Oleh: Gusti Sudiartama | November 29, 2009

IDA SANGHYANG WIDHI MENCIPTAKAN BUMI UNTUK KESEJAHTERAAN MANUSIA

Oleh: Ida Pandita Rsi Agung Dwija Bharadwaja & Bhagawan Dwija


Awalnya bumi diciptakan berupa air. Di atas air Dewa Wisnu beryoga; kemudian dari pusar-Nya keluar bunga teratai. Dari bunga teratai keluarlah Dewa Brahma. Ketika Dewa Brahma bertanya tentang diri-Nya, Wisnu menjelaskan bahwa Brahma dilahirkan oleh-Nya, namun Brahma menyangkal. Di saat pertentangan Wisnu dan Brahma memuncak tiba-tiba muncul sebuah Lingga yang besar dan sangat tinggi. Wisnu dan Brahma bertarung untuk membuktikan kesaktian masing-masing dengan cara menemukan pangkal dan puncak Lingga.Wisnu mencari pangkal Lingga; untuk itu Ia berubah menjadi seekor babi. Brahma mencari puncak Lingga, untuk itu Ia berubah menjadi seekor angsa. Keduanya tak berhasil dan seketika hadirlah Dewa Siwa seraya menjelaskan bahwa Mereka bertiga adalah Brahman yang Maha Tunggal di mana segala penciptaan dilaksanakan oleh Brahma, pemeliharaan oleh Wisnu, dan pemusnahan oleh Siwa.
Setelah itu Siwa berubah menjadi Mahakala yang sangat kuat, penguasa ruang, waktu, usia dan takdir sehingga dinamakan Mahamrtyunjaya, atau penguasa kematian. Untuk memancarkan energinya, Mahakala lalu menjadi Surya yang mempunyai kekuatan penghancur. Di lain pihak Brahma sebagai pencipta berupaya mengurangi kekuatan Surya agar kehidupan dapat terwujud. Untuk itu Brahma bersama putra-putranya : Kurdama, Daksa, Marici dan Kasyapa menyerap sebagian energy Surya. Kurdama, Daksa dan Marici menciptakan tumbuh-tumbuhan. Tumbuh-tumbuhan menyerap sari-sari bumi dan energi Surya digunakan untuk mengembangkan batang, daun, bunga dan buah. Dengan demikian maka tumbuh-tumbuhan bisa berkembang biak. Kasyapa menciptakan binatang pemakan tumbuh-tumbuhan. Oleh karena tumbuh-tumbuhan menyerap sari-sari bumi, maka Surya masuk ke bumi. Bumi menjadi berlapis-lapis, dari lapisan pertama di permukaan sampai lapisan ke tujuh di pusat bumi, masing-masing bernama : Patala, Witala, Nitala, Sutala, Tatala, Ratala, dan Satala. Di lapisan-lapisan itu terjadilah pembakaran oleh Surya yang menghasilkan batu mulia, minyak, gas, dan berbagai fosil. Di lapisan paling dalam (Satala) energi Surya terpusat menjadi cairan yang sangat panas, disebut Bedawang. Untuk menjaga kestabilan bumi dan juga agar Bedawang yang merupakan inti panas bumi tidak muncrat keluar, maka Bedawang dibelit dua ekor naga yakni Naga Basuki dan Naga Anantaboga. Dengan kondisi seperti ini maka Surya atau Mahakala yang mempunyai energi sangat besar dapat dikendalikan. Bumi selanjutnya menjadi dingin dan air berangsur-angsur menyurut, membeku dan terkonsentrasi di kutub utara dan di kutub selatan. Timbullah daratan atau benua yang luas. Akhirnya manusia diciptakan oleh Sanghyang Widhi dari Panca Mahabhuta yaitu : tanah (pertiwi), air (apah), angin (bayu), surya (teja) dan atmosphere (akasa).
Reg Weda, Mandala VIII, Sukta 4.5 : Ayo yonim devakrtam sasada kratva hy agnir amrtam atarit tam osadhis ca vaninas ca garbham bhumis ca visvadhayasambibharti : Mahluk hidup, pepohonan dan bumi mengandung api. Sanghyang Widhi yang mencipta segalanya ini sebagai sumber. Ia menempatkan diri sesuai yang direncanakan alam. Semoga Dia sebagai salah satu fungsi-Nya menerima penghormatan kami atas kekuatan-Nya yang abadi.
Manusia yang kemudian tercipta setelah adanya tumbuh-tumbuhan dan binatang, menikmati kamadhuk atau alam semesta bagi kehidupannya. Populasi manusia kemudian bertambah banyak dan kepandaiannyapun makin berkembang. Manusia bisa membuat api yang tersimpan di tetumbuhan dan di bumi. Pembakaran-pembakaran, penggalian tanah, dan penebangan hutan dilakukan sehingga kekuatan Mahakala yang tersimpan kini bangkit dan energynya mencairkan es di kedua kutub. Permukaan air laut pun meninggi dan terbentuklah pulau-pulau yang tadinya berupa daratan atau benua. Manusia pada mulanya hidup dari hasil pertanian dan peternakan. Ketika itu keharmonisan hubungan manusia dengan alam terjaga baik, karena manusia sangat berkepentingan pada kelestarian alam.
Pola hidup sebagai petani diliputi nilai-nilai spiritual, karena keyakinan bahwa Sanghyang Widhi telah menganugrahkan kebahagiaan dan kesejahteraan. Tanah, tetumbuhan, binatang, dan sumber-sumber air dihormati dan disayangi, dijaga kelestariannya dan disakralkan dengan menstanakan Wisnu dalam berbagai bentuk manifestasi-Nya. Keyakinan yang menjadi kepercayaan seperti ini berlanjut turun temurun, sampai pada abad ke-19 di saat mana manusia mulai berpikir lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Revolusi industri kemudian bergulir ke seluruh dunia, mengajarkan pola hidup manusia yang baru, yang mengabaikan kesakralan tanah, air, tetumbuhan, dan binatang-binatang. Tiada lagi rasa bersalah atau berdosa karena merusak tanah demi kepentingan usaha-usaha : industri, perdagangan, jasa-jasa, atau untuk real estate/pemukiman. Tetumbuhan makin berkurang, mata air berkurang, dan bumi dibor untuk pertambangan dan penggalian sumur-sumur minyak bumi, batu bara, dan gas. Pertanian yang tadinya menggunakan pupuk organik diganti dengan pupuk kimia, sehingga tetumbuhan menderita keracunan pada akar, batang, daun dan buah. Akibatnya kemampuan tetumbuhan mengelola energi Surya berkurang, tanah menjadi keras dan tak mampu menyerap energi Surya untuk disalurkan ke lapisan Satala. Oleh karena itu maka energi Surya yang terpendam kembali bangkit menjadi Mahakala. Bedawang terguncang; lilitan Naga Basuki dan Naga Anantabhoga mengendur sehingga energi di lapisan Satala keluar dari pusat bumi. Terjadilah letusan gunung, gempa bumi, laut pasang/tsunami, bumi yang memanas dan perubahan iklim tak menentu. Es di kedua kutub dan di puncak-puncak gunung mencair, permukaan laut meninggi, sehingga pulau-pulau dan benua-benua akan tenggelam bersama-sama dengan segala bentuk kehidupan di atasnya. Dalam purana, keadaan ini disebut Pralaya.

Intisari Upanisad yang ada di Brahma Purana dan Siwa Purana seperti diuraikan di atas telah mulai nampak dalam kenyataannya sekarang. Pertanyaan yang muncul, sebagai akhir tulisan ini : Sadarkah umat manusia akan ancaman yang dihadapi ? Selanjutnya : Apa upaya kita untuk menanggulangi atau meminimalisir kerusakan alam ?

Om Trayambhakam yajamahe, sugandhim pusti varadhanam, urvarukam iva bandhanat, mrtyor muksiya mamratat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: