Oleh: Gusti Sudiartama | Juni 13, 2012

Nunas Ica

Dulu.. ketika ke pura dimaknai sebagai saat “ngayah”, saat  yang dinanti-nanti karena saat  itulah seorang bhakta memiliki kesempatan untuk melakukan sesuatu yang berarti bagi Sang Maha Pencipta. Ketika itu ngayah masih boleh mendominasi kehidupan masyarakat Bali, belum dikenal kerja di hotel, di kantoran, segala aktivitas dimaknai sebagai sebuah ritual, sebagai sebuah bhakti, belum dikenal “Time is Money” , Masyarakat akan sangat sukarela menghentikan kegiatannya untuk ngayah…   ujungnya hanyalah sebuah ritual sederhana “nyakupan tangan karo ==Nunas Ica==” , bukan nunas urip, bukan nunas merta, bukan pula nunas kemakmuran, tapi nunas ica.

Saat ini ketika jagat Bali sudah demikian maju, jalan-jalan sudah sangat banyak, kendaraan apalagi…  kehidupan masyarakat-pun sudah sangat maju, bahkan dibandingkan dengan tempat lain di Indonesia Bali boleh dikata ada di level atas. Kini  ritual telah dikemas dengan konsep manajemen, upakara ditata dengan tuntunan sastra, banten dimaknai dengan sangat apik, karena telah ditemukan atau dicarikan rujukan sastranya…  akal budi manusia telah semakin maju … semuanya harus dijabarkan dengan logika,   jawaban nak mulo keto, sangat tidak bisa diterima … karena sangat bertolak belakang dengan semangat “menata dan merasionalisasi” upacara dan upakara. Bahkan doa pemangku yang dulu cukup dengan “sesontengan”  apa adanya tidak lagi bisa diterima, mantra yang diucapkan oleh pemangku dan pandita harus jelas didengar, bila perlu dipasang speaker agar semua pemedek mendengar “getaran mantra” yang diucapkan oleh pandita, sungguh sebuah semangat yang luar biasa, nunas ica-pun mulai dimaknai sebagai mengungkapkan permohonan yang beribu-ribu macamnya, “ica”-pun sudah tidak lagi menjadi permohonan utama.

 Nunas Ica.. kenapa nunas ica ?.. kalau saya terjemahkan… kurang lebih mohon senyum, atau memohon agar bisa tersenyum…   sebuah permohonan yang sangat sederhana…  namun sangat sarat makna.

Hidup tidak pernah lepas dari dualitas, senang-sedih, tangisan dan tawa bahagia, sudah merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan. Manusia dalam kehidupannya tidak akan pernah mampu keluar atau terlepas dari hukum ini… Semua peristiwa yang hadir… kejadian apapun yang  telah terjadi bahkan yang akan terjadi esok hari… adalah bagian yang tak terpisahkan dari guratan tangan. Para tetua bali telah sangat paham akan hukum alam ini, sangat paham akan hukum sebab akibat, namun mereka tidak memohon untuk terbebas dari akibat perbuatan, tapi selalu memohon untuk bisa tersenyum, agar selalu dianugrahi senyum dalam menjalani guratan kehidupan, selalu bisa tersenyum disaat kehidupan mengajarkan  kesedihan bahkan kehilangan orang yang dikasihi . Selalu “nyakupan tangan karo Nunas Ica” bahkan disaat malaikat maut datang menjemput sekalipun, karena bagi mereka yang paham akan hakekat kehidupan senyum yang hadir dari dalam, senyum yang tulus adalah obat sekaligus senjata  untuk menang dalam pertempuran Bharata Yuda kehidupannya. Senyum yang tulus membutuhkan kekuatan batin , sangat mudah bibir ini tersenyum dikala apa yang diharapkan terkabul, namun senyum harus tetap diperjuangkan untuk hadir didalam kesedihan tengah memaparkan makna hidup…   hanya dengan senyum… keikhlasan itu mendekat… karena hanya dengan senyum yang tulus, senyum yang hadir dari dalam, kekuatan batin itu hadir.

Iklan

Responses

  1. berguru kepalang ajar,bagai bunga kembang tak jadi.. artinya. Belajarlah sungguh-sungguh jangan tanggung-tanggung

  2. de ngaden awak bisa,depang anake ngadanin,geginane buka nyampat sebilang wai tumbuh luhu,ilang luhu buke katah.manusia tak ada yang sempurna

  3. patut pisan….. titiang taler asapunika…. ring sajeroning kahuripan setata melajahang raga… mogi ledang Ida mapaica tuntunan gumanti prasida ten lempas saking pemargin Ida.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: