Oleh: Gusti Sudiartama | Februari 9, 2011

ASMARA

KEDUDUKAN Kama-Ratih di kerajaan Indraloka tidaklah tinggi. Dalam bahasa sekarang bisa disebut menengah ke bawah. Karena itu, suami-isteri itu bisa disuruh-suruh oleh dewa-dewa atasannya. Jenis suruhan tentu disesuaikan dengan bidang keahliannya, yaitu asmara.
Misalnya, ketika Dewi Uma sangat merindukan suaminya, Shiwa, yang sedang bertapa, ia menyuruh Dewa Kama untuk melakukan suatu mission impossible. Misinya adalah membuat Shiwa merindukan isterinya, sehingga ia pulang. Cara membuatnya rindu adalah dengan membangkitkan hasrat birahi asmaranya. Uma tidak perlu menjelaskan bagaimana caranya. Itu memang sudah pekerjaan sehari-hari Kama. Tapi karena yang akan digarap adalah Shiwa, dewa tertinggi, maka pekerjaan kali ini sangat berisiko. Kama harus ekstra hati-hati. Ia harus mengerahkan segala kemampuan dan intuisi, guna mengantisipasi segala kemungkinan. Dan memang begitu pula pesan isterinya, Ratih, ketika melepas keberangkatan Kama.
“Hati-hatilah, Suamiku! Kesalahan sekecil apa pun akan berakibat fatal. Jangan pandang sepele kemarahan Shiwa! Waspadailah mata ketiganya!”
Maka, Kama pun berangkat dengan perasaan cemas. Sampai di tempat pertapaan Shiwa, Kama sembunyi-sembunyi tidak berani memperlihatkan dirinya di hadapan Shiwa. Kalau sampai Shiwa melihat wajahnya, beliau akan langsung tahu apa maksudnya. Dan itu berarti kegagalan misinya. Karena ilmu asmara yang dimilikinya, adalah juga pemberian Shiwa. Jadi, posisinya sungguh tidak selevel. Kama tidak ingin misinya gagal. Jika itu sampai terjadi, ia tidak akan punya muka dihadapan dewi Uma. Kredibilitasnya akan jatuh di hadapan khalayak dewa-dewa. Ia akan lama menyalahkan diri, merasa tidak professional.
Maka dengan sangat ekstra hati-hati, Kama menyiapkan anak panah dan segala perlengkapannya. Sesuai dengan prosedur pelepasan anak panah asmara, Kama melepaskan anak panah pertamanya. Tepat mengenai sasaran bidik. Anak panah kedua dan seterusnya juga tidak meleset sedikit pun. Kama memang master di bidangnya.
Shiwa pun membuka mata dari keterpejamannnya yang dalam. Hal pertama yang diingatnya adalah isteri. Hal pertama yang ia ingat tentang isterinya adalah kemelokan tubuh dan kecantikan wajahnya. Bersamaan dengan itu, kenangan manis persenggamaan terakhir sebelum mereka berpisah muncul pelahan-lahan dari endapan kenangan. Kenangan itu menarik-nariknya. Dan Shiwa pun sangat merindukan isterinya. Ia ingin segera ada di depan isterinya. Ia ingin senggama-asmara badan.
Pada momen kritis itu Shiwa melihat kelebatan Kama di tempat persembunyian. Detik itu juga Shiwa sadar, bahwa kerinduan asmaragamanya adalah ulah Kama. Untuk apa Kama ada di sekitar pertapannya kalau bukan niat mempemainkan libidonya. Kurang ajar! Berani-beraninya anak bau kencur itu. Bahwa pertapaannya menjadi batal, itu adalah kesalahan Kama, bukan kesalahan dirinya.
Murkalah beliau, sebelum tahu apakah kedatangan Kama murni atas kemauan sendiri, atau atas suruhan orang lain. Sudah menjadi pengetahuan umum di alam dewa-dewa, bila Shiwa sampai murka, itu artinya masalah yang sangat serius. Pasti akan jatuh korban kutukan. Melihat situasi gawat seperti itu, dan Kama sudah tidak mungkin berkelit, ia pun pasrah. Lututnya gemetar. Semua kariernya akan berakhir saat itu juga, di tempat itu juga. Kutukan sudah pasti akan dijatuhkan.  Entah kutukan apa akan diterimanya, itu harus dinanti. Adakah yang lebih menyiksa daripada menanti kutukan?
Api menyambar-nyambar dari mata ketiga Shiwa. Tidak tahu bagaimana harus melukiskan kedahsyatan api itu. Kama hangus gosong terbakar menjadi debu hanya dalam hitungan detik. Tanpa ampun. Tanpa ada faktor-faktor yang meringankan hukuman. Di hadapan Shiwa semua faktor memberatkan si pesakitan. Jenis kesalahan Kama sudah masuk ke dalam extra ordinary crime. Durhaka. Lancang.
Berakhirkah karier Kama? Teryata tidak.
Ratih, isteri Kama, tidak bisa menerima kematian suaminya tanpa jasad. Tapi ia tidak punya posisi tawar apa pun di hadapan Shiwa. Yang bisa ia lakukan, sebagai dewi bawahan, tentu hanya memohon. Sudi apalah kiranya Shiwa mencabut kutukannya, dan mengembalikan Kama seutuhnya kepada dirinya. Untuk memperkuat permohonannya, ia minta rekomendasi dewi Uma, karena beliaulah yang mengirim Kama untuk melakukan mission impossible itu. Permohonan yang disampaikannya dengan derai air mata, cukup berhasil, walau tidak seratus persen.
Kesimpulannya: Shiwa berkenan menghidupkan kembali Kama, dengan beberapa persyaratan. Pertama, ia akan hidup kembali tapi tidak memiliki tubuh seperti sebelumnya. Kedua, ia tidak boleh tinggal di alam dewa, tapi harus hidup jauh di dunia bawah sana bergabung dengan manusia. Ketiga, di dunia di mana ada kematian [mertyupada] Kama bertugas menyusup ke dalam hati setiap laki-laki.
Bagaimana dengan Ratih? Agar Ratih tidak terpisah dengan suaminya, ia pun lantas di-geseng, ‘bakar’, dan diturunkan ke dunia, juga tanpa tubuh, dengan tugas menyusup ke hati setiap perempuan. Di dunia yang disebut semacam ashrama itu, keduanya tidak akan leluasa bertemu semau mereka. Mereka dipisahkan oleh tubuh laki dan badan perempuan. Mereka hanya akan bertemu bila terjadi senggama asmara antara laki dan perempuan. Itu pun kalau asmaragama itu benar. Bagaimana asmaragama yang benar? Itu masalah lain lagi.
Tragis nasib Kama. Ironis perjalan hidupnya. Ia menjalani sisa hidupnya dalam penjara bernama tubuh lelaki. Hanya sesekali ia akan bertemu dengan pasangannya, yang dijebloskan ke penjara tubuh perempuan. Pertemuan itu akan berlangsung sebentar saja. Apa boleh buat, itu semua adalah konskwensi dari sebuah tugas yang diembannya sebagai dewa bawahan.
Begitulah cerita Mpu Dharmaja dalam Kakawin Smaradahana, yang berarti ‘dahaga asmara’. Mpu Dharmaja barangkali terharu dengan nasib Kama. Karena itu ia menggubah sebuah kakawin. Tentu bukan karena ingin membuat kisah tokoh-tokoh yang dikalahkan, lantas beliau menggerakkan alat tulisnya. Sebagai pembaca kita merasa diberitahu, bahwa kemenangan-kemenangan Shiwa terjadi dengan pengorbanan dewa lain. Dewa yang berkorban itu, seperti Kama, pada gilirannya menunjukkan “kemenangan” dimensi lain. Cuma, sudah lama sekali, perhatian kita tertuju pada kemenangan-kemenangan, dan hampir tidak kita perhatikan yang dikalahkan. Padahal kita bersikeras ingin mendapatkan pemahaman yang utuh.
Karena sebuah kesalahan alam atas Kama dan Ratih diturunkan ke dunia alam bawah. Ketika keduanya dijebloskan ke dalam kerangkeng tubuh lelaki dan badan perempuan, itu adalah konskwensi lanjutan dari kesalahan tadi. Ketika keduanya bertemu dalam upacara asmaragama suami dan isteri, itu adalah  konskwensi lebih lanjut lagi. Tapi tunggu dulu, ketika kemudian lahir bayi, masihkan itu kelanjutan dari kesalahan di alam atas itu?
Saya tidak berani meladeni pikiran sendiri, bahwa semua kita ini adalah rentetan terujung dari sebuah lingkaran yang titik awalnya adalah kesalahan. Dan dengan meneruskan kehidupan ini, kita akan membuat lingkaran-lingkaran kesalahan baru. Siapakah kita ketika sedang berhadapan dengan Kakawin Smaradahana?

SMARA Ratih yang tanpa tubuh mengembara di dunia dari hati ke hati. Di setiap persinggahan hati mereka bekerja, membangkitkan rindu, mendorong-dorong agar terjadi pertemuan. Tidak setiap yang memujanya akan disinggahi. Dan tidak setiap yang tidak memujanya tidak akan disinggahi. Ia benar-benar hidup. Ia tahu di hati mana mesti menabur benih. Dan mereka tidak mengatakan rahasianya. Orang yang mengetahui rahasia itu, bukan karena membaca, bukan pula karena tidak membaca. Bukan karena puasa, bukan pula karena tidak puasa. Tidak ada jalan, kecuali Smara Ratih itulah jalan.
Suksma, rahasya, tepet, itulah ciri pertemuan benih-benih mereka. Bila mereka sedang bekerja, maka mulailah akan dirasakan hal-hal yang halus di dalam dan di luar diri. Itulah suksma. Yang ramai menjadi sunyi, yang biasanya dikatakan akhirnya dibisikkan, dan yang biasanya dibisikkan menjadi tidak diucapkan. Tidak ada yang melihat, karena yang melihat berubah menjadi ‘yang dilihat’. Itulah rahasya. Bagai mengadu dua ujung duri, begitulah pertemuan Smara Ratih. Tidak mudah mempertemukannya. Kalau pun berhasil, pertemuan itu hanya sesaat. Tapi apalah sesaat, dan apalah artinya lama, bagi sebuah kedalaman. Dari yang sesaat terjadilah kesuburan, kehidupan, penciptaan, wajah baru. Itulah yang disebut tepet. Dari keadaan tepet inilah lahir apa yang orang sebut dengan istilah taksu. Tidak bisa dipelajari, tidak bisa dinanti. Ia terjadi oleh sebuah ‘pertemuan’.
Tidak bisa lain. Hanya dengan cara seperti itu Smara Ratih menyatakan diri ada. Smara Ratih pendatang baru di dunia, yang di daerah asalnya diusir karena kutukan akibat kesalahan. Dewa datang dari jauh. Ia dipuja. Ia disembah. Ia di istanakan di dalam hati. Kepadanya orang menangis mengadukan pernderitaan sepi hatinya. Kepadanya orang memohon bantuan agar bisa berdamai dengan kerinduan yang meledak-ledak. Memang seperti itu alam berbicara. Ia yang menciptakan adanya rindu, dan kepadanya orang mencari obat kerinduan. Diciptakannya hati yang merana. Diberinya obat pada kemeranaan hati itu. Kemudian dibuatkanlah oleh orang sebuah cerita. Bagaikan seutas tali, cerita yang dibangun kata-kata lebih erat mengikat pikiran orang-orang dari pada tali itu sendiri.
Inilah yang dikatakan cerita selanjutnya. Smara Ratih harus dipertemukan agar kehidupan terus berlanjut. Tapi tidak sembarang orang tahu bagaimana cara mempertemukan mereka. Tidak setiap senggama asmara badan berarti pertemuan Smara Ratih. Tidak setiap pembuahan benih dan sel telur dihadiri Srama-Ratih. Oleh karena itu Shiwa sendiri yang kemudian turun untuk mempertemukan mereka. Kesuburan, tanda kehidupan akan berlanjut, harus diadakan. Maka Smara dan Ratih dipertemukan secara mistis di sebuah bale paselang. Yantra, mudra, mantra tertuju pada kedua pasangan yang masih tertidur. Berbagai rentetan upacara digelar sebelumnya. Pertemuan mistis itu adalah puncaknya. Smara adalah salah satu ujung duri. Ratih adalah ujung duri satunya lagi. Perwakilan Shiwa di dunia berjuang untuk mempertemukan kedua ujung duri. Halus, suksma, gerakannya. Rahasya, itulah pertemuannya. Bila kedua ujung duri itu bertemu, itulah yang disebut tepet.  Dengan penguasaan teknik, yang suksma, rahasya, tepet itu bisa diusahakan. Bisa diadakan. Tinggal pembuktiannya saja. Apakah setelah itu kehidupan akan menjadi lebih bagus, atau tidak. Untuk itu perlu diketahui dengan apakah itu bisa dirasakan?
Pertemuan Smara Ratih adalah masalah guna, kualitas. Banyaknya bayi-bayi yang dilahirkan bukan sebuah pertanda keberlangsungan kehidupan. Melimpahnya hujan, berlipatnya hasil panen, juga bukan. Semakin banyak yang bisa dikonsumsi, juga bukan. Kehidupan tidak dititipkan keberlangsungannya pada “yang banyak” itu. Tapi ada apa? Jawabannya pun dititipkan pada cerita. Pada ceritalah orang kembali. Dan di dalam cerita, sekali lagi, bukan kepastian yang didapatkan tapi kemungkinan-kemungkinan. Orang harus merasa cukup dengan kemungkinan-kemungkinan itu. Ingin lebih dari itu, lobha namanya. Lobha itulah awal kematian.
Tapi ada cerita lain. Orang yang ingin bebas dari lingkaran roda kelahiran, bebas dari putaran hidup mati, harus tahu cara memisahkan Smara dan Ratih. Ada beberapa pesan yang disampaikan tentang pemisahan ini. Pasahakna ikang purusa lawan pradhana, ‘pisahkanlah Purusa dengan Pradhana’. Mempertemukan dan memisahkan. Menyatukan dan menguraikan. Mabhanda bheda, mengikat dan melepaskan. Seperti main layangan, mengulur dan menarik. Tahu dari mana dan ke mana angin bertiup. Pada saatnya angin [baca: bayu] pulalah yang memisahkan Purusha dengan Pradhana. Tapi kesadaran tidak sama dengan layang-layang putus. Tubuh ini tidak persis sama dengan tali. Metafora tidak pernah persis sama dengan kenyataan.
Itulah yang hendak dicontohkan oleh Shiwa ketika meninggalkan isterinya, dan menggelar tapa. Shiwa, rajanya para pertapa, masih menggelar tapa? Ya, begitu yang dikatakan cerita. Tidak lebih dan tidak kurang. Shiwa saja masih bertapa. Matahari saja masih bekerja. Laut saja masih gelisah. Gunung saja masih memendam panas di dadanya. Agin saja masih menempuh arah. Apalagi Kama dan Ratih yang ada di dalam penjara badan.
Ketika Kama berusaha menarik Shiwa kembali ke isteri, Shiwa pun mematikan Kama detik itu juga. Apa yang hendak disampaikan oleh Shiwa dengan mematikan Kama? Kehidupan ini harus dikalahkan. Itukah? Mengapa kemudian Shiwa meralatnya, karena permintaan dari dua orang “ibu”, yang satu Ratih dan satunya lagi Uma. Kenapa ia menghidupkan kembali Kama dan mengirimnya ke Mertyupada?
Bumi ini disebut mertyupada, yang berarti tempat di mana ada kematian, bukan tempat di mana ada kehidupan. Apakah itu pertanda kelak Smara dan Ratih juga akan mati di mertyupada ini? Atau, mereka hanya transit sebentar di tubuh dan jiwa orang-orang yang pasti akan mati?
Ternyata ada cerita lain. Konon yang pasti mati hanyalah yang dilahirkan, dan yang memiliki tubuh. Yang tidak dilahirkan [a-ja] tidak akan mati. Yang tidak memiliki tubuh [anangga] tidak akan mati. Jadi, Kama Ratih tidak akan mati. Mereka juga tidak akan kembali ke asalnya. Mereka akan terus saja mengembara di dunia ini, sebagai Sanmatta dan Indu.
Shiwa sendirilah sesungguhnya Mahakama itu. Shiwa terus bekerja, dan masih bekerja. *
[ibm. dharma palguna].

SUMBER: parisada.org ( dalam yang dikalahkan )


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: