Oleh: Gusti Sudiartama | Desember 18, 2009

SEKILAS REINKARNASI

Oleh : Bhagawan Dwija

Ketika Atman ber-reinkarnasi dapat mengambil wujud sebagai manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan sesuai dengan karmapala/karmawasana Atman dalam kehidupan sebelumnya.

Jika karmawasananya baik akan menjelma sebagai manusia suputra, demikian selanjutnya menurut jenjang subha-asubha karma yang membungkus Atman.

Penjelmaan menjadi manusia adalah yang utama karena mempunyai triguna yaitu : sabda (bisa berbicara), bayu (bisa bergerak), dan idep (bisa berpikir).
Penjelmaan menjadi binatang kurang baik karena hanya mempunyai dwiguna yaitu : sabda (bisa menggonggong/melenguh) dan bayu (bisa bergerak), dan tidak mempunyai idep (tidak bisa berpikir).

Penjelmaan menjadi tumbuh-tumbuhan paling buruk karena hanya mempunyai ekaguna yaitu bayu (bisa bergerak terbatas/tumbuh), tidak mempunyai sabda dan idep.

Baik dan buruk itu ditinjau dari kesempatan Atman untuk kembali bersatu pada Brahman sebagaimana keinginan hakiki. Ini diibaratkan sebagai udara yang berada dalam sebuah kembungan karet, dan udara yang bebas di luar.
Udara dalam kembungan karet pengandaian Atman, sedangkan udara bebas pengandaian Brahman. Keinginan udara dalam kembungan adalah bersatu dengan udara bebas. Bilamana kembungan karet itu tipis maka akan meledak dan terjadilah percampuran itu.

Pancamahabutha (tubuh manusia), Pancatanmatra (pengaruh indria pada Atman), dan Karmawasana, ibarat kembungan karet yang menghalangi persatuan Atman dengan Brahman.

Dalam kehidupannya manusia bertujuan sedikit demi sedikit menipiskan lapisan Karmawasana dengan cara berbuat subha karma sebanyak-banyaknya agar bila di kemudian hari setelah meninggal di-aben (mengembalikan Pancamahabutha), dan setelah upacara nyekah (menghilangkan Pancatanmatra), maka Atman dapat segera bersatu dengan Brahman (Hyang Widhi).

Manusia yang mempunyai daya berpikir dapat mengupayakan dirinya menuju kesatuan dengan Hyang Widhi. Binatang dan tumbuh-tumbuhan tidak dapat melakukan hal yang sama seperti manusia. Cara yang terbuka bagi mereka bilamana digunakan sebagai korban persembahan oleh manusia. Prosesnya melalui doa-doa yang disebut sebagai “Puja Pati Wenang” dan pemuspaan ketika ada pecaruan. Hal-hal ini ada dalam lontar-lontar : Wrhaspati tattwa, Yama Purana tattwa, dan Taru pramana. Lontar-lontar itu adalah acuan bagi penganut Hindu sekte Siwa Sidanta.

Manusia diberikan wewenang untuk “nyupat” binatang dan tumbuh-tumbuhan karena Hyang Widhi-pun menciptakan Kamadhuk (alam, hewan, dan binatang) untuk kehidupan manusia. Tata cara nyupat sudah diuraikan di atas, namun walaupun demikian tidaklah berarti manusia boleh semau-maunya melakukan pembunuhan binatang dan pembabatan tetumbuhan. Ada batasnya yang diatur dalam filosofi Ahimsa.

Manusia yang dibunuh untuk kurban persembahan tidak terdapat dalam Agama Hindu sekte Siwa Sidanta seperti yang kini dianut di Bali.

Sekali lagi Pandita ingin mengingatkan bahwa Agama Hindu di Bali adalah dari sekte Siwa Sidanta. Di India masih ada sekte-sekte lainnya yang berbeda dengan tata cara (ritual) di Bali.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: