusia menjadi dikendalikan oleh pikirannya sendiri, seumpama senjata sakti yang mendominasi pemiliknya.

Kemampuan mengendalikan pikiran inilah yang semestinya dikuasai oleh manusia sebelum menjadikan kehidupan-nya didunia ini menjadi bermakna. Manusia  yang mampu mengendalikan pikirannya dengan baik ibarat memiliki “Lembu Nandini” yang akan mampu memenuhi hasratnya untuk mengarungi kehidupan dengan kebahagiaan dan keutamaan.

Pengendalian pikiran seharusnya diupayakan dengan sungguh sungguh untuk tercapainya  cita-cita kehidupan seorang manusia. Pikiranlah sebagai dasar keluarnya ucapan atau kata-kata, pikiranlah sebagai penggerak sebuah tindakan, dari pikiranlah semua aktivitas manusia berawal, maka sangatlah penting untuk mengendalikan pikiran itu.

Namun tak dapat disangkal betapa sulitnya mengendalikan pikiran itu, sehingga pikiran itu sering digambarkan sebagai sosok kuda liar yang bergerak dengan lincah dan bebas, yang sering kali  manusia-nya sendiri menjadi obyek keliaran pikiran. Pikiran akan mampu dikendalikan hanya dengan pengetahuan yang benar dan kemampuan untuk memilah-milah suatu obyek. Kemampuan memilah milah suatu obyek pikiran sangat mungkin dipelajari. Pikiran kalau diibaratkan sebagai seekor kuda yang liar, pengetahuan dan kemampuan memilah milah itu ibarat tali kekangnya. Pikiran sangat mudah ber “transformasi”  dari suatu obyek ke obyek yang lain dengan cara yang unik sehingga kita seringkali terpedaya olehnya.

Ketika pikiran bergerak dari satu obyek ke obyek yang lain, sang pengendara senantiasa harus sadar akan keberadaan dan sifat pikiran yang seperti itu. Diperkuat dengan pengetahuan dan daya memilah -milah akan semakin memperkuat pengendalian terhadap pikiran. Daya memilah milah ini sering disebut dengan Viveka, yaitu kemampuan untuk membedakan sesuatu obyek yang sejati dan obyek yang semu, obyek yang layak  atau obyek yang tidak layak untuk dijadikan tujuan dari pikiran. Viveka ini sangat terkait dengan kejernihan, kejernihan itu sendiri akan dimiliki hanya ketika pengetahuan tentang kebenaran itu telah dicapai. Pengetahuan bukanlah sekedar dogma atau ajaran, tetapi pengetahuan yang dimaksud adalah sebuah pemahaman tentang hakekat. Inilah yang seharusnya diupayakan secara terus menerus oleh seorang manusia didalam kehidupannya kini.

5 Maret 2014

Oleh: Gusti Sudiartama | Mei 25, 2013

Musibah dan kekecewaan sebagai obat

Tidak jarang kita meratapi nasib malang yang menimpa diri kita , menyalahkan orang lain bahkan menyalahkan Tuhan atas kemalangan yang kita rasakan menimpa .  Apa yang kita rasakan sebagai sebuah kemalangan atau musibah bilamana di lihat dari kacamata orang lain yang telah pernah mengalami kejadian yang sama, akan mempunyai efek yang berbeda, kenapa ?

Bagi mereka yang telah mengalami satu musibah apalagi yang telah mampu menerimanya dengan lapang dada, akan memiliki kekuatan lebih untuk menghadapi masalah lain dalam kehidupannya. Ibarat vaksin yang dimasukkan kedalam tubuh, akan memperkuat daya tangkal tubuh terhadap penyakit tersebut, demikian pula dalam kehidupan, setiap masalah yang dihadapi akan menjadi spirit pula bagi orang tersebut kalau saja yang bersangkutan mampu menyadarinya.

Kesadaran adalah kata kunci dalam kehidupan, seseorang yang senantiasa “sadar” akan mempunyai daya tangkal yang dasyat terhadap segala bentuk cobaan didalam kehidupan. Kesadaran yang dimaksud disini adalah kesadaran tentang hakekat hidup dan kehidupan, sadar akan hakekat kehidupan akan selalu menjadi cahaya yang menuntun kita menuju tujuan, menyelesaikan segala permasalahan dengan jernih dan benar.

Bila kehidupan bisa dipahami sebagai sebuah wujud syukur kepada tuhan bahwa kita telah diberikan kesempatan untuk lahir kedunia sebagai manusia sehingga kita bisa memperbaiki kualitas spiritual kita. Pula kita diberikan kesempatan untuk membayar hutang hutang kita( karma) dikehidupan terdahulu, disamping itu kehidupan inipun sebaiknya dimaknai sebagai kesempatan menabur kebaikan kepada semua mahluk . Dengan konsep ini hidup/kelahiran kita saat ini akan senantiasa kita maknai sebagai wujud bhakti kepada Tuhan, sehingga apapun yang kita alami di kehidupan ini akan selalu kita sambut dengan terbuka dan penuh keikhlasan dan senantiasa haus akan kesempatan melakukan perbuatan yang bermanfaat bagi sesama.

Kehidupan yang kita alami sekarang ini, segala kebaikan dan kebahagiaan sebaliknya kesialan atau kesengsaraan adalah suatu bentuk permainan pikiran. Dengan memahami kehidupan sebagai sebuah proses pendakian spiritual, setiap langkah setiap peristiwa yang kita alami sebagai  perjalanan menuju tujuan akhir, layak-kah kita meratapinya, bukankah lebih bijak dan tidak buang-buang energi bila kita menerimanya sebagai satu tangga menuju tangga berikutnya dalam pendakian spiritual kita?

Jika kehidupan kita anggap sebagai bentuk pembayaran hutang,  apakah tidak lebih baik bila kita bersyukur bahwa kita telah mampu membayar sedikit hutang sehingga kita tidak lagi menjadi pribadi yang berhutang, setidaknya ada beban hutang yang telah mampu kita lunasi walaupun sedikit?

Kesadaran ini tentu tidak akan hadir begitu saja, memerlukan proses dan usaha sungguh sungguh dari kita untuk senantiasa belajar menerima dan memahami peristiwa dari berbagai sisi, karena sejatinya apapun yang kita alami di kehidupan ini terselip sebuah pelajaran berharga bagi pribadi agung diri sejati ini. Hanya diperlukan sebuah keheningan dan kejernihan untuk menerima pelajaran ini seutuhnya….

25 Mei 2013

Oleh: Gusti Sudiartama | Juni 26, 2012

Yoga Sutra(17)Pelatihan Tubuh dan Pembentukan Sikap Mental.

 Sikap-tubuh (asana) dalam latihan hendaknya mantap dan nyaman. Dengan lepasnya ketegangan tubuh dan mental, transformasi batin dimungkinkan mencapai ketidak-terbatasan. Darisana bentuk-bentuk batin dualistik (dvandva) tak lagi mengganggu. [YS II.46 - II.48] Patanjali memang tidak secara khusus menyebutkan ataupun merekomendasikan sikap-tubuh tertentu, namun banyak penekun dan Guru spiritual menemukan manfaat besar dari sikap-tubuh padmãsana (sikap duduk bagai bunga lotus), siddhãsana (sikap duduk para orang suci), swastikãsana (sikap duduk bagai simbol swastika) dan sukhãsana (sikap duduk sesuka hati, namun tetap bersila dengan tulang-punggung tegak). Banyak yang menyebutkan bahwa padmãsana-lah yang paling utama diantaranya. Yang perlu untuk digunakan pegangan dalam duduk bermeditasi adalah, kepala, leher dan tubuh dipertahankan agar tetap dalam satu garis lurus dan tegak. Tidak condong ke depan, ke belakang atau ke samping. Pilihlah satu sikap duduk yang paling sesuai bagi Anda, dan jangan setiap kali merubah sikap duduk. Pertahankan satu sikap duduk dengan mantap. Secara khusus, Hatha Yoga —atau juga disebut Yogãsana—mengajarkan dan melatih semua sikap-sikap tubuh, yang amat bermanfaat bagi kesehatan dan kelenturan tubuh, dan tidak kita bicarakan secara khusus disini. Sikap-sikap tubuh ini sangat kondusif di dalam membentuk atau menghadirkan sikap-mental yang sesuai dengan yang diperlukan dalam melaksanakan japa dan langkah selanjutnya, yakni pranayama dan dhyana. Disamping kesehatan tubuh, pembentukan sikap-mental merupakan tujuan utama dari laku asana ini. Bahkan Sri Swami Sivananda menyatakan “bila tak dapat melaksanakan asana dengan sempurna, tidak akan dapat melakukan dhyana dengan baik”. Sikap dan kondisi tubuh, ekspresi wajah, diketahui sebagai punya kaitan erat sekali dengan kondisi mental. Ambil contoh anjuran“keep on smiling” misalnya. Adakah landasan ilmiah —selain empiris—dari anjuran ini? Ternyata ada; seorang psikolog Jerman, Fritz Stark, pernah mengadakan penelitian ilmiah terhadap senyum, dalam kaitannya dengan pengkondisian batin kita. Menurutnya, membuat senyuman dengan otot-otot wajah, menipu otak untuk merespon dengan perasaan yang relevan. Pernyataan ilmiahnya ini, ternyata juga dikuatkan lagi oleh David Lykken —pensiunan profesor psikologi dari University of Minnesota, Minneapolis USA— dengan menyatakan “Emosi merupakan perpaduan antara perasaan internal dengan respons fisik yang memberikan umpan-balik pada otak kita”. Sebetulnya, hingga saat ini memang telah banyak bukti-bukti sebagai hasil empiris perseorangan, perkumpulan Yogãsana maupun penelitian-penelitian ilmiah tentang nilai manfaat langsungnya secara fisik maupun psikis. Asana tertentu —secara phisioterapis— dapat menyembuhkan penyakit tertentu, bahkan Yogãsana diyakini juga sebagai Yoga Kesehatan. Kondisi tubuh yang sehat, otot-otot yang lentur, tidak tegang, menimbulkan rasa nyaman dan mengurangi kegelisahan mental. Dan ini amat membantu dalam tercapainya keterpusatan saat berlatih meditasi (dhyana). “Kalau Anda dapat duduk hanya untuk satu jam saja, Anda dapat memusatkan pikiran dan merasakan kesentosaan dan kebahagiaan”, papar Sri Swami Sivananda dengan amat meyakinkan. Sebagai pembentuk sikap-mental, dan bukan semata-mata sikap-tubuh layaknya senam dan bentuk-bentuk olah-raga lainnya, asana sesungguhnya telah terbentuk ketika Yama-Niyama benar-benar diterapkan di dalam kehidupan. Di Nusantara dikenal—apa yang disebut dengan—sasana, disiplin mental dan prilaku yang pantas. Pemposisian asana sebagai tahapan ketiga—setelah Yama dan Niyama—seakan-akan mengisyaratkan bahwa, ‘tiada sadhana yang terlaksana dengan baik, tanpa didasari oleh sikap-mental yang baik’. Makanya, dalam yogasadhana, Yama-Niyama tetap menjadi kunci keberhasilan. Pelaksanaan tiga aspek dari Niyama saja—yakni Tapa, Svadhyaya dan Isvarapranidhana—sudah layak diperhitungkan sebagai melaksanakan Kriya Yoga.

 

 Kematian dan Kekuatan Maitri.  Karmaphala ada dua jenis; yang sedang berlangsung dan yang belum aktif; melalui Samyama terhadapnya, diketahui tanda-tanda dan saat kematian. [YS III.23]
 

Seorang Yogi terbiasa mengamati dengan jernih melalui visi-spiritualnya; beliau dapat mengetahui hampir segala sesuatu melalui Samyama. Semua itu hanyalah dampak dari proses pemurnian citta yang telah beliau jalani; tidak ada sesuatu yang terlalu aneh atau gaib sehingga tak terjelaskan dalam Yoga. Ia memang tampak aneh atau gaib di mata awam, karena awam masih belum menyentuh tataran citta, dan masih bergelimang dalam kekotoran, insting-insting destruktif dan dikacaukan oleh pusaran-pusaran berbagai bentuk pemikiran dan perasaan.

Sejauh-jauhnya yang dapat tersentuh oleh awam adalah tataran intelek atau kecerdasan (buddhi), yang masih di bawah strata citta. Bhagavad Gita menjelaskan bahwa, yang lebih tinggi dari kemampuan semua indriya adalah manas, yang lebih tinggi dari kemampuan manas adalah buddhi; dan citta mengatasi semua itu.
Melalui rasa persahabatan dan welas asih universal (maitry), muncul kekuatan (balani). Melalui kekuatan ini diperoleh kekuatan spiritual yang lebih besar lagi. [YS III.24 dan III.25] 

Maitri, welas asih universal, disini diketengahkan sebagai salah-satu contoh. Sesungguhnya, baik maitri, karuna, mudhita maupun upeksa merupakan empat kekuatan dahsyat. Sifat-sifat luhur kedewataan ini juga merupakan kekuatan-kekuatan luhur kedewataan. Inilah jenis kekuatan yang amat bermanfaat bagi Sang Yogi maupun bagi makhluk lain dan alam sekelilingnya. Dalam ajaran Buddha, mereka disebut Brahma Vihara. Dapat dibayangkan, betapa besar kekuatan dari makhluk hidup yang bersemayam di alam penciptaan itu. Jadi memang dapat dipahami bila mereka disebut Empat Kesempurnaan (catur pamartha) dalam Hindu, yang layak dikembangkan oleh setiap orang.
Mendulang Kemampuan dan Pengetahuan yang bermanfaat.  Melalui pancaran cahaya, yang halus, yang tersembunyi dan yang jauh, dapat diketahui. Pengetahuan tentang semesta diperoleh lewat Samyama pada matahari (surya), lewat Samyama pada bulan (candra), pengetahuan tentang tata-surya diperoleh; lewat Samyama pada bintang-kutub (dhruva), pengetahuan tentang peredaran benda-benda langit diperoleh; lewat Samyama pada pusar (nabhi cakra), diperoleh pengetahuan tentang metabolisme tubuh; lewat Samyama pada rongga kerongkongan (kantha), diperoleh pengetahuan dan kekuatan menahan lapar dan haus; lewat Samyama pada pusat gravitasi (kurma nadi), diperoleh kemantapan pada badan; lewat Samyama pada cahaya di ubun-ubun (murdha), diperoleh kekuatan persepsi langsung seperti yang dipunyai oleh para siddha[1]; lewat Samyama pada intuisi (pratibha), diperoleh pengetahuan tentang segala sesuatu; lewat Samyama pada jantung (hrdaye), diperoleh pengetahuan tentang berbagai kondisi citta.

[YS III.26 - III.35]
 

Sutra-sutra ini memberi paparan contoh-contoh dari keampuhan Samyama serta dampak internalnya bagi peningkatan Sang Yogi. Terhadapnya, ada yang menterjemahkan secara eksternal. Memang bagi eksternalis, kekuatan Samyama bisa diarahkan pada pertunjukan kekuatan-kekuatan gaib; oleh karenanyalah Patanjali juga mengingatkan lewat sutra III.38 (mendatang), tentang bahaya dari eksternalisasi itu.

Menurut Swami Satya Prakas, kekuatan-kekuatan itu dapat menyeret penekun menuju kejatuhan yang fatal. Sementara Swami Sivananda wanti-wanti mengingatkan, sampai-sampai beliau secara khusus menurunkan tulisan: “Beware of Siddhis”. Sebaliknya, beliau amat menekankan pada vairagya, pelepasan bebagai kemelekatan indriawi dan keduniawian. Seorang Yogi, yang penulis kenal dengan baik, juga mengingatkan bahwa permainan siddhi seperti itu, hanyalah ‘mainan anak-anak’, yang menghambat kematangan dalam Yoga, bahkan menjerumuskan dan menyesatkan. Menjelang mengakhiri Pãda ini, kembali kita akan diingatkan pada kejatuhan Sang Yogi sebagai akibat membangga-banggakan posisi tinggi yang telah diraihnya.

Beberapa hasil dari Samyama tadi mungkin saja memang diperlukan oleh Sang Yogi untuk mengatasi halangan-halangan fisik, seperti lapar dan haus atau untuk memahami metabolisme tubuh dan menjaga kesehatan beliau, memberdayakan dan meningkatkan kemampuan daya-vital ataupun pengetahuan-pengetahuan lain yang bermanfaat bagi beliau dan orang banyak.
Mengetahui kondisi citta, meningkatkan dan mengembangkan persepsi dan intuisi misalnya, sudah barang tentu amat kondusif sekaligus bermanfaat bagi Sang Yogi guna memcapai kesempurnaannya. Namun jelas semua itu bukan untuk dipamerkan atau guna menarik perhatian khalayak demi popularitas dan menarik pengikut ataupun demi kepentingan pribadi lain berdasarkan ke-aku-an. Justru hasrat-hasrat egoistis serupa inilah mesti dikikis.

[1] Para Siddha adalah beliau-beliau yang teranugrahi—baik berupa bakat bawaan maupun berkat upayanya sendiri, atau kombinasi dari keduanya—siddhi-siddhi, kekuatan-kekuatan adikodrati.

 
Walaupun dipisahkan oleh kelahiran (jati), tempat (desa), maupun waktu (kala), yang berkaitan dengan ingatan (smrti), kesan-kesan (samskara) serta kebiasaan-kebiasaan tetap berlangsung, karena yang merangsangnya tetap ada, namun itu tidak menjadi penyebab lagi (anadhitvam).
Hadirnya sebab, motif, struktur, dan tujuannya tetap mempersatukan mereka (smrti, samskara serta kebiasaan-kebiasaan); hanya dengan tidak hadirnya semua (sebab, motif, struktur, dan tujuan) itulah mereka tidak hadir pula.
Masa lampau dan masa depan (atita-anagata) eksis secara bergantian betapa adanya, mengikuti prinsip-prinsip kosmis yang mengaturnya (dharmanah).
Baik berwujud kasar maupun halus, mereka hanyalah guna yang menyertai Atman (guna atmanah).
(Sedangkan) evolusi menuju panunggalan merupakan realitas dari keberadaan Sang Yogi kini (vastu tattvam).
[YS IV.9 - IV.14]

EVOLUSI KOSMIS DAN TUJUAN.

Evolusi Kosmis tetap berjalan sesuai hukumnya.
 
Walaupun dipisahkan oleh kelahiran (jati), tempat (desa), maupun waktu (kala), yang berkaitan dengan ingatan (smrti), kesan-kesan (samskara) serta kebiasaan-kebiasaan tetap berlangsung, karena yang merangsangnya tetap ada, namun itu tidak menjadi penyebab lagi (anadhitvam).
Hadirnya sebab, motif, struktur, dan tujuannya tetap mempersatukan mereka (smrti, samskara serta kebiasaan-kebiasaan); hanya dengan tidak hadirnya semua (sebab, motif, struktur, dan tujuan) itulah mereka tidak hadir pula.
Masa lampau dan masa depan (atita-anagata) eksis secara bergantian betapa adanya, mengikuti prinsip-prinsip kosmis yang mengaturnya (dharmanah).
Baik berwujud kasar maupun halus, mereka hanyalah guna yang menyertai Atman (guna atmanah).
(Sedangkan) evolusi menuju panunggalan merupakan realitas dari keberadaan Sang Yogi kini (vastu tattvam).
[YS IV.9 - IV.14]

Sebagai penjelasan atas paparan sutra-sutra sebelumnya, kini Patanjali memaparkan prinsip hukum semesta berkaitan dengan sebab-akibat yang saling bergantungan dari semua keberadaan, disamping kesinambungan proses evolusi yang dialami oleh seorang Yogi yang belum berhasil menuntaskan evolusinya.
Sepanjang masih ada yang memotivasi kemunculan suatu sebab, maka selama itu pula akibat akan tetap menyertainya. Segala macam bentuk kelahiran, berapa lama, kapan serta dimana kelahiran itu terjadi, apakah dalam wujud kasar —dengan panca mahabhuta— maupun halus hanya menggunakan kelima atau beberapa tan-matra saja, akan selalu terjadi. Semua itu berpangkal pada adanya penyebab, motif, struktur atau susunannya, serta tujuan-tujuannya yang masih tersisa. Demikian pula pada waktu atau jaman apa kelahiran berikutnya akan terjadi, dan berapa lama harus dialami.
Dalam pada itu, kelangsungan waktu berjalan sesuai hukumnya, masa depan menjadi masa kini, dan masa kini terlewati dan menjadi masa lalu. Prinsip kosmis yang mengatur segala keberadaan. Berdasarkan hukum kosmis itulah, bila seorang pendamba kebebasan, penyatuan, dalam kurun tertentu mengakhiri hidupnya pada satu alam kehidupan tertentu, kesan-kesan (samskara) serta ingatan-ingatannya akan dambaannya itu tetap terbawa sebagai benih-benih perbuatan bagi kelahiran berikutnya (kriyamana karma vasana) untuk diteruskannya. Kriyamana karma-vasana inilah yang menjadi benih kelahiran demi kelahiran di berbagai alam kehidupan, kasar maupun halus. Ia menjadi sahabat setia dalam berbagai kelahiran.
Beruntunglah mereka yang telah terjun ke dalam Yoga, para pendamba penyatuan dan kebebasan (mumukshu) dalam kelahirannya ini; pencapaian yang diraihnya dalam kehidupan ini membentuk vasana-nya dan akan terus membimbingnya dalam evolusi spiritual pada kelahiran-kelahiran berikutnya. Itulah sesungguhnya yang menjadi realitas keberadaannya; evolusi yang berkelanjutan hingga tercapainya tujuan akhir, menyatu dan melebur di dalam-Nya. Paradigma ini, juga ditegaskan oleh Sri Krishna dalam Bhagavad Gita.
Tujuan tetap sama, hanya pengkondisinya yang berbeda.
 
Tujuan (vastu) tetap sama, sementara kondisi yang menyertai citta-lah yang berbeda—karena cara kerjanya berbeda.
Vastu tidaklah tergantung pada satu kondisi tertentu dari citta saja, karena bila kondisi itu tak hadir, lantas apa yang akan terjadi padanya?
Oleh terjadinya pencitraan terhadap citta —yang disebabkan oleh pusaran-pusaran pikiran— inilah vastu menjadi disadari atau tidak disadari (jñatãjñatam).
Pengetahuan yang ajeg merupakan modifikasi-modifikasi dari citta juga adanya, namun bagi Sang Yogi, itu terkendali sepenuhnya oleh kehadiran Hyang Purusa yang tiada berubah.
[YS IV.15 - IV.18]

Bagi yang telah terjun menuju kebebasan, tujuan satu-satunya adalah kaivalyam. Mereka ini juga disebut sebagai ‘pelawan arus’, yang dengan gagah-berani terjun melawan arus tumimbal-lahir yang maha-deras ini. Sekali tujuan ditetapkan dalam suatu kelahiran, ia akan mengalir sebagai missi lanjutan dalam kelahiran-kelahiran berikutnya.
Mungkin saja citta dalam suatu kelahirannya atau dalam kondisi tertentu, tampak berbeda; akan tetapi citta sesungguhnya jernih, dan kembali terjernihkan seperti sediakala. Pengalaman-pengalaman dari pendakian spiritualnya di masa lalu, pasti muncul kembali sebagai ‘vasana spiritual’. Paradigma ini seringkali mengecoh banyak orang. Jangankan orang awam, para peminat dan penekun-pun bisa terkecoh karenanya; padahal keterkecohan itu tak perlu terjadi bila Hukum Karma Phala dan Samsara benar-benar dipahami. Yang bijak mengatakan bahwa, derajat kesucian batin seseorang hanya dapat diketahui oleh mereka yang memiliki kesucian batin yang sekurang-kurangnya setara dengannya.
Pengalaman-pengalaman pada kehidupan lampau yang tersublimasi berupa vasana inilah yang mewarnai atau memberi citra-artifisial kepada pandangan murni, seperti juga halnya dengan pengalaman-pengalaman dalam kehidupan ini. Mereka mengendap sebagai kesan-kesan mental dan ingatan dan membentuk kebiasaan-kebiasaan. Nah, kumpulan mereka inilah yang ter-refleksi di permukaan berupa kepribadian berikut nasib seseorang dalam setiap kelahirannya.


Suara, makna, dan gagasan yang melatarinya seringkali baur satu dengan yang lainnya sehingga membingungkan; menganalisanya melalui Samyama menghadirkan pengertian terhadap suara dari berbagai makhluk hidup.
Melalui mengamati dengan seksama ikhwal munculnya kesan-kesan mental (samskara), kehidupan lampau dapat diketahui.
[YS III.17 dan III.18]

