Oleh: Gusti Sudiartama | Januari 23, 2011

BHAGAWADGITA (BAB II) DIMULAILAH AJARAN BHAGAWAD GITA

Berkatalah Sanjaya :
1. Sang Kreshna pun penuh dengan perasaan iba bersabda kepada Arjuna yang sedang dalam keadaan gundah, dan kedua matanya penuh dengan linangan air mata dan merasa dirinya tanpa semangat dan harapan lagi.

Berkatalah Sang Kreshna Yang Maha Pengasih :
2. Dari manakah timbulnya depresi batinmu ini, pada saat-saat yang penuh dengan krisis seperti ini? Menolak berperang adalah tidak pantas untuk seorang Aryan. Penolakan ini akan menutup pintu masuk ke sorga. Penolakan ini adalah puncak dari kehinaan, oh Arjuna!

3. Janganlah bertindak sebagai seorang pengecut, oh Arjuna! Tiada laba yang akan kau petik dari kelakuanmu ini. Buanglah jauh-jauh kelemahan hatimu. Bangkitlah, wahai Arjuna!

Berkatalah Arjuna :
4. Bagaimana mungkin, wahai Kreshna, daku menyerang Bhisma dan Drona dengan panah-panahku dalam perang ini? Bukankah mereka sebenarnya layak untuk dijunjung tinggi, oh Kreshna?

5. Lebih baik hidup sebagai pengemis di dunia ini, daripada membantai para guru yang agung ini. Dengan membunuh mereka, yang kudapatkan hanyalah kepuasan yang bergelimang darah!

6. Juga kami tak tahu manakah yang lebih baik – kami mengalahkan mereka atau mereka mengalahkan kami. Dengan membunuh putra-putra Dhristarashtra, yang berdiri sebagai lawan, berarti juga menghilangkan sendi-sendi kehidupan (keluarga besar mereka).

7. Seluruh svabhavaku (jiwa-ragaku), serasa sedang dirundung rasa lemas dan rasa iba, dan hatiku bimbang untuk melaksanakan kewajibanku ini. Maka kumohon kepadaMu. Ajarilah daku, sesuatu yang pasti, yang manakah yang lebih baik. Daku adalah muridMu.* Daku berlindung di dalam diriMu. Ajarilah daku.**

Arjuna terombang-ambing di antara kesedihannya dan rasa tanggung jawabnya dalam menunaikan kewajibannya sebagai seorang kshatrya. Dan puncak dari keragu-raguannya ini adalah berpasrah diri kepada Sang Kreshna agar ditunjukkan jalan yang benar dan pasti.

* Aku adalah muridmu dan aku sedang mencari penerangan’: inilah kira-kira yang dimaksud oleh Arjuna. Dalam hidup ini ada tiga tahap untuk seorang jignasu (seseorang yang mencari): pertama-tama ia akan masuk dalam tahap “mencari,” kedua ia akan menjadi seorang murid, seorang yang ingin sekali belajar sesuatu dan pada tahap ketiga ia menjadi seorang “anak” dari sang Guru untuk kemudian dituntun. Selanjutnya sang jignasu akan masuk kedalam suatu tahap yang “tenang” dan tidak lagi dalam keadaan “depresi.”

**  ‘Ajarilah daku’ dalam bahasa Sansekertanya adalah “shadhi mam” yang juga dapat berarti pengaruhilah daku. Seorang Guru kebatinan tidak saja mengajari muridnya dengan ajaran secara verbal maupun tertulis tetapi juga akan menimbulkan suatu “shakti atau “energi” di dalam diri seorang murid. Dalam pengembaraan kita dari setitik atom sampai ke Atman (Inti-Jiwa kita), kita semua memerlukan sebuah jembatan, dan jembatan ini adalah seorang Guru yang sejati. Carilah dia dan berlindunglah di dalamnya, niscaya kau akan berhasil melalui jembatan ini ke tujuanmu. Tetapi ingat seorang guru bukan untuk berbantah-bantah, seorang guru adalah penuntunmu, dan engkau harus tulus jiwa- dan ragamu dalam pengabdianmu kepadanya, dan barulah jalan akan terbuka, bukan dengan berdebat kepadanya.

8. Rasa bimbang ini merubah seluruh indraku menjadi layu. Aku tak melihat masa depan, walau seandainya aku berkuasa tanpa batas atas seluruh permukaan bumi ini atau pun atas para Dewa-Dewa.
Berkatalah Sanjaya :

9. Setelah ucapan-ucapan Arjuna ini selesai, Arjuna berkata kepada Sang Kreshna: “Aku tak akan berperang.” Dan dengan kata-kata ini Arjuna pun langsung berdiam diri.

Arjuna bersikap diam diri. Diam atau pun hening sebenarnya adalah salah satu “guru” kita.

10. Kemudian Sang Kreshna penuh dengan senyuman bersabda kepada Arjuna yang masih diliputi kedukaannya (masih terduduk) di kereta yang berada di antara kedua laskar ini.

Kreshna tersenyum karena ia mengetahui bahwa kesedihan Arjuna sebenarnya adalah proses cinta-duniawi yang terpengaruh oleh ilusi Sang Maya. Arjuna sedih karena belum memiliki ilmu pengetahuan yang sejati. Arjuna harus melewati dulu semua rasa egonya baik yang buruk maupun yang baik, untuk mencapai suatu “pengertian” tentang hidup ini.

Sang Kreshna tersenyum karena Ia sadar bahwa Arjuna harus melalui proses “habis gelap terbitlah terang.”    Arjuna harus disadarkan dan diluruskan jalan pikirannya bahwa tradisi lama memang tidak boleh dibunuh tetapi sebaliknya harus dimanfaatkan sebagai alat bagi langgengnya kebenaran untuk segalanya. Keadilan harus ditegakkan kalau tidak agama dan tradisilah yang akan menuju ke arah kehancuran total.

Sang Kreshna tersenyum karena apa yang diutarakan oleh Arjuna adalah kulit-luar dari kitab-kitab shastra dan Upanishad. Arjuna lupa akan isi ajaran-ajaran semua itu dalam bentuk yang sebenarnya. Apakah dharma itu sebenarnya? Arjuna alpa akan hal itu, baginya dharma adalah tradisi dan peraturan yang sesuai dengan adat-istiadat ritual; bagi Sang Kreshna dharma adalah suatu peraturan atau tata-cara atau hukum yang menganjurkan/mewajibkan seseorang untuk bekerja demi Yang Maha Esa, sesuai dengan segala kehendakNya, untuk mereka-mereka yang menderita dan tersiksa dan diperlakukan tidak adil, dan semua itu tanpa pamrih dalam bentuk apapun juga, tetapi diserahkan kembali kepada Yang Maha Esa.

Berkatalah Sang Maha Pengasih :
11. Dikau bersedih hati untuk mereka yang seharusnya tidak perlu dikau risaukan, tetapi dikau bertutur seakan dikau amat bijaksana. Seseorang yang bijaksana tak pernah bersedih baik untuk yang hidup maupun untuk yang telah tiada.

Kesedihan Arjuna adalah berdasarkan kebodohan, Arjuna tidak sadar akan arti hidup dan mati yang sebenarnya, kedua-duanya adalah permainan Sang Maya (Ilusi-Ilahi), Inti-Jiwa (Atman) kita tak akan pernah mati. Seseorang yang bijaksana akan terus jalan dalam hidup ini penuh dengan dedikasi akan tugas-tugasnya bagi Yang Maha Esa tanpa perduli akan ilusi yang beraneka-ragam bentuknya yang selalu mencoba mencengkeram kita dengan berbagai cara yang baik maupun yang buruk, baik dengan jalan kekerasan maupun kasih-sayang (moha). Bukankah Columbus yang terserang badai dalam suatu pelayarannya pernah berteriak, Lajulah terus, terus dan terus. Di dunia ini tidak ada jalan mundur, yang ada hanyalah jalan terus baik kita mau atau tidak. Tidak ada jalan lain.
Bab ini disebut Sankhya Yoga yang berarti yoga Kebijaksanaan, kebijaksanaan yang disarikan dari seluruh Upanishad-Upanishad. Sloka 11-38, akan banyak mengupas soal kebijaksanaan ini.

12. Tiada waktu di mana Aku tak pernah hadir dan juga engkau, juga mereka-mereka ini, dan juga semuanya, dan kita semua akan selalu terus hadir.

Badan atau raga kita akan selalu hidup dan mati sesuai dengan masa pakainya, tetapi Inti-Jiwa (Atman) akan selalu mengembara dari satu raga ke raga yang lainnya, tanpa henti sesuai dengan karmanya.  Inilah yang harus disadari Arjuna. Seseorang sebenarnya tidak pernah mati, yang mati adalah raganya, suatu permukaan kasar yang merupakan medium belaka. Raga selalu menikmati semua kesenangan dan juga merasakan penderitaan yang diakibatkan oleh kesenangan itu, tetapi Atman akan jalan terus tanpa terkontaminasi sedikitpun. Arjuna dalam kebodohannya mencampur-adukkan antara yang “nyata” dengan yang “tidak nyata.”

13. Sang Inti Jiwa ini berkelana dari satu raga ke raga lainnya sambil melewati masa kanak-kanaknya, masa remaja dan masa tuanya. Seorang yang bijaksana akan maklum akan semua ini dan tidak terpengaruh oleh ilusi ini.

Timbul pertanyaan mengapa Sang Jiwa selalu berkelana dari satu raga ke raga yang lainnya, tidak lain karena harus melalui berbagai perjalanan yang sudah digariskan oleh Yang Maha Pencipta, dan merupakan pengalaman untuk memperkaya diri Sang Atman ini, dan pada akhirnya kembali ke Sang empuNya sesuai dengan tugas dan siklus yang sudah diatur. Sedangkan raga itu sendiri sebagai suatu medium harus juga melalui berbagai tahap seperti masa kanak-kanak, remaja dan masa tua, sesudah itu binasa dan Atman berpindah ke raga lainnya, dan begitulah siklus ini berputar terus seakan-akan tidak ada akhirnya.

14. Setiap hubungan kita dengan berbagai obyek (duniawi), oh Arjuna, menimbulkan dingin dan panas, kesenangan dan penderitaan. Semua ini datang dan pergi, dan tidak abadi. Hadapilah semua ini, Arjuna (sebagai sesuatu fakta).

Atman sendiri sebenarnya tidak terpengaruh oleh semua obyek sensual duniawi ini, yang terpengaruh dan merasakannya ini adalah raga yang ditumpangi Atman. Raga ini setelah ditumpangi Atman akan merasakan dingin dan panas, kesenangan dan penderitaan, dan sebagainya. Semua ini harus kita maklumi dan kita jalani sebagai sesuatu yang datang dan pergi. Kita harus bersikap tidak terikat kepada semua ilusi ini tetapi juga tidak menutup mata, bahkan harus kita hadapi dan rasakan semua itu sebagai dedikasi kita kepadaNya, demi dan untukNya.
15. Seseorang yang tenang dalam kesenangan dan penderitaan –tidak terusik oleh kedua-duanya — ia hidup dalam suatu kehidupan yang tak pernah mati, oh pemimpin diantara anak-anak manusia (Arjuna)!
16. Yang tidak sejati tidak mempunyai bentuk, Yang Sejati tak pernah ada habis-habisnya. Kebenaran kedua hal ini telah dirasakan oleh para pencari Kebenaran.
Yang sejati di sini adalah Atman (Inti Jiwa Kita), yang tidak sejati adalah raga kita yang selalu habis dan binasa, sedangkan Atman terus berkelana tanpa ada batas-batasnya

Raga kita berbentuk asat: tidak abadi, dapat rusak atau mati dimakan waktu atau keadaan. Sedangkan Atman adalah sat: Kesejatian yang Abadi, dalam Sat selalu tercipta yang baru, tanpa henti-hentinya, terus-menerus, abadi dan langgeng. Bukankah Itu sama saja dengan Yang Maha Pencipta. Seorang penyair Barat yang terkenal di dunia pernah menulis:
Yang Satu Abadi, yang banyak berganti dan berlalu,
Cahaya Ilahi bersinar tanpa habis, bayangan bumi hilang berterbangan.
Hidup, bagaikan sebuah rumah kaca yang memantulkan pelangi berwarna- warni,
Sebenarnya bersumber pada warna putih yang abadi. (Percy Bysshe Shelley)
17. Tiada seseorang pun mempunyai kekuatan untuk menghancurkan Yang Tak Pernah Binasa, Yang menunjang semua ini. Ketahuilah Ia tak akan pernah bisa dihancurkan.Yang dimaksudkan Yang Tak Pernah Binasa di sini adalah Atman (Yang sebenarnya adalah sepercik kecil dari Brahman). Raga kita akan hancur dan berganti raga lain, tetapi Atman tak akan pernah binasa karena Ia abadi.
18. Raga yang ditumpangi Sang Jiwa yang abadi, dan yang tak bisa dihancurkan atau terjangkau oleh pikiran, dikatakan tidak abadi. Jadi berperanglah, oh Arjuna!
19. Seseorang yang berpikir bahwa ia membunuh, atau seseorang yang berpikir ia terbunuh kedua-duanya tidak memahami dengan baik arti dari kebenaran. Tiada seorangpun yang sebenarnya dapat membunuh atau terbunuh.
20. Tak ada seseorangpun yang pernah dilahirkan atau pun suatu saat nanti harus mati. Tak ada seorangpun sebenarnya yang hilang atau terhenti proses hidupnya (eksistensinya). Ia tak pernah dilahirkan, bersifat konstan, abadi dan telah ada semenjak masa yang amat silam. Ia tak pernah mati walau raga habis terbunuh.
Emerson seorang penyair terkenal dari Barat pernah mengatakan tentang Atman sebagai berikut: “Aku datang, lewat dan berputar lagi.” Sedangkan Yesus pernah bersabda kepada orang-orang Yahudi, “Ye are gods” (Engkau semuanya adalah dewa-dewa). “Barangsiapa mengenal dirinya sendiri tahu akan Cahaya ini,” kata filsuf terkenal Lao Tse dari Cina, sedangkan seorang sufi terkenal pernah berkata, “Inti dirimu adalah inti Tuhan itu sendiri.”
21. Seseorang yang mengenal bahwa Jati Dirinya tak akan dapat dihancurkan dan selalu abadi, tak pernah dilahirkan dan tak pernah berganti-ganti, bagaimana mungkin orang seperti itu membunuh, oh Arjuna, atau bahkan mengakibatkan orang lain jadi pembunuh?”Seseorang yang mengenal Jati Dirinya,” sadar Dirinya hanyalah saksi dan bukan yang melakukan sesuatu tindakan atau aksi, inilah arti yang tersirat dari mukti atau penerangan yang sesungguhnya.


22. Seperti seseorang yang mengganti baju usangnya dengan baju yang baru, begitupun Jiwa ini berganti-ganti raga dari yang lama ke yang baru
.

Dalam Shanti Parwa yang terdapat di kitab Mahabarata, ada perumpamaan lain dari proses jalannya Jiwa ini yang diibaratkan sebagai seseorang yang pindah dari rumahnya  yang usang ke rumahnya yang baru; inilah jalan kehidupan Sang Jiwa dari raga ke raga lainnya. Tetapi harus diingat bahwa yang dimaksud ini bukan raga manusia saja tetapi bisa juga berbagai ragam raga yang ada di alam semesta ini, seperti hewan, manusia, tumbuh-tumbuhan, raga-raga lainnya yang bertebaran di laut, bumi di sistim planet-planet lainnya atau di mana saja di seluruh alam semesta yang tanpa batas ini. Dan bentuk raga ini bisa saja yang berbentuk abstrak, atau pun dewa-dewi, makhluk-halus, dll, semuanya sesuai kehendakNya dan alur karma  kita sendiri.
23. Tidak ada senjata yang dapat memisah-misahkanNya, tidak juga api dapat membakarNya, atau air membuatNya basah, bahkan anginpun tak dapat mengeringkanNya.
24. Tak terpisahkan Ia. Tak terbakarkan Ia. Tak terbasahkan dan terkeringkan Ia. Ia abadi dan hadir di mana saja. Ia selalu konstan dan tak tergoyahkan. Ia hadir semenjak masa yang amat silam, dan selalu sama selama-lamanya.


Inilah gambaran dari Atman (Inti Jiwa) kita, yang karena bentuknya yang sangat unik, tak dapat digambarkan secara duniawi, tetapi dapat kita fahami sebagai sesuatu yang berbentuk Ilahi dan selalu konstan dan abadi. Tak akan rusak atau pun binasa.
25. Tak terterangkan, tak terpikirkan dan tak dapat diubah-ubah – begitulah Ia disebut. Setelah mengenalNya seperti itu, seharusnya engkau (Arjuna) tak perlu lagi merisaukan hatimu.
Diri ini harus bersih dulu dari segala keterikatan duniawi ini yang aneka-ragam corak dan bentuknya, setelah itu kita akan lebih mengerti akan hadirNya Sang Atman dalam diri kita dan mengenalNya lebih baik. Selama kita masih diliputi rasa-ego (apa saja bentuknya), rasa ketakutan duniawi, dan selalu terikat kepada unsur-unsur disekitar kita; dan tak pernah menyerahkan semua ini kepadaNya secara tulus, selama itu juga yang dekat akan terasa amat jauh. Sebenarnya la amat dekat di dalam diri kita sendiri. Kenalilah Dia !
26. Pun sekiranya kau pikir Sang Jiwa (Atman) ini bisa mati dan hidup, dan tidak bersifat abadi, wahai Arjuna, tak perlu juga dikau harus risau dan bersedih hati.


27. Karena sudah pasti yang lahir harus binasa dan yang binasa harus lahir. Jadi janganlah dikau bersedih untuk sesuatu yang sudah pasti dan semestinya ini.

Sesuatu yang sudah digariskan Ilahi tak akan bisa berubah, jadi sebenarnya tak perlu dirisaukan lagi, que sera sera, apa yang akan terjadi terjadilah. Mati-hidup kemudian hidup-mati, dan seterusnya sudah semestinya begitu, jadi apa yang harus dirisaukan lagi. Tidak ada jalan lain, yang mau tak mau harus kita terima karena sudah tidak ada jalan lain, takdir sudah mengaturnya begitu. Yang penting adalah kesadaran untuk menerimanya sebagai kewajiban kita kepada Ilahi, bukan karena terpaksa.
28. Keadaan dari mereka-mereka yang belum dilahirkan tak dapat diterangkan dalam bentuk duniawi ini. Tetapi pada periode antara kelahiran dan kematian situasi mereka dapat kita lihat dan fahami. Setelah mati mereka kembali lagi ke suasana yang tak dapat diterangkan ini lagi. Jadi untuk apa dikau harus bersedih hati, wahai Arjuna?
Jadi sebenarnya yang diketahui oleh kita manusia ini hanyalah bentuk kehidupan yang terjadi antara kelahiran sampai dengan kematian kita dan orang-orang disekitar kita saja.  Sebelum dan sesudah itu gelap dan tidak terang bagi kita. Yang kita rasakan atau kita lihat hanya sedikit yang ditengah-tengah saja, ujung dan pangkalnya kita tak akan pernah tahu. Lalu untuk apa kita bersedih hati, toh kita datang dari suatu alam yang tidak kita ketahui dan kemudian harus kembali ke sana juga, dan ini berlangsung terus tanpa henti-hentinya. Lalu untuk apa risau akan semua masalah yang harus kita hadapi, bukankah kita ini sebenarnya hanya alatNya saja di dunia ini, yang dikirimkan untuk melakukan tugas-tugasNya saja, jadi berbaktilah kita seharusnya sesuai dengan kehendakNya. Itulah dharma-bhakti yang semestinya.
29. Ada yang mengesankan-Nya sebagai sesuatu yang amat menakjubkan, ada yang membicarakan-Nya sebagai sesuatu yang amat menakjubkan, dan ada juga yang mendengarkan-Nya sebagai sesuatu yang amat menakjubkan, tetapi tak seorang pun yang benar-benar dapat mengenal-Nya (mengetahui-Nya) dengan pasti apa Ia sebenarnya.
Kebenaran tentang Atman sebenarnya terbuka untuk kita semuanya; dan mereka-mereka yang merasakanNya menjadi takjub sendiri. Toh tidak semua kita ini dapat merasakan ketakjuban ini, karena sudah tersandung dalam perjalanan sebelum mencapaiNya. Ada yang ragu-ragu, ada yang terhadang oleh kesulitan-kesulitan dan hanya sedikit yang sampai ke Tujuan yang menakjubkan ini.
Timbul pertanyaan kalau Dia memang mengasihi kita lalu mengapa banyak yang harus tersandung sebelum mencapaiNya? Sebenarnya Yang Maha Kuasa memberikan kita kebebasan untuk memilih. Sering sekali kita-kita ini lebih condong untuk terikat dengan segala unsur-unsur duniawi ini yang seakan-akan sudah jadi milik kita atau sudah menjadi urusan pribadi kita yang tak dapat diganggu-gugat. Seharusnya kita melepaskan semua unsur ego baik yang positif maupun yang negatif, dan menyerahkannya semua kepadaNya untuk kemudian dibimbing olehNya sesuai dengan kehendakNya. Jadilah seperti seorang anak kecil yang bersandar pada orang-tuanya, polos, bersih dan jujur dalam segala aspeknya. Dan seperti juga orang-tua kita yang akan selalu membimbing kita dalam suka dan duka, maka Yang Maha Kuasa pun akan selalu menunjukkan jalan kita dalam setiap tindak-tanduk kita. Ia sebenarnya setiap hari mengetuk pintu hati kita dan tersenyum penuh cinta-kasih, yang menjadi masalah adalah kita menganggapNya Ia berada di tempat yang amat jauh. Bukankah Ia tersirat dalam keheningan, bahkan Ia sebenamya dapat ditemui setiap saat dalam diri pribadi kita masing-masing yang juga adalah DiriNya sendiri. la hadir selalu dalam diri kita, tak usah jauh-jauh mencarinya di hutan atau di laut, di bulan atau di matahari, carilah Dia dalam ketenangan dirimu senidiri.
30. Ia yang bersemayam dalam setiap makhluk – adalah Kehidupan dalam setiap makhluk — Ia tak tersentuh senjata apapun juga. Jadi Arjuna, seharusnya dikau tidak bersedih hati untuk makhluk apapun juga.
Yang dimaksud Sang Kreshna di sini, adalah Sang Arjuna boleh saja memikirkan dan memperhatikan semua makhluk di dunia ini, malahan itulah salah satu aspek penting dalam dharma. Tetapi juga harus tahu bahwa yang bersemayam dalam setiap makhluk ini, yang disebut Atman tak akan bisa binasa walau apapun yang terjadi. Jadi sebenamya Arjuna tidak perlu sedih, karena kesedihan itu sia-sia belaka, takdir sudah menentukan jalan hidup setiap makhluk ciptaanNya sesuai kehendakNya dan bukan sesuai kehendak Arjuna atau kita semuanya.
31. Dedikasikan dirimu kepada kewajibanmu dan jangan kau ingkari itu. Karena tidak ada imbalan yang lebih baik untuk seorang kshatrya, daripada suatu perang demi kebenaran.
Dharma demi kebenaran adalah tugas suci untuk siapa saja, apalagi kalau ia seorang kshatrya yang seharusnya membela nusa dan bangsa serta negaranya dari segala kezaliman dan angkara-murka. Dalam salah satu kisah Mahabarata tertulis, “Barangsiapa menyelamatkan suatu kehancuran adalah seorang kshatrya” dan juga tertulis di bagian lainnya, “Hanya ada dua tipe manusia yang dapat mencapai alam Brahman setelah melewati konstelasi matahari: yang pertama adalah para sanyasin (orang-orang suci) yang telah dalam ilmu pengetahuannya dan yang kedua adalah para kshatrya yang mati dalam peperangan membela kebenaran.” Bukankah itu berarti bahwa kalau kita selamanya berjalan/berperang demi kebenaran maka kita sedang menuju ke arahnya, Yang Maha Pencipta.
32. Berbahagialah mereka para kshatrya, yang harus berperang demi kebenaran — terbukalah kesempatan ke sorga tanpa mereka minta.
Sang Kreshna di sini menegaskan bahwa berperang/mati demi kebenaran membawa kita langsung ke alam sorga; ini berarti bahwa berperang demi kebenaran adalah tugas yang maha suci bagi kita dari Yang Maha Esa. Kalau direnungkan dengan baik-baik bukankah kita dikelilingi oleh berbagai bentuk tidak kebenaran dalam hidup ini, dari segala bentuk nafsu-nafsu pribadi kita yang negatif sampai ke penindasan yang tidak berprikemanusian dalam prilaku manusia.  Sesuatu bentuk pcmerintahan, diskriminasi, dan berbagai aspek tidak benar lainnya yang seakan-akan tidak ada habis-habisnya dan semua itu bertebaran di sekeliling kita setiap saat.
33. Dan seandainya dikau tak maju berperang di jalan yang suci ini, dikau akan mengabaikan kewajiban dan kehormatan, dan dikau akan dikejar-kejar oleh perasaan salahmu itu.


Seseorang yang berjalan atau berjuang di jalan kebenaran harus siap mengorbankan segala miliknya. Bukan saja sanak-saudara dan harta bendanya tetapi juga nyawanya sendiri. Apalagi untuk suatu tugas yang besar dan suci. Sebagai seorang kshatrya, seandainya Arjuna mengingkari kewajibannya ini, maka ia akan kehilangan segala kehormatannya.
34. Setiap orang akan menghinamu, dan bagi seorang yang terhormat, penghinaaan adalah lebih buruk dari suatu kematian.


35. Para pendekar-pendekar yang besar akan mengira dikau mundur dari peperangan ini karena rasa ketakutanmu. Dan mereka-mereka yang menghormatimu akan memandang rendah padamu.

36. Belum lagi hinaan-hinaan lainnya yang diucapkan oleh musuh-musuhmu, semua itu akan membuatmu lebih lemah lagi. Adakah yang lebih menyakitkan dari semua itu?
37. Seandainya dikau terbunuh, maka dikau akan ke sorgaloka. Sekiranya dikau perkasa dalam peperangan ini, maka dikau akan menikmati bumiloka ini.
Jadi bangkitlah wahai putra Kunti (Arjuna) dan angkatlah senjata untuk yudhamu ini.

38. Samakanlah rasa nikmat dengan derita, laba dengan rugi, menang dengan kalah, bersiaplah untuk yudha ini. Dengan begitu dikau tak akan tercemar oleh dosa.
Pada sloka-sloka sebelumnya Sang Kreshna menyindir rasa ego dan tanggung-jawab Arjuna pada dharma yang sebenarnya. Di sloka atas ini Sang Kreshna meminta agar Arjuna melaksanakan kewajibannya yang tertinggi yaitu berperang menegakkan kebenaran. Tugas ini merupakan tugas yang amat suci bagi seorang kshatrya demi Yang Maha Esa dan kebenaran.
39. Sejauh ini Aku telah menerangkan tentang ajaran Sankhya. Sekarang dengarkanlah ajaran mengenai Yoga (llmu pengetahuan), dengan mengikuti ajaran ini dikau akan lepas dari ikatan-ikatan perbuatanmu.
Yang dimaksud dengan ajaran Sankhya ini adalah ajaran Bhagavat Gita mengenai KeTuhanan yang Maha Esa, secara khusus Tentang Sang Jati Diri (Sang Atman). Yang diajarkan adalah hubungan Sang Atman dan raga kita, di sini ditekankan bahwa Sang Atman yang merupakan inti dari jiwa kita itu tak mungkin dapat binasa, walau raga kita hancur sekali pun. Sedang yang dimaksud dengan Yoga di sini, adalah llmu pengetahuan yang sejati. Ajaran Sankhya ini tidak dapat ditelaah begitu saja, melainkan harus disertai atau didasarkan pada yoga tentang dharma-bhakti kita kepada Yang Maha Esa secara benar. Tetapi semua dharma-bhakti ini harus dilakukan dengan menyamakan rasa kita terhadap dua sifat dualisme yang saling berkontradiksi, yaitu memandang atau merasa sama akan senang dan susah, untung dan rugi, panas dan dingin, dan lain sebagainya.
Lalu bagaimana seseorang dapat mencapai tingkat kesadaran semacam ini? Caranya adalah dengan menggabungkan daya-intelek (budhi) kita dengan jalan pikiran kita. Setelah intelek kita sadar bahwa semua unsur dualisme yang kelihatannya amat berlawanan ini sebenarnya sama saja, dan hanya merupakan permainan pikiran kita belaka, maka secara tahap demi tahap kesadaran kita akan meningkat dan kita akan melaju ke arah Yang Maha Esa dengan baik, dan jadilah kita seorang Buddhi-Yukta (seorang yang telah mencapai kesadaran).
Seorang Buddhi-Yukta yang baik adalah ia yang telah berhasil mengendalikan hawa-nafsunya yang bersifat aneka-ragam. Ia juga adalah seorang yang bersikap sama dan tenang dalam setiap keberhasilan maupun kegagalan, bersikap tenang dalam segala tugas-tugasnya, dan tidak memiliki ambisi pribadi tertentu atau nafsu duniawi lagi. Semua perbuatannya sudah menjadi kewajibannya untuk Yang Maha Esa semata. Seseorang semacam ini tidak perlu harus dapat melihat Sang Atman yang bersemayam di dalam dirinya, tetap sudah pasti ia akan dapat merasakan kehadiran Sang Atman ini. Seorang Buddhi-Yukta yang sempurna akan selalu tenang tindak-tanduknya, dan stabil jiwanya, akibat dari pengaruh Sang Atman yang bersemayam di dalam dirinya.
40. Di jalan ini tidak ada usaha yang akan sia-sia, dan tak ada rintangan yang akan bertahan lama. Sedikit saja usaha dharma ini akan melepaskan seseorang dari rasa takut yang besar.
Sedikit saja usaha ke arah dharma (jalan kebenaran) ternyata akan melepaskan kita dari samsara, yaitu penderitaan di dunia ini yang tak ada habis-habisnya.  Karena jalan akhir dari dharma adalah kebebasan mutlak dan kembali ke Ilahi Yang Tanpa Batas.
41. Budhi (Kesadaran Intelektual) ini, Arjuna, sifatnya tegas dan hanya menunjuk ke satu arah saja. Tetapi mereka yang tidak tegas dalam dharma-bhaktinya, maka cara berpikirnya akan berjalan keberbagai arah seakan-akan tiada habis-habisnya.
Budhi adalah suatu kesadaran total seseorang; yang memilikinya akan selalu bersifat satu arah saja, yaitu bekerja demi Yang Maha Esa semata tanpa pamrih sekecil apapun juga. Sedangkan bagi mereka yang belum sadar, maka cara atau pola berpikirnya pasti didasarkan oleh kebutuhan-kebutuhan nafsu, keinginan, selera, ego dan pertimbangan-pertimbangan duniawi lainnya dan efek-efeknya, jadi nafsu mereka pasti tidak akan ada habis-habisnya karena didasarkan oleh banyaknya kebutuhan atau tujuan mereka. Budhi bersifat eka sedangkan nafsu bersifat ananta (aneka ragam tanpa habis-habisnya).
42. Kata-kata manis diucapkan oleh seseorang yang tidak dapat membedakan, yang tidak bijaksana, yang lebih tertarik dan bahagia dengan kata-kata yang terdapat di Veda-Veda yang memuat: “yang ada hanyalah ini saja!”
Disinilah kita harus mencamkan sabda Sang Kreshna di atas ini yang merupakan peringatan bagi kita-kita yang lebih mementingkan ritus-ritus atau tradisi agama atau dogma, daripada Yang Maha Esa itu sendiri. Karena semua itu bukan jalan yang sebenarnya ke arah Yang Maha Esa. Kata-kata indah dalam weda yang dianggap suci dan indah tidak akan bermakna kalau tidak didasari dengan dharma-bhakti kita kepada Yang Maha Esa.
43. Mereka-mereka ini penuh dengan keinginan duniawi. Tujuan akhir mereka adalah sorga. Akibatnya mereka ini akan lahir kembali. Mereka melakukan berbagai upacara keagamaan hanya untuk mendapatkan kesentosaan dan kekuatan duniawi.
Mereka-mereka yang melakukan upacara-upacara keagamaan dengan tujuan tertentu akan mendapatkan keinginan mereka masing-masing, tetapi tindakan keagamaan ini tidak akan membebaskan mereka dari samsara, melainkan membuat mereka lahir kembali ke dunia ini sesuai dengan karma-karma mereka. Sedangkan seorang karma-yogi yang bekerja semata-mata demi Yang Maha Esa, maka karmanya akan merupakan pengorbanan yang tulus dan tanpa pamrih kepada Yang Maha Esa (merupakan yagna, pengorbanan atau sesajen).
44. Budhi ini bukan untuk mereka yang hidupnya hanya untuk agama yang dipraktekkan demi kesenangan duniawi, yang berdasarkan kata-kata Veda, karena pengetahuan ini memerlukan tekad yang keras demi melepaskan unsur-unsur duniawi (seseorang).
45. Di dalam Veda terdapat ajaran mengenai tiga jenis guna (kualitas atau sifat manusia). Bebaskanlah dirimu, oh Arjuna dari ketiga kualitas ini. Bebaskanlah dirimu dari kedua sifat yang saling berkontradiksi. Tegak dan berakarlah ke dalam kebersihan jiwamu, dalam sifat kebenaran yang abadi, tanpa merasa memiliki suatu apapun: milikilah Dirimu sendiri – Gurumu!
Veda mengajarkan tentang guna, yaitu tiga sifat atau jenis kualitas manusia. Yang pertama sattva, yaitu sifat yang penuh dengan unsur-unsur kebajikan, kecerdasan, kesucian, kejernihan dan berbagai hal-hal lainnya yang penuh dengan unsur kebaikan. Yang kedua disebut sifat raja, yaitu sifat atau aktivitas yang sifatnya menggebu-gebu, juga suatu bentuk sifat yang selalu ingin memiliki atau mengetahui hal-hal yang baru, dan sifat-sifat lain yang pada dasarnya selalu penuh dengan energi dan aktivitas. Sifat ini identik dengan pikiran kita pada umumnya yang selalu menerawang tanpa henti-hentinya, tanpa batas. Sifat yang ketiga disebut Jama, yaitu sifat-sifat manusia yang selalu menjurus ke arah kebobrokan mental seperti sifat-sifat pemalas, peminum, penjudi, seks-maniak, sifat yang penuh dengan unsur-unsur gelap yang lengkap sifatnya. Ketiga sifat ini hadir dalam pikiran dan raga kita, sedangkan Sang Atman atau Sang Jati Diri kita duduk bersemayam terpisah dari mereka ini semuanya. Sang Atman adalah saksi Ilahi dalam diri kita sendiri, suatu bentuk Kesadaran Ilahi yang sukar diterangkan dengan kata-kata, yang bagi yang telah merasakan atau menyadariNya merupakan Keberkahan Nan Abadi.
Sebenarnya di sini Sang Kreshna sedang menganjurkan kita semua agar mencari dan menemukan Sang Atman dalam diri kita masing-masing dan menyembah dan memujaNya penuh dengan dedikasi dan dharma bhakti. Caranya adalah dengan membebaskan diri kita dari sifat atau rasa dualisme yang saling berkontradiksi yang hadir dalam setiap aspek kehidupan kita. Juga membebaskan diri kita dari rasa ego, dari rasa iri dan benci, dari segala perhitungan-perhitungan atau rencana yang bersifat amat duniawi, dan hanya memfokuskan diri kita ke suatu jalan yang penuh dengan sattva, tetapi bukan yang bersifat sattva duniawi tetapi Sattva Ilahi. Dengan kata lain jadilah seorang manusia sejati bagi dirimu sendiri, bagi masyarakat banyak dan yang terutama bagi Yang Maha Esa. Jadilah manusia yang lepas dari segala unsur duniawi dan hiduplah secara cukup dan sederhana saja, puas dengan apapun yang diberikan oleh Yang Maha Esa, puas dengan diri dan Diri mu sendiri, sadar akan DiriNya (Sang Atman), yang hadir di dalam diri kita semua dan bekerja atau hidup demi Ia semata.
46. Kegunaan Veda-Veda untuk seorang Brahmin yang telah mendapatkan penerangan Ilahi adalah ibarat sebuah kolam air yang terletak ditengah-tengah genangan air banjir (bah).
Seorang Brahmin atau Brahmana yang sejati bukanlah yang dinyatakan secara kastanya, melainkan adalah seorang yang secara sejati menemukan kesadaran Ilahi dan bekerja untukNya tanpa pamrih. Bagi orang semacam ini atau yang sudah sampai  ke taraf ini, semua ajaran-ajaran Veda termasuk semua tradisi agama atau pun upacara-upacara ritual menjadi sekadar simbol saja. Di sloka di atas , diibaratkan seperti sebuah kolam air tawar ditengah-tengah air bah atau banjir. Dengan kata lain bagi seorang Brahmin yang sejati, ajaran-ajaran Veda sudah tidak berarti lagi untuknya karena ia telah melewati semua itu, dan telah mencapai suatu ajaran Ilahi yang sejati atau dengan kata lain telah mencapai penerangan Ilahi yang tak terbatas sifatnya.

47. Engkau hanya berhak untuk bekerja, tidak untuk hasilnya. Jangan sekali-kali motif pekerjaanmu mengarah ke hasil akhir (imbalan dari pekerjaan ini), dan jangan juga sekali-kali engkau tidak bekerja.
Jangan mengharapkan suatu imbalan/buah/hasil untuk setiap tindakan atau perbuatan atau pekerjaan kita dengan harapan duniawi kita, tetapi pasrahkanlah hasil-akhir atau efek dari semua perbuatan ini kepadaNya semata. Semua hasil atau efek dari perbuatan ini adalah la yang menentukan dan akan terjadi sesuai dengan kehendakNya tanpa lebih maupun kurang. Setiap tindakan atau perbuatan kita harus didasarkan atas kesadaran bahwa semuanya demi dan untuk Ia semata. Dengan bekerja untukNya tak mungkin kita diarahkan ke jalan yang salah atau merugikan orang lain. Semua hasil tindakan harus diambil hikmahnya dengan tulus.
48. Lakukan tindakanmu, oh Arjuna! dengan hati yang terpusat pada Yang Maha Esa, tanpa keterikatan dan bersikaplah sama untuk semua kesuksesan dan kegagalanmu. Hati yang damai dan penuh rasa bimbang adalah suatu yoga.


Yoga di sini jadi lebih terang dan luas artinya. Yoga itu disebut samatvan, yaitu pikiran dan hati yang selalu seimbang dalam setiap situasi baik menghadapi sesuatu kegagalan maupun kesuksesan, buruk atau yang baik dan seterusnya. Seandainya seseorang di dalam setiap tindak-tanduknya dapat selalu balans atau seimbang dan tak terpengaruh oleh emosinya, maka ia akan mencapai rasa ketenangan di dalam dirinya dan inilah yang disebut oleh orang-orang Hindu sebagai yoga yang sejati.

49. Pekerjaan demi suatu imbalan itu lebih rendah derajatnya daripada Buddhi-yoga, oh Arjuna! Maka selalulah bernaung dibawah buddhi (intelek)mu. Kasihan mereka yang bekerja untuk suatu imbalan tertentu.
Pekerjaan yang benar dan bersih dari segala unsur-unsur duniawi akan melajukan perjalanan kita ke arah Yang Maha Kuasa karena memang itulah yang diajarkan oleh Sang Kreshna. Janganlah seseorang bekerja demi nama, rumah-tangga, dan kedudukannya dalam masyarakat, bekerjalah semua itu tetapi berdasarkan dedikasi kita kepada Yang Maha Esa semata, sebagai bhakti kita kepadaNya. Dan jenis pekerjaan itu bisa apa saja, dari pekerjaan seorang pembersih sampai ke pekerjaan seorang pendeta, tetapi harus bermotifkan dedikasi yang tulus dan bukan didasarkan pada imbalan atau efek yang akan diterima. Semuanya terserah Ia yang menentukan, kita bekerja tanpa pamrih.
50. Ia yang telah menjadikan dirinya seorang Buddhi-Yukta (yang telah sadar dan mendapatkan kesadaran Ilahi) akan mengesampingkan semua yang baik dan buruk dalam hidup ini. Jadi berjuanglah untuk Yoga; Yoga ini lebih bermanfaat dari suatu tindakan yang penuh harapan akan suatu imbalan.


Seorang yang telah sadar akan peranannya dalam hidup ini suatu saat akan mengerti bahwa kebaikan dan keburukan sebenarnya hanyalah berupa ilusi dari Sang Maya (Kekuatan dari Yang Maha Esa juga). Sesuai dengan tugas-tugas maka kita hidup di dunia ini hanyalah sekedar sebagai alat-alatNya. dan tentu saja terserah kepada Yang Maha Kuasa apakah kita ini jadi alat yang baik atau alat yang buruk. Seorang yang telah mencapai tingkat kesadaran yang benar akan memandang sama, dengan mata, hati dan pikiran yang sama kepada semua makhluk, semua unsur  baik dan buruk pada setiap makhluk. Orang semacam ini akan selalu tunduk atas segala kehendakNya, dan tindak-tanduk maupun pikirannya akan selalu bersandar pada Yang Maha Esa, dan selalu minta dituntun sesuai dengan kehendakNya semata. Orang semacam ini akan selalu bergairah untuk bekerja: bukan malahan tidak bekerja karena berpikir semua sudah jadi kehendakNya.
51. Mereka-mereka yang bijaksana dan telah mendapatkan penerangan menyerahkan semua imbalan dari setiap pekerjaan (tindakan) mereka; lepas dari siklus kelahiran, mereka pergi ke alam yang tanpa derita.
Seandainya hati dan pikiran kita telah bersih dari segala nafsu duniawi dan budhi (daya intelektual) kita penuh dengan kesadaran atau penerangan, maka setiap tindakan kita malahan akan merupakan ekspresi kebebasan jiwa kita. Dan jiwa kita akan menanjak dalam perjalannya dari bhakti dan gnana (kesadaran) ke arah Berkah Sang Ilahi, kemudian menyusul kepembebasan jiwa kita dari siklus hidup dan mati di dunia ini (moksha). Di bawah ini terdapat beberapa anak-anak tangga yang lebih terperinci sifatnya:
1. Karma-yoga : menyerahkan semua imbalan/hasil dari setiap pekerjaan atau perbuatan baik    secara mental maupun secara fisik kepadaNya.
2. Bangkitnya kesadaran intelektual kita (buddhi), dan timbullah kebijaksanaan Ilahi.
3. Lepas dari ikatan lahir dan mati.
4. Mencapai berkah Ilahi, lalu terus ke moksha.
52. Sewaktu kesadaranmu melewati putaran kegelapan (moha), maka dikau akan mencapai suatu kesadaran tentang apa yang telah kau dengar dan apa lagi yang akan kau dengar.


Sewaktu kesadaran kita telah mencapai suatu tahap di mana segala nafsu telah berhenti berfungsi dan tidak penting lagi artinya, maka di situ kita akan merasakan perbedaan-perbedaan atau arti sebenarnya akan semua tradisi, upacara keagamaan, dan lain sebagainya yang dianjurkan di weda-weda.
53. Sewaktu kesadaranmu, yang salah mengerti tentang shruti (ayat-ayat Veda), mencapai suatu tahap yang kukuh dan tak tergoyahkan dan jiwamu tenang dalam samadi, disitulah dikau akan mencapai yoga (penerangan ke dalam).
Samadi adalah konsentrasi jiwa kita ke Inti Jiwa (Sang Atman atau Sang Jati Diri) yang berada di dalam jiwa kita sendiri. Samadi adalah dialog atau pertemuan diantara kita dan Sang Atman. Pertemuan atau sentuhan ini dapat tercapai bila seseorang lepas dari segala keterikatannya dalam melakukan setiap tugas-tugas duniawinya, termasuk di dalamnya tugas-tugas keagamaannya. Semua tugas-tugas ini harus dilakukan dengan pikiran yang sinkron atau selaras dengan kehendakNya. Bagaimana mungkin kita tahu bahwa apa yang kita kerjakan itu selaras dengan kehendakNya; dengan menyerahkan hasil dari perbuatan ini kepadaNya secara total dan kemudian terserah Ia akan efek-efeknya kemudian. Orang semacam ini yang menyerahkan hasil pekerjaannya bulat-bulat kepada Yang Maha Esa akan tegak dan kokoh merasakan semua hasil dari pekerjaan atau perbuatannya yang berefek baik atau buruk, negatif atau positif baginya atau bagi yang lainnya sebagai kehendakNya. Ia lebih bertindak sebagai alat atau petugas Yang Maha Esa dan jauh dari hasil perbuatan-perbuatannya. Karena ia tidak mengharapkan pamrih dari pekerjaan/perbuatannya, maka selalu ia berpikir semua terserah kehendak Ilahi. Selamanya ia akan teguh menghadapi apapun juga, dan kalau sudah mencapai tahap ini, komunikasi atau samadinya dengan Sang Atman akan tercipta dan terjalan dengan amat baik.
Berkatalah Arjuna :
54. Apa saja ciri-ciri seseorang yang telah mencapai kebijaksanaan yang stabil ini, yang teguh dalam segala hal, dan telah bersatu dengan Sang Brahman, oh Kreshna? Bagaimanakah seseorang yang telah mendapatkan kesadaran Ilahi ini berbicara? Bagaimanakah cara duduknya? Dan bagaimana cara ia berjalan?


Arjuna seperti juga kita semuanya ingin sekali mengetahui ciri-ciri khas seseorang yang telah bijaksana dan mencapai kesadaran Ilahi ini. Sang Kreshna pun menjawabnya satu persatu dengan senang hati, misalnya di sloka 55, 61 dan 64 yang mendatang ini diterangkan tentang cara orang bijaksana ini duduk. Di sloka 56 diterangkan tentang caranya berbicara dan di sloka 58 tentang caranya ia bergerak dalam hidupnya.
Berkatalah Sang Maha Pengasih :
55. Sewaktu seseorang mengesampingkan semua nafsu-nafsu duniawi yang ada di dalam pikirannya dan merasa puas dalam DiriNya oleh DiriNya, akan ia disebut sthita-prajna, seorang yang melihat kebijaksanaan secara tegar.


Seseorang yang merasa puas dengan DiriNya (Sang Atman) dan semua sentuhan Sang Atman terhadap dirinya adalah seorang yang sudah mencapai suatu penerangan Ilahi, dan telah berubah tegar dalam setiap hal yang dihadapinya.
56. Ia yang bebas pikirannya dari rasa gelisah di kala duka dan sakit, merasa tenang saja di kala senang, lepas dari nafsu duniawi, dari rasa ketakutan dan marah, adalah seorang yang telah mendapatkan penerangan.
57. Ia yang tak terikat dari sisi mana pun juga, yang tidak pernah benci maupun cinta pada suatu obyek, yang bertindak secara netral terhadap suatu yang adil maupun yang tidak adil, orang semacam itu mempunyai pengertian yang tegar dalam kebijaksanaannya.
Orang yang telah tegar dalam penerangan atau kesadaran adalah seseorang yang menjadi saksi dalam kehidupannya dan kehidupan di sekitarnya. la berdiri di atas semua faktor baik yang negatif maupun positif. Baginya semua itu hanya ilusi saja dan merupakan proses dalam kehidupan setiap orang. Bukannya lalu berarti ia sudah lemah jalan pikiran atau tindak tanduknya, tetapi ini justru merupakan ekspresi sejati dari kebebasannya yang tulus, kuat dan penuh dengan semangat dedikasi kepadaNya. Ia puas dengan apapun yang diberikanNya, dan setiap hal yang menimpanya dianggap biasa-biasa saja baik itu berupa kesenangan maupun kedukaan.
58. Ia yang menarik seluruh organ-organ nafsunya dari semua obyek-obyek nafsunya dari segala jurusan, ibarat seekor kura-kura yang menarik semua kaki-kakinya ke dalam tempurungnya, adalah seorang yang telah tegar rasa pengertiannya dan teguh dalam kebijaksanaan.
Perumpamaan seekor kura-kura adalah suatu contoh yang amat baik, karena sekali seekor kura-kura menarik semua kaki-kakinya ke dalam tempurung, maka ia tenang-tenang saja menghadapi reaksi atau ancaman dari luar, karena sudah merasa aman di dalam tempurungnya ini. Dengan kata lain dapat diibaratkan sebagai “bersemedi di dalam tempurungnya tanpa rasa keterikatan dengan apapun di luarnya.”
59. Obyek-obyek sensual akan menjauh dari seseorang yang tidak mau memberikan umpan kepada mereka, tetapi akan menetap pada mereka yang menyenanginya. Bahkan sisa-sisa keinginan pun akan pergi dari seseorang yang telah melihatNya (Yang Maha Esa).


Penyerahan total kepada Yang Maha Kuasa bukan saja berarti menjauhi semua unsur-unsur duniawi saja tetapi juga berarti menghilangkan sisa-sisa selera yang masih ada dalam diri seseorang. Bagi yang telah merasakan sentuhan Ilahi, tidak sedikit pun selera duniawi yang dirasakannya. Baginya Yang Satu itulah segala-galanya dan Yang Terindah.
60. Oh Arjuna! Organ-organ sensual yang terangsang akan segera menggerakkan pikiran seseorang, walaupun ia seorang yang bijaksana dan sedang jalan menuju ke arah sempurna.
Walaupun seseorang telah bertahun-tahun berusaha menuju ke arah penerangan dan mengabaikan semua kebutuhan sensualnya, tetapi selama ia masih menyimpan selera untuk hal-hal yang bersifat duniawi, maka setiap waktu ia bisa saja jatuh bangun oleh hal-hal yang bersifat duniawi ini. Maka janganlah heran atau tertawa mengejek melihat seorang yang dianggap bijaksana atau suci tersandung oleh hal-hal yang berbau duniawi, karena organ-organ sensual dan pikiran kita memang sangat peka dan mudah dipermainkan oleh Sang Maya.
61. Dengan mengendalikan semua organ-organ sensualnya, ia harus duduk secara harmonis dan menjadikan Aku sebagai Tujuannya yang Terakhir. Seorang yang telah berhasil mengatasi semua organ-organ sensualnya, akan segera mencapai kesadaran yang tegar.


Duduk dan bermeditasi dengan teratur, mengendalikan semua unsur-unsur duniawi kita (organ-organ sensual kita) baik lahir maupun batin, dan selalu memfokuskan pikiran dan tindak-tanduk kita ke Yang Maha Kuasa secara konstan akan menghasilkan suatu penerangan Ilahi atau kesadaran Ilahi yang tegar. Semua ini memerlukan disiplin pribadi yang kuat dan salah satu cara untuk membentuk disiplin ini adalah dengan bermeditasi secara tekun.
62. Seandainya seseorang mengarahkan pikirannya ke arah obyek-obyek sensual, maka ia akan menghasilkan keterikatan pada obyek-obyek ini. Dari keterikatan ini timbullah hawa-nafsu. Dari hawa nafsu timbullah rasa amarah.
Seseorang yang berpikir senantiasa akan hal-hal yang duniawi akan terikat kepada hal-hal ini, dan sekali terikat akan menjadi kebiasaan. Dan kebiasaan ini kalau sekali-kali tak didapatkannya akan menimbulkan rasa amarahnya, rasa-kesal, dan memuncak menjadi angkara-murka. Jadi yang penting bukan saja penyerahan total dari nafsu-nafsu atau berbagai keinginan kita tetapi juga pikiran-pikiran kita, karena di dalam pikiranlah sebenamya terdapat benih atau asal dosa.
63. Dari marah timbullah angkara-murka, dan keangkara-murkaan akan menghilangkan akal-sehat, dan dengan hilangnya akal-sehat ini hancurlah daya intelek dan kesadaran (buddhi) kita, dan dengan hilangnya buddhi ini maka ia akan binasa.
Kalau pikiran sudah kacau maka lupalah kita akan pengalaman-pengalaman pahit kita yang lampau, karena hilang sudah akal-sehat kita dan rasio kita porak-poranda jadinya. Lupalah kita akan hal yang baik dan buruk, dan pada skala besar kalau kita jadi tersesat karenanya, maka lupalah kita akan tujuan kita lahir ke dunia ini. Itu berarti binasalah kita secara spiritual.
64. Tetapi seseorang yang penuh dengan disiplin, yang bergerak di tengah-tengah obyek-obyek sensual tanpa suatu keterikatan kepada obyek-obyek sensual ini dan dapat mengendalikan dirinya dengan baik, akan pergi ke suatu kedamaian yang luhur.
Bhagavat Gita menganjurkan kita semua untuk mengendalikan (bukan menghentikan) semua organ-organ sensual (indra-indra) kita dengan mengendalikan jalan pikiran kita melalui suatu proses disiplin. Ini berarti belajar mengendalikan diri, pikiran dan indra-indra kita. Lari dari kenyataan dunia ini (hal-hal yang bersifat duniawi) adalah percuma atau sia-sia saja, jadi dianjurkan untuk hidup ditengah-tengah obyek-obyek duniawi ini dengan mengendalikan diri kita sendiri, maka akan sampailah rasa perdamaian atau ketenangan yang luhur. Rasa perdamaian ini akan timbul dari suatu hati yang penuh dedikasi kepadaNya semata, hati yang betul-betul luhur dan bersih.
65. Setelah mencapai kedamaian, maka berakhirlah derita seseorang, dan seorang dengan kedamaian semacam ini akan segera mencapai keseimbangan yang stabil.
Bagi yang tak mau atau takut mengendalikan dirinya, maka jalan ke arah damai atau ketenangan tidak akan pernah terbuka. Sedangkan bagi yang penuh disiplin, daya-juang dan tekad, yang penuh dengan kendali, maka mereka ini akan menuju ke arah Yang Maha Esa, dan karena konsentrasinya ini maka mereka ini akan mencapai tahap berkah Ilahi dalam bentuk kedamaian yang abadi dan tak tergoyahkan. Dalam suka dan duka mereka ibarat timbangan yang stabil dan tidak condong menurun ke satu arah.
66. Untuk yang tak pernah mengendalikan diri, tak akan ada buddhi, untuk yang tak pernah mengendalikan diri tak akan ada konsentrasi. Dan kalau tak ada konsentrasi maka tak akan ada kedamaian, dan kalau seseorang tak memiliki kedamaian maka bagaimana mungkin ia akan memiliki kebahagiaan?


67. Sewaktu pikiran mengejar obyek-obyek sensual, maka pergi jugalah prajna (kebijaksanaan, kesadaran), ibarat arus yang menyeret sebuah perahu di lautan.

68. Jadi, oh Arjuna, ia yang seluruh indra-indranya telah terkendali dari obyek-obyek sensual, maka buddhinya telah mencapai keteguhan.
69. Apa yang merupakan malam bagi semua insan, bagi seorang yang penuh disiplin dirasakan sebagai pagi hari. Dan apa yang merupakan pagi bagi semua insan merupakan malam untuk seorang muni (seorang yang telah mencapai kesadaran penuh).
Semua manusia mungkin atau sedang larut dalam tidurnya Sang Maya, tetapi seorang muni akan tegar terbangun dan bernafas dalam kesadarannya. la acuh saja terhadap ilusi Sang Maya.  Sebaliknya ia akan tertidur untuk hal-hal yang bersifat duniawi yang bagi manusia pada umunya akan merupakan kebutuhan yang amat vital, karena mereka mengikuti indra-indra mereka tanpa kendali. la terpejam untuk duniawi tetapi matanya terbuka selalu ke arah Ilahi dan cinta-kasihNya Yang Agung, yang tak pernah kunjung habis.
70. Seseorang yang kemauan-kemauan indranya, ibarat sungai-sungai mengalir ke lautan yang selamanya tenang-tenang saja menerima aliran-aliran sungai ini. Orang ini akan mencapai kedamaian, bukan ia yang memeluk erat-erat nafsu-nafsunya.
Sungai-sungai mengalir dari berbagai arah ke lautan yang lepas, tetapi sang lautan tak pernah mengeluh atau goncang karenanya dan selalu dengan tenang dan tegar menerima semua aliran-aliran air yang telah tercemar ini, bahkan dikembalikannya dalam bentuk uap yang bersih untuk dijadikan hujan oleh alam itu sendiri. Begitu pun pikiran seseorang yang telah tegar jiwa-raganya demi dedikasinya kepada Yang Maha Esa. la akan selalu kuat menghadapi semua cobaan dan kemauan-kemauan indra-indranya dalam kedamaian yang abadi.
71. Seseorang yang melupakan semua keinginannya dan bertindak lepas dari segala hasrat, tanpa rasa egoisme dan tanpa rasa memiliki apapun  ia pergi ke arah damai.
72. Inilah daerah suci (brahmishiti), oh Arjuna! Setelah mencapai daerah ini tak ada seorangpun yang kacau pikirannya. Barangsiapa, bahkan pada detik-detik akhir hayatnya mencapai daerah (kondisi) ini, maka ia akan pergi ke brahma-nirvana, di mana terdapat Berkah Sang Ilahi.
Yang dimaksud dengan daerah ini sebenamya adalah kondisi atau status seseorang. Dalam kondisi atau status yang dimaksud ini seseorang pemuja dan Sang Brahman telah mencapai suatu kesatuan yang tak dapat dipisahkan lagi. Seseorang yang telah mencapai kondisi ini akan kehilangan semua ilusi duniawi dan Sang Atman akan bersinar di dalam dirinya, dan sampailah manusia ini ke arah sempurna dan kesucian. Bersatu dengan Yang Maha Esa (Sang Atman) berarti lepas sudah semua kemauan duniawi kita, dan kalau seseorang dapat bertahan dalam status semacam ini, atau bahkan baru saja mencapainya, dan langsung berakhir hidupnya di dunia ini, maka ia langsung akan menuju ke Yang Maha Esa, yang menjadi tujuan akhirnya, dan perlu kembali lagi ke dunia yang penuh dengan penderitaan ini.
Dalam Upanishad Bhagavat Gita, llmu Pengetahuan Yang Abadi, Karya Sastra Yoga, dialog antara Sang Kreshna dan Arjuna, maka karya ini adalah bab kedua
yang disebut Sankya Yoga atau yoga mengenai ilmu pengetahuan.

Sumber: http://www.parisada.org

Iklan
Oleh: Gusti Sudiartama | Januari 23, 2011

BHAGAWAD GITA (BAB I)


Bagian ini berisi teks baghawad gita dan tafsirnya, dari naskah dan tafsir di dalam bahasa Inggris yang diterjemahkan oleh TL Vaswani. Di Indonesiakan oleh seorang pengembara yang memperbolehkan untuk di fotocopy, disebar luaskan sebebas-bebasnya, demi tujuan Dharma dan untuk sesama.

Bermulalah di sini Gita suci yang dituturkan dari Yang Maha Suci Kreshna. Berkatalah Dhristarashtra :

1. Di dataran nan suci ini (dharmakshetra), tanah kebenaran, tanahnya para Kuru, berkumpullah putra-putraku beserta laskar-laskar mereka, dan juga putra-putra Sang Pandu (Ayahanda Pandawa) bersiap-siap untuk suatu yudha. Apa saja yang sedang mereka lakukan beritakanlah kepadaku, wahai Sanjaya.

(Keterangan) Kurukshetra disebut juga dharmakshetra, terletak di Hastinapura di utara kota New Delhi yang modern dewasa ini. Tempat ini di masa yang silam dianggap suci karena sering dipergunakan oleh para resi, kshatrya untuk bertapa, bahkan kabarnya juga oleh para dewa-dewa. Salah satu kata pertama yang disebut di sloka pembukaan Bhagavat Gita di atas ini adalah kata dharma, inilah inti sebenarnya yang harus diresapkan oleh sidang pembaca. karena inilah salah satu pesan sesungguhnya Bhagavat Gita. “Bangunlah jiwa dan ragamu dengan dan untuk dharma.” Kata dharma berasal dari kata “Dhru” yang berarti “pegang.” Dharma adalah kekuatan yang memegang hidup ini, dharma tidak terdapat dalam ucapan-ucapan manis. tetapi adalah kesaktian di dalam jiwa kita yang merupakan inti dari kehidupan kita.

Dan Kshetra berarti padang, ladang atau medan. Seyogyanyalah kita bertanya pada pribadi kita masing-masing, “apa sajakah yang selama ini yang telah kutanam dan kupetik dalam hidupku ini, dharma ataukah adarma? Bagi yang menanam dharma maka hidupnya akan menghasilkan karunia Ilahi, dan yang telah melakukan adharma maka kita dapat bercermin kepada para Kaurawa. “Bersiap-siap untuk suatu yudha,” Kaurawa menginginkan perang, sedangkan para Pandawa sebenarnya menginginkan perdamaian. Sang Kreshna yang Maha Bijaksana berusaha agar perdamaian terwujud, tetapi para Kaurawa selalu menolaknya. maka untuk mempertahankan diri dan menegakkan dharma/kebenaran terpaksalah para Pandawa berperang walaupun dengan laskar yang sedikit. Tetapi yang sedikit ini akhirnya akan menang karena mereka berjalan tegak di jalan kebenaran.

Dalam ucapan Dhritarashtra yang mengatakan di atas “tanahnya para Kuru” dan juga ‘”putra-putraku,” tersirat adanya rasa egois atau ahankara (angkara) yang besar. inilah sebenarnya sumber dari segala tragedi dalam hidup ini.

Berkatalah Sanjaya :

2. Kemudian pangeran Duryodana, setelah melihat barisan laskar para Pandawa yang teratur rapi, menghampiri gurunya dan berkata.

Yang dimaksud guru di sini adalah Dronacharya, guru sang Kaurawa dan Pandawa. Di Baratayudha ini Drona mendukung Kaurawa sampai akhir hayatnya.

3. Lihatlah wahai guruku, barisan laskar para Pandawa yang telah siap untuk berperang, mereka semua dipimpin oleh murid Sang Guru yang bijaksana, yaitu putra Sang Drupada.

Yang dimaksud “murid yang bijaksana” di sini adalah Dhristadyumna. la adalah putra Raja Drupada dari kerajaan Panchala. Dia diangkat para Pandawa menjadi panglima perang untuk pihak Pandawa; Dhristadyumna sebenarnya masih merupakan saudara ipar para Pandawa Dalam perang ini Resi Dorna akan membunuh Raja Drupada, kemudian Dhristadyumna akan membunuh Drona. Disusul putra Drona yang disebut Asvatama kemudian membunuh Dhristadyumna. Inilah lingkaran karma.

4. Di sinilah para pahlawan-pahlawan besar berkumpul, dari Bima, Arjuna dan yang tak kalah kehebatannya yaitu Yuyudana, Virata dan Drupada.

5. Juga Dhrishtaketu, Chekitana dan raja besar dari Kashi, Purujit, Kuntiboja dan Shaibya, semuanya pendekar-pendekar nan sakti wirawan.

6. Juga yang gagah berani yaitu, Yudhamanyu dan Uttamauja, Saubadra dan putra-putra Draupadi.

Bima :  Putra kedua dari Pandu. yang kedua dari para Pandawa.
Arjuna : Yang ketiga dari Pandawa bersaudara, dan yang paling dikasihi Sang Kreshna.
Yuyudana : Disebut Juga Setyaki. pahlawan yang gagah perkasa.
Virata: Raja dari Matsya-desha. seorang raja nan arif bijaksana. Selama pengasingan para Pandawa di hutan (13 tahun lamanya), tahun terakhir pengasingan ini para Pandawa menyamar dan bersembunyi di istana Raja Virata. Alkisah putri sang raja kemudian dikawinkan dengan Abimanyu, putra Arjuna.
Dhristaketu: Putra Sishupala, raja dari Chedi-desha.
Chekitana: Salah satu pendekar yang gagah berani yang memimpin salah satu dari tujuh divisi laskar Pandawa.
Purujit dan Kuntibhoja: Saudara-saudara laki dari ibu Kunti, ibunya sang Pandawa,
Shaibya: Raja suku Sibi. Duryodana menyebutnya sebagai banteng diantara manusia, karena ia adalah seorang pendekar sakti yang bertenaga luar biasa.
Yudhamanyu dan Uttamauja: Pangeran-pangeran dari Panchala, juga merupakan pendekar-pendekar nan sakti-wirawan. Keduanya dibunuh Ashvathama sewaktu sedang tidur.
Saubhadra: Putra Arjuna dan Subadra (adik sang Kreshna). la dikenal juga dengan nama Abimanyu. Dalam perang ini ia memperlihatkan kepahlawanannya yang luar biasa.
Putra-putra Draupadi: Mereka berjumlah lima orang, yaitu Prativindhya, Srutasoma, Srutakirtti, Satanika dan Srutukarman.

Pendekar-pendekar di atas semuanya kalau bekerja untuk perdamaian niscaya akan menghasilkan suatu suasana damai bagi semuanya, tetapi rupanya takdir menentukan yang lain, dan itulah misteri Ilahi yang tak akan mungkin terjangkau oleh kita manusia ini.

7. Ketahuilah juga, oh Engkau yang teragung di antara yang dilahirkan dua kali, pemimpin-pemimpin dan pendekar-pendekar di pihak kami, akan kusebutkan mereka demi Engkau yang kuhormati,

“Yang teragung diantara yang dilahirkan dua kali” adalah ungkapan yang ditujukan kepada Resi Drona, karena sang resi ini adalah seorang brahmana dan biasanya kaum brahmana dianggap lahir dua kali. Maksudnya: pertama seorang brahmana harus lahir di dunia fana ini, tetapi di dunia ini ia harus menjalani kehidupan kebatinan demi Sang Maha Esa, jadi “lahir” lagi dengan meninggalkan semua nafsu keduniawian demi pengabdiannya ke masyarakat dan Tuhan Yang Maha Esa. Inilah tugas seorang Brahmana seharusnya.

8. Pertama-tama Dikau yang mulia Drona, kemudian Bhisma, Karna dan Kripa yang tak terkalahkan dalam setiap yudha, juga Ashvatama, Vihana dan putra Somadatta.

9. Dan banyak lagi pahlawan-pahlawan lainnya yang bersedia mengorbankan jiwa-raga mereka, bersenjatakan berbagai senjata-senjata yang sakti, kesemuanya ahli-ahli perang yang tiada taranya.

• Bhisma: Pendekar tua yang ditunjuk menjadi panglima tertinggi di pihak Kaurawa, yang sebenarnya masih “kakek” para Kaurawa dan Pandawa, Bhismalah sebenarnya yang membesarkan raja Dhristarashtra dan para Kaurawa-Pandawa. Beliau amat mencintai para Pandawa, tetapi dalam perang ini beliau berpihak kepada para Kaurawa karena berhutang budi dan setia kepada Kaurawa sesuai dengan janjinya. Tetapi Bhisma pernah bersumpah dihadapan Duryodana tak akan pernah membunuh para Pandawa; dalam perang Baratayudha ini Bhisma membuktikan kehebatannya sampai akhir hayatnya.
• Karna: Saudara tiri para Pandawa, adalah teman akrab Duryodana. Oleh Duryodana, Karna diangkat menjadi raja Anga (sekarang disebut daerah Bengal di India). Sebenarnya Karna adalah seorang kshatrya maha-sakti yang penuh dengan kasih-sayang kepada sesamanya, tetapi terikat sumpah setianya kepada Duryodana maka ia memilih pihak Kaurawa, Setelah matinya Drona, Karna diangkat menjadi panglima tertinggi Kaurawa tetapi hanya berlangsung dua hari saja, karena kemudian ia mati di tangan Arjuna, saudara tirinya sendiri. Beginilah kehendak Dewata.
• Kripa: Saudara ipar resi Drona. Ia adalah diantara tiga pendekar dari pihak Kaurawa yang tidak gugur dalam perang Baratayudha.
• Ahsvatama: Putra resi Drona, juga salah seorang panglima perangnya Kaurawa yang terkenal liciknya.
• Vikarna: Putra ketiga raja Dhristarashtra, adik Duryodana.
Putra Somadatta: Somadatta adalah raja dari negara Bahikas yang membantu Kaurawa.

10. Tak terhitung jumlah laskar kita yang dipimpin oleh Sang Bhisma, sedangkan dipihak mereka (Pandawa) yang dipimpin oleh Bima, jumlah laskar mereka sangat mudah untuk dihitung.

Sebenarnya jumlah tentara Kaurawa memang lebih banyak dari pihak Pandawa, kabarnya Kaurawa mempunyai laskar lebih banyak empat divisi dibandingkan pihak Pandawa. Ada juga yang menyebutnya berlipat ganda.

11. Dan telah diatur sedemikian rupa sehingga setiap pendekar dan pimpinan divisi berada pada posisi masing-masing dan menjaga Bhisma dengan baik.

Oleh sementara ahli, ucapan-ucapan Duryodana di atas dianggap juga sebagai ungkapan rasa khawatir Duryodana yang merasa di pihak Pandawa terdapat lebih banyak pahlawan-pahlawan sakti, walaupun jumlah laskar mereka lebih sedikit.

12. Untuk memberi semangat kepada Duryodana, Sang Bhisma yang bijaksana meniup sangkalalanya yang mengeluarkan suara seakan-akan auman dahsyat seekor singa.

13. Kemudian dari segala penjuru tambur-tambur dan sangkalala dibunyikan oleh semua pihak, dan hiruk-pikuklah suasana waktu itu dipenuhi suara-suara ini.

14. Kemudian, duduk di kereta perang nan agung, dengan pasangan-pasangan kuda-kuda putih, Sang Kreshna dan Arjuna masing-masing meniup sangkalala mereka.

15. Sang Kreshna meniup sangkalalanya yang bernama Panchjanya, dan Arjuna meniup sangkalalanya yang bernama Devadatta, sedangkan Bhima yang perkasa meniup sangkalalanya yang nampak besar, kekar dan kuat, bernama Paundra,

16. Raja Yudhistira, putra ibu Kunti, meniup Anantawijaya, Nakula dan Sahadewa masing-masing meniup Sugosha dan Manipuspaka.
• Raja Yudhistira: Yang tertua di antara Pandawa adalah seorang maha-raja yang berwatak tenang, penuh kasih-sayang dan amat bijaksana dalam segala tindak-tanduknya, tak pernah bohong dalam segala hal. Beliau dikenal lebih sebagai seorang negarawan daripada seorang pendekar yang gemar berperang. Sangkalala yang dimilikinya disebut Anantavijaya yang berarti “kemenangan tanpa akhir” atau juga disebut “suara-kemenangan.”
• Nakula: Putra keempat Pandawa dikenal amat mahir berkuda, sangkalalanya bernama Sagosha yang berarti “bersuara indah.”
• Sahadewa (Sadewa): Putra Pandu yang paling bungsu memiliki sangkalala yang bernama Manipuspaka yang berarti “mutiara yang mekar” atau “bunga-bunga mutiara,” karena sangkalala yang satu ini teramat indahnya, selain bentuknya laksana mutiara ditaburi pula dengan mutiara-mutiara asli yang indah.

17. Juga yang ikut meniup sangkalalanya masing-masing adalah raja dari Kashi yang memimpin laskar pemanah, kemudian Sikhandi (Srikandi) yang gagah perkasa, Dhristadyumna, Virata dan Satyaki (Setiaki) yang tak terkalahkan.

18. Juga Drupada dan putra-putra Draupadi, dan juga Saubhadra, semuanya meniup sangkalala mereka dari setiap jurusan.

Shikandi (Srikandi) di India sering disebut juga sebagai putra raja (sebenarnya ia seorang banci) Drupada, di Indonesia ia dikenal sebagai pahlawan wanita, merupakan titisan dewi Amba yang menuntut balas kepada Bhisma. Panahnya akan menghabisi nyawa Bhisma dalam perang ini. Satyaki adalah sais kereta perang pribadi Sang Kreshna.

19. Suara-suara dahsyat sangkalala-sangkalala ini memenuhi langit dan bumi tanpa henti-hentinya dan menjatuhkan semangat putra-putra Kaurawa.

20. Kemudian Arjuna yang di kereta perangnya terdapat panji bergambarkan Hanoman, memandang ke arah putra-putra Dhristarashtra yang telah siap untuk berperang; dan tak lama kemudian ketika perang akan segera dimulai, Arjuna memungut busur panahnya.

21. Dan berkata kepada Sang Kreshna:

Berkatalah Arjuna :

22. Ingin kulihat semua yang ada di medan ini, mereka yang telah bersiap-siap untuk berperang, dengan siapa aku nanti harus berlaga.

23. Ingin kulihat mereka-mereka yang berkumpul di sini, yang berhasrat untuk mendapatkan sesuatu yang berharga bagi putra-putra Dhristarashtra yang berhati iblis itu.


Berkatalah Sanjaya :

24. Setelah Arjuna selesai dengan kata-katanya, Sang Kreshna pun mengarahkan kereta perangnya, kereta yang terbaik diantara semua kereta-kereta perang, ke tengah-tengah, diantara kedua laskar yang berbaris rapi.

25. Di hadapan Bhisma, Drona dan pendekar-pendekar lainnya.

Berkatalah Kreshna :
Lihatlah, oh Arjuna, para Kuru yang sedang berkumpul (di sini).

26. Dan Arjuna pun melihat paman-pamannnya, para sesepuh (kakek-kakek), guru-guru, saudara-saudara dari ibunya, putra-putra dan para cucu, misan dan sahabat-sahabatnya, berdiri berbaris rapi.

27. Juga terlihat ayah-mertuanya dan para teman yang terdapat di kedua belah pihak. Melihat jajaran sanak-saudaranya yang berbaris rapi ini, Arjuna.

28. Tergetar penuh dengan rasa iba dan berkata pilu.

Berkatalah Arjuna :
Melihat jajaran keluargaku ini, oh Kreshna, bersiap-siap untuk berperang.

29. Sendi-sendi badanku terasa lemas dan bibirku terasa rapat, seluruh tubuhku tergetar dan rambutku tegak berdiri.

30. Busur Gandivaku terlepas dari tanganku dan seluruh kulitku terasa terbakar; tak kuat aku berdiri tegak lagi; kepalaku serasa berputar-putar.

31. Dan kulihat pertanda iblis, oh Kreshna! Tak kulihat sesuatu apapun yang baik dengan membunuh sanak-saudaraku dalam perang ini.

32. Tak kuinginkan kemenangan, oh Kreshna, tidak juga aku menginginkan kerajaan atau pun kesenangan-kesenangan. Apakah arti sebuah kerajaan untuk kami, oh Kreshna, atau pun apakah arti dari kesenangan bahkan hidup ini ?

33. Mereka-mereka ini sekarang berjajar rapi untuk mengorbankan hidup dan harta-benda mereka, sedangkan kami menginginkan kerajaan, kemewahan dan kesenangan, bukankah sebenarnya semua itu diperjuangkan untuk mereka juga.

34. Yang terdiri dari para guru, ayah, putra-putra dan para kakek, paman, mertua, cucu, saudara-saudara ipar dan sanak-saudara lainnya.

35. Aku tak akan membunuh siapapun juga, walaupun aku sendiri boleh mati terbunuh, oh Kreshna, takkan kuberperang walaupun aku sanggup mendapatkan ketiga dunia ini; apalagi hanya untuk satu yang bersifat duniawi ini ?

36. Setelah membantai putra-putra Dhristarastra, kenikmatan apakah yang dapat kita miliki, wahai Kreshna? Setelah membunuh penjahat-penjahat ini, kita sendiri akan tercemar oleh dosa-dosa ini.

37. Tak benar bagi kita untuk membunuh sanak-saudara sendiri, yaitu putra-putra Dhristarashtra. Sebenarnya, wahai Kreshna, mana mungkin kita ‘kan bahagia dengan membunuh keluarga kita sendiri?

Arjuna adalah seorang pahlawan besar, tetapi menghadapi situasi yang unik ini, ia terhempas ke dalam suatu keragu-raguan yang dalam. Arjuna ke Kurukshetra untuk berperang tetapi tiba-tiba ia tak sampai hati untuk membunuh sanak saudaranya sendiri, walaupun ia tahu mereka-mereka ini berhati iblis. Tiba-tiba ia ragu untuk maju, gundahlah Arjuna dalam “ke akuan” nya. Bukanlah kita manusia ini sering juga mengalami tekanan-batin yang berat dalam mengambil suatu keputusan yang maha-penting ? Bukankah rasa iba sering kali membuka pintu kelemahan kita dan mengantarkan kita ke arah kehancuran itu sendiri’1 Itu semua karena kita terikat akan sanak-keluarga, harta-benda, nama posisi kita dalam masyarakat. Menjadi budak dari adat-istiadat demi kepentingan egois orang lainnya.

Arjuna terjebak oleh rasa ibanya, oleh adat-istiadat dan simbol-simbol duniawi. Ia lupa tugas manusia sesungguhnya adalah demi dan untuk Yang Maha Esa, dan jalan ke Dia berarti meninggalkan semua milik duniawinya baik yang berbentuk konkrit (nyata) maupun yang berbentuk abstrak. Dalam agama Kristen kita menjumpai suatu persamaan dalam hal ini, Nabi Isa (Yesus) pernah bersabda: “Seandainya seseorang datang kepadaKu tetapi belum bersedia meninggalkan ayah-bundanya, anak-istrinya, dan saudara-saudaranya, maka ia tidak akan menjadi muridKu.” Begitu pun dalam agama Hindu sering kita jumpai tokoh-tokoh spiritual di masa-masa yang silam yang harus meninggalkan “semua miliknya,” kalau sudah memilih jalanNya.

Ini bukan berarti Sang Kreshna mengecam “rasa-iba” atau perasaan “simpati” atas penderitaan seseorang: rasa-iba sebenarnya adalah sifat seorang yang satvik, tetapi rasa-iba yang sejati menurut versi Bhagavat Gita adalah yang tanpa moha, yaitu keterikatan secara duniawi. Rasa iba yang sejati adalah ekspresi dari cinta atau kasih sayang dari seseorang yang penuh dengan rasa “welas-asih,” dan tidak seseorang pun akan dapat mencintai sesuatu/seseorang dengan sejati tanpa memasuki “sinar pengetahuan Ilahi,” dan bersedia berjalan lurus (tanpa keterikatan duniawi apapun juga) di jalannya sang dharma.

Di atas, untuk sejenak Arjuna rupanya lupa akan dharmanya. Arjuna lupa dan belum sadar bahwa sanak-saudaranya yang sebenarnya bukanlah yang lahir secara fisik sebagai adik, kakak, ayah, ibu, paman, kakek, dsb, tetapi sanak-saudara yang sejati adalah mereka yang mencintai Yang Maha Esa dan jalan di jalan lurus Sang Dharma. Merekalah sanak-saudara kita yang sejati, tulus dan seiman dalam naungan Yang Maha Esa.

Arjuna masih hilang dalam kealpaannya. la lupa bahwa dharma mengharuskan seseorang untuk melaksanakan semua kehendak Yang Maha Esa tanpa pamrih, sama sekali tanpa imbalan sesuatu apapun juga baik itu pahala atau pintu surga, tanpa apapun juga, titik. Hanya bekerja untuk dan demi Dia! Rasa iba yang sejati harus didasarkan atas dharma. Sang Rama sendiri untuk menegakkan dharma berperang melawan Rahwana, dan di Bhagavat Gita Sang Kreshna menganjurkan jalan yang sama kepada Arjuna, agar Arjuna lepas dari choka (kesedihan) dan moha (keterikatan atau cinta duniawi).

Di dalam Bhagavat Gita ajaran penting yang tersirat adalah “bunuhlah atau kekanglah pintu-pintu nafsumu.” Agama-agama yang lain pun selalu mengajarkan hal yang sama: Zoroaster misalnya mengatakan “berperanglah terhadap iblis tanpa henti-hentinya,” Sang Buddha berperang dengan Sang Mara, Yesus berperang dengan Syaitan, dan masih banyak contoh dari agama-agama yang lain. Arjuna di atas masih lupa bahwa ia harus berperang melawan Duryodana demi tegaknya dharma.
38. Dengan hati yang dikuasai oleh keserakahan, maka tidak terlihatlah kesalahan ini yang akan mengakibatkan hancurnya keluarga kita dan penghianatan atas teman-teman dan para sahabat.

39. Mengapa kita tidak memiliki kebijaksanaan untuk menjauhi dosa semacam ini, wahai Kreshna – bukankah kita melihat kesalahan ini akan mengakibatkan kehancuran keluarga kita?

Arjuna masih menilai bahwa sesuatu kewajiban harus dilaksanakan dengan memikirkan imbalan yang duniawi sifatnya. Sedangkan dharma yang sejati tidak menuntut apa-apa. Dharma harus ditegakkan demi Yang Maha Kuasa, dan apapun yang diberikanNya sesudah itu, baik yang menyenangkan untuk kita atau yang membuat kita menderita karenanya, haruslah diterima sebagai pemberianNya. Dan itu harus ihlas, tanpa pamrih. Semua dharma kita adalah kewajiban dan persembahan kita kepadaNya, bahkan harus penuh dengan tanggung-jawab yang tulus kepadaNya bukan kepada kehendak unsur-unsur duniawi yang banyak terdapat disekitar kita, yang kalau dihitung seakan-akan tiada habisnya.

40. Dengan hancurnya sebuah keluarga, hancurlah juga semua tradisi-tradisi lama kita (kuladharma), dan dengan hancurnya tradisi-tradisi, larangan dan segala peraturan-peraturan nenek-moyang kita, maka kekacauan akan menguasai keluarga kita semuanya.

41. Dan kalau kekacauan ini (adharma) berkelanjutan, maka wahai Kreshna, wanita-wanita dalam keluarga ini akan berjalan serong. Dan kalau para wanita kita telah berlaku serong, oh Kreshna akan terjadi percampuran dalam sistim kasta.

Arjuna amat khawatir bahwa kehancuran dalam keluarga besar mereka akan menghancurkan juga nilai-nilai lama tradisi mereka, dan lebih dari itu, juga akan menghancurkan sistim kasta yang mereka pegang teguh.

Di dalam Bhagavat Gita, kita akan menemukan bahwa sistim kasta yang dianut secara diskriminasi adalah salah, suatu yang tidak senafas dengan inti ajaran Bhagavat Gita. Peranan wanita dalam agama Hindu sebenarnya sangat vital dan suci, nasib sesuatu bangsa maupun keluarga sering sekali ditentukan oleh peranan seorang wanita yang dalam hal ini bisa berupa seorang ibu, istri, dan sebagainya. Tidaklah mengherankan kalau Arjuna sangat gundah akan hancurnya moral para wanita dalam keluarga besar mereka. Semenjak masa silam, para wanita dalam agama Hindu selalu mendapatkan posisi yang agung dan suci, penuh tugas untuk dharma. Derajat mereka sebenarnya lebih suci dari para pria dan nilai mereka lebih tinggi. Ini dapat dibuktikan dari kedudukan para dewa-dewi dalam legenda-legenda Hindu, juga suatu upacara suci tidak akan sah kalau tidak dihadiri seorang wanita, juga peranan gadis-gadis yang masih suci amatlah vital dalam upacara untuk para leluhur dan tentunya masih sekian banyak contoh-contoh lainnya yang dapat kita baca sendiri di epik Mahabarata dan Ramayana di mana peranan wanita amat menonjol penuh kebajikan.

42. Dan kekacauan ini akan menjerumuskan, baik keluarga kita maupun yang menghancurkan nilai-nilai tradisi, ke neraka. Dan arwah para leluhur pun akan terabaikan karena tak akan mendapatkan air dan sesajen (yang berbentuk bulatan terbuat dari beras).

Arjuna amat khawatir kalau peperangan ini akhirnya malah merusak nilai-nilai tradisi lama dan agama mereka, sehingga arwah para leluhur pun ikut makan getahnya  dengan tidak mendapatkan sesajen lagi. Biasanya para wanitalah yang mengatur sesajen ini pada upacara-upacara keagamaan tertentu. Kalau wanita-wanita dalam keluarga mereka sudah tidak setia lagi kepada leluhur mereka tentu akan timbul kekacauan dalam tradisi ini, pikir Arjuna. Upacara sesajen untuk para leluhur disebut shraddha.

43. Karena ulah yang menghancurkan keluarga kita ini, terciptalah kekacauan dalam sistim varna (kasta) yang ada dalam tradisi kaum kita dan hancurlah keluarga ini.

44. Dan kami dengar, wahai Kreshna, bahwa barang siapa kehilangan nilai-nilai tradisi keluarga, mereka akan tinggal di neraka.

45. Aduh, Betapa besarnya dosa yang harus kita pikul dengan membunuh sanak-keluarga hanya demi kemewahan sebuah kerajaan.

46. Lebih baik aku dibantai putra-putra Dhristarastra dengan senjata mereka, dan tak akan kulawan mereka.

Berkatalah Sanjaya :

47. Setelah mengatakan hal-hal tersebut (di medan perang), Arjuna terjatuh ke sandaran kursi (kereta perangnya), dan menghempaskan panah serta busurnya; seluruh jiwanya tercekam dengan rasa gundah-gulana.

Arjuna sebenamya adalah seorang kshatrya yang bersih, tetapi pada saat ini hatinya diselimuti awan tebal. la sebenarnya, seakan-akan berbicara tentang vairagya (penyerahan diri secara total), tetapi hal ini dilakukannya karena keterikatannya kepada sanak-keluarga dan harta duniawi, bukan vairagya kepada Yang Maha Esa.

Banyak yang bertanya apa perbedaan antara cinta (moha) dan cinta-sejati? Yang pertama adalah kulit luarnya yang selalu terikat pada sesuatu benda atau seseorang secara duniawi, sedangkan cinta-sejati adalah suatu ekspresi dari suatu kesadaran yang dianugerahkan oleh Yang Maha Esa kepada kita semuanya yang sebenarnya penuh dengan rasio, pertimbangan, dan perhitungan yang penuh tanggung jawab baik kepada masyarakat maupun Yang Maha Pencipta.

Cinta sejati tidak terikat pada batas-batas pribadi seseorang. Arjuna tidak dapat berperang karena ia masih terikat dalam batas-batas “miliknya,” ia masih mencintai semua sanak-keluarganya dalam batas duniawi. Arjuna lupa akan akhir hidup kita semuanya, tidak ada sesuatu apapun yang akan kita bawa kembali ke alam sana, karenanya Arjuna masih harus belajar tentang nishkama-karma (sesuatu tindakan atau pekerjaan tanpa mengharapkan pamrih).

Sang Kreshna maklum Arjuna sedang mengalami depresi mental yang sangat berat, Beliaupun memulai ajaran-ajaranNya demi membangun lagi jiwa-raga Arjuna agar terjun lagi penuh semangat dan vitalitas untuk menghadapi hidup ini yang penuh dengan segala cobaan tetapi juga tugas-tugas dari Yang Maha Pencipta untuk kita semua.

Inti ajaran Bhagavat Gita adalah, pembinaan mental diri kita sendiri secara batin. Gita mengingatkan dan sekaligus mengajarkan bahwa kelemahan adalah dosa; sesuatu kekuatan diri haruslah dibina dengan disiplin yang kuat dan tanpa pamrih. Kekuatan ini harus bersih dari segala unsur-unsur duniawi dan penuh dengan gairah hidup demi dharma kita kepadaNya. Pesan Sang Kreshna dalam Bhagavat Gita adalah “berdirilah dan berperanglah melawan kebatilan.” Hidup adalah perjuangan demi nilai-nilai kebenaran; hidup juga adalah sebuah kuil atau pura dari pemujaan kita kepadaNya tanpa pamrih. Maju terus pantang mundur demi dharma-bhaktimu kepadaNya, bukan kepada hasrat-hasrat pribadimu dalam bentuk apapun juga.

Dalam Upanishad Bhagavat Gita, bab yang pertama ini disebut sebagai Ilmu-Pengetahuan tentang Ilahi, sebuah Karya Sastra yang berbentuk dialog antara Sang Kreshna dan Arjuna yang disebut juga Arjuna Vishada Yoga atau Yoga Sang Arjuna dalam Kedukaannya.

Bab pertama disebut “Vishada Yoga.” Vishada berarti depresi (karena duka), yoga di sini berarti bagian atau bab. Vishada yoga adalah permulaan dari Bhagavat Gita. Sebenarnya kalau ditelaah secara mendalam, maka rasa depresi atau Vishada ini adalah anak tangga pertama menuju ke kehidupan spirituil atau kebatinan. Setiap manusia harus mengalaminya setelah tersandung dalam berbagai aspek kehidupannya yang gagal, dan masuklah ia kemudian ke dalam suatu kegelapan seakan akan tanpa jalan keluar, kemudian barulah ia meniti secara perlahan dari gelap menuju ke terang. Dalam setiap depresi ini kalau sudah tidak terlihat jalan keluar maka kita akan berteriak dalam kedukaan yang amat dalam: “Apakah arti kehidupan ini? Apakah arti semuanya ini? Mengapa kita harus dilahirkan? Kemana kita akan pergi sesudah mati nanti? Dan sering sekali kita mengucapkan, “Oh Tuhanku mengapa Kau lupakan daku?” Mengapa Kau tinggalkan daku sendiri dalam duka ini?” dan “Oh Tuhan Dikau tak adil pada ku?” dan lain sebagainya, sebagai tanda-tanda frustrasi dalam diri kita,

Setiap manusia kemudian harus masuk ke dalam suatu keheningan sebelum ia kemudian melangkah masuk dalam suatu bentuk ilmu pengetahuan tentang dirinya sendiri. Dalam keheningan ini setelah membunuh atau menguasai semua bentuk rasa egonya baik yang berbentuk positif (baik) maupun negatif (buruk), ia akan menemukan bahwa ia tidak berdiri sendiri dan semua ini ada yang mengatur. la akan menemukanNya, yang selalu mengayominya, menuntunnya dan kasih-sayang kepadanya. la (Yang Maha Esa) selalu hadir dalam setiap agama dengan bentuk dan versi yang berlainan sesuai dengan kepercayaan masing-masing individu; dalam Hindhu Dharma Ialah Sang Kreshna (Ilahi dalam bentuk manusia), Sang Penuntun jalan kehidupan kita. Camkanlah bahwa untuk mendapatkan penerangan, seseorang melalui jalan takdir biasanya harus mengalami kegelapan dulu. Begitu juga Arjuna dan begitu juga kita manusia, sampai suatu saat nanti, kita pun, seperti Sang Arjuna akan mengucapkan:

Engkaulah yang Terutama,
Engkaulah Tujuan yang Tertinggi,
Dari ujung ke ujung Kau penuhi alam semesta ini,
Oh Dikau Bentuk yang Tanpa Batas (Anantarupam). [XI, 38]

sumber : http://www.parisada.org

Oleh: Gusti Sudiartama | Januari 22, 2011

Tujuan Kehidupan adalah Realisasi Diri

Oleh : Swami Nirlipananda

Bhagavad Gita, atau ‘Song of God’, adalah salah satu teks suci Hindu, yang menceritakan dialog antara Krishna, inkarnasi Wisnu, dan Arjuna, murid-Nya.

Kematian datang selalu tiba-tiba. Misalnya, ketika ada bencana alam, ribuan orang mungkin pulang dari kerja suatu hari dan pergi tidur tanpa mengetahui bahwa mereka tidak akan bangun lagi esok harinya. Dalam satu cara atau yang lain, kita semua mungkin berada di takdir yang sama. Kita tidak bisa mengatakan apa yang besok pagi akan terjadi. Kita pergi tidur setiap malam dan apakah kita akan bisa bangun esoknya. Kita tidak tahu.

Para Resi (Wise Ones) dan Munis (Silent Ones) mengajarkan bahwa, oleh karena itu, penting untuk hidup setiap hari seolah-olah itu adalah hari terakhir dalam hidup kita, setiap menit dalam kehidupan kita sebagai moment yang tidak boleh kita sia-siakan, karena setiap menit sangat bernilai bagi kita. Jika kita hidup seperti itu maka kita siap, bila waktunya tiba, untuk mati.

Dalam Bhagavad Gita, Krishna mengatakan kepada Arjuna bahwa ia tidak harus bersedih hati atas apa yang tak terelakkan dalam hidup. Ketika kita datang ke dunia fisik ini, tubuh kita akan mengalami penyakit, usia tua dan kematian. Ini adalah hal-hal alami. Tetapi ketika bencana alam mengorbankan banyak kehidupan, kita mungkin bertanya-tanya dan berpikir: “Kenapa?” Lalu apa yang harus kita lakukan? Kita tidak dapat menjelaskan ini. Bukan karena penyakit atau wabah, bukan karena usia tua: kematian juga menyerang mereka yang kuat dan sehat. Tapi, ketika Krishna berkata, ketika hal ini terjadi, kita harus ingat bahwa kematian adalah sesuatu yang pasti, hidup juga, adalah yang pasti: bahwa setelah kita mati kita akan lahir kembali di dunia ini dan, karena itu, ketika hal ini terjadi kita tidak harus bersedih .Terus menerus berduka tidak bijaksana bagi yang hidup maupun bagi yang mati.

Mereka yang berpikir bahwa Atma – Soul – dapat mati atau dihilangkan tidak mengetahui sebenarnya. Oleh karena itu, orang bijak tidak berduka sama sekali, karena kita tidak harus bersedih untuk sesuatu yang mereka tidak seharusnya meratapinya.

Hukum Peluruhan

Banyak orang bersukacita ketika seseorang lahir dan menangis ketika seseorang meninggal, yang lain menangis ketika seseorang lahir dan bersukacita ketika seseorang meninggal. Seperti Krishna mengatakan, keduanya adalah reaksi yang alami ketika kita tidak mengerti, tetapi bagi orang yang bijaksana – yang benar-benar memahami kehidupan – tidak akan bersedih hati, karena tidak pernah ada waktu ketika kita tidak eksis, tidak akan ada waktu ketika kita akan tidak ada lagi. ini bukan pertama kalinya bahwa kita telah ada, dan ketika kita menyerahkan wujud fisik ini akan ada waktu ketika kita akan ada lagi. Sebagai bentuk fisik, yang menempati, Jiwa, mengalami masa kanak-kanak, remaja dan usia tua di dalam tubuh, ini diteruskan kepada badan lain. Maha Esa, Jiwa yang Satu, tidak terpengaruh oleh apa yang terjadi pada bentuk fisik. Tubuh fisik harus menjalani proses yang mengarah pada kematian. Setiap orang dan segala sesuatu harus mengalami Hukum Peluruhan. Alam semesta dengan planet mengikuti hukum yang sama. Itu adalah hukum alam yang mengatur seluruh alam semesta, hukum yang kita tidak dapat menghindarinya. Karena kita tidak dapat menghindarinya, orang bijaksana tidak merasa terganggu dengan itu.

Proses Psikologis

Kontak indra dengan objek menciptakan perasaan panas dan dingin, rasa sakit dan kesenangan. Mereka datang dan pergi, mereka tidak kekal – Oleh karena itu, kita harus menghadapinya dengan sabar. Semua hal yang kita jalani, seperti kesedihan dan kesenangan, penderitaan dan kebahagiaan, adalah pengalaman indra. Ketika kita mendapatkan sesuatu yang kita merasa bahagia dan ketika kita kehilangan sesuatu yang kita merasa tidak bahagia.Ini adalah proses psikologis yang terjadi di dalam pikiran manusia sepanjang waktu.

Seperti dikatakan oleh Krishna, kita harus memahami bahwa ini adalah bagian alami dari kehidupan dan karena itu kita harus menanggungnya dengan berani karena itu adalah fana. Ketika kita memiliki disiplin yang tidak terganggu bila ada rasa sakit, kita akan menjadi sabar, kita akan bertahan. Kemudian, tak ada yang dapat membujuk kita dari jalan kita yang khusus ini. Kita mengetahui keabadian kita, karena dunia ini tidak dapat mempengaruhi kita, yang tidak nyata ini tidak mempunyai eksistensi dan yang nyata ini tidak pernah berhenti menjadi. Kebenaran ini diwujudkan oleh para pelihat, ‘apa yang tidak’ tidak bisa menjadi, dan ‘apa yang ada’ tidak dapat gagal menjadi. Apa yang nyata akan selalu nyata. Tubuh fisik relatif nyata, tapi tidak benar-benar nyata, melainkan berubah dari waktu ke waktu. Yang Mutlak tidak berubah. Bentuk fisik kita terbuat dari unsur yang berbeda dan dengan demikian, secara alami, ia harus kembali ke sifat-sifatnya masing-masing. Dalam meditasi, Resi besar dan Munis memungkinkan mereka melepaskan diri dari tubuh dan dunia mengijinkan mereka mengamati itu, dan sebagainya Mereka bisa memberitahu kita semua tentang kehidupan nyata. Mengetahui itu, dimana semua sesungguhnya tidak bisa dihancurkan. Tidak ada yang dapat menyebabkan kehancuran kekal.

Seluruh alam semesta adalah Ilahi yang didiami oleh Esensi dari Jiwa. Jiwa adalah penyebab dari semua yang ada. Ketika semua hal fisik yang ada berhenti ada, Jiwa tidak akan terpengaruh. Jiwa tidak tergantung pada alam semesta untuk Keberadaannya, atau pada tubuh – mereka bergantung pada jiwa untuk eksistensi mereka. Jiwa adalah kekal dan tak dapat dihancurkan. Dalam ketidaktahuan kita berpikir bahwa ketika tubuh mati keberadaan individu juga selesai. Tetapi – siapa diri kita sebenarnya – bukanlah keberadaan fisik kita. Kita sesungguhnya adalah jiwa. Ketika kita menyadari hal itu, maka rasa takut akan hilang dari hati kita. Tapi selama kita tidak menyadari Jiwa dalam diri kita kita tidak mengalami rasa takut, karena ketika kita merasa terancam, kita merasa bahwa itu adalah ancaman bagi eksistensi kita.

Realisasi Atmic

Ketika Alexander Agung bepergian ke India, salah satu tentara mengatakan kepadanya tentang seorang yogi. Alexander memerintahkan yogi tersebut untuk dibawa menghadapnya tapi yogi itu menolak. Jadi Alexander mengancam akan membunuhnya jika dia tidak datang. Sang yogi menjawab bahwa apa yang ia miliki, pedang tidak dapat menyentuh – bahwa tubuh fisiknya mungkin akan diambil, tapi bukan Jiwanya. Jadi Alexander pergi ke sang yogi dan tercengang karena di depan yogi tersebut, walaupun ia adalah Alexander sang kaisar, ia merasa seperti seorang pengemis. Ketika seseorang memiliki realisasi Atmic seseorang tidak menginginkan apa-apa. Alexander, meskipun semua yang telah dicapai, masih selalu memiliki keinginan untuk lebih, karena itu ia merasa seperti seorang pengemis di depan yogi tersebut.

Tidak ada yang bisa membunuh Jiwa.

Jiwa tidak dilahirkan atau mati. Bagi Jiwa, datang pada keberadaan dan kemudian berhenti  tidak akan terjadi. Jiwa adalah abadi, konstan dan kekal. Ketika kita memiliki realisasi semuanya ini tentang Jiwa- kita akan mengetahui bahwa Jiwa tidak dapat dibunuh dan bahwa ia tidak dapat menjadi penyebab makhluk lain dibunuh. Jiwa keluar dari tubuh yang telah selesai dipakai dan mengambil tubuh yang baru. Senjata tidak bisa membunuh Ini, api tidak dapat membakar ini, air tidak dapat membuat basah kuyup itu, angin tidak bisa membuat kering ini, – Diri adalah tidak dapat dihancurkan, tidak dapat dimusnahkan. Jiwa adalah stabil, tak tergoyahkan, dan abadi. Krishna mengatakan, unsur-unsur tersebut tidak bisa mempengaruhi Jiwa, karena Jiwa lebih halus dari pada bumi, air, api, udara dan eter – mereka bergantung pada Jiwa untuk keberadaan mereka, bukan jiwa bergantung pada mereka.

Jiwa bisa dikatakan tidak berwujud, tak terpikirkan, dan, oleh karena itu, dengan mengetahui hal ini kita tidak harus bersedih. Kematian adalah kepastian bagi orang yang lahir, karena kelahiran adalah pasti bagi orang yang meninggal. Kematian bukanlah akhir dari keberadaan kita. Sebagai pengelana kita datang dengan tangan kosong ke dalam dunia ini, dan ketika saatnya tiba kita harus pergi dengan tangan kosong juga, kita harus kembali dari mana kita datang, Sumber kita. Sepanjang hidup orang-orang saling bertarung dan membunuh untuk hal-hal sepele dan bukan bertanya-tanya tentang filosofi kehidupan dan kematian.

Kita datang ke dunia ini dan ketika kita di sini kita harus menyadari siapa kita, karena itu adalah tujuan kita. Dan jika kita dapat menyadari siapa diri kita, kita dapat memiliki kehidupan yang kekal. Satu-satunya cara agar kita bisa mendapatkannya adalah berusaha untuk memperoleh pengetahuan karena dengan pengetahuan kita akan mengatasi ketidaktahuan kita. Kemudian kita akan memiliki ketenangan pikiran, maka kita akan mendekati Tuhan, maka kita akan mendekati Diri sejati kita – siapa diri kita sebenarnya. Ketika kita berada dalam ketidaktahuan, kita akan mengidentifikasi diri hanya dengan tubuh fisik, perasaan dan pikiran kita. Tapi ketika kita mengidentifikasi diri dengan Jiwa, maka seluruh sikap kita terhadap kehidupan akan berubah: kita menjadi lebih obyektif, kurang posesif, kita peduli lebih untuk orang lain, karena kita merasa bahwa segala sesuatu adalah bagian dari diri kita sendiri. Krishna menyarankan kita untuk berjuang untuk membebaskan diri kita dari keterikatan dengan dunia fisik ini. Ketika kita berusaha untuk itu, kita akan menemukan bahwa rasa sakit kematian tidak dapat mempengaruhi kita. Kita  akan hidup dalam ketakutan yang terus-menerus terhadap kematian jika kita lupa siapa kita sebenarnya, yang adalah Jiwa, yang adalah inti dari segala sesuatu.

Swami Nirlipananda adalah Swami senior di salah satu kuil dari komunitas Asia di London.

Sumber: http://henkykuntarto.wordpress.com

Oleh: Gusti Sudiartama | Januari 20, 2011

SAMADHI DENGAN OMKARA (menurut Prasna Upanisad)

Seorang yang terpelajar (dengan mengucapkan dan meditasi pada Om sampai akhir hayatnya) hanya dengan bantuan saya mencapai Tuhan dalam satu dari dua bentuk, yaitu eter sebagai memiliki sifat moksa atau sebagai pemberi kebahagiaan pada dunia ini. (Prasna Upanisad )

Sungguh satu frase yang menarik dan menyodorkan salah satu jalan bagi pencari kebenaran sejati. Seperti di ketahui Om adalah aksara suci yang berawal dari tiga aksara suci A U M.  Ada yang menyebut  A=Pencipta, U=Pemelihara M=Pelebur, ada pula yang menyebut A=Siwa, U=Sada Siwa, M=Parama Siwa.

Dalam Prasna Upanisad ketiga aksara ini dijelaskan sebagai A=Rg weda, U=Yajur Weda, M=Sama weda. Lebih jauh dijelaskan dari sudut pandang meditasi, orang yang melakukan meditasi dengan memusatkan pikiran kepada satu huruf yang pertama (Amkara) akan memperoleh pengetahuan sejati  dari mantra mantra suci(Rg Weda)dan kelak akan terlahir kembali menjadi manusia utama seperti dinyatakan dalam prasna Upanisad.

Seorang yang memusatkan pikiran kepada salah satu matra misalnya huruf pertama (yang berarti Yang Maha Meliputi dan Maha Mengetahui, sifat hakekat Tuhan), ia akan mendapat kesempurnaannya, segera akan terbebas dari dunia ini. Ilmu mantra dari Rg. Weda menyebabkan ia lahir sebagai orang bijaksana dan oleh karena kesuciannya/kekuatan tapanya, kebrahmacariannya dan keyakiannya, ia mengalami kebesaran Tuhan(Prasna Upanisad)

Sedangkan bagi mereka yang memusatkan meditasinya kepada dua huruf yang pertama A U akan mendapatkan berkah  ia akan mencapai tingkat pikiran (manasi), yang mengantarkannya mencapai somaloka, dunia ruang angkasa. Kemudian pada saatnya  akan turun kembali kedunia (punar awartate) sebagai manusia yang menikmati sifat Dewa-dewa, sebagaimana di nyatkan dalam Prasna Upanisad

Dan apabila ia memusatkan pikirannya kepada dua matra , dua huruf pertama,, (sebagaimana dijelaskan diatas yang menunjukkan kemaha kuasaan dan sifat-sifat mulia Tuhan), ia dengan pengetahuan mantra Yajur, Weda, mengantarnya ke Soma Loka, yaitu dunia bulan, sebagai seseorang yang memiliki sifat kemanusiaan yang luar biasa dan karena itu ia mengalami sifat Dewa-dewa(Prasna Upanisad)

Bagi mereka yang telah mampu melakukan meditasi dengan memusatkan pikiran kepada ketiga aksara suci ini.. AUM (Om) akan memperoleh berkah kesempurnaan tidak akan terlahir kembali(Moksa) diumpamakan sebagai seekor ular yang melepaskan kulesnya demikian pula roh(atma) melepas pengaruh triguna dan dosa-dosanya.

Seseorang yang kemudian memusatkan pikiran kepada Maha jiwa dengan ketiga matra Omkara, misalnya (sebagaimana dijelaskan diatas dan yang memberi makna kemahakuasaan dan sifat-sifat kemaha Tahuna Tuhan), ia menjadi terang seperti matahari, seperti halnya seekor ular menjadi bebas dengan mengelupas kulitnya, demikianlah orang seperti itu, karena bebas dari segala dosa-dosa, mencapai rakhmatnya dengan mempelajari Weda mantra Sama weda, dan melihat Tuhan yang ada diatas semua jiwa manusia dan ada dimana-mana dialam semesta ini. (Prasna Upanisad)

Lebih jauh dijelaskan ketiganya bila disatukan akan memberi keutamaan bagi yang mengucapkan dengan jiwa, diucapkan secara batin(diketahui makna ketiga aksara kemudian diucapkan dengan penghayatan kepada ketiga makna tersebut).

Ketiga matra (Om) berhubungan sangat eratnya antara yang satu dengan yang lain apabila diucapkan secara lahiriah, membuat seseorang mati dan lahir berkali-kali, tetapi bila tidak hanya diucapkan secara lahiriah saja atau luarannya saja, tetapi dipusatkan pikiran itu dengan benar, pahami maknanya yang sesungguhnya kepada Tuhan dan mencapai moksa(Prasna Upanisad,)

Dengan mengucapkan dan memahami mantra Rg Weda, seorang dialhirkan didunia ini (dimuka bumi). Dengan mengucapkan dan memahami mantara Yajur weda, seseorang akan dilahirkan di eter (angkasa) dengan jasad suksma sariranya), dengan mengucapkan dan memahami mantra Sama weda, seorang akan dilahirkan pada yang bijaksana, misalnya lahir sebagai orang yang bijaksana hanya akan mencapai Tuhan hanya dengan memusatkan pikiran pada om (memahami sepenuhnya dan merealisir makna ketiga matra sepenuhnya, yaitu A,U, dan M), dimana terdapat kedamaian yang sempurna, tidak ada penderitaan umur tua, tidak ada kematian, tidak takut tetapi rakhmat tertinggi yaitu moksa(Prasna Upanisad).

Mudah-mudahan  memberi manfaat…

Oleh: Gusti Sudiartama | Januari 18, 2011

Ganapati Tatwa sebuah bahasan Jnana

Ganapati Tattwa adalah salah satu Lontar Tattwa, Lontar Filsafat Siwa, yang digubah dengan mempergunakan methode tanya jawab. Ganapati, putera Siwa, adalah dewa penanya yang cerdas. Dan Siwa adalah Maheswara, yang menjabarkan ajaran rahasia Jnana, menjelaskan tentang misteri alam semesta beserta isinya. Terutama tentang hakikat manusia : dari mana ia dilahirkan, untuk apa ia lahir, kemana ia akan kembali dan bagaimana caranya agar bisa mencapai kelepasan.

Tanya jawab yang ditulis di dalam 37 lembar daun Tal ini disusun dalam 60 bait anustubh Sansekerta yang disertakan dengan ulasan dalam bahasa Kawi. Penjelasan masing-masing sloka sansekerta itu, ada yang cukup singkat ada pula yang panjang, terutama pada sloka permulaan. Isi ringkasnya sebagai berikut :

Omkara adalah sabda sunya, nada Brahman, asal mula dari mana Panca Daiwatma : Brahma, Wisnu, Iswara, Rudra dan Sang Hyang Sadasiwa dilahirkan. Dan Panca daiwatma adalah sumber dari mana Panca Tanmantra diciptakan. Panca Tanmantra : ganda, unsur bentuk; rasa, unsur rasa/kenikmatan; sabda, unsur suara adalah sumber dari Panca Mahabhuta : akasa, bayu, angin, teja, sinar; apah, zat cair; dan perthiwi, zat padat. Dari Panca Mahabhuta inilah alam semesta beserta isinya diciptakan, dan Sang Hyang Siwatma menjadi sumber hidup yang menggerakkan segala ciptaan-Nya sloka 1-2,25-39).

Sadanggayoga : Pratyaharayoga, Dyahayoga, Pranayamayoga, Dharanayoga, tarkkayoga dan Semadhiyoga adalah jalan spiritual untuk mencapai kelepasan, dijelaskan dlam sloka 3 – 9.

Sloka 10, 18, 19, 22-24 menjelaskan tentang Padma Hati sebagai Siwalingga dimana Beliau harus direnungkan. Hanya ia yang bijaksana, berhati suci dan penuh keyakinan yang dapat mengetahui Beliau. Sang Hyang Caturdasaksara. Sedangkan sloka 11-17 menjelaskan tentang berbagai jenis lingga.

Sloka 20 menerangkan anggapan orang yang bodoh dan sombong tentang atma.

Sloka 21 menjelaskan stana Bhatara Wisnu, Brahma dan Siwa pada badan jasmani.

Sloka 40-42 menjelaskan bahwa Sang Hyang Bheda Jnana adalah ajaran rahasia tentang manusia, yang berhak menerima ajaran rahasia ini adalah ia yang sungguh-sungguh melaksanakan dharma.

Sloka 43-45 menjelaskan tentang kelepasan. Ada tiga prilaku orang yang mengutamakan kebebasan dan pengetahuan yang suci adalah sarana untuk mencapai penyatuan diri dengan Sang Roh Yang Agung.

Sloka 56-59 menjelaskan tentang panglukatan Ganapati. Sarana upakara yang diperlukan, mantra yang mesti dipergunakan dan kegunaan panglukatan tersebut.

Dan sloka 60 adalah mantra pujaan yang ditujukan kepada Sang Hyang Ganapati dan Saraswati.

sumber: Buku  Ganapati Tatwa diterbitkan Upada sastra

Oleh: Gusti Sudiartama | Januari 18, 2011

SWETA SWATARA UPANISAD

Kitab Swetaswatara adalah merupakan kitab Sruti yang tergolong pada kitab Taittiriya pada Yajur Weda. Nama Sweswatara tidak  jelas tetapi banyak para akhli Indologi berpendapat bahwa nama ini adalah nama Maharsi yang menghimpun dan menyusunnya Sweta artinya putih atau bersih atau suci. Aswa adalah indriya atau panca indra.

Melihat isinya dapat disimpulkan bahwa kitab Swetaswatara memusatkan pokok bahasanya pada ajaran ketuhanan yang berusaha menjelaskan bahwa otensitas ajaran menurut Weda adalah berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Dengan penemuan dan penulisan kitab Swetaswatara itu dimaksud untuk lebih menjelaskan dan menegaskan bahwa ajaran Weda adalah bersifat Monothesitis.

Dalam menulis atau menyusun pokok-pokok penjelasan ajaran weda, terutama yang bersumber dari Yajur Weda itu, Maharsi telah berusaha dengan secara sistim dan metodologinya untuk memberi kejelasan tentang pengertian Tuhan yang didalam kitab itu lebih umum disebut dengan gelar Brahman (n). apa yang dibahas meliputi mulai dari pengertian, sifat-sifatnya, cara mencapai tujuan atau  sebagai jalan agar sampai pada pengertian yang benar atau sebagai jalan menuju Tuhan Yang Maha Esa. Masih banyak lagi yang dapat kita kemukakan yang tentunya untuk memahami dan mengkajinya perlu membacanya dengan teliti baik terjemahan maupun teksnya agar supaya dapat mengerti dengan jelas.

Oleh karena dasar bahasa mencakup masalah ajaran Ketuhanan, maka tidak jarang kalau kitab Swetaswatara sering dijadikan sebagai bahan referensi sumber informasi yang amat penting dalam mempelajari Theology Hindu Dharma, disamping berbagai kitab lainnya dalam mempelajari filsafat Hindu. Dari dalam kitab ini pula kita mulai mendapat kejelasan pengertian tidak saja mengenai arti Tuhan Yang Maha Esa itu saja tetapi juga tentang sifat pengertian immanen dan transcenden yang pada dasarnya memang sangat sukar untuk dicerna dan dimengerti oleh orang biasa. Demikian pula mengenai hakekat umum diterapkan oleh agama Buddha sebagai jalan menuju pada kesempurnaan hidup manusia, baik rokhani maupun jasmani.

Kitab Swetaswatara Upanisad terbagi atas enam bab. Masing-masing bab terbagi atas beberapa topic atau sub pokok bahasan yang umumnya merupakan syair-syair singkat saja. Keseluruhan isinya terdiri atas 111 sair atau sloka yang tidak sama pula panjangnya. Adapun keseluruhan isinya singkatnya adalah sebagai berikut :

  1. Bab I terdiri atas 16 sloka atau sair
  2. Bab II terdiri atas 17sloka atau sair
  3. Bab III terdiri atas 21 sloka atau sair
  4. Bab IV terdiri atas 22 sloka atau sair
  5. Bab V terdiri atas 14 sloka atau sair, dan
  6. Bab VI terdiri atas 23 sloka atau sair.

Dari daftar isi ini tampak bahwa Bab V merupakan bab terpendek, terdiri atas 14 sloka sedangkan Bab VI merupakan bab terpanjang, terdiri atas 23 sloka.

Melihat dari isinya maka secara singkar garis besar pokok isi kitab Swetaswatara Upanisad ini dapat disimpulkan sebagai berikut dibawah ini.

Bab I, yaitu yang merupakan bagian pertama dari kitab itu mencoba mengungkapkan permasalahan pokok yang menjadi topik bahasan yang selalu dibahas dalam pondok-pondok pasraman antara guru Brahmana yang dianggap akhli dengan para muridnya atau cantriknya yang telah diinisiasi menjadi brahmacari. Pokok bahasan ini terutama menyangkut  pemikiran-pemikiran tentang pengertian mengenai hakekat Ketuhanan baik sebagai ajaran maupun sebagai jalan yang didalam Weda pengertiannya belum dapat dipahami dengan jelas dan tegas. Sebagai bahasan tentang hakekat itu maka para pengkaji memerlukan nama dan karena itu timbullah pemberian nama mengenai hakekat itu, yaitu dengan nama atau gelar Brahman untuk menamakan hakekat itu yang sekarang lebih kita kenal dengan nama Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai nama umum. Dengan demikian maka gelar Brahman pun maksudnya adalah sebagai nama umum atau biasa yang harus dapat diterima atau sedikit-tidaknya bisa diterima secara rasional. Oleh karena itu dipersoalkan pula apakah itu identik dengan pengertian Tuhan Yang Maha Esa atau tidak.

Ini satu pertanyaan yang dikemukakan dan harus dapat dijelaskan berdasarkan ungkapan-ungkapan yang ada dalam Weda (mantra) sebagai pembuktian otentik.

Sebagai dasar dikemukakan bahwa hakekat Ketuhanan adalah dasar (sumber utama) atau penyebab pertama yang adaNya tanpa ada yang mengadakan kecuali diriNya sendiri. Dia ada melainkan sendiri dan sebagai sebab Ia disebut sebagai pemberi hidup yang menghidupkan semua ciptaan ini, sebagai pencipta yang mengadakan seluruh alam semesta dengan segala isinya dan lain-lain sebaginya menurut sifat dan nama sifat atau gelar yang diberikan kepadaNya oleh manusia menurut bahasa manusia dengan sifat manusia yang menamakanNya.

Masalah kedua yang dipersoalkan adalah sifat hakekat itu sendiri yang bersifat relative yang membedakanNya dari sifat-sifat keabsolutannya yang hakiki, seperti waktu, tempat dan unsur  elemen yang pada hakekatnya merupakan hakekat sifat phenomena dan impirisis. Oleh karena masalahnya dianggap sangat sulit untuk dapat dipahami tanpa perenungan yang mendalam maka sifat pengertian dan hubunan dasar pengertian berbagai phenomena itu tidak mungkin dapat dipikirkan begitu saja tanpa perenungan yang mendalam dan dalam keheningan bathin. Dengan diperlukannya perenunganyang mendalam serta keheningan bathin maka dianggap perlu adanya satu metode pendekatan dalam perenungan itu yang melahirkan pentingnya arti yoga-samadhi dimana bila yang penerapannya diikuti dengan keyakinan yang mendalam (bhakti) maka pikiran tidak akan tergoyahkan dalam kontak hubungan kejiwaan itu.

Kontak kejiwaan ini merupakan bentuk “Samadhi” atau “dhyana – Samadhi” dimana melalui kekuatan penglihatan bathin akhirnya dapat diketahui berbagai hakekat yang berbeda-beda dari yang satu dengan yang lain, seperti Dewa Sakti, Purusa, Prakrti (Pradhana), Tri Guna, Maya sakti, dll. Demikian pula hakekat pengertian Iswara sebagai Atman atau Prakrti yang diibaratkan sebagai roda (cakra) dalam dunia lami. Penggunanan roda (cakra) sebagai perumpamaan tidak bertujuan mengidentifikasikan melainkan sekedar membantu orang awam untuk memahamiNya. Ini berarti dari alam abstrak dibawa kealam nyata, dari alam numenal kealam phenomenal.

Apa yang dikemukakan lebih jauh dalam Bab I adlaah mengenai tentang pentingnya mengetahui Brahman karena dengan pengetahuan ini akan membawa pada keselamatan bersama karena bersama-sama merasa sebagai satu persaudaraan dalam satu ikatan bathin dimana Brahman sebagai dasarnya. Dari sloka 10 bab I dapat diketahui bahwa nama Brahma tidak mutlak demikian karena Ia disebut pula dengan nama lain, misalnya, hara, yang artinya yang dipertuan atau yang dijunjung atau penguasa.

Dengan dasar pengetahuan itu maka timbul satu masalah yang harus dapat dijelaskan, yaitu, bagaimana menyadari hakekat yang bersifat numenal sebagai satu kebenaran mutlak karena apa yang ada ini sesungguhnya tidak kekal. Untuk menjelaskan hal ini maka Swetaswatara memberi keterangan dengan mempergunakan perumpamaan baru, yaitu, ibarat sang pencari api (Agni), ia harus berusaha mendapatkannya dengan cara menggosok-gosokkan dua batang kayu  sampai keluar api. Hubungan antara dua potong kayu yang sama diibaratkan sebagai lingga-yoni, yang melahirkan api setelah diusahakan dengan  kekuatan atau sakti. Apa yang dimaksud dengan kekuatan tenaga penggerak dalam hubungan ini adalah aksara OMKARA yaitu suara AUM yang dikatakan apabila pengucapannya dengan benar dan penuh keyakinan, tanpa henti-hentinya pada akhirnya akan mencapai titik puncak  pada dhyanasamadhi waktu melakukan yoga dimana akhirnya kekuatan itu mempunyai kemampuan untuk memperlihatkan apa yang dicari didalam hati atau pikiran, suatu bentuk tertentu yang merupakan hakekat yang dicari-cari. Yang tampak kelihatan itulah yang diberi nama dengan nama Iswara atau Dewata (Ista Dewata) sebagai Godhead. Hakekat itulah yang dicari dan yang tidak diketahui oleh orang yang awidya, yang tidak berkeyakinan karena tidak yakin akan kebenaran itu sehingga mudah putus asa dan gagal untuk mendapatkannya.

Adapun bab II, mencoba memberi penjelasan lebih lanjut tentang proses kejadian itu, satu proses panjang dalam mewujudkan bentuk (rupa) yang tidak mempunyai wujud, proses perubahan dari alam numenal kealam phenomenal, dari alam Sunya kealam nyata (bhawa). Sloka 1 memulai dengan pujian atau menghubungkan diri kepada yang tak nyata sebagai pemberi inspirasi atau yang memberi rangsangan pada pikiran dimana sang Perangsang itu disebut dengan nama Sawitri. Sawitri artinya yang memberi inspirasi dan sebagai alam phenomena digambarkan sebagai Dewi Fajar disanjung dan dipuji pada setiap subuh. Dengan pengaruh Sawitri, pengendali sang pikir maka tercapai satu bentuk atau rupa pada pikiran (manah) sehingga melahirkan bentuk sinar atau cahaya atau yang memancarkan terang. Dari pancaran itu melahirkan api. (Agni) yang kemudian diturunkan kedua (Prthiwi) yang lebih jauh kalau dikembalikan kepada perumpamaan itu, api timbul dari gosokkan dua buah kayu kering. Tentang sifat Sawitri dikemukakan bahwa beliau adalah penguasa alam surga (swarga) dan karena itu ilmu agama mengajarkan tentang bentuk surga yang digambarkan sebagai tempat yang terang dan didalam alam surga itu bersemayam semua para Dewa-dewa. Demikian pula makna doa atau puji-pujian sebagai rangsangan dan merupakan petunjuk jalan yang akan mengantarkan manusia kealam matahari.

Disamping hal-hal yang telah disebut diatas, bab ini juga menekankan akan pentingnya memahami pokok-pokok pengertian yoga-semadhi yang kalau dibiasakan akan mempunyai akibat baik karena bersifat ganda kepada yang mempraktekkannya, yaitu tidak saja  membuka jalan menuju kepada jalan yang benar, jalan yang diridhoi  atau disebut sebagai jalan menuju kepada Tuhan Yang Maha Esa tetapi juga akan membantu mereka untuk melihat serta memahami hakekat Yang Maha Esa dengan segala nama sifatnya yang pluralistis dan berbeda dari manusia biasa.

Bab III pada hakekatnya menjelaskan makna kasunyataan tertinggi. Apakah sebagai Yang Maha Esa, hakekat yang kekal abadi, hakekat yang maha mengetahui serta menguasai seluruh ciptaan ini.  Ia juga diperkenalkan dengan gelar Rudra, gelar yang paling umum dijumpai didalam Weda, jauh sebelum gelar Siswa diperkenalkan. Istilah Rudra sebagai gelar inipun pengertiannya tidak berbeda dari apa yang telah diberikan sebelumnya melainkan karena sifat kekuasaan yang hendak ditampilkan dilihat dari sifat lainnya Ia juga disebut Wiswa yang berarti hakekat Yang Maha Asa dan merupakan prabhawa.

Salah satu topik  terpenting dalam bab ini adalah hakekat pengertian “Bhagawan” dengan mengibaratkannya sebagai diri kosmos dan didalam Rg weda semua dikenal dengan nama Wirat Purusa atau Maha Purusa. Pengertian inilah yang membawa pada satu pengertian dasar tentang pengindraan hakekat aspek transenden itu sebagai salah satu bentuk peningkatan pengertian dari numenal atau phenomenal.

Bab IV intinya mencoba menjelaskan sifat kemajemukan Yang Maha Esa yang tampaknya dalam dunia empirisis. Dengan demikian Ia adalah Agni, Ia adalah Aditya, Ia adalah  Wayu, Ia adalah Candra, Ia adalah Praja Pati, Ia adalah laki-laki Ia adalah istri atau wanita, dll. Jadi yang berbeda-beda itu adalah bentuk nama sifat hakekat yang sama itu pula.

Bab V memulai menegaskan pengertian hakekat ke Esaan Tuhan Y.M.E yang diangap sebagai bentuk immanen dan sebagai penguasa tertinggi. Dalam hal ini konsep Godhead atau Dewata merupakan bentuk yang paling nyata dari sifat hakekat Tuhan Yang Maha Esa itu.

Bab VI mencoba merangkai hubungan pengertian antara bentuk immanen dengan bentuk permanen atau transcenden sebagai satu bentuk proses kosmos. Hakekat sifat transcenden itu digambarkan dengan satu keadaan tanpa cirri yang dapat membeda-bedakan, hakekat tanpa sifat dan karena itu tiada nama dan tidak ada bnetuk yang dapat digambarkan pada tingkat ini. Bila sampai pada tingkat pengertian itu maka tidak ada lagi keterikatan dan pada pikiran manusia tidak ada keterkaitan kecuali kekaryaan yang selaras dengan hukum kasunyataan itu. Tingkat inilah yang merupakan tingkat pencapaian moksa dan merupakan tujuan hidup teringgi dalam ajaran Hindu Dharma.

Demikianlah secara singkat pokok-pokok isi kitab Swetaswatara ini yang diharapkan akan dapat membantu pembaca mengenal berbagai permasalaahn yang akan ditampilkan dalam terjemahan berikut ini.

Sumber : Sweta Swatara Upanisad, terjemahan Drs. R Sugiharto dan G Pudja MA.SH.

Oleh: Gusti Sudiartama | Januari 13, 2011

Kekasih-kekasih ku

Keluargaku ..inspirasi..   untuk-ku…  menjadikan-ku seseorang..

really My Heart

Cinta pertama-ku ..yang  slalu ada disisiku…  memberiku dorongan dan semangat untuk slalu berbuat dan berbuat yang terbaik…   bagi diri-ku, keluarga-ku  dan lingkungan-ku..  benar-benar bumi bagiku…  andaikan aku benar menjadi mentari baginya…  ketika ku saksikan lelap tidurnya…  betapa dia telah menjadikan-ku yang dia percayai…    membangkitkan haru dalam batinku… Tuhan  beri kekuatan untuk istri-ku tercinta…   ijinkan aku  untuk slalu memberinya kedamaian ..  kuatkan aku untuk mampu menjaga percaya-nya…

keduanya arka bagi-ku

Cahaya hidupku…   dua-duanya slalu hadir….  dalam setiap doa yang ku panjatkan…  yang kumohonkan hanyalah  kedua cahaya-ku benar.. menjadi “arka”  bagi dirinya…, semoga keduanya menjadi manusia sejati seutuhnya…  Melihat keduanya tumbuh…  seolah jiwaku tumbuh..  cerianya… menjadi ceriaku…  keduanya istimewa  bagiku…   Tuhan terima kasih telah mempercayaiku..  untuk membantu hadirnya jiwa-jiwa muda ini menuju takdirnya…

semoga semua diberkati kedamaian

Betapa aku telah diberkati oleh-Nya… dihadirkan untuk-ku manusia-manusia baik disekelilingku…  betapa  mereka telah memberiku ruang untuk berbuat… walau mereka mungkin tak sepenuhnya paham ..   apa  yang kuyakini… walau mungkin mereka tak sepenuhnya  mengerti..  tapi kusaksikan usaha mereka untuk slalu mengerti…    Semoga kita selalu diberkati kebersamaan …  kemauan untuk saling berbagi…  semoga…

menyatukan dua jaman yang berbeda

Oleh: Gusti Sudiartama | Januari 5, 2011

Pura Mrajapati Tempat Pemujaan Alam Kosmis

Oleh Adang Suprapto

P ura Dalem, Mrajapati, Kahyangan dan Setra berikut para Dewa yang berstana di sana, tampak adanya konsep dasar yang mengatur hubungan makna ketiga tempat itu, berikut tugas yang dijalankan para Dewa, yakni konsep Siwaisme. Pemaknaan ketiga tempat suci itu berhubungan dengan kekuasaan Siwa dengan saktinya Durga. Oleh karena pada umumnya Durga dicitrakan sebagai tokoh dewa yang menyeramkan, maka ketiga tempat itu juga dipersepsikan sebagai tempat pemujaan yang terkesan angker dan menyeramkan.

Dari ketiga tempat suci itu, orang menghubungkan lagi dengan unsur-unsur bhuana agung yang juga ditemukan dalam bhuana alit. Hubungan unsur-unsur itu seakan-akan diatur oleh sistem kosmis melalui jaringan makna yang renik dan manusia terkurung di dalam jaringan makna itu. Sistem kosmik ini kemudian mengatur perilaku dan aktivitas ritual umat Hindu Bali dalam siklus yang tidak pernah terhenti, terus menerus, meskipun kemudian hubungan jaringan maknawi itu semakin kabur oleh nuansa yang menyeramkan dan magis. Mungkin itu sebabnya mengapa orang Bali agak sulit melepaskan pikirannya ke dunia mistik, leak misalnya.

Apa hubungan Pura Dalem, Mrajapati, Kahyangan dan Setra gandamayu? Menurut sebuah sumber, mrajapati adalah tempat pemujaan alam kosmis, sedangkan setra atau pemuwunan atau tempat pembakaran mayat adalah tempat atau panggung transformasi ajian Dewi Durga yang cenderung bergerak ke kiri atau kiwa. Karena itu, Pura Dalem adalah stana Siwa yang berfungsi sebagai penetralisir kekuatan positif dan negatif yang ditimbulkan oleh praktik-praktik ajian Durga tersebut. Jika demikian tata hubungan ketiga tempat pemujaan itu, maka di Pura Dalem umat melakukan aktivitas ritual dan persembahan yang bertujuan untuk mendapatkan kerahayuan dan terhindar dari pengaruh negatif dua kekuatan lainnya, yakni mrajapati dan setra. Di mrajapati umat membayangkan kekuatan alam, dan setra adalah tempat untuk melakukan upacara kematian dan pembakaran jenasah.

Di mrajapati sendiri distanakan Durga dengan tiga kekuatannya, yakni anggapati, prajapati dan banaspati. Kanda Pat menyebutkan anggapati berarti kala atau nafsu di badan, mrajapati berarti penguasa Durga setra gandamayu, sedangkan banaspati berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti iblis, tonya atau hantu hutan, atau raja hutan, raja pepohonan, dan penjaga lembah, sungai dan tempat-tempat angker lainnya. Akan tetapi, sumber lain menyebutkan banaspati adalah gelar Hyang Siwa yang mengendalikan dan menentukan hidup dan kehidupan semua ciptaannya (sarwa bhutesu). Tidak heran kalau beliau selalu digambarkan sebagai dewa yang menyeramkan dan mengerikan.

Dalam menjalankan tugas dan fungsinya yang demikian itu, beliau bersikap tegas, cepat, adil dan penentu segalanya. Dalam hal memberi keadilan, beliau memperoleh julukan Hyang Yama. Dalam menjalankan tugas itu, beliau dibantu oleh para rencangan beliau, yakni para Yama Bala. Tugas utama para Yama Bala adalah menjemput dan memberikan tempat yang pas bagi para atma yang ingin menghadap Hyang Siwa.

Para atma yang baru hadir untuk menuju alam Siwa tidak langsung diterima di Siwaloka, tetapi sebelumnya dicatat terlebih dahulu oleh rencangan beliau yang bernama Sang Suratma. Tugas utama Sang Suratma adalah mencatat atau menuliskan segala perilaku manusia saat masih di alam manusia.

Segala hal yang benar dan salah selama hidup manusia wajib dilaporkan oleh sang atma kepada juru tulis Sang Suratma. Jika semasa hidup di alam manusia seseorang mungkin dapat berbohong, maka di hadapan Sang Suratma sang atma tidak mungkin berbohong, karena Sang Suratma telah mencatatnya secara detail dan teliti.

Bilamana semuanya telah tercatat barulah para Yama Bala melanjutkan perjalanan para atma untuk menuju tempat yang telah dipersiapkan, yakni tegal penangsaran. Di tempat ini para atma menerima perlakuan sesuai dengan perbuatannya di alam kehidupan manusia. Tentu saja tegal penangsaran memiliki kondisi yang berbeda-beda, antara lain ada tempat yang sangat panas, tempat yang menyakitkan, tempat yang mengerikan dan tempat untuk memberikan sanksi bagi atma sesuai perbuatannya di alam manusia dulu. Di tegal penangsaran tidak terdapat pohon-pohon yang menyejukkan, kecuali pohon yang berisi benda-benda tajam yang digunakan untuk memberikan hukuman kepada para atma yang telah berbuat kejahatan, kesalahan dan perilaku yang tidak sesuai dengan ajaran dharma.

Dengan adanya Sang Suratma di sana, beserta para Yama Bala, dapat ditafsirkan bahwa mrajapati menjadi semacam birokrasi niskala yang melayani kepentingan para atma sebelum ke Siwaloka. Disana, roh orang yang baru meninggal harus menyelesaikan administrasi kependudukannya, yang berhubungan dengan perbuatannya di masa lalu. Dengan demikian, mrajapati yang mungkin berasal dari kata praja berarti tata (penguasaan) dan pati yang berarti mati, maka prajapati yang mengalami perubahan konsonan p menjadi m, sehingga menjadi mrajapati dapat diartikan sebagai tata, penguasaan atau birokrasi kematian. Tugasnya yang demikian itu kemudian menyebabkan mrajapati sebagai tempat pemujaan yang misterius, mengerikan dan menakutkan. Pemahaman akan kekuatan Tuhan sudah sejak zaman Bali kuno. Hal ini diketahui dari berbagai lontar, antara lain Lontar Kanda Pat, Usana Bali Gong Besi, dan Taru Pramana. Semua itu merupakan hasil lokal genius masyarakat Bali yang diakulturasikan dengan budaya sehingga masyarakat dapat membayangkan dan melihat kekuatan Tuhan dalam berbagai perwujudan atau pelawatan. Suatu perwujudan kekuatan Tuhan bukanlah sembarangan. Hal ini merupakan hasil imajinasi yang luar biasa dari kekuatan yogi jaman dulu.

Salah satu pemahaman akan kekuatan Tuhan itu adalah keyakinan terhadap Banaspatiraja. Banaspatiraja merupakan simbol atau wahana Ida Bhatara yang berlandaskan pada ajaran Çiwa. Ajaran ini mengandung filosofi Tantrayana dan Bhairawa di dalamnya. Filosofi ini tidak bisa dipisahkan dari sejarah perkembangan Hindu di Bali. Sejak Mpu Kuturan datang ke Bali dan menyatukan ajaran berbagai sekte yang pernah hidup di Bali, berkembanglah yang disebut ajaran Trimurti. Ajaran ini bermakna tiga manifestasi Tuhan yang mempunyai kedudukan yang sama. Inilah cikal bakal ajaran Çiwa Sidanta yang kita warisi sampai sekarang.

Pemahaman Banaspatiraja tidak bisa dipisahkan dari konsep empat bersaudara yang terdiri atas Anggapati, Prajapati, Banaspati, dan Banaspatiraja itu sendiri. Konsep itu disebut nyama papat (saudara empat). Nyama papat ini jangan selalu dibayangkan seram, karena kalau kita telusuri itu semua adalah kekuatan Tuhan dalam berbagai manifestasinya. Hal ini termuat dalam Lontar Çiwa Tatwa.

Dilihat dari sumber sastra lain yakni Lontar Usana Bali, Banaspatiraja adalah kekuatan pelindung dari segala macam penyakit atau hama yang ada di sawah. Karenanya beliau berfungsi sebagai nangluk merana untuk menetralisir kekuatan negatif, dan juga dalam usadha yang berperan sebagai dewanya balian. Di dalam Lontar Gong Besi, Banaspatiraja lambang Taksu. Orang yang ingin memiliki Taksu, Beliaulah sumbernya. Di jajaran Pelinggih Sanggah atau Merajan atau Tempat Suci Keluarga, beliau berada di Pelinggih Taksu.

sumber: http://www.parissweethome.com

Oleh: Gusti Sudiartama | Januari 5, 2011

Ilmu Kewisesan Pengiwa Dan Penengen

Oleh Ahmad Prajoko

K ata kiwa adalah bahasa Jawa Kuno yang artinya kiri; kiwan; sebelah kiri, Ngiwa = Nyalanang aji wegig (menjalankan aliran kiri), seperti ; pengeleakan penestian, Menggal Ngiwa = nyemak (melaksanakan) gegaen dadua (pekerjaan kiri dan kanan). Pengertian Kiwa dan Tengen artinya ilmu hitam dan ilmu putih, Ilmu Hitam disebut juga ilmu pengeleakan, tergolong aji wegig. Aji berarti ilmu, Wegig berarti begig yaitu suatu sifat yang suka mengganggu orang lain. Karena sifatnya negatif, maka ilmu itu sering disebut “ngiwa”. Ngiwa berarti melakukan perbuatan kiwa alias kiri.

Ilmu leak ini bisa dipelajari dari lontar-lontar yang memuat serangkaian ilmu hitam, antara lain; Cabraberag, Sampian Emas, Tangting Mas, Jung Biru. Buku tersebut ditulis pada zaman Erlangga, yaitu pada masa Calonarang masih hidup. Disamping itu ilmu leak mempunyai tingkatan. Tingkatan leak paling tinggi menjadi bade (menara pengusung jenasah), di bawahnya menjadi garuda, dan lebih bawah lagi binatang-binatang lain, seperti monyet, anjing ayam putih, kambing, babi betina dan lain-lain. Ilmu putih sangat bertentangan dengan ilmu hitam. Ilmu putih sebagai lawannya, yang disebut pula ilmu penangkal leak yang bisa dipakai untuk memyembuhkan orang sakit karena diganggu leak, sebab aji usadha berhaluan kanan, disebut haluan “tengen” berarti kanan. Ilmu putih ini mengandung ilmu “kediatmika”.

Berbicara pengiwa yang direalisasikan oleh Rangda (Janda) ring Dirah melawan Mpu Beradah, pada zaman pemerintahan Prabhu Erlangga. Naskah ini disalin dalam huruf Bali pada pemerintahan Raja Klungkung, kurang lebih sinopsis isinya sebagai berikut :

Seorang raja yang bernama Sri Aji Erlangga, yang berstana di Kerajaan Kediri. Dalam pemerintahannya masyarakat menjadi makmur dan sejahtera, sehingga banyak negara-negara lain yang menyatukan diri dengan Beliau. Dalam wilayah Kerajaan terdapat sebuah perguruan, yang mengajarkan untuk kehancuran kerajaan. Karena menerapkan ajaran Sad Atatayi. Berbuat ulah untuk kematian dunia, berbuat Sad Atatayi dan bermurid mendirikan perguruan, menjadi sarana untuk memuja siwa, diberi anugrah oleh Hyang Bagawati.

Para menteri dan patih mencari bantuan kepala Mpu Beradah, kemudian Mpu Beradah menugaskan kepada muridnya yang bernama Mpu Bahula yang masih muda dan perparas rupawan untuk menyelidiki keberadaan di Dirah dengan melangsungkan perkawinan dengan anak janda di Dirah.

Setelah setengah bulan lamanya Pendeta menginap di Jirah (Dirah), maka datanglah Janda Jirah, memohon kepada Mpu Beradah agar merubah dirinya menjadi brahmana, karena telah banyak membunuh orang tanpa dosa. Mpu Beradah tidak bersedia meruwat sebab sastra utama menyebutkan perbuatan itu harus diterima oleh pelakunya melalui pembersihan Upeti, Stiti dan Pralina. Janda Jirah menjadi marah, bahwa dia tidak memerlukan sastra untuk peleburan dosa sehingga memutuskan untuk mengadu kesaktian dengan Mpu Bradah.

Akhirnya mereka berdua mengadu kewisesan di kuburan. Rangdeng Dirah menuding dengan mata melotot, muncul api berkobar, taring bergesek tajam. Hidung dan mulutnya besar menganga, lidah menjulur keluar api berkobar, “Lihatlah sekarang Baradah, ada pohon beringin besar, aku bakar menjadi abu, menunduk melihat tanah, tanah menjadi bubur, terbang berhamburan bagaikan hujan pasir, dilihat sampai di lautan, bagaikan bergoncang, kacau berganti-ganti. Lagi dilihatnya gunung lahar dengan hujan batu, binatang menjadi terbirit-birit ke sana kemari, kayunya roboh saling tindih, satu dengan yang lainnya, bumi menjadi gemetar”. “sekarang apa keinginanmu hai Baradah, sungguh berani tidak mengalah”.

Rangdeng Dirah kemudian membakar tubuh Mpu Baradah dengan api yang keluar dari mulutnya, namun tak mempan. Dua tiga kali dibakar tetap kokoh. Kemudian Mpu Baradah segera melakukan yoga kemudian menghidupkan kembali pohon beringin yang tadinya telah hancur terbakar. “Lihat sekarang olehmu dengan waspada hai Janda !

Ini menunjukkan tugas yang diemban oleh Mpu Baradah berhasil mengalahkan Rangda Ring Dirah. Artinya Ilmu Pengiwa akan selalu dikalahkan oleh Ilmu Penengen.

Sabuk Kekebalan

Dalam kemajuan teknologi yang berkembang pesat saat ini ternyata di masyarakat masih mejadi trend penggunaan alat-alat kekebalan dalam berbagai bentuk baik yang dipakai maupun yang masuk dalam tubuhnya.
Adapun fungsi dari alat tersebut untuk menambah kepercayaan diri agar merasa lebih mampu dibandingkan dengan yang lainnya. Harus disadari fungsi dari alat ini bagaikan pisau bermata dua. Kalau tujuanya untuk kepentingan umum dalam hal menolong masyarakat tidak menjadi masalah. Yang menjadi masalah adalah jika alat itu digunakan untuk pamer dan menguji orang lain, ini yang sangat riskan. Karena setiap alat yang kita pakai memiliki kadar tersendiri, tergantung dari sang pembuatnya. Karena ini berhubungan dengan kekuatan niskala yang berupa panengen dan pengiwa. Atau dalam istilah lainnya mengandung kekuatan pancaksara maupun dasaksara. Tidak sembarang orang bisa membuat alat seperti ini apalagi memasangnya karena berhubungan dengan pengraksa jiwa. Kalau berupa sesabukan (tali pinggang) menggunakan bahan-bahan tersendiri, berupa biji-bijian seperti kuningan, timah, perak, bahan panca datu. Ditambah sarana yang lainnya sebagai persyaratannya. Untuk menghidupkan ini perlu mantra pasupati biar benda tersebut menjadi hidup. Disinilah kekuatan penengen dan pengiwa berjalan sebagai satu kesatuan yang menjadi kekuatan panca dhurga.

Kalau sabuk pengeleakan lagi berbeda, di sini kekuatan pengiwa murni dipakai, sehingga yang memakainya akan memasuki dunia lain, tanpa disadari ia akan berubah secara sikap. Dan kita diolah oleh alat itu tanpa disadari kita menjadi kehilangan kontrol. Ini yang sangat berbahaya, jika tidak segera ditolong ia akan terjerumus, disinilah kekuatan penengen akan berjalan sebagai penetralisir. Di sinilah perlunya kita pemahaman apa itu penengen dan pengiwa jangan sepengal-sepenggal.

Kalau yang memasukan dalam tubuh juga hampir sama prosesnya dengan yang memakai alat, yang menjadi perbedaan adalah kalau yang memakai alat berada di luar tubuh dan yang memasukan berada di dalam tubuh, inipun prosesnya tidak gampang perlu orang yang tahu untuk memasangnya, memang tubuh menjadi kebal tapi perlu proses. Tidak langsung jadi. Disinilah kejelian seorang senior terhadap yuniornya apakah sudah siap secara mental atau tidak. Kalau sudah siap secara mental maka akan cepat benda itu bereaksi dan bisa dikontrol oleh dirinya sendiri, jika tidak akan sebaliknya akan membahayakan dirinya sendiri. Karena alat-alat yang dipasang akan menjadi energi. Di sinilah muncul keegoissan kita jika sudah merasa hebat seolah-olah kita yang paling unggul di antara orang lain, padahal kita tahu ilmu seperti ini sangat banyak.

Pengendalian diri sangat penting untuk membawa hal yang positif bagi kita sendiri, jangan terjebak oleh keinginan sesaat. Tapi sebaiknya kita gunakan alat-alat itu untuk kepentingan yang lebih baik seperti untuk jaga diri.

sumber : http://www.parissweethome.com

Oleh: Gusti Sudiartama | Januari 5, 2011

Kelahiran Manusia Mempunyai Saudara Empat

Dalam Kanda Pat diceritakan kelahiran manusia mempunyai saudara sebanyak empat yang terdiri dari Anggapati, Prajapati, Banaspati, dan Banaspatiraja. Pada usia kehamilkan enam bulan terbentuklah empat saudara yakni Babu Lembana, Babu Abra, Babu Ugian, Babu Kekered. Pada umur kehamilan sepuluh bulan lahirlah sang bayi beserta saudaranya yakni ari-ari disebut Sang Anta, tali pusar (Sang Preta), darah (Sang Kala), air ketuban (Sang Dengen). Keempat saudara ini yang memelihara semasih dalam kandungan. Ketika lahir keempat saudara tersebut berpisah dan berganti nama menjadi I Salahir (Anta), I Makahir (Preta), I Mekahir (Kala), dan I Salabir (Dengen), sedangkan badan manusia sendiri disebut dengan I Legaprana. Keempat saudara yang telah terpisah tersebut masih saling ingat satu sama lain. Kemudian kira-kira selama empat tahun kemudian, keempat saudara tersebut saling melupakan, dan menjelajahi dunianya sendiri-sendiri. I Salahir ke timur berganti nama menjadi Sang Hyang Anggapati, I Makahir ke selatan berganti nama menjadi Sanghyang Prajapati, I Mekahir ke barat menjadi Sanghyang Banaspati, I Salabir ke utara menjadi Sanghyang Banaspatiraja.

Kemudian keempat saudara tersebut dengan kuat melakukan tapa – yasa dan berganti nama lagi. Anggapati bergelar Bagawan Penyarikan berkedudukan di timur, sedangkan di badan manusia tempatnya di kulit. Prajapati bergelar Bagawan Mercukunda berkedudukan di selatan, dalam tubuh manusia letaknya di daging. Banaspati menjadi Bagawan Shindu Pati berkedudukan di Barat, dalam tebuh manusia tempatnya di urat. Banaspatiraja menjadi Bagawan Tatul, berkedudukan di utara, dalam tubuh manusia tempatnya di tulang.

Dan terakhir, berkat tapanya yang teguh, saudara empat tersebut mendapat julukan : Anggapati mendapat julukan Sang Suratma, Sang Prajapati berjuluk Sang Jogormanik, Sang Banaspati menjadi Sang Dorakala, dan Sang Banaspatiraja mendapat julukan Sang Maha Kala. Ini dalam Kanda Pat Rare.

Dalam mitologi disebutkan bahwa ketika Dewi Uma telah kembali ke Siwa Loka, maka yang tinggal di dunia adalah perwujudan beliau dengan segala sifatnya. Jasad ini kemudian oleh Dewa Brahma dihidupkan dan menjadi empat tokoh yang disebut dengan catur sanak, yakni : Anggapati menghuni badan manusia dan mahluk lainnya. Ia berwenang mengganggu manusia yang keadaannya sedang lemah atau dimasuki nafsu angkara murka. Mrajapati sebagai penghuni kuburan dan perempatan agung. Ia berhak merusak mayat yang ditanam melanggar waktu/dewasa. Juga ia boleh mengganggu orang yang memberikan dewasa yang bertentangan dengan ketentuan upacara. Banaspati menghuni sungai, batu besar. Ia berwenang mengganggu atau memakan orang yang berjalan ataupun tidur pada waktu-waktu yang dilarang oleh kala. Misalnya tengai tepet atau sandikala. Banaspatiraja, sebagai penghuni kayu-kayu besar seperti kepuh, bingin, kepah, dll yang dipandang angker. Dia boleh memakan orang yang menebang kayu atau naik pohon pada waktu yang terlarang oleh dewasa. Itu termuat dalam lontar Kanda Pat.

Dalam kanda pat Buta disebutkan bahwa Anggapati berarti kala atau nafsu di badan kita sendiri. Merajapati berarti penguasa Durga setra gandamayu. Banaspati diwujudkan berupa jin, setan, tonya sebagai penjaga sungai, jurang atau tempat kramat. Dan Banaspatiraja diwujudkan dalam bentuk barong sebagai penguasa kayu besar atau hutan. Sebagai tambahan bahwa kalau di Jawa sering disebut dengan Banaspati, yakni raksasa yang berkepala merah.

Barong berasal dari kata beruang (binatang hutan), kemudian berkembang menjadi Barung yang artinya berjalan beriringan. Seperti misalnya gambelan mebarung, artinya gambelan yang berjejer atau berbarengan. Jadi perkembangan kata barong menjadi beruang menjadi barung dan bareng, maka dapat kita artikan di sini adalah barong merupakan perwujudannya sebagai binatang hutan (beruang), dan fungsinya di dalam kehidupan social masyarakat Bali adalah sebagai beriringan atau berbarengan. Yang lebih luas kita artikan sebagai simbolisasi dari persatuan dan kesatuan masyarakat. Jadi barong juga sebagai lambang pemersatu.

Apabila kita dapat memahami hakekat dan mendalami dari ajaran kanda pat ini maka akan dapat meningkatkan kemampuan spiritual dan supranatural dari manusia itu sendiri.

Banaspati sesungguhnya gelar Hyang Siwa, yang mengendalikan kehidupan. Dimana segala kehidupan adalah ciptaan beliau. Banaspati sering digambarkan sebagai dewa yang seram yang mengerikan. Beliau juga yang menentukan nasib hidup dan kehidupan semua ciptaannya (sarwa bhutesu). Bilamana beliau dalam menjalankan tugas dan fungsinya maka beliau sebagai sosok yang tegas, seram, berlaku cepat, adil dan penentu segalanya. Dalam hal tugas untuk memberikan keadilan, maka beliau bergelar Hyang Yama, memiliki tugas mulia sebagai penegak keadilan. Dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh para tenaga andal (rencang) yakni Yama Bala. Tugas utama para Yama Bala adalah untuk menjemput dan memberikan tempat yang pas bagi para atma yang ingin menghadap Hyang Siwa.

Para atma yang baru hadir untuk menghadap Hyang Siwa tidak langsung diterima di Siwa Loka, tetapi sebelummnya dicatat terlebih dahulu oleh rencangan beliau yang bernama Sang Suratma, yang tugas utamanya adalah mencatat segala perilaku manusia ketika hidup di dalam manusia. Kemudian Yama Bala menghantarkan sang atma ke tempat khusus yang disebut dengan Tegal Penangsaran. Tempat dengan beragam kondisi sebagai tempat atma menerima perlakuan sesuai dengan kelakuannya di dunia. Ada tempat yang panas bara, menyakitkan, mengerikan, dll. Di tempat ini tidak terdapat tumbuhan, kecuali pohon-pohon yang berisi benda-benda tajam serta benda lainnya yang digunakan untuk memberikan hukuman kepada para atma.

Dalam naskah Tattwa Jnana, Hyang Siwa bersifat sadar (cetana) yang bersifat tak sadar (acetana). Pada saat beliau bersifat sadar, maka beliau memiliki hakiki sejati sebagia Siwa (Siwa Tattwa), sedangkan pada saat beliau tak sadar, maka beliau bersifat maya sesuai murthi beliau, yang digelari maya tattwa. Dalam sifat beliau sebagai cetana atau Siwa Tattwa, maka beliau meliputi Paramasiwattatwa, Sadasiwatattwa, dan Atmikatattwa. Yang utama adalah kemahakuasaan beliau yang disebut dengan cadu sakti. Dengan cadu sakti inilah beliau Hyang Siwa sebagai Banaspati, Yama, Sang Suratma dan Yama Raja, telah memerankan tugas sesuai murthi beliau.

Beliau memiliki kemahakuasaan yang dasyat yakni dapat mendengarkan segala ciptaan (durasrawana), maha melihat (duradarsana), sehingga beliau tidak dapat dibohongi dalam murtinya sebagai Banaspati, Yama Raja, Sang Suratma, dan Yamadipati.

Semua atma yang hadir untuk menghadap Hyang Siwa di Siwaloka, maka terlebih dahulu diterima oleh rencang beliau, termasuk juga para cikrabala Hyang Siwa. Setelah semua tuntas proses penerimaan, pencatatan, pemberian hukuman, maka sebagai pemutus utama adalah Hyang Siwa, apakah diterima di alam niskala atau tidak. Apabila perbuatannya baik, maka ia akan diterima di swarga. Namun demikian, masih ada lagi yang wajib dilunasi yakni adanya dosa-dosa yang luas. Maka pada saat itulah sang atma dikembalikan ke alam manusia (menjelma) dinamai swargasyuta.

Oleh Ahmad Prajoko

sumber http://www.parissweethome.com

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori