Oleh: Gusti Sudiartama | Februari 10, 2011

Mati Cara Bali (2) Cara Mati Dyah Harini

Dyah Harini seorang Apsari diutus Indra mengagalkan tapa Trnawindu. Ia bersedia melakukan pekerjaan itu hanya karena rasa bhakti pada Indra melebihi rasa sayangnya pada diri sendiri. Misi itu tidak akan membuahkan kebahagiaan walaupun seandainya berhasil. Kalau gagal sudah pasti mendapat kutukan. Karena pekerjaan itu bukan Swadharma sendiri.
Tersebutlah lima gunung yang tingginya luar biasa. Hanya pandita yang telah mendapatkan Astaguna bisa ke gunung itu.”(8) Karena gunung itu adalah Pancagiri yang tersebar di lima perjuru langit:

Gunung Windhya, Gunung Indrakila, Rewatagra, Gandhamadana, Gunung Himawan. Pertapaan Trnawindu terdapat di lereng selatan Gunung Himawan. Pada saat itu Trnawindu sedang melafalkan Japam memusatkan pikiran pada Shiwa. Sadar ada tamu mendatangi pertapaannya dan tahu tamu ini seorang perempuan tidak biasa, ia pun mengikat erat Muladhara Cakra-nya.(9) Tidak sulit bagi Trnawindu untuk mengetahui niat tamunya menggagalkan tapanyá dengan mempermainkan rasa asmaranya. Secuil pun ia tak takut pada godaan itu. Karena pengetahuannya jauh lebih luas dan lebih dalam daripada rencana Indra itu. Maka dengan tenang ia berkata: “Buruknya perbuatanmu niscaya nantinya akan berbalik membalas padamu. Manusialah penjelmaanmu tidak kembali ke alam dewa, berhenti menjadi dewati.”(10)

Patahlah hidup Harini mendengar Sapa [kutukan] itu. Ia sadar ucapan orang suci pasti akan terjadi. Ia sujud di hadapan Trnawindu mohon ampun agar dikembalikan ke alam dewa. Permintaannya yang sungguh-sungguh dan jujur menyebabkan Trnawindu mengucapkan Antasapa [penolak kutukan]. Kelak Harini akan kembali menjadi Apsari dengan sarana sekuntum bunga Sumanasa. Bunga itu akan membebaskarinya sebagai manusia. Setelah mengucapkan penolak kutukan itu, Trnawindu menyuruh Harini menyiapkan diri untuk mati.
Harini pun berpamitan untuk mati. Ia menyembah Trnawindu sambil terus mengusap air mata dengan selendangnya. Setelah sujud bakti, tanpa sarana mencari mati, ia rebah di tempat.”(11) Ia mati tanpa sarana. Tubuh Harini yang tiada lain adalah alam itu sendiri akhirnya dikembalikan ke alam dan menjadi alam. Api mempercepat proses pengembalian itu. Api itu tidak datang dari mana-mana. Tapi berasal dari bekas tubuh itu sendiri. Trnawindu mampu menghidupkannya. Berkobar-kobar cepat api itu memakan sisa tubuh. Tapi sedikitpun api itu tidak membakar benda-benda yang ada di sekitarnya. Selesai. Api itu mati. Asapnya tidak kelihatan.

Demikian cara mati Harini. Tanpa sarana. Oleh dirinya sendiri. Dan cara mati tokoh lainnya, akan dibicarakan nanti, yang dimaksud sarana adalah Mantra dan Mudra dan seterusnya. Harini mati tanpa semua itu. Apakah mati tanpa sarana adalah mati cara Apsari? Barangkali tidak! Karena dalam lontar Bhairawa-Tattwa mati tanpa sarana itu dipertontonkan oleh Prabhu Candra Bhairawa dalam satu perlombaan mati dan menangkap Atma melawan Prabhu Yudhistira. Candra Bhairawa adalah manusia, bukan Apsara. Sedangkan mati dengan sarana dipertunjukkan oleh Yudhistira. Perlombaan itu dimenangkan oleh Candra Bhairawa. Yudhistira kalah. Apakah mati tanpa sarana lebih tinggi daripada mati dengan sarana?

Sumber: http://www.parisada.org (Sumanantaka:Mati cara bali)

(8)   Nghing sang pandita sang huwus tumemu ng astaguna sira wenang marerika [1.16].
(9)   Cakra paling dasar dan Satcakrabedha dalam system Kundalini Raja Yoga.
(10) Ikang hala gawemu tan wurung amangsulana malesaneri ko mene. Manusya temahamwa tan waluya ring
Surapada wekasamwa dewati. [371].
(11) Huwus pranata bhakti tan pasaranasraya mati lumah ing pamancanan [9.11.
(12) Yan angrengo kita sabda fling arddharandra, bindunada, ,nangke tekaning patinta [Devi, ed. 1958: 159].
(13) Terjemahan wirama X bait 33 Kakawin Sumanasantaka oleh penulis.(14)Lihat Jnanasiddhanta, ed. Soebadio, 1971:76: Ganapati-tattwa, ed. Devi, 1958:161


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: