Oleh: Gusti Sudiartama | Desember 2, 2010

Pedoman Perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan

 

 

 

 


1. ACUAN

  1. Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-aspek Agama Hindu disyahkan PHDI Pusat.
  2. Kidung Panji Amalat Rasmi
  3. Lontar Purana Bali Dwipa
  4. Lontar Sri Jayakasunu
  5. Lontar Sundarigama

2. TUJUAN

Perayaan Galungan dan Kuningan bertujuan mengingatkan umat Hindu agar senantiasa memenangkan dharma dalam kehidupan sehari-hari.

Dharma adalah kecenderungan Trikaya parisuda yang disebut sebagai Dewa Sampad, sedangkan kebalikannya, yaitu Adharma adalah kecenderungan sifat dan prilaku keraksasaan atau Asura Sampad.

Sanghyang Tiga Wisesa berwujud sebagai Bhuta Dungulan, Bhuta Galungan dan Bhuta Amangkurat adalah symbol Asura Sampad yang ada dalam diri setiap manusia, yaitu kecenderungan ingin lebih unggul (Dungul), kecenderungan ingin menang dalam pertikaian (Galung), dan kecenderungan ingin berkuasa (Amangkurat).

3. RANGKAIAN UPACARA

  1. Tumpek Wariga. Memuja Sanghyang Sangkara, memohon agar semua tumbuh-tumbuhan subur dan berbuah lebat. Upacara dipusatkan di kebun, sawah dan Sanggah Pamerajan.
  2. Coma Paing Warigadean. Memuja Bhatara Brahma, memohon keselamatan diri. Upacara dipusatkan di Sanggah Pamerajan.
  3. Wraspati Wage Sungsang (Sugihan Jawa). Mensucikan Bhuwana Agung. Upacara dipusatkan di Sanggah Pamerajan.
  4. Sukra Kliwon Sungsang (Sugihan Bali). Mensucikan Bhuwana Alit. Upacara dipusatkan di Sanggah Pamerajan, dan melaksanakan tirtha yatra.
  5. Redite Paing Dungulan (Penyekeban). Anyekung jnana sudha nirmala, menggelar samadhi menguatkan tekad memenangkan dharma. Upacara dipusatkan di Sanggah Pamerajan.
  6. Coma Pon Dungulan (Penyajaan). Menguatkan samadhi melawan pengaruh-pengaruh Asura Sampad. Upacara dipusatkan di Sanggah Pamerajan.
  7. Anggara Wage Dungulan (Penampahan). Jaya prakoseng prang, memenangkan Dewa Sampad. Upacara mabeakala bagi seluruh keluarga dan memasang penjor diluar pekarangan rumah.
  8. Buda Kliwon Dungulan (Galungan). Memuja Ida Sanghyang Widhi atas asung wara nugraha-Nya memberi kehidupan dan perlindungan bagi umat manusia. Upacara dipusatkan di Pura, Sanggah Pamerjan dan tempat-tempat suci lainnya.
  9. Wraspati Umanis Dungulan (Manis Galungan). Melakukan dharma santi, saling mengunjungi keluarga dan sahabat serta saling maaf memaafkan. Di malam hari terus menerus sampai dengan Sukra Wage Kuningan selama 9 (sembilan) malam melakukan samadhi Nawa Ratri, berturut-turut memuja Bhatara Iswara, Mahesora, Brahma, Rudra, Mahadewa, Sangkara, Wisnu, Sambu, dan Tri Purusha (Siwa, Sada Siwa, Parama Siwa).
  10. Saniscara Pon Dungulan (Pemaridan Guru). Ngelungsur upakara Galungan, membersihkan Sanggah Pamerajan dan metirtha yatra.
  11. Redite Wage Kuningan (Ulihan). Memuja Bhatara dan Leluhur menstanakan di pelinggih masing-masing. Upacara dipusatkan di Sanggah Pamerajan.
  12. Coma Kliwon Kuningan (Pemacekan Agung). Nyomia Sanghyang Tiga Wisesa. Upacara di halaman rumah dengan mecaru alit.
  13. Budha Paing Kuningan. Pujawali Bhatara Wisnu. Upacara di Sanggah Kemulan.
  14. Saniscara Kliwon Kuningan (Kuningan). Memuja Ida Sanghyang Widhi dan Roh Leluhur mohon senantiasa berada di jalan dharma. Upacara di Sanggah pamerajan sebelum jam 12 siang agar getaran kesucian dan kekuatan Dewa Sampad merasuk kedalam diri kita.
  15. Buda Kliwon Paang (Pegatuakan). Memuja Ida Sanghyang Widhi Wasa dalam manifestasi-Nya sebagai Sanghyang Suksma Licin. Upacara dipusatkan di Sanggah Pamerajan. Mencabut penjor.

4. PENJOR

  1. Penjor adalah upakara yang wajib disertakan pada setiap hari raya Galungan, mulai ditancapkan pada Anggara Wage Dungulan dan dicabut pada Buda Kliwon Paang.
  2. Makna penjor: Ucapan terima kasih kepada Bhatara Maha Meru yang telah memberikan pengetahuan dan kemakmuran kepada umat manusia.
  3. Kelengkapan dan arti symbol-symbol:
    • Sebatang bambu sebagai symbol keteguhan hati untuk berbhakti kepada Ida Sanghyang Widhi.
    • Hiasan berbentuk bakang-bakang sebagai symbol Atarva Veda
    • Hiasan berbentuk tamyang sebagai symbol Sama Veda
    • Hiasan berbentuk sampyan sebagai symbol Yayur Veda
    • Hiasan berbentuk lamak sebagai symbol Rg Veda
    • Pala gantung, pala bungkah dan kain putih-kuning sebagai symbol kemakmuran dan kecukupan sandang-pangan-perumahan
    • Ubag-abig sebagai symbol kekuatan dharma
    • Sanggah cucuk untuk menempatkan sesaji berupa tegteg daksina peras ajuman
  4. Cara memasang penjor:
    Sebelum penjor ditanam, lobang galian agar disucikan dengan banyuawang kemudian didasar lobang diletakkan kwangen dengan uang logam11 kepeng. Juntaian ujung penjor mengarah ke “teben”, yaitu Barat (Pascima) atau Kelod (untuk di Buleleng, arah ke Utara/ Uttara) sehingga sanggah cucuk yang diikatkan di penjor menghadap ke “hulu”, yaitu Timur (Purwa) atau Kaja (untuk di Bulleng, arah ke Selatan/Daksina). Penjor ditancapkan disebelah kiri pemedal rumah/Sanggah Pamerajan/ Pura. Setiap hari penjor di haturi canang burat wangi.
  5. Cara mencabut penjor:
    Semua hiasan penjor dibakar, dan abunya dimasukkan kedalam lobang bekas penjor, kemudian diletakkan sebuah takir berisi bubur susuru (tepung beras, madu, susu dan tiga helai padang lepas digodok menjadi bubur). Setelah itu lobang ditimbun tanah. Bambu bekas penjor dapat digunakan untuk keperluan lain.

5. GALUNGAN NADI

Adalah Galungan yang bertepatan dengan Purnama. Rangkaian upacaranya sama dengan Galungan biasa, tetapi jenis upakaranya setingkat lebih tinggi. Galungan Nadi lebih diistimewakan karena diberkahi oleh Sanghyang Ketu, sebagaimana halnya perayan Galungan pertama pada tahun 804 Saka yang bertepatan dengan Purnama sasih Kapat.

6. GALUNGAN NARA MANGSA

Adalah Galungan yang bertepatan dengan Tilem sasih Kapitu atau Tilem sasih Kesanga. Disebut sebagai hari “Dewa mauneb bhuta turun”. Pada hari Galungan Nara Mangsa upakara yang disebut tumpeng Galungan ditiadakan, diganti dengan caru nasi cacahan dicampur keladi. Tidak memasang penjor, tetapi upacara lainnya tetap dilaksanakan.

dari  http://www.stitidharma.org



Oleh: Gusti Sudiartama | November 28, 2010

PURA JAGASATRU

Pura  Muncaksari   di Kecamatan Penebel Kabupaten Tabanan, tentu sudah banyak yang tahu, akan tetapi Pura Jagasatru  sangat jarang yang kenal padahal lokasinya tidak jauh dari Pura muncak sari.  Untuk  menuju lokasi Pura  Jagasatru  jalan terdekat harus melalui  Pura Muncaksari,   kira-kira 800 meter tepatnya  arah Timur laut dari Pura Muncaksari. Jalanan yang dilalui masih jalan setapak berliku, ditengah hutan  kalo  musim hujan  agak licin dan becek.

Nama Jagasatru   asalnya adalah Nagasatru  yang  merupakan “Pesengan” dari sesuhunan yang dipuja di Pura tersebut. Pura ini pertama kali ditemukan oleh  warga desa Wongaya gede  yang berniat membuka lahan di hutan di sekitar lokasi Pura Jagasatru sekarang. Satu keanehan yang dialami oleh keempat warga, ketika menebang sebatang pohon , saat itu konon pohon yang dimaksud sudah terpotong seluruhnya namun tidak mau tumbang , sampai beberapa hari. Mengalami keanehan tersebut keempat warga kemudian mengambil inisiatif untuk ”nunas bawos” kenapa hal itu bisa terjadi. Pada saat nunas baos tersebut, “dasaran” tersebut  dalam keadaan “kelinggihan” kemudian berlari sambil “nyunggi” daksina menuju kelokasi penebangan pohon yang ternyata didekatnya terdapat sebuah baturan . Di lokasi baturan tersebut  disebut merupakan tempat yang disucikan  dan Ida Sesuhunan yang  melinggih di tempat itu mepesengan Ida Bhatara Nagasatru .Konon  Pura Jagasatru ini adalah tempat untuk memohon kerahayuan jagat, karena yang bersemayam disana adalah Beliau yang bertugas  sebagai “tabeng wijang” atau Pecalang jagad.

Lokasi Pura Jagasatru ini ada di sebuah tebing batu yang cukup terjal, saat ini dilokasi pura telah berhasil dibangun tiga buah bangunan pesandekan, namun  jalan setapak  tepat di sebelah selatan pura  beberapa waktu yang lalu sempat longsor, sehingga pengempon berinisiatif membangun jembatan kayu tepat di bawah natar pura. Di Lokasi ini terdapat Pelinggih Agung, Pelinggih suku empat, Pelinggih pesimpangan Suralaya, Pelinggih pesimpangan watukaru, Pelinggih Pesimpangan Muncaksari, Pesimpangan jatiluwih, Pura Beji, dan Pelinggih Raja Peni/Bale Kukul.

Bersembahyang di Pura ini memang menumbuhkan suasana magis yang luar biasa, lokasi Pura di tebing, gemericik suara air yang muncul dari tebing batu, dan hutan  disebelah barat yang asri menambah suasana religius, sehingga umat yang berniat sembahyang akan tergoda untuk memejamkan mata, merasakan suasana batin aura magis Pura Jagasatru.  Tempat ini sangat cocok untuk dijadikan tempat memohon kesucian batin. Sebelum  menuju lokasi pura sebaiknya sembahyang dulu di Pura Muncaksari mohon ijin, kemudian melanjutkan perjalanan melalui jalan setapak ditengah  hutan yang asri sungguh suatu pengalaman batin yang sulit untuk dilukiskan.

Pemedek yang berniat tangkil dapat menghubungi Jero Mangku melalui no Hp.085237297023

Oleh: Gusti Sudiartama | November 27, 2010

DHARMA DAN KAMA

oleh: Putu

Hendaknya Dharma-lah sebagai jalan untuk memperoleh kama(nafsu keinginan)  dan Artha .

Kama.(keinginan, kesenangan akan kenikmatan indria)  adalah suatu anugrah bagi manusia dari Ida Sang Maha Pencipta….  dengan kama-lah manusia  memperoleh dan menjalani hidupnya, apa jadinya kalo manusia tidak  mempunyai  kama/keinginan?

Pemenuhan keinginan yang tak terkendali tak akan pernah terpuaskan, karena ia akan tumbuh semakin besar, seperti api yang dituangi bensin, semakin diikuti  semakin  kuat ia menguasai , semakin sulit dikendalikan  seperti nyala api yang semakin berkobar .

Apalagi  kama yang disebut dengan birahi(raga) sangat sulit ditundukkan, semakin dipenuhi semakin berkobar semakin dikuasai, ketika tidak lagi terpenuhi maka munculah kebencian(dwesa). Orang yang mendudukan birahi(raga) sebagi tujuan akan selalu diikuti oleh kebencian(dwesa),kemudian kemarahan, ketika orang tersebut telah dikuasi oleh “ragadwesa” (benci yang disebabkan nafsu berahi) tersesatlah ia, karena tidak lagi mampu melihat “dharma” dan “etika”

Keinginan/Kama/Nafsu yang tidak terpenuhi akan menimbulkan kekecewaan , kekecewaan memunculkan kemarahan, gelap mata , membutakan  pikiran dan menutup kecerdasan . Dari kemarahan timbullah kebingungan, dari kebingungan hilangnya ingatan, dari hilangnya ingatan, kecerdasan terhancurkan  setelah hancurnya kecerdasan apa lagi yang tersisa?  hanya  debu-debu  penyesalan bagaikan debu – debu kayu  yang terbakar  … musnah..

“Ada tiga jenis gerbang menuju neraka yaitu: Nafsu, Kemarahan dan Ketamakan. Oleh karena itu, seseorang harus melepaskan ketiganya (Bhagavad Gita XVI.21).

Jika ada orang yang dapat (berhasil) mengendalikan keinginan akan kenikmatan , perlahan akan berhasil meninggalkan kemarahan hatinya berdasarkan kesabaran hati sebagai keadaan ular yang meninggalkan kulesnya (kulitnya yang terlepas), karena kesemuanya itu tidak akan kembali lagi; orang yang demikian keadaannya itu adalah ia disebut berbudi luhur dan patut disebut manusia sejati”

“Sebenarnya, meskipun orang itu selalu jaya terhadap musuh-musuhnya, serta tak terbilang jumlah musuh yang dibunuhnya(asal yang dibencinya musnah), maka selama hidupnyapun, jika ia hanya akan menuruti kemarahan hatinya belaka, tentu saja tidak akan habis-habisnya musuhnya itu. Akan tetapi yang benar-benar tidak mempunyai musuh, adalah orang yang berhasil mengekang kemarahan hatinya.

Demikian pula orang yang telah mampu mengekang hawa nafsunya, dimana dharma(kebenaran), etika(susila) sebagai  ukurannya..  maka orang tersebut akan  di berkati jalan kebenaran…  niscaya kemuliaan akan menantinya.

Nafsu(birahi)  adalah sebuah anugrah …    hanya saja–  sebaiknya digunakan dengan didasari dharma dan etika , sehingga mampu memberi manfaat…  bukan kehancuran…   Birahi tanpa dharma dan etika …. apa bedanya dengan binatang????

Oleh: Gusti Sudiartama | November 24, 2010

MENYAMBUT KEHADIRAN SI BUAH HATI

Catatan ini  sekalian menjawab  pertanyaan beberapa rekan, yang sedang mempersiapkan diri menjadi seorang ayah dan ibu, apa yang semestinya dilakukan  setelah si buah hati diperkenankan hadir di pangkuan..

Kelahiran seorang bayi dalam rumah tangga sesungguhnya merupakan berkah, pembawa harapan dan kebahagiaan yang tiada tara bagi keluarga bersangkutan karena seorang penerus telah lahir.  Hanya saja kehadiran sang jabang bayi perlu pula di persiapkan agar kelak mampu memberi sinar dan memenuhi harapan orang tuanya.

1. Ketika bayi baru saja dilahirkan

Ketika bayi baru saja dilahirkan  setelah dibersihkan sesegera mungkin sang ayah, atau orang yang dipercaya oleh orang tuanya membisikkan mantram Gayatri pada telinga bayi  tiga kali di telinga  kanan dan tiga kali di telinga kiri, sebelum si jabang bayi mendengar hal-hal yang lain, mungkin maksudnya agar memori si bayi masih benar-benar segar.mungkin

OM BHUR BHUVAH SVAH, TAT SAVITURVARENYAM,

BHARGO DEVASYA DHIMAHI, DHIYO YO NAH PRACODAYAT

Mantram ini akan menuntun bayi kita dengan cara yang misterius, yang biasanya disebut keajaiban Gayatri mantram.

Lanjutkan dengan mantram dari Rgveda IV.53.6: OM BRHATSUMNAH PRASAVITA NIVESANO, JAGATAH STHATURUBHAYASYA YO VASI, SA NO DEVAH SAVITA SARMA YACCHATVASME, KSAYAYA TRIVARUTHAM AMHASAH

Artinya: Ya Tuhan, Hyang Widhi, yang maha pengasih, dan memberi kehidupan pada alam, menegakkan dan mengatur semua baik yang bergerak maupun yang tidak, semoga Ia memberikan anugerah-Nya untuk ketentraman dan kemampuan menghindari kejahatan.

2. Perawatan terhadap ari-ari

Setelah ari-ari itu dibersihkan lalu dimasukkan kedalam sebuah kelapa yang dibelah dua (airnya dibuang). Bagian atas dari kepala itu diisi tulisan “Ongkara”, sedangkan bagian bawahnya diisi tulisan “Angkara”.

Selain dari pada itu kedalam kelapa tadi dimasukkan pula beberapa jenis duri seperti duri terung, mawar dsbnya, sirih lekesan selengkapnya. Lalu kedua buah kelapa itu dicakupkan kembali, dibungkus dengan ijuk dan kain putih kemudian di pendam (kalau tidak ada hijuk, cakuplah dengan kain putih saja). Tempat memendam yaitu kalau si bayi laki-laki, maka arinya dipendam di sebelah kanan pintu rumah, sedangkan kalau perempuan dipendam di sebelah kiri (lihat dari dalam rumah).

Ucapan waktu memendam ari-ari adalah sebagai berikut :

Ong Sang Ibu Pertiwi rumaga bayu, rumaga amerta, sanjiwani angemertanin sarwa tumuwuh (nama si bayi ……………), mangda dirgayusa nutugang tuwuh.

Sebenarnya masing-masing lontar berbeda ucapannya, tetapi disini dikemukakan yang agak sederhana dan mudah dihafalkan. Setelah selesai mengucapkan kata-kata tersebut barulah ari-ari itu ditimbuni, ditindihi batu hitam (batu bulitan) ditandai dengan pohon pandan yang berduri. Secara rokhaniah, bertujuan menolak gangguan oleh hewan, dan secara rokhaniah bertujuan untuk menolak gangguan rokh-rokh jahat. Upakara yang diturunkan kepada ari-ari itu adalah nasi kepel 4 kepel, ikannya bawang jahe, garam yang dicampur dengan areng, dan dilengkapi dengan canang genten / canang burat wangi.

Banten itu dihaturkan kehadapan sang Catur Sanak dari pada bayi.

Demikianlah perawatan terhadap ari-ari dianggap selesai dan setiap ada upacara yang ditujukan kepada si bayi, hendaknya ari-arinya tidak dilupakan. Disamping itu perlu kiranya dikemukakan bahwa bila keadaan tidak mengijinkan maka ada kalanya ari-ari itu (setelah dibungkus dengan kelapa seperti di atas) lalu dibuang kelaut.

3. Bersyukur atas kelahiran bayi

Upacara ini tidak mempunyai arti yang istimewa, kecuali merupakan rasa gembira dan angayu bagia atas kelahiran si bayi kedunia. Upakaranya disebut dapetan dan terdiri dari :

  1. Dalam tingkatan yang kecil

Nasi muncuk kuskusan, dilengkapi dengan buah-buahan (raka-raka), rerasmen (kacang saur, garam, sambel dan ikan), sampian jaet, dan canang sari / canang genten, serta sebuah penyeneng. Upakara ini dihaturkan kehadapan sang Dumadi.

  1. Upakara yang lebih besar

Seperti diatas dilengkapi dengan jerimpen di wakul yaitu sebuah wakul berisi sebuah tumpeng lengkap dengan raka-raka, rerasmen, dan sampian jaet.

Oleh: Gusti Sudiartama | November 23, 2010

GAYATRI MANTRAM FUNGSI DAN BERKAHNYA BAGI YANG MENGUCAPKAN

OM AWIGHNAM ASTU NAMO SIDDHAM

Sudah banyak diantara umat Hindu yang mengenal dan hapal mantra Gayatri, namun belum semua diantara yang hapal dan mengenal mantra Gayatri mengetahui apa saja kegunaan dari mantra yang sangat universal ini dan dianggap sebagai ibunya mantra.
Untuk itu saya mencoba menyampaikan sedikit pengalaman mempergunakan mantra Gayatri dalam kehidupan sehari-hari dan dampak sampingan bagi kita untuk meningkatkan tingkat spiritual masing-masing.
Sebelumnya, perlu diketahui yang lebih penting dari pada itu adalah pemahaman tentang keberadaan diri kita sendiri yaitu bahwa kita lahir ke dunia bukanlah seorang diri. Secara kodrat sudah ditentukan bahwa manusia itu lahir ke dunia bersama dengan delapan saudara kembarnya sehingga menjadi sembilan dengan dirinya. Empat berada di luar diri manusia dan lima berada di dalam diri manusia yang dikenal dengan sebutan “sedulur papat kelima pancer”. Sedulur papat kelima pancer ini adalah merupakan kunci utama dari berhasil atau tidaknya seseorang mengarungi kehidupan di dunia ini dan di dunia kelanggengan. Ketika kita mau makan, berangkat kerja, sembahyang dan sebagainya kita harus mengajak mereka bersama-sama, agar kita dijaga dari hal-hal yang tidak kita inginkan.

MANTRA GAYATRI

OM BHUR BUWAH SWAH
TAT SAWITUR WARENYAM
BHARGO DEWASYA DHIMAHI
DHIYO YO NAH PRACODAYAT

(Ya Tuhan, Engkau penguasa alam nyata, alam gaib, alam maha gaib)
(Engkaulah satu-satunya yang patut hamba sembah)
(Engkaulah tujuan hamba dalam semadhi)
(Terangilah jiwa hamba agar hamba berada dijalan yang lurus menuju Engkau)

1. MANTRA  GAYATRI UNTUK MENGAGUNGKAN  DAN  MENYEMBAH TUHAN.

Dengan mengucapkan mantra Gayatri secara berulang-ulang minimal 108 kali sesering mungkin untuk mengagungkan, menyembah Dia, maka kita akan memperoleh ketenangan jiwa dan pikiran, caranya :

Ucapkan pertama Om Awignham Astu Namo Siddham sebelum kita memulai . Selanjutnya ajak saudara kita(nyama papat) untuk sembahyang : Sedulurku papat kelima pancer, kakang kawah adi ari-ari kang lahir tunggal dine, tunggal dalam kadangku, tuwo lan sinom podo, mari kita sama-sama menyembah kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Waca. Ucapkan OM TAT SAT EKAM EVA ADWITYAM BRAHMAN, selanjutnya japa gayatri dengan khusuk( minimal 108 kali.)

2.MANTRA GAYATRI UNTUK MEMBUKA TUJUH CAKRA UTAMA YANG ADA DALAM DIRI MANUSIA, DIBANTU PRANAYAMA DAN DAGDI KARANA

Dengan melakukan pranayama adi pada waktu pagi atau malam hari dengan cara :
Duduk bersila, pakaian agak longgar, alas duduk yang empuk lakukan:

  1. Tarik nafas yang dalam dengan cepat langsung ditaruh diperut bagian  bawah/puser,tahan sebentar sambil baca mantra dalam hati: OM Ang Atmaya Brahma murtyayai namah.
  2. Nafas dinaikkan ke dada ditahan sebentar sambil baca mantra dalam hati: OM Ung Antaratmaya Wisnu Murtyayai namah
  3. Nafas dinaikkan ke kepala dan ditahan semampunya dan jangan memaksakan, sambil ucapkan mantra dalam hati: OM Mang Paramaatmaya Iswara murtyayai namah
  4. Nafas dibuang perlahan dengan mengucapkan mantra dalam hati: Om Ung Rah Pat astraya namah sarwa winasaya swaha.
  5. Lakukan dengan sabar dan ulangi beberapa kali semampunya. Kalau   capek bisa istirahat sebentar.
  6. Setelah melakukan pranayama adi, lakukan dagdi karana yaitu posisi tetap duduk bersila lalu ucapkan mantra :

OM Sariram kundam ityuktan
Triyantah karanam indhanam
Sapta Ongkara mayo bahnir
Bojananta udindhitah

(Ya Tuhan, semoga engkau jadikan tubuh ini bagaikan tungku api)
(yang sanggup membakar ketiga dunia dalam tubuh ini)
(menjadikan tujuh Ongkara/cakra yang ada dalam tubuh hamba menjadi terbuka)
(sehingga dapat menyimpan kekuatan prana)

Sambil mengucapkan mantra diatas bayangkan api rahasya yang berada di dalam kunda rahasya membakar semua papa roga menjadi abu .Bayangkan diri kita seakan-akan berada di tengah-tengah kobaran api suci yang membakar semua papa roga dan penyakit .

Kemudian ucapkan mantra

OM Ang astra Kala Agni Rudra ya namah swaha
(Ya Tuhan, atas restumu semoga Api Rudra yang rahasia hadir dalam tubuh hamba)

pada saat mengucapkan mantra ini bayangkan agni Rudra dari ujung jari kaki kanan membakar selubung maya kosa yang membungkus atman sehingga atman menjadi bersih dan bersinar

Setelah beberapa saat, ucapkan Amerta Mantra ;

OM Hram hrim sah Paramaciwa Raditya ya nama swaha
OM Ung Rah Phat astra ya namah.

Bayangkan ada tirta amerta yang mengguyur kepala kita terus mengalir melalui ubun-ubun keseluruh tubuh melalui tulang belakang menghanyutkan abu kekotoran tadi.

Teruskan japa Gayatri Mantram 108 kali.
Lebih banyak akan lebih bagus hasilnya.

3.MANTRA GAYATRI UNTUK MENDOAKAN PARA LELUHUR KITA

Kepada para leluhur, orang tua (almarhum) dapat dilakukan sebagai berikut :
Ya Tuhan Yang Maha Pengampun, semoga engkau mengampuni segala dosa dari para leluhur hamba, atau almarhum kedua orang tua hamba (sebut namanya), berikanlah tempat yang layak kepada mereka. Hamba hadiahkan Gayatri Mantram 108 untuk beliau. Leluhur yang kita doakan biasanya akan hadir dalam mimpi.

4.GAYATRI MANTRAM DIUCAPKAN PADA SAAT KITA MAU BERANGKAT KERJA, MELIWATI TEMPAT-TEMPAT YANG ANGKER DAN MENAKUTKAN

Ketika kita mau berangkat kerja atau berniat pergi kesuatu tempat, sebelum melangkah keluar dari pintu rumah ada tata krama yang perlu dilakukan demi keselamatan kita di jalan, apalagi ketika pada malam hari kita melewati tempat yang angker. Caranya :

Sebelum keluar dari pintu utama rumah, kita berdiri dibawah pintu, tarik nafas dalam, jari telunjuk melintang di depan kedua lobang hidung, hembuskan nafas lalu rasakan, lobang mana yang terasa lebih kencang keluarnya udara. Kalau lobang sebelah kanan yang terasa lebih kencang, maka kaki yang duluan melangkah adalah kaki kanan. Kalau lobang sebelah kiri yang terasa lebih kencang, maka kaki yang duluan melangkah adalah kaki kiri. Kalau kedua-duanya sama, maka kaki yang duluan melangkah terserah kita. Sebelum kita melangkahkan kaki, maka sebaiknya kita harus mengajak saudara kita :
Sedulurku papat kelima pancer, kakang kawah adi ari-ari kang lahir tunggal dina, tunggal dalam kadangku, tuwo lan sinom podo, mari kita sama-sama berangkat ke ….
Jagalah aku dalam perjalanan.
Ucapkan Gayatri Mantram 7 kali. Baru melangkahkan kaki sesuai dengan hasil yang diperolah tadi.
Apabila kita merasa ketakutan ketika melewati suatu tempat, kita tinggal mengucapkan Gayatri Mantram saja.

Didalam kita mengucapkan Gayatri Mantram, jumlah bait yang diucapkan tergantung untuk apa kita bergayatri mantram, Bila kita memohon pertolongan dari Tuhan, kita ucapkan gayatri mantram sebanyak 7 kali (pitulungan), 70 kali atau 700 kali dan lebih bagus lagi kalau 7000 kali.
Bila kita memohon kesempurnaan kepada Tuhan, maka kita ucapkan gayatri mantram sebanyak 9 kali (sempurna), 99 kali atau 999 kali dan lebih bagus lagi 9999 kali.
Bila kita memohon jalan yang sukses atas suatu kegiatan/upacara, maka kita ucapkan gayatri mantram sebanyak 11 kali (pintu gerbang), 111 kali atau 1111 kali.

5.GAYATRI MANTRAM UNTUK MENDOAKAN ORANG YANG SEDANG SAKIT.

Kepada orang yang sedang dicoba oleh Tuhan dengan memberikan penyakit, maka dengan mantra Gayatri kita bias membantu untuk memohon kesembuhan dari Yang Maha Menyembuhkan. Caranya :
Ya Tuhan Yang Maha Menyembuhkan, semoga Engkau anugrahkan kesembuhan kepada ……(sebutkan namanya) lalu panggil saudaranya yang sakit; sedulur papat kelima pancer si jabang bayi …….(sebut namanya yang sakit), bantulah saudaramu yang sedng sakit supaya sehat. Barulah berjapa Gayatri sebanyak 77 kali atau 777 kali. Bila perlu, lebih bagus lagi dibantu dengan sarana air putih. Setelah selesai air putih diminumkan dn dibalurkan kebadan yang sakit. Dalam hal ini, pemohon harus dalam konsentrai penuh. Bagi yang sudah bisa menerima sinyal/petunjuk dari gaib, maka gambar yang terlihat oleh mata bhatin; bias orang yang sakit tersenyum sehat, bias sinar terang, ini artinya orang yang sedang sakit akan dianugrahkan kesembuhan. Kalau gambar yang diterima dari gaib berupa kuburan atau kobaran api yang membakar sesuatu, ini petunjuk bahwa memang sakit ini adalah jalannya untuk meninggal. Namun tanda apapun yang diterima itu hanya untuk sendiri, jangan dulu disampaikan kepada orang lain, tidak boleh mendahului kehendak Tuhan.

6.GAYATRI MANTRAM KITA UCAPKAN PADA SAAT KITA AKAN TIDUR

Ketika kita berniat untuk tidur, maka sebelumnya kita sebut sadulur kita: sadulurku papat kelime pancer kakang kawah adi ari-ari kang lahir tunggal dina tunggal jalan, aku mau tidur, tolong jaga aku dari orang –orang yang jahat dan sirik. Om tat sat ekam eva adwitym Brahman, selanjutnya baca Gayatri mantram 7 kali.

7.PENUTUP

Gayatri Mantram adalah sebuah mantra yang khadamnya adalah kekuatan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sangat tergantung dari tingkat kesucian pikiran dan hati dari yang mengucapkannya. Walaupun sepuluh orang sama-sama mengucapkan mantra Gayatri, tapi hasil tidak akan sama tergantung kesucian hati dan pikiran masing-masing. Namun demikian, dengan lebih sering berjapa Gayatri Mantram kita akan sedikit demi sedikit dapat mencapai kesucian itu. Teruslah berjapa dan jangan pernah bosan. Lambat tapi pasti, ketenangan jiwa akan mulai terasa. Sabar, sabar, dan sabar, karena sabar itulah kunci dari kesuksesan kita.
OM SANTI SANTI SANTI OM

di poskan oleh -Gelsana- dalam kas-kus

Oleh: Gusti Sudiartama | November 21, 2010

Bhaktityaga: Ujian Bagi Dharmawangsa


E-mail

Bhaktityaga:
Ujian Bagi Dharmawangsa
Oleh : Sudha Adnyana, Karangasem

Dharmawangsa diuji? Demikianlah tersurat dalam Swarga-rohana parwa, kitab ke-18 atau terakhir dari Mahabharata. Ujian maha berat, karena menyangkut sebuah pandangan atau keyakinan. Di dalamnya terkandung ajaran rohani yang patut dihayati.

Bhaktityaga:
Ujian Bagi Dharmawangsa
Oleh : Sudha Adnyana, Karangasem

Dharmawangsa diuji? Demikianlah tersurat dalam Swarga-rohana parwa, kitab ke-18 atau terakhir dari Mahabharata. Ujian maha berat, karena menyangkut sebuah pandangan atau keyakinan. Di dalamnya terkandung ajaran rohani yang patut dihayati.

Kitab Swargarohana parwa memang memuat cerita yang mengusik renungan kita. Misalnya kisah para Korawa di Sorga, sementara keluarga Pandawa di Neraka, sampai pada dengan kedatangan Sang Dharmawangsa menyebabkan Neraka menjadi Sorga.

Dhrmawangsa memang menjadi tokoh utama di sini, oleh karenanya kita patut memberikan perhatian khusus kepada Penegak kebenaran ini. Kepergiannya ke Sorga memang tidak seorang diri, ia diiringi oleh seekor anjing yang setia. Setelah meninggal adik-adiknya dan Drupadi, Dharmawangsa melanjutkan perjalanannya mendaki gunung Kailasa. Di perjalanan turunlah Bhatara Indra seraya menyapanya: “Hai anakku Sang Dharmawangsa janganlah ananda bersedih atas kematian adik-adikmu, seperti itu memang yang ditemui oleh manusia. Berbeda dengan dirimu yang dapat masuk surga bersama badanmu, karena Ananda melaksanakan Dharmajnana.”

Sang Dharmawangsa menjawab : “Wahai Dewa, sungguh besar anugerahmu kepada hamba, hamba menerimanya bila anjing yang setia mengiringi hamba ini turut juga masuk sorga, hamba tidak dapat meninggalkannya (saka ri tan wenang nghulun tuminggalakena ya).

Hyang Indra menjawab, “Maharaja Dharmawangsa, apa gunanya anjing itu turut ke sorga, karena ia kotor, ia akan dihentikan oleh para dewa. Janganlah Ananda menaruh kasihan kepadanya”.

Dewata yang mulia, hamba tidak dapat memotong rasa bhaktinya (bhaktityaga), lalu meninggalkannya, karena ia selalu setia mengikuti kemanapun hamba pergi. Orang yang bhaktityaga atau memotong rasa bhakti akan besar dosanya. Oleh karena itu hamba tak ingin meninggalkannya”. Dharmawangsa juga menjelaskan bahwa meninggalkan orang yang setia bhakti ketika ia masih hidup, sama halnya dengan membunuh seorang wanita yang bijaksana, juga membunuh brahmana, tidak menolong orang yang memerlukan pertolongan, karenanya ketika ia tidak patut ditinggalkan. “Hamba tidak akan menemui sorga kalau meninggalkannya”, demikian Sang Dharmawangsa.

Setelah mengucapkan hal itu, si anjing yang setia menghilang, dan hadirlah Sang Hyang Dharma lalu memeluk Sang Dharmawangsa. “Ananda Sang Dharmawangsa dua kali Ayahanda mengujimu. Dahulu tatkala Ayahanda mengujimu ketika ananda memilih Sang Sahadewa untuk dihidupkan di antara empat saudaramu yang meninggal dunia karena meminum air larangan, tampak sekali perbuatan dharmamu,” demikian Sang Hyang Dharma menjelaskan.

Jadi Sang Hyang Dharma telah menguji Sang Dharmawangsa dengan anjing yang setia. Sang Dharmawangsa benar-benar tidak ingin berpisah dengan anjing itu, sekalipun ia dapat masuk sorga tanpa anjing, Dharmawangsa tidak mau melakukan bhaktityaga, memotong kesetiaan, sekalipun dari seekor binatang dan itu adalah ujian yang kedua baginya Dharmawangsa, dan beliau dinyatakan lulus oleh Sang Hyang Dharma.

Ujian yang pertama adalah ketika Sahadewa , Nakula, Arjuna dan Bhima keempat adiknya itu meninggal karena meminum air danau di tengah hutan. Awalnya Sahadewa mendapat tugas mencari sumber air di tengah hutan, dalam masa pengasingan Panca Pandawa dan Drupadi di hutan. Ketika menemui sumber air Sang Sahadewa ingin meminumnya karena kehausan. Ada suara Yaksa yang menampakkan diri melarang Sang Sahadewa meminum air itu, namun Sang Sahadewa tidak menghiraukannya. Setelah meminum air itu Sang Sahadewapun meninggal dunia. Selanjutnya datanglah Sang Nakula, kesatriya pandawa menemui nasib yang sama. Demikian juga halnya Sang Arjuna dan Sang Bhima yang datang belakangan. Mengetahui ke empat saudaranya tewas setelah meminum air danau itu, tentu saja Sang Dharmawangsa kebingungan. Pada saat seperti itu terdengarlah sabda yang meminta Sang Dharmawangsa mengajukan permohonan : siapa di antara empat orang adiknya itu untuk dihidupkan. Inilah ujian yang sangat sulit, yang hanya dapat dijawab oleh seorang yang benar-benar menegakkan Dharma. Ada alasan mengapa Sang Dharmawangsa memilih Sang Sahadewa untuk dihidupkan, bukannya Bhima atau Arjuna yang kuat dan sakti itu. Sahadewa adalah putra Dewa Madri sedangkan dirinya adalah putra Dewi Kunti. Dengan demikian ada salah seorang putra Dewi Madri yang hidup bukan hanya putra Dewi Kunti.

Begitulah Sang Dharmawangsa menegakkan kebenaran dan keadilan. Suatu sikap yang perlu dicontoh oleh setiap pemimpin. Sang Hyang Dharma telah memberi ujian yang begitu berat kepada Sang Dharmawangsa, dan beliau lulus. Ujian yang menyangkut kualitas pikiran. Hanya orang seperti itu yang dapat kembali ke sorga bersama badan wadag-nya (matangyang muliha ring swarga lawan sariranta).

Demikian kisah perjalanan Sang Dharmawangsa, sebuah kisah perjalanan yang penuh nilai spiritual. Ada pergulatan pikiran dan perasaan, ada perenungan yang mendalam disini. Terlebih lagi kita kaitkan dengan perjalanan beliau di Sorga selanjutnya.
‘Setelah tiba di Sorga, Sang Dharmawangsa langsung menanyakan dimana sanak saudaranya berada termasuk Dewi Drupadi. Sang Dharmawangsa tidak menemui mereka di Sorga. Kepada Bhatara Indra yang ada di sana beliau menanyakannya. “Dimanakah saudara hamba semua dan Drupadi berada? Tolong beritahukan hamba !”.

“Wahai Maharaja Dharmawangsa janganlah Ananda bingung tentang keberadaan saudaramu semua. Seorang raja tidak boleh berfikir seperti manusia ketika ia berada di Sorga, karena ia harus mengikuti hasil perbuatannya, karenanya mereka tak dapat disatukan dengan Ananda”. demikian jawab bhatara Indra.

Maharaja Dharmawangsa menegaskan: ”Tak patut orang seperti hamba menghilangkan rasa kasih kepada keluarga hamba dan Dewi Drupadi, karena kami harus bersatu sekalipun menemui penderitaan. Kesimpulannya hamba tidak bersedia berada di sorga ini apabila tidak bersama dengan saudara hamba dan Dewi Drupadi. Itulah permintaan hamba”. Betapa terkejutnya Hyang Indra mendengarkan jawaban tegas Sang Dharmawangsa seorang Maharaja yang memiliki kesetiaan yang begitu besar dengan saudara-saudaranya dan Dewi Drupadi. Ikatan kasih dalam bersaudara dan berkelurga ditunjukkan disini tidak dalam kata-kata saja tetapi juga dalam tindakan.

Sang Dharmawangsa pun lalu meninggalkan sorga untuk mencari saudara-saudaranya dan Dewi Drupadi. Temyata saudara-saudaranya dan Dewi Drupadi berada di neraka. Setelah melewati perjalanan di kegelapan dan jalan yang begitu mengerikan ditemuilah tempat ke empat saudaranya bersama Dewi Drupadi. Tempat yang kotor, bau busuk dan lalat hijau menyerubungi, serta lintah berkeliaran. Atma yang sengsara berkumpul di sana sambil menjerit mengaduh menahan derita sakit. Sangat sulit menggambarkan suasana mereka yang mengerikan dan menjijikkan itu. Namun Sang Dharmawangsa sama sekali tidak terpengaruh oleh suasana itu.

Akhirnya bertemulah Sang Dharmawangsa dengan saudara-saudaranya dan Dewi Drupadi di Yamanloka atau Neraka. Tidak lama setelah itu ternyata Neraka berubah menjadi Sorga, bau busuk berubah menjadi harum mewangi (mangkana tilang yamaniloka matemahan swarga mwang ikang durganda nguni matemahan juga ndakusuma).

Demikianlah perjalanan seorang yang memiliki kesetiaan yang tinggi, Sang Dharmawangsa. Beliau bersiap tinggal bersama di Neraka, sekalipun tempat yang mewah telah disiapkan bagi dirinya di Sorga. Dan tempat itu adalah haknya sehagai orang yang selama hidupnya menegakkan Dharma. Namun ditolaknya bila tidak bersarna-sama dengan saudara-saudaranya dan Dewi Drupadi.

Sebelumnya Sang Dharmawangsa telah menunjukkan kesetiaannya kepada seekor anjing yang setia mengiringi sampai batas masuk sorga. Disini beliau menunjukkan kembali akan pentingnya melaksanakan nilai-nilai spiritual dan moral tentang tingginya nilai Satya itu. Tan Hana Dharma mangiwihane kesatyam. Tidak ada Dharma yang melebihi satya.

Dengan pegangan pokok seperti itu, Sang Dharmawangsa dapat melewati dan lulus atas ujian yang diberikan oleh Dewata atau Sang Hyang Dharma. Ujian mahaberat bagi kebanyakan orang tapi menjadi gampang bagi Sang Dharmawangsa yang telah dapat menguasai dirinya, menguasai rasa keakuan (egoisme dan egosentrisme), juga telah dapat mengalahkan musuh yang ada dalam dirinya.

Sungguh mencengangkan, atau mungkin mengherankan bagi kebanyakan orang mengapa seekor anjing menjadi begitu penting bagi Sang Dharmawangsa, Seorang Maharaja yang maha sakti namun senantiasa hadir dengan penuh kesederhanaan. Seekor anjing yang setia lebih penting bagi Sang Dharmawangsa daripada masuk sorga. Sorga bukan apa-apa dibandingkan dengan keagungan Satya. ini juga tampak ketika Sang Dharmawangsa memilih Neraka, untuk dapat mewujudkan Satya dengan saudara-saudaranya dan Drupadi.

Ya, Satyam eva jayate. Hanya Satya yang menang. Dengan demikian seorang Dharmawangsa senantiasa menjadi pemenang!. [WHD No. 516 Desember 2009].

Dikutip  dari http://www.parisada.org   sesuai naskah aslinya

Oleh: Gusti Sudiartama | Juli 24, 2010

PURA DASAR BHUANA GELGEL

Pura Dasar Bhuana Gelgel——-
Berkonsep Kaula Gusti Menunggal,
Penghormatan pada Empu Ghana

Pura Dasar Bhuana di Desa Gelgel, Klungkung merupakan salah satu peninggalan sejarah Klungkung yang notabene sebagai pusat kerajaan di Bali. Selain sebagai satu-satunya pura dasar yang ada di Bali, pura ini juga memiliki keunikan dan fungsi khusus. Seperti apa keunikan dan fungsi dari keberadaan pura ini?

————————————————————

PURA Dasar Bhuana dibangun Mpu Dwijaksara dari Kerajaan Wilwatikta (Kerajaan Majapahit) pada tahun Caka 1189 atau tahun 1267 Masehi. Pura ini merupakan salah satu Dang Kahyangan Jagat di Bali. Pada masa Kerajaan Majapahit, Pura Dang Kahyangan dibangun untuk menghormati jasa-jasa pandita (guru suci). Pura Dang Khayangan dikelompokkan berdasarkan sejarah. Di mana, pura yang notabene tempat pemujaan di masa kerajaan di Bali, dimasukkan ke dalam kelompok Pura Dang Kahyangan Jagat. Keberadaan Pura Dang Kahyangan tidak bisa dilepaskan dari ajaran Rsi Rena dalam agama Hindu.

Pura atau Ashram dibangun pada tempat di mana Maharsi melakukan yoga semadi. Itu dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Maharsi. Seperti Pura Silayukti di Karangasem. Silayukti diyakini sebagai tempat moksanya Mpu Kuturan. Demikian pula dengan Pura Dasar Bhuana Gelgel yang dibangun sebagai penghormatan terhadap Empu Ghana. Di pura inilah Mpu Ghana yang notabene seorang Brahmana yang memiliki peran penting perkembangan agama Hindu di Bali, beryoga semadi (berparahyangan).

”Sebagaimana namanya, Pura Dasar Bhuana merupakan dasar jagatnya Bali. Kalau pura luhur, jumlahnya banyak. Pura Dasar Bhuana satu-satunya pura dasar di Bali,” ungkap Sekretaris Pengeling Pura Dasar Bhuana Gelgel A.A. Gde Anom Wijaya. Selain sebagai Dang Kahyangan, pura yang berjarak sekitar 3 kilometer dari Kota Semarapura, Klungkung itu juga merupakan pusat panyungsungan catur warga yang berasal dari soroh/klan di antaranya soroh/klan Satria Dalem, Pasek (Maha Gotra Sanak Sapta Rsi), soroh Pande (Mahasamaya Warga Pande) dan klan Brahmana Siwa. Semuanya merupakan pengabih Ida Batara di Pura Dasar Bhuana Gelgel.

Masing-masing warga memiliki panyungsungan, seperti Meru Tumpang Solas — panyungsungan Para Arya dan Satria Dalem. Meru Tumpang Tiga — panyungsungan Keturunan Mpu Geni yang menurunkan trah Pasek. Meru Tumpang Tiga sebagai penyungsungan warga Pande. Padma Tiga yang berada di antara Meru Tumpang Solas dan Meru Tumpang Sia (sembilna), panyungsungan warga Brahmana. Dengan banyaknya soroh/klan yang ada di dalamnya, diyakini Pura Dasar Bhuana merupakan pemersatu jagat dengan konsep bersatunya semua klan yang ada di Bali dengan konsep ”kaula gusti menunggal”. ”Konsep itu sangat terasa begitu masuk ke pura itu,” tandas Agung Gde Anom Wijaya. Pegawai di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Klungkung itu menyebutkan, ketika manusia berada di hadapan-Nya, tidak ada lagi istilah perbedaan trah. Pande, Pasek atau Satria Dalem, semuanya sama.

Pura yang dibangun di atas areal cukup luas itu, juga menjadi panyungsungan Subak Gde Suwecapura. Di antaranya Subak Pegatepan, Kacang Dawa, Toya Ehe dan Toya Cawu. Panyungsungan dilakukan saat Karya Pedudusan Agung lan Pawintenan yang bertepatan dengan Purnama Kapat. Agung Anom Wijaya juga menambahkan, Pura Dasar Bhuana sempat dijadikan objek penelitian oleh peneliti asal Belanda. Di mana, hasilnya diyakini bahwa situs Pura Dasar Bhuana Gelgel hampir mirip dengan situs bekas Kerajaan Majapahit. ”Katanya Gelung Kori Agung mirip dengan Gelung Kori Kerajaan Majapahit,” sebutnya.

Pura Dasar Bhuana terletak di Desa Gelgel, Klungkung. Dari Denpasar, berjarak sekitar 42 kilometer. Pura ini berdiri di atas lahan yang cukup luas. Berdiri megah dan tampak asri di pinggir jalan utama Gelgel-Jumpai. Sebagimana umumnya Pura-pura di Bali, Pura Dasar Bhuana memiliki tiga mandala — Nista Mandala, Madya Mandala dan Utama Mandala. Di bagian Nista Mandala terlihat keangkeran pohon beringin besar yang tumbuh sejak berabad-abad lamanya.
Masuk ke Madya Mandala, pamedek bisa melihat bangunan-bangunan berupa Pelinggih Bale Agung. Pelinggih ini tampak unik karena panjangnya mencapai 12 meter. Bersebelahan dengan Bale Pesanekan dan pelinggih tempat berstanakan seluruh petapakan dan pratima Pura-pura yang ada di Desa Pakraman Gelgel. Pratima maupun petapakan itu tedun dan distanakan saat berlangsung Karya Agung Pedudusan (Ngusaba) yang dilaksanakan bertepatan dengan Purnama Kapat.

Sementara di Utama Mandala terdapat belasan pelinggih di antaranya Meru Tumpang Solas, Meru Tumpang Telu, Padma Tiga dan banyak lagi pelinggih lainnya. Dalam setahun, ada dua wali/karya digelar yakni wali bertepatan dengan Pamacekan Agung, serta wali/karya Padudusan yang jatuh pada Purnama Kapat.

Pura Dasar Bhuana di-empon Desa Pakraman Gelgel yang terdiri atas 28 banjar dan tiga desa dinas — Desa Gelgel, Desa Kamasan dan Desa Tojan. Keberadaannya berkaitan erat dengan keberadaan Keraton Suwecapura tempo dulu yang juga berada di Gelgel. Namun, jika melihat tahun berdirinya, pura ini sudah ada jauh sebelum Gelgel diperintah raja pertama, Dalem Ketut Ngulesir (1380-1400). Pura yang merupakan warisan maha-agung ini didirikan pada tahun Saka 1189 atau tahun 1267 Masehi.

Sebagaimana sejarahnya, Pura Dasar Bhuana erat kaitannya dengan Mpu Ghana yang hidup pada akhir abad IX Masehi. Pura Dasar Bhuana dibangun Mpu Dwijaksara dari Kerajaan Wilwatika sebagai bentuk penghormatan terhadap Mpu Ghana. Empu Ghana merupakan seorang brahmana dengan peran sangat besar terhadap perkembangan agama Hindu di Bali.

Empu Ghana adalah orang suci yang berasal dari Jawa. Tiba di Bali pada masa pemerintahan (suami-istri) Udayana Warmadewa dan Gunapraya Gharmapatni yang berkuasa dan memerintah Bali pada tahun Caka 910 sampai tahun Saka 933 (tahun 988-1011 Masehi). Empu Ghana merupakan brahmana penganut paham Ghanapatya. Seumur hidup menjalankan ajaran Sukla Brahmacari yakni tidak menjalani masa Grahasta (tidak menikah). Kaitannya setelah berdirinya Kerajaan Suwecapura, pura ini dipakai sebagai merajan keluarga raja saat itu. Letak pura ini persis berada di timur laut Keraton Suwecapura. Pada zaman itu, Keraton Suwecapura berdiri di Banjar Jero Agung, Gelgel.

”Letak pura ini berada di hulu Keraton Suwecapura. Dulunya, disungsung keluarga Raja Gelgel,” tutur Agung Anom Wijaya. Pura ini memang erat kaitannya dengan keberadaan Kerajaan Suwecapura. Sejumlah situs peninggalan Kerajaan Suwecapura masih tetap dilestarikan di pura ini sampai sekarang. * baliputra

sumber: BaliPost.co.id

DUDONAN  ACARA

KARYA MEMUNGKAH, NGENTEG  LINGGIH  PEDUDUSAN AGUNG

PURA DALEM PENEBEL KELOD

29 SEPTEMBER TAHUN  2010

No Hari/Tanggal Waktu Acara Pemuput
1 Anggara Kliwon Perangbakat10/8/2010 08.00 Wita Atur Piuning Pemangku
2 Budha Umanis Perangbakat11/8/2010 08.00 Wita 1.Nyukat genah 2.Ngadegang Wangunan Pemangku & Yajamana
3 Wrespati,Wage Bala19/8/2010 08.00 Wita Nunas Toya Warna Pemangku
4 Sukra Kliwon Bala20/8/2010 08.00 Wita 1.Murup-urup 2.Mepasaran 3.Mekarya  Minyak Pemangku & Yajamana
5 Anggara, Wage Ugu24/8/2010 08.00 Wita 1.Nuasen Karya 2.Marisudha setra 3.Nanceb sunari, Pengalang sasih

4.rare angon, Tapini,Pekemit  karya Guru dadi

Ida Pedanda Griya Kemenuh Tunjuk
6 Budha Kliwon Ugu25/8/2010 08.00 Wita Negtegan Manik galih Ida Pedanda Griya Kemenuh Tunjuk
7 Wrespati Umanis Ugu 26/8/2010 08.00Wita Ngingsah, Nyangling Ida Pedanda Istri Griya Mundeh Kesiut Kauh
8 Saniscara,Pon Ugu28/8/2010 08.00 Wita Memineh empehan Pemangku,penyuci
9. Sukra Wage Wayang3/9/2010 08.00 Wita Nyamuh Gede Tapini, Serati
10 Soma Wage Dukut 13/9/2010 08.00 Wita Metanding upakara Tapini, Serati
11 Saniscara Wage Dukut 18/9/2010 08.00 Wita Metanding Penyegjeg,Bagia Pulo kerti Daksina pelinggih dll Tapini, yajamana
12 Redite Kliwon Watugunung19/9/2010 08.00 Wita Melaspas Penyegjeg, Bagia Pulo Kerti Daksina pelinggih, dll. Ida Pedanda Griya Kemenuh Tunjuk
13 Anggara Paing Watugunung21/9/2010 08.00 Wita 1.Nunas Tirta pemuput(tirta pemuput sami melinggih ring Bale Agung *)2.Me Kala Hyas, Nanceb penjor Pemangku
14 Sukra Kliwon Watugunung24/9/2010 08.00 Wita 1.Mendak Siwi 2.Mendak Ida Bhatara Tri Khayangan lan sane siosan

3.Mendak Tirta pemuput  *)

Ida Pedanda Griya Kemenuh Tunjuk
15 Redite Paing Sinta 26/9/2010 11.00 Wita Melasti ke segara Ida Pedanda Griya Kemenuh Tunjuk
16 Soma Pon Sinta 27/9/2010 06.00 Wita Mepepada caru lan karya Ida Pedanda Gede Putra Mas Griya Gede Tunjuk
17 Anggara Wage Sinta 28/9/2010 09.00 Wita

13.00 Wita

16.00 Wita

1.Tawur Agung 2.Klemigi aya 3.Melaspas 4.Ngelinggihan Daksina pelinggih

5.Kebeji alit (toya tabah)

1.Ida Pedanda Gede Keniten  Timpag2.Ida Pedanda Budha Griya Jadi 3.Ida Rsi  Somya Sempidi Ida Pedanda Griya Kemenuh Sembung Pemangku Tri Khayangan
18 Budha Kliwon Sinta 29/9/2010 09.00 Wita

12.00 Wita 13.00 Wita

16.00 Wita

1.Ngenteg Linggih 2.Mepeselang 3.Mepedanan  4.Piodalan  5.Ngantukan Ida Bhatara Luhur Puseh.Bale Agung, Ratu Nyoman 1. Ida Pedanda Gede Made Gunung2. Ida Pedanda Gede Made Putra Yoga Griya Tengah,Tunjuk 1.Ida Pedanda Griya Punyawati Taman Sari Tabanan 2. Ida Pedanda Budha Griya Jadi Ida Pedanda Gede Griya Taman,Blayu Pemangku Tri Khayangan
19 Wrespati Umanis Sinta 30/9/2010 08.00 Wita Ngaturang pengayar Ida Pedanda Griya Kemenuh tunjuk
20 Sukra Paing Sinta 1/10/2010 08.00 Wita Ngaturang pengayar Ida Pedanda Griya Kemenuh tunjuk
21 Saniscara Pon Sinta 2/10/2010 09.00 Wita 1.Ngaturang Penganyar,Nyenuk 2.Rsi Bojana 3.Nyineb, Mendem penyegjeg Ida Pedanda Griya kemenuh tunjuk

PANITIA  KARYA MAMUNGKAH, NGENTEG LINGGIH, PEDUDUSAN AGUNG

Manut Lontar dewa Tattwa mawosang : asing-asing ngwangun Kahyangan Anyar utawi mecikang akidik (nayug) Palinggih  sane wenten utawi mecikang make sami (bungkah) Palinggih sane wenten, wenang kelaspas alit rumuhan. Risampun sawetara wenten limang warsa utawi lintang patut segerehan ngaturang karya “Mamungkah” Dadosne upacara  mamungkah puniki sane wawu kawangun utawi kabecikang.

Melaspas wit Krunan ipun saking mala teges ipun kotor/leteh,  pas artin ipun melaspas. Melaspas artin ipun ngicalan keletehan utawi kasantukan (kekotoran). Dadosne melaspas Pura tetujon ipun ngicalang leteh utawi marisudha Pura/Kahyangan lamakane Kahyangan druwene kahanan sucianing suci. Risampun suci kewentenanyane patut katur upakara Pengenteg Linggih sane matetujon mangenteggang palinggihan Ida Bhatara-Bhatari sane mapawayangan ring Pura/Kahyangan inucap.

Melarapan antuk pangeresep inucap ring ajeng, Krama Banjar Pakraman Penebel Kelod  ngawentenang peparuman ring tanggal 18 April 2010 lan tanggal 20 Juni 2010, turmaning sampun prasida nyaka ngatiling aning ambek (nyikiang pikayun) ngawetuang pemutus sumuwung pacang ngaturang yadnya sane marupa Karya Agung mamungkah Ngenteg Linggih ring Rahina Buda Kliwon Pagerwesi, Tanggal 29 September 2010.

Karya Memungkah Ngenteg Linggih Mabagia Phalakerti artosnyane  malarapan  antuk pikayun pageh, medasar antuk parisolah sane rahayu, dumogi prasida ngentikang kesentosaan lan kerahajengan ring sajroning kauripan sekala lan niskala .

Pangambil agung alit karyane puniki sampun kaanutang ring hasil paruman Sulingih se Bali nganinin indik karya mamungkah  tahun 2000, sane ngamedalang tatiga dedudonan, inggih punika :

  1. Upacara Mamungkah palet utamaning utama
  2. Upacara Mamungkah palet utamaning madya
  3. Upacara Mamungkah palet utamaning kanista

Yadiastun kepah dados tatiga, nangung suksma ipun “pateh” yening ngaturang karya wyakti medasar antuk kayun lascarya turmaning adung kayun pagelahan utawi “kemampuan”. Sahaning yadnya sane katur medasar antuk kayun sane “suci lascarya” punika sane kabawos yadnya utama utawi “satwika yadnya” palet yadnya kaping siki         lan kaping duwa patut kagelar ring Pura/Kahyangan Jagat lan tri Kahyangan. Punika awinan ritepengan kadi mangkin Krama Banjar Pakraman Penebel Kelod, ngambil palet kalih puniki yaning kagelar ring tingkat Tri Kahyangan sampun ngranjing “Mautama Pisan”.

Yaning praktyaksayang daging  sastrane ring ajeng maka cutet tatujon  makasami karyane puniki nenten wantah “mamahayuning Desa”.

Riantukan tatujon  karyane puniki mautama  pisan ngiring sanggra antuk yasa kerti sane becik gumanti sidha memargi antar tan pasan tulan, labda karya, sidhaning don tanpa kirang punapi. Paiketane ring    indik puniki, wenten    tatiga yasa kerti sane patut margiyang inggih punika :

  1. Yasa Kerti sane marupa Tata Krama
  2. Yasa Kerti sane marupa Dana Punia
  3. Yasa kerti sane marupa Upacara/Upakara
  1. A. Yasa kerti sane marupa Tata Krama

Sajeroning nyanggra yadnya Tata Krama utawi Tata Susila banget pisan kabuatanne pinaka titi pengancan lan sepat siku-siku utawi uger-uger sane dahating mautama  kandugi karya yadnya sane kamargiang sidhaning don. Indik puniki wenten menggah ring Lontar Dewa Tattwa sekadi ring sor puniki      :

Kramanya  Sang kumingkin Karya  sanistha, Madya, Utama, manah lega dadi ayu, ayasa angalem druweya mwang kamugutan kalilirang wong atuha, ayasa angambekaken krodha mwnag ujar gangsul, ujar  menak juga kawedar denira, mangkana kramanya sang angre paken karya, anyawa sim, panging budhi mwang krodha“.

Teges ipun :

Sapiniki tata cara sang jaga ngelaksanayang Upakara Alit, Menengah, Ageng, patut kadasarin antuk pikayun sane lascarya suci lan rahayu nenten pisan dados madalem padruwean, tan dados ngadokan manah  bangras, sampunang pisan   tungkas-tungkas ring pawarah sang Sulinggih (Wiku/Wicaksana), nenten dados ngamedalan bawos sane sanglir/tungkas napimalih mabawos sane bangras, babawosang sane becik kapireng sane patut kamedalang, sapunika tata krama mantuk ring sang sapa sira pikayunan sane suci lan sampunang pisan    ngambekang pikayun sane bregedegan.

Ring Lontar  Tutur Gayatri  malih  kabawosang

Nihan kaweruhakena tata kramaning dadi wong, tan wenang ngwangun karya ametik, aguntingan, asasapuh ring sanggar mwang pura sakalwiranya, mwang ametik, aguntingan, ameras sentana, maing kup mekadi mwang kaka, sanak diya, nyama mantuk mekadi khaki kumpi sumurup ring sithi kang durung mebeya mwang mentas, tan yogya ngwangun karya sekadi kecaping ajeng, apa marpannya makana, apan bhuana agung       mwang bhuana alit  kari cemer.

Teges Ipun :

Puniki mangde kawikanin tata krama dados manusa sajeroning ngwangun karya yadnya minekadi melaspas, ngenteg linggih ring sanggah mwang rng  kahyangan sane tiosan, ri sajeroning dewasa kekeran tan dados ngamargiang yadnya metelu bulanan, meras pianak, nganten makecutetsahaning upacara manusa  yadnya. Yan prade wenten madruwe  meme bapa,  putra ari lan   raka, byang, kumpi, kari matanem ring pertiwi, tur maning durung  kaaben lan mengetas tan pisan dados  kapatutan nangun karya  yadnya, riantukan jagate sane ageng  lan sane alit  kantun cemer (leteh).

Majeng ring  daging   lengkara  ngenenin indik sawa durung mapengentas, sane paiketan ipun ring tepegan nyangra karya yadnya sampun   katitenin  olih paruman Sulinggih sawen nyanggra karya  Panca Wali Krama mwang Eka Dasa Ludra ring besakih duk nguni, lumaris ngamedalang kawicaksanaan merupa sewalapatra  pamutus sane  madaging :

“Ri sajeroning nyanggra karya Agung Panca Wali Krama mwang Eka Dasa Ludra ring Besakih, majeng sang kantun madruwe pitra dekot utawi kantun mapendem  ring setra, lamakne tan ngaletehin pamargin karya, kapatutan parisudha antuk tirta pamarisudha sane katunas ring pura Dalem, Pura  lan Prajapati (yaning wawidangan Bali), yaning wawidangdesa pakraman nunas ring pura Dalem lan Pura Prajapati ring genahe ngelarang yadnya”.

Mapagambel antuk daging Lontar ring ajeng lan paruman Krama Banjar Pakraman Penebel Kelod prasidha ngamedalang pamutus Yasa kerti merupa Tata Krama Sekadi ring sor puniki :

  1. Krama Desa maka sami sajeroning ngaptiang karya druwene patut ngambekang Tri  karya parisudha inggih punika :
    1. Mapikayun sane patut tur suci
    2. Mengandika sane patut tur suci
    3. Melaksana sane patut suci
  2. Sanangken ngayah krama desa patut  mabusana Adat bali
  3. Penangaya sadurunge ngranjing kapura patut nyiratin angga antuk tirta pabersihan/panglukatan sane sampun kacumawisan ring ajeng lawang/kori agung.
  4. Krama desa sane cendaangga sangkaning embas, nunas lugra pang banget mangda sampunang sareng nanding suci, Bagya pulakerti, Catur mwang saka luwirin upakara sane munggah ring sanggar tawang.
  5. Sajeroning dewasa kekeran  krama Desa tan dados nangun Karya Pitra Yadnya, ring pakubonan.
  6. Sajeroning dewasa kekeran (ngawit atur piuning Karya, Anggara Kliwon Perang bakat, 10 Agustus 2010 ngantos puput upacara penyineban Saniscara Pon Sinta, 2 Oktober 2010) pet wenten sinalih tunggil krama sane seda/padem kadudonan sekadi ring sor puniki :
    1. Tan kalugra nyuarayang kulkul
    2. Prade pamangku sane seda dados karingkes kaupakara sekadi biasa ngantos munggah tumpang salu raris kasirepan dumun ring jerone, risampun puput karyane wawu dados kaabenan. Sang sane sareng ngrarap sawa punika sinanggeh cuntaka. Yen sampun puput sengker cuntakane manut awig-awig/pararem sang keluarga inucap ngayah ke pura.
    3. Yaning krama desa sane walaka seda padem dados pendem premangkin ring galah sandikala.
    4. Yening silih sinunggil krama desa seda, sane cuntaka wantah sane sapewaregan.
    5. Yening wenten tunggal sembah (mrajan) wenten kapedeman, nanging ipun ten ngeranjing krama adat Desa Penebel, Tunggal sembah (mrajan) sane ngranjing ring desa Pakraman Penebel nenten sareng  cuntaka, sakewanten nenten  kedadosang   ngrombo ring sang  kacuntakan.
  1. B. Yasa kerti Sajeroning Dana Punia

Dana Punya mawit saking dana sane mateges “Artha Berana“ punya mateges “paweweh“ dadosne danapunya punika mateges paweweh sane marupa artha  berana. Tios ring punika wenten malih punya sane nenten kanten utawi tan marupa sekala nanging wenten sane kabawos “ Jiwa Dana mwang Dana Kodhyantmikan“ sane meteges mapaweweh antuk pangeweruh (ilmu pengetahuan).

Sajeroning ngaremba swa karya sane ageng  makadi Mamungkah Ngenteg Linggih puniki mamuatang prabeya sane makweh pisan, punika  ta mawinan manggala  karya sadita pisan nerima paica ring sang sapa sira ugi sane sangkaning lascarya prama ledang ngaturang punya.

Dana punya punika ageng pisan pahalan ipun majeng ring sang sane mapunya naler ring sang sane  nerima sekadi munggah ring sastra :

  1. 1. Slokantara 169 :

I kang tan dhana, tan bapa, tan ibu amukti phalannya ika, sang gumawekayen ikang dana punyajuga mukti phalanikang dana punya :

Teges ipun :

“nenten I Bapa, nenten I Meme  lan nenten sira-sira sane pacang nerima phalan dana punya punika, wantah sang sane mapunya.

  1. 2. Manawadharma Sastra Sargah IV bait 230 :

Bhumido   bhumin apnoti

Dhengham ayurhi hanyadah

Grhado ghryani wesmani

Rupam utanam

Teges ipun :

sane mapunya tanah  jagi polih swarga, sane mapunya emas jagi polih umur panjang, sane mapunya umah  jagi  polih genah sane agung, sane mapunya perak jagi polih keasrian.

Yening tatasan   daging slokane ring ajeng  janten sampun  nenten wenten pisan pocol sang mapunya yaning sampun pikayunan mapunya satmaka nandur bibit suarga lamakane kapungkur wekasan sidha mangalap swarga, bilih-bilih  ritepengan kadi mangkin krama Banjar Penebel Kelod sedeng ngewangun karya agung mamungkah ngenteg linggih nelasang prebeya mageng pisan. Panitia druwene banget pisan mapinunas,  lamakane ida dane krama Banjar Pakraman Penebel Kelod utawi sane tiosan ring dije je magenah, arsa ledang sareng ngertiang, ngyasayang karya sane pingit puniki, napi malih sidha antuke mapunya, Panitia druwene nyuksemayang pisan. Dumadak yasa kerti Ida Dane semeton krama Banjar Penebel Kelod  sareng sami polih panugrahan saking Ida Sanghyang Widhi Wasa.

  1. C. Yasa Kerti sajeroning upacara/upakara

Upakara mabuat pisan ring sajeroning ngemargiang upacara. Nenten wenten upacara Agama Hindu tan pa Upakara.  Upakara punika pateh pangresep ipun ring banten. Upakara puniki pinaka sarana anggen ngelingan raga utawi srana bhakti (yadnya/majeng ring Ida Sanghyang Widhi saha prabhawan Ida).    Ngelingan artin ipun  ngentenang. Punika mawinan sarana pangeling inucap kawastanin banten sane mawit saking kruna bahna + enten, bahan teges ipun sarana, enten teges ipun eling.

Makarya Upakara babantenan nenten dados nyumuka, patut  taler sang anukangi (Srati banten) Kariyanin antuk pawintenan “Tapini”. Naler ritatkala ngaryanin banten mangde anutang ring sesana sekadi sane menggah ring lontar Dewa Tatwa :

Kayatnaken mangke, aywa saulah-ulah lumaku, ngulah subal ynatan mabener anut ling haji, nirgawe pwarannya, kawalik purihnya ika, amrih ayu bhykata atemahan hala,mangkana wenang ika Kapratyoksa de sang anukangi (Sang Andikasani)”.

Teges Ipun :

“Elingan mangkin, sampunan ulah melaksana, matingkah cerobo, yan tan Adung ring daging pustaka suci druwene tan paphala yadnyan ceninge, mebalik phalane dot pacang ngerereh rahayu, byute sane pacang kapangguh, ento krana elingang pisan yan I Dewa dados tukang Banten”.

Maka pengawit Sang Andikani (Tukang Bnaten) ngambil karya patut nyejerang sanggar anggen ngayat Dewaning tukang  Banten sane mapesengan “Bhatari Tapini”. Malarapan antuk pangresepe ring ajeng janten sampun ri sajeroning makarya Upakara puniki dresta sane tan banget tungkas ring daging Sastra punika.

Oleh: Gusti Sudiartama | April 27, 2010

INSTALL MODEM HUAWEI E160 , WINDOWS VISTA

Anda tertarik membeli modem Huawei E160, promosinya support dengan Windows XP, Vista dst. Akan tetapi setelah diinstall pada Windows Vista , modem kesayangan anda tidak mampu dideteksi oleh Windows Vista, wah….. kecewa berat….ada solusinya( ini pengalaman saya )

Install  Modem seperti biasa, setelah terinstal panggil Mobile Partner ; klo muncul pesan The device has been disconnected or is unavailable (modem belum terinstall) lakukan langkah berikut( dalam keadaan Modem terkoneksi);

Ketik ” devmgmt.msc”  pada start –> run–> enter

Saat muncul Device Manager , paling bawah terdapat Universal Serial Bus Master; pilih USB mass storage  device(biasanya ada dua,  saya biasanya pilih yang dibawah); klik kanan , pada properties pilih details; pilih Property , pilih children ;kalau semua langkah diatas benar , value akan menampilkan…..

USBSTOR\Disk&Ven_HUAWEI&Prod_MMC_Storage&Rev_2_31\7&19eb…………….dst…

Close;

Langkah 1 selesai;

artinya modem anda sebenarnya telah terinstal .

Langkah 2.

Klik kanan Usb Mass Storage Device( yang telah mendeteksi modem);  pilih  uninstall.

Restart Komputer anda , modem biarkan terkoneksi , komputer akan mendeteksi  modem E160 anda ; untuk memastikan, masuk lagi ke device manager(dengan cara diatas); cek di modem device kalau semua lancar, modem anda akan nangkring disana dengan nama Huawei  mobile Connect – 3G Modem#3, artinya modem anda telah terinstal dengan benar/siap digeber.

Close Device manager.

Langkah 3.

Buka Mobile Partner anda; setting koneksi anda sesuai Kartu GSM yang anda pakai, anda siap surving……

Selamat mencoba.

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.