Oleh: Gusti Sudiartama | Februari 9, 2011

Memberikan, Mendamaikan, dan Menyembuhkan


Gede Prama

Masalah, masalah, masalah, itulah keseharian manusia di bumi ini. Presiden AS Barack 0bama sudah dua kali batal datang ke Indonesia. Ini menunjukkan rumitnya kehidupan di sana. Dulu, krisis utang hanya menjadi cerita negara berkembang, sekarang Yunani mengalami krisis utang.

Negeri ini serupa. Reformasi yang diharapkan menyudahi banyak masalah malah menambah masalah. Dari tarik-menarik kepentingan yang rumit di tingkat atas sampai terbakarnya banyak orang oleh kompor gas di tingkat akar rumput.

Digabung menjadi satu, kerumitan hidup manusia meningkat di mana-mana. Mungkin karena rumitnya, Sheila McNamee dan kawan-kawan (1992) memberi judul karyanya Therapy as Social Construction.

Jalan keluar komprehensif tak pernah datang dari satu pihak saja. Kita perlu mengonstruksinya bersama-sama. Sayangnya, upaya ini yang sulit dilakukan.

Lem perekat
Dibandingkan dulu, nafsu manusia untuk selalu untung kini demikian besar. Jadilah masyarakat seperti permainan tarik tambang. Tempat-tempat manusia berkumpul yang dulu sejuk dengan saling memberi, sekarang dipenuhi pemburu keuntungan.

Seorang sahabat yang rajin meditasi di sejumlah tempat menceritakan, kian banyak manusia datang ke sebuah tempat, kian panas hawanya. Di Barat malah lebih menyentuh hati, tempat ibadah sebagian tidak saja kehabisan pengunjung, malah dijual.

Salah satu sisi kehidupan masyarakat tradisional yang layak diteladani adalah kegembiraan mereka dalam memberi. Itu sebabnya, Marcel Mauss (1990) memberi judul karyanya The Gift: The Form and Reason for Exchange in Archaicsocieties.

Dalam karya antropologi indah ini terlihat lem perekat yang menyatukan masyarakat tradisional adalah sukacita dalam memberi. Lebih dari itu, mereka berjumpa kedamaian dalam pemberian.

Banyak sekali sisi-sisi kehidupan kekinian di mana manusia bisa memberi. Dari berbagi senyuman, mendengarkan keluhan, memberi kesempatan dulu bagi orang yang buru-buru, memberi tempat duduk kepada orang tua di tempat publik, memegang pintu bila di belakang ada orang, menghormati pemimpin, menyayangi anak-anak panti asuhan atau orang tua di panti jompo, sampai mengalah sama anak-anak di rumah.

Syukur-syukur bisa ikut membimbing masyarakat menuju kebajikan.

Dan bagi siapa saja yang sudah terbiasa memberi akan mengerti, ketika memberi sejatinya manusia tidak hanya membantu, melainkan juga membangunkan sifat-sifat baik dalam diri. Bunda Theresa contoh yang teramat bercahaya.

Sementara manusia kebanyakan teramat sibuk memenuhi keuntungan diri sendiri, ia memperuntukkan seluruh hidupnya untuk orang lain. Dan terlihat jelas, tidak saja warga Kalkuta yang sempat dibantu yang menikmati hasilnya, hidup Bunda Theresa jadi monumen pemberian yang masih bercahaya sampai ribuan tahun ke depan.

Tidak banyak manusia terlahir sebercahaya Bunda Theresa, diberi kesempatan dikenal dunia. Namun, kita orang biasa bisa membuat perbedaan melalui tindakan kecil yang tak dikenal.

Dari mematikan keran air yang lupa dimatikan; mendonorkan darah; membersihkan kloset umum yang ditinggalkan petugasnya; memungut sampah yang dibuang sembarangan; menolak penggunaan tas plastik; mengurangi penggunaan sabun, sampo, dan tisu; memberi makan burung atau anjing liar; sampai memindahkan batu di jalan yang membahayakan pengendara lain.

Seorang guru yang rajin melakukan hal-hal seperti ini berpesan: ”Lihatlah alam. Dari bukit sejuk sampai bintang bercahaya di langit. Tidak ada hal lain yang dilakukan mereka terkecuali memberi. Hasilnya, tidak terdengar ada bukit yang bertengkar, tidak terdengar ada bintang yang mengeluh. Ujung-ujungnya, mereka damai.”

Ini memberi inspirasi tambahan, memberikan ternyata mendamaikan!

Keterhubungan
Lebih dari sekadar mendamaikan, pemberian mudah membuat manusia terhubung. Ia yang lama menyatu dalam keterhubungan, suatu waktu merasakan, ternyata semua makhluk terlahir agar kita tercerahkan.

Dalam salah satu dialog kosmis, ada yang berbisik: ”Ketika para makhluk menyakiti, sesungguhnya sedang mengajarkan kesabaran. Tatkala bersedih, sebenarnya sedang membangkitkan energi kasih sayang di dalam sini. Saat mereka berbahagia, menjadi ujian seberapa bahagia manusia bisa melihat orang lain bahagia. Manakala para makhluk melayani, manusia sedang melihat cermin kebaikan hatinya”.

Cermati alam sebagai wakil keterhubungan, ia menyediakan bahan-bahan pencerahan berlimpah. Pepohonan terus berbagi oksigen.

Hasilnya, sejuk dan teduh. Danau menyediakan diri sebagai tempat banyak makhluk bertumbuh. Ujung-ujungnya, terlalu banyak kehidupan yang merasakan kesejukan di danau.

Dalam terang pemahaman seperti ini, bisa dimaklumi ahli neurosains, Francisco Varela, menemukan istilah the biology of compassion. Kasih sayang juga menyembuhkan. Ini mirip dengan penelitian yang menyimpulkan manusia yang memiliki binatang peliharaan yang disayangi di rumah memiliki risiko terkena serangan jantung lebih kecil dibandingkan yang tidak. Ini memberi inspirasi, memberi juga menyembuhkan.

Dalam kebijaksanaan Timur, ruang digunakan sebagai simbol pencerahan. Batin tercerahkan, demikian pesan tetua, serupa ruang. Air tak bisa membuatnya basah, api tidak bisa membuatnya terbakar.

Ruang adalah simbol kasih sayang tak terbatas karena memberi tempat kepada apa saja dan siapa saja bertumbuh. Langkah terpenting, membuat batin tercerahkan seperti ruang adalah rajin memberikan karena memberi itu mendamaikan sekaligus menyembuhkan.

sumber: parisada.org

Gede Prama  Penulis buku ”Sadness, Happiness, Blissfulness: Transforming Suffering Into the Ultimate Healing”. [KOMPAS – Sabtu, 28 Agustus 2010 | 04:51 WIB].

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: