Oleh: Gusti Sudiartama | Februari 8, 2011

Cinta dan Amarah Drupadi

Oleh : Luh Made Sutarini

Tak salah memang, bila semua itu bersumber dari pikiran, dan pikiranlah yang bertanggungjawab atas amarah, dan juga nafsu. Pikiran selalu begejolak. Bagian tersulit dalam hidup ini adalah memikirkannya, namun ada yang lebih masuk akal untuk mengalahkannya, yakni dengan mengerjakanrya. Sederhana saja, Bila kita berangkat dari Bandung ke Jakarta lewat puncak, pikiran terus bergejolak. Macet, belum lagi hujan, jalan berkelok dan bensin habis dan lain-lain. Tapi, jangan pikirkan itu kerjakanlah saja. Maka semua akan berakhir menggembirakan. Lambat dan rintangan dijalan adalah cara-cara Tuhan untuk mernbuat kita lulus ujian agar kita menjadi kuat.

Benar adanya, Sri Krishna bersabda dalam Gita, nafsu dan marah itu disebut analam, yang bermakna “api”. Ada bahaya terkena panasnya api walaupun api itu agak jauh dari diri kita. Bila api yang menyala di luar diri kita sudah sangat berbahaya, maka betapa lebih berbahaya kalau api itu berkobar-kohar dalam hati kita. Api hawa nafsu dan amarah ini mempunyai kemampuan yang sangat luar biasa untuk menghancurkan seluruh kualitas kemanusiaan, api itu pula mampu dengan mudah memadamkan percikan ketuhanan yang ada dalam hati, sehingga hanya sifat setan yang muncul. Dalam koridor inilah Drupadi ingin disadarkan oleh Krishna dalam Kisah Mahabarata.

Ketika Yudistira menolak untuk berkata bohong tentang gajah Aswatama mati, semua kesal dan membujuk, dan Drupadi sangat marah, bahwa Drupadi khawatir sumpahnya bisa tidak terlaksana untuk membasahi rambutnya dengan sampoo dari darah Dusasana. Drupadi berteriak, geram. Krishna mendengar dan mendekati Drupadi, “Drupadi engkau tidak boleh marah sama mereka yang terlibat dalam perang ini. Engkau harus bijaksana melihat semua ini,” kata Krishna dengan lembut. “Jika engkau tidak mampu membujuk Yudistira, biarlah Aku yang akan merayunya.” Drupadi malu, lalu berkata, “Oh Kesawa, maafkan aku ini, cintaku yang tinggi pada Yudistira sering membuat aku salah tingkah, aku ingin tahu apa penyebabnya marah itu muncul?”

Krishna menjawab: “Selama berkali-kali kelahiran engkau telah terpikat oleh kecantikan dan dikuasai oleh keinginan serta amarah, hingga hawa nafsu ini telah mendarah daging, sehingga engkau dilahirkan kembali dan diuji untuk melakukan pengendalian. Jika engkau tidak sabar, maka engkau akan menjadi budak nafsu.”

“Lalu apa yang harus aku lakukan Krishna,” tanya Drupadi penasaran. Krishna tersenyum, “Oh Drupadi, menghilangkan marah hanya dengan kata tidak akan berhasil, amarah tidak akan menyingkir, sifat-sifat negatif ini telah berurat berakar dalam darah dagingmu.”

Drupadi berkata, “Oh Madusudana, Aku merasakan bahwa mula-mula nafsu sangat menarik dan menyenangkan, karena dia hadir dengan seribu pesona. Lama kelamaan aku sering merasa muak, tetapi pada saat itu sudah sangat sulit bahkan sebenarnya hampir tidak mungkin aku menghilangkannya. Lalu apa yang paling baik aku lakukan Krishna?”

Krishna berkata yang paling baik engkau lakukan sejak semula adalah mengembangkan sikap tidak terpengaruh dan penyangkalan diri sebagai bagian dari sifatmu dan jangan memberi tempat atau mementingkan kainginan dan hawa nafsu. Jika engkau tidak mempunyai keikhlasan berkorban dan kemampuan untuk mengendalikan hawa nafsu, engkau tidak siap menerima rahmat Tuhan.

“Oh Krishna, aku baru menyadari, bahwa marah dan rahmat Tuhan ada hubungannya?”

“Ya,” sahut Krishna, “Pengendalian indera itu sangat penting. Dalam Yoga Sutra, dimunculkan perlunya pengendalian yang ketat atas kecenderungan pikiran untuk berlari ke segala jurusan mengikuti nafsu. Pikiran dan indera harus dikendalikan dan dibatasi, bahkan kebahagiaan yang melebihi batas dapat berbahaya. Segala sesuatu ada batasnya, ada batas-batas yang wajar. Begitu juga dengan matamu, ia berfungsi dengan baik sampai batas cahaya tertentu. Jika cahaya tidak terlalu terang, mata tidak dapat melihat dan akan rusak. Sama halnya dengan telinga, bunyi yang dapat didengar terbatas. Jika tingkat bunyi melebihi batas itu, misalnya di dekat pesawat udara, kereta api, atau pengeras suara, pendengaran akan terganggu.”

Krishna menambahkan, “Drupadi, engkau harus membatasi tingkah lakumu dan menempuh hidupmu dalam batas-batas yang telah ditetapkan. Hal ini juga dapat dinamakan disiplin. Disiplin sangat perlu untuk kemajuan hidup spiritual seseorang, tanpa disiplin, manusia tidak berbeda dengan binatang. Tetapi disiplin pun harus dilaksanakan dalam batas-batas tertentu; bahkan disiplin perlu diatur jika engkau ingin menikmati hidup. Engkau mengetahui, bahwa segala sesuatu ada batasnya, jika engkau tetap berada dalam batas-batas itu, engkau tidak akan mengalami kesulitan dalam hidupmu”.

Engkau harus memperhatikan dua musuh manusia yang mengerikan ini, yaitu kama dan krodha ‘nafsu’ dan ‘amanah’, dan berusahalah mengendalikan mereka. Musuh-rnusuh ini tidak berada di luar dirimu, melainkan ada dalam dirimu. Jika engkau dikalahkan oleh musuh dalam dirimu, bagaimana engkau berharap dapat mengalahkan musuh di luar dirimu? Tetapi jika engkau mampu menguasai musuh dalam dirimu, musuh-musuhmu yang lain dapat ditaklukkan dengan mudah. Bhagawad Gita mengajarkan bahwa nafsu dan amarah merupakan hambatan utama menuju pembebasan, karena itu penting sekali mereka harus dikuasai. Pada hari mendatang akan kita bicarakan musuh-musuh lain yang menghalangi jalanmu, seperti kedengkian dan kekikiran. [Raditya 155 – Juni 2010].

sumber: parisada.org


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: