Oleh: Gusti Sudiartama | Agustus 1, 2011

HIDUP DALAM KEPURA – PURAAN, DALAM KEMUNAFIKAN

Ceramah pertama di Alpino, 1 Juli 1933

Oleh J. Krishnamurti

Teman-teman,

Saya ingin Anda membuat temuan yang hidup, bukan temuan yang

dipicu oleh uraian orang lain. Misalnya, jika seseorang mengatakan

kepada Anda tentang keindahan alam di sini, Anda akan datang

dengan batin Anda disiapkan oleh uraian itu, dan kemudian Anda

mungkin kecewa dengan realitasnya. Tidak seorang pun dapat

mendeskripsikan realitas. Anda harus mengalaminya, melihatnya,

merasakan seluruh suasananya. Bila anda melihat keindahan dan

kebagusannya, Anda mengalami pembaruan, peningkatan

sukacita.

Kebanyakan orang yang mengira bahwa mereka mencari

kebenaran telah menyiapkan batin mereka untuk menerimanya

dengan mempelajari uraian dari apa yang mereka cari. Bila Anda

menyelidiki agama-agama dan filsafat-filsafat, Anda mendapati

bahwa mereka semua mencoba mendeskripsikan realitas; mereka

mencoba mendeskripsikan realitas untuk menjadi tuntunan Anda.

Nah, saya tidak akan mencoba mendeskripsikan apa yang bagi

saya adalah kebenaran, oleh karena itu akan menjadi upaya yang

mustahil. Orang tidak bisa mendeskripsikan atau memberikan

kepada orang lain kepenuhan dari suatu pengalaman. Setiap orang

harus menghayatinya sendiri.

Seperti kebanyakan orang, Anda telah membaca, menyimak dan

meniru; Anda telah mencoba menemukan apa yang dikatakan

orang lain tentang kebenaran dan Tuhan, tentang kehidupan dan

keabadian. Jadi Anda memiliki sebuah gambaran di dalam batin

Anda, dan sekarang Anda ingin membandingkan gambaran itu

dengan apa yang akan saya katakan. Artinya, batin Anda hanya

mencari sekadar deskripsi; Anda tidak mencoba menemukan

secara baru, melainkan hanya mencoba membandingkan. Tetapi,

oleh karena saya tidak akan mencoba mendeskripsikan kebenaran,

oleh karena ia tidak bisa dideskripsikan, dengan sendirinya akan

ada kebingungan dalam batin Anda.

Bila Anda memegang di hadapan Anda sebuah gambaran yang

akan Anda kopi, suatu ideal yang akan Anda tiru, Anda tidak

pernah menghadapi sebuah pengalaman secara penuh; Anda tidak

pernah terus terang, tidak pernah jujur mengenai diri Anda dan

tindakan-tindakan Anda sendiri; Anda selalu melindungi diri dengan

sebuah ideal. Jika Anda sungguh-sungguh menggali ke dalam

pikiran dan hati Anda sendiri, Anda akan mendapati bahwa Anda

datang kemari untuk memperoleh sesuatu yang baru; suatu ide

baru, suatu sensasi baru, suatu penjelasan hidup yang baru, agar

Anda dapat membentuk kehidupan Anda sesuai dengan itu.

Dengan demikian, Anda sesungguhnya mencari suatu penjelasan

yang memuaskan. Anda tidak datang dengan suatu sikap yang

segar, sehingga dengan persepsi Anda sendiri, intensitas Anda

sendiri, Anda dapat menemukan sukacita tindakan yang alamiah

dan spontan. Kebanyakan dari Anda hanya sekadar mencari

penjelasan deskriptif akan kebenaran, dengan mengira bahwa jika

Anda dapat menemukan apa kebenaran itu, lalu Anda dapat

membentuk hidup Anda sesuai dengan cahaya abadi itu.

