Oleh: Gusti Sudiartama | September 16, 2017

KERAUHAN DAN TEDUN

surya

Kerauhan atau tedun di Bali sangat dikenal dalam lingkup aktivitas budaya masyarakat Bali, karena hampir disetiap ritual keagamaan teristimewa dalam upacara dewa yadnya “kerauhan atau tedun” ini sering dijumpai. Kerauhan berasal dari kata rauh yang berarti datang sedangkan tedun juga diartikan turun atau kurang lebih datang dari tempat yang lebih tinggi.

Apakah kerauhan itu normal ? pertanyaan ini sering kali menjadi pertanyaan bahkan oleh orang Bali sendiri, terutama mereka yang ngeh dengan fenomena  kesurupan masal  atau bagi mereka yang pernah membaca ulasan tentang teori kenapa orang bisa kesurupan atau trance.

Apakah kerauhan sama dengan kesurupan/trance…. Menurut Dr. Adi Gunawan CCH, Trance atau kondisi hipnosis adalah kondisi pikiran yang secara alamiah dialami setiap individu. Dalam menjalankan aktivitas sehari-hari setiap individu pasti secara alamiah dan berkelanjutan masuk dan keluar kondisi trance. Kedalaman trance yang mereka masuki berbeda antara satu individu dengan yang lain dan juga berbeda dari waktu ke waktu. Semuanya terjadi secara alamiah dan mudah.

Tentu kerauhan tidak serta merta dapat disamakan dengan trance, kerauhan itu sendiri hendaknya dipahamai hanya dan apabila satu peristiwa terjadinya kerauhan memang dipersiapkan, memang dilakukan sebuah permohonan disertai upacara yang memadai untuk mendatangkan (mangda rauh) energi spiritual yang dikehendaki. Jadi tidak setiap orang yang tidak sadar/trance itu layak disebut kerauhan atau tedun. Semisal di pasar yang sedang dilakukan aktivitas jual beli seperti biasa, kemudian ada seseorang yang tidak sadar kemudian berteriak-teriak layaknya orang kerauhan, apakah boleh disebut kerauhan ?

Ada satu fenomena yang masih dianut oleh masyarakat Bali terutama yang nuansa budaya religius magis-nya masih sangat kental. Bahwa sebuah upacara belumlah klop kalau belum ada yang kerauhan(Sutri) yang dikenal dengan ritual nyanjan. Upacara ini seringkali dipandang sebagai sebuah pemikiran yang kurang rasional, Karena sudut pandang masyarakat tentang fenomena kerauhan itu sendiri sudah bergeser. Kalau dulu kerauhan itu dipandang sebagai sebuah peristiwa religius magis yang sangat sakral, sehingga dipersiapkan dengan sangat hati-hati layaknya menyambut kehadiran seorang raja,bahkan Dewa.

Karena apa? Karena mereka meyakini yang akan hadir itu adalah roh suci, atau Bhatara, yang sangat mereka hormati. Apakah itu benar ?  kalau dilihat dari prosesnya kerauhan itu dijaman dahulu(bahkan saat ini dibeberapa tempat di Bali) didahului acara nuur atau ngulapin. Sebelum proses ini dilakukan kalau ada yang kerauhan akan dianggap pura-pura kerauhan, jadi ibarat kehadiran yang tidak diharapkan.

Nuur atau Nyanjan itu masih tetap terlaksana dibeberapa pura di Bali, sebagai bagian yang wajib dilaksanakan agar sebuah acara piodalan itu dapat dianggap selesai. Dalam proses nyanjan ini, sebelum dilaksanakan, pemuka adat mempersiapkan tempat yang layak, biasanya di bale pengiyasan atau tempat yang dianggap suci di pura terebut. Didahului oleh Jero mangku, melakukan ritual nuur, dengan upakara minimalnya adalah suci pejati, setelah upacara ini dilaksanakan disertai dengan pependetan oleh dehe( anak anak yang belum menstruasi) atau wanita yang sudah tidak menstruasi(menopause) di depan sanggar surya. Ketika semua proses ini dilalui, sesaat kalau ada yang kerauhan( biasanya sutri/pemangku dipura tersebut), orang yang kerauhan ini akan di tuntun ketempat yang telah dipersiapkan. Pertama tama pemuka adat/ pemimpin upacara akan menanyakan siapakah yang datang ini? ( dengan Bahasa bali, “nawegang titiyang nunasang, mangdane tityang nenten ketandruhan, sira minab ida sesuhunan sane sampun ledang rauh ? puniki”). Biasanya akan dijawab oleh yang kerauhan dan disebutkanlah siapa beliau itu yang telah tedun atau merasuki orang yang kerauhan. Dilanjutkan dengan dialog-dialog yang pada hakekatnya ibarat seorang anak yang baru bertemu dengan orang tuanya, kemudian menghaturkan oleh-oleh atau persembahan, disertai dengan lontaran lontaran pertanyaan, apakah sehat-sehat saja, apakah yang dipersembakan (atau yang disuguhkan itu) bisa atau enak dinikmati. Jadi proses nuur atau nyanjan itu sangat manusiawi sebagai proses dialog dengan yang diyakini sebagai bhatara atau sesuhunan, yang setelah Beliau berkenan hadir akan disambut sangat besahaja layaknya menyambut manusia yang sangat terhormat, kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan atau dialog yang sangat manusiawi.

Namun dalam masyarakat Bali kekinian proses seperti itu banyak disalah artikan sebagai proses sia-sia. Karena mereka beraanggapan tidaklah mungkin roh suci(Dewa-Dewa) itu mau turun kemudian masuk kedalam tubuh manusia. Bahkan tidak jarang mereka ini beranggapan bahwa proses itu sangat tidak layak atau tidak perlu. Apakah sikap seperti ini keliru?

Sebuah budaya akan sangat dipengaruhi oleh pengetahuan dari manusianya, dan budaya itu akan selalu mangalami transisi sesuai dengan jamannya. Kalau dijaman dahulu masyarakat Bali sangat kuat nilai-nilai religious magis-nya bahkan letusan gunungpun disambut sebagai kedatangan Ida Bhatara, sehingga layak disambut dengan upacara disertai gembelan(peristiwa meninggalnya kuncen gunung agung dan penduduk desa, ketika letusan tahun 1963). Apakah kini sikap seperti itu akan dianggap sebagai kekonyolan ? mungkin saja.

Budaya-budaya kuno seperti itu sesungguhnya adalah budaya tradisional Bali yang sangat terkait erat dengan kesakralan Pulau Bali.   seorang Maharsi Markandya yang sangat dihormati di Tanah Jawa, ketika datang untuk pertama kali ke tanah Bali harus menelan kegagalan, karena Beliau belum ngeh dengan kesakralan Pulau Bali, ketika beliau telah kehilangan banyak pengikutnya karena wabah dan bencana beliau menerima pesan niskala tentang apa yang harus dilakukan di tanah Bali bila ingin menempati tanah Bali.  Baru ketika kedatangannya yang kedua ke Pulau Bali yang didahului dengan upacara mendem panca datu, kedatangan beliau dan pengikutnya ini bisa berhasil. Dengan contoh sejarah seperti itu, masihkah kita memandang bahwa apa yang kita lakukan di pulau Bali ini, yang kalau tidak ada di Jawa, yang kalau tidak ada di India sudah pasti keliru ?

Sudah barang tentu, tidak semua hal yang ada di Bali sudah pasti benar, terlalu absurd kalau kita sebagai manusia Bali saat ini berfikir seperti itu. Setidaknya kita mulai untuk tidak memandang sebelah mata kepada ritual ritual yang belum kita ketahui. Setidaknya kita mulai dengan mencari tahu, kenapa dan bagaimana ritual itu sesungguhnya, bukan seketika melakukan penghakiman.

Tanah Bali adalah tanah tantra yang memiliki karakteristik khas, yang memerlukan pemahaman dan pengetahuan yang memadai tentang tantra. Tanpa pemahaman yang cukup tentang tantra maka manusia Bali akan merasakan kekeringan batin, ibarat mencari air dipadang gersang, walaupun sesungguhnya sumber mata air itu telah ada, namun tidak berhasil ditemukan————-  rahajeng wengi————- Semoga kita semua dianugrahi kecerdasan…

Iklan
Oleh: Gusti Sudiartama | Januari 8, 2017

Belajar merasakan kebahagiaan

senyum.jpgBahagia adalah impian setiap orang, bahkan dalam doanya tidak jarang kebahagiaan-lah yang menjadi permohonan utama. Apakah bahagia itu? apakah bahagia itu sama dengan perasaan senang ? senang karena keinginan terpenuhi ? senang karena yang diinginkan tercapai? senang karena yang dicintai membalas cintanya?

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia bahagia adalah keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan). Jadi bahagia itu adalah sebuah keadaan atau kondisi perasaan. Bahagia adalah suatu keadaan perasaan, atau kondisi pikiran sedang merasakan keadaan senang dan tenteram.

Agama hindu memandang kebahagiaan adalah sebagai suatu proses perjalanan kehidupan yang tidak saja diarahkan untuk memenuhi kebutuhan duniawi melainkan suatu proses pencapaian tujuan yang lebih jauh yaitu tercapainya kesatuan antara Atman dengan Brahman(A.A. Raka Asmariani). Jadi kebahagiaaan menurut Hindu adalah sebuah proses menuju pencapaian pemenuhan keinginan baik duniawi maupun tujuan yang lebih tinggi yaitu moksa.

Bahagia adalah sebuah kondisi pikiran, sehingga kebahagiaan bagi seseorang tidaklah pasti sama bagi orang lain. Seseorang yang merasakan kebahagiaan karena mampu memiliki  benda benda duniawi, bagi orang lain belum tentu merasakan kebahagiaan. hal itu disebabkan oleh karena kondisi pikiran dari setiap orang belum tentu sama, sehingga persepsi pikiran dalam merasakan kebahagiaan bisa jadi tidak sama.

Banyak dari kita terkadang keliru menganggap perasaan senang itu sebagai kebahagiaan, senang karena kepemilikan duniawi pasti akan berakhir dengan kesedihan, itu adalah hukum alam, ibarat bandul semakin kuat perasaan senang karena kebendaan sedemikian kuat pula kesedihan karena kehilangan.

Dalam agama Hindu kebahagiaan bukanlah sekedar pemenuhan kebendaan(duniawi) tapi juga proses mencapai kebahagiaan surgawi yaitu Moksa. Moksa menurut agama Hindu adalah suatu kondisi ketika atma terbebas dari keterikatan terhadap triguna(Satvam,Rajas,Tamas). Kondisi ketika atma terikat kedalam pusaran triguna menurut agama Hindu bukanlah suatu kebahagiaan yang dicita-citakan, kebahagiaan yang diharapkan adalah ketika atma terbebas dari triguna.

Moksa bukanlah semata mata pencapaian atma ketika meninggal, atma juga dinyatakan mampu mencapai kebahagiaan ketika masih didunia(hidup). Ketika seseorang mampu berada dalam “ketidak terikatan terhadap benda benda duniawi” saat itulah ia merasakan kebahagiaan . Jadi kebahagiaan tidaklah monopoli orang orang yang kaya raya, seseorang yang hidup dalam kesederhanaan-pun bisa merasakan kebahagiaan. Bahkan seseorang yang kaya raya bisa jadi tidak merasakan kebahagiaan, jika  dia sangat terikat dengan milik-nya(benda-benda duniawi), alih-alih merasa  bahagia justru mereka merasakan kehampaan dan penderitaan.

Oleh karena itu kecerdasan  dan kebjiksanaan kita sangat menentukan pencapaian kebahagiaan ini. kebijaksanaan dan kecerdasan ini sudah barang tentu dapat dimiliki kalau kita mempunyai pengetahuan yang cukup, yaitu pengetahuan tentang atma dan pengetahuan tentang pengelolaan pikiran. karena ketidak terikatan atma terhadap duniawi sangat terkait dengan pengendalian/pengertian terhadap gejolak pikiran.

Jika demikian kenapa kita masih mengejar kesenangan duniawi kesana-kemari bagai orang gila ?  seolah olah telah mencapai kebahagiaan ? karena setelah pikiran terpuaskan oleh obyek obyek indria itu, pikiran kita akan merasakan kekosongan, selanjutnya pikiran akan menuntut lagi untuk pemenuhan keinginan indriawi yang lain. jadi kebahagiaan yang kita  rasakan oleh pemenuhan obyek indriawi adalah kebahagiaan yang semu(palsu) sifatnya hanya sesaat.

Namun bukan pula kita tidak perlu akan benda-benda duniawi, kita hidup dalam alam kebendaan sudah barang tentu kita memerlukan benda-benda, sudah barang tentu kita memerlukan makanan untuk kesehatan kita, sudah barang tentu kita memerlukan kendaraan untuk kita bepergiaan. Namun keterikatan kepada “makanan enak” adalah sebuah pengikatan diri, keterikatan kepada kendaraan agar kelihatan lebih dimata orang lain adalah sebuah keterikatan. Kita makan karena tubuh memerlukan makanan, “semata-mata untuk itu”, bukan karena lidah menyukai makanan tertentu kemudian kita tergoda untuk makan padahal perut kita masih kenyang. Kita membeli kendaraan karena kita memang memerlukan sarana untuk bepergian bukan karena kita ingin “tampil kaya”  sehingga kita tergoda untuk membeli kendaraan lagi padahal kita sudah memiliki kendaraan yang layak.

Jadi bijaksanalah, kita berada di alam materi(kebendaan) ketidak terikatan terhadap materi(kebendaan) sudah selayaknya  untuk kita perjuangkan karena itulah proses menuju kebahagiaan. Sikap mental seseorang yang terbebas dari keterikatan adalah ketika dia ikhlas, ikhlas akan kondisi kehidupannya. Ikhlas yang dimaksud disini adalah perasaan bebas,tidak terbebani oleh situasi/kondisi saat ini baik sedang susah maupun senang. Ikhlas yang dimaksud bukanlah sikap tidak mau tahu, menyerah kalah kepada kehidupan. Adalah konyol ketika seseorang yang tidak mempunyai uang untuk membeli beras kemudian diam saja menunggu turunnya “hujan beras atau hujan uang” dengan alasan ikhlas sehingga tidak mau berusaha, itu bukanlah keikhlasan tapi kebodohan.

Bijaksanalah…..  carilah materi(benda-benda duniawi), pergunakan ia untuk memuhi kebutuhan hidup, jangan dibalik hidup dikorbankan untuk mencari materi(benda benda duniawi). Makanlah kalau tubuh memerlukan makanan itu, bukan kita korbankan kehidupan kita untuk mengejar makanan enak.

Surwanapuspām prthiwīm bhuñjanti catwāro narāh,upāyajñaśca śūraśca krtawidyah priyamwadah
Artinya :Empat golongan manusia yang menikmati kebahagiaan hidup ini, yaitu orang yang tahu tujuan dan cara hidup, orang yang pemberani, orang yang bijaksana, dan orang yang pandai berbicara ramah dan menarik

Redite Pon Dukut 8 Januari 2017… Rahayu…

Oleh: Gusti Sudiartama | Januari 2, 2017

Sekumpul Waterfall, Wisata alam dan spiritual

sekumpul5Sekumpul, sebuah desa di kabupaten Buleleng tepatnya di kecamatan Sawan Kabupaten Buleleng. Sekumpul waterfall  bisa dicapai melalui dua desa, yaitu desa sekumpul maupun Desa lemukih, keduanya berada di kecamatan Sawan. Kalau anda datang dari arah Bedugul, untuk meuju Sekumpul waterfall ini lebih dekat melalui jalur Desa lemukih, dari kawasan puncak menuju arah Singaraja, kurang lebih 6 Km dari puncak  ada pertigaan kekanan untuk menuju Desa Lemukih, ikuti jalur ini nanti anda akan dituntun oleh penunjuk jalan menuju kawasan wisata waterfall.  sebaliknya kalau anda datang dari daerah Singaraja menuju kawasan wisata sekumpul bisa ditempuh dari arah Singaraja menuju Sangsit, kemudian sebelah timur pasar sangsit ada pertigaan ke kiri menuju Desa Sekumpul.

Baik dari Desa Lemukih maupun Desa Sekumpul, untuk mencapai kawasan Sekumpul waterfall harus melalui jalur tracking yang cukup ekstrim, anda melintasi daerah perkebunan dan persawahan kurang lebih 1,5 Km. Jangan kawatir jalan setapak sudah di beton, yang ekstrim adalah ketika anda menyusuri anak tangga beton di bibir jurang sedalam 100 meter, ditengah-tengah rimbunya pepohonan  di ditebing, anda harus menuruni anak tangga dari beton. Disinilah tantangan sesungguhnya untuk mencapai kawasan Sekumpul waterfall ini. Bagi anda yang senang dengan wisata alam “atraksi” menuruni anak tangga di lereng tebing dibawah rimbunnya hutan adalah sebuah pengalaman yang menarik sekaligus menantang. Ketika anda sampai di bawah, di kawasan wisata alam air terjun kelelahan anda akan sirna.

Kawasan Sekumpul waterfall  adalah sebuah jurang  di kedalaman lebih dari 150 meter dari desa sekitar, dikawasan ini ada tidak kurang 11 air terjun.  namun yang eksotik ada lima air terjun besar dan tinggi. Yang pertama ada di sebelah Timur jembatan, tepatnya kalau anda datang dari arah desa Lemukih di dasar jurang ketika ketemu jembatan  anda harus berbelok ke arah kanan, hanya 3 menit menyusuri tepi sungai anda akan menemukan dua air terjun besar dengan ketinggian lebih dari 100 meter yang menyatu dengan tebing alam yang sangat eksotik. Disini anda bisa mandi atau melukat sekaligus menghilangkan penat setelah menuruni tebing, sungguh sebuah karya alam yang menawan dan sangat eksotik.

Kemudian kawasan air terjun yang kedua dari tempat istirahat disekitar jembatan anda harus menempuh perjalanan kurang lebih 100 meter, menyusuri tepi sungai dan dua kali harus menyebrangi sungai dengan kedalaman selutut orang dewasa, anda akan sampai di kawasan gerombong waterfall. Disini terdapat tiga air terjun besar yang bertemu. Anda bisa bayangkan tiga buah air terjun setinggi lebih dari 75 meter bertemu  dalam satu “landscape” tersaji didepan anda. benar-benar pemdangan yang menakjubkan. Disekeliling adalah hamparan tebing alam yang masih sangat alami, dikedalaman 150 meter, sungguh suatu karya alam yang luar biasa.

Kawasan wisata alam “sekumpul waterfall” ini sungguh layak dijadikan sebagai destinasi wisata andalan di Bali utara, selain air terjun-nya yang sangat eksotik, kontur alam dan suasana jurang yang masih sangat alami membuat kawasan ini layak untuk “dijual” sebagai kawasan wisata alam dan spiritual. Hanya saja perlu dilakukan sedikit penataan akses jalan setapak dan anak tangga menuruni tebing perlu di tata agar lebih nyaman dan indah serta fasilitas umum seperti tempat ganti dan Kamar Mandi atau WC masih perlu di tambah dilokasi ini. Selebihnya biarkan alam menampilkan dirinya apa adanya.

 

Oleh: Gusti Sudiartama | November 24, 2016

Menggunakan komponen Notebook dalam Delphi Xe8

Komponen TNotebook dalam Delphi ada dalam tab palette 3.1 , yang fungsinya untuk membuat page(halaman) sehingga dalam satu form bisa diisi dengan sejumlah halaman(page). Layaknya sebuah buku dengan banyak lembaran halaman yang bisa dikelola secara mudah namun masih dalam satu form . Page(halaman) ini bisa dikombinasikan dengan komponen TMainMenu.

Ok Mari kita mulai:

Buat sebuah form  dalam delphi,pada menu File, klik New, double klik VCL forms application – delphi

nb1

set properties: Name  ,   (saya biarkan form1),

Pada palette 3.1 doble klik  ikon TNotebook,  pastikan Notebook sudah nangkring pada form1, dan pastikan sedang aktif.

nb2

Pada properties TNoteBook set Name beri nama (sesuka-mu), misal NBCoba, sesuaikan ukuran dengan cara drag atau lewat properties .

Masih pada properties klik pages, untuk memunculkan “Notebook editor” ,disini tersedia : Add,delete,edit,move up dan move down, untuk menambah halaman klik add kemudian beri nama sesuai keinginan anda,(selalu ada halaman default,biarkan saja).

nb3

 nb-editor nb-ad-page

Untuk menampilkan Notebook yang telah dibuat dan mengelola-nya  sesuai keperluan:

nb-active-page

Pada properties : active page, akan muncul nama Notebook yang telah berhasil dibuat, klik nama notebook yang ingin dikelola, maka pada form1 akan muncul page tersebut .

Silahkan ……    pages  sudah siap untuk dikelola dan diisikan komponen apa saja.

untuk menghubungkan dengan main menu tinggal double klik menu pada MainMenu yang ingin dihubungkan kemudian isi perintah

NBKoperasi.ActivePage:=’default’; == untuk meng aktifkan page default.
NBKoperasi.ActivePage:=’Coba1′; == untuk meng aktifkan page Coba1.

Tidak sulit kan……

untuk berbagi…  dan sekaligus menjadi pengingat
Oleh: Gusti Sudiartama | November 15, 2016

PURA LUHUR SRI RAMBUT SEDANA

senyum.jpgPura Luhur Sri Rambut Sedana merupakan pura tua yang berlokasi di lereng Gunung Batukaru, tepatnya di Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan. Untuk menuju lokasi Pura, dari pusat Kota Tabanan ke arah Utara, umat sedarma mengikuti jalan menuju DTW Jatiluwih, kurang lebih 40 km dari kota Tabanan. Dari DTW Jatiluwih ke arah utara disana sudah ada penunjuk jalan menyusuri jalan yang hanya cukup dilalui oleh satu kendaraan, namun jalan ini sudah di beton sehingga kendaraan akan dengan lancar sampai di lokasi pura. Namun jalan yang berkelok dan tikungan tajam mendekati pura, mewajibkan anda untuk berhati-hati. Lokasi Pura yang masih sangat alami ditengah perkebunan masyarakat di ketinggian 700 meter di atas permukaan laut, menghadirkan udara sejuk dan segar sehingga kepenatan anda akan sirna ketika sampai di pura ini.

Pura ini diketahui telah ada sejak dulu, terbukti di tahun 1933 telah pernah dilakukan upacara ngenteg linggih, pada tahun 2004 ketika dilakukan pemugaran ditemukan ribuan uang kepeng kuno di lokasi pura juga memperkuat hal ini. Ada yang unik, terdapat satu pohon cemara namun mempunyai dua jenis daun yang berbeda, sehingga terkesan pohon cemara itu berasal dari dua pohon padahal kenyataannya hanya satu pohon.

Pura Luhur Sri Rambut Sedana diyakini sebagai tempat untuk memohon anugrah kemakmuran dan kemuliaan, dilihat dari etimologi kata Sri berarti cantik,subur,makmur, juga kemuliaan sedangkan se-dana berarti memberi sehingga Bhatara Sri Sedana dapat diartikan sebagai beliau yang memberi kemuliaan atau memberi kemakmuran. Dalam Purana, Dewa yang melimpahkan kemakmuran kepada seluruh alam adalah Dewi laksmi, sehingga di pura ini diyakini sebagai tempat memuja Ida Sang Hyang widhi sebagai manifestasi Dewi Laksmi atau kalau di Bali dikenal dengan sebutan Ida Bhatara Sri Rambut Sedana.

Di Bali Sri indentik dengan padi, beras sedangkan  Rambut Sedana identik dengan uang dimana beras dan uang adalah sumber kehidupan bagi setiap umat manusia, sehingga Bhatara Sri Rambut Sedana diyakini pula sebagai beliau yang senantiasa memberi kemakmuran dan kemuliaan berupa beras dan uang.

Pura ini memiliki konsep nyegara gunung, dibuktikan dengan adanya dua pesimpangan yaitu pesimpangan Pura Batu Ngaus sebagai manifestasi Segara dan Pura Gerombong nagaloka (tengahing wana) sebagai manifestasi gunung. Didalam Agama Hindu segara dan gunung diyakini sebagai sumber kehidupan bagi umat manusia. Konsep nyegara-gunung dimaknai sebagai menyatunya Lingga(Gunung) dan Yoni(Segara), segara dan gunung sebagai sumber kehidupan(amerta) menyatu di pura ini menghadirkan amerta yang tidak pernah habis. Sehingga sangat wajar apabila pemedek dari seluruh Bali hampir setiap hari selalu datang untuk melakukan Dharma yatra dan Tirta Yatra di pura ini. Odalan di pura ini dilakukan setiap 210 hari, tepatnya pada Rahina Budha Wage Kelawu, dan dilakukan penyejeran selama tiga hari.

Keberadaan dua pesimpangan (pesimpangan Pura Batu Ngaus dan pesimpangan Gerombong Nagaloka) menjadi dasar pemikiran arkeolog dari UNUD, peneliti dari kanada dan Rusia menyatakan Pura Luhur Sri Rambut Sedana sebagai salah satu Pura Tertua di Bali, disamping ditemukannya bukti-bukti fisik di lokasi pura.

senyum.jpg

Petikan Piagam Jakarta (untuk menyegarkan ingatan kita)

……………………………..

Kemudian daripada itoe, oentoek membentoek soeatoe Pemerintah Negara Indonesia jang melindoengi segenap Bangsa Indonesia dan seloeroeh toempah darah Indonesia, dan untuk memadjoekan kesedjahteraan oemoem, mentjerdaskan kehidoepan bangsa, dan ikoet melaksanakan ketertiban doenia jang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disoesoenlah kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itoe dalam suatu Hoekoem Dasar Negara Indonesia, jang terbentoek dalam suatu susunan negara Repoeblik Indonesia jang berkedaoelatan Rakjat, dengan berdasar kepada:

  1. Ketoehanan, dengan kewajiban mendjalankan syariat Islam bagi pemeloek-pemeloeknja
  2. Kemanoesiaan jang adil dan beradab
  3. Persatoean Indonesia
  4. Kerakjatan jang dipimpin oleh hikmat, kebidjaksanaan dalam permoesjarawaratan/perwakilan
  5. Keadilan sosial bagi seloeroeh Rakjat Indonesia.

Djakarta, 22-6-1945

NKRI diproklamirkan oleh para pendiri bangsa   dengan penuh perjuangan, tetasan darah dan air mata. Ketika masih di bangku sekolah kita disuguhkan pelajaran sejarah mengenai  perjuangan pendiri bangsa, bagaimana rumit dan alotnya perdebatan diantara tokoh tokoh kala itu,  yang paling terasa hingga saat ini bagaimana  Piagam Jakarta(seperti kutipan diatas) demikian keras diperjuangkan agar di masukkan dalam pembukaan UUD 1945, perdebatan alot antara tokoh nasionalis dan tokoh-tokoh Islam saat itu. Piagam Jakarta ini sebelumnya sudah disepakati oleh BPUPKI sebagai dasar negara pada tanggal 22 Juli 1945. Pada detik-detik terakhir  tanggal 17 Agustus 1945, Mohammad Hatta didatangi oleh seorang perwira angkatan laut yang mengaku membawa aspirasi masyarakat Indonesia bagian timur (yang mayoritas Kristen dan katolik) yang keberatan terhadap isi Piagam Jakarta “dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dan mengancam tidak mau bergabung dalam NKRI.

Namun kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa berbeda,  UUD 1945 berhasil disepakati seperti sekarang ini, Piagam Jakarta dinyatakan menjiwai UUD 1945, dengan perubahan pada sila pertama yang awalnya : Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya menjadi : Ketuhanan Yang Maha Esa. Sungguh sebuah pengorbanan dan kompromi yang luar biasa dari pendiri bangsa,terutama umat Islam.

Saat ini, ditahun 2016 setelah 71 tahun NKRI diproklamirkan keinginan untuk menerapkan syariat Islam di negara ini masih kuat. Saya memandang demo anti ahok tanggal 4 Nopember 2016 kemarin-pun sesungguhnya bukan murni menuntut ahok diadili, tapi lebih dalam dari itu adalah perdebatan elit-elit nasionalis dan elit-elit Islam terutama Islam sumbu pendek  (meminjam istilah KH Anwar Zahid).  Walapun ada ormas atau kelompok masyarakat yang mengikuti demo dengan niatan yang tulus untuk membela agama,  kuat dugaan saya ada oknum-oknum yang memanfaatkan momentum ini untuk  melakukan presure kepada pemerintah yang saat ini dipersepsikan mewakili kubu Nasionalis. Muaranya nanti adalah menuding pemerintah saat ini tidak mampu mengelola pemerintahan sehingga layak untuk  diturunkan(diganti). karena bagi mereka(sumbu pendek) sejak lama NKRI ini gagal, sehingga perlu diganti menjadi negara Islam, bagi mereka itu satu-satunya harapan. Namun secara mudah hasrat untuk mendirikan negara Islam akan terbantahkan dengan sendiri kalau kita mau jujur “di dunia ini negara Islam mana yang telah sukses , yang  bertahan hingga saat ini ?, yang mampu memberikan kebaikan bagi seluruh warga negaranya? “.

Bersyukurlah kita sebagai bangsa masih diberikan jalan untuk berbenah, masih lebih banyak saudara-saudara kita yang muslim yang tidak dalam kategori “sumbu pendek”, masih ada NU, masih ada Muhamadyah yang masih teguh dengan komitmen menjaga kebhinekaan dalam bingkai NKRI sebagai amanat UUD 1945.

Munculnya “fenomena ahok” dengan kontroversi Surat Al Maidah ini, bisa jadi ibarat gunung es, kita sebagai bangsa sesungguhnya menyadari betul  fenomena ahok ini sering hadir dalam kehidupan kita berbangsa dan bernegara, namun belum ada yang berani secara terbuka “menggaungkan” isu ini untuk dijadikan pembahasan dan kajian terbuka ke ruang publik. Mungkin ini saatnya kita introspeksi diri untuk berani jujur, apa mau kita sebenarnya.

Saya tidak membela Ahok dengan membuta, silahkan proses Ahok sesuai aturan dan perundang-undangan yang berlaku namun lakukan itu dengan proporsional, tanpa tekanan. Kalau ada pihak-pihak yang menuntut Ahok dipenjara bahkan di gantung tanpa proses hukum yang jelas, apalagi dengan deadline tanggal 4 Ahok harus ditangkap, memangnya negara ini harus kalah dan boleh ditekan seenaknya seperti itu, tentu kita sebagai warga bangsa harus menentang. Kalau nanti Ahok benar terbukti bersalah tegakkan hukum, kalau Ahok tidak terbukti bersalah bebaskan dia. Hukum  harus ditegakkan bagi penghina dan penghujat agama manapun tanpa pandang bulu, walaupun oknum itu beragama mayoritas sehingga hukum memang tegak dinegara ini.

Bersyukur sekali lagi bangsa ini diberikan pemimpin seperti Bapak Jokowi yang tidak mau ditekan, saya berpandangan kalau presidennya masih yang dulu, niscaya Ahok telah ditangkap tentu dengan berbagai argumen dan rasa prihatin mendalam. Kita wajib berdoa kepada Tuhan menurut keyakinan kita masing-masing agar bangsa ini, kita semua, pemimpin -pemimpin kita diberikan tuntunan untuk menemukan jalan kebenaran menuju kejayaan NKRI yang ber-Ketuhanan yang Maha Esa.

Bravo untuk Pak Jokowi, Bravo untuk NU, Bravo untuk Muhamadyah, Bravo untuk demonstrasi yang damai walaupun diakhiri sedikit gesekan,Bravo untuk kita semua.

Oleh: Gusti Sudiartama | Maret 23, 2016

Re-inkarnasi

Dalam pemahaman agama Hindu atau penganut Agama Hindu istilah punarbhawa/Samsara tentu bukan sesuatu yang asing atau aneh, tapi bagi penganut agama lain apalagi yang tidak mempercayai bahwa ada kehidupan setelah kematian tentu sangat sulit memahami ide atau ajaran tentang punarbhawa ini.

Pada sebuah tayangan TV, sempat saya tonton sebuah film yang mengangkat tema tentang roh yang mengalami proses kelahiran kembali sesaat setelah dia meninggal dalam sebuah kecelakaan, judulnya ” Audrey Ross”, pemerannya salah satunya yang saya ingat adalah Anthony Hopkins.

Ceritanya bermula ketika seorang gadis kecil, Audrey Ross mengalami suatu kejadian aneh, yaitu mimpi buruk yang terjadi menjelang hari ulang tahunnya. Kejadian  ini sering di alami oleh gadis kecil ini,  sejak ulang tahunnya yang ke-delapan. Singkat cerita menjelang hari ulang tahunnya yang ke tiga belas kejadian seperti itu semakin parah.

Ada seorang pria yang meyakini bahwa Audrey Ross ini adalah re-inkarnasi dari putrinya yang telah meninggal 13 tahun lalu dalam sebuah kecelakaan tragis.Laki-laki ini pernah menerima pesan dari dua orang paranormal bahwa roh putrinya itu telah hadir kedunia, di sebuah tempat dengan ciri ciri yang detil, tentang rumah, kamar tidur dan situasi di rumahnya. Dan Audrey Ross sangat cocok dengan apa yang diuangkapkan oleh paranormal itu.

Ayah Audrey sangat tidak percaya dengan cerita itu, bahkan menuntut laki-laki ini dipengadilan, pengadilan akhirnya memutuskan menggunakan jasa psikiater untuk menghipnotis Audrey kecil kembali ke masa kehidupannya yang lalu,sebagai upaya mengungkap kebenaran, dihadapan hakim dan persidangan. Disinilah terungkap kebenaran dari cerita laki-laki tadi, bahwa Audrey kecil ini pernah dilahirkan sebagai putrinya, yang kemudian mengalami kecelakaan tragis bersama ibunya, sehingga keduanya meninggal dalam kecelakaan tersebut, kelahiran Audrey bertepatan sesaat setelah kecelakaan tersebut. Terungkap pula bahwa roh Audrey dalam kematiannya terdahulu sangat tersiksa terkurung dan terbakar dalam kecelakaan mobil. Audrey kecilpun akhirnya meninggal dalam penangganan psikiater dihadapan hakim dan persidangan.

Menariknya film ini mengangkat tema tentang reinkarnasi, yang diambil dari Bhagawadgita, dengan gambaran yang jelas namun tidak ada kesan menggurui, atau dakwah. Bagi kita yang mempercayai tentang kelahiran kembali tentu tidak sulit memahami alur cerita dari film ini, namun bagi mereka yang tidak meyakini akan adanya kehidupan setelah kematian akan kesulitan menerima cerita film ini.

Nilai nilai agama Hindu  tentang  Punarbhawa/kelahiran kembali, sudah dilaksanakan sebagai sebuah ritual “Pitra Yadnya ” oleh masyarakat Hindu di Bali, namun masih banyak dari saudara kita penganut Hindu  yang melaksanakan upacara pitra yadnya  belum  memahami makna dan tujuan dilaksanakannya upacara ini. Terbayang dalam ingatan saya bagaimana kalau kita mengalami musibah salah seorang keluarga kita meninggal dalam kecelakaan, sebelum proses pitra yadnya dilakukan, pastilah didahului dengan upacara ngulapin yang bertujuan memanggil roh mendiang agar tidak “gentayangan”, selanjutnya roh mendiang di upacarai “pitra yadnya”agar mendapatkan tempat dan jalan yang layak sehingga dapat kembali menjalani proses “karma”- nya dengan baik, tidak menjadi roh penasaran.Sebuah proses yang  sarat makna, mendalam, detil. Sungguh suatu “nilai local genius”  yang adi luhung namun di jaman ini banyak bergeser pada ceremonial semata, sangat disayangkan. Terbayangkah seandainya salah seorang dari anggota keluarga kita meninggal  roh nya tidak melalui ritual “pitra yadnya” yang benar, kemudian menjadi roh penasaran  ??

==== sekedar renungan===

Bagi yang sering  menggunakan hardisk eksternal, suatu ketika pernah merasakan bagaimana dongkolnya kala hardisk mendadak nggak kebaca, file yang tersimpan sedikitpun tidak terdeteksi, biasanya hadir pesan “The file or directory is corrupted and unreadable” atau kalaupun hardisknya  terdeteksi, tapi tidak bisa dibuka. Masalah ini biasanya disebabkan karena anda sering mencopot hardisk tanpa proses yang benar, tapi jangan panik, apalagi mengatasi dengan format ulang, ada cara lain.

Solusinya ada disini :

masuk ke command prompt atau klik start > Run > cmd  klik kanan, run as administrator, kemudian setelah anda berhasil masuk pada jendela command promt ketik “chkdsk drive: /F”  enter atau anda juga bisa menggunakan “chkdsk drive: /R” enter …. ganti tulisan drive: menjadi lokasi dimana partisi anda bermasalah, missal chkdsk G: /F lalu tekan enter..

tunggu sampai prosesnya selesai……  jreng file anda berhasil dibuka…

selamat mencoba…..

Oleh: Gusti Sudiartama | Maret 1, 2016

RoollBack

Setiap yang dilasenyum.jpghirkan pasti akan mati kemudian terlahir kembali demikian seterusnya, Inilah keyakinan dalam Hindu, yang disebut dengan punarbhawa/samsara. Dilahirkan ataukah terlahir dua kata yang berbeda yang memiliki makna berbeda dari sudut subyeknya. Dilahirkan berarti ada yang melahirkan, terlahir berarti tak dijelaskan/tidak penting yang melahirkan siapa atau  ada atau tidak yang melahirkan bukan soal.

Ok, hadirnya seseorang didunia ini bagi saya lebih pas menggunakan istilah dilahirkan kembali, karena dalam kata dilahirkan ada makna tentang “adanya” subyek yang melahirkan. Namun pertanyaan saya apakah seseorang/sesuatu dilahirkan kedunia ini hanyalah sebagai “buah” dari kesenangan atau keinginan untuk melahirkan ?  pertanyaan ini sering kali menghampiri, apakah  dilahirkan memang untuk satu maksud ataukah dilahirkan hanyalah sebagai “akibat dari” bukan sebagai “lahir untuk”?

Pertanyaan ini mungkin semata-mata kekonyolan pikiran, bukan sesuatu yang serius sebagaimana coding dalam delphi saya rasa, he..he..he..  Namun semakin lama semakin menambah penasaran, karena setiap pertanyaan itu muncul, selalu pula tidak terjawab oleh saya. Rasa penasaranlah yang membuat saya mencoba mencari dan mencari, setidaknya untuk mengisi dahaga hausnya batin.

Sampai akhirnya saya memiliki sebuah jawaban yang bisa diterima oleh pikiran saya, bahwa setiap manusia dilahirkan untuk suatu maksud, atau setiap kelahiran pasti mempunyai makna, jadi tidak ada kelahiran yang sia-sia. Tidak ada satu orangpun didunia ini terlahir tanpa adanya tujuan, setidaknya bagi “atma” yang bersangkutan, bahkan bagi keberlangsungan kehidupan didunia ini, setiap kelahiran memiliki konektivitas.

Kenapa ?  ya kenapa saya meyakini itu? sederhananya roh/atma dilahirkan setidaknya untuk melakukan evolusi atas kualitas ke-atma-an nya. Dalam Hindu yang saya anut, paling simpel satu kelahiran telah menjadikan atma yang bersangkutan memenuhi re-inkarnasi-nya, atau telah menjalani karmanya, yang oleh karenanya terbayarlah karmanya, walaupun kelahirannya itu hanya sedetik.

Namun jauh lebih penting, keyakinan saya menebal, bahwa setiap kelahiran harusnya dimaknai sebagai sebuah kesempatan untuk meningkatkan kualitas, yang oleh karena itu seharusnya dimaknai pula kelahiran itu sebagai sebuah kesempatan yang sangat mahal untuk melakukan sebanyak-banyaknya karma baik sehingga kualitas atma menjadi meningkat ke-atma-an nya.

Sesimpel itu ? ya setidaknya pikiran saya menerima jawaban saya yang simpel itu…

…..selamat tidur…..

Oleh: Gusti Sudiartama | November 17, 2015

Catatan Kecil 2

Memahami fenomena relegius memang sebuah keasikan dan pengalaman yang sangat personal, sehingga sangat sulit untuk berbagi kepada orang lain, bahkan dua orang  yang sama-sama menekuni spiritual pun kadang satu fenomena spiritual bukanlah pengalaman yang mutlak sama, karena sangat dimungkinkan fenomena itu menjadi berbeda bagi keduanya.

Saya menghormati sebuah pemikiran, bahwa spiritualitas bukanlah sebuah hal yang bisa dibagi-bagi  kepada orang lain, spiritual adalah  pengalaman personal, sehingga sangat dipahami satu fenomena yang sama menjadi pengalaman yang berbeda bagi orang lain. Sehingga sangat tidak dianjurkan untuk “memaksakan” sebuah pengalaman batin kepada orang lain, seberapa-pun yakinnya kita akan suatu pengalaman batin sebagai sebuah kebenaran.

Didalam ritual Agama Hindu di Bali sangat jamak ditemukan nuansa relegius bahkan suasana sakral yang dipenuhi suasana mistis. Sesungguhnya  mudah sekali merasakan fenomena spiritual dan mendapatkan pengalaman batin yang “menggetarkan” jika saja kita mau lebih “menundukkan kepala” untuk mencoba membuka cakrawala batin bahwa manusia sesungguhnya ciptaan kesayangan Ida Sang Hyang Widhi  yang diberikan kemampuan untuk mendekati Beliau, dengan cara yang sederhana yaitu, terimalah kelahiranmu sebagai satu anugrah, manfaatkan kelahiranmu sekarang ini untuk berbuat kebaikan bagi alam, atau setidaknya bagi orang terdekatmu… lakukan kebaikan dan kebaikan, jangan menyakiti orang lain, lakukan sesuatu yang berguna bagi kehidupanmu .

Namun keegoisan manusialah yang justru membuat kita menjauh dari Beliau, kita merasa pintar untuk memahami spiritual sebagai sebuah hal yang rumit dan istimewa, padahal spiritual hanyalah satu langkah kecil ketika kita mau membuka hati dan pikiran kita tentang kebaikan dan kebenaran yang sesungguhnya, bukan kebaikan dan kebenaran dogmatis yang dimuat di kitab kitab suci. Tapi Kebenaran dan kebaikan muncul dari sebuah kontemplasi kesederhanaan prilaku dan pemikiran. Kenapa saya sebut sebuah langkah kecil ? karena pintunya ada didalam diri kita sendiri, hanya dibutuhkan kesungguhan dan niat yang juga sungguh-sungguh.

 

 

Older Posts »

Kategori