Oleh: Gusti Sudiartama | November 21, 2010

Bhaktityaga: Ujian Bagi Dharmawangsa


E-mail

Bhaktityaga:
Ujian Bagi Dharmawangsa
Oleh : Sudha Adnyana, Karangasem

Dharmawangsa diuji? Demikianlah tersurat dalam Swarga-rohana parwa, kitab ke-18 atau terakhir dari Mahabharata. Ujian maha berat, karena menyangkut sebuah pandangan atau keyakinan. Di dalamnya terkandung ajaran rohani yang patut dihayati.

Bhaktityaga:
Ujian Bagi Dharmawangsa
Oleh : Sudha Adnyana, Karangasem

Dharmawangsa diuji? Demikianlah tersurat dalam Swarga-rohana parwa, kitab ke-18 atau terakhir dari Mahabharata. Ujian maha berat, karena menyangkut sebuah pandangan atau keyakinan. Di dalamnya terkandung ajaran rohani yang patut dihayati.

Kitab Swargarohana parwa memang memuat cerita yang mengusik renungan kita. Misalnya kisah para Korawa di Sorga, sementara keluarga Pandawa di Neraka, sampai pada dengan kedatangan Sang Dharmawangsa menyebabkan Neraka menjadi Sorga.

Dhrmawangsa memang menjadi tokoh utama di sini, oleh karenanya kita patut memberikan perhatian khusus kepada Penegak kebenaran ini. Kepergiannya ke Sorga memang tidak seorang diri, ia diiringi oleh seekor anjing yang setia. Setelah meninggal adik-adiknya dan Drupadi, Dharmawangsa melanjutkan perjalanannya mendaki gunung Kailasa. Di perjalanan turunlah Bhatara Indra seraya menyapanya: “Hai anakku Sang Dharmawangsa janganlah ananda bersedih atas kematian adik-adikmu, seperti itu memang yang ditemui oleh manusia. Berbeda dengan dirimu yang dapat masuk surga bersama badanmu, karena Ananda melaksanakan Dharmajnana.”

Sang Dharmawangsa menjawab : “Wahai Dewa, sungguh besar anugerahmu kepada hamba, hamba menerimanya bila anjing yang setia mengiringi hamba ini turut juga masuk sorga, hamba tidak dapat meninggalkannya (saka ri tan wenang nghulun tuminggalakena ya).

Hyang Indra menjawab, “Maharaja Dharmawangsa, apa gunanya anjing itu turut ke sorga, karena ia kotor, ia akan dihentikan oleh para dewa. Janganlah Ananda menaruh kasihan kepadanya”.

Dewata yang mulia, hamba tidak dapat memotong rasa bhaktinya (bhaktityaga), lalu meninggalkannya, karena ia selalu setia mengikuti kemanapun hamba pergi. Orang yang bhaktityaga atau memotong rasa bhakti akan besar dosanya. Oleh karena itu hamba tak ingin meninggalkannya”. Dharmawangsa juga menjelaskan bahwa meninggalkan orang yang setia bhakti ketika ia masih hidup, sama halnya dengan membunuh seorang wanita yang bijaksana, juga membunuh brahmana, tidak menolong orang yang memerlukan pertolongan, karenanya ketika ia tidak patut ditinggalkan. “Hamba tidak akan menemui sorga kalau meninggalkannya”, demikian Sang Dharmawangsa.

Setelah mengucapkan hal itu, si anjing yang setia menghilang, dan hadirlah Sang Hyang Dharma lalu memeluk Sang Dharmawangsa. “Ananda Sang Dharmawangsa dua kali Ayahanda mengujimu. Dahulu tatkala Ayahanda mengujimu ketika ananda memilih Sang Sahadewa untuk dihidupkan di antara empat saudaramu yang meninggal dunia karena meminum air larangan, tampak sekali perbuatan dharmamu,” demikian Sang Hyang Dharma menjelaskan.

Jadi Sang Hyang Dharma telah menguji Sang Dharmawangsa dengan anjing yang setia. Sang Dharmawangsa benar-benar tidak ingin berpisah dengan anjing itu, sekalipun ia dapat masuk sorga tanpa anjing, Dharmawangsa tidak mau melakukan bhaktityaga, memotong kesetiaan, sekalipun dari seekor binatang dan itu adalah ujian yang kedua baginya Dharmawangsa, dan beliau dinyatakan lulus oleh Sang Hyang Dharma.

Ujian yang pertama adalah ketika Sahadewa , Nakula, Arjuna dan Bhima keempat adiknya itu meninggal karena meminum air danau di tengah hutan. Awalnya Sahadewa mendapat tugas mencari sumber air di tengah hutan, dalam masa pengasingan Panca Pandawa dan Drupadi di hutan. Ketika menemui sumber air Sang Sahadewa ingin meminumnya karena kehausan. Ada suara Yaksa yang menampakkan diri melarang Sang Sahadewa meminum air itu, namun Sang Sahadewa tidak menghiraukannya. Setelah meminum air itu Sang Sahadewapun meninggal dunia. Selanjutnya datanglah Sang Nakula, kesatriya pandawa menemui nasib yang sama. Demikian juga halnya Sang Arjuna dan Sang Bhima yang datang belakangan. Mengetahui ke empat saudaranya tewas setelah meminum air danau itu, tentu saja Sang Dharmawangsa kebingungan. Pada saat seperti itu terdengarlah sabda yang meminta Sang Dharmawangsa mengajukan permohonan : siapa di antara empat orang adiknya itu untuk dihidupkan. Inilah ujian yang sangat sulit, yang hanya dapat dijawab oleh seorang yang benar-benar menegakkan Dharma. Ada alasan mengapa Sang Dharmawangsa memilih Sang Sahadewa untuk dihidupkan, bukannya Bhima atau Arjuna yang kuat dan sakti itu. Sahadewa adalah putra Dewa Madri sedangkan dirinya adalah putra Dewi Kunti. Dengan demikian ada salah seorang putra Dewi Madri yang hidup bukan hanya putra Dewi Kunti.

Begitulah Sang Dharmawangsa menegakkan kebenaran dan keadilan. Suatu sikap yang perlu dicontoh oleh setiap pemimpin. Sang Hyang Dharma telah memberi ujian yang begitu berat kepada Sang Dharmawangsa, dan beliau lulus. Ujian yang menyangkut kualitas pikiran. Hanya orang seperti itu yang dapat kembali ke sorga bersama badan wadag-nya (matangyang muliha ring swarga lawan sariranta).

Demikian kisah perjalanan Sang Dharmawangsa, sebuah kisah perjalanan yang penuh nilai spiritual. Ada pergulatan pikiran dan perasaan, ada perenungan yang mendalam disini. Terlebih lagi kita kaitkan dengan perjalanan beliau di Sorga selanjutnya.
‘Setelah tiba di Sorga, Sang Dharmawangsa langsung menanyakan dimana sanak saudaranya berada termasuk Dewi Drupadi. Sang Dharmawangsa tidak menemui mereka di Sorga. Kepada Bhatara Indra yang ada di sana beliau menanyakannya. “Dimanakah saudara hamba semua dan Drupadi berada? Tolong beritahukan hamba !”.

“Wahai Maharaja Dharmawangsa janganlah Ananda bingung tentang keberadaan saudaramu semua. Seorang raja tidak boleh berfikir seperti manusia ketika ia berada di Sorga, karena ia harus mengikuti hasil perbuatannya, karenanya mereka tak dapat disatukan dengan Ananda”. demikian jawab bhatara Indra.

Maharaja Dharmawangsa menegaskan: ”Tak patut orang seperti hamba menghilangkan rasa kasih kepada keluarga hamba dan Dewi Drupadi, karena kami harus bersatu sekalipun menemui penderitaan. Kesimpulannya hamba tidak bersedia berada di sorga ini apabila tidak bersama dengan saudara hamba dan Dewi Drupadi. Itulah permintaan hamba”. Betapa terkejutnya Hyang Indra mendengarkan jawaban tegas Sang Dharmawangsa seorang Maharaja yang memiliki kesetiaan yang begitu besar dengan saudara-saudaranya dan Dewi Drupadi. Ikatan kasih dalam bersaudara dan berkelurga ditunjukkan disini tidak dalam kata-kata saja tetapi juga dalam tindakan.

Sang Dharmawangsa pun lalu meninggalkan sorga untuk mencari saudara-saudaranya dan Dewi Drupadi. Temyata saudara-saudaranya dan Dewi Drupadi berada di neraka. Setelah melewati perjalanan di kegelapan dan jalan yang begitu mengerikan ditemuilah tempat ke empat saudaranya bersama Dewi Drupadi. Tempat yang kotor, bau busuk dan lalat hijau menyerubungi, serta lintah berkeliaran. Atma yang sengsara berkumpul di sana sambil menjerit mengaduh menahan derita sakit. Sangat sulit menggambarkan suasana mereka yang mengerikan dan menjijikkan itu. Namun Sang Dharmawangsa sama sekali tidak terpengaruh oleh suasana itu.

Akhirnya bertemulah Sang Dharmawangsa dengan saudara-saudaranya dan Dewi Drupadi di Yamanloka atau Neraka. Tidak lama setelah itu ternyata Neraka berubah menjadi Sorga, bau busuk berubah menjadi harum mewangi (mangkana tilang yamaniloka matemahan swarga mwang ikang durganda nguni matemahan juga ndakusuma).

Demikianlah perjalanan seorang yang memiliki kesetiaan yang tinggi, Sang Dharmawangsa. Beliau bersiap tinggal bersama di Neraka, sekalipun tempat yang mewah telah disiapkan bagi dirinya di Sorga. Dan tempat itu adalah haknya sehagai orang yang selama hidupnya menegakkan Dharma. Namun ditolaknya bila tidak bersarna-sama dengan saudara-saudaranya dan Dewi Drupadi.

Sebelumnya Sang Dharmawangsa telah menunjukkan kesetiaannya kepada seekor anjing yang setia mengiringi sampai batas masuk sorga. Disini beliau menunjukkan kembali akan pentingnya melaksanakan nilai-nilai spiritual dan moral tentang tingginya nilai Satya itu. Tan Hana Dharma mangiwihane kesatyam. Tidak ada Dharma yang melebihi satya.

Dengan pegangan pokok seperti itu, Sang Dharmawangsa dapat melewati dan lulus atas ujian yang diberikan oleh Dewata atau Sang Hyang Dharma. Ujian mahaberat bagi kebanyakan orang tapi menjadi gampang bagi Sang Dharmawangsa yang telah dapat menguasai dirinya, menguasai rasa keakuan (egoisme dan egosentrisme), juga telah dapat mengalahkan musuh yang ada dalam dirinya.

Sungguh mencengangkan, atau mungkin mengherankan bagi kebanyakan orang mengapa seekor anjing menjadi begitu penting bagi Sang Dharmawangsa, Seorang Maharaja yang maha sakti namun senantiasa hadir dengan penuh kesederhanaan. Seekor anjing yang setia lebih penting bagi Sang Dharmawangsa daripada masuk sorga. Sorga bukan apa-apa dibandingkan dengan keagungan Satya. ini juga tampak ketika Sang Dharmawangsa memilih Neraka, untuk dapat mewujudkan Satya dengan saudara-saudaranya dan Drupadi.

Ya, Satyam eva jayate. Hanya Satya yang menang. Dengan demikian seorang Dharmawangsa senantiasa menjadi pemenang!. [WHD No. 516 Desember 2009].

Dikutip  dari http://www.parisada.org   sesuai naskah aslinya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: