Oleh: Gusti Sudiartama | Juni 10, 2012

Yoga Sutra (31) Yang Menghalangi Pencerahan Sempurna

Buddhi tidak bersinar sendiri, sebab ia berasal dari apa yang dicerap (drsyatvat);
dan pada saat yang bersamaan dua hal tak dapat dicerap sekaligus.
Kesadaran hanya bertindak sebagai perantara dari ingatan dan kesan-kesan yang dicerap oleh buddhi dan mengacaukannya; ini merupakan kemunduran.
[YS IV.19 dan IV.21]

Dalam kejernihan, dalam hening, yang bekerja hanya kesadaran dan pencerapan atau persepsi murni. Pencerapan murni sebetulnya juga buddhi adanya. Namun disini ia ada dalam keadaan pasif. Ia tidak pilih-pilih dan tidak melakukan kerja menilai, bahkan tidak melakukan pencerapan secara khusus. Ia lebih terfungsikan sekedar sebagai pemerhati. Seperti telah disampaikan sebelumnya, smrti, vasana-vasana dan samskara-samaskara-lah yang memberi pewarnaan terhadap apa yang dicerap. Mereka hanyalah hasil cerapan dari buddhi. Buddhi-lah yang mencerap dan mengalami pewarnaan itu; bukan citta. Bilamana pewarnaan ini terjadi, maka ini merupakan kemunduran bagi sang penekun. Berikut ditegaskan kembali bahwa:

(Sesungguhnya) citta tidak dipengaruhi oleh samskara; yang berubah-ubah adalah buddhi, oleh karena buddhi mengadakan identifikasi menurut intuisinya.
Ia yang menyadari, paham kalau semua itu hanyalah pemahaman yang telah mengalami pewarnaan.
Walaupun diperlengkapi dengan tak-terhitung banyaknya keinginan yang disebabkan oleh kombinasi dari vasana-vasana, namun semua itu dipahami hanya sebagai pewarnaan atau pencitraan saja.
[YS IV.22 – IV.24]

Bila suatu benda berwarna didekatkan pada sebuah kristal asli yang jernih, maka warna dari benda tersebut tampak mewarnai kristal itu. Bila benda berwarna merah yang mendekatinya, maka merah-lah tampaknya kristal itu; walaupun sesungguhnya, kristal tersebut tidak berwarna. Daya-cerapnya yang besar terhadap cahaya-lah yang menyebabkan ia seolah-olah berwarna. Secara analogis, dapat dikatakan bahwa daya-cerap itu merupakan perangkat kerja dari buddhi, dan kristal itu adalah citta.
Menyadari kalau demikian kejadiannya, para bijak berulang-ulang mengajurkan para penekun untuk bergabung dan mendekatkan-diri dengan para bijak dalam satsanga, guyub dengan para suciwan, dan menjauhi paguyuban tak senonoh. Dengan demikian, apa yang tercerap akan terseleksi, sehingga bersifat mengingatkan dan mengarahkan pada penjernihan kembali citta dan menguatkan viveka.
Viveka senantiasa menyertai Sang Yogi.

Bagi yang telah sempurna visi spiritualnya (visesa darsina atma), Atman-nya sepenuhnya terlepas dari gelora perasaan dan gejolak pikiran.
Sejak inilah viveka menjadi sentosa, dan kesadaran menggapai Kaivalya.
Walaupun masih terjadi selingan berupa kemunculan pemikiran-pemikiran lain, sebagai konsekwensi dari kecenderungan-kecenderungan sebelumnya (samskarãbhyah) hingga interval tertentu, pemusnahannya tak sulit lagi; sama halnya dengan pemusnahan kléša  (yang sudah dipaparkan sebelumnya).
[YS IV.25 – IV.28]

Yoga memang merupakan pengembangan dari Sankhya. Dalam Sankhya belum menyebut-nyebut  Isvara maupun Atman, dan hanya menyebut Purusa. Demikian pula halnya dengan citta, Sankhya menyebutnya mahat yang secara esensial dapat dipadankan dengan citta. Baik mahat maupun citta bukanlah produk, namun lebih merupakan gagasan-awal yang melatari diproduksinya berbagai produk. Persis di bawah citta ada buddhi —intelek, daya cerap, setelah itu barulah asmita dan manas menyusul. Buddhi, asmita dan manas barulah merupakan produk, dan berada dalam hierarki yang lebih rendah dibanding citta.
Dalam Wrhaspati Tattwa dan Tattwa Jñana ditemukan istilah ambek—yang dalam penggunaannya dapat diartikan sebagai hasrat yang kuat yang diserta semangat yang muncul sebagai akibat dari munculnya bentuk-bentuk pemikiran dan perasaan akibat terjadinya interaksi dan adanya kontak-kontak indriawi maupun ingatan. Ia merupakan jelmaan langsung dari manas. Daripadanyalah muncul berbagai bentuk keinginan yang begitu banyak jumlah dan ragamnya. Beliau yang telah jernih, yang telah bersinar kembali citta-nya, viveka-nya pun jadi semakin sempurna. Oleh karenanyalah—seperti yang disebutkan dalam sutra tadi—manas dan ambek tak lagi mempengaruhi beliau.
Pemusnahan samskarãbhyah disebutkan sama dengan pemusnahan kléša. Pada prinsipnya ia adalah pemusnahan ego, asmita atau ahamkara itu sendiri. Ego-lah sumber dari kléša yang lainnya. Ego menjadikan segala sesuatunya terpusat pada si diri semu ini. Disinilah semua itu bermukim dan berpotensi mengotori. Asmita  terutama didominasi oleh rajas dan tamas. Sesuai kejadiannya, asmita masih terhitung adik kandung dari buddhi; walaupun ia amat kuat, sesungguhnya buddhi yang terlengkapi viveka mampu menundukkannya. Namun, bagi seorang Yogi yang telah bersinar kembali citta-nya, kabut kléša sirna secara pasti, tak ubahnya kabut pagi yang sirna bersamaan dengan terbitnya sang mentari.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: