Oleh: Gusti Sudiartama | Desember 16, 2010

Yoga, Obat Pasti di Jaman Yang Tidak Pasti

Menurut Weda  jaman di dalam kehidupan manusia dikelompokan menjadai 4, yaitu Kerta Yuga atau Tirtha yuga,Treta Yuga, Dwapara Yuga, dan Kali Yuga. Dari ke empat jaman tersebut yang paling sering dibicarakan adalah jaman Kali Yuga. Banyak dari kita yang tidak mengerti, kenapa, kapan dan bagaimana jaman itu bisa beralih dari jaman yang satu ke jaman yang lainnya. Menurut pengamatan pedanda dan juga bersumber dari sastra – sastra agama yang pernah pedanda baca, sesungguhnya manusialah yang menyebabkan jaman itu berganti. Manusialah sebagai penentu kapan jaman Kali Yuga itu datang, kapan dia akan berakhir dan kapan jaman Kerta itu akan datang. Melalui tulisan ini pedanda ingin berbagi sebuah resep tentang bagaimana melewati jaman Kali Yuga ini.  Para leluhur kita telah memberi kita banyak sekali contoh, begitupula alam yang setiap saat memberi kita sinyal -sinyal, tetapi kita tidak mampu membaca contoh leluhur kita dan menangkap suara – suara alam.

Salah satu contoh yang pedanda kemukakan adalah tentang filsafat kepiting dan seekor belut. Suatu ketika saat pedanda memberikan dharma wacana di Pura Candi Rawi di daerah Jembrana, sesaat setelah dharma wacana pedanda disuguhi makanan yang lauknya membuat pedanda sedikit heran. Yang pertama adalah seekor kepiting besar lengkap dengan capitnya, dan yang kedua adalah belut yang besar, sebesar ibu jari. Yang menghaturkan makanan tersebut mengatakan bahwa di daerah mereka jika menghaturkan rayunan pedanda maka diharuskan berisi kepiting dan belut, itu merupakan tradisi dan warisan leluhur yang ada di sana. Kira – kira apa artinya? Kenapa para leluhur kita sampai mewariskan tradisi seperti itu? Inilah yang pedanda katakan sebagai salah satu contoh yang berupa sinyal – sinyal dari alam. Pedanda mencoba memahami maksud yang terkandung dari warisan leluhur tersebut. Akhirnya pendada memahami bahwa lauk kepiting itu bersumber dari cerita tantri yaitu kisah pedanda baka yang tewas di capit kepiting. Jika para sulinggih melaksanakan swadharma dan paradharma beliau sesuai dengan aturan – aturan dan tatanan sastra maka jaman itu pastilah kerta. Karena secara tidak langsung keadaan seperti ini juga disebabkan oleh perilaku seorang sulinggih. Seperti dijelaskan dalam sastra “yan sira sang wiku tan nepeh kalinganing sastra, rug ikang rat” Jika para wiku selaku pemimpin umat tidak mentaati aturan sastra, maka hancurlan dunia ini. kalimat itu yang sering pedanda ingat.

Sekarang ini banyak para sulinggih yang belum melaksanakan swadharmaning seorang sulinggih dengan benar. Ada kecenderungan posisi sulinggih menjadi semacam komuditas bermotif ekonomi. Banyak para sulinggih yang seolah-olah menempatkan diri sebagai produsen yang mengikuti alur umat yang ditempatkan dalam posisi konsumen. Suatu contoh sederhana saja, saat ada orang tangkil nunas dewasa nganten misalnya, walaupun menurut pewarigan belum ada hari baik untuk nganten tetapi karena permintaan umat yang lebih memikirkan efisiensi waktu maka banyak sulinggih yang memperbolehkan, padahal seharusnya sulinggihlah yang memberikan tatanan yang benar yang diikuti oleh umat, bukan sebaliknya.

Hidangan laut belut tadi juga membuat pedanda berfikir akan makna yang tersirat. Akhirnya pedanda melihat sebuah contoh dari kehidupan si belut yang layak kita teladani. Belut yang walaupun hidup didalam kubangan lumpur yang kotor ternyata tidak dilekati oleh kotornya lumpur tersebut. Begitu pula hendaknya manusia hidup, walaupun jaman seperti sekarang ini hendaknya kita tidak sampai kehilangan identitas dan jati diri. Namun di jaman seperti sekarang ini yang disebut jaman kaliyuga, pengaruh godaan duniawi, kehidupan yang berputar sangat cepat membuat masyarakat bali semakin kehilangan jati diri dan kebanggaanya sebagai orang bali. Belum lagi pengaruh makanan yang sebagian besar mengandung zat berbahaya yang tentunya berimplikasi pada munculnya bermacam – macam penyakit sehingga kejernihan pikiran dan jiwapun semakin jauh rasanya. Melihat kondisi seperti itu, apakah yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki keadaan? Pedanda ingin mengutip wejangan dari Ida Rsi Patanjali. Disaat beliau melaksanakan Samadhi di suatu tempat, beliau mendapatkan wahyu berupa intisari dari weda yang kemudian dikumpulkan menjadi Yoga. Yoga inilah satu-satunya obat yang bisa mengembalikan eksistensi manusia sebagai seorang manusia. Manusia hanya akan bisa menjadi seorang manusia yang sesungguhnya hanya melalui yoga. Jaman sekarang ini banyak sekali manusia yang pedanda istilahkan hanya casing atau pembungkus luarnya saja yang manusia, ini karena nilai – nilai dan sifat -sifat luhur kemanusiaanya telah dikalahkan oleh keserakahan dan kesombongan. Keserakaan, kesombongan, iri hati dan aneka sifat buruk lainya ditambah dengan makanan yang tidak sehat dan berbahaya tentu merupakan sebuah mala petakan yang akan membawa manusia dalam kehancuran baik secara jasmani dan rohani. Yang terjadi hanyalah jiwa – jiwa yang terombang – ambing tanpa arah, tanpa tujuan, tidak mengenali diri sendiri bagaikan lingkaran kesedihan tiada tepi. Maka dengan itu pedanda menghimbau agar seluruh umat hendaknyalah mempelajari yoga dan meditasi agar mampu melewati jaman kaliyuga ini.

Kenapa mesti yoga?

Jika pedanda analogikan manusi sepeti sebuah ember, maka fisik manusia adalah embernya dan jiwa serta pikiran adalah air di dalam ember tersebut. Jika fisik sudah hancur, airnya keruh dan kotor maka mustahil akan bisa menampakan bayangan bulan. Jika kondisi tubuh manusia tidak sehat maka pikiran dan jiwanya juga tidak akan bisa berfikir sehat. Yoga mampu merekonstruksi fisik manusia, baik itu otot, urat, syafat dan juga pikiran dan jiwa manusia.

Seperti kata pepatah, bahwa di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat, begitulah yoga yang mampu merekronstuksi fisik dan jiwa manusia sehingga kembali seperti semula sebagai seorang manusia sejati.  Banyak umat manusia yang tidak menyadari bahwa setiap bagian tubuh kita menyimpan jutaan macam kombinasi gerak. Karena kesibukan, pola hidup yang tidak sehat, kurang olah raga maka sebagian besar program kombinasi gerak tersebut tidak pernah digunakan, sehingga otot menjadi kaku, urat menjadi tegang dan aliran darah pun menjadi tidak

lancar yang tentunya berujung pada bermunculnya bermacam penyakit. Jika tubuh sudah tidak sehat (menahan rasa sakit) tentu pikiran pun tidak akan tenang dan jiwapun akan bergejolak. Disaat seperti itu maka mustahil bagi kita untuk melakukan perjalanan spirituan kedalam jiwa.

Yoga tidak semata – mata hanya olah tubuh, tetapi yoga adalah adalah satu rangkaian  berkesinambungan antara olah tubuh (asana), olah pernafasan yang bertujuan untuk mensehatkan fisik dengan meditasi dan rangkaian tahapan pengendalian indria hingga pencerahan spiritual.

Seperti di kutip dari: http://www.idapedandagunung.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: