Oleh: Gusti Sudiartama | November 5, 2016

Ketika “Agama ……..” berujung demo, -perdebatan yang tak kunjung usai-

senyum.jpg

Petikan Piagam Jakarta (untuk menyegarkan ingatan kita)

……………………………..

Kemudian daripada itoe, oentoek membentoek soeatoe Pemerintah Negara Indonesia jang melindoengi segenap Bangsa Indonesia dan seloeroeh toempah darah Indonesia, dan untuk memadjoekan kesedjahteraan oemoem, mentjerdaskan kehidoepan bangsa, dan ikoet melaksanakan ketertiban doenia jang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disoesoenlah kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itoe dalam suatu Hoekoem Dasar Negara Indonesia, jang terbentoek dalam suatu susunan negara Repoeblik Indonesia jang berkedaoelatan Rakjat, dengan berdasar kepada:

  1. Ketoehanan, dengan kewajiban mendjalankan syariat Islam bagi pemeloek-pemeloeknja
  2. Kemanoesiaan jang adil dan beradab
  3. Persatoean Indonesia
  4. Kerakjatan jang dipimpin oleh hikmat, kebidjaksanaan dalam permoesjarawaratan/perwakilan
  5. Keadilan sosial bagi seloeroeh Rakjat Indonesia.

Djakarta, 22-6-1945

NKRI diproklamirkan oleh para pendiri bangsa   dengan penuh perjuangan, tetasan darah dan air mata. Ketika masih di bangku sekolah kita disuguhkan pelajaran sejarah mengenai  perjuangan pendiri bangsa, bagaimana rumit dan alotnya perdebatan diantara tokoh tokoh kala itu,  yang paling terasa hingga saat ini bagaimana  Piagam Jakarta(seperti kutipan diatas) demikian keras diperjuangkan agar di masukkan dalam pembukaan UUD 1945, perdebatan alot antara tokoh nasionalis dan tokoh-tokoh Islam saat itu. Piagam Jakarta ini sebelumnya sudah disepakati oleh BPUPKI sebagai dasar negara pada tanggal 22 Juli 1945. Pada detik-detik terakhir  tanggal 17 Agustus 1945, Mohammad Hatta didatangi oleh seorang perwira angkatan laut yang mengaku membawa aspirasi masyarakat Indonesia bagian timur (yang mayoritas Kristen dan katolik) yang keberatan terhadap isi Piagam Jakarta “dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dan mengancam tidak mau bergabung dalam NKRI.

Namun kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa berbeda,  UUD 1945 berhasil disepakati seperti sekarang ini, Piagam Jakarta dinyatakan menjiwai UUD 1945, dengan perubahan pada sila pertama yang awalnya : Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya menjadi : Ketuhanan Yang Maha Esa. Sungguh sebuah pengorbanan dan kompromi yang luar biasa dari pendiri bangsa,terutama umat Islam.

Saat ini, ditahun 2016 setelah 71 tahun NKRI diproklamirkan keinginan untuk menerapkan syariat Islam di negara ini masih kuat. Saya memandang demo anti ahok tanggal 4 Nopember 2016 kemarin-pun sesungguhnya bukan murni menuntut ahok diadili, tapi lebih dalam dari itu adalah perdebatan elit-elit nasionalis dan elit-elit Islam terutama Islam sumbu pendek  (meminjam istilah KH Anwar Zahid).  Walapun ada ormas atau kelompok masyarakat yang mengikuti demo dengan niatan yang tulus untuk membela agama,  kuat dugaan saya ada oknum-oknum yang memanfaatkan momentum ini untuk  melakukan presure kepada pemerintah yang saat ini dipersepsikan mewakili kubu Nasionalis. Muaranya nanti adalah menuding pemerintah saat ini tidak mampu mengelola pemerintahan sehingga layak untuk  diturunkan(diganti). karena bagi mereka(sumbu pendek) sejak lama NKRI ini gagal, sehingga perlu diganti menjadi negara Islam, bagi mereka itu satu-satunya harapan. Namun secara mudah hasrat untuk mendirikan negara Islam akan terbantahkan dengan sendiri kalau kita mau jujur “di dunia ini negara Islam mana yang telah sukses , yang  bertahan hingga saat ini ?, yang mampu memberikan kebaikan bagi seluruh warga negaranya? “.

Bersyukurlah kita sebagai bangsa masih diberikan jalan untuk berbenah, masih lebih banyak saudara-saudara kita yang muslim yang tidak dalam kategori “sumbu pendek”, masih ada NU, masih ada Muhamadyah yang masih teguh dengan komitmen menjaga kebhinekaan dalam bingkai NKRI sebagai amanat UUD 1945.

Munculnya “fenomena ahok” dengan kontroversi Surat Al Maidah ini, bisa jadi ibarat gunung es, kita sebagai bangsa sesungguhnya menyadari betul  fenomena ahok ini sering hadir dalam kehidupan kita berbangsa dan bernegara, namun belum ada yang berani secara terbuka “menggaungkan” isu ini untuk dijadikan pembahasan dan kajian terbuka ke ruang publik. Mungkin ini saatnya kita introspeksi diri untuk berani jujur, apa mau kita sebenarnya.

Saya tidak membela Ahok dengan membuta, silahkan proses Ahok sesuai aturan dan perundang-undangan yang berlaku namun lakukan itu dengan proporsional, tanpa tekanan. Kalau ada pihak-pihak yang menuntut Ahok dipenjara bahkan di gantung tanpa proses hukum yang jelas, apalagi dengan deadline tanggal 4 Ahok harus ditangkap, memangnya negara ini harus kalah dan boleh ditekan seenaknya seperti itu, tentu kita sebagai warga bangsa harus menentang. Kalau nanti Ahok benar terbukti bersalah tegakkan hukum, kalau Ahok tidak terbukti bersalah bebaskan dia. Hukum  harus ditegakkan bagi penghina dan penghujat agama manapun tanpa pandang bulu, walaupun oknum itu beragama mayoritas sehingga hukum memang tegak dinegara ini.

Bersyukur sekali lagi bangsa ini diberikan pemimpin seperti Bapak Jokowi yang tidak mau ditekan, saya berpandangan kalau presidennya masih yang dulu, niscaya Ahok telah ditangkap tentu dengan berbagai argumen dan rasa prihatin mendalam. Kita wajib berdoa kepada Tuhan menurut keyakinan kita masing-masing agar bangsa ini, kita semua, pemimpin -pemimpin kita diberikan tuntunan untuk menemukan jalan kebenaran menuju kejayaan NKRI yang ber-Ketuhanan yang Maha Esa.

Bravo untuk Pak Jokowi, Bravo untuk NU, Bravo untuk Muhamadyah, Bravo untuk demonstrasi yang damai walaupun diakhiri sedikit gesekan,Bravo untuk kita semua.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: