Oleh: Gusti Sudiartama | Januari 1, 2012

TULUS

Di tempat saya tulus diartikan sebagai sesuatu tanpa cela….  kalau misalnya membicarakan warna anjing peliharaan yang warnanya “selem tulus” itu dimaksudkan  sebagai  anjing  yang berbulu hitam mulus tanpa ada warna lain… sehingga dalam pemahaman saya tulus itu adalah sesuatu yang tanpa cela,noda, jadi sesuatu itu disebut  tulus  kalau memang sudah demikian  adanya .

Tulus dalam konteks bhakti juga dimaknai demikian hanya saja karena ukuran dari bhakti tidak kasat mata agak sulit juga membahasnya . Seseorang sangat diharap dan berharap dapat melaksanakan bhakti nya  dengan tulus kepada siapapun  apalagi kepada Tuhan karena konon ketulusanlah yang selalu mampu menghubungkan diri yang subhakti dengan sesuatu yang dihaturkan bhakti, karena tanpa ketulusan mustahil bhakti itu bisa disambungkan.

Ketulusan dalam konteks bhakti kepada Tuhan  adalah sebuah relation yang sangat unik dan sacral. Unik karena hanya pribadi yang bersangkutanlah yang tahu kesujatiannya, sacral karena bhakti kepada Tuhan sebagaimana segala hal yang berkaitan dengan Tuhan, memang selalu sakral sifatnya.  Bhakti yang tulus kepada Tuhan menjadi semakin sacral bagi saya karena “ketulusan” sendiri sudah mempunyai makna yang dalam sebagai sesuatu yang tanpa noda, apalagi membicarakan ketulusan dalam konteks bhakti kepada Tuhan membuat bulu kuduk sedikit merinding.

Ketulusan dalam pemahaman hubungan antara manusia dengan manusia lain, suatu misal hubungan sepasang suami istri akan menjadi penuh makna ketika membicarakan hubungan keterkaitan mereka  dalam konteks ketulusan, karena disitu ada sesuatu yang tanpa cela , sebuah relation tanpa cela, sebuah janji tanpa ingkar sedikitpun. Dalam masyarakat Bali tempo dulu seorang istri diwajibkan mempunyai  bhakti yang tulus kepada suaminya…  sebaliknya seorang suami diwajibkan pula untuk selalu mengayomi tanpa cacat sang istri..  sungguh suatu  prasyarat yang tidak ringan, karena sebuah janji yang diucapkan apalagi menyangkut ketulusan sangat mahal dan sangat sulit untuk di tepati bagaikan berjalan dipinggir jurang … sangat beresiko…   Sebuah  perumpaman mungkin dapat  mempermudah menggambarkan  relation semacam ini… seorang suami diibaratkan sebagai matahari, dan sang istri diibaratkan sebagai  bumi..   matahari yang selalu bersinar  tak peduli bumi dalam keadaan panas membara atau dingin karena hujan sekalipun… matahari selalu memberikan sinarnya dengan sempurna..  sebaliknya bumi selalu menyambut sinar mentari dengan sukacita, tak peduli badai ataupun kabut menghalanginya…  bagi saya keduanya cukup menggambarkan ketulusan itu… karena ketulusan akan memunculkan beribu keindahan, bagi sebuah keluarga ketika ketulusan hadir disetiap relung hati keduanya…  sejuta kata manis akan selalu tak berarti apa-apa dibandingkan oleh sebuah ungkapan dari ketulusan hati…

Ketulusan dalam konteks persaudaraan tentu beda lagi, masih terkait dengan komitmen tetapi sangat sering diartikan sebagai sesuatu yang kurang lebih sedikit menurun kadar “ketulusan”nya dibandingkan dengan ketulusan hubungan suami istri  entah karena kesakralannya yang kurang atau entah karena persaudaraan itu berarti jamak… entahlah… namun yang pasti ungkapan dan perhatian yang tulus dari seorang saudara ataupun sahabat akan merupakan peneduh dikala seseorang sedang berada dalam panasnya ujian kehidupan…

“Tulus melaksanakan segala hal didalam kehidupan”  saya belajar mengambil makna dari kalimat itu.  Dengan konsep ketulusan yang saya pahami…  saya baru sampai pada pemahaman bahwa  melaksanakan segala hal di kehidupan ini dengan benar-benar paham, eling, waspada akan sesuatu yang dilakukan merupakan sebuah prasyarat untuk bisa tulus melaksanakan sesuatu.  Mustahil seseorang bisa tulus kalau dia sendiri tidak paham, eling sangat diperlukan karena dengan eling kita selalu terjaga akan ketulusan itu, sedangkan waspada akan membuat kita selalu “plapan” dalam melakukan sesuatu tidak grasa-grusu, tidak selalu terbawa luapan perasaan.  Bagaimana mengukur ketulusan itu… nah ini masalah lain lagi, karena sangat tak kasat mata, tapi saya masih bisa sedikit lega karena  bukankah ketulusan itu adalah sesuatu yang unik.. jadi hanya saya sendiri yang tahu.. jadi biarlah saya yang mengukurnya sendiri atau tak perlu saya pakai ukuran karena toh hanya saya saja yang tahu…

Tentu ketulusan memerlukan obyek… walau ketulusan itu dalam konteks  melakukan sesuatu…   Tidakkah mulia bila yang saya jadikan objek dalam “ketulusan melaksanakan segala hal dalam kehidupan ini” adalah Tuhan?  Bukankah sangat baik bila segala hal yang kita lakukan di dunia ini…  kerja kita, bhakti kepada suami, sayang kita kepada istri,  ketulusan kita kepada saudara juga sahabat, saudara semuanya kita lakukan sebagai suatu wujud ketulusan kita untuk bhakti kepada Tuhan…  karena Beliaulah kita bisa hadir di dunia ini…  ?

Terjadi perdebatan pula dalam benak saya tentang obyek ini… sampai akhirnya saya lelah berdebat dengan diri sendiri….  Biarlah “Tulus melaksanakan segala hal didalam kehidupan”  sebagai persembahan untuk diri saya sendiri…  untuk memuaskan diri saya, untuk melegakan diri sendiri…

Saya terngiang dengan petuah leluhur…  dengan ketulusan melaksanakan segala hal didalam kehidupan akan membuatmu jernih, karena hanya dalam kejernihanlah padma hredaya akan menampakkan sinarnya….  akan membuatmu ringan menjalani hidup….

Dalam “tulus” terkandung kejujuran, dalam “tulus” tak lagi tersisa sudut abu-abu,  apalagi dusta, kepalsuan dan segala bentuk noda, sehingga senyum yang tulus adalah senyum yang paling indah karena senyum itu bukan hanya dibibir tapi juga dihati, putih diluar putih juga didalam…  karena terkandung kejujuran bukan semata- mata lips service…  Dalam setiap perbuatan yang dilandasi ketulusan akan menghadirkan pencerahan karena berasal dari hati(padma hredaya) yang juga cerah.. suatu kecerahan yang hadir dari sebuah kecerahan alami didalam…    heemmmm…

Sungguh suatu petuah yang tidak akan mudah saya kupas….

Biarlah semuanya berjalan apa adanya…   rahayu…

Tabanan,01 Januari 2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: