Oleh: Gusti Sudiartama | Februari 25, 2011

Kidung Kelepasan PATANJALI (05)

Isvara sebagai Guru Semesta dan Pranava Japa

ISvara adalah Purusha Istimewa (purusha visesa isvarah), tak tersentuh oleh kekotoran-batin yang mengakibatkan penderitaan (klésa), perbuatan-perbuatan (karma) dan kesan-kesan mental maupun hasil dari perbuatan. Tiada terbatas adanya benih kemahatahuan (sarvajña bija) pada-Nya. Beliau adalah Guru dari para Guru di jaman purba (purva), yang ada di luar jangkauan waktu. [YS I.24 – I.26]

 
Dalam tiga sutra tadi, juga ter-refleksikan dengan amat jelas dan tajam, bagaimana Patanjali memandang Isvara. Sejauh kita masih berkutat dengan berbagai klésa dan karma, vasana, dan phala-nya, serta beraneka Renungan samskara, maka Isvara digambarkan seperti dalam sutra I.24 ini.

Penggambaran itu bukanlah dimaksudkan sebagai penggambaran absolut, dimana hanya itulah sifat-sifat-Nya dalam konsep ketuhanannya, namun lebih diorientasikan pada konteks jalan pensucian atau pemurnian batin ini.

Dalam ajaran Buddha, juga disebutkan lima kekotoran-batin yang mengakibatkan penderitaan (klésa) yaitu:
· Kesenangan pada kenikmatan pemuasan nafsu indriyawi (kamachanda);
· Itikad jahat atau dendam pada orang lain (vyapada);
· Kemalasan, keengganan dan kelesuan (stayana-middha);
· Kegelisahan, kecemasan dan kekha-watiran (auddhatya-kaukrtya); dan
· Keragu-raguan (vicikitsa).

Sementara Panca klésa-nya Patanjali adalah:
· Kebodohan atau kegelapan batiniah (avidya),
· Egoisme (asmita),
· Kelekatan atau kecintaan ragawi (raga),
· Kebencian (dvesa), dan
· Kecintaan yang amat sangat pada kehidupan berjasad ini sehingga amat takut mati (abhinivesa); seperti diuraikan dalam sutra II.3 mendatang.

Walaupun ada perbedaan item-item yang diberi sebutan klésa dalam kedua ajaran ini, namun bagi penekun jalan spiritual, kelima kekotoran ini penting untuk dienyahkan. Memang tidak semua orang terlahir dengan membawa kelima kekotoran ini dalam kadar yang sama; mungkin ada yang hanya tiga, dua atau satu saja dan dalam kadar tertentu. Selalu ada kekhususan tergantung karma-vasana masing-masing. Namun semuanya tetap mesti diwaspadai. Untuk ini, Patanjali memperkenalkan metode ampuh untuk mengentaskannya, seperti yang akan dipaparkan nanti pada pembahasan sutra
IV.29 – IV.34.

Secara kontekstual pula, Isvara diposisikan sebagai Guru; Guru Renungan spiritual bagi semua penekun jalan spiritual, Guru Yoga bagi semua penekun Yoga, dahulu, kini dan nanti. Akan tetapi kita tidak diharapkan untuk memandang dengan: “Ah…saya hanya akan ber-Guru langsung pada Isvara saja. Saya tak perlu ber-Guru pada yang lainnya, apakah itu Dewa, apalagi manusia.”
Bukan, bukan demikian maksudnya. Belum banyak diantara penekun yang berkualifikasi setinggi itu.

Para penekun (sadhaka) masih butuh Guru hidup yang kasat indriya, sebagai panutan. Akan tetapi, tidak pula dianjurkan sebaliknya memandang:
“Kita tak mungkin ber-Guru pada Isvara. Itu tidak mungkin. Kita harus ber-Guru hanya pada manusia yang masih hidup.” Dua kutub pandang dalam ber-Guru ini memang jamak kita temui di sekitar kita. Ini menunjukkan kelemahan yang perlu disadari dan dientaskan, bersamaan dengan perjalanan latihan kita. Manifestasi simbol-Nya adalah suku kata tunggal Pranava (OM). Pelafalan secara konstan (japa) Pranava, dengan penuh perasaan dan pemahaman akan maknanya, menghantarkan pada pencapaian tujuan pengembangan batin (artha bhavanam).

Dengan mempraktekkannya lahir kesadaran kosmis (cetanãdhigamo) dan hambatan-hambatanpun sirna.
[YS I.27 – I.29]

Secara substansial, ketiga sutra ini masih terkait dengan Isvarapranidhana. Pelafalan secara konstan Nama Tuhan, adalah perwujudan cinta dan bhakti kita kepada-Nya, di mana Pranava Japa ini bisa mengantarkan pada keberhasilan. Pelafalan secara konstan dengan ber-japa, juga sebentuk proses pembiasaan. Inilah salah-satu praktek langsung dari Abhyasa. Jelas kalau abhyasa merupakan suatu proses, bukan pencapaian, di mana dituntut kesabaran dalam melalui pentahapannya. Walau di sini Patanjali hanya menyertakan satu kata ‘japa’, yakni hanya pada sutra I.28 ini saja -di mana itupun hanya dikaitkan dengan Pranava OM- namun ini juga merupakan sebentuk upaya memperkenalkan Japa Yoga, yang akan kita temukan juga pada Bhagavad Gita dan kitab-kitab Yoga sastra lainnya.

Anjuran ini juga kita temukan di dalam beberapa Upanishad. Mundaka Upanishad misalnya, menganjurkan: “Bermeditasilah atas OM sebagai Atman. Semoga dikau berhasil menyeberang jauh dari kegelapan.” Mãndúkya Upanishad juga menegaskan bahwa, ‘apa saja yang merupakan keadaan masa silam, sekarang dan yang akan datang, semuanya adalah Pranava OM’ Dan apa saja yang ada di luar waktu -lampau, sekarang, dan akan datang- itu hanyalah Pranava OM. Semuanya sesungguhnya Brahman (Tuhan)’.

Sedangkan Bhagavad Gita menyebutkan bahwa, “pranavah sarva vedasu” – “Aku adalah Pranava dalam semua Veda”.

Setiap mantra umat Hindu diawali dengan melafalkan Nama-Nya. Semua Upanishad memuji OM, di mana pada jaman Upanishad lambang Nama-Nya sangat dimuliakan. Kata OM sendiri merupakan hasil penyandian antara tiga aksara suci ‘A – U – M’, yang masing-masing mewakili tiga aspek Keagungan-Nya,yakni sebagai Mahapencipta (A), Mahapengatur dan Mahapemelihara (U) serta Mahapelebur, Pengembali ke asal (M). Senantiasa melafalkan Nama-Nya,sebagai praktek langsung dari Isvarapranidhana, mengikat pikiran liar, dan mententeramkannya. Inilah manfaat langsungnya.

Pranava Japa umumnya dilaksanakan dalam hati (manasu japa) menyertai Pranayama. A(ng) dilafalkan dalam hati saat menarik nafas; U(ng) saat menahan nafas dan M(ang) saat menghembuskan nafas. Dengan demikian terjadi kombinasi solid yang saling menguatkan antara Pranava dan Pranayama.

Praktek Japa dalam Pranayama ini akan kita bicarakan lagi pada Sadhana Pãda, saat membahas Pranayama.

Cetana-adhigama merupakan istilah bentukan Patanjali yang tak kurang menariknya untuk dicermati. Cetana yang juga disebut sebagai Kesadaran Kosmis, di dalam Wrhaspati Tattwa ia didefinisikan sebagai: bersifat mengetahui, tak terkena lupa, senantiasa tenang dan stabil serta tak terhalangi. Sebaliknya Acetana disebut sebagai: tanpa pengetahuan, seperti moha (kebingung-an). Pertemuan antara Cetana dan Acetana inilah yang melahirkan: Triguna, Buddhi, Ahamkara, Panca Buddhindriya), Panca Karmendriya, Panca Tanmatra, dan Panca Mahabhuta. Dalam pustaka nusantara kuno ini, Cetana dirinci lebih jauh lagi ke dalam Paramasiwa, Sadasiwa dan Siwa.

Sebagai kitab Tattwa -ajaran hakekat ketuhanan yang dapat disejajarkan dengan Upanishad-Upanishad, Wrhaspati Tattwa juga memerinci sifat-sifat Isvara sebagai berikut:
· Aprameyam -Tidak terpikirkan, karena kejadian-Nya tidak berawal, tidak berakhir dan tiada terbatas;
· Anirdesyam -Tidak terperintahkan, karena keadaan-Nya tanpa aktivitas.
· Anaupamyam -Tidak tertandingi, tidak terumpamakan, karena keadaan-Nya tidak ada yang menyamai;
· Anamayam -Tidak terkena penyakit, karena tidak ternodai;
· Dhruvam -Berkeadaan sadar, tanpa gerak, tenang, senantiasa ajeg selamanya;
· Avyayam -Tiada kurang suatu apapun, karena sempurna dalam Diri-Nya Sendiri.

Disebutkan pula bahwa, dalam perjadiannya Beliau adalah Raja, Jiva yang tiada terjiwai. Satu hal penting yang dapat kita lihat di sini adalah, konsep ketuhanan yang dianut oleh Patanjali ternyata tidak berbeda dengan konsep yang dianut oleh Wrhaspati Tattwa, sebagai sastrãgama Nusantara; walaupun tidak diketahui oleh siapa dan kapan ia disusun.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: