Oleh: Gusti Sudiartama | Desember 25, 2010

PURA

SUDAH SANGAT UMUM dibicarakan, bahwa pura adalah semacam benteng; bahwa benteng-pura itu adalah tubuh ini sendiri; bahwa tubuh ini adalah alam semesta; bahwa alam semesta adalah ciptaanNya; bahwa -Nya adalah Aku; bahwa Aku adalah jiwa; bahwa jiwa adalah hidup; bahwa hidup adalah Amrta; bahwa Amrta adalah yang tidak mati-mati! 

APA YANG tidak mati-mati?

AMRTA tidak mati-mati, karena menunut ilmu etimologi, a- berarti tidak, mrta berarti mati. Aksara juga tidak mati-mati, karena a- berarti tidak, dan ksara berarti musnah. Yang tidak bisa dimuskahkan, tidak akan mati-mati. Tokoh utama kakawin Sumanasantaka, Sang Aja, juga tidak mati-mati, karena a- berarti tidak, -ja berarti dilahirkan, atau keturunan. Yang tidak dilahirkan tidak akan mati-mati. Dan masih banyak lagi yang menurut cerita dan menurut tattwa dikatakan tidak akan mati, alias hidup terus, alias abadi.

DEFINISI mati menjadi tidak lagi jelas. Tidak beda dengan kasus tubuh sebagai sebuah pura. Tubuh bisa mati, sedangkan Atma yang ada di dalam tubuh konon tidak mati-mati. Begitu pula pura bisa hancur, sedangkan Ia yang dipuja di pura itu konon tidak akan hancur-hancur. Artinya, benteng bisa musnah, sedangkan yang dibentengi tidak termusnahkan.

Kalau begitu, sebenarnya siapa membentengi siapa? Yang akan musnah membentengi yang tidak akan termusnahkan? Aneh. Tidak masuk akal, bila sebuah pura dianggap membentengi para dewa, justru karena pura bisa hancur sedangkan dewa tidak.

LOGIKA memang bisa dibulak-balik. Dan justru membalikkan logika adalah salah satu teknik dasar yang diajarkan oleh agama mistis untuk bisa mencapai level mistis yang lebih tinggi, atau lebih dalam. Walaupun demikian, tidak setiap orang berani membalikkan pikirannya untuk melihat realitas lain yang berbeda dengan realitas keseharian. Tidak juga banyak praktisi yang berani membuat eksperimen membalikkan pembacaan mantra dari belakang ke depan, atau dari kanan ke kiri, untuk mendapatkan efek yang berbeda. Keberanian seperti itu hanya tertinggal dalam cerita lawas, ketika para Mpu Dang Hyang membuat eksperimen dengan hidupnya. Jika keberanian itu sekarang tidak lagi ada, barangkali karena sudah lain kemauan zaman. Biarkanlah. Biarkan saja.

ADA SEBUAH PURA penuh dengan rasa amla di dalamnya. Pura itu lokasinya tersembunyi. Pura itu konon ada dalam posisi terbalik, yaitu mengadap ke bawah, ke tanah. Agar bisa membalikkan posisi Pura tersembunyi di dasar gunung itulah, maka logika harus dibalik. Dari posisi menghadap ke tanah, pura itu dibalikkan agar menghadap ke langit. Dalam posisi menghadap ke atas itulah konon pura itu akan bisa difungsikan. Dalam bahasa yoga, pura Amla itu ada di dasar meru Kundalini, atau Gunung Agung dalam diri.

Tentang apa pula semua itu? Apakah ini sebuah teka-teki sungguhan, atau permainan puzzle beneran? Atau, itu sebuah pandangan yang konon bisa dibuktikan kebenarannya kalau mempercayainya. Kalau tidak meyakininya, maka pura Amla itu tidak akan ada, dan dengan sendirinya tidak akan ditemukan.

Orang umumnya akan meyakini sesuatu kalau sudah mengalaminya. Tapi untuk berhasil mengalaminya, orang terlebih dahulu harus meyakininya. Persis seperti rasa bhakti dan bhukti. Orang akan bhakti kalau sudah membuktikan. Tapi mereka akan bisa membuktikan kalau terlebih dahulu membayarnya dengan rasa bhakti. Ini bukan masalah ayam dan telor. Ini masalah keyakinan dan pandangan yang berhubungan dengan tujuan. Mau ke mana siapa kamu?

JALAN MENUJU pura Amla dan jalan menuju Amlapura jelas berbeda. Tidak usah dibicarakan macam apa perbedaannya. Karena perbedaan, termasuk juga persamaan, hanyalah cara seseorang menjelaskan sesuatu. Dan kita sudah banyak sekali memiliki, menyimpan, dan mengoleksi penjelasan-penjelasan. Ada penjelasan dari leluhur, ada penjelasan dari guru agama, ada penjelasan dari pengalaman orang-orang seperjalanan, dan seterusnya. Cukup sampai di sana dharma wacananya. Yang kita perlukan sekarang adalah action.

KE LUAR PERPUSTAKAAN sesudah selesai membaca, dan ke luar dari pura sesudah selesai sembahyang, orang berjalan menuju rumahnya. Pangkal lidahnya berair, karena ternyata tanpa disadarinya, ia merindukan rasa asem yang Amla itu. Jakun di lehernya naik-turun. Air liur pun ditelannya. Sudah lama tak merasakan bukan manis, bukan pahit, bukan pedas, tapi justru asem. Bukan pedas, bukan manis, bukan pahit, bukan asin yang menggerakkan air liur, tapi asem. Di antara semua rasa yang berasal dari daratan, asem itulah utamanya.

JIKA RASA ASIN adalah satu-satunya yang berasal dari laut, maka asem adalah wakil dari daratan. Dan mengapa pula tetua dulu bernyanyi seperti berikut ini: ”asem di gunung dan asin di laut bertemu dalam kuali?” Pengalaman macam apa yang menyebabkan ungkapan itu terlahir? Semakin ditelusuri semakin tidak sampai. Sampai kapan? Sampai di mana? Dan kenapa harus sampai?

TERNYATA kita memang harus berbicara buka-bukaan tentang apa kata pustaka hati kita tentang sampai itu. Banyak orang tidak sampai karena memang tidak ke mana-mana. Banyak juga yang tidak sampai karena terus mencari dan mencari. Keduanya sama. Tapi keduanya pasti tidak sama.

ibm. dharma palguna

Bali Post,Senin, 01 Agustus 2010
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: