Oleh: Gusti Sudiartama | Maret 2, 2011

NYANGGRA PENYEPIAN

Melasti adalah Bahasa Kawi berasal dari kata “mala” = kotoran dan “asti” = abu/lebur dengan demikian melasti artinya melebur kotoran.

Kegiatan melasti juga disebut melelasti, melis, mesucian, mekiyis.

Dalam Lontar Sanghyang Aji Swamandala disebutkan : ..”angayutaken laraning jagat, paklesa letuhing bhuana” artinya untuk melenyapkan penderitaan masyarakat (kotoran Bhuana Alit) dan kekotoran dunia (kotoran Bhuana Agung).

Dalam Lontar Sundarigama disebutkan : ..”amet sarining amerta kamandalu ri telenging samudra” artinya untuk memperoleh air suci kehidupan (Sarining Bhuana) di tengah-tengah laut.

Jadi melasti bertujuan untuk : melenyapkan kekotoran dunia dan melenyapkan penderitaan manusia yang menumpuk di tahun yang lalu (misalnya Isaka 1921), serta memohon tirta amerta kamandalu yaitu air suci kehidupan untuk tahun yang akan datang (misalnya Isaka 1922).

Pelaksanaannya dengan mengusung pretima-pretima (niyasa Ida Bethara) ke laut. Di tepi laut upacara dilaksanakan dengan menghaturkan banten suci ke hadapan Sanghyang Baruna, serta mohon tirta penglukatan/pebersihan ke hadapan Gangga Dewi untuk pretima, prelingga, jempana, bangunan suci, alat-alat upacara, serta anggota masyarakat.

Upacara melasti ini dilaksanakan dua hari sebelum Nyepi (Sipeng).

2. TAHAP KEDUA (NYEJER DI PURA)

Sekembalinya dari melasti, pretima (niyasa Ida Bethara) di-stanakan di Pura. Di sini warga masyarakat mendapat kesempatan ngaturang ayaban serta mohon dianugrahi kesucian dan ketentraman batin dalam menyambut Hari Raya Nyepi.

3. TAHAP KETIGA (PECARUAN TAWUR KESANGA)

Dilaksanakan oleh Tri Sadaka di perapatan agung. Hari itu tepat Tilem Chaitra (Kesanga).

Tujuan pecaruan adalah untuk membina hubungan yang harmonis antara manusia dengan Ida Sanghyang Widhi Wasa, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam (Trihitakarana = tiga sebab yang menjadi baik).

Caru yang digunakan : di tingkat Propinsi : Tawur Agung; di tingkat Kabupaten : Panca Kelud; di tingkat Kecamatan : Panca Sanak; di tingkat Desa : Panca Sata; di tingkat Banjar : Eka Sata; di rumah masing-masing warga : di Pamerajan menghaturkan kepada Ida Bethara peras, ajuman, daksina, ketipat kelanan, canang lenga wangi, burat wangi, bija beras kuning; di natar Pamerajan menghaturkan kepada Sang Bhuta Kala segehan nasi cacah 108 tanding, ulam jejeroan mentah, segehan agung, tetabuhan arak/berem/tuak/toya anyar; di pintu masuk halaman rumah nanceb sanggah cucuk dengan banten daksina, jauman, peras, dandanan tumpeng ketan, sesayut, penyeneng, janganan, di bawah sanggah cucuk segehan agung, segehan manca warna 9 tanding, olahan ayam brumbun, tetabuhan arak/berem/tuak/arak/air.

 

Setelah itu semua keluarga natab beakala, prayascita, sesayut lara malaradan, lalu melaksanakan pengerupukan.

Acara terakhir adalah ngelinggihang pretima Ida Bethara kembali ke palinggih semula (nyineb)

4. TAHAP KEEMPAT (SIPENG)

Melaksanakan Catur Brata Penyepian : Amati Agni, Amati Karya, Amati Lalanguan, Amati Lelungaan.

 

Amati Agni artinya tidak menyalakan api secara skala, dan api niskala yaitu marah, nafsu sex dan pikiran kotor lainnya.

Amati Karya artinya tidak melaksanakan kerja fisik agar dapat melaksanakan tapa, berata, yoga, samadi.

 

Amati Lalanguan (langu = indah, asyik, mempesona) artinya tidak menikmati keindahan atau sesuatu yang mengasyikkan seperti nonton TV, mendengar lagu-lagu, main judi, ceki, main catur, bergurau sambil tertawa, dll.

Amati Lelungaan artinya tidak bepergian keluar rumah karena melaksanakan tapa, berate, yoga, samadi.

5. TAHAP KELIMA (NGEMBAK AGNI)

Keesokan harinya sejak jam 06.00 melepaskan Brata Penyepian, dan melaksanakan Dharma Shanti.

 

Dikutip dari www.stitidharma.org


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: