Oleh: Gusti Sudiartama | November 15, 2016

PURA LUHUR SRI RAMBUT SEDANA

senyum.jpgPura Luhur Sri Rambut Sedana merupakan pura tua yang berlokasi di lereng Gunung Batukaru, tepatnya di Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan. Untuk menuju lokasi Pura, dari pusat Kota Tabanan ke arah Utara, umat sedarma mengikuti jalan menuju DTW Jatiluwih, kurang lebih 40 km dari kota Tabanan. Dari DTW Jatiluwih ke arah utara disana sudah ada penunjuk jalan menyusuri jalan yang hanya cukup dilalui oleh satu kendaraan, namun jalan ini sudah di beton sehingga kendaraan akan dengan lancar sampai di lokasi pura. Namun jalan yang berkelok dan tikungan tajam mendekati pura, mewajibkan anda untuk berhati-hati. Lokasi Pura yang masih sangat alami ditengah perkebunan masyarakat di ketinggian 700 meter di atas permukaan laut, menghadirkan udara sejuk dan segar sehingga kepenatan anda akan sirna ketika sampai di pura ini.

Pura ini diketahui telah ada sejak dulu, terbukti di tahun 1933 telah pernah dilakukan upacara ngenteg linggih, pada tahun 2004 ketika dilakukan pemugaran ditemukan ribuan uang kepeng kuno di lokasi pura juga memperkuat hal ini. Ada yang unik, terdapat satu pohon cemara namun mempunyai dua jenis daun yang berbeda, sehingga terkesan pohon cemara itu berasal dari dua pohon padahal kenyataannya hanya satu pohon.

Pura Luhur Sri Rambut Sedana diyakini sebagai tempat untuk memohon anugrah kemakmuran dan kemuliaan, dilihat dari etimologi kata Sri berarti cantik,subur,makmur, juga kemuliaan sedangkan se-dana berarti memberi sehingga Bhatara Sri Sedana dapat diartikan sebagai beliau yang memberi kemuliaan atau memberi kemakmuran. Dalam Purana, Dewa yang melimpahkan kemakmuran kepada seluruh alam adalah Dewi laksmi, sehingga di pura ini diyakini sebagai tempat memuja Ida Sang Hyang widhi sebagai manifestasi Dewi Laksmi atau kalau di Bali dikenal dengan sebutan Ida Bhatara Sri Rambut Sedana.

Di Bali Sri indentik dengan padi, beras sedangkan  Rambut Sedana identik dengan uang dimana beras dan uang adalah sumber kehidupan bagi setiap umat manusia, sehingga Bhatara Sri Rambut Sedana diyakini pula sebagai beliau yang senantiasa memberi kemakmuran dan kemuliaan berupa beras dan uang.

Pura ini memiliki konsep nyegara gunung, dibuktikan dengan adanya dua pesimpangan yaitu pesimpangan Pura Batu Ngaus sebagai manifestasi Segara dan Pura Gerombong nagaloka (tengahing wana) sebagai manifestasi gunung. Didalam Agama Hindu segara dan gunung diyakini sebagai sumber kehidupan bagi umat manusia. Konsep nyegara-gunung dimaknai sebagai menyatunya Lingga(Gunung) dan Yoni(Segara), segara dan gunung sebagai sumber kehidupan(amerta) menyatu di pura ini menghadirkan amerta yang tidak pernah habis. Sehingga sangat wajar apabila pemedek dari seluruh Bali hampir setiap hari selalu datang untuk melakukan Dharma yatra dan Tirta Yatra di pura ini. Odalan di pura ini dilakukan setiap 210 hari, tepatnya pada Rahina Budha Wage Kelawu, dan dilakukan penyejeran selama tiga hari.

Keberadaan dua pesimpangan (pesimpangan Pura Batu Ngaus dan pesimpangan Gerombong Nagaloka) menjadi dasar pemikiran arkeolog dari UNUD, peneliti dari kanada dan Rusia menyatakan Pura Luhur Sri Rambut Sedana sebagai salah satu Pura Tertua di Bali, disamping ditemukannya bukti-bukti fisik di lokasi pura.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: