Oleh: Gusti Sudiartama | Januari 25, 2011

PURANA PURA DALEM TUGU (01)

TERJEMAHAN DALAM BAHASA INDONESIA DARI TEKS RAJA PURANA

Om Awighnamãstu.

Sebagai awal sembah sujud hamba kepada Paduka Bhatara junjungan kami, yaitu paduka Sang Hyang Pasupati, Sang Hyang Tripurusa, dan para Bhatara-bhatari semua, paduka sebagai penguasa tiga alam ini, yang telah meresap dalam Ongkara mantram. ONG namasiwaya sembah hamba, semoga diberkahi untuk menceritakan tentang keadaan dahulu kala. Semoga hamba tidak kena kutukan, tidak kena dosa dan tidak kena marah dari para Bhatara yang hamba sembah, semoga sesuai dengan tujuan, sebagai pengetahuan seluruh keturunan kami, mudah-mudahan menemukan kebahagiaan dan kesejahteraan hidup. ONG dirgghayur nirwighna suka wreddhi nugrahakam. Ada diceriterakan dalam lembaran sejarah, dahulu kala konon tentang Pulau Bali ini, bagaikan perahu di tengah lautan, kadang kadang menyatu, kadang-kadang berpisah dengan Pulau Lombok. Mengapa demikian, karena pada dahulu kala hanya ada empat gunung di empat penjuru yang diciptakan oleh Hyang Pasupati dari puncak Gunung Mahameru yang ditempatkan : di bagian timur Gunung Lempuyang, di bagian selatan Gunung Andakasa, di bagian barat Gunung Watukaru dan di utara Gunung Beratan, hal ini dirasakan sangat ringan oleh Hyang Haribhawana sehingga bumi ini masih goyang. Hal ini kemudian menyebabkan timbul niat Hyang Pasupati untuk memotong Gunung Semeru karena merasa kasihan melihat Pulau Bali dan Lombok. Akhirnya dipotong gunung tersebut, dan dengan segera diturunkan di Pulau Bali dan Lombok. Puncaknya ditempatkan di Bali, sedangkan bagian tengahnya ditempatkan di Lombok. Oleh Bhatara Pasupati diperintahkan si Bhadawangnala sebagai dasar bumi ini. Gunung ini kemudian dikenal dengan nama gunung Tolangkir (Gunung Agung) di Bali dan Gunung Rinjani di pulau Lombok. Lama-kelamaan meletuslah gunung Agung, keluar (lahir) Bhatara Putrajaya berikut adiknya Bhatari Dewi Danuh dan Ghnijaya. Ketiganya telah menuju ke perhyangan masing-masing. Bhatara Putrajaya turun di Besakih dan berganti nama menjadi Bhatara Mahadewa. Bhatari Dewi Danuh berperhyangan di Gunung Lebah, adapun Bhatara Ghnijaya berperhyangan di puncak Gunung Lempuyang.

Dahulu kala ketika akan berangkat ketiga beliau itu diperintahkan oleh Bhatara Pasupati, sabda Bhatara Pasupati, pada ketiga putera beliau, “Hai anak-anakku Putrajaya, Ni Danuh dan Ghnijaya, tidak ada hal lain lagi perintahku kepadamu anak sekarang kalian turun ke Bali karena sangat sepi dan kosong. Kalian juga yang berjodoh untuk menjadi penghulu Bali yang akan disembah oleh orang-orang Bali semuanya,” demikian sabda Sang Hyang Pasupati. Berdatang sembah bhatara tiga bersaudara, “Hormat hamba pada paduka bhatara, karena anaknda masih kanak-kanak, tidak mengetahui jalannya, maafkanlah bukannya karena durhaka berani menolak sabda bhatara.” Bersabda pula Bhatara Pasupati, “Janganlah bersedih dan bimbang anakku, aku memberitahu sebagai jalanmu anak-anakku untuk segera disembah dan diabdi di Bali sebagai puteraku.” Setelah itu disembunyikan/ dirahasiakan bhatara ketiganya, dengan / di dalam kelungah nyuh gading (kelapa muda kelapa gading) oleh Bhatara Pasupati, seraya direstui agar berwujud dalam filsafat pengetahuan utama. Demikianlah kisah kelahiran Bhatara Tiga di

Bali dahulu kala. Tidak diceriterakan lagi hal itu.

Diceritakan lagi pada masa dahulu kala, ada seorang raja dari pulau Jawa datang ke Bali, beliau bernama Sri Dalem Wirakesari Warmadewa. Beliau beristana di lereng Gunung Tolangkir. Istana beliau bernama Kahuripan sangat terkenal perbawanya di Bali dan Pamrajan beliau bernama Salonding sebagai tempat pemujaan, oleh karena itulah beliau juga diberi nama Dalem Salonding. Beliau menjadi raja di Bali sangat disegani, tidak kurang apapun, berbudi luhur, beliau yang menata Sad Kahyangan di Bali seperti Panataran Agung Besakih, Pucak Lempuyang, Huluwatu, Watukaru, Hairjeruk, Panataran Pejeng. Adapun Pura Besakih, sebagai Panataran Agung dikelilingi dengan Pura Gelap, Kiduling Kreteg, Hulun Kulkul, dan Pura Batumadeg. Ada lagi pura tempat pemujaan seluruh umat disebut Pura Dalem Jagat yang juga disebut Pura Dalem Puri sampai sekarang. Sangat banyak bila diceritakan semua.

Selama pemerintahan beliau sangat makmur Pulau Bali ini, karena tiada hentinya upacara pemujaan di bumi, dan upacara pemujaan di kahyangan-kahyangan beliau lakukan. Hal ini diikuti oleh orang-orang Bali di desa-desa, mereka membangun Kahyangan Penataran dan Kahyangan Dalem Jagat yang masing-masing diupacarai sebagaimana mestinya. Demikianlah yang menjadi raja, berganti-ganti dari keturunan Warmadewa, yaitu Sri Ugrasena Warmadewa, Sri Candrabhayasingha Warmadewa. Tidak diceriterakan lagi hal itu.-.

Sekarang diceritakan bahwa pada tahun Saka 913 (agni jadma dwara) atau tahun 991 Masehi, Sri Udayana Warmadewa dengan permaisuri Dyah Gunapriya Dharmapatni beliau memerintah Bali. Beliau adalah raja yang berwibawa, sangat budiman dan susila, tidak ada rakyatnya yang berniat jahat, dipengaruhi oleh sifat sifat bijak sang raja, sangat tenteram kerajaan Bali ini. Didatangkanlah pendeta dari Jawa, atas perkenan raja Sri Darmawangsa di Deha oleh karena itulah selama pemerintahan Sri Udayana Warmadewa bergantian para pendeta datang ke Bali mereka berada di Bali kadang-kadang juga berada di Jawa, yang dijadikan pendeta istana (purohita). adalah lima bersaudara yang terkenal dengan sebutan Sang Panca-tirtha. Yang mula-mula datang adalah Mpu Mahameru, beliau datang di Bali pada hari, KA, Su, wara Pujut (Jumat, Keliwon, wuku Pujut ) pada bulan terang kesepuluh sasih ka 5, (Nopember), rah 2, tenggek 1, tahun Saka 912 (rudira netra, sirah tunggal, pada dewa sanga) atau tahun 990 Masehi, memuja Bhatara Putrajaya yang bersthana di Besakih. Tidak diceriterakan lagi..

Setelah lama berlalu, sesudah Mpu Mahameru datanglah Mpu Ghana ke Bali, pada hari Ka, Ca, (Senin, Keliwon) wuku Kuningan, bulan terang sasih ke 7, tahun Saka 919 (lenging tunggal lawangan) atau tahun 997 Masehi, pada bulan terang ketujuh. Beliau berperhyangan di Pura Dasar Gelgel, beliau senantiasa melaksanakan yoga semedi. Tidak diceritakan lagi hal itu.

Setelah Mpu Ghana datang ke Bali kemudian menyusul Mpu Kuturan turun ke Bali pada hari Rabu, Keliwon, wuku Pahang bulan terang keenam, sasih katiga, rah 3, tenggek 2, tahun Saka 923 ( aghni ngapit lawang) atau tahun 1001 Masehi, beliau berlabuh di pesisir Padang, melakukan pemujaan dengan sikap sila yukti itu menyebabkan tempat itu disebut Kahyangan Silayukti sampai sekarang. Kita hentikan cerita tentang beliau dahulu.

Adapun Mpu Bharadah tinggal di Pulau Jawa menjadi pendeta istana sang raja, beliau mengadakan keturunan dan beliau berhasil mengalahkan Walunateng Dirah. Kita lewati cerita tentang Mpu Bharadah. Mengenai Mpu Ghnijaya, sebagai tetua (panglingsir) Sang Pancatirtha (lima pendeta) datang ke kerajaan Bali setelah beliau memberi pengarahan kepada puteranya semua. Beliau datang ke Bali pada hari Selasa Umanis wuku Wariga pda bulan terang ketujuh sasih Srawana (Sasih Kasa), rah 8, tenggek 3, tahun Saka 938 (rudira hasti, tri sirah, taksaka dumilahing dwara) atau tahun 1016 Masehi, beliau beryoga di Lempuyang. Tidak diceriterakan lagi..

Kembali tentang Mpu Kuturan, beliau diangkat menjadi Dharma dyaksa (jaksa) di istana raja Bali Sri Udayana Warmadewa. Beliau ber-pasraman di Silayukti, menciptakan konsep ajaran Siwa Buddha yaitu pengetahuan tentang tri-murti, Brahma, Wisnu, Siwa, yang akhirnya muncul lagi Siwa, Sadasiwa, Paramasiwa, yang diyakini oleh umat semua. Dari konsep inilah kemudian muncul Kahyangan Tiga yang ada diseluruh desa di Bali. Sebelum itu ada kahyangan yang disebut Panataran, Dalem Desa yang juga disebut Dalem Jagat dan ada Sad Kahyangan menurut tingkatan tempatnya. Ini yang dipelihara dengan baik senantiasa dilakukan upacara di semua kahyangan dan juga upacara untuk bumi Bali dengan Pura Besakih sebagai kahyangan yang utama. Juga telah dituliskan pustaka Purana tatwa, Dewa tatwa, Widitatwa, Kusumadewa, dan juga puja, mantra pemujaan. Sangat banyak jika diceritakan semua.

Mengenai kahyangan tiga Dalem Pangulun Setra, Dalem Cungkub nama lainnya, tempat sthana Dewa Siwa yang berwujud Durga Bhairawi, Puseh sebagai sthana Dewa Wisnu, Desa Bale Agung sebagai sthana Dewa Brahma. Panataran sebagai sthana Dewa Mahadewa yang umum dikenal oleh umat dengan nama Bhatara Putrajaya bhatara yang bersthana di Gunung Tolangkir (Gunung Agung). Adapun Kahyangan Dalem Desa yang juga disebut Dalem Jagat dan kemudian lumrah disebut Dalem Suci merupakan sthana Sang Hyang Amurwabhumi. Oleh karena itu jelas kahyangan ini bukanlah Dalem Pangulun Setra dimana bersthana Dewa Siwa dalam manifestasinya sebagai Durga Bhairawi. Kahyangan Dalam Jagat (Dalem Suci) ini merupakan tempat pemujaan bagi masarakat luas. Kemudian sesudah itu akhirnya dibangun pula sanggah penghulu tegalan/sawah, penghulu bendungan, di pekarangan tempat tinggal dibuat sanggah pelindung/penghulun karang perumahan sebagai sthana Sang Hyang Siwa, Sadasiwa, Paramasiwa yang berwujud Sang Hyang Guru, dan pasthanan para leluhur yang disebut Sanggah Kamimitan. Demikianlah yang ada dikerajaan Bali. Berganti-ganti yang bertakhta di Bali, sangat makmur dan tenteram masarakat Bali. Demikian kita lewatkan hal ini.

Inti dari uraian dalam postingan  ini adalah kisah tentang Zaman Bali Purbakala ketika Sri Dalem Wirakesari Warmadewa bertakhta sebagai raja di Bali, beliau menata pura-pura antara lain Pura Panataran Agung dan Pura Dalem Jagat (Dalem Puri) di Besakih. Kemudian dilanjutkan dengan periode pemerintahan Sri Udayana Warmadewa, beliau mendatangkan Sang Pancatirtha di Bali yaitu Mpu Semeru, Mpu Ghana, MpuKuturan, Mpu Bharadah dan Mpu Ghnijaya. Pada zaman itu, sebelum ada Kahyangan Tiga sudah ada Kahyangan Panataran dan Dalem Desa yang juga disebut Dalem Jagat atau Dalem Suci. Dalem Desa (Dalem Jagat atau Dalem Suci) linggih Ida Sang Hyang Amurwa Bhumi berbeda dengan Dalem  Pangulun Setra (Kahyangan Tiga) sthana Dewa Siwa dalam manifestasinya sebagai Durga Bhairawi. Keberadaan Dalem Suci seperti dimaksud diatas merupakan latar belakang sejarah dari pendirian Pura Dalem Tugu, jelasnya kata “Dalem” dalam nama Pura Dalem Tugu itu berasal dari “Dalem” dalam pengertian Dalem Suci termaksud diatas.

Lama-kelamaan waktu telah berlalu, bertakhtalah Sri Gajawahana yang bergelar Sri Ratna Bhumibanten dan Sri Tapolung yang disebut oleh rakyatnya, beliau sangat pandai, bijaksana, berwajah tampan, sangat susila dan dermawan seolah-olah Dewa Asmara menjelma. Beliau tidak pernah lupa melaksanakan dewa yadnya memuja leluhur (pitra yadnya) oleh karenanya sangat tenteramlah bumi Bali waktu itu. Adapun beliau didampingi seorang patih sebagai pemuka Bali yang bernama Ki Pasunggrigis, sangat cekatan dalam pemerintahan, sakti dan berbudi luhur, dan beliau Kebo Iwa, perawakan beliau tinggi besar tidak seperti orang kebanyakan, beliau akhli teknik pembangunan (asta kosala kosali) sangat perwira, tidak dapat dilukai dengan senjata tajam buatan pandai besi. Beliau didukung juga oleh para tanda menteri yang memerintah di semua desa.

Pada masa pemerintahan Sri Ratna Bhumibanten di Bali, beliau tidak mau takluk pada raja Majapahit, hal ini menyebabkan tidak senang hati Sri Maharaja Patni (Baginda Raja Putri) di Majapahit. Beliau akhirnya memerintahkan patih Rakryan Madha, merancang tipu muslihat untuk menyerang kerajaan Bali. Patih Kryan Madha telah mengetahui kesaktian dari Ki Kebo Taruna (Kebo Iwa), itulah yang direncanakan daya upaya untuk memudahkan kematiannya. Setelah itu diseranglah Pulau Bali dari tiga penjuru, pada tahun Saka 1265 atau tahun 1343 Masehi.

Yang menyerang dari utara adalah Sirarya Dhamar, Sirarya Kutawaringin, Sirarya Sentong, disertai prajurit pilihan semua. Yang menyerang dari arah baratdaya yaitu Sirarya Kenceng dan Sirarya Belog dan Sirarya Kanuruhan Singasardula serta Sirarya Panghalasan, diiringi prajurit semua. Setelah Bali bagian utara, baratdaya, serta sebelah timur Tolangkir dapat dikalahkan, sangat kesal hati Patih Gajahmada karena Pasunggrigis masih tetap mempertahankan kerajaan Bali. Saat itulah Patih Mada mengadakan pembicaraan mencari muslihat untuk dapat menundukkan Pasunggrigis tanpa menggunakan senjata. Setelah disepakati upaya yang akan dilaksanakan, pergilah mereka bersama-sama menghadap Pasunggrigis tanpa membawa senjata, dengan membawa bendera putih sebagai tanda tunduk (menyerah) karena demikianlah etika dalam peperangan. Tidak ragu-ragu Pasunggrigis, hal itu menyebabkan beliau dipenjara akibat kelicikan tipu muslihat musuh yang sangat licik. Akhirnya kalahlah kerajaan Bali kemudian dikuasai oleh Majapahit.

Postingan ini, menyajikan uraian tentang peristiwa sejarah yang dikenal dengan nama : Ekspedisi Gajah Mada ke Bali yang berhasil menaklukkan Bali pada  tahun saka 1265 atau tahun 1343 Masehi. Peristiwa sejarah inilah yang mengantarkan para arya yang ikut berperan dalam Ekspedisi Gajah Mada termaksud, termasuk Sirarya Kuthawaringin, akhirnya mendapat penugasan sebagai penguasa wilayah di Bali atas nama Kerajaan Majapahit. Di wilayah mana Sirarya Kuthawaringin ditugaskan sebagai penguasa wilayah dan kapan beliau membangun Dalem Jagat (Dalem Suci) yang ternyata merupakan cikal-bakal dari pura yang kemudian menjadi pura yang akhirnya di kenal dengan nama Pura Dalem Tugu,

Beberapa lama setelah Bali takluk ada pembicaraan antara Patih Gajah Mada dan Arya Dhamar atas saran Kryan Pasunggrigis, lalu dikumpulkan para Arya itu, masing-masing ditugaskan sebagai penguasa wilayah di tempat yang berbeda-beda. Sirarya Kuthawaringin bertugas di Gelgel; Sirarya Kenceng di Tabanan; Sirarya Belog di Kabakaba; Sirarya Dhalancang di Kapal; Sirarya Blentong di Pacung; Sirarya Sentong di Carangsari; Sirarya Kanuruhan Singhasardula di Tangkas. Setelah selesai memberikan tugas pada para Arya semua, Patih Gajah Mada bersama Arya Dhamar lalu kembali ke Jawa ikut serta Pasunggrigis yang telah menjadi tawanan. Kita lewati dulu hal itu.

Diceritakan sekarang yang bernama Sirarya Kuthawaringin beliau keturunan utama, dari kesatria Deha, beliau putera Sirarya Kuthawandira, cucu dari Sri Jayawaringin. Adapun Sri Jayawaringin putera dari Sri Siwawandira cucu dari Sri Jayabhaya, dan sebagai buyut dari Sri Erlangga. Jadi masih satu turunan dengan Sri Ratna Bhumibanten yang menjadi raja di Bali, karena beliau keturunan Anak Wungsu adik Sri Hairlanggya  (Erlangga) putera dari Sri Udayana Warmadewa. Mengenai Sirarya Kuthawaringin beliau sangat pandai dan bijaksana, akhli dalam ilmu pemerintahan, sangat pintar memikat hati masarakat, teguh satu kata dengan perbuatan, tiada henti-hentinya mengusahakan kesejahteraan rakyat, tidaklah salah beliau diberi kedudukan sebagai Manca Agung. Beliau dapat mewujudkan kesejahteraan dan kedamaian di seluruh wilayah Kemancaan Agung yang meliputi desa-desa seperi Gelgel, Kamasan, Tojan sampai ke pesisir Klotok, Dukuh Nyuhaya, Kacangpawos, Siku sampai Klungkung. Setelah lama beliau di Gelgel lalu beliau membangun istana kepatihan, karena beliau seorang Amanca Agung merangkap Demung. Didirikan pula kahyangan tempat memuja Sang Hyang Amurwabhumi, di selatan desa yang disebut pula Dalem Jagat. Disanalah beliau mensthanakan Sang Hyang Wisesa, dalam prabawanya sebagai Sang Hyang Amurwabhumi. Sirarya Kuthawaringin diberi tugas menjadi Adhipati, Amanca Agung merangkap Demung mendampingi Sri Aji Wawurawuh (Sri Kresna Kapakisan), juga merangkap sebagai Tumenggung. Beliau menurunkan putera empat orang yang tertua bernama I Gusti Agung Bandesa Gelgel, yang menggantikan ayahnya. Adiknya bernama Kyayi Gusti Parembhu, yang ketiga bernama Kyayi Gusti Candhi, dan yang paling bungsu bernama Ni Gusti Stri Waringin diperistri oleh Dalem Ketut Kresna Kapakisan. Dari perkawinan ini lahir anak laki-laki tunggal yang bernama Ida I Dewa

Tegalbesung. Kita lewati dulu hal itu.

Dari uraian dalam postingan IV.4 diatas yang relevan untuk disimak lebih lanjut dalam rangka untuk memahami sejarah keberadaan pura yang kemudian dikenal dengan nama Pura Dalem Tugu adalah, kepertama : Jabatan Sirarya Kuthawaringin. Sepeti telah diuraikan diatas, sebelum ada Dalem bertakhta di Bali, beliau menjabat Amanca Agung berkedudukan di Gelgel. Setelah Dalem Ketut Kresna Kepakisan (Dalem Kepertama) bertakhta di Bali (Samprangan), disamping sebagai Amanca Agung, Sirarya Kuthawaringin, juga merangkap jabatan Demung, Tumenggung dan Adipati. Kedua, dalam jabatan seperti itulah setelah beberapa lama berkedudukan di Gelgel, Sirarya Kuthawaringin membangun Kahyangan Dalem Jagat (Dalem Suci) di Gelgel, sthana Sang Hyang Amurwa Bhumi. Dalam proses sejarah selanjutnya, melalui uraian pada postingan-postingan selanjutnya, akan terungkap bahwa Kahyangan Dalam Jagat (Dalem Suci) inilah yang merupakan cikal-bakalnya Pura Dalem Tugu. Dengan memahami hal-hal yang telah diuraikan didepan, kita akan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut :

1. Siapa tokoh pendiri Pura Dalem Tugu ?

2. Mengapa Pura Dalem Tugu berlokasi di Gelgel ?

3. Kapan Pura Dalem Tugu didirikan ?

Sekarang diceritakan di Samprangan, Sri Aghra Samprangan (Dalem Ile), beliau tidak cakap mengurus negara, tidak memperhatikan prilaku sebagai seorang pemimpin, karena sifat beliau yang suka bersolek, bisa-bisa akan hancur negerinya, para menteri dan pejabat negara tidak mampu menyadarkan beliau Dalem. Akhirnya berpikir-pikir Kyayi Gusti Agung Bandesa Gelgel, sangat keras keinginannya untuk mensejahterakan negaranya segeralah beliau mohon restu dewata (handewasraya) di Pura Dalem Jagat tempat pemujaan beliau. Tiba-tiba beliau mendengar sabda angkasa yang menyuruh beliau menghadap I Dewa Ketut Ngulesir. Atas kejadian itu akhirnya beliau mengundang para menteri dan pejabat istana, bahudanda, pemuka masarakat yang sehaluan dengan beliau lalu bermusawarah di Pura Dalem Jagat dimana sebelumnya beliau memuja. Dalam pertemuan itu dijelaskan mengenai sabda dari langit yang didengar oleh beliau. Pada waktu itu terjadi permusawaratan yang menghasilkan permufakatan yang secara aklamasi mendukung keinginan Kyayi Gusti Agung Bandesa Gelgel. Saat itu dilakukan upacara Padewasaksian, setelah itu langsung menuju desa Pandak. Tidak diceritakan dalam perjalanan, beliau telah sampai disana, bertemu dengan Ida I Dewa Ketut Ngulesir yang sedang dihadap oleh orang-orang Pandak sama-sama penggemar judi. Tidak ada rasa ragu dalam hati, dengan hati tulus ikhlas mengabdi, dan senantiasa memikirkan ketenteraman serta kesejahteraan rakyat, dengan sangat Kyayi Gusti Agung Bandesa Gelgel memohon agar Ida I Dewa Ketut Ngulesir bersedia menjadi raja. Banyak hal-hal yang disampaikan oleh Kyayi Gusti Agung Bandesa Gelgel, akhirnya tidak kuasa beliau menolak, dan akhirnya beliau bersedia bersama-sama kembali ke Gelgel. Pada waktu itu I Gusti Agung Bandesa Gelgel menyerahkan istana kepatihannya untuk dipakai menjadi istana Dalem. Sejak itulah Dalem bertakhta di Gelgel, yang kemudian bernama Swecalinggarsapura, beliau dinobatkan dengan gelar Dalem Ketut Sri Smara Kapakisan pada tahun Saka 1305 (panca windu pramananing jagat) atau tahun 1383 Masehi.

Postingan ini, seperti dapat disimak pada uraian diatas, intinya menceriterakan tentang peran Kyayi Gusti Agung Bandhesa Gelgel (sebagai Patih Uttama yang telah menggantikan ayahanda beliau yaitu Sirarya Kuthawaringin karena telah lanjut usia) dalam mengambil inisiatif untuk menyelamatkan kerajaan (Samprangan) karena ketika itu bertakhta Dalem Ile (setelah ayahanda beliau yaitu Dalem Ketut Kresna Kepakisan wafat pada tahun Saka 1302 atau 1380 Masehi) yang tidak cakap mengurus negara. Kalau secara ringkas dirunut rangkaian langkah penyelamatan negara yang dilakukan adalah : ndewasraya di Kahyangan Dalem Jagat > mendengar pawisik supaya menjemput Ida I Dewa Ketut Ngulesir ke Desa Pandak > menyelenggarakan permusyawaratan dengan pejabat-pejabat kerajaan di Kahyangan Dalem Jagat > permusyawaratan aklamasi sepakat untuk menjemput Ida I Dewa Ketut Ngulesir untuk dinobatkan sebagai Dalem pengganti Dalem Ile > melakukan upacara padewasaksian (ikrar) atas kesepakatan termaksud bertempat di Kahyangan Dalem Jagat > berangkat menuju Desa Pandak > kembali ke Gelgel bersama Ida I Dewa Ketut Ngulesir > Kyayi Gusti Agung Bandesa Gelgel menyerahkan Istana Kepatihannya untuk dipakai menjadi istana Dalem > Ida I Dewa Ketut Ngulesir dinobatkan dengan gelar Dalem Ketut Smara Kepakisan pada tahun Saka 1305 atau 1383 Masehi.

Karena peristiwa sejarah inilah Kahyangan Dalem Jagat yang kemudian bernama Pura Dalem Tugu juga memiliki fungsi sebagai saksi sejarah berdirinya Kerajaan Gelgel. Oleh karena itulah pangelingsir Puri Agung Klungkung ikut berpartisipasi manakala karya diselenggarakan di Pura Dalem Tugu seperti yang penulis alami/saksikan ketika penyelenggaraan Karya Pamungkah, Pangenteg Linggih Lan Mapeselang dengan puncak karya pada tanggal 29 Juni 1999.

Video dokumentasi penyelenggaraan karya termaksud dengan judul Movie Video-01, Movie Video-02 dan Movie Video-03 Cuplikan Karya di Pura Dalem Tugu, 29 Juni 1999 disajikan dalam Blog-ku ini. Anda setiap saat akan bisa mengaksesnya. Dalam Movie Video-01 Anda akan dapat menyaksikan pangelingsir Puri Agung Klungkung ketika itu, Dokter Ida Tjokorda Rai, memanjat palinggih Padma Agung di Pura Dalem Tugu, nyarengin mendem pedagingan dalam rangkaian eed Karya Pamungkah pada tanggal 25 Juni 1999 Sebelum mengakhiri uraian dalam postingan ini, ijinkanlah penulis mempermaklumkan kepada para pengunjung setia dan para pengunjung baru Blog-ku ini bahwa untuk melengkapi sajian Terjemahan Dalam Bahasa Indonesia Dari Teks Raja Purana Pura Dalem Tugu ini, sejak tanggal 15 bulan ini telah ditayangkan Video Raja Purana PDT(Pura Dalem Tugu)-01 s/d 04. Video tersebut merupakan hasil editing ulang dari video dokumentasi dari kegiatan/acara Ngewacen Raja Purana Pura Dalem Tugu yang telah diselenggarakan dalam Pesamuan Pusat Pasemetonan Pratisentana Sira Arya Kubontubuh-Kuthawaringin pada hari Banyupinaruh, 19 Pebruari 2006 bertempat di Wantilan Pura Dalem Tugu. Seperti tampak dalam video tersebut yang dimohoni bantuan untuk ngewacen dan negesin dalam acara termaksud adalah Ida I Dewa Gde Catra Cs. Untuk memenuhi persyaratan dari hosting website video termaksud yang membatasi durasi video yang dapat diupload maksimum 15 menit, maka video dokumentasi yang terrekam dalam 2 keping CD diedit ulang menjadi 7 video klip dengan durasi maksimum 15 menit. Seperti sudah diuraikan diatas dari 7 video klip itu baru berhasil ditayangkan dalam Blog-ku ini 4 buah.

Adapun Kyayi Gusti Agung Bandesa Gelgel, berpindah tempat tinggal membangun istana kepatihan yang baru di sebelah baratdaya istana beliau terdahulu, di sebidang tegalan (Abyan Kawan) yang ditanami pohon kelapa di sebelah utara Pura Dalem Jagat kahyangan tempat pemujaan beliau. Dalam waktu singkat selesai pembangunan istananya yang dibangun menurut tata aturan istana yang disebut Istana Kepatihan, beserta Pamrajan, tidak ada kekurangannya lengkap dengan tata upacara menurut widhi widhana untuk upacara sebuah kahyangan. Mulai saat itu Kyayi Gusti Agung Bandesa Gelgel diberi nama Kubontubuh atau Klapodhyana sehingga di masyarakat lebih dikenal dengan nama I Gusti Kubontubuh atau Kyayi Gusti Klapodhyana semenjak beliau pindah istana yang berlokasi di abian kawuhan (Abian Kawan). Kemudian atas restu Dalem Smara Kepakisan, dan didukung para arya semua dibangunlah “Tugu” sebagai sthana Sang Hyang Tugu, beliaulah Sang Hyang Ghanapati, sebagai saksi dunia ini, karena berhasil mendapat kesepakatan disertai “Dewasaksi” kesetiaan akan janji membela negeri bila ditimpa mara bahaya pada saat menjelang pengangkatan Ida I Dewa Ketut Ngulesir sebagai pelindung rakyat Bali yang bergelar Dalem Ketut Smara Kepakisan. Adapun Tugu itu dibangun di sebelah utara Gedong Bata, di Pura Dalem Jagat. Di Pura Dalem Jagat itu pula, tempat “Dhinarmma” roh suci almarhum Siraryya Kuthawaringin, yaitu di pura yang dibangun oleh almarhum dahulu. Oleh karena itu Dalem Ketut Smara Kepakisan menekankan (mengingatkan dengan sangat) supaya Kyayi Klapodhyana beserta saudaranya semua agar me- ngupapira Pura Dalem Jagat tersebut dengan segala upacaranya. Semenjak dibangunnya palinggih Tugu itulah yang menyebabkan Kahyangan Dalem Jagat itu disebut Pura Dalem Tugu untuk selanjutnya. Kemudian akhirnya dibangun pula sebuah meru tumpang tiga oleh Kyayi Klapodhyana, di sebelah utara Gedong Bata, di sebelah selatan Tugu, sebagai “Padharmman” Siraryya Kuthawaringin. Diceritakan Dalem Ketut Smara Kepakisan teringat pada anak-anaknya Dalem Tarukan, beliau berkeinginan agar mereka berkenan menghadap Dalem. Beberapa kali telah dikirim utusan pada mereka, namun tidak berhasil. Pendekatan kekeluargaan sudah diupayakan tetapi tidak pula berhasil sehingga akhirnya timbul peperangan sengit. Pada akhirnya Kyayi Gusti Agung Bandesa Gelgel Kubontubuh, bersama prajurit dan tandamanteri menyerang desa-desa dan dusun tempat putera-putera Dalem Tarukan bermukim. Semua desa tersebut akhirnya takluk dan putera-putera Dalem Tarukan tunduk kepada titah Dalem untuk datang menghadap Dalem di Gelgel. Mulai saat itu Sirarya Parembhu yang bertempat tinggal di Bubungtegeh, setiap saat pulang ke Gelgel bersama-sama ikut memelihara kahyangan tempat pemujaannya sejak dahulu yaitu  Pura Dalem Tugu. Tidak diceritakan lagi hal itu. Butir-butir peristiwa sejarah yang perlu disimak dari uraian dalam postingan IV.6 diatas beserta makna yang terkandung didalamnya terutama yang terkait dengan unsur-unsur bagian isi suatu purana pura, pada intinya adalah sebagai berikut :

  1. Karena Istana Kepatihannya diserahkan kepada Dalem, Kyayi Gusti Agung Bandesa Gelgel membangun Istana Kepatihan yang baru lengkap dengan Pamerajan di Tegalan yang ditanami banyak pohon kelapa, disebelah utara Kahyangan Dalem Jagat panyiwian beliau. Kini Pamerajan ini, sesuai status dan fungsinya pesamuan pusat khusus menetapkan sebutannya menjadi : Pura Mrajan Kawitan Pratisentana Sira Arya Kubontubuh. Lokasinya disebelah utara Pura Dalem Tugu di Gelgel-Klungkung.
  2. Karena istana Kepatihan yang baru itu berlokasi ditegalan yang ditanami banyak pohon kelapa, semenjak itu Kyayi Gusti Agung Bandhesa Gelgel juga bergelar I Gusti Kubontubuh dan atau Kyayi Gusti Klapodhyana. Perlu dicatat bahwa penulisan nama-nama atau gelar-gelar : Kyayi Gusti Agung Bandhesa Gelgel, Kyayi (Gusti) Klapodhyana atau I Gusti Kubontubuh dalam teks Raja Purana Pura Dalem Tugu dilakukan secara runut-kronologis sesuai dengan tahapan waktu (sejarah) munculnya nama/gelar termaksud. Sedangkan penulisan nama-nama atau gelar-gelar tersebut dalam Babad Sira Arya Kuthawaringin-Kubontubuh Edisi II-2007 tidaklah runut-kronologis seperti itu.
  3. Dengan restu Dalem Ketut Smara Kepakisan serta dukungan para arya semua, Kyayi Gusti Klapodhyana membangun Palinggih Tugu (sthana Sang Hyang Tugu atau Sang Hyang Ghanapai, sebagai saksi diatas dunia) di sebelah utara palinggih Gedong Bata atau di sebelah selatan palinggih Padma Agung di Kahyangan Dalem Jagat dimana sebelum berangkat ke Desa Pandak dilakukan upacara pedewasaksian (ikrar atas kesepakatan) untuk memjemput Ida I Dewa Ketut Ngulesir. Semenjak dibangunnya palinggih Tugu itulah Kahyangan Dalem Jagat yang didirikan oleh Almarhum Sirarya Kuthawaringin itu lalu disebut Pura Dalem Tugu hingga kini. Pada zamannya Palinggih Tugu termaksud disungkemin oleh para Arya yang ikut berikrar (medewasaksi) seperti diuraikan diatas sehingga sampai kini masih ada pratisentana dari Arya selain Arya Kuthawaringin yang masih ngelungsur Tirtha di Pura (Dalem) Tugu pada saat menyelenggarakan upacara tertentu di Pamerajannya.
  4. Dalem Ketut Smara kepakisan mengingatkan Kyayi Gusti Klapodhyana beserta saudara-saudaranya semua supaya me-ngupapira Pura Dalem Tugu dengan segala upacaranya. Beberapa lama kemudian Kyayi Gusti Klapodhyana mamugar palinggih yang sebelumnya masih berbentuk bebaturan menjadi palinggih Meru Tumpang Tiga sebagai Padharman Sirarya Kuthawaringin.
  5. I Gusti Kubontubuh bersama prajurit dan tanda mantrinya berhasil menundukkan desa-desa tempat putera-putera Dalem Tarukan bermukim sehingga akhirnya mereka tunduk pada titah Dalem untuk datang menghadap Dalem di Gelgel. Keberhasilan dimaksud memungkinkan Kyayi Gusti Parembu (adik Kyayi Gusti Klapodhyana) yang sebelumnya bermukim di Bubungtegeh(termasuk desa yang ditundukkan seperti dimaksud diatas), setiap saat pulang ke Gelgel ikut ngupapira kahyangan pemujaannya sejak dahulu yaitu Pura Dalem Tugu. Sebagaimana dikisahkan dalam Babad, Kyayi Gusti Parembu dua kali diperintahkan (oleh Dalem Ile) mengejar Dalem Tarukan tetapi tidak berhasil sehingga oleh karena itu beliau bermukim di Bubungtegeh.

Setelah lama waktu berlalu, tidak diketahui waktunya yang pasti, beliau Kyayi Agung Bandhesa Gelgel Kubontubuh yang dikenal juga bernama Kyayi Klapodhyana, diuji kesetiaannya, keperwiraannya serta ketangkasannya, oleh Sri Smara Kepakisan, untuk melawan (membunuh) macan hitam di daerah Blangbangan atas permintaan raja di sana, karena macan itu tiada hentinya membuat keonaran negeri itu. Setelah mendengar perintah raja, bangkitlah keberaniannya, karena beliau memang mumpuni dan beliau selalu setia dan bijaksana. Dengan sopan dan santun beliau menyatakan tidak menolak perintah Dalem sungguh niat beliau untuk mengabdi pada tuannya. Keesokan harinya dengan segera beliau berangkat menaiki perahu, diikuti oleh yang telah dipilih, beliau juga tidak lupa bersembahyang di Pura Dalem Tugu mohon anugrah kehadapan leluhur yang di“dharmma”kan (disthanakan) di sana. Beliau diberi senjata oleh Dalem, berupa tulup (sumpitan) yang tombaknya berbentuk biring agung, kemudian bernama Macan Guguh. Tidak diceritakan dalam perjalanan disebutkan beliau telah sampai di sebuah hutan tempat harimau itu. Dijumpainyalah harimau hitam itu mengendap-endap dibawah pohon yang besar. Dengan segera bersiap Kyayi Klapodhyana untuk memerangi harimau hitam besar itu, tidak gentar Kyayi Bandesa, akhirnya harimau itu lari. Saat itu Kyayi Klapodhyana memusatkan pikiran (hangregep), dihembuskan punglu batur bhumi (peluru sumpitan) disertai penunggalan pikiran mengucapkan mantra untuk membunuh musuh. Beliau membidik dengan sumpitan pemberian Dalem sekali kena tembus lambung harimau itu dan akhirnya mati tanpa perlawanan. Setelah harimau itu mati, Kyayi Klapodhyana dengan bala prajuritnya kembali ke Bali langsung menghadap Dalem di Gelgel, dengan mempersembahkan kulit macan itu sebagai tanda bukti keberhasilannya. Sangat senang hati Dalem, beliau makin yakin, bahwa Kyayi Gusti Klapodhyana benar-benar keturunan ksatria Deha Hairlanggya seperti tersurat dalam prasasti (Candri Sawalan) yang dahulu dibaca pada waktu Kyayi Klapodhyana berselisih paham dengan Pangeran Nyuhaya yang tidak berkenan bila anaknya yaitu I Gusti Ayu Adhi diambil (dinikahi). Sekarang Kyayi Klapohyana telah berhasil mengalahkan musuh di Blangbangan, berupa macan hitam. Oleh karena itu sekarang ada anugerah Dalem Sri Smara Kepakisan, demikian bunyi anugrahnya, ”Anugerahku Dalem Ketut, kepada Patih Klapodhyana dan seketurunan Arya Kuthawaringin berupa Aji Purana ini. Dimanapun berada tidak dikenai pikul-pikulan, tategenan, seluruh keturunannya patut mengabdi pada raja, berhak menjabat untuk mewakili negeri, ditegaskan lagi tidak dikenai tategenan, cacangkingan, ambeng-ambengan, sasaradan, papilyan, pacatuan, dan tidak dapat dikenakan dhadhawuhan, atag-atagan, tidak kena pejah punjang panjing. Jika ada kesalahan yang harus dijatuhi hukuman mati oleh Dalem, patut diusir dari kerajaan selama satu bulan. Jika kesalahannya harus dijatuhi hukuman “diusir”, diberi ampun oleh yang berkuasa untuk seluruh keturunan Kyayi Kuthawaringin Klapodhyana. Dan jika ada yang meninggal dunia pada waktu melaksanakan upacara atiwa-tiwa (ngaben) untuk usungan jenazah boleh memakai dasar badhe, badhe tumpang tujuh, mataman punggel, kapas maturut, utama turut 9, madhya turut 7, nista turut 5, mahuncal, mapering sidapur, wesma silunglung, makajang, makalasa, tatak beha 9 tebih, bale tegeh mahundag 3, patulangan macan selem, memakai tirtha pangentas, utama dengan sesari 16.000 (kepeng), madhya sesari 8.000 (kepeng) dan nista dengan sesari 4.000 (kepeng). Dan apabila yang meninggal menjadi pendeta, melaksanakan pemujaan upacara ritual, berhak menggunakan tata aturan selengkapnya, seperti yang dipergunakan untuk pendeta Brahmana, mapatrang, upadesa, jenazahnya dibungkus dengan daun pisang kahikik, lengkap menurut tata upacaranya. Demikian ketegasan anugerahku Dalem Ketut kepadamu Patih Klapodhyana dan seluruh anak keturunan Arya Kuthawaringin. Janganlan melanggar siapapun memegang kekuasaan negeri ini atas anugerahku, dan demikian pula semua keturunan Klapodhyana. Jika melanggar kamu akan kena kutuk Dewa Brahma dan surutlah kesaktian dan wibawamu.” Poma. Demikianlah anugerah beliau Sri Smara Kepakisan.-

Dalam postingan ini diuraikan kisah Kyayi Gusti Agung Bandhesa Gelgel-Kubontubuh, atas perintah Dalem Ketut Smara Kepakisan ke Blambangan untuk membunuh Macan Selem. Perintah Dalem berhasil dilaksanakan, Dalem Ketut Smara kepakisan menganugrahkan Aji Purana kepada Patih Klapodyana dan saudara-saudaranya semua saketurunan Sirarya Kuthawaringin. Dalam panugrahan Dalem Ketut Smara Kepakisan termaksudlah tercantum ketentuan-ketentuan antara lain tentang kewenangan untuk menggunakan unsur-unsur kelengkapan upacara pada waktu melaksanakan upacara atiwa (ngaben). Diantara unsur-unsur termaksud yang sifatnya sangat spesifik adalah petulangan yang berwujud Macan Selem (Harimau Hitam).  ——–

sumber: http://www.kubontubuh-kuthawaringin.blogspot.com


Responses

  1. leluhurku yang agung,,,,aku bangga menjadi keturunanmu,,,

  2. ヨンドシー 腕時計 ブレスレット ジュエリー http://www.swmimsroll.info/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: