Oleh: Gusti Sudiartama | Desember 19, 2017

Mengambil Nilai Spiritual Kisah Bubuksah dan Gagakaking

Konon disuatu masa, di satu tempat di kerajaan kediri, hidup dua dua orang bersaudara, yang bernama Kebo milir dan kebo ngraweg,dua bersaudara, putra dari Mpu Siddhayogi. Keduanya masih remaja belum mengenal dunia spiritual, namun keduanya tertarik dengan pola laku kehidupan pertapa, oleh karenanya mereka pergi ke sebuah pertapaan, pertapaan mandalangu, untuk mencari guru.

Ditempat itu keduanya diterima oleh seorang murid senior yang bernama hulukembang dan keduanya diganti nama kebo milir berganti nama menjadi gagaking, kebo ngraweg menjadi bubuksah. Dipertapaan ini keduanya belajar dari para guru suci dan salah satunya adalah putra sulung pemimpin pertapaan yang bernama jugulwatu.

Gagakaking dan bubuksah setelah belajar dipertapaan ini kemudian disuruh mematangkan spiritualnya dengan menjalani tapabrata di tengah hutan. Keduanya sudah berketetapan hati untuk melakukan tapa brata yoga semadi demi memperoleh pencerahan.  Gagakaking, mengambil tempat di puncak gunung disebelah barat menghadap ketimur melakukan sadhana brata suddha sridanta dan makan hanya daun-daunan, karena gagakaking meyakini makanan akan mempengaruhi pikiran, sehingga untuk menyucikan pikiran makanan harus suci, dan hanya makanan yang berasal dari tumbuh tumbuhan sajalah yang menurutnya memenuhi kreteria ini.  Gagakaking sangat tekun melakukan tapa brata yoga semadi sampai sampai badannya kurus kering karena Gagakaking memahami jalan untuk pencerahan hanya dengan hidup prihatin(ngeret indria), sekali indria dituruti dia akan merusak tapa brata yoga semadi yang telah dilakukan sebelumnya.

Sedangkan Bubuksah mengambil tempat di kaki gunung di sebelah timur menghadap ke barat,  dengan sadhana yaitu dia akan menikmati kehidupan di hutan dengan apa adanya, baginya hutan dan segala isinya adalah semata-mata untuk kelangsungan hidupnya, dan dia berketetapan hati hanya akan memakan apapun yang  masuk perangkap yang dia pasang, dia tidak berpantang tidak makan daging dia tetap memakan  daging, asal hewan tersebut masuk dalam perangkap yang dipasangnya. Bubuksah  menikmati kehidupannya dipinggir hutan dengan penuh kesadaran, tanpa pernah lupa untuk melakukan yoga semadhi, sehingga badannya tetap gemuk.

Terkadang keduanya menyempatkan diri untuk saling bertukar pikiran, dan tidak jarang gagakaking menasehati bubuksah bahwa jalan yang ditempuh bubuksah keliru karena masih makan daging, masih minum tuak, serta sepintas kelihatannya masih menikmati keduniawian, namun bubuksah tertawa ringan menanggapi nasehat kakaknya ini.

Karena tapa brata  keduanya demikian hebat, sampailah kabar tersebut ke suargaloka, sehingga Bhatara guru mengutus sang kala wijaya untuk menguji keduanya, yang manakah yang layak masuk sorga?. Sang kala wijaya mengambil wujud harimau putih, Yang pertama kali didatangi adalah gagakaking. Ketika gagakaking didatangi oleh harimau dan hendak dimakan, gagakaking menolak, karena dia merasa belum waktunya dia meninggal apalagi dia tidak pernah berfikir kematiannya di mangsa hewan buas, bukan kematian seperti ini yang dia cita-citakan dalam pertapaannya. Dia kemudian bersiasat  ” karena tubuhku kurus kering, apalah artinya bila kau makan, lebih baik kau cari adikku bubuksah, dia lebih sehat dan gemuk, lebih cocok kau mangsa !!.  Sang harimau putihpun bersedia namun dengan dengan syarat hanya bila bubuksah mau dimangsa jika tidak harimau putih tetap akan memangsa gagaking.

Berjalanlah harimau puith dan gagaking menemui bubuksah, ketika sampai di pertapaan bubuksah kemudian haimau putih mengungkapkan keinginannya untuk memangsa dirinya, bubuksah tersenyum sembari berkata dirinya bersedia dan siap, dia hanya minta waktu untuk menyucucikan tubuhnya dan melakukan japa, kemudian harimau putih dipersilahkan untuk memangsa dirinya…

Mendengar hal itu, harimau putih kemudian berterus terang sembari berkata bahwa dirinya adalah utusan Bhatara Guru, untuk menguji keduanya. Singkat ceritanya Bubuksah lolos ujian tersebut, dan diijinkan untuk ikut ke suarga loka, demikian pula gagakaking. Bubuksah disuruh naik kepunggung harimau putih, sedangkan gagakaking disuruh berpegangan di ekor harimau putih. Keduanya memperoleh tempat di suargaloka, bubuksah di suargaloka tertinggi yaitu lapisan ketujuh, sedangkan gagaking di suargaloka lapisan kelima.

Hakekat dari cerita tersebut, menurut saya adalah pencapaian kesempurnaan itu ditentukan oleh kematangan pola laku sang penekun spiritual(sanyasin),yang tidak semata mata ditujukkan dengan penampilan kasat mata dari perilaku keseharian, namun yang utama adalah kemampuan melepaskan diri dari keterikatan duniawi. Bukan orang yang setiap hari duduk semadi tekun memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa, dan tidak berbuat apa apa untuk kehidupan duniawinya karena menganggap melakukan sesuatu untuk duniawi merupakan keterikatan, itu bukanlah jaminan untuk masuk sorga. Bukan pula orang yang dalam keseharian selalu sibuk dengan urusan duniawi berarti pasti tidak akan masuk sorga.

Tidak penting pula kita berdebat cara kita untuk melakukan sadhana, apakah memilih cara dengan tidak makan daging ataukah sebaliknya, apakah dengan cara tidak bekerja atau tetap bekerja, itu hanyalah jalan yang dipilih sesuai kemantapan masing masing, bukan sesuatu yang sangat penting untuk diperdebatkan jalan mana yang paling baik, tapi justru jalan manapun yang dipilih sepanjang itu membawa kepada ketidak terikatan itulah jalan yang paling baik.

Dari cerita diatas adalah kualitas  batin masing masing penekun yang menentukan, orang yang tetap terlibat dalam keduniawian namun mampu terlepas dari keterikatan , yang mana orang ini melakukan kegiatan(swadarmanya) semata mata untuk melakukan swadarma bukan untuk motif mencari kesenangan duniawi, sebagaimana ditegaskan  dalam bhagawadgita, bukan dengan tidak bekerja, tapi bekerja dengan tidak terikat akan pahala/hasil, orang inilah sesungguhnya seorang sanyasin.

Anggaplah dunia yang penuh kemajuan dan hingar bingar ini sebagai hutan pertapaan, dimana kita yang hidup di dalamnya tetap menjalani kehidupan dengan keriangan,namun  tanpa mengikatkan diri dengan hingar bingar kehidupan duniawi, itulah makna sanyasin dijaman ini.

Apalagi kalau menampilkan diri sebagai seorang sanyasin(orang suci) namun dalam batin masih terikat akan kemasyuran,kemulian, mencari keuntungan materi secara terselubung, walaupun berpenampilan sebagai pendeta, orang seperti ini belum layak menyandang predikat sanyasin.

Anggara Pon Merakih, 19 Desember 2017

 

Iklan
Oleh: Gusti Sudiartama | Desember 15, 2017

RUNTUHNYA MAJAPAHIT

Oleh Damar Shashangka

DIRANGKUM : YOGI NADA

Majapahit adalah sebuah Kerajaan besar. Sebuah Emperor. Yang wilayahnya membentang dari ujung utara pulau Sumatera, sampai Papua. Bahkan, Malaka yang sekarang dikenal dengan nama Malaysia, termasuk wilayah kerajaan Majapahit.

Majapahit berdiri pada tahun 1293 Masehi. Didirikan oleh Raden Wijaya yang lantas setelah dikukuhkan sebagai Raja beliau bergelar Shrii Kertarajasha Jayawardhana. Eksistensi Majapahit sangat disegani diseluruh dunia. Diwilayah Asia, hanya Majapahit yang ditakuti oleh Kekaisaran Tiongkok China. Di Asia ini, pada abad XIII, hanya ada dua Kerajaan besar, Tiongkok dan Majapahit.

Lambang Negara Majapahit adalah Surya. Benderanya berwarna Merah dan Putih. Melambangkan darah putih dari ayah dan darah merah dari ibu. Lambang nasionalisme sejati. Lambang kecintaan pada bhumi pertiwi. Karma Bhumi. Dan pada jamannya, bangsa kita pernah menjadi Negara adikuasa, superpower, layaknya Amerika dan Inggris sekarang. Pusat pemerintahan ada di Trowulan, sekarang didaerah Mojokerto, Jawa Timur. Pelabuhan iInternasional-nya waktu itu adalah Gresik.

Agama resmi Negara adalah Hindhu aliran Shiwa dan Buddha. Dua agama besar ini dikukuhkan sebagai agama resmi Negara. Sehingga kemudian muncul istilah agama Shiva Buddha. Nama Majapahit sendiri diambil dari nama pohon kesayangan Deva Shiva, Avatara Brahman, yaitu pohon Bilva atau Vilva. Di Jawa pohon ini terkenal dengan nama pohon Maja, dan rasanya memang pahit. Maja yang pahit ini adalah pohon suci bagi penganut agama Shiva, dan nama dari pohon suci ini dijadikan nama kebesaran dari sebuah Emperor di Jawa. Dalam bahasa sanskerta, Majapahit juga dikenal dengan nama Vilvatikta (Wilwatikta. Vilva: Pohon Maja, Tikta : Pahit ). Sehingga, selain Majapahit ( baca : Mojopait) orang Jawa juga mengenal Kerajaan besar ini dengan nama Wilwatikta ( Wilwotikto).

Kebesaran Majapahit mencapai puncaknya pada jaman pemerintahan Ratu Tribhuwanatunggadewi Jayawishnuwardhani (1328-1350 M). Dan mencapai jaman keemasan pada masa pemerintahan Prabhu Hayam Wuruk (1350-1389 M) dengan Mahapatih Gajah Mada-nya yang kesohor dipelosok Nusantara itu. Pada masa itu kemakmuran benar-benar dirasakan seluruh rakyat Nusantara. Benar-benar jaman yang gilang gemilang!

Stabilitas Majapahit sempat koyak akibat perang saudara selama lima tahun yang terkenal dengan nama Perang Pare-greg (1401-1406 M). Peperangan ini terjadi karena Kadipaten Blambangan hendak melepaskan diri dari pusat Pemerintahan. Blambangan yang diperintah oleh Bhre Wirabhumi berhasil ditaklukkan oleh seorang ksatria berdarah Blambangan sendiri yang membelot ke Majapahit, yaitu Raden Gajah. ( Kisah ini terkenal didalam masyarakat Jawa dalam cerita rakyat pemberontakan Adipati Blambangan Kebo Marcuet. Kebo = Bangsawan, Marcuet = Kecewa. Kebo Marcuet berhasil ditaklukkan oleh Jaka Umbaran. Jaka = Perjaka, Umbaran = Pengembara. Dan Jaka Umbaran setelah berhasil menaklukkan Adipati Kebo Marcuet, dikukuhkan sebagai Adipati Blambangan dengan nama Minak Jingga. Minak = Bangsawan, Jingga = Penuh Keinginan. Adipati Kebo Marcuet inilah Bhre Wirabhumi, dan Minak Jingga tak lain adalah Raden Gajah, keponakan Bhre Wirabhumi sendiri.)

Namun, sepeninggal Prabhu Wikramawardhana, ketika tahta Majapahit dilimpahkan kepada Ratu Suhita, Malahan Raden Gajah yang kini hendak melepaskan diri dari pusat pemerintahan karena merasa diingkari janjinya. Dan tampillah Raden Paramesywara, yang berhasil memadamkan pemberontakan Raden Gajah. Pada akhirnya, Raden Paramesywara diangkat sebagai suami oleh Ratu Suhita. ( Dalam cerita rakyat, inilah kisah Damar Wulan. Ratu Suhita tak lain adalah Kencana Wungu. Kencana = Mutiara, Wungu = Pucat pasi, ketakutan. Dan Raden Paramesywara adalah Damar Wulan. Damar = Pelita, Wulan = Sang Rembulan.)

Kondisi Majapahit stabil lagi. Hingga pada tahun 1453 Masehi, tahta Majapahit dipegang oleh Raden Kertabhumi yang lantas terkenal dengan gelar Prabhu Brawijaya ( Bhre Wijaya). Pada jaman pemerintahan beliau inilah, Islamisasi mulai merambah wilayah kekuasaan Majapahit, dimulai dari Malaka. Dan kemudian, mulai masuk menuju ke pusat kerajaan, ke pulau Jawa.

Dan kisahnya adalah sebagai berikut :

Diwilayah Kamboja selatan, dulu terdapat Kerajaan kecil yang masuk dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Kerajaan Champa namanya. ( Sekarang hanya menjadi perkampungan Champa ). Kerajaan ini berubah menjadi Kerajaan Islam semenjak Raja Champa memeluk agama baru itu. Keputusan ini diambil setelah seorang ulama Islam datang dari Samarqand, Bukhara. ( Sekarang didaerah Rusia Selatan). Ulama ini bernama Syeh Ibrahim As-Samarqand. Selain berpindah agama, Raja Champa bahkan mengambil Syeh Ibrahim As-Samarqand sebagai menantu.

Raja Champa memiliki dua orang putri. Yang sulung bernama Dewi Candrawulan dan yang bungsu bernama Dewi Anarawati. Syeh Ibrahim As-Samarqand dinikahkan dengan Dewi Candrawati. Dari hasil pernikahan ini, lahirlah dua orang putra, yang sulung bernama Sayyid ‘Ali Murtadlo, dan yang bungsu bernama Sayyid ‘Ali Rahmad. Karena berkebangsaan Champa ( Indo-china ), Sayyid ‘Ali Rahmad juga dikenal dengan nama Bong Swie Hoo. ( Nama Champa dari Sayyid ‘Ali Murtadlo, Raja Champa, Dewi Candrawulan dan Dewi Anarawati, saya belum mengetahuinya : Damar Shashangka).

Kerajaan Champa dibawah kekuasaan Kerajaan Besar Majapahit yang berpusat di Jawa. Pada waktu itu Majapahit diperintah oleh Raden Kertabhumi atau Prabhu Brawijaya semenjak tahun 1453 Masehi. Beliau didampingi oleh adiknya Raden Purwawisesha sebagai Mahapatih. Pada tahun 1466, Raden Purwawisesha mengundurkan diri dari jabatannya, dan sebagai penggantinya diangkatlah Bhre Pandhansalas. Namun dua tahun kemudian, yaitu pada tahun 1468 Masehi, Bhre Pandhansalas juga mengundurkan diri.

Praktis semenjak tahun 1468 Masehi, Prabhu Brawijaya memerintah Majapahit tanpa didampingi oleh seorang Mahapatih. Apakah gerangan dalam masa pemerintahan Prabhu Brawijaya terjadi dua kali pengunduran diri dari seorang Mahapatih? Sebabnya tak lain dan tak bukan karena Prabhu Brawijaya terlalu lunak dengan etnis China dan orang-orang muslim.

Diceritakan, begitu Prabhu Brawijaya naik tahta, Kekaisaran Tiongkok mengirimkan seorang putri China yang sangat cantik sebagai persembahan kepada Prabhu Brawijaya untuk dinikahi. Ini dimaksudkan sebagai tali penyambung kekerabatan dengan Kekaisaran Tiongkok. Putri ini bernama Tan Eng Kian. Sangat cantik. Tiada bercacat. Karena kecantikannya, setelah Prabhu Brawijaya menikahi putri ini, praktis beliau hampi-hampir melupakan istri-istrinya yang lain. ( Prabhu Brawijaya banyak memiliki istri, dari berbagai istri beliau, lahirlah tokoh-tokoh besar. Pada kesempatan lain, saya akan menceritakannya : Damar Shashangka).

Ketika putri Tan Eng Kian tengah hamil tua, rombongan dari Kerajaan Champa datang menghadap. Raja Champa sendiri yang datang. Diiringi oleh para pembesar Kerajaan dan ikut juga dalam rombongan, Dewi Anarawati. Raja Champa banyak membawa upeti sebagai tanda takluk. Dan salah satu upeti yang sangat berharga adalah, Dewi Anarawati sendiri.

Melihat kecantikan putri berdarah indo-china ini, Prabhu Brawijaya terpikat. Dan begitu Dewi Anarawati telah beliau peristri, Tan Eng Kian, putri China yang tengah hamil tua itu, seakan-akan sudah tidak ada lagi di istana. Perhatian Prabhu Brawijaya kini beralih kepada Dewi Anarawati.

Saking tergila-gilanya, manakala Dewi Anarawati meminta agar Tan Eng Kian disingkirkan dari istana, Prabhu Brawijaya menurutinya. Tan Eng Kian diceraikan. Lantas putri China yang malang ini diserahkan kepada Adipati Palembang Arya Damar untuk diperistri. Adipati Arya Damar sesungguhnya juga peranakan China. Dia adalah putra selir Prabhu Wikramawardhana, Raja Majapahit yang sudah wafat yang memerintah pada tahun 1389-1429 Masehi, dengan seorang putri China pula.

Nama China Adipati Arya Damar adalah Swan Liong. Menerima pemberian seorang janda dari Raja adalah suatu kehormatan besar. Perlu dicatat, Swan Liong adalah China muslim. Dia masuk Islam setelah berinteraksi dengan etnis China di Palembang, keturunan pengikut Laksamana Cheng Ho yang sudah tinggal lebih dahulu di Palembang. Oleh karena itulah, Palembang waktu itu adalah sebuah Kadipaten dibawah kekuasaan Majapahit yang bercorak Islam.

Arya Damar menunggu kelahiran putra yang dikandung Tan Eng Kian sebelum ia menikahinya. Begitu putri China ini selesai melahirkan, dinikahilah dia oleh Arya Damar.

Anak yang lahir dari rahim Tan Eng Kian, hasil dari pernikahannya dengan Prabhu Brawijaya, adalah seorang anak lelaki. Diberi nama Tan Eng Hwat. Karena ayah tirinya muslim, dia juga diberi nama Hassan. Kelak di Jawa, dia terkenal dengan nama Raden Patah!

Dari hasil perkawinan Arya Damar dengan Tan Eng Kian, lahirlah juga seorang putra. Diberinama Kin Shan. Nama muslimnya adalah Hussein. Kelak di Jawa, dia terkenal dengan nama Adipati Pecattandha, atau Adipati Terung yang terkenal itu!

Kembali ke Jawa. Dewi Anarawati yang muslim itu telah berhasil merebut hati Prabhu Brawijaya. Dia lantas menggulirkan rencana selanjutnya setelah berhasil menyingkirkan pesaingnya, Tan Eng Kian. Dewi Anarawati meminta kepada Prabhu Brawijaya agar saudara-saudaranya yang muslim, yang banyak tinggal dipesisir utara Jawa, dibangunkan sebuah Ashrama, sebuah Peshantian, sebuah Padepokan, seperti halnya Padepokan para Pandhita Shiva dan para Wiku Buddha.

Mendengar permintaan istri tercintanya ini, Prabhu Brawijaya tak bisa menolak. Namun yang menjadi masalah, siapakah yang akan mengisi jabatan sebagai seorang Guru layaknya padepokan Shiva atau Mahawiku layaknya padepokan Buddha? Pucuk dicinta ulam tiba, Dewi Anarawati segera mengusulkan, agar diperkenankan memanggil kakak iparnya, Syeh Ibrahim As-Samarqand yang kini ada di Champa untuk tinggal sebagai Guru di Ashrama Islam yang hendak dibangun. Dan lagi-lagi, Prabhu Brawijaya menyetujuinya.

Para Pembesar Majapahit, Para Pandhita Shiva dan Para Wiku Buddha, sudah melihat gelagat yang tidak baik. Mereka dengan halus memperingatkan Prabhu Brawijaya, agar selalu berhati-hati dalam mengambil sebuah keputusan penting.

Tak kurang-kurang, Sabdo Palon dan Nayagenggong, punakawan terdekat Prabhu Brawijaya juga sudah memperingatkan agar momongan mereka ini berhati-hati, tidak gegabah. Namun, Prabhu Brawijaya, bagaikan orang mabuk, tak satupun nasehat orang-orang terdekatnya beliau dengarkan.

Perekonomian Majapahit sudah hamper didominasi oleh etnis China semenjak putri Tan Eng Kian di peristri oleh Prabhu Brawijaya, dan memang itulah misi dari Kekaisaran Tiongkok. Kini, dengan masuknya Dewi Anarawati, orang-orang muslim-pun mendepat kesempatan besar. Apalagi, pada waktu itu, banyak juga orang China yang muslim. Semua masukan bagi Prabhu Brawijaya tersebut, tidak satupun yang diperhatikan secara sungguh-sungguh. Para Pejabat daerah mengirimkan surat khusus kepada Sang Prabhu yang isinya mengeluhkan tingkah laku para pendatang baru ini. Namun, tetap saja, ditanggapi acuh tak acuh.

Hingga pada suatu ketika, manakala ada acara rutin tahunan dimana para pejabat daerah harus menghadap ke ibukota Majapahit sebagai tanda kesetiaan, Ki Ageng Kutu, Adipati Wengker ( Ponorogo sekarang), mempersembahkan tarian khusus buat Sang Prabhu. Tarian ini masih baru. Belum pernah ditampilkan dimanapun. Tarian ini dimainkan dengan menggunakan piranti tari bernama Dhadhak Merak. Yaitu sebuah piranti tari yang berupa duplikat kepala harimau dengan banyak hiasan bulu-bulu burung merak diatasnya. Dhadhak Merak ini dimainkan oleh satu orang pemain, dengan diiringi oleh para prajurid yang bertingkah polah seperti banci. ( Sekarang dimainkan oleh wanita tulen). Ditambah satu tokoh yang bernama Pujangganom dan satu orang Jathilan. Sang Pujangganom tampak menari-nari acuh tak acuh, sedangkan Jathilan, melompat-lompat seperti orang gila.

Sang Prabhu takjub melihat tarian baru ini. Manakala beliau menanyakan makna dari suguhan tarian tersebut, Ki Ageng Kutu, Adipati dari Wengker yang terkenal berani itu, tanpa sungkan-sungkan lagi menjelaskan, bahwa Dhadhak Merak adalah symbol dari Kerajaan Majapahit sendiri. Kepala Harimau adalah symbol dari Sang Prabhu. Bulu-bulu merak yang indah adalah symbol permaisuri sang Prabhu yang terkenal sangat cantik, yaitu Dewi Anarawati. Pasukan banci adalah pasukan Majapahit. Pujangganom adalah symbol dari Pejabat teras, dan Jathilan adalah symbol dari Pejabat daerah.

Arti sesungguhnya adalah, Kerajaan Majapahit, kini diperintah oleh seekor harimau yang dikangkangi oleh burung Merak yang indah. Harimau itu tidak berdaya dibawah selangkangan sang burung Merak. Para Prajurid Majapahit sekarang berubah menjadi penakut, melempem dan banci, sangat memalukan! Para pejabat teras acuh tak acuh dan pejabat daerah dibuat kebingungan menghadapi invasi halus, imperialisasi halus yang kini tengah terjadi. Dan terang-terangan Ki Ageng Kutu memperingatkan agar Prabhu Brawijaya berhati-hati dengan orang-orang Islam!

Kesenian sindiran ini kemudian hari dikenal dengan nama REOG PONOROGO!

Mendengar kelancangan Ki Ageng Kutu, Prabhu Brawijaya murka! Dan Ki Ageng Kutu, bersama para pengikutnya segera meninggalkan Majapahit. Sesampainya di Wengker, beliau mamaklumatkan perang dengan Majapahit!

Prabhu Brawijaya mengutus putra selirnya, Raden Bathara Katong untuk memimpin pasukan Majapahit, menggempur Kadipaten Wengker! ( Akan saya ceritakan pada bagian kedua : Damar Shashangka.)

Prabhu Brawijaya, menjanjikan daerah ‘perdikan’. Daerah perdikan adalah daerah otonom. Beliau menjanjikannya kepada Dewi Anarawati. Dan Dewi Anarawati meminta daerah Ampeldhenta ( didaerah Surabaya sekarang ) agar dijadikan daerah otonom bagi orang-orang Islam. Dan disana, rencananya akan dibangun sebuah Ashrama besar, pusat pendidikan bagi kaum muslim.

Begitu Prabhu Brawijaya menyetujui hal ini, maka Dewi Anarawati, atas nama Negara, mengirim utusan ke Champa. Meminta kesediaan Syeh Ibrahim As-Samarqand untuk tinggal di Majapahit dan menjadi Guru dari Padepokan yang hendak dibangun.

Dan permintaan ini adalah sebuah kabar keberhasilan luar biasa bagi Raja Champa. Misi peng-Islam-an Majapahit sudah diambang mata. Maka berangkatlah Syeh Ibrahim As-Samarqand ke Jawa. Diiringi oleh kedua putranya, Sayyid ‘Ali Murtadlo dan Sayyid ‘Ali Rahmad.

Sesampainya di Gresik, pelabuhan Internasional pada waktu itu, mereka disambut oleh masyarakat muslim pesisir yang sudah ada disana sejak jaman Prabhu Hayam Wuruk berkuasa. Masyarakat muslim ini mulai mendiami pesisir utara Jawa semenjak kedatangan Syeh Maulana Malik Ibrahim, yang pada waktu itu memohon menghadap kehadapan Prabhu Hayam Wuruk hanya untuk sekedar meminta beliau agar ‘pasrah’ memeluk Islam. Tentu saja, permintaan ini ditolak oleh Sang Prabhu Hayam Wuruk pada waktu itu karena dianggap lancang. Namun, beliau sama sekali tidak menjatuhkan hukuman. Beliau dengan hormat mempersilakan rombongan Syeh Maulana Malik Ibrahim agar kembali pulang. Namun sayang, di Gresik, banyak para pengikut Syeh Maulana Malik Ibrahim terkena wabah penyakit yang datang tiba-tiba. Banyak yang meninggal. Dan Syeh Maulana Malik Ibrahim akhirnya wafat juga di Gresik, dan lantas dikenal oleh orang-orang Jawa muslim dengan nama Sunan Gresik.

Syeh Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik telah datang jauh-jauh hari sebelum ada yang dinamakan Dewan Wali Sangha ( Sangha = Perkumpulan orang-orang suci. Sangha diambil dari bahasa Sansekerta. Bandingkan dengan doktrin Buddhis mengenai Buddha, Dharma dan Sangha. Kata-kata Wali Sangha lama-lama berubah menjadi Wali Songo yang artinya Wali Sembilan.: Damar Shashangka)

Rombongan dari Champa ini sementara waktu beristirahat di Gresik sebelum meneruskan perjalanan menuju ibukota Negara Majapahit. Sayang, setibanya di Gresik, Syeh Ibrahim As-Samarqand jatuh sakit dan meninggal dunia. Orang Jawa muslim mengenalnya dengan nama Syeh Ibrahim Smorokondi. Makamnya masih ada di Gresik sekarang.

Kabar meninggalnya Syeh Ibrahim As-Samarqand sampai juga di istana. Dewi Anarawati bersedih. Lantas, kedua putra Syeh Ibrahim As-Samarqand dipanggil menghadap. Atas usul Dewi Anarawati, Sayyid ‘Ali Rahmad diangkat sebagai pengganti ayahnya sebagai Guru dari sebuah Padepokan Islam yang hendak didirikan.

Bahkan, Sayyid ‘Ali Rahmad dan Sayyid ‘Ali Murtadlo mendapat gelar kebangsawanan Majapahit, yaitu Rahadyan atau Raden. Jadilah mereka dikenal dengan nama Raden Rahmad dan Raden Murtolo ( Orang Jawa tidak bisa mengucapkan huruf ‘dlo’. Huruf ‘dlo’ berubah menjadi ‘lo’. Seperti Ridlo, jadi Rilo, Ramadlan jadi Ramelan, Riyadloh jadi Riyalat, dll). Namun lama kelamaan, Raden Murtolo dikenal dengan nama Raden Santri, makamnya juga ada di Gresik sekarang.

Raden Rahmad, disokong pendanaan dari Majapahit, membangun pusat pendidikan Islam pertama di Jawa. Para muslim pesisir datang membantu. Tak berapa lama, berdirilah Padepokan Ampeldhenta. Istilah Padepokan lama-lama berubah menjadi Pesantren untuk membedakannya dengan Ashrama pendidikan Agama Shiva dan Agama Buddha. Lantas dikemudian hari, Raden Rahmad dikenal dengan nama Sunan Ampel.

Raden Santri, mengembara ke Bima, menyebarkan Islam disana, hingga ketika sudah tua, ia kembali ke Jawa dan meniggal di Gresik.

Para pembesar Majapahit, Para Pandhita Shiva dan Para Wiku Buddha, sudah memperingatkan Prabhu Brawijaya. Sebab sudah terdengar kabar dimana-mana, kaum baru ini adalah kaum missioner. Kaum yang punya misi tertentu. Malaka sudah berubah menjadi Kadipaten Islam, Pasai juga, Palembang juga, dan kini gerakan itu sudah semakin dekat dengan pusat kerajaan.

Semua telah memperingatkan Sang Prabhu. Tak ketinggalan pula Sabdo Palon dan Naya Genggong. Namun, bagaikan berlalunya angin, Prabhu Brawijaya tetap tidak mendengarkannya.Raja Majapahit yang ditakuti ini, kini bagaikan harimau yang takluk dibawah kangkangan burung Merak, Dewi Anarawati.

Benarlah apa yang dikatakan oleh Ki Ageng Kutu dari Wengker dulu.

Berdirinya Giri Kedhaton

Blambangan ( Banyuwangi sekarang ), sekitar tahun 1450 Masehi terkena wabah penyakit. Hal ini dikarenakan ketidaksadaran masyarakatnya yang kurang mampu menjaga kebersihan lingkungan. Blambangan diperintah oleh Adipati Menak Sembuyu, didampingi Patih Bajul Sengara.

Wabah penyakit itu masuk juga ke istana Kadipaten. Putri Sang Adipati, Dewi Sekardhadhu, jatuh sakit. Ditengah wabah yang melanda, datanglah seorang ulama dari Samudera Pasai ( Aceh sekarang ), yang masih berkerabat dekat dengan Syeh Ibrahim As-Samarqand, bernama Syeh Maulana Ishaq. Dia ahli pengobatan. Mendengar Sang Adipati mengadakan sayembara, dia serta merta mengikutinya. Dan berkat keahlian pengobatan yang dia dapat dari Champa, sang putri berangsur-angsur sembuh.

Adipati Menak Sembuyu menepati janji. Sesuai isi sayembara, barangsiapa yang mampu menyembuhkan sang putri, jika lelaki akan dinikahkan jika perempuan akan diangkat sebagai saudara, maka, Syeh Maulana Ishaq dinikahkan dengan Dewi Sekardhadhu.

Namun pada perjalanan waktu selanjutnya, ketegangan mulai timbul. Ini disebabkan, Syeh Maulana Ishaq, mengajak Adipati beserta seluruh keluarga untuk memeluk agama Islam.

Ketegangan ini lama-lama berbuntut pengusiran Syeh Maulana Ishaq dari Blambangan. Perceraian terjadi. Dan waktu itu, Dewi Sekardhadhu tengah hamil tua. Keputusan untuk menceraikan Dewi Sekardhadhu dengan Syeh Maulana Ishaq ini diambil oleh Sang Adipati karena melihat stabilitas Kadipaten Blambangan yang semula tenang, lama-lama terpecah menjadi dua kubu. Kubu yang mengidolakan Syeh Maulana Ishaq dan kubu yang tetap menolak infiltrasi asing ke wilayah mereka. Kubu pertama tertarik pada ajaran Islam, sedangkan kubu kedua tetap tidak menyetujui masuknya Islam karena terlalu diskriminatif menurut mereka. Antar kerabat jadi terpecah belah, saling curiga dan tegang. Ini yang tidak mereka sukai.

Sepeninggal Syeh Maulana Ishaq, ternyata masalah belum usai. Kubu yang pro ulama Pasai ini, kini menantikan kelahiran putra sang Syeh yang tengah dikandung Dewi Sekardhadhu. Sosok Syeh Maulana Ishaq, kini menjadi laten bagi stabilitas Blambangan. Mendapati situasi ketegangan belum juga bisa diredakan, maka mau tak mau, Adipati Blambangan, dengan sangat terpaksa, memberikan anak Syeh Maulana Ishaq, cucunya sendiri kepada saudagar muslim dari Gresik. Anak itu terlahir laki-laki.

Dalam cerita rakyat dari sumber Islam, konon dikisahkan anak itu dilarung ketengah laut (meniru cerita Nabi Musa) dengan menggunakan peti. Konon ada saudagar muslim Gresik yang tengah berlayar. Kapal dagangnya tiba-tiba tidak bisa bergerak karena menabrak peti itu. Dan peti itu akhirnya dibawa naik ke geladak oleh anak buah sang saudagar. Isinya ternyata seorang bayi.

Sesungguhnya itu hanya cerita kiasan. Yang terjadi, saudagar muslim Gresik yang tengah berlayar di Blambangan diperintahkan untuk menghadap ke Kadipaten menjelang mereka hendak balik ke Gresik. Inilah maksudnya kapal tidak bisa bergerak. Para saudagar bertanya-tanya, ada kesalahan apa yang mereka buat sehingga mereka disuruh menghadap ke Kadipaten? Ternyata, di Kadipaten, Adipati Menak Sembuyu, dengan diam-diam telah mengatur pertemuan itu. Sang Adipati memberikan seorang anak bayi, cucunya sendiri, yang lahir dari ayah seorang muslim. Anak itu dititipkan kepada para saudagar anak buah saudagar kaya di Gresik yang bernama Nyi Ageng Pinatih, yang seorang muslim. Adipati Menak Sembuyu tahu telah menitipkan cucunya kepada siapa. Beliau yakin, cucunya akan aman bersama Nyi Ageng Pinatih. Hanya dengan jalan inilah, Blambangan dapat kembali tenang.

Putra Syeh Maulana Ishaq ini, lahir pada tahun 1452 Masehi.

Sekembalinya dari Blambangan, para saudagar ini menghadap kepada majikan mereka, Nyi Ageng Pinatih sembari memberikan oleh-oleh yang sangat berharga. Seorang anak bayi keturunan bangsawan Blambangan. Bahkan dia adalah putra Syeh Maulana Ishaq, sosok yang disegani oleh orang-orang muslim. Nyi Ageng Pinatih tidak berani menolak sebuah anugerah itu. Diambillah bayi itu, dianggap anak sendiri. Karena bayi itu hadir seiring kapal selesai berlayar dari samudera, maka bayi itu dinamakan Jaka Samudera oleh Nyi Ageng Pinatih.

Jaka Samudera dibawa menghadap ke Ampeldhenta menjelang usia tujuh tahun. Dia tinggal disana. Belajar agama dari Sunan Ampel.

Sunan Ampel yang tahu siapa Jaka Samudera yang sebenarnya dari Nyi Ageng Pinatih, maka sosok anak ini sangat dia perhatikan dan diistimewakan. Sunan Ampel menganggapnya anak sendiri.

Sunan Ampel, dari hasil perkawinannya dengan kakak kandung Adipati Tuban Arya Teja, memiliki delapan putra dan putri. Yang penting untuk diketahui adalah Makdum Ibrahim ( Nama Champa-nya : Bong- Ang : kelak terkenal dengan sebutan Sunan Benang. Lama-lama pengucapannya berubah menjadi Sunan Bonang ). Yang kedua Abdul Qasim, terkenal kemudian dengan nama Sunan Derajat. Yang ketiga Maulana Ahmad, yang terkenal dengan nama Sunan Lamongan, yang keempat bernama Siti Murtasi’ah, kelak dijodohkan dengan Jaka Samudera, yang kemudian terkenal dengan nama Sunan Giri Kedhaton (Sunan Giri), yang kelima putri bernama Siti Asyiqah, kelak dijodohkan dengan Raden Patah ( Tan Eng Hwat ), putra Tan Eng Kian, janda Prabhu Brawijaya yang ada di Palembang itu.

Kekuatan Islam dibangun melalui tali pernikahan. Jaka Samudera, diberi nama lain oleh Sunan Ampel, yaitu Raden Paku. Kelak dia dikenal dengan nama Sunan Giri Kedhaton. Dia adalah santri senior. Sunan Ampel bahkan telah mencalonkan, mengkaderkan dia sebagai penggantinya kelak bila sudah meninggal.

Sunan Giri sangat radikal dalam pemahaman keagamannya. Setamat berguru dari Ampeldhenta, dia pulang ke Gresik. Di Gresik, dia menyatukan komunitas muslim disana. Dia mendirikan Pesantren. Terkenal dengan nama Pesantren Giri.

Namun dalam perkembangannya, Pesantren Giri memaklumatkan lepas dari kekuasaan Majapahit yang dia pandang Negara kafir. Pesantren Giri berubah menjadi pusat pemerintahan. Maka dikenal dengan nama Giri Kedhaton ( Kerajaan Giri ). Sunan Giri, mengangkat dirinya sebagi khalifah Islam dengan gelar Prabhu Satmata ( Penguasa Bermata Enam. Gelar sindiran kepada Deva Shiva yang cuma bermata tiga ).

Mendengar Gresik melepaskan diri dari pusat kekuasan, Prabhu Brawijaya, sebagai Raja Diraja Nusantara yang sah, segera mengirimkan pasukan tempur untuk menjebol Giri Kedhaton. Darah tertumpah. Darah mengalir. Dan akhirnya, Giri Kedhaton bisa ditaklukkan. Kekhalifahan Islam bertama itu tidak berumur lama. Namun kelak, setelah Majapahit hancur oleh serangan Demak Bintara, Giri Kedhaton eksis lagi mulai tahun 1487 Masehi. ( Sembilan tahun setelah Majapahit hancur pada tahun 1478 Masehi).

Dari sumber Islam, banyak cerita yang memojokkan pasukan Majapahit. Konon Sunan Giri berhasil mengusir pasukan Majapahit hanya dengan melemparkan sebuah kalam atau penanya. Kalam miliknya ini katanya berubah menjadi lebah-lebah yang menyengat. Sehingga membuat puyeng atau munyeng para prajurid Majapahit. Maka dikatakan, ‘kalam’ yang bisa membuat ‘munyeng’ inilah senjata andalan Sunan Giri. Maka dikenal dengan nama ‘Kalamunyeng’. Sesungguhnya, ini hanya kiasan belaka. Sunan Giri, melalui tulisan-tulisannya yang mengobarkan semangat ke-Islam-an, mampu mengadakan pemberontakan yang sempat ‘memusingkan’ Majapahit.

Namun, karena Sunan Ampel meminta pengampunan kepada Prabhu Brawijaya, Sunan Giri tidak mendapat hukuman. Tapi gerak-geriknya, selalu diawasi oleh Pasukan Telik Sandhibaya ( Intelejen ) Majapahit. Inilah kelemahan Prabhu Brawijaya. Terlalu meremehkan bara api kecil yang sebenarnya bisa membahayakan.

Sabdo Palon dan Naya Genggong sudah mengingatkan agar seorang yang bersalah harus mendapatkan sangsi hukuman. Karena itulah kewajiban yang merupakan sebuah janji seorang Raja. Salah satu kewajiban menjalankan janji suci sebagai AGNI atau API, yang harus mengadili siapa saja yang bersalah. Janji ini adalah satu bagian integral dari tujuh janji yang lain, yaitu ANGKASHA (Ruang), Raja harus memberikan ruang untuk mendengarkan suara rakyatnya, VAYU (Angin), Raja harus mampu mewujudkan pemerataan kesejahteraan kepada rakyatnya bagai angin, AGNI (Api), Raja harus memberikan hukuman yang seadil-adilnya kepada yang bersalah tanpa pandang bulu bagai api yang membakar, TIRTA (Air), Raja harus mampu menumbuhkan kesejahteraan perekonomian bagi rakyatnya bagaikan air yang mampu menumbuhkan biji-bijian, PRTIVI (Tanah), Raja harus mampu memberikan tempat yang aman bagi rakyatnya, menampung semuanya, tanpa ada diskriminasi, bagaikan tanah yang mau menampung semua manusia, SURYA (Matahari), Raja harus mampu memberikan jaminan keamanan kepada seluruh rakyat tanpa pandang bulu seperti Matahari yang memberikan kehidupan kepada mayapada, CHANDRA (Bulan ), Raja harus mampu mengangkat rakyatnya dari keterbelakangan, dari kebodohan, dari kegelapan, bagaikan sang rembulan yang menyinari kegelapan dimalam hari, dan yang terakhir adalah KARTIKA (Bintang), Raja harus mampu memberikan aturan-aturan hukum yang jelas, kepastian hukum bagi rakyat demi kesejahteraan, kemanusiaan, keadilan, bagaikan bintang gemintang yang mampu menunjukkan arah mata angin dengan pasti dikala malam menjalang. Inilah DELAPAN JANJI RAJA yang disebut ASTHAVRATA (Astobroto ; Jawa ). Dan menurut Sabdo Palon dan Naya Genggong, Prabhu Brawijaya telah lalai menjalankan janji sucinya sebagai AGNI.

Mendapati kondisi memanas seperti itu, Sunan Ampel mengeluarkan sebuah fatwa, Haram hukumnya menyerang Majapahit, karena bagaimanapun juga Prabhu Brawijaya adalah Imam yang wajib dipatuhi. Setelah keluar fatwa dari pemimpin Islam se-Jawa, konflik mulai mereda.

Namun bagaimanapun juga, dikalangan orang-orang Islam diam-diam terbagi menjadi dua kubu. Yaitu kubu yang mencita-citakan berdirinya Kekhalifahan Islam Jawa, dan kubu yang tidak menginginkan berdirinya Kekhalifahan itu. Kubu kedua ini berpendapat, dalam naungan Kerajaan Majapahit, yang notabene Shiva Buddha, ummat Islam diberikan kebebasan untuk melaksanakan ibadah agamanya. Bahkan, syari’at Islam pun boleh dijalankan didaerah-daerah tertentu.

Kubu pertama dipelopori oleh Sunan Giri, sedangkan kubu kedua dipelopori oleh Sunan Kalijaga, putra Adipati Tuban Arya Teja, keponakan Sunan Ampel. Kubu Sunan Giri mengklaim, bahwa golongan mereka memeluk Islam secara kaffah, secara bulat-bulat, maka pantas disebut PUTIHAN (Kaum Putih). Dan mereka menyebut kubu yang dipimpin Sunan Kalijaga sebagai ABANGAN (Kaum Merah).

Bibit perpecahan didalam orang-orang Islam sendiri mulai muncul. Hal ini hanya bagaikan api dalam sekam ketika Sunan Ampel masih hidup. Kelak, ketika Majapahit berhasil dijebol oleh para militant Islam dan ketika Sunan Ampel sudah wafat, kedua kubu ini terlibat pertikaian frontal yang berdarah-darah ( Yang paling parah dan memakan banyak korban, sampai-sampai para investor dari Portugis melarikan diri ke Malaka dan menceritakan di Jawa tengah terjadi situasi chaos dan anarkhis yang mengerikan, adalah pertikaian antara Arya Penangsang, santri Sunan Kudus, penguasa Jipang Panolan dari kubu Putihan dengan Jaka Tingkir atau Mas Karebet, santri dari Sunan Kalijaga, penguasa Pajang dari kubu Abangan. Nanti akan saya ceritakan : Damar Shashangka ).

Berdirinya Ponorogo.

Ki Ageng Kutu, Adipati Wengker, sebenarnya masih keturunan bangsawan Majapahit. Beliau masih keturunan Raden Kudha Merta, ksatria dari Pajajaran yang melarikan diri bersama Raden Cakradhara. Raden Kudha Merta berhasil menikah dengan Shri Gitarja, putri Raden Wijaya, Raja Pertama Majapahit. Sedangkan Raden Cakradhara berhasil menikahi Tribhuwanatunggadewi, kakak kandung Shri Gitarja.

Dari perkawinan antara Raden Cakradhara dengan Tribhuwanatunggadewi inilah lahir Prabhu Hayam Wuruk yang terkenal itu. Sedangkan Raden Kudha Merta, menjadi penguasa daerah Wengker, yang sekarang dikenal dengan nama Ponorogo.

Ki Ageng Kutu adalah keturunan dari Raden Kudha Merta dan Shri Gitarja.

Melihat Majapahit, dibawah pemerintahan Prabhu Brawijaya bagaikan harimau yang kehilangan taringnya, Ki Ageng Kutu, memaklumatkan perang dengan Majapahit.

Prabhu Brawijaya atau Prabhu Kertabhumi menjawab tantangan Ki Ageng Kutu dengan mengirimkan sejumlah pasukan tempur Majapahit dibawah pimpinan Raden Bathara Katong, putra selir beliau.

Peperangan terjadi. Pasukan Majapahit terpukul mundur. Hal ini disebabkan, banyak para prajurid Majapahit yang membelot dari kesatuannya dan memperkuat barisan Wengker. Pasukan yang dipimpin Raden Bathara Katong kocar-kacir.

Raden Bathara Katong yang merasa malu karena telah gagal menjalankan tugas Negara, konon tidak mau pulang ke Majapahit. Dia bertekad, bagaimanapun juga, Wengker harus ditundukkan. Inilah sikap seorang Ksatria sejati.

Ada seorang ulama Islam yang tinggal di Wengker yang mengamati gejolak politik itu. Dia bernama Ki Ageng Mirah. Situasi yang tak menentu seperti itu, dimanfaatkan olehnya. Dia mendengar Raden Bathara Katong tidak pulang ke Majapahit, dia berusaha mencari kebenaran berita itu. Dan usahanya menuai hasil. Dia berhasil menemukan tempat persembunyian Raden Bathara Katong.

Dia menawarkan diri bisa memberikan solusi untuk menundukkan Wengker karena dia sudah lama tinggal disana. Raden Bathara Katong tertarik. Namun diam-diam, Ki Ageng Mirah, menanamkan doktrin ke-Islam-an dibenak Raden Bathara Katong. Jika ini berhasil, setidaknya peng-Islam-an Wengker akan semakin mudah, karena Raden Bathara Katong mempunyai akses langsung dengan militer Majapahit. Jika-pun tidak berhasil membuat Raden Bathara Katong memeluk Islam, setidaknya, kelak dia tidak akan melupakan jasanya telah membantu memberitahukan titik kelemahan Wengker. Dan bila itu terjadi, Ki Ageng Mirah pasti akan menduduki kedudukan yang mempunyai akses luas menyebarkan Islam di Wengker.

Dan ternyata, Raden Bathara Katong tertarik dengan agama baru itu.

Selanjutnya, Ki Ageng Mirah mengatur rencana. Raden Bathara Katong harus pura-pura meminta suaka politik di Wengker. Raden Bathara Katong harus mengatakan untuk memohon perlindungan kepada Ki Ageng Kutu. Dia harus pura-pura membelot dari pihak Majapahit.

Ki Ageng Kutu pasti akan menerima pengabdian Raden Bathara Katong. Ki Ageng Kutu pasti akan senang melihat Raden Bathara Katong telah membelot dan kini berada di fihaknya. Manakala rencana itu sudah berhasil, Raden Bathara Katong harus mengutarakan niatnya untuk mempersunting Ni Ken Gendhini, putri sulung Ki Ageng Kutu sebagai istri. Mengingat status Raden Bathara Katong sebagai seorang putra Raja Majapahit, lamaran itu pasti akan disambut gembira oleh Ki Ageng Kutu..

Dan bila semua rencana berjalan mulus, Raden Bathara Katong harus mampu menebarkan pengaruhnya kepada kerabat Wengker. Dia harus jeli dan teliti mengamati titik kelemahan Wengker. Ni Ken Gendhini, putri Ki Ageng Kutu bisa dimanfaatkan untuk tujuan itu.

Bila semua sudah mulus berjalan, dan bila waktunya sudah tepat, maka Raden Bathara Katong harus sesegera mungkin mengirimkan utusan ke Majapahit untuk meminta pasukan tempur tambahan.

Bila semua berjalan lancar, Wengker pasti jatuh!

Raden Bathara Katong melaksanakan semua rencana yang disusun Ki Ageng Mirah. Dan atas kelihaian Raden Bathara Katong, semua berjalan lancar.

Ki Ageng Kutu, yang merasa masih mempunyai hubungan kekerabatan jauh dengan Raden Bathara Katong, dengan suka rela berkenan memberikan suaka politik kepadanya. Ditambah, ketika Raden Bathara Katong mengutarakan niatnya untuk mempersunting Ni Ken Gendhini, Ki Ageng Kutu serta merta menyetujuinya.

Rencana bergulir. Umpan sudah dimakan. Tinggal menunggu waktu.

Ni Ken Gendhini mempunyai dua orang adik laki-laki, Sura Menggala dan Sura Handaka. ( Sura Menggala = baca Suromenggolo, sampai sekarang menjadi tokoh kebanggaan masyarakat Ponorogo. Dikenal dengan nama Warok Suromenggolo : Damar Shashangka).

Ni Ken Gendhini dan Sura Menggala berhasil masuk pengaruh Raden Bathara Katong, sedangkan Sura Handaka tidak.

Raden Bathara Katong berhasil mengungkap segala seluk-beluk kelemahan Wengker dari Ni Ken Gendhini. Inilah yang diceritakan secara simbolik dengan dicurinya Keris Pusaka Ki Ageng Kutu, yang bernama Keris Kyai Condhong Rawe oleh Ni Ken Gendhini dan kemudian diserahkan kepada Raden Bathara Katong.

Condhong Rawe hanya metafora. Condhong berarti Melintang (Vertikal) dan Rawe berarti Tegak (Horisontal). Arti sesungguhnya adalah, kekuatan yang tegak dan melintang dari seluruh pasukan Wengker, telah berhasil diketahui secara cermat oleh Raden Bathara Katong atas bantuan Ni Ken Gendhini. Struktur kekuatan militer ini sudah bisa dibaca dan diketahui semuanya.

Dan manakala waktu sudah dirasa tepat, dengan diam-diam, dikirimkannya utusan kepada Ki Ageng Mirah. Utusan ini menyuruh Ki Ageng Mirah, atas nama Raden Bathara Katong, memohon tambahan pasukan tempur ke Majapahit.

Mendapati kabar Raden Bathara Katong masih hidup, Prabhu Brawijaya segera memenuhi permintaan pengiriman pasukan baru.

Majapahit dan Wengker diadu! Majapahit dan Wengker tidak menyadari, ada pihak ketiga bermain disana! Ironis sekali.

Peperangan kembali pecah. Ki Ageng Kutu yang benar-benar merasa kecolongan, dengan marah mengamuk dimedan laga bagai bantheng ketaton, bagai banteng yang terluka. Demi Dharma, dia rela menumpahkan darahnya diatas bumi pertiwi. Walau harus lebur menjadi abu, Ki Ageng Kutu, beserta segenap pasukan Wengker, maju terus pantang mundur!

Namun bagaimanapun, seluruh struktur kekuatan Wengker telah diketahui oleh Raden Bathara Katong. Pasukan Wengker, yang terkenal dengan nama Pasukan Warok itu terdesak hebat! Namun, Ki Ageng Kutu beserta seluruh pasukannya telah siap untuk mati. Siap mati habis-habisan! Siap menumpahkan darahnya diatas hamparan pangkuan ibu pertiwi! Dengan gagh berani, pasukan ksatria ini terus merangsak maju, melawan pasukan Majapahit.

Banyak kepala pasukan Majapahit yang menangis melihat mereka harus bertempur dengan saudara sendiri. Banyak yang meneteskan air mata, melihat mayat-mayat prajurid Wengker bergelimpangan bermandikan darah. Dan pada akhirnya, Wengker berhasil dijebol. Wengker berhasil dihancurkan!

Darah menetes! Darah membasahi ibu pertiwi. Darah harum para ksatria sejati yang benar-benar tulus menegakkan Dharma! Alam telah mencatatnya! Alam telah merekamnya!

Kabar kemenangan itu sampai di Majapahit. Namun, Prabhu Brawijaya berkabung mendengar kegagahan pasukan Wengker. Mendengar kegagahan Ki Ageng Kutu. Seluruh Pejabat Majapahit berkabung. Sabdo Palon dan Naya Genggong berkabung. Kabar kemenangan itu membuat Majapahit bersedih, bukannya bersuka cita.

Para pejabat Majapahit menagis sedih melihat sesama saudara harus saling menumpahkan darah karena campur tangan pihak ketiga, karena disebabkan adanya pihak ketiga. Ki Ageng Kutu adalah seorang Ksatria yang gagah berani. Ki Ageng Kutu adalah salah satu sendi kekuatan militer Majapahit. Kini, Ki Ageng Kutu harus gugur ditangan pasukan Majapahit sendiri. Betapa tidak memilukan!

Kadipaten Wengker kini dikuasai oleh Raden Bathara Katong. Surat pengukuhan telah diterima dari pusat. Dan Wengker lantas dirubah namanya menjadi Kadipaten Ponorogo. Wengker yang Shiva Buddha, kini telah berhasil menjadi Kadipaten Islam.

Kubu Abangan

Seorang ulama berdarah Majapahit, yang lahir di Kadipaten Tuban, yang sangat dikenal dikalangan masyarakat Jawa yaitu Sunan Kalijaga, mati-matian membendung gerakan militansi Islam. Beliau seringkali mengingatkan, bahwasanya membangun akhlaq lebih penting daripada mendirikan sebuah Negara Islam.

Sunan Kalijaga adalah putra Adipati Tuban, Arya Teja. Adipati Arya Teja adalah keturunan Senopati Agung Majapahit masa lampau, Adipati Arya Ranggalawe yang berhasil memimpin pasukan Majapahit mengalahkan pasukan Tiongkok Mongolia yang hendak menguasai Jawa ( Adipati Arya Ranggalawe adalah salah satu tangan kanan Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit.)

Adipati Arya Teja berhasil di Islamkan oleh Sunan Ampel. Bahkan kakak kandung beliau dinikahi Sunan Ampel. Dari pernikahan Sunan Ampel dengan kakak kandung Adipati Arya Teja, lahirlah Sunan Bonang, Sunan Derajat, Sunan Lamongan, dan lima putri yang lain ( seperti yang telah saya tulis pada bagian pertama : Damar Shashangka).

Para pengikut Sunan Giri yang tidak sepaham dengan para pengikut Sunan Kalijaga, sering terlibat konflik-konflik terselubung. Di pihak Sunan Giri, banyak ulama yang bergabung, seperti Sunan Derajat, Sunan Lamongan, Sunan Majagung ( sekarang dikenal dengan Sunan Bejagung), Sunan Ngundung dan putranya Sunan Kudus, dll.

Dipihak Sunan Kalijaga, ada Sunan Murya (sekarang dikenal dengan nama Sunan Muria), Syeh Jangkung, Syeh Siti Jenar, dll.

Khusus mengenai Syeh Siti Jenar atau juga disebut Sunan Kajenar, beliau adalah ulama murni yang menekuni spiritualitas. Beliau sangat-sangat tidak menyetujui gerakan kaum Putih yang merencanakan berdirinya Negara Islam Jawa.

Pertikaian ini mencapai puncaknya ketika Syeh Siti Jenar, menyatakan keluar dari Dewan Wali Sangha. Syeh Siti Jenar menyatakan terpisah dari Majelis Ulama Jawa itu. Beliau tidak mengakui lagi Sunan Ampel sebagai seorang Mufti.

Didaerah Cirebon, Syeh Siti Jenar banyak memiliki pengikut.

Manakala menjelang awal tahun 1478, Sunan Ampel wafat dan kedudukan Mufti digantikan oleh Sunan Giri, keberadaan Syeh Siti Jenar dianggap sangat membahayakan Islam.

Semua dinamika ini, terus diamati oleh intelejen Majapahit. Gerakan-gerakan militansi Islam mulai merebak dipesisir utara Jawa. Mulai Gresik, Tuban, Demak, Cirebon dan Banten. Para pejabat daerah telah mengirimkan laporan kepada Prabhu Brawijaya. Tapi Prabhu Brawijaya tetap yakin, semua masih dibawah kontrol beliau.

Keturunan di Pengging

Pernikahan Dewi Anarawati dengan Prabhu Brawijaya semakin dikukuhkan dengan diangkatnya putri Champa ini sebagai permaisuri. Keputusan yang sangat luar biasa ini menuai protes. Kesuksesan besar bagi Dewi Anarawati membuat para pejabat Majapahit resah. Bisa dilihat jelas disini, bila kelak Prabhu Brawijaya wafat, maka yang akan menggantikannya sudah pasti putra dari seorang permaisuri. Dan sang permaisuri beragama Islam. Dapat dipastikan, Majapahit akan berubah menjadi Negara Islam.

Dari luar Istana, Sunan Giri menyusun strategi memperkuat barisan militansi Islam. Dari dalam Istana, Dewi Anarawati mempersiapkan rencana yang brilian. Jika Sunan Giri gagal merebut Majapahit dengan cara pemberontakan, dari dalam istana, Majapahit sudah pasti bisa dikuasai oleh Dewi Anarawati. Bila rencana pertama gagal, rencana kedua masih bisa berjalan.

Tapi ternyata, apa yang diharapkan Dewi Anarawati menuai hambatan. Dari hasil perkawinannya dengan Prabhu Brawijaya, lahirlah tiga orang anak. Yang sulung seorang putri, dinikahkan dengan Adipati Handayaningrat IV, penguasa Kadipaten Pengging ( sekitar daerah Solo, Jawa Tengah sekarang), putra kedua bernama Raden Lembu Peteng, berkuasa di Madura, dan yang ketiga Raden Gugur, masih kecil dan tinggal di Istana. (Kelak, Raden Gugur inilah yang terkenal dengan julukan Sunan Lawu, dipercaya sebagai penguasa mistik Gunung Lawu, yang terletak didaerah Magetan, hingga sekarang : Damar Shashangka.)

Hambatan yang dituai Dewi Anarawati adalah, putri sulungnya tidak tertarik memeluk Islam, begitu juga dengan Raden Gugur. Hanya Raden Lembu Peteng yang mau memeluk Islam.

Dari pernikahan putri sulung Dewi Anarawati dengan Adipati Handayaningrat IV, lahirlah dua orang putra, Kebo Kanigara dan Kebo Kenanga. Keduanya juga tidak tertarik memeluk Islam. Si sulung bahkan pergi meninggalkan kemewahan Kadipaten dan menjadi seorang pertapa di Gunung Merapi ( didaerah Jogjakarta sekarang). Sampai sekarang, petilasan bekas pertapaan beliau masih ada dan berubah menjadi sebuah makam yang seringkali diziarahi.

Otomatis, yang kelak menggantikan Adipati Handayaningrat IV sebagai Adipati Pengging, bahkan juga jika Prabhu Brawijaya mangkat, tak lain adalah adik Kebo Kanigara, yaitu Kebo Kenanga. Kelak, dia akan mendapat limpahan tahta Pengging maupun Majapahit! Inilah pewaris sah tahta Majapahit.Kebo Kenanga lantas dikenal dengan nama Ki Ageng Pengging.

Ki Ageng Pengging sangat akrab dengan Syeh Siti Jenar. Keduanya, yang satu beragama Shiva Buddha dan yang satu beragama Islam, sama-sama tertarik mendalami spiritual murni. Mereka berdua seringkali berdiskusi tentang ‘Kebenaran Sejati’. Dan hasilnya, tidak ada perbedaan diantara Shiva Buddha dan Islam.

Namun kedekatan mereka ini disalah artikan oleh ulama-ulama radikal yang masih melihat kulit, masih melihat perbedaan. Syeh Siti Jenar dituduh mendekati Ki Ageng Pengging untuk mencari dukungan kekuatan. Dan konyolnya, Ki Ageng Pengging dikatakan sebagai murid Syeh Siti Jenar yang hendak melakukan pemberontakan ke Demak Bintara. Padahal Ki Ageng Pengging tidak tertarik dengan tahta. Walaupun sesungguhnya, memang benar bahwa beliau lah yang lebih berhak menjadi Raja Majapahit kelak ketika Majapahit berhasil dihancurkan oleh Raden Patah Dan juga, Ki Ageng Pengging bukanlah seorang muslim. Beliau dengan Syeh Siti Jenar hanyalah seorang ‘sahabat spiritual’. Hubungan seperti ini, tidak akan bisa dimengerti oleh mereka yang berpandangan dangkal. Ki Ageng Pengging dan Syeh Siti Jenar adalah seorang spiritualis sejati. Kelak, setalah Majapahit berhasil dihancurkan para militant Islam, dua orang sahabat ini menjadi target utama untuk dimusnahkan. Baik Syeh Siti Jenar maupun Ki Ageng Pengging gugur karena korban kepicikan.

Dan, nama Ki Ageng Pengging dan Syeh Siti Jenar dibuat hitam. Sampai sekarang, nama keduanya masih terus dihakimi sebagai dua orang yang sesat dikalangan Islam. Namun bagaimanapun juga, keharuman nama keduanya tetap terjaga dikisi-kisi hati tersembunyi masyarakat Jawa, walaupun tidak ada yang berani menyatakan kekagumannya secara terang-terangan. Ironis.

Dari Ki Ageng Pengging inilah, lahir seorang tokoh terkenal di Jawa. Yaitu Mas Karebat atau Jaka Tngkir. Dan kelak menjadi Sultan Pajang setelah Demak hancur dengan gelar Sultan Adiwijaya.

Keturunan di Tarub

Dikisahkan secara vulgar, suatu ketika Prabhu Brawijaya terserang penyakit Rajasinga atau syphilis. Para Tabib Istana sudah bekerja keras berusaha menyembuhkan beliau, tapi penyakit beliau tetap membandel.

Atas inisiatif beliau sendiri, setiap malam beliau tidur diarel Pura Keraton. Memohon kepada Mahadewa agar diberi kesembuhan. Dan konon, setelah beberapa malam beliau memohon, suatu malam, beliau mendapat petunjuk sangat jelas.

Dalam keheningan meditasinya, lamat-lamat beliau ‘mendengar’ suara.

“Jika engkau ingin sembuh, nikahilah seorang pelayan wanita berdarah Wandhan. Dan, inilah kali terakhir engkau boleh menikah lagi.”

Mendapat ‘wisik’ yang sangat jelas seperti itu, Prabhu Brawijaya termangu-mangu. Dan beliau teringat, di Istana ada beberapa pelayan Istana yang berasal dari daerah Wandhan ( Bandha Niera, didaerah Sulawesi).

Keesokan harinya, beliau memanggil para pelayan istana dari daerah Wandhan. Beliau memilih yang paling cantik. Ada seorang pelayan dari Wandhan, bernama Dewi Bondrit Cemara, sangat cantik. Diambillah dia sebagai istri selir. Dikemudian hari, Dewi Bondrit Cemara dikenal dengan nama Dewi Wandhan Kuning.

Begitu menikahi Dewi Wandhan Kuning, dan setelah melakukan senggama beberapa kali, penyakit Sang Prabhu berangsur-angsur sembuh.

Namun Sang Prabhu merasa perkawinannya dengan Dewi Wandhan Kuning harus dirahasiakan. Karena apabila kabar ini terdengar sampai ke daerah Wandhan, pasti para bangsawan Sulawesi merasa terhina oleh sebab Sang Prabhu bukannya mengambil salah seorang putri bangsawan Wandhan, tapi malah mengambil seorang pelayan.

Dewi Wandhan Kuning mengandung, hingga akhirnya melahirkan seorang anak laki-laki, putra ini lantas dititipkan kepada Kepala Urusan Sawah Istana, Ki Juru Tani. ( Waktu itu, Istana memiliki areal pesawahan khusus yang hasilnya untuk dikonsumsi oleh seluruh kerabat Istana.)

Anak ini diberi nama Raden Bondhan Kejawen ( Bondhan perubahan dari kata Wandhan. Kejawen berarti yang telah berdarah Jawa.)

Raden Bondhan Kejawen dibesarkan oleh Ki Juru Tani. Dan manakala sudah berangsur dewasa, atas perintah Sang Prabhu, Raden Bondhan Kejawen dikirimkan kepada Ki Ageng Tarub, seorang Pandhita Shiva yang memiliki Ashrama di daerah Tarub ( sekitar Purwodadi, Jawa Tengah sekarang.)

Jika anda pernah mendengar legenda Jaka Tarub dan Dewi Nawangwulan, maka inilah dia. Jaka Tarub yang konon mencuri selendang bidadari Dewi Nawangwulan dan lantas ditinggal oleh sang bidadari setelah sekian lama menjadi istri beliau karena ketahuan bahwa yang menyembunyikan selendang itu adalah Jaka Tarub sendiri. ( Saya tidak akan membedah simbolisasi legenda ini disini, karena tidak sesuai dengan topic yang saya bahas : Damar Shashangka).

Jaka Tarub inilah yang lantas dikenal dengan nama Ki Ageng Tarub. Menginjak dewasa, Raden Bondhan Kejawen dinikahkan dengan Dewi Nawangsih, putri tunggal Ki Ageng Tarub. Dan kelak Raden Bondhan Kejawen bergelar Ki Ageng Tarub II.

Dari hasil perkawinan Raden Bondhan Kejawen dengan Dewi Nawangsih, lahirlah Raden Getas Pandhawa. Dari Raden Getas Pandhawa, lahirlah Ki Ageng Sela yang hidup sejaman dengan Sultan Trenggana, Sultan Demak ketiga. Ki Ageng Sela inilah tokoh yang konon bisa memegang petir sehingga menggegerkan seluruh Kesultanan Demak ( simbolisasi lagi, kapan-kapan saya ulas : Damar Shashangka).

Sampai sekarang nama Ki Ageng Sela terkenal di tengah masyarakat Jawa. Ki Ageng Sela inilah keturunan Tarub yang mulai beralih memeluk Islam. Beliau berguru kepada Sunan Kalijaga. Perpindahan agama ini berjalan dengan damai. Nama Islam beliau adalah Ki Ageng Abdul Rahman.

Dari Ki Ageng Sela, lahirlah Ki Ageng Mangenis Sela. Dari Ki Ageng Mangenis Sela, lahirlah Ki Ageng Pamanahan. Dan dari Ki Ageng Pamanahan lahirlah Panembahan Senopati Ing Ngalaga, tokoh terkenal pendiri dinasti Mataram Islam dikemudian hari. ( Panembahan Senopati Ing Ngalaga Mataram inilah leluhur Para Sultan Kasultanan Jogjakarta, Para Sunan Kasunanan Surakarta (Solo), Pakualaman dan Mangkunegaran sekarang.)

Peng-Islam-an keturunan Raden Bondhan Kejawen, berlangsung dengan damai.

Raden Patah.

Ingat putri China Tan Eng Kian yang dinikahi Adipati Arya Damar di Palembang?

Dari hasil pernikahan dengan Prabhu Brawijaya, Tan Eng Kian memiliki seorang putra bernama Tan Eng Hwat. Dikenal juga dengan nama muslim Raden Hassan. Dari perkawinan Tan Eng Kian dengan Arya Damar sendiri, lahirlah seorang putra bernama Kin Shan, dikenal dengan nama muslim Raden Hussein.

Sejak kecil, Raden Hassan dan Raden Hussein dididik secara Islam oleh ayahnya Arya Damar. Menjelang dewasa, Raden Hassan memohon ijin kepada ibunya untuk pergi ke Jawa. Dia berkeinginan untuk bertemu dengan ayah kandungnya, Prabhu Brawijaya.

Tan Eng Kian tidak bisa menghalangi keinginan putranya. Dari Palembang, Raden Hassan bertolak ke Jawa. Sampailah ia di pelabuhan Gresik yang ramai. Melihat keadaan Gresik yang hiruk-pikuk, Raden Hassan kagum. Dia bisa membayangkan bagaimana besarnya kekuasaan Majapahit. Menilik di Gresik banyak orang muslim, Raden Hassan tertarik.

Dan dengar-dengar, ada Pesantren besar disana. Pesantren Giri. Raden Hassan memutuskan untuk bertandang ke Giri. Bertemulah dia dengan Sunan Giri. Sunan Giri senang melihat kedatangan Raden Hassan setelah mengetahui dia adalah putra Prabhu Brawijaya yang lahir di Palembang. Sunan Giri seketika melihat sebuah peluang besar.

Di Giri, Raden Hassan memperdalam ke-Islaman-nya. Disana, Raden Hassan mulai tertarik dengan ide-ide ke-Khalifah-an Islam. Dan militansi Raden Hassan mulai terbentuk.Ada kesepakatan pemahaman antara Raden Hassan dengan Sunan Giri.

Dari Sunan Giri, Raden Hassan memperoleh ide untuk meminta daerah otonomi khusus kepada ayahnya, Prabhu Brawijaya. Bila disetujui, hendaknya Raden Patah memilih daerah di pesisir Jawa bagian tengah. Jika itu terwujud, keberadaan daerah otonomi didaerah pesisir utara Jawa bagian tengah, akan menjadi penghubung pergerakan militant Islam dari Jawa Timur dan Jawa Barat di Cirebon.

Cirebon, kini tumbuh pesat sebagai pusat kegiatan Islam dibawah pimpinan Pangeran Cakrabhuwana, putra kandung Prabhu Siliwangi, Raja Pajajaran. (Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah belum datang dari Mesir ke Cirebon. Dia datang pada tahun 1475 Masehi. Pada bagian selanjutnya akan saya ceritakan : Damar Shashangka.)

Setelah dirasa cukup, Raden Hassan melanjutkan perjalanan ke Pesantren Ampel dengan diiringi beberapa santri Sunan Giri. Disana dia disambut suka cita oleh Sunan Ampel. Disana, dia diberi nama baru oleh Sunan Ampel, yaitu Raden Abdul Fattah yang lantas dikenal masyarakat Jawa dengan nama Raden Patah.

Selesai bertandang di Ampel, Raden Hassan yang kini dikenal dengan nama Raden Patah melanjutkan perjalanan ke ibu kota Negara Majapahit. Dia yang semula hanya berniat untuk bertemu dengan ayahnya, sekarang dia telah membawa misi tertentu.

Betapa suka cita Prabhu Brawijaya mendapati putra kandungnya telah tumbuh dewasa. Dan manakala, Raden Patah memohon anugerah untuk diberikan daerah otonom, Prabhu Brawijaya mengabulkannya. Raden Patah meminta daerah pesisir utara Jawa bagian tengah. Dia memilih daerah yang dikenal dengan nama Glagah Wangi.

Prabhu Brawijaya menyetujui permintaan Raden Patah. Dia mendanai segala keperluan untuk membangun daerah baru. Raden Patah, dengan disokong tenaga dan dana dari Majapahit, berangkat ke Jawa Tengah. Di daerah pesisir utara, didaerah yang dipenuhi tumbuhan pohon Glagah, dia membentuk pusat pemerintahan Kadipaten baru. Begitu pusat Kadipaten dibentuk, dinamailah tempat itu Demak Bintara. Dan Raden Patah, dikukuhkan oleh Sang Prabhu Brawijaya sebagai penguasa wilayah otonom Islam baru disana.

Demak Bintara berkembang pesat. Selain menjadi pusat kegiatan politik, Demak Bintara juga menjadi pusat kegiatan keagamaan. Demak Bintara menjadi jembatan penghubung antara barat dan timur pesisir utara Jawa.

Dipesisir utara Jawa, gerakan-gerakan militant Islam mulai menguat. Sayang, fenomena itu tetap dipandang sepele oleh Prabhu Brawijaya. Beliau tetap yakin, dominasi Majapahit masih mampu mengontrol semuanya. Padahal para pejabat daerah yang dekat dengan pesisir utara sudah melaporkan adanya kegiatan-kegiatan yang mencurigakan. Pasukan Telik Sandhibaya telah memberikan laporan serius tentang adanya kegiatan yang patut dicurigai akan mengancam kedaulatan Majapahit.

Tak lama berselang, Raden Hussein, putra Tan Eng Kian dengan Arya Damar, menyusul ke Majapahit. Dia mengabdikan diri sebagai tentara di Majapahit. Raden Hussein tidak terpengaruh ide-ide pendirian ke-Khalifah-an Islam. Dia diangkat sebagai Adipati didaerah Terung ( Sidoarjo, sekarang ) dengan gelar, Adipati Pecattandha.

Kebaikan Prabhu Brawijaya sangat besar sebenarnya. Tapi kebaikan yang tidak disertai kebijaksanaan bukanlah kebaikan. Dan hal ini pasti akan menuai masalah dikemudian hari. Bibit-bibit itu mulai muncul, tinggal menunggu waktu untuk pecah kepermukaan.Dan Prabhu Brawijaya tidak akan pernah menyangkanya.

Mendekati detik-detik pemberontakan

Demak Bintara berkembang pesat. Tempat ini dirasa strategis untuk pengembangan militansi Islam karena letaknya agak jauh dari pusat kekuasaan. Di Demak Bintara, para ulama-ulama Putihan sering mengadakan pertemuan. Jadilah Demak Bintara dikenal sebagai Kota Seribu Wali.

Ditambah pada tahun 1475 Masehi, seorang ulama berdarah Mesir-Sunda datang dari Mesir. Dia adalah Syarif Hidayatullah. Dia datang bersama ibunya Syarifah Muda’im. Syarifah Muda’im adalah putri Pajajaran. Putri dari Prabhu Silihwangi penguasa Kerajaan Pejajaran. ( Hanya Kerajaan ini yang tidak masuk wilayah Majapahit. Walau kecil, Pajajaran terkenal kuat. Anda bisa membayangkan adanya Timor Leste sekarang. Seperti itulah keadaan Majapahit dan Pajajaran. : Damar Shashangka).

Nama asli Syarifah Muda’im adalah Dewi Rara Santang. Dia bersama kakaknya Pangeran Walangsungsang, tertarik mempelajari Islam. Ketika berada di Makkah, Dewi Rara Santang dipinang oleh bangsawan Mesir, Syarif Abdullah. Menikahlah Dewi Rara Santang dengan bangsawan ini. Dan namanya berganti Syarifah Muda’im. Dari pernikahan ini, lahirlah Syarif Hidayatullah.

Pangeran Walang Sungsang, mendirikan daerah hunian baru di pesisir utara Jawa barat. Dikenal kemudian dengan nama Tegal Alang-Alang. Lantas berubah menjadi Caruban. Berubah lagi menjadi Caruban Larang. Pada akhirnya, dikenal dengan nama Cirebon sampai sekarang.

Pangeran Walang Sungsang, dikenal kemudian dengan nama Pangeran Cakrabhuwana. Oleh ayahandanya, Prabhu Silihwangi diberikan gelar kehormatan Shri Manggana.

Syarif Hidayatullah, keponakan Pangeran Cakrabhuwana lantas dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati.

Awal tahun 1478, Sunan Ampel wafat. Sunan Giri terpilih sebagai penggantinya. Pusat Majelis Ulama Jawa kini berpindah ke Giri Kedhaton. Dan, pada waktu inilah tragedi Syeh Siti Jenar terjadi. Syeh Siti Jenar dipanggil ke Giri Kedhaton dan disidang oleh Dewan Wali Sangha dibawah pimpinan Sunan Giri. Walau tidak mengakui keberadaan Majelis Ulama Jawa, beliau tetap hadir. Beliau dituduh telah menyebarkan aliran sesat. Adapula yang menuduh sebagai antek-antek Syi’ah. Ada juga yang mengatakan beliau ahli sihir, dan lain sebagainya. ( Akan saya buat catatan tersendiri tentang beliau : Damar Shashangka).

Pada sidang pertama para ulama yang tergabung dalam Dewan Wali Sangha tidak bisa menemukan kesalahan Syeh Siti Jenar. Sehingga, beliau lantas dibebaskan dari segala tuduhan. Namun bagaimanapun juga, Syeh Siti Jenar adalah duri didalam daging bagi mereka. Maka sejak saat itu, kesalahan-kesalahan beliau senantiasa dicari-cari.

Konsentrasi Dewan Wali Sangha terpecah pada rencana perebutan kekuasaan. Melalui serangkaian musyawarah yang pelik, maka disimpulkan, kekuatan militansi Islam sudah cukup siap untuk mengadakan perebutan kekuasaan. Raden Patah, Adipati Demak Bintara, terpilih secara mutlak sebagai pemimpin gerakan.

Kubu Abangan, tidak menghadiri musyawarah ini. Apalagi semenjak Dewan Wali Sangha atau Majelis Ulama Jawa dipegang Sunan Giri, hubungan kubu Putihan dan kubu Abangan kian meruncing.

Sunan Kalijaga dan para pengikutnya hanya mau membantu Dewan Wali Sangha merampungkan pembangunan Masjid Demak. Selebihnya, mereka tidak ikut campur.

Persiapan sudah matang. Tinggal memilih hari yang ditentukan. Pasukan Telik Sandhibaya ( Intelejen ) Majapahit mengendus rencana ini. Prabhu Brawijaya mendapat laporan para pasukan Intelejen yang ada disekitar Demak Bintara. Sayangnya, beliau tidak begitu mempercayainya. Beliau berkeyakinan, tidak mungkin Raden Patah, putra kandungnya sendiri akan nekad berbuat seperti itu. Prabhu Brawijaya tidak memahami betapa militant-nya orang yang sudah terdoktrin!

Dan manakala pergerakan pasukan besar-besaran terdengar, yaitu pasukan orang-orang Islam Putihan, gabungan dari seluruh lasykar yang ada di wilayah pesisir utara Jawa timur sampai Jawa barat mulai bergerak. Keadaan menjadi gempar! Para Pejabat daerah kalang kabut. Mereka tidak menyangka orang-orang Islam sedemikian banyaknya.

Setiap daerah yang dilalui pasukan ini, tidak ada yang bisa membendung. Kekuatan mereka cukup besar. Persiapan mereka cukup tertata. Sedangkan daerah-daerah yang dilalui, tidak mempunyai persiapan sama sekali. Daerah perdaerah yang dilewati, harus melawan sendiri-sendiri. Tidak ada penyatuan pasukan dari daerah satu dengan daerah lain. Semua serba mendadak. Dan tak ada pilihan lain kecuali melawan atau mundur teratur.

Gerakan pasukan ini cukup kuat. Para Adipati yang berhasil mundur segera melarikan diri ke ibu kota Negara. Mereka melaporkan agresi mendadak pasukan pesisir yang terdiri dari orang-orang Islam itu.

Dan dari mereka, Prabhu Brawijaya mendapat laporan yang mencengangkan, yaitu telah terjadi pergerakan pasukan dari Demak Bintara. Pasukan berpakaian putih-putih. Berbendera tulisan asing! Berteriak-teriak dengan bahasa yang tidak dimengerti! Pasukan ini dapat dipastikan adalah pasukan orang-orang Islam. Dan kini, tengah bergerak menuju ibu kota Negara Majapahit.

Percaya tidak percaya Prabhu Brawijaya mendengarnya. Laporan pasukan Telik Sandhibaya selama ini telah menjadi kenyataan.. Namun, Prabhu Brawijaya tetap tidak bisa mengerti, mana mungkin Raden Patah berbuat seperti itu. Mana mungkin orang-orang Islam berani dan tega mengadalan pemberontakan. Selama ini, Majapahit telah memberikan bantuan material yang tidak sedikit bagi mereka. Sesak! Dada Prabhu Brawijaya seketika serasa sesak bagai dihantam palu! Bergemuruh mendidih! Beliau menyebut Nama Mahadeva berkali-kali.

Seluruh pembesar Majapahit tegang. Mereka menantikan komando Sang Prabhu. Waktu berjalan cepat. Sang Prabhu masih belum mengeluarkan titah apapun. Pergerakan pasukan sudah memasuki Madiun, sebentar lagi mencapai wilayah Kadhiri, sudah teramat dekat dengan ibu kota Negara. Pertempuran-pertempuran penghadangan telah terjadi secara otomatis. Dan semua telah masuk menjadi laporan bagi Sang Prabhu.

Bahkan ada laporan yang menyatakan, beberapa daerah yang terpengaruh Islam, malah ikut bergabung dengan pasukan ini.

Adipati Kertosono ( wilayah Kediri sekarang ) mengirinkan utusan khusus kepada Sang Prabhu untuk segera mengeluarkan perintah perang!

Sang Prabhu masih termangu-mangu. Dan manakala terdengar Adipati Kertosono melakukan perlawanan mati-matian tanpa menunggu komando beliau, barulah Sang Prabhu tersadar! Segera beliau memerintahkan seluruh pasukan Majapahit untuk mempersiapkan sebuah perang besar!

Para Panglima yang telah menanti-nantikan perintah ini menyambut dengan suka cita! Inilah yang mereka nanti-nantikan! Tanpa menunggu waktu lama, seluruh kekuatan Majapahit segera dipersiapkan.

Pasukan Majapahit telah siap sedia menyambut kedatangan pasukan Demak Bintara. Dan sekali lagi, mereka tinggal menunggu perintah untuk MENYERANG!

Dan komando terakhir inipun tidak segera keluar. Pasukan Majapahit resah. Para Panglima cemas. Para kepala pasukan tempur digaris depan terus mendesak kepada Para Panglima masing-masing agar segera mengeluarkan perintah penyerangan!

Para Panglima juga mendesak Sang Senopati Agung, meminta kepada Prabhu Brawijaya untuk segera memberikan komando terakhir. Perlu dicatat, salah satu panglima yang memperkuat barisan Majapahit adalah Adipati Terung, adik tiri Raden Patah.

Dalam hatinya bertanya-tanya, ada apakah dengan kakak tirinya sehingga mengadakan gerakan makar sedemikian rupa? Selama ini, dia tidak melihat ada yang salah dengan pemerintahan Prabhu Brawijaya. Tidak ada diskriminasi dalam hal keagamaan. Dirinya yang muslim-pun, bisa bebas menjalankan ibadah agamanya. Bahkan, bisa dipercaya menjabat sebagai seorang Adipati, yang notabene bukan jabatan main-main.

Adipati Terung tidak bisa memahami pola pikir kakak tirinya.

Dan perintah penyerangan tidak juga segera turun. Seluruh pasukan yang sudah bersiap sedia dibarak masing-masing, dilanda ketegangan yang luar biasa!

Di Istana, Para Mantri resah. Melihat situasi ini, Sabdo Palon dan Naya Genggong meminta Sang Prabhu untuk segera mengeluarkan perintah. Namun apa jawaban Sang Prabhu? Beliau masih tidak yakin pasukan Demak akan tega menyerang ibu kota Negara Majapahit. Sabdo Palon dan Naga Genggong menandaskan, cara berfikir Raden Patah dan para pasukan ini sudah lain. Sang Prabhu tidak akan bisa memahaminya. Jalan satu-satunya sekarang adalah, menghadapi mereka secara frontal. Pada saat ini, tidak ada cara lain.

Dan manakala kabar terdengar pasukan Demak telah merangsak maju dan memasuki pinggiran ibu kota Majapahit, dan disana mereka mengadakan perusakan hebat. Dengan sangat terpaksa, Sang Prabhu mengeluarkan perintah penyerangan! Tapi, perintah itu sebenarnya telah terlambat!

Begitu keluar perintah penyerangan, ada hal yang tidak terduga, pasukan Ponorogo dan beberapa daerah yang lain membelot! Diketahui kemudian ternyata mereka adalah pasukan dari daerah-daerah yang sudah muslim.

Dan, peperangan pecah sudah!

Peperangan yang besar. Darah tertumpah lagi! Senopati Demak dipimpin oleh Sunan Ngundung. Dan dipihak Majapahit, Senopati dipegang oleh Arya Lembu Pangarsa. Prajurid Majapahit mengamuk dimedan laga. Para prajurid yang sudah berpengalaman tempur ini dan disegani diseluruh Nusantara, sekarang tidak main-main lagi! Adipati Sengguruh, Raden Bondhan Kejawen yang masih belia, Adipati Terung, Adipati Singosari dan yang lain ikut mengamuk dimedan laga!

Sayang, banyak kesatuan-kesatuan Majapahit yang berasal dari daerah muslim, membelot. Namun, pada hari pertama, pasukan Demak Bintara terpukul mundur!

Pada hari kedua, pasukan Demak terpukul lebih telak. Senopati Demak, Sunan Ngundung tewas! (Makamnya masih ada di Trowulan, Mojokerto sampai sekarang.) Pasukan Demak mengundurkan diri. Pasukan cadangan masuk dipimpin oleh putra Sunan Ngundung, Sunan Kudus. Pertempuran kembali pecah!

Namun bagaimanapun juga, pasukan Demak harus mengakui kekuatan pasukan Majapahit. Mereka terpukul mundur keluar dari ibu kota Negara. Kehebatan pasukan Majapahit yang terkenal itu, ternyata terbukti!

Pasukan Demak bertahan. Beberapa minggu kemudian, datang pasukan dari Palembang bergabung dengan pasukan Majapahit. Pasukan Majapahit seolah mendapat suntikan darah segar. Namun ternyata, bergabungnya pasukan Palembang ini hanyalah bagian dari siasat dari orang-orang Demak.

Pasukan Palembang, diam-diam memusnahkan seluruh persediaan bahan makanan tentara Majapahit. Lumbung-lumbung besar dibakar! Semua persediaan bahan pangan ludes! ( Inilah simbolisasi dari didatangkannya peti ajaib milik Adipati Arya Damar dari Palembang yang apabila dibuka, mampu mengeluarkan beribu-ribu tikus dan memakan seluruh beras dan bahan pangan tentara Majapahit. : Damar Shashangka).

Majapahit kebobolan luar dalam. Majapahit benar-benar tidak pernah menyangka akan hal itu. Begitu persediaan bahan pangan menipis, dari hari kehari, pelan namun pasti, pasukan Majapahit terpukul mundur!

Mendengar pasukan Majapahit terdesak, Kepala Pasukan Bhayangkara, yaitu Pasukan Khusus Pengawal Raja, segera mengamankan Prabhu Brawijaya. Keadaan sudah sedemikian genting dan Sang Prabhu, mau tidak mau, harus segera meloloskan diri. Ini harus dilakukan secepatnya, karena untuk menyatukan kembali kekuatan tentara Majapahit kelak, sosok Prabhu Brawijaya, masih dibutuhkan!

Dengan dikawal Pasukan Bhayangkara, Prabhu Brawijaya segera keluar dari Istana. Pasukan Bhayangkara memutuskan agar Sang Prabhu menyelamatkan diri ke Pulau Bali. Pulau yang kondusif untuk saat ini.

Ditengah kekacauan itu, Dewi Anarawati, diam-diam dibawa oleh pasukan Islam ke Gresik. Putra bungsu Dewi Anarawati, Raden Gugur yang masih kecil, diselamatkan oleh pasukan Ponorogo dan dibawa ke Kadipaten Ponorogo.

Dan pada akhirnya, Majapahit bisa dijebol. Seluruh Istana dirusak dan dibakar!. Perusakan terjadi dimana-mana. ( Maka jangan heran, sampai sekarang bekas Istana Majapahit yang terkenal di Nusantara itu, musnah tak berbekas. : Damar Shashangka)

Dan pada akhirnya, terjadilah tragedi kemanusiaan yang sampai sekarang ‘ditutupi’. Perang yang semula melibatkan dua kekuatan militer Majapahit dan Demak, kini merembet menjadi perang sipil. Mereka yang merasa diatas angin, kini menjadi sosok malaikat maut. Pertumpahan darah terjadi. Masyarakat Majapahit yang masih memegang keyakinan lama, berhadapan secara frontal dengan mereka yang telah berpindah keyakinan.

Dimana-mana, situasi anarkhis terjadi. Dimana-mana dua kubu ini bentrok. Dimana-mana kekacauan merajalela. Jawa dalam situasi chaos! Ibu pertiwi menangis. Ibu pertiwi terluka. Putra-putranya kini tengah saling menumpahkan darah hanya karena disalah satu pihak tengah dilanda ‘ketidak sadaran’.

Akibat tragedi yang mencerabut segala sendi-sendi masyarakat Majapahit ini, bangunan-bangunan indah dari Kerajaan Agung Majapahit, musnah tak berbekas! Majapahit yang terkenal sebagai Macan Asia, ludes dibabat habis. Di Jawa Timur, Majapahit seolah-olah hanya sebuah mitos belaka, karena banyak peninggalan dari jaman keemasan Nusantara ini, hancur karena kepicikan.

Hanya sedikit yang tersisa. Dan yang sedikit itulah yang masih bisa kita saksikan hingga sekarang.

Eksodus besar-besaran terjadi. Para Agamawan, Para Bangsawan dan rakyat yang tetap memegang teguh keyakinannya, menyingkir ketempat-tempat yang dirasa aman. Kebanyakan menyeberang ke Bali, Kalimantan dan Lombok.

Ada seorang putri selir Prabhu Brawijaya yang melarikan diri bersama sisa-sisa prajurid Majapahit dan beberapa penduduk. Dia bernama Dewi Rara Anteng. Bersama suaminya Raden Jaka Seger, dia menyingkir ke pegunungan Bromo. Sampai sekarang keturunan mereka masih ada disana, dikenal dengan nama suku Tengger. Diambil dari nama Dewi Rara An-TENG dan Raden Jaka Se-GER. Diwilayah pegunungan Bromo, pasukan Demak memang tidak bisa menjangkau. Medannya cukup sulit dan terisolir. (Suku Tengger baru membuka diri pada jaman pemerintahan Presiden Soekarno. Ketika disensus dan ditanyakan apa agama mereka, mereka menyatakan beragama Budo. Padahal ritual yang mereka jalankan lebih dekat ke agama Hindhu dari pada agama Buddha. Para petugas sensus tidak tahu, istilah Hindhu memang tidak dikenal pada jaman Majapahit. Yang terkenal adalah agomo Siwo Budo atau hanya disebut wong Budo saja. : Damar Shashangka).

Dengan dikawal oleh Pasukan Bhayangkara dan beberapa kesatuan pasukan yang tersisa, Prabhu Brawijaya menyingkir ke arah timur. Dan untuk sementara, beliau tinggal di Blambangan. Adipati Blambangan, memperkuat barisan pasukan ini. Dan tak hanya itu, para penduduk Blambangan-pun dengan suka rela ikut menggabungkan diri. Mereka benar-benar melindungi Prabhu Brawijaya ekstra ketat. Mereka siap tempur di Blambangan. Keadaan darurat diberlakukan.

Selama ada di Blambangan, Prabhu Brawijaya terus terusik batinnya. Raden Patah, yang biasa beliau banggil dengan nama Patah itu, ternyata telah tega melakukan ini semua. Kebaikan beliau selama ini dibalas dengan racun. Sabdo Palon dan Naya Genggong menabahkan hati Sang Prabhu. Nasi sudah menjadi bubur. Tidak patut disesali lagi.

Kini, saatnya untuk menata kembali yang tersisa. Dan untuk tujuan itu, Prabhu Brawijaya harus menyeberang ke Pulau Bali.

Sirna Ilang Kerthaning Bhumi

Atas perintah Raden Patah, Senopati Demak Bintara Sunan Kudus menemui Adipati Terung, adik kandung Raden Patah dengan membawa pasukan Demak Bintara. Adipati Terung di ultimatum agar menyerah, atau dihancurkan. Adipati Terung dalam dilema. Pada akhirnya, dia menyatakan ‘menyerah’ kepada Demak Bintara.

Beberapa minggu kemudian, Raden Patah datang dari Demak untuk melihat langsung kemenangan pasukannya. Raden Patah meminta semua laporan dari kepala pasukan Demak. Diketahui kemudian, Prabhu Brawijaya berhasil meloloskan diri. Pasukan Bhayangkara Majapahit atau Pasukan Khusus Pengawal Raja, memang terkenal lihai melindungi junjungan mereka. Tak ada satupun kepala pasukan Demak yang mengetahui bagaimana Pasukan Bhayangkara bisa menerobos kepungan rapat Pasukan Islam dan kearah mana mereka membawa Sang Prabhu pergi.

Raden Patah segera menyebar pasukan mata-mata untuk melacak keberadaan Sang Prabhu. Dan Raden Patah sendiri segera melanjutkan perjalanan untuk bertandang ke Pesantren Ampel di Surabaya. Dia hendak mengabarkan kemenangan besar ini kepada janda Sunan Ampel.

Di Surabaya situasi anarkhis-pun merajalela. Nyi Ageng Ampel, begitu mendengar laporan Raden Patah, marah! Dengan tegas beliau menyatakan, apa yang dilakukan Raden Patah adalah sebuah kesalahan besar. Dia telah berani melanggar wasiat gurunya sendiri, Sunan Ampel, yang mewasiatkan sebelum beliau wafat, melarang orang-orang Islam merebut tahta Majapahit. Dan juga, Raden Patah telah berani melawan seorang Imam yang sah, seorang Umaro’ tidak seharusnya dilawan tanpa ada alasan yang jelas. Dan yang ketiga, Raden Patah telah berani durhaka kepada ayah kandungnya sendiri yang telah melimpahkan segala kebaikan bagi dirinya serta orang-orang Islam.

Nyi Ageng Ampel menangis. Raden Patah terketuk hati nuraninya, dia ikut mencucurkan air mata. Didepan Nyi Ageng Ampel, Raden Patah mencium kaki beliau, menangis, menyesali perbuatannya.

Dengan berurai air mata, Raden Patah meminta solusi kepada Nyi Ageng Ampel. Dan Nyi Ageng Ampel memerintahkan kepadanya untuk segera mencari keberadaan Prabhu Brawijaya. Dan apabila sudah diketemukan, seyogyanya, Prabhu Brawijaya dikukuhkan kembali sebagai seorang Raja.

Mendengar perintah itu, secara emosional Raden Patah berniat mencari ayahandanya sendiri bersama beberapa orang prajurid Demak. Tapi Nyi Ageng Ampel mencegahnya. Dalam situasi anarkhis seperti ini, tidak memungkinkan bagi dia untuk mencari beliau sendiri. Dikhawatirkan, akan terjadi kesalah pahaman. Dan sekarang, dimata Prabhu Brawijaya, dirinya dan seluruh umat Islam yang menyokong pergerakan pasukan Demak, tidak mungkin dipercaya lagi.

Jalan keluar yang terbaik adalah, meminta bantuan Sunan Kalijaga atau Syeh Siti Jenar untuk mewakili dirinya, mencari Prabhu Brawijaya dan apabila sudah bisa ditemukan, memohon kepada Prabhu Brawijaya agar kembali ke Majapahit. Sudah bukan rahasia lagi dikalangan Istana, dua ulama besar ini tidak terlibat dalam penyerangan Majapahit.

Karena Syeh Siti Jenar, baru saja disidang oleh Dewan Wali Sangha yang mengakibatkan hubungan beliau dengan Para Wali sekaligus dengan Raden Patah dalam situasi yang tidak mengenakkan, maka Raden Patah memutuskan untuk mengirim pasukan khusus menemui Sunan Kalijaga.

Sunan Kalijaga, dimohon menghadap ke Pesantren Ampel atas permintaan Nyi Ageng Ampel dan Raden Patah.

Beberapa hari kemudian, Sunan Kalijaga datang ke Surabaya. Beliau waktu itu berada di Demak Bintara, memfokuskan diri memimpin pembangunan Masjid Demak.

Sunan Kalijaga, Nyi Ageng Ampel dan Raden Patah, terlibat perundingan yang serius. Dan pada akhirnya, Sunan Kalijaga menyetujui untuk mengemban tugas mulia itu.

Beberapa hari kemudian, laporan dari pasukan mata-mata Demak Bintara diterima Raden Patah. Diketahui, ada konsentrasi besar pasukan Majapahit diwilayah Blambangan. Diketahui pula, Prabhu Brawijaya ada disana. Ada kabar terpetik, Prabhu Brawijaya hendak menyeberang ke pulau Bali.

Mendapati informasi yang dapat dipercaya seperti itu, Sunan Kalijaga, diiringi beberapa santrinya, segera berangkat ke Blambangan. Dia siap mengambil segala resiko yang bakal terjadi. Dengan memakai pakaian rakyat sipil yang tidak mencolok mata, demi untuk menghindari kesalah pahaman, dia berangkat. Disetiap daerah yang dilalui, Sunan Kalijaga beserta rombongan melihat pemandangan yang memilukan. Kekacauaan ada dimana-mana. Penduduk yang masih memegang keyakinan lama, bentrok dengan penduduk yang sudah mengganti keyakinannya.Korban berjatuhan. Nyawa melayang karena kepicikan.

Rombongan ini harus pandai-pandai memilih jalan. Kadangkala memutar kalau dirasa perlu. Mereka sengaja menghindari tempat keramaian. Mereka lebih memilih menerobos hutan belantara demi menjaga keamanan.

Dan, manakala mereka sudah tiba di Blambangan, Sunan Kalijaga, menunjukkan statusnya. Dengan mengibarkan bendera putih tanda gencatan senjata, dia memasuki kota Blambangan yang mencekam.

Para prajurid Majapahit terkejut melihat ada serombongan kecil orang-orang muslim memasuki kota Blambangan. Mereka mengibarkan bendera putih. Mereka bukan tentara. Mereka tidak bersenjata. Serta merta, kedatangan mereka dihadang oleh pasukan Majapahit. Dan mereka tidak diperkenankan memasuki kota. Prajurid Majapahit, siap tempur.

Namun, Sunan Kalijaga menunjukkan siapa dirinya. Dia meminta kepada kepala prajurid agar menyampaikan pesan kepada Prabhu Brawijaya, bahwasanya dia, Raden Sahid atau Sunan Kalijaga, datang sebagai duta dan memohon menghadap.

Ketegangan terjadi. Rombongan kecil ini diujung tanduk. Nyawa mereka terancam. Namun mereka yakin, prajurid Majapahit bisa membedakan, mana musuh dalam medan laga dan mana musuh dalam status duta. Mereka tidak akan berani mencelakai seorang duta.

Ketegangan sedikit mencair manakala ada pesan dari Sang Prabhu yang mengabulkan permohonan Sunan Kalijaga untuk menghadap kepada beliau. Prabhu Brawijaya tahu bagaimana menghormati seorang duta. Prabhu Brawijaya-pun tahu dari laporan para pasukan Sandhi (Intelejen) bahwa Sunan Kalijaga bersama para pengikutnya, tidak ikut melakukan penyerangan ke Majapahit.

Sunan Kalijaga beserta rombongan bisa bernafas lega. Mereka segera menghadap Prabhu Brawijaya dengan pengawalan yang sangat ketat sekali. Sembari memegang persenjataan lengkap dan siap digunakan, para prajurid Bhayangkara menyambut kedatangan Sunan Kalijaga. Mereka mengapitnya. Sunan Kalijaga diperkenankan masuk. Beberapa santrinya disuruh menunggu diluar.

Prabhu Brawijaya, didampingi para penasehat beliau yang terdiri dari para Pandhita Shiva dan Wiku Buddha, juga Sabdo Palon dan Naya Genggong, nampak telah menunggu kedatangan Sunan Kalijaga. Begitu ada dihadapan Sang Prabhu, Sunan Kalijaga menghaturkan hormat.

Prabhu Brawijaya menanyakan maksud kedatangan Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga mengatakan bahwa dia adalah duta Raden Patah sekaligus Nyi Ageng Ampel. Sunan Kalijaga menceritakan segalanya dari awal hingga akhir. Bahkan dia menceritakan pula kondisi Majapahit. Prabhu Brawijaya meneteskan air mata mendengar banyak penduduk yang harus meregang nyawa karena kepicikan, mendengar Keraton megah kebanggaan Nusantara dibumi hanguskan, mendengar tempat-tempat suci hancur rata dengan tanah.

Seluruh yang hadir merasa sedih, marah, geram, semua bercampur aduk menjadi satu.

Dan manakala Sunan Kalijaga mengahturkan tujuan sebenarnya dia menjadi duta, yaitu agar Prabhu Brawijaya berkenan kembali memegang tampuk pemerintahan di Majapahit, seketika ssemua yang hadir memincingkan mata.Seolah mendengarkan kalimat yang tidak bisa dicerna.

Prabhu Brawijaya tercenung. Beliau meminta nasehat. Beberapa penasehat mengusulkan agar hal itu tidak dilakukan, karena sama saja menerima suatu penghinaan. Dinasti Majapahit, bisa kembali berkuasa hanya karena kebaikan hati orang-orang Islam. Tidak hanya itu saja, wibawa Sang Prabhu akan jatuh dimata para pendukungnya. Tidak ada artinya tahta yang diperoleh dari belas kasihan musuh. Masyarakat Majapahit akan memandang rendah pemimpin mereka yang mau menerima tahta seperti itu. Selama ini, Raja-Raja Majapahit, tidak pernah melakukan itu. Bila wibawa Sang Prabhu telah jatuh, dengan sendirinya, para pengikut Sang Prabhu akan berani juga bermain-main dengan Sang Prabhu kelak. Hukum tidak akan dipatuhi. Para pembangkang akan muncul dimana-mana bak jamur tumbuh dimusim penghujan. Dan lagi, apakah Sang Prabhu tidak malu menerima tahta dari anaknya sendiri?

Sebaiknya Sang Prabhu tidak menerima tawaran itu.

Sang Prabhu menghela nafas.

Sunan Kalijaga mohon bicara. Apabila memang Sang Prabhu tidak mau menerima tahta Majapahit dari tangan Raden Patah, maka seyogyanya Sang Prabhu mempertimbangkan kembali jika hendak mendapatkannya dengan jalan merebut. Sebab, bila hal itu sampai terjadi, tidak bisa dibayangkan, tanah Jawa akan banjir darah. Dukungan kekuatan militer bagi Sang Prabhu akan datang dari segenap pelosok Nusantara, tidak bakalan tanggung-tanggung lagi. Jawa akan semakin membara bila seluruh Nusantara akan bangkit. Pembunuhan yang lebih besar dan mengerikan akan terjadi.

Sang Prabhu Brawijaya bagaikan disodori buah simalakama, dimakan mati tidak dimakan pun mati.

Sejenak, Sang Prabhu berunding dengan para penasehat beliau yang terdiri dari para ahli hukum dan agamawan. Sejurus kemudian, beliau menyatakan kepada Sunan Kalijaga hendak merundingkan hal ini dengan para penasehat lebih dalam lagi. Dan Sunan Kalijaga diperbolehkan menghadap esok hari lagi. Sunan Kalijaga dan seluruh rombongannya diberikan tempat bermalam, dengan pengawalan ketat.

Keesokan harinya, Sunan Kalijaga dipanggil menghadap. Prabhu Brawijaya memutuskan, untuk menghindari pertumpahan darah yang lebih besar lagi, beliau tidak akan mengadakan gerakan perebutan tahta kembali. Lega Sunan Kalijaga mendengarnya.

Namun apa yang akan dilakukan Sang Prabhu agar seluruh putra-putra beliau mau merelakan tahta diduduki Raden Patah? Begitu Sunan Kalijaga meminta kejelasan langkah selanjutnya. Sang Prabhu mengatakan, beliau akan mengeluarkan maklumat kepada seluruh putra-putra beliau untuk bersikap sama seperti dirinya. Untuk berjiwa besar memberikan kesempatan bagi Raden Patah memegang tampuk kekuasaan. Terutama kepada keturunan beliau di Pengging, maklumat ini benar-benar harus dipatuhi. Semua sudah paham, yang berhak mewarisi tahta Majapahit sebenarnya adalah keturunan di Pengging.

Kini, Sang Prabhu yang mempertanyakan jaminan kebebasan beragama kepada Sunan Kalijaga, apakah Demak Bintara bisa memberikan wilayah-wilayah otonomi khusus bagi para penguasa daerah yang mayoritas masyarakatnya tidak beragama Islam? Bisakah Demak Bintara sebijak Majapahit dulu? Bukankah keyakinan yang dianut Raden Patah menganggap semua yang diluar keyakinan mereka adalah musuh?

Sunan Kalijaga terdiam. Dan setelah berfikir barang sejenak, Sunan Kalijaga betjanji akan ikut andil menentukan arah kebijakan pemerintahan Demak Bintara. Dan itu berarti, mulai saat ini, dia harus ikut terjun kedunia politik. Dunia yang dihindarinya selama ini ( Tahta Kadipaten Tuban yang diserahkan kepadanya, dia berikan kepada Raden Jaka Supa, suami adiknya Dewi Rasa Wulan : Damar Shashangka).

Prabhu Brawijaya bernafas lega. Dia percaya pada sosok Raden Sahid atau Sunan Kalijaga ini.

Sunan Kalijaga menambahkan, Sang Prabhu seyogyanya kembali ke Trowulan. Tidak usah meneruskan menyeberang ke pulau Bali. Sebab dengan adanya Sang Prabhu di Trowulan, para putra dan masyarakat tahu kondisi beliau. Tahu bahwasanya beliau baik-baik saja. Sehingga seluruh pendukung beliau akan merasa tenang.

Kembali Sang Prabhu berunding dengan para penasehat sejenak Kemudian beliau memeberikan jawaban.

Ada beliau di Trowulan ataupun tidak, stabilitas negara sepeninggal beliau tergulingkan dari tahta, mau tidak mau, tetap akan terganggu. Karena para pendukung beliau pasti juga banyak yang belum bisa menerima pemberontakan Raden Patah ini. Namun, jika tidak ada komando khusus dari beliau, hal itu tidak akan menjadi sebuah kekacauan yang besar. Pembangkangan daerah per daerah pasti terjadi. Tapi, Sang Prabhu menjamin, tanpa komando beliau, penyatuan kekuatan Majapahit dari daerah per daerah tidak bakalan terjadi. Dan, beliau tidak perlu pulang ke Trowulan.

Sunan Kalijaga resah. Bila Sang Prabhu ke Bali, Sunan Kalijaga takut beliau akan berubah pikiran begitu melihat betapa militan-nya para pendukung beliau disana. Mau tidak mau, Prabhu Brawijaya harus bisa diusahakan pulang ke Trowulan. Sunan Kalijaga memutar otak.

Sunan Kalijaga tahu, hati Prabhu Brawijaya sangat lembut. Dan kini, Sunan Kalijaga akan berusaha mengetuk kelembutan hati beliau. Sunan Kalijaga memberikan gambaran betapa mengerikannya jika para pendukung beliau benar-benar siap melakukan gerakan besar. Tidak ada jaminan bagi Sang Prabhu sendiri bahwa beliau tidak akan berubah pikiran bila tetap meneruskan perjalanan ke Bali. Sunan Kalijaga memohon, Prabhu Brawijaya harus mengambil jarak dengan para pendukung beliau. Nasib rakyat kecil dalam hal ini dipertaruhkan. Mereka harus lebih diutamakan.

Sunan Kalijaga memberikan kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi jika Sang Prabhu tetap hendak ke Bali

Diam-diam, Prabhu Brawijaya berfikir. Diam-diam hati beliau terketuk. Kata-kata Sunan Kalijaga memang ada benarnya. Prabhu Brawijaya tercenung. Beliau memutuskan pertemuan untuk sementara disudahi. Sunan Kalijaga diminta kembali ketempatnya untuk sementara waktu.

Dan, Prabhu Brawijaya ingin menyendiri. Ingin merenung tanpa mau diganggu oleh siapapun. Ketika malam menjelang, Sang Prabhu memanggil Sabdo Palon dan Naya Genggong. Bertiga bersama-sama membahas langkah selanjutnya.

Dan, ketika malam menjelang puncak, Sabdo Palon dan Naya Genggong berterus terang, Mereka berdua menunjukkan siapa sebenarnya jati dirinya. Diiringi semburat cahaya lembut, Sabdo Palon dan Naya Genggong ‘menampakkan wujudnya yang asli’ kepada Prabhu Brawijaya.

Prabhu Brawijaya terperanjat. Serta merta beliau menghaturkan hormat, bersembah. Kini, malam ini, untuk pertama kalinya, Sang Prabhu Brawijaya bersimpuh. ( Siapa mereka? Masih rahasia : Damar Shashangka).

Sabdo Palon dan Naya Genggong memberikan gambaran apa yang bakal terjadi kelak di Nusantara. Semenjak hari kehancuran Majapahit, ‘kesadaran’ masyarakat Nusantara akan jatuh ketitik yang paling rendah. ‘Kulit’ lebih diagung-agungkan dari pada ‘Isi’. ‘Kebenaran Yang Mutlak’ dianggap sebagai milik golongan tertentu. Dharma diputar balikkan. Sampah-sampah seperti ini akan terus tertumpuk sampai lima ratus tahun kedepan. Dan bila sudah saatnya, Alam akan memuntahkannya. Alam akan membersihkannya.

Nusantara akan terguncang. Gempa Bumi, banjir bandang, angin puting beliung, ombak samudera naik ke daratan, gunung berapi memuntahkan laharnya berganti-gantian, musibah silih berganti, datang dan pergi. Bila waktu itu tiba, Alam telah melakukan penyeleksian. Alam akan memilih mereka-mereka yang ‘berkesadaran tinggi’. Yang ‘kesadarannya masih rendah’, untuk sementara waktu disisihkan dahulu atau akan dilahirkan ditempat lain diluar Nusantara. Bila saat itu sudah terjadi, Sabdo Palon dan Naya Genggong akan muncul lagi, kembali ke Nusantara. Sabdo Palon dan Naya Genggong akan ‘merawat tumbuhan kesadaran’ dari mereka-mereka yang terpilih. Sabdo Palon dan Naya Genggong akan menjaga ‘tumbuhan Buddhi’ yang mulai bersemi itu. Itulah saatnya, agama Buddhi, agama Kesadaran akan berkembang biak di Nusantara. Dan Nusantara, pelan tapi pasti, akan dapat meraih kejayaannya kembali.

Memang sudah menjadi garis karma, kehendak Hyang Widdhi Wasa, mereka-mereka saat ini berkuasa di Nusantara. Prabhu Brawijaya tidak ada gunanya mempertahankan Shiva Buddha. Prabhu Brawijaya lebih baik menuruti kehendak mereka-mereka yang tengah berkuasa. Kelak, Prabhu Brawijaya juga akan lahir lagi, lima ratus tahun kemudian, untuk ikut menyaksikan berseminya agama Buddhi.

Menangislah Prabhu Brawijaya. Semalaman beliau menangis. Semua rahasia masa depan Nusantara, dijabarkan oleh Sabdo Palon dan Naya Genggong.

Keesokan harinya, beliau memanggil Sunan Kalijaga. Dihadapan seluruh yang hadir, beliau menyatakan hendak kembali ke Trowulan. Dan yang lebih mengagetkan, beliau menyatakan masuk Islam demi menjaga stabilitas negara.

Sunan Kalijaga dan seluruh yang hadir terperangah mendengar keputusan Sang Prabhu. Beberapa penasehat, pejabat dan kepala pasukan Bhayangkara, bersujud sambil menangis haru. Mereka memohon agar Sang Prabhu mencabut kembali sabda yang telah beliau keluarkan. Situasi tegang, sedih, bingung…

Sabdo Palon dan Naya Genggong angkat bicara. Dihadapan Prabhu Brawijaya, Sunan Kalijaga dan seluruh yang hadir, mereka mengucapkan sebuah sumpah, bahwasanya lima ratus tahun kemudian, mereka berdua akan kembali. ( Inilah yang lantas dikenal dengan JANGKA SABDO PALON NAYA GENGGONG oleh masyarakat Jawa sampai sekarang. Baca catatan saya tentang SERAT SABDO PALON. : Damar Shashangka).

Selesai mengucapkan sumpah mereka, Sabdo Palon dan Naya Genggong mencium tangan Sang Prabhu Brawijaya. Sabdo Palon berbisik :

“Lima ratus tahun lagi, ananda akan bertemu dengan kami kembali. Sekarang sudah saatnya kita berpisah. Selamat tinggal ananda.”

Sabdo Palon dan Naya Genggong menyembah hormat, lalu bergegas keluar dari ruang pertemuan. Semua yang hadir masih bingung melihat peristiwa ini. Diantara mereka, ada beberapa yang ikut menyembah, melepas lencana mereka dan memohon maaf kepada Sang Prabhu untuk undur diri.

Bagaikan tugu dari batu, Sang Prabhu Brawijaya diam tak bergerak. Tinggal beberapa orang yang ada didepan beliau. Beberapa pasukan Bhayangkara yang memutuskan untuk setia mengiringi Sang Prabhu. Juga ada Sunan Kalijaga, yang masih pula ada di sana.

Setelah kediaman beliau yang lama, Sunan Kalijaga memberanikan diri menanyakan keputusan Sang Prabhu tersebut. Sang Prabhu menjawab, semua memang harus terjadi. Mendengar sabda Sang Prabhu, Sunan Kalijaga segera mendekat kepada beliau.

Sunan Kalijaga memohon dengan segala hormat, apabila Sang Prabhu benar-benar ikhlas menyerahkan tahta kepada Raden Patah, maka beliau harus rela melepaskan mahkota beserta pakaian kebesaran beliau sebagai Raja Diraja. Sejenak Sang Prabhu masih ragu, namun ketika sekali lagi Sunan Kalijaga memohon keikhlasan beliau, maka Sang Prabhu menyetujuinya. ( Inilah simbolisasi rambut beliau dipotong oleh Sunan Kalijaga. Pada kali pertama, rambut beliau tidak bisa putus. Dan pada kali kedua, barulah bisa putus : Damar Shashangka.)

Tidak menunggu waktu lama, berangkatlah rombongan Prabhu Brawijaya yang terdiri dari sedikit pasukan Bhayangkara dan Sunan Kalijaga beserta para santri menuju Trowulan. Sesampainya di Trowulan, masyarakat Majapahit menyambut dengan penuh suka cita. Keadaan mulai berangsur membaik ketika Sang Prabhu Brawijaya mengeluarkan maklumat agar semua pertikaian dihentikan. Disusul kemudian, keluar maklumat serupa dari Demak Bintara yang memfatwakan, peperangan sudah berhenti, diharamkan membunuh mereka yang telah kalah perang. Kondisi anarkhisme, berangsur-angsur menjadi kondusif. Stabilitas untuk sementara waktu kembali normal. Stabilitas yang dibawa dari Blambangan ini, membuat Sunan Kalijaga, sebagai suatu kenangan keberhasilan mendamaikan kedua belah pihak, memberikan nama baru kepada Blambangan, yaitu Banyuwangi. ( Disimbolkan, Sunan Kalijaga membawa sepotong bambu kemudian dia mengisinya dengan air kotor waktu masih di Blambangan. Begitu sesampainya di Trowulan, air dalam bambu itu berubah menjadi jernih dan wangi. Bambu adalah lambang dari sebuah negara, air kotor yang diambil Sunan Kalijaga adalah masalah yang dibuat oleh orang-orang yang sekeyakinan dengan Sunan Kalijaga sendiri. Air yang berubah jernih setibanya di Trowulan melambangkan kembalinya stabilitas negara.: Damar Shashangka).

Bergiliran, para putra Prabhu Brawijaya datang ke Trowulan. Adipati Handayaningrat dari Pengging beserta Ki Ageng Pengging putranya. Raden Bondhan Kejawen dari Tarub. Raden Bathara Katong dari Ponorogo. Raden Lembu Peteng dari Madura, dan masih banyak lagi. Tak ketinggalan Raden Patah sendiri.

Dihadapan seluruh putra-putra beliau, Sunan Kalijaga menyampaikan amanat Sang Prabhu agar pertikaian dihentikan. Dan agar Raden Patah, diikhlaskan menduduki tahta Demak Bintara. Seluruh putra-putra beliau, wajib menerima dan mentaati keputusan ini.

Kepada Sunan Kalijaga, Sang Prabhu Brawijaya memberikan amanat untuk mendampingi keturunan beliau yang ada di Tarub yaitu Raden Bondhan Kejawen dan keturunan beliau yang ada di Pengging. Terutama kepada Raden Bondhan Kejawen, Prabhu Brawijaya telah mengetahuinya dari Sabdo Palon dan Naya Genggong, bahwa kelak, dari keturunannya, akan lahir Raja-Raja besar di Jawa. Dinasti Raden Patah dan dinasti dari Pengging, tidak akan bertahan lama.

Prabhu Brawijaya bahkan membisikkan kepada Sunan Kalijaga, bahwa Demak hanya akan dipimpin oleh tiga orang Raja. Setelah itu akan digantikan oleh keturunan dari Pengging, cuma satu orang Raja. Lantas digantikan oleh keturunan dari Tarub. Banyak Raja akan terlahir dari keturunan dari Tarub.

(Ramalan ini terbukti, Demak hanya diperintah oleh tiga orang Sultan. Yaitu Raden Patah, Sultan Yunus lalu Sultan Trenggana. Setelah itu terjadi pertumpahan darah antara Kubu Abangan dengan Kubu Putihan. Dan Jaka Tingkir tampil kemuka. Jaka Tingkir adalah keturunan dari Pengging. Tapi tidak lama, keturunan dari Tarub, yaitu Danang Sutawijaya, yang kelak dikenal dengan gelar Panembahan Senopati Ing Ngalaga Mentaram, akan tampil kemuka menggantikan keturunan Pengging. Panembahan Senopati inilah pendiri Kesultanan Mataram Islam, yang sekarang terpecah menjadi Jogjakarta, Surakarta, Mangkunegaran dan Paku Alaman :Damar Shashangka.)

Tidak berapa lama kemudian, Prabhu Brawijaya jatuh sakit. Dalam kondisi akhir hidupnya, Sunan Kalijaga dengan setia mendampingi beliau. Kepada Sunan Kalijaga, Prabhu Brawijaya berwasiat agar dipusara makam beliau kelak apabila beliau wafat, jangan dituliskan nama beliau atau gelar beliau sebagai Raja terakhir Majapahit. Melainkan beliau meminta agar dituliskan nama Putri Champa saja. Ini sebagai penanda kisah akhir hidup beliau, juga kisah akhir Kerajaan Majapahit yang terkenal dipelosok Nusantara. Bahwasanya, beliau telah ditikam dari belakang oleh permaisurinya sendiri Dewi Anarawati atau Putri Champa dan beliau diperlakukan dan tidak dihargai lagi sebagai seorang laki-laki oleh Raden Patah, putranya sendiri.

Sunan Kalijaga sedih mendapat wasiat seperti itu. Namun begitu beliau wafat, wasiat itu-pun dijalankan.

Seluruh masyarakat berkabung. Seluruh putra dan putri beliau berkabung.

Dan kehancuran Majapahit. Kehancuran Kerajaan Besar ini dikenang oleh masyarakat Jawa dengan kalimat sandhi yang menyiratkan angka-angka tahun sebuah kejadian (Surya Sengkala), yaitu SIRNA ILANG KERTANING BHUMI. SIRNA berarti angka ‘0’. ILANG berarti angka ‘0’. KERTA berarti angka ‘4’ dan BHUMI berarti angka ‘1’. Dan apabila dibalik, akan terbaca 1400 Saka atau 1478 Masehi. Kalimat KERTAning BHUMI diambil dari nama asli Prabhu Brawijaya, yaitu Raden Kertabhumi. Inilah kebiasaan masyarakat Jawa yang sangat indah dalam mengenang sebuah kejadian penting.

Dan Raden Patah, memindahkan pusat pemerintahan ke Demak Bintara. Dia dikukuhkan oleh Dewan Wali Sangha sebagai Sultan dengan gelar Sultan Syah ‘Alam Akbar Jim-Bun-ningrat.

Keinginan orang-orang Islam terwujud. Demak Bintara menjadi ke-Khalifah-an Islam pertama di Jawa. Tapi, pemberontakan dari berbagai daerah, tidak bisa diatasi oleh Pemerintahan Demak. Wilayah Majapahit yang dulu luas, kini terkikis habis. Praktis, wilayah Demak Bintara hanya sebatas Jawa Tengah saja. Kemakmuran, kesejahteraan, kedamaian seolah menjauh dari Demak Bintara. Darah terus tertumpah tiada habisnya. Perebutan kekuasaan silih berganti. Nusantara semakin terpuruk. Semakin tenggelam dipeta perpolitikan dunia.

Disusul kemudian, pada tahun 1596 Masehi, Belanda datang ke Jawa. Nusantara semakin menjadi bangsa tempe! Semenjak Majapahit hancur, hingga sekarang, kemakmuran hanya menjadi mimpi belaka.

Kapan Majapahit bangkit lagi? Kapan Nusantara akan disegani sebagai Macan lagi?

Menangislah membaca sejarah bangsa kita. Menangislah kalian karena kalian sendiri yang telah lalai terlalu bangga membawa masuk ideologi bangsa lain yang tidak sesuai dengan tanah Nusantara.

 

Oleh: Gusti Sudiartama | November 13, 2017

MEMAKNAI BANTEN

para dan apara bhaktiBanten di Bali merupakan kebutuhan utama dalam ritual keagamaan. Hampir disetiap aktivitas masyarakat Bali yang beragama Hindu, disertai upacara yang tentu saja memerlukan banten. Namun seiring berjalannya waktu pemahaman dan konsep banten itu sendiri terkadang tidak lagi utama yang utama adalah wujud bantennya.

Apakah banten itu sebenarnya ? banten konon berasal dari kata wantu yang artinya bantu atau sarana, jadi banten itu sendiri berarti sarana/alat bantu atau niyasa. Ketika Maha Rsi Markandya, datang ke Bali, saat beliau menetap di Taro, disitulah dimulai beliau mengajarkan konsep membuat sarana persembahyangan yang terbuat dari Daun, Bunga, buah, air dan api yang kala itu disebut dengan bali, kepada para pengikutnya, konsep sarana persembahyangan ini kemudian menyebar kedaerah sekitarnya dan meluas ke seluruh pulau, sehingga pulau ini diberi nama pulau Bali. Namun konsep banten saat itu tidaklah serumit sekarang ini, sekitar abad ke 10, konsep banten dengan reringgitan yang rumit ini diperkenalkan oleh Mpu Jiwaya, kenapa ? karena beliau menyadari banten ini adalah penting dalam sebuah upacara sehingga harus dibuat dengan konsentrasi dan kesungguhan hati sehingga dibuat rumit dengan reringgitan. Jadi banten itu adalah sarana atau niyasa yang harus dibuat dengan kesungguhan hati, melalui konsentrasi dan pemahaman yang cukup, dan tentu saja dalam suasana kedamaian.

Banten itu dapat digolongkan ke dalam 5 bagian sesuai fungsinya  yaitu sebagai :

  1. Persembahan atau tanda terima kasih kepada Hyang Widhi.
  2. Sebagai alat konsentrasi memuja Hyang Widhi.
  3. Sebagai simbol Hyang Widhi atau manifestasi-Nya.
  4. Sebagai alat pensucian.
  5. Sebagai pengganti mantra.

Dalam ajaran agama Hindu dikenal catur marga, yaitu empat jalan untuk melaksanakan ajaran agama, yaitu :

  1. Bhakti marga
  2. Karma marga.
  3. Jnana marga
  4. Raja marga.

Didalam Bhakti marga dikenal pula

  1. para bhakti : persembahan yang utama/prinsip.
  2. apara bhakti : persembahan yang tidak utama/tidak prinsip.

Ciri-ciri bhakta yang melaksanakan para-bhakti antara lain sedikit terlibat dalam ritual tetapi banyak mempelajari Tattwa Agama dan kuat/ berdisiplin dalam melaksanakan ajaran-ajaran Agama sehingga dapat mewujudkan Trikaya Parisudha dengan baik di mana Kayika (perbuatan), Wacika(ucapan) dan Manacika(pikiran) selalu terkendali dan berada pada jalur dharma. Bhakta yang seperti ini banyak melakukan Drwaya yadnya(medana-punia) Jnana yadnya(belajar-mengajar) tentang agama, dan Tapa yadnya(pengendalian diri).

Ciri-ciri bhakta yang melaksanakan apara bhakti senang dan sangat tergantung dengan simbul simbul dalam  pelaksanaan yadnya(panca yadnya). sehingga saangat tergantung dengan sarana upakara(banten).

Banten boleh dibilang ada dalam golongan apara bhakti, yaitu sebagai sarana yang sesungguhnya diperuntukan bagi bhakta/umat yang pengetahuan atau jnana-nya kurang atau bagi mereka yang tidak bisa menekuni agama. Bhakti marga dan karma marga sendiri menurut Bhagawad gita memang diperuntukkan bagi orang orang yang  kurang bisa menekuni ajaran ajaran kerahasiaan(Jnana) agama Hindu. Sedangkan para Bhakti diperuntukkan bagi orang orang yang memang memiliki kemampuan dan kesempatan menekuni pengetahuan suci(Jnana) yaitu dengan jalan Jnana marga dan Raja Marga.

Berdasarkan uraian diatas bisa disimpulkan banten itu adalah sarana untuk melakukan pemujaan, yang diperlukan sebagai wujud persembahan, alat konsentrasi, simbul, alat pensucian dan pengganti mantra yang diperlukan dan dianjurkan untuk umat/ bhakta yang kurang memiliki  kesempatan mendalami ajaran/ pengetahuan suci tentang Ida Sang Hyang Widhi, yang dalam agama Hindu digolongkan sebagai jalan Bhakti marga dan Karma marga. Menyadari hal itu bagi yang memiliki intelegensi atau kecerdasan sebenarnya bisa memilih jalan yang lain yaitu jalan Jnana marga dan Raja marga, sehingga bagi golongan ini alat bantu pemujaan atau banten bisa diminimalkan.

Dalam jaman kekinian konsep berupacara dalam umat Hindu di Bali, mengalami pergeseran. Konsep banten tidak lagi menjadi sarana tetapi menjadi yang utama. Kalau dulu pemahaman(Jnana) itu yang utama, sedangkan banten itu sebagai pelengkap, sekarang umat malas untuk mencari tahu dan menambah pengetahuan sehingga pemahaman berkurang sehingga sarana yang diperlukan semakin banyak dan menjadi yang utama. Namun ditengah tingginya himpitan kebutuhan sering ada wacana penyederhaan banten dalam pengertian “mebedikin” namun malas untuk menambah pengetahuan. Jadi beragama di Bali menjadi beban, karena tingginya biaya upakara, padahal ada jalan yang jauh lebih ringan dari segi biaya yaitu dengan menambah pengetahuan(Jnana) tentang agama dan Tuhan, bukan semata-mata pengetahuan tentang membuat banten, tapi yang paling penting menekuni ajaran agama melalui jalan Jnana Marga dan Raja marga. Umat sibuk mencari alternatif  membeli banten yang lebih sederhana dan murah,  tapi malas menekuni Jnana marga dan raja marga. Apa itu jnana marga dan raja marga ? itu kita tidak bahas disini, mudah-mudahan dikesempatan lain bisa saya babarkan.

Bagaimana dengan fenomena membeli banten ?

Sebagaimana uraian diatas banten sejatinya adalah sarana yang memiliki lima fungsi (uraian diatas) yang seharusnya dibuat oleh yang beryadnya dengan kesungguhan hati, dalam suasana batin yang tenang dan pemahaman yang memadai. Kalau memungkinkan membuat kenapa harus membeli ? karena dengan membeli karma marga dalam pembuatan banten itu tidak dinikmati oleh umat yang melakukan  upacara(yajamana) tapi oleh oleh tukang banten, karena dialah yang membuat. Orang yang berupacara(yajamana) hanya menikmati bhakti marga, jadi kalau baru bisa membeli banten (sebesar apapun) jangan bangga dulu karena hanya sebagian dari berkahnya dinikmati orang lain,  setuju ?

Namun dengan perkembangan jaman, tuntutan profesi dan kehidupan demikian tinggi, kalaupun terpaksa membeli banten untuk sebuah upacara hendaklah dipenuhi syarat sayarat:

  1. Belilah dari orang yang memang memahami pembuatan banten, dan telah mewinten, serta dalam kesehariannya dikenal memiliki prilaku dan kepribadian yang segaris dengan ajaran agama Hindu, jangan membeli banten hanya mencari yang murah atau termurah tanpa mempertimbangkan prilaku pembuatnya.
  2. Jangan semuanya dibeli, usahakan daksina pejatinya dibuat sendiri, sebagai wujud dan sarana untuk melaksanakan bhakti marga dan karma marga.
  3. Pilihlah upacara yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan, jangan memaksakan diri, jangan ikut ikutan namun tidak tahu esensi upacara yang akan dilakukan.
  4. Tanyalah dengan baik dan terbuka tentang apa esensi,manfaat yadnya atau upacara yang akan dilakukan sehingga memiliki pengetahuan yang memadai pada saat melakukan upacara. Ibarat kita baru datang dari bepergian ingin mempersembahkan sebuah bingkisan kepada orang tua kita, ketika ditanya apa isi bingkisan itu alangkah malu dan kelirunya kalau kita sampai tidak tahu isi bingkisan yang kita sampaikan.

Bagi generasi muda Hindu di Bali, alangkah baiknya bila mempunyai semangat dan keinginan kuat untuk mengambil jalan Jnana marga dan Raja marga, jangan puas kalau baru bisa memperoleh rejeki dan berupacara dengan membeli banten walaupun besar, karena sangat disayangkan kalau intelektual generasi muda Hindu tidak diasah untuk menekuni Jnana marga dan Raja Marga. Namun tidak juga patut dipertentangkan mana diantara kedua jalan itu bahkan empat jalan itu yang paling baik. Hanya perlu penyadaran bahwa ada pilihan pilihan yang telah disediakan oleh agama Hindu bagi umatnya untuk melaksanakan ajaran agamanya, disesuaikan dengan situasi dan kondisi masing masing bhakta. Jangan sampai ada pemahaman yang salah bahwa menjalankan ritual agama Hindu di Bali khususnya dipandang sebagai sesuatu yang ribet, mahal dan merepotkan.

para dan apara bhakti

Rahajeng wengi…. Penebel 13 Nov.2017

Sumber : Bhagawad Gita, Mertajaya.Blogspot.co.id, babadbali.com

Oleh: Gusti Sudiartama | September 16, 2017

KERAUHAN DAN TEDUN

surya

Kerauhan atau tedun di Bali sangat dikenal dalam lingkup aktivitas budaya masyarakat Bali, karena hampir disetiap ritual keagamaan teristimewa dalam upacara dewa yadnya “kerauhan atau tedun” ini sering dijumpai. Kerauhan berasal dari kata rauh yang berarti datang sedangkan tedun juga diartikan turun atau kurang lebih datang dari tempat yang lebih tinggi.

Apakah kerauhan itu normal ? pertanyaan ini sering kali menjadi pertanyaan bahkan oleh orang Bali sendiri, terutama mereka yang ngeh dengan fenomena  kesurupan masal  atau bagi mereka yang pernah membaca ulasan tentang teori kenapa orang bisa kesurupan atau trance.

Apakah kerauhan sama dengan kesurupan/trance…. Menurut Dr. Adi Gunawan CCH, Trance atau kondisi hipnosis adalah kondisi pikiran yang secara alamiah dialami setiap individu. Dalam menjalankan aktivitas sehari-hari setiap individu pasti secara alamiah dan berkelanjutan masuk dan keluar kondisi trance. Kedalaman trance yang mereka masuki berbeda antara satu individu dengan yang lain dan juga berbeda dari waktu ke waktu. Semuanya terjadi secara alamiah dan mudah.

Tentu kerauhan tidak serta merta dapat disamakan dengan trance, kerauhan itu sendiri hendaknya dipahamai hanya dan apabila satu peristiwa terjadinya kerauhan memang dipersiapkan, memang dilakukan sebuah permohonan disertai upacara yang memadai untuk mendatangkan (mangda rauh) energi spiritual yang dikehendaki. Jadi tidak setiap orang yang tidak sadar/trance itu layak disebut kerauhan atau tedun. Semisal di pasar yang sedang dilakukan aktivitas jual beli seperti biasa, kemudian ada seseorang yang tidak sadar kemudian berteriak-teriak layaknya orang kerauhan, apakah boleh disebut kerauhan ?

Ada satu fenomena yang masih dianut oleh masyarakat Bali terutama yang nuansa budaya religius magis-nya masih sangat kental. Bahwa sebuah upacara belumlah klop kalau belum ada yang kerauhan(Sutri) yang dikenal dengan ritual nyanjan. Upacara ini seringkali dipandang sebagai sebuah pemikiran yang kurang rasional, Karena sudut pandang masyarakat tentang fenomena kerauhan itu sendiri sudah bergeser. Kalau dulu kerauhan itu dipandang sebagai sebuah peristiwa religius magis yang sangat sakral, sehingga dipersiapkan dengan sangat hati-hati layaknya menyambut kehadiran seorang raja,bahkan Dewa.

Karena apa? Karena mereka meyakini yang akan hadir itu adalah roh suci, atau Bhatara, yang sangat mereka hormati. Apakah itu benar ?  kalau dilihat dari prosesnya kerauhan itu dijaman dahulu(bahkan saat ini dibeberapa tempat di Bali) didahului acara nuur atau ngulapin. Sebelum proses ini dilakukan kalau ada yang kerauhan akan dianggap pura-pura kerauhan, jadi ibarat kehadiran yang tidak diharapkan.

Nuur atau Nyanjan itu masih tetap terlaksana dibeberapa pura di Bali, sebagai bagian yang wajib dilaksanakan agar sebuah acara piodalan itu dapat dianggap selesai. Dalam proses nyanjan ini, sebelum dilaksanakan, pemuka adat mempersiapkan tempat yang layak, biasanya di bale pengiyasan atau tempat yang dianggap suci di pura terebut. Didahului oleh Jero mangku, melakukan ritual nuur, dengan upakara minimalnya adalah suci pejati, setelah upacara ini dilaksanakan disertai dengan pependetan oleh dehe( anak anak yang belum menstruasi) atau wanita yang sudah tidak menstruasi(menopause) di depan sanggar surya. Ketika semua proses ini dilalui, sesaat kalau ada yang kerauhan( biasanya sutri/pemangku dipura tersebut), orang yang kerauhan ini akan di tuntun ketempat yang telah dipersiapkan. Pertama tama pemuka adat/ pemimpin upacara akan menanyakan siapakah yang datang ini? ( dengan Bahasa bali, “nawegang titiyang nunasang, mangdane tityang nenten ketandruhan, sira minab ida sesuhunan sane sampun ledang rauh ? puniki”). Biasanya akan dijawab oleh yang kerauhan dan disebutkanlah siapa beliau itu yang telah tedun atau merasuki orang yang kerauhan. Dilanjutkan dengan dialog-dialog yang pada hakekatnya ibarat seorang anak yang baru bertemu dengan orang tuanya, kemudian menghaturkan oleh-oleh atau persembahan, disertai dengan lontaran lontaran pertanyaan, apakah sehat-sehat saja, apakah yang dipersembakan (atau yang disuguhkan itu) bisa atau enak dinikmati. Jadi proses nuur atau nyanjan itu sangat manusiawi sebagai proses dialog dengan yang diyakini sebagai bhatara atau sesuhunan, yang setelah Beliau berkenan hadir akan disambut sangat besahaja layaknya menyambut manusia yang sangat terhormat, kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan atau dialog yang sangat manusiawi.

Namun dalam masyarakat Bali kekinian proses seperti itu banyak disalah artikan sebagai proses sia-sia. Karena mereka beraanggapan tidaklah mungkin roh suci(Dewa-Dewa) itu mau turun kemudian masuk kedalam tubuh manusia. Bahkan tidak jarang mereka ini beranggapan bahwa proses itu sangat tidak layak atau tidak perlu. Apakah sikap seperti ini keliru?

Sebuah budaya akan sangat dipengaruhi oleh pengetahuan dari manusianya, dan budaya itu akan selalu mangalami transisi sesuai dengan jamannya. Kalau dijaman dahulu masyarakat Bali sangat kuat nilai-nilai religious magis-nya bahkan letusan gunungpun disambut sebagai kedatangan Ida Bhatara, sehingga layak disambut dengan upacara disertai gembelan(peristiwa meninggalnya kuncen gunung agung dan penduduk desa, ketika letusan tahun 1963). Apakah kini sikap seperti itu akan dianggap sebagai kekonyolan ? mungkin saja.

Budaya-budaya kuno seperti itu sesungguhnya adalah budaya tradisional Bali yang sangat terkait erat dengan kesakralan Pulau Bali.   seorang Maharsi Markandya yang sangat dihormati di Tanah Jawa, ketika datang untuk pertama kali ke tanah Bali harus menelan kegagalan, karena Beliau belum ngeh dengan kesakralan Pulau Bali, ketika beliau telah kehilangan banyak pengikutnya karena wabah dan bencana beliau menerima pesan niskala tentang apa yang harus dilakukan di tanah Bali bila ingin menempati tanah Bali.  Baru ketika kedatangannya yang kedua ke Pulau Bali yang didahului dengan upacara mendem panca datu, kedatangan beliau dan pengikutnya ini bisa berhasil. Dengan contoh sejarah seperti itu, masihkah kita memandang bahwa apa yang kita lakukan di pulau Bali ini, yang kalau tidak ada di Jawa, yang kalau tidak ada di India sudah pasti keliru ?

Sudah barang tentu, tidak semua hal yang ada di Bali sudah pasti benar, terlalu absurd kalau kita sebagai manusia Bali saat ini berfikir seperti itu. Setidaknya kita mulai untuk tidak memandang sebelah mata kepada ritual ritual yang belum kita ketahui. Setidaknya kita mulai dengan mencari tahu, kenapa dan bagaimana ritual itu sesungguhnya, bukan seketika melakukan penghakiman.

Tanah Bali adalah tanah tantra yang memiliki karakteristik khas, yang memerlukan pemahaman dan pengetahuan yang memadai tentang tantra. Tanpa pemahaman yang cukup tentang tantra maka manusia Bali akan merasakan kekeringan batin, ibarat mencari air dipadang gersang, walaupun sesungguhnya sumber mata air itu telah ada, namun tidak berhasil ditemukan————-  rahajeng wengi————- Semoga kita semua dianugrahi kecerdasan…

Oleh: Gusti Sudiartama | Januari 8, 2017

Belajar merasakan kebahagiaan

senyum.jpgBahagia adalah impian setiap orang, bahkan dalam doanya tidak jarang kebahagiaan-lah yang menjadi permohonan utama. Apakah bahagia itu? apakah bahagia itu sama dengan perasaan senang ? senang karena keinginan terpenuhi ? senang karena yang diinginkan tercapai? senang karena yang dicintai membalas cintanya?

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia bahagia adalah keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan). Jadi bahagia itu adalah sebuah keadaan atau kondisi perasaan. Bahagia adalah suatu keadaan perasaan, atau kondisi pikiran sedang merasakan keadaan senang dan tenteram.

Agama hindu memandang kebahagiaan adalah sebagai suatu proses perjalanan kehidupan yang tidak saja diarahkan untuk memenuhi kebutuhan duniawi melainkan suatu proses pencapaian tujuan yang lebih jauh yaitu tercapainya kesatuan antara Atman dengan Brahman(A.A. Raka Asmariani). Jadi kebahagiaaan menurut Hindu adalah sebuah proses menuju pencapaian pemenuhan keinginan baik duniawi maupun tujuan yang lebih tinggi yaitu moksa.

Bahagia adalah sebuah kondisi pikiran, sehingga kebahagiaan bagi seseorang tidaklah pasti sama bagi orang lain. Seseorang yang merasakan kebahagiaan karena mampu memiliki  benda benda duniawi, bagi orang lain belum tentu merasakan kebahagiaan. hal itu disebabkan oleh karena kondisi pikiran dari setiap orang belum tentu sama, sehingga persepsi pikiran dalam merasakan kebahagiaan bisa jadi tidak sama.

Banyak dari kita terkadang keliru menganggap perasaan senang itu sebagai kebahagiaan, senang karena kepemilikan duniawi pasti akan berakhir dengan kesedihan, itu adalah hukum alam, ibarat bandul semakin kuat perasaan senang karena kebendaan sedemikian kuat pula kesedihan karena kehilangan.

Dalam agama Hindu kebahagiaan bukanlah sekedar pemenuhan kebendaan(duniawi) tapi juga proses mencapai kebahagiaan surgawi yaitu Moksa. Moksa menurut agama Hindu adalah suatu kondisi ketika atma terbebas dari keterikatan terhadap triguna(Satvam,Rajas,Tamas). Kondisi ketika atma terikat kedalam pusaran triguna menurut agama Hindu bukanlah suatu kebahagiaan yang dicita-citakan, kebahagiaan yang diharapkan adalah ketika atma terbebas dari triguna.

Moksa bukanlah semata mata pencapaian atma ketika meninggal, atma juga dinyatakan mampu mencapai kebahagiaan ketika masih didunia(hidup). Ketika seseorang mampu berada dalam “ketidak terikatan terhadap benda benda duniawi” saat itulah ia merasakan kebahagiaan . Jadi kebahagiaan tidaklah monopoli orang orang yang kaya raya, seseorang yang hidup dalam kesederhanaan-pun bisa merasakan kebahagiaan. Bahkan seseorang yang kaya raya bisa jadi tidak merasakan kebahagiaan, jika  dia sangat terikat dengan milik-nya(benda-benda duniawi), alih-alih merasa  bahagia justru mereka merasakan kehampaan dan penderitaan.

Oleh karena itu kecerdasan  dan kebjiksanaan kita sangat menentukan pencapaian kebahagiaan ini. kebijaksanaan dan kecerdasan ini sudah barang tentu dapat dimiliki kalau kita mempunyai pengetahuan yang cukup, yaitu pengetahuan tentang atma dan pengetahuan tentang pengelolaan pikiran. karena ketidak terikatan atma terhadap duniawi sangat terkait dengan pengendalian/pengertian terhadap gejolak pikiran.

Jika demikian kenapa kita masih mengejar kesenangan duniawi kesana-kemari bagai orang gila ?  seolah olah telah mencapai kebahagiaan ? karena setelah pikiran terpuaskan oleh obyek obyek indria itu, pikiran kita akan merasakan kekosongan, selanjutnya pikiran akan menuntut lagi untuk pemenuhan keinginan indriawi yang lain. jadi kebahagiaan yang kita  rasakan oleh pemenuhan obyek indriawi adalah kebahagiaan yang semu(palsu) sifatnya hanya sesaat.

Namun bukan pula kita tidak perlu akan benda-benda duniawi, kita hidup dalam alam kebendaan sudah barang tentu kita memerlukan benda-benda, sudah barang tentu kita memerlukan makanan untuk kesehatan kita, sudah barang tentu kita memerlukan kendaraan untuk kita bepergiaan. Namun keterikatan kepada “makanan enak” adalah sebuah pengikatan diri, keterikatan kepada kendaraan agar kelihatan lebih dimata orang lain adalah sebuah keterikatan. Kita makan karena tubuh memerlukan makanan, “semata-mata untuk itu”, bukan karena lidah menyukai makanan tertentu kemudian kita tergoda untuk makan padahal perut kita masih kenyang. Kita membeli kendaraan karena kita memang memerlukan sarana untuk bepergian bukan karena kita ingin “tampil kaya”  sehingga kita tergoda untuk membeli kendaraan lagi padahal kita sudah memiliki kendaraan yang layak.

Jadi bijaksanalah, kita berada di alam materi(kebendaan) ketidak terikatan terhadap materi(kebendaan) sudah selayaknya  untuk kita perjuangkan karena itulah proses menuju kebahagiaan. Sikap mental seseorang yang terbebas dari keterikatan adalah ketika dia ikhlas, ikhlas akan kondisi kehidupannya. Ikhlas yang dimaksud disini adalah perasaan bebas,tidak terbebani oleh situasi/kondisi saat ini baik sedang susah maupun senang. Ikhlas yang dimaksud bukanlah sikap tidak mau tahu, menyerah kalah kepada kehidupan. Adalah konyol ketika seseorang yang tidak mempunyai uang untuk membeli beras kemudian diam saja menunggu turunnya “hujan beras atau hujan uang” dengan alasan ikhlas sehingga tidak mau berusaha, itu bukanlah keikhlasan tapi kebodohan.

Bijaksanalah…..  carilah materi(benda-benda duniawi), pergunakan ia untuk memuhi kebutuhan hidup, jangan dibalik hidup dikorbankan untuk mencari materi(benda benda duniawi). Makanlah kalau tubuh memerlukan makanan itu, bukan kita korbankan kehidupan kita untuk mengejar makanan enak.

Surwanapuspām prthiwīm bhuñjanti catwāro narāh,upāyajñaśca śūraśca krtawidyah priyamwadah
Artinya :Empat golongan manusia yang menikmati kebahagiaan hidup ini, yaitu orang yang tahu tujuan dan cara hidup, orang yang pemberani, orang yang bijaksana, dan orang yang pandai berbicara ramah dan menarik

Redite Pon Dukut 8 Januari 2017… Rahayu…

Oleh: Gusti Sudiartama | Januari 2, 2017

Sekumpul Waterfall, Wisata alam dan spiritual

sekumpul5Sekumpul, sebuah desa di kabupaten Buleleng tepatnya di kecamatan Sawan Kabupaten Buleleng. Sekumpul waterfall  bisa dicapai melalui dua desa, yaitu desa sekumpul maupun Desa lemukih, keduanya berada di kecamatan Sawan. Kalau anda datang dari arah Bedugul, untuk meuju Sekumpul waterfall ini lebih dekat melalui jalur Desa lemukih, dari kawasan puncak menuju arah Singaraja, kurang lebih 6 Km dari puncak  ada pertigaan kekanan untuk menuju Desa Lemukih, ikuti jalur ini nanti anda akan dituntun oleh penunjuk jalan menuju kawasan wisata waterfall.  sebaliknya kalau anda datang dari daerah Singaraja menuju kawasan wisata sekumpul bisa ditempuh dari arah Singaraja menuju Sangsit, kemudian sebelah timur pasar sangsit ada pertigaan ke kiri menuju Desa Sekumpul.

Baik dari Desa Lemukih maupun Desa Sekumpul, untuk mencapai kawasan Sekumpul waterfall harus melalui jalur tracking yang cukup ekstrim, anda melintasi daerah perkebunan dan persawahan kurang lebih 1,5 Km. Jangan kawatir jalan setapak sudah di beton, yang ekstrim adalah ketika anda menyusuri anak tangga beton di bibir jurang sedalam 100 meter, ditengah-tengah rimbunya pepohonan  di ditebing, anda harus menuruni anak tangga dari beton. Disinilah tantangan sesungguhnya untuk mencapai kawasan Sekumpul waterfall ini. Bagi anda yang senang dengan wisata alam “atraksi” menuruni anak tangga di lereng tebing dibawah rimbunnya hutan adalah sebuah pengalaman yang menarik sekaligus menantang. Ketika anda sampai di bawah, di kawasan wisata alam air terjun kelelahan anda akan sirna.

Kawasan Sekumpul waterfall  adalah sebuah jurang  di kedalaman lebih dari 150 meter dari desa sekitar, dikawasan ini ada tidak kurang 11 air terjun.  namun yang eksotik ada lima air terjun besar dan tinggi. Yang pertama ada di sebelah Timur jembatan, tepatnya kalau anda datang dari arah desa Lemukih di dasar jurang ketika ketemu jembatan  anda harus berbelok ke arah kanan, hanya 3 menit menyusuri tepi sungai anda akan menemukan dua air terjun besar dengan ketinggian lebih dari 100 meter yang menyatu dengan tebing alam yang sangat eksotik. Disini anda bisa mandi atau melukat sekaligus menghilangkan penat setelah menuruni tebing, sungguh sebuah karya alam yang menawan dan sangat eksotik.

Kemudian kawasan air terjun yang kedua dari tempat istirahat disekitar jembatan anda harus menempuh perjalanan kurang lebih 100 meter, menyusuri tepi sungai dan dua kali harus menyebrangi sungai dengan kedalaman selutut orang dewasa, anda akan sampai di kawasan gerombong waterfall. Disini terdapat tiga air terjun besar yang bertemu. Anda bisa bayangkan tiga buah air terjun setinggi lebih dari 75 meter bertemu  dalam satu “landscape” tersaji didepan anda. benar-benar pemdangan yang menakjubkan. Disekeliling adalah hamparan tebing alam yang masih sangat alami, dikedalaman 150 meter, sungguh suatu karya alam yang luar biasa.

Kawasan wisata alam “sekumpul waterfall” ini sungguh layak dijadikan sebagai destinasi wisata andalan di Bali utara, selain air terjun-nya yang sangat eksotik, kontur alam dan suasana jurang yang masih sangat alami membuat kawasan ini layak untuk “dijual” sebagai kawasan wisata alam dan spiritual. Hanya saja perlu dilakukan sedikit penataan akses jalan setapak dan anak tangga menuruni tebing perlu di tata agar lebih nyaman dan indah serta fasilitas umum seperti tempat ganti dan Kamar Mandi atau WC masih perlu di tambah dilokasi ini. Selebihnya biarkan alam menampilkan dirinya apa adanya.

 

Oleh: Gusti Sudiartama | November 24, 2016

Menggunakan komponen Notebook dalam Delphi Xe8

Komponen TNotebook dalam Delphi ada dalam tab palette 3.1 , yang fungsinya untuk membuat page(halaman) sehingga dalam satu form bisa diisi dengan sejumlah halaman(page). Layaknya sebuah buku dengan banyak lembaran halaman yang bisa dikelola secara mudah namun masih dalam satu form . Page(halaman) ini bisa dikombinasikan dengan komponen TMainMenu.

Ok Mari kita mulai:

Buat sebuah form  dalam delphi,pada menu File, klik New, double klik VCL forms application – delphi

nb1

set properties: Name  ,   (saya biarkan form1),

Pada palette 3.1 doble klik  ikon TNotebook,  pastikan Notebook sudah nangkring pada form1, dan pastikan sedang aktif.

nb2

Pada properties TNoteBook set Name beri nama (sesuka-mu), misal NBCoba, sesuaikan ukuran dengan cara drag atau lewat properties .

Masih pada properties klik pages, untuk memunculkan “Notebook editor” ,disini tersedia : Add,delete,edit,move up dan move down, untuk menambah halaman klik add kemudian beri nama sesuai keinginan anda,(selalu ada halaman default,biarkan saja).

nb3

 nb-editor nb-ad-page

Untuk menampilkan Notebook yang telah dibuat dan mengelola-nya  sesuai keperluan:

nb-active-page

Pada properties : active page, akan muncul nama Notebook yang telah berhasil dibuat, klik nama notebook yang ingin dikelola, maka pada form1 akan muncul page tersebut .

Silahkan ……    pages  sudah siap untuk dikelola dan diisikan komponen apa saja.

untuk menghubungkan dengan main menu tinggal double klik menu pada MainMenu yang ingin dihubungkan kemudian isi perintah

NBKoperasi.ActivePage:=’default’; == untuk meng aktifkan page default.
NBKoperasi.ActivePage:=’Coba1′; == untuk meng aktifkan page Coba1.

Tidak sulit kan……

untuk berbagi…  dan sekaligus menjadi pengingat
Oleh: Gusti Sudiartama | November 15, 2016

PURA LUHUR SRI RAMBUT SEDANA

senyum.jpgPura Luhur Sri Rambut Sedana merupakan pura tua yang berlokasi di lereng Gunung Batukaru, tepatnya di Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan. Untuk menuju lokasi Pura, dari pusat Kota Tabanan ke arah Utara, umat sedarma mengikuti jalan menuju DTW Jatiluwih, kurang lebih 40 km dari kota Tabanan. Dari DTW Jatiluwih ke arah utara disana sudah ada penunjuk jalan menyusuri jalan yang hanya cukup dilalui oleh satu kendaraan, namun jalan ini sudah di beton sehingga kendaraan akan dengan lancar sampai di lokasi pura. Namun jalan yang berkelok dan tikungan tajam mendekati pura, mewajibkan anda untuk berhati-hati. Lokasi Pura yang masih sangat alami ditengah perkebunan masyarakat di ketinggian 700 meter di atas permukaan laut, menghadirkan udara sejuk dan segar sehingga kepenatan anda akan sirna ketika sampai di pura ini.

Pura ini diketahui telah ada sejak dulu, terbukti di tahun 1933 telah pernah dilakukan upacara ngenteg linggih, pada tahun 2004 ketika dilakukan pemugaran ditemukan ribuan uang kepeng kuno di lokasi pura juga memperkuat hal ini. Ada yang unik, terdapat satu pohon cemara namun mempunyai dua jenis daun yang berbeda, sehingga terkesan pohon cemara itu berasal dari dua pohon padahal kenyataannya hanya satu pohon.

Pura Luhur Sri Rambut Sedana diyakini sebagai tempat untuk memohon anugrah kemakmuran dan kemuliaan, dilihat dari etimologi kata Sri berarti cantik,subur,makmur, juga kemuliaan sedangkan se-dana berarti memberi sehingga Bhatara Sri Sedana dapat diartikan sebagai beliau yang memberi kemuliaan atau memberi kemakmuran. Dalam Purana, Dewa yang melimpahkan kemakmuran kepada seluruh alam adalah Dewi laksmi, sehingga di pura ini diyakini sebagai tempat memuja Ida Sang Hyang widhi sebagai manifestasi Dewi Laksmi atau kalau di Bali dikenal dengan sebutan Ida Bhatara Sri Rambut Sedana.

Di Bali Sri indentik dengan padi, beras sedangkan  Rambut Sedana identik dengan uang dimana beras dan uang adalah sumber kehidupan bagi setiap umat manusia, sehingga Bhatara Sri Rambut Sedana diyakini pula sebagai beliau yang senantiasa memberi kemakmuran dan kemuliaan berupa beras dan uang.

Pura ini memiliki konsep nyegara gunung, dibuktikan dengan adanya dua pesimpangan yaitu pesimpangan Pura Batu Ngaus sebagai manifestasi Segara dan Pura Gerombong nagaloka (tengahing wana) sebagai manifestasi gunung. Didalam Agama Hindu segara dan gunung diyakini sebagai sumber kehidupan bagi umat manusia. Konsep nyegara-gunung dimaknai sebagai menyatunya Lingga(Gunung) dan Yoni(Segara), segara dan gunung sebagai sumber kehidupan(amerta) menyatu di pura ini menghadirkan amerta yang tidak pernah habis. Sehingga sangat wajar apabila pemedek dari seluruh Bali hampir setiap hari selalu datang untuk melakukan Dharma yatra dan Tirta Yatra di pura ini. Odalan di pura ini dilakukan setiap 210 hari, tepatnya pada Rahina Budha Wage Kelawu, dan dilakukan penyejeran selama tiga hari.

Keberadaan dua pesimpangan (pesimpangan Pura Batu Ngaus dan pesimpangan Gerombong Nagaloka) menjadi dasar pemikiran arkeolog dari UNUD, peneliti dari kanada dan Rusia menyatakan Pura Luhur Sri Rambut Sedana sebagai salah satu Pura Tertua di Bali, disamping ditemukannya bukti-bukti fisik di lokasi pura.

senyum.jpg

Petikan Piagam Jakarta (untuk menyegarkan ingatan kita)

……………………………..

Kemudian daripada itoe, oentoek membentoek soeatoe Pemerintah Negara Indonesia jang melindoengi segenap Bangsa Indonesia dan seloeroeh toempah darah Indonesia, dan untuk memadjoekan kesedjahteraan oemoem, mentjerdaskan kehidoepan bangsa, dan ikoet melaksanakan ketertiban doenia jang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disoesoenlah kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itoe dalam suatu Hoekoem Dasar Negara Indonesia, jang terbentoek dalam suatu susunan negara Repoeblik Indonesia jang berkedaoelatan Rakjat, dengan berdasar kepada:

  1. Ketoehanan, dengan kewajiban mendjalankan syariat Islam bagi pemeloek-pemeloeknja
  2. Kemanoesiaan jang adil dan beradab
  3. Persatoean Indonesia
  4. Kerakjatan jang dipimpin oleh hikmat, kebidjaksanaan dalam permoesjarawaratan/perwakilan
  5. Keadilan sosial bagi seloeroeh Rakjat Indonesia.

Djakarta, 22-6-1945

NKRI diproklamirkan oleh para pendiri bangsa   dengan penuh perjuangan, tetasan darah dan air mata. Ketika masih di bangku sekolah kita disuguhkan pelajaran sejarah mengenai  perjuangan pendiri bangsa, bagaimana rumit dan alotnya perdebatan diantara tokoh tokoh kala itu,  yang paling terasa hingga saat ini bagaimana  Piagam Jakarta(seperti kutipan diatas) demikian keras diperjuangkan agar di masukkan dalam pembukaan UUD 1945, perdebatan alot antara tokoh nasionalis dan tokoh-tokoh Islam saat itu. Piagam Jakarta ini sebelumnya sudah disepakati oleh BPUPKI sebagai dasar negara pada tanggal 22 Juli 1945. Pada detik-detik terakhir  tanggal 17 Agustus 1945, Mohammad Hatta didatangi oleh seorang perwira angkatan laut yang mengaku membawa aspirasi masyarakat Indonesia bagian timur (yang mayoritas Kristen dan katolik) yang keberatan terhadap isi Piagam Jakarta “dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dan mengancam tidak mau bergabung dalam NKRI.

Namun kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa berbeda,  UUD 1945 berhasil disepakati seperti sekarang ini, Piagam Jakarta dinyatakan menjiwai UUD 1945, dengan perubahan pada sila pertama yang awalnya : Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya menjadi : Ketuhanan Yang Maha Esa. Sungguh sebuah pengorbanan dan kompromi yang luar biasa dari pendiri bangsa,terutama umat Islam.

Saat ini, ditahun 2016 setelah 71 tahun NKRI diproklamirkan keinginan untuk menerapkan syariat Islam di negara ini masih kuat. Saya memandang demo anti ahok tanggal 4 Nopember 2016 kemarin-pun sesungguhnya bukan murni menuntut ahok diadili, tapi lebih dalam dari itu adalah perdebatan elit-elit nasionalis dan elit-elit Islam terutama Islam sumbu pendek  (meminjam istilah KH Anwar Zahid).  Walapun ada ormas atau kelompok masyarakat yang mengikuti demo dengan niatan yang tulus untuk membela agama,  kuat dugaan saya ada oknum-oknum yang memanfaatkan momentum ini untuk  melakukan presure kepada pemerintah yang saat ini dipersepsikan mewakili kubu Nasionalis. Muaranya nanti adalah menuding pemerintah saat ini tidak mampu mengelola pemerintahan sehingga layak untuk  diturunkan(diganti). karena bagi mereka(sumbu pendek) sejak lama NKRI ini gagal, sehingga perlu diganti menjadi negara Islam, bagi mereka itu satu-satunya harapan. Namun secara mudah hasrat untuk mendirikan negara Islam akan terbantahkan dengan sendiri kalau kita mau jujur “di dunia ini negara Islam mana yang telah sukses , yang  bertahan hingga saat ini ?, yang mampu memberikan kebaikan bagi seluruh warga negaranya? “.

Bersyukurlah kita sebagai bangsa masih diberikan jalan untuk berbenah, masih lebih banyak saudara-saudara kita yang muslim yang tidak dalam kategori “sumbu pendek”, masih ada NU, masih ada Muhamadyah yang masih teguh dengan komitmen menjaga kebhinekaan dalam bingkai NKRI sebagai amanat UUD 1945.

Munculnya “fenomena ahok” dengan kontroversi Surat Al Maidah ini, bisa jadi ibarat gunung es, kita sebagai bangsa sesungguhnya menyadari betul  fenomena ahok ini sering hadir dalam kehidupan kita berbangsa dan bernegara, namun belum ada yang berani secara terbuka “menggaungkan” isu ini untuk dijadikan pembahasan dan kajian terbuka ke ruang publik. Mungkin ini saatnya kita introspeksi diri untuk berani jujur, apa mau kita sebenarnya.

Saya tidak membela Ahok dengan membuta, silahkan proses Ahok sesuai aturan dan perundang-undangan yang berlaku namun lakukan itu dengan proporsional, tanpa tekanan. Kalau ada pihak-pihak yang menuntut Ahok dipenjara bahkan di gantung tanpa proses hukum yang jelas, apalagi dengan deadline tanggal 4 Ahok harus ditangkap, memangnya negara ini harus kalah dan boleh ditekan seenaknya seperti itu, tentu kita sebagai warga bangsa harus menentang. Kalau nanti Ahok benar terbukti bersalah tegakkan hukum, kalau Ahok tidak terbukti bersalah bebaskan dia. Hukum  harus ditegakkan bagi penghina dan penghujat agama manapun tanpa pandang bulu, walaupun oknum itu beragama mayoritas sehingga hukum memang tegak dinegara ini.

Bersyukur sekali lagi bangsa ini diberikan pemimpin seperti Bapak Jokowi yang tidak mau ditekan, saya berpandangan kalau presidennya masih yang dulu, niscaya Ahok telah ditangkap tentu dengan berbagai argumen dan rasa prihatin mendalam. Kita wajib berdoa kepada Tuhan menurut keyakinan kita masing-masing agar bangsa ini, kita semua, pemimpin -pemimpin kita diberikan tuntunan untuk menemukan jalan kebenaran menuju kejayaan NKRI yang ber-Ketuhanan yang Maha Esa.

Bravo untuk Pak Jokowi, Bravo untuk NU, Bravo untuk Muhamadyah, Bravo untuk demonstrasi yang damai walaupun diakhiri sedikit gesekan,Bravo untuk kita semua.

Oleh: Gusti Sudiartama | Maret 23, 2016

Re-inkarnasi

Dalam pemahaman agama Hindu atau penganut Agama Hindu istilah punarbhawa/Samsara tentu bukan sesuatu yang asing atau aneh, tapi bagi penganut agama lain apalagi yang tidak mempercayai bahwa ada kehidupan setelah kematian tentu sangat sulit memahami ide atau ajaran tentang punarbhawa ini.

Pada sebuah tayangan TV, sempat saya tonton sebuah film yang mengangkat tema tentang roh yang mengalami proses kelahiran kembali sesaat setelah dia meninggal dalam sebuah kecelakaan, judulnya ” Audrey Ross”, pemerannya salah satunya yang saya ingat adalah Anthony Hopkins.

Ceritanya bermula ketika seorang gadis kecil, Audrey Ross mengalami suatu kejadian aneh, yaitu mimpi buruk yang terjadi menjelang hari ulang tahunnya. Kejadian  ini sering di alami oleh gadis kecil ini,  sejak ulang tahunnya yang ke-delapan. Singkat cerita menjelang hari ulang tahunnya yang ke tiga belas kejadian seperti itu semakin parah.

Ada seorang pria yang meyakini bahwa Audrey Ross ini adalah re-inkarnasi dari putrinya yang telah meninggal 13 tahun lalu dalam sebuah kecelakaan tragis.Laki-laki ini pernah menerima pesan dari dua orang paranormal bahwa roh putrinya itu telah hadir kedunia, di sebuah tempat dengan ciri ciri yang detil, tentang rumah, kamar tidur dan situasi di rumahnya. Dan Audrey Ross sangat cocok dengan apa yang diuangkapkan oleh paranormal itu.

Ayah Audrey sangat tidak percaya dengan cerita itu, bahkan menuntut laki-laki ini dipengadilan, pengadilan akhirnya memutuskan menggunakan jasa psikiater untuk menghipnotis Audrey kecil kembali ke masa kehidupannya yang lalu,sebagai upaya mengungkap kebenaran, dihadapan hakim dan persidangan. Disinilah terungkap kebenaran dari cerita laki-laki tadi, bahwa Audrey kecil ini pernah dilahirkan sebagai putrinya, yang kemudian mengalami kecelakaan tragis bersama ibunya, sehingga keduanya meninggal dalam kecelakaan tersebut, kelahiran Audrey bertepatan sesaat setelah kecelakaan tersebut. Terungkap pula bahwa roh Audrey dalam kematiannya terdahulu sangat tersiksa terkurung dan terbakar dalam kecelakaan mobil. Audrey kecilpun akhirnya meninggal dalam penangganan psikiater dihadapan hakim dan persidangan.

Menariknya film ini mengangkat tema tentang reinkarnasi, yang diambil dari Bhagawadgita, dengan gambaran yang jelas namun tidak ada kesan menggurui, atau dakwah. Bagi kita yang mempercayai tentang kelahiran kembali tentu tidak sulit memahami alur cerita dari film ini, namun bagi mereka yang tidak meyakini akan adanya kehidupan setelah kematian akan kesulitan menerima cerita film ini.

Nilai nilai agama Hindu  tentang  Punarbhawa/kelahiran kembali, sudah dilaksanakan sebagai sebuah ritual “Pitra Yadnya ” oleh masyarakat Hindu di Bali, namun masih banyak dari saudara kita penganut Hindu  yang melaksanakan upacara pitra yadnya  belum  memahami makna dan tujuan dilaksanakannya upacara ini. Terbayang dalam ingatan saya bagaimana kalau kita mengalami musibah salah seorang keluarga kita meninggal dalam kecelakaan, sebelum proses pitra yadnya dilakukan, pastilah didahului dengan upacara ngulapin yang bertujuan memanggil roh mendiang agar tidak “gentayangan”, selanjutnya roh mendiang di upacarai “pitra yadnya”agar mendapatkan tempat dan jalan yang layak sehingga dapat kembali menjalani proses “karma”- nya dengan baik, tidak menjadi roh penasaran.Sebuah proses yang  sarat makna, mendalam, detil. Sungguh suatu “nilai local genius”  yang adi luhung namun di jaman ini banyak bergeser pada ceremonial semata, sangat disayangkan. Terbayangkah seandainya salah seorang dari anggota keluarga kita meninggal  roh nya tidak melalui ritual “pitra yadnya” yang benar, kemudian menjadi roh penasaran  ??

==== sekedar renungan===

Older Posts »

Kategori