Oleh: Gusti Sudiartama | November 27, 2010

DHARMA DAN KAMA

oleh: Putu

Hendaknya Dharma-lah sebagai jalan untuk memperoleh kama(nafsu keinginan)  dan Artha .

Kama.(keinginan, kesenangan akan kenikmatan indria)  adalah suatu anugrah bagi manusia dari Ida Sang Maha Pencipta….  dengan kama-lah manusia  memperoleh dan menjalani hidupnya, apa jadinya kalo manusia tidak  mempunyai  kama/keinginan?

Pemenuhan keinginan yang tak terkendali tak akan pernah terpuaskan, karena ia akan tumbuh semakin besar, seperti api yang dituangi bensin, semakin diikuti  semakin  kuat ia menguasai , semakin sulit dikendalikan  seperti nyala api yang semakin berkobar .

Apalagi  kama yang disebut dengan birahi(raga) sangat sulit ditundukkan, semakin dipenuhi semakin berkobar semakin dikuasai, ketika tidak lagi terpenuhi maka munculah kebencian(dwesa). Orang yang mendudukan birahi(raga) sebagi tujuan akan selalu diikuti oleh kebencian(dwesa),kemudian kemarahan, ketika orang tersebut telah dikuasi oleh “ragadwesa” (benci yang disebabkan nafsu berahi) tersesatlah ia, karena tidak lagi mampu melihat “dharma” dan “etika”

Keinginan/Kama/Nafsu yang tidak terpenuhi akan menimbulkan kekecewaan , kekecewaan memunculkan kemarahan, gelap mata , membutakan  pikiran dan menutup kecerdasan . Dari kemarahan timbullah kebingungan, dari kebingungan hilangnya ingatan, dari hilangnya ingatan, kecerdasan terhancurkan  setelah hancurnya kecerdasan apa lagi yang tersisa?  hanya  debu-debu  penyesalan bagaikan debu – debu kayu  yang terbakar  … musnah..

“Ada tiga jenis gerbang menuju neraka yaitu: Nafsu, Kemarahan dan Ketamakan. Oleh karena itu, seseorang harus melepaskan ketiganya (Bhagavad Gita XVI.21).

Jika ada orang yang dapat (berhasil) mengendalikan keinginan akan kenikmatan , perlahan akan berhasil meninggalkan kemarahan hatinya berdasarkan kesabaran hati sebagai keadaan ular yang meninggalkan kulesnya (kulitnya yang terlepas), karena kesemuanya itu tidak akan kembali lagi; orang yang demikian keadaannya itu adalah ia disebut berbudi luhur dan patut disebut manusia sejati”

“Sebenarnya, meskipun orang itu selalu jaya terhadap musuh-musuhnya, serta tak terbilang jumlah musuh yang dibunuhnya(asal yang dibencinya musnah), maka selama hidupnyapun, jika ia hanya akan menuruti kemarahan hatinya belaka, tentu saja tidak akan habis-habisnya musuhnya itu. Akan tetapi yang benar-benar tidak mempunyai musuh, adalah orang yang berhasil mengekang kemarahan hatinya.

Demikian pula orang yang telah mampu mengekang hawa nafsunya, dimana dharma(kebenaran), etika(susila) sebagai  ukurannya..  maka orang tersebut akan  di berkati jalan kebenaran…  niscaya kemuliaan akan menantinya.

Nafsu(birahi)  adalah sebuah anugrah …    hanya saja–  sebaiknya digunakan dengan didasari dharma dan etika , sehingga mampu memberi manfaat…  bukan kehancuran…   Birahi tanpa dharma dan etika …. apa bedanya dengan binatang????


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: