Oleh: Gusti Sudiartama | Maret 5, 2014

Viveka

siva07

Kelebihan manusia dibandingkan dengan ciptaan Hyang Kuasa lainnya adalah dianugrahinya manusia dengan pikiran. Pikiran bahkan bisa diumpamakan sebagai sebuah “senjata” utama manusia didalam menjalankan karmanya dikehidupan ini. Tak jarang karena demikian kuatnya atau “sakti” nya senjata pikiran ini, membuat manusia menjadi dikendalikan oleh pikirannya sendiri, seumpama senjata sakti yang mendominasi pemiliknya.

Kemampuan mengendalikan pikiran inilah yang semestinya dikuasai oleh manusia sebelum menjadikan kehidupan-nya didunia ini menjadi bermakna. Manusia  yang mampu mengendalikan pikirannya dengan baik ibarat memiliki “Lembu Nandini” yang akan mampu memenuhi hasratnya untuk mengarungi kehidupan dengan kebahagiaan dan keutamaan.

Pengendalian pikiran seharusnya diupayakan dengan sungguh sungguh untuk tercapainya  cita-cita kehidupan seorang manusia. Pikiranlah sebagai dasar keluarnya ucapan atau kata-kata, pikiranlah sebagai penggerak sebuah tindakan, dari pikiranlah semua aktivitas manusia berawal, maka sangatlah penting untuk mengendalikan pikiran itu.

Namun tak dapat disangkal betapa sulitnya mengendalikan pikiran itu, sehingga pikiran itu sering digambarkan sebagai sosok kuda liar yang bergerak dengan lincah dan bebas, yang sering kali  manusia-nya sendiri menjadi obyek keliaran pikiran. Pikiran akan mampu dikendalikan hanya dengan pengetahuan yang benar dan kemampuan untuk memilah-milah suatu obyek. Kemampuan memilah milah suatu obyek pikiran sangat mungkin dipelajari. Pikiran kalau diibaratkan sebagai seekor kuda yang liar, pengetahuan dan kemampuan memilah milah itu ibarat tali kekangnya. Pikiran sangat mudah ber “transformasi”  dari suatu obyek ke obyek yang lain dengan cara yang unik sehingga kita seringkali terpedaya olehnya.

Ketika pikiran bergerak dari satu obyek ke obyek yang lain, sang pengendara senantiasa harus sadar akan keberadaan dan sifat pikiran yang seperti itu. Diperkuat dengan pengetahuan dan daya memilah -milah akan semakin memperkuat pengendalian terhadap pikiran. Daya memilah milah ini sering disebut dengan Viveka, yaitu kemampuan untuk membedakan sesuatu obyek yang sejati dan obyek yang semu, obyek yang layak  atau obyek yang tidak layak untuk dijadikan tujuan dari pikiran. Viveka ini sangat terkait dengan kejernihan, kejernihan itu sendiri akan dimiliki hanya ketika pengetahuan tentang kebenaran itu telah dicapai. Pengetahuan bukanlah sekedar dogma atau ajaran, tetapi pengetahuan yang dimaksud adalah sebuah pemahaman tentang hakekat. Inilah yang seharusnya diupayakan secara terus menerus oleh seorang manusia didalam kehidupannya kini.

5 Maret 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: