Oleh: Gusti Sudiartama | Desember 17, 2011

Raja Guhya, Raja Dharma

JALAN RAHASIA

Dalam ajaran Hindu terdapat ajaran-ajaran rahasia yang tidak sembarangan diungkap. Seperti misalnya Ashvini Rahasya, Tripura Rahasya, dll. Di Bali dikenal dengan istilah ”aja wera” [tidak boleh dibicarakan]. Tapi karena berbagai pertimbangan, Rumah Dharma memutuskan untuk menulis sebagian kecil dari ajaran rahasia tersebut. Dengan catatan bahwa tidak semua orang akan bisa tersambung dengan tulisan ini. Hanya bagi mereka yang bathinnya sudah ”siap” [bathin cukup bersih, tenang, welas asih, baik hati, dll].

 

Ada tiga faktor yang memunculkan adanya ajaran-ajaran rahasia. Semua ajaran rahasia mencakup salah satu atau lebih dari ketiga faktor ini :

1. Ajaran rahasia yang terkait pengalaman langsung [pratyaksa pramana]. Rahasia bukan karena dirahasiakan, melainkan karena terkait pengalaman bathin yang tidak bisa diceritakan dengan kata-kata. Setiap penjelasan tidak akan pernah bisa mewakili secara tepat, hanya bisa dialami sendiri secara langsung. Karena itu faktor ini tidak bisa dituliskan dan diceritakan.

2. Ajaran rahasia yang dirahasiakan untuk menghindari kesalah-pahaman publik. Karena ajaran ini bertentangan dengan logika sebagian besar manusia [note : faktor ini yang akan dibahas dalam tulisan ini].

3. Ajaran rahasia yang dirahasiakan untuk menghindari penyelewengan ajaran. Umumnya ini terkait ajaran tingkat tinggi. Seperti misalnya shakti yoga yang dapat membuat seseorang menjadi siddhi [sangat sakti], laku [praktek spiritual] yang terkait dengan ketelanjangan, dll. Tapi untuk selebihnya ini tidak akan dibahas lagi.

FAKTOR KEDUA

[Yang akan dibahas dalam catatan ini adalah faktor kedua dalam penjelasan diatas].

Syarat penting bagi seorang sadhaka untuk dapat diijinkan memasuki jalan rahasia ini adalah ketika cahaya bathin-nya sudah serupa dengan cahaya matahari dan bulan.

Matahari dan bulan bercahaya menerangi semuanya tanpa memilih. Tidak memilih orang harus agamanya apa atau tidak beragama sekalipun, tidak membedakan orang baik atau orang jahat, cantik atau jelek, bodoh atau cerdas, kaya atau miskin, dll. Semuanya diberikan cahaya terang secara sama, tanpa syarat. Artinya kapan saja kita bisa bersikap penuh welas asih dan penuh kebaikan, secara sama, tanpa syarat kepada semua. Kepada orang yang memuji ataupun menghina, kepada yang baik maupun jahat, kepada yang menolong maupun yang menyakiti, dll, disana kita dapat diijinkan memasuki jalan rahasia ini.

** Tugas pertama sadhaka di jalan rahasia adalah mengurangi penderitaan para mahluk. Dalam penjelasan sederhana : tidak membalas caci-maki dan hinaan orang lain, tidak marah pada orang yang memarahi kita, tidak menyakiti orang yang jahat, tidak melawan pada yang merendahkan kita, mengalah, dll. Artinya ketika ada yang menghujat, menyakiti, merugikan, dan yang jelek-jelek lainnya, kita tidak bereaksi apapun kecuali diam, tersenyum dan memancarkan welas asih dan kebaikan. Itu semua sudah mengurangi penderitaan orang lain. Dan bagi para sadhaka dia malah akan memberikan lebih, untuk membuat mereka berbahagia.

Sadhaka seperti ini, bagi yang tidak paham, sangat rawan dicurigai aneh, tidak wajar, lemah, belog polos [bodoh dan lugu], dll. Bagi yang paham akan mengerti bahwa inilah yajna [persembahan] tertinggi.

** Tugas kedua sadhaka di jalan rahasia adalah menjaga keseimbangan alam semesta ini [karena alam semesta ini harus seimbang]. Dibalik kecenderungan semua manusia yang mengejar bahagia dan bahagia, untung dan untung, menang dan menang, kaya dan kaya, disana harus ada yang menderita, sial, kalah dan rugi. Dan para sadhaka di jalan rahasia, dialah yang mengambil semua yang jelek-jelek itu [agar alam semesta ini seimbang]. Seluruh hidupnya dia jadikan persembahan [yajna] bagi mahluk lain dan alam semesta.

Misalnya [contoh] persembahan di jalan rahasia ini : ”Kalau kita dilempar dengan batu, berikanlah bunga”.

>>>>>>>>>

Dan jangankan uang, harta-benda, waktu, kekayaan, harga diri, gengsi, dll, tubuh dan nyawa kita-pun di jalan rahasia ini dijadikan yajna [persembahan].

Seperti kisah Raja Sibi dalam Maha Bharata. Raja Sibi adalah sadhaka di jalan rahasia. Raja Sibi memotong dan mengiris-iris dagingnya sendiri sebagai pengganti kepada burung elang, untuk menyelamatkan kapotha [burung merpati]. Tubuhnya sendiri dijadikan persembahan [yajna] demi kebahagiaan mahluk lain. Sadhana Raja Sibi ini di dalam teks-teks Shiva disebut “Raja Dharma” dan beliau disebut avatara Shiva sebagai Kapothesvara.

>>>>>>>>>

 

MENGAPA RAHASIA ?

Karena para sadhaka di jalan rahasia ini pedoman-nya, ukuran-nya dan logika-nya terbalik dengan orang kebanyakan yang duniawi. Dalam logika orang biasa [orang duniawi], hidup adalah mengejar bahagia dan tidak mau menderita, berupaya mendapat surga dan tidak mau neraka, mendapat label benar dan tidak mau mendapat label salah, mengejar untung dan tidak mau rugi, mengejar menang dan tidak mau kalah, mengejar kaya dan tidak mau miskin, dll. Sedangkan di jalan rahasia ini pedoman-nya, ukuran-nya dan logika-nya terbalik, seperti : kebahagiaan mahluk lain penting, saya tidak penting.

Sehingga mengajarkan jalan rahasia ini kepada umum, untuk kebanyakan orang sangat rawan bisa dicurigai bodoh, aneh, menyimpang dan tidak waras, bisa memicu penolakan dan perselisihan, atau bahkan bisa dihujat, dibenci, dihajar ramai-ramai dan salah-salah bisa dibunuh. Seperti misal-nya Mahatma Gandhi yang mati ditembak. Mengapa ? Karena beliau bertemu orang-orang yang pedoman-nya, ukuran-nya dan logika-nya terbalik dengan jalan rahasia.

Itulah sebabnya jalan ini cenderung hanya diajarkan kepada murid-murid yang memang yang sudah siap memasuki gerbang dharma yang tertinggi [Raja Dharma].

Contoh lainnya [misalnya] :

– Bila sebagian besar manusia mencintai keramaian dan perayaan, sadhaka yang mulai memasuki wilayah rahasia ini dia memilih keheningan hutan, tempat yang sepi dan alami. Ada juga yang berkelana. Langit laksana atap rumah, bumi laksana lantai.

– Bila sebagian besar manusia mencintai kekayaan, kemewahan dan kehormatan, sadhaka yang mulai memasuki wilayah rahasia ini dia memilih kesederhanaan. Bahkan ada diantara sadhaka di jalan ini tidak memiliki apapun, semua miliknya dijadikan yajna [persembahan] kepada orang lain yang memerlukan.

– Terbalik dengan orang biasa, sementara milyaran manusia berdoa agar dirinya yang mendapatkan kebahagiaan, para sadhaka ini berdoa agar dirinya-lah yang menampung penderitaan para mahluk. Karena alam semesta ini harus seimbang, diantara milyaran manusia yang ingin bahagia, harus ada yang mengambil penderitaan. Tidak ada siang tanpa malam, tidak ada kebahagiaan tanpa penderitaan. Sehingga mantra [doa] rahasia para sadhaka di jalan ini : “Semoga semua penderitaan datang kepada saya, semoga semua kebahagiaan datang kepada mahluk lain”.

– Dll.

Lihatlah sebagian kecil contoh diatas, bahwa pedoman-nya, ukuran-nya dan logika-nya terbalik dengan orang kebanyakan. Sehingga dimata orang kebanyakan, hal ini biasanya sangat rawan dicurigai ajaran bodoh, aneh, menyimpang atau tidak waras.

Untuk menghindari kontroversi dan konflik, ajaran ini hanya dilaksanakan bagi para mereka yang sudah siap saja dan tidak diajarkan kepada umum [rahasia]. Tapi ketika ada orang biasa yang bertanya, akan disampaikan dalam bentuk prosa, bahasa-bahasa puitis dan simbolik. Dimana pedomannya sederhana, ketika cahaya bathin kita sudah serupa dengan cahaya matahari dan bulan, disana baru kita bisa memasuki jalan rahasia ini [matahari dan bulan bercahaya menerangi semuanya tanpa memilih].

POHON YOGA

Setelah melewati sadhana [disiplin spiritual] yang panjang, puncak perjalanan seorang sadhaka tercapai ketika bathin mulai hening, sunyi, sepi. Tidak ada ke-aku-an, kemarahan, ketakutan, kebingungan, keinginan, keserakahan, dll, yang tersisa. Kemudian memasuki jalan rahasia. Ini sering disimbolikkan sebagai pohon yoga. Dalam keheningannya, pohon bekerja dua puluh empat jam sehari. Dan semua bunga, buah dan oksigen yang dihasilkannya diperuntukkan bagi mahluk lain.

 

Para sadhaka di jalan rahasia mewakili unsur akasha [ruang] dari alam semesta. Karena ada ruang maka cahaya matahari bisa melaksanakan tugasnya, pohon bermekaran, sungai mengalir, manusia bisa tumbuh menjadi lebih dewasa, dll. Ruang merangkul dan menyediakan tempat bagi apa saja dan siapa saja tanpa membeda-bedakan. Ruang mewakili TIDAK TERHINGGA, TIDAK TERBATAS. Ke-tidak-terhinggaan keheningan sekaligus ketidakterbatasan kasih sayang.

PENUTUP

Inilah sekelumit kecil tentang pengetahuan rahasia. Semoga tulisan ini berguna.

Om Aim Shrim Hrim Sarasvatyai Namaha. Selamat Hari Sarasvati.

Rumah Dharma – Hindu Indonesia

20 April 2011


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: