Oleh: Gusti Sudiartama | April 5, 2010

Menyembelih binatang untuk upacara, Ahimsa-kah?

Oleh : Gusti Sudiartama

Ahimsa secara harfiah diartikan sebagai tidak membunuh/menyakiti ( A : tidak  ; himsa : membunuh), sedangkan yadnya dalam agama Hindu(Bali) banyak sekali menggunakan hewan atau binatang yang dikorbankan sebagai sarana upakara. Tampak  sebagai suatu  standar ganda yang terkadang membuat orang, bahkan umat Hindu sendiri merasa kurang nyaman.  Ketidak nyamanan ini tidak terlepas dari kurangnya pemahaman(kurangnya kemauan untuk memahami) ajaran agamanya.

Besarnya ajakan untuk kembali ke ajaran Veda, sebagai  konsekwensi  kemajuan jaman dari mudahnya komunikasi antar budaya bangsa(India-Bali) lewat buku, internet bahkan belajar langsung ke India membuat  umat Hindu di Bali membuat keraguan akan esensi yadnya(pengorbanan binatang/hewan sebagai sarana yadnya) itu semakin sering di munculkan. Satu ketika  gesekan prinsip keyakinan tentang Ahimsa diantara umat  Hindu sendiri terjadi. Di satu sisi umat menganggap pengorbanan hewan sebagai sarana upakara dibolehkan oleh agama karena dilandasi oleh rasa bhakti kepada Sang Maha Pencipta  jauh dari nafsu membunuh, disisi lain umat yang meyakini Ahimsa sebagai ajaran tidak membunuh/menyakiti mahluk apapun (bahkan tidak boleh mengkonsumsi daging hewan/binatang) menganggap hal ini sebagai Himsa-Karma .Sekali lagi budaya Bali yang mengedepankan  rasa toleransi yang tinggi mampu meredam  perbedaan itu.

Mari kita  kembali kepada  ajaran agama yang paling mendasar yaitu Panca Sradha yang salah satunya adalah percaya akan adanya reinkarnasi(lahir kembali). Semua mahluk yang dilahirkan ke dunia pada dasarnya dengan satu semangat yang sama yaitu untuk melakukan subhakarma(berbuat kebaikan) sebanyak-banyaknya sehingga nanti pada saatnya kematian itu datang, untuk kemudian dilahirkan kembali sebagai mahluk yang lebih baik, melakukan subhakarma lagi sebanyak-banyaknya ,  demikian seterusnya sampai satu ketika subhakarma itu mampu mengantarkan roh untuk kembali kepada Sang Maha Pencipta(moksah), karena hanya itu cara agar roh dapat menyatu kembali dengan sumbernya. Roh tumbuhan hanya diberikan ekaguna( Bayu), roh hewan diberikan dwi guna(Bayu dan Sabda) Roh manusia dianugrahi Triguna(Bayu, Sabda, Idep). Hanya ciptaan-Nya yang mempunyai Triguna-lah yang mampu mengusahakan sendiri cara melakukan subhakarma, yang hanya memiliki dwiguna apalagi ekaguna tidak mampu melakukan subhakarma sendiri, mereka ini(ekaguna dan dwiguna) harus dibantu oleh yang mempunyai Triguna untuk melakukan subhakarma. Inilah yang menjadi dasar kenapa manusia kemudian diberikan wewenang untuk menyembelih(mengorbankan) tumbuhan dan hewan sebagai persembahan.

Tata cara penyembelihan/pengorbanan ini prosesnya disebut sebagai Pujapati wenang sebagai mana tersurat dalam Wrhaspati tattwa, Yama Purana tattwa, dan Taru pramana, bukan sembarang menghilangkan nyawa apalagi dilandasi oleh nafsu membunuh. Inilah yang sering disebut “Nyupat “ hewan dan tumbuhan untuk membantu mahluk itu melakukan subhakarma.  Sering ada pendapat “manusia jangankan nyupat binatang dan tumbuhan nyupat diri sendiri saja tidak bisa” ada benarnya pendapat ini tapi tidak sepenuhnya benar. Manusia nyupat diri sendiri melalui subhakarma, melakukan yadnya yang dilandasi rasa bhakti dan keyakinan adalah salah satu subhakarma sedangkan yadnya itu sendiri memberi kesempatan kepada manusia untuk membantu mahluk lain melakukan subhakarma, tidakkah ini sebagai suatu anugrah?  Hanya saja tata cara Nyupat(mengorbankan) disini sangat ditentukan dari niat(idep) saat  melakukan penyembelihan/pengorbanan itulah yang sebaiknya di dalami agar tidak salah (Nyupat menjadi himsa karma).

Paham inilah yang menjadi pembenar sekaligus keyakinan kenapa umat Hindu di Bali(khususnya) tetap menjalankan tata cara beragama seperti sekarang ini.

Semoga ada manfaatnya




Responses

  1. Nice Post Gan ..
    Tukeran Link yuu..

    Jangan lupa saling berkunjung ..

    http://serbamiliter.wordpress.com/

  2. SwastiAstu,
    Pengertian Agama memang ada beberapa, (1) disamakan dengan adat-kebiasaan/budaya, dan (2) keyakinan terhadap suatu aliran juga kadang2 dipandang sbg. agama; (3) agama memiliki 3 aspek mendasar yaitu: ada konsep Tuhan, ada hukum Tuhan yang diyakini, ada prosedur pemujaan;
    Kita memang menekankan kepada aspek pemujaan yang dikaitkan dengan adat-budaya tetapi kurang memahami hakekat Tuhan dan hukum2nya (dharma). Hukum2 itu adalah jalan yang menuntun kita ketujuan (mewali); kalau yg diikuti jalan Tuhan kita bisa menuju ke sana, tetapi kalau jalan Wong Samar Luwih maka kita menuju ke sorga bikinannya. Begitu kan?

    • Betul sekali, hanya saja dalam proses menemukan jalan Tuhan kita harus membuka diri terhadap kebenaran sejati dari manapun datangnya karena petunjuk Beliau untuk menuju jalan dharma tidaklah selalu seperti harapan kita…. hanya dengan pengekangan indria dan penguasaan pikiran oleh jiwa utama(atma), kita mampu memahami kesujatian….

  3. Menurut saya Kehidupan berasal dari pembunuhan, tanpa pembunuhan tak mungkin ada kehidupan. Kita hidup dari makanan, untuk mendapatkan makanan kita harus membunuh apa yang kita makan, baik langsung maupun tidak langsung/membeli di pasar. Tapi untuk mendapatkan makanan yang efek dosanya paling kecil adalah dari mahluk yg mempunyai satu guna yaitu tumbuhan (bayu). Untuk sarana penetralisir unsur-unsur alam (caru) mungkin kita perlu Tumbuhan dan Binatang, Tapi untuk makanan kita sehari-hari pilihan ada ditangan kita.
    Semoga Berguna


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: