Oleh: Gusti Sudiartama | Desember 23, 2011

Mengalah Menuntut Keberanian


OIeh: Anatta Gotama, Denpasar
Mengalah seringkali menjadi tantangan besar bagi kita. Tak semua orang berani mengalah. Untuk mengalah, bagi sementara orang juga berarti pertempuran sengit di dalam. Ia tentu menimbulkan konflik batin hingga intensitas dan dalam jangka waktu tertentu.

Mengalah merupakan suatu bentuk dan keberhasilan dalam ‘pengendalian diri’. Memang, ada yang mempunyai watak bawaan gampang mengalah; sementara mungkin lebih banyak yang mengalami kesulitan untuk mengalah. Sesungguhnya, ia bukanlah suatu watak bawaan semata, akan tetapi dapat dilatih. Dalam konteks ini, seni mengalah juga dapat disebut sebagai seni olah batin.

Mengalah Berarti Pertempuran Sengit Didalam
Setiap pertempuran, juga merupakan konflik. Besar-kecil dan jangka waktu terjadinya konflik batin pada setiap orang berbeda-beda. Itu tergantung pada faktor relatif yakni pembawaan, masalah yang menjadi pemantiknya dan kemampuan untuk pengendalian diri.

Bhawasannya ‘pembawaan’ seseorang berbeda-beda, telah kita maklumi bersama. Ia menyangkut masalah karakter, minat dan bakat seseorang. Ada yang lebih mudah mengalah, dan ada pula yang amat sulit untuk mengalah. Mereka yang bersifat agak kaku dan keras kepala, lebih sulit untuk mengalah dibandingkan dengan mereka yang mempunyai sifat luwes dan penurut. Bagi yang disebutkan belakangan pun sesungguhnya konflik batin tetap ada, namun dalam intensitas yang lebih kecil dan mereda dalam waktu relatif singkat.

Ada juga yang berpembawaan cenderung ber-reaksi secara aktif, bahkan agresif dan ofensif terhadap sesuatu permasalahan, ada pula yang cenderung pasif dan defensif ataupun proaktif. Yang disebut belakangan, mempunyai ketahanan yang Iebih terhadap konflik eksternal dengan pihak luar disamping lebih tenang secara internal.

Kita sering juga terkecoh oleh sifat atau kecendrungan-kecendrungan, yang menampilkan tampakan luar ‘tenang’ ini. Orang luar bisa saja menyangka bahwa yang bersangkutan memang telah ‘terlatih’ dalam mengendalikan diri, padahal sesungguhnya itu hanya bawaan saja. Mereka yang berpembawaan seperti ini, juga seringkali disebut dengan bertipe ‘introvert’. Mungkin tipe inilah disebut dengan ‘Tenang tapi menghanyutkan’, dalam kehidupan sehari-hari.

‘Masalah yang menjadi pemantik’ konflik batin, juga berbeda-beda bagi setiap orang. Saya misalnya, lebih mudah sewot menghadapi orang yang agak dungu. Ia melelahkan; karena sementara ingin diberi penjelasan tentang sesuatu, namun tak kunjung mengerti. Sementara, saya sulit untuk menyerah begitu saja, sebelum ia menunjukkan tanda-tanda mengerti. Maka sengsaralah saya dalam usaha untuk membuatnya mengerti. Mungkin banyak di antara kita yang bersifat penyabar, khususnya dalam memberi pengertian kepada seseorang. Bagi yang demikian tentu tidak megalami kesulitan atau kesengsaraan, seperti yang saya alami. Memang ‘pemantik yang sama’ bisa menimbulkan reaksi internal yang berbeda pada masing-masing orang. ‘Pemantik yang berbeda’ dapat rnembangkitkan konflik batin dalam intensitas dan waktu yang kurang-lebih sama, bagi masing-masing orang. Jadi, ‘pemantik’ bersifat relatif terhadap intensitas dan jangka konflik, tergantung pembawaan dan ‘kemampuan seseorang dalam mengendalikan dirinya’.

Nah…. ‘kemampuan mengendalikan diri’ inilah yang dapat dilatih. Ia bukan semata-mata merupakan pembawaan seseorang. Seorang teman saya mengatakan bahwa ia telah hidup sebagai ‘vergi’ selama 6 tahun; sebelumnya, ia mempunyai pembawaan keras. Sejak beberapa tahun belakanganpun ia Iebih jarang sakit. Ia memang kini tampak lebih luwes dan tidak doyan ngotot seperti dahulu. Dengan menerapkan pola makan ‘vegetarian’, ternyata memang dapat meningkatkan kemampuan dirinya urituk mengalah. Banyak ahli yang menyarankan untuk menerapkan pola ini, berikut dengan penjelasan tentang keuntungan-keuntungannya bagi kesehatan jasmaniah dan kejiwaan. Kemampuan mengalab memang perlu diupayakan secara mandiri. Secara keseluruhan, upaya-upaya serupa termasuk upaya ‘pengendalian diri’.

Mengalah Sebagai Hasil ‘Pengendalian Diri’
Seseorang mengalah, bisa karena ketidak-mampuannya untuk mengadakan perlawanan terhadap suatu tekanan tertentu. Mengalah serupa bersifat semu dan temporer, oleh karena ia akan segera melakukan perlawanan ketika merasa telah cukup mampu. Selama ini belum menemukan rnomentumnya yang tepat, ia ibarat ‘api di dalam sekam’ yang tetap membara, dan siap meletup setiap saat, ini bukanlah mengalah yang sesungguhnya, namun lebih merupakan suatu strategi.

Yang seperti ini lebih berat pada katagori ‘dendam’ (dwesa). Ini perlu dicermati, mengingat tampak permukaannya bisa sama dengan mengalah secara tulus ataupun merupakan hasil pengendalian diri. Sebagai ilustrasi, ada baiknya disampaikan contoh kasus tentang paradigma ‘mengalah semu’ ini. Untuk itu, mari kita coba menyimak perjuangan kemerdekaan bangsa India.

Mahatma Gandhi, bapak bangsa India, lebil dikenal sebagai seorang ‘santo’ pemimpin bangsa India dalam perjuangan melalui cara-cara ‘tanpa-kekerasan’ (Ahimsa). Beliau membimbing bangsanya, dalam perjuangan melalui prinsip-pninsip satyagraha (mendasarkan perjuangan pada ajaran-ajaran kebenaran), swadeshi (mencakupi kemampuan sendiri guna mengurangi ketergantungan pada pihak penjajah) dan non-kooperatif (pembangkangan sipil), disamping Ahimsa- yang paling populer itu.

Bila kita cermati lagi perjalanan perjuangan tersebut, maka kita temukan bahwa banyak kematian yang dialami oleh para pengikut Gandhi, yang tentu diikuti dengan penderitaan dari keluarga maupun kerabat dekat dari yang meninggal dalam perjuangan kemerdekaan itu. Tercatat beberapa pembantaian dan tindak-tindak kekerasan lainnya dilakukan oleh pihak kolonial, melalui angkatan bersenjata yang kebanyakan terdiri orang-orang India sendiri.

Lebih jauh lagi, pada masa itu masalah kasta masih merupakan masalah sosio-kultural yang besar bagi India. Sesuai situasi dan kondisi saat itu, tentara kolonial sebagian besar tentu dari kasta tertentu. Para raja-raja kecil dan bangsawan serta tuan-tuan tanah dirangkul oleh pihak kolonial, demikian pula para brahmana-nya, relatif tak diusiknya. Bahkan bisa jadi mereka malah dimanfaatkan oleh penguasa kolonial untuk meredam gejolak-gejolak anti-kolonial, yang terjadi pada strata bawah masyarakat India.

Mohandas Gandhi terlahir pada tanggal 2 Oktober 1869 dilingkungan keluarga Vasya. Ayahnya menjadi Menteri pertama untuk negara bagian kebangsawanan kecil Porbandar, dan ibunya, Pulitbai, disebutkan sebagai wanita Hindu yang sangat religius. Gandhi kecil hidup dalam keluarga Hindu yang berbahagia, yang berkecukupan. Di rumahnya tersimpan banyak buku dan hidupnyapun cukup nyaman. Seluruh keluarganya memang tidak makan daging. Jadi, Gandhi kecil memang telah terbiasa berpola makan vegetarian.

Seperti dimaklumi, Vaisya adalah kasta pada urutan ketiga, sesudah Brahmana dan Ksatrya menurut strata sosio-kultural India, kemudian rnenyusul Sudra. Paria atau juga kaum Chandala adalah kelompok masyarakat rendah, tanpa kasta dan tak layak sentuh. Vaisya, menurut garis keturunan, terposisikan sebagai kelompok masyarakat yang bergerak dibidang perdagangan, perkebunan dan budidaya lahan serta perekonomian secara luas. Sebagai putra bangsa India yang terlahir dan dibesarkan dalam keluarga Vaisya, Gandhi kecil tentu merasakan betapa kekayaan serta hartabendanya tiada arti dalam mengangkatnya dalam sistem sosio-kultural India tersebut. Walaupun ia termasuk sukses sebagai pengacara dan mengelola sebuah jasa advokasi di Afrika Selatan, namun perlakuan menyeluruh terhadapnya, tetap sesuai dengan tatanan yang berlaku dalam masyarakat India.

Akumulasi dari kesan-kesan masa kecil, tekanan sistem masyarakat dan tekanan pihak kolonial tehadap bangsa India, menguatkan gejolak yang terjadi di dalam hati seorang Gandhi muda. Melalui pendidikan hukum yang diperoleh di Inner Temple Inn of Court di London-Inggris, beliau terbekali wawasan yang luas; dan sejalan dengan itu pula, tumbuhlah rasa pencaya diri untuk memberontak terhadap semua kondisi yang rnenghimpit itu. Merangkul dan memberi simpati besar pada kaum Paria dan Keshandalaan dilihatnya sebagai pijakan strategis untuk menarik simpati politis dan bangsa India sendiri, pihak kolonial maupun dari pihak-pihak internasional. Ini sesuatu yang amat penting, bagi perjuangan nanti. Kaum tertindas inilah yang selanjutnya disebut sebagai kaum ‘Harijan’ Atau-anak Tuhan’ oleh Gandhi.

Walaupun beliau akhirnva mesti membayar kemerdekan dan perubahan mendasar dari sistem sosio-kultural bangsa India, amat mahal. Akan tetapi Gandhi adalah prototipe yang berhasil menggunakan latihan-latihan pengendalian diri secara pasif sekaligus mengembangkan batinnya dengan sukses. Beliau berhasil memenangkan pertempuran di dalam-hingga batas-batas tertentu dan tentu juga pertempuran diluar yang tanpa kekerasan.

Pengendalian diri yang baik adalah salah-satu wujud keberhasilan ‘pengembangan batin’. Pola makan vegetarian, disebut juga dengan mebrata’ di Bali atau Vrata adalah salah satu laku dalam upaya pengembangan batin.

Mengalah Menuntut Keberanian Yang Cukup
Mengalah terlebih dahulu untuk meraih kemenangan di kemudian hari dan demi kepentingan yang lebih luas, seperti didemonstrasikan oleh Gandhi, memang menuntut pengorbanan yang yang tidak kecil. Untuk hidup sederhana Gandhi, sementara beliau berlatar belakang cukup materi, bukanlah perjuangan di dalam yang kecil. Beberapa kali beliau mengadakan Pativrata-berpuasa sampai mati-adalah keberanian yang bukan main, bagi manusia kebanyakan. Beliau juga mesti membekali pengertian yang cukup pada keluarga, khususnya Kasturba-istrinya tentang apa yang sesungguhnya beliau perjuangkan.

Dorongan untuk mengutamakan diri sendiri, dengan gagah-beraninya beliau kikis hingga batas-batas tertentu, untuk diarahkan bagi kebaikan dan kemerdekaan bangsanya. Bahkan di saat-saat usia senjanya Gandhi masih melakukan Pativrata-salah satu senjata pribadinya yang dahsyat.

Pada bulan Januari 1948, ketika beliau berusia 78 tahun, beliau mengumumkan maksudnya untuk mulai berpuasa sampai mati lagi. Beliau berkata: “Puasa akan kuakhiri bila aku telah yakin bahwa ada pertemuan dari hati ke hati antara semua komunitas.”

Itulah yang tercatat sebagai ‘puasa besar’-nya yang ke-18, yang juga merupakan yang terakhir sebelum beliau tewas pada tanggal 29 Januari 1948 oleh tembakan seorang maniak gila.

Secara khusus, Sri Swami Sivananda Saraswati memberikan pujian yang tinggi kepada Gandi, mengingat keberaniannya itu.

Terimaksihku pada Rasul Ahimsa- Mahatman Gandhiji – India telah membuktikan secara meyakinkan pada kemanusiaan ada sesuatu kekuatan yang dahsyat dan itu tindakan tanpa kekerasan Gandhiji telah mendemonstrasikannya pada dunia, bahwa cinta kasih adalah suatu kekuatan, bahwa cinta-kasih mampu menaklukkan.”, demikian Swamiji mengungkapkan pada pesan-pesan beliau saat diadakan suatu upacara bendera yang dilaksanakan oleh Menteri Kesehatan negara bagian terakhir Garwal, K.N. Gairola.

Dalam kesempatan yang sama, beliau juga mengatakan : “patriotisme adalah langkah pertama menuju universalisme. Kecintaan seorang kepada negaranya, merupakan penghantar pada cinta-kasih kosmis atau cinta-kasih Tuhan. Terutama adalah guna menghancur-leburkan kerendahan dan kencendrungan utama untuk mementingkan diri sendiri. Pelayanan tanpa-kekuatan pada negara, segera akan berkembang menjadi pelayanan tanpa-kekuatan pada negara, segera akan berkembang menjadi pelayanan tanpa-kekuatan pada kemanusiaan, ia akan dengan cepat menghaluskan dan meningkatkan ego individualnya, dan mencapai Kesadaran Tuhan”.

Bahkan Einstein pun berkomentar :“Generasi-generasi yang akan datang mungkin hampir tidak percaya bahwa orang seperti ini memang benar-benar pernah hidup di muka bumi.”

Banyak keuntungan bagi mereka yag mampu mengalah. Ia mensyaratkan keberanian yang cukup, untuk mencapainya. Intinya adalah keberhasilan dalam pengendalian diri secara internal.

Akhirnya dari amalan kita tentang mengalah, serta praktek spiritual – Pativrata – yang diterapkan Gandhi sebagai senjata ampuh pribadinya dapat kita simpulkan bahwa : mengalah memang menuntut keberanian, ia merupakan perjuangan aktif di dalam manum fasif di luar. Sesungguhnya ia adalah hasil dari perjuangan secara proaktif, melalui Sadhana.

Sikap mengalah dapat dilatih dan ditumhuh kembangkan, sebagai bagian dari suatu ‘seni olah bathin timur’. Keadilan, kesetaraan, kemerdekaan serta kedamaian dan kebahagiaan sesungguhnya adalah basil perjuangan manusia, yang harus diawali di dalam dan dilaksanakan secara mandiri. Bagi umum, ia bukanlah semata-mata anugerah. Amat banyak kisah perjuangan manusia, dalam kisah nyata maupun mithologi-mithologi kuno, yang membuktikan kedahsyatan dari Tapa-Brata. Dan itu juga kita warisi sebagai salah satu harta karun budaya bangsa.

Dalam banyak hal, sesungguhnya bangsa Indonesia telah terbekali ajaran-ajaran luhur, yang bila diterapkan dengan baik dan sungguh-sungguh dapat menjadikan bangsa ini bangsa yang besar, sejajar dengan bangsa-bangsa lain manapun di muka bumi ini.

Manusia-manusia besar pernah terlahir kebesarannya, menuju kesejahteraan dan kedamaiannya.

Semoga bangsa kita rnencapai apa yang menjadi cita-cita luhurnya!.
[WHD No. 526 Oktober 2010].

sumber ; parisada.org


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: