Oleh: Gusti Sudiartama | Juni 12, 2012

Yoga Sutra(11). Musnahnya Identitas Diri Dalam Pencerahan

MUSNAHNYA IDENTITAS-DIRI DALAM PENCERAHAN.. Kejelasan bahwasanya kegiatan (kriya), dan pemeliharaan kelangsungannya (sthiti) di dalam kegiatan mengamati, hanya merupakan kehebatan dari bekerjanya elemen-elemen dasar (bhuta) dan sensasi-sensasi indriawi, yang terbentuk dari sari-sari makanan (bhoga); makanya, pengalaman yang diperoleh dari pengamatan itu hendaknyalah ditujukan hanya demi meraih Kebebasan. Baik yang universal maupun tidak universal, yang pasti maupun yang tak-pasti, hanyalah tahapan-tahapan spesifik dari bekerjanya tiga sifat-dasar, triguna (sattvam, rajas dan tamas). Si pengamat sesungguhnya hanyalah matra persepsi murni (drsimatrah suddho); walaupun demikian, pengamatan berlangsung melalui campur-tangan citra mental. Padahal semua itu hanya dimaksudkan untuk pencarian Sang Diri-Jati lewat mengamati semesta (drsyasãtma). Walaupun semua itu musnah bagi Sang Yogi yang telah tercerahi, namun belum bagi kebanyakan orang. [YS II.18 – II.22] Ditegaskan kembali disini bahwasanya setiap kegiatan yang dilakukan manusia melalui segenap indria-indrianya hendaknya ditujukan bagi tercapainya Kebebasan itu sendiri—tentunya termasuk kebebasan dari kungkungan indria-indria itu sendiri. Terlebih lagi kalau telah disadari bahwa semua itu hanya kerja dari sintesa lima elemen-elemen dasar (mahabhuta) pembentuknya yang kita peroleh dari sari-sari makanan dan minuman yang dikonsumsi, yang punya tiga sifat-dasar—aktif, pasif dan netral. Si pengamat sendiri bukan semua itu. Ia bukan pelaku. Ia matra persepsi murni yang tiada tercemar. Sayangnya, di dalam melangsungkan pengamatan campur-tangan beraneka citra mental atau kesan-kesan batin—yang terbentuk pada pengalaman-pengalaman sebelumnya—menodai kemurnian persepsinya. Terbitnya serta semakin dimatangkannya viveka merupakan pencerahan buddhi, yang hanya dipengaruhi guna sattvam. Pencerahan ini merupakan ‘pencerahan awal’, sebagai pijakan yang semakin berkembang lewat penguasaan jñana menuju semakin bersinarnya kebijaksanaan (prajña). Semua ini mesti diperjuangkan secara mandiri, bukan secara kolektif atau massal. Pencerahan yang dihasilkannyapun langsung dirasakan hanya oleh Sang Yogi sendiri. Oleh karenanya pula disebutkan bahwa, ‘walaupun semua itu musnah bagi Sang Yogi yang telah tercerahi, namun belum bagi kebanyakan orang’. Tidak seperti Bhakti dan Karma Yoga yang memang dirancang sebagai praktek kolektif atau massal, Raja Yoga jelas merupakan praktek pribadi yang mandiri. Pada tahap-tahap awal saja sang sadhaka masih punya ketergantungan besar kepada Guru-nya ataupun saudara seperguruannya; selanjutnya, secara berangsur-angsur mau-tak-mau ia mesti semakin mandiri, hingga akhirnya sepenuhnya mandiri. Hanya sesudahnyalah beliau benar-benar mampu dan berkompeten memberikan petunjuk dan bimbingan bagi awam di jalan kecerahan dan kebebasan ini. IDENTIFIKASI-DIRI DAN KEMUSNAHAN IDENTITAS-DIRI SEMU Penyamaan (samyoga) antara orang yang memiliki kekuatan-kekuatan spiritual dengan kekuatan-kekuatan spiritual (sakti) yang dicapainya itu sendiri, melahirkan ‘identitas-diri semu’ (swarupopalabdhi). Femomena itu disebabkan oleh Avidya. Sebaliknya, dengan tidak hadirnya penyamaan itu, musnah pulalah ‘identitas-diri semu’ ini; inilah yang menghadirkan Kebebasan (kaivalyam) bagi si pengamat (drseh). [YS II.23 – II.25] Samyoga disini adalah identifikasi-diri terhadap berbagai hal atau segala sesuatu. Di permukaan ia berupa sikap ‘mengakui’, yang juga butuh ‘pengakuan’ pihak luar. Bila identifikasi ini tertuju pada pencapaian-pencapain dalam Yoga, nyaris pasti menimbulkan keangkuhan, atau setidaknya rasa bangga-diri. Akibatnya, ke-aku-an (asmita) dibuatnya kian menjadi-jadi. Identifikasi-diri seperti ini telah menjadi kebiasaan mental kita. Di kalangan pejalan spiritual, bentuk halusnya adalah idenfikasi-diri pada Guru-nya. Fenomena ini didorong oleh rasa ‘ingin menjadi’. Ia ingin menjadi ‘seperti’ Guru-nya. Walaupun ini teramat sangat halus —dan oleh karenanya seringkali diwajarkan — hadirnya viveka memungkinkan sang penekun menyadarinya. Bila belenggu halus dan kuat ini telat disadari, ia menjadi semakin halus dan semakin kuat daya-ikatnya. Ia akan amat sulit dikendorkan, apalagi dilepas. Akibatnya, kebebasan yang dicita-citakanpun tak kunjung datang. Ini sangat patut diwaspadai oleh setiap sadhaka.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: