Oleh: Gusti Sudiartama | April 20, 2015

Menjadikan diri sendiri “Layak” selayaknya Pura…

Hindu meyakini lima hal yang dikenal dengan Panca Sradha,salah satunya adalah meyakini adanya roh(atma). Atma sendiri diyakini sebagai “entitas” yang sama dengan Sang Hyang Maha Pencipta, namun dengan kualitas yang berbeda, dalam pengertian atma adalah Sang Hyang Maha Pencipta dalam skala kecil dengan kualitas yang lebih rendah, karena masih terselimuti oleh kekotoran batin, yang sering disebut sebagai Panca Maya Kosha.
Dalam setiap kelahirannya roh manusia (atma) senantiasa berevolusi,sejatinya atma sendiri sedang berupaya mengurai Panca Maya Kosha itu, sehingga atma mampu melepaskan diri dari selubung kelima Kosha tersebut. Inilah yang diusahakan dan diupayakan oleh atma dari satu kelahiran menuju kelahiran yang lain.

Pura sebagai tempat melakukan pemujaan Memuja Sang Maha Pencipta didalam konsep Hindu di Bali. Pembuatan tempat suci-pun mengambil bentuk dan personifikasi tubuh manusia. Ada bagian Luhur(ulu) atau kepala, ada tengah(madya) atau badan, dan bawah(sor) atau kaki. Bentuk bentuk pelinggih yang dibuat sangat kental dengan nuansa “penyucian” dengan maksud pura yang dibangun akan menjadi stana bagi Dewata yang ingin dipuja. Disini saya kurang sependapat dengan istilah stana sebagai tempat berstana. Kalau kita memaknai stana sebagai tempat berstana atau “tempat tinggal” adalah sangat tidak layak sebuah tempat dengan bentuk bangunan kecil seperti itu(Pura) menjadi tempat tinggal Dewata yang maha kuasa, Beliau yang telah memberi kita kehidupan kita harapkan Beliau berkenan bertempat tinggal di tempat kecil tersebut?

Saya lebih sreg memaknai pura sebagai sebuah sarana menghubungkan diri dengan Sang Maha Pencipta, diumpamakan sebagai BTS atau antene, melalui BTS dan antene itulah kita menyelaraskan frekuensi untuk bisa berkomunikasi dengan Beliau. Lebih gampang bagi saya memaknai pura sebagai sarana menyelaraskan frekuensi untuk menghubungkan diri dengan Dewata dewata yang dipuja. Inilah penjelasan yang lebih bisa diterima kenapa di setiap pelinggih dipasang ulap-ulap yang “aksara-nya” harus sesuai dengan Ista Dewata yang akan dipuja, demikian pula proses “pemelaspasan” dan “ngelinggihan” dalam ritual pembangunan pura mampu dimaknai dengan lebih sederhana.

Kalau atma sendiri adalah “entitas” yang sama dengan Sang Maha Pencipta, kenapa kita hanya memuja Sang Maha Pencipta yang diluar tubuh sedangkan di dalam tubuh sendiri Beliau telah hadir? berkaca dari proses pembangunan sebuah pura dari proses pembangunan sampai penyucian, tubuhpun seharusnya bisa dijadikan BTS atau antene, yang sudah barang tentu harus didahului dengan penyucian juga, dalam hal ini membersihkan kelima kosha sehingga menjadikan atma bisa “diraih” dengan kata lain kita sebagai wujud manusia mampu menerima sinyal energi Yang Maha Pencipta” yang telah hadir di dalam tubuh kita sendiri, tentu setelah kita menjadikan diri kita sendiri “LAYAK” ….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: