Oleh: Gusti Sudiartama | Februari 16, 2011

KEPERGIAN PANDAWA

Sungguh pemandangan yang menyedihkan. Parikshit, anak laki-laki yang mengenakan mahkota, mendekati kakeknya serta saudara-saudara kakeknya dengan mengiba-iba. Ia memegang erat-erat kaki mereka dan memohon agar agar diijinkan ikut pergi ke hutan menyertai mereka. Ia akan makan akar-akaran dan buah-buahan dengan senang hati, melakukan upacara suci, dan merasa bahagia. “Percayakanlah kemaharajaan ini kepada beberapa menteri yang baik dan ijinkan saya menyertai kakek supaya saya dapat melayani kakek dan membuat hidup saya berati “ demikian ia memohon. Orang-orang di sekitarnya dalam pendapa itu menitikan air mata, terharu melihat kesedihannya karena akan ditinggalkan. Batu-batu cadaspun pasti akan luluh dalam simpati seandainya mereka mendengar kesedihannya.

Dengan usaha keras Dharmaraja berhasil menekan emosinya. Diangkatnya anak laki-laki itu, didudukannya di pangkuannya, kemudian dicurahkannya kata-kata hiburan dan keberanian di telinganya. “Nak, jangan berhati lemah seperti ini. Engkau adalah putera yang lahir dalam dinasti Bharata; dapatkah biri-biri lahir dalam dinasti singa? Ayah, Ibu dan kakek-kakekmu semuanya penuh keberanian, mereka adalah pembela kebenaran yang gagah perkasa dan nama mereka termashur di seluruh dunia. Karena itu, tidak pantaslah jika engkau menangis seperti ini. Mulai sekarang para brahmin ini adalah kakekmu, orang tuamu. Taatilah nasehat mereka dan perintahlah negara ini sesuai dengan bimbingan mereka. Hiduplah sesuai dengan keagungan dan kemuliaan namamu. Jangan sedih menangisi kami.”

Anak itu penuh kasih, tapi tidak mau menyerah walaupun para sesepuh berusaha menasehati dan membujuknya. Ia meratap, “Kakek, saya terlalu muda sehingga permohonan saya tidak meyakinkan kakek. Saya mengerti, tapi cobalah dengar; sebelum lahirpun saya sudah kehilangan ayah saya. Kakek membesarkan saya dengan penuh perhatian dan kasih sayang yang pasti akan dicurahkan kepada saya oleh ayah seandainya beliau masih hidup. Dan sekarang, ketika saya masih senang bernyanyi, bermain dan bepergian bersama teman-teman saya, kakek membebankan negara besar ini pada kepala saya. Dapatkah ini dibenarkan? Adilkah ini? Daripada meninggalkan saya sendirian dalam kesedihan, Kakek dapat berangkat setelah memenggal kepala saya dengan pedang Kakek. Aduh! Kesalahan apa yang telah saya lakukan pada Kakek sehingga Kakek menghukum saya seperti ini? Mengapa Kakek tidak menghabisi saya dalam rahim ibu pada waktu ayah saya gugur? Apakah tubuh saya yang tidak bernyawa dihidupkan kembali agar Kakek dapat membebankan tugas ini kepada saya?” Sampai lama Parikshit terus menyesali diri dan suratan takdirnya dengan nada seperti ini.

Arjuna tidak tahan lagi mendengar ratapan ini. Ditutupnya mulut Parikshit dengan telapak tangannya, diusap-usapnya anak itu dengan penuh kasih dan ditekannya bibirnya pada kepala pangeran kecil. “Nanda, aib bagi ksatria jika Nanda bertingkah laku seperti pengecut. Kami pun kehilangan ayah kami, kami pun tumbuh dalam asuhan para pertapa dan sanyasi; akhirnya kami dapat memperoleh kasih sayang paman kami dan setelah mengatasi berbagai rintangan yang amat besar, kami menegakkan kekuasaan kami atas kemaharajaan ini. Tuhan yang selama ini menjaga, membimbing, dan mengarahkan langkah kami pastilah akan menjaga dan membimbing Nanda. Jangan berkecil hati. Ikutilah nasihat yang diberikan oleh para brahmin dan menteri ini selama beberapa tahun. Kelak Nanda sendiri akan menyelesaikan masalah-masalah kemaharajaan,” katanya.

Parikshit tidak dapat dihibur. Katanya, “Kakek, apakah sekarang Kakek akan meninggalkan takhta kerajaan dan meletakkannya di atas kepala saya? Tinggalah bersama saya beberapa tahun lagi, ajarlah saya seni memerintah kerajaan dan prinsip-prinsipnya, kemudian Kakek dapat berangkat. Dahulu saya bahagia dan bebas, melompat-lompat dan melancong tanpa mempedulikan apapun karena yakin bahwa ada Kakek yang menjaga saya walaupun saya sudah kehilangan ayah. Sekarang jika Kakekpun meninggalkan saya, bagaimana nasib saya kelak? Kakek adalah pusat segala harapan saya, dukungan yang saya andalkan. Tiba-tiba sekarang Kakek menenggelamkan saya dalam keputusasaan dan meninggalkan saya.” Ia menangis keras-keras, meluluhkan hati semua yang melihat dan mendengarnya. Ia berguling-guling di lantai memegangi para kakeknya.

Arjuna mengangkat Parikshit dengan kedua tangannya dan memeluknya. Diletakkannya anak itu di bahunya dan diusap-usapnya. Disekanya butir-butir air mata yang mengalir di pipinya. Sementara itu ia tidak dapat menahan air matanya sendiri. Sambil berpaling kepada para brahmin yang berdiri mengelilingi mereka menyaksikan semua ini, Arjuna bertanya mengapa mereka hanya memandang dengan diam tanpa berusaha menghibur si anak.

Sesungguhnya mereka sendiri terlalu sedih sehingga tidak terpikir oleh mereka untuk menghibur Parikshit. Kata mereka, “Kata-kata tajam yang diucapkan anak ini melukai kami bagaikan anak panah; kesedihannya membuat kami terpaku. Apa yang dapat kami katakan kepadanya? Bagaimana kami dapat menghiburnya? Apa yang dapat membesarkan hatinya saat ini?” Mereka pun dilanda kesedihan.

Akhirnya Kripacharya, guru keluarga kerajaan, dapat menekan kesedihannya. Disekanya matanya yang basah, dengan ujung pakaiannya, lalu berkata kepada Arjuna, “Tuanku menghendaki kami mengatakan apa kepada anak ini? Kami tidak mampu mengatakan apa-apa. Hari ini Tuanku meninggalkan kerajaan yang Tuan peroleh. Setelah mencapai kemenangan yang dibayar dengan sungai darah, jutaan orang mengorbankan hidup, dan tuanku pun memperjuangkannya selama bertahun-tahun. Tuan belum memerintahnya selama seribu tahun, tidak, bahkan beberapa abad pun belum, atau bahkan belum genap tujuh puluh tahun. Siapa yang dapat mengatakan apa yang akan terjadi kelak? Tentu saja perbuatan tokoh-tokoh agung mempunyai tujuan yang mendalam. Maafkan kami; Tuanku adalah junjungan kami; Tuanku tahu yang terbaik.” Kripacharya berdiri dengan kepala tertunduk karena hatinya dibebani kesedihan.

Dharmaraja maju beberapa langkah dan berbicara kepada Acharya, “sebagaimana anda ketahui, setiap tindakan saya sesuai dengan perintah Krishna. Saya mempersembahkan semua kegiatan saya kepada Beliau. Saya tidak menginginkan atau mempertahankan individualitas apapun. Semua tugas dan kewajiban saya telah selesai dengan kepergiaan Sri Krishna. Apakah gunanya bila hanya Dharmaraja yang hidup saat ini? Saya tidak dapat tetap berada di negeri ini semenitpun juga karena pengaruh buruk Kali Yuga sudah berlangsung. Merupakan tugas Andalah untuk menjaga anak laki-laki ini, membimbing dan melatihnya agar ia dapat duduk di takhta dengan aman. Jagalah pelaksanaan Dharma, lanjutkan tradisi dinasti, pertahankan kehormatan dan nama baik garis keturunan ini. Sayangilah dan asuhlah anak ini seperti putra Anda sendiri.” Sambil mengatakan hal itu, diletakkannya tangan Parikshit dalam tangan Kripacharya. Semua yang hadir di situ, termasuk Dharmaraja dan sang acharya, menitikkan air mata pada saat itu.

Beberapa menit kemudian Vajra dipanggil masuk dan diberitahu bahwa sejak hari itu rajadiraja Bharata adalah Parikshit, maka Vajra memberi hormat kepadanya sesuai dengan kedudukannya sebagai penguasa kemaharajaan. Para menteri dan para brahmin pun menghormatinya sebagai junjungan mereka dengan upacara yang sesuai. Setelah itu Dharmaraja memegang tangan Parikshit dan meletakkan tangan Vajra dalam genggaman tangan pemuda itu sambil berkata, “Inilah Vajra, penguasa kaum Yadawa; sekarang saya menobatkannya menjadi raja wilayah Mathura dan Surasena.” Dharmaraja memasangkan mahkota emas bertahtakan berlian pada kepada Vajra. “Kalian berdua jadilah saudara, bekerjasamalah selalu dalam damai dan perang, tidak terpisahkan dalam persahabatan,” demikian diimbaunya mereka. Dipanggilnya Vajra ke samping dan dinasihatinya agar memperlakukan Parikshit sebagai paman dari pihak ayahnya; kemudian dinasihatinya Parikshit agar ia menghormati Vajra sebagaimana ia menghormati Aniruddha sendiri. Dharmaraja memberitahu mereka berdua bahwa mereka harus menjaga agar kelangsungan dharma tidak terganggu dan agar mereka menganggap kesejahteraan rakyat sebagai nafas hidup mereka.

Setelah itu Pandawa bersaudara menaburkan beras yang telah diberkati pada kepada Vajra dan Parikshit. Para pendeta brahmin mengidungkan mantra-mantra yang sesuai. Terompet ditiup dan genderang dipukul keras-keras. Dengan mata berkaca-kaca Vajra dan Parikshit bersujud di hadapan Dharmaraja serta sesepuh yang lain. Pandawa bersaudara tidak dapat menatap wajah kedua pemuda yang mereka sayangi itu; mereka diliputi oleh semangat ketidakterikatan. Mereka hanya memeluk kedua pemuda itu dengan cepat dan mengucapkan sepatah kata perpisahan yang penuh kasih sayang kemudian keluar meninggalkan istana tanpa membawa apa-apa kecuali pakaian yang mereka kenakan.

Melihat peristiwa ini, kaum kerabat, warga kerajaan, para ratu, dan lain-lainnya yang berada di keputren, para pejabat istana, dan para dayang, semuanya menangis mengibakan. Warga kerajaan menjatuhkan diri di tengah jalan yang dilalui sang Maharaja dan berusaha memegang kakinya erat-erat. Mereka memohon dengan amat mengibakan agar Dharmaraja tetap tinggal. Mereka memohon pada Pandawa bersaudara agar diikutsertakan dalam perjalanan itu. Ada beberapa yang mengesampingkan segala keberatan dan berlari mengikuti rombongan. Meskipun demikian, Pandawa tidak pernah berpaling; mereka tidak mengucapkan sepatah katapun. Telinga mereka tertutup untuk segala permohonan. Pikiran mereka terpusat pada Krishna, mereka terus berjalan maju seperti orang-orang yang dibutakan oleh tekad fanatik, tidak mengidahkan atau memperhatikan siapa pun juga.

Draupadi bersama para dayangnya berlari-lari menyusul di belakang mereka. Ia memanggil-manggil nama junjungannya satu demi satu. Parikshit pun mengejar mereka di sepanjang jalan, tetapi ia ditangkap dan dibawa pergi oleh para menteri yang berusaha menenangkannya walau mereka sendiri sangat terharu. Meskipun demikian Pandawa bersaudara berjalan terus tanpa memperdulikan semuanya, juga tidak mengizinkan mereka yang ingin bergabung agar ikut serta. Ratusan pria dan wanita terpaksa berhenti ketika mereka sudah terlalu letih, lalu kembali ke ibukota dengan sedih. Lainnya yang lebih kuat tetap meneruskan perjalanan. Para wanita keputren yang tidak terbiasa pada matahari dan angin segera kehabisan tenaga lalu jatuh pingsan di jalan. Para dayang meratapi peristiwa yang mengguncangkan itu dan menolong mereka. Beberapa diantara mereka nekad ikut masuk ke hutan, tetapi terpaksa kembali dengan segera karena takut menghadapi rimba belantara yang mengerikan.

Ketika timbul badai yang membawa debu, banyak warga masyarakat meletakkan debu itu dengan penuh hormat pada dahi mereka; mereka menganggapnya sebagai debu kaki Dharmaraja. Demikianlah setelah melalui semak belukar, dalam waktu singkat Pandawa bersaudara sudah tidak terlihat lagi. Apa yang dapat dilakukan oleh warga kerajaan? Mereka kembali ke Hastinapura dengan berat hati dan kesedihan yang tidak tertahankan.

Pandawa bersaudara berpegang teguh pada sumpah mahaprasthanam. Dalam ikrar itu mereka tidak boleh makan atau minum apa pun di sepanjang jalan, tidak boleh beristirahat, dan harus berjalan terus lurus ke Utara hingga ajal tiba. Inilah nazar yang mereka lakukan, demikian tegar dan mengagumkan.

Sungguh pemandangan yang menyedihkan. Parikshit, anak laki-laki yang mengenakan mahkota, mendekati kakeknya serta saudara-saudara kakeknya dengan mengiba-iba. Ia memegang erat-erat kaki mereka dan memohon agar agar diijinkan ikut pergi ke hutan menyertai mereka. Ia akan makan akar-akaran dan buah-buahan dengan senang hati, melakukan upacara suci, dan merasa bahagia. “Percayakanlah kemaharajaan ini kepada beberapa menteri yang baik dan ijinkan saya menyertai kakek supaya saya dapat melayani kakek dan membuat hidup saya berati “ demikian ia memohon. Orang-orang di sekitarnya dalam pendapa itu menitikan air mata, terharu melihat kesedihannya karena akan ditinggalkan. Batu-batu cadaspun pasti akan luluh dalam simpati seandainya mereka mendengar kesedihannya. 

Dengan usaha keras Dharmaraja berhasil menekan emosinya. Diangkatnya anak laki-laki itu, didudukannya di pangkuannya, kemudian dicurahkannya kata-kata hiburan dan keberanian di telinganya. “Nak, jangan berhati lemah seperti ini. Engkau adalah putera yang lahir dalam dinasti Bharata; dapatkah biri-biri lahir dalam dinasti singa? Ayah, Ibu dan kakek-kakekmu semuanya penuh keberanian, mereka adalah pembela kebenaran yang gagah perkasa dan nama mereka termashur di seluruh dunia. Karena itu, tidak pantaslah jika engkau menangis seperti ini. Mulai sekarang para brahmin ini adalah kakekmu, orang tuamu. Taatilah nasehat mereka dan perintahlah negara ini sesuai dengan bimbingan mereka. Hiduplah sesuai dengan keagungan dan kemuliaan namamu. Jangan sedih menangisi kami.”

Anak itu penuh kasih, tapi tidak mau menyerah walaupun para sesepuh berusaha menasehati dan membujuknya. Ia meratap, “Kakek, saya terlalu muda sehingga permohonan saya tidak meyakinkan kakek. Saya mengerti, tapi cobalah dengar; sebelum lahirpun saya sudah kehilangan ayah saya. Kakek membesarkan saya dengan penuh perhatian dan kasih sayang yang pasti akan dicurahkan kepada saya oleh ayah seandainya beliau masih hidup. Dan sekarang, ketika saya masih senang bernyanyi, bermain dan bepergian bersama teman-teman saya, kakek membebankan negara besar ini pada kepala saya. Dapatkah ini dibenarkan? Adilkah ini? Daripada meninggalkan saya sendirian dalam kesedihan, Kakek dapat berangkat setelah memenggal kepala saya dengan pedang Kakek. Aduh! Kesalahan apa yang telah saya lakukan pada Kakek sehingga Kakek menghukum saya seperti ini? Mengapa Kakek tidak menghabisi saya dalam rahim ibu pada waktu ayah saya gugur? Apakah tubuh saya yang tidak bernyawa dihidupkan kembali agar Kakek dapat membebankan tugas ini kepada saya?” Sampai lama Parikshit terus menyesali diri dan suratan takdirnya dengan nada seperti ini.

Arjuna tidak tahan lagi mendengar ratapan ini. Ditutupnya mulut Parikshit dengan telapak tangannya, diusap-usapnya anak itu dengan penuh kasih dan ditekannya bibirnya pada kepala pangeran kecil. “Nanda, aib bagi ksatria jika Nanda bertingkah laku seperti pengecut. Kami pun kehilangan ayah kami, kami pun tumbuh dalam asuhan para pertapa dan sanyasi; akhirnya kami dapat memperoleh kasih sayang paman kami dan setelah mengatasi berbagai rintangan yang amat besar, kami menegakkan kekuasaan kami atas kemaharajaan ini. Tuhan yang selama ini menjaga, membimbing, dan mengarahkan langkah kami pastilah akan menjaga dan membimbing Nanda. Jangan berkecil hati. Ikutilah nasihat yang diberikan oleh para brahmin dan menteri ini selama beberapa tahun. Kelak Nanda sendiri akan menyelesaikan masalah-masalah kemaharajaan,” katanya.

Parikshit tidak dapat dihibur. Katanya, “Kakek, apakah sekarang Kakek akan meninggalkan takhta kerajaan dan meletakkannya di atas kepala saya? Tinggalah bersama saya beberapa tahun lagi, ajarlah saya seni memerintah kerajaan dan prinsip-prinsipnya, kemudian Kakek dapat berangkat. Dahulu saya bahagia dan bebas, melompat-lompat dan melancong tanpa mempedulikan apapun karena yakin bahwa ada Kakek yang menjaga saya walaupun saya sudah kehilangan ayah. Sekarang jika Kakekpun meninggalkan saya, bagaimana nasib saya kelak? Kakek adalah pusat segala harapan saya, dukungan yang saya andalkan. Tiba-tiba sekarang Kakek menenggelamkan saya dalam keputusasaan dan meninggalkan saya.” Ia menangis keras-keras, meluluhkan hati semua yang melihat dan mendengarnya. Ia berguling-guling di lantai memegangi para kakeknya.

Arjuna mengangkat Parikshit dengan kedua tangannya dan memeluknya. Diletakkannya anak itu di bahunya dan diusap-usapnya. Disekanya butir-butir air mata yang mengalir di pipinya. Sementara itu ia tidak dapat menahan air matanya sendiri. Sambil berpaling kepada para brahmin yang berdiri mengelilingi mereka menyaksikan semua ini, Arjuna bertanya mengapa mereka hanya memandang dengan diam tanpa berusaha menghibur si anak.

Sesungguhnya mereka sendiri terlalu sedih sehingga tidak terpikir oleh mereka untuk menghibur Parikshit. Kata mereka, “Kata-kata tajam yang diucapkan anak ini melukai kami bagaikan anak panah; kesedihannya membuat kami terpaku. Apa yang dapat kami katakan kepadanya? Bagaimana kami dapat menghiburnya? Apa yang dapat membesarkan hatinya saat ini?” Mereka pun dilanda kesedihan.

Akhirnya Kripacharya, guru keluarga kerajaan, dapat menekan kesedihannya. Disekanya matanya yang basah, dengan ujung pakaiannya, lalu berkata kepada Arjuna, “Tuanku menghendaki kami mengatakan apa kepada anak ini? Kami tidak mampu mengatakan apa-apa. Hari ini Tuanku meninggalkan kerajaan yang Tuan peroleh. Setelah mencapai kemenangan yang dibayar dengan sungai darah, jutaan orang mengorbankan hidup, dan tuanku pun memperjuangkannya selama bertahun-tahun. Tuan belum memerintahnya selama seribu tahun, tidak, bahkan beberapa abad pun belum, atau bahkan belum genap tujuh puluh tahun. Siapa yang dapat mengatakan apa yang akan terjadi kelak? Tentu saja perbuatan tokoh-tokoh agung mempunyai tujuan yang mendalam. Maafkan kami; Tuanku adalah junjungan kami; Tuanku tahu yang terbaik.” Kripacharya berdiri dengan kepala tertunduk karena hatinya dibebani kesedihan.

Dharmaraja maju beberapa langkah dan berbicara kepada Acharya, “sebagaimana anda ketahui, setiap tindakan saya sesuai dengan perintah Krishna. Saya mempersembahkan semua kegiatan saya kepada Beliau. Saya tidak menginginkan atau mempertahankan individualitas apapun. Semua tugas dan kewajiban saya telah selesai dengan kepergiaan Sri Krishna. Apakah gunanya bila hanya Dharmaraja yang hidup saat ini? Saya tidak dapat tetap berada di negeri ini semenitpun juga karena pengaruh buruk Kali Yuga sudah berlangsung. Merupakan tugas Andalah untuk menjaga anak laki-laki ini, membimbing dan melatihnya agar ia dapat duduk di takhta dengan aman. Jagalah pelaksanaan Dharma, lanjutkan tradisi dinasti, pertahankan kehormatan dan nama baik garis keturunan ini. Sayangilah dan asuhlah anak ini seperti putra Anda sendiri.” Sambil mengatakan hal itu, diletakkannya tangan Parikshit dalam tangan Kripacharya. Semua yang hadir di situ, termasuk Dharmaraja dan sang acharya, menitikkan air mata pada saat itu.

Beberapa menit kemudian Vajra dipanggil masuk dan diberitahu bahwa sejak hari itu rajadiraja Bharata adalah Parikshit, maka Vajra memberi hormat kepadanya sesuai dengan kedudukannya sebagai penguasa kemaharajaan. Para menteri dan para brahmin pun menghormatinya sebagai junjungan mereka dengan upacara yang sesuai. Setelah itu Dharmaraja memegang tangan Parikshit dan meletakkan tangan Vajra dalam genggaman tangan pemuda itu sambil berkata, “Inilah Vajra, penguasa kaum Yadawa; sekarang saya menobatkannya menjadi raja wilayah Mathura dan Surasena.” Dharmaraja memasangkan mahkota emas bertahtakan berlian pada kepada Vajra. “Kalian berdua jadilah saudara, bekerjasamalah selalu dalam damai dan perang, tidak terpisahkan dalam persahabatan,” demikian diimbaunya mereka. Dipanggilnya Vajra ke samping dan dinasihatinya agar memperlakukan Parikshit sebagai paman dari pihak ayahnya; kemudian dinasihatinya Parikshit agar ia menghormati Vajra sebagaimana ia menghormati Aniruddha sendiri. Dharmaraja memberitahu mereka berdua bahwa mereka harus menjaga agar kelangsungan dharma tidak terganggu dan agar mereka menganggap kesejahteraan rakyat sebagai nafas hidup mereka.

Setelah itu Pandawa bersaudara menaburkan beras yang telah diberkati pada kepada Vajra dan Parikshit. Para pendeta brahmin mengidungkan mantra-mantra yang sesuai. Terompet ditiup dan genderang dipukul keras-keras. Dengan mata berkaca-kaca Vajra dan Parikshit bersujud di hadapan Dharmaraja serta sesepuh yang lain. Pandawa bersaudara tidak dapat menatap wajah kedua pemuda yang mereka sayangi itu; mereka diliputi oleh semangat ketidakterikatan. Mereka hanya memeluk kedua pemuda itu dengan cepat dan mengucapkan sepatah kata perpisahan yang penuh kasih sayang kemudian keluar meninggalkan istana tanpa membawa apa-apa kecuali pakaian yang mereka kenakan.

Melihat peristiwa ini, kaum kerabat, warga kerajaan, para ratu, dan lain-lainnya yang berada di keputren, para pejabat istana, dan para dayang, semuanya menangis mengibakan. Warga kerajaan menjatuhkan diri di tengah jalan yang dilalui sang Maharaja dan berusaha memegang kakinya erat-erat. Mereka memohon dengan amat mengibakan agar Dharmaraja tetap tinggal. Mereka memohon pada Pandawa bersaudara agar diikutsertakan dalam perjalanan itu. Ada beberapa yang mengesampingkan segala keberatan dan berlari mengikuti rombongan. Meskipun demikian, Pandawa tidak pernah berpaling; mereka tidak mengucapkan sepatah katapun. Telinga mereka tertutup untuk segala permohonan. Pikiran mereka terpusat pada Krishna, mereka terus berjalan maju seperti orang-orang yang dibutakan oleh tekad fanatik, tidak mengidahkan atau memperhatikan siapa pun juga.

Draupadi bersama para dayangnya berlari-lari menyusul di belakang mereka. Ia memanggil-manggil nama junjungannya satu demi satu. Parikshit pun mengejar mereka di sepanjang jalan, tetapi ia ditangkap dan dibawa pergi oleh para menteri yang berusaha menenangkannya walau mereka sendiri sangat terharu. Meskipun demikian Pandawa bersaudara berjalan terus tanpa memperdulikan semuanya, juga tidak mengizinkan mereka yang ingin bergabung agar ikut serta. Ratusan pria dan wanita terpaksa berhenti ketika mereka sudah terlalu letih, lalu kembali ke ibukota dengan sedih. Lainnya yang lebih kuat tetap meneruskan perjalanan. Para wanita keputren yang tidak terbiasa pada matahari dan angin segera kehabisan tenaga lalu jatuh pingsan di jalan. Para dayang meratapi peristiwa yang mengguncangkan itu dan menolong mereka. Beberapa diantara mereka nekad ikut masuk ke hutan, tetapi terpaksa kembali dengan segera karena takut menghadapi rimba belantara yang mengerikan.

Ketika timbul badai yang membawa debu, banyak warga masyarakat meletakkan debu itu dengan penuh hormat pada dahi mereka; mereka menganggapnya sebagai debu kaki Dharmaraja. Demikianlah setelah melalui semak belukar, dalam waktu singkat Pandawa bersaudara sudah tidak terlihat lagi. Apa yang dapat dilakukan oleh warga kerajaan? Mereka kembali ke Hastinapura dengan berat hati dan kesedihan yang tidak tertahankan.

Pandawa bersaudara berpegang teguh pada sumpah mahaprasthanam. Dalam ikrar itu mereka tidak boleh makan atau minum apa pun di sepanjang jalan, tidak boleh beristirahat, dan harus berjalan terus lurus ke Utara hingga ajal tiba. Inilah nazar yang mereka lakukan, demikian tegar dan mengagumkan.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: