Oleh: Gusti Sudiartama | Februari 13, 2011

Mati cara bali (3) :Mati Cara Sang Raghu

Sang Raghu adalah ayah Aja, atau kakeknya Dasarata, atau buyutnya Rama, yang kita kenal melalui Kakawin Ramayana. Di Mrtyupada [dunia kematian] ini, telah lama ia menikmati suka. Terlebih lagi semenjak kedatangan Sang Aja yang menang sayambara memperebutkan seorang dewi sejati bernama Indumati. Dalam usianya yang tua ia kemudian memasuki tahapan hidup Wanaprastha. Semua indera telah berhasil dikuasainya, sehingga tidak lagi liar mencari kenikmatan objek yang pada akhirnya hanya memberikannya ikatan. Keadaannya seperti terbalik, rasa menjadi seperti tiada rasa, semua objek indera seperti sudah kehilangan rasa. (15)

Sebagai seorang Wiku, Sang Raghu kemudian membuat tempat pertapaan di hutan. Karena rasa bhakti, banyaklah para pemuka kerajaan yang ikut ke hutan menjalani hidup sebagai pertapa.

Karena lama Sang Prabhu sebagai Wiku di pertapaan di sana Lemah gemetar semua anggota tubuh beliau semakin tua Tumpul seluruhnya sebagai tanda yang memberitahukan beliau akan mati Hanya Tattwa menjadi pegangannya sarana penyucian menuju Kalepasan (16)

Bukan karena sudah lama menjadi Wiku tubuh Raghu lemah gemetar. Tapi karena sudah lama menjadi Wiku ia tahu bahasa tubuh itu sedang berbicara tentang kematian. Karena lama menjadi Wiku berarti telah melewati banyak tahapan belajar. Ilmu yang dipelajari Wiku adalah Jnana, yaitu ilmu yang menyebabkan orang yang memilikinya menjadi bebas. Jnana itulah yang akan mengantarkan seorang Wiku pada pembebasan terakhir. Jnana itu pulalah yang dimaksudkan dengan Tattwa pada kutipan di atas. Karena Tattwa atau Jnana itulah yang bisa menyucikan. Kesucian adalah awal-dasar dari Kalepasan. Tattwa-Jnana menjadi pegangan Sang Raghu.

Apakah sesungguhnya mati itu? Ada beberapa istilah yang dipergunakan untuk menyebut mati, seperti pejah, antaka, mrtyu, marana. Masing-masing istilah mengandung pengertiannya sendiri-sendiri. Sumanasantaka tidak menjelaskan perbedaan makna masing-masing istilah. Karena itu, marilah kita tengok sumber-sumber tertulis yang lain. Lontar Swacanda Marana mendefinisikan mati seperti berikut ini:

Bila kulit tidak merasakan panas dingin, unsur bumi hilang, lidah tidak merasakan enam jenis rasa, unsur air hilang, mata tidak melihat yang nampak, unsur sinar hilang, hidung tak merasakan bau, unsur angin hilang, kuping tak mendengar suara, sesungguhnya unsur udara hilang, apabila semua itu tidak ada, itulah mati namanya. (17)

Jadi, menurut Swacanda Marana, mati adalah hilangnya kehidupan Panca Mahabhuta yang membangun tubuh: tanah, air, api, angin, dan udara. Kelima Bhuta itu sesungguhnya hidup. Unsur lebih halus yang ada di baliknya, Panca Tanmatra, menyebabkan kelima unsur Bhuta itu aktif menghubungkan Atma dengan dunia. Bila unsur halus itu mati, maka putuslah hubungan Atma dengan dunia. Itulah mati. Namun Atma tidak dengan sendirinya bebas ketika hubungan itu putus. Atma masih terkungkung oleh Karmawasana. Secara teoritis, di stnilah manfaat mempelajari ilmu mati, agar bisa menolong Atma pada saat kematian itu datang. Sehingga proses lepasnya Atma akan menjadi mulus.

Sumanasantaka tidak menjelaskan bagaimana tanda-tanda kematian itu dibaca oleh Sang Raghu. Sehingga kita tidak bisa mengetahui unsur apakah dan kelima unsur itu yang mati terlebih dahulu. Pada kutipan di atas urutannya mulai dari tanah [unsur paling berat] dan berakhir pada udara [unsur teringan]. Dalam beberapa teks Tutur lainnya, urutannya memang seperti itu, dan unsur paling bawah menuju unsur paling atas. Apakah kematian unsur-unsur itu di dalam tubuh mengikuti urutan seperti itu?

Diceritakan Atma Sang Raghu sudah lepas dan tubuh. Tidak pula diceritakan bagaimana proses kematian itu dijalani. Kita pun tidak mengetahui dengan cara bagaimana ia melepaskan Atmanya. Apakah tanpa sarana, seperti kematian Harini, atau dengan sarana seperti kematian tokoh-tokoh lainnya? Yang diceritakan adalah banyaknya Shiwarsi datang pada saat pembakaran sisa-sisa tubuh Sang Raghu. Tuntas bekas tubuh itu dibakar, kemudian dihanyutkan ke tengah laut.

Pada bagian ini Mpu Monaguna mengajak pembacanya merenungkan apakah tujuan menjadi Wiku. Uraian di atas menunjukkan bahwa mempersiapkan jalan melepas Atma adalah tujuan menjadi Wiku. Paling tidak itulah yang dilakukan oleh Sang Raghu ketika meninggalkan istana dan masuk ke hutan. Tentang tujuan menjadi Wiku, dalam teks Nirmala Jnana Shastra kita menemukan ucapan seperti ini:

Disebut Catur Parama Artha karena Artha berarti tujuan, Parama berarti luar biasa. Itulah sebabnya Paramartha berarti luar biasa, itu adalah tujuan luar biasa dan pengetahuan. Itulah sebabnya disebut Catur Paramartha oleh Sang Pandita.(18)

Kutipan di atas terdapat dalam uraian tentang empat jalan mengembalikan Sang Hyang Atma ke asalnya. Keempatnya adalah Kalepasan [melalui pusan, Kamoksan [melalui ubun-ubun], Kamuktan [melalui mulut], dan Kanirbhanan [melalui hidung]. Keempat jalan inilah yang disebut Catur Parama Artha. Dalam kutipan di atas dengan sangat jelas disebutkan bahwa Sang Panditalah yang menjadikan keempat jalan ini sebagai tujuan.

Tugas seorang Wikti adalah mempelajari dan mempersiapkan din untuk keempat jalan itu. Jalan mana dan keempat jalan itu nantinya terbuka saat kematian datang, disebutkan sama sekali di luar kekuasaan Sang Pandita. Sang Pandita harus ihias dan menunggu terbukanya salah satu jalan. Kematian akhirnya memang tidak bisa ditolak.

Mungkinkah jalan yang satu lebih bagus daripada yang lainnya? Pertanyaan ini sah adanya. Karena keempat jalan itu jelas tidak sama. Tradisi rupanya telah pula mengantisipasi pertanyaan seperti ini. Karena memang ada teks-teks yang mengklasifikasikan jalan-jalan tersebut dalam kategori Utama, Madhya, Nistha.(19)

Pada bagian akhir teks Kala Jagra secara samarsamar disebutkan berbagai judul teks yang nampaknya penting diperhatikan. Selain akan memperjelas apa yang disebutkan dalam teks-teks pokok yang usianya lebih tua, teks-teks yang akan disebutkan di bawah ini memperlihatkan tafsir Bali tentang masalah yang sedang kita bicarakan ini. Judul-judul teks tersebut dalam kutipan berikut ini dicetak tebal.

Sorga yang istimewa itu didasari oleh Kalepasan Rajapeni, juga termasuk Mpu Raragunting. Tanamkanlah itu di dalam hati. Badawangnala dan Dalemagenah itu rasakan di dalam tubuh. Jangan lupa termasuk Pangempung Kawah. Apabila sudah benar cara merasakan Amrta Kundalini, Sari Kuning itu juga, Sang Sadhaka dan Dukuh Ampel Gading, Mirah Bolong […] dan juga Catur Kanda tanamkan sampai pasti. Apabila sekarang sudah pasti, Dukuh Sumeru yang istimewa itu dan Batur Kalawasan, bapak, ibu, itu konon istimewa dan juga Jong Biru istimewa di [ulandakateng?] itu sekarang pastikan di dalam tubuh. Kuranta Bolong itu konon istimewa tidak ada yang menandingi. Nawang Rum dan Muladhara itu konon baik, kebaikannya teramat istimewa. Perihal Shastra yang istimewa, Ongkara Sungsang mintai pengetahuan, itulah pilah-pilah sampai benar-benar terwujud. Ongkara Tegak [den isti ?] di tulang kepala, ia adalah ujung dari gerakan di dalam tubuh, mintai dan bakti.

  • (15)  Sumanasantaka, Wirama 150.1 Kadi asalin rasa tan parasa wirasa salwir ikang wisaya.
    (16)  Sumanasantaka, Wirama 161, bait 3.
    (17)  Dikutip dan lontar Swacanda Marana. Edisi filologis belum tersedia.
  • (18) Lihat Jnanasiddhanta. Soebadio, ed., 1985: 110.
  • (19) Lihat bagian tulisan Mati Cara Prabhu Widharba pada buku ini.
Mati Cara Sang Raghu
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: