Oleh: Gusti Sudiartama | Februari 9, 2011

DHARMASVAMI

 

ANUGERAH yang salah! Itulah barangkali yang terjadi dengan Dharmaswami. Tapi apanya yang salah dari anugerah itu? Isinya, waktunya, tempatnya, pemberi, atau penerima anugerah itu?
Kita tidak pernah bisa tahu dengan pasti, karena cerita adalah sebuah metafora. Apa yang dikatakan tidak sama dengan apa yang dimaksudkan. Oleh karena itu, mari jangan mencari kepastian di dalam maupun di luar sastra. Baca-bacalah, kata orang bijak. Temukanlah kemungkinan-kemungkinannya. Dan puaskanlah dahaga batin dengan cukup itu. Anugerah yang salah, dan anugerah yang benar, tidak akan mengubah sesuatu yang sudah digariskan terjadi. Keyakinan konon akan mengubah kemungkinan-kemungkinan menjadi kepastian. Karena di dalam keyakinan itu ada kekuatan. Makannya, barang yang paling banyak dibela manusia di atas bumi ini adalah keyakinan. Baik itu keyakinan sendiri maupun keyakinan kelompok.
Dharmaswami figur yang fenomenal dan kontroversial. Jenis kelamin laki-laki. Tempat dan tanggal lahir tidak jelas diketahui. Agamanya pasti Hindu. Dewa pujaannya Shiwa. Pekerjaannya pertapa. Gelar spiritualnya bhagawan. Statusnya, tidak beristri dan tiada beranak [sepanjang yang diketahui dari cerita]. Riwayat pertapaannya, terlampir di bawah ini.
Beliau adalah seorang pemuja Shiwa yang taat. Ritual pertapaannya sesuai dengan tuntutan tradisi pada jamannya. Beliau memiliki sebuah tempat suci. Setiap pagi, siang, dan malam beliau melakukan pemujaan di tempat suci itu. Selain pemujaan, beliau juga melakukan dengan tekun apa yang disebut tapa, brata, yoga, samadhi. Tidak ada yang kurang Tidak juga ada yang terlalu dilebih-lebihkan. Beliau seorang pemuja dan spiritualis. Tidak main-main, tempat sucinya pun ada di tengah hutan. Beliau bukan seorang pemuja yang buta, beliau adalah seorang pemuja yang berpikir dan bernalar. Dan beliau bertapa tidak membawa senjata. Pertanda beliau bukan pemburu kebenaran di jalan perang. Tapi pemburu kebenaran di jalan memohon.
Demikianlah cara beliau mensiasati misteri kehidupan yang tidak mampu dipecahkannya. Hanya dengan pertolongan Shiwa, beliau akan mendapatkan inspirasi. Dan dengan inspirasi itu, beliau mungkin akan mampu menguak sedikit demi sedikit misteri sangkan paraning dumadi [asal dan tujuan penjelmaan], witning sarwadadi [sebab-musabab segala yang ada], tattwa aditattwa [hakikat dari hakikat tertinggi], dan seterusnya, dan selanjutnya. Tujuannya hanya satu, amor ring acintya [bersatu padu dengan Yang Tak Terpikirkan]. Tanpa sisa. Seperti anapaki kuntul anglayang [mencari jejak bangau terbang]. Bersih langit tanpa meninggalkan apa yang banyak pertama sebut karmawasana [sisa-sisa perbuatan]. Tan pabalikan [tidak ada jalan kembali].
Sebagai pembaca kita tidak tahu, apakah tujuan itu murni hasil perenungannya, atau itu adalah cita-cita yang diberikan oleh bacaannya. Maksudnya, kita tidak tahu apakah itu buah perenungan buddhinya atau hasil kerja inteleknya. Kita juga tidak tahu, apakah perjumpaan pertama dengan dewa pujaannya adalah kenyataan atau fantasi. Karena apa yang dikatakan oleh pertapa adalah apa yang ia inginkan agar orang tahu. Apa yang orang tidak boleh tahu, tidak dikatakannya. Sekali lagi, di dalam dunia kata, yang ada hanya kemungkinan-kemungkinan.
Shiwa yang bersifat anima [kecil sekecil-kecilnya kecil], masuk ke dalam pikiran Dharmaswami. Ia menjadi satu dari Dewasaksi. Dari dalam pikiran itulah Shiwa Yang Mahatahu mengamati gerak-gerik Dharmaswami. Tidak ada yang tidak diketahui Shiwa. Tidak ada yang luput dari pengamatan dan pantauannya. Dharmaswami tidak ngeh tentang itu.
Dua kewenangan Shiwa, yaitu memberikan anugerah dan menjatuhkan kutukan. Untuk Dharmasvami ternyata Shwa sudah tahu apa yang akan diberikannya. Berdasarkan penilaian ini dan itu, ia cocok diberi anugerah. Shiwa tentu saja tidak mengatakan kepada Dharmasvami tentang rencana beliau. Karena pada jaman itu, orang tidak ditanyai apakah ia mau diberi anugerah atau tidak. Sama dengan prosedur penjatuhan kutukan. Orang tidak ditanya apakah ia mau menerima kutukan atau tidak. Anugerah dan kutukan jatuh seperti lahirnya seorang bayi. Mau tidak mau, bayi itu lahir. Apakah ‘anugerah bayi’ itu akan hidup terus atau langsung mati, itu masalah lain.
Maka pada suatu hari alangkah terkejutnya Dharmasvami. Pagi-pagi sebelum menggelar pemujaan kepada Shiwa, ia melihat seekor lembu di tempat sucinya. Ia langsung tahu lembu itu bukan lembu biasa, tapi anugerah dari Shiwa. Entah bagaimana cara kerja pikirannya, ia bisa tahu detik itu juga. Barangkali “langsung tahu” itu adalah ciri khas kerja  pikiran seorang pertapa.
Sebagai seorang pemuja tentu saja Dharmasvami bersyukur teramat-amat atas anugerah itu. Ternyata kerja kerasnya selama ini telah berhasil menembus alam Shiwaloka, sehingga Shiwa sendiri yang mengirimkan anugerah. Ternyata dirinya cukup diperhitungkan di alam atas sana. Kenyataan ini sangat membesarkan hatinya. Tentu saja kian menambah semangatnya untuk melipatgandakan pemujaan pada hari-hari berikutnya. Seperti seorang murid, pujian guru lebih memicunya untuk maju daripada sebuah hukuman. Hatinya berbunga-bunga. Bunga hatinya berbuah-buah. Tidak lama lagi, ia akan menjadi seperti yang difantasikannya, seorang pertapa sukses.
Namun demikian, sebagai seorang yang berpikir dan bernalar beliau heran. Kenapa Shiwa memberinya anugerah berupa lembu jantan? Sebagai seorang pertapa tentu akan lebih spiritual kalau dianugerahi lembu betina. Dari seekor lembu betina ia akan mendapat susu setiap harinya dengan cara memerahnya. Dan di antara semua jenis bhoga [makanan] yang layak disantap pertapa, susu adalah sari-sari. Kalau diminum, sari-sari itu akan menjadi isi dan sekaligus penjernih pikiran. Dengan kejernihan pikiran, ia akan semakin dekat dengan Pujaannya. Karena bukankah Shiwa yang suci hanya bisa didekati dengan kesucian. Bukakah yang jernih hanya bisa didekati dengan kejernihan. Api dipancing dengan api. Suci dipancing dengan suci.
Tapi, apa pertimbangan Shiwa memberinya lembu jantan?
Pertanyaan itu tentu tidak bisa ia ajukan langsung kepada Shiwa. Karena Shiwa berwujud hana tan hana [ada dan tiada]. Pertanyaan itu ia tujukan kepada kecerdasan dan ketajaman otaknya sendiri. Mulailah ia mengupas-ngupas untuk mengetahui motif di balik anugerah tak lazim itu. Lembu jantan tidak menghasilkan susu, tapi ia adalah sumber dari bayu [tenaga kasar]. Apakah Shiwa ingin menyindirnya, bahwa level spiritualnya masih pada lapis luar yang kasar? Ia tidak percaya kalau Shiwa punya waktu untuk menyindir. Ia tidak yakin Shiwa punya sifat suka nyindir. Menurut perenungannya, biasanya Shiwa langsung pada akar permasalahan, to the point. Shiwa bukalah dewa yang mencla-mencle. Kalau tidak memberikan anugerah, Shiwa akan menjatuhkan kutukan. Anugerahnya tidak bisa ditolak. Kutukannya tidak bisa dibatalkan. Bahkan tidak bisa dibatalkan oleh diri beliau sendiri. Karena beliau juga terikat oleh doktrin satyawacana [setia pada ucapan]. Sebuah kata yang telah diluncurkan dari mulut, tidak akan bisa disedot kembali. Seperti anak panah, kata itu akan menuju sasaran. Mungkin bisa dibelokkan dengan meluncurkan kata susulan yang lain. Tapi pembelokkan itu akan sia-sia. Karena sebuah kata yang telah “penuh”, bila dibelokkan, akan bisa berbalik menyerang pengucapnya. Dan itu sangat berbahaya bagi spiritualitas. Makanya, Shiwa tidak melakukan pembatalan atas kutukannya.
Untuk Dharmaswami Shiwa mengirim seekor lembu jantan. Pertanyaannya tidak lagi kenapa seekor lembu jantan, tapi kenapa Dharmaswami pikir itu anugerah? Pelajaran pertama dalam berpikir adalah identifikasi. Dan pertapa Dharmaswami mengidentifikasikan lembu jantan sebagai bukan kutukan! Apakah beda anugerah yang salah dengan cara berpikir tidak benar?*

SETELAH menganalisa dari berbagai aspek, sakala dan niskala, Dharmasvami berkesimpulan: apa pun bentuknya, anugerah Shiwa harus disyukuri. Cara mensyukuri anugerah adalah dengan menerimanya. Penerimaan yang positif adalah memanfaatkannya demi kepentingan Dharma. Bila dimanfaatkan dengan baik maka sebuah anugerah akan baik. Bila dimanfaatkan dengan tidak baik, maka sebuah anugerah akan sia-sia. Tapi, benarkah Dharma punya kepentingan?
Maka mulailah Dharmasvami dengan hidup barunya. Ia memanfaatkan lembu jantan itu untuk mengumpulkan kayu bakar. Pagi berangkat ke hutan,  sore kembali ke pasraman dengan setumpuk kayu bakar di punggung lembu. Kayu bakar itu digunakannya untuk memperbesar api pemujaan, menghangatkan pertapaan yang dingin pada musimnya, untuk membuat terang sudut-sudut yang gelap, dan untuk membuat matang makanan yang disantapnya setiap hari. Dengan cara seperti itu, ia telah membuktikan bahwa anugerah itu memang tepat. Terbukti pasramannya semakin terang. Pemujaannya semakin besar. Dan makanannya semakin enak. Tubuhnya semakin padat berisi. Bukankah itu tanda kehidupan, kemakmuran, kesuburan?
Lembu jantan yang kuat itu setiap harinya ternyata mengumpulkan kayu bakar lebih dari yang dibutuhkan. Lembu itu sangat rajin bekerja. Tidak pernah malas-malasan. Tidak pernah sakit. Tidak pernah capek. Lembu ajaib, begitu pikir Dharmasvami bangga. Benar-benar lembu anugerah Shiwa. Kayu bakar tertumpuk memenuhi pasraman. Bahkan sampai ke jalan.
Timbul masalah kecil dan sepele, akan ia apakan kayu bakar yang banyak itu? Jalan keluar yang dipilihnya: bawa ke pasar dan jual. Alasan pembenar yang ia pegang adalah: uang hasil penjualan akan ia gunakan untuk memperbaiki tempat sucinya yang sudah usang kayu-kayunya, dan untuk memperluas halaman agar leluasa melakukan pemujaan, dan membangun taman bunga di sekelilingnya agar pandangan mata menjadi sejuk sebelum melakukan pemujaan. Sesaji persembahan juga akan ditingkatkan kwantitas dan kualitasnya. Semua itu memerlukan uang yang tidak sedikit jumlahnya, dan harus benar cara memperolehnya. Bekerja keras mengumpulkan kayu bakar dan kemudian menjualnya adalah cara mendapatkan uang yang tidak salah menurut sasana, [kode etik],  pertapa.
Maka mulailah Dharmasvami menekuni hidup barunya, bisnis kayu bakar. Pekerjaan itu dilakukannya dengan kerendahan hati. Jualan demi pemujaan. Uang demi upacara. Semua itu berpulang pada rasa bhaktinya kepada leluhur dan kepada Shiwa. Bukankah Dharma, artha, dan kama harus didapatkan agar mencapai keseimbangan di dunia dan di akherat? Begitu pikir beliau terus bertimbang-timbang.
Kerendahan hati, kesungguhan kerja, kejujuran, dan ditunjang oleh lembu jantan yang misterius, maka dalam tempo singkat usaha kayu bakarnya berkembang melebihi yang dibayangkannya. Luar biasa. Ia sendiri heran dengan dirinya. Selain berbakat menjadi pertapa, ternyata ia juga pedagang bertangan dingin. Dan ia baru menyadari dirinya memiliki potensi terpendam seperti itu. Bukankah bakat-bakat itu adalah anugerah alam yang harus disyukuri?
Pertanyaan itu dijawabnya dengan tindakan kongkret. Dharmasvami berpikir, lembu jantan anugerah itu sudah lama mengabdi kepadanya sehingga layak diberikan beberapa sapi asisten agar pekerjaannya tidak terlalu berat. Dharmasvami kemudian membeli puluhan sapi jantan sebagai tenaga angkut diperbantukan pada lembu jantan anugerah Shiwa. Lembu jantan tidak lagi sendirian. Ia telah dijadikan semacam lembu senior yang bertugas selain sebagai koordinator juga memberikan supervisi kepada sapi-sapi yang baru direkrut.
Entah berapa tahun kemudian, semuanya berjalan baik-baik saja. Dharmasvami telah berjalan jauh. Jauh sekali. Di keramaian pasar orang mengenal Dharmasvami sebagai seorang pengusaha kayu bakar dan pemilik ratusan ekor sapi dan ratusan gerobak angkut. Perubahan dari pertapa-pemuja Shiwa ke pengusaha sukses berlangsung secara mulus, alamiah, perlahan, sampai ia sendiri tidak tahu kapan sesungguhnya dirinya telah berubah. Seperti anak kecil yang tidak kelihatan perubahannya, tiba-tiba sudah menjadi remaja yang fasih berbicara so what, be your self, positive thinking. Dengan pikiran positif maka perubahan dipandang sebagai perkembangan.
Sebuah anugerah yang salah. Begitukah cara Shiwa menyingkirkan orang-orang yang tidak dikehendakinya? Diberinya orang itu mainan yang mengasyikkan, dan dengan permainan baru itu, ia akan melupakan tujuan awalnya. Tapi, mengapa Shiwa tidak menghendaki Dharmasvami sebagai orang yang menempuh jalan yang akan menghubungkannya dengan Shiwa? Seperti Dharmasvami, saya pun tidak bisa mengajukan pertanyaan itu langsung kepada Shiwa, karena beliau tan kahidepan [tak terpikirkan]. Saya ajukan pertanyaan itu untuk diri sendiri. Tapi saya tidak ingin mencari-cari sejumlah kesalahan Dharmasvami yang mengakibatkan ia disingkirkan oleh Pujaannya sendiri. Kesalahan itu pasti ada. Dan itu sangat manusiawi. Apakah karena itu manusiawi maka dewa-dewa tidak menyukainya. Apakah kesucian takut pada kepintaran sehingga banyak pertapa pintar disingkirkan dengan memberinya anugerah?
Yang ingin saya cari dan dapatkan adalah sebaliknya. Pembenar apa yang bisa menjelaskan bahwa sebagai pengusaha kayu bakar sesungguhnya Dharmasvami tidak bergeser sedikit pun dari Shiwa. Saya tidak ingin berpikir bahwa pertapa itu lebih tinggi daripada pedagang kayubakar, demikian pula sebaliknya, pedagang kayu bakar tidak lebih rendah dari pada pertapa. Tidak juga saya mau berpikir bahwa pekerjaan yang satu lebih mengikat daripada pekerjaan yang satunya lagi. Bagi saya kedua pekerjaan itu dan juga pekerjaan yang lainnya sesungguhnya sama. Sama-sama mengikat dan sama-sama berpotensi membebaskan. Agama pun bila ternyata mengikat pemeluknya tidak akan mengantarkan ke mana-mana. Dalam kasus Dhamasvami pembenar itu tidak mampu saya temukan. Karena fakta mengatakan, ia memang telah bergeser. Dengan cara seperti itukah Shiwa menyingkirkan pemuja yang tidak dikehendakiNya. Diberinya pemuja itu permainan yang mengasyikkan.  Dalam kehidupan yang akan datang, Dharmaswami harus mengulangi kariernya sebagai pertapa, dengan kewaspadaan tinggi pada apa yang publik sebut  anugerah!* [ibm. dharma palguna].

sumber: parisada.org (yang dikalahkan)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: