Oleh: Gusti Sudiartama | Desember 20, 2010

Puja Brahma di Andakasa

Katuturaning usana Bali: ”Cinaritaken tingkahing bumi Bali, hana gunung CaturLoka Pala, nga, nanging tingkahing gunung ika marapat, luwire maring pruwa Gunung Lempuhyang nga, pangastanan Ida Bhatara Agni Jaya, maring pascima Gunung Bheratan nga, pangastanan Ida Bhatara Watukaru, maring utara Gunung Mangu nga, pangastanan Ida Hyang Dhenawa, maring Daksina Gunung Andakasa nga, pagastanan Ida Hyanging Tugu. (Kutipan Lontar Usana Bali).

Maksudnya:
Inilah keterangan Usana Bali menceritarakan keadaan bumi Bali ada Gunung Catur Loka Pala namanya. Letaknya di keempat penjuru yaitu di timur Gunung Lempuhyang stana Ida Batara Agni Jaya, di barat Gunung Bheratan stana Batara Watukaru, di utara Gunung Mangu stana Batara Hyang Dhenawa, di selatan Gunung Andakasa namanya stana Hyanging Tugu.

Pura Andakasa adalah pura kahyangan jagat yang terletak di Banjar Pakel Desa Gegelang Kecamatan Manggis, Karangasem. Pura ini didirikan atas konsepsi Catur Loka Pala dan Sad Winayaka. Pura yang didirikan berdasarkan konsepsi Catur Loka Pala adalah empat pura sebagai media pemujaan empat manifestasi Tuhan untuk memotivasi umat mendapatkan rasa aman atau perlindungan atas kemahakuasaan Tuhan. Keempat pura itu dinyatakan dalam kutipan Lontar Usana Bali di atas. Mendapatkan rasa aman (raksanam) dan mendapatkan kehidupan yang sejahtera (danam) sebagai kebutuhan dasar masyarakat yang wajib diupayakan oleh para pemimpin atau kesatria. Demikian dinyatakan dalam Manawa Dharmasastra I.89.

Usaha manusia itu tidak akan mantap tanpa disertai dengan doa pada Tuhan. Memanjatkan doa pada Tuhan untuk mendapatkan rasa aman (raksanan) di segala penjuru bumi itulah sebagai latar belakang didirikannya Pura Catur Loka Pala di empat penjuru Bali. Di arah selatan didirikan Pura Andakasa sebagai tempat pemujaan Batara Hyanging Tugu. Hal ini juga dinyatakan dalam Lontar Babad Kayu Selem. Sedangkan dalam Lontar Padma Bhuwana menyatakan: ”Brahma pwa sira pernahing daksina, pratistheng kahyangan Gunung Andakasa.” Artinya Dewa Brahma menguasai arah selatan (daksina) yang dipuja di Pura Kahyangan Gunung Andakasa.

Yang dimaksud Hyanging Tugu dalam Lontar Usana Bali dan Babad Kayu Selem itu adalah Dewa Brahma sebagai manifestasi Tuhan dalam fungsinya sebagai pencipta.

Pura Andakasa juga salah satu pura yang didirikan atas dasar konsepsi Sad Winayaka untuk memuja enam manifestasi Tuhan di Pura Sad Kahyangan. Memuja Tuhan di Pura Sad Kahyangan untuk memohon bimbingan Tuhan dalam melestarikan sad kertih membangun Bali agar tetap ajeg — umatnya sejahtera sekala-niskala. Membina tegaknya Sad Kertih itu menyangkut aspek spiritual yaitu atma Kertih. Yang menyangkut pelestarian alam ada tiga yaitu samudra kertih, wana kertih dan danu kertih yaitu pelestarian laut, hutan dan sumber-sumber mata air. Sedangkan untuk manusianya meliputi jagat kertih membangun sistem sosial yang tangguh dan jana kertih menyangkut pembangunan manusia individu yang utuh lahir batin.

Jadinya pemujaan Tuhan Yang Mahaesa dengan media pemujaan dalam wujud Pura Catur Loka Pala dan Sad Winayaka untuk membangun sistem religi yang aplikatif. Sistem religi berupaya agar pemujaan pada Tuhan Yang Maha Esa itu dapat berdaya guna untuk memberikan landasan moral dan mental.

Pura Andakasa dalam kesehariannya didukung oleh dua desa pakraman yaitu Desa Pakraman Antiga dan Gegelang. Menurut cerita rakyat di Antiga didapatkan penjelasan bahwa pada zaman dahulu di Desa Antiga ada tiga butir telur jatuh dari angkasa. Tiga telur tersebut didekati oleh masyarakat. Tiba-tiba telur itu meledak dan mengeluarkan asap. Asap itu berembus dari Desa Antiga menuju tiga arah. Ada yang ke barat daya, ke barat laut dan ke utara. Masyarakat Desa Antiga mendengar adanya sabda atau suara dari alam niskala. Sabda itu menyatakan bahwa asap yang mengarah ke barat daya desa adalah Batara Brahma. Sejak itu bukit itu bernama Andakasa sebagai tempat pemujaan Batara Brahma. Asap yang ke barat laut desa adalah Batara Wisnu menuju Bukit Cemeng didirikan Pura Puncaksari. Asap yang menuju ke utara desa adalah perwujudan Batara Siwa dipuja di Pura Jati. Tiga pura di tiga bukit itulah sebagai arah pemujaan umat di Desa Antiga dan Desa Gegelang.

Pemujaan Batara Brahma di Pura Andakasa ini dibangun di jejeran pelinggih di bagian timur dalam bentuk Padmasana. Di bagian jeroan atau pada areal bagian dalam Pura Andakasa di jejer timur ada empat padma. Yang paling utara adalah disebut Sanggar Agung, di sebelah selatannya ada pelinggih Meru Tumpang Telu. Di selatan meru tersebut ada padmasana sebagai pelinggih untuk memuja Dewa Brahma atau Hyanging Tugu. Di sebelah selatan pelinggih Batara Brahma ada juga dua padmasana untuk pelinggih Sapta Petala dan Anglurah Agung.

Upacara pujawali atau juga disebut piodalan di Pura Andakasa diselenggarakan dengan menggunakan sistem tahun wuku. Hari yang ditetapkan sejak zaman dahulu sebagai hari pujawali di Pura Andakasa adalah setiap hari Anggara Kliwon Wuku Medangsia. Di samping ada pujawali setiap 210 hari, juga diselenggarakan upacara pecaruan setiap Anggara Kliwon pada wuku Perangbakat, wuku Dukut dan wuku Kulantir.

Setiap pujawali di Pura Andakasa pada umumnya diadakan upacara melasti ke Segara Toya Betel di Desa Pengalon. Tujuan melasti ini adalah untuk lebih menguatkan dan memantapkan umat dalam menyerap vibrasi kesucian Ida Batara di Pura Andakasa. Tujuan utama melasti menurut Sundarigama adalah anganyutaken laraning jagat, papa klesa, letuhing bhuwana. Artinya mengatasi penderitaan rakyat, menghilangkan kekotoran (klesa) diri dan untuk menyucikan alam lingkungan dari pencemaran.

1 Piyasan
Meru Tumpang-5
2 Gedong Sari
3 Lingga Jineng
4 Taksu Seluang
5 Limas Saru
6 Gedong TUmpang-2
7 Sanggar Agung Padmasana
8 Meru TUmpang-3
9 Batara Hyang Tugu
10 Sapta Patala
11 Ngelurah Agung
12 Bale Panggungan
13 Bale Jajar Lumbung
14 Bali Pasaji
15 Pengaruman
16 Bale Piyasan
17 Bale Pasanekan
18 Pamedal
19 Pamedal Paletasan
20 Taru Kuang
(Ficus Superba (Miq.)
21 Pamedal Jeroan
a Apit Lawang
24 Wantilan lan Bale Gong
25 Bale Pewaregan / Paebatan
26 Bale Kulkul
27 Pamedal Jabaan

I Ketut Gobyah

Seperti di kutip dari  babadbali.

Oleh: Gusti Sudiartama | Desember 20, 2010

Sungai dan Orang Arti Menyeberang

ADA sebuah sungai besar membelah Tabanan dari Batukaru sampai ke laut, bernama sungai Ho. Orang-orang yang desanya dilewati aliran sungai itu fasih menyebutnya Yeh Ho.

Dahulu sungai Ho sering menghanyutkan manusia yang menyeberanginya dengan berjalan kaki. Dan orang-orang yang dihanyutkannya itu, anehnya, sering tidak berhasil ditemukan mayatnya.

Karena tidak ditemukan, orang pun tidak tahu apakah mayat-mayat itu sampai ke laut, atau tersangkut di sela-sela jepitan batu-batu besar yang memenuhi sungai, atau disembunyikan oleh makhluk-makhluk halus yang konon dipercaya banyak berumah di sungai Ho itu.

BAHKAN KONON dalam satu kasus yang saya dengar sekitar akhir tahun enampuluhan, satu desa sepakat untuk menggunakan jasa leak untuk mencari di mana kira-kira mayat itu tersangkut. Sekadar diketahui, konon dalam hal permayatan leak punya penciuman sangat tajam, barangkali setajam anjing pelacak narkoba. Sayangnya saya sendiri tidak sempat mendengar kelanjutannya, apakah para leak itu berhasil mendeteksi posisi mayat atau tidak.

MAKLUMLAH ketika itu saya tidak lebih seorang anak usia bawah lima tahun.

Yang masih saya ingat orang-orang pun kemudian beramai-ramai menciptakan berbagai cerita tentang keangkeran sungai itu. Ada yang mengatakan begini, ada yang menambahkan begitu, ada yang membubuhi anu, ada yang memoles dengan aneka keseraman kene dan keto, ada yang menyebarkan cerita itu dari rumah ke rumah, dan seterusnya entah apa lagi. Mereka bergotong-royong menciptakan cerita untuk kepuasan batin mereka sendiri yang memang haus akan santapan rohani jenis itu. Apalagi yang bisa mereka lakukan karena semua cerita itulah merupakan penjelasan paling masuk ”masuk akal” dalam dunia mereka.

DARI SEKIAN banyak versi cerita yang mereka buat, orang-orang sepakat bahwa keangkeran sungai itulah yang menjadi sebab utama, mengapa mayat-mayat itu tidak berhasil ditemukan. Angker adalah sebuah kata yang ampuh untuk menyelesaikan diskusi yang tidak menemukan ujungnya itu.

Sekarang saya tidak tahu apakah sungai Ho itu masih ”senang” menyeret dan menghilangkan nyawa dan tubuh manusia. Karena sekarang saya hanya melihat sungai itu pada sebuah peta pulau Bali. Keangkerannya tentu saja tidak bisa saya rasakan pada sebuah peta. Karena sebuah peta tidak dilengkapi dengan aneka cerita. Sungai Ho dalam peta Pulau Bali nampak seperti seekor cacing tanah sedang menggeliat kepanasan. Kesan angker tidak nampak pada cacing tanah itu.

Mengapa mesti sungai, dan mengapa justru Ho?

SUNGAI dan manusia memiliki hubungan yang kompleks. Contohnya, Sidharta yang kemudian menjadi Sang Buddha pernah diseberangkan melewati sebuah sungai besar. Di atas sungai itu konon ia ”melihat” realita yang berbeda dengan apa yang dimengertinya sebagai realita sehari-hari. Ia membuktikan bahwa sungai tidak hanya menjadi sarana penyeberangan fisik, tapi ternyata juga menjadi sarana penyeberangan batin. Masih banyak lagi contoh cerita seperti itu di dalam khasanah sastra kita. Dan untuk contoh seperti itu, kita tidak perlu mencarinya jauh-jauh.

ORANG-ORANG di beberapa desa di Tabanan juga memiliki hubungan yang kompleks dengan sungai Ho. Jangankan kompleksitas hubungan mereka, arti kata ho saja tidak mudah dijelaskan dan dipahami.

Apa arti Ho itu?

Orang-orang yang sehari-hari melintasi sungai Ho tidak bertanya apa arti kata ho terlebih dahulu, kemudian baru menyeberanginya.

BAGI MEREKA SUNGAI itu memisahkan tepi yang satu dengan tepi yang satunya lagi. Untuk menghubungkan kedua tepi itu mereka mesti bergerak dengan cara menyeberang. Berhasil tidaknya mereka menyeberang tidak tergantung apakah mereka tahu arti kata ho atau tidak.

SIAPA PERDULI arti selain folosuf, nabi-nabi dan para pengikut keduanya. Anak-anak tidak akan berkembang hidupnya bila harus tahu arti permainan terlebih dahulu sebelum mereka bermain. Kehidupan barangkali akan punah bila harus tahu apa arti hidup sebelum kita hidup.

SYUKURLAH ORANG-ORANG DESA ITU tidak seperti itu. Menyeberang dulu, dan setelah tiba di tepi yang dituju, di sana bolehlah merenungi arti. Sekenanya, sebisanya, sesempatnya. Tidak ada yang menyuruh, dan tidak ada juga yang melarang. Barangkali karena cara seperti itu, misteri hubungan sungai dan orang tidak buru-buru dipecahkan.

Untuk apa buru-buru memecahkan misteri?

TUHAN DISEMBAH berabad-abad karena Ia adalah Misteri. Bagaimana jadinya bila seandainya misteri Tuhan itu berhasil dipecahkan dan dikonsumsi secara massal?

Tuhan yang bukan misteri bukanlah Tuhan!

ibm. dharma palguna

disadur dari Bali Post  http://www.balipost.com

Oleh: Gusti Sudiartama | Desember 20, 2010

Pengantar Menuju Pintu…Jagat Kecil Sembilan Pintu…

KALAU ADA ORANG mengetuk pintu dari dalam, pertanda ia (sudah) ada di dalam ruangan. Tapi mengapa ia masih mengetuk? Mungkin ia terkunci dari luar. Ketukannya adalah panggilan minta tolong kepada dunia luar agar ada yang membukakan pintu untuknya. Ketika pintu terbuka, ia ke luar. Di luar sana mungkin ia bebas. Atau, bisa jadi ia akan terkunci untuk kedua kalinya. Di luar sana ia kembali dikurung oleh ruang besar yang mahaluas. Maka, kembalilah ia mengetuk dari dalam. Mengetuk bumi dari atas bumi. Mengetuk langit dari bawah langit. Ia berharap akan ada kekuatan yang akan membukakannya pintu bumi dan pintu langit. Untuk apa? Mungkin ia punya tujuan. Siapa yang memberi ia tujuan? Mungkin agamanya, mungkin tradisi di tempatnya hidup, mungkin obsesi pribadinya. Tujuan itu mungkin personal, mungkin institusional. 

PERJALANAN HIDUP barangkali oleh karena itu sering diibaratkan perjalanan dari satu ketukan ke ketukan yang lain. Irama lagu, irama tarian, irama nafas, irama jantung, dan sebagainya, juga sering ditandai dengan ketukan-ketukan. Ketukan itu menimbulkan bunyi. Bila orang menjadi sibuk menghitung jumlah ketukan, orang mungkin akan lupa pada tujuan.

SIAPA ITU YANG mengetuk dari dalam?

Yang mengetuk pintu dari dalam misalnya, anak ayam yang akan menetas dari telur yang sudah matang masa dikeram oleh induknya. Anak ayam itu mengetuk dari dalam dengan paruh kecilnya yang masih lemah. Ketukannya didengar oleh induknya. Maka datanglah pertolongan. Dengan hati-hati induknya mematuk dari luar. Ketika kulit telur itu pecah, anak ayam itu disebut bebas.

Meskipun lemah ketukan anak ayam itu pasti didengar juga oleh induknya. Dari induk itulah datangnya pertolongan yang menyebabkan usaha anak ayam di dalam ruang kecil berhasil menembus ruang besar. Dan memang tidak ada jaminan bahwa ia akan bebas setelah mengembara di ruang luas. Karena yang namanya ”bebas” adalah sesuatu yang berbeda dengan ketukan.

NASIB anak ayam itu tidak berbeda dengan nasib angin. Angin yang ada di dalam batang bambu juga mengetuk-ngetuk dari dalam, entah dengan apanya dari angin itu yang dipakai mengetuk. Lama angin itu mengetuk dan lama angin itu menunggu sampai akhirnya datang pertolongan. Panas matahari dan hembusan induk-angin menolongnya dengan cara dibuatnya bambu itu kering. Panas matahari dan induk-angin itu akhirnya menyebabkan batang bambu itu retak. Pada retakan itulah nampak ada ”pintu”, sehingga angin di dalam batang bambu menjadi ke luar.

PERGI KE LUAR dan bersatu kembali dengan induk-angin tidak serta merta berarti bebas. Angin di alam luas sering menjadi metafora tentang bayu (angin dalam diri) yang berhembus ke sana ke mari. Kumpulan sari bayu itu sering dijadikan metafora tentang atma yang mencari pintu untuk ke luar dari penjara tubuh dan bersatu kembali dengan induk-atma. Tidak setiap atma yang ke luar dari tubuh berarti menemukan apa yang disebut bebas. Ia hanya ke luar. Dan bebas adalah sesuatu yang lain lagi.

CONTOH ketukan dari dalam masih bisa diperpanjang. Sangat banyak hal yang bisa dijadikan contoh. Karena alam memang mengajarkan ilmu mengetuk dari luar bagi yang ingin masuk, dan mengajarkan pula ilmu mengetuk dari dalam bagi yang ingin ke luar karena terkunci di dalam.

BAIK KETUKAN dari luar maupun ketukan dari dalam, sama-sama memiliki tujuan yang relatif tidak berbeda. Menuju ruang yang lebih luas! Dalam dua contoh kasus di atas ruang yang luas itu diditandai pertemuan dengan Induk. Anak ayam bertemu dengan induknya. Angin dalam batang bambu bertemu dengan Induknya, yaitu angin yang ada di alam semesta. Induk dipahami ada di ruang yang luas.

PERSATUAN itu dalam bahasa rakyat disederhanakan dengan kata mulih, atau pulang. Sebelum sampai, orang akan menemukan pintu-pintu. Karena itulah ia

mengetuk dari luar. Tapi dalam bahasa Yoga yang berbasis pada level-level kesadaran, orang diibaratkan mengetuk pintu dari dalam dirinya. Karena dirinya (tubuhnya) itulah yang dipahami sebagai pintu, yang memisahkan dua dunia yang disebut luar dan dalam. Dalam sastra, tubuh itu disebut kelir, yang memisahkan wayang dari penonton dan dalangnya.

MASIH SANGAT PANJANG sebenarnya yang bisa kita omongkan tentang pintu, ketukan, dari dalam, dari luar. Banyak filosof memusatkan renungannya pada pintu. Banyak pula sastrawan yang menulis tentang kedalaman makna sebuah atau berapa buah pintu. Dalam sastra Bali sudah tidak asing lagi kalau tubuh manusia diibaratkan sebuah jagat kecil dengan sembilan pintu.

ITU BARU SEMBILAN pintu yang nampak dengan mata, dan bisa diraba dengan tangan. Jagat tubuh ini konon masih memiliki pintu-pintu rahasia lainnya. Umpamanya, ubun-ubun (Shiwadwara), pertengahan jidat (song langit), ujung hidung (tungtung ing ghrana), pusar (nabhi), ujung ibu jari kaki (ulu puhun) dan seterusnya. Melalui pintu-pintu rahasia itulah konon ”sesuatu” yang halus dan teramat halus ke luar masuk.

PINTU memang tempat ke luar dan masuk. Selain adanya pintu di jagat tubuh, jagat-semesta juga konon punya pintu-pintu, yang entah di mana itu. Konon para yogi yang benar-benar yogi mengetahui pintu-pintu jagat-semesta itu. Jadi kalau ingin tahu, jadilah seorang yogi yang benar-benar yogi. Kalau tidak sempat menjadi yogi karena kesibukan ini dan itu, tunggu saja sampai nanti ada yogi yang memberitahu.

Kalau benar jagat ini punya pintu, dan Bali adalah bagian dari jagat ini, maka tidak terlalu mengada-ada kalau orang bertanya: di manakah pintu-pintu ”rahasia” nusa Bali ini?

Pertanyaan itulah yang akan menggiring kita ke Jemberana, daerah yang menjadi topik kita bulan ini.

ibm dharma palguna

seperti dimuat di Bali Post  http://www.balipost.com

Oleh: Gusti Sudiartama | Desember 16, 2010

Yoga, Obat Pasti di Jaman Yang Tidak Pasti

Menurut Weda  jaman di dalam kehidupan manusia dikelompokan menjadai 4, yaitu Kerta Yuga atau Tirtha yuga,Treta Yuga, Dwapara Yuga, dan Kali Yuga. Dari ke empat jaman tersebut yang paling sering dibicarakan adalah jaman Kali Yuga. Banyak dari kita yang tidak mengerti, kenapa, kapan dan bagaimana jaman itu bisa beralih dari jaman yang satu ke jaman yang lainnya. Menurut pengamatan pedanda dan juga bersumber dari sastra – sastra agama yang pernah pedanda baca, sesungguhnya manusialah yang menyebabkan jaman itu berganti. Manusialah sebagai penentu kapan jaman Kali Yuga itu datang, kapan dia akan berakhir dan kapan jaman Kerta itu akan datang. Melalui tulisan ini pedanda ingin berbagi sebuah resep tentang bagaimana melewati jaman Kali Yuga ini.  Para leluhur kita telah memberi kita banyak sekali contoh, begitupula alam yang setiap saat memberi kita sinyal -sinyal, tetapi kita tidak mampu membaca contoh leluhur kita dan menangkap suara – suara alam.

Salah satu contoh yang pedanda kemukakan adalah tentang filsafat kepiting dan seekor belut. Suatu ketika saat pedanda memberikan dharma wacana di Pura Candi Rawi di daerah Jembrana, sesaat setelah dharma wacana pedanda disuguhi makanan yang lauknya membuat pedanda sedikit heran. Yang pertama adalah seekor kepiting besar lengkap dengan capitnya, dan yang kedua adalah belut yang besar, sebesar ibu jari. Yang menghaturkan makanan tersebut mengatakan bahwa di daerah mereka jika menghaturkan rayunan pedanda maka diharuskan berisi kepiting dan belut, itu merupakan tradisi dan warisan leluhur yang ada di sana. Kira – kira apa artinya? Kenapa para leluhur kita sampai mewariskan tradisi seperti itu? Inilah yang pedanda katakan sebagai salah satu contoh yang berupa sinyal – sinyal dari alam. Pedanda mencoba memahami maksud yang terkandung dari warisan leluhur tersebut. Akhirnya pendada memahami bahwa lauk kepiting itu bersumber dari cerita tantri yaitu kisah pedanda baka yang tewas di capit kepiting. Jika para sulinggih melaksanakan swadharma dan paradharma beliau sesuai dengan aturan – aturan dan tatanan sastra maka jaman itu pastilah kerta. Karena secara tidak langsung keadaan seperti ini juga disebabkan oleh perilaku seorang sulinggih. Seperti dijelaskan dalam sastra “yan sira sang wiku tan nepeh kalinganing sastra, rug ikang rat” Jika para wiku selaku pemimpin umat tidak mentaati aturan sastra, maka hancurlan dunia ini. kalimat itu yang sering pedanda ingat.

Sekarang ini banyak para sulinggih yang belum melaksanakan swadharmaning seorang sulinggih dengan benar. Ada kecenderungan posisi sulinggih menjadi semacam komuditas bermotif ekonomi. Banyak para sulinggih yang seolah-olah menempatkan diri sebagai produsen yang mengikuti alur umat yang ditempatkan dalam posisi konsumen. Suatu contoh sederhana saja, saat ada orang tangkil nunas dewasa nganten misalnya, walaupun menurut pewarigan belum ada hari baik untuk nganten tetapi karena permintaan umat yang lebih memikirkan efisiensi waktu maka banyak sulinggih yang memperbolehkan, padahal seharusnya sulinggihlah yang memberikan tatanan yang benar yang diikuti oleh umat, bukan sebaliknya.

Hidangan laut belut tadi juga membuat pedanda berfikir akan makna yang tersirat. Akhirnya pedanda melihat sebuah contoh dari kehidupan si belut yang layak kita teladani. Belut yang walaupun hidup didalam kubangan lumpur yang kotor ternyata tidak dilekati oleh kotornya lumpur tersebut. Begitu pula hendaknya manusia hidup, walaupun jaman seperti sekarang ini hendaknya kita tidak sampai kehilangan identitas dan jati diri. Namun di jaman seperti sekarang ini yang disebut jaman kaliyuga, pengaruh godaan duniawi, kehidupan yang berputar sangat cepat membuat masyarakat bali semