Oleh: Gusti Sudiartama | Januari 13, 2011

Kekasih-kekasih ku

Keluargaku ..inspirasi..   untuk-ku…  menjadikan-ku seseorang..

really My Heart

Cinta pertama-ku ..yang  slalu ada disisiku…  memberiku dorongan dan semangat untuk slalu berbuat dan berbuat yang terbaik…   bagi diri-ku, keluarga-ku  dan lingkungan-ku..  benar-benar bumi bagiku…  andaikan aku benar menjadi mentari baginya…  ketika ku saksikan lelap tidurnya…  betapa dia telah menjadikan-ku yang dia percayai…    membangkitkan haru dalam batinku… Tuhan  beri kekuatan untuk istri-ku tercinta…   ijinkan aku  untuk slalu memberinya kedamaian ..  kuatkan aku untuk mampu menjaga percaya-nya…

keduanya arka bagi-ku

Cahaya hidupku…   dua-duanya slalu hadir….  dalam setiap doa yang ku panjatkan…  yang kumohonkan hanyalah  kedua cahaya-ku benar.. menjadi “arka”  bagi dirinya…, semoga keduanya menjadi manusia sejati seutuhnya…  Melihat keduanya tumbuh…  seolah jiwaku tumbuh..  cerianya… menjadi ceriaku…  keduanya istimewa  bagiku…   Tuhan terima kasih telah mempercayaiku..  untuk membantu hadirnya jiwa-jiwa muda ini menuju takdirnya…

semoga semua diberkati kedamaian

Betapa aku telah diberkati oleh-Nya… dihadirkan untuk-ku manusia-manusia baik disekelilingku…  betapa  mereka telah memberiku ruang untuk berbuat… walau mereka mungkin tak sepenuhnya paham ..   apa  yang kuyakini… walau mungkin mereka tak sepenuhnya  mengerti..  tapi kusaksikan usaha mereka untuk slalu mengerti…    Semoga kita selalu diberkati kebersamaan …  kemauan untuk saling berbagi…  semoga…

menyatukan dua jaman yang berbeda

Oleh: Gusti Sudiartama | Januari 5, 2011

Pura Mrajapati Tempat Pemujaan Alam Kosmis

Oleh Adang Suprapto

P ura Dalem, Mrajapati, Kahyangan dan Setra berikut para Dewa yang berstana di sana, tampak adanya konsep dasar yang mengatur hubungan makna ketiga tempat itu, berikut tugas yang dijalankan para Dewa, yakni konsep Siwaisme. Pemaknaan ketiga tempat suci itu berhubungan dengan kekuasaan Siwa dengan saktinya Durga. Oleh karena pada umumnya Durga dicitrakan sebagai tokoh dewa yang menyeramkan, maka ketiga tempat itu juga dipersepsikan sebagai tempat pemujaan yang terkesan angker dan menyeramkan.

Dari ketiga tempat suci itu, orang menghubungkan lagi dengan unsur-unsur bhuana agung yang juga ditemukan dalam bhuana alit. Hubungan unsur-unsur itu seakan-akan diatur oleh sistem kosmis melalui jaringan makna yang renik dan manusia terkurung di dalam jaringan makna itu. Sistem kosmik ini kemudian mengatur perilaku dan aktivitas ritual umat Hindu Bali dalam siklus yang tidak pernah terhenti, terus menerus, meskipun kemudian hubungan jaringan maknawi itu semakin kabur oleh nuansa yang menyeramkan dan magis. Mungkin itu sebabnya mengapa orang Bali agak sulit melepaskan pikirannya ke dunia mistik, leak misalnya.

Apa hubungan Pura Dalem, Mrajapati, Kahyangan dan Setra gandamayu? Menurut sebuah sumber, mrajapati adalah tempat pemujaan alam kosmis, sedangkan setra atau pemuwunan atau tempat pembakaran mayat adalah tempat atau panggung transformasi ajian Dewi Durga yang cenderung bergerak ke kiri atau kiwa. Karena itu, Pura Dalem adalah stana Siwa yang berfungsi sebagai penetralisir kekuatan positif dan negatif yang ditimbulkan oleh praktik-praktik ajian Durga tersebut. Jika demikian tata hubungan ketiga tempat pemujaan itu, maka di Pura Dalem umat melakukan aktivitas ritual dan persembahan yang bertujuan untuk mendapatkan kerahayuan dan terhindar dari pengaruh negatif dua kekuatan lainnya, yakni mrajapati dan setra. Di mrajapati umat membayangkan kekuatan alam, dan setra adalah tempat untuk melakukan upacara kematian dan pembakaran jenasah.

Di mrajapati sendiri distanakan Durga dengan tiga kekuatannya, yakni anggapati, prajapati dan banaspati. Kanda Pat menyebutkan anggapati berarti kala atau nafsu di badan, mrajapati berarti penguasa Durga setra gandamayu, sedangkan banaspati berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti iblis, tonya atau hantu hutan, atau raja hutan, raja pepohonan, dan penjaga lembah, sungai dan tempat-tempat angker lainnya. Akan tetapi, sumber lain menyebutkan banaspati adalah gelar Hyang Siwa yang mengendalikan dan menentukan hidup dan kehidupan semua ciptaannya (sarwa bhutesu). Tidak heran kalau beliau selalu digambarkan sebagai dewa yang menyeramkan dan mengerikan.

Dalam menjalankan tugas dan fungsinya yang demikian itu, beliau bersikap tegas, cepat, adil dan penentu segalanya. Dalam hal memberi keadilan, beliau memperoleh julukan Hyang Yama. Dalam menjalankan tugas itu, beliau dibantu oleh para rencangan beliau, yakni para Yama Bala. Tugas utama para Yama Bala adalah menjemput dan memberikan tempat yang pas bagi para atma yang ingin menghadap Hyang Siwa.

Para atma yang baru hadir untuk menuju alam Siwa tidak langsung diterima di Siwaloka, tetapi sebelumnya dicatat terlebih dahulu oleh rencangan beliau yang bernama Sang Suratma. Tugas utama Sang Suratma adalah mencatat atau menuliskan segala perilaku manusia saat masih di alam manusia.

Segala hal yang benar dan salah selama hidup manusia wajib dilaporkan oleh sang atma kepada juru tulis Sang Suratma. Jika semasa hidup di alam manusia seseorang mungkin dapat berbohong, maka di hadapan Sang Suratma sang atma tidak mungkin berbohong, karena Sang Suratma telah mencatatnya secara detail dan teliti.

Bilamana semuanya telah tercatat barulah para Yama Bala melanjutkan perjalanan para atma untuk menuju tempat yang telah dipersiapkan, yakni tegal penangsaran. Di tempat ini para atma menerima perlakuan sesuai dengan perbuatannya di alam kehidupan manusia. Tentu saja tegal penangsaran memiliki kondisi yang berbeda-beda, antara lain ada tempat yang sangat panas, tempat yang menyakitkan, tempat yang mengerikan dan tempat untuk memberikan sanksi bagi atma sesuai perbuatannya di alam manusia dulu. Di tegal penangsaran tidak terdapat pohon-pohon yang menyejukkan, kecuali pohon yang berisi benda-benda tajam yang digunakan untuk memberikan hukuman kepada para atma yang telah berbuat kejahatan, kesalahan dan perilaku yang tidak sesuai dengan ajaran dharma.

Dengan adanya Sang Suratma di sana, beserta para Yama Bala, dapat ditafsirkan bahwa mrajapati menjadi semacam birokrasi niskala yang melayani kepentingan para atma sebelum ke Siwaloka. Disana, roh orang yang baru meninggal harus menyelesaikan administrasi kependudukannya, yang berhubungan dengan perbuatannya di masa lalu. Dengan demikian, mrajapati yang mungkin berasal dari kata praja berarti tata (penguasaan) dan pati yang berarti mati, maka prajapati yang mengalami perubahan konsonan p menjadi m, sehingga menjadi mrajapati dapat diartikan sebagai tata, penguasaan atau birokrasi kematian. Tugasnya yang demikian itu kemudian menyebabkan mrajapati sebagai tempat pemujaan yang misterius, mengerikan dan menakutkan. Pemahaman akan kekuatan Tuhan sudah sejak zaman Bali kuno. Hal ini diketahui dari berbagai lontar, antara lain Lontar Kanda Pat, Usana Bali Gong Besi, dan Taru Pramana. Semua itu merupakan hasil lokal genius masyarakat Bali yang diakulturasikan dengan budaya sehingga masyarakat dapat membayangkan dan melihat kekuatan Tuhan dalam berbagai perwujudan atau pelawatan. Suatu perwujudan kekuatan Tuhan bukanlah sembarangan. Hal ini merupakan hasil imajinasi yang luar biasa dari kekuatan yogi jaman dulu.

Salah satu pemahaman akan kekuatan Tuhan itu adalah keyakinan terhadap Banaspatiraja. Banaspatiraja merupakan simbol atau wahana Ida Bhatara yang berlandaskan pada ajaran Çiwa. Ajaran ini mengandung filosofi Tantrayana dan Bhairawa di dalamnya. Filosofi ini tidak bisa dipisahkan dari sejarah perkembangan Hindu di Bali. Sejak Mpu Kuturan datang ke Bali dan menyatukan ajaran berbagai sekte yang pernah hidup di Bali, berkembanglah yang disebut ajaran Trimurti. Ajaran ini bermakna tiga manifestasi Tuhan yang mempunyai kedudukan yang sama. Inilah cikal bakal ajaran Çiwa Sidanta yang kita warisi sampai sekarang.

Pemahaman Banaspatiraja tidak bisa dipisahkan dari konsep empat bersaudara yang terdiri atas Anggapati, Prajapati, Banaspati, dan Banaspatiraja itu sendiri. Konsep itu disebut nyama papat (saudara empat). Nyama papat ini jangan selalu dibayangkan seram, karena kalau kita telusuri itu semua adalah kekuatan Tuhan dalam berbagai manifestasinya. Hal ini termuat dalam Lontar Çiwa Tatwa.

Dilihat dari sumber sastra lain yakni Lontar Usana Bali, Banaspatiraja adalah kekuatan pelindung dari segala macam penyakit atau hama yang ada di sawah. Karenanya beliau berfungsi sebagai nangluk merana untuk menetralisir kekuatan negatif, dan juga dalam usadha yang berperan sebagai dewanya balian. Di dalam Lontar Gong Besi, Banaspatiraja lambang Taksu. Orang yang ingin memiliki Taksu, Beliaulah sumbernya. Di jajaran Pelinggih Sanggah atau Merajan atau Tempat Suci Keluarga, beliau berada di Pelinggih Taksu.

sumber: http://www.parissweethome.com

Oleh: Gusti Sudiartama | Januari 5, 2011

Ilmu Kewisesan Pengiwa Dan Penengen

Oleh Ahmad Prajoko

K ata kiwa adalah bahasa Jawa Kuno yang artinya kiri; kiwan; sebelah kiri, Ngiwa = Nyalanang aji wegig (menjalankan aliran kiri), seperti ; pengeleakan penestian, Menggal Ngiwa = nyemak (melaksanakan) gegaen dadua (pekerjaan kiri dan kanan). Pengertian Kiwa dan Tengen artinya ilmu hitam dan ilmu putih, Ilmu Hitam disebut juga ilmu pengeleakan, tergolong aji wegig. Aji berarti ilmu, Wegig berarti begig yaitu suatu sifat yang suka mengganggu orang lain. Karena sifatnya negatif, maka ilmu itu sering disebut “ngiwa”. Ngiwa berarti melakukan perbuatan kiwa alias kiri.

Ilmu leak ini bisa dipelajari dari lontar-lontar yang memuat serangkaian ilmu hitam, antara lain; Cabraberag, Sampian Emas, Tangting Mas, Jung Biru. Buku tersebut ditulis pada zaman Erlangga, yaitu pada masa Calonarang masih hidup. Disamping itu ilmu leak mempunyai tingkatan. Tingkatan leak paling tinggi menjadi bade (menara pengusung jenasah), di bawahnya menjadi garuda, dan lebih bawah lagi binatang-binatang lain, seperti monyet, anjing ayam putih, kambing, babi betina dan lain-lain. Ilmu putih sangat bertentangan dengan ilmu hitam. Ilmu putih sebagai lawannya, yang disebut pula ilmu penangkal leak yang bisa dipakai untuk memyembuhkan orang sakit karena diganggu leak, sebab aji usadha berhaluan kanan, disebut haluan “tengen” berarti kanan. Ilmu putih ini mengandung ilmu “kediatmika”.

Berbicara pengiwa yang direalisasikan oleh Rangda (Janda) ring Dirah melawan Mpu Beradah, pada zaman pemerintahan Prabhu Erlangga. Naskah ini disalin dalam huruf Bali pada pemerintahan Raja Klungkung, kurang lebih sinopsis isinya sebagai berikut :

Seorang raja yang bernama Sri Aji Erlangga, yang berstana di Kerajaan Kediri. Dalam pemerintahannya masyarakat menjadi makmur dan sejahtera, sehingga banyak negara-negara lain yang menyatukan diri dengan Beliau. Dalam wilayah Kerajaan terdapat sebuah perguruan, yang mengajarkan untuk kehancuran kerajaan. Karena menerapkan ajaran Sad Atatayi. Berbuat ulah untuk kematian dunia, berbuat Sad Atatayi dan bermurid mendirikan perguruan, menjadi sarana untuk memuja siwa, diberi anugrah oleh Hyang Bagawati.

Para menteri dan patih mencari bantuan kepala Mpu Beradah, kemudian Mpu Beradah menugaskan kepada muridnya yang bernama Mpu Bahula yang masih muda dan perparas rupawan untuk menyelidiki keberadaan di Dirah dengan melangsungkan perkawinan dengan anak janda di Dirah.

Setelah setengah bulan lamanya Pendeta menginap di Jirah (Dirah), maka datanglah Janda Jirah, memohon kepada Mpu Beradah agar merubah dirinya menjadi brahmana, karena telah banyak membunuh orang tanpa dosa. Mpu Beradah tidak bersedia meruwat sebab sastra utama menyebutkan perbuatan itu harus diterima oleh pelakunya melalui pembersihan Upeti, Stiti dan Pralina. Janda Jirah menjadi marah, bahwa dia tidak memerlukan sastra untuk peleburan dosa sehingga memutuskan untuk mengadu kesaktian dengan Mpu Bradah.

Akhirnya mereka berdua mengadu kewisesan di kuburan. Rangdeng Dirah menuding dengan mata melotot, muncul api berkobar, taring bergesek tajam. Hidung dan mulutnya besar menganga, lidah menjulur keluar api berkobar, “Lihatlah sekarang Baradah, ada pohon beringin besar, aku bakar menjadi abu, menunduk melihat tanah, tanah menjadi bubur, terbang berhamburan bagaikan hujan pasir, dilihat sampai di lautan, bagaikan bergoncang, kacau berganti-ganti. Lagi dilihatnya gunung lahar dengan hujan batu, binatang menjadi terbirit-birit ke sana kemari, kayunya roboh saling tindih, satu dengan yang lainnya, bumi menjadi gemetar”. “sekarang apa keinginanmu hai Baradah, sungguh berani tidak mengalah”.

Rangdeng Dirah kemudian membakar tubuh Mpu Baradah dengan api yang keluar dari mulutnya, namun tak mempan. Dua tiga kali dibakar tetap kokoh. Kemudian Mpu Baradah segera melakukan yoga kemudian menghidupkan kembali pohon beringin yang tadinya telah hancur terbakar. “Lihat sekarang olehmu dengan waspada hai Janda !

Ini menunjukkan tugas yang diemban oleh Mpu Baradah berhasil mengalahkan Rangda Ring Dirah. Artinya Ilmu Pengiwa akan selalu dikalahkan oleh Ilmu Penengen.

Sabuk Kekebalan

Dalam kemajuan teknologi yang berkembang pesat saat ini ternyata di masyarakat masih mejadi trend penggunaan alat-alat kekebalan dalam berbagai bentuk baik yang dipakai maupun yang masuk dalam tubuhnya.
Adapun fungsi dari alat tersebut untuk menambah kepercayaan diri agar merasa lebih mampu dibandingkan dengan yang lainnya. Harus disadari fungsi dari alat ini bagaikan pisau bermata dua. Kalau tujuanya untuk kepentingan umum dalam hal menolong masyarakat tidak menjadi masalah. Yang menjadi masalah adalah jika alat itu digunakan untuk pamer dan menguji orang lain, ini yang sangat riskan. Karena setiap alat yang kita pakai memiliki kadar tersendiri, tergantung dari sang pembuatnya. Karena ini berhubungan dengan kekuatan niskala yang berupa panengen dan pengiwa. Atau dalam istilah lainnya mengandung kekuatan pancaksara maupun dasaksara. Tidak sembarang orang bisa membuat alat seperti ini apalagi memasangnya karena berhubungan dengan pengraksa jiwa. Kalau berupa sesabukan (tali pinggang) menggunakan bahan-bahan tersendiri, berupa biji-bijian seperti kuningan, timah, perak, bahan panca datu. Ditambah sarana yang lainnya sebagai persyaratannya. Untuk menghidupkan ini perlu mantra pasupati biar benda tersebut menjadi hidup. Disinilah kekuatan penengen dan pengiwa berjalan sebagai satu kesatuan yang menjadi kekuatan panca dhurga.

Kalau sabuk pengeleakan lagi berbeda, di sini kekuatan pengiwa murni dipakai, sehingga yang memakainya akan memasuki dunia lain, tanpa disadari ia akan berubah secara sikap. Dan kita diolah oleh alat itu tanpa disadari kita menjadi kehilangan kontrol. Ini yang sangat berbahaya, jika tidak segera ditolong ia akan terjerumus, disinilah kekuatan penengen akan berjalan sebagai penetralisir. Di sinilah perlunya kita pemahaman apa itu penengen dan pengiwa jangan sepengal-sepenggal.

Kalau yang memasukan dalam tubuh juga hampir sama prosesnya dengan yang memakai alat, yang menjadi perbedaan adalah kalau yang memakai alat berada di luar tubuh dan yang memasukan berada di dalam tubuh, inipun prosesnya tidak gampang perlu orang yang tahu untuk memasangnya, memang tubuh menjadi kebal tapi perlu proses. Tidak langsung jadi. Disinilah kejelian seorang senior terhadap yuniornya apakah sudah siap secara mental atau tidak. Kalau sudah siap secara mental maka akan cepat benda itu bereaksi dan bisa dikontrol oleh dirinya sendiri, jika tidak akan sebaliknya akan membahayakan dirinya sendiri. Karena alat-alat yang dipasang akan menjadi energi. Di sinilah muncul keegoissan kita jika sudah merasa hebat seolah-olah kita yang paling unggul di antara orang lain, padahal kita tahu ilmu seperti ini sangat banyak.

Pengendalian diri sangat penting untuk membawa hal yang positif bagi kita sendiri, jangan terjebak oleh keinginan sesaat. Tapi sebaiknya kita gunakan alat-alat itu untuk kepentingan yang lebih baik seperti untuk jaga diri.

sumber : http://www.parissweethome.com

Oleh: Gusti Sudiartama | Januari 5, 2011

Kelahiran Manusia Mempunyai Saudara Empat

Dalam Kanda Pat diceritakan kelahiran manusia mempunyai saudara sebanyak empat yang terdiri dari Anggapati, Prajapati, Banaspati, dan Banaspatiraja. Pada usia kehamilkan enam bulan terbentuklah empat saudara yakni Babu Lembana, Babu Abra, Babu Ugian, Babu Kekered. Pada umur kehamilan sepuluh bulan lahirlah sang bayi beserta saudaranya yakni ari-ari disebut Sang Anta, tali pusar (Sang Preta), darah (Sang Kala), air ketuban (Sang Dengen). Keempat saudara ini yang memelihara semasih dalam kandungan. Ketika lahir keempat saudara tersebut berpisah dan berganti nama menjadi I Salahir (Anta), I Makahir (Preta), I Mekahir (Kala), dan I Salabir (Dengen), sedangkan badan manusia sendiri disebut dengan I Legaprana. Keempat saudara yang telah terpisah tersebut masih saling ingat satu sama lain. Kemudian kira-kira selama empat tahun kemudian, keempat saudara tersebut saling melupakan, dan menjelajahi dunianya sendiri-sendiri. I Salahir ke timur berganti nama menjadi Sang Hyang Anggapati, I Makahir ke selatan berganti nama menjadi Sanghyang Prajapati, I Mekahir ke barat menjadi Sanghyang Banaspati, I Salabir ke utara menjadi Sanghyang Banaspatiraja.

Kemudian keempat saudara tersebut dengan kuat melakukan tapa – yasa dan berganti nama lagi. Anggapati bergelar Bagawan Penyarikan berkedudukan di timur, sedangkan di badan manusia tempatnya di kulit. Prajapati bergelar Bagawan Mercukunda berkedudukan di selatan, dalam tubuh manusia letaknya di daging. Banaspati menjadi Bagawan Shindu Pati berkedudukan di Barat, dalam tebuh manusia tempatnya di urat. Banaspatiraja menjadi Bagawan Tatul, berkedudukan di utara, dalam tubuh manusia tempatnya di tulang.

Dan terakhir, berkat tapanya yang teguh, saudara empat tersebut mendapat julukan : Anggapati mendapat julukan Sang Suratma, Sang Prajapati berjuluk Sang Jogormanik, Sang Banaspati menjadi Sang Dorakala, dan Sang Banaspatiraja mendapat julukan Sang Maha Kala. Ini dalam Kanda Pat Rare.

Dalam mitologi disebutkan bahwa ketika Dewi Uma telah kembali ke Siwa Loka, maka yang tinggal di dunia adalah perwujudan beliau dengan segala sifatnya. Jasad ini kemudian oleh Dewa Brahma dihidupkan dan menjadi empat tokoh yang disebut dengan catur sanak, yakni : Anggapati menghuni badan manusia dan mahluk lainnya. Ia berwenang mengganggu manusia yang keadaannya sedang lemah atau dimasuki nafsu angkara murka. Mrajapati sebagai penghuni kuburan dan perempatan agung. Ia berhak merusak mayat yang ditanam melanggar waktu/dewasa. Juga ia boleh mengganggu orang yang memberikan dewasa yang bertentangan dengan ketentuan upacara. Banaspati menghuni sungai, batu besar. Ia berwenang mengganggu atau memakan orang yang berjalan ataupun tidur pada waktu-waktu yang dilarang oleh kala. Misalnya tengai tepet atau sandikala. Banaspatiraja, sebagai penghuni kayu-kayu besar seperti kepuh, bingin, kepah, dll yang dipandang angker. Dia boleh memakan orang yang menebang kayu atau naik pohon pada waktu yang terlarang oleh dewasa. Itu termuat dalam lontar Kanda Pat.

Dalam kanda pat Buta disebutkan bahwa Anggapati berarti kala atau nafsu di badan kita sendiri. Merajapati berarti penguasa Durga setra gandamayu. Banaspati diwujudkan berupa jin, setan, tonya sebagai penjaga sungai, jurang atau tempat kramat. Dan Banaspatiraja diwujudkan dalam bentuk barong sebagai penguasa kayu besar atau hutan. Sebagai tambahan bahwa kalau di Jawa sering disebut dengan Banaspati, yakni raksasa yang berkepala merah.

Barong berasal dari kata beruang (binatang hutan), kemudian berkembang menjadi Barung yang artinya berjalan beriringan. Seperti misalnya gambelan mebarung, artinya gambelan yang berjejer atau berbarengan. Jadi perkembangan kata barong menjadi beruang menjadi barung dan bareng, maka dapat kita artikan di sini adalah barong merupakan perwujudannya sebagai binatang hutan (beruang), dan fungsinya di dalam kehidupan social masyarakat Bali adalah sebagai beriringan atau berbarengan. Yang lebih luas kita artikan sebagai simbolisasi dari persatuan dan kesatuan masyarakat. Jadi barong juga sebagai lambang pemersatu.

Apabila kita dapat memahami hakekat dan mendalami dari ajaran kanda pat ini maka akan dapat meningkatkan kemampuan spiritual dan supranatural dari manusia itu sendiri.

Banaspati sesungguhnya gelar Hyang Siwa, yang mengendalikan kehidupan. Dimana segala kehidupan adalah ciptaan beliau. Banaspati sering digambarkan sebagai dewa yang seram yang mengerikan. Beliau juga yang menentukan nasib hidup dan kehidupan semua ciptaannya (sarwa bhutesu). Bilamana beliau dalam menjalankan tugas dan fungsinya maka beliau sebagai sosok yang tegas, seram, berlaku cepat, adil dan penentu segalanya. Dalam hal tugas untuk memberikan keadilan, maka beliau bergelar Hyang Yama, memiliki tugas mulia sebagai penegak keadilan. Dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh para tenaga andal (rencang) yakni Yama Bala. Tugas utama para Yama Bala adalah untuk menjemput dan memberikan tempat yang pas bagi para atma yang ingin menghadap Hyang Siwa.

Para atma yang baru hadir untuk menghadap Hyang Siwa tidak langsung diterima di Siwa Loka, tetapi sebelummnya dicatat terlebih dahulu oleh rencangan beliau yang bernama Sang Suratma, yang tugas utamanya adalah mencatat segala perilaku manusia ketika hidup di dalam manusia. Kemudian Yama Bala menghantarkan sang atma ke tempat khusus yang disebut dengan Tegal Penangsaran. Tempat dengan beragam kondisi sebagai tempat atma menerima perlakuan sesuai dengan kelakuannya di dunia. Ada tempat yang panas bara, menyakitkan, mengerikan, dll. Di tempat ini tidak terdapat tumbuhan, kecuali pohon-pohon yang berisi benda-benda tajam serta benda lainnya yang digunakan untuk memberikan hukuman kepada para atma.

Dalam naskah Tattwa Jnana, Hyang Siwa bersifat sadar (cetana) yang bersifat tak sadar (acetana). Pada saat beliau bersifat sadar, maka beliau memiliki hakiki sejati sebagia Siwa (Siwa Tattwa), sedangkan pada saat beliau tak sadar, maka beliau bersifat maya sesuai murthi beliau, yang digelari maya tattwa. Dalam sifat beliau sebagai cetana atau Siwa Tattwa, maka beliau meliputi Paramasiwattatwa, Sadasiwatattwa, dan Atmikatattwa. Yang utama adalah kemahakuasaan beliau yang disebut dengan cadu sakti. Dengan cadu sakti inilah beliau Hyang Siwa sebagai Banaspati, Yama, Sang Suratma dan Yama Raja, telah memerankan tugas sesuai murthi beliau.

Beliau memiliki kemahakuasaan yang dasyat yakni dapat mendengarkan segala ciptaan (durasrawana), maha melihat (duradarsana), sehingga beliau tidak dapat dibohongi dalam murtinya sebagai Banaspati, Yama Raja, Sang Suratma, dan Yamadipati.

Semua atma yang hadir untuk menghadap Hyang Siwa di Siwaloka, maka terlebih dahulu diterima oleh rencang beliau, termasuk juga para cikrabala Hyang Siwa. Setelah semua tuntas proses penerimaan, pencatatan, pemberian hukuman, maka sebagai pemutus utama adalah Hyang Siwa, apakah diterima di alam niskala atau tidak. Apabila perbuatannya baik, maka ia akan diterima di swarga. Namun demikian, masih ada lagi yang wajib dilunasi yakni adanya dosa-dosa yang luas. Maka pada saat itulah sang atma dikembalikan ke alam manusia (menjelma) dinamai swargasyuta.

Oleh Ahmad Prajoko

sumber http://www.parissweethome.com

Oleh: Gusti Sudiartama | Januari 4, 2011

2010 in review

The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here’s a high level summary of its overall blog health:

Healthy blog!

The Blog-Health-o-Meter™ reads Fresher than ever.

Crunchy numbers

Featured image

A helper monkey made this abstract painting, inspired by your stats.

A Boeing 747-400 passenger jet can hold 416 passengers. This blog was viewed about 2,600 times in 2010. That’s about 6 full 747s.

 

In 2010, there were 19 new posts, growing the total archive of this blog to 37 posts. There were 39 pictures uploaded, taking up a total of 14mb. That’s about 3 pictures per month.

The busiest day of the year was January 14th with 68 views. The most popular post that day was Puja Mantra Siwaratri.

Where did they come from?

The top referring sites in 2010 were facebook.com, id.wordpress.com, google.co.id, lintasberita.com, and ads.masbuchin.com.

Some visitors came searching, mostly for sundarigama, mantra siwaratri, manusa yadnya, hari kiamat menurut hindu, and lontar kanda pat.

Attractions in 2010

These are the posts and pages that got the most views in 2010.

1

Puja Mantra Siwaratri May 2009

2

Upacara Manusa Yadnya November 2009

3

DOA dan MANTRAM May 2009

4

Pustaka Lontar July 2010

5

Cara Mendekatkan Diri Dengan KANDAPAT November 2009

Oleh: Gusti Sudiartama | Januari 2, 2011

Tatacara Pelaksanaan Upacara Siwaratri

  1. Pengertian.
    Siwaratri adalah hari suci untuk melaksanakan pemujaan ke hadapan Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa dalam perwujudannya sebagai Sang Hyang Siwa. Hari Siwaratri mempunyai makna khusus bagi umat manusia, karena pada hari tersebut Sang Hyang Siwa beryoga. Sehubungan dengan itu umat Hindu melaksanakan kegiatan yang mengarah pada usaha penyucian diri, pemusatan pikiran ke hadapan Sang Hyang Siwa, dalam usaha memunculkan kesadaran diri (atutur ikang atma ri jatinya). Hal itu diwujudkan dengan pelaksanaan brata berupa upawasa, monabrata dan jagra. Siwarâtri juga disebut hari suci pajagran.
  1. Waktu Pelaksanaan.
    Siwarâtri jatuh pada hari Catur Dasi Krsna paksa bulan Magha (panglong ping 14 sasih Kapitu).
  2. Brata Siwarâtri.
    Brata Siwarâtri terdiri dari: 

    1. Utama, melaksanakan:
      1. Monabrata (berdiam diri dan tidak berbicara).
      2. Upawasa (tidak makan dan tidak minum).
      3. Jagra (berjaga, tidak tidur).
    2. Madhya, melaksanakan:
      1. Upawasa.
      2. Jagra.
    3. Nista, hanya melaksanakan:
      Jagra.
  3. Tata cara melaksanakan Upacara Siwarâtri.
    1. Untuk Sang Sadhaka sesuai dengan dharmaning kawikon.
    2. Untuk Walaka, didahului dengan melaksanakan sucilaksana (mapaheningan) pada pagi hari panglong ping 14 sasih Kapitu. Upacara dimulai pada hari menjelang malam dengan urutan sebagai berikut:
      1. Maprayascita sebagai pembersihan pikiran dan batin.
      2. Ngaturang banten pajati di Sanggar Surya disertai persembahyangan ke hadapan Sang Hyang Surya, mohon kesaksian- Nya.
      3. Sembahyang ke hadapan leluhur yang telah sidha dewata mohon bantuan dan tuntunannya.
      4. Ngaturang banten pajati ke hadapan Sang Hyang Siwa. Banten ditempatkan pada Sanggar Tutuan atau Palinggih Padma atau dapat pula pada Piasan di Pamerajan atau Sanggah. Kalau semuanya tidak ada, dapat pula diletakkan pada suatu tempat di halaman terbuka yang dipandang wajar serta diikuti sembahyang yang ditujukan kepada:
        – Sang Hyang Siwa.
        – Dewa Samodaya.
        Setelah sembahyang dilanjutkan dengan nunas tirta pakuluh. Terakhir adalah masegeh di bawah di hadapan Sanggar Surya.
      5. Sementara proses itu berlangsung agar tetap mentaati upowasa dan jagra.
        Upawasa berlangsung dan pagi hari pada panglong ping 14 sasih Kapitu sampai dengan besok paginya (24 jam).
        Setelah itu sampai malam (12 jam) sudah bisa makan nasi putih berisi garam dan minum air putih.
        Jagra yang dimulai sejak panglong ping 14 berakhir besok harinya jam 18.00 (36 jam).
      6. Persembahyangan seperti tersebut dalam nomor 4 di atas, dilakukan tiga kali, yaitu pada hari menjelang malam panglong ping 14 sasih Kapitu, pada tengah malam dan besoknya menjelang pagi  sumber:            http://www.Babadbali.com
Oleh: Gusti Sudiartama | Desember 25, 2010

PURA

SUDAH SANGAT UMUM dibicarakan, bahwa pura adalah semacam benteng; bahwa benteng-pura itu adalah tubuh ini sendiri; bahwa tubuh ini adalah alam semesta; bahwa alam semesta adalah ciptaanNya; bahwa -Nya adalah Aku; bahwa Aku adalah jiwa; bahwa jiwa adalah hidup; bahwa hidup adalah Amrta; bahwa Amrta adalah yang tidak mati-mati! 

APA YANG tidak mati-mati?

AMRTA tidak mati-mati, karena menunut ilmu etimologi, a- berarti tidak, mrta berarti mati. Aksara juga tidak mati-mati, karena a- berarti tidak, dan ksara berarti musnah. Yang tidak bisa dimuskahkan, tidak akan mati-mati. Tokoh utama kakawin Sumanasantaka, Sang Aja, juga tidak mati-mati, karena a- berarti tidak, -ja berarti dilahirkan, atau keturunan. Yang tidak dilahirkan tidak akan mati-mati. Dan masih banyak lagi yang menurut cerita dan menurut tattwa dikatakan tidak akan mati, alias hidup terus, alias abadi.

DEFINISI mati menjadi tidak lagi jelas. Tidak beda dengan kasus tubuh sebagai sebuah pura. Tubuh bisa mati, sedangkan Atma yang ada di dalam tubuh konon tidak mati-mati. Begitu pula pura bisa hancur, sedangkan Ia yang dipuja di pura itu konon tidak akan hancur-hancur. Artinya, benteng bisa musnah, sedangkan yang dibentengi tidak termusnahkan.

Kalau begitu, sebenarnya siapa membentengi siapa? Yang akan musnah membentengi yang tidak akan termusnahkan? Aneh. Tidak masuk akal, bila sebuah pura dianggap membentengi para dewa, justru karena pura bisa hancur sedangkan dewa tidak.

LOGIKA memang bisa dibulak-balik. Dan justru membalikkan logika adalah salah satu teknik dasar yang diajarkan oleh agama mistis untuk bisa mencapai level mistis yang lebih tinggi, atau lebih dalam. Walaupun demikian, tidak setiap orang berani membalikkan pikirannya untuk melihat realitas lain yang berbeda dengan realitas keseharian. Tidak juga banyak praktisi yang berani membuat eksperimen membalikkan pembacaan mantra dari belakang ke depan, atau dari kanan ke kiri, untuk mendapatkan efek yang berbeda. Keberanian seperti itu hanya tertinggal dalam cerita lawas, ketika para Mpu Dang Hyang membuat eksperimen dengan hidupnya. Jika keberanian itu sekarang tidak lagi ada, barangkali karena sudah lain kemauan zaman. Biarkanlah. Biarkan saja.

ADA SEBUAH PURA penuh dengan rasa amla di dalamnya. Pura itu lokasinya tersembunyi. Pura itu konon ada dalam posisi terbalik, yaitu mengadap ke bawah, ke tanah. Agar bisa membalikkan posisi Pura tersembunyi di dasar gunung itulah, maka logika harus dibalik. Dari posisi menghadap ke tanah, pura itu dibalikkan agar menghadap ke langit. Dalam posisi menghadap ke atas itulah konon pura itu akan bisa difungsikan. Dalam bahasa yoga, pura Amla itu ada di dasar meru Kundalini, atau Gunung Agung dalam diri.

Tentang apa pula semua itu? Apakah ini sebuah teka-teki sungguhan, atau permainan puzzle beneran? Atau, itu sebuah pandangan yang konon bisa dibuktikan kebenarannya kalau mempercayainya. Kalau tidak meyakininya, maka pura Amla itu tidak akan ada, dan dengan sendirinya tidak akan ditemukan.

Orang umumnya akan meyakini sesuatu kalau sudah mengalaminya. Tapi untuk berhasil mengalaminya, orang terlebih dahulu harus meyakininya. Persis seperti rasa bhakti dan bhukti. Orang akan bhakti kalau sudah membuktikan. Tapi mereka akan bisa membuktikan kalau terlebih dahulu membayarnya dengan rasa bhakti. Ini bukan masalah ayam dan telor. Ini masalah keyakinan dan pandangan yang berhubungan dengan tujuan. Mau ke mana siapa kamu?

JALAN MENUJU pura Amla dan jalan menuju Amlapura jelas berbeda. Tidak usah dibicarakan macam apa perbedaannya. Karena perbedaan, termasuk juga persamaan, hanyalah cara seseorang menjelaskan sesuatu. Dan kita sudah banyak sekali memiliki, menyimpan, dan mengoleksi penjelasan-penjelasan. Ada penjelasan dari leluhur, ada penjelasan dari guru agama, ada penjelasan dari pengalaman orang-orang seperjalanan, dan seterusnya. Cukup sampai di sana dharma wacananya. Yang kita perlukan sekarang adalah action.

KE LUAR PERPUSTAKAAN sesudah selesai membaca, dan ke luar dari pura sesudah selesai sembahyang, orang berjalan menuju rumahnya. Pangkal lidahnya berair, karena ternyata tanpa disadarinya, ia merindukan rasa asem yang Amla itu. Jakun di lehernya naik-turun. Air liur pun ditelannya. Sudah lama tak merasakan bukan manis, bukan pahit, bukan pedas, tapi justru asem. Bukan pedas, bukan manis, bukan pahit, bukan asin yang menggerakkan air liur, tapi asem. Di antara semua rasa yang berasal dari daratan, asem itulah utamanya.

JIKA RASA ASIN adalah satu-satunya yang berasal dari laut, maka asem adalah wakil dari daratan. Dan mengapa pula tetua dulu bernyanyi seperti berikut ini: ”asem di gunung dan asin di laut bertemu dalam kuali?” Pengalaman macam apa yang menyebabkan ungkapan itu terlahir? Semakin ditelusuri semakin tidak sampai. Sampai kapan? Sampai di mana? Dan kenapa harus sampai?

TERNYATA kita memang harus berbicara buka-bukaan tentang apa kata pustaka hati kita tentang sampai itu. Banyak orang tidak sampai karena memang tidak ke mana-mana. Banyak juga yang tidak sampai karena terus mencari dan mencari. Keduanya sama. Tapi keduanya pasti tidak sama.

ibm. dharma palguna

Bali Post,Senin, 01 Agustus 2010
Oleh: Gusti Sudiartama | Desember 21, 2010

Kerja dengan motif Kepentingan diri sendiri

Manusia setingkat lebih tinggi dari binatang. Kalau binatang bekerja karena dorongan instink semata, maka manusia bekerja kareja motifasi dari pikirannya. Sebagian besar manusia berbuat  demi kepentingannya sendiri, dimana “aku” sebagai subjek. bekerja demi untuk “aku”  sering disebut ahamkara. Aham artinya saya kara atinya berbuat. “aku’ ini sangat sulit untuk dikendalikan, keinginannya sangat tidak terbatas.

Hanya cinta kasih yang bisa melembutkan “aku” ini. Cinta kepada kekasih, cinta kepada istri,  cinta kepada keluarga mampu mengendorkan cengkeraman “aku” ini tapi belum bisa mengikis habis, karena kekasih,istri anak, keluarga masih merupakan bagian dari “aku”.

Selama”aku” masih berkuasa  maka suka dan duka akan selalu menjadi teman. Akibat lanjutannya adalah marah dan benci serta iri,  sebagai ekses ketidakmampuan “aku” memperoleh kepuasan. Ketidaksadaran bahwa  dunia ini hanya bisa memberi kesenangan sementara menyebabkan orang bersedia menjadi budak terhadap benda/ materi.

Arjuna setelah melihat gurunya Bhagawan Drona dan kakeknya yang sangat ia hormati berperang di pihak korawa, hatinya menjadi kecut, tidak sampai hatinya untuk membunuh orang-orang yang ia hormati. Terpikir olehnya adakah dosa yang lebih besar lagi dari membunuh guru dan kakek sendiri?

Sikap hormat kepada guru dan kakek itu adalah perbuatan yang baik, tetapi Sri Kresna menunjukkan bahwa ada kebaikan yang lebih tepat lagi yang ditentukan oleh waktu, tempat dan keadaan. Saat itu adalah waktu berperang, hanya ada dua pilihan yaitu membunuh dan dibunuh. Dimedan perang tidak ada guru dan murid tidak ada cucu dan kakek  yang ada hanya kawan atau lawan. Tugas arjuna saat itu adalah berperang memberantas musuh dan memenangkan perang tidak peduli siapa musuh itu.

Jelaslah dari banyaknya kebenaran-kebenaran orang harus memilih kebenaran yang paling tepat. Waktu, tempat dan keadaan adalah salah satu pegangan untuk menilai kebenaran. Pegangan  yang lain adalah motifasi dari melakukan perbuatan itu, suatu perbuatan dengan motif keuntungan pribadi tentu tidak ada pembenaran, sedangkan perbuatan dengan motif kepentingan umum atau orang banyak serta untuk kebaikan orang lain pastilah mulia.

Lantas siapakah yang paling tahu motifasi ini?.. tentu orang lain hanya mampu menilai perbuatan kita dari norma-norma bahkan sangat mungkin dari kepentingan orang tersebut.  Kalau dianggap menguntungkan dirinya akan dianggap perbuatan baik, kalau merugikan dirinya kan disebut tidak baik bahkan sesat.    Hanya diri sendirilah yang paling tahu..  apakah perbuatan itu memang mempunyai motifasi yang benar-benar murni untuk kebaikan orang lain atau disusupi oleh kepentingan diri sendiri?

Sumber:  Pengantar Agama Hindu oleh Cudamani.

 

Oleh: Gusti Sudiartama | Desember 20, 2010

Puja Brahma di Andakasa

Katuturaning usana Bali: ”Cinaritaken tingkahing bumi Bali, hana gunung CaturLoka Pala, nga, nanging tingkahing gunung ika marapat, luwire maring pruwa Gunung Lempuhyang nga, pangastanan Ida Bhatara Agni Jaya, maring pascima Gunung Bheratan nga, pangastanan Ida Bhatara Watukaru, maring utara Gunung Mangu nga, pangastanan Ida Hyang Dhenawa, maring Daksina Gunung Andakasa nga, pagastanan Ida Hyanging Tugu. (Kutipan Lontar Usana Bali).

Maksudnya:
Inilah keterangan Usana Bali menceritarakan keadaan bumi Bali ada Gunung Catur Loka Pala namanya. Letaknya di keempat penjuru yaitu di timur Gunung Lempuhyang stana Ida Batara Agni Jaya, di barat Gunung Bheratan stana Batara Watukaru, di utara Gunung Mangu stana Batara Hyang Dhenawa, di selatan Gunung Andakasa namanya stana Hyanging Tugu.

Pura Andakasa adalah pura kahyangan jagat yang terletak di Banjar Pakel Desa Gegelang Kecamatan Manggis, Karangasem. Pura ini didirikan atas konsepsi Catur Loka Pala dan Sad Winayaka. Pura yang didirikan berdasarkan konsepsi Catur Loka Pala adalah empat pura sebagai media pemujaan empat manifestasi Tuhan untuk memotivasi umat mendapatkan rasa aman atau perlindungan atas kemahakuasaan Tuhan. Keempat pura itu dinyatakan dalam kutipan Lontar Usana Bali di atas. Mendapatkan rasa aman (raksanam) dan mendapatkan kehidupan yang sejahtera (danam) sebagai kebutuhan dasar masyarakat yang wajib diupayakan oleh para pemimpin atau kesatria. Demikian dinyatakan dalam Manawa Dharmasastra I.89.

Usaha manusia itu tidak akan mantap tanpa disertai dengan doa pada Tuhan. Memanjatkan doa pada Tuhan untuk mendapatkan rasa aman (raksanan) di segala penjuru bumi itulah sebagai latar belakang didirikannya Pura Catur Loka Pala di empat penjuru Bali. Di arah selatan didirikan Pura Andakasa sebagai tempat pemujaan Batara Hyanging Tugu. Hal ini juga dinyatakan dalam Lontar Babad Kayu Selem. Sedangkan dalam Lontar Padma Bhuwana menyatakan: ”Brahma pwa sira pernahing daksina, pratistheng kahyangan Gunung Andakasa.” Artinya Dewa Brahma menguasai arah selatan (daksina) yang dipuja di Pura Kahyangan Gunung Andakasa.

Yang dimaksud Hyanging Tugu dalam Lontar Usana Bali dan Babad Kayu Selem itu adalah Dewa Brahma sebagai manifestasi Tuhan dalam fungsinya sebagai pencipta.

Pura Andakasa juga salah satu pura yang didirikan atas dasar konsepsi Sad Winayaka untuk memuja enam manifestasi Tuhan di Pura Sad Kahyangan. Memuja Tuhan di Pura Sad Kahyangan untuk memohon bimbingan Tuhan dalam melestarikan sad kertih membangun Bali agar tetap ajeg — umatnya sejahtera sekala-niskala. Membina tegaknya Sad Kertih itu menyangkut aspek spiritual yaitu atma Kertih. Yang menyangkut pelestarian alam ada tiga yaitu samudra kertih, wana kertih dan danu kertih yaitu pelestarian laut, hutan dan sumber-sumber mata air. Sedangkan untuk manusianya meliputi jagat kertih membangun sistem sosial yang tangguh dan jana kertih menyangkut pembangunan manusia individu yang utuh lahir batin.

Jadinya pemujaan Tuhan Yang Mahaesa dengan media pemujaan dalam wujud Pura Catur Loka Pala dan Sad Winayaka untuk membangun sistem religi yang aplikatif. Sistem religi berupaya agar pemujaan pada Tuhan Yang Maha Esa itu dapat berdaya guna untuk memberikan landasan moral dan mental.

Pura Andakasa dalam kesehariannya didukung oleh dua desa pakraman yaitu Desa Pakraman Antiga dan Gegelang. Menurut cerita rakyat di Antiga didapatkan penjelasan bahwa pada zaman dahulu di Desa Antiga ada tiga butir telur jatuh dari angkasa. Tiga telur tersebut didekati oleh masyarakat. Tiba-tiba telur itu meledak dan mengeluarkan asap. Asap itu berembus dari Desa Antiga menuju tiga arah. Ada yang ke barat daya, ke barat laut dan ke utara. Masyarakat Desa Antiga mendengar adanya sabda atau suara dari alam niskala. Sabda itu menyatakan bahwa asap yang mengarah ke barat daya desa adalah Batara Brahma. Sejak itu bukit itu bernama Andakasa sebagai tempat pemujaan Batara Brahma. Asap yang ke barat laut desa adalah Batara Wisnu menuju Bukit Cemeng didirikan Pura Puncaksari. Asap yang menuju ke utara desa adalah perwujudan Batara Siwa dipuja di Pura Jati. Tiga pura di tiga bukit itulah sebagai arah pemujaan umat di Desa Antiga dan Desa Gegelang.

Pemujaan Batara Brahma di Pura Andakasa ini dibangun di jejeran pelinggih di bagian timur dalam bentuk Padmasana. Di bagian jeroan atau pada areal bagian dalam Pura Andakasa di jejer timur ada empat padma. Yang paling utara adalah disebut Sanggar Agung, di sebelah selatannya ada pelinggih Meru Tumpang Telu. Di selatan meru tersebut ada padmasana sebagai pelinggih untuk memuja Dewa Brahma atau Hyanging Tugu. Di sebelah selatan pelinggih Batara Brahma ada juga dua padmasana untuk pelinggih Sapta Petala dan Anglurah Agung.

Upacara pujawali atau juga disebut piodalan di Pura Andakasa diselenggarakan dengan menggunakan sistem tahun wuku. Hari yang ditetapkan sejak zaman dahulu sebagai hari pujawali di Pura Andakasa adalah setiap hari Anggara Kliwon Wuku Medangsia. Di samping ada pujawali setiap 210 hari, juga diselenggarakan upacara pecaruan setiap Anggara Kliwon pada wuku Perangbakat, wuku Dukut dan wuku Kulantir.

Setiap pujawali di Pura Andakasa pada umumnya diadakan upacara melasti ke Segara Toya Betel di Desa Pengalon. Tujuan melasti ini adalah untuk lebih menguatkan dan memantapkan umat dalam menyerap vibrasi kesucian Ida Batara di Pura Andakasa. Tujuan utama melasti menurut Sundarigama adalah anganyutaken laraning jagat, papa klesa, letuhing bhuwana. Artinya mengatasi penderitaan rakyat, menghilangkan kekotoran (klesa) diri dan untuk menyucikan alam lingkungan dari pencemaran.

1 Piyasan
Meru Tumpang-5
2 Gedong Sari
3 Lingga Jineng
4 Taksu Seluang
5 Limas Saru
6 Gedong TUmpang-2
7 Sanggar Agung Padmasana
8 Meru TUmpang-3
9 Batara Hyang Tugu
10 Sapta Patala
11 Ngelurah Agung
12 Bale Panggungan
13 Bale Jajar Lumbung
14 Bali Pasaji
15 Pengaruman
16 Bale Piyasan
17 Bale Pasanekan
18 Pamedal
19 Pamedal Paletasan
20 Taru Kuang
(Ficus Superba (Miq.)
21 Pamedal Jeroan
a Apit Lawang
24 Wantilan lan Bale Gong
25 Bale Pewaregan / Paebatan
26 Bale Kulkul
27 Pamedal Jabaan

I Ketut Gobyah

Seperti di kutip dari  babadbali.

Oleh: Gusti Sudiartama | Desember 20, 2010

Sungai dan Orang Arti Menyeberang

ADA sebuah sungai besar membelah Tabanan dari Batukaru sampai ke laut, bernama sungai Ho. Orang-orang yang desanya dilewati aliran sungai itu fasih menyebutnya Yeh Ho.

Dahulu sungai Ho sering menghanyutkan manusia yang menyeberanginya dengan berjalan kaki. Dan orang-orang yang dihanyutkannya itu, anehnya, sering tidak berhasil ditemukan mayatnya.

Karena tidak ditemukan, orang pun tidak tahu apakah mayat-mayat itu sampai ke laut, atau tersangkut di sela-sela jepitan batu-batu besar yang memenuhi sungai, atau disembunyikan oleh makhluk-makhluk halus yang konon dipercaya banyak berumah di sungai Ho itu.

BAHKAN KONON dalam satu kasus yang saya dengar sekitar akhir tahun enampuluhan, satu desa sepakat untuk menggunakan jasa leak untuk mencari di mana kira-kira mayat itu tersangkut. Sekadar diketahui, konon dalam hal permayatan leak punya penciuman sangat tajam, barangkali setajam anjing pelacak narkoba. Sayangnya saya sendiri tidak sempat mendengar kelanjutannya, apakah para leak itu berhasil mendeteksi posisi mayat atau tidak.

MAKLUMLAH ketika itu saya tidak lebih seorang anak usia bawah lima tahun.

Yang masih saya ingat orang-orang pun kemudian beramai-ramai menciptakan berbagai cerita tentang keangkeran sungai itu. Ada yang mengatakan begini, ada yang menambahkan begitu, ada yang membubuhi anu, ada yang memoles dengan aneka keseraman kene dan keto, ada yang menyebarkan cerita itu dari rumah ke rumah, dan seterusnya entah apa lagi. Mereka bergotong-royong menciptakan cerita untuk kepuasan batin mereka sendiri yang memang haus akan santapan rohani jenis itu. Apalagi yang bisa mereka lakukan karena semua cerita itulah merupakan penjelasan paling masuk ”masuk akal” dalam dunia mereka.

DARI SEKIAN banyak versi cerita yang mereka buat, orang-orang sepakat bahwa keangkeran sungai itulah yang menjadi sebab utama, mengapa mayat-mayat itu tidak berhasil ditemukan. Angker adalah sebuah kata yang ampuh untuk menyelesaikan diskusi yang tidak menemukan ujungnya itu.

Sekarang saya tidak tahu apakah sungai Ho itu masih ”senang” menyeret dan menghilangkan nyawa dan tubuh manusia. Karena sekarang saya hanya melihat sungai itu pada sebuah peta pulau Bali. Keangkerannya tentu saja tidak bisa saya rasakan pada sebuah peta. Karena sebuah peta tidak dilengkapi dengan aneka cerita. Sungai Ho dalam peta Pulau Bali nampak seperti seekor cacing tanah sedang menggeliat kepanasan. Kesan angker tidak nampak pada cacing tanah itu.

Mengapa mesti sungai, dan mengapa justru Ho?

SUNGAI dan manusia memiliki hubungan yang kompleks. Contohnya, Sidharta yang kemudian menjadi Sang Buddha pernah diseberangkan melewati sebuah sungai besar. Di atas sungai itu konon ia ”melihat” realita yang berbeda dengan apa yang dimengertinya sebagai realita sehari-hari. Ia membuktikan bahwa sungai tidak hanya menjadi sarana penyeberangan fisik, tapi ternyata juga menjadi sarana penyeberangan batin. Masih banyak lagi contoh cerita seperti itu di dalam khasanah sastra kita. Dan untuk contoh seperti itu, kita tidak perlu mencarinya jauh-jauh.

ORANG-ORANG di beberapa desa di Tabanan juga memiliki hubungan yang kompleks dengan sungai Ho. Jangankan kompleksitas hubungan mereka, arti kata ho saja tidak mudah dijelaskan dan dipahami.

Apa arti Ho itu?

Orang-orang yang sehari-hari melintasi sungai Ho tidak bertanya apa arti kata ho terlebih dahulu, kemudian baru menyeberanginya.

BAGI MEREKA SUNGAI itu memisahkan tepi yang satu dengan tepi yang satunya lagi. Untuk menghubungkan kedua tepi itu mereka mesti bergerak dengan cara menyeberang. Berhasil tidaknya mereka menyeberang tidak tergantung apakah mereka tahu arti kata ho atau tidak.

SIAPA PERDULI arti selain folosuf, nabi-nabi dan para pengikut keduanya. Anak-anak tidak akan berkembang hidupnya bila harus tahu arti permainan terlebih dahulu sebelum mereka bermain. Kehidupan barangkali akan punah bila harus tahu apa arti hidup sebelum kita hidup.

SYUKURLAH ORANG-ORANG DESA ITU tidak seperti itu. Menyeberang dulu, dan setelah tiba di tepi yang dituju, di sana bolehlah merenungi arti. Sekenanya, sebisanya, sesempatnya. Tidak ada yang menyuruh, dan tidak ada juga yang melarang. Barangkali karena cara seperti itu, misteri hubungan sungai dan orang tidak buru-buru dipecahkan.

Untuk apa buru-buru memecahkan misteri?

TUHAN DISEMBAH berabad-abad karena Ia adalah Misteri. Bagaimana jadinya bila seandainya misteri Tuhan itu berhasil dipecahkan dan dikonsumsi secara massal?

Tuhan yang bukan misteri bukanlah Tuhan!

ibm. dharma palguna

disadur dari Bali Post  http://www.balipost.com

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori