Oleh: Gusti Sudiartama | Desember 21, 2010

Kerja dengan motif Kepentingan diri sendiri

Manusia setingkat lebih tinggi dari binatang. Kalau binatang bekerja karena dorongan instink semata, maka manusia bekerja kareja motifasi dari pikirannya. Sebagian besar manusia berbuat  demi kepentingannya sendiri, dimana “aku” sebagai subjek. bekerja demi untuk “aku”  sering disebut ahamkara. Aham artinya saya kara atinya berbuat. “aku’ ini sangat sulit untuk dikendalikan, keinginannya sangat tidak terbatas.

Hanya cinta kasih yang bisa melembutkan “aku” ini. Cinta kepada kekasih, cinta kepada istri,  cinta kepada keluarga mampu mengendorkan cengkeraman “aku” ini tapi belum bisa mengikis habis, karena kekasih,istri anak, keluarga masih merupakan bagian dari “aku”.

Selama”aku” masih berkuasa  maka suka dan duka akan selalu menjadi teman. Akibat lanjutannya adalah marah dan benci serta iri,  sebagai ekses ketidakmampuan “aku” memperoleh kepuasan. Ketidaksadaran bahwa  dunia ini hanya bisa memberi kesenangan sementara menyebabkan orang bersedia menjadi budak terhadap benda/ materi.

Arjuna setelah melihat gurunya Bhagawan Drona dan kakeknya yang sangat ia hormati berperang di pihak korawa, hatinya menjadi kecut, tidak sampai hatinya untuk membunuh orang-orang yang ia hormati. Terpikir olehnya adakah dosa yang lebih besar lagi dari membunuh guru dan kakek sendiri?

Sikap hormat kepada guru dan kakek itu adalah perbuatan yang baik, tetapi Sri Kresna menunjukkan bahwa ada kebaikan yang lebih tepat lagi yang ditentukan oleh waktu, tempat dan keadaan. Saat itu adalah waktu berperang, hanya ada dua pilihan yaitu membunuh dan dibunuh. Dimedan perang tidak ada guru dan murid tidak ada cucu dan kakek  yang ada hanya kawan atau lawan. Tugas arjuna saat itu adalah berperang memberantas musuh dan memenangkan perang tidak peduli siapa musuh itu.

Jelaslah dari banyaknya kebenaran-kebenaran orang harus memilih kebenaran yang paling tepat. Waktu, tempat dan keadaan adalah salah satu pegangan untuk menilai kebenaran. Pegangan  yang lain adalah motifasi dari melakukan perbuatan itu, suatu perbuatan dengan motif keuntungan pribadi tentu tidak ada pembenaran, sedangkan perbuatan dengan motif kepentingan umum atau orang banyak serta untuk kebaikan orang lain pastilah mulia.

Lantas siapakah yang paling tahu motifasi ini?.. tentu orang lain hanya mampu menilai perbuatan kita dari norma-norma bahkan sangat mungkin dari kepentingan orang tersebut.  Kalau dianggap menguntungkan dirinya akan dianggap perbuatan baik, kalau merugikan dirinya kan disebut tidak baik bahkan sesat.    Hanya diri sendirilah yang paling tahu..  apakah perbuatan itu memang mempunyai motifasi yang benar-benar murni untuk kebaikan orang lain atau disusupi oleh kepentingan diri sendiri?

Sumber:  Pengantar Agama Hindu oleh Cudamani.

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: