Oleh: Gusti Sudiartama | Februari 11, 2011

SANYASA – adalah sebuah tingkatan mental

Sanyasa sebenarnya hanyalah sebuah keadaan mental. Sanyasa adalah  pewarnaan hati dan bukan pewarnaan jubah. Ia adalah seorang Sanyasin sejati yang telah melepaskan diri dari semua jenis Ego dan nafsu yang memiliki semua kualitas Satvika, meskipun ia tinggal di dalam keluarga dan bising dunia. Chudala adalah seorang ratu dari para Sanyasin, meskipun ia adalah seorang ratu yang memerintah kerajaan. Sanyasin yang tinggal di dalam hutan, namun pikirannya penuh dengan nafsu akan menjadi jauh lebih buruk daripada pelaku rumah tangga dan orang duniawi yang awam. Sikhidvaja adalah orang duniawi, meskipun ia tinggal di dalam hutan dengan telanjang badan selama bertahun-tahun.

Pengasingan yang sebenarnya adalah meninggalkan semua nafsu, keinginan, egoisme dan vasana. Jika anda memiliki pikiran yang tidak ternoda, pikiran yang terbebas dari segala keterikatan, egoisme dan nafsu maka anda adalah seorang Sanyasin – tanpa peduli apakah anda tinggal di hutan atau di tengah kebisingan kota, apakah anda mengenakan kain putih atau jubah biksu, apakah anda berkepala botak atau gondrong akan sama saja.

Potonglah rambut pikiran anda hingga botak. Seseorang menanyakan Guru Nanak, ‘Tuan yang suci, mengapa anda tidak memotong rambut (seperti biksu)? Anda adalah seorang Sanyasin” maka Guru Nanak menjawab, “sahabatku, aku telah memotong pikiranku.” Pada kebenarannya adalah bahwa pikiranlah yang harus dipotong dari segala keterikatannya. Memotong pikiran berarti membersihkan pikiran dari segala keterikatannya, nafsunya, egoismenya, Moha, birahi, angkara, kemarahan dan sebagainya. Ini adalah pemotongan yang sebenarnya. Menggunduli kepala eksternal tidak akan bermakna jika tidak disertai dengan pemotongan segala kecenderungan pikiran.

Kebanyakan orang tidak memahami apa itu melepaskan keduniawian. Meninggalkan benda atau hal phisik bukanlah meninggalkan yang sebenarnya. Tyaga yang sejati adalah meninggalkan Ahamkara. Jika anda bisa meninggalkan Ahamkara, maka anda telah meninggalkan segalanya di dunia ini. Jika Ahamkara yang terhalus telah terhapus sedemikian rupa, maka Dehadhyasa (identifikasi dengan tubuh) akan secara otomatis menghilang.

Vedanta tidak menginginkan anda untuk meninggalkan dunia. Ia hanya ingin anda mengubah sikap mental anda dan meninggalkan ‘Aku’ yang ilusif dan ‘kemilikan’. Pawang ular hanya akan melunakkan racun di taring ular tangkapannya. Akan tetapi ularnya akan tetap sama. Ia mendesis, mengangkat kepala dan memperlihatkan giginya. Ular itu tetap melakukan apa-apa seperti sebelumnya. Pawang ular telah merubah sikap mentalnya terhadap ular. Ia telah memiliki pengetahuan yang kokoh bahwa ular itu sudah tidak memiliki bisa lagi. Maka demikianlah anda hendaknya melunakkan kedua taring pikiran yang berupa Ahamta (keakuan) dan Mamata (kemilikan). Maka anda akan bisa membiarkan pikiran mengembara kemana ia suka. Sedangkan anda sendiri akan senantiasa berada dalam Samadhi.

Anda juga harus meninggalkan Tyagbhimana. Tyagabhimana sangat dalam tertancap. Maka anda harus meninggalkan semua gagasan “Aku telah meninggalkan segalanya” atau ‘Aku adalah seorang Tyagi yang agung” – abhimana seperti ini yang terdapat pada seorang Sadhu akan lebih buruk daripada Abhimana yang terdapat pada pelaku rumah tangga, “Aku adalah tuan tanah; Aku adalah Brahmana dan sebagainya.”

sumber: Pikiran, Misteri dan penaklukannya; Sri Svami Sivananda; Paramita;

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: