Oleh: Gusti Sudiartama | Agustus 24, 2011

Sekilas Tentang Tantrayana

Print E-mail

Beberapa hari yang lewat, titiang banyak melihat posting tentang Pengiwe Muang Penengen, Untuk menghindari persepsi yang keliru bersama ini titiang postingkan tentang pengiwe & penengen. mogi hal ini bisa memberikan sekilas gambaran kearah situ.

KAJIAN TENTANG SEJARAH

Beberapa orang Indoloog beranggapan, bahwa ada hubungan antara kosepsi – DEWI ( Mother Goddes) yang bukti buktinya terdapat didalam suatu zeal di lembah Sindhu di India, dalam kurun waktu sebelum zaman Weda, dengan konsepsi maha Nirwana Tantra, yang berpangkal kepada percakapan Dewi Parwati dengan Sang Hyang Sadaciwa, yang kemudian membentangkan turunnya Dewi Durga ke Bumi pada zaman Kali untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran moral dan prilaku.

Dalam beberapa sumber, Dewi Durga juga disebut Candi. Dari sinilah pada mulanya timbul istilah candi (Candikagrha) Untuk menamai bangunan suci sebagai tempat memuja Dewa dan Arwah yang telah dianggap suci. Peran Dewi Durga dalam menyelamatkan dunia dari ambang kehancuran dari moral dan Prilaku disebut “KALIMOSADA” ( Kali – Maha – Husada ) yang artinya Dewi Durga adalah Obat yang paling Mujarab dalam zaman kekacauan moral, pikiran dan prilaku, sedangkan misi beliau turun ke Bumi disebut “KALIKA DHARMA”

UNSUR PREDANA TATWA

Dari Konsepsi – Dewi itu munculah saktiisme, yaitu suatu paham yang mengkhususkan pemujaan kepada Sakti, yang merupakan suatu kekuatan dari pada Dewa. Didalam konsep monodualis, bahwa Nirguna Brahma dalam Dewa bersifat pasif yang juga disebut “Dewa”, sedangkan saguna Brahman dalam Dewa yang bersifat aktif yang disebut “Dewi” dari sinilah kemudaian muncul istilah Dewa & Dewi atau juga Bethara & Bhetari yang oleh pikiran manusia dipandang sebagai manifestasi tersendiri dan juga dipersonifikasikan dalam imajinasi manusia secara tersendiri pula. Para pemuja sakti ini disebut dengan “Sakta” Dalam perkembanganya lebi lanjut daripada saktiisme ini, maka munculah Tantriisme, yaitu suatu paham yang memuja sakti secara ekstrim, para penganut paham ini disebut dengan “TANTRAYANA”.

Istilah Tantrayana ini berasal dari akar kata Tan = yang artinya memaparkan kesaktian atau kekuatan daripada Dewa itu. Di India penganut Tantrisme lebihbanyak terdapat di India Selatan – kalau dibandingkan dengan India Utara. Kitab kitab yang memuat ajaran Tantrayana banyak sekali kurang lebih ada 64 macam antara lain :

Maha Nirwana Tantra, Kularnawa Tantra, Tantra Bidhana, Yoginirdaya Tantra, Tantra sara, dsb
Tantrayana berkembang luas sampai ke Cina, Tibet, dan Indonesia dari Tantrisme munculah suatu faham “BHIRAWA” yang artinya hebat. Paham Bhirawa secara khusus memuja kehebatan daripada sakti, dengan cara cara yang spesifik. Bhairawa inipun sampai berkembang ke Cina Tibet, dan ndonesia.
Di Indonesia masuknya saktiisme, Tantrisma dan Bhairawa, dimulai sejak abad ke VII melalui kerajan Sriwijaya di Sumatra, sebagaimana diberikan pesaksian oleh prasasti Palembang tahun 684, berasal dari India selatan dan tibet.

Dari bukti peninggalan purbakala dapat diketahui ada tiga peninggalan purbakala yaitu : Bhairawa Heruka yang terdapat di padang lawas Sumatra barat, Bhairawa Kalacakra yang dianut ole Kertanegara – Raja Singasari Jawa Timur, serta oleh Adityawarman pada zaman Gajah Mada di Majapahit, dan Bhairawa Bima di Bali yang arcanya kini ada di Kebo Edan – Bedulu Gianyar. Aliran aliran Bhairawa ini mempunyai tendensi poltik guna untuk mendapatkan kharisme besar yang diperlukan dalam pengendalian pemrintahan dan menjaga keamanan Negara. ( kerajaan ) Maka dari itulah oleh raja raja dan petinggi pemrintahan serta tokoh tokoh masyarakat sangat menggandrungi faham ini pada zaman dahulu.

Pada jaman dahulu dimana takhnologi belum maju, penjagaan keamanan negara dan pengendalia pemrintaha berdasarkan Kharismaraja dan tertinggi pemrntahan. Kertanegara menganut Bhairawa Kalacakra untuk mengimbangi kekuatan kaisar Khu Bhi Lai Khan di Cina yang menganut Bhaira Heruka. Kebo paru patih Singasari menganut Bhairawa Bhima untuk mengimbangi Raja Bali yang karismanya sangat tinggi pada jaman itu. Adityawarman menganut Bhairawa Kalacakra untuk mengimbangi raja raja Pagaruyung di Sumatra barat yang menganut Bhairawa Heruka.

Di bali perkembangan daripada konsepsi – Dewi oitu nyata sekali berupa pemujaan terhadap Dewi atau Bhetari lebih menonjol dari pada pemujaan terhadap Dewa atau Bhetara, Misalnya pemujaan terhadap Dewi saraswati, Dewi Durga, Dewi Cri, Dewi Gangga, Dewi Danuh dsbnya.
Didalam sistem kekerabatan di Bali banyak sekali terdapat Pura Ibu yang mempunyai konotasi terhadap konsepsi – Dewi.

PENGIWE & PENENGEN

Perkembangan saktiisme di Bali juga menjurus dua aliran mistik yaitu “PENGIWE & PENENGEN”
Dari Pengiwa munculah pengetahuan tentang “LEYAK”. DESTI = Serana, TELUH = cetik TARANJANA = yang bisa terbang dan WEGIG = bebeki. Dari Penengen muncullah pengetahuan tentang “KEWISESAN” dan “PRAGOLAN” = mantra. Pengiwa berasal dari sistem “Niwerti” dalam doktrin Bhairawa, sedangkan penengen berasal dari sistem “Prawerti” dalam doktrin Bhairawa. Selain itu beberapa formula dalam Atharwa Weda mengilhami mistik ini. Adapun kitab kitab Tantrayana di Indonesia antara lain: TANTRAWAJRADHASUBUTHI CANDARA BHAIRAWA dan SEMARA TANTRA.

Ada suatu karya yang populer di Bali yang bernama “TANTRI” yang memaparkan berbagai episode yang pada mulanya mengungkapkan suatu aspek “MAITHUNA” dari PancaTattwa suatu doktrin Tantrayana.

sumber: Made Sudiada/parisadha.org

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: