Oleh: Gusti Sudiartama | Desember 23, 2011

Kesadaran Murni : Kutipan dari Ashtavakara Gita

Ashtavakara Gita atau Ashtavakara Samhita adalah salah satu kitab suci Hindu, yang ditulis dalam bentuk dialog antara Ashtavakara [seorang yogi yang sudah sadar] dan Janaka [raja Kerajaan Mithila].

 JANAKA BERTANYA : Wahai yang maha mulia, bagaimanakah cara mencapai kebijaksanaan ? Dan bagaimanakah cara pembebasan terjadi ? Dan bagaimanakah ketidakterikatan dapat dicapai ? Tolong jelaskan kepadaku.

ASHTAVAKRA MENJAWAB : Wahai yang tersayang, jika kau ingin terbebaskan dari racun kesengsaraan yang disebabkan oleh berbagai nafsu, maka minumlah madu yang terbuat dari memaafkan, kepolosan, welas asih dan kebaikan, rasa syukur serta kejujuran dan kebenaran. Kau bukan bumi [prthivi], bukan udara [vayu], bukan api [agni], bukan air [apah] dan bukan ruang [akasha]. Untuk mencapai pembebasan, maka sadarilah dirimu sebagai “sang saksi”, yang selalu menyadari segala sesuatu tanpa terikat olehnya.

Wahai yang berkesadaran luas, agama dan tidak beragama, kebahagiaan dan penderitaan : semua itu berasal dari pikiran. Semua hal itu bukanlah untukmu. Kau bukanlah subjek atau objek. Sejak semula kau telah berada dalam keadaan terbebaskan. Kau adalah “sang saksi” yang menyaksikan segala sesuatu. Dan pada hakekatnya kau selalu bebas. Kau menjadi terikat karena kau selalu melihat bahwa “sang saksi” itu berada di luar dirimu, bukan di dalam dirimu sendiri.

Jika kau berkata : “AKU adalah sang pelaku”, maka berarti kau telah membiarkan ular hitam ego atau ke-AKU-an [ahamkara] mematuk dirimu. Dan jika kau sadar hakikat bahwa : “aku bukanlah sang pelaku”, maka berarti kau telah meminum madu kesadaran serta selalu hidup dalam kebahagiaan.

Dunia khayal ini diproyeksikan oleh pikiranmu seperti seutas tali yang disangka sebagai seekor ular. Jika kau menyadari hal ini, maka kau akan terberkati dengan kedamaian, kebahagiaan paripurna dan selanjutnya kau akan mengembara dengan gembira. Orang yang menyadari dirinya bebas, maka dia telah terbebaskan. Orang yang menganggap dirinya terikat, maka dia selalu hidup dalam keterikatan. Dunia ini seperti yang diungkapkan oleh sebuah pepatah kuno : “kau akan menjadi seperti apa yang kau pikirkan”.

Jangan katakan : “AKU adalah individu yang diproyeksikan oleh kehidupan”. Letakkan ilusi ini, letakkan juga perasaan berada di dalam dan di luar, dan bangunlah ke dalam pemikiranmu bahwa kau adalah Yang Tak Berubah, Kesadaran-Murni tanpa dualitas.

Alam semesta ini meluas ke segenap penjuru oleh dirimu. Alam semesta ini terus meluas di dalam dirimu. Pada hakekatnya kau adalah Kesadaran-Murni. Maka, janganlah kau berpandangan sempit. Kau tidaklah terikat, tak berubah, tanpa bentuk, tak terpecah dalam pasangan yang saling bertentangan, tak dapat diduga, bijaksana, dan tak pernah gelisah. Maka, cukuplah kau hanya sadar kepada Kesadaran-Murni yang ada di dalam dan di luar dirimu.

Ketahuilah bahwa setiap yang berbentuk adalah palsu, dan ketahuilah pula Yang Tanpa Bentuk sebagai Yang Tak Berubah dan Abadi. Mengetahui kebenaran dari pelajaran ini akan mengakhiri siklus kelahiran kembali ke dunia ini [siklus samsara]. Sama halnya seperti bayangan dari sebuah cermin, yang terbayang di dalam dengan di luar cermin adalah sama, maka Brahman yang sama juga ada di dalam dan di luar badan ini. Begitu pula halnya, Brahman meliputi semua yang ada di langit dan juga meliputi benda-benda di bumi, Brahman yang kekal abadi juga meliputi segala sesuatu.

PENJELASAN

-Bagaimanakah cara mencapai kesadaran murni ini ?-

1. Pondasi dasar yang menentukan dalam keseharian.

– Memaafkan [bebas dari kemarahan, kebencian, dendam].

– Kepolosan [bebas dari rasa prasangka, rasa curiga. Berarti selalu berpikiran baik dan positif saja].

– Welas asih dan kebaikan [jalan spiritual apapun akan dangkal dan tidak akan mencapai kesempurnaan, kalau tanpa diawali pondasi dasar bathin yang penuh welas asih dan kebaikan kepada semua mahluk].

– Rasa syukur [bebas dari keserakahan dan ketidakpuasan].

– Kejujuran dan kebenaran [bebas dari tindak kejahatan].

2. Menjadi saksi.

Dalam kitab suci tertua, yaitu Rig Veda, pada sloka 1.164.20 tertulis :

Dva suparna sayuja sakhaya

samanam vrksam pari sasvajate

Tayor anyah pippalam svadu-atti

anasnan anyo abhi cakasiti

 Terjemahan :

Ada dua ekor burung yang dipersatukan dengan ikatan persahabatan, bertempat tinggal di atas pohon yang sama. Salah satu dari mereka menikmati buah matang yang manis, sedangkan yang lainnya menjadi saksi tanpa menikmati buah-buahnya.

Makna :

Sebelumnya perlu diketahui bahwa Veda sebagian isinya ditulis dalam bentuk prosa yang puitis, seperti halnya sloka ini. Maksud [analogi] sloka ini adalah ada dua type kesadaran [dua ekor burung] yang tinggal di tubuh yang sama [pohon yang sama]. Salah satu kesadaran ini atau “sang aku” menikmati kehidupan duniawi [buah matang yang manis] melalui badan dan pikiran [type kesadaran pada realitas material atau prakriti], sedangkan satu kesadaran yang lainnya hanya menjadi saksi [type kesadaran pada realitas absolut atau purusha].

Bagaimana cara menjadi saksi ?

– Penjelasan bagi orang biasa [orang yang tidak belajar meditasi] –

Berlatih untuk menghadapi segala keadaan dalam kehidupan ini, dengan secara terus-menerus belajar melihat sisi baik dari semua kejadian [bebas dari dualitas secara mendasar], mengembangkan bathin yang welas asih dan keseharian yang penuh dengan kebaikan. Karena semua ini akan membawa ke

Ketika dipuji tersenyum damai, ketika dicaci juga tersenyum damai.

Ketika mendapat uang tersenyum damai, ketika banyak hutang juga tersenyum damai.

Ketika sehat tersenyum damai, ketika sakit juga tersenyum damai.

Ketika naik jabatan tersenyum damai, ketika di-PHK juga tersenyum damai.

Dst-nya.

Demikian salah satu metode menjadi saksi bagi orang biasa. Dengan demikian kita tidak terlibat dengan kejadian-kejadian “luar” dan “di dalam” bathin tetap sejuk, tenang-seimbang dan penuh welas asih. Ini akan membawa ketenangan-keseimbangan bathin, yang menuntun kita menjadi “sang saksi”.

– Penjelasan bagi para yogi –

Umumnya perasaan-pikiran [iri hati, marah, benci, sakit hati, rasa senang, dll] dan kesadaran menjadi satu. Itu sebabnya ketika marah kita bertengkar, ketika benci kita mengeluarkan kata-kata menyakitkan, ketika bahagia kita tidak ingin hal itu berakhir, dst-nya. Karena kesadaran kita diseret jauh oleh perasaan-pikiran.

Melalui praktek meditasi mendalam tentang kesadaran, perasaan-pikiran perlahan-lahan berpisah dengan kesadaran.

Kita tidak mungkin melepaskan diri dari kemarahan, keserakahan, kesombongan, kesenangan, dll. Karena semua itu adalah bagian dari diri kita sendiri. Tidak berbeda, tidak terpisah dari diri sendiri. Hanya dengan memahami fakta itu sedalam-dalamnya, ke-AKU-an [ahamkara] mungkin lenyap dan bersama dengan itu lenyap pula kemarahan, keserakahan, kesombongan, kesenangan, dll.

Ketika kita marah, saksikan pikiran marah tersebut.

Ketika kita sedih, saksikan pikiran sedih tersebut.

Ketika kita senang, saksikan pikiran senang tersebut.

Ketika kita hawa nafsu, saksikan pikiran hawa nafsu tersebut.

Dst-nya.

Dari latihan kesadaran ini, akan ada ruang diantara perasaan-pikiran dengan kesadaran. Semakin dalam praktek kesadaran, semakin lebar ruang diantara keduanya. Kembali ke hakikat sang diri, menjadi “sang saksi”.

KESADARAN MURNI

Seorang yogi yang lama istirahat dalam meditasi kesadaran yang rapi, suatu saat akan mengalami pengalaman kebersatuan kosmik. Keseluruhan alam semesta [langit, matahari, bintang, bulan, bumi manusia, binatang, tetumbuhan], terangkai rapi kedalam jejaring kosmik yang tidak terbatas, tidak terpikirkan.

Ini terjadi karena ke-AKU-an [ahamkara] telah lenyap atau nirahamkarah, lenyapnya sang aku. Ketika ke-aku-an lenyap, sang yogi menyatu rapi dengan segala yang ada. Menyadari bahwa ada bagian dari dirinya yang tidak pernah lahir dan tidak pernah mati. Menyadari bahwa segala yang ada adalah manunggal. Inilah yang disebut dengan moksha.

-[Sampai disini sang yogi menjadi berhenti total menyakiti dan amat rindu menyayangi. Karena ketika menyakiti mahluk lain sesungguhnya sedang menyakiti diri sendiri, saat menyayangi mahluk lain sesungguhnya sedang menyayangi diri sendiri].-

Semoga tercapai tujuan tertinggi dari agama Hindu, yaitu “moksartham jagadhita ya ca iti dharma”. Dengan dharma kita mewujudkan kebahagiaan-keharmonisan bagi semua mahluk & alam semesta [jagadhita], serta tercapainya pembebasan [moksha]. Aum shanti shanti shanti.

Sorce: Rumah Dharma – Hindu Indonesia

02 November 2011

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: