Oleh: Gusti Sudiartama | Desember 20, 2010

Sungai dan Orang Arti Menyeberang

ADA sebuah sungai besar membelah Tabanan dari Batukaru sampai ke laut, bernama sungai Ho. Orang-orang yang desanya dilewati aliran sungai itu fasih menyebutnya Yeh Ho.

Dahulu sungai Ho sering menghanyutkan manusia yang menyeberanginya dengan berjalan kaki. Dan orang-orang yang dihanyutkannya itu, anehnya, sering tidak berhasil ditemukan mayatnya.

Karena tidak ditemukan, orang pun tidak tahu apakah mayat-mayat itu sampai ke laut, atau tersangkut di sela-sela jepitan batu-batu besar yang memenuhi sungai, atau disembunyikan oleh makhluk-makhluk halus yang konon dipercaya banyak berumah di sungai Ho itu.

BAHKAN KONON dalam satu kasus yang saya dengar sekitar akhir tahun enampuluhan, satu desa sepakat untuk menggunakan jasa leak untuk mencari di mana kira-kira mayat itu tersangkut. Sekadar diketahui, konon dalam hal permayatan leak punya penciuman sangat tajam, barangkali setajam anjing pelacak narkoba. Sayangnya saya sendiri tidak sempat mendengar kelanjutannya, apakah para leak itu berhasil mendeteksi posisi mayat atau tidak.

MAKLUMLAH ketika itu saya tidak lebih seorang anak usia bawah lima tahun.

Yang masih saya ingat orang-orang pun kemudian beramai-ramai menciptakan berbagai cerita tentang keangkeran sungai itu. Ada yang mengatakan begini, ada yang menambahkan begitu, ada yang membubuhi anu, ada yang memoles dengan aneka keseraman kene dan keto, ada yang menyebarkan cerita itu dari rumah ke rumah, dan seterusnya entah apa lagi. Mereka bergotong-royong menciptakan cerita untuk kepuasan batin mereka sendiri yang memang haus akan santapan rohani jenis itu. Apalagi yang bisa mereka lakukan karena semua cerita itulah merupakan penjelasan paling masuk ”masuk akal” dalam dunia mereka.

DARI SEKIAN banyak versi cerita yang mereka buat, orang-orang sepakat bahwa keangkeran sungai itulah yang menjadi sebab utama, mengapa mayat-mayat itu tidak berhasil ditemukan. Angker adalah sebuah kata yang ampuh untuk menyelesaikan diskusi yang tidak menemukan ujungnya itu.

Sekarang saya tidak tahu apakah sungai Ho itu masih ”senang” menyeret dan menghilangkan nyawa dan tubuh manusia. Karena sekarang saya hanya melihat sungai itu pada sebuah peta pulau Bali. Keangkerannya tentu saja tidak bisa saya rasakan pada sebuah peta. Karena sebuah peta tidak dilengkapi dengan aneka cerita. Sungai Ho dalam peta Pulau Bali nampak seperti seekor cacing tanah sedang menggeliat kepanasan. Kesan angker tidak nampak pada cacing tanah itu.

Mengapa mesti sungai, dan mengapa justru Ho?

SUNGAI dan manusia memiliki hubungan yang kompleks. Contohnya, Sidharta yang kemudian menjadi Sang Buddha pernah diseberangkan melewati sebuah sungai besar. Di atas sungai itu konon ia ”melihat” realita yang berbeda dengan apa yang dimengertinya sebagai realita sehari-hari. Ia membuktikan bahwa sungai tidak hanya menjadi sarana penyeberangan fisik, tapi ternyata juga menjadi sarana penyeberangan batin. Masih banyak lagi contoh cerita seperti itu di dalam khasanah sastra kita. Dan untuk contoh seperti itu, kita tidak perlu mencarinya jauh-jauh.

ORANG-ORANG di beberapa desa di Tabanan juga memiliki hubungan yang kompleks dengan sungai Ho. Jangankan kompleksitas hubungan mereka, arti kata ho saja tidak mudah dijelaskan dan dipahami.

Apa arti Ho itu?

Orang-orang yang sehari-hari melintasi sungai Ho tidak bertanya apa arti kata ho terlebih dahulu, kemudian baru menyeberanginya.

BAGI MEREKA SUNGAI itu memisahkan tepi yang satu dengan tepi yang satunya lagi. Untuk menghubungkan kedua tepi itu mereka mesti bergerak dengan cara menyeberang. Berhasil tidaknya mereka menyeberang tidak tergantung apakah mereka tahu arti kata ho atau tidak.

SIAPA PERDULI arti selain folosuf, nabi-nabi dan para pengikut keduanya. Anak-anak tidak akan berkembang hidupnya bila harus tahu arti permainan terlebih dahulu sebelum mereka bermain. Kehidupan barangkali akan punah bila harus tahu apa arti hidup sebelum kita hidup.

SYUKURLAH ORANG-ORANG DESA ITU tidak seperti itu. Menyeberang dulu, dan setelah tiba di tepi yang dituju, di sana bolehlah merenungi arti. Sekenanya, sebisanya, sesempatnya. Tidak ada yang menyuruh, dan tidak ada juga yang melarang. Barangkali karena cara seperti itu, misteri hubungan sungai dan orang tidak buru-buru dipecahkan.

Untuk apa buru-buru memecahkan misteri?

TUHAN DISEMBAH berabad-abad karena Ia adalah Misteri. Bagaimana jadinya bila seandainya misteri Tuhan itu berhasil dipecahkan dan dikonsumsi secara massal?

Tuhan yang bukan misteri bukanlah Tuhan!

ibm. dharma palguna

disadur dari Bali Post  http://www.balipost.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: