Oleh: Gusti Sudiartama | Maret 23, 2016

Re-inkarnasi

Dalam pemahaman agama Hindu atau penganut Agama Hindu istilah punarbhawa/Samsara tentu bukan sesuatu yang asing atau aneh, tapi bagi penganut agama lain apalagi yang tidak mempercayai bahwa ada kehidupan setelah kematian tentu sangat sulit memahami ide atau ajaran tentang punarbhawa ini.

Pada sebuah tayangan TV, sempat saya tonton sebuah film yang mengangkat tema tentang roh yang mengalami proses kelahiran kembali sesaat setelah dia meninggal dalam sebuah kecelakaan, judulnya ” Audrey Ross”, pemerannya salah satunya yang saya ingat adalah Anthony Hopkins.

Ceritanya bermula ketika seorang gadis kecil, Audrey Ross mengalami suatu kejadian aneh, yaitu mimpi buruk yang terjadi menjelang hari ulang tahunnya. Kejadian  ini sering di alami oleh gadis kecil ini,  sejak ulang tahunnya yang ke-delapan. Singkat cerita menjelang hari ulang tahunnya yang ke tiga belas kejadian seperti itu semakin parah.

Ada seorang pria yang meyakini bahwa Audrey Ross ini adalah re-inkarnasi dari putrinya yang telah meninggal 13 tahun lalu dalam sebuah kecelakaan tragis.Laki-laki ini pernah menerima pesan dari dua orang paranormal bahwa roh putrinya itu telah hadir kedunia, di sebuah tempat dengan ciri ciri yang detil, tentang rumah, kamar tidur dan situasi di rumahnya. Dan Audrey Ross sangat cocok dengan apa yang diuangkapkan oleh paranormal itu.

Ayah Audrey sangat tidak percaya dengan cerita itu, bahkan menuntut laki-laki ini dipengadilan, pengadilan akhirnya memutuskan menggunakan jasa psikiater untuk menghipnotis Audrey kecil kembali ke masa kehidupannya yang lalu,sebagai upaya mengungkap kebenaran, dihadapan hakim dan persidangan. Disinilah terungkap kebenaran dari cerita laki-laki tadi, bahwa Audrey kecil ini pernah dilahirkan sebagai putrinya, yang kemudian mengalami kecelakaan tragis bersama ibunya, sehingga keduanya meninggal dalam kecelakaan tersebut, kelahiran Audrey bertepatan sesaat setelah kecelakaan tersebut. Terungkap pula bahwa roh Audrey dalam kematiannya terdahulu sangat tersiksa terkurung dan terbakar dalam kecelakaan mobil. Audrey kecilpun akhirnya meninggal dalam penangganan psikiater dihadapan hakim dan persidangan.

Menariknya film ini mengangkat tema tentang reinkarnasi, yang diambil dari Bhagawadgita, dengan gambaran yang jelas namun tidak ada kesan menggurui, atau dakwah. Bagi kita yang mempercayai tentang kelahiran kembali tentu tidak sulit memahami alur cerita dari film ini, namun bagi mereka yang tidak meyakini akan adanya kehidupan setelah kematian akan kesulitan menerima cerita film ini.

Nilai nilai agama Hindu  tentang  Punarbhawa/kelahiran kembali, sudah dilaksanakan sebagai sebuah ritual “Pitra Yadnya ” oleh masyarakat Hindu di Bali, namun masih banyak dari saudara kita penganut Hindu  yang melaksanakan upacara pitra yadnya  belum  memahami makna dan tujuan dilaksanakannya upacara ini. Terbayang dalam ingatan saya bagaimana kalau kita mengalami musibah salah seorang keluarga kita meninggal dalam kecelakaan, sebelum proses pitra yadnya dilakukan, pastilah didahului dengan upacara ngulapin yang bertujuan memanggil roh mendiang agar tidak “gentayangan”, selanjutnya roh mendiang di upacarai “pitra yadnya”agar mendapatkan tempat dan jalan yang layak sehingga dapat kembali menjalani proses “karma”- nya dengan baik, tidak menjadi roh penasaran.Sebuah proses yang  sarat makna, mendalam, detil. Sungguh suatu “nilai local genius”  yang adi luhung namun di jaman ini banyak bergeser pada ceremonial semata, sangat disayangkan. Terbayangkah seandainya salah seorang dari anggota keluarga kita meninggal  roh nya tidak melalui ritual “pitra yadnya” yang benar, kemudian menjadi roh penasaran  ??

==== sekedar renungan===

Bagi yang sering  menggunakan hardisk eksternal, suatu ketika pernah merasakan bagaimana dongkolnya kala hardisk mendadak nggak kebaca, file yang tersimpan sedikitpun tidak terdeteksi, biasanya hadir pesan “The file or directory is corrupted and unreadable” atau kalaupun hardisknya  terdeteksi, tapi tidak bisa dibuka. Masalah ini biasanya disebabkan karena anda sering mencopot hardisk tanpa proses yang benar, tapi jangan panik, apalagi mengatasi dengan format ulang, ada cara lain.

Solusinya ada disini :

masuk ke command prompt atau klik start > Run > cmd  klik kanan, run as administrator, kemudian setelah anda berhasil masuk pada jendela command promt ketik “chkdsk drive: /F”  enter atau anda juga bisa menggunakan “chkdsk drive: /R” enter …. ganti tulisan drive: menjadi lokasi dimana partisi anda bermasalah, missal chkdsk G: /F lalu tekan enter..

tunggu sampai prosesnya selesai……  jreng file anda berhasil dibuka…

selamat mencoba…..

Oleh: Gusti Sudiartama | Maret 1, 2016

RoollBack

Setiap yang dilahirkan pasti akan mati kemudian terlahir kembali demikian seterusnya, Inilah keyakinan dalam Hindu, yang disebut dengan punarbhawa/samsara. Dilahirkan ataukah terlahir dua kata yang berbeda yang memiliki makna berbeda dari sudut subyeknya. Dilahirkan berarti ada yang melahirkan, terlahir berarti tak dijelaskan/tidak penting yang melahirkan siapa atau  ada atau tidak yang melahirkan bukan soal.

Ok, hadirnya seseorang didunia ini bagi saya lebih pas menggunakan istilah dilahirkan kembali, karena dalam kata dilahirkan ada makna tentang “adanya” subyek yang melahirkan. Namun pertanyaan saya apakah seseorang/sesuatu dilahirkan kedunia ini hanyalah sebagai “buah” dari kesenangan atau keinginan untuk melahirkan ?  pertanyaan ini sering kali menghampiri, apakah saya dilahirkan memang untuk satu maksud ataukah saya dilahirkan hanyalah sebagai “akibat dari” bukan sebagai “lahir untuk”?

Pertanyaan ini mungkin semata-mata kekonyolan pikiran, bukan sesuatu yang serius sebagaimana coding dalam delphi saya rasa, he..he..he..  Namun semakin lama semakin menambah penasaran, karena setiap pertanyaan itu muncul, selalu pula tidak terjawab oleh saya. Rasa penasaranlah yang membuat saya mencoba mencari dan mencari, setidaknya untuk mengisi dahaga hausnya batin.

Sampai akhirnya saya memiliki sebuah jawaban yang bisa diterima oleh pikiran saya, bahwa setiap manusia dilahirkan untuk suatu maksud, atau setiap kelahiran pasti mempunyai makna, jadi tidak ada kelahiran yang sia-sia. Tidak ada satu orangpun didunia ini terlahir tanpa adanya tujuan, setidaknya bagi “atma” yang bersangkutan, bahkan bagi keberlangsungan kehidupan didunia ini, setiap kelahiran memiliki konektivitas.

Kenapa ?  ya kenapa saya meyakini itu? sederhananya roh/atma dilahirkan setidaknya untuk melakukan evolusi atas kualitas ke-atma-an nya. Dalam Hindu yang saya anut, paling simpel satu kelahiran telah menjadikan atma yang bersangkutan memenuhi re-inkarnasi-nya, atau telah menjalani karmanya, yang oleh karenanya terbayarlah karmanya, walaupun kelahirannya itu hanya sedetik.

Namun jauh lebih penting, keyakinan saya menebal, bahwa setiap kelahiran harusnya dimaknai sebagai sebuah kesempatan untuk meningkatkan kualitas, yang oleh karena itu seharusnya dimaknai pula kelahiran itu sebagai sebuah kesempatan yang sangat mahal untuk melakukan sebanyak-banyaknya karma baik sehingga kualitas atma menjadi meningkat ke-atma-an nya.

Sesimpel itu ? ya setidaknya pikiran saya menerima jawaban saya yang simpel itu…

…..selamat tidur…..

 

Oleh: Gusti Sudiartama | November 17, 2015

Catatan Kecil 2

Memahami fenomena relegius memang sebuah keasikan dan pengalaman yang sangat personal, sehingga sangat sulit untuk berbagi kepada orang lain, bahkan dua orang  yang sama-sama menekuni spiritual pun kadang satu fenomena spiritual bukanlah pengalaman yang mutlak sama, karena sangat dimungkinkan fenomena itu menjadi berbeda bagi keduanya.

Saya menghormati sebuah pemikiran, bahwa spiritualitas bukanlah sebuah hal yang bisa dibagi-bagi  kepada orang lain, spiritual adalah  pengalaman personal, sehingga sangat dipahami satu fenomena yang sama menjadi pengalaman yang berbeda bagi orang lain. Sehingga sangat tidak dianjurkan untuk “memaksakan” sebuah pengalaman batin kepada orang lain, seberapa-pun yakinnya kita akan suatu pengalaman batin sebagai sebuah kebenaran.

Didalam ritual Agama Hindu di Bali sangat jamak ditemukan nuansa relegius bahkan suasana sakral yang dipenuhi suasana mistis. Sesungguhnya  mudah sekali merasakan fenomena spiritual dan mendapatkan pengalaman batin yang “menggetarkan” jika saja kita mau lebih “menundukkan kepala” untuk mencoba membuka cakrawala batin bahwa manusia sesungguhnya ciptaan kesayangan Ida Sang Hyang Widhi  yang diberikan kemampuan untuk mendekati Beliau, dengan cara yang sederhana yaitu, terimalah kelahiranmu sebagai satu anugrah, manfaatkan kelahiranmu sekarang ini untuk berbuat kebaikan bagi alam, atau setidaknya bagi orang terdekatmu… lakukan kebaikan dan kebaikan, jangan menyakiti orang lain, lakukan sesuatu yang berguna bagi kehidupanmu .

Namun keegoisan manusialah yang justru membuat kita menjauh dari Beliau, kita merasa pintar untuk memahami spiritual sebagai sebuah hal yang rumit dan istimewa, padahal spiritual hanyalah satu langkah kecil ketika kita mau membuka hati dan pikiran kita tentang kebaikan dan kebenaran yang sesungguhnya, bukan kebaikan dan kebenaran dogmatis yang dimuat di kitab kitab suci. Tapi Kebenaran dan kebaikan muncul dari sebuah kontemplasi kesederhanaan prilaku dan pemikiran. Kenapa saya sebut sebuah langkah kecil ? karena pintunya ada didalam diri kita sendiri, hanya dibutuhkan kesungguhan dan niat yang juga sungguh-sungguh.

 

 

Oleh: Gusti Sudiartama | September 20, 2015

Sebuah Catatan Kecil

Menekuni spiritual benar benar sebuah  proses panjang dan penuh tantangan, Ada masa ketika pencapaian membimbing jiwa mampu hadir dalam kedamaian sehingga kehidupan terasa sangat damai, hiruk pikuk kehidupan dan gejolak duniawi seakan tak berpengaruh. Ada pula saat ketika arah yang semula begitu jelas tergambar, menjadi suram bahkan gelap yang hadir seakan sirna semua pencapaian, apa artinya ?

Pertanyaan ini sejujurnya sekian lama muncul namun belum pula mampu kujawab dengan tuntas, bagi seorang penekun spiritual jatuh bangun dalam perjalanan menapak jalan rohani ternyata bukanlah hal yang aneh, terdapat sekian banyak godaan bahkan ujian demi sebuah pencapaian, mendapatkan secercah sinar saja luar biasa sulitnya.

Ada banyak teori, ada demikian banyak orang suci yang mengajarkan berbagai macam cara menuju spiritual. Namun akankan cara  atau jalan itu membawa seorang murid menuju sebuah pencapaian? tak seorangpun yang akan mampu menjamin. Spiritual bukanlah sebuah teori , spiritual adalah sebuah perjalanan yang harus dijalani dengan penuh keyakinan dan juga keteguhan, terutama kecerdasan. Sangat sulit bagi  orang yang tanpa kecerdasan akan memperoleh seberkas cahaya rohani. Kecerdasan bukanlah pencapaian angka-angka atau nilai di sekolah, kecerdasan yang dimaksud adalah kemampuan mengolah budi dan pikiran, kemampuan memadukan kehebatan energi pikiran dengan keluhuran budi.

Tidak ada garansi bagi seorang penekun spiritual yang telah berhasil dalam satu pencapaian untuk tidak mengalami kegagalan, karena semasih Sang Maha Pencipta memberikan waktu untuk hadir didunia selama itu pula perjalanan masih berlangsung, itu artinya kegagalanpun masih berpeluang terjadi. Kehidupan seorang penekun adalah perjalanan panjang yang senantiasa harus diperjuangkan dengan penuh keyakinan dan keteguhan untuk selalu ada di jalan dharma. Pencapaian bukanlah sebuah hadiah, pencapaian merupakan sebuah konsekwensi dari suatu “yasa kerti”, karena sesungguhnya kehidupan seorang penekun spiritual adalah yasa kerti.

Memahami hakekat hidup dan jati diri seorang manusia adalah mutlak bagi seseorang yang hendak menapak jalan spiritual. Tanpa keduanya perjalanan hanyalah sebuah kesia-siaan. Penting bagi seorang penekun untuk selalu “sadar”  agar tidak mudah tergelincir dan terlena dengan “mukjizat” yang sering hadir disetiap perjalanan. Ibarat melakukan perjalanan menuju suatu tempat, jangan terlalu lama terlena akan keindahan di tengah tengah perjalanan, karena bukan mustahil “ke-terlena-an” tadi akan menarikmu jatuh bahkan ketitik terendah dalam hidupmu.

Oleh: Gusti Sudiartama | April 20, 2015

Menjadikan diri sendiri “Layak” selayaknya Pura…

Hindu meyakini lima hal yang dikenal dengan Panca Sradha,salah satunya adalah meyakini adanya roh(atma). Atma sendiri diyakini sebagai “entitas” yang sama dengan Sang Hyang Maha Pencipta, namun dengan kualitas yang berbeda, dalam pengertian atma adalah Sang Hyang Maha Pencipta dalam skala kecil dengan kualitas yang lebih rendah, karena masih terselimuti oleh kekotoran batin, yang sering disebut sebagai Panca Maya Kosha.
Dalam setiap kelahirannya roh manusia (atma) senantiasa berevolusi,sejatinya atma sendiri sedang berupaya mengurai Panca Maya Kosha itu, sehingga atma mampu melepaskan diri dari selubung kelima Kosha tersebut. Inilah yang diusahakan dan diupayakan oleh atma dari satu kelahiran menuju kelahiran yang lain.

Pura sebagai tempat melakukan pemujaan Memuja Sang Maha Pencipta didalam konsep Hindu di Bali. Pembuatan tempat suci-pun mengambil bentuk dan personifikasi tubuh manusia. Ada bagian Luhur(ulu) atau kepala, ada tengah(madya) atau badan, dan bawah(sor) atau kaki. Bentuk bentuk pelinggih yang dibuat sangat kental dengan nuansa “penyucian” dengan maksud pura yang dibangun akan menjadi stana bagi Dewata yang ingin dipuja. Disini saya kurang sependapat dengan istilah stana sebagai tempat berstana. Kalau kita memaknai stana sebagai tempat berstana atau “tempat tinggal” adalah sangat tidak layak sebuah tempat dengan bentuk bangunan kecil seperti itu(Pura) menjadi tempat tinggal Dewata yang maha kuasa, Beliau yang telah memberi kita kehidupan kita harapkan Beliau berkenan bertempat tinggal di tempat kecil tersebut?

Saya lebih sreg memaknai pura sebagai sebuah sarana menghubungkan diri dengan Sang Maha Pencipta, diumpamakan sebagai BTS atau antene, melalui BTS dan antene itulah kita menyelaraskan frekuensi untuk bisa berkomunikasi dengan Beliau. Lebih gampang bagi saya memaknai pura sebagai sarana menyelaraskan frekuensi untuk menghubungkan diri dengan Dewata dewata yang dipuja. Inilah penjelasan yang lebih bisa diterima kenapa di setiap pelinggih dipasang ulap-ulap yang “aksara-nya” harus sesuai dengan Ista Dewata yang akan dipuja, demikian pula proses “pemelaspasan” dan “ngelinggihan” dalam ritual pembangunan pura mampu dimaknai dengan lebih sederhana.

Kalau atma sendiri adalah “entitas” yang sama dengan Sang Maha Pencipta, kenapa kita hanya memuja Sang Maha Pencipta yang diluar tubuh sedangkan di dalam tubuh sendiri Beliau telah hadir? berkaca dari proses pembangunan sebuah pura dari proses pembangunan sampai penyucian, tubuhpun seharusnya bisa dijadikan BTS atau antene, yang sudah barang tentu harus didahului dengan penyucian juga, dalam hal ini membersihkan kelima kosha sehingga menjadikan atma bisa “diraih” dengan kata lain kita sebagai wujud manusia mampu menerima sinyal energi Yang Maha Pencipta” yang telah hadir di dalam tubuh kita sendiri, tentu setelah kita menjadikan diri kita sendiri “LAYAK” ….

Oleh: Gusti Sudiartama | Maret 7, 2015

Menyadari Napas

breathing-fresh-air.1200x800Ada beberapa guru yang mengajarkan bahwa setelah kita duduk, kita segera mengamati napas. Akan tetapi, beberapa orang saat mencari napas, tidak menemukan napas karena sensasi napas kadang agak halus. Oleh karena tidak menemukannya, sebagian orang akhirnya mengendalikan napas. Membuat napas ini kasar, kemudian ia bisa merasakan sensasi napas tersebut.

Dalam berusaha untuk merasakan sensasi napas, ada juga yang menghitung berapa lama ia menarik nafas, berapa lama menahan, dan berapa lama mengeluarkannya. Tujuannya adalah membuat perhatian kita dengan ketat tertuju pada napas sehingga tidak memberi kesempatan pikiran berkelana untuk muncul.

Meskipun cara ini bisa digunakan, tetapi jika pikiran kita masih terlalu kasar akan lebih alami dan lebih efektif bila kita menggunakan obyek perhatian yang kasar. Mengatur nafasa sehingga nafas yang seharusnya halus ini tampak kasar adalah memaksakan sesuatu yang tidak pada fungsinya. Seperti memukul paku menggunakan gagangnya, bukan kepalanya.

controling_breatheJika kita mengendalikan napas, setelah duduk kadang anda merasakan dada menjadi pengap seperti orang yang sesak napas. Jika dilanjutkan kepala bisa menjadi tegang karena kita kekurangan oksigen. Sebagian orang saat bermeditasi dengan mengatur napas, ia menjadi tegang dan tidak bisa berkembang. Oleh karena saat pikiran mulai fokus dan relaks, irama nafas ini secara alami akan menjadi lembut. Jika seseorang mengatur nafas, metode yang digunakan seringkali malah membuat pikiran tidak bisa relaks dan mengendap karena metode yang digunakan memang pada dasarnya membuat nafas yang seharusnya lembut menjadi kasar.

Jadi sebagian orang malah bertahan pada sifatnya yang kasar karena ingin mempertahankan metode. Jadi kita harus tahu, jika kita punya kondisi seperti ini maka kita harus menyelaraskan metode dengan benar. Oleh karena metode ini baik, tetapi cara penggunaan kita terhadap metode yang bermasalah.

Perhatian ke napas melalui relaksasi

Point yang penting dalam menggunakan metode adalah proses meditasi kita harus berjalan natural, alamiah. Perhatian ke napas yang alamiah adalah napas datang dengan sendirinya ke kesadaran kita, bukan kita yang berusaha mendatangi napas. Kondisi ini bisa dicapai bila kita menggunakan metode relaksasi untuk menyelaraskan napas kita.

Pertama-tama kita atur postur duduk kita dengan benar. Lalu setelah duduk dengan postur benar, kita mulai  merelakskan tubuh. Saat merelakskan, kita melakukan relaksasi per bagian tubuh sesuai metode. Setelah relaksasi per bagian di jalankan 2-3 kali (tiap orang punya kebutuhan yang berbeda), anda merelakskan seluruh tubuh, menyadari keseluruhan tubuh.

Mungkin anda akan menyadari bahwa batin belum mampu untuk menyadari tubuh secara keseluruhan dengan jelas. Namun, asalkan tetap melakukan relaksasi lalu menyadari setiap bagian tubuh, bila postur tubuh sudah benar dan cukup tenang, secara alami anda akan menyadari ada sedikit pergerakan kecil di tubuh kita. Gerakan yang halus ini adalah pernapasan kita.

breathingDalam menyadari napas, sebagian orang tidak langsung menyadari napas di ujung hidung. Setelah kita duduk dengan baik, seluruh tubuh relaks, lalu membawa perhatian ke keseluruhan tubuh, terkadang perhatian kita tertuju ke tubuh bagian dada yang bergerak naik turun. Ada juga yang menyadari kembang kempisnya napas di bagian abdomen atau diafragma. Gerakan ini terjadi karena paru-paru yang terisi udara mendesak sekat antara dada dan perut sehingga perut bagian atas jadi bergerak. Kita akan merasakan napas di bagian dada bila pernapasan kita lebih dangkal dan kita akan merasakan di bagian perut bila pernapasannya lebih dalam.

Jika anda menyadari dengan cara demikian, maka prosesnya terjadi dengan sangat alamiah. Tidak dibutuhkan usaha untuk mencari napas. Napas dengan sendirinya muncul dalam kesadaran anda. Saat itu, kondisi batin anda sudah lebih jernih dan napas anda juga sangat natural. Setelah itu perlahan-lahan, kita bawa perhatian ke ujung hidung.

Jadi sebelum menggunakan metode napas ini, anda harus merelakskan tubuh terlebih dulu. Setelah merelakskan bagian-bagian tubuh, kita mengamati keseluruhan tubuh dan secara alami menyadari adanya napas.

Namun, jika belum sampai pada kondisi relaks, kita sudah mengamati napas. Dengan demikian ketika kita ingin menfokuskan perhatian pada napas, perlu menggunakan usaha atau anda menjadi mengendalikan napas. Jika anda mengendalikan napas atau memaksakan diri untuk memperhatikan napas kita menjadi tegang. Sedikit saja anda tegang di bagian tertentu, bagian yang lainnya akan ikut tegang. Ada sebagian orang matanya menjadi tertutup rapat dan tegang karena dia menggunakan usaha untuk memperhatikan napas. Akhirnya bagian disekitar rongga mata menjadi tegang.

Jika ada yang saat bermeditasi memperhatikan napas bagian kepala akan menjadi tegang, setelah selesai sesi meditasi merasa sangat capek, itu tanda bahwa penerapan metodenya tidak benar. Anda belum relaks. Namun, jika kita sudah duduk dengan benar; melakukan relaksasi dengan memindai tubuh dua-tiga kali; sesudahnya perhatikan keseluruhan tubuh; lalu anda secara alami menyadari kembang-kempisnya perut; kemudian fokuskan perhatian pada napas di sekitar ujung hidung; amati napas, maka saat itu napas menjadi sangat alami, tubuh sangat relaks, pikiran juga dengan sangat relaks berfokus pada pernapasan di ujung hidung.

Anda sama sekali tidak memaksakan diri, sebaliknya pikiran anda bisa fokus dengan alami. Kita pun sudah mulai dan terus lanjut mengunakan metode ini untuk bisa berkonsentrasi. Terus melanjutkan penerapan metode ini sehingga metode tersebut menjadi semakin bertenaga dan bisa terus diterapkan. Kita mempertahankan perhatian terpusat di sana, lalu kita bisa menggunakan hitungan napas untuk membantu mengamati keluar masuknya napas dengan jelas dan natural.

Jika saat memperhatikan napas, anda merasa kesulitan, pikiran anda lari kesana kemari sehingga anda berkali-kali lupa pada nafas anda, itu pertanda bahwa anda belum siap memperhatikan napas. Pikiran anda masih kasar. Sebaiknya anda kembali ke relaksasi tubuh. Jika relaksasi juga sulit dilakukan, anda bisa memperhatikan posisi tubuh, jika memperhatikan posisi tubuh juga sulit dilakukan, anda bisa melakukan meditasi jalan. Ini lebih baik ketimbang membuat napas menjadi kasar dengan cara mengendalikan napas.

Source : http://meditasizen.com

Oleh: Gusti Sudiartama | Oktober 16, 2014

Konsep Ketuhanan Dalam Daksina Linggih

Pendahuluan

Dalam Pandangan Veda, agama Hindu meyakini bahwa Tuhan itu bersifat Monotheisme Transendent, Monotheisme Imanent, dan Monisme. Monotheisme Transendent, yaitu tuhan yang digambarkan dalam wujud yang Impersonal God (Tuhan yang tidak berpribadi).Tidak ada satu kekuatan apapun yang dapat menjangkauNya (Acintya) Monotheisme Imanent, yaitu penggambaran Tuhan sebagai Personal God (Tuhan yang berpribadi), dalam hal ini tuhan telah memiliki sifat, seperti; maha pengasih, maha penyayang, maha tahu dan sebagainya.

Dalam konteks penulisan ini penulis mencoba akan mengkaji Konsep Tuhan yang Imanent (Personal God), dan salah satu wujud dari tuhan itu digambarkan melalui simbol-simbol, seperti Daksina linggih sebagai salah satunya. Dalam Bhagavadgita, ada dijelaskan “ bahwa pemujaan Tuhan dengan menggunakan media jauh lebih mudah dan efektif dibandingkan dengan memujaNya tanpa media”. Karena dapat dilaksanakan oleh semua lapisan masyarakat, sebagai bentuk puja bhaktinya.

Pokok-pokok ajaran agama Hindu didasarkan atas berbagai tradisi. Di dalam bahasa kawi atau bahasa sanskerta pelaksanaan ini disebut drsta atau acara. Kebiasaan atau tradisi ialah tingkah laku manusia baik perorangan maupun kelompok masyarakat yang didasarkan atas suatu kaidah-kaidah hukum yang ajeg. Biasanya kaidah-daidah ini diikuti berdasarkan apa yang telah berlaku atau dilakukan oleh orang-orang tua yang dianggap sebagai sesepuh atau tingkah laku para Maharsi, atau orang-orang terkemuka yang merupakan tokoh-tokoh agama Hindu yang dianut mereka. Berdasarkan bentuknya sumber drsta atau acara ada yang bersumber pada kitab-kitab suci dan kitab-kitab agama Hindu lainnya yang dianggap suci.

Tingkah laku yang berdasarkan kaidah-kaidah tertulis di dalam kitab suci disebut menurut Sastra Drsta. Sebaliknya kaidah-kaidah yang diikuti berdasarkan kebiasaan yang tidak bersumber pada kitab suci melainkan berdasarkan kebiasaan-kebiasaan tempat setempat disebut loka drsta atau desa drsta. Loka Drsta ini lebih lazim disebut desa-acara (desacara). Desa ini dibeda-bedakan antara kula drsta (kula acara) dan warna acara. Kula acara ialah kebiasaan-kebiasaan yang diikuti oleh sekelompok keluarga dan merupakan tradisi keluarga. Dengan demikian di dalam satu daerah terdapat beberapa tradisi yang mungkin berbeda antara yang satu dari yang lainnya. Varna Acara yaitu tradisi yang diikuti oleh kelompok-kelompok masyarakat tertentu. Kelompok masyarakat ini secara tradisional disebut kelompok kasta atau di dalam ilmu sosial kelompok ini disebut kelas masyarakat (soscial group) menurut kekaryaannya. Menurut agama Hindu, kedua jenis drsta ini diakui adanya dan merupakan sistem sosial yang mengakibatkan individu dengan kelompoknya sebagai satu masyarakat yang disebut Dharma Santana, yaitu masyarakat yang hidupnya diatur berdasarkan Dharma atau Sanatana Dharma. Sanatana Dharma adalah nama lain untuk agama Hindu. Sanatana Dharma inilah nama asli Hindu. Adapun nama Hindu yang sekarang lazim dikenal di dunia ilmu dan telah dipergunakan sendiri karena nama itu diberikan oleh orang yang bukan Hindu. Nama itu diberikan kepada kelompok masyarakat yang memiliki agama dan tradisi Dharma itu. Karena mula-mula ajaran Dharma itu berasal dari lembah sungai Indrus (Sindhu), salah satu sungai yang besar yang terdapat di Pakistan. Ajaran Dharma itu dikenal dengan nama Indrus Culture atau kebudayaan lembah sungai Sindhu (Indus).

Di dalam pengucapan, perubahan lafal “S” ke “H” mempengaruhi ejaan Shindu menjadi Hindu yang kemudian ditulis Hindu hingga sekarang. Jadi istilah ini berasal dari penamaan orang luar.

Ajaran Dharma atau Sanatana Dharma yang sekarang kita kenal dengan Nama Hindu, berdasarkan pokok-pokok ajaran dan kaidah-kaidah beserta ibadahnya pada Drsta, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Kaidah-kaidah yang tertulis itu merupakan kaidah pokok yang mengatur apa yang harus dilakukan atau dihindari, apa yang baik dilakukan dan yang tidak baik dijalankan, yang dianjurkan dan ada pula yang bersifat umum dengan janji akan memperoleh pahala kalau dilakukan atau tidak dilakukan. Ajaran ini sangat luas dan banyak. Semua kaidah itu diajarkan dengan maksud tertentu yang merupakan tujuan atau hakikat dari hidup beragama. Tujuan ini secara definitip ditegaskan di dalam ajaran dharma (agama Hindu). Karena kepercayaan (Sraddha) inilah maka masyarakat Hindu menganggap bahwa Daksina Linggih dalam suatu sarana upacara ritual keagamaan yang berlangsung di masing-masing tempat suci (Pura) sangat diyakini sebagai perwujudan Tuhan yang akan disembah. Maka konsep ketuhanannya sangat kental pada masyarakat Hindu, khususnya agama Hindu di Indonesia.

Karena sifat keimanan di dalam agama bersumber dari sabda apakah itu wahyu atau dikatakan oleh orang terpercaya, karena itu agama adalah mencakup aspek agama pramana. Keimanan ini sangat luas dan dikembangkan terus. Keimanan ini ciri khas dari suatu agama. Agama diwarnai oleh sistem keimanannya. Keimanan disebut Sraddha. Bangunan suatu agama diwarnai oleh sistem keimanannya. Salah satu yang menonjol di dalam agama Hindu adanya ketentuan yang menganjurkan untuk memperkembangkan pokok-pokok keimanan itu. Pengembangan ini mempunyai konskwensi berkembangnya dan meluasnya isi keimanan, disesuaikan menurut adat dan tradisi setempat. Sraddha sebagai kepercayaan dirumuskan sebagaimana terbaca di dalam Atharvaveda XII,1.1;

“satyam brhad rtam ugram diksa, tapa brahma yajna prthivim dharayanti;
“sesungguhnya satya brhad rtam ugram diksa, tapa brahma dan yajna yang menyangga dunia”

Dengan sloka itu maka dijelaskan bahwa dunia ini ditunjang oleh Satya Rta, Diksa, Tapa Brahma dan Yajna. Adapun dharma yang menyangga dunia terdiri dari Satya Rta, Diksa, Tapa Brahma dan Yajna itu sehingga dengan demikian keenam unsur itu merupakan dharma yang memelihara kehidupan ini. Dalam Yayurveda XIX, 30 dan 77 yang mengatakan:

Sraddhaya Sathyam Apyate (dengan Sraddha orang akan mencapai Tuhan). Ssraddham Sathye Prajaptih (Tuhan menetapkan, dengan Sraddha menuju kepada (Sathya).

Dalam uraian lainnya dapat pula kita jumpai ketentuan yang mengatakan:

“Vratena diksam apnoti, Diksayapnoti daksinam, Daksinam sraddham apnoti, Sraddhaya satyam ayate”

Dari uraian itu, jelas bahwa Sraddha mempunyai kedudukan dan fungsi tertentu di dalam agama Hindu. Dengan berpedoman pada Sraddha itulah berbagai dasar pengertian keagamaan agama Hindu akan dapat dijelaskan. Karena itu Sraddha adalah kerangka dasar yang membentuk berbagai ajaran di dalam agama Hindu yang perlu diyakini dengan penuh pengertian.

Bentuk, Mutu, dan Fungsi Upakara Daksina Linggih

Daksina Linggih mempunyai bentuk yang sangat artistik, yang dibuat dengan menggunakan bahan-bahan pilihan yang terbaik sesuai dengan tujuannya, yaitu untuk persembahan dan sekaligus untuk disembah sebagai simbol Hyang Widhi/ Tuhan Yang Maha Esa. Mutu Daksina Linggih ditentukan oleh cara pembuatannya, bahan-bahan yang dipergunakan diharapkan menggunakan bahan yang bermutu dan cara membuatnya dilandasi dengan pikiran yang suci.

Mutu upacara yajna: Dalam pustaka suci (Bhagavadgita XVII.11-13) disebutkan ada tiga sifat yajna yaitu:

Yajna yang bersifat sattvika ialah yajna yang dilaksanakan menurut petunjuk kitab-kitab suci, yang dilakukan tanpa mengharapkan pahala dan percaya sepenuhnya bahwa upacara ini dilaksanakan adalah sebagai tugas dan kewajiban. Upakara yajna ini dapat dikatakan sattvika jika dalam pelaksanaannya terdapat unsur-unsur yang melengkapi seperti, sraddha yaitu penuh dengan tuntunan sastra, mantra yaitu ada sulinggih yang memuput, ada gita yaitu kidung-kidung suci yang dikumendangkan, ada daksina yaitu pemberian kepada yang memuput upakara, nasmita yaitu tidak ada unsur pamer, lascarya yaitu dilakukan dengan ketulusan hati dan anasewa; ada jamuan makanan kepada pemedek yang hadir. Jika semua ini terpenuhi barulah yajna bisa dikatakan sattwika.

Yajna yang bersifat rajasika: ialah yajna yang dilaksanakan dengan penuh kemegahan, hanya semata-mata menonjolkan kemampuannya atau keakuannya.

Yajna yang bersifat tamasika yaitu yajna yang dilaksanakan tidak melalui aturan, tanpa mantra, tanpa daksina, tanpa menghidangkan makanan dan tanpa keimanan.

Penggunaan Daksina dalam Upacara Deva Yajna.

Dalam Pujawali atau Piodalan di Pura Agung Tirtha Buana selalu menggunakan sarana Daksina Linggih sebagai simbol untuk pemujaan Yang dimaksud dengan penggunaan daksina di sini adalah peran serta fungsi daksina itu sendiri dalam upacara Deva Yajna. Mengingat penggunaan daksina dalam upacara Deva yajna cukup banyak, baik jumlah maupun jenisnya dan hampir setiap upacara Dewa yajna menggunakan daksina, maka penulis akan mencoba untuk memaparkan sesuai dengan keterbatasan kemampuan, kegunaan daksina dalam upacara Deva Yajna saja, yang sesuai dengan penelitian dan kajian yang telah ditetapkan, dengan harapan dan tujuan tidak akan terjadikesalahan pemaknaan. Ada beberapa fungsi Daksina Linggih dalam upacara, yaitu:

Daksina Lingggih/pralingga atau Tapakan yang berarti Sthana Yang artinya tempat duduk. Hal ini dapat kita jumpai pada waktu kita melaksanakan upacara Dewa yajna yaitu disebut upacara nedunang Bhatara. Upacara ini adalah merupakan upacara permohonan kehadapan Ida Bhatara (Deva sebagai manifestasi Hyang Widhi) agar beliau berkenan turun hadir di pura tersebut sedang melaksanakan pujawali/ piodalan, untuk memberikan waranugraha, menerima an menyaksikan pelaksanaan upacara yajna yang berupa persembahan oleh umatnya. Adanya istilah Ida Bhatara Tedun (turun) ke pura adalah karena keyakinan umat Hindu bahwa alam Dewata yang suci itu berada di atas alamnya manusia yakni di alam Svah Loka (sorga).

Upacara Ngenteg Linggih, ialah upacara mensthanakan Ida Bhatara pada Daksina pelimggih yang telah dipersiapkan sebelumnya dan sekaligus memohon perkenan beliau untuk berada atau duduk di Pelinggih (bangunan suci) masing-masing. Melalui upacara Nedunang dan Ngelinggihan ini nejadikan umat Hindu semakin mantap dapat merasakan kehadiran Hyang Widhi dalam rangka menyaksikan dan menerima yajna dari umatnya.

Daksina Linggih tempatnya disebut bedogan yang terbuat dari janur. Kemudian bedogan tersebut dialasi wakul/ bakul dari bambu yang bentuknya menyerupai selinder, di samping wakul dari bambu masih diberi alas bokor, yaitu sebuah tempat yang menyerupai mangkok yang terbuat dari emas, perak atau bahan dari logam lainnya. Selanjutnya diberi serobong yang terbuat dari daun janur atau ental (daun lontar), adapun gegantusan isinya terdiri dari tampak, beras, benang tukelan, kelapa, , pesel-peselan, bija ratus, pisang, telur itik, uang kepeng, khusus untuk daksina linggih/pralingga selain uang kepeng yang ditempatkan di kojong, juga menggunakan uang kepeng yang diikat sedemikian rupa sehingga membentuk lingkaran, jumlahnya 225 buah untuk landasan bawah yang disebut lekeh.

Delengkapi dengan canang payasan yang tempatnya berbentuk segi tiga (ituk-ituk) dilengkapi dengan porosan, merupakan unsur terpenting yang dibuat dari daun sirih, irisan pinang, dan kapur. Ketiga bahan ini digabung menjadi satu diikat denga janur, lalu di atas porosan ini diberi bunga segar dan harum. Bagian luarnya yaitu bedongannya diberi wastra (kain putih kuning seperti layaknya kita memakai kain).

Daksina Linggih ini dilengkapi dengan peperai/ wajah/ muka, bisa terbuat dari janur yang menyerupai cili (berbentuk kipas) atau daun lontar yang dibuat sifatnya permanen dengan maksud bisa disimpan dan dapat dipergunakan pada waktu kesempatan lain. Model atau bentuknya bisa dibuat bermacam-macam sesuai sesuai dengan seni yang membuatnya.

Untuk peperai (bentuk/ wajak/ muka) ini bisa juga dibuat dari bahan kawat, bentuk ini pada kelompok upakara dikenal dengan nama dendeng ai. Bentuk lain dari pererai ini bisa juga dibuat dari lempengan kayu cendana, lempengan logam seperti perak, emas, yang mengembil bentuk lebih riil, yaitu dibuat atau dilukis seperti muka manusia ada mata, alis, mulut dan sebagainya. Kemudian dihias dengan menambahkan bunga-bunga segar yang berwarna putih kuning atau bunga yang dibuat dari emas atau perak. Dengan tambahan kain atau wastra, pererai yang dihias membuat Daksina Linggih berbeda dari daksina alit/ kecil pada umumnya dalam penampilannya. Daksina Tapakan/Linggih pada umumnya dipergunakan pada waktu ada pujawali/ Piodalan di pura-pura. Biasanya daksina ini diletakkan di depan padmasana atau pada bangunan suci di pura yang sedang melangsungkan upacara piodalan.

Daksina sebagai simbol Hyang Tunggal/ Hyang Guru:

Membuat sarana perlengkapan daksina yang begitu lengkapnya sehingga dianggap cukup untuk mewakili isi seluruh alam semesta yang ada. Maka dengan demikian daksina diartikan sebagai satu kesatuan dan sekaligus sebagai simbol Hyang Tunggal atau Hyang Guru sebagai manifestasi dari Deva Siva sebagai penguasa alam semesta ini.

Daksina sebagai sarana persembahan dalam upacara Yajna:

Daksina adalah sarana perlengkapan yang paling penting dari beberapa jenis upacara Yajna. Sebesar dan semegah apapun pelaksanaan upacara Dewa Yajna, tanpa menggunakan sarana daksina, maka upacara itu belum dianggap sempurna karena menggunakan daksina dianggap sebagai media untuk mendekatkan diri dan mewujudkan kuasa Tuhan, agar tercipta hubungan manusia sebagai bakta yang akan menyembah Hyang Widhi/ Tuhan Yang Maha Esa yang akan disembah.

Daksina sebagai cetusan rasa terima kasih:

Daksina dipersembahkan oleh para baktanya, untuk menyampaikan rasa angayubagia kepada Hyang Widhi beserta manifestasiNya, karena apa yang dimohon bakta dalam melaksanakan dharmanya sehari-hari sebagai umat Hindu mendapatkan sesuai yang diinginkan. Fungsi lain dari daksina ini adalah sebagai sarana untuk media menyempaikan terima kasih kepada para sulinggih atau para pinandita yang ditugaskan untuk melaksanakan/ memuput upacara, juga sebagai bukti rasa bhakti para umatnya disatu sisi merupakan bentuk pelayanan para pandita dan pinandita kepada umatnya.

Daksina untuk memohon keselamatan

Sebagai manusia yang sangat menyadari bahwa jauh dari sempurna, sehingga manusia tidak akan luput dari kesalahan/ khilap serta segala kekurangan-kekurangan, kesalahan dan lupa karena keterbatasan pikiran maka perlu melaksanakan permohonan keselamatan. Khususnya bagi para tukang banten (Serati Banten) kehadiran banten daksina sebagai Sthana Hyang Widhi mutlak sangat diperlukan. Hyang Widhi sebagai manifestasiNya Sang Hyang Devi Tapeni/ Bhatari Tapeni (Devanya Serati Banten) untuk memohon bimbigan keselamatan, dalam melaksanakan pembuatan banten untuk upacara Deva Yajna tidak sampai melakukan kesalahan akibat keterbatasan pikiran seperti, kelupaan. Kebingungan dan lain sebagainya. Para Serati Banten biasanya jika akan membuat sarana bebantenan untuk upacara/ upakara maka akan meletakkan daksina disertai perlengkapan banten yang lain diletakkan di mana sudah disiapkan tempat banten/ pelangkiran di mana para Serati Banten akan bekerja untuk membuat banten. Daksina tidak saja diperlukan oleh Serati Banten, tetapi juga bagi tukang-tukang lainnya seperti tukang unagi bangunan, tukang terang, tukang membuat gayah, tukang gamelan, tukang ukir dan lain-lain yang semua tujuannya untuk ngaturang piuning supaya dalam melaksanakan tugasnya mendapat bimbingan dan keselamatan oleh Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa.

Daksina sebagai Upasaksi (Lambang Hyang Guru):

Pengertian upasaksi terdiri dari dua suku kata, yaitu upa dan saksi, upa dapat diartikan sebagai perantara dan saksi dapat berarti mengetahui. Jadi upasaksi dapat mengendung pengertian sebagai sarana untuk diketahui atau mempermaklumkan, dalam hal ini kepada Hyang Widhi dengan manifestasiNya. Tempat untuk menghaturkan banten upasaksi biasanya dibuat khusus yang diberi nama Sanggar Upasaksi, Sanggar Surya atau bisa juga Sanggar Tawang tergantung besar kecilnya upacara yang dilaksanakan. Sanggar Tawang bisa juga disebut Sanggar Agung biasanya dibentuk bangunan temporer dari bambu petung atau batang pinang yang sudah dikupas terlebih dahulu.

Bentuknya dibikin sederhana ruang atas yang dibagi menjadi tiga ruangan, apabila memakai satu ruangan maka disebut Sanggar Surya. Maka sesuai dengan namanya, maka Sanggar Tawang berarti sthana di angkasa, dan fungsinya adalah untuk mensthanakan Hyang Widhi sebagai aspeknya, sebagai Sang Hyang Catur Lokapala atau Hyang Tri Murti. Oleh umat Hindu sangat diyakini bahwa sthanaNya yang abadi berada di luhuring akasa (di atas angkasa).Setiap aktifitas ritual umat Hindu dari pelaksanaan upacara yang sederhana (nista) sampai ketingkatan upacara yang besar (utama) senantiasa dibuatkan Sanggar Surya atau Sanggar Tawang untuk memohon kehadiran Hyang Surya guna menyaksikan ketulusan hati umatnya yang sedang melaksanakan upacara/ Yajna.

Sebagai upasaksi, banten daksina dijadikan sthana Hyang Widhi, apabila banten daksina tersebut diletakkan pada Sanggar Surya atau Sanggar Tawang sebagai upasaksi, maka sudah jelaslah fungsinya. Biasanya banten daksina di Sanggar Surya atau di Sanggar Tawang tidak berdiri sendiri, tetapi melengkapi atau menyertai banten-banten yang lainnya, seperti banten pejati, banten peras, banten dewa-dewi, catur, suci dan banten lainnya.

Daksina sebagai banten pelengkap.

Mengingat daksina sebagai pelengkap banten-banten lainnya seperti banten pejati, banten pebangkit, banten pulegembal, dan masih banyak lagi banten yang lainnya yang tidak penulis sebutkan satu-persatu. Hal ini disebabkan karena upacara/ upakara atau banten yang digunakan dalam suatu upacara merupakan satu kumpulan ari beberapa jenis banten yang disebut soroh dan setiap soroh hampir selalu menggunakan daksina sebagai runtutannya. Adapun kedudukan daksina yang selalu menyertai banten-banten yang yang lain adalah karena memang unsur yang terdapat dalam daksina sangatlah lengkap, selain itu daksina merupakan kekuatan atau saktinya suatu Yajna. Dengan kata lain suatu upakara Yajna akan menjadi sempurna apabila ada daksinenya. Lebih jelas kita lihat pada upacara Deva Yajna, seperti melaspas, mecaru, Ngenteg Linggih, Upacara Pujawali, Panca Walikrama dan Eka Dasa Rudra. Adapun urut-urutan rangkaian upacara yang umum dilaksanakan adalah sebagai berikut:

Upakara Ngatur Piuning memulai karya (Nuasin Karya), upakara Nuur (Mendak) Tirtha, upakara untuk Serati Banten (ngelinggihang Sang Hyang Tapini) yaitu Devanya Serati Banten, Upakara RsiBijana, Upakara Mapapada (pada Sanggar Pesaksi) yang ditujukan kehadapan Siwa Raditya dan Giripati, dan upakara di bale Pawedan. Adapun banten daksina yang digunakan disesuaikan dengan besar kecilnya upakara (nista, madya, utama). Namun umumnya pada upacara Deva Yajna dapat penulis sebutkan di atas masih kebanyakan menggunakan daksina gede atau daksina pemogpog di samping daksina pelinggih dan daksina alit.

Daksina sebagai sarana penebusan :

Daksina juga berfungsi sebagai penebusan atas kekurangan alam upakara yang dilaksanakan, terletak pada sesari/ uang. Selain itu uang sesari yang mengandung juga makna simbol ketulusan hati/ sarining manah. Ada juga yang menyebut daksina pemogpog yang mengandung makna sebagai menutup bilamana dalam melaksanakan upakara yajna ada kekurangan, maknanya hampir sama yaitu untuk penebusan.

Penggunaan Daksina Linggih sebagai pralingga di dalam memuja Hyang Widhi/ Tuhan Yang Maha Esa dilandasi oleh konsepsi Ketuhanan yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Kalau pada jaman Empu Kuturan di Bali pemujaan pada Hyang Widhi baru hanya sampai tingkat manifestasi beliau yang disebut Dewa atau Bhatara. Maka sejak kedatangan Dangn Hyang Dwijendra ke Bali pemujaan kepada Hyang Widhi bukan saja melalui Deva/ Bhatara yang merupakan prabawa atau sinar suci dari Hyang Widhi dapat diwujudkan dalam imajinasi manusia sehingga diproyeksikan wujud konkrit dalam benda suci yang disebut arca/ pratima sebagai ekspresi imaginasi abstrak manusia tentang wujud beliau. Maka arca/ pratima itu berfungsi sebagai pralingga Deva/ Bhatara.

Daksina Pelinggih adalah sebagai Pralingga Hyang Widhi yang merupakan pengganti dari arca atau pratima. Daksina Pelinggih mempunyai makna religius karena merupakan simbulnya dari Hyang Widhi atau merupakan simbolis miniatur kosmis pralingga Hyang Widhi. Hal ini dilandasi karena Tuhan bersifat Acintya yang sangat sulit dibayangkan oleh manusia, karena itu Daksina Pelinggih sebagai miniatur osmis pralingga Tuhan.

From: “wayan sudarma”
Date: Mon, January 23, 2006 5:39 pm

Oleh: Gusti Sudiartama | Oktober 16, 2014

TATANAN UPACARA MEKINGSAN DI GNI

PENDAHULUAN

Upacara Sawa Preteka Mapendem Ring Geni adalah bentuk upacara pembakaran bagi jenasah yang baru meninggal dunia, tetapi belum dapat disebut Ngaben. Cara ini ditempuh bilamana:

  1. Kekurangan biaya ngaben.
  2. Bila masih ada panglingsir sang lina yang belum diaben.
  3. Ada rencana dalam waktu dekat akan ngaben bersama keluarga lain.
  4. Sang lina tidak boleh di-pendem di pertiwi karena ketika hidup menjadi Pamangku, Dalang, dll.
  5. Untuk menghindari beberatan cuntaka karena keluarga akan mengadakan upacara Dewa Yadnya dalam waktu dekat.
  6. Sang lina berada jauh dari keluarga.

Dalam Lontar Tattwa Kepatian disebutkan bahwa status Atma dalam upacara Mapendem Ring Geni sama dengan Mapendem Ring Pertiwi di mana batas waktu untuk upacara Ngaben selambat-lambatnya satu tahun.

Jika tidak maka “kepastu” oleh Bethara Yama; tulang atau arang/ abunya akan berbadan Bhuta Cuil dan Atma menemui kesengsaraan yang mana mengakibatkan keluarganya hidup menderita.

URUTAN UPACARA DAN UPAKARA YANG DIGUNAKAN

  1. Mabersih.

Jenasah diturunkan ke pepaga yang sudah dialasi tikar dan ada bantal di bawahnya diisi jinah kepeng satakan lalu di atas sawa dipasang leluhur kain putih, pakaiannya dilugar kemaluannya ditutup (kalau laki-laki ditutup dengan kain dan daun tuwung bola, kalau perempuan ditutup dengan kain dan daun tunjung).

Selanjunya disiram dengan air, disabuni, dikramas, diberi bablonyoh putih-kuning, disiram dengan yeh kumkuman, selanjutnya mulutnya dikumuri air, disisig.

Rambut diminyaki, disisir yang rapi. Kuku dikerik dan kerikannya dibungkus daun dapdap ditaruh diteben sawa.

Menempatkan sarana-sarana: daun intaran di kedua alis, pusuh menuh di hidung, kaca di mata, waja digigi, sikapa di atas dada, serbuk bebek di atas perut, malem di telinga, daun terung bola di atas kelamin laki-laki atau daun tunjung di atas kelamin perempuan.

Kedua jempol kaki diikat benang putih, tangan sikap amusti diisi kwangen dengan uang kepeng 11, monmon mirah dimasukkan ke mulut, beberapa kwangen diletakkan di tubuh sbb.:

  • Kwangen berisi pucuk dapdap ditaruh di jidat menghadap ke bawah
  • Kwangen berisi uang kepeng 11 ditaruh di dada menghadap ke atas
  • Kwangen berisi uang kepeng 9 dan bunga tunjung ditaruh di ulu hati menghadap ke atas
  • Kwangen berisi pucuk bunga cempaka putih ditaruh di tangan kanan-kiri, kaki kanan-kiri

Sawa diperciki tirta pelukatan/ pebersihan. Setelah itu sawa digulung dengan kain putih dan tikar kalasa, dilante dan diikat kuat. Di atas pengulungan ditaruh daun telujungan dan kain putih secukupnya dan tatindih.

  1. Nyumbah.

Sawa diangkat digelindingi telur ayam mentah, lalu preti sentana masulub di bawah sawa.

  1. Persembahan.

Sawa ditidurkan di bale, dihaturi soda dan tataban. Upasaksi ke Surya banten suci satu soroh. Banten ditatabkan ke sawa, kemudian preti sentana menyuapi soda dengan daun dapdap menggunakan tangan kiri.

  1. Pembakaran.

Pada hari “dewasa” yang baik sawa diusung ke setra setelah melewati caru aperancak. Meprasawya tiga kali masing-masing: di depan rumah, di perapatan agung, di cangkem setra, dan di pamuunan.

Sawa diletakkan di atas pemasmian, lante dan penutup wajah dibuka, di atas dada sawa ditaruh banten: nasi angkeb, bubuh pirata. Kepala sawa diperciki tirta-tirta: pelukatan, pabersihan, pengentas, merajan suwun, kawitan, kahyangan tiga.

Setelah itu sawa dibakar dengan cita ageni Ida Pandita dan api biasa. Bila tulang sudah jadi arang, sirati dengan tirta panyeeb, lalu gelari caru geblagan.

Ambil kuskusan baru, semua arang tulang diambil ditaruh di atas kuskusan. Cuci/siram dengan air sampai bersih, terakhir siram dengan yeh kumkuman.

Arang tulang yang sudah bersih dibungkus kain putih diikat dan dibentuk seperti kepala manusia, dialasi bokor, dihias dengan pakaian putih kuning, destar, bunga dll. Bokor itu lalu disangkol preti sentana dan dihadapkan ke banten ayaban.

  1. Banten di Setra.

Banten di sanggar surya sama dengan diarepan Pandita yaitu suci asoroh dan pasipatan. Pengayatan ke kahyangan tiga suci tiga soroh, Prajapati suci satu soroh, Sedaan bangbang suci satu soroh. Banten tarpana terdiri dari suci satu soroh, nasi angkeb, bubur pirata.

  1. Nganyut ke Segara.

Setelah Ida Pandita selesai mapuja, dilanjutkan dengan pamuspaan dan nyumbah sang lina, matirta dan mabija, lalu yang nyangkol arang tulang bangun, mundur tiga langkah, maprasawya keliling pamuunan tiga kali, terus menuju ke segara.

Sampai di segara diadakan pemujaan kepada Bethara Baruna dengan suci satu soroh. Setelah itu arang tulang ditenggelamkan di laut. Upacara ngulapin dengan rantasan dan banten suci satu soroh.

  1. Nangkilang ke Jabaan Pura Dalem.

Rantasan dibawa ke jabaan Pura Dalem, dihaturi piuning kepada Ida Bethari Durga dengan suci satu soroh. Kemudian rantasan diampigang. Para pelayat kembali ke rumah duka.

  1. Macaru, Mapepegat, Mabeakala, Maprayascita.

Agar supaya tuntas, maka setelah acara nomor 7 langsung diadakan upacara macaru abrunbunan di rumah duka, diteruskan dengan mabeakala, maprayascita, dan mapepegat oleh semua keluarga. Dengan demikian maka keluarga sudah langsung bebas dari cuntaka.

REKAPITULASI UPAKARA YANG DIGUNAKAN

  1. Papaga, tikar kalasa, kain putih, jinah satakan, daun tuwung bola, daun tunjung, bablonyoh putih-kuning, yeh kumkuman, sisig, minyak rambut, sisir, daun dapdap, daun intaran, pusuh menuh, kaca, waja, serbuk bebek, malem, benang putih, mirah monmon, kwangen dengan: jinah 11 dua buah, jinah 9 satu, kwangen dengan bunga pucuk dapdap, kwangen dengan bunga tunjung, kwangen dengan pucuk bunga cempaka putih empat buah, lante, daun telujungan, tatindih, tali pengikat lante tiga buah, telur ayam mentah satu.
  2. Banten sorohan suci = 12, Soda = 1, Segehan aperancak = 3, Nasi angkeb = 2, Bubuh pirata = 2, Kuskusan nasi baru = 1, Bokor perak = 1, Yeh kumkuman = 1 ember, Pasipatan = 2, Caru abrunbunan = 1, Beakala = 1, Prayascita = 1, Papegatan = 1
  3. Tirta-tirta: palukatan, pabersihan, pangentas, merajan suwun, kawitan, kahyangan tiga, panyeeb, beakala, prayascita, banten, caru.
Oleh: Gusti Sudiartama | Oktober 16, 2014

Sekilas Sasana Kepemangkuan

SASANA: ETIKA DAN TUGAS PEMANGKU

  1. Pendahuluan

Bila kita perhatikan kegiatan keagamaan di Bali tidak lepas di dalamnya terkandung suatu ajaran mengenai etika, susila, upakara dan tampaknya aktivitas upakara dan upacara yang sangat mendominasi aktivitas kegiatan sehari-hari oleh umat Hindu di Bali. Dalam kegiatan tersebut diperlukan seorang yang diyakini mampu untuk memimpin upacara tersebut sesuai dengan tingkat upacara, untuk kegiatan tingkat upacara kecil dan menengah diperlukan seorang pemangku untuk mengantar pelaksanaan suatu upacara.

Dibalik hal tersebut di atas sebenarnya pemangku juga sangat berperan penting di dalam menuntun umat dalam memahami ajaran agama Hindu, dimana di jaman global dan informasi, seorang pemangku dituntut untuk bisa mampu membina umat terutama kepada generasi muda yang merupakan generasi penerus dalam pengemban ajaran agama Hindu, sehingga para generasi muda betul-betul memahami agamanya sendiri dan tidak terjerumus terhadap hal-hal yang negatif. Seorang pemangku diharapkan dapat meningkatkan kualitas penghayatan serta pengamalan ajaran agama sehingga diperlukan pembekalan yang cukup bari para pemangku maupun calon pemangku.

Melalui tulisan ini tanpa bermaksud untuk menggurui, diharapkan dapat membuka cakrawala dan menambah wawasan seorang pemangku maupun calon pemangku sehingga dapat mengetahui peran, tugas dan tanggung jawab sebagai pemangku dalam arti seorang pemangku tidak semata-mata bertugas menghaturkan upakara saja (dari satu sisi saja) tetapi yang utama adalah menuntun umat agar memahami hakikat ajaran agama Hindu.

  1. Pengertian

Pada umumnya kita di Bali mendengar kata pemangku (Jro Mangku) memang hal yang sudah biasa, namun perlu kita ketahui apakah yang terkandung tersirat dari makna kata yang terkandung didalamnya pada bagian ini kita akan bahas dari beberapa sumber yang menyebutkan makna dari kata pemangku. Menurut lontar Widhi Sastra kata pemangku diuraikan menjadi ‘Pa’, bermakna “Pastika pasti”, yang artinya paham akan hakikat kesucian, dan kata ‘Mang’ bermakna “Weruh ring titining Agama” artinya paham mengenai pelaksanaan ajaran Agama. Mengingat ‘Mang’ sebagai suku kata aksara suci Dewa Iswara atau Siwa sendiri sebagai guru niskala bagi warga desa, beliau juga dijuluki sebagai Sanghyang Ramadesa. ‘Ku’ bermakna “Kukuh ring Widhi” yang artinya teguh dan konsisten berpegangan kepada Tuhan/ Ida Sanghyang Widhi.

Kemudian dari kata Widhi, diperoleh suku kata ‘di’ yang artinya “dina” (hari), dari kata ‘dina’ diperoleh suku kata ‘na’ artinya “amertha” (sumber kehidupan) dari kata amertha diperoleh suku kata ‘ta’ artinya “toya” (air), dari kata toya diperoleh suku kayaa ‘ya’ artinya “jati jatining kaweruhan ring kahananing bhuana agung muang bhuana alit (hakikat pengetahuan mengenai bhuana agung dan bhuana alit).

Dalam Lontar Sukretaning Pamangku, dinyatakan bahwa pemangku adalah perwujudan I Rare Angon (Dewa Gembala/Pengangon) yang merupakan perwujudan dari Dewa Siwa seperti dinyatakan sebagai berikut”

‘Ikang sukretaning pamangku ring khayangan, wnang tegesin pamangku kawruhakena kang mawak pamangku ring sariranta. I Rare Angon mawak pamangku ring sariranta’.

Dalam beberapa sumber lain pengertian Pemangku berasal dari bahasa Jawa Kuno, dari kata ‘pangku’ berubah menjadi kata amangku, mangku, pinangku, kapangku, yang berarti memangku, mengangga, menopang, membawa pada kedua tangan di depan dada (Zoetmulder, 1995:750). Dalam bahasa Bali, kata ini berarti nampa, menyangga, memikul beban atau memikul tanggung jawab sebagai pelayan atau perantara anatara yang punya kerja dengan Ida Sanghyang Widhi, dengan kata lain yakni orang yang menerima tugas pekerjaan untuk memikul beban atau tanggung jawab sebagai pelayan Sanghyang Widhi Wasa sekaligus sebagai pelayan masyarakat (Suhadana, 2006:6).

Menurut Keputusan Mahasabha Parisadha Hindu Dharma Indonesia II tanggal 5 Desember 1968, yang dimaksud dengan pemangku adalah mereka yang telah melaksanakan upacara yadnya pawintenan sampai adiksa widhi, tanpa ditapak dan amari aran.

Dengan berpedoman pada sastra di atas, bahwa seorang pemangku tugas pokoknya tidak cukup memberikan pelayanan kepada umat dalam rangka menyelesaikan upacara yajna saja, pemangku juga wajib menjaga kesucian diri baik untuk pribadi maupun orang lain mengingat beliau merupakan perwujudan Siwa sekala, atau Siwaning desa pakraman, sebagai pengembala umat yang bertugas menuntun umat setiap hari dalam rangka pencarian hakikat sang diri demi terwujudnya kerahayuan jagat.

Dalam aspek yuridis formal seorang pemangku adalah orang-orang yang masih tergolong ekajati, mengingat upacara penyucian sebatas mapadengen-dengenan dan pawintenan.

  1. Hakikat Pemangku

Iki Sukretaning Pemangku:

‘iki sukretaning pemangku ring kahyangan wnang tegesing pemangku kawruhakena kang mawak pemangku ring sariranta. I Rare Angon mawak pemangku ring sariranta. Saisining bhuana agung bhuana alit ring sariranta magenah ring pangantungan hatinta ngaran. Ika ngaran I Rare Angon wruh ring sakwehing Dewa mwang maka ratuning sariranta. Mwang bhuta kala ring sariranta sami padha kawengku dening I Rare Angon.

Kunang yang ring bhuana agung ngaran pemangku, hana sunya maha rata, tan hana paran paran, paran ikang kabeh, kabeh nora hana, hana windu suwung, ika mayoga mijil ikang padma nglayang, ikang padma masarira Taya, ngaran madya asana, sang hyang malengis ngaran, sanghyang ananta wisesa ngaran Sanghyang Murtining luwih ngaran, kami nimitaning hyang kabeh, guruning hyang guru ngaran, lwirnya alit tan hana alitan, luhur tan hana luhuran, maraga bhatara Suci Suksmaning Hyang, hyang ning hyang ngaran, sakalwiring hyang kabeh sami kawengku dening Sanghyang Murtining luwih.

Anghing haywawera, bwat apadrawa denya, hana pawekasing bhatara ring pemangku, yan rawuh patatoyan Ida Bhatara ring madyapada, raris angicen bajra patatoyan, maka wruh ikang pemangku, kawit kretaning pemangku nora angagem bajra, nora wruh ring kapamangkuan, angaru-ara sira dadi pemangku, angiya-ngiya sira ngaran, kena sapaning bhatara, meh tumbuh edan, karogan-rogan, anyolong angedih-edih ring pisaga.

Yan ngastawa Bhatara aseha-seha nora turun Ida Bathara, apan sira tan eling kawit kandaning pamangku, angganggo lobha angkara, undura cara kita, kalinganya tan menget ring agamaning bhatara, tuhu sira dusun angger, Ida Pamongmong ngaran.

Iki wenang tegesing tingkahe angagem kapemangkuan, kunang yajna sregep angangge pustaka iki, tirunen sira mangku sang kulputih’.

Iki ling ning Widhi Sastra:

‘Yan hana pemangku durung adhiksa widhi muang katapak de sang Pandita Putus, tan kawenangan mabebajran, amada-mada sira mangku sang kulputih, tinemah pwa sira denira sang kulputih. Jahtasmat tan manadi jadma mwah, tan mangku ngaku mangku, yan sampun adhiksa widhi katapak dening Sang Pandita Putus, wenang sang pemangku mabebajran, mwang ngaloka pala sraya, maka walining yajna, wenang pemangku nyirating sawangsa ring pakraman. Sang mangku wenang ngawalinin yajna manut panugrahan saking Sang Nabe/Guru’.

Ling ning Kusuma Dewa:

‘Iki uttamaning pemangku, yening mangku jagat, mangku dalem ngaranya, wenang masuci purnama mwang tilem, nganggehang brata, tapa yoga, samadhi, satya ring tingkahing kadharman, mangkana tingkahing mangku jagat’.

‘Yan nora pageh ngalaksanayang kadharman, mangku sira mangku sorbet ngaran, kawenangan sira lumaku ring sor, tan kawenangan sira ngangge pustaka, kawenangan sira kabasa mangku, cantule sira nampi, dudu weruh ngaku weruh, tuhu sira dusun, salah tampen’.

‘Iki ngaran Kusuma Dewa panganggen nira sang mangku jagat, kawenangan pinaka nyuci adnyana nirmala, ngaran nare pinaka raga, bahu pinaka sirah tripada, sirah siwambha madaging tirtha, ring selaning lelata, Ongkara sumungsang pinaka candana, citta nirmala pinaka bija, sucining awak pinaka dipa, nitra manis pinaka dupa, ujar tuwi rahayu mangenakin pangrengenta, Agni ring Nabi, pinaka sekar tunjung, kucuping tangan kalih pinaka gentha, tutuknya pinaka hyang ngaran, saika tingkahing amuja, samangkana sang mangku jagat’.

‘Iki kaweruhaken tingkahing dadi mangku, wenang sor wenang luhur, sira mangku, kaya iki sira mangku kaweruhung aji, angganing sapta jati, sapta ngaran pitu, pitu ngaran pitutur, pitu ngaran putus, tus ngaran tas, tas ngaran tatas, ring daging raga sariranta’.

Ling ning Adhi Purwa Gama Sesana

‘Yan hana wwang kengin kumaweruha ri kahananing Sang Hyang Aji Aksara, yogya ngupadhayaya awak sarisanya ruhun, lumaksana tan kaharuning letuh, lamakana weruh ri jatining manusa, wenang sira mawinten rumuhun, mwang katapak denira Sang Guru Nabe, apan sira Sang Guru Nabe bipraya angupadhayaya, mwang nuntun sang sisya kayeng kawekas. Mawastu mijil saking aksara ngaranya’.

‘Yan hana wwang kengin kawruha ri kahananing sang hyang aji, tan mangupadhayaya, tan maupakara, tan matapak mwah tanpa guru, papa ikang wwong, yan mangkana Babinjat wwang ika ngaranya, apan mijil tanpa guru tan mangaskara dening niwedya, kweh prabedanya wwang mangkana, papnehnya bawak, polahnya mumpang laku, wahya kadi sato, juga kahidepannya, ri pademnya dlaha, atmanya wwang mangkana kadanda dening watek Kingkara Bala manadi entiping kawah Tambra Gohmuka, yan mangjadma mwah, matemahan ta sira sarwa Triyak Yoni, amangguhaken kasangsaran’.

‘Mne hana piteketku, yan hana wwang durung adhiksa Dwijati, haywa wehana gumelaraken Sodasa Mudra, kopedrawa ta sira denira Sang Hyang Asta Dewata, kewala amusti juga kawenang rikang wwang durung adhiksa Dwijati, ri sang arep anembah Dewa Hamreyoga aken Sang Hyang ri dalemning sarira. Mangkana piteketku ri wwang kabeh, hayma marlupa, hila hila dahat’.

  1. Jenis Pemangku

Sesuai dengan ketetapan Mahasabha II PHDI tahun 1968 disebutkan pula, bahwa yang tergolong ke dalam rohaniman dalam tingkat Ekajati selain pemangku adalah Wasi atau Pinandita, Mangku Balian, Mangku Dalang, Pangemban, Dharma Acharya. Beliau-beliau ini tidak memiliki ikatan dengan suatu tempat suci tertentu, oleh karena itu rohaniman ini dalam melaksanakan tugasnya lebih bersifat umum, seperti menyelesaikan upacara perkawinan, upacara manusa yadnya lainnya, upacara kematian dan sebagainya.

Menurut isi Lontar Raja Purana Gama, Ekajati yang tergolong pemangku ini dibedakan menjadi 12 (dua belas) jenis sesuai dengan tempat dan kedudukan beliau-beliau ini dalam melaksanakan tugasnya.

  1. Pamangku Kahyangan Tiga.

Pemangku yang bertugas di Kahyangan Tiga, seperti pemangku Pura Desa, Puseh dan Dalem.

  1. Pamangku Pamongmong.

Pemangku yang hanya bertugas sebagai pembantu daripada pemangku yang utama di suatu pura, dengan tugas pokok mengatur tata pelaksanaan dan jalannya upacara.

  1. Pamangku Jan Banggul.

Pemangku yang hanya bertugas sebagai pembantu di pura, dalam tugas-tugas mengatur sesajen, menurunkan arca, pratima, memasang busana pada palinggih, membagikan wangsuh pada dan bija kepada umat yang sembahyang. Di beberapa tempat dikenal dengan istilah sadeg, juru sunggi, dll.

  1. Pamangku Cungkub.

Pemangku yang bertugas di Mrajan Gede yang memiliki jumlah palinggih sebanyak sepuluh buah atau lebih.

  1. Pamangku Nilarta.

Pemangku pada pura keluarga atau kawitan.

  1. Pamangku Pandita.

Pemangku yang memiliki tugas muput yajna seperti Pandita, adanya pemangku seperti ini didasarkan adanya tradisi atau purana pada daerah tertentu yang tidak diperkenankan menggunakan pemuput Pandita. Sehingga segala tugas, menyangkut pelaksanaan Panca Yajna diselesaikan oleh pemangku ini.

  1. Pamangku Bhujangga.

Pemangku yang memiliki tugas pada Pura Leluhur atau Kawitan yang tergolong paibon.

  1. Pamangku Balian.

Pemangku yang melaksanakan swadharmanya sebagai balian, mengobati orang sakit.

  1. Pamangku Dalang.

Pemangku yang melaksanakan tugas / swadharmanya sebagai dalang.

  1. Pamangku Lancuban.

Pemangku yang bertugas sebagai mediator membantu dalam matuwun, untuk memohon petunjuk dari dunia niskala.

  1. Pamangku Tukang.

Pemangu yang paham ajaran wiswakarma, serta segala yang tergolong pekerjaan tukang undagi, sangging, pande, dan sejenisnya.

  1. Pamangku Kortenu

Pamangku yang bertugas di Pura Prajapati atau Pengulun Setra.

  1. Kewenangan Pemangku

Pemangku memiliki batas kewenangan yang berbeda dengan sulinggih di dalam mengantar yajna, berdasarkan keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-Aspek Agama Hindu IX Tahun 1986, yaitu:

  1. Menyelesaikan upacara rutin atau pujawali/ piodalan pada pura yang diemongnya serta mohon tirtha kehadapan ista dewata yang distanakan di pura tersebut termasuk upacara pembayar kaul/ sesangi.
  2. Bila menyelesaikan tugas kepemangkuan di luar pura yang diemong, pemangku/pinandita tidak diperkenankan muput, melainkan nganteb, dengan tirtha pamuput dari sulinggih.
  3. Dalam penyelesaian upacara, pemangku diberi wewenang, bhuta yajna sampai pancasata, ayaban sampai pulagembal, manusa yajna dari bayi lahir sampai dengan otonan biasa, pitra yajna wewenang diberikan sampai pada mendem sawa disesuaikan pula dengan catur dresta yang ada.

Menurut dalam Lontar Tattwa Dewata disebutkan kewenangan pemangku ngantebang upakara yang isinya:

‘Mwah kang wenang ngaturang pabanten de mangku juga wenang sane wruh ring kandaning dewa tur ya wruh ring utpeti, stiti, pralinaning dewa, ikang wruh ring tatwaning sad rasa, ika juga maka wnangane angasrenin haturan ring bhatara mwah sakahyangan sang haji bali’.

Bila seorang pemangku menggunakan Genta di  dalam pelaksanaan upacara disebutkan di dalam Lontar Kusuma Dewa:

‘Hana pweksing Bhatara ring pamangku Ida, yan rawuh tatoyan ring mrecapada, raris angicen bajra tatoyan, maka wruh ikang pamangku kawit kretaning bhatara. Yan nora nganggen bajra, nora weruh ring kapamangkuan angaru ara sira, dadi pamangu angiya-iya sira’.

Kewenangan pemangku menurut Lontar Sangkulputih sebagai berikut:

‘Kunang kramanira yan sampun sira abersih anuwun pada ring sang brahmana Pandita Siwa Yogiwara, wawu wenang sira angrasukaken sakbwating haji sangkulputih, yan durung samangkana, tan wenang tulah pwakita, kena sodha denira Sanghyang Weda, apan kita langgana tulah tempal ngaran’.

‘Kunang yan sira ki pamangku wawu abersih dening pawintenan olih nugrahanira sang pandita, bwatning dharma pawintenan agama, marajah sastra ring raga, wenang iki tutakena, aja nuna lewihin, apan krama wus spatika, nugrahanira Sanghyang Haji, yan tan mangkana, baya keneng dosa sira de bhatara’.

Yang disebut ‘abersih anuwun pada’ dalam hal ini maksudnya bukan ditapak oleh Ida Sulinggih, tetapi tingkat banten pawintenan dan rerajahannya yang dapat disebut Mangku Gede atau Pamangku Putus dibenarkan memakai pangastawa Sangkulputih.

  1. Tugas dan Kewajiban.

Secara rinci tugas dan kewajiban pemangku telah diatur dalam awig-awig Desa Pakraman, untuk Pamangku Kahyangan Desa. Jika Pamangku Kawitan atau Pamangku Pura Keluarga diatur berdasarkan kesepakatan pangemponnya, namun secara umum tugas dan kewajiban pemangku adalah sebagai berikut:

  1. Melaksanakan tugas kepemangkuan dengan konsisten dimana yang bersangkutan ditetapkan sebagai pemangku. Senantiasa selalu menjaga kesucian diri dan pura.
  2. Menjaga artha milik pura dan memelihara kebersihan serta kesucian pura dan segala hal yang dipandang dapat menodai kesucian pura.
  3. Menuntun umat dalam menciptakan ketertiban dan kehikmadan pelaksanaan upacara.
  4. Sebagai duta dharma yang senantiasa memberikan tuntunan kepada umat menyangkut pengembangan ajaran-ajaran agama.
  1. Sarana Kepemangkuan.

Dalam Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Aspek-Aspek Agama Hindu VI Tahun 1980 disebutkan:

  1. Busana lan upakarana pamangku.
  • Pada saat pemangku melaksanakan tugas kepemangkuannya supaya berpakaian serba putih dan tata busananya sesuai dengan etika kepemangkuan.
  • Seorang pemangku tidak dibenarkan menggunakan perlengkapan Siwa Upakarana: lungka-lungka, padamaran, sasirat, genitri gondala, sempet tripada, siwamba layaknya perlengkapan dan busana Sulinggih, seorang pemangku patut menggunakan Mangkupakarana seperti: genta, dupa sesirat kusangra, sekar, padma janur, pasepan, caratan toya anyar, menyan astinggi, sangku atau payuk anyar tirtha panglukatan, bija, tetabuhan arak berem, canting tirtha kakuluh, tatakan dulang.
  1. Kesepungan letuh dan kecuntakan.

Semua tindakan yang tidak baik dan tercela harus dihindari oleh seorang pemangku sebeb kesemuanya itu akan menyebabkan kekotoran di dunia ini hal ini telah disebutkan di dalam Bhagawad Gita XVI.21 ‘Triwidham narakasyedam dwaram nasanam atmanah, kamah krodhas tatha lobhas tasmad etat trayam tyajet’. Artinya “Ada tiga jalan menuju ke neraka, kama, krodha dan lobha, setiap orang hendaknya menjauhkan sifat yang ketiga tersebut sebab ketiga hal tersebut akan menjerumuskan kita dari tujuan hidup dan menempatkan sang atma ke alam neraka”.

Ketiga sifat tersebut di atas akan menyebabkan sifat dan perilaku kita sebagai berikut:

  1. Tri Mala:

1)      Mithya Hrdaya   : kahyune sane linyok.

2)      Mithya Wacana : linyok ring semaya.

3)      Mithya Laksana : berperilaku tidak baik (dudu)

  1. Sad Ripu:

1)      Kama     : ngulurin indriya

2)      Lobha     : loba drowaka

3)      Krodha   : setata gedeg

4)      Mada      : mamunyah

5)      Moha      : inguh lan bingung

6)      Matsarya : irihati

  1. Panca Ma

1)      Mamotoh             : senang berjudi

2)      Mamaling             : mencuri

3)      Mamunyah           : suka mabuk minuman keras

4)      Mamadat             : merokok, narkotika

5)      Mamitra               : berselingkuh

  1. Kacuntakaning Pamangku
  2. Menurut Lontar Tata Krama Pura seorang pemangku tidak kena cuntaka apabila:
  • Kalau ada salah satu krama desa, banjar atau keluarga yang meninggal yang berlainan pekarangan (tidak dalam satu pekarangan) seorang pemangku tidak kena cuntaka oleh sebab itu seorang pemangku bisa menjalankan tugas kepemangkuannya. Jika yng meninggal satu pekarangan dengan pemangku, Ki Pamangku kena cuntaka 3 hari atau lebih menurut dresta/ aturan yang berlaku di desa tersebut. Kalau ada anak putu ki pamangku meninggal, kena cuntaka tujuh hari setelah itu ki pamangku wajib aprayascita. Sedangkan seorang Brahmana Pandita tidak kena cuntaka.
  1. Menurut ketusan Lontar Widhi Sastra Swa Mandala sebagai berikut:
  • ‘Mawah yan hana kahyangan panyiwian sang ratu, yaduam prasadha ring kahyangan ika, masanding umahnia maparek, tan pabelat marga ri tekaning kapatian de mangku hageakna pprateka haywa ngaliwat salek suwenya. Yan hana halangan bhumi bhaya kinwande sang ratu dohaken anyekah wangke ika , yan prahimba marep juga same anyekah wangke, yan anti amreteka, wenang mulih ring dunungania nguni, haywa nyekeh sawa ring dunungan de mangku sasuwe-suwenia lemah ikang parhyangan sang ratu, palania sang ratu gering, reh de mangku angungku cemer. Yan doh anyekeh wangke selat marga rurung, limang dina de mangku kacuntakan dadi de mangku ulah ulih ring kahyangan, ngaturang pasucian. Yan de mangku nyekeh wangke ring umahe, salawase tankawasa de mangku ka kahyangan sapuputan sawa ika mabhasmi luwar cuntakania’.
  1. Menurut Lontar Tattwa Siwa Purana.
  • ‘Yan sampun madeg pamangku, tan kawenangan cemer, yan wenten pamangku malih ngambil rabi, ri wusnia mapawarangan, wenang sira mangku malih manyepuh, pawintenan nguni, mwah ngaturang pasapuh ring pura, mwah wadonne punika wenang nyepuh. Apan tan kari karaketan letuh, yan marabi saking paican nabe, mwang guru wisesa, kalih saking pakramane, ngaturin marabi, punika dados ngaturang pangrebu alit, ring pura-puura nente ja masasap’.
  1. Kacuntakan Mangku Istri

Mangku Istri kena cuntaka, disebabkan oleh datang bulan (kotor kain) lamanya sama seperti kebiasaan, sesudah bersih, berkeramas dan maprayascita, setidak-tidaknya matirtha panglukatan sebelum ngaturang ayah ke pura.

Menurut Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Aspek-Aspek Agama Hindu VI Tahun 1980 disebutkan:

  1. Kecuntakaan akibat melahirkan yang kena cuntaka suami termasuk rumah yang ditempati, istrinya lamanya cuntaka 42 hari, sedangkan suami lamanya cuntaka setidak-tidaknya sampai bayi kepus pungsed.
  2. Cuntaka disebabkan kelabuhan bobot (abortus), lanang istri termasuk rumahnya lamanya cuntka 42 hari setelah itu aprayascita.
  1. Larangan Bagi Pemangku.

Dalam upaya memelihara kesucian diri sebagai pemangku, berdasarkan sumber sastra yang ada, beberapa larangan yang patut dijauhi oleh seorang pemangku:

  1. Dalam Lontar Kusuma Dewa diuraikan sebagai berikut:
  • ‘Yan Hana pamangku widhi atampak tali, cuntaka dadi pamangku, wenang malih maprayascita kadi nguni upakarania, wenang dadi pamangku widhi malih yan nora mangkana phalania tan mahyunin bhatara mahyang ring kahyangan’.

Terjemahan:

“Bilamana seorang pemangku pura pernah diikat/ diborgol dipandang tidak suci pemangku tersebut, wajib kembali melaksanakan upacara penyucian seperti sedia kala, dibenarkan ditetapkan kembali sebagai pemangku bila tidak demikian akibatnya tidak berkenan Tuhan turun di pura”.

  • ‘Yan hana mangku widhi sampun putus madiksa widhi mawinten, mapahayu agung, ikanang antaka away pinendem, tan wenang ila-ila dahat, ikang bhumi kena upadrawa ikang panenggeking bhumi’.

Terjemahan:

“Blia ada pamangku pura yang telah melaksanakan pewintenan hingga tingkat mapahayu agung, tatkala kematiannya jangan dikubur, bahaya akan mengancam, kena kutukan penguasa pemerintah”.

  • ‘Aja sira pati pikul-pikulan, aja sira kaungkulan ring warung banijakarma, aja sira munggah ring soring tatarub camarayudha, saluwiring pajudian, mwang aja sira parek saluwiring naya dusta’.

Terjemahan:

“Pemangku jangan sembarangan memikul, jangan masuk ke warung tempat berjualan yang tidak diupacarai, jangan duduk di arena sabung ayam, semua jenis perjudian, dan jangan dekat dengan niat yang jahat”.

  • ‘Yan pamangku mawaywahara, tan wenang kita anayub cor teka wenang adewa saksi’.

Terjemahan:

“Bilamana pemangku bersengketa, berperkara tidak patut mengangkat sumpah dengan cor, yang patut dilakukan adalah mohon pesaksi kehadapan Hyang Widhi”.

  • ‘Samaliha tingkahing pamangku, tan kawasa keneng sebelan sira pamangku, yan hana wwang namping babatang tan kawasa sira mangku marika, tur tan kawasa amukti drewening wwang namping babatang’.

Terjemahan:

“Dan lagi perilaku menjadi pemangku, tidak dibenarkan dinodai oleh cuntaka, bila ada orang yang punya kematian (jenasah) tidak dibenarkan pemangku mengunjungi orang yang kedukaan tersebut, apalagi menikmati makanan dan minuman di tempat tersebut”.

Walaupun demikian dalam situasi dan keadaan tertentu, pemangku sering dihadapkan pada pilihan yang sulit, jika keluarga meninggal misalnya atau tanpa sengaja terlibat dengan aktivitas yang tidak terjamin kesuciannya. Lontar Sodasiwikerama memberikan jalan keluarnya, maka seorang pemangku diwajibkan mengucapkan mantra Aji Panusangan:

‘Iki Sang Hyang Aji Panusangan, ngaran, pangeleburan letuhing sarira, palania tan keneng sebelan, salwiring mageleh ring prajamandala, wenang sakama-kama apan sang hyang mantra utama, yan tasak dening ngarangsukan mantra iki, saksat mawinten ping telu, gelaraken siang latri’.

Mantra:

“Idep aku anganggo Aji Kotamah, amangsa-amungsung aku tan pabersihan, aku pawaking sera, suka kang akasa, suka kang perthiwi, tan ana aku keneng sebelan, apan aku teka ameresihin awak sariranku (teka bersih-bersih-bersih)”. 3X

  1. Dalam Lontar Tattwa Siwapurana
  • ‘Samaliha yan sampun madeg pamangku tan wenang ngambil banteng, mikul tenggala mwang lampit, tan palangkahin sawa, sarwa sato, salwiring sane kinucap cemer’.

Terjemahan:

“Dan lagi bila sudah menjadi pemangku, tidak patut mengaambil sapi, memikul alat bajak, tidak dilangkahi jenazah, binatang maupin segala yang tergolong ternoda dalam aspek keagamaan”.

Dalam Paruman Sulinggih Tingkat Provinsi Bali tahun 1992 telah diambil suatu kesimpulan yaitu: ‘pamangku tan pati pikul-pikul’, tidak dibenarkan ikut ngarap sawa, tan wenang cemer. Bila terbukti, pemangku patut melaksanakan aprayascita atau nyepuh.

  1. Brata Pemangku

Dalam melaksanakan tugas sebagai seorang pemangku, pemangku senantiasa harus melandaskan dirinya dengan selalu berpegang teguh pada sastra agama, pemangku dipantangkan untuk melakukan tindakan yang disebut dengan ‘Nyamuka’ yaitu ‘Angwikoni awaknya dewek’, artinya menjadikan dirinya selaku pandita yang sesungguhnya belum memiliki kewenangan untuk itu.

Untuk menyangga tugas yang begitu mulia itu seorang pemangku wajib melaksanakan brata disiplin yang ketat, sebagai landasan untuk mencapai tuhan, sesuai pernyataan Yajurweda XIX.35 sebagai berikut:

‘Vratena diksam apnoti, diksaya apnoti daksinam, daksina srasddham apnoti, sraddhaya satyam apyate’.

Terjemahan:

“Dengan menjalankan brata (disiplin diri) seseorang mencaai diksa (penyucian diri), dengan diksa seseorang memperoleh daksina (penghormatan), dengan daksina seseorang memperoleh sraddha (keyakinan yang teduh), melalui sraddha seseorang memperoleh satya (Hyang Widhi)”.

Lebih lanjut brata ini dijabarkan menjadi Yama dan Niyama Brata, terdiri dari:

  1. Yama Brata terdiri dari:
  2. Ahimsa                          : tidak membunuh, menyakiti makhluk lain
  3. Brahmacari                    : tekun memperdalam ilmu keagamaan
  4. Awyawahara                 : tidak pamer dan dapat mengekang hawa nafsu
  5. Asteya                           : tidak suka mencuri, korupsi, mengambil milik orang lain
  6. Satya                             : senantiasa menjunjung kebenaran, taat dan jujur
  7. Nyama Brata terdiri dari:
  8. Akroda              : mengekang api amarah, nafsu serta berusaha   mengendalikan diri.
  9. Guru susrusa       : selalu taat kepada perintah guru, serta mengikuti semua ajarannya.
  10. Sauca                 : selalu melembagakan kesucian dalam kehidupan sehari-hari.
  11. Aharalagawa       : tidak sembarang makan dimakan.
  12. Apramada          : tidak menghina, melecehkan pendapat orang lain serta mabuk terhadap apa yang dimiliki.

Secara khusus bebratan tentang kepemangkuan ini termuat dalam Lontar Tattwa Dewa sebagai berikut: ‘Pamangku tan amisesa gelah anake juang, tembe-tembe ring niskala’. Artinya: “pemangku tidak dibenarkan mengambil milik orang lain, lebih-lebih milik pura”. Hal ini mengingatkan agar para pemangku tidak rakus terhadap kepunyaan pura, seperti sesari maupun barang-barang lainnya yang dipersembahkan oleh umat.

Selanjutnya tentang bebratan pemangku dalam rangka menjaga kesucian diri ‘susila ambeking budhi’ dan menghindari perbuatan dursila maupun yang dipandang mencemari dirinya secara lahhir batin, juga ada brata lainnya disebutkan dengan brata haji kreta namanya, sebagai berikut:

‘Nihan haji kretta ngaran, tingkahe mamangku, asuci purnama tilem, ika maka wenang adenging abrata, kawasa mangan sekul, kacang-kacang garam, aywa mangan ulam bawi lonia satahun, malih abrata mangan sekul iwaknia tasik lonia solas dina, malih abrata amangan sekul iwaknia sarwa sekar lonia tiga dina, nihan brata amurti wisnu ngaran, kawasa mangan sekul iwaknia sambeda, aywa nginum toya solas dina lonia, brataning abrata ngaran’.

Terjemahan:

“inilah haji kreta namanya, perilaku menjadi pemangku, menyucikan diri purnama tilem, itulah kelengkapan melaksanakan brata, diwajibkan makan nasi, kacang-kacang, garam, jangan makan daging babi lamanya setahun, dan lagi makan nasi dengan lauk garam lamanya sebelas hari, dan lagi abrata makan nasi lauknya bunga-bungaan lamanya tiga hari, ini brata amurti wisnu namanya, dibenarkan makan nasi lauknya sembarangan namun jangan minum air sebelas hari puncak brata namanya”.

  1. Hak-Hak Seorang Pemangku.

Sebagai wujud penghargaan terhadap tugas dan kewajiban pemangku yang cukup berat, Seminar Kesatuan Tafsir Aspek-Aspek Agama Hindu VI tahun 1980 ditetapkan sebagai berikut:

  1. Bebas dari ayahan desa, sesuai dengan tingkat kepemangkuannya.
  2. Dapat menerima bagian sesari aturan atau sesangi.
  3. Dapat menerima bagian hasil pelaba pura (bagi pura yang memiliki)

Walau telah diatur seperti di atas, pelaksanaannya tetap disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat maupun awig-awig yang telah disepakati, baik yang berlaku di lingkungan suatu pura maupun desa adat, pemangku kahyangan desa menjadi tanggung jawab Desa Pakraman.

Bagi pemangku yang bertugas di luar Kahyangan Desa, mendapatkan penghargaan dan hak dari kelompok pangempon pura tempatnya bertugas sebagai pemangku, sedangkan kewajiban terhadap Desa Pakraman dan Pura Kahyangan Desa masih dibebani dalam tingkat tertentu sesuai dengan awig-awig setempat.

Sedangkan pemangku jenis Pinandita, Pemangku Dalang, Pemangku Tukang, tidak mendapat luput, karena tugasnya tidak terkait secara langsung dengan suatu pura tertentu.

Di luar dari hak yang berupa penghargaan kepada pemangku seperti tersebut di atas, berdasarkan kesepakatan maupun awig-awig pemangku sering diberi penghargaan berupa:

  1. Punia berupa pakaian setiap setahun sekali atau berupa dana/ uang dari perseorangan maupun lembaga yang sifatnya tidak mengikat.
  2. Bila meninggal, biaya pengabenan ditanggung Desa Pakraman atau pengempon pura dimana pemangku tersebut bertugas.
  1. PENUTUP

Demikianlah pemangku sebagai panutan masyarakat, patut memimpin dan menuntun masyarakat dalam melakukan upacara yajna, baik di pura maupun di masyarakat sebagai komunikator umat kepada Tuhan. Untuk itu pemangku wajib memahami ajaran-ajaran susastra suci agama Hindu yang telah ditetapkan kemudian lanjut mengamalkan dalam tugas dan kehidupan sehari-hari.
Sumber: “Modul Panduan Pendidikan Kepemangkuan” oleh: Ida Pandita Dukuh Acharya Dhaksa, Padukuhan Samiaga Penatih-Denpasar.

Older Posts »

Kategori