Seperti perumpamaan atau pengandaian sebelumnya, satelit dapat mengamati apa saja dan bergerak kemana saja dengan mudah; demikian pula bila ia harus mengamati suara makhluk hidup maupun kesan-kesan mental. Ucapan atau kata-kata adalah tuangan perasaan atau ekspresi kondisi dan kesan-kesan mental lewat suara. Memahami hakekat dan bagaimana bekerjanya perasaan dan pikiran, maksud, makna serta gagasan yang melatari setiap ucapan atau suara mudah dipahami.
Dari kehidupan yang lampau, kita membawa benih-benih perbuatan (vasana), demikian pula makhluk hidup lainnya. Vasana-vasana itu, dulunya atau pada kehidupan yang bersangkutan merupakan kesan-kesan mental yang mendalam (samskara). Demikian juga samskara yang terbentuk kini, bila belum tersalur dan habis enerji potensialnya dalam kehidupan ini juga, menjadi vasana untuk kehidupan mendatang. Memahami kejadiannya demikian, dengan mengamati samskara dalam kejernihan citta, dipahami juga vasana; dengan mencermati vasana dan samskara melalui kejernihan citta akan dipahami kehidupan lampau maupun yang akan datang makhluk-makhluk lain.
Mengetahui Maksud dan Asal suara halus.

Melalui Samyama (terhadap samskara ini), kondisi citta makhluk hidup diketahui;
tetapi itu belum mendukung untuk mengetahui isinya, bila ia tidak direfleksikan dalam kehidupannya (melalui tindakan maupun ucapan).
Melalui Samyama terhadap wujud (rupa), daya sensorik yang terhalang karena mata tidak mengadakan kontak-langsung dengan cahaya, dapat diketahui ‘nilai internalnya’ (antardhanam). Dengan antardhanam inilah sabda dapat dipahami.
[YS III.19 - III.22]

Sutra III.19 – III.22 ini sebetulnya masih dalam suatu keterkaitan dengan sutra III.17 dan III.18, sebelumnya. Secara implisit, penjelasannya sebetulnya telah disampaikan pada sutra-sutra sebelumnya. Tambahan khususnya disini adalah, bagaimana bila hanya sabda yang terdengar, namun sumber sabda tidak terlihat? Inilah yang diperjelas dalam sutra III.21 dan III.22.
Sabda dan rupa adalah dua unsur halus dari Panca Tanmatra—lima unsur halus yang membentuk jasad manusia—disamping rasa, gandha dan sparsa tanmatra. Mereka ada pada setiap makhluk berjasad. Mereka jugalah yang merupakan objek cerapan indria sensorik yang ada dalam setiap makhluk hidup. Melalui kewaspadaan, keterpusatan dan kejernihan Samyama, daya asosiatif dari sensasi luar dengan yang di dalam meningkat kepekaannya. Peningkatan daya asosiatif ini yang didukung oleh ketajaman kelima indria sensorik inilah yang melahirkan kemampuan ekstra-sensorik bagi sang penekun. Dengan kemampuan ini, sang penekun mampu mengetahui yang tidak kasat-indria, ‘yang tersembunyi’, ‘yang rahasia’.
Apa yang sesungguhnya perlu kita ketahui dari sebentuk prilaku atau tindakan dan ucapan, adalah maksud atau motifnya. Bukan sekedar apa yang kasat-indria saja. Bukankah kita bertindak pun berucap berdasarkan motif atau maksud ini? Bukankah ini sebagai ‘nilai internal’ dari setiap tindakan dan ucapan kita. Namun, darimanakah maksud atau motif itu berasal? Bila kita menyelidikinya ke dalam, akan kita temukan kalau mereka semua merupakan ekspresi dari keinginan atau hasrat terpendam sehubungan dengan kesan-kesan mental yang terbentuk pada pengalaman sebelumnya (samskara), yang juga membentuk ingatan (smrtti), yang mengisi gudang ingatan.
Ada pula yang menterjemahkan sutra III.21 sebagai: “Dengan pelaksanaan Samyama pada rupa, pada penundaan dari daya reseptif (daya yang memudahkan untuk menerima gagasan baru), hubungan antara mata (dari si pengamat) dan sinar (dari badan) dipecahkan dan badan menjadi ‘tak terlihat’”. Menterjemahkannya demikian, mengakibatkan kesinambungannya dengan sutra-sutra yang mendahului dan mengikutinya terputus, sehingga mengaburkan pengertian yang dikandungnya.

Oleh: Gusti Sudiartama | Juni 18, 2012

Yoga Sutra(18). Regulasi Nafas Dan Pengendalian Daya Vital

  Print E-mail
ImageSetelah Asana, memupuk perhatian murni pada pergerakan keluar dan masuknya daya-vital (prana), yang disebut Pranayama, dilaksanakan. Prana keluar (bahya), masuk (abhyantra) dan diam (stambha) dalam hening adalah perubahan-perubahan yang terjadi dalam pengaturan prana menurut ruang, waktu, dan jumlah kalinya sedemikian rupa, hingga nafas terasa semakin dalam dan semakin halus.  Ada juga langkah ke-empat berupa penahanan di antara keluar dan masuknya (bahya abhyantara). Dengan ini, tabir yang menutupi cahaya batin dapat disingkirkan, sehingga batinpun siap dan layak memasuki Dharana. [YS II.49 - II.53].

Prana sendiri adalah daya-vital, daya-hidup; sedangkan yama adalah pengekangan, pengendalian atau pengaturan. Secara harfiah saja, Pranayama berarti pengaturan daya-hidup itu sendiri, dan jelas bukan sekedar mengendalikan keluar-masuknya nafas. Dalam Yoga Sutra ini, laku Pranayama lebih diarahkan pada yang bersifat yang esensial —menyingkirkan tabir yang menutupi cahaya batin— bagi persiapan untuk memasuki anga [baca: angga] atau tahap berikutnya, yakni Pratyãhãra dan Dharana.  Pranayama yang hanya dikaitkan dengan regulasi nafas, termasuk dalam bidang pelatihan tubuh dalam sistem Hatha Yoga.

Swami Satya Prakas Saraswati di dalam “Patanjali RAJA YOGA”-nya, memang menyatakan bahwa Pranayama berhubungan dengan sistem pernafasan, dimana sikap duduk Siddhãsana (kaki dilipat dengan kaki kanan di atas kaki kiri) dipandang sebagai sikap duduk terbaik di dalam latihan regulasi nafas ini. Dalam kitabnya ini, beliau bahkan memaparkan secara panjang-lebar tentang prana dan Pranayama dalam dua bab tersendiri, dimana antara lain disebutkan bahwa, prana adalah daya-vital yang tidak kelihatan, dan yang memungkinkan kita untuk bernafas. Prana sudah ada pada kita sejak lahir dan tetap ada pada kita selama hidup dalam jasad ini. Ditegaskan bahwa, prana bukanlah sekedar nafas atau yang terkait dengan bernafas saja, melainkan adalah daya-vital di belakang segenap susunan sistem pernafasan dan segala aktivitas otot-otot dan syaraf. Menurutnya, kata prana berasal dari urat-kata ‘an’, yang berarti bergerak, menghidupkan, memasukkan kekuatan. Pikiran berfungsi karena adanya prana; dan dengan penguasaan prana, pikiran bisa ditenangkan.

Bahkan, menurut Sri Swami Sivananda, prana bersama-sama dengan materi dan pikiran, merupakan tiga manifestasi relatif dari Yang Absolut. Prana benar-benar merupakan sebentuk modifikasi pikiran. Disebutkan bahwa prana adalah Kriya Sakti atau kerja tingkat tinggi. Materi dihasilkan oleh prana. Prana merupakan kelanjutan dari pikiran. Materi berada di bawah Prana, sedangkan Prana berada di antara materi dengan pikiran. Prana bersifat positif bagi materi, namun negatif bagi pikiran. Pikiran bersifat positif, baik bagi prana maupun materi; namun negatif bagi Kehendak —yang merupakan komunikator antara intuisi dengan pikiran.

Prasna Upanishad antara lain juga mengandaikan prana sebagai ruji dalam sebuah roda, dimana semua didasarkan prana, didasarkan prinsip-kehidupan ini. Sri Swami Sivananda memaparkan bahwa, Pranayama mengantarkan penekun untuk bertatap-muka langsung dengan prinsip-kehidupan. Mengendalikan prinsip-kehidupan, memberi suatu pandangan mendalam pada kekuatan yang memotivasinya.

Taittiriya Upanishad menyebut pranamaya kosa (selubung daya-vital) ini sebagai penghubung antara annamaya kosa (selubung jasmaniah yang terbuat dari sari-sari makanan) dengan manomaya kosa (selubung mental). Kitab Wrhaspati Tattwa menyebutkan tentang Dasaprana, sepuluh prana, yang masing-masing daripadanya adalah: prana, apana, samana, udana, vyana, naga, kurma, krakara, devadata dan dhananjaya. Penggolongan prana seperti ini juga ditemukan pula dalam Yajurveda, Atharvaveda, Taittiriya Upanishad, Chandogya Upanishad, Prasnopanishad dan Brhadaranyaka Upanishad. Lima prana —naga, kurma, krakara, devadata dan dhananjaya— disebut sebagai prana minor di dalam Brhadaranyaka Upanishad.

Akan tetapi, bagaimana dengan latihan praktis Pranayama sendiri?

Seorang Guru pernah mengingatkan siswanya, “Gunakanlah nafasmu sebagai pegangan; dengan demikian pikiranmu dengan mudah kamu pusatkan. Pranayama akan amat membantumu dalam mencapai Samãdhi”. Sementara itu, Chandogya Upanishad mengilustrasikan: “Bagai burung yang di-ikat dengan tali; setelah terbang kesana-kemari tanpa menemukan tempat tinggal, ia akan kembali untuk beristirahat, justru pada tempat dimana ia terikat; begitu pula pikiran, setelah terbang kesana-kemari tanpa menemukan tempat tinggal, akan kembali beristirahat pada nafas, karena pikiran punya nafas sebagai pengikatnya.”
 
Tampaknya, praktek Pranayama mau-tak-mau mesti dikaitkan dengan praktek pengaturan pernafasan. Secara garis besar, praktek pengaturan nafas terdiri dari empat tindakan dasar yakni: (i) menarik nafas (puraka), (ii) menahan nafas dalam kondisi penuh (antah-kumbaka), (iii) menghembuskan nafas hingga kosong (recaka) dan (iv) membiarkan kondisi kosong (bahih-kumbaka).

Dalam hal ini, Wrhaspati Tattwa memberi petunjuk: “Tutup semua lubang yang ada dalam tubuh, seperti: mata, hidung, mulut, telinga; udara, yang sebelumnya telah terisap, itu dikeluarkan melalui ubun-ubun. Bila tidak terbiasa mengeluarkan udara melalui jalan itu, udara dapat dikeluarkan melalui hidung, namun secara perlahan-lahan. Itulah yang disebut Pranayamayoga.”

Praktek Pranayama menjadi ideal bila disertai Pranava Japa. Disini pengaturan nafas hanya dalam tiga tahapan saja, dimana menahan nafas saat kosong (bahih-kumbhaka) dibiarkan saja kosong tanpa pelafalan dalam hati (manasu). Lafalkan dalam hati suara A(ng) saat menarik nafas (puraka), U(ng) saat menahan nafas (antah-kumbhaka) dan M(ang) saat menghembuskan nafas (recaka).
• Bersamaan dengan puraka dengan manasu A(ng), bayangkanlah Tuhan sebagai Sang Maha Pencipta yang penuh anugrah;
• Bersamaan dengan antah-kumbhaka dengan manasu U(ng), bayangkan Tuhan sebagai Sang Maha Pemelihara yang penuh dengan Cinta-kasih;
• Bersamaan dengan recaka dengan manasu M(ang), bayangkan Tuhan sebagai Sang Maha Suci, pelebur segala kekotoran batin dan dosa-dosa.
Bilamana dilakukan pengaturan dalam empat tahapan, dianjurkan untuk melafalkankan dalam hati Gayatrimantram sebagai berikut:
• OM – Bhur – Bhvah – Svah…….bersamaan dengan puraka;
• Tat – Savitur – vare – niyam……bersamaan dengan antah-kumbhaka;
• Bhargo – devasya – dimahi…….bersamaan dengan recaka;
• Dhiyo – yonah – pracodayat…..bersamaan dengan bhih-kumbhaka.
Kedua praktek ini adalah yang paling praktis dan paling umum dilakukan oleh berbagai kalangan dan tingkatan penekun. Baik Pranayama dan Japa tiga tahapan maupun empat tahapan, ada yang menyertai dengan penghitungan bulir-bulir tasbih. Namun, bagi sementara penekun yang merasakan ini sebagai kurang praktis dan menyolok perhatian [terutama kalau sedang berada di tempat-tempat umum], bisa menggunakan nafasnya langsung sebagai tasbih. Yang manapun yang dipilih, hendaknya disesuaikan dengan kondisi, kepentingan dan kebiasaan masing-masing, agar ia dapat dipraktekkan dengan santai, tanpa ketegangan yang tak perlu. Ingat, tujuan utamanya adalah membersihkan atau menentramkan vritti.

Sri Swami Sivananda menjelaskan bahwa, dengan mempraktekkan pengaturan nafas ini seorang sadhaka bisa memperoleh umur panjang. Seorang lelaki sehat bernafas 14 sampai 16 kali dalam semenit. Pengurangan frekuensi nafas melalui pelatihan, meningkatkan ketahanan paru-paru. Konon, semakin rendah frekuensi nafas, semakin panjang umur makhluk hidup. Beberapa contoh pada binatang menunjukkan hal ini. Anjing misalnya, frekuensi nafasnya mendekati 50 kali per menit, dan umurnya hanya sampai sekitar 14 tahun saja. Sedangkan kuda yang frekuensi nafasnya 35 kali per menit, umurnya bisa mencapai 29 sampai 30 tahun. Gajah yang bernafas 20 kali per menit, umurnya bisa mencapai 100 tahun. Sementara seekor kura-kura lebih rendah lagi frekuensi nafasnya, yakni hanya 5 kali dalam semenit; oleh karenanya umurnya hingga 400 tahun. Yang lebih rendah lagi adalah ular; ular hanya bernafas 2 sampai 3 kali per menit. Ular umurnya bisa 500 sampai 1000 tahun.

Sehubungan dengan kaitan antara frekuensi nafas dengan kehidupan spiritual, Sri Swami Sivananda menyatakan bahwa, ‘semakin sedikit nafsu keinginan seseorang, semakin rendah frekwensi nafasnya, demikian juga sebaliknya.’ Ia yang mempraktekkan japa, meditasi dan hidup membujang serta mempelajari kitab-kitab spiritual-religius atau kitab-kitab suci, punya frekuensi nafas yang lebih rendah dan punya konsentrasi yang lebih baik. Semakin rendah frekuensi nafas seseorang, juga berarti semakin meningkatnya konsentrasi, dan lebih tenteram hidupnya.

Jadi, semakin jelas bahwa pengaturan nafas bukan saja berkait dengan kesehatan dan umur seseorang, namun terbukti memang memungkinkan konservasi serta pengaturan daya-vital yang baik sehingga amat kondusif dalam pengembangan batin. Yang paling perlu diperhatikan baik-baik adalah, latihan Yoga —jenis apa saja— harus dibawah bimbingan seorang Guru Yoga yang handal, berpengalaman dan terpercaya.Yang pasti, Yoga tak mungkin dipelajari hanya lewat buku-buku.

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.