Jika itu motif pencarian Anda, maka itu bukan pencarian akan

kebenaran. Alih-alih, itu adalah pencarian akan penghiburan, akan

kenyamanan; itu tidak lebih dari upaya untuk lari dari konflik dan

pergulatan tak terhitung banyaknya yang harus Anda hadapi setiap

hari.

Dari penderitaan lahirlah dorongan untuk mencari kebenaran; di

dalam penderitaan terletak penyebab dari penyelidikan yang tekun,

pencarian akan kebenaran. Namun, bila Anda menderita–seperti

setiap orang menderita–Anda mencari obat dan kenyamanan

seketika. Bila Anda merasakan kesakitan fisik sesaat, Anda

mencari obat penghilang rasa sakit di apotik terdekat untuk

mengurangkan penderitaan Anda. Begitu pula, bila Anda

mengalami kepedihan mental atau emosional sesaat, Anda

mencari penghiburan, dan Anda mengira bahwa mencari obat

kesakitan itu adalah pencarian kebenaran. Dengan cara itu, Anda

terus-menerus mencari kompensasi bagi kesakitan Anda,

kompensasi bagi upaya yang terpaksa Anda lakukan. Anda

menghindari penyebab utama dari penderitaan dan dengan

demikian menjalani kehidupan yang ilusif.

Demikianlah, orang-orang yang selalu menyatakan mereka

mencari kebenaran sesungguhnya tidak menemukannya. Mereka

mendapati hidup mereka tidak cukup, tidak lengkap, tidak

mempunyai cinta, dan mengira bahwa dengan mencoba mencari

kebenaran mereka akan menemukan kepuasan dan kenyamanan.

Jika Anda terus terang berkata kepada diri sendiri bahwa Anda

hanya mencari penghiburan dan kompensasi untuk kesulitankesulitan

hidup, Anda akan dapat menggarap masalahnya secara

cerdas. Tetapi selama Anda berpura-pura kepada diri sendiri

bahwa Anda mencari sesuatu yang lebih daripada sekadar

kompensasi, Anda tidak bisa melihat masalahnya dengan jelas.

Maka, hal pertama yang perluditemukan ialah apakah Anda

sungguh-sungguh mencari, secara mendasar mencari kebenaran.

Orang yang mencari kebenaran bukanlah murid kebenaran.

Misalkan Anda berkata kepada saya, “Saya tidak punya cinta

dalam hidup saya; hidup ini merana, penuh kesakitan terusmenerus;

oleh karena itu, untuk memperoleh kenyamanan, saya

mencari kebenaran.” Maka saya harus mengatakan bahwa

pencarian Anda akan kenyamanan adalah khayalan sama sekali.

Tidak ada dalam kehidupan ini apa yang dinamakan kenyamanan

dan keamanan. Hal pertama yang perlu dipahami adalah bahwa

Anda harus mutlak berterus-terang.

Tetapi Anda sendiri tidak yakin, apa sesungguhnya yang Anda

inginkan: Anda ingin kenyamanan, penghiburan, kompensasi,

namun, pada saat yang sama, Anda menginginkan sesuatu yang

jauh lebih besar tak terbatas daripada sekadar kompensasi dan

kenyamanan. Anda begitu kacau dalam batin Anda sendiri,

sehingga pada suatu saat Anda memandang pada suatu otoritas

yang menawarkan kepada Anda kompensasi dan kenyamanan,

dan pada saat berikutnya Anda berpaling pada orang lain yang

mengingkari kenyamanan bagi Anda. Maka hidup Anda menjadi

eksistensi yang munafik secara halus, kehidupan penuh

kekacauan. Cobalah temukan apa yang sesungguhnya Anda

pikirkan; jangan berpura-pura memikirkan apa yang Anda percaya

harus Anda pikirkan; maka, jika Anda sadar, hidup sepenuhnya

dalam apa yang Anda kerjakan, Anda akan tahu sendiri, tanpa

analisis-diri, apa yang sesungguhnya Anda inginkan. Jika Anda

bertanggung jawab sepenuhnya akan tindakan-tindakan Anda,

Anda akan tahu tanpa analisis-diri apa yang sesungguhnya Anda

cari. Proses penemuan ini tidak membutuhkan kemauan kuat,

kekuatan besar, melainkan hanya sekadar minat untuk

menemukan apa yang Anda pikirkan, menemukan apakah Anda

sungguh-sungguh jujur atau hidup dalam ilusi.

Dengan berbicara kepada kelompok-kelompok pendengar di

seluruh dunia, saya mendapati semakin banyak orang yang tidak

memahami apa yang saya katakan, oleh karena mereka datang

dengan ide-ide terpaku; mereka menyimak dengan sikap bias,

tanpa mencoba menemukan apa yang saya katakan, melainkan

sekadar berharap menemukan apa yang secara diam-diam mereka

inginkan. Tidak ada gunanya berkata, “Ini suatu ideal baru yang

kepadanya saya harus membentuk hidup saya.” Alih-alih, temukan

apa yang sesungguhnya Anda rasakan dan pikirkan.

Bagaimana Anda menemukan apa yang sesungguhnya Anda

rasakan dan pikirkan? Dari sudut pandang saya, Anda hanya dapat

melakukannya dengan menyadari seluruh kehidupan Anda. Maka

Anda akan menemukan seberapa jauh Anda menjadi budak dari

ideal-ideal Anda, dan dengan menemukan itu, Anda akan melihat

bahwa Anda telah menciptakan ideal-ideal demi penghiburan Anda.

Di mana ada dualitas, di mana ada hal-hal yang berlawanan, tentu

ada kesadaran akan ketidaklengkapan. Batin terperangkap dalam

hal-hal yang berlawanan, seperti hukuman dan ganjaran, baik dan

buruk, masa lampau dan masa depan, untung dan rugi. Pikiran

terperangkap dalam dualitas ini, dan dengan demikian terdapat

ketidaklengkapan dalam tindakan. Ketidaklengkapan ini

menciptakan penderitaan, konflik dari pilihan, daya upaya dan

otoritas, dan pelarian dari yang tidak penting kepada yang penting.

Bila Anda merasa bahwa Anda tidak lengkap, Anda merasa

hampa, dan dari rasa kehampaan itu muncullah penderitaan; dari

ketidaklengkapan itu Anda menciptakan standar-standar, idealideal,

untuk mendukung Anda dalam kehampaan Anda, dan Anda

menegakkan standar-standar dan ideal-ideal ini sebagai otoritas

eksternal Anda. Apakah penyebab batiniah dari otoritas eksternal

yang Anda ciptakan untuk diri Anda sendiri? Pertama, Anda

merasa tidak lengkap, dan Anda menderita dari ketidaklengkapan

itu. Selama Anda tidak memahami penyebab dari otoritas, Anda

tidak lebih daripada sekadar mesin yang meniru, dan di mana ada

peniruan di situ tidak mungkin ada kepenuhan hidup yang kaya.

Untuk memahami penyebab dari otoritas, Anda harus menelusuri

proses mental dan emosional yang menciptakannya. Pertamatama,

Anda merasa hampa, dan untuk melenyapkan rasa itu, Anda

mengerahkan daya upaya; dengan daya upaya itu Anda hanya

menciptakan hal-hal yang berlawanan; Anda menciptakan dualitas

yang hanya memperparah ketidaklengkapan dan kehampaan itu.

Anda bertanggung jawab bagi otoritas-otoritas eksternal seperti

agama, politik, moralitas, bagi otoritas-otoritas seperti standar

ekonomi dan sosial. Dari kehampaan Anda, dari ketidaklengkapan

Anda, Anda menciptakan standar-standar eksternal, yang dari

situsekarang Anda mencoba membebaskan diri Anda. Dengan berevolusi,

dengan berkembang, dengan tumbuh menjauhi mereka,

Anda sekarang ingin menciptakan suatu hukum batiniah bagi diri

Anda sendiri. Sementara Anda mulai memahami standar-standar

eksternal, Anda ingin membebaskan diri Anda dari mereka, dan

mengembangkan standar batiniah Anda sendiri. Standar batiniah

ini, yang Anda namakan “realitas spiritual”, Anda identifikasikan

dengan sebuah hukum kosmik, yang berarti bahwa Anda

menciptakan pembagian lagi, dualitas lagi.

Jadi, mula-mula Anda menciptakan hukum eksternal, lalu Anda

berupaya keluar dari situ dengan mengembangkan hukum batiniah,

yang Anda identifikasikan dengan alam semesta, dengan

keseluruhan. Itulah yang terjadi. Anda masih tetap sadar akan

egotisme Anda yang terbatas, yang sekarang Anda identifikasi

dengan suatu ilusi besar, dan menyebutnya kosmik. Jadi, bila Anda

berkata, “Saya menaati hukum batiniah saya,” Anda sekadar

menggunakan ungkapan untuk menutupi keinginan Anda untuk

melarikan diri. Bagi saya, orang yang terikat entah oleh suatu

hukum eksternal atau hukum batiniah, terkurung dalam sebuah

penjara; ia terpenjara oleh sebuah ilusi. Dengan demikian, orang

seperti itu tidak dapat memahami tindakan yang spontan, alamiah

dan sehat.

Nah, mengapa Anda menciptakan hukum-hukum batiniah bagi diri

Anda? Bukankah karena pergulatan kehidupan sehari-hari begitu

besar, begitu tidak harmonis, sehingga Anda ingin lari darinya dan

menciptakan hukum batiniah yang menjadi penghiburan bagi

Anda? Dan Anda menjadi budak dari otoritas batiniah itu, standar

batiniah itu, oleh karena Anda hanya membuang gambaran

lahiriah, dan sebagai gantinya menciptakan gambaran batiniah,

yang memperbudak Anda.

Dengan cara ini Anda tidak akan mencapai ‘penglihatan’ sejati, dan

‘melihat’ berbeda sekali dengan memilih. Pilihan harus ada di mana

ada dualitas. Bila batin tidak lengkap dan sadar akan

ketidaklengkapan itu, ia mencoba lari darinya dan dengan demikian

menciptakan suatu lawan bagi ketidaklengkapan itu. Lawan itu

mungkin berupa standar eksternal atau standar batiniah, dan bila

orang telah menegakkan standar seperti itu, ia menilai setiap

tindakan, setiap pengalaman berdasarkan standar itu, dan dengan

demikian hidup dalam keadaan memilih terus-menerus. Pilihan

hanya lahir dari perlawanan. Jika ada ‘penglihatan’, tidak ada daya

upaya.

Jadi bagi saya, seluruh konsep tentang upaya menuju kebenaran,

menuju realitas, ide tentang berusaha terus-menerus, adalah palsu

sama sekali. Selama Anda tidak lengkap, Anda akan mengalami

penderitaan, dan karena itu Anda akan terlibat dalam pilihan, dalam

daya upaya, dalam pergulatan tanpa henti untuk apa yang Anda

namakan “pencapaian spiritual.” Jadi saya berkata, bila batin

terperangkap dalam otoritas, ia tidak mungkin memperoleh

pemahaman, pikiran sejati. Dan karena batin kebanyakan dari

Anda terperangkap dalam otoritas–yang tiada lain adalah pelarian

dari pemahaman, dari ‘melihat’–Anda tidak dapat menghadapi

pengalaman hidup dengan lengkap. Dengan demikian, Anda

menjalani kehidupan ganda, kehidupan pura-pura, kehidupan

munafik, kehidupan tanpa saat yang lengkap.***

****************

[diterjemahkan oleh hudoyo hupudio]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: