Oleh: Gusti Sudiartama | Februari 9, 2011

BERAKHIRNYA KEINGINAN DAN KEMELEKATAN


Oleh : Anatta Gotama, Denpasar

Ada Awal, Akhir dan Pertengahan
Segala sesuatu di Mayapada ini berawal dan, tentunya, juga berakhir. Yang terlahir, secara pasti menemui kematian dan kemusnahan. Demikianlah hukumnya. Tak satu makhlukpun di semesta raya terbatas daripadanya; bahkan semestapun berawal, oleh karenanya ia juga berakhir.

Sejak mulai pertama kita terlahir di dunia ini, kita mulai mengadakan kontak-kontak indriyawi dengan dunia luar. Kontal-kontak ini ada yang menyenangkan atau memuaskan indriya, ada yang tidak. Yang menyenangkan, kita inginkan atau harap-harapkan; yang tidak, kita tolak atau singkirkan. Kontak-kontak awal, apakah itu menyenagkan atau tidak, tersimpan berupa ‘kesan’. Nah…. demikianlah kita mengawali, yang nantinya amat menentukan bagaimana kita ‘berreaksi’ terhadap suatu kontak.

Diawali oleh kontak, timbul kesan-kesan. Dengan kesan-kesan inilah kita ‘bereaksi’. Kwalitas reaksi, sesuai dengan kwalitas kesan. reaksi kitapun akan merupakan aksi bila terjadi kontak dengan pihak luar; yang nantinya secara beruntuk menimbulkan sejenis ‘mata rantai’ aksi-reaksi, sebab-akibat atau ‘kausalitas’-nya sendiri. Nah…. rantai kausalitas inilah yang membentuk dan menentukan kehidupan kita, oleh karenanya ia juga disebut ‘Sanghyang Swakarma’-suatu kumparan enerji kausal yang dibentuk dan dipunyai oleh setiap makhluk.
Lewat pikiran (manas) dan nalar intelektual (buddhi), kita mengolah kesan-kesan. Mereka (pikiran dan intelek) akan mengatakan : “Hai kekasihku…. hind arilah yang tidak menyenangkan dan kerjalah yang menyenangkanmu. Kami akan membantumu untuk mewujudkannya”.

Berdasarkan ‘hasrat’ untuk mengikuti perintah ‘sang kekasih’ itu maka kita berbuat, berusaha dan berupaya sekuat daya yang ada. Berbekal bahan bakar enerji (vayu atau bayu) kita berbuat dan terus berbuat, berdasarkan ‘hasrat’ (ambek) tersebut. Dalam perjalanan inilah batin kita berfluktuasi dalam dua kutub ekstrim, yakni :suka dan tidak suka. Dua kutub inilah yang mengombang-ambing atau mendikte ‘perasaan’, suasana hati serta secara akumulatif mengembangkan hasrat semakin luas lagi.

Demikianlah kita mengembangkan ‘Sanghyang Swakarma’, hingga ia membentuk suatu gugus ‘makhluk astral’, bertenaga enerji kausalitas serta tumbuh dan berkembang sejalan dengan timbunan hasrat dan kinginan-keinginan kita. Secara ekstrim ia memiliki dua karakter utama – yang kita rasakan sebagai – ‘suka dan duka’ — Lewat ekspresinyalah kita menjalani hidup, hingga tibanya ajal.

Manakala kita lebih banyak mengekspresikan karakter ‘suka’-nya, kita disebut – menurut peristilahan umum – berbahagia. Sebaliknya, menderita. Demikianlah kita terbentuk sebagai makhluk hidup, secara rohaniah. Enerji kausalitas tersebut, mendikte ‘kebahagiaan dan penderitaan’ hidup kita. Ia berawal, ia ada, hidup dan berkembang, dan iapun termusnahkan.

Motivasi Menuju Tujuan dan Dua Kelompok Tujuan
Ambek, seperti yang telah kita singgung sebelumnya, adalah hasrat dan keinginan-keinginan kita. Inilah yang memotivasi (hampir) semua perbuatan kita; berbuat dalam rangka mencapai tujuan’. Apakah tujuan-tujuan kita itu?
Sesungguhnya ada dua kelompok objek yang menjadi tujuan hidup manusia, dimana pencapaian tujuan yang satu akan amat menunjang dalam pencapaian tujuan yang lainnya. Yang pertama berupa kesejahteraan dan kebahagiaan hidup di dunia ini baik secara lahiriah maupun batiniah. Dalam terminologi Hindu ia disebut, Jagad Hita.

Dalam penjabaran dan bentuknya yang paling dapat kita rasakan secara langsung, ia berupa kecukupan material (artha) serta kepuasan indriyawi (kama). Itulah dua bentuk terkasar dari pencapaian yang tercakup dalam kelompok pertama. Kepuasan indrayawi, inilah yang – dalam persepsi umum – dianggap sebagai kepuasan atau kebahagiaan batin. Mereka yang berpandangan demikian, serta madeg hanya hingga pencapaian itu desebut manusia duniawi’.

Diketahui bahwasanya, hasrat untuk memenuhi keinginan dan kenafsuan (kama) tidak pernah habis-habisnya, dan berhenti dengan cara melunasinya. Bahkan sebaliknya, mereka yang diperbudak olehnya, tak pernah akan menemukan kedamaian dan kebahagiaan yang sebenarnya dalam kehidupannya. (Manawa Dharma Sastra dan Bhagavad Gita). Memang; senyatanya banyak yang hancur dan terpuruk hingga batas terendah sebagai manusia dalam mengejar ‘pemuasan indriyawi’ dan ‘kebahagiaan temporer nan semu’ tersebut. Lantas bagaimana sebaiknya kita menyikapinya?; tidak bolehkah menikmati kebahagiaan dan kesejahteraan hidup (Jagadhita)? Mungkin muncul pertanyaan-pertanyaan tersebut di benak kita.

Karakter Pokok sebagai Faktor Penentu
Di dalam mengejar ‘pemuasan indriyawi’ dan kebahagiaan temporer nan semu’, manusia menjadi melekat padanya. Manusia menjadi budak-budaknya. Dalam situasi seperti ini amatlah sulit untuk membebaskan diri dari ‘pembudakan’ ini. Seperti telah disebutkan sebelumnya, pencapaian tujuan yang satu akan amat menunjang dalam pencapaian tujuan yang lainnya’; kita diharapkan untuk memanfaatkan sebesar-besarnya guna mencapai tujuan yang lainnya, yakni : Mokshartam. Bermodalkan Jagad Hita, manusia meraih Mokshartam melalui pembelajaran dan pelatihan diri menurut kaidah-kaidah ‘kebenaran sejati’ yang telah ditetapkan, yaitu : Dharma.

Nah disinilah diperlukan bimbingan para bijak dan petunjuk-petunjuk orang-orang suci. Semua itu, sesungguhnya telah terpetakan dan terdokumentasikan secara sistematis dalam bentuk sastra; itulah pustaka-pustaka suci, kitab-kitab suci dalam berbagai bentuk sajian. Jadi, secara teoritis dan konsepsional, umat manusià telah mewarisi dari para pendahulunya. Pertanyaannya kini adalah, bagaimana penerapan dan penjabarannya dalam kehidupan kita sehari-hari?

Manusia adalah makhluk kompleks; tidak dapat dijendralisasikan begitu saja. Secara batiniah, manusia memiliki ‘derajat ketidak-pastian yang tinggi’. Akan tetapi, untuk mengelompokkannya dalam banyak kelompok, akan terjadi kesulitan dalam merumuskan metode yang paling sesuai. Untungnya, para pendahulu umat manusia (baca: Hindu) telah menyiapkan ajaran filsafat Samkhya.

Dalam Samkhya Darsana, disebutkan bahwa manusia atau semua makhluk berjasad, baik itu yang kasat indriya maupun yang tidak – digerakkan oleh tiga sifat utama yakni: keluhuran budi (Sattva), semangat dan ambisi (Rajas) serta kemalasan dan kebodohan (Tamas). Komposisi dari ketiganyalah yang membentuk karakter setiap manusia; berbeda -beda antara manusia satu dengan manusia lainnya. komposisi Sattva 60 %, Rajas 35 % dan Tamas 5% dan seterusnya. Nah berbagai komposisi inilah yang terekspresikan berupa berbagai ‘kecenderungan dan kegandrungan’. Sekali lagi ia bersifat spesifik, unik, atau khas untuk masing-masing individu. Inilah ‘faktor penentu’ yang mendikte darimana dan lewat jalan (metode) apa orang sebaiknya melangkah.

Metode dan Penjabaran Praktis dalam meraih Tujuan Akhir
Faktor penentu, yang terekspresikan berupa ‘kecenderungan dan kegandrungan’ inilah diinformulasikan ke dalam konsep metodis Empat Jalan Utama (Catur Marga) atau hanya Tiga Jalan Utama (Tri Marga).

Karma Marga, bagi yang cenderung lebih banyak menggunakan tenaga jasmaniah dalam berbuat serta mempunyai kegandrungan terhadap hal-hal yang bersifat instan, dapat dinikmati hasilnya atau tahap-tahap pencapaiannya melalui indriya maupun persepsi yang sedikit lebih tinggi. Bhakti Marga, bagi yang cenderung mempunyai kesabaran, kepatuhan serta mememiliki kegandrungan untuk melakukan pelayanan – sesuai kemampuannya – pada orang lain; namun tidak memiliki tingkat intelek yang memadai, cenderung menggunakan pikirannya dalam memecahkan permasalahan hidupnya, lebih sesuai bila mengikuti Jnana Marga atau Dhyana Yoga. Ketiga inilah yang disebut dengan Tiga Jalan Utama.

Mereka yang memiliki hampir semua kemampuan, kecenderungan dan kegandrungan diatas, serta ditunjang oleh ‘bakat intuitif’ yang kuat, disediakan pula Raja Marga atau Raja Yoga. Bakat intuitif ini, mereka bawa sejak kelahiran sebelumnya – berupa akumulasi kesan-kesan batin laten – yang disebut juga dengan Wasana. Apapun sebutannya untuk itu, namun demikianlah keberadaan dari Catur Marga.

Praktek langsungnya, disebut Sadhana. Bagi maing-masing Margi atau perjalanan spiritual, tentu mempunyai masing-masing sadhana yang paling sesuai baginya. Mereka juga disebut Sadhaka. Siapa yang mengetahui sadhana yang paling sesuai bagi kita? Inilah yang kita sebut Guru atau Pembimbing Spiritual. Tempat atau ruang dimana kita dapat berlatih dan menerima didikan serta bimbingan spiritual – religius, kita sebut Ashram atau di Bali dikenal dengan ‘Pesraman’. Nah dengan demikian kita sudahi pembicaraan kita tentang ‘metode praktis’ (practical method) ini.

Upaya Penghentian Keinginan & Melepas Kemelekatan
Telah disebutkan sebelumnya bahwa keinginan dan kenafsuan sulit untuk dihentikan dan hanya berbuah penderitaan saja. Telah pula kita bicarakan tentang sumber dan keinginan tersebut, Mungkinkah menghentikan segala keinginan itu? Terbersit pertanyaan demikian dalam benak kita.

Ada disebutkan “Keinginan untuk menghentikan segala keinginan itupun juga keinginan adanya”. Jadi, ia tampak ‘mbulet’ bak lingkaran setan. Yang secara nyata dapat kita lakukan bertahap dan melalui sedhana-sedhana yang sesuai, adalah mengikis rendah – yang mengantarkan kita pada kebahagaiaan semu dan penderitaan – dan mengarahkannya kepada keinginan luhur.

Kita menginginkan sesuatu, karena melekat pada sesuatu itu. Memenuhinya, hanya akan mempererat; demikian seterusnya. Jadi, amat erat kaitan antara keinginan dengan Kemelekatan. Kemelekatan inilah yang telah kita sebut-sebut sebagai himpunan kesan-kesan, sebelumya. Nah dalam rangka mengarah pada keinginan luhur, Buddha Avatara memberi arahan-Nya Janganlah berbuat jahat; timbunlah kebajikan sebanyak-banyaknya dan sucikan hati dan pikiran”.

Melalui arahan itu, tampak jelas bahwa praktek latihan spiritual yang berupa berbagai bentuk dan ragam sadhana tersebut, sesungguhnya berintikan pada ketiga pokok arahan tersebut. Menimbun jasa kebajikan sebanyak-banyaknya, adalah keinginan luhur. Hasrat, mesti diarahkan sepenuhnya pada menghindari perbuatan jahat. Dan guna mensucikan hati pikiran, telah ada metode dan tuntunan praktisnya atau Marga-Nya.

“Engkau merupakan penguasa sarana mencapai ‘Kelepasan’; dalam Veda engkau berwujud ‘pranawa mantra’, tiada lebih mulia daripada-Mu; Engkau yang dengan wujud dan tanpa wujud, sangat gaib pancaran sinar-Mu, Engkau lebih besar dan yang mahabesar’ Engkau berada dalam tumbuh-tumbuhan dan binatang melata, dan Engkau pula menjadi tujuan orang yang ingin mencapai alam ‘Sunyata’.

Demikianlah puji-puji Bhatara Yama – ke hadapan Hyang Siva, yang tersurat didalam ‘Sivaratrikalpa’, mahakarya Mpu Tanakung itu. Siva, melalui Shakti-Nya, adalah penguasa alam spiritual. Beliaulah penguasa Yoga, beliaulah yang dituju oleh semua yogi, oleh karena Siva adalah Yang Mahasuci.

Bila benar-benar kita telah bertekad untuk mengakhiri perputaran roda Samsara, penderitaan yang dialami dalam kelahiran yang berulang-ulang dan mencapai tujuan akhir – Moksha Marga dan Guru yang paling sesuai akan kita temukan. Dengan ini saya akhiri tulisan ini; besar harapan saya ia bermanfaat sebesar-besarnya bagi para sahabat.

WHD. No. 527 November 2010

sumber: parisada.org

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: