Oleh: Gusti Sudiartama | Januari 25, 2011

BUKU BABAD SIRA ARYA KUTHAWARINGIN-KUBONTUBUH

KATA  PENGANTAR

Buku Babad Sira Arya Kuthawaringin-Kubontubuh Beserta Lampiran-Lampirannya Edisi II-2007 ini penulis pergunakan sebagai sumber/acuan utama dari artikel-artikel yang telah dan akan diposting dalam Blog ini. Naskah Buku Babad ini bersumber dari hasil terjemahan kedalam bahasa Indonesia dari babon-nya yang berbahasa Bali-Kawi dan tertulis dalam aksara Bali pada lontar pusaka, milik/tersimpan di Pamerajan Dalem Anom Pemayun, Jro Gede Sidemen, Kecamatan Sidemen, Kabupaten karangasem. Penerjemahnya adalah Cokorda Gede Catra. Sedangkan lampiran-lampiran dalam Buku Babad ini terutama bersumber dari hasil kajian-kajian yang telah dilakukan oleh Pengurus Pusat Pasemetonan Pratisentana Sira Arya Kubontubuh-Kuthawaringin dalam kurun waktu mulai dari terbentuknya organisasi wadah pasemetonan termaksud pada tanggal 22 Mei 1983 sampai

diterbitkannya Buku Babad termaksud pada tahun 2007.

Substansi yang dihimpun dari kedua sumber seperti dimaksud diatas kemudian dirangkum dan disunting oleh Pengurus Pusat Pasemetonan Pratisentana Sira Arya Kubontubuh-Kuthawaringin menjadi buku babad dengan judul seperti tercantum pada cover depan buku tersebut seperti nampak pada foto diatas. Baik dalam melakukan kajian-kajian termaksud diatas maupun dalam merangkum dan menyunting Buku Babad ini penulis terlibat betul di dalamnya karena penulis duduk sebagai ketua I dalam Kepengurusan Pusat Pasemetonan Pratisentana Sira Arya Kubontubuh-Kuthawaringin dalam periode kepengurusan 1983-1988, 1988-1993, 1993-1998 dan selanjutnya sebagai Ketua Umum dalam periode kepengurusan 1998-2003, 2003- 2008.

Dalam “KATA PENGANTAR” penerbitan buku ini oleh Pengurus Pusat Pasemetonan Pratisentana Sira Arya Kubontubuh-Kuthawaringin antara lain diuraikan hal-hal berikut :

  • Buku Babad ini diterbitkan untuk memenuhi kebutuhan sameton pratisentana Kubontubuh-Kuthawaringin, terutama generasi mudanya yang ingin meningkatkan pemahaman tentang sejarah leluhurnya.
  • Pemahaan tentang sejarah leluhur diharapkan dapat mengantarkan kearah pencapaian dua dimensi manfaat, yaitu dimensi vertikal dan dimensi horisontal.
  • Dalam konteks dimensi vertikal, peningkatan pemahaman tentang sejarah leluhur diharapkan secara religius dapat lebih memantapkan pelaksanaan kewajiban berbhakti kepada leluhur dalam kerangka konsep Tri Rna sesuai dengan inti tattwa Agama Hindu yang terhimpun dalam Panca Srada.
  • Dalam konteks dimensi horisontal, peningkatan pemahaman tentang sejarah leluhur diharapkan secara sosial dapat mempereret ikatan rasa pertalian hubungan pasemetonan diantara sesama pratisentananya.
  • Dengan demikian pemahaman tentang sejarah leluhur, bukanlah dimaksudkan hanya untuk bernostalgia dan terpaku dengan kebanggaan akan kebesaran dan keberhasilan masa lalu yang pernah diraih oleh beberapa generasi pendahulu. Sebaliknya generasi penerus seyogianya bersifat arif agar dapat memetik manfaat dari hal-hal positip yang dapat diteladani dari kehidupan para leluhur di masa lalu untuk dijadikan pedoman dalam menghadapi tantangan kehidupan masa kini dan masa depan.
  • Agar naskah babad termaksud lebih mudah dapat dipahami dan untuk melengkapi pemahaman tentang hal-hal yang terkait dengan isi naskah tersebut, babad ini dilengkapi dengan sejumlah lampiran.

PENDAHULUAN

(Prajuru Pura Taman Sari Penebel)

Babad Arya Kuthawaringin ini adalah terjemahan  babad pada lontar pusaka, milik/tersimpan di Pamerajan Dalem Anom Pemayun, Jro Gede Sidemen, Kecamatan Sidemen, Kabupaten karangasem. Penerjemahnya adalah Cokorda Gede Catra. yang oleh Bapak I Made Pageh Suardana di posting dalam Blog www.kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com agar dapat dibaca, dinikmati dan dipahami oleh pratisentana Sira Arya Kuthawaringin -Kubontubuh di seluruh Indonesia.

Buku ini kemudian  diperbanyak untuk kepentingan intern Warga Pura  Taman Sari Penebel, yang juga merupakan pratisentana Sira Arya Kuthawaringin-Kubontubuh dengan maksud agar lebih mudah dipelajari oleh Pratisentana bukan untuk diperjualbelikan secara luas.

Semoga dengan hadirnya buku ini akan memberikan pemahaman yang benar dan menumbuhkan bhakti dan hormat  kepada leluhur, khususnya generasi muda,dan mudah-mudahan memberi inspirasi untuk berkarya ,berbuat dan berbuat lebih baik  sebagaimana yang telah di perbuat oleh leluhur-leluhur terdahulu serta mempererat tali persaudaraan diantara sesame semeton pratisentana.

Naskah Babad seperti dimaksud dalam judul diatas disajikan dibawah ini dengan penjelasan untuk dimaklumi bahwa kode “Hal. 1/b” s/d “Hal. 92/a” yang tercantum pada awal dari alinea-alinea tertentu dalam naskah  dibawah ini merupakan nomor halaman lontar yang merujuk kepada lontar babon-nya.

Hal. 1/b. Semoga tak terhalang. ” Om pranamiyam sira sadiniyam, prawaksye tatwa widnyeyah, Siwa Ghrena stitya, swakyam, sawangsanira mangrajyam, bukti mukti itartatem, Wisnuwangsa pataye swaram, Rajarsi twam maha balam, Bupalakam patyam loke ” — o —

Om namo dewaya- Sembah sujud hamba kehadapan Yang Maha Kuasa, Kehadapan Paduka Bhatara Rahyang Manu, beliau mentakdirkan hidup dan mati, serta berhasilnya suatu tujuan. Setiap saat berada diatas ubun – ubun, yang pertama – tama disembah, sebelum sanak keluarga keturunan, memohon untuk menguraikan ceritera ini. —/—

Hal. 2/a. yang termuat didalam “Purana Raja Sasana Candri Supralingga Buana” Kini teruraikanlah tentang asal-usul, oleh beliau yang telah bersatu dengan alam baka, pertama-tama memohon bantuan, semoga selamat dan sejahtera, terjauh dari segala kutukan, luput dari segala bencana yang dahsyat, moga-moga kekal abadi dihormati diatas dunia, Om Siddhi rastu swaha. — o —

Beginilah harapan pertama di dalam kata pembukaan. Agar diresapkan oleh mereka yang ingin mengetahui tentang ceritera “Manuwangsa”. Pada tahun Caka 530, sasih kawolu, titi 12, tanggal bulan terang, —/—

Hal. 2/b. wara pujut, dikala itu Paduka Rahyang Dimaharaja Manu, turun dipulau Jawa, Medang Kemulan, ibarat keutamaan Dewata Dipuja disana, buat pertama sebagai raja di dunia. = Gurunem Sobitah siyotah = Makanya Sanghyang Manu turun kedunia, atas perintah ayahnda, beliau Bathara Guru, disuruh membangun Dharma disana di Medang Kemulan, selanjutnya mendirikan istana disana, serta bersemadilah beliau, memuja Sanghyang Surya dikala fajar menyingsing.—/—

Hal. 3/a. Akibat keberhasilan semadinya ibarat Dewata kenyataannya didunia, keadaannya tak ada

bandingannya didunia, =Tanam lokastu rajnyitah, satyam wakbih kretam loke, srotawiyam dharmanam, bukta bhawanam wanycanam = Sesungguhnya sejahteralah keadaan dunia pada saat Sanghyang Manu menjadi raja, tidak ada kebenaran lebih dari beliau ( = yang beliau hayati ), sebab beliaulah yang berhasil semua perintahnya, mahir tentang keadaan masa lampau, kini dan yang akan datang, terutama termasuklah keadaan manusia, diwilayah pulau Jawa Medang Kemulan, semuanya tunduk menjunjung telapak kaki Paduka Bathara Ra Hyang Dimaharaja Manu. = Yawanam ma. —/—

Hal. 3/b. ndhame dwiyah, tesanca yowanam prajah, dasantih Bujanggam tayah, Hewam santanam wijnyanah . Entah berapa lama Ra Hyang Dimaharaja Manu bertakhta menjadi junjungan disana, ibarat Dewata menjelma, selalu melaksanakan tapa beliau, memberikan pelajaran – pelajaran memenuhi dunia. Mengadakan keturunan, berkat jasa-jasanya dilahirkanlah keturunan Manu, disana di negara Medang Kemulan. = Awijam Ekam Sangstito = Mula-mula Ra Hyang Dimaharaja Manu, berputera laki-laki utama satu orang, bergelar Seri Jaya Langit, Adapun Sri Jaya. —/—

Hal. 4/a. Langit, berputera seorang bernama Sri Wreti Kandhayun. Dan Sri Wreti Kandhayun, berputera Sri Kameswara Paradewasikan. Adapun Sri Kameswara Paradewasikan, berputera seorang laki-laki utama, beliau bergelar Sri Dharma Wangsa Teguh Ananta Wikramatunggadewa, beliau sebagai pemimpin atas ketinggian ilmu bathinnya, menterjemahkan “Sapta sangkya Sangkrita” bersama delapan orang pendeta, karangan pujangga besar Baghawan Bhyasa, mengubah menjadi Palawakya, yang terkenal dengan nama Astadasa Parwa ( = Maha Bharatha). —/—

Hal. 4/b. Sebab beliaulah yang mendalami ” Berata ” berbudi dharma, sesungguhnya tugas seorang raja, menyelamatkan dan mengayomi negara dan rakyat, berlandaskan Satya-dharma, sebagai pelindung dunia, Prawaktiyam Sri Gotrabih = Beliau Maharaja Besar, yang pertama, subur aman sentausa keadaan negara pada waktu beliau bertakhta menjadi raja, tak ada durjana yang berani durhaka kepada beliau. Demikianlah keutamaan beliau Sri Dharmawangsa Teguh Ananta Wikrama Tungga Dewa. Entah berapa lama beliau bertakhta menjadi raja, selanjutnya mengadakan keturunan, beliau berputera dua orang putera-puteri. —/—

Hal. 5/a. yang tertua laki-laki bergelar Sri Kameswara, sebagai nama datuk beliau, adiknya perempuan Sri Dewi Guna Priya Dharma Patni, menjadi permaisuri Sri Udayana Warmadewa, melahirkan Sri Erlanggia dan anak Wungsu. Dan Sri Kameswara berputera tiga orang laki-laki dan perempuan, yang sulung bergelar Sri Kertha Dharma, beliaulah yang wafat di Jirah, yang kedua Sri Tunggul Ametung, menjadi Bupati Tumapel, saudara perempuannya, Dewi Ghori namanya, diperisteri oleh Sang Empu Widha, yang berputera bernama Dyah Medhawati, bersatu dengan alam baka, bersemadhi. — /—

Hal. 5/b. di pekuburan. Dan (=Sri Kameswara) mempunyai seorang anak angkat putera Sri Udayana

Warmadewa, yang dilahirkan di pulau Bali, bergelar Sri Erlanggia, bertakhta menjadi raja, membangun istana di Negara Daha, dengan demikian empat orang putera Sri Kameswara, tiga orang laki-laki, perempuan hanya satu orang. Adapun Sri Erlanggia berputera dua orang yang terutama, tiga orang termasuk putera penawing, namanya satu persatu, ialah : yang sulung bergelar Sri Jayabhaya, adiknya bergelar Sri Jayasabha. Putera yang penawing bernama Sirarya Buru, beribu puteri desa (=gunung;). Dan — /—

Hal. 6/a. beliau mempunyai seorang puteri, bernama Sri Dewi Kili Endang Suci, Rake Kapucangan nama lainnya, tetapi hatinya tidak terpengaruh lagi untuk menjadi raja, sebab beliau seorang wanita yang taat kepada berata tidak bersuami, hanya melaksanakan tugas kependetaan, itulah sebabnya beliau hidup dipegunungan sebagai pertapa. Adapun Sri Jayabaya, dan Sri Jayasabha, tidak henti-hentinya bercekcokdengan saudara, mereka membagi Kerajaan Daha, Sang Empu Bharadhah sebagai penasehat ( = akhli pikir ), menjadilah negara Janggala dan Kediri = Sagara Ghanesiya warsaning ksiti ( = Candra sangkala yg mungkin berarti : Sagara = 4. Ghana = 6. Siya = 9. ) Tahun Caka 964 (= th. 1042 Masehi). – o –

Pertama saya uraikan Sri Jaya Bhaya. — /—

Hal. 6/b. Adapun Sri Jayabhaya berputera laki-laki sebanyak tiga orang, yang sulung bergelar Sri Haji

Dangdang Gendis, yang Kedua Sri Siwa Wandhira, yang bungsu Sri Jaya Kusuma. Sekian putera-putera Sri Jayabhaya. Dan Sri Aji Dangdang Gendis, berputera Sri Jaya Katong, gugur di dalam pertempuran. Sri Jaya Katong berputera Sri Jaya Katha — o —

Adapun Sri Siwa Wandhira, berputera Sri Jaya Waringin. — o —

Dan Sri Jaya Kusuma, berputera Sri Wira Kusuma, mengadakan keturunan di pulau Jawa, mahir didalam Agama Islam, kemudian bergantilah gelarnya, ber— / —

Hal. 7/a. gelar Rahaden Patah, tidak diceritakan. —o—

Kembali ( = diceriterakan) Sri Jaya Waringin, dan Sri Jaya Katha, putera dari Sri Siwa Wandhira dan Jaya Katong, beliau berdua yang gugur di dalam peperangan; keduanya Jaya Waringin dan Jaya Katha, yang tunduk pada raja Tumapel, waktu ayahnda gugur dalam pertempuran, dalam kekacauan di negara Daha, ternyata tembus sampai pada cucu menderita bencana, kutuk dari para pendheta Siwa Budha, bagaimanakah penyebab perang yang mengakibatkan runtuhnya kerajaan, inilah dengarkan ceriteranya; dahulu pada tahun Caka 1144 (catur = 4. sagara = 4. eka = 1. tunggal = 1), tahun 1222 Masehi — / —

Hal. 7/b. bulan kedelapan, titi ketiga pada bulan mati, wuku Watugunung, pada saat itulah komando Sri Aji Ken Angrok, yang bertakhta di Tumapel, menyerang kerajaan Galuh, berkat desakan para pendeta Siwa dan Budha. Semula Sri Aji Dangdang Gendis durhaka terhadap para pendeta, menghinakan dharma sang pendeta, bagaikan Maharaja Nahusa, berkemauan menguasai Inderaloka, demikian perbuatan Sri Aji Dangdang Gendis. Itulah sebabnya para pendeta kesusahan. — / —

Hal. 8/a. berpindah menuju Tumapel, memohon agar dibantu kepada Sri Aji Ken Angrok. Kini kerajaan Daha ibarat rumput yang kering sebesar gunung, keadaannya, terbakar hangus oleh segumpal cahaya api. Yang manakah apinya? Itulah kemarahan Sang Pendeta, yang menyala-nyala didalam hati beliau, dengan hembusan nafas laksana angin kencang, Sri Aji Ken Angrok menghancurkan, semakin menyala-nyala tanpa rintangan. Yang pada akhirnya Sri Aji Dangdang Gendis terkalahkan, mengertilah beliau bahwa ajalnya tiba, sebab Sri Aji Ken Angrok betul keturunan Brahma . — /—

Hal. 8/b. bergelar Sanghyang Guru. Itulah sebabnya Sri Aji Dangdang Gendis, menenangkan hati,

menyatukan bathin, sekejap lenyap dan gaib tanpa jasad. — o —

Kembali dikisahkan, para prajurit dan menteri dan lagi para sanak keluarga yang masih hidup, terpencar-pencar mencari tempat yang terlindung, untuk tempat bersembunyi, memerlukan agar terhindar, karena pimpinan perangnya Jaya Katong, Siwa Wandhira, telah hancur meninggal dunia, memenuhi tugas ksatriya uttama. Masih ada dua orang, pimpinan dari keluarga yang uttama, putera dari Jaya Katong. — /—

Hal. 9/a. dan Siwa Wandhira, yang termashur bernama Jayakatha dan Jaya Waringin, mereka berdua sangat marah atas kematian ayahnya dimedan laga, bertindak maju menyerang bagaikan harimau yang garang. Lalu dikurung direbut oleh empat perwira, yang masing-masing namanya : Arya Wangbang, Misa Rangdi, Bango Samparan, Cucupu Rantya, disana Jayakatha dan Jaya Waringin keduanya ditangkap, tidak berdaya, ikut ditangkap isterinya Jayakatha, dilarikan ke Tumapel, kebetulan dalam keadaan sedang hamil dan. — /—

Hal. 9/b. Jayawaringin masih jejaka, belum beristeri. Semua menteri, keempatnya belas kasihan hatinya, kepada Jayakatha dan Jayawaringin, itulah sebabnya selamat, tidak dibunuh. Dan sesampainya di Tumapel dijadikan anak oleh keluarga Gajah Para, keturunan keluarga isterinya Sira Endok, dan keluarga Kebo Ijo, disanalah dipelihara, tidak memperoleh kekuasaan, entah berapa lamanya bermukim di Tumapel, pada suatu saat, akhirnya Sri Jayakatha ber. — / —

Hal. 10/a. putera tiga orang, yang sulung bernama Sirarya Wayahan Dalem Menyeneng; apa sebab diberi julukan “Dalem Manyeneng?” sebab hidup waras benih yang ada didalam rahim pada waktu ibunya dilarikan. Dan adiknya, bernama Arya Katanggaran, yang bungsu Arya Nudhata. Adapun Sirarya Wayahan Dalem Manyeneng, kemudian mempunyai putera dua orang laki-laki, bernama Sirarya Gajah Para, dan Sirarya Getas. Dan Sirarya Katanggaran, putera kedua dari Sri Jayakatha, beristerikan keturunan Kebo Ijo, di Tumapel. — /—

Hal.10/b. beliau berputera seorang laki-laki, bernama sira Kebo Anabrang, Sirarya Saberang dikenal oleh umum, sebab beliau diutus menggempur daerah seberang ( = Melayu ), oleh Prabu Kerthanegara, Raja Singasari, beliau berkemauan mempersunting puteri Raja negara seberang (=Melayu ), yang bernama Diyah Dara Petak dan Diyah Dara Jingga. Adapun Sirarya Saberang berputera hanya seorang, ayahnda memberi nama Kebo Taruna, terkenal pada umum bernama Sirarya Singha Sardhula, kemudian beliau menyeberang ke nusa Bali, menjabat kenuruhan ( = suatu jabatan penting ) — / —

Hal. 11/a. tetaplah bergelar Sirarya Kanuruhan, hentikan penuturannya sedemikian. —o—.

Kembalidikisahkan tentang Sri Jayawaringin, setelah tiba di Tumapel, dijadikan anak oleh para warga Kebo Ijo,kemudian diberikan isteri, puteri keturunan Kebo Ijo, yang bernama Ghandi Gari. Berapa lamanya mereka bersuami isteri, berputeralah seorang laki-laki, bernama Sirarya Kuthawandhira. Lama kelamaan Sirarya Kuthawandhira memperoleh keturunan seorang laki-laki, bernama Sirarya Kuthawaringin, itulah beliau Sirarya Kuthawaringin diperintahkan oleh. — / —

Hal. 11/b. Maha Patih Gajah Mada, menyeberang ke Nusa Bali, demikian ceritera dijaman bahari, hentikan, — o—.

Kini ulang ceriteranya, diganti dengan penuturan Sri Jaya Sabha, adik dari Sri Jayabhaya, beliau Sri Jayasabha menurunkan seorang putera laki-laki, bernama Siraryeng Kadiri, adapun Siraryeng Kadiri, berputera Sirarya Kepakisan, Itulah beliau Sirarya Kepakisan yang datang di nusa Bali atas perintah Maha Patih Gajah Mada, hentikan penceriteraannya. — o —

Dikisahkan waktu bertakhta Prabu Siwabudha ( =Kerthanegara ) sebagai raja Kerajaan Singasari, terjadi kemelut dalam negaranya, tidak. — / —

Hal. 12/a. ada kerja sama dengan raja-raja lainnya, bercekcok dengan raja negeri Cina, akibatnya terjadi peperangan yang dahsyat, hancur lebur negara Singasari, beserta rajanya, seolah-olah ditakdirkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa menjadi besarnya Raja Kerajaan Majapahit, karena kebijaksanaan beliau, Sri Harsa Wijaya ( = Raden Wijaya ), yang telah mengetahui tujuan musuh datang, selanjutnya musuh dapat dikalahkan, maka dari pada itu Singasari tunduk kepada Majapahit, dan negara-negara ( = daerah daerah ) jajahan Singasari dahulu dikuasai juga oleh Majapahit, tetapi daerah timur selat Bali ( = segara rupek) belum terkalahkan, yang terutama pulau Bali. —o— Dikisahkan. — / —

Hal. 12/b. ketika menghancurkan kerajaan Bedhahulu, oleh raja Majapahit, dengan bermacam ragam oleh Maha Patih Gajah Mada melaksanakan kebijaksanaan dan usaha yang uttama, ilmu rahasia

Kepemimpinannya Sanghyang Wisnu, dan kehancurannya Kebo Waruya Dahulu, namun tetap belum

terkalahkan pulau Bali itu, karena amat saktinya Ki Pasung Grigis. Disana berundinglah sekalian menterimenteri Majapahit, dengan dipimpin oleh Maha Patih Gajah Mada, diperbincangkan panjang lebar tentang penyerbuan pulau Bali. Setelah matang permufakatannya, semua bergegas mereka berangkat, — / —

Hal. 13/a. dengan perahu, menyerbu pulau Bali, terbagi menjadi tiga jurusan prajurit-prajurit itu bertempur. Beliau Maha Patih Gajah Mada menuju sebelah timur pulau Bali, yang dibantu oleh para menteri dan para Arya yang lain, mendarat di Toyanyar ( = Tiyanyar). Adapun yang dari Bali sebelah utara, Sirarya Damar, dibantu oleh Arya Sentong, dan Sirarya Kuthawaringin, mendarat di Ularan. Dan Sirarya Kenceng bersama dengan Sirarya Belog, Sirarya Penghalasan, Sirarya Kanuruhan, kesebelah selatan Bali, menuju pantai Kutha. Dalam keadaan demikian, terkejutlah — / —

Hal. 13/b. rakyat pulau Bali, bergegas-gegas para perwira Bali, berpasang-pasangan berangkat kearah tujuannya, dengan bersenjata lengkap, ada yang kearah timur, keutara, keselatan, menghadapi bala tentara Majapahit,. Tersebutlah penggempuran Maha Patih Gajah Mada dari sebelah timur, membakar hutan-hutan dan gunung, sehingga bernyala-nyala cahaya api, asap mengepul-ngepul, menjulang tinggi kelangit, tiba-tiba dilihat oleh para Arya dan rakyatnya dari utara dan selatan, saat itu serempaklah laskar Majapahit, berperang habis-habisan, sebab demikian, — / —

Hal. 14/a. perjanjiannya dulu. Tak terlukiskan dahsyatnya pertempuran pada ketiga jurusan, serangmenyerang, akhirnya terdesak rakyat Bali. Yang bergerak disebelah timur, terbunuh perwira Bali Ki Tunjung Tutur, di Toyanyar, dan Si Kopang yang berkuasa di Seraya, semua terkalahkan, oleh laskar Majapahit, berlari tunggang langgang rakyat yang masih hidup, ternyata tunduk daerah yang disebelah timur Gunung Agung. Adapun yang menyerang dipantai utara, dikalahkan si Girikmana, yang bermukim di Ularan, oleh Sirarya Damar. Dan Ki Buah yang berumah. —/ —

Hal. 14/b. di Batur, dibunuh oleh Sirarya Kuthawaringin. Setelah meninggal kedua orang menteri itu, semua rakyat berlari berusaha menyelinap ditempat-tempat terlindung, oleh karenanya berhasil dikalahkan daerah diutara Gunung ( = Gunung Agung ). Dikisahkan mereka yang menyerang dari selatan, dihadapi oleh laskar orang-orang Bali, yaitu Ki Gudug Basur, berpangkat Demung, dan Ki Tambiyak, yang berdiam di Jimbaran, bersama rakyat berbondong-bondong, amat hebatnya peperangan itu, riuh rendah suara gambelan berpadu dengan dentingan tombak, banyaklah rakyat yang mati dan menderita luka-luka, rakyat Bali menderita kekalahan, mundur. — / —

Hal. 15/a. kebelakang. Tiba-tiba Ki Tambiyak dan Ki Gudug Basur, direbut oleh para Arya dan menteri

Majapahit, tak terlukiskan sulitnya pertempuran sama-sama berusaha dengan beraneka ragam mendapatkan pengintaian, akhirnya tertangkap dia Ki Tambiyak, langsung dipenggal oleh Sirarya Kenceng, masih dia Ki Gudug Basur, dikurung bersama-sama, kuat kebal sehingga tak terlukai. Semakin lesu Perlawanannya, dan akibatnya menjadi payah tubuhnya, kemudian matilah dia telanjang bulat, disoraki oleh laskar Majapahit, selanjutnya tenggelam Sanghyang Surya ibarat meleraikan pertempuran itu. — o —

Sesudah lama — / —

Hal. 15/b. peperangan tersebut, sesudahnya mati Ki Gudug Basur, dikisahkan setelah kalah pesisir pulau Bali, tinggallah Kriyan Pasung Grigis di Tengkulak, mempertahankan pulau Bali, sebab tidak goyah kesaktiannya, berani dan akhli dalam pertempuran, mahir dalam tangkis-menangkis, seolah-olah berganti wujud tampaknya, menjadi susahlah hati maha Patih Gajah Mada, karena kelicikan Ki Pasung Gerigis, didalam pertandingan tempur, sebab rencana Rakriyan Patih Gajah Mada dapat menundukkan tanpa membunuh ( = menangkap hidup ), sebab memang demikian permintaan Sang raja Majapahit dulu, Ketika terhentinya pertempuran pada malam hari, berundinglah beliau. — / —

Hal. 16/a.Rakriyan patih Gajah Mada, bersama para Arya Majapahit, terutama Sirarya Damar, mereka

membicarakan hingga berhasilnya permintaan Sang Raja Majapahit, yaitu tunduknya Ki Pasung Gerigis. Setelah dapat disimpulkan siasat yang licin ( = upaya sandhi ), semua para arya menyetujui keputusan Maha Patih Gajah Mada. Keesokan harinya, seluruh laskar Majapahit, membalik persenjataan ( = anungsang sanjata ), disertai tanda mengibarkan bendera putih, suatu tanda menyerah/tunduk, sebab memang demikianlah hukum ( = dharma sasananing) pertempuran. Dengan segera diketahui oleh Ki Pasung Gerigis, perilaku laskar Majapahit bermaksud untuk tunduk/ menyerah, amatlah girang. — / —

Hal. 16/b. hati Ki Pasung Grigis. Oleh karena ditakdirkan oleh, Ida Sanghyang Widhi Wasa, lenyaplah

kelicikan Ki Pasung Grigis, tidak sadar diperdayakan, terus lupa, bagaikan kelelapan dia, bagai diselimuti hatinya oleh rajah tamah, sehingga angkara dan berbangga maksud hatinya, melalaikan tipu muslihat, karena mengandalkan kesaktian dirinya, akhirnya laskar Majapahit disuruh menghadap. Pada saat tiba para menteri Majapahit, semua menundukkan kepala, ( = menghormat) seolah – olah tidak mempunyai suatu keberanian,  serta menghadap dan berbakti ( = talangkup ) kepada Kriyan Pasung Grigis, menyatakan.— / —

Hal. 17/a. “tunduk” berterima kasih Ki Pasung Gerigis, Tidak diceriterakan keputusan percakapannya/perundingannya, Ki Pasung Gerigis pulang ke istananya di Tengkulak, bergandengan tangan dengan Maha Patih Gajah Mada, diiringkan oleh para Arya sekalian; setelah tiba diistana, tak terkatakan penerimaannya, serta dengan senda gurau yang menyenangkan hati masing-masing. Pada waktu itulah Maha Patih Gajah Mada melaksanakan tipu muslihatnya, katanya : pertanyaan hamba Si Mada, kehadapan paduka Gusti, karena mulia tersohor dimana-mana, katanya paduka Gusti mempunyai anjing yang berwarna hitam, diperkirakan. — / —

Hal. 17/b. mengetahui/pandai seperti sifatnya manusia, bila paduka Gusti kasih sayang kepada hamba saat ini, dipanggil anjing itu, agar supaya kami semua mengetahuinya. Demikianlah permintaan Maha Patih Gajah Mada, maka sangat bersuka cita Keriyan Pasung Gerigis, tidak disadari siasat yang membuat celaka, ujarnya : jangan curiga, segala kehendak adinda Patih kanda kabulkan. Disana tersenyum Ki Pasung Grigis, sambil memanggil anjingnya, olehnya dijanjikan akan diberi makanan, dengan segera datang anjing tersebut, tempurung yang bundar digigitnya( =membawa dengan mulut), tetapi tidak benar diberikan nasi, jelas dilihat oleh Maha Patih. — / —

Hal. 18/a. Mada, serta para Arya dan prajurit seluruhnya tentang perbuatannya demikian, seketika berdiri tegak Maha Patih Mada, maju kedepan. menuding mukanya Pasung Grigis, serta senjata gemerlapan, AH… IH…. Pasung Grigis, jelas lenyap menghilang keutamaanmu, sebab engkau melakukan perbuatan jahat/bohong, tidak tepat pada kata-katamu, menjanjikan, tapi tidak benar, untuk seterusnya, musnahlah kepintaranmu, terbang melayang-layang, sebab sudah disaksikan oleh Sanghyang Trayodasasaksi, engkau tidak jujur. Kini bagaimana kehendakmu?. Niatmu akan mengadu. — / —

Hal.18/b. keberanian/ketangkasan/keperwiraan kepadaku? Ya.. tandingilah senjataku ini!. Dengan

demikian ….. terdiam Ki Pasung Grigis, laksana hancur hatinya, bagaikan disapu keperwiraannya, bagaikan disambar petir budhinya, oleh Rakriyan Patih Mada , kemudian menjawab dengan sopan, bahwa ia mempersembahkan jiwanya, dan pulau Bali sampai kepelosokpelosok, dan mengakui bahwa Bali telah kalah oleh Majapahit, demikianlah katanya jalan penangkapan atas diri Ki Pasung Grigis, di Tengkulak, serta tunduknya para menteri Bali dengan rakyat yang masih hidup. — o — Diceriterakanlah Pararya Jawa.

Hal.19/a. yang terkemuka Maha Patih Gajah Mada, serta laskar bawahannya semua bersenang-senang menghibur diri, sebab memang demikian kebiasaan apabila menang dalam peperangan. Pada suatu saat datanglah utusan Raja, Majapahit, putera Ki Patih Tuwa, yang bernama Ki Kudha Pangasih, adik dari Ken Bebed isterinya Maha Patih Gajah Mada. Setibanya di Tengkulak, diterima oleh Rakriyan Gajah Mada, serta semua Para Arya, telah diberitahu ceritera sejak awal jalannya pertempuran, semua gembira ria, didalam lubuk hatinya. Disana berkata Ki Kudha Pengasih, kepada Rakriyan Patih Gajah Mada. — / —

Hal. 19/b. Aturnya: Paduka Gusti Patih, berhubung telah berjasa ( = tugas telah selesai), paduka gusti segera dititahkan kembali ke Majapahit, sebab paduka Gusti telah lama meninggalkan kerajaan, Maha Patih Gajah Mada, bersabda, bahwa beliau tidak menolak, ( = hatinya setuju ). Pe-rintah raja, hanya saja sedang mengatur para Arya yang patut untuk mempertahankan pulau Bali. Lanjut dikumpulkan pararya selain dari Sirarya Damar. Berturut-turut semuanya disuruh ( = diperintahkan ) mengawasi wilayah kerajaan, ditetapkan tempatnya masing-masing, ialah : SIRARYA KUTHAWARINGIN di GELGEL, Sirarya Kenceng. — / —

Hal. 20/a di Tabanan, Sirarya Belog di Kaba-kaba, Sirarya Delancang di Kapal, Sirarya Belentong di Pacung, Sirarya Sentong di Carangsari, Sirarya Kanuruhan Singha Sardula di Tangkas, Keriyan Punta di Mambal, Keriyan Jerudeh di Tamukti, Keriyan Tumenggung di Patemon, Arya Demung Wangbang turunan Kadiri di Kretelangu ( = Badung ), Arya Sura Wangbang turunan Lasem di Sukahet, Arya Wangbang turunan Mataram boleh memilih tempat dimana saja, Arya Mekel Cengkerong di Jaranbana ( = mungkin Jemberana), Arya Pamacekan. — /—

Hal. 20/b. di Bondalem. Demikianlah pengaturannya Maha Patih Gajah Mada, agar supaya semua

mempertahankan pulau Bali serta rakyatnya, sementara menunggu seorang raja untuk memimpin pulau Bali, dan semuanya diberikan kata-kata nasehat oleh Maha Patih Gajah Mada tentang bagaimana caranya mengatur negara, dan tentang raja sasana, sampai dengan niti praya, disana serempak menjawab –ya mereka yang dinasehati, semua bersedia atas segala perintah Maha Patih Gajah Mada, masing-masing menempatkan dirinya menurut ketentuan. — o —

Diceriterakan setelah hancurnya Bedahulu, tunduknya Pasung ; Gerigis, berkuasa Sri Aji Ka. — / —

Hal. 21/a. la Gemet di Majapahit, sunyi senyap keadaan pulau Bali, sebab telah lama belum ada seorang raja yang memegang kekuasaan disana. Sehingga belas kasihan hati Maha Patih Gajah Mada, melihat pulau Bali hampir rnengalami kehancuran karena tiada pengaturan, sebab belum ada rajanya. Lebih-lebih telah didelegasi oleh keturunan tujuh orang Mpu (= Mpu Sanak Pitu), yaitu : Sira Patih Ulung, Kiyayi Pamacekan, Kiyayi Kapasekan, Kiyayi Padang Subadra, memohon ke-hadapan Raja Majapahit, dan Rakeriyan Mangku Negara ( = Gajah Mada), agar ada bertakhta menjadi raja sebagai Kepala Negara.— / —

Hal. 21/b. Bali dengan segera, menjadi junjungan rakyat Bali. Kemudian pada waktu Mertha Masa, Purnama bulan ke empat (= Kapat), disana Maha Patih Gajah Mada melantik putera-puteranya Sri Kresna Wang Bang Kepakisan, setelah direstui oleh Maharaja Majapahit, diberangkatkan mereka masing-masing, adapun yang tertua dijadikan raja di Belambangan, putera yang kedua bertakhta di Pasuruhan, yang ketiga seorang puteri bertakhta di Sumbawa, yang bungsu bertakhta di Pulau BALI, bergelar Ida Dalem Ketut Kresna Kepakisan, pada tahun Saka. — / —

Hal. 22/a. “Yogan muni rwaning bhwana” ( = th. 1274 C atau 1352 Masehi), jelas bagaikan Wisnu Narayana, menjelma mengayomi di ketiga alam, dipuja oleh para arya semua, tegaklah kedudukan beliau di Samperangan, di pesanggrahan Maha Patih Gajah Mada dahulu pada waktu merencanakan penyerangan pada kerajaan Bedahulu. Adapun yang menjadi Patih Agung adalah Sirarya Kepakisan, yang kedua Patih Sirarya Kuthawaringin, Sirarya Kanuruhan sebagai sekretaris Dalem. Sesudah itu datanglah dua orang Arya yang bersaudara, bernama Sirarya Gajah Para adiknya bernama Sirarya Getas, dititahkan untuk mempertahankan disebelah. — / —

Hal. 22/b.timur Gunung ( = G. Agung), bermukim di Toyaanyar. —o—

Diceriterakan kembali, Sirarya Kuthawaringin terutama dikisahkan, diberikan kedudukan Adhi-Patih, pejabat tinggi pembantu terdepan Dalem Ketut Kresna Kepakisan, juga berkedudukan sebagai tumenggung. Entah berapa lamanya Sirarya Kuthawaringin menjadi menterinya/pejabat terdepan Sri Aji Kudhawandhira di Samperangan, hanya ketentraman dan keamanan negara yang beliau perbuat selalu, oleh karenanya amatlah bahagia kehidupannya, sebagai kebesaran leluhurnya di Kadiri diwarisinya. — / —

Hal. 23/a. memperoleh kepuasan atas jasa dan kewibawaan didunia, Adapun Sirarya Kuthawaringin sudah mempunyai keturunan, empat orang pria wanita, yang sulung bernama KIYAYI KLAPODHYANA, yang kedua bernama KIYAYI PAREMBU, putera yang ketiga bernama KIYAYI CANDHI, yang bungsu wanita bernama I Gusti Ayu Waringin, diambil dijadikan permaisuri oleh Sira Dalem Ketut Kresna Kepakisan. Sekian keturunan Sirarya Kuthawaringin, semua berkedudukan membuat rumah di Gelgel; dalam kehidupan yang penuh kewibawaan. Lama kelamaan Sira Kyayi Klapodhyana. — / —

Hal.23/b. menjadi patih uttama mengganti ayahnda Sirarya Kuthawaringin sebab beliau telah lanjut usia, beliau Kyayi Klapodhyana yang bergelar Kyayi Gusti Agung Bandhesa Gelgel, yang pertama-tama pindah istana di perkebunan disebelah barat ( = Abiyan kawan), entah berapa pula lamanya Sirarya Kuthawaringin bermukim di Gelgel, berakhirlah waktunya untuk berkecimpung dalam kepuasan dunia, merasakan kesenangan indria Pada akhirnya wafat Sirarya Kuthawaringin, pulang ke alam baka, kembali keasalnya ( =windhu rupaka ), —/—

Hal. 24/a. menuju penciptanya, kembali bersatu dengan yang Maha Halus. Selesai sudah upacara “Palebon” yang diselenggarakan oleh seluruh putera-putera dan sanak keluarganya, lanjut dengan upacara “Baligia” dengan Atma Pratistha, demikian tata upacaranya, tidak dituturkan lagi. — o —. Adapun Sira Dalem Ketut Kresna Kepakisan, beliau telah kembali ke alam baka ( = wafat), terasa bimbang sunyi sepi ketiga alam itu (= kadi mangrwa suniya ikang tribuana) = mungkin candra sengkala; kadi mangrwa = 2. suniya = 0. ikang tri = 3. buana = 1. (= 1302 C). Digantikan oleh putera beliau yang sulung, bergelar Sira Dalem Samperangan, tersohor didunia beliau bernama Dalem Ile dan putera yang kedua bernama Dalem Taruk. — / —

Hal.24/b. bermukim dipuri Tarukan, namun tidak berminat/tidak tertarik oleh pemerintahan kerajaan (=Kaprabon ), berkemauan melaksanakan Dharma seorang Pendheta, tetapi beliau belum dapat memahami rahasia menjadi manusia, sehingga beliau membuat wujud seperti orang gila (=Brantadnyana). Putera Dalem yang bungsu bernama sira Dalem Ketut, amat gemar berjudi berkeliling (= angulesir), dimanapun tempat judian itu dikunjunginya, tak tertahan oleh beliau pengaruh wujud inderia itu, Ada lagi putera beliau ( =Dalem Ketut Kresna Kepakisan) satu orang dari lain ibu, bernama Ida Idewa Tegal Besung, lahir dari I Gusti Ayu Waringin, sebagai. — / —

Hal. 25/a. berjarak amat jauh kelahirannya ( = anglangsut ). Beliau putera Dalem yang termuda, juga terhitung cucu dari wadu oleh Sirarya Kuthawaringin, Jadi empat orang jumlah putera Bathara Kresna Kepakisan yang pertama tiba di Bali ( = Bhurawuh ). —o—.

Diceriterakan pada waktu Kiyayi Gusti Agung Bandhesa Gelgel, bersama para arya tandha manteri yang lain menghadap Dalem Ile di Samprangan terlambat beliau keluar ke balai Penghadapan, asyik beliau menatap bayangan pada cermin ( = bercermin ), menyempurnakan gelung, mengulang – ulang berkain ( = wastra ), sehingga condong kebarat Sang Surya.—/—

Hal. 25/b. belum juga Dalemkeluar kepenghadapan, akhirnya payah/gelisah olehnya menunggu di Balairung, demikian tingkah beliau berulang-dua, tiga kali, sehingga kecewa bercampur marah putus asa dan pergi ( = ngambul ) mereka yang menghadap. Kemudian didengar oleh Dalem Taruk tentang keadaan Maharaja Samperangan, oleh karena itu beliau mengutus Kudha Panandang Kajar untuk mencari adinda Dalem Taruk yang bergelar Dalem Ketut, namun ditolak olehnya, pendek jawaban beliau ( = Dalem Ketut ) tidak mau kembali pulang, sebab sedang diliputi kesenangan ( = inderia ) Dalam keadaan demikian, Kyayi Klapodhyana bermaksud hendak menghadap pada Dalem Ketut, tetapi. — / —

Hal.26/a. ada yang dikhawatirkannya kalau-kalau ditanggapi durhaka menentang, sebab keris pusaka Dalem yang termashur bernama Ki Tandhalanglang, sangat saktinya, mampu menyelidiki/mengontrol para menteri yang durhaka berani menentang Dalem, langsung dapat tertancap didada para menteri yang durhaka, tanpa diantar, bila mangsanya telah mati, kembali Ki Tandalanglang bertuliskan darah. Berpikir-pikir Kyayi Agung Bandhesa Gelgel ( = Klapodhyana), kuatlah kemauannya untuk menegakkan kesejahteraan Negara serta wilayahnya, berdengung bagaikan suara dari angkasa, didengar olehnya. —/—

Hal. 26/b. menyuruh mengunjungi/menjunjung Dalem Ketut, sehingga terhindar kehancuran negara, tak terkatakan, lanjut Kyayi Klapodhyana dibarengi oleh para Bahudandha tandha manteri serempak menuju desa Pandak, hendak menghadap Dalem Ketut, telah diselidiki bahwa beliau berada disana, sebab kesayangannya ( = Klapodhyana), Ida Idewa Tegal Besung masih kanak – kanak, belum tahu untuk memerintah kerajaan. Tak tertuliskan dalam perjalanan, tiba mereka di Pandak, akhirnya diketemui beliau Dalem Ketut sedang berada dalam judian, tersipu-sipu sangat. — / —

Hal. 27/a.malu, sering menderita kekalahan, tanpa ragu-ragu dalam hatinya. langsung dengan ramah tamah berkatalah Kyayi Klapodhyana : Singgih Cili, lihatlah kebaktian hamba sampai dengan hati tingkat ketujuh, kini …. Cili hamba jadikan Raja ( = junjungan), sehingga negara tidak hancur, rakanda cili Sri Aji Samprangan sulit untuk dihadap.- Lama tidak menjawab beliau yang dipuja ( = Dalem Ketut), karena sangat malunya, sambil berpikir-pikir, dengan berlinang-linang air mata beliau bersabda; apakah gunanya aku bertakhta menjadi Dalem sebagai rajamu, kau puja-puja. — / —

Hal.27/b.karena aku orang hina, miskin, kasar. Lagi berkata Kyayi Klapodhyana, yang mulia Cili, janganlah demikian, hanya cili juga yang hamba jadikan raja, …. ya .. itu… ambil rumah hamba untuk istana cili, hamba pindah rumah kekebun hamba yang berisi pohon kelapa ( = Tubuh ),. Demikian berkeras hati permohonan Kyayi Klapodhyana, berkenanlah beliau Dalem Ketut mengabulkan permohonannya Kyayi Bandhesa Gelgel, itulah alasan permulaan beliau Dalem Ketut beristana di Gelgel, serta diberi nama SWECALINGGARSAPURA. — / —

Hal. 28/a.Panca windhu pramananing rat, candrasengkala : Panca = 5. Windhu = 0. Pramana = 3. Rat. = 1. Isaka 1305 = 1383 Masehi, serta Dalem Ketut bergelar Sri Aji Semara Kepakisan, sebab awataranya Sanghyang Semara, karena cantik tampan penuh dengan sadguna, tempat berkumpulnya asta beratha, sukar dibedakan bila dibandingkan dengan Hyang Mahadewa, gambar CAWIRI pada paha pertanda jaya dalam pertempuran. Disana para menteri terbagi, ada yang ke Gelgel, ada yang tinggal di Samperangan, tetapi lebih banyak yang ke Gelgel. Ada yang melaporkan kepada Dalem Samperangan, bahwa Dalem Ketut di Gelgel, dipuja oleh Bandhesa Klapodhyana. — / —

Hal. 28/b. serta menteri – menteri yang lain, Dalem ( = Dalem Samperangan ) terdiam. —o — Diceriterakan Kiyayi Klapodhyana, menjadi Patih terkemuka dari Sri Cili Ketut ( = Dalem Ketut Semara Kepakisan), Dalem yang beristana ( = berkedudukan) di Swecalinggarsapura ( = Gelgel). Beliau Kriyan Patih Klapodhyana dapat berselisih pendapat ( = bertengkar), dengan Kiyayi Nyuhaya, yang disebabkan ( = sebagai alasan ) Kriyan Patih Klapodhyana mengawini puterinya Kyayi Nyuhaya, yang bernama I Gusti Ayu Adhi, saudara dari Kriyan Petandhakan, dengan alasan yang demikian ternyata menimbulkan kemarahan dan kegelisahan hatinya Kyayi Nyuhaya. Tidak. —/—

Hal. 29/a. rela diambil puterinya, serta ditolak semua perundingan melalui utusan ( = peradang ). Tersirat dalam hati Kyayi Nyuhaya, yaitu mengusahakan kematiannya Kyayi Klapodhyana, karena dia menyangka, besar dosanya ( = Kyayi Klapodhyana), orang rendahan mengambil isteri keturunan uttama, tidak ada lain penebusnya, selain dari kematian. Demikian keras kehendak Kyayi Nyuhaya, serta telah dirundingkan, pada sekalian putera-puteranya yaitu : Kriyan Petandhakan, Satra, Pelangan, Kaloping, Akah, Cacaran, Anggan, ikut serta para Pangeran semua saudara. — / —

Hal. 29/b. sepupu, yang berkumpul menjadi satu. Setelah bulat perundingan mereka, segera datang

menghadap kepada Dalem Ketut Semara Kepakisan, di Swecapura, mempermaklumkan (=mengatakan) bahwa anaknya diambil ( = diperistri) oleh Kyayi Klapodhyana, memohon ijin untuk membunuh Kriyan Patih Klapodhyana, kesalahannya mempersunting puteri turunan uttama, karena tidak dikenal kebangsaannya (= kasta keturunannya) Demikian atur Kyayi Nyuhaya, Dalem Ketut Semara Kepakisan terdiam tanpa jawaban, karena muncul berjenis-jenis bisikan dalam hati beliau, yang menyebabkan beliau (= Dalem Ketut Semara Kepakisan) memperoleh kebesaran dan kewibawaan. — / — .

Hal. 30/a. Dipersembahkan kepadanya seorang permaisuri, hanyalah berkat dia Kriyan Patih Klapodhyana yang menyerahkan kerajaan, kini keadaannya terkena kesulitan hanya setitik, sekarang aku tak kuasa membantunya, … aduhai …. besar sungguh hutang budiku bila tidak dibalas sama sekali, untuk selanjutnya tidak berguna benar hidupku. Selanjutnya Dalem bersabda kepada Kyayi Nyuhaya, sabdanya : hai kamu Punta Nyuhaya, terlanjur caramu berpikir, berikanlah waktu sebentar, sekurang – kurangnya dua hari, niatku untuk membuktikan wangsa kelahirannya Kyayi Klapodhyana, entah dari mana asal mulanya. — / —

Hal. 30/b.sehingga tak terjadi kekalutan dalam negara kerajaan. Bila seperti katamu, memerlukan

kematiannya, terang hancur lebur Swecapura ini, apa sebab demikian, karena Kyayi Klapodhyana banyak rakyatnya, yang berani membelanya, lagi pula sanak keluarga lebih-lebih lagi kaum bangsawan, ikut serta seluruh warga Pasek, semua dikuasai oleh Kyayi Klapodhyana, karena bijaksana membina masyarakat, serta cakap dan suka memberikan ampun dan bantuan berupa benda, manis tutur katanya, tegas, makanya disegani oleh bawahannya. — / —

Hal.31/a. Kamu Punta Nyuhaya, tunggu sebentar : menurut pula Kyayi Nyuhaya, tidak berani durhaka, lanjut bermohon diri untuk pulang dengan atur penganjali. Demikian tentang Kyayi Nyuhaya. — o —. Dikisahkan besoknya Dalem mengirim utusan untuk memanggil Kriyan Klapodhyana, panjang bila dilukiskan tingkah laku utusan didalam perjalanan, segera telah menghadap kepada Kyayi Patih Klapodhyana, kata utusan : Ki Gusti disuruh menghadap hari ini juga, atas perintah Sri Aji Ketut Semara Kepakisan, yang berkedudukan di istana. Menjawab Kriyan Patih. —/—

Hal. 31/b. silahkan kamu berangkat kembali lebih dulu, permaklumkan bahwa saya akan menghadap esok hari. Adapun diceriterakan besoknya Kyayi Patih Klapodhyana langsung menghadap keistana, dan setibanya dalam istana, penuh sesak para tandha manteri, semuanya menghadap, misalnya Kyayi Nyuhaya serta saudara dan semua puteranya, sama-sama ingin mengetahui persidangan pengadilan oleh Dalem Ketut Semara Kepakisan.- Demikian pula keluarga, seluruh rakyat bawahannya, terutama pembela-pembela yang diandalkan, yang memihak kepada Kriyan Patih Klapodhyana, semua. — /—

Hal. 32/a. sangat gembira hatinya, semua ingin melawan berperang, sebab telah jelas tersebar berita

permohonan Kyayi Nyuhaya untuk menghancurkan Keriyan Patih Klapodhyana, itulah sebabnya para sanak keluarga seperti tertarik, mendukung Kryan Patih, semua hendak membelanya. Disana Dalem Ketut Semara Kepakisan menanya Kriyan Patih Klapodhyana, sabda Dalem : Duh …. kanda Patih Klapodhyana, dengarkanlah tutur kata saya pada kanda, bahwa ada pemberitahuan Kyayi Nyuhaya, perihal kanda, mengambil ( = mengawini) anaknya, yang bernama. — / —

Hal. 32/b. Ayu Adhi, tetapi Kyayi Nyuhaya amat keberatan anaknya diambil, sebab tidak tahu asal-usul

kelahiran ( = kasta ) kanda. Keras kemauannya yaitu untuk membunuh kanda. Bagaimana oleh kanda Patih, silahkan pikirkan itu. Demikian sabda Dalem, menjawab Kriyan Patih Klapodhyana, dengan sopan santun serta panganjali, : Ampun tuanku yang maha mulia, segala titah tuanku telah hamba junjung, syukur sekali bila demikian kemauan Kyayi Nyuhaya. Makanya berani mengambil. — / —

Hal.33/a. anaknya, sebab hamba sebenarnya satu leluhur/kawitan dengan Kyayi Nyuhaya, Sayang …. kalau dia tidak mengetahui. Tinjaulah pada kekuasaan “CANDRI SAWALAN” yang dibawa dari Majapahit, keturunan keraton Negara Daha, jelas dirumah hamba disimpan dijadikan tunggul, kini hamba menyuruh si Parembu adik hamba untuk mengambilnya, untuk dipersembahkan kehadapan paduka Dalem. Tidak diceriterakan perjalanan dia yang disuruh mengambil, dengan segera tiba Kiyayi Parembu menghaturkan “Candri” —/—

Hal.33/b. Sawalan” ternyata dua keping perunggu, bertuliskan huruf Majapahit. Sifatnya atau watak besar dan bercahaya Danghyang Sendhok. Dibaca oleh Dalem, dihadapan para Patih dan menteri, terutama Kyayi Nyuhaya, diucapkan keterangan tutur bahasanya. Mula-mula Ra Hyang Dimaharaja Manu, melahirkan keturunan beserta turun-turunannya, sampai dengan Sirarya Kuthawaringin, keturunan Sri Jayabhaya, dan Sirarya Kepakisan keturunan Sri Jayasabha. Setelah selesai uraian didepan, terbukalah hati Dalem, yakin dan percaya dengan tulisan — / —

Hal. 34/a. “Sanghyang Candri Supralingga” lalu diserahkan kepada Kyayi Parembu diterima olehnya. Disana Kyayi Nyuhaya, menghaturkan buah kelapa yang besar tak ada bandingannya didunia; ceriteranya; dulu pada waktu Kyayi Nyuhaya baru lahir, dibungkus ari-arinya didalam buah kelapa, kemudian tumbuh kelapa itu buahnya tak terpadai besarnya, itu sebabnya diberi nama NYUHAYA (Aya = besar ). Aturnya : Ampun …. Paduka Dalem yang mulia, inilah suatu pertanda hamba keturunan Kepakisan, sekarang berkat paduka Dalem, hamba ini. — / —

Hal.34/b.memohon, agar supaya Si Klapodhyana besok menghaturkan buah kelapa yang sama besarnya, sebagai suatu tanda sama keturunannya ( = kula wangsa ), dengan hamba. Bimbang hati Dalem, teringat Dalem pada kesetiaan hati jiwa Klapodhyana, sehingga ( = Dalem ) memperoleh kebesaran kewibawaan. Kemudian entah bagaimana niat Dalem, sehingga bersabda kepada Kyayi Klapodhyana. Kanda .. Patih Klapodhyana, apakah kanda dapat kelapa sebegini besarnya, sampai besok, kalau dapat bawa kemari, itu sebagai. — /—

Hal. 35/a. tanda seketurunan kanda dengan Kyayi Nyuhaya, berkat permintaan Kyayi Nyuhaya. Sembah Kyayi Klapodhyana : Segala titah yang mulia Dalem, hamba tidak durhaka, lalu bubarlah penghadapan itu; sesampainya dirumah, amat bingung pikiran Kyayi Klapodhyana, gelap gulita tak berkesudahan, maulah rasanya mati dalam ketiduran. Selanjutnya berunding bersama isterinya, dan adik-adiknya, Kyayi Parembu, Kyayi Candhi, dihadap oleh rakyat yang memihak kepada Kyayi Klapodhyana . — / —

Hal. 35/b. tidak diceriterakan perundingannya itu; karena belum ditakdirkan, maka ada karunia Ida Sanghyang Widhi atas dirinya, masuk Kyayi Klapodhyana ke Pamerajannya, akhirnya terlihat olehnya lembaga kelapa yang tumbuh didataran halamannya, disuruhnya menggali, kelihatan kelapa itu sama besarnya dibandingkan dengan kelapa yang dihaturkan kepada Dalem, oleh Kyayi Nyuhaya, Gembira hati Kyayi Klapodhyana, esok harinya disuruh rakyatnya membawa, lanjut dihaturkan kehadapan Dalem. Setibanya diistana, dilihat oleh Dalem, kelapa itu sama besarnya, heran.—/—

Hal. 36/a.Dalem atas keberhasilan Kyayi Klapodhyana, sabda Dalem, benar-benar kanda seketurunan

dengan Si Nyuhaya, sama antara Kepakisan dan Kuthawaringin. Dalam keadaan demikian, segera Kyayi Patih Klapodhyana bersama saudara-saudaranya, Kyayi Parembu dan Kyayi Candhi, memohon ijin kehadapan Dalem, ingin mengucapkan sumpah, agar semakin jelas keluhuran budinya, tidak

mempertahankan yang bukan leluhurnya, disaksikan oleh Dalem Semara Kepakisan, serta para tandha. —/—

Hal. 36/b. manteri, para patih, pemuka-pemuka semuanya, segera mengepul asapnya pahoman (=pasepan ). Disana Kriyan Patih Klapodhyana, serta kedua orang adiknya Kyayi Parembu dan Kyayi Candhi, berbakti kepada Sanghyang Brahma, mengucapkan sumpah, : Yang terhormat/tertinggi…. Sanghyang Brahma, hamba dan adik-adik hamba memohon sumpah kehadapan Bhatara, kalau tidak benar hamba keturunan Manu Wangsa, agar hamba ditimpa segala kutuk dari paduka Bathara, semoga hamba tidak memperoleh kabahagiaan, terjauh dari kebesaran dan kekayaan, hasil dan pangan, kesengsaraan yang paling berat hamba dapatkan. Demikian.—/—

Hal. 37/a. selesai.- Setelah selesai mengucapkan kata-kata sumpah, bersabda Dalem, pada Kyayi Nyuhaya sekeluarga, dan kepada Kyayi Klapodiyana sekeluarga, sabdanya : Duhai ….. kanda Patih berdua, Nyuhaya, Klapodhyana, serta sanak saudara kanda semua, betul satu/sama keturunanmu, Siwa Wandira dan Kepakisan. Mulai saat ini kanda berkeluarga yang rukun, saling asih, saling asah dan saling asuh, boleh diambil dan mengambil (= untuk isteri), serta saling sembah. Bersatu sidhikara kanda semua, demikian sabda Dalem, bersujud .. menurut Kyayi Nyuhaya dan Kyayi. —/—

Hal.37/b. Klapodhyana, selanjutnya bermohon diri pulang kerumahnya masing-masing, dengan hati yang suci murni. Dan kemudian, setelah waktu berjalan lama, akhirnya Kyayi Klapodhyana mengadakan keturunan, dia berputera uttama sebanyak empat orang, dua orang laki-laki, dua orang perempuan, yang sulung perempuan bernama I Gusti Ayu Midar, menjadi permaisuri Dalem Waturenggong, adiknya laki-laki bernama Kyayi Lurah Abiyan Tubuh, yang muda ( = no. 3 ) Kyayi Lurah Karang Abiyan, yang bungsu perempuan I Gusti Ayu Abiyan.—/—

Hal. 38/a. namanya, kawin dengan Pangeran Kayu Mas, melahirkan Kyayi Bandhesa Mas. Adapun Kyayi Parembu adinda Kyayi Klapodhyana kini dikisahkan, dia Kyayi Parembu telah berputera, laki-laki tiga orang perempuan seorang, yang sulung laki-laki bernama Kyayi Wayahan Kuthawaringin, hampir sama dengan nama datuknya, kedua Kyayi Madya Kutaraksa adiknya Kyayi Lurah Wantilan yang bungsu perempuan bernama I Gusti Ayu Raresik. Sekian puteranya Kyayi. —/—

Hal.38/b Parembu sama-sama menetap membuat rumah di Swecapura, tersebut diselatan pasar. Adapun Kyayi Candhi, adik dari Kyayi Parembu, sudah mempunyai keturunan dua orang laki-laki, yang sulung bernama Kyayi Candhigara, adiknya bernama Kyayi Jaya Paguyangan, sama-sama menetap di Swecapura, membuat rumah tersebut di Jero Kawan, dihentikan sejenak. – o –.

Tersebut suatu ceritera, pada suatu ketika, datang menghadap pada Dalem Ketut Semara Kepakisan di istana. —/—

Hal. 39/a. Utusan dari raja Berangbangan, perlu bermohon agar dibantu, sebab timbul kerusuhan di kerajaan Berangbangan, hancur oleh keganasan si Harimau hitam. Setelah utusan itu memperoleh ijin untuk mengahadap, berkatalah utusan itu dengan sopan santun serta panganjali,: Yang mulia paduka Sri Maharaja bagaikan penjelmaan Sanghyang Manobu, hamba diutus untuk menghadap oleh rakanda paduka Dalem, beliau Maharaja Berangbangan, memohon keikhlasan paduka Dalem, sudilah kiranya membantu beliau rakanda paduka Dalem. — /—

Hal. 39/b. Karena rusaknya kerajaan Berambangan oleh si harimau hitam, bercokol di hutan Berambangan, luar biasa ganasnya, setiap orang yang datang ke sana disergap, diterkam dengan ujung kukunya, dimakannya, semua takut orang-orang Berambangan, tidak berani lewat ke sana. Setelah demikian atur utusan itu, segera bersabda Dalem Ketut Semara Kepakisan, : Wahai kamu utusan, kembalilah kamu dengan segera, beritahukan kepada tuanmu, jangan beliau ragu-ragu/curiga, sekehendak beliau kukabulkan, hanya. —/—

Hal. 40/a. menunggu saat yang baik untuk berangkat, utusan itu lalu mohon diri, Itulah sebabnya Dalem bermaksud membuktikan ketangkasannya Kerian Patih Klapodhyana, seketika diperintahkan oleh Dalem di hadapan para menteri semua, titah Dalem : Wahai ……Kanda Patih Klapodhyana, kanda kuperintahkan pergi ke Berambangan, untuk membunuh harimau hitam itu, yang berada dalam hutan di Berambangan, ini kuhadiahkan sebilah sumpitan (= tulup), sebab benar-benar turunan Wisnu Wangsa, pasti mati harimau hitam itu oleh kanda, demikian. — /—

Hal. 40/b. titah Dalem tidak menolak beliau ( = Klapodhyana) diutus, taat pada perintah Dalem, gembira hatinya Kyayi Klapodhyana, dapat berkarya untuk Kerajaan, lalu mohon diri untuk berangkat, diiringkan oleh saudara-saudaranya serta rakyat serempak, tidak diceriterakan dalam perjalanan, sudah sampai mereka di Berambangan. Tersebutlah Kyayi Nyuhaya, mendengar ( = berita ) tentang keluarganya diadu, lalu ia mohon diri pada Dalem hendak menyusul perjalanannya Kyayi Klapodhyana, dikabulkan permohonanya, segera berangkat.

Dikisahkan perjalanannya Kyayi Klapo.— /—

Hal.41/a. dhyana, banyaklah orang-orang Berambangan dijumpa, di sana Keriyan Patih Agung ( =

Klapodhyana) menanyakan tempatnya si harimau hitam, menjawab mereka yang ditanya, : Ampun . . . tuan hamba, dekat tempatnya dibawah pohon kakacu. Di sana Keriyan Patih Klapodhyana dengan gagah perkasa menjelajah dalam hutan, banyak binatang yang dijumpa, semuanya lain, tidak berani berbuat ganas kepadanya ( = Klapodhyana ), semuanya seperti kalah dan takut, berlarian binatang – binatang itu, Jauh perginya di dalam hutan, tiba di bawah pohon kakacu, bertemu dengan si harimau hitam, amat keras mengaum. —/—

Hal.41/b. mengintai hendak menerkam, tiba-tiba melompat harimau itu, diterkam Kriyan Patih (=Klapodhyana), bergulat, bertarung pukul memukul, tetapi Kriyan Patih Klapodhyana tidak bercacat (= luka), kemudian kembali harimau tersebut, ditampar hidungnya, lari dengan terengah-engah, dikejar oleh Kyayi Klapodhyana, dibidik dengan sumpitan pemberian Dalem, dibarengi dengan kesaktiannya (= kekuatan batin ), lalu ditiup ( = disumpit ), dilepaskan peluru “BATUR GUMI”, kena lambungnya, gemetar harimau itu, tidak berdaya, ditikam lehernya dengan. —/—

Hal. 42/a. sangkur sumpitan, remuk redam badan harimau itu direbut, rubuhlah si harimau terus mati.

Disebutkan perjalanan Kyayi Nyuhaya, sudah tiba di dalam hutan, tidak berjumpa dengan keluarganya ( = Klapodhyana), karena lebih dulu, hanya terlihat olehnya jejak-jejak harimau ( = binatang ), itu diturutnya melanjutkan perjalanan. Setelah mati harimau itu oleh Kyayi Klapodhyana, datang / tiba Kyayi Nyuhaya, serta bertanya, : bagaimana dinda? sudah mati harimau itu,? sebab tampaknya seperti hidup. Yang ditanya ( = Klapodhyana ) menjawab, : ampun ….. kanda, sudah mati. —/—

Hal. 42/b. harimau itu oleh dinda. Payah sungguh kanda menyusul perjalanan dinda. Jangan berkata

demikian, sebab perjalanan cepat dan kesusu. Sebab sudah berhasil tujuan itu, bagaimana maksud dinda, kiranya baik bila kembali ke Bali, persembahkan kepada Dalem. Setelah demikian berangkatlah mereka ke Bali, amat panjang bila diceriterakan tingkah lakunya di tengah perjalanan, segera tiba di Linggarsapura ( = Gelgel), masuk menghadap kepada Dalem, kebetulan banyak para tandha manteri menghadap, disana Dalem Ketut Semara Kepakisan menyapa Keriyan Patih. —/—

Hal. 43/a. Klapodhyana, : Bagaimana perjalanan kanda, Patih Klapodhyana, dan Kanda Patih Nyuhaya, berhasilkah kanda dalam tugas?. Sembah Kriyan Patih Klapodhyana, : Ampun tuanku yang mulia, berhasil perjalanan hamba, telah mati si harimau hitam oleh hamba, inilah kulit si harimau hitam hamba persembahkan. Semua diutarakan Hal ihwal pertempuran melawan harimau, dipermaklumkan kepada Dalem, oleh Kyayi Klapodhyana, amat suka cita Dalem, serta beliau memuji-muji, sebab tak berubah. —/—

Hal. 43/b. seperti sediakala mengabdikan dirinya kepada tugas. Teringatlah Dalem bahwa berhutang budhi, itulah sebabnya Dalem Ketut Semara Kepakisan menganugrahi Kyayi Klapodhyana, demikian isi karunianya, : Inilah karuniaku Cili Ketut kepada kanda puntha Klapodhyana, dan seketurunan almarhum Arya Kuthawaringin; Aji Purana, dan yang satu turunan denganmu, tidak dikenakan pikul-pikulan, tategenan, dimanapun tempatnya berada, semua anak cucu turunanmu disayangi oleh raja, menjadi wali negara ( = amanca negara ), jelasnya : tidak dikenakan tategenan. —/—

Hal. 44/a. tidak dikenakan cecangkingan, tidak dikenai ambeng-ambengan, dan sasaradan, papiliyan,

pacatuwan, dan tak dikenai oleh dedawuhan ( = panggilan), atag-atagan ( = siaran), dan lepas pejah punjangpanjing. Dan kalau ada kesalahan harus dengan hukum, mati, kepada Dalem, boleh diusir, kalau kesalahan dengan usir, harus diampuni oleh raja, pada keturunan-keturunan Sirarya Kuthawaringin Klapodhyana. Dan pada waktu kematian, pada waktu ngaben, sebagai alat pengusungan jenazah boleh memakai dasar bade, bade tumpang pitu ( = 7 ), taman punggel, kapasnya beraneka warna. — /—

Hal. 44/b. Yang utama warna sembilan ( = 9 ), madya warna tujuh ( = 7 ), nista warna lima ( = 5 ), mauncal mapering sidapur, wesma silunglung, makajang ( = kemul ), kalasa, tatak beha ( = alas pembakaran ) papan sembilan keping, balai balai yang tinggi dengan tangga ( = undag ), peti Pembakaran berbentuk harimau hitam, memakai tirtha pengentas, uttama 16.000, madya 8.000, nista 4.000, dan bila ada menegakkan kabujanggan ( = menjadi bujangga/pendeta ), harus dengan upakara yang lengkap, menggunakan seperti yang dipergunakan oleh seorang pendeta, mapaterang, upadesa, jenazah dibungkus dengan daun pisang kaikik ( = sejenis pisang hutan ),

lengkap dengan upacaranya — /—

Hal. 45/a. Demikian isi anugerahku Dalem Cili Ketut, kepada kanda Puntha Klapodhyana dan turunan Arya Kuthawaringin, jangan tidak yakin yang menjadi wali negara, terhadap anugerahku, dan terhadap anak cucu Kyayi Klapodhyana, dan saudara-saudaranya semua, bila kamu tidak percaya dikenakan oleh kutuknya Bathara Brahma, berkurang kesaktian mu, MOGA – MOGA. Lagi bersabda Dalem kepada Keriyan Patih Klapodhyana, aduhai …… kanda puntha Klapodhyana, hendaklah diperbaiki paryangan/pura di Tugu, bila telah selesai oleh kanda saya berikan kanda untuk memimpin (=angelingngana). — /—

Hal. 45/b. Kanda haturkan upacara pujawali, demikian perintah Dalem, diterima dengan baik oleh Kyayi Klapodhyana dan berjanji. Dengan cepat waktu berjalan, telah selesai diperbaiki, bagus kembali

kahyangan/pura TUGU itu, dibantu pula oleh putera-putera Kyayi Nyuhaya, tak henti-hentinya mereka

mendekatkan diri, kemanapun diajak tidak menolak, lama-kelamaan saling cinta-menyinta mereka semua bagaikan bersaudara, disuruh nyungsung AJI PURANA, serta menyimpan dirumahnya. Demikianlah keterangan tentang Kyayi Klapodhyana memimpin/memelihara. — /—

Hal. 46/a. Paryangan TUGU, serta menghaturkan PUJAWALI, serta berpesan kepada Kyayi Nyuhaya, dan semua putera-puteranya, pada tiap-tiap pujawali di Tugu, agar dibawa/dituhur dan disimpan di pamerajan, janganlah mengingkari perjanjian seketurunan Nyuhaya, serta dengan turun-turunanku Klapodhyana, bila ada yang melanggar salah satu, tidak menepati perjanjian, untuk selanjutnya, dikutuk oleh — /—

Hal. 46/b. Bathara Brahma, semua turunan, saudara-saudara, seluruh anak cucu keturunan tidak memperoleh keselamatan. Demikianlah pesan petuah Kyayi Klapodhyana kepada Kyayi Nyuhaya, dan keluarganya semua, dan sumpitan anugerah Dalem, yang dipergunakan membunuh si harimau hitam, selanjutnya dihadiahkan kepada Kyayi Klapodhyana, diberi nama KI MACAN GUGUH, demikianlah keterangannya pada jaman bahari —o—

Hentikan sebentar penuturan mereka yang berada di Gelgel, kini mulai diceriterakan lagi

beliau Dalem Taruk yang berada di puri Tarukan,

amatlah sayangnya kepada Sira Kudha Panan — / —

Hal. 47/a. dang Kajar, dianggap sebagai anak oleh beliau, adalah putera raja Berambangan, tetapi lahir dari ibu panawing lahir dari Tumenggung Pasuruhan, tampan rupawan, cerdik dan bijaksana, berbudi luhur, tidak janggal perilakunya, selalu pantas dalam perbuatan, manis tutur bahasanya, tidak pernah bingung dalam akalnya, pandai memisahkan emas yang bercampur dalam tanah, sehingga tidak kurang emas, semakin mendalamlah kasih sayang Dalem Taruk, mengakui putera atas diri Sira Kudha Panandang Kajar. Dia diutus mencari Dalem Ketut ( = Ngulesir ). di — / —

Hal. 47/b. Pandak dahulu, sewaktu Dalem Ile (Samperangan) sulit untuk dihadap, setelah itu barulah dijemput oleh Kyayi Bandhesa Gelgel Klapodhyana. Tak tersangka-sangka datang akibat dari tanda-tanda yang buruk atas dirinya dahulu, terlepas destarnya ( = ikat kepala) disambar burung gagak waktu kembali dari Pandak, ia menderita penyakit yang sangat keras, berbagai obat-obatan semua tak mampu menyembuhkan, disanalah gelisah hati Dalem Taruk. Selanjutnya beliau berkaul, engkau anakku Panandang Kajar, jangan meninggal dunia, bila engkau sembuh. — /—

Hal. 48/a. hidup seperti sedia kala, aku akan menyelenggarakan perkawinanmu dengan Sri Dewi Muter, Putri dari Dalem lie, Ternyata terlanjur sabda Dalem Taruk, lupa dengan kelahirannya Penandang Kajar dari ibu penawing. Kemudian semakin sembuh Kudha Penandang Kajar tanpa diobati, kembali sebagai semula. Disana dicuri Sang raja Puteri, dinikahkan dengan Kudha Panandang Kajar. Kini diceriterakan mereka dalam peraduan, datanglah si senjata Narayana, Keris Ki Tandalanglang, tertancap dipunggungnya Kudha Pa- — /—

Hal. 48/b. nandang Kajar, tembus ke dadanya Sri Dewi Muter, akhirnya meninggal beliau suami isteri, Ki Tandalanglang kembali ketempat asalnya. Dengan segera telah dipermaklumkan keadaan sedemikian, kehadapan Dalem Samperangan, tak terhingga kemarahan Dalem, merah mukanya bagaikan dicuci dengan darah, membelalak matanya ibarat keluar api, keluar menuju balairung, menitahkan untuk memukul kentongan, bergema suara kentongan besar si Tankober, datang para menteri beserta rakyatnya siap bersenjata, menghadap kepada Dalem, disana. — /—

Hal. 49/a. diberikan perintah untuk menghancurkan puri Tarukan, riuh rendah sorak sorai ganti berganti, berlomba-lomba berangkat, terus dikurung dan dimasuki puri Tarukan itu. Adapun beliau Dalem Taruk telah mengundurkan diri arah keutara, tidak ada orang mengetahuinya. Diceriterakan rakyat Dalem (= Samperangan) sama-sama memasuki puri Tarukan, sebagai pelopor, para menteri yang dikuasakan untuk menghancurkan Dalem Taruk, ada yang memberitahukan bahwa Dalern Taruk telah pergi dari istana sebelum itu, karena itu rakyat dibagi-bagi. — / —

Hal. 49/b. semua disuruh mengejarnya, ada yang ke utara, ada yang ke selatan, ada yang ke arah timur, ada yang ke barat, semua berlomba-lomba jalannya. Adapun beliau Dalem Taruk bersembunyi di kubu asramanya Ki Dukuh Pantunan. Kini dikisahkan Kyayi Parembu, adik dari Kyayi Klapodhyana, beliau diperintahkan untuk rnengejar larinya Dalem Taruk, diikuti oleh rakyat dua ratus orang, lengkap sampai dengan senjatanya, serempak dengan cepat jalannya, tanpa istirahat,

banyak orang-orang. — /—

Hal. 50/a. dusun ditanya tentang larinya Dalem Taruk, semua menjawab serempak : mengaku tidak tahu, sehingga sukar pengejarannya oleh Kyayi Parembu, lanjut pula mereka menyelusuri hutan gunung, lembah yang curam dijalani, guwa yang lebar dilewati, tidak ada bekas-bekas orang bersembunyi, yang didapatkan olehnya, terkatung-katung perjalannya menyelusuri hutan lebat, lapar dahaga dan payah tak terasa, siang dan malam mengembara, entah berapa lamanya didalam hutan gunung, tak bertemu dia yang dicari-cari, sebab beliau Dalem Taruk dirahasiakan. — /—

Hal. 50/b. oleh orang-orang gunung, disana Kyayi Parembu beralih tujuan/ pendapat, kembali pulang ke Samperangan, lanjut pulang ke Gelgel, telah dilaporkan hal-ikhwal tidak berhasilnya diutus. Tak hentihentinya Dalem Samperangan memerintahkan laskarnya untuk menggempur Dalem Taruk, namun tak ada yang berhasil memuaskan, karena amat setianya orang-orang desa dusun, kepada Dalem Taruk tidak ada yang durhaka memberitakan tempat beliau bersembunyi. Entah berapa tahun antaranya, ada. — /—

Hal.51/a. lagi perintah Dalem Samperangan pada Kyayi Parembu, maksud beliau merencanakan

kehancurannya Dalem Taruk. Dititahkan agar Kyayi Parembu mengadu ketangkasan/keperwiraan,

diberikannya rakyat yang telah terpilih, lengkap dengan senjata serta pakaian tempur, tidak kurang pula perbekalan, semua yang lezat cita rasanya, empat puluh orang jumlah laskarnya Saat itu sedang Dalem Taruk tidak berada di Bunga, sebab beliau telah pergi meninggalkan Poh Tegeh, menuju kesebelah timur Gunung Agung, menetap beliau didesa Sukadana. — /—

Hal.51/b. Dikisahkan Kyayi Parembu tidak membantah perintahnya Dalem, segera berangkat Kyayi Parembu, dengan gagah perkasa beliau bertindak, tujuannya hendak bertanam jasa, melalui pertempuran, bagaikan tak berkasih sayang tingkah lakunya akibat hendak mengabdi kepada raja, diiringkan beliau oleh puteranya yang tertua yang bernama Kyayi Wayahan Kuthawaringin, sedang muda remaja, menimbulkan rasa sayang siapa yang memandang. Riuh rendah sorak-sorai rakyat yang mengiringkan, semua berlomba-lomba menuju pedesaan, hendak mengalahkan. — /—

Hal.52/a. musuh, tak teruraikan didalam perjalanan, telah tiba Kyayi Parembu dicelah gunung Tulukbiyu, ditujunya tempat pertapaan Ki Dukuh Sekar, segera diketahui oleh Ki Dukuh tentang maksud tujuan Sirarya Parembu, selanjutnya Ki Dukuh menanya Sirarya Parembu, seolah-olah tercegat oleh pertanyaan yang menyenangkan, katanya; Ampun Kyayi Arya, apakah gerangan tujuan Sang Arya datang kemari, diiringkan oleh rakyat yang bersenjata, mungkinkah melakukan pengejaran terhadap musuh, silahkan ceriterakan kepada hamba; jawab Kyayi Parembu;

Wahai kaki Dukuh…… — /—

Hal.52/b.saya diperintah/dititahkan oleh Dalem Samperangan, untuk menyerang Dalem Taruk, dosanya menyebabkan wafatnya Raja Puteri: bagaimana Kaki Dukuh andaikata Dalem datang kemari bersembunyi? Segera menjawab Ki Dukuh Sekar : Ampun …. Kyayi, tidak ada Dalem disini, sebab lama sudah beliau berpindah tempat, tidak tahu hamba kemana perginya, dan dimana tempatnya. Setelah demikian aturnya Ki Dukuh Sekar, terus Kyayi Parembu meninggalkan Padukuhan, amat menyesal hatinya mengembara, tidak jelas yang dituju, diiringkan oleh. —/—

Hal. 53/a. putera dan rakyatnya semua. Tiba-tiba sampai beliau di Bubung Tegeh, semua menderita

kepayahan, akhirnya dihentikan perjalanannya dan beristirahat, disanalah Sirarya Parembu berpikirpikir dalam hatinya, teringatlah beliau akan kepayahan dalam perjalanannya mengembara berkeliling, jangankan ada hasilnya barang sedikit, sebab tidak berhasil Dalem Taruk dibunuh olehnya, itulah sebabnya sangat menyesali keadaan dirinya, karena tidak berjasa dirinya menjelma, bodoh, miskin, dan tak berguna, sebagai tak membalas suatu pemberian, kepada Dalem yang memberikan kesenangan.— / —

.Hal. 53/b. hati, tidak mampulah beliau membalas menyenangkan hati siapa yang memberikan kesenangan, demikian bisikan hati Kyayi Parembu, tiba-tiba menetes air matanya berhamburan, banyak pula rakyatnya ikut bersedih karena kesedihan Kyayi Parembu serta puteranya, lalu mereka berkata, : ampun Sang Arya, betapa tidak Sang Arya bersusah hati, kami semua mengetahuinya, berkat tujuan hati Sang Arya diiringkan oleh hamba, untuk mengejar perjalanan larinya Dalem Taruk, tetapi ternyata tidak berhasil dijumpa sampai sekarang, barangkali. — /—

Hal. 54/a. Sanghyang Widhi menganugerahkan untuk hidup kepada beliau, sehingga beliau yang dicari tidak berjumpa; sebab kematian dan hidup tidak boleh diganggu gugat, bila tidak ditakdirkan untuk mati oleh Sang Hyang Tuduh, pasti akan hidup… tidak mudah untuk dibunuh, bila telah ditakdirkan untuk mati oleh Sanghyang Titah, pasti menemui ajalnya, tidak mungkin nyawa itu disambung, demikianlah hendaknya Kyayi Arya berpikir dalam hati. Tenangkanlah hati Paduka Kyayi Arya, : demikian sembah rakyatnya menghibur kesusahan hatinya, ( = Kyayi Parembu). Jawaban Kyayi Parembu, : hai… kamu rakyat semua… —/—

Hal. 54/b. benar sungguh seperti katamu itu, tidak ada yang mampu mematahkan takdir Ida Sanghyang Widhi, hanya beliau yang mentakdirkan mati atau hidup, buruk dan baik, demikian pula ungkapan orang banyak, adapun sebagai kamu dan aku sekarang, pasti menderita malu dalam hati, itu yang meyakitkan hatiku, tak dapat dihiburkan, rasa malu yang berlebihan itu penyakit yang terkeras, itulah sebabnya aku, tidak hendak kembali pulang ke kota, lebih baik aku disini berdiam diri di pedesaan ( = gunung ), sampai mati ……. —/—

Hal. 55/a. Demikian kata Kyayi Parembu, lalu dia menetap disana bersama anaknya, Kyayi Wayahan

Kuthawaringin, berumah di Bubung Tegeh, ikut pula rakyatnya yang tinggal dua puluh orang sama-sama mendirikan rumah disitu. Adapun rakyatnya yang lain, disuruh kembali pulang ke kota, supaya ada yang mempermaklumkan kepada Kyayi Puntha Klapodhyana di Gelgel, semua keadaannya (= Kyayi Parembu) dihutan pegunungan. Tidak berselang lama, terdengar beritanya Kyayi Parembu oleh Kyayi Lurah Poh ….. — /—

Hal. 55/b. Tegeh, dari sebab itu segera dikirim utusan untuk mengundang Kyayi Parembu, tidak diceriterakan dalam perjalanan dia yang diutus, sudah sampai dikediaman Kyayi Parembu, sedang dihadap oleh anaknda, lanjut berkata utusan itu, : Ampun …. Kyayi Arya, hamba disuruh untuk menghadap oleh Rakanda Kyayi Arya, Sira Kyayi Poh Tegeh, agar supaya Ki Gusti menghadap hari ini juga. Disana berpikir-pikir Kyayi Parembu, sebab tidak disangka-sangka kedatangan utusan (=dipanggil), bingung olehnya berpikir, sebab didengar kabarnya… —/—

Hal. 56/a. Kyayi Poh Tegeh memihak Dalem Taruk, lalu menjawab pada utusan, : hai kamu utusan,

beritahukan kepada tuanmu, saya akan menghadap besok. Setelah kembali utusan itu, berundinglah Kyayi Parembu bersama anak dan rakyatnya, memikirkan ( = memperkirakan) kunjungannya besok, saling memberikan pertimbangan/persetujuan, tak terhitung panjang perundingannya, disela oleh suara ayam ditengah malam, tinggalkan mereka yang berunding —/—

Hal.56/b. Dikisahkan Kyayi Wayahan Kuthawaringin, termangu-mangu ia dikala fajar hari,terkenang-kenang akan impiannya, sedang bercengkrama diatas gunung didatangi oleh seorang bidadari, cantik molek remaja, Hyang Saraswati menjelma, mungkin suatu tanda yang baik firasat impiannya. — o — Dikisahkan dia (= Kyayi Parembu) yang diundang agar menghadap, telah tiba dirumah Kyayi Poh Tegeh, sopan ramah dan manis sambutannya Kyayi ( = Poh Tegeh), : syukur sekali dinda datang memenuhi undangan kanda, demikian pula anakku Kuthawaringin, kini pertama kali anaknda mengetahui pamanmu, dan kakakmu Si Poh Landung. —/—

Hal.57/a. Terdiam semua, tidak seorangpun bercakap, terkenang-kenang pada leluhurnya dahulu

JAYAKATHA dan JAYAWARINGIN, dilarikan ke daerah Tumapel, pada waktu kalahnya Jayakathong dalam pertempuran. Hanya tetesan air mata mengalir diatas pipi, sepi ….. tak ada yang bercakap. Beberapa saat antaranya kembali lagi mereka berbincang-bincang, disanalah Kyayi Parembu menceriterakan tentang kehinaan dirinya menjelma, bodoh, miskin, dan tak berguna, bagaikan tak membalas jasa ( = pemberian), tidak mampu menunaikan perintah Dalem Samperangan. Segera dicegah …. — /—

Hal.57/b. oleh Kyayi Poh Tegeh, : Wahai ……. dinda, tidak ada jalan bagi dinda untuk menyesali diri, sebab segala sesuatu itu diciptakan oleh Ida Sang Hyang Widhi, dan kejayaan serta kebahagiaan suatu negara tidak hanya ditempuh melalui pertumpahan darah, lebih bagus alihkan jalan pikiranmu, kenangkan dijaman yang silam, ayahmu datang ke Bali, tidak ada lain, kejayaan dan kebahagian negara melulu yang diciptakannya dengan jalan watak kepemimpinan yang dicintai rakyat, mendampingi Dalem yang baru tiba ( = Dalem Ketut Kresna Kepakisan), sekarang Dalem hanya bertengkar dengan saudara kandung, hendaknya sabar dan bijaksana juga olehmu berpikir, sehingga tidak. — /—

Hal. 58/a. telanjur berbuat. Panjang sekali bila diceriterakan tentang wawancara mereka, serta jamuannya Kyayi Poh Tegeh, karena permulaan bersua, selanjutnya mohon diri pamitan Kkyayi Parembu, diiringkan oleh putera beserta rakyatnya, menuju tempat tinggalnya masing-masing, tinggallah Kyayi Wayahan Kuthawaringin tak terhiburkan hatinya, tidak berminat untuk makan dan minum, siang malam melamun (= menghayal), karena tertikam lubuk hatinya oleh panah utamanya Sanghyang Semara, yang dilepaskan dari relung kalbunya Winiayu Luh Toya, anaknda. — /—

Hal. 58/b. Kyayi Poh Tegeh. Demikian pula yang tinggal di Poh Tegeh, sama-sama jatuh cinta, tak

terkendalikan. Entah berapa bulan lamanya mereka yang ibarat Sanghyang Semara Ratih menanggung kerinduan dalam lubuk hatinya, akhirnya semufakat setuju kedua orang tua mereka, lalu dinikahkan mereka dengan segala tata upacara pernikahan. Setelah lama bersuami isteri, kemudian berputera dua orang lakilaki, yang sulung bernama Kyayi Panidha Waringin, mening-gal dunia semasih jejaka tanpa keturunan, adiknya bernama. — / —

Hal. 59/a. Kyayi Tabehan Waringin, menetap diam di Bubung Tegeh bersama ayahndanya. – o – Tinggalkan ceritera mereka yang berada di Bubung Tegeh, kini ceriterakan mereka yang berada di Sweca-linggarsapura, beliau Sri Aji Semara Kepakisan, sudah datang waktu perjanjiannya (= ajal), berpulang ke alam baka, sapangrenga sang dwipak sumirat agni kadi surya : ( = sebuah candra sengkala yang mungkin artinya sebagai berikut : sapangrenga = 2, sang dwipak = 8, agni = 3, surya=1), jadi Isaka 1382 = 1460 A.D. digantikan oleh Watur Ra Enggong putera mahkota beliau, yang telah dijadikan Rajamuda sejak; suniya menghalaning tri buana (=sebuah candra sengkala yang mungkin artinya sebagai berikut : suniya = 0, manghala = 8, tri = 3, buana = 1). Jadi Isaka 1380 = 1458 A.D. Selama Sri Aji Watur Ra Enggong menjadi raja. — / —

Hal. 59/b. Bali, amat berwibawa beliau menjadi junjungan, benar-benar bagaikan keberanian singha,

bijaksana menguasai kehendak rakyat, tak terkatakan kemakmuran kerajaan dan wilayahnya, ketularan oleh ketinggian dharma Sang Maharaja, semua memuji bahwa sangat bijaksana Dalem. Lebih-lebih beliau seorang pemberani, sakti dan unggul dalam peperangan. Harimurti perumpamaan diri beliau pada saat bertangan empat (=Catur Buja). Adapun para bahudandha dan perdana menteri dahulu semua telah lanjut usia, banyak pula yang telah meninggal dunia, itulah anak-anaknya semua yang mengganti, tetap kedudukannya seperti sediakala, diantaranya Kyayi Batan Jeruk, putera. — / —

Hal. 60/a. dari Kriyan Petandhakan, dia perdana menteri yang terkemuka, juga Kyayi Lurah Abian Tubuh, putera dari Kyayi Klapodhyana, patih jabtannya, Kyayi Lurah Karang Abiyan, adik dari Kyayi Lurah Abian Tubuh, menjabat menjadi Bandhesa, berpangkat demung, Kyayi Brangsingha Pandita menjabat sekretaris. Para menteri semua selain dari pada itu, semua menetap pada kedudukannya, seperti dulu orang-orang tua kawitannya, taat olehnya mengukuhkan jabatan menteri. Dan sama-sama telah menghasilkan keturunan yang uttama : Kyayi Lurah Abiyan Tubuh berputera seorang — / —

Hal. 60/b. anak laki-laki, bernama KYAYI KUBON KELAPA. Kyayi Lurah Karang Abiyan, berputera laki-laki dua orang, yang sulung bernama KYAYI WAYAHAN SANGGARA, adiknya ( = putera no. 2 ) KYAYI ALIT NAGARA, keduanya mengikut orang tua berumah di Gelgel. Adapun putera Kyayi Parembu, yang tinggal yang tinggal di Gelgel, diantaranya Kyayi Madya Kutaraksa, dan Kyayi Lurah Wantilan, sama-sama telah berputera, berkediaman disebelah selatan pasar Gelgel, adiknya ber-nama I Gusti Ayu Raresik, diperistteri oleh Kyayi Lurah Abiyan. — / —

Hal. 61/a.Tubuh. Adapun Kyayi Candhigara, yang berkediaman di Gelgel sebelah Barat, berputera dua orang laki-laki, Kyayi Bandhesa Candhi, Kyayi Candhi Wandhira, mereka keduanya dititahkan menjadi Bandhesa Tianyar, pada waktu terjadi perang saudara putera-putera Sirarya Gajah Para. Amat panjang kalau dikisahkan kemashuran yang menjadi wali Negara di Kerajaan Bali, Kyayi Pinatih, beliau keturunan Sira Wangbang, lagi Kyayi Lurah Abiyan Tubuh, benar-benar beliau turunan Siwa Waringin. — / —

Hal. 61/b. Tiga orang menjabat bahudandha raja, dibawah dari itu, Kyayi Tabanan, beliau turunan arya

Kenceng; Kyayi Kabakaba, sebetulnya turunan Arya Belog, tidak memilih musuh; lagi Kyayi Kaphal,

sebenarnya Sura Delancang; Kyayi Brangsingha, Tangkas, Pegatepan, sebetulnya Sura Kanuruhan,

menjabat juru tulis. Pada masa yang silam waktu musuh dari luar daerah menyerbu Kelahan, tidak ada yang berani melawan kesaktiannya raja Dalem Watur Ra Enggong, sebab ketinggian Dharma beliau, beliau mampu menunggang pedati ditengah lautan mundur. — /—

Hal. 62/a. ketakutan musuh itu, dan kaki lembu hanya tenggelam sepegelangan saja, tampak Dalem sayupsayup ditengah samudera, yang hidup bergantungan dipedati/roda, kebingungan para menteri raja, karena tidak kuasa mengikuti jejak rajanya, antara lain Kyayi Batan Jeruk, Kyayi Abiyan Tubuh, serta para menteri semua. Setelah musuh mengundurkan dirsi, kembali Dalem ke Kuta, diiringkan oleh para menteri semua, tak terhitung jumlah prajurit, berdatang sembah Kyayi Batan Jeruk, Pinatiyan Abiyan Tubuh, lebih-lebih para menteri semua…… —/—.

Hal. 62/b. Menyembah dibawah telapak kaki Dalem : Ampunilah hamba, tidak mampu mengiringkan Dalem, jelas tidak berguna patik ini, dan tak terbalas kasih sayang serta jasa-jasa Dalem. Sabda Dalem : janganlah demikian, aku bersenang, sebab kamu tidak dipaksakan untuk mendaki/mengarungi yang belum jelas. Gembira hati para menteri mendengar sabda Dalem, dengan sebenarnya, setelah demikian kembali kerumahnya/istananya. Sekarang dikisahkan Kriyan mereka Patih Lurah Abiyan Tubuh datang saat ajalnya, wafat, kembali ke alam baka ( = Wisnu Bhawana), meninggalkan seorang putera laki-laki. — / —

Hal. 63/a. Bernama Kyayi Lurah Kubon Kelapa, ia diminta / dipilih oleh Dalem untuk mengganti ayahnya menjabat adhi patih, karena setia bakti seperti leluhurnya, hanya kesentosaan negara yang diutamakannya, kuat mengukuhkan perilaku seorang menteri, tidak berbohong dan cemburu ( = iri hati), tegas, setiap waktu perbuatannya memberikan maaf ( = ampun ). Pada masa Kyayi Lurah Kubon Kelapa menjabat Adhi patih dari

Dalem Watu Ra Enggong, timbul niatnya untuk memanggil keluarganya yang berada dipegunungan bernama Bubung Tegeh, berkat. —/—

Hal.63/b. desakan Kyayi Poh Tegeh, cucu olehnya, agar bisa bersatu rukun berkeluarga, lalu Kyayi Kubon Kelapa mengutus pembantunya mencari keluarga beliau, cucu Kyayi Parembu, yang bernama Kyayi Tabehan Waringin, tak dikisahkan utusan dalam perjalanan, sudah datang menghadap Kyayi Tabehan Waringin pada Kyayi Patih Kubon Kelapa. Amat panjang senda gurau mereka, saling menyenangkan hati, disana Kyayi Tabehan Waringin mempermaklumkan, bahwa datuknya telah berpulang kealam baka …..—/—

Hal. 64/a. dan ayahandanya telah lanjut usia, berpanjang kalam dia berceritera, dituturkan perihal

perhyangannya, yang didirikan oleh ayahndanya ( = Kyayi Wayahan Kuthawaringin ), di tempat beliau yang telah mendahului yaitu Kyayi Parembu melakukan yoga dengan hati yang suci, sebagai tempat pemujaan pada leluhur, hanya bebaturan belum permanen, tidak ketinggalan sthana untuk memuja arwah almarhum yang telah mencapai hasil terdahulu datang ke pulau Bali, yaitu SIRARYA KUTHAWARINGIN, dan di sebelah selatan yaitu Pura Dalem. —/—

Hal. 64/b. belum permanen, itulah tempat janazah kompiyangnya dibakar, diupacara Palebon dahulu.

Panjang bila dikisahkan percakapan mereka, datang masanya satu minggu Kyayi Tabehan Waringin berada di Gelgel bersama anak dan isterinya, disanalah dia menghadap kepada Sri Maharaja, tidak lain dari Kyayi Patih Kubon Kelapa, Kyayi Poh Landung, mereka sebagai pendampingnya menghadap raja. Amat kasih sayang Dalem, segera bersabdha beliau, memberikan restu agar berkeluarga rukun bersatu, saling asih, saling asah, dan saling asuh antara Kubon Kelapa dengan Tabeh. —/—

Hal. 65/a. an Waringin, sampai dengan akhir jaman turun-temurun, tak boleh mengingkari. Demikian keadaan mereka yan menghadap, kemudian mohon diri mereka kembali ke Bubung Tegeh. Adapun anaknya Kyayi Tabehan Waringin yang nomor dua (= Made), Kyayi Wandhira Wira, tinggal menetap di Gelgel, dikawinkan dengan I Gusti Ayu Ktut Tubuh, adik Kyayi Lurah Kubontubuh, Puteri Kyayi Patih Lurah Kubon Kelapa, Adapun putera Kyayi Tabehan Waringin yang sulung bernama Kyayi Wayahan Parembu, seperti nama Kompiyangnya, beliau tinggal menetap. —/—

Hal. 65/b. mengikuti ayahandanya, sebagai kepala desa dipegunungan yang dikuasai oleh I Gusti Poh Tegeh dahulu, membuat rumah di Waringin. Diperbaiki pura pemujaannya, dalam waktu singkat dapat selesai sampai dengan upacaranya, candri sawalan itu, keris pajenengan, alat-alat pemujaan (=pawedaan) yang dibawa oleh leluhurnya jaman dulu itu semua disimpan di paryangan Kuthawaringin. — o -.

Hentikan ceritera itu sebentar, dikisahkan beliau Sri Maharaja Dalem Watur Ra Enggong memberi anugrah kepada para Arya sekalian, yang menyebabkan timbul anugrah —/—

Hal. 66/a. Dalem, kepada para Arya sekalian, karena Dalem segera akan kembali ke alam baka, dengan jalan moksa menuju surga yang amat tinggi, surganya wisnu ( = Wisnu Bhawana), makanya berpesan/berpetuah kepada sekalian sanak saudara, dan pada anak cucunya semua, pada saat beliau dihadap oleh Rakriyan Patih, catur tandha manterinya semua, serta para pendeta raja sekaliannya, nama-nama beliau sekalian, : Pedandha Kasuhun Ring Peling, Ida Nuabha, Ida ring Siku, Ida ring Sangsi, Ida Ring Padang Galak, Ida Ring Padang Ratha, Ida Ring Kacang Paos, Ida Kabetan, demikian semua. — /—

Hal. 66/b. pendeta raja, serta Ki Gusti Agung Pinatih, beliau Kyayi Batan Jeruk, Kyayi Manginte, Kyayi Lurah Kubon Kelapa, serta Arya yang menjabat menteri, Kyayi Kabakaba, Kyayi Buringkit, keturunan Arya Belog; Kyayi Kaphal, keturunan Arya Delancang; Kyayi Lurah Tabanan, Tegehkori, turunan Arya Kenceng; Kyayi Mandala, Kyayi Umbanan, Keturunan Arya Pamacekan; Kyayi Ularan, Kyayi Unggahan, keturunan Arya Tumenggung. Kyayi Lurah Kubontubuh, Kyayi Tabehan Waringin, keturunan Arya Kuthawaringin, —/—

Hal. 67/a. Kyayi Sukengeneb, Kyayi Toyaanyar, keturunan Arya Gajah Para, Kyayi, Poh Landung, keturunan Arya Getas, Kriyan Brangsingha Pandita, keturunan Arya Kenuruhan. Dan para Arya yang lain, yang mempertaruhkan dirinya masing-masing di pelosok-pelosok dahulu, penuh sesak penghadapan/persidangan Dalem Watur Ra Enggong, disana bersabdha Sri Maharaja, : Hai kamu rakriyan Patih, serta kamu para menteri sekalian, kini dengarkanlah sabdaku, kepadamu sekalian, ingatkanlah petuah ini, dulu ada nasehat Danghyang Nirartha Wawu Rauh, sudah …… — / —

Hal. 67/b. tercatat dalam lembaran, berhubung kini daku segera akan kembali ke alam baka, kelak

dikemudian hari anak cucu keturunanku, dan anak cucu keturunanmu sekalian, ganti berganti, menderita mala petaka yang besar, suatu sebab kamu menderita mala petaka dunia, sebab angkara murka hatinya semua, diselubungi oleh rajah dan tamah, diperbudak oleh dasendria, ( = sepuluh jenis kesenangan), dunia menjadi bohong, timbul kekacauan didunia, lenyap kemashurannya, bagaikan terkena racun berbisa, lambat laun lupa pada penjelmaannya (=keturunan), akibatnya pada waktu mengalami kematian tidaklah mampu kamu mencapai sorga yang tinggi ……… — / —

Hal. 68/a. tidak terwujud, sebab hatinya buta, sebab hina perbuatan pikirannya, akhirnya dilahirkan sebagai rakyat jelata diatas dunia, kemudian anak cucu keturunanku, serta para santanamu para Arya sekalian, bila mengalami kematian, tidak mampu atmamu kembali tanpa bekas, sebabnya demikian, sebab telah dikutuk oleh Bathara Mahadewa, Ini karuniaku, ucapan Widhisasteranya Dahyang Nirartha, tentang tata upacara sampai dengan kematian selengkapnya, yang harus dituruti, tentang filsafat kematian ucapan Bathara — / —

Hal. 68/b. nguni, janganlah kamu melanggarnya, ucapan beliau yang telah mencapai kebenaran tertinggi (= paramartha), beliau itulah sebagai Maha Gurumu, sampai dengan kelak dikemudian hari, karena beliau mahir dengan pilsafatnya jiwa uttama (=paraatma), tentang baik buruknya, jangan pula kamu membantah sabdaku, seperti yang diucapkan dalam Widhisastera, kalau kamu melanggarnya, tidak berhasil untuk mencapai kebahagiaan, ingatkan, dan kamu agar memberitahukan pada keturunanmu terus menerus, tiap-tiap orang, dan sabdanya Sahyang Purwa natha, masing-masing mengeluarkan dokterin, oleh Bathara Maha Dewa, serta Bathara Yamadipati ….— /—

Hal.69/a. dan Sang Druwa Resi, Sang Tugini, ternyata itulah diungkap oleh Danghyang Nirartha Wawu Rawuh, diucapkan dalam Widhisastera, dalam menyelenggarakan Upacara kematianmu Sang Tri Wangsa, selama-lamanya, nasehatku, : kepadamu para Arya sekalian, dan Sira Empu, Bujangga, Sang Brahmana, ini keterangan beliau sang Dwijendra, dikuatkan olehku sekarang, maka janganlah sang Berahmana, Empu, Bujangga, berbuat onar, sebab mengakibatkan negara kacau balau, dan bila menguburkan jenazah sang Tri Wangsa, hanya satu tahun saja mayat dikuburkan,

tidak boleh …… — /—

Hal.69/b. lewat dari ketentuan itu, kamu mengupacaranya, sudah menyerupai butha, sengsara atmanya, bila sang Brahmana hanya satu tahun, bila sang Kesatriya dua tahun, Wesiya tiga tahun, Sudra empat tahun, itu tata cara bila meninggal secara benar/normal. Dan bila meninggal dunia, dengan mengandung suatu dosa/kesalahan, ini umpamanya : meninggal dunia sedang menderita wigna agung (= lepra), luka (= berung) menahun, bhuh, mening gal akibat jatuh, meninggal akibat ngamuk, membunuh diri, meninggal salah timpal, yang demikian disebut berdosa besar, keterangannya dahulu, ini juga karuniaku kepadamu para arya semua, karunia, — /—

Hal. 70/a. nya almarhum yang telah mendahului kita, tentang upacara ngaben, mengupacarai jenazah, segala upakaranya, janganlah kamu menyamai keturunanku yang uttama (= pingajeng), sampai kelak kemudian hari tentang tata cara mengupacarai jenazah, ingatkanlah sabdaku, buatlah juga catatan kata-kata anugerah junjungan yang sakti dahulu, tuliskan didalam lembaran (= catatan) masing-masing, sehingga berhasil langgeng anugerahku, diwarisi oleh turun-turunan semua, sampai kelak kemudian hari, bila ternyata keturunanmu menjadi banyak, ingin melanjutkan — /—

Hal. 70/b. sejarah/ceritera, hendaklah kamu menyambung penulisan tentang leluhurmu, sehingga tidak terputus-putus kisahnya, keturunan Majapahit, ingatlah selalu pada ucapan-ucapan titi gegaduhan, serta raja purana tentang upacara keturunan Arya, Sanghyang Kawitan yang disebut ’’Prasasti”. Ini tata upacara jenazah, untukmu para Arya sekalian, jangan hendak menyamai saya, kini saya menganugerahimu, untuk alat mengusung jenazahmu bade bertingkat (=tumpang) tujuh, simbar dengan kertas prasbahan berwarna-warni, dan magunung tajak, sudut-menyudut memakai —/—

Hal. 71/a. karang curing, memakai karang bhoma, memakai garuda membawa amerta menghadap

kebelakang, serta alat pembasmiannya dengan Singhamara, Bhawisrenggi, Gajahmina Pulukan, dan tatak beha, menurut jenis papalihan, nista, madya, uttama, tangganya ( = undag ); tujuh, lima, tiga, tentang tingkat ( = tumpang ) bade, demikian tujuh, lima, tiga, itulah disebut nista, madya, uttama. Dan pelindung ( = kerebing ) pembasmiannya, bale lunjuk uttama untuk sang Brahmana, Satriya. Bale silunglung uttama untuk Arya. Bale buncal, uttama untuk orang tani, dan sudra, dan bila lebih rendah dari — /—

Hal. 71/b. Sudra, tidak diperkenankan melakukan upacara demikian, bukan asal keturunanmu semua itu masing-masing, demikian diingatkan tentang anugerahku, berkat petuah Sang Nirartha Wawu Rawuh, dan paasthi-annya ( = alat mengusung abu jenazah), harus juga memakai pepalihan, lengkap segala upacara untuk pengabenan, memakai kajang, ulon-ulon. Demikian sabda Dalem, disana menyembah para Arya sekalian, kehadapan paduka Maharaja Dalem Watur Ra Enggong, setelah demikian, bubar persidangan Dalem, dan para Arya sekalian — /—

Hal. 72/a. sama-sama menuju rumahnya masing – masing. — o —

Lama kelamaan Sri Aji Watur Ra Enggong bertakhta sebagai raja Bali berhasil sebagai raja besar, memperoleh kemashuran Negara, semakin lanjut usia beliau, tibalah saatnya berpulang ke alam baka, terbit tak bercahaya bencana sanghyang candra (= candra sengkala) : Sapangrenga Sang Pandhita Mawang catur Janma : kira-kira artinya. 1. Setelah mendengar para pendeta dan keempat lapisan masyarakat.;2. Sapangrenga = 2. Sang Pandita = 7. Mwang catur = 4. Janma = 1. Jadi Isaka 1472 = 1550 Masehi, selanjutnya diberi gelar Dewateng Enggong –o–

Tinggal putera-putera beliau dua orang, yang sulung Ida I Dewa Pemahyun Bekung,

adiknya bernama — /—

Hal. 72/b. Ida I Dewa Anom Dimade Seganing. Itulah beliau Ida I Dewa Pemahyun Bekung menggantikan almarhum Dewateng Enggong, diasuh oleh para menteri sekalian, didampingi oleh paman-paman beliau yaitu putera-putera Ida Idewa Tegal Besung, satu persatu namanya : I Dewa Gedong Artha, I Dewa Anggungan, I Dewa Nusa, I Dewa Bangli, I Dewa Pagedangan; sebagai pemuka para Patih, dan tandha manteri, tetap beliau Keriyan Batan Jeruk. Kemudian datang saat – saat Kali Yuga, timbul tidak puasnya Keriyan Patih Batan Jeruk. —/—

Hal. 73/a. kemasukan oleh trimedha, lobha, moha, murka, itu yang meliputi sanubarinya, ia bermaksud

bertahta menjadi raja, sehingga kacau balau negara kerajaan. Adapun Ida I Dewa Pemahyun Bekkung yang bertakhta sebagai raja, sedang muda remaja, serta adinda beliau Ida I Dewa Dimade (= Seganing) tidak mengerti dengan datangnya musuh menyerbu, sehingga Keriyan patih Batan Jeruk, tidak lagi ragu-ragu, ( = curiga). Adapun Kyayi Batan Jeruk, telah dinasehati oleh Sira Asthapaka, sabda Sang pendeta Budha, jangan . — /—

Hal.73/b. anaknda berbuat angkuh kepada Dalem, bila Dalem duduk diatas ranjang, anaknda harus duduk dilantai. Tidak diturut ucapan-ucapan nasehat itu, dia menghormati dengan mempersembahkan harta benda, kata Sang Guru Budha : “Masakan kamu akan menjadi manusia”. Semakin runcing pertengkaran yang menghancurkan, selanjutnya Keriyan Patih Batan Jeruk durhaka berontak kehadapan Dalem, akhirnya keraton diserang, bersama-sama dengan I Dewa Anggungan, tujuan I Dewa Anggungan untuk menggantikan menjadi raja, dan diikuti oleh Keriyan Pandhe, Keriyan Tohjiwa, sebab Keriyan Pandhe . — /—

Hal.74/a. satu keluarga dengan Batan Jeruk, terhitung kemenakan dari sepupu, putra sulung Keriyan Dawuh Baleagung, cucu Pangeran Akah. Timbullah pertempuran yang dahsyat di Gelgel, terkenal disebut berontaknya Batan Jeruk dan I Dewa Anggungan, Isaka 1478 (=candra sengkala . naga aswa yuganing rat = naga. 8, aswa 7, yuga 4, rat 1). Tak teruraikan hebatnya pertempuran, dan entah beberapa lama pertempuran itu, hampir mengalami kekalahan perlawanan Dalem. Karena para menteri dan bahu dandha banyak yang memihak Batan Jeruk. Hanya Kyayi Patih Kubon Kelapa, dan puteranya yang bernama Kyayi Lurah . —/—

Hal. 74/b. Kubontubuh, Putera-putera Kyayi Lurah Karang Abian, Kyayi Wandhira Wira yang kemudian

berputera Kyayi Sura Wandhira ditempatkan didesa Dawan, masih tetap setia cinta pada Dalem, serta pamanpaman Dalem yang empat orang, yaitu I Dewa Gedong Artha, I Dewa Pagedangan, I Dewa Nusa, I Dewa Bangli. Dikisahkan Keriyan Agung Nginte, yang bermukim di Kapal, mendengar berita bahwa Keriyan Batan Jeruk durhaka melawan Dalem, segera mohon diri berpamit kepada

datuknya. —/—

Hal. 75/a. hendak pergi ke Gelgel, membantu mempertahankan Dalem, diijinkan beliau, lanjut beliau

berangkat, memimpin rakyat/prajuritnya kriyan Patih Tuwa beliau Pangeran Kaphal, oleh sebab itu beliau Kriyan Dawuh Nginte sebagai komandan dari sekalian tanda manteri, ikut serta dalam

perjalanan/berangkatnya Kriyan Dawuh Nginte, puteranya Kriyan Patih Tuwa yaitu Kyayi Pandarungan. Tak terlukiskan dalam perjalanan, sekonyong-konyong telah tiba di Gelgel, tak tersangka-sangka kedua orang putera raja (= Dalem Bekung dan Dalem Sega ning), dapat tertipu, ditahan beliau di dalam keraton oleh Kriyan Batan Jeruk bersama dengan I Dewa …. —/—

Hal. 75/b. Anggungan. Disana mereka yang melakukan penyerbuan berunding, dibalik/ditarik kembali para menteri yang memihak kepada Kriyan Batan Jeruk, semula, sehingga menimbulkan kebencian pada Batan Jeruk. Adapun Keriyan Lurah Kubontubuh, Keriyan Patih Kubon Kelapa tetap sebagai pelopor, dibantu oleh Keriyan Dawuh Nginte, diikuti oleh Keriyan Pinatih, Kyayi Anglurah Tabanan, Kyayi Tegeh Kori, Kyayi Kabakaba, Kyayi Buringkit, Kyayi Pering, Kyayi Cagahan, Kyayi Sukahet, Kyayi Brangsiha, semua setuju dengan keputusan perundingan, lalu……. — / —

Hal. 76/a. mereka serempak memasuki keraton, tujuan mereka mencari kedua putera raja, dilarikan oleh Kyayi Lurah Kubontubuh, melalui tembok bata yang dibongkar, kesebelah barat pasar, rumahnya Kriyan Panulisan, keluar dari sana, masuk ke Pikandhelan, dirumahnya Kriyan Lurah Kubontubuh. Tidak berselang lama datanglah Kriyan Batan Jeruk, I Dewa Anggungan, mengamuk di istana, diikuti oleh Kriyan Pandhe, serta Kriyan Tohjiwa, membabi butha Kriyan Batan Jeruk, di penggal sang raja Putri adik kedua putera raja ( = Dalem Bekung dan Dalem Seganing ). — / —

Hal. 76/b. yang berada dalam istana, tak dihiraukan, meratap meminta agar dihidupi, akhirnya wafatlah Sang Raja Puteri tak berdaya, dan tak berdosa. Dan Keriyan Pandhe hendak memarang (=ngandik) pintu gerbang, bersama Kriyan Tohjiwa, tetapi disanggah oleh Keriyan Nginte, lalu tunduk Keriyan Pandhe, hanya Keriyan Tohjiwa yang mati, dibunuh oleh Keriyan Nginte, tetapi tidak tembus, mati oleh sangkur yang bernama Barugudug, Pajenengan Keriyan Patih Tuwa. Akhirnya kalah Kyayi Batan Jeruk, melarikan diri dari Gelgel, menuju Bunghaya, dikejar oleh para prajurit, dikejar oleh rakyat . —/—

Hal. 77/a. nya Kriyan Nginte dan Kyayi Lurah Kubontubuh, dibunuh ia di Jungutan Bungahya. Sanak saudara, anak isterinya, semua bercerai berai mengungsi, takut mati, seperti kidang melihat harimau. Adapun I Dewa Anggungan, ia menyerah, ternyata dibuang oleh keempat orang saudaranya, dijatuhkan kastanya menjadi Sang Anggungan. Dan setelah kalahnya Kriyan Batan Jeruk, tetaplah Sri Aji Pemahyun Bekung menjadi raja Bali, Kriyan Nginte menjadi pemimpin para menteri/patih, bertempat tinggal di rumahnya Batan Jeruk, ya….Nginte,…. Ya Batan Jeruk. Dibagian kiri beliau Kiyayi Lurah Kubontubuh,. —/—

Hal.77/b. Patih Uttama jabatannya, mengganti ayahdanya, sebab Kyayi Lurah Kubon Kelapa sudah lanjut usianya. Adapun Kyayi Lurah Kubontubuh, sudah mempunyai keturunan laki-laki dua orang, perempuan seorang, namanya satu persatu, yang sulung bernama Kyayi Lurah Abiyan Tubuh, adiknya bernama Kyayi Madya Karang, yang bungsu perem-puan, bernama Winiaayu Candhi Dyana, Lama kelamaan timbul pemberontakan, Keriyan Pandhe terhadap Dalem Bekung, akibatnya Dalem Bekung melalaikan Pemerintahan, dikuasakan pada Kriyan Nginte untuk baik buruknya Negara, juga ikut Kyayi Pinatih, Kyayi. —/—

Hal. 78/a. Lurah Kubontubuh, dan menteri-menteri seluruhnya, makanya beliau Dalem Anom Seganing, dijunjung di Bali, sebab juga telah menjabat RAJA-MUDA — o —.

Setelah bertakhta Sri Aji Seganing sebagai Raja Bali, bercahaya terang perbawanya bertakhta, sebab beliau perwira/pemberani, bijaksana dan berakal, aman sentosa Nusa Bali, kembali pula keamanan pulau Bali, rakyat sentosa, gunung dan lautan tak ada kurangnya, jasa beliau memenuhi Tri Buana. Yang menyebabkan, adalah kebijaksanaan Dalem, menganugerahkan kedudukan kepada keturunan Para Arya yang dahulu, mengingat. — /—

Hal. 78/b. jabatan leluhurnya, diantaranya Keriyan Agung Widya pemuka tandha-manteri. Keriyan Kaler Prandhawa menjabat Demung, keduanya putera Keriyan Nginte. Adapun Kyayi Lurah Abiyan Tubuh dan Kyayi Lurah Madya Karang, keduanya menjabat Patih muda, sebab ayahnda mereka Kyayi Lurah Kubontubuh, telah lanjut usia hampir berpulang ke alam baka. Pada saat saat itu dapat dikuasai oleh Dalem yaitu : pulau Lombok, Berangbangan sebelah timur Puger, Sumbawa, tidak ada yang mendurhakai segala perintah Sri Maharaja. Dikisahkan bahwa Dalem Seganing, banyak isteri, dan banyak — /—

Hal.79/a. putera, satu persatu nama beliau : yang sulung laki-laki Ida I Dewa Anom Pemahyun, adiknya Ida I Dewa Dimade, perempuan seorang Ida I Dewa Rani Gwang, ketiga-tiganya adalah putera pingajeng (=pemahyun), lagi I Dewa Karangasem lahir dari babecik, Penawing : I Dewa Cawu, I Dewa Belayu, I Dewa Sumereta, I Dewa Pamregan, I Dewa Lebah, I Dewa Sidan, I Dewa Kabetan, I Dewa Pasawahan, I Dewa Kulit, I Dewa Bedahulu, baru sekian putera-putera Dalem. Dan Kyayi Lurah Abiyan Tubuh. —/—

Hal. 79/b. berputera tiga orang laki – laki, yang sulung bernama Kyayi Lurah Kubontubuh, Ki Jumbuh alias namanya, adiknya Kyayi Tubuh Kuntang Gurna, menetap membuat rumah di Klungkung, yang bungsu Kyayi Lurah Tubuh dengan julukan Ki Nyanyap. Adapun Kyayi Madya Karang, berputera lima orang, yang sulung Kyayi Wayan Tubuh, kedua (= Made) Kyayi Gede Tubuh, adiknya Kyayi Wayahan Karang, Kyayi Made Karang, bungsu Kyayi Abiyan Tubuh. Adapun Kyayi Wayahan Perembu, yang berdiam dipegunungan Bubung Tegeh, beliau telah berpulang ke alam baka, telah di ABEN . — /—

Hal. 80/a. sampai dengan pangroras ( = panileman ) oleh anak dan cucunya, menurut tata cara para Arya. Beliau meninggalkan putera empat orang, yang sulung bernama Kyayi Lurah Parembu menggantikan ayahndanya, berpindah tempat ke Rendang, adiknya Kyayi Dhanu, pergi merantau dan menetap bermukim di Jemberana, yang ketiga (= Nyoman), Kyayi Biyuh, sangat disayangi oleh Kyayi Panji Sakti, diberikan tempat di utara Gunung Agung (= Buleleng), yang bungsu Kyayi Warthaka, amat disayang oleh Dalem, kemudian dititahkan pergi ke Nusa, menjadi Bandhesa di pulau Nusa –o–

Lama kelamaan . —/—

Hal. 80/b. tiba saatnya berpulang Sri Aji Seganing, mencapai Wisnu Bhawana, pada tahun Saka 1587,

digantikan oleh puteranya yang sulung, bergelar Dalem Anom Pemahyun, sebab beliau putera tertua dan kelahiran uttama pula (= pemahyun), dan telah direstui oleh Dalem Bekung dan Dalem Seganing dahulu, dan beliau pula yang menguasai Singharsa, terakhir beliau menjabat Raja muda ketika ayahnda beliau telah lanjut umur. Dibiseka beliau Dalem Anom Pemahyun mengganti menjadi Raja lima hari setelah BALIGIA —/—

Hal. 81/a. Maharaja almarhum. Lalu beliau mengangkat Kyayi Madya Karang sebagai Maha Patih, Kyayi Lurah Abiyan Tubuh patih uttama, keduanya keturunan Kriyan Kubontubuh, sebab terus menerus kesetiaannya kepada Dalem dari leluhurnya semula, Keryan Tangkas sebagai Patih Muda dalam istana. Kriyan Brangsingha sebagai juru tulis/sekretaris; diganti semua catur tandha manterinya, pegawai seluruhnya; sekalian para Pasek, Bandhesa, dikembalikan pada tugas kewajibannya semula. Akhirnya timbul tidak puas dihati orang-orang yang seperti kehilangan penghidupan (= mata pencaharian). — /—

Hal.81/b. terlihatlah keburukan orang-orang, terlibat perbuatan yang buruk, menimbulkan percekcokan, Kriyan Agung Maruti Dimade, yang mula-mula tidak cocok, membandel, akhirnya tegang. Seluruh keluarga Kriyan Agung Maruti ingin mengangkat Ida I Dewa Dimade, sebagai Raja Negara Bali, sebab beliau dapat dihasut, tidak mengerti tipu muslihat dalam hati, yang sebenarnya seperti api disisipkan diatap rumah, maksud tujuan Keriyan Maruti. Dan entah berapa bulan lamanya Dalem Anom Pemahyun bertakhta sebagai Raja Bali,akhirnya timbul pertengkaran yang menghancurkan, dari tidak . —/—

Hal.82/a. baiknya niat orang-orang, dibuktikan dengan Kriyan Agung Maruti Dimade berontak kehadapan Dalem Anom Pemahyun. Dalam hal demikian, durhakanya Keriyan Agung Maruti Dimade, disetujui oleh I Dewa Dimade, akhirnya timbul perasaan sayang dalam sanubari Dalem Anom Pemahyun, pada kehancuran negara, dan tidak hendak beliau berebutan kekuasaan, tidak menginginkan kematian sanak saudara, dan rakyat seperti dahulu. Tetapi belum tentu kalah bila mau melawannya, hanya keamanan dan kesentosaan Negara yang dicita-citakan dalam hati. Beliau menempuh jalan lain, berunding bersama para menteri dan bahu dandha, me . —/—

Hal. 82/b. mohon anugerah/petuah kehadapan Maha Pendeta Raja Sira Sanging Peling, tentang beliau bermaksud pindah keraton. Setelah memperoleh keputusan dalam perundingan, maka serempak bersama putera beliau yang Made ( nomor dua ), serta pasukan berani mati ikut sebagai pembela/ pengawal tuannya, berangkat menuju arah ke timur keistana Bathara (= Dalem Bekung) dulu di desa Purasi. Keriyan Madya Karang dan putera-puteranya semua, keturunan Keriyan Tangkas, Keriyan Brangsinga, sebagai pelopor waktu berangkat. Beliau membawa keris Ki Bengawan Canggu, Ki Kidang Manolih dibawa oleh putera beliau (= Noot : Keris tersebut kini disimpan di Pamerajan Dalem Anom Pemahyun, di Jero Gede Sidemen), tidak terlukiskan………—/—

Hal. 83/a. dalam perjalanan Dalem tiba di desa Purasi pada waktu malam hari tahun Saka 1587. Besok-besok datang mengalir rakyatnya ketimur, bertujuan untuk membela, sampai-sampai penuh sesak di desa Purasi, itu , tiga ratus sepuluh jumlah pemimpin pasukannya. Tetap Kyayi Madya Karang sebagai Kepala para Menteri, ia disuruh oleh Dalem untuk memikirkan pemerintahan Kerajaan, menugaskan seluruh pasek, Bandhesa memimpin di desa-desa, serta para Arya yang ikut, diberikan tempat/jabatan masing-masing, di pelosok-pelosok kerajaan Singharsa, disebelah timur sungai Telagawaja, sebelah utaranya sampai Ponjok batu (= Kab. Buleleng). Adapun. —/—

Hal.83/b. putera-putera Kyayi Madya Karang, dititahkan mengatasi keamanan di desa-desa, yang sulung bernama Kyayi Wayahan Tubuh. di Bugbug, yang kedua (= panghulu) Kiyayi Gede Tubuh di TULAMBEN, Kyayi Wayahan Karang memegang pimpinan di Tianyar, Kyayi Made Karang mengikut ayahnda nya, Kyayi Abiyan Tubuh di Sengkidu, tidak ikut serta putera-putera yang wanita. Kemudian Sri Anom Pemahyun pindah dari desa Purasi, menuju Tambega, menetap membangun istana disana, diiringkan oleh rakyat dan tandha menteri, terutama Kriyan Madya Karang dan puteranya yang namanya seperti nama ayahndanya. — o —

Hal. 84/a. Tidak diceriterakan lagi mereka yang bermukin diistana Pemahyun raja Tambega, maka dikisahkan setelah berpindah Sri Aji Anom Pemahyun, diganti oleh Sri Agung Dimade, bertakhta menjadi raja berkedudukan di Swecalinggarsapura. Dipatihi oleh Kriyan Agung Maruti Dimade. Adapun para putera Kyayi Lurah Abiyan Tubuh, tidak memperoleh jabatan/kewibawaan, sebab dianggap musuh oleh Kriyan Maruti, sebenarnya mereka tetap setia kepada Dalem. Setelah lama, Sri Agung (= Dalem) Dimade, berpikir-pikir dalam hati, sebab tidak boleh berpisah dengan putera – putera Kriyan Kubontubuh sebab benar-benar setia berani mempertahankan dengan mempertaruhkan jiwa sejak. — /—

Hal. 84/b. leluhurnya di jaman bahari. Itulah sebabnya beliau (= Dalem Dimade) mengutus untuk mencari-cari putera-putera Kyayi Lurah Abiyan Tubuh, yang berada di desa-desa tempatnya masing-masing, sebab mereka bercerai-berai dahulu, hendak dibunuh oleh Kriyan Maruti. Dijumpa Kyayi Lurah Kubontubuh yang diberi julukan Ki Jumbuh, Kyayi Tubuh Kuntang Gurna, Kyayi Lurah Tubuh yang diberi julukan Ki Nyanyap ada pula yang telah pergi ke desa-desa yang jauh, dan tak terlukiskan yang wanita. Disana Dalem Dimade mengaruniai sejenis anugerah jabatan, Kyayi Jumbuh diangkat sebagai Demung, bermukim di Pekandhelan Gelgel, Kyayi Tubuh Kuntang Gurna Demung di Kelungkung, Kyayi —/—

Hal. 85/a.Nyanyap. Bandhesa di Gelgel, semuanya telah mempunyai banyak keturunan, Kyayi Jumbuh berputera tiga orang, yang sulung Kyayi Ngurah Kubontubuh, Kyayi Kubon Dawuh Wandhira, adiknya yang bungsu Kyayi Tubuh Dyana. Adapun Kyayi Tubuh Kuntang Gurna, mempunyai dua orang putera, Kyayi Tubuh Dawuh Baingin, dan Kyayi Made Tubuh. Kyayi Nyanyap berputera hanya seorang bernama Kyayi Miber. Demikian anak cucunya Kyayi Lurah Abiyan Tubuh, semuanya setia menghamba pada duli Sri Agung Dimade. Tetapi terseret oleh pengaruhnya Kali Yugga (= zaman tengkar )…… —/—

Hal. 85/b. moha, murka, pikiran manusia, diselimuti oleh rajah dan tamah. Itu yang menguasai Keriyan Agung Maruti, akhirnya durhaka memberontak melawan Dalem Dimade. Kacau balau kerajaan Gelgel, lupa pada pemimpin dan kekeluargaan, para punggawa pergi dari Gelgel, semua menuju rakyatnya ke Desa-desa. Lalu Dalem diserbu/dikepung oleh Kriyan Agung Maruti, yang diam disebelah utara pasar di Karang Kepatihan, Keriyan Patih durhaka pada Dalem, ingin menjadi raja seorang diri. Para pungakan dan Punggawa, yang berada di …… —/—

Hal. 86/a. Swecapura, serta rakyat dapat ditahan, tidak bisa keluar membantu Dalem dalam bencana. Setelah demikian, kemudian Dalem sempat keluar, dijemput oleh rakyat disebelah barat sungai Bubuh, lanjut Dalem berpindah/menyingkir kedesa Guliang (= Kab. Bangli), serempak bersama permaisuri dan putera-putera beliau, menetap Dalem disana. Kriyan Agung Maruti bertakhta menjadi raja, dipatihi oleh Dukut Kretha, berakibat tidak setabilnya pulau Bali, — o —

Adapun putera-putera/keturunan Kyayi Jumbuh, Kayayi Ngurah Kubontubuh, banyak keturunannya, ada di Gobleg, Tambahan, Kyayi Ngurah Tubuh … — /—

Hal. 86/b. di Pekandhelan Klungkung, ada yang di Badung, Tabanan, Mengwi, dan Jemberana. Dan adinda Kyayi Ngurah Kubontubuh, yang bernama Kyayi Dawuh Wandhira, banyak keturunannya, ada di Tamlang, Tuakilang, Sibang, Tegaltamu. Kyayi Tubuh Dyana, putera Kyayi Jumbuh yang Bungsu, banyak keturunannya, ada di Pesaban, Kusamba, Antiga, Abiyansemal, Watubentar, Penarungan, Tangkulak, Sukawati, Tampaksiring, Kyayi Tubuh Kuntang Gurna, berputera dua orang, yang sulung Kyayi Tubuh ……. — /—

Hal. 87/a. Baingin bermukim di Dawan, mengadakan keturunan disana. Yang kedua Kyayi Madya Tubuh, mengikuti Dalem Di Made ke Guliyang, bermukim di Bangli, mengadakan keturunan, yang tertua menggantikan ayahndanya di Bangli, yang kedua berpindah ke Gianyar, yang ketiga pindah ke Ubud, yang bungsu Kyayi Ketut Abiyan Tubuh, pindah menuju Karangasem. Adapun Kyayi Nyanyap, serta puteranya yang masih kanak-kanak, masih berada di Guliyang, menghamba kepada Dalem Dimade, hentikan sebentar. —o—.

Kembali dituturkan, Sri Agung Anom Pemahyun di……….—/—

Hal. 87/b. Pemahyun RajyaTambega, menitahkan putera beliau yang nomor dua (= Dimade), pergi ke

Siddhemaan, bertakhta sebagai raja untuk menjadi junjungan Singharsa rajya, berkedudukan di Malayu (=Ulah), di pesanggra-hannya Dalem Anom Pemahyun dulu waktu beliau menjabat penguasa (= Punggawa) dari Singharsa, berdekatan dengan asrama Pendeta Baghawanthanya, yg mulia Pendandha Wayahan Burwan, yg berkedudukan di Sukaton, putera Pedandha Peling, seorang pendeta yang berbatin tinggi dan memegang jabatan penting dalam istana ( = tunten ring bangbatu) serta beliau pendeta yang tersohor. Tak terduga-duga terkejut beliau (= Sri Anom Dimade) mendengar berita (laporan) bahwa Kriyan Agung Dimade hendak menyerbu Singharsa,

seketika beliau …….. — /—

Hal. 88/a. mempersiapkan rakyat dan pasukan berani mati, lalu mendahului menyerang, Cegeng, Temaga. Setelingnya bernama TOHJIWA, sehingga ada Desa Tohjiwa. Disana beliau bermaksud hendak menghancur leburkan Keriyan Agung di Gelgel, SAYANG ……… terhalang oleh derasnya banjir seperti bulan-bulan kapitu kawolu. Rakyat pasukannya menari-nari menjerit perkasa hendak bertempur. Dalam keadaan demikian, tepat datangnya rakyat pasukan sebelah timur Bukit ( = Bukit Penyu), membawa pejenengan Ki Bangawan Canggu, anugerah ayandanya, dipelopori oleh Kriyan Tangkas Biyas, Ki Brangsinga, Kyayi Made Karang putera Kyayi ………..—/—

Hal. 88/b. Madya Karang yang berada di Tambega, diiringkan oleh pasukan rakyat serempak. Penggempuran Sri Anom Dimade, batal, sehingga semua kembali menuju rumahnya masing-masing, setelah diatur pasukan tempurnya untuk mempertahankan daerah perbatasan yang terutama : Kyayi Madya Karang diberikan tempat didesa Lebu, Ki Brangsinga di wilayah Temaga untuk mempertahankan steling (= GELAR), serta pasukan lengkap. Tiba-tiba datanglah berita bahwa Sri Anom Pemahyun menderita sakit di Pemahyun rajya, sehingga pergilah Sri Anom Dimade ke Tambega. Didapatkan . — /—

Hal. 89/a. ayahndanya telah berpulang ke alam baka, pada hari Budha, Umanis, hari ke 9, bulan Srawana (=Kasa) tahun Saka 1608. Lanjut jenazah almarhum di upacara “PALEBON” di Siddhemaan pada hari Sukra Paing Gumbreg pada bulan Badrawada (= Karo) dipuja oleh Pendeta Siwa dan Budha, Pedandha Gede Wayan Burwan, dan Pedandha Nengah Banjar Sogata – o –. Adapun Kyayi Madya Karang, menteri utama dari Sri Agung Anom Pemahyun, telah berpulang lebih dahulu, sudah pula diupacara oleh anak cucu almarhum, sebagai pelopor puteranya yang berada di Tulamben. Dan Kiyayi Gede Tubuh. — /—

Hal. 89/b. Tulamben, yang berkuasa di Tulamben berputera tiga orang laki-laki, yang sulung Kyayi Karang Tubuh, kemudian pindah menuju desa Kubu Tambahan, menetap disana mengadakan keturunan. Nomor dua (= pangulu) Kyayi Kubontubuh Culik, beliau juga bernama Kyayi Kubontubuh Tawing karena ibunya dari warga Ki Pasek Tawing Culik, beliau menggantikan ayahandanya di Tulamben. Yang nomor tiga, (= Nyoman), Kyayi Tubuh Tulamben, pindah menuju desa Ababi, menetap disana. Lagi pula lima putra Kyayi Kubontubuh Culik, terpencar-pencar mencari desa tempat tinggal, pada waktu terjadi kekacauan, perampokan bersenjata api oleh orang-orang Bajo di Tulamben pada tahun 1617 Saka (1695 M.). Yang tertua —/—

Hal. 90/a. Kyayi Kubontubuh mengungsi ke Desa Pesangkan dan tinggal disana. Adiknya Kyayi Gede

Bendesa Tubuh menuju Desa Datah, disana beliau dilindungi oleh Tangkas Jaya, Ki Gede Pasek memberi kewibawaan bersama-sama membangun ketertiban desa. Adapun putera ketiga yang bernama Kyayi Nyoman Tubuh menuju Desa Sibetan bersama anak dan isterinya, diterima oleh penguasa disana dan akhirnya menetap disana. Putera keempat yang bernama Kyayi Gede Tubuh Tawing mengungsi ke Desa Ngis Tista. Yang bungsu bernama Kyayi Tubuh Sibetan, menuju ke Kikiyan Rajagiri, Abang, tinggal menetap disana beliau menyembunyikan identitas diri. – o –

Kini kembali dituturkan, setelah wafat Sri Agung Anom Pemahyun, amat gelisah hati beliau raja Singharsa Sri Agung Anom Dimade, hendak menguasai kembali keraton kerajaan Gelgel, lebih-lebih pula Kriyan Maruti amat gigih niatnya menyerbu kerajaan Singharsa dahulu. Ternyata beliau menghadap keppada beliau Pendeta Agung Pedandha Wayahan Burwan di asramanya di Sukaton, memohon petuah/restu…… —/—

Hal. 90/b. Beliau Sang Pendeta Agung memberikan pertimbangan/persetujuan, dan menyuruh pula agar beliau Sri Agung Anom Dimade mengundang/memanggil saudara sepupunya yang berada di Guliyang, agar supaya tidak kecewa didalam steling/pertahanan. Gembira hati Sri Anom dimade, lalu diutus/disuruh putera pingajeng Kriyan Lurah Sidemen Dimade, yang bernama Kriyan Lurah Sidemen Cerawis, mempermaklum kan pesan Sang Raja Putera yang berada di Guliyang, yang dalam keadaan amat berduka cita seperti beliau yang menderita dan dendam di Siddhemaan. Akhirnya sama-sama memberikan  pertimbangan/persetujuan sehingga ke Guliyang …… ke Sidemen (= pulang pergi sering-sering). Kyayi Lurah, Anglurah sebagai seorang utusan. Tetapi belum berhasil baik, tidak …—/—

Hal. 91/a. disangka-sangka wafat Sri Anom Dimade, pada tahun Saka 1616 (= 1694 Masehi). Setelah

berpulang Sri Anom Dimade, datang Sri Agung Jambe yang bermukim di Guliyang), menuju Singharsa Rajya benar-benar disambut baik oleh rakyat, berkedudukan di Melayu ( = ULAH ), bersama-sama dengan putera mahkota Sri Anom Dimade, sedang masa kanak-kanak, bernama Sri Agung Gede Ngurah, Disana beliau mencari akal/siasat, hendak menundukkan musuh-musuh yang durhaka kepada Dalem. Sebagai pemimpin perundingan adalah Sri Agung Gede Jambe, beliau Pedandha Wayahan Burwan sebagai dyaksa (= Dewan Pertimbangan Agung), diikuti oleh Kyayi Jambe Pule, Kyayi…..—/—

Hal. 91/b. Panji Sakti. Setelah memperoleh kebulatan tekad dalam perundingan, pada suatu hari yang baik, Selasa, Pahing, Bala, Isaka 1626, lalu Gelgel diserbu. Panjang sekali bila diuraikan jalan pertempuran itu, ternyata akhirnya kalah perlawanan Kriyan Maruti, lari dari Gelgel, menuju Jimbaran. Adapun setelah lari Kriyan Maruti, beliau Sri Agung Gede Jambe menitahkan Kyayi Lurah Tubuh yang diberi julukan Ki Nyanyap,mengejar perginya dengan pasukan, tujuannya untuk menyelidiki/mengawasi (memata-matai) pikiran dan perbuatannya Kriyan Agung Anom Dimade Maruti. Lama kelamaan, diampuni….—/—

Hal.92/a. oleh Dalem, diberikan tempat di Kuramas, adapun Kyayi Nyanyap serta anak isterinya lalu menetap pula disana, karena dititahkan oleh Dalem. Beliau Sri Agung Gede Jambe, bertakhta menjadi raja berkedudukan di SEMARAJAYA (= Klungkung). Kemudian mengangkat dan membiseka raja putera yang berada di Siddhemaan sebagai raja Singharsa, bergelar Sira Sri Agung GEDE NGURAH, terhitung putera dari sepupu olehnya. Aman sentosalah KERAJAAN SEMARAJAYA DAN SINGHARSA.

sumber: http://www.kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com


Responses

  1. sy pretisentana asal ds datah mengucapkan terimksh atas dipostingnya silsilah kawitan arya kubontubuh, krn sejak lama sy ingin tau ttg silsilah diatas namun tiada tempat utk brtanya yg dpt memberikan jwbn yg memuaskan. Dgn adanya postingan diatas sy harap smkn banyak sanak saudara kt dpt lbi mudah informsi ttg silsilah leluhur kt, yg nantinya dpt mengantarkan jalinan persaudaraan yg lbh erat diantara kt semua.

    • Terima kasih kembali, saya juga pratisentana beliau semoga keluhuran beliau menjadi inspirasi bagi kita semua…


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: