Oleh: Gusti Sudiartama | Januari 8, 2017

Belajar merasakan kebahagiaan

senyum.jpgBahagia adalah impian setiap orang, bahkan dalam doanya tidak jarang kebahagiaan-lah yang menjadi permohonan utama. Apakah bahagia itu? apakah bahagia itu sama dengan perasaan senang ? senang karena keinginan terpenuhi ? senang karena yang diinginkan tercapai? senang karena yang dicintai membalas cintanya?

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia bahagia adalah keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan). Jadi bahagia itu adalah sebuah keadaan atau kondisi perasaan. Bahagia adalah suatu keadaan perasaan, atau kondisi pikiran sedang merasakan keadaan senang dan tenteram.

Agama hindu memandang kebahagiaan adalah sebagai suatu proses perjalanan kehidupan yang tidak saja diarahkan untuk memenuhi kebutuhan duniawi melainkan suatu proses pencapaian tujuan yang lebih jauh yaitu tercapainya kesatuan antara Atman dengan Brahman(A.A. Raka Asmariani). Jadi kebahagiaaan menurut Hindu adalah sebuah proses menuju pencapaian pemenuhan keinginan baik duniawi maupun tujuan yang lebih tinggi yaitu moksa.

Bahagia adalah sebuah kondisi pikiran, sehingga kebahagiaan bagi seseorang tidaklah pasti sama bagi orang lain. Seseorang yang merasakan kebahagiaan karena mampu memiliki  benda benda duniawi, bagi orang lain belum tentu merasakan kebahagiaan. hal itu disebabkan oleh karena kondisi pikiran dari setiap orang belum tentu sama, sehingga persepsi pikiran dalam merasakan kebahagiaan bisa jadi tidak sama.

Banyak dari kita terkadang keliru menganggap perasaan senang itu sebagai kebahagiaan, senang karena kepemilikan duniawi pasti akan berakhir dengan kesedihan, itu adalah hukum alam, ibarat bandul semakin kuat perasaan senang karena kebendaan sedemikian kuat pula kesedihan karena kehilangan.

Dalam agama Hindu kebahagiaan bukanlah sekedar pemenuhan kebendaan(duniawi) tapi juga proses mencapai kebahagiaan surgawi yaitu Moksa. Moksa menurut agama Hindu adalah suatu kondisi ketika atma terbebas dari keterikatan terhadap triguna(Satvam,Rajas,Tamas). Kondisi ketika atma terikat kedalam pusaran triguna menurut agama Hindu bukanlah suatu kebahagiaan yang dicita-citakan, kebahagiaan yang diharapkan adalah ketika atma terbebas dari triguna.

Moksa bukanlah semata mata pencapaian atma ketika meninggal, atma juga dinyatakan mampu mencapai kebahagiaan ketika masih didunia(hidup). Ketika seseorang mampu berada dalam “ketidak terikatan terhadap benda benda duniawi” saat itulah ia merasakan kebahagiaan . Jadi kebahagiaan tidaklah monopoli orang orang yang kaya raya, seseorang yang hidup dalam kesederhanaan-pun bisa merasakan kebahagiaan. Bahkan seseorang yang kaya raya bisa jadi tidak merasakan kebahagiaan, jika  dia sangat terikat dengan milik-nya(benda-benda duniawi), alih-alih merasa  bahagia justru mereka merasakan kehampaan dan penderitaan.

Oleh karena itu kecerdasan  dan kebjiksanaan kita sangat menentukan pencapaian kebahagiaan ini. kebijaksanaan dan kecerdasan ini sudah barang tentu dapat dimiliki kalau kita mempunyai pengetahuan yang cukup, yaitu pengetahuan tentang atma dan pengetahuan tentang pengelolaan pikiran. karena ketidak terikatan atma terhadap duniawi sangat terkait dengan pengendalian/pengertian terhadap gejolak pikiran.

Jika demikian kenapa kita masih mengejar kesenangan duniawi kesana-kemari bagai orang gila ?  seolah olah telah mencapai kebahagiaan ? karena setelah pikiran terpuaskan oleh obyek obyek indria itu, pikiran kita akan merasakan kekosongan, selanjutnya pikiran akan menuntut lagi untuk pemenuhan keinginan indriawi yang lain. jadi kebahagiaan yang kita  rasakan oleh pemenuhan obyek indriawi adalah kebahagiaan yang semu(palsu) sifatnya hanya sesaat.

Namun bukan pula kita tidak perlu akan benda-benda duniawi, kita hidup dalam alam kebendaan sudah barang tentu kita memerlukan benda-benda, sudah barang tentu kita memerlukan makanan untuk kesehatan kita, sudah barang tentu kita memerlukan kendaraan untuk kita bepergiaan. Namun keterikatan kepada “makanan enak” adalah sebuah pengikatan diri, keterikatan kepada kendaraan agar kelihatan lebih dimata orang lain adalah sebuah keterikatan. Kita makan karena tubuh memerlukan makanan, “semata-mata untuk itu”, bukan karena lidah menyukai makanan tertentu kemudian kita tergoda untuk makan padahal perut kita masih kenyang. Kita membeli kendaraan karena kita memang memerlukan sarana untuk bepergian bukan karena kita ingin “tampil kaya”  sehingga kita tergoda untuk membeli kendaraan lagi padahal kita sudah memiliki kendaraan yang layak.

Jadi bijaksanalah, kita berada di alam materi(kebendaan) ketidak terikatan terhadap materi(kebendaan) sudah selayaknya  untuk kita perjuangkan karena itulah proses menuju kebahagiaan. Sikap mental seseorang yang terbebas dari keterikatan adalah ketika dia ikhlas, ikhlas akan kondisi kehidupannya. Ikhlas yang dimaksud disini adalah perasaan bebas,tidak terbebani oleh situasi/kondisi saat ini baik sedang susah maupun senang. Ikhlas yang dimaksud bukanlah sikap tidak mau tahu, menyerah kalah kepada kehidupan. Adalah konyol ketika seseorang yang tidak mempunyai uang untuk membeli beras kemudian diam saja menunggu turunnya “hujan beras atau hujan uang” dengan alasan ikhlas sehingga tidak mau berusaha, itu bukanlah keikhlasan tapi kebodohan.

Bijaksanalah…..  carilah materi(benda-benda duniawi), pergunakan ia untuk memuhi kebutuhan hidup, jangan dibalik hidup dikorbankan untuk mencari materi(benda benda duniawi). Makanlah kalau tubuh memerlukan makanan itu, bukan kita korbankan kehidupan kita untuk mengejar makanan enak.

Surwanapuspām prthiwīm bhuñjanti catwāro narāh,upāyajñaśca śūraśca krtawidyah priyamwadah
Artinya :Empat golongan manusia yang menikmati kebahagiaan hidup ini, yaitu orang yang tahu tujuan dan cara hidup, orang yang pemberani, orang yang bijaksana, dan orang yang pandai berbicara ramah dan menarik

Redite Pon Dukut 8 Januari 2017… Rahayu…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: