Oleh: Gusti Sudiartama | Februari 9, 2011

Mati Cara bali (1) Mati cara Prabhu Widharba



Kitab Ganapatitattwa menyebutkan: “kalau kamu mendengar bunyi halus Arddhacandra, Bindu, Nada, jadi datang kematian itu.”(12) Lebih terperinci tentang tanda-tanda datangnya kematian dibicarakan dalam lontar Swacanda Marana. Bunyibunyi halus dan dalam din merupakan tanda-tanda yang paling dominan. Bentuk-bentuk halus yang nampak ketika mata tertutup juga disebutkan sebagai pembawa pesan datangnya kematian. Walau tidak disebutkan secara eksplisit, Prabhu Widharba tahu tentang semua ajaran itu. Pada masanya tanda-tanda datangnya kematian dirasakannya. Maka dipanggilnya pandita Shiwa-Buddha, para menteni, dan anggota keluarga, serta kedua anaknya yang bernama Bhoja dan Indumati. Karena ada yang hendak disampaikannya sebelum mati. Ketika Sang Hyang Jiwa yang terus bergerak

sudah ada di lehernya dan denyut jantungnya melemah, Prabhu Widharba pun menyiapkan din. Dengan penuh keyakinan ia memusatkan pikiran seperti yang diajarkan oleh para Yatlshwara [pertapa utama]. Seperti mengarahkan anak panah pada sasaran, begitulah cara Sang Prabhu memusatkan pikiran, sedikit pun tidak melempas. Petunjuk para YatIshwara antara lain seperti ini:

Belenggu ikatan pada tubuh diputuskannya, pikirannya semata hening.
Kalepasan menjadi tujuan, Mudra-nya menutupi persimpangan jalan.
Dengan mantra Sang Prabhu berhasil menguasai tubuh, sekaligus melesat.
Alam Kewalya dituju, halus tak terpikirkan, bersamaan saat Shiwamarga terbuka. (13)

Apa yang disebut pemutusan ikatan pada tubuh dalam kutipan di atas menimbulkan tiga penafsiran. Pertama, menghentikan kontak Dasendriya [sepuluh indera] dengan objeknya masing-masing. Kedua, membersihkan Karmawasana [sisa-sisa perbuatan] yang melekat pada pikiran. Menurut kitab Wrehaspati-Tattwa pembersihan Karwawasana sangat sulit dan memerlukan waktu sangat lama. Namun demikian ada mantra-mantra tertentu untuk mempercepat proses pembersihan Karmawasana itu. Tafsir ketiga, melepaskan cengkraman tubuh pada Atma. Sebagai energi hidup di dalam tubuh, Atma adalah representasi Shiwa. Ia menyusup di seluruh bagian tubuh dan terkurung di sana dengan Karmawasana itu sebagai ‘makanan’nya. Membebaskannya dan cengkraman tubuh, yang pada intinya dalah Pancamahabhuta dan Pancatanmatra adalah bagian terpenting dan ajaran Kalepasan. Hanya dengan pemutusan ikatan itulah disebutkan Atma bisa dibebaskan. Inilah yang dalam Kakawin Dharma Shunya disebut sebagai langkah yang tak kembali [upaya tan pabalikan]. Saat ikatan pada tubuh ilu telah diputuskannya, manah diheningkannya. Manah adalah rajanya seluruh indera. Ia akan hening kalau ia diam.

Seperti sebuah perjalanan, proses pelepasan Atma mungkin akan menemukan persimpangan jalan, hambatan dan halangan lairinya. Untuk itu Sang Prabhu menyiapkan din dengan sarana lainnya. Mudra [patanganan] dilakukannya untuk menutupi persimpangan itu. Dengan mantra Sang Prabhu mengumpulkan dan kemudian memusatkan pada satu titik semua Bayu yang ada di dalam tubuh. Menurut sumber tertulis, mantranya adalah Ah Ang, sebagaimana ditunjukkan dalam teks Sang Hyang Pranawa-Jnana Kamoksan.(14) Dan melesatlah Atma Sang Prabhu. Alam Kewalya itulah yang kemudian dituju saat terbukanya Shiwamarga. Menurut kitab Bhuwanakosa, Alam Kewalya adalah alam Shunya. Menurut Swacanda Marana, jika Atma pergi bersaranakan Ongkara, itulah yan disebut Shiwamarga. Karena Atma pergi menuju Shiwaloka.

Menurut teks Sang Hyang Kahuwusan Jati Wisesa, ada tiga jalan lepasnya Atma dan tubuh. Pertama, jalan melalui Shiwadwara [ubun-ubun], Atma bergerak ke atas menuju tempat dua belas jan di atas kepala. Kedua, jalan melalui ujung hidung. Ketiga melalui apa yang disebut Tutud [hati?]. Ketiga jalan itu disebut sebagai jalan peleburan Sang Pandita. Bila berhasil di salah satu dan ketiga jalan itu, disebuikan Sang Pandita tidak akan menjelma kembali sebagai manusia. Kakawin Sumanasantaka tidak menyebutkan yang mana dan ketiga jalan itu yang terbiika pada saat Prabhu Widharba melepaskan Atmanya.

Ada versi lain tentang pembagian jalan lepasnya Atma dan tubuh. Kitab Ganapati-Tattwa menyebutkan bila Atma ke luar melalui Babahan Sanga [sembilan pintu gerbang] itulah yang disebut sebagai jalan Nistha. Sembilan gerbang adalah tujuh gerbang di atas [dua lubang mata, dua lubang hidung, dua lubang telinga, dan satu lubang mulut] dan dua gerbang di bawah [kemaluan dan anus]. Selanjutnya, apabila Atma ke luar melalui jalan ubun-ubun, itulah yang disebut sebagai jalan Madhya. Jalan Utama ketika Atma ke luar melalui ujung Sabda, atau mulut.

Tentang perbedaan dua versi itu belum banyak yang bisa dibicarakan, karena belum diteliti secara menyeluruh. Belum bisa ditentukan apakah perbedaan itu bersumber dari dua “sekolah” berbeda, atau semata-mata perubahan redaksi. Singkat kata, Sang Prabhu berhasil melepaskan Atmanya disaksikan para hadirin. Ia mati dengan sarana. Dua sarana penting yang disebutkan adalah Mantra dan Mudra. Yang masih hidup ditinggalkan oleh yang mati. Yang hidup kemudian menangisi dirinya sendiri. Karena mereka merasa kehilangan. Sri Prameswasri kemudian mendekat dan menyembah tubuh Sang Prabhu. Dengan bulat hati ia menyatakan ikut mati. Maka segera ia mengakhiri hidupnya. Mpu Monaguna menyebut mati seperti itu Apaksa Pejaha [mati sepihak].

(8)   Nghing sang pandita sang huwus tumemu ng astaguna sira wenang marerika [1.16].
(9)   Cakra paling dasar dan Satcakrabedha dalam system Kundalini Raja Yoga.
(10) Ikang hala gawemu tan wurung amangsulana malesaneri ko mene. Manusya temahamwa tan waluya ring
Surapada wekasamwa dewati. [371].
(11) Huwus pranata bhakti tan pasaranasraya mati lumah ing pamancanan [9.11.
(12) Yan angrengo kita sabda fling arddharandra, bindunada, ,nangke tekaning patinta [Devi, ed. 1958: 159].
(13) Terjemahan wirama X bait 33 Kakawin Sumanasantaka oleh penulis.(14)Lihat Jnanasiddhanta, ed. Soebadio, 1971:76: Ganapati-tattwa, ed. Devi, 1958:161.

sumber Parisada.org/Sumanasantaka:pengantar Mati Cara bali


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: