Oleh: Gusti Sudiartama | Desember 17, 2011

Pengambilan/Niwakang Padewasan sehubungan dengan Pitra Yadnya


  1. Landasan.
    Adapun landasan yang dipakai di dalam niwakang padewasan oleh para Sulinggih sehubungan dengan pelaksanaan pitra yadnya (atiwa- tiwa) adalah Keputusan Campuhan Ubud pada tanggal 17 s/ d 23 Nopember 1961.
  2. Pengertian dan tujuan:
    1. Pengertian: Pemilihan hari yang baik dalam pelaksanaan atiwa- tiwa.
    2. Tujuan: Menuntun umat mempergunakan waktu sebaik- baiknya untuk menuju jagathita dan akhirnya mencapai moksa.
  3. Jenis- jenis Padewasan.
    1. Padewasan yang sifatnya amat segera atau dadakan.
    2. Padewasan serahina. (Sehari- hari).
    3. Padewasan berjangka (berkala).
  4. Pelaksanaan.
    1. Padewasan yang sifatnya amat segera (dadakan) adalah sebagai berikut:
      1. Apabila melaksanakan atiwa- tiwa dadakan dalam jangka waktu tujuh hari boleh dilaksanakan atiwa- tiwa sebagaimana mestinya, akan tetapi tetap memperhatikan larangan- larangan yang terdapat di dalam wariga dan dewasa kekeran desa.
      2. Apabila pelaksanaan atiwa- tiwa dilakukan pada larangan- larangan tersebut di atas, maka sesuai dengan lontar Eka Pratama hendaknya- dilakukan pada malam hari dengan membawa sarana prakpak (Sundih).
      3. Pelaksanaan atiwa- tiwa lebih dari tujuh hari kalau ada kekeran desa, mengambil perhitungan tujuh hari setelah bhatara masineb.
      4. Bila ada seseorang yang meninggal dalam satu dadia (keluarga) belum dilaksanakan upacara atiwa- tiwa kemudian disusul dengan meninggalnya anggota dadia itu sendiri maka pelaksanaan atiwa- tiwa boleh dilakukan mengikuti anggota yang baru meninggal, dan disesuaikan dengan desa- kala, patra.
      5. Adapun larangan- larangan waktu untuk atiwa- tiwa, yaitu:
        Pasah, Anggara kasih, Budha Wage, Budha Kliwon, Tumpek, Prawani, Purnama, Tilem.
    2. Padewasan serahina (sehari- hari) sebagai berikut:
      Bila pelaksanaan atiwa- tiwa tersebut dilaksanakan lebih dari jangka waktu tujuh hari, hendaknya memperhitungkan padewasan serahina yang perhitungannya berdasarkan wewaran, wuku dan dauh.
    3. Padewasan berjangka (berkala).
      Adapun yang dimaksud dengan padewasan berjangka adalah pelaksanaan atiwa- tiwa berdasarkan jangka waktu tertentu (berkala) yang perhitungannya berdasarkan wewaran, wuku, tanggal, panglong, sasih dan dauh.
      Setelah mendapat hari dan tanggal panglong yang baik, maka sertailah dengan sasih yang baik, untuk atiwa- tiwa, yaitu : Kasa, Karo, Katiga.

      Dauh Inti.
      Dari beberapa uraian jenis dauh di atas, maka muncullah perhitungan dauh inti yang baik. Dauh inti adalah merupakan saringan dari pertemuan Panca Dauh dan Astha Dauh sebagai berikut :

Saptawara

Siang

Malam

Redite 07:00 – 07:54 dan 10:18 – 12:42 22:18 – 00:42 dan 03:04 – 04:00
Coma 07:54 – 10:18 00:42 – 03:06
Anggara 10:00 – 11:30 dan 13:00 – 15:06 19:54 – 22:00 dan 23:20 – 01:00
Budha 07:54 – 08:30 dan 11:30 -12:42 22:18 – 23:30 dan 02:30 – 03:06
Wrhaspati 05:30 – 07:54 dan 12:42 – 14:30 20:30 – 22:18 dan 03:06 – 05:30

 

Sekilas Semut Sadulur dan Kala Gotongan

1. Arti kata semut sadulur dan kala gotongan.

Secara tegas belum ditemukan arti/ terjemahannya, namun secara pengandaian atau kias, semut sadulur diibaratkan sebagai semut yang berjalan beriringan tanpa putus. Demikian pula arti kala gotongan dapat diandaikan sebagai kala yang sibuk mondar mandir mengurus sesuatu.

Dengan demikian maka pada saat-saat itu dipandang tidak baik untuk melaksanakan upacara tertentu. Seperti yang diuraikan terdahulu, maka letak bintang-bintang di langit sangat besar pengaruhnya pada aktivitas manusia di bumi. Dalam hal ini telah ditetapkan oleh para Maha Rsi di Bali bahwa pada saat semut sadulur dan kala gotongan tidak baik untuk melaksanakan upacara mendem sawa maupun atiwa-tiwa.

2. Pancawara, Saptawara, dan Uripnya masing-masing:

Pancawara:

  • Umanis = 5
  • Paing = 9
  • Pon = 7
  • Wage = 4
  • Kliwon = 8

Saptawara:

  • Redite = 5
  • Soma = 4
  • Anggara = 3
  • Buda = 7
  • Wraspati = 8
  • Sukra = 6
  • Saniscara = 9

3. Bilamana salah satu Pancawara bertemu dengan salah satu Saptawara berturut-turut selama tiga hari uripnya berjumlah 13 maka dinamakan samut sadulur; bila pertemuan itu berturut-turut tiga hari uripnya berjumlah 14 maka disebut kala gotongan.

4.Contoh:
Kala Gotongan: Sukra Kliwon = 6 + 8 = 14, Saniscara Umanis = 9 + 5 = 14, dan Redite Paing = 5+9=14.

5. Kesimpulan:

  • Semut sadulur dan kala gotongan selalu jatuh pada hari Jumat,  Sabtu, dan Minggu.
  • Semut sadulur dan kala gotongan selalu berturut-turut 3 (tiga) hari.

Demikianlah semoga ada manfaatnya.

 

SALAH PATI DAN NGULAH PATI

Berdasarkan hasil Pesamuhan Agung Para Sulinggih dan Walaka di Campuhan Ubud, tertanggal 21 Oktober 1961 yang telah memutuskan bagi orang mati salah pati dan ngulah pati diupacarai seperti orang mati normal dan ditambah dengan penebusan serta diupacarai di setra atau tunon.

Pengertian Salah Pati dan Ngulah Pati.

Salah Pati:
Mati yang tak terduga-duga atau yang tidak dikehendaki

Ngulah Pati:
Mati karena sesat, yang mengambil jalan pintas, serta sengaja dikehendaki, yang sangat bertentangan dengan ajaran- ajaran agama Hindu.

Jenis mati Salah Pati dan Ngulah Pati.

Salah Pati:
Mati jatuh (kerubah baya).
Mati ketekuk (kastha bahaya).
Mati dimangsa macan, dimangsa buaya, ditanduk sapi, disambar petir, tertimpa tebing dan lain- lainnya (keserenggara).

Ngulah Pati:
Mati meracun diri.
Mati menggantung diri.
Mati menembak diri.
Mati menceburkan diri
dan lain- lainnya.

Pelaksanaan upacara/ upakara.

Setiap orang yang meninggal harus diupacarai sesuai dengan ajaran sastra agama Hindu
Khusus bagi yang ngulah pati, upacara/ upakara ditambah dengan banten pengulapan di tempat kejadian, perempatan/ pertigaan jalan dan cangkem setra:
Banten pengulapan dipersatukan dengan sawanya baik mependem maupun atiwa- tiwa

Tafsir Agama Hindu Dharma
HIMPUNAN KEPUTUSAN SEMINAR KESATUAN TAFSIR TERHADAP ASPEK- ASPEK AGAMA HINDU I S/D XV.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: