Oleh: Gusti Sudiartama | Juli 26, 2011

BIARKAN KEDAMAIAN BICARA

Dalam jangka waktu yang amat lama, wacana publik kita ditandai oleh kekerasan yang memperkuda kedamaian. Tidak hanya setelah republik ini merdeka, jauh sebelumnyapun sejarah kita sudah ditandai oleh wajah- ajah kekerasan di sana-sini. Di Jawa Barat sana, banyak orang yang tingkat penghormatannya lebih rendah di bandingkan daerah Jawa lainnya terhadap nama Gajah Mada. Apa lagi yang ada di balik ini semua kalau bukan sejarah kekerasan. Sejarah masa penjajahan apa lagi. Bercak dan aliran darah ada di mana-mana. Dulunya, setelah kemerdekaan direbut dan pembangunan dijalankan, diharapkan bercak dan aliran darah bisa dihilangkan. Nyatanya, baik di masa orde lama, orde baru, bahkan sampai sekarangpun ia masih menjadi berita di hampir setiap media. Ambon, Poso, Aceh, Irian Jaya, Jakarta hanyalah sebagian saja dari sekian banyak kekerasan mengerikan, tapi menjadi santapan wacana yang digemari. Belum lagi ditambah dengan kekerasan-kekerasan tersembunyi lainnya. Industri keuangan dan perbankan yang dirampok orang di sana-sini. Uang negara yang dijarah dari dulu hingga sekarang. Hubungan industrial yang ditandai banyak demonstrasi, pemogokan, pembakaran dan sejenisnya. Dan deretan panjang kekerasan lainnya. Entah mana yang lebih mewakili. Sejarah manusia yang memang membawa kekerasan ke mana-mana, atau karena publik lebih tertarik dengan topik-topik kekerasan. Yang jelas, sulit diingkari kenyataan, semakin banyak berita kekerasan muncul dalam wacana publik, semakin laris medianya, serta semakin banyak orang mau membaca dan terlibat wacana. Anda mungkin sudah mahfum, beberapa tokoh publik dan organisasi masyarakat ” kalau tidak mau dikatakan kebanyakan ” malah “mendulang” hasil dari kekerasan. Buktinya, setelah kekerasan muncul, mereka muncul sebagai pahlawan, penyelamat, bahkan ada yang menjadi penguasa baru. Kadang saya malah bertanya penuh keraguan, tidakkah rezim yang sedang berkuasa ini adalau output dari mesin raksasa yang bernama kekerasan ? Kalau mesinnya mesin kekerasan, adilkah kalau kita mengharapkan output kedamaian dari sana ? Anda jawab sendirilah pertanyaan-pertanyaan penuh keraguan tadi. Yang jelas, dengan resiko ditertawakan orang, ada tidak sedikit orang yang berharap agar kedamaian diberi kesempatan untuk berbicara. Boleh saja dia tidak menarik selera wacana banyak orang. Tidak membuat media menjadi laris manis. Tidak juga menghasilkan pahlawan dan penyelamat. Akan tetapi, bukankah menjadi hak azasi setiap orang untuk hidup damai ? Dibandingkan terlalu banyak bertanya, mari kita sama-sama ulas persoalan dianaktirikannya kedamaian oleh kekerasan. Mereka yang diteropong oleh Naisbitt masuk ke dalam kotak spirituality yes, formal religion no, mungkin menyebut agama telah gagal. Mereka yang antikekuasaan akan menunjuk hidung kekuasaan sebagai biang keladi. Pemerhati pendidikan lain lagi, mereka menuduh lembaga terakhir sudah tidak berfungsi lagi sebagai pembawa misi perdamaian. Izinkan saya meneropong persoalan ini di tingkat individu. Ada sebuah kualitas pribadi yang berperan besar dalam memproduksi kekerasan. Dia bernama Aku. Dalam keakuan, banyak sekali hal yang sebenarnya berasal dari kedamaian sekalipun, bisa berubah menjadi kekerasan. Bibit-bibit keakuan terakhir bisa bersumber dari keyakinan dan perasaan benar, harga diri yang tinggi, keserakahan akan harta dan tahta, dll. Coba bayangkan sepasang suami isteri yang sudah sejak lama hidup damai di hutan tanpa gangguan berarti. Suatu hari, ada kebutuhan untuk sekali-sekali bertengkar satu sama lain. Dan sepakatlah mereka untuk memulai pertengkaran. Sang isteri berkata dengan nada membentak : “ini ketela kesukaanku !”. Dan suaminya berfikir sejenak, kemudian menjawab dengan penuh kesabaran : “ya itu memang kesukaanmu, dan marilah kita makan sama-sama seperti biasa”. Maka, batallah pertengkaran yang sudah direncanakan terlebih dahulu ini. Cerita ilustratif ini menunjukkan, keakuan memang sudah menjadi sumber pertengkaran di mana-mana. Namun, kesediaan dan kesabaran untuk senantiasa awas dengan keakuan tadi, sudah dan akan terus membantu proses menuju kedamaian. Bedanya dengan kekerasan yang datang tanpa diundang, kedamaian memerlukan “undangan” khusus agar dia datang. Demikian khususnya, sehingga memerlukan biaya yang amat besar. Salah satu laporan majalah Fortune ,( maaf saya lupa edisinya) pernah melaporkan sebuah kecenderungan yang mereka sebut dengan the new corporate mystiques. Ternyata, apa yang mereka sebut dengan mistik-mistik baru dunia usaha adalah kecenderungan sejumlah raksasa usaha di sana, untuk mengundang sejumlah rahib Buda sebagai pelatih. Bukan untuk mengajak orang masuk agama Buda. Melainkan, mengajari ekskekutif hidup dalam kedamaian. Kedamaian ( demikian mereka meyakini ) adalah syarat utama dari produktivitas. Dalam kedamaian, kita bisa melakukan dan mencapai lebih banyak hal. Mirip dengan keluarga di rumah, apa yang bisa kita capai kalau setiap hari isinya hanya pertengkaran ? Ada yang bertanya, bukankah kedamaian akan lebih terasa nikmatnya kalau kita pernah mengalami kerusuhan ? Tentu saja. Sebab, kehidupan merupakan hasil dari dialektika. Dan dialektika terakhir, sulit diharapkan berhasil optimal kalau salah satunya jauh lebih dominan dibandingkan yang lain. Mirip dengan kehidupan kita sekarang-sekarang ini, terutama dengan hadirnya kekerasan di banyak pojokan ruang publik. Akankah kita biarkan kedamaian menjadi kuda bisu yang ditunggangi kekerasan ?

Oleh: Gede Prama


Responses

  1. Kedamaian akan bicara kalau rakyat sejahtera. Kapan? Tanya Raja dan para punggawanya.

    šŸ™‚ Salam,

    Mochammad
    http://mochammad4s.wordpress.com
    http://piguranyapakuban.deviantart.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: