Oleh: Gusti Sudiartama | Januari 22, 2011

Tujuan Kehidupan adalah Realisasi Diri

Oleh : Swami Nirlipananda

Bhagavad Gita, atau ‘Song of God’, adalah salah satu teks suci Hindu, yang menceritakan dialog antara Krishna, inkarnasi Wisnu, dan Arjuna, murid-Nya.

Kematian datang selalu tiba-tiba. Misalnya, ketika ada bencana alam, ribuan orang mungkin pulang dari kerja suatu hari dan pergi tidur tanpa mengetahui bahwa mereka tidak akan bangun lagi esok harinya. Dalam satu cara atau yang lain, kita semua mungkin berada di takdir yang sama. Kita tidak bisa mengatakan apa yang besok pagi akan terjadi. Kita pergi tidur setiap malam dan apakah kita akan bisa bangun esoknya. Kita tidak tahu.

Para Resi (Wise Ones) dan Munis (Silent Ones) mengajarkan bahwa, oleh karena itu, penting untuk hidup setiap hari seolah-olah itu adalah hari terakhir dalam hidup kita, setiap menit dalam kehidupan kita sebagai moment yang tidak boleh kita sia-siakan, karena setiap menit sangat bernilai bagi kita. Jika kita hidup seperti itu maka kita siap, bila waktunya tiba, untuk mati.

Dalam Bhagavad Gita, Krishna mengatakan kepada Arjuna bahwa ia tidak harus bersedih hati atas apa yang tak terelakkan dalam hidup. Ketika kita datang ke dunia fisik ini, tubuh kita akan mengalami penyakit, usia tua dan kematian. Ini adalah hal-hal alami. Tetapi ketika bencana alam mengorbankan banyak kehidupan, kita mungkin bertanya-tanya dan berpikir: “Kenapa?” Lalu apa yang harus kita lakukan? Kita tidak dapat menjelaskan ini. Bukan karena penyakit atau wabah, bukan karena usia tua: kematian juga menyerang mereka yang kuat dan sehat. Tapi, ketika Krishna berkata, ketika hal ini terjadi, kita harus ingat bahwa kematian adalah sesuatu yang pasti, hidup juga, adalah yang pasti: bahwa setelah kita mati kita akan lahir kembali di dunia ini dan, karena itu, ketika hal ini terjadi kita tidak harus bersedih .Terus menerus berduka tidak bijaksana bagi yang hidup maupun bagi yang mati.

Mereka yang berpikir bahwa Atma – Soul – dapat mati atau dihilangkan tidak mengetahui sebenarnya. Oleh karena itu, orang bijak tidak berduka sama sekali, karena kita tidak harus bersedih untuk sesuatu yang mereka tidak seharusnya meratapinya.

Hukum Peluruhan

Banyak orang bersukacita ketika seseorang lahir dan menangis ketika seseorang meninggal, yang lain menangis ketika seseorang lahir dan bersukacita ketika seseorang meninggal. Seperti Krishna mengatakan, keduanya adalah reaksi yang alami ketika kita tidak mengerti, tetapi bagi orang yang bijaksana – yang benar-benar memahami kehidupan – tidak akan bersedih hati, karena tidak pernah ada waktu ketika kita tidak eksis, tidak akan ada waktu ketika kita akan tidak ada lagi. ini bukan pertama kalinya bahwa kita telah ada, dan ketika kita menyerahkan wujud fisik ini akan ada waktu ketika kita akan ada lagi. Sebagai bentuk fisik, yang menempati, Jiwa, mengalami masa kanak-kanak, remaja dan usia tua di dalam tubuh, ini diteruskan kepada badan lain. Maha Esa, Jiwa yang Satu, tidak terpengaruh oleh apa yang terjadi pada bentuk fisik. Tubuh fisik harus menjalani proses yang mengarah pada kematian. Setiap orang dan segala sesuatu harus mengalami Hukum Peluruhan. Alam semesta dengan planet mengikuti hukum yang sama. Itu adalah hukum alam yang mengatur seluruh alam semesta, hukum yang kita tidak dapat menghindarinya. Karena kita tidak dapat menghindarinya, orang bijaksana tidak merasa terganggu dengan itu.

Proses Psikologis

Kontak indra dengan objek menciptakan perasaan panas dan dingin, rasa sakit dan kesenangan. Mereka datang dan pergi, mereka tidak kekal – Oleh karena itu, kita harus menghadapinya dengan sabar. Semua hal yang kita jalani, seperti kesedihan dan kesenangan, penderitaan dan kebahagiaan, adalah pengalaman indra. Ketika kita mendapatkan sesuatu yang kita merasa bahagia dan ketika kita kehilangan sesuatu yang kita merasa tidak bahagia.Ini adalah proses psikologis yang terjadi di dalam pikiran manusia sepanjang waktu.

Seperti dikatakan oleh Krishna, kita harus memahami bahwa ini adalah bagian alami dari kehidupan dan karena itu kita harus menanggungnya dengan berani karena itu adalah fana. Ketika kita memiliki disiplin yang tidak terganggu bila ada rasa sakit, kita akan menjadi sabar, kita akan bertahan. Kemudian, tak ada yang dapat membujuk kita dari jalan kita yang khusus ini. Kita mengetahui keabadian kita, karena dunia ini tidak dapat mempengaruhi kita, yang tidak nyata ini tidak mempunyai eksistensi dan yang nyata ini tidak pernah berhenti menjadi. Kebenaran ini diwujudkan oleh para pelihat, ‘apa yang tidak’ tidak bisa menjadi, dan ‘apa yang ada’ tidak dapat gagal menjadi. Apa yang nyata akan selalu nyata. Tubuh fisik relatif nyata, tapi tidak benar-benar nyata, melainkan berubah dari waktu ke waktu. Yang Mutlak tidak berubah. Bentuk fisik kita terbuat dari unsur yang berbeda dan dengan demikian, secara alami, ia harus kembali ke sifat-sifatnya masing-masing. Dalam meditasi, Resi besar dan Munis memungkinkan mereka melepaskan diri dari tubuh dan dunia mengijinkan mereka mengamati itu, dan sebagainya Mereka bisa memberitahu kita semua tentang kehidupan nyata. Mengetahui itu, dimana semua sesungguhnya tidak bisa dihancurkan. Tidak ada yang dapat menyebabkan kehancuran kekal.

Seluruh alam semesta adalah Ilahi yang didiami oleh Esensi dari Jiwa. Jiwa adalah penyebab dari semua yang ada. Ketika semua hal fisik yang ada berhenti ada, Jiwa tidak akan terpengaruh. Jiwa tidak tergantung pada alam semesta untuk Keberadaannya, atau pada tubuh – mereka bergantung pada jiwa untuk eksistensi mereka. Jiwa adalah kekal dan tak dapat dihancurkan. Dalam ketidaktahuan kita berpikir bahwa ketika tubuh mati keberadaan individu juga selesai. Tetapi – siapa diri kita sebenarnya – bukanlah keberadaan fisik kita. Kita sesungguhnya adalah jiwa. Ketika kita menyadari hal itu, maka rasa takut akan hilang dari hati kita. Tapi selama kita tidak menyadari Jiwa dalam diri kita kita tidak mengalami rasa takut, karena ketika kita merasa terancam, kita merasa bahwa itu adalah ancaman bagi eksistensi kita.

Realisasi Atmic

Ketika Alexander Agung bepergian ke India, salah satu tentara mengatakan kepadanya tentang seorang yogi. Alexander memerintahkan yogi tersebut untuk dibawa menghadapnya tapi yogi itu menolak. Jadi Alexander mengancam akan membunuhnya jika dia tidak datang. Sang yogi menjawab bahwa apa yang ia miliki, pedang tidak dapat menyentuh – bahwa tubuh fisiknya mungkin akan diambil, tapi bukan Jiwanya. Jadi Alexander pergi ke sang yogi dan tercengang karena di depan yogi tersebut, walaupun ia adalah Alexander sang kaisar, ia merasa seperti seorang pengemis. Ketika seseorang memiliki realisasi Atmic seseorang tidak menginginkan apa-apa. Alexander, meskipun semua yang telah dicapai, masih selalu memiliki keinginan untuk lebih, karena itu ia merasa seperti seorang pengemis di depan yogi tersebut.

Tidak ada yang bisa membunuh Jiwa.

Jiwa tidak dilahirkan atau mati. Bagi Jiwa, datang pada keberadaan dan kemudian berhenti  tidak akan terjadi. Jiwa adalah abadi, konstan dan kekal. Ketika kita memiliki realisasi semuanya ini tentang Jiwa- kita akan mengetahui bahwa Jiwa tidak dapat dibunuh dan bahwa ia tidak dapat menjadi penyebab makhluk lain dibunuh. Jiwa keluar dari tubuh yang telah selesai dipakai dan mengambil tubuh yang baru. Senjata tidak bisa membunuh Ini, api tidak dapat membakar ini, air tidak dapat membuat basah kuyup itu, angin tidak bisa membuat kering ini, – Diri adalah tidak dapat dihancurkan, tidak dapat dimusnahkan. Jiwa adalah stabil, tak tergoyahkan, dan abadi. Krishna mengatakan, unsur-unsur tersebut tidak bisa mempengaruhi Jiwa, karena Jiwa lebih halus dari pada bumi, air, api, udara dan eter – mereka bergantung pada Jiwa untuk keberadaan mereka, bukan jiwa bergantung pada mereka.

Jiwa bisa dikatakan tidak berwujud, tak terpikirkan, dan, oleh karena itu, dengan mengetahui hal ini kita tidak harus bersedih. Kematian adalah kepastian bagi orang yang lahir, karena kelahiran adalah pasti bagi orang yang meninggal. Kematian bukanlah akhir dari keberadaan kita. Sebagai pengelana kita datang dengan tangan kosong ke dalam dunia ini, dan ketika saatnya tiba kita harus pergi dengan tangan kosong juga, kita harus kembali dari mana kita datang, Sumber kita. Sepanjang hidup orang-orang saling bertarung dan membunuh untuk hal-hal sepele dan bukan bertanya-tanya tentang filosofi kehidupan dan kematian.

Kita datang ke dunia ini dan ketika kita di sini kita harus menyadari siapa kita, karena itu adalah tujuan kita. Dan jika kita dapat menyadari siapa diri kita, kita dapat memiliki kehidupan yang kekal. Satu-satunya cara agar kita bisa mendapatkannya adalah berusaha untuk memperoleh pengetahuan karena dengan pengetahuan kita akan mengatasi ketidaktahuan kita. Kemudian kita akan memiliki ketenangan pikiran, maka kita akan mendekati Tuhan, maka kita akan mendekati Diri sejati kita – siapa diri kita sebenarnya. Ketika kita berada dalam ketidaktahuan, kita akan mengidentifikasi diri hanya dengan tubuh fisik, perasaan dan pikiran kita. Tapi ketika kita mengidentifikasi diri dengan Jiwa, maka seluruh sikap kita terhadap kehidupan akan berubah: kita menjadi lebih obyektif, kurang posesif, kita peduli lebih untuk orang lain, karena kita merasa bahwa segala sesuatu adalah bagian dari diri kita sendiri. Krishna menyarankan kita untuk berjuang untuk membebaskan diri kita dari keterikatan dengan dunia fisik ini. Ketika kita berusaha untuk itu, kita akan menemukan bahwa rasa sakit kematian tidak dapat mempengaruhi kita. Kita  akan hidup dalam ketakutan yang terus-menerus terhadap kematian jika kita lupa siapa kita sebenarnya, yang adalah Jiwa, yang adalah inti dari segala sesuatu.

Swami Nirlipananda adalah Swami senior di salah satu kuil dari komunitas Asia di London.

Sumber: http://henkykuntarto.wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: