Oleh: Gusti Sudiartama | November 24, 2016

Menggunakan komponen Notebook dalam Delphi Xe8

Komponen TNotebook dalam Delphi ada dalam tab palette 3.1 , yang fungsinya untuk membuat page(halaman) sehingga dalam satu form bisa diisi dengan sejumlah halaman(page). Layaknya sebuah buku dengan banyak lembaran halaman yang bisa dikelola secara mudah namun masih dalam satu form . Page(halaman) ini bisa dikombinasikan dengan komponen TMainMenu.

Ok Mari kita mulai:

Buat sebuah form  dalam delphi,pada menu File, klik New, double klik VCL forms application – delphi

nb1

set properties: Name  ,   (saya biarkan form1),

Pada palette 3.1 doble klik  ikon TNotebook,  pastikan Notebook sudah nangkring pada form1, dan pastikan sedang aktif.

nb2

Pada properties TNoteBook set Name beri nama (sesuka-mu), misal NBCoba, sesuaikan ukuran dengan cara drag atau lewat properties .

Masih pada properties klik pages, untuk memunculkan “Notebook editor” ,disini tersedia : Add,delete,edit,move up dan move down, untuk menambah halaman klik add kemudian beri nama sesuai keinginan anda,(selalu ada halaman default,biarkan saja).

nb3

 nb-editor nb-ad-page

Untuk menampilkan Notebook yang telah dibuat dan mengelola-nya  sesuai keperluan:

nb-active-page

Pada properties : active page, akan muncul nama Notebook yang telah berhasil dibuat, klik nama notebook yang ingin dikelola, maka pada form1 akan muncul page tersebut .

Silahkan ……    pages  sudah siap untuk dikelola dan diisikan komponen apa saja.

untuk menghubungkan dengan main menu tinggal double klik menu pada MainMenu yang ingin dihubungkan kemudian isi perintah

NBKoperasi.ActivePage:=’default’; == untuk meng aktifkan page default.
NBKoperasi.ActivePage:=’Coba1′; == untuk meng aktifkan page Coba1.

Tidak sulit kan……

untuk berbagi…  dan sekaligus menjadi pengingat
Oleh: Gusti Sudiartama | November 15, 2016

PURA LUHUR SRI RAMBUT SEDANA

Pura Luhur Sri Rambut Sedana merupakan pura tua yang berlokasi di lereng Gunung Batukaru, tepatnya di Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan. Untuk menuju lokasi Pura, dari pusat Kota Tabanan ke arah Utara, umat sedarma mengikuti jalan menuju DTW Jatiluwih, kurang lebih 40 km dari kota Tabanan. Dari DTW Jatiluwih ke arah utara disana sudah ada penunjuk jalan menyusuri jalan yang hanya cukup dilalui oleh satu kendaraan, namun jalan ini sudah di beton sehingga kendaraan akan dengan lancar sampai di lokasi pura. Namun jalan yang berkelok dan tikungan tajam mendekati pura, mewajibkan anda untuk berhati-hati. Lokasi Pura yang masih sangat alami ditengah perkebunan masyarakat di ketinggian 700 meter di atas permukaan laut, menghadirkan udara sejuk dan segar sehingga kepenatan anda akan sirna ketika sampai di pura ini.

Pura ini diketahui telah ada sejak dulu, terbukti di tahun 1933 telah pernah dilakukan upacara ngenteg linggih, pada tahun 2004 ketika dilakukan pemugaran ditemukan ribuan uang kepeng kuno di lokasi pura juga memperkuat hal ini. Ada yang unik, terdapat satu pohon cemara namun mempunyai dua jenis daun yang berbeda, sehingga terkesan pohon cemara itu berasal dari dua pohon padahal kenyataannya hanya satu pohon.

Pura Luhur Sri Rambut Sedana diyakini sebagai tempat untuk memohon anugrah kemakmuran dan kemuliaan, dilihat dari etimologi kata Sri berarti cantik,subur,makmur, juga kemuliaan sedangkan se-dana berarti memberi sehingga Bhatara Sri Sedana dapat diartikan sebagai beliau yang memberi kemuliaan atau memberi kemakmuran. Dalam Purana, Dewa yang melimpahkan kemakmuran kepada seluruh alam adalah Dewi laksmi, sehingga di pura ini diyakini sebagai tempat memuja Ida Sang Hyang widhi sebagai manifestasi Dewi Laksmi atau kalau di Bali dikenal dengan sebutan Ida Bhatara Sri Rambut Sedana.

Di Bali Sri indentik dengan padi, beras sedangkan  Rambut Sedana identik dengan uang dimana beras dan uang adalah sumber kehidupan bagi setiap umat manusia, sehingga Bhatara Sri Rambut Sedana diyakini pula sebagai beliau yang senantiasa memberi kemakmuran dan kemuliaan berupa beras dan uang.

Pura ini memiliki konsep nyegara gunung, dibuktikan dengan adanya dua pesimpangan yaitu pesimpangan Pura Batu Ngaus sebagai manifestasi Segara dan Pura Gerombong nagaloka (tengahing wana) sebagai manifestasi gunung. Didalam Agama Hindu segara dan gunung diyakini sebagai sumber kehidupan bagi umat manusia. Konsep nyegara-gunung dimaknai sebagai menyatunya Lingga(Gunung) dan Yoni(Segara), segara dan gunung sebagai sumber kehidupan(amerta) menyatu di pura ini menghadirkan amerta yang tidak pernah habis. Sehingga sangat wajar apabila pemedek dari seluruh Bali hampir setiap hari selalu datang untuk melakukan Dharma yatra dan Tirta Yatra di pura ini. Odalan di pura ini dilakukan setiap 210 hari, tepatnya pada Rahina Budha Wage Kelawu, dan dilakukan penyejeran selama tiga hari.

Keberadaan dua pesimpangan (pesimpangan Pura Batu Ngaus dan pesimpangan Gerombong Nagaloka) menjadi dasar pemikiran arkeolog dari UNUD, peneliti dari kanada dan Rusia menyatakan Pura Luhur Sri Rambut Sedana sebagai salah satu Pura Tertua di Bali, disamping ditemukannya bukti-bukti fisik di lokasi pura.

senyum.jpg

Petikan Piagam Jakarta (untuk menyegarkan ingatan kita)

……………………………..

Kemudian daripada itoe, oentoek membentoek soeatoe Pemerintah Negara Indonesia jang melindoengi segenap Bangsa Indonesia dan seloeroeh toempah darah Indonesia, dan untuk memadjoekan kesedjahteraan oemoem, mentjerdaskan kehidoepan bangsa, dan ikoet melaksanakan ketertiban doenia jang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disoesoenlah kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itoe dalam suatu Hoekoem Dasar Negara Indonesia, jang terbentoek dalam suatu susunan negara Repoeblik Indonesia jang berkedaoelatan Rakjat, dengan berdasar kepada:

  1. Ketoehanan, dengan kewajiban mendjalankan syariat Islam bagi pemeloek-pemeloeknja
  2. Kemanoesiaan jang adil dan beradab
  3. Persatoean Indonesia
  4. Kerakjatan jang dipimpin oleh hikmat, kebidjaksanaan dalam permoesjarawaratan/perwakilan
  5. Keadilan sosial bagi seloeroeh Rakjat Indonesia.

Djakarta, 22-6-1945

NKRI diproklamirkan oleh para pendiri bangsa   dengan penuh perjuangan, tetasan darah dan air mata. Ketika masih di bangku sekolah kita disuguhkan pelajaran sejarah mengenai  perjuangan pendiri bangsa, bagaimana rumit dan alotnya perdebatan diantara tokoh tokoh kala itu,  yang paling terasa hingga saat ini bagaimana  Piagam Jakarta(seperti kutipan diatas) demikian keras diperjuangkan agar di masukkan dalam pembukaan UUD 1945, perdebatan alot antara tokoh nasionalis dan tokoh-tokoh Islam saat itu. Piagam Jakarta ini sebelumnya sudah disepakati oleh BPUPKI sebagai dasar negara pada tanggal 22 Juli 1945. Pada detik-detik terakhir  tanggal 17 Agustus 1945, Mohammad Hatta didatangi oleh seorang perwira angkatan laut yang mengaku membawa aspirasi masyarakat Indonesia bagian timur (yang mayoritas Kristen dan katolik) yang keberatan terhadap isi Piagam Jakarta “dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dan mengancam tidak mau bergabung dalam NKRI.

Namun kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa berbeda,  UUD 1945 berhasil disepakati seperti sekarang ini, Piagam Jakarta dinyatakan menjiwai UUD 1945, dengan perubahan pada sila pertama yang awalnya : Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya menjadi : Ketuhanan Yang Maha Esa. Sungguh sebuah pengorbanan dan kompromi yang luar biasa dari pendiri bangsa,terutama umat Islam.

Saat ini, ditahun 2016 setelah 71 tahun NKRI diproklamirkan keinginan untuk menerapkan syariat Islam di negara ini masih kuat. Saya memandang demo anti ahok tanggal 4 Nopember 2016 kemarin-pun sesungguhnya bukan murni menuntut ahok diadili, tapi lebih dalam dari itu adalah perdebatan elit-elit nasionalis dan elit-elit Islam terutama Islam sumbu pendek  (meminjam istilah KH Anwar Zahid).  Walapun ada ormas atau kelompok masyarakat yang mengikuti demo dengan niatan yang tulus untuk membela agama,  kuat dugaan saya ada oknum-oknum yang memanfaatkan momentum ini untuk  melakukan presure kepada pemerintah yang saat ini dipersepsikan mewakili kubu Nasionalis. Muaranya nanti adalah menuding pemerintah saat ini tidak mampu mengelola pemerintahan sehingga layak untuk  diturunkan(diganti). karena bagi mereka(sumbu pendek) sejak lama NKRI ini gagal, sehingga perlu diganti menjadi negara Islam, bagi mereka itu satu-satunya harapan. Namun secara mudah hasrat untuk mendirikan negara Islam akan terbantahkan dengan sendiri kalau kita mau jujur “di dunia ini negara Islam mana yang telah sukses , yang  bertahan hingga saat ini ?, yang mampu memberikan kebaikan bagi seluruh warga negaranya? “.

Bersyukurlah kita sebagai bangsa masih diberikan jalan untuk berbenah, masih lebih banyak saudara-saudara kita yang muslim yang tidak dalam kategori “sumbu pendek”, masih ada NU, masih ada Muhamadyah yang masih teguh dengan komitmen menjaga kebhinekaan dalam bingkai NKRI sebagai amanat UUD 1945.

Munculnya “fenomena ahok” dengan kontroversi Surat Al Maidah ini, bisa jadi ibarat gunung es, kita sebagai bangsa sesungguhnya menyadari betul  fenomena ahok ini sering hadir dalam kehidupan kita berbangsa dan bernegara, namun belum ada yang berani secara terbuka “menggaungkan” isu ini untuk dijadikan pembahasan dan kajian terbuka ke ruang publik. Mungkin ini saatnya kita introspeksi diri untuk berani jujur, apa mau kita sebenarnya.

Saya tidak membela Ahok dengan membuta, silahkan proses Ahok sesuai aturan dan perundang-undangan yang berlaku namun lakukan itu dengan proporsional, tanpa tekanan. Kalau ada pihak-pihak yang menuntut Ahok dipenjara bahkan di gantung tanpa proses hukum yang jelas, apalagi dengan deadline tanggal 4 Ahok harus ditangkap, memangnya negara ini harus kalah dan boleh ditekan seenaknya seperti itu, tentu kita sebagai warga bangsa harus menentang. Kalau nanti Ahok benar terbukti bersalah tegakkan hukum, kalau Ahok tidak terbukti bersalah bebaskan dia. Hukum  harus ditegakkan bagi penghina dan penghujat agama manapun tanpa pandang bulu, walaupun oknum itu beragama mayoritas sehingga hukum memang tegak dinegara ini.

Bersyukur sekali lagi bangsa ini diberikan pemimpin seperti Bapak Jokowi yang tidak mau ditekan, saya berpandangan kalau presidennya masih yang dulu, niscaya Ahok telah ditangkap tentu dengan berbagai argumen dan rasa prihatin mendalam. Kita wajib berdoa kepada Tuhan menurut keyakinan kita masing-masing agar bangsa ini, kita semua, pemimpin -pemimpin kita diberikan tuntunan untuk menemukan jalan kebenaran menuju kejayaan NKRI yang ber-Ketuhanan yang Maha Esa.

Bravo untuk Pak Jokowi, Bravo untuk NU, Bravo untuk Muhamadyah, Bravo untuk demonstrasi yang damai walaupun diakhiri sedikit gesekan,Bravo untuk kita semua.

Oleh: Gusti Sudiartama | Maret 23, 2016

Re-inkarnasi

Dalam pemahaman agama Hindu atau penganut Agama Hindu istilah punarbhawa/Samsara tentu bukan sesuatu yang asing atau aneh, tapi bagi penganut agama lain apalagi yang tidak mempercayai bahwa ada kehidupan setelah kematian tentu sangat sulit memahami ide atau ajaran tentang punarbhawa ini.

Pada sebuah tayangan TV, sempat saya tonton sebuah film yang mengangkat tema tentang roh yang mengalami proses kelahiran kembali sesaat setelah dia meninggal dalam sebuah kecelakaan, judulnya ” Audrey Ross”, pemerannya salah satunya yang saya ingat adalah Anthony Hopkins.

Ceritanya bermula ketika seorang gadis kecil, Audrey Ross mengalami suatu kejadian aneh, yaitu mimpi buruk yang terjadi menjelang hari ulang tahunnya. Kejadian  ini sering di alami oleh gadis kecil ini,  sejak ulang tahunnya yang ke-delapan. Singkat cerita menjelang hari ulang tahunnya yang ke tiga belas kejadian seperti itu semakin parah.

Ada seorang pria yang meyakini bahwa Audrey Ross ini adalah re-inkarnasi dari putrinya yang telah meninggal 13 tahun lalu dalam sebuah kecelakaan tragis.Laki-laki ini pernah menerima pesan dari dua orang paranormal bahwa roh putrinya itu telah hadir kedunia, di sebuah tempat dengan ciri ciri yang detil, tentang rumah, kamar tidur dan situasi di rumahnya. Dan Audrey Ross sangat cocok dengan apa yang diuangkapkan oleh paranormal itu.

Ayah Audrey sangat tidak percaya dengan cerita itu, bahkan menuntut laki-laki ini dipengadilan, pengadilan akhirnya memutuskan menggunakan jasa psikiater untuk menghipnotis Audrey kecil kembali ke masa kehidupannya yang lalu,sebagai upaya mengungkap kebenaran, dihadapan hakim dan persidangan. Disinilah terungkap kebenaran dari cerita laki-laki tadi, bahwa Audrey kecil ini pernah dilahirkan sebagai putrinya, yang kemudian mengalami kecelakaan tragis bersama ibunya, sehingga keduanya meninggal dalam kecelakaan tersebut, kelahiran Audrey bertepatan sesaat setelah kecelakaan tersebut. Terungkap pula bahwa roh Audrey dalam kematiannya terdahulu sangat tersiksa terkurung dan terbakar dalam kecelakaan mobil. Audrey kecilpun akhirnya meninggal dalam penangganan psikiater dihadapan hakim dan persidangan.

Menariknya film ini mengangkat tema tentang reinkarnasi, yang diambil dari Bhagawadgita, dengan gambaran yang jelas namun tidak ada kesan menggurui, atau dakwah. Bagi kita yang mempercayai tentang kelahiran kembali tentu tidak sulit memahami alur cerita dari film ini, namun bagi mereka yang tidak meyakini akan adanya kehidupan setelah kematian akan kesulitan menerima cerita film ini.

Nilai nilai agama Hindu  tentang  Punarbhawa/kelahiran kembali, sudah dilaksanakan sebagai sebuah ritual “Pitra Yadnya ” oleh masyarakat Hindu di Bali, namun masih banyak dari saudara kita penganut Hindu  yang melaksanakan upacara pitra yadnya  belum  memahami makna dan tujuan dilaksanakannya upacara ini. Terbayang dalam ingatan saya bagaimana kalau kita mengalami musibah salah seorang keluarga kita meninggal dalam kecelakaan, sebelum proses pitra yadnya dilakukan, pastilah didahului dengan upacara ngulapin yang bertujuan memanggil roh mendiang agar tidak “gentayangan”, selanjutnya roh mendiang di upacarai “pitra yadnya”agar mendapatkan tempat dan jalan yang layak sehingga dapat kembali menjalani proses “karma”- nya dengan baik, tidak menjadi roh penasaran.Sebuah proses yang  sarat makna, mendalam, detil. Sungguh suatu “nilai local genius”  yang adi luhung namun di jaman ini banyak bergeser pada ceremonial semata, sangat disayangkan. Terbayangkah seandainya salah seorang dari anggota keluarga kita meninggal  roh nya tidak melalui ritual “pitra yadnya” yang benar, kemudian menjadi roh penasaran  ??

==== sekedar renungan===

Bagi yang sering  menggunakan hardisk eksternal, suatu ketika pernah merasakan bagaimana dongkolnya kala hardisk mendadak nggak kebaca, file yang tersimpan sedikitpun tidak terdeteksi, biasanya hadir pesan “The file or directory is corrupted and unreadable” atau kalaupun hardisknya  terdeteksi, tapi tidak bisa dibuka. Masalah ini biasanya disebabkan karena anda sering mencopot hardisk tanpa proses yang benar, tapi jangan panik, apalagi mengatasi dengan format ulang, ada cara lain.

Solusinya ada disini :

masuk ke command prompt atau klik start > Run > cmd  klik kanan, run as administrator, kemudian setelah anda berhasil masuk pada jendela command promt ketik “chkdsk drive: /F”  enter atau anda juga bisa menggunakan “chkdsk drive: /R” enter …. ganti tulisan drive: menjadi lokasi dimana partisi anda bermasalah, missal chkdsk G: /F lalu tekan enter..

tunggu sampai prosesnya selesai……  jreng file anda berhasil dibuka…

selamat mencoba…..

Oleh: Gusti Sudiartama | Maret 1, 2016

RoollBack

Setiap yang dilahirkan pasti akan mati kemudian terlahir kembali demikian seterusnya, Inilah keyakinan dalam Hindu, yang disebut dengan punarbhawa/samsara. Dilahirkan ataukah terlahir dua kata yang berbeda yang memiliki makna berbeda dari sudut subyeknya. Dilahirkan berarti ada yang melahirkan, terlahir berarti tak dijelaskan/tidak penting yang melahirkan siapa atau  ada atau tidak yang melahirkan bukan soal.

Ok, hadirnya seseorang didunia ini bagi saya lebih pas menggunakan istilah dilahirkan kembali, karena dalam kata dilahirkan ada makna tentang “adanya” subyek yang melahirkan. Namun pertanyaan saya apakah seseorang/sesuatu dilahirkan kedunia ini hanyalah sebagai “buah” dari kesenangan atau keinginan untuk melahirkan ?  pertanyaan ini sering kali menghampiri, apakah saya dilahirkan memang untuk satu maksud ataukah saya dilahirkan hanyalah sebagai “akibat dari” bukan sebagai “lahir untuk”?

Pertanyaan ini mungkin semata-mata kekonyolan pikiran, bukan sesuatu yang serius sebagaimana coding dalam delphi saya rasa, he..he..he..  Namun semakin lama semakin menambah penasaran, karena setiap pertanyaan itu muncul, selalu pula tidak terjawab oleh saya. Rasa penasaranlah yang membuat saya mencoba mencari dan mencari, setidaknya untuk mengisi dahaga hausnya batin.

Sampai akhirnya saya memiliki sebuah jawaban yang bisa diterima oleh pikiran saya, bahwa setiap manusia dilahirkan untuk suatu maksud, atau setiap kelahiran pasti mempunyai makna, jadi tidak ada kelahiran yang sia-sia. Tidak ada satu orangpun didunia ini terlahir tanpa adanya tujuan, setidaknya bagi “atma” yang bersangkutan, bahkan bagi keberlangsungan kehidupan didunia ini, setiap kelahiran memiliki konektivitas.

Kenapa ?  ya kenapa saya meyakini itu? sederhananya roh/atma dilahirkan setidaknya untuk melakukan evolusi atas kualitas ke-atma-an nya. Dalam Hindu yang saya anut, paling simpel satu kelahiran telah menjadikan atma yang bersangkutan memenuhi re-inkarnasi-nya, atau telah menjalani karmanya, yang oleh karenanya terbayarlah karmanya, walaupun kelahirannya itu hanya sedetik.

Namun jauh lebih penting, keyakinan saya menebal, bahwa setiap kelahiran harusnya dimaknai sebagai sebuah kesempatan untuk meningkatkan kualitas, yang oleh karena itu seharusnya dimaknai pula kelahiran itu sebagai sebuah kesempatan yang sangat mahal untuk melakukan sebanyak-banyaknya karma baik sehingga kualitas atma menjadi meningkat ke-atma-an nya.

Sesimpel itu ? ya setidaknya pikiran saya menerima jawaban saya yang simpel itu…

…..selamat tidur…..

 

Oleh: Gusti Sudiartama | November 17, 2015

Catatan Kecil 2

Memahami fenomena relegius memang sebuah keasikan dan pengalaman yang sangat personal, sehingga sangat sulit untuk berbagi kepada orang lain, bahkan dua orang  yang sama-sama menekuni spiritual pun kadang satu fenomena spiritual bukanlah pengalaman yang mutlak sama, karena sangat dimungkinkan fenomena itu menjadi berbeda bagi keduanya.

Saya menghormati sebuah pemikiran, bahwa spiritualitas bukanlah sebuah hal yang bisa dibagi-bagi  kepada orang lain, spiritual adalah  pengalaman personal, sehingga sangat dipahami satu fenomena yang sama menjadi pengalaman yang berbeda bagi orang lain. Sehingga sangat tidak dianjurkan untuk “memaksakan” sebuah pengalaman batin kepada orang lain, seberapa-pun yakinnya kita akan suatu pengalaman batin sebagai sebuah kebenaran.

Didalam ritual Agama Hindu di Bali sangat jamak ditemukan nuansa relegius bahkan suasana sakral yang dipenuhi suasana mistis. Sesungguhnya  mudah sekali merasakan fenomena spiritual dan mendapatkan pengalaman batin yang “menggetarkan” jika saja kita mau lebih “menundukkan kepala” untuk mencoba membuka cakrawala batin bahwa manusia sesungguhnya ciptaan kesayangan Ida Sang Hyang Widhi  yang diberikan kemampuan untuk mendekati Beliau, dengan cara yang sederhana yaitu, terimalah kelahiranmu sebagai satu anugrah, manfaatkan kelahiranmu sekarang ini untuk berbuat kebaikan bagi alam, atau setidaknya bagi orang terdekatmu… lakukan kebaikan dan kebaikan, jangan menyakiti orang lain, lakukan sesuatu yang berguna bagi kehidupanmu .

Namun keegoisan manusialah yang justru membuat kita menjauh dari Beliau, kita merasa pintar untuk memahami spiritual sebagai sebuah hal yang rumit dan istimewa, padahal spiritual hanyalah satu langkah kecil ketika kita mau membuka hati dan pikiran kita tentang kebaikan dan kebenaran yang sesungguhnya, bukan kebaikan dan kebenaran dogmatis yang dimuat di kitab kitab suci. Tapi Kebenaran dan kebaikan muncul dari sebuah kontemplasi kesederhanaan prilaku dan pemikiran. Kenapa saya sebut sebuah langkah kecil ? karena pintunya ada didalam diri kita sendiri, hanya dibutuhkan kesungguhan dan niat yang juga sungguh-sungguh.

 

 

Oleh: Gusti Sudiartama | September 20, 2015

Sebuah Catatan Kecil

Menekuni spiritual benar benar sebuah  proses panjang dan penuh tantangan, Ada masa ketika pencapaian membimbing jiwa mampu hadir dalam kedamaian sehingga kehidupan terasa sangat damai, hiruk pikuk kehidupan dan gejolak duniawi seakan tak berpengaruh. Ada pula saat ketika arah yang semula begitu jelas tergambar, menjadi suram bahkan gelap yang hadir seakan sirna semua pencapaian, apa artinya ?

Pertanyaan ini sejujurnya sekian lama muncul namun belum pula mampu kujawab dengan tuntas, bagi seorang penekun spiritual jatuh bangun dalam perjalanan menapak jalan rohani ternyata bukanlah hal yang aneh, terdapat sekian banyak godaan bahkan ujian demi sebuah pencapaian, mendapatkan secercah sinar saja luar biasa sulitnya.

Ada banyak teori, ada demikian banyak orang suci yang mengajarkan berbagai macam cara menuju spiritual. Namun akankan cara  atau jalan itu membawa seorang murid menuju sebuah pencapaian? tak seorangpun yang akan mampu menjamin. Spiritual bukanlah sebuah teori , spiritual adalah sebuah perjalanan yang harus dijalani dengan penuh keyakinan dan juga keteguhan, terutama kecerdasan. Sangat sulit bagi  orang yang tanpa kecerdasan akan memperoleh seberkas cahaya rohani. Kecerdasan bukanlah pencapaian angka-angka atau nilai di sekolah, kecerdasan yang dimaksud adalah kemampuan mengolah budi dan pikiran, kemampuan memadukan kehebatan energi pikiran dengan keluhuran budi.

Tidak ada garansi bagi seorang penekun spiritual yang telah berhasil dalam satu pencapaian untuk tidak mengalami kegagalan, karena semasih Sang Maha Pencipta memberikan waktu untuk hadir didunia selama itu pula perjalanan masih berlangsung, itu artinya kegagalanpun masih berpeluang terjadi. Kehidupan seorang penekun adalah perjalanan panjang yang senantiasa harus diperjuangkan dengan penuh keyakinan dan keteguhan untuk selalu ada di jalan dharma. Pencapaian bukanlah sebuah hadiah, pencapaian merupakan sebuah konsekwensi dari suatu “yasa kerti”, karena sesungguhnya kehidupan seorang penekun spiritual adalah yasa kerti.

Memahami hakekat hidup dan jati diri seorang manusia adalah mutlak bagi seseorang yang hendak menapak jalan spiritual. Tanpa keduanya perjalanan hanyalah sebuah kesia-siaan. Penting bagi seorang penekun untuk selalu “sadar”  agar tidak mudah tergelincir dan terlena dengan “mukjizat” yang sering hadir disetiap perjalanan. Ibarat melakukan perjalanan menuju suatu tempat, jangan terlalu lama terlena akan keindahan di tengah tengah perjalanan, karena bukan mustahil “ke-terlena-an” tadi akan menarikmu jatuh bahkan ketitik terendah dalam hidupmu.

Oleh: Gusti Sudiartama | April 20, 2015

Menjadikan diri sendiri “Layak” selayaknya Pura…

Hindu meyakini lima hal yang dikenal dengan Panca Sradha,salah satunya adalah meyakini adanya roh(atma). Atma sendiri diyakini sebagai “entitas” yang sama dengan Sang Hyang Maha Pencipta, namun dengan kualitas yang berbeda, dalam pengertian atma adalah Sang Hyang Maha Pencipta dalam skala kecil dengan kualitas yang lebih rendah, karena masih terselimuti oleh kekotoran batin, yang sering disebut sebagai Panca Maya Kosha.
Dalam setiap kelahirannya roh manusia (atma) senantiasa berevolusi,sejatinya atma sendiri sedang berupaya mengurai Panca Maya Kosha itu, sehingga atma mampu melepaskan diri dari selubung kelima Kosha tersebut. Inilah yang diusahakan dan diupayakan oleh atma dari satu kelahiran menuju kelahiran yang lain.

Pura sebagai tempat melakukan pemujaan Memuja Sang Maha Pencipta didalam konsep Hindu di Bali. Pembuatan tempat suci-pun mengambil bentuk dan personifikasi tubuh manusia. Ada bagian Luhur(ulu) atau kepala, ada tengah(madya) atau badan, dan bawah(sor) atau kaki. Bentuk bentuk pelinggih yang dibuat sangat kental dengan nuansa “penyucian” dengan maksud pura yang dibangun akan menjadi stana bagi Dewata yang ingin dipuja. Disini saya kurang sependapat dengan istilah stana sebagai tempat berstana. Kalau kita memaknai stana sebagai tempat berstana atau “tempat tinggal” adalah sangat tidak layak sebuah tempat dengan bentuk bangunan kecil seperti itu(Pura) menjadi tempat tinggal Dewata yang maha kuasa, Beliau yang telah memberi kita kehidupan kita harapkan Beliau berkenan bertempat tinggal di tempat kecil tersebut?

Saya lebih sreg memaknai pura sebagai sebuah sarana menghubungkan diri dengan Sang Maha Pencipta, diumpamakan sebagai BTS atau antene, melalui BTS dan antene itulah kita menyelaraskan frekuensi untuk bisa berkomunikasi dengan Beliau. Lebih gampang bagi saya memaknai pura sebagai sarana menyelaraskan frekuensi untuk menghubungkan diri dengan Dewata dewata yang dipuja. Inilah penjelasan yang lebih bisa diterima kenapa di setiap pelinggih dipasang ulap-ulap yang “aksara-nya” harus sesuai dengan Ista Dewata yang akan dipuja, demikian pula proses “pemelaspasan” dan “ngelinggihan” dalam ritual pembangunan pura mampu dimaknai dengan lebih sederhana.

Kalau atma sendiri adalah “entitas” yang sama dengan Sang Maha Pencipta, kenapa kita hanya memuja Sang Maha Pencipta yang diluar tubuh sedangkan di dalam tubuh sendiri Beliau telah hadir? berkaca dari proses pembangunan sebuah pura dari proses pembangunan sampai penyucian, tubuhpun seharusnya bisa dijadikan BTS atau antene, yang sudah barang tentu harus didahului dengan penyucian juga, dalam hal ini membersihkan kelima kosha sehingga menjadikan atma bisa “diraih” dengan kata lain kita sebagai wujud manusia mampu menerima sinyal energi Yang Maha Pencipta” yang telah hadir di dalam tubuh kita sendiri, tentu setelah kita menjadikan diri kita sendiri “LAYAK” ….

Oleh: Gusti Sudiartama | Maret 7, 2015

Menyadari Napas

breathing-fresh-air.1200x800Ada beberapa guru yang mengajarkan bahwa setelah kita duduk, kita segera mengamati napas. Akan tetapi, beberapa orang saat mencari napas, tidak menemukan napas karena sensasi napas kadang agak halus. Oleh karena tidak menemukannya, sebagian orang akhirnya mengendalikan napas. Membuat napas ini kasar, kemudian ia bisa merasakan sensasi napas tersebut.

Dalam berusaha untuk merasakan sensasi napas, ada juga yang menghitung berapa lama ia menarik nafas, berapa lama menahan, dan berapa lama mengeluarkannya. Tujuannya adalah membuat perhatian kita dengan ketat tertuju pada napas sehingga tidak memberi kesempatan pikiran berkelana untuk muncul.

Meskipun cara ini bisa digunakan, tetapi jika pikiran kita masih terlalu kasar akan lebih alami dan lebih efektif bila kita menggunakan obyek perhatian yang kasar. Mengatur nafasa sehingga nafas yang seharusnya halus ini tampak kasar adalah memaksakan sesuatu yang tidak pada fungsinya. Seperti memukul paku menggunakan gagangnya, bukan kepalanya.

controling_breatheJika kita mengendalikan napas, setelah duduk kadang anda merasakan dada menjadi pengap seperti orang yang sesak napas. Jika dilanjutkan kepala bisa menjadi tegang karena kita kekurangan oksigen. Sebagian orang saat bermeditasi dengan mengatur napas, ia menjadi tegang dan tidak bisa berkembang. Oleh karena saat pikiran mulai fokus dan relaks, irama nafas ini secara alami akan menjadi lembut. Jika seseorang mengatur nafas, metode yang digunakan seringkali malah membuat pikiran tidak bisa relaks dan mengendap karena metode yang digunakan memang pada dasarnya membuat nafas yang seharusnya lembut menjadi kasar.

Jadi sebagian orang malah bertahan pada sifatnya yang kasar karena ingin mempertahankan metode. Jadi kita harus tahu, jika kita punya kondisi seperti ini maka kita harus menyelaraskan metode dengan benar. Oleh karena metode ini baik, tetapi cara penggunaan kita terhadap metode yang bermasalah.

Perhatian ke napas melalui relaksasi

Point yang penting dalam menggunakan metode adalah proses meditasi kita harus berjalan natural, alamiah. Perhatian ke napas yang alamiah adalah napas datang dengan sendirinya ke kesadaran kita, bukan kita yang berusaha mendatangi napas. Kondisi ini bisa dicapai bila kita menggunakan metode relaksasi untuk menyelaraskan napas kita.

Pertama-tama kita atur postur duduk kita dengan benar. Lalu setelah duduk dengan postur benar, kita mulai  merelakskan tubuh. Saat merelakskan, kita melakukan relaksasi per bagian tubuh sesuai metode. Setelah relaksasi per bagian di jalankan 2-3 kali (tiap orang punya kebutuhan yang berbeda), anda merelakskan seluruh tubuh, menyadari keseluruhan tubuh.

Mungkin anda akan menyadari bahwa batin belum mampu untuk menyadari tubuh secara keseluruhan dengan jelas. Namun, asalkan tetap melakukan relaksasi lalu menyadari setiap bagian tubuh, bila postur tubuh sudah benar dan cukup tenang, secara alami anda akan menyadari ada sedikit pergerakan kecil di tubuh kita. Gerakan yang halus ini adalah pernapasan kita.

breathingDalam menyadari napas, sebagian orang tidak langsung menyadari napas di ujung hidung. Setelah kita duduk dengan baik, seluruh tubuh relaks, lalu membawa perhatian ke keseluruhan tubuh, terkadang perhatian kita tertuju ke tubuh bagian dada yang bergerak naik turun. Ada juga yang menyadari kembang kempisnya napas di bagian abdomen atau diafragma. Gerakan ini terjadi karena paru-paru yang terisi udara mendesak sekat antara dada dan perut sehingga perut bagian atas jadi bergerak. Kita akan merasakan napas di bagian dada bila pernapasan kita lebih dangkal dan kita akan merasakan di bagian perut bila pernapasannya lebih dalam.

Jika anda menyadari dengan cara demikian, maka prosesnya terjadi dengan sangat alamiah. Tidak dibutuhkan usaha untuk mencari napas. Napas dengan sendirinya muncul dalam kesadaran anda. Saat itu, kondisi batin anda sudah lebih jernih dan napas anda juga sangat natural. Setelah itu perlahan-lahan, kita bawa perhatian ke ujung hidung.

Jadi sebelum menggunakan metode napas ini, anda harus merelakskan tubuh terlebih dulu. Setelah merelakskan bagian-bagian tubuh, kita mengamati keseluruhan tubuh dan secara alami menyadari adanya napas.

Namun, jika belum sampai pada kondisi relaks, kita sudah mengamati napas. Dengan demikian ketika kita ingin menfokuskan perhatian pada napas, perlu menggunakan usaha atau anda menjadi mengendalikan napas. Jika anda mengendalikan napas atau memaksakan diri untuk memperhatikan napas kita menjadi tegang. Sedikit saja anda tegang di bagian tertentu, bagian yang lainnya akan ikut tegang. Ada sebagian orang matanya menjadi tertutup rapat dan tegang karena dia menggunakan usaha untuk memperhatikan napas. Akhirnya bagian disekitar rongga mata menjadi tegang.

Jika ada yang saat bermeditasi memperhatikan napas bagian kepala akan menjadi tegang, setelah selesai sesi meditasi merasa sangat capek, itu tanda bahwa penerapan metodenya tidak benar. Anda belum relaks. Namun, jika kita sudah duduk dengan benar; melakukan relaksasi dengan memindai tubuh dua-tiga kali; sesudahnya perhatikan keseluruhan tubuh; lalu anda secara alami menyadari kembang-kempisnya perut; kemudian fokuskan perhatian pada napas di sekitar ujung hidung; amati napas, maka saat itu napas menjadi sangat alami, tubuh sangat relaks, pikiran juga dengan sangat relaks berfokus pada pernapasan di ujung hidung.

Anda sama sekali tidak memaksakan diri, sebaliknya pikiran anda bisa fokus dengan alami. Kita pun sudah mulai dan terus lanjut mengunakan metode ini untuk bisa berkonsentrasi. Terus melanjutkan penerapan metode ini sehingga metode tersebut menjadi semakin bertenaga dan bisa terus diterapkan. Kita mempertahankan perhatian terpusat di sana, lalu kita bisa menggunakan hitungan napas untuk membantu mengamati keluar masuknya napas dengan jelas dan natural.

Jika saat memperhatikan napas, anda merasa kesulitan, pikiran anda lari kesana kemari sehingga anda berkali-kali lupa pada nafas anda, itu pertanda bahwa anda belum siap memperhatikan napas. Pikiran anda masih kasar. Sebaiknya anda kembali ke relaksasi tubuh. Jika relaksasi juga sulit dilakukan, anda bisa memperhatikan posisi tubuh, jika memperhatikan posisi tubuh juga sulit dilakukan, anda bisa melakukan meditasi jalan. Ini lebih baik ketimbang membuat napas menjadi kasar dengan cara mengendalikan napas.

Source : http://meditasizen.com

Older Posts »

Kategori