Oleh: Gusti Sudiartama | Mei 25, 2011

Merenda Agama Tirtha

oleh:  Gede Prama

Peneliti Belanda C. Hooykas pernah menyebut praktek beragama di Bali dengan sebutan agama Tirtha. Secara lebih khusus, karena hampir semua kegiatan upacara melibatkan dan berujung pada penyucian menggunakan air suci (tirtha). Sehingga mungkin berguna sekaligus bermakna bila kita mencoba membuka lapisan-lapisan makna yang ada di balik judul Agama Tirtha.

Empat tiang penyangga

Berdiri di atas serangkaian hasil wawancara mendalam, studi kepustakaan yang mengagumkan, serta pengamatan tangan pertama di lapangan, praktisi sinematografi Mark Knobil melalui National Geographic pernah bertutur tentang Bali dengan judul yang menawan: Bali, Masterpiece of Gods. Ada dua hal yang menonjol dalam kesimpulan Knobil tentang Bali. Pertama, kehidupan keseharian orang Bali adalah hasil percampuran antara agama dan seni. Kedua yang bisa menjadi bahan merenda agama Tirtha ke depan, praktek keagamaan di Bali berdiri di atas empat tiang penyangga: kecintaan akan alam, rasa hormat pada leluhur, Buddha dan Hindu.

Kesimpulan pertama mengingatkan kita pada ”silsilah spiritual” orang Bali, di mana semua hal dalam kehidupan (tidak saja upacara) merupakan perpaduan antara agama dan seni. Hasil perpaduan ini kemudian dipersembahkan. Sebagai hasilnya, lihatlah tertata rapinya alam spiritual sekaligus alam material  Bali beratus-ratus tahun. Mirip dengan kehidupan orang Indian di Amerika (sebagaimana disimpulkan antropolog Carlos Castaneda dalam The Power of Silence), dalam kehidupan orang Bali hampir setiap tempat adalah tempat suci. Itu sebabnya, orang Bali setia sekali pada tanah kelahirannya. Lebih-lebih bagi tetua Bali yang dulunya hampir semuanya bertani. Pekerjaan petani ketika itu tidak ubahnya dengan pemuja Ibu pertiwi. Ketika ia membersihkan tanah dari kotoran maupun rerumputan, mencangkul, membajak sawah, memupuk, semuanya hanyalah rangkaian pemujaan pada alam dan Ibu pertiwi. Bisa dimaklumi kalau konsep Tri Hita Kharana memperoleh banyak pendukung di Bali. Lebih-lebih jika ditambah dengan hari raya tertentu yang mengucapkan terimakasih pada alam semesta (tumpek kandang misalnya). Sehingga dalam totalitas, soal kecintaan akan alam, sejarah Bali menyimpan catatan panjang sekaligus mengagumkan.

Rasa hormat pada leluhur, ini juga sulit dibantah pada kehidupan orang Bali dalam kurun waktu yang lama dan panjang. Hadirnya Pura Merajan yang jumlahnya tidak terhitung, habisnya tidak sedikit waktu orang Bali untuk memperjelas soroh (silsilah keturunan). Upacara Ngaben dan upacara-upacara lain sebagai penghormatan terakhir pada leluhur. Belum lagi ditambah dengan diperlakukannya orang-orang tua di Bali secara lebih terhormat dibandingkan dengan tempat-tempat lain di dunia (perhatikan jumlah panti jompo di Bali dan bandingkan dengan jumlah panti yang sama di Barat misalnya). Sehingga leluhur, dalam perspektif ini, menjadi sebuah tiang penyangga keharmonian masyarakat Bali dalam waktu yang lama dan panjang.

Berkaitan dengan Hindu, Bali juga demikian kayanya akan bukti. Dari tempat ibadah yang banyak menyebut Dewa Hindu seperti Ciwa, Wisnu dan Brahma. Sebutlah pura termegah yang bernama Besakih, demikian juga Pura-Pura desa, semuanya mewakili ketiga nama Dewa dalam tradisi Hindu. Ciwa memang sebuah sebutan yang paling banyak disebut (lengkap dengan nama-nama lainnya), namun setelah peninggalan Guru Besar Mpu Kuturan di abad ke sebelas, Bali seperti demikian ajegnya di bawah naungan tiga nama besar: Ciwa, Wisnu dan Brahma. Di hampir semua pura desa, ketiganya memiliki tempat masing-masing yang amat dihormati: Pura Dalem, Pura Puseh dan Pura Bale Agung.

Unsur Buddha kendati oleh sebagian kecil orang Bali mau diingkari, juga masih tersisa sampai sekarang.  Bila berbicara pemetaan Pura di Bali, tidak mungkin untuk tidak menyebut Pura Besakih dan Pura Ulun Danu Batur.  Dan di kedua tempat suci ini, sampai sekarang masih tersisa tempat persembahyangan untuk umat Buddha. Di Pura Besakih bernama Pura Ratu Gede Ngurah Subandar, di Pura Ulun Danu Batur diberi nama Pura Konco.  Bukti  lain, tujuan olah spiritual ala tetua Bali disebut Moksha. Ini mirip sekali dengan Pratimoksha (arahat) yang menjadi tujuan pencapaian para sahabat di Hinayana. Almarhum Bapak IGB Sugriwa pernah menterjemahkan salah satu kitab suci yang pernah ada di Bali yakni  Sang Hyang Kamahayanikan. Setelah dipelajari buku ini, ternyata acuannya adalah sad paramita (enam kesempurnaan) yang menjadi kerangka  melangkah  para   sahabat  di  Mahayana.

Penentuan lokasi Pura ala tetua Bali dengan konsep Nyegara-Gunung, Lingga-Yoni (lihat tulisan ’Purnama di tanah Tantra’), mirip sekali dengan jalan-jalan Tantrayana. Di mana guru akar terpenting bernama Samantabhadra. Beliau disimbolkan dengan Buddha telanjang memeluk wanita telanjang. Di Pura Pegulingan (Tampaksiring) masih tersisa sampai sekarang sebuah stupa besar yang sama besarnya dengan stupa di puncak Borobudur. Dan tetua menanam ye-te mantra di sana. Sebuah mantra yang sangat menggetarkan bagi mereka yang mendalami ilmu pembebasan.

Kendaraan pencerahan

Sebagaimana bangunan yang sebenarnya yang memiliki empat tiang penyangga, kekokohannya tentu ditentukan bukan oleh salah satunya namun oleh keempat-empatnya. Preferensi berlebihan pada salah satu tiang, apa lagi disertai oleh upaya sengaja melupakan tiang-tiang yang lain, sangat mungkin menghadirkan guncangan-guncangan.

Bali dulu yang ratusan tahun bertumpu pada empat tiang ini (kecintaan akan alam, hormat pada leluhur, Hindu dan Buddha) memang oleh beberapa tokoh disebut dengan sebutan tradisional. Namun ia membawa kedamaian, ketenteraman, keajegan yang mengundang decak kagum masyarakat dunia. Demikian kagumnya, sampai-sampai disebut Pulau Dewata, Pulau Surga, surga terakhir.

Bali sekarang memang diberi sebutan modern. Pendapatan per kapita  meningkat, pariwisata lebih maju  dari  dulu,  bangunan-bangunan  modern  juga menjulang di sana-sini, rata-rata pendidikan masyarakat juga meningkat. Dan di zaman ini juga terjadi bom meledak. Sehingga para pemimpin Bali menganggap perlu mengibarkan bendera Ajeg Bali tinggi-tinggi.

Tidak semua yang terjadi dulu itu positif, tidak semua yang terjadi sekarang ini negatif. Namun, manusia yang melupakan sejarah serupa dengan rumput liar yang mudah sekali dicabut dan diterbangkan angin. Dan sekarang menjadi pilihan kita semua orang-orang Bali, untuk merenung. Akankah kita menjadi rumput liar, atau menjadi sekokoh pohon beringin yang hadir di banyak sekali tempat sakral di Bali?

Bila mau jadi pohon beringin, tiang-tiang penyangga mana diantara empat tiang ini yang kurang kita perhatikan? Ada sahabat yang menyebut alam yang sakral ini telah dinodai. Ada yang mengatakan kalau segi Buddha dari masyarakat Bali sudah hilang. Ada juga yang menyimpulkan Hindunya keliru. Ada juga yang menganggap kita lupa leluhur. Entahlah,  perdebatan kadang perlu kadang juga tidak perlu. Logika dan bahasa kerap membantu, kerap membelenggu. Yang jelas, melalui praktek keseharian kita masing-masing, kita sedang merenda agama Tirtha.  Akankah hasil rendaan kita akan membuat Bali semakin kokoh, atau malah semakin berguncang, tergantung bagaimana kita memandang agama. Bila agama diletakkan sebagai kendaraan untuk memuaskan ego (praktek saya benar, praktek orang salah kemudian mudah tersinggung), maka sampai kapan pun agama akan menjadi sumber perpecahan.  Bila agama diletakkan sebagai jembatan persahabatan dan pembebasan, ia akan menjadi kendaraan pencerahan.

Bila ada konsep orang yang sulit dimengerti, belum tentu salah, belum tentu jahat. Kerap terjadi, kegagalan mengerti orang lain terjadi karena kita belum berhasil memahaminya. Bisa saja karena orang mendaki dari arah yang berbeda, bisa juga karena kita berada di tingkatan yang berbeda. Namun di suatu waktu, ketika kita sama-sama sampai di puncak pemahaman, percayalah kita akan berpelukan dengan penuh senyuman.

Tirtha dalam keseharian

Bila kita sepakat bahwa agama warisan tetua Bali adalah agama Tirtha yang meletakkan air suci sebagai unsur utama, mungkin layak merenungkan dalam-dalam sifat air.

Pertama, air itu lentur sehingga bisa melewati semua halangan. Ini memberi inspirasi, bila Bali mau melewati banyak penghalang, kembalilah ke kelenturan. Perhatikan lagu anak-anak di desa tua Bali yang berbunyi ”Dabdabang dewa dabdabang, mumpung dewa kari alit”. Nak, dalam hidup jangan lupa tenang, sabar, lentur. Lebih awal engkau mempelajarinya lebih baik, begitulah kira-kira pesan tetua dalam hal ini.

Kedua, air senantiasa mengalir ke tempat yang rendah. Ia memberi pelajaran tentang kerendahatian. Bukan kebetulan bila anak-anak di desa tua Bali ketika pertama kali belajar bernyanyi diajarkan lagu eda ngaden awak bisa yang mengajarkan kerendahatian. Rendah hatilah dan engkau akan ditinggikan, begitu sebagian tetua pernah menyisakan pesan.

Ketiga, secara kimiawi air dibentuk oleh unsur-unsur api. Hidrogen itu api, oksigen adalah yang memungkinkan api terjadi. Namun kendati kedua unsurnya api, begitu diolah rapi ia menjadi lembut, sejuk dan halus. Ini memberi pelajaran, kehidupan Bali boleh penuh api (bom teroris, gantung diri, rabies, AIDS/HIV dll), namun belajarlah mengolahnya agar jadi lembut, sejuk dan halus. Dan puncak kelembutan dan kehalusan ketemu ketika mengerti dalam-dalam hakekat nyepi dan shanti.

Carlos Castaneda seperti bisa mewakili kearifan tua orang-orang Bali. Dalam The Power of Silence ia menulis: Silent knowledge is something that all of us have. Something that has complete mastery. But it cannot think, it cannot speak of what it knows. Ini mirip sekali dengan orang-orang Bali dulu yang amat pendiam, murah senyuman, kaya persahabatan. Semuanya diungkapkan dengan satu bahasa: diam. Bukan sembarang diam, namun diam yang kaya rasa sekaligus kaya makna. Demikian kayanya hingga tidak ada bahasa manusia yang bisa mewakilinya. Dalam bahasa agama Tirtha, ini disebut manasa Tirtha. Air suci yang dipercikkan di kedalaman batin. Bila mau dijelaskan, lidah mana pun akan kurang panjang untuk bisa menjelaskan manasa Tirtha.

Ezra Bayda dalam At Home in The Muddy Water, jernih sekali dalam hal ini: “Practice is about giving ourselves to others, but like white birds in the snow”. 0rang-orang yang sudah mengalami manasa Tirtha memperlakukan semua kejadian dalam kehidupan (baik yang menyenangkan maupun yang menjengkelkan) sebagai latihan spiritual. Dan puncak latihan spiritual ditemukan ketika hidup hanya berisi pemberian. Mirip dengan burung putih di salju. Bekerja, berkaya, berdoa terus menerus sekali pun tidak kelihatan.

sumber: http://www.gedeprama.blogdetik.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: