Oleh: Gusti Sudiartama | November 24, 2010

MENYAMBUT KEHADIRAN SI BUAH HATI

Catatan ini  sekalian menjawab  pertanyaan beberapa rekan, yang sedang mempersiapkan diri menjadi seorang ayah dan ibu, apa yang semestinya dilakukan  setelah si buah hati diperkenankan hadir di pangkuan..

Kelahiran seorang bayi dalam rumah tangga sesungguhnya merupakan berkah, pembawa harapan dan kebahagiaan yang tiada tara bagi keluarga bersangkutan karena seorang penerus telah lahir.  Hanya saja kehadiran sang jabang bayi perlu pula di persiapkan agar kelak mampu memberi sinar dan memenuhi harapan orang tuanya.

1. Ketika bayi baru saja dilahirkan

Ketika bayi baru saja dilahirkan  setelah dibersihkan sesegera mungkin sang ayah, atau orang yang dipercaya oleh orang tuanya membisikkan mantram Gayatri pada telinga bayi  tiga kali di telinga  kanan dan tiga kali di telinga kiri, sebelum si jabang bayi mendengar hal-hal yang lain, mungkin maksudnya agar memori si bayi masih benar-benar segar.mungkin

OM BHUR BHUVAH SVAH, TAT SAVITURVARENYAM,

BHARGO DEVASYA DHIMAHI, DHIYO YO NAH PRACODAYAT

Mantram ini akan menuntun bayi kita dengan cara yang misterius, yang biasanya disebut keajaiban Gayatri mantram.

Lanjutkan dengan mantram dari Rgveda IV.53.6: OM BRHATSUMNAH PRASAVITA NIVESANO, JAGATAH STHATURUBHAYASYA YO VASI, SA NO DEVAH SAVITA SARMA YACCHATVASME, KSAYAYA TRIVARUTHAM AMHASAH

Artinya: Ya Tuhan, Hyang Widhi, yang maha pengasih, dan memberi kehidupan pada alam, menegakkan dan mengatur semua baik yang bergerak maupun yang tidak, semoga Ia memberikan anugerah-Nya untuk ketentraman dan kemampuan menghindari kejahatan.

2. Perawatan terhadap ari-ari

Setelah ari-ari itu dibersihkan lalu dimasukkan kedalam sebuah kelapa yang dibelah dua (airnya dibuang). Bagian atas dari kepala itu diisi tulisan “Ongkara”, sedangkan bagian bawahnya diisi tulisan “Angkara”.

Selain dari pada itu kedalam kelapa tadi dimasukkan pula beberapa jenis duri seperti duri terung, mawar dsbnya, sirih lekesan selengkapnya. Lalu kedua buah kelapa itu dicakupkan kembali, dibungkus dengan ijuk dan kain putih kemudian di pendam (kalau tidak ada hijuk, cakuplah dengan kain putih saja). Tempat memendam yaitu kalau si bayi laki-laki, maka arinya dipendam di sebelah kanan pintu rumah, sedangkan kalau perempuan dipendam di sebelah kiri (lihat dari dalam rumah).

Ucapan waktu memendam ari-ari adalah sebagai berikut :

Ong Sang Ibu Pertiwi rumaga bayu, rumaga amerta, sanjiwani angemertanin sarwa tumuwuh (nama si bayi ……………), mangda dirgayusa nutugang tuwuh.

Sebenarnya masing-masing lontar berbeda ucapannya, tetapi disini dikemukakan yang agak sederhana dan mudah dihafalkan. Setelah selesai mengucapkan kata-kata tersebut barulah ari-ari itu ditimbuni, ditindihi batu hitam (batu bulitan) ditandai dengan pohon pandan yang berduri. Secara rokhaniah, bertujuan menolak gangguan oleh hewan, dan secara rokhaniah bertujuan untuk menolak gangguan rokh-rokh jahat. Upakara yang diturunkan kepada ari-ari itu adalah nasi kepel 4 kepel, ikannya bawang jahe, garam yang dicampur dengan areng, dan dilengkapi dengan canang genten / canang burat wangi.

Banten itu dihaturkan kehadapan sang Catur Sanak dari pada bayi.

Demikianlah perawatan terhadap ari-ari dianggap selesai dan setiap ada upacara yang ditujukan kepada si bayi, hendaknya ari-arinya tidak dilupakan. Disamping itu perlu kiranya dikemukakan bahwa bila keadaan tidak mengijinkan maka ada kalanya ari-ari itu (setelah dibungkus dengan kelapa seperti di atas) lalu dibuang kelaut.

3. Bersyukur atas kelahiran bayi

Upacara ini tidak mempunyai arti yang istimewa, kecuali merupakan rasa gembira dan angayu bagia atas kelahiran si bayi kedunia. Upakaranya disebut dapetan dan terdiri dari :

  1. Dalam tingkatan yang kecil

Nasi muncuk kuskusan, dilengkapi dengan buah-buahan (raka-raka), rerasmen (kacang saur, garam, sambel dan ikan), sampian jaet, dan canang sari / canang genten, serta sebuah penyeneng. Upakara ini dihaturkan kehadapan sang Dumadi.

  1. Upakara yang lebih besar

Seperti diatas dilengkapi dengan jerimpen di wakul yaitu sebuah wakul berisi sebuah tumpeng lengkap dengan raka-raka, rerasmen, dan sampian jaet.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: