Oleh: Gusti Sudiartama | Januari 5, 2011

Kelahiran Manusia Mempunyai Saudara Empat

Dalam Kanda Pat diceritakan kelahiran manusia mempunyai saudara sebanyak empat yang terdiri dari Anggapati, Prajapati, Banaspati, dan Banaspatiraja. Pada usia kehamilkan enam bulan terbentuklah empat saudara yakni Babu Lembana, Babu Abra, Babu Ugian, Babu Kekered. Pada umur kehamilan sepuluh bulan lahirlah sang bayi beserta saudaranya yakni ari-ari disebut Sang Anta, tali pusar (Sang Preta), darah (Sang Kala), air ketuban (Sang Dengen). Keempat saudara ini yang memelihara semasih dalam kandungan. Ketika lahir keempat saudara tersebut berpisah dan berganti nama menjadi I Salahir (Anta), I Makahir (Preta), I Mekahir (Kala), dan I Salabir (Dengen), sedangkan badan manusia sendiri disebut dengan I Legaprana. Keempat saudara yang telah terpisah tersebut masih saling ingat satu sama lain. Kemudian kira-kira selama empat tahun kemudian, keempat saudara tersebut saling melupakan, dan menjelajahi dunianya sendiri-sendiri. I Salahir ke timur berganti nama menjadi Sang Hyang Anggapati, I Makahir ke selatan berganti nama menjadi Sanghyang Prajapati, I Mekahir ke barat menjadi Sanghyang Banaspati, I Salabir ke utara menjadi Sanghyang Banaspatiraja.

Kemudian keempat saudara tersebut dengan kuat melakukan tapa – yasa dan berganti nama lagi. Anggapati bergelar Bagawan Penyarikan berkedudukan di timur, sedangkan di badan manusia tempatnya di kulit. Prajapati bergelar Bagawan Mercukunda berkedudukan di selatan, dalam tubuh manusia letaknya di daging. Banaspati menjadi Bagawan Shindu Pati berkedudukan di Barat, dalam tebuh manusia tempatnya di urat. Banaspatiraja menjadi Bagawan Tatul, berkedudukan di utara, dalam tubuh manusia tempatnya di tulang.

Dan terakhir, berkat tapanya yang teguh, saudara empat tersebut mendapat julukan : Anggapati mendapat julukan Sang Suratma, Sang Prajapati berjuluk Sang Jogormanik, Sang Banaspati menjadi Sang Dorakala, dan Sang Banaspatiraja mendapat julukan Sang Maha Kala. Ini dalam Kanda Pat Rare.

Dalam mitologi disebutkan bahwa ketika Dewi Uma telah kembali ke Siwa Loka, maka yang tinggal di dunia adalah perwujudan beliau dengan segala sifatnya. Jasad ini kemudian oleh Dewa Brahma dihidupkan dan menjadi empat tokoh yang disebut dengan catur sanak, yakni : Anggapati menghuni badan manusia dan mahluk lainnya. Ia berwenang mengganggu manusia yang keadaannya sedang lemah atau dimasuki nafsu angkara murka. Mrajapati sebagai penghuni kuburan dan perempatan agung. Ia berhak merusak mayat yang ditanam melanggar waktu/dewasa. Juga ia boleh mengganggu orang yang memberikan dewasa yang bertentangan dengan ketentuan upacara. Banaspati menghuni sungai, batu besar. Ia berwenang mengganggu atau memakan orang yang berjalan ataupun tidur pada waktu-waktu yang dilarang oleh kala. Misalnya tengai tepet atau sandikala. Banaspatiraja, sebagai penghuni kayu-kayu besar seperti kepuh, bingin, kepah, dll yang dipandang angker. Dia boleh memakan orang yang menebang kayu atau naik pohon pada waktu yang terlarang oleh dewasa. Itu termuat dalam lontar Kanda Pat.

Dalam kanda pat Buta disebutkan bahwa Anggapati berarti kala atau nafsu di badan kita sendiri. Merajapati berarti penguasa Durga setra gandamayu. Banaspati diwujudkan berupa jin, setan, tonya sebagai penjaga sungai, jurang atau tempat kramat. Dan Banaspatiraja diwujudkan dalam bentuk barong sebagai penguasa kayu besar atau hutan. Sebagai tambahan bahwa kalau di Jawa sering disebut dengan Banaspati, yakni raksasa yang berkepala merah.

Barong berasal dari kata beruang (binatang hutan), kemudian berkembang menjadi Barung yang artinya berjalan beriringan. Seperti misalnya gambelan mebarung, artinya gambelan yang berjejer atau berbarengan. Jadi perkembangan kata barong menjadi beruang menjadi barung dan bareng, maka dapat kita artikan di sini adalah barong merupakan perwujudannya sebagai binatang hutan (beruang), dan fungsinya di dalam kehidupan social masyarakat Bali adalah sebagai beriringan atau berbarengan. Yang lebih luas kita artikan sebagai simbolisasi dari persatuan dan kesatuan masyarakat. Jadi barong juga sebagai lambang pemersatu.

Apabila kita dapat memahami hakekat dan mendalami dari ajaran kanda pat ini maka akan dapat meningkatkan kemampuan spiritual dan supranatural dari manusia itu sendiri.

Banaspati sesungguhnya gelar Hyang Siwa, yang mengendalikan kehidupan. Dimana segala kehidupan adalah ciptaan beliau. Banaspati sering digambarkan sebagai dewa yang seram yang mengerikan. Beliau juga yang menentukan nasib hidup dan kehidupan semua ciptaannya (sarwa bhutesu). Bilamana beliau dalam menjalankan tugas dan fungsinya maka beliau sebagai sosok yang tegas, seram, berlaku cepat, adil dan penentu segalanya. Dalam hal tugas untuk memberikan keadilan, maka beliau bergelar Hyang Yama, memiliki tugas mulia sebagai penegak keadilan. Dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh para tenaga andal (rencang) yakni Yama Bala. Tugas utama para Yama Bala adalah untuk menjemput dan memberikan tempat yang pas bagi para atma yang ingin menghadap Hyang Siwa.

Para atma yang baru hadir untuk menghadap Hyang Siwa tidak langsung diterima di Siwa Loka, tetapi sebelummnya dicatat terlebih dahulu oleh rencangan beliau yang bernama Sang Suratma, yang tugas utamanya adalah mencatat segala perilaku manusia ketika hidup di dalam manusia. Kemudian Yama Bala menghantarkan sang atma ke tempat khusus yang disebut dengan Tegal Penangsaran. Tempat dengan beragam kondisi sebagai tempat atma menerima perlakuan sesuai dengan kelakuannya di dunia. Ada tempat yang panas bara, menyakitkan, mengerikan, dll. Di tempat ini tidak terdapat tumbuhan, kecuali pohon-pohon yang berisi benda-benda tajam serta benda lainnya yang digunakan untuk memberikan hukuman kepada para atma.

Dalam naskah Tattwa Jnana, Hyang Siwa bersifat sadar (cetana) yang bersifat tak sadar (acetana). Pada saat beliau bersifat sadar, maka beliau memiliki hakiki sejati sebagia Siwa (Siwa Tattwa), sedangkan pada saat beliau tak sadar, maka beliau bersifat maya sesuai murthi beliau, yang digelari maya tattwa. Dalam sifat beliau sebagai cetana atau Siwa Tattwa, maka beliau meliputi Paramasiwattatwa, Sadasiwatattwa, dan Atmikatattwa. Yang utama adalah kemahakuasaan beliau yang disebut dengan cadu sakti. Dengan cadu sakti inilah beliau Hyang Siwa sebagai Banaspati, Yama, Sang Suratma dan Yama Raja, telah memerankan tugas sesuai murthi beliau.

Beliau memiliki kemahakuasaan yang dasyat yakni dapat mendengarkan segala ciptaan (durasrawana), maha melihat (duradarsana), sehingga beliau tidak dapat dibohongi dalam murtinya sebagai Banaspati, Yama Raja, Sang Suratma, dan Yamadipati.

Semua atma yang hadir untuk menghadap Hyang Siwa di Siwaloka, maka terlebih dahulu diterima oleh rencang beliau, termasuk juga para cikrabala Hyang Siwa. Setelah semua tuntas proses penerimaan, pencatatan, pemberian hukuman, maka sebagai pemutus utama adalah Hyang Siwa, apakah diterima di alam niskala atau tidak. Apabila perbuatannya baik, maka ia akan diterima di swarga. Namun demikian, masih ada lagi yang wajib dilunasi yakni adanya dosa-dosa yang luas. Maka pada saat itulah sang atma dikembalikan ke alam manusia (menjelma) dinamai swargasyuta.

Oleh Ahmad Prajoko

sumber http://www.parissweethome.com

Oleh: Gusti Sudiartama | Januari 4, 2011

2010 in review

The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here’s a high level summary of its overall blog health:

Healthy blog!

The Blog-Health-o-Meter™ reads Fresher than ever.

Crunchy numbers

Featured image

A helper monkey made this abstract painting, inspired by your stats.

A Boeing 747-400 passenger jet can hold 416 passengers. This blog was viewed about 2,600 times in 2010. That’s about 6 full 747s.

 

In 2010, there were 19 new posts, growing the total archive of this blog to 37 posts. There were 39 pictures uploaded, taking up a total of 14mb. That’s about 3 pictures per month.

The busiest day of the year was January 14th with 68 views. The most popular post that day was Puja Mantra Siwaratri.

Where did they come from?

The top referring sites in 2010 were facebook.com, id.wordpress.com, google.co.id, lintasberita.com, and ads.masbuchin.com.

Some visitors came searching, mostly for sundarigama, mantra siwaratri, manusa yadnya, hari kiamat menurut hindu, and lontar kanda pat.

Attractions in 2010

These are the posts and pages that got the most views in 2010.

1

Puja Mantra Siwaratri May 2009

2

Upacara Manusa Yadnya November 2009

3

DOA dan MANTRAM May 2009

4

Pustaka Lontar July 2010

5

Cara Mendekatkan Diri Dengan KANDAPAT November 2009

Oleh: Gusti Sudiartama | Januari 2, 2011

Tatacara Pelaksanaan Upacara Siwaratri

  1. Pengertian.
    Siwaratri adalah hari suci untuk melaksanakan pemujaan ke hadapan Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa dalam perwujudannya sebagai Sang Hyang Siwa. Hari Siwaratri mempunyai makna khusus bagi umat manusia, karena pada hari tersebut Sang Hyang Siwa beryoga. Sehubungan dengan itu umat Hindu melaksanakan kegiatan yang mengarah pada usaha penyucian diri, pemusatan pikiran ke hadapan Sang Hyang Siwa, dalam usaha memunculkan kesadaran diri (atutur ikang atma ri jatinya). Hal itu diwujudkan dengan pelaksanaan brata berupa upawasa, monabrata dan jagra. Siwarâtri juga disebut hari suci pajagran.
  1. Waktu Pelaksanaan.
    Siwarâtri jatuh pada hari Catur Dasi Krsna paksa bulan Magha (panglong ping 14 sasih Kapitu).
  2. Brata Siwarâtri.
    Brata Siwarâtri terdiri dari: 

    1. Utama, melaksanakan:
      1. Monabrata (berdiam diri dan tidak berbicara).
      2. Upawasa (tidak makan dan tidak minum).
      3. Jagra (berjaga, tidak tidur).
    2. Madhya, melaksanakan:
      1. Upawasa.
      2. Jagra.
    3. Nista, hanya melaksanakan:
      Jagra.
  3. Tata cara melaksanakan Upacara Siwarâtri.
    1. Untuk Sang Sadhaka sesuai dengan dharmaning kawikon.
    2. Untuk Walaka, didahului dengan melaksanakan sucilaksana (mapaheningan) pada pagi hari panglong ping 14 sasih Kapitu. Upacara dimulai pada hari menjelang malam dengan urutan sebagai berikut:
      1. Maprayascita sebagai pembersihan pikiran dan batin.
      2. Ngaturang banten pajati di Sanggar Surya disertai persembahyangan ke hadapan Sang Hyang Surya, mohon kesaksian- Nya.
      3. Sembahyang ke hadapan leluhur yang telah sidha dewata mohon bantuan dan tuntunannya.
      4. Ngaturang banten pajati ke hadapan Sang Hyang Siwa. Banten ditempatkan pada Sanggar Tutuan atau Palinggih Padma atau dapat pula pada Piasan di Pamerajan atau Sanggah. Kalau semuanya tidak ada, dapat pula diletakkan pada suatu tempat di halaman terbuka yang dipandang wajar serta diikuti sembahyang yang ditujukan kepada:
        – Sang Hyang Siwa.
        – Dewa Samodaya.
        Setelah sembahyang dilanjutkan dengan nunas tirta pakuluh. Terakhir adalah masegeh di bawah di hadapan Sanggar Surya.
      5. Sementara proses itu berlangsung agar tetap mentaati upowasa dan jagra.
        Upawasa berlangsung dan pagi hari pada panglong ping 14 sasih Kapitu sampai dengan besok paginya (24 jam).
        Setelah itu sampai malam (12 jam) sudah bisa makan nasi putih berisi garam dan minum air putih.
        Jagra yang dimulai sejak panglong ping 14 berakhir besok harinya jam 18.00 (36 jam).
      6. Persembahyangan seperti tersebut dalam nomor 4 di atas, dilakukan tiga kali, yaitu pada hari menjelang malam panglong ping 14 sasih Kapitu, pada tengah malam dan besoknya menjelang pagi  sumber:            http://www.Babadbali.com
Oleh: Gusti Sudiartama | Desember 25, 2010

PURA

SUDAH SANGAT UMUM dibicarakan, bahwa pura adalah semacam benteng; bahwa benteng-pura itu adalah tubuh ini sendiri; bahwa tubuh ini adalah alam semesta; bahwa alam semesta adalah ciptaanNya; bahwa -Nya adalah Aku; bahwa Aku adalah jiwa; bahwa jiwa adalah hidup; bahwa hidup adalah Amrta; bahwa Amrta adalah yang tidak mati-mati! 

APA YANG tidak mati-mati?

AMRTA tidak mati-mati, karena menunut ilmu etimologi, a- berarti tidak, mrta berarti mati. Aksara juga tidak mati-mati, karena a- berarti tidak, dan ksara berarti musnah. Yang tidak bisa dimuskahkan, tidak akan mati-mati. Tokoh utama kakawin Sumanasantaka, Sang Aja, juga tidak mati-mati, karena a- berarti tidak, -ja berarti dilahirkan, atau keturunan. Yang tidak dilahirkan tidak akan mati-mati. Dan masih banyak lagi yang menurut cerita dan menurut tattwa dikatakan tidak akan mati, alias hidup terus, alias abadi.

DEFINISI mati menjadi tidak lagi jelas. Tidak beda dengan kasus tubuh sebagai sebuah pura. Tubuh bisa mati, sedangkan Atma yang ada di dalam tubuh konon tidak mati-mati. Begitu pula pura bisa hancur, sedangkan Ia yang dipuja di pura itu konon tidak akan hancur-hancur. Artinya, benteng bisa musnah, sedangkan yang dibentengi tidak termusnahkan.

Kalau begitu, sebenarnya siapa membentengi siapa? Yang akan musnah membentengi yang tidak akan termusnahkan? Aneh. Tidak masuk akal, bila sebuah pura dianggap membentengi para dewa, justru karena pura bisa hancur sedangkan dewa tidak.

LOGIKA memang bisa dibulak-balik. Dan justru membalikkan logika adalah salah satu teknik dasar yang diajarkan oleh agama mistis untuk bisa mencapai level mistis yang lebih tinggi, atau lebih dalam. Walaupun demikian, tidak setiap orang berani membalikkan pikirannya untuk melihat realitas lain yang berbeda dengan realitas keseharian. Tidak juga banyak praktisi yang berani membuat eksperimen membalikkan pembacaan mantra dari belakang ke depan, atau dari kanan ke kiri, untuk mendapatkan efek yang berbeda. Keberanian seperti itu hanya tertinggal dalam cerita lawas, ketika para Mpu Dang Hyang membuat eksperimen dengan hidupnya. Jika keberanian itu sekarang tidak lagi ada, barangkali karena sudah lain kemauan zaman. Biarkanlah. Biarkan saja.

ADA SEBUAH PURA penuh dengan rasa amla di dalamnya. Pura itu lokasinya tersembunyi. Pura itu konon ada dalam posisi terbalik, yaitu mengadap ke bawah, ke tanah. Agar bisa membalikkan posisi Pura tersembunyi di dasar gunung itulah, maka logika harus dibalik. Dari posisi menghadap ke tanah, pura itu dibalikkan agar menghadap ke langit. Dalam posisi menghadap ke atas itulah konon pura itu akan bisa difungsikan. Dalam bahasa yoga, pura Amla itu ada di dasar meru Kundalini, atau Gunung Agung dalam diri.

Tentang apa pula semua itu? Apakah ini sebuah teka-teki sungguhan, atau permainan puzzle beneran? Atau, itu sebuah pandangan yang konon bisa dibuktikan kebenarannya kalau mempercayainya. Kalau tidak meyakininya, maka pura Amla itu tidak akan ada, dan dengan sendirinya tidak akan ditemukan.

Orang umumnya akan meyakini sesuatu kalau sudah mengalaminya. Tapi untuk berhasil mengalaminya, orang terlebih dahulu harus meyakininya. Persis seperti rasa bhakti dan bhukti. Orang akan bhakti kalau sudah membuktikan. Tapi mereka akan bisa membuktikan kalau terlebih dahulu membayarnya dengan rasa bhakti. Ini bukan masalah ayam dan telor. Ini masalah keyakinan dan pandangan yang berhubungan dengan tujuan. Mau ke mana siapa kamu?

JALAN MENUJU pura Amla dan jalan menuju Amlapura jelas berbeda. Tidak usah dibicarakan macam apa perbedaannya. Karena perbedaan, termasuk juga persamaan, hanyalah cara seseorang menjelaskan sesuatu. Dan kita sudah banyak sekali memiliki, menyimpan, dan mengoleksi penjelasan-penjelasan. Ada penjelasan dari leluhur, ada penjelasan dari guru agama, ada penjelasan dari pengalaman orang-orang seperjalanan, dan seterusnya. Cukup sampai di sana dharma wacananya. Yang kita perlukan sekarang adalah action.

KE LUAR PERPUSTAKAAN sesudah selesai membaca, dan ke luar dari pura sesudah selesai sembahyang, orang berjalan menuju rumahnya. Pangkal lidahnya berair, karena ternyata tanpa disadarinya, ia merindukan rasa asem yang Amla itu. Jakun di lehernya naik-turun. Air liur pun ditelannya. Sudah lama tak merasakan bukan manis, bukan pahit, bukan pedas, tapi justru asem. Bukan pedas, bukan manis, bukan pahit, bukan asin yang menggerakkan air liur, tapi asem. Di antara semua rasa yang berasal dari daratan, asem itulah utamanya.

JIKA RASA ASIN adalah satu-satunya yang berasal dari laut, maka asem adalah wakil dari daratan. Dan mengapa pula tetua dulu bernyanyi seperti berikut ini: ”asem di gunung dan asin di laut bertemu dalam kuali?” Pengalaman macam apa yang menyebabkan ungkapan itu terlahir? Semakin ditelusuri semakin tidak sampai. Sampai kapan? Sampai di mana? Dan kenapa harus sampai?

TERNYATA kita memang harus berbicara buka-bukaan tentang apa kata pustaka hati kita tentang sampai itu. Banyak orang tidak sampai karena memang tidak ke mana-mana. Banyak juga yang tidak sampai karena terus mencari dan mencari. Keduanya sama. Tapi keduanya pasti tidak sama.

ibm. dharma palguna

Bali Post,Senin, 01 Agustus 2010
Oleh: Gusti Sudiartama | Desember 21, 2010

Kerja dengan motif Kepentingan diri sendiri

Manusia setingkat lebih tinggi dari binatang. Kalau binatang bekerja karena dorongan instink semata, maka manusia bekerja kareja motifasi dari pikirannya. Sebagian besar manusia berbuat  demi kepentingannya sendiri, dimana “aku” sebagai subjek. bekerja demi untuk “aku”  sering disebut ahamkara. Aham artinya saya kara atinya berbuat. “aku’ ini sangat sulit untuk dikendalikan, keinginannya sangat tidak terbatas.

Hanya cinta kasih yang bisa melembutkan “aku” ini. Cinta kepada kekasih, cinta kepada istri,  cinta kepada keluarga mampu mengendorkan cengkeraman “aku” ini tapi belum bisa mengikis habis, karena kekasih,istri anak, keluarga masih merupakan bagian dari “aku”.

Selama”aku” masih berkuasa  maka suka dan duka akan selalu menjadi teman. Akibat lanjutannya adalah marah dan benci serta iri,  sebagai ekses ketidakmampuan “aku” memperoleh kepuasan. Ketidaksadaran bahwa  dunia ini hanya bisa memberi kesenangan sementara menyebabkan orang bersedia menjadi budak terhadap benda/ materi.

Arjuna setelah melihat gurunya Bhagawan Drona dan kakeknya yang sangat ia hormati berperang di pihak korawa, hatinya menjadi kecut, tidak sampai hatinya untuk membunuh orang-orang yang ia hormati. Terpikir olehnya adakah dosa yang lebih besar lagi dari membunuh guru dan kakek sendiri?

Sikap hormat kepada guru dan kakek itu adalah perbuatan yang baik, tetapi Sri Kresna menunjukkan bahwa ada kebaikan yang lebih tepat lagi yang ditentukan oleh waktu, tempat dan keadaan. Saat itu adalah waktu berperang, hanya ada dua pilihan yaitu membunuh dan dibunuh. Dimedan perang tidak ada guru dan murid tidak ada cucu dan kakek  yang ada hanya kawan atau lawan. Tugas arjuna saat itu adalah berperang memberantas musuh dan memenangkan perang tidak peduli siapa musuh itu.

Jelaslah dari banyaknya kebenaran-kebenaran orang harus memilih kebenaran yang paling tepat. Waktu, tempat dan keadaan adalah salah satu pegangan untuk menilai kebenaran. Pegangan  yang lain adalah motifasi dari melakukan perbuatan itu, suatu perbuatan dengan motif keuntungan pribadi tentu tidak ada pembenaran, sedangkan perbuatan dengan motif kepentingan umum atau orang banyak serta untuk kebaikan orang lain pastilah mulia.

Lantas siapakah yang paling tahu motifasi ini?.. tentu orang lain hanya mampu menilai perbuatan kita dari norma-norma bahkan sangat mungkin dari kepentingan orang tersebut.  Kalau dianggap menguntungkan dirinya akan dianggap perbuatan baik, kalau merugikan dirinya kan disebut tidak baik bahkan sesat.    Hanya diri sendirilah yang paling tahu..  apakah perbuatan itu memang mempunyai motifasi yang benar-benar murni untuk kebaikan orang lain atau disusupi oleh kepentingan diri sendiri?

Sumber:  Pengantar Agama Hindu oleh Cudamani.

 

Oleh: Gusti Sudiartama | Desember 20, 2010

Puja Brahma di Andakasa

Katuturaning usana Bali: ”Cinaritaken tingkahing bumi Bali, hana gunung CaturLoka Pala, nga, nanging tingkahing gunung ika marapat, luwire maring pruwa Gunung Lempuhyang nga, pangastanan Ida Bhatara Agni Jaya, maring pascima Gunung Bheratan nga, pangastanan Ida Bhatara Watukaru, maring utara Gunung Mangu nga, pangastanan Ida Hyang Dhenawa, maring Daksina Gunung Andakasa nga, pagastanan Ida Hyanging Tugu. (Kutipan Lontar Usana Bali).

Maksudnya:
Inilah keterangan Usana Bali menceritarakan keadaan bumi Bali ada Gunung Catur Loka Pala namanya. Letaknya di keempat penjuru yaitu di timur Gunung Lempuhyang stana Ida Batara Agni Jaya, di barat Gunung Bheratan stana Batara Watukaru, di utara Gunung Mangu stana Batara Hyang Dhenawa, di selatan Gunung Andakasa namanya stana Hyanging Tugu.

Pura Andakasa adalah pura kahyangan jagat yang terletak di Banjar Pakel Desa Gegelang Kecamatan Manggis, Karangasem. Pura ini didirikan atas konsepsi Catur Loka Pala dan Sad Winayaka. Pura yang didirikan berdasarkan konsepsi Catur Loka Pala adalah empat pura sebagai media pemujaan empat manifestasi Tuhan untuk memotivasi umat mendapatkan rasa aman atau perlindungan atas kemahakuasaan Tuhan. Keempat pura itu dinyatakan dalam kutipan Lontar Usana Bali di atas. Mendapatkan rasa aman (raksanam) dan mendapatkan kehidupan yang sejahtera (danam) sebagai kebutuhan dasar masyarakat yang wajib diupayakan oleh para pemimpin atau kesatria. Demikian dinyatakan dalam Manawa Dharmasastra I.89.

Usaha manusia itu tidak akan mantap tanpa disertai dengan doa pada Tuhan. Memanjatkan doa pada Tuhan untuk mendapatkan rasa aman (raksanan) di segala penjuru bumi itulah sebagai latar belakang didirikannya Pura Catur Loka Pala di empat penjuru Bali. Di arah selatan didirikan Pura Andakasa sebagai tempat pemujaan Batara Hyanging Tugu. Hal ini juga dinyatakan dalam Lontar Babad Kayu Selem. Sedangkan dalam Lontar Padma Bhuwana menyatakan: ”Brahma pwa sira pernahing daksina, pratistheng kahyangan Gunung Andakasa.” Artinya Dewa Brahma menguasai arah selatan (daksina) yang dipuja di Pura Kahyangan Gunung Andakasa.

Yang dimaksud Hyanging Tugu dalam Lontar Usana Bali dan Babad Kayu Selem itu adalah Dewa Brahma sebagai manifestasi Tuhan dalam fungsinya sebagai pencipta.

Pura Andakasa juga salah satu pura yang didirikan atas dasar konsepsi Sad Winayaka untuk memuja enam manifestasi Tuhan di Pura Sad Kahyangan. Memuja Tuhan di Pura Sad Kahyangan untuk memohon bimbingan Tuhan dalam melestarikan sad kertih membangun Bali agar tetap ajeg — umatnya sejahtera sekala-niskala. Membina tegaknya Sad Kertih itu menyangkut aspek spiritual yaitu atma Kertih. Yang menyangkut pelestarian alam ada tiga yaitu samudra kertih, wana kertih dan danu kertih yaitu pelestarian laut, hutan dan sumber-sumber mata air. Sedangkan untuk manusianya meliputi jagat kertih membangun sistem sosial yang tangguh dan jana kertih menyangkut pembangunan manusia individu yang utuh lahir batin.

Jadinya pemujaan Tuhan Yang Mahaesa dengan media pemujaan dalam wujud Pura Catur Loka Pala dan Sad Winayaka untuk membangun sistem religi yang aplikatif. Sistem religi berupaya agar pemujaan pada Tuhan Yang Maha Esa itu dapat berdaya guna untuk memberikan landasan moral dan mental.

Pura Andakasa dalam kesehariannya didukung oleh dua desa pakraman yaitu Desa Pakraman Antiga dan Gegelang. Menurut cerita rakyat di Antiga didapatkan penjelasan bahwa pada zaman dahulu di Desa Antiga ada tiga butir telur jatuh dari angkasa. Tiga telur tersebut didekati oleh masyarakat. Tiba-tiba telur itu meledak dan mengeluarkan asap. Asap itu berembus dari Desa Antiga menuju tiga arah. Ada yang ke barat daya, ke barat laut dan ke utara. Masyarakat Desa Antiga mendengar adanya sabda atau suara dari alam niskala. Sabda itu menyatakan bahwa asap yang mengarah ke barat daya desa adalah Batara Brahma. Sejak itu bukit itu bernama Andakasa sebagai tempat pemujaan Batara Brahma. Asap yang ke barat laut desa adalah Batara Wisnu menuju Bukit Cemeng didirikan Pura Puncaksari. Asap yang menuju ke utara desa adalah perwujudan Batara Siwa dipuja di Pura Jati. Tiga pura di tiga bukit itulah sebagai arah pemujaan umat di Desa Antiga dan Desa Gegelang.

Pemujaan Batara Brahma di Pura Andakasa ini dibangun di jejeran pelinggih di bagian timur dalam bentuk Padmasana. Di bagian jeroan atau pada areal bagian dalam Pura Andakasa di jejer timur ada empat padma. Yang paling utara adalah disebut Sanggar Agung, di sebelah selatannya ada pelinggih Meru Tumpang Telu. Di selatan meru tersebut ada padmasana sebagai pelinggih untuk memuja Dewa Brahma atau Hyanging Tugu. Di sebelah selatan pelinggih Batara Brahma ada juga dua padmasana untuk pelinggih Sapta Petala dan Anglurah Agung.

Upacara pujawali atau juga disebut piodalan di Pura Andakasa diselenggarakan dengan menggunakan sistem tahun wuku. Hari yang ditetapkan sejak zaman dahulu sebagai hari pujawali di Pura Andakasa adalah setiap hari Anggara Kliwon Wuku Medangsia. Di samping ada pujawali setiap 210 hari, juga diselenggarakan upacara pecaruan setiap Anggara Kliwon pada wuku Perangbakat, wuku Dukut dan wuku Kulantir.

Setiap pujawali di Pura Andakasa pada umumnya diadakan upacara melasti ke Segara Toya Betel di Desa Pengalon. Tujuan melasti ini adalah untuk lebih menguatkan dan memantapkan umat dalam menyerap vibrasi kesucian Ida Batara di Pura Andakasa. Tujuan utama melasti menurut Sundarigama adalah anganyutaken laraning jagat, papa klesa, letuhing bhuwana. Artinya mengatasi penderitaan rakyat, menghilangkan kekotoran (klesa) diri dan untuk menyucikan alam lingkungan dari pencemaran.

1 Piyasan
Meru Tumpang-5
2 Gedong Sari
3 Lingga Jineng
4 Taksu Seluang
5 Limas Saru
6 Gedong TUmpang-2
7 Sanggar Agung Padmasana
8 Meru TUmpang-3
9 Batara Hyang Tugu
10 Sapta Patala
11 Ngelurah Agung
12 Bale Panggungan
13 Bale Jajar Lumbung
14 Bali Pasaji
15 Pengaruman
16 Bale Piyasan
17 Bale Pasanekan
18 Pamedal
19 Pamedal Paletasan
20 Taru Kuang
(Ficus Superba (Miq.)
21 Pamedal Jeroan
a Apit Lawang
24 Wantilan lan Bale Gong
25 Bale Pewaregan / Paebatan
26 Bale Kulkul
27 Pamedal Jabaan

I Ketut Gobyah

Seperti di kutip dari  babadbali.

Oleh: Gusti Sudiartama | Desember 20, 2010

Sungai dan Orang Arti Menyeberang

ADA sebuah sungai besar membelah Tabanan dari Batukaru sampai ke laut, bernama sungai Ho. Orang-orang yang desanya dilewati aliran sungai itu fasih menyebutnya Yeh Ho.

Dahulu sungai Ho sering menghanyutkan manusia yang menyeberanginya dengan berjalan kaki. Dan orang-orang yang dihanyutkannya itu, anehnya, sering tidak berhasil ditemukan mayatnya.

Karena tidak ditemukan, orang pun tidak tahu apakah mayat-mayat itu sampai ke laut, atau tersangkut di sela-sela jepitan batu-batu besar yang memenuhi sungai, atau disembunyikan oleh makhluk-makhluk halus yang konon dipercaya banyak berumah di sungai Ho itu.

BAHKAN KONON dalam satu kasus yang saya dengar sekitar akhir tahun enampuluhan, satu desa sepakat untuk menggunakan jasa leak untuk mencari di mana kira-kira mayat itu tersangkut. Sekadar diketahui, konon dalam hal permayatan leak punya penciuman sangat tajam, barangkali setajam anjing pelacak narkoba. Sayangnya saya sendiri tidak sempat mendengar kelanjutannya, apakah para leak itu berhasil mendeteksi posisi mayat atau tidak.

MAKLUMLAH ketika itu saya tidak lebih seorang anak usia bawah lima tahun.

Yang masih saya ingat orang-orang pun kemudian beramai-ramai menciptakan berbagai cerita tentang keangkeran sungai itu. Ada yang mengatakan begini, ada yang menambahkan begitu, ada yang membubuhi anu, ada yang memoles dengan aneka keseraman kene dan keto, ada yang menyebarkan cerita itu dari rumah ke rumah, dan seterusnya entah apa lagi. Mereka bergotong-royong menciptakan cerita untuk kepuasan batin mereka sendiri yang memang haus akan santapan rohani jenis itu. Apalagi yang bisa mereka lakukan karena semua cerita itulah merupakan penjelasan paling masuk ”masuk akal” dalam dunia mereka.

DARI SEKIAN banyak versi cerita yang mereka buat, orang-orang sepakat bahwa keangkeran sungai itulah yang menjadi sebab utama, mengapa mayat-mayat itu tidak berhasil ditemukan. Angker adalah sebuah kata yang ampuh untuk menyelesaikan diskusi yang tidak menemukan ujungnya itu.

Sekarang saya tidak tahu apakah sungai Ho itu masih ”senang” menyeret dan menghilangkan nyawa dan tubuh manusia. Karena sekarang saya hanya melihat sungai itu pada sebuah peta pulau Bali. Keangkerannya tentu saja tidak bisa saya rasakan pada sebuah peta. Karena sebuah peta tidak dilengkapi dengan aneka cerita. Sungai Ho dalam peta Pulau Bali nampak seperti seekor cacing tanah sedang menggeliat kepanasan. Kesan angker tidak nampak pada cacing tanah itu.

Mengapa mesti sungai, dan mengapa justru Ho?

SUNGAI dan manusia memiliki hubungan yang kompleks. Contohnya, Sidharta yang kemudian menjadi Sang Buddha pernah diseberangkan melewati sebuah sungai besar. Di atas sungai itu konon ia ”melihat” realita yang berbeda dengan apa yang dimengertinya sebagai realita sehari-hari. Ia membuktikan bahwa sungai tidak hanya menjadi sarana penyeberangan fisik, tapi ternyata juga menjadi sarana penyeberangan batin. Masih banyak lagi contoh cerita seperti itu di dalam khasanah sastra kita. Dan untuk contoh seperti itu, kita tidak perlu mencarinya jauh-jauh.

ORANG-ORANG di beberapa desa di Tabanan juga memiliki hubungan yang kompleks dengan sungai Ho. Jangankan kompleksitas hubungan mereka, arti kata ho saja tidak mudah dijelaskan dan dipahami.

Apa arti Ho itu?

Orang-orang yang sehari-hari melintasi sungai Ho tidak bertanya apa arti kata ho terlebih dahulu, kemudian baru menyeberanginya.

BAGI MEREKA SUNGAI itu memisahkan tepi yang satu dengan tepi yang satunya lagi. Untuk menghubungkan kedua tepi itu mereka mesti bergerak dengan cara menyeberang. Berhasil tidaknya mereka menyeberang tidak tergantung apakah mereka tahu arti kata ho atau tidak.

SIAPA PERDULI arti selain folosuf, nabi-nabi dan para pengikut keduanya. Anak-anak tidak akan berkembang hidupnya bila harus tahu arti permainan terlebih dahulu sebelum mereka bermain. Kehidupan barangkali akan punah bila harus tahu apa arti hidup sebelum kita hidup.

SYUKURLAH ORANG-ORANG DESA ITU tidak seperti itu. Menyeberang dulu, dan setelah tiba di tepi yang dituju, di sana bolehlah merenungi arti. Sekenanya, sebisanya, sesempatnya. Tidak ada yang menyuruh, dan tidak ada juga yang melarang. Barangkali karena cara seperti itu, misteri hubungan sungai dan orang tidak buru-buru dipecahkan.

Untuk apa buru-buru memecahkan misteri?

TUHAN DISEMBAH berabad-abad karena Ia adalah Misteri. Bagaimana jadinya bila seandainya misteri Tuhan itu berhasil dipecahkan dan dikonsumsi secara massal?

Tuhan yang bukan misteri bukanlah Tuhan!

ibm. dharma palguna

disadur dari Bali Post  http://www.balipost.com

Oleh: Gusti Sudiartama | Desember 20, 2010

Pengantar Menuju Pintu…Jagat Kecil Sembilan Pintu…

KALAU ADA ORANG mengetuk pintu dari dalam, pertanda ia (sudah) ada di dalam ruangan. Tapi mengapa ia masih mengetuk? Mungkin ia terkunci dari luar. Ketukannya adalah panggilan minta tolong kepada dunia luar agar ada yang membukakan pintu untuknya. Ketika pintu terbuka, ia ke luar. Di luar sana mungkin ia bebas. Atau, bisa jadi ia akan terkunci untuk kedua kalinya. Di luar sana ia kembali dikurung oleh ruang besar yang mahaluas. Maka, kembalilah ia mengetuk dari dalam. Mengetuk bumi dari atas bumi. Mengetuk langit dari bawah langit. Ia berharap akan ada kekuatan yang akan membukakannya pintu bumi dan pintu langit. Untuk apa? Mungkin ia punya tujuan. Siapa yang memberi ia tujuan? Mungkin agamanya, mungkin tradisi di tempatnya hidup, mungkin obsesi pribadinya. Tujuan itu mungkin personal, mungkin institusional. 

PERJALANAN HIDUP barangkali oleh karena itu sering diibaratkan perjalanan dari satu ketukan ke ketukan yang lain. Irama lagu, irama tarian, irama nafas, irama jantung, dan sebagainya, juga sering ditandai dengan ketukan-ketukan. Ketukan itu menimbulkan bunyi. Bila orang menjadi sibuk menghitung jumlah ketukan, orang mungkin akan lupa pada tujuan.

SIAPA ITU YANG mengetuk dari dalam?

Yang mengetuk pintu dari dalam misalnya, anak ayam yang akan menetas dari telur yang sudah matang masa dikeram oleh induknya. Anak ayam itu mengetuk dari dalam dengan paruh kecilnya yang masih lemah. Ketukannya didengar oleh induknya. Maka datanglah pertolongan. Dengan hati-hati induknya mematuk dari luar. Ketika kulit telur itu pecah, anak ayam itu disebut bebas.

Meskipun lemah ketukan anak ayam itu pasti didengar juga oleh induknya. Dari induk itulah datangnya pertolongan yang menyebabkan usaha anak ayam di dalam ruang kecil berhasil menembus ruang besar. Dan memang tidak ada jaminan bahwa ia akan bebas setelah mengembara di ruang luas. Karena yang namanya ”bebas” adalah sesuatu yang berbeda dengan ketukan.

NASIB anak ayam itu tidak berbeda dengan nasib angin. Angin yang ada di dalam batang bambu juga mengetuk-ngetuk dari dalam, entah dengan apanya dari angin itu yang dipakai mengetuk. Lama angin itu mengetuk dan lama angin itu menunggu sampai akhirnya datang pertolongan. Panas matahari dan hembusan induk-angin menolongnya dengan cara dibuatnya bambu itu kering. Panas matahari dan induk-angin itu akhirnya menyebabkan batang bambu itu retak. Pada retakan itulah nampak ada ”pintu”, sehingga angin di dalam batang bambu menjadi ke luar.

PERGI KE LUAR dan bersatu kembali dengan induk-angin tidak serta merta berarti bebas. Angin di alam luas sering menjadi metafora tentang bayu (angin dalam diri) yang berhembus ke sana ke mari. Kumpulan sari bayu itu sering dijadikan metafora tentang atma yang mencari pintu untuk ke luar dari penjara tubuh dan bersatu kembali dengan induk-atma. Tidak setiap atma yang ke luar dari tubuh berarti menemukan apa yang disebut bebas. Ia hanya ke luar. Dan bebas adalah sesuatu yang lain lagi.

CONTOH ketukan dari dalam masih bisa diperpanjang. Sangat banyak hal yang bisa dijadikan contoh. Karena alam memang mengajarkan ilmu mengetuk dari luar bagi yang ingin masuk, dan mengajarkan pula ilmu mengetuk dari dalam bagi yang ingin ke luar karena terkunci di dalam.

BAIK KETUKAN dari luar maupun ketukan dari dalam, sama-sama memiliki tujuan yang relatif tidak berbeda. Menuju ruang yang lebih luas! Dalam dua contoh kasus di atas ruang yang luas itu diditandai pertemuan dengan Induk. Anak ayam bertemu dengan induknya. Angin dalam batang bambu bertemu dengan Induknya, yaitu angin yang ada di alam semesta. Induk dipahami ada di ruang yang luas.

PERSATUAN itu dalam bahasa rakyat disederhanakan dengan kata mulih, atau pulang. Sebelum sampai, orang akan menemukan pintu-pintu. Karena itulah ia

mengetuk dari luar. Tapi dalam bahasa Yoga yang berbasis pada level-level kesadaran, orang diibaratkan mengetuk pintu dari dalam dirinya. Karena dirinya (tubuhnya) itulah yang dipahami sebagai pintu, yang memisahkan dua dunia yang disebut luar dan dalam. Dalam sastra, tubuh itu disebut kelir, yang memisahkan wayang dari penonton dan dalangnya.

MASIH SANGAT PANJANG sebenarnya yang bisa kita omongkan tentang pintu, ketukan, dari dalam, dari luar. Banyak filosof memusatkan renungannya pada pintu. Banyak pula sastrawan yang menulis tentang kedalaman makna sebuah atau berapa buah pintu. Dalam sastra Bali sudah tidak asing lagi kalau tubuh manusia diibaratkan sebuah jagat kecil dengan sembilan pintu.

ITU BARU SEMBILAN pintu yang nampak dengan mata, dan bisa diraba dengan tangan. Jagat tubuh ini konon masih memiliki pintu-pintu rahasia lainnya. Umpamanya, ubun-ubun (Shiwadwara), pertengahan jidat (song langit), ujung hidung (tungtung ing ghrana), pusar (nabhi), ujung ibu jari kaki (ulu puhun) dan seterusnya. Melalui pintu-pintu rahasia itulah konon ”sesuatu” yang halus dan teramat halus ke luar masuk.

PINTU memang tempat ke luar dan masuk. Selain adanya pintu di jagat tubuh, jagat-semesta juga konon punya pintu-pintu, yang entah di mana itu. Konon para yogi yang benar-benar yogi mengetahui pintu-pintu jagat-semesta itu. Jadi kalau ingin tahu, jadilah seorang yogi yang benar-benar yogi. Kalau tidak sempat menjadi yogi karena kesibukan ini dan itu, tunggu saja sampai nanti ada yogi yang memberitahu.

Kalau benar jagat ini punya pintu, dan Bali adalah bagian dari jagat ini, maka tidak terlalu mengada-ada kalau orang bertanya: di manakah pintu-pintu ”rahasia” nusa Bali ini?

Pertanyaan itulah yang akan menggiring kita ke Jemberana, daerah yang menjadi topik kita bulan ini.

ibm dharma palguna

seperti dimuat di Bali Post  http://www.balipost.com

Oleh: Gusti Sudiartama | Desember 16, 2010

Yoga, Obat Pasti di Jaman Yang Tidak Pasti

Menurut Weda  jaman di dalam kehidupan manusia dikelompokan menjadai 4, yaitu Kerta Yuga atau Tirtha yuga,Treta Yuga, Dwapara Yuga, dan Kali Yuga. Dari ke empat jaman tersebut yang paling sering dibicarakan adalah jaman Kali Yuga. Banyak dari kita yang tidak mengerti, kenapa, kapan dan bagaimana jaman itu bisa beralih dari jaman yang satu ke jaman yang lainnya. Menurut pengamatan pedanda dan juga bersumber dari sastra – sastra agama yang pernah pedanda baca, sesungguhnya manusialah yang menyebabkan jaman itu berganti. Manusialah sebagai penentu kapan jaman Kali Yuga itu datang, kapan dia akan berakhir dan kapan jaman Kerta itu akan datang. Melalui tulisan ini pedanda ingin berbagi sebuah resep tentang bagaimana melewati jaman Kali Yuga ini.  Para leluhur kita telah memberi kita banyak sekali contoh, begitupula alam yang setiap saat memberi kita sinyal -sinyal, tetapi kita tidak mampu membaca contoh leluhur kita dan menangkap suara – suara alam.

Salah satu contoh yang pedanda kemukakan adalah tentang filsafat kepiting dan seekor belut. Suatu ketika saat pedanda memberikan dharma wacana di Pura Candi Rawi di daerah Jembrana, sesaat setelah dharma wacana pedanda disuguhi makanan yang lauknya membuat pedanda sedikit heran. Yang pertama adalah seekor kepiting besar lengkap dengan capitnya, dan yang kedua adalah belut yang besar, sebesar ibu jari. Yang menghaturkan makanan tersebut mengatakan bahwa di daerah mereka jika menghaturkan rayunan pedanda maka diharuskan berisi kepiting dan belut, itu merupakan tradisi dan warisan leluhur yang ada di sana. Kira – kira apa artinya? Kenapa para leluhur kita sampai mewariskan tradisi seperti itu? Inilah yang pedanda katakan sebagai salah satu contoh yang berupa sinyal – sinyal dari alam. Pedanda mencoba memahami maksud yang terkandung dari warisan leluhur tersebut. Akhirnya pendada memahami bahwa lauk kepiting itu bersumber dari cerita tantri yaitu kisah pedanda baka yang tewas di capit kepiting. Jika para sulinggih melaksanakan swadharma dan paradharma beliau sesuai dengan aturan – aturan dan tatanan sastra maka jaman itu pastilah kerta. Karena secara tidak langsung keadaan seperti ini juga disebabkan oleh perilaku seorang sulinggih. Seperti dijelaskan dalam sastra “yan sira sang wiku tan nepeh kalinganing sastra, rug ikang rat” Jika para wiku selaku pemimpin umat tidak mentaati aturan sastra, maka hancurlan dunia ini. kalimat itu yang sering pedanda ingat.

Sekarang ini banyak para sulinggih yang belum melaksanakan swadharmaning seorang sulinggih dengan benar. Ada kecenderungan posisi sulinggih menjadi semacam komuditas bermotif ekonomi. Banyak para sulinggih yang seolah-olah menempatkan diri sebagai produsen yang mengikuti alur umat yang ditempatkan dalam posisi konsumen. Suatu contoh sederhana saja, saat ada orang tangkil nunas dewasa nganten misalnya, walaupun menurut pewarigan belum ada hari baik untuk nganten tetapi karena permintaan umat yang lebih memikirkan efisiensi waktu maka banyak sulinggih yang memperbolehkan, padahal seharusnya sulinggihlah yang memberikan tatanan yang benar yang diikuti oleh umat, bukan sebaliknya.

Hidangan laut belut tadi juga membuat pedanda berfikir akan makna yang tersirat. Akhirnya pedanda melihat sebuah contoh dari kehidupan si belut yang layak kita teladani. Belut yang walaupun hidup didalam kubangan lumpur yang kotor ternyata tidak dilekati oleh kotornya lumpur tersebut. Begitu pula hendaknya manusia hidup, walaupun jaman seperti sekarang ini hendaknya kita tidak sampai kehilangan identitas dan jati diri. Namun di jaman seperti sekarang ini yang disebut jaman kaliyuga, pengaruh godaan duniawi, kehidupan yang berputar sangat cepat membuat masyarakat bali semakin kehilangan jati diri dan kebanggaanya sebagai orang bali. Belum lagi pengaruh makanan yang sebagian besar mengandung zat berbahaya yang tentunya berimplikasi pada munculnya bermacam – macam penyakit sehingga kejernihan pikiran dan jiwapun semakin jauh rasanya. Melihat kondisi seperti itu, apakah yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki keadaan? Pedanda ingin mengutip wejangan dari Ida Rsi Patanjali. Disaat beliau melaksanakan Samadhi di suatu tempat, beliau mendapatkan wahyu berupa intisari dari weda yang kemudian dikumpulkan menjadi Yoga. Yoga inilah satu-satunya obat yang bisa mengembalikan eksistensi manusia sebagai seorang manusia. Manusia hanya akan bisa menjadi seorang manusia yang sesungguhnya hanya melalui yoga. Jaman sekarang ini banyak sekali manusia yang pedanda istilahkan hanya casing atau pembungkus luarnya saja yang manusia, ini karena nilai – nilai dan sifat -sifat luhur kemanusiaanya telah dikalahkan oleh keserakahan dan kesombongan. Keserakaan, kesombongan, iri hati dan aneka sifat buruk lainya ditambah dengan makanan yang tidak sehat dan berbahaya tentu merupakan sebuah mala petakan yang akan membawa manusia dalam kehancuran baik secara jasmani dan rohani. Yang terjadi hanyalah jiwa – jiwa yang terombang – ambing tanpa arah, tanpa tujuan, tidak mengenali diri sendiri bagaikan lingkaran kesedihan tiada tepi. Maka dengan itu pedanda menghimbau agar seluruh umat hendaknyalah mempelajari yoga dan meditasi agar mampu melewati jaman kaliyuga ini.

Kenapa mesti yoga?

Jika pedanda analogikan manusi sepeti sebuah ember, maka fisik manusia adalah embernya dan jiwa serta pikiran adalah air di dalam ember tersebut. Jika fisik sudah hancur, airnya keruh dan kotor maka mustahil akan bisa menampakan bayangan bulan. Jika kondisi tubuh manusia tidak sehat maka pikiran dan jiwanya juga tidak akan bisa berfikir sehat. Yoga mampu merekonstruksi fisik manusia, baik itu otot, urat, syafat dan juga pikiran dan jiwa manusia.

Seperti kata pepatah, bahwa di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat, begitulah yoga yang mampu merekronstuksi fisik dan jiwa manusia sehingga kembali seperti semula sebagai seorang manusia sejati.  Banyak umat manusia yang tidak menyadari bahwa setiap bagian tubuh kita menyimpan jutaan macam kombinasi gerak. Karena kesibukan, pola hidup yang tidak sehat, kurang olah raga maka sebagian besar program kombinasi gerak tersebut tidak pernah digunakan, sehingga otot menjadi kaku, urat menjadi tegang dan aliran darah pun menjadi tidak

lancar yang tentunya berujung pada bermunculnya bermacam penyakit. Jika tubuh sudah tidak sehat (menahan rasa sakit) tentu pikiran pun tidak akan tenang dan jiwapun akan bergejolak. Disaat seperti itu maka mustahil bagi kita untuk melakukan perjalanan spirituan kedalam jiwa.

Yoga tidak semata – mata hanya olah tubuh, tetapi yoga adalah adalah satu rangkaian  berkesinambungan antara olah tubuh (asana), olah pernafasan yang bertujuan untuk mensehatkan fisik dengan meditasi dan rangkaian tahapan pengendalian indria hingga pencerahan spiritual.

Seperti di kutip dari: http://www.idapedandagunung.com

Oleh: Gusti Sudiartama | Desember 16, 2010

Siwa Siddhanta di Bali

Ajaran Agama Hindu yang dianut sebagai warisan nenek moyang di Bali adalah ajaran Siwa Siddhanta yang kadang – kadang juga disebut Sridanta. Siddhanta artinya akhir dari sesuatu yang telah dicapai, yang maksudnya adalah sebuah kesimpulan dari ajaran yang sudah mapan. Ajaran ini merupakan hasil dari akulturasi dari banyak ajaran Agama Hindu. Didalamnya kita temukan ajaran Weda, Upanisad, Dharmasastra, Darsana (terutama Samkya Yoga), Purana dan Tantra. Ajaran dari sumber – sumber tersebut berpadu dalam ajaran Tattwa yang menjadi jiwa atau intisari Agama Hindu di Bali. Dalam realisasinya, tata pelaksanaan kehidupan umat beragama di Bali juga menampakkan perpaduan dari unsur – unsur kepercayaan nenek moyang. Wariga, Rerainan (hari raya) dan Upakara sebagian besarnya merupakan warisan nenek moyang. Warisan ini telah demikian berpadu serasi dengan ajaran Agama Hindu sehingga merupakan sebuah satu kesatuan yang bulat dan utuh. Dengan demikian, Agama Hindu di Bali mempunyai sifat yang khas sesuai dengan kebutuhan rohani orang Bali dari jaman dahulu hingga sekarang. Di masa sekarang ini, warisan Agama yang adhiluhung tersebut perlu kita jaga, rawat dan menyempurnakan pemahaman kita sehingga tetap bisa memenuhi kebutuhan jiwa keagamaan umatnya.

 

Sumber – Sumber Ajaran

Walaupun sumber – sumber ajaran Agama Hindu di Bali berasal dari kitab – kitab berbahasa Sansekerta, namun sumber – sumber tua yang kita warisi kebanyakan ditulis dalam dua bahasa yaitu Bahasa sansekerta dan Bahasa Jawa Kuno. Kitab yang di tulis dalam bahasa Sansekerta umumnya adalah kitab Puja, namun bahasa Sansekerta yang digunakan adalah bahasa Sansekerta kepulauan khas Indonesia yang sedikit berbeda denga bahasa Sansekerta versi India. Sedangkan kitab – kitab yang ditulis dalam bahasa jawa kuno antara lain Bhuwanakosa, Jnana Siddhanta, Tattwa Jnana, Wrhaspati tatwa dan Sarasamuscaya. Kitab Bhuwanakosa, Jnana Siddhanta, Tattwa Jnana dan Wrhaspati Tattwa adalah kitab – kitab yang Tattwa yang mengajarkan Siwa Tattwa yang mana juga kitab – kitab ini menjadi unsur dari isi Puja. Sedangkan Sarasamuscaya adalah kitab yang mengajarkan susila, etika dan tingkah laku. Disamping itu juga terdapat banyak lontar – lontar indik yang menjadi rujukan pelaksanaan kehidupan umat beragama dan bermasyarakat di Bali seperti lontar Wariga, lontar tentang pertanian, pertukangan, organisasi sosial dan yang lainnya. Disamping itu juga terdapat kitab – kitab Itihasa dan gubahan – gubahan yang berasal dari purana, seperti Parwa ( kisah Maha Bharata), Kanda (Ramayana) dan juga kekawin – kekawin yang menjadi alat pendidikan dan pedoman dalam bertingkah laku bagi masyarakat. Itihasa dan juga purana juga menjadi sumber dalam kehidupan berkesenian di Bali terutama kesenian yang masuk kategori Wali atau sakral, seperti wayang, topeng, calonarang dan yang lainnya, yang mana pementasan kesenian tersebut umumnya mengangakat tema cerita yang berasala dari Itihasa, purana atau kekawin. Tidak semua pelaksanaan kehidupan beragama di Bali yang dapat dirujuk kedalam sumber – sumber ajaran sastra agama, yang dikarenakan Agama Hindu di Bali begitu menyatu dengan Budaya, adat, seni dan segala aspek kehidupan orang Bali, sehingga banyak warisan budaya para leluhur orang Bali yang tetap diwariskan turun – temurun dan menjadi satu keatuan denga Agama Hindu di Bali.

 

Pokok – Pokok Ajaran

Ajaran Siwa Siddhanta di Bali terdiri dari tiga kerangka utama yaitu Tattwa, Susila dan Upacara keagamaan. Tatwa atau filosofi yang mendasarinya adalah ajaran Siwa Tattwa. Di dalan Siwa Tattwa, Sang Hyang Widhi adalah Ida Bhatara Siwa. Dalam lontar Jnana Siddhanta dinyatakan bahwa Ida Bhatara Siwa adalah Esa yang bermanifestasi beraneka menjadi Bhatara – Bhatari.

 

Sa eko bhagavan sarvah

Siwa karana karanam

Aneko viditah sarwah

Catur vidhasya karanam

Ekatwanekatwa swalaksana bhatara ekatwa ngaranya

Kahidup makalaksana siwatattwa

Tunggal tan rwatiga kahidep nira

Mangekalaksana siwa karana juga tan paphrabeda

Aneka ngaranya kahidup Bhataramakalaksana caturdha.

Caturdha ngaranya laksananiram stuhla suksma sunya.

Artinya :

Sifat Bhatara eka dan aneka. Eka artinya ia dibayangkan bersifat Siwa Tattwa, ia hanya esa tidak dibayangkan dua atau tiga. ia bersifat Esa saja sebagai Siwakarana (Siwa sebagai pencipta), tiada perbedaan. Aneka artinya Bhatara bersifat Caturdha. Caturdha adalah sifatnya, sthula, suksma dan sunia. Sumber – sumber lain yang menyatakan Dia yang Eka dalam Beraneka juga kita temukan dalam banyak mantra – mantra, diantaranya adalah :

 

Om namah Sivaya sarvaya

Dewa-devaya vai namah

Rudraya Bhuvanesaya

Siwa rupaya vai namah

Artinya :

Sembah bhakti dan hormat kepada Siwa, kepada Sarwa

Sembah bhakti dan hormat kepada dewa dewanya

Kepada Rudra raja alam semesta

Sembah hormat kepada dia yang rupanya manis

 

Twam Sivas twam Mahadewa

Isvara Paramesvara

Brahma Visnuca Rudrasca

Purusah Prakhrtis tatha

 

Artinya :

Engkau adalah Siwa Mahadewa

Iswara, Parameswara

Brahma, Wisnu dan Rudra

Dan juga sebagai Purusa dan Prakerti

 

Tvam kalas tvam yamomrtyur

varunas tvam kverakah

Indrah Suryah Sasangkasca

Graha naksatra tarakah

 

Artinya :

Engkau adalah Kala, Yama dan Mrtyu

Engkau adalah Varuna, Kubera

Indra, Surya dan Bulan

Planet, naksatra dan bintang – bintang

 

Prthivi salilam tvam hi

Tvam Agnir vayur eva ca

Akasam tvam palam sunyam

Sakhalam niskalam tatha

Artinya :

Engkau adalah Bumu, Air

dan juga Api

Angkasa dan alam sunia tertinggi

Juga yang berwujud dan tak berwujud

 

Dengan contoh – contoh ini menunjukkan bahwa semua Bhatara – Bhatari itu adalah Bhatara Siwa sendiri. Bhatara Bhatari itulah yang dipuja sebagai Ista Dewata. Banyaknya Ista Dewata yang dipuja akan berkaitan dengan banyaknya Pura dan Pelinggih, Pengastawa, Rerainan dan Banten. Ista Dewata adalah Bhatara Siwa yang aktif sebagai Sada Siwa, sedangkan Bhatara Siwa sebagai Parama Siwa bersifat tidak aktif atau sering disebut Sunia. Dalam manifestasi beliau sebagai Dewa Brahma, Wisnu dan Iswara yang paling mendominasi pemujaan yang ada di Bali. Konsep penciptaan, pemeliharaan dan pemrelina menunjukkan Bhatara Siwa sebagai apa yang sering disebut Sang Hyang Sangkan paraning Numadi, yaitu asal dan kembalinya semua yang ada dan tidak ada di jagat raya ini. salah satu yang menarik dari keberadaan Bhatara Siwa, ialah Beliau berada dimana – mana, di seluruh penjuru mata angin dan di pengider – ider. Di timur Ia adalah Iswara, di tenggara Ia adalah Mahesora, di selatan Ia adalah Brahma, di barat daya Ia adalah Rudra, di barat Ia adalah Mahadewa, di barat laut Ia adalah Sangkara, di utara Ia adalah Wisnu, di timur laut Ia adalah Sambhu dan ditengah Ia adalah Siwa. Sebagai Sang Hyang kala, di timur Ia adalah kala Petak (putih), di selatan Ia adalah Kala Bang (merah), di barat ia adalah Kala Gading (Kuning), di utara Ia adalah Kala Ireng (hitam) dan ditengah Ia adalah kala mancawarna.

Selain ajaran ke-Tuhanan, ajaran Siwa Siddhanta juga memuat beberapa ajaran diantaranya ajaran tentang Atma yang sesungguhnya berasal dari Bhatara Siwa dan akan kembali kepada-Nya juga, ajaran Karma Phala yang berkaitan dengan Punarbawa atau siklus reinkarnasi, ajaran pelepasan yang berkaitan tentang Yoda dan Samadhi. Terdapat pula ajaran tata susila yang erat hubungannya dengan ajaran Karma Phala. Tumpuan dari ajaran tata susila itu adalah Tri Kaya Parisuddha yaitu Kayika Parisuddha (berbuat yang benar), Wacika Parisuddha (berbicara yang benar) dan Manacika Parisuddha (berfikir yang benar).

 

Siwa Siddhanta Dalam Pelaksanaan Kehidupan Beragama di Bali. Ada relasi antara manusia dengan Tuhan. Relasi ini diwujudkan dalam bentuk bakti sebagai wujud Prawrtti Marga. Tuhan dipuja sebagai saksi agung akan semua perbuatan manusia di dunia. Tuhan yang memberikan berkah dan hukuman kepada semua mahluk. Di Bali, bhakti kepada Tuhan direalisasikan dalam berbagai bentuk. Untuk orang kebanyakan, bhakti diwujudkan dengan sembahyang yang diiringi dengan upakara. Upakara artinya pelayanan dengan ramah diwujudkan dengan banten. Upakara termasuk Yajna atau persembahan suci. Baik sembahyang maupun persembahan Yajna memerlukan tempat pemujaan. Pemangku, Balian Sonteng dan Sulinggih mengantarkan persembahan umat kepada Tuhan dengan saa, mantra dan puja. Padewasan dan rerainan memengang peranan penting, yang mana pada semua ini ajaran sradha kepada Tuhan akan selalu tampak terwujud. Demikian juga misalnya saat Bhatara Siwa sebagai Dewata Nawa Sanga diwujudkan dalam banten caru, beliau disimbulkan pada banten Bagia Pula Kerti, beliau dipuja pada puja Asta Mahabhaya, Nawa Ratna dan pada kidung beliau dipuja pada kidung Aji Kembang. Bhatara Siwa sebagai Panca Dewata dipuja dalam berbagai Puja, Mantra dan saa, ditulis dalam aksara pada rerajahan dan juga disimbulkan pada alat upacara serta aspek kehidupan beragama lainnya.

Tempat – tempat pemujaan menunjukkan tempat memuja Bhatara Siwa dalam manifestasi beliau. Belia dipuja sebagai Siwa Raditya di Padmasana, dipuja sebagai Tri Murti di sanggah, paibon, Kahyanga Desa dan kahyangan jagat. Pemujaan Tuhan pada berbagai tempat sebagai Ista Dewata sesuai dengan ajaran Tuhan berada dimana – mana.

 

Demikianlah orang Bali menyembah Tuhan disemua tempat, di Pura Dalem, Pura Desa, Pura Puseh, Bale Agung, Pempatan Agung, Peteula, Setra, Segara, Gunung, Sawah, Dapur dan sebagainya. Disamping itu diberbagai tempat Tuhan dipuja sebagai Dewa yang “Ngiyangin” atau yang memberkati daerah pada berbagai aspek kehidupan, seperti Dewa Pasar, Peternakan, Kekayaan, Kesehatan, Kesenian, Ilmu Pengetahuan dan sebagainya. Dengan demikian hampir tidak ada aspek kehidupan orang Bali yang lepas dari Agama Hindu. Dalam pemujaan ini Tuhan dipuja sebagai Ista Dewata, Dewa yang dimohon kehadirannya pada pemujaannya, sehingga yang dipuja bukanlah Tuhan yang absolut sebagai Brahman dalam Upanisad atau Bhatara Siwa sebagai Parama Siwa, namun Tuhan yang bersifat pribadi yang menjadi junjungan yang disembah oleh penyembahnya. Ista Dewata ini dipandang

sebagai tamu yang dimohon kehadirannya oleh hambanya pada waktu dipuja untuk menyaksikan sembah bakti umatnya. Oleh karena itu Tuhan dipuja sebagai “Hyang” dari aspek – aspek kehidupan yang rasa kehadiran-Nya sangat dihayati oleh hambanya sama seperti penghayatan umat terhadap aspek kehidupan tersebut. Pemujaan dilakukan dalam suasana, tempat cara dan bahan yang paling tepat dan paling dihayati oleh para pemuja-Nya. Terdapat persembahan Banten, pakaian, hiasan yang semuanya dipersembahkan dengan begitu serasi dengan penghayatan, perasaan dan cita rasa dari penyembah-Nya sehingga penghayatan menyusup kedalam lubuk hati yang terdalam.

Apapun yang dipersembahkan, maka itu adalah sesuatu yang terbaik menurut para penyembah-Nya. Akibat dari semua itu adalah adanya variasai dan pelaksanaan hidup beragama di Bali.

Namun inti dari prinsip ajaran agama Hindu adalah sama, yaitu Tuhan yang ada dimana – mana sama dengan Tuhan Yang Maha Esa yang menampakkan diri dalam berbagai wujud dan pandangan penyembah-Nya, yang abstrak dihayati melalui bentuk.

 

sumber : Kalender Pasraman Yogadhiparamaguhya 2009, susunan IBG Budayoga, S Ag, Msi

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori