Oleh: Gusti Sudiartama | Maret 27, 2014

Kepemimpinan dalam perspektif pemilu 2014

Didalam ajaran agama Hindu konsep kepemimpinan di jelaskan didalam ajaran asta brata, atau delapan karakter yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin mulai dengan :

  1. Indra Brata = Artinya pemimpin hendaknya laksana  Dewa Indra sebagai dewa  pemberi hujan, memberi kesejahtraan kepada  seluruh rakyat, tanpa kecuali .
  2. Yama Brata = Artinya pemimpin harus berani menegakkan, menegakkan hukum dan memberikan hukuman secara adil kepada setiap orang yang bersalah, laksana dewa Yama.
  3. Surya Brata = Hendaknya pemimpin memberikan penerangan secara adil dan merata kepada seluruh rakyat yang dipimpinnya serta selalu berbuat berhati-hati seperti matahari sangat berhati-hati dalam menyerap air.
  4. Candra Brata = Pemimpin hendaknya selalu dapat memperlihatkan wajah yang tenang dan menginspirasi rakyatnya sehingga masyarakat yang dipimpinnya memiliki keyakinan dan keteduhan.
  5. Bayu Brata = Pemimpin hendaknya selalu dapat mengetahui dan menyelidiki keadaan serta kehendak yang sebenarnya terutama keadaan masyarakat yang hidupnya paling menderita
  6. Kuwera Brata = Pemimpin hendaknya bijaksana mempergunakan dana atau uang serta selalu ada hasrat untuk mensejahtrakan masyarakat dan tidak menjadi pemboros yang akirnya dapat merugikan Negara dan Masyarakat.
  7. Baruna Brata =Pemimpin hendaknya dapat memberantas segala bentuk penyakit yang berkembang di masyarakat , seperti pengangguran, kenakalan remaja, pencurian dan pengacau keamanan Negara.
  8. Agni Brata = Pemimpin harus memiliki sifat-sifat selalu dapat memotivasi tumbuhnya sifat ksatria dan semangat yang berkobar dalam menundukkan musuh-musuhnya.

Menyambut pemilu legislatif dan pilpress 2014 ini, berkaca dari pemaparan asta brata diatas,  membangkitkan asa dan mimpi saya akan sosok pemimpin yang mampu memenuhi kreteria diatas. Begitu banyak calon pemimpin yang menawarkan dirinya untuk dipilih bahkan ada yang menggunakan cara cara yang kurang terpuji. Mimpi saya mungkin juga mimpi masyarakat Indonesia tentang sosok pemimpin yang mampu memberi pengayoman, menginspirasi, memberi semangat dan penuh dengan ide ide cemerlang akan terwujudnya tatanan sebuah bangsa yang memiliki harga diri, santun, berkarakter, dan tentu saja makmur.

Cita cita bangsa sebagaimana yang tertuang didalam Pembukaan UUD 1945 sudah sangat jelas, setidaknya kita sebagai sebuah bangsa telah diwariskan sebuah angan-angan akan dihadirkannya masa depan yang indah, dimana setiap anak bangsa sama dihargai, sama dilayani, sama berhak untuk sebuah kemakmuran, tidak ada nuansa mayoritas dan minoritas d idalam cita cita itu. Setidaknya pendiri bangsa ini telah mampu menangkap arti sebuah kesamaan hak sebagai satu bangsa yang merdeka.

Cita cita hanyalah sebuah cita cita jika tidak ada usaha untuk mewujudkan cita cita itu. Pemilu sebagi sebuah tahapan adalah satu langkah menuju cita cita itu. Sayangnya kita sebagai sebuah bangsa , belum mampu menggunakan pemilu itu sebagaimana harusnya. Banyak dari kita tidak tertarik untuk mencermati gagasan gagasan calon pemimpin, tetapi terjebak didalam konsep transaksional sehingga memuluskan mereka yang jauh dari  konsep asta brata akhirnya terpilih, justru orang yang tulus ingin mengabdikan dirinya untuk mewujudkan cita cita mulia itu menjadi terpinggirkan.

Pemilu di tahun 2014 ini sudah memperlihatkan kepada kita bagaimana kerasnya pertarungan itu, bagaimana jauhnya sosok pemimpin yang kita idam idamkan itu. Pemimpin yang kita butuhkan bukanlah pemimpin yang tampil bak artis,  menghibur kita, meninabobokkan kita dengan janji janji kosong, tetapi dia adalah sosok yang memberi kita inspirasi, mampu membangkitkan semangat nasionalisme kita, kebanggaan kita sebagi sebuah bangsa. Pemimpin idealnya adalah dia yang memberi kita keteladanan akan pentingnya kerja keras , kesungguhan, keteguhan dan kekuatan iman, tidak mudah terbawa emosi, tidak mudah larut dalam kesedihan berkepanjangan, tetapi dia mampu hadir ditengah kerasnya perjuangan sebagai pemberi semangat, sekaligus menjadi contoh.

Pemimpin seperti ini hanya dapat kita lihat dari rekam jejaknya, sebelum dia mencalonkan diri, seperti apa sosok pemimpin itu didalam kesehariannya, seperti apa dia menghidupi keluarganya, seperti apa dia berhubungan dengan lingkungannya, seperti apa dia memperlakukan orang orang yang tidak menyukainya. Disitulah  kekurangan pemilu kita tahun 2014 ini, sangat sedikit sumber yang mampu di akses oleh masyarakat untuk mengetahui sosok calon pemimpinnya, atau bahkan masyarakat juga tidak peduli dengan latar belakang mereka, yang penting siapa yang memberi apa?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: