Oleh: Gusti Sudiartama | Desember 20, 2010

Pengantar Menuju Pintu…Jagat Kecil Sembilan Pintu…

KALAU ADA ORANG mengetuk pintu dari dalam, pertanda ia (sudah) ada di dalam ruangan. Tapi mengapa ia masih mengetuk? Mungkin ia terkunci dari luar. Ketukannya adalah panggilan minta tolong kepada dunia luar agar ada yang membukakan pintu untuknya. Ketika pintu terbuka, ia ke luar. Di luar sana mungkin ia bebas. Atau, bisa jadi ia akan terkunci untuk kedua kalinya. Di luar sana ia kembali dikurung oleh ruang besar yang mahaluas. Maka, kembalilah ia mengetuk dari dalam. Mengetuk bumi dari atas bumi. Mengetuk langit dari bawah langit. Ia berharap akan ada kekuatan yang akan membukakannya pintu bumi dan pintu langit. Untuk apa? Mungkin ia punya tujuan. Siapa yang memberi ia tujuan? Mungkin agamanya, mungkin tradisi di tempatnya hidup, mungkin obsesi pribadinya. Tujuan itu mungkin personal, mungkin institusional. 

PERJALANAN HIDUP barangkali oleh karena itu sering diibaratkan perjalanan dari satu ketukan ke ketukan yang lain. Irama lagu, irama tarian, irama nafas, irama jantung, dan sebagainya, juga sering ditandai dengan ketukan-ketukan. Ketukan itu menimbulkan bunyi. Bila orang menjadi sibuk menghitung jumlah ketukan, orang mungkin akan lupa pada tujuan.

SIAPA ITU YANG mengetuk dari dalam?

Yang mengetuk pintu dari dalam misalnya, anak ayam yang akan menetas dari telur yang sudah matang masa dikeram oleh induknya. Anak ayam itu mengetuk dari dalam dengan paruh kecilnya yang masih lemah. Ketukannya didengar oleh induknya. Maka datanglah pertolongan. Dengan hati-hati induknya mematuk dari luar. Ketika kulit telur itu pecah, anak ayam itu disebut bebas.

Meskipun lemah ketukan anak ayam itu pasti didengar juga oleh induknya. Dari induk itulah datangnya pertolongan yang menyebabkan usaha anak ayam di dalam ruang kecil berhasil menembus ruang besar. Dan memang tidak ada jaminan bahwa ia akan bebas setelah mengembara di ruang luas. Karena yang namanya ”bebas” adalah sesuatu yang berbeda dengan ketukan.

NASIB anak ayam itu tidak berbeda dengan nasib angin. Angin yang ada di dalam batang bambu juga mengetuk-ngetuk dari dalam, entah dengan apanya dari angin itu yang dipakai mengetuk. Lama angin itu mengetuk dan lama angin itu menunggu sampai akhirnya datang pertolongan. Panas matahari dan hembusan induk-angin menolongnya dengan cara dibuatnya bambu itu kering. Panas matahari dan induk-angin itu akhirnya menyebabkan batang bambu itu retak. Pada retakan itulah nampak ada ”pintu”, sehingga angin di dalam batang bambu menjadi ke luar.

PERGI KE LUAR dan bersatu kembali dengan induk-angin tidak serta merta berarti bebas. Angin di alam luas sering menjadi metafora tentang bayu (angin dalam diri) yang berhembus ke sana ke mari. Kumpulan sari bayu itu sering dijadikan metafora tentang atma yang mencari pintu untuk ke luar dari penjara tubuh dan bersatu kembali dengan induk-atma. Tidak setiap atma yang ke luar dari tubuh berarti menemukan apa yang disebut bebas. Ia hanya ke luar. Dan bebas adalah sesuatu yang lain lagi.

CONTOH ketukan dari dalam masih bisa diperpanjang. Sangat banyak hal yang bisa dijadikan contoh. Karena alam memang mengajarkan ilmu mengetuk dari luar bagi yang ingin masuk, dan mengajarkan pula ilmu mengetuk dari dalam bagi yang ingin ke luar karena terkunci di dalam.

BAIK KETUKAN dari luar maupun ketukan dari dalam, sama-sama memiliki tujuan yang relatif tidak berbeda. Menuju ruang yang lebih luas! Dalam dua contoh kasus di atas ruang yang luas itu diditandai pertemuan dengan Induk. Anak ayam bertemu dengan induknya. Angin dalam batang bambu bertemu dengan Induknya, yaitu angin yang ada di alam semesta. Induk dipahami ada di ruang yang luas.

PERSATUAN itu dalam bahasa rakyat disederhanakan dengan kata mulih, atau pulang. Sebelum sampai, orang akan menemukan pintu-pintu. Karena itulah ia

mengetuk dari luar. Tapi dalam bahasa Yoga yang berbasis pada level-level kesadaran, orang diibaratkan mengetuk pintu dari dalam dirinya. Karena dirinya (tubuhnya) itulah yang dipahami sebagai pintu, yang memisahkan dua dunia yang disebut luar dan dalam. Dalam sastra, tubuh itu disebut kelir, yang memisahkan wayang dari penonton dan dalangnya.

MASIH SANGAT PANJANG sebenarnya yang bisa kita omongkan tentang pintu, ketukan, dari dalam, dari luar. Banyak filosof memusatkan renungannya pada pintu. Banyak pula sastrawan yang menulis tentang kedalaman makna sebuah atau berapa buah pintu. Dalam sastra Bali sudah tidak asing lagi kalau tubuh manusia diibaratkan sebuah jagat kecil dengan sembilan pintu.

ITU BARU SEMBILAN pintu yang nampak dengan mata, dan bisa diraba dengan tangan. Jagat tubuh ini konon masih memiliki pintu-pintu rahasia lainnya. Umpamanya, ubun-ubun (Shiwadwara), pertengahan jidat (song langit), ujung hidung (tungtung ing ghrana), pusar (nabhi), ujung ibu jari kaki (ulu puhun) dan seterusnya. Melalui pintu-pintu rahasia itulah konon ”sesuatu” yang halus dan teramat halus ke luar masuk.

PINTU memang tempat ke luar dan masuk. Selain adanya pintu di jagat tubuh, jagat-semesta juga konon punya pintu-pintu, yang entah di mana itu. Konon para yogi yang benar-benar yogi mengetahui pintu-pintu jagat-semesta itu. Jadi kalau ingin tahu, jadilah seorang yogi yang benar-benar yogi. Kalau tidak sempat menjadi yogi karena kesibukan ini dan itu, tunggu saja sampai nanti ada yogi yang memberitahu.

Kalau benar jagat ini punya pintu, dan Bali adalah bagian dari jagat ini, maka tidak terlalu mengada-ada kalau orang bertanya: di manakah pintu-pintu ”rahasia” nusa Bali ini?

Pertanyaan itulah yang akan menggiring kita ke Jemberana, daerah yang menjadi topik kita bulan ini.

ibm dharma palguna

seperti dimuat di Bali Post  http://www.balipost.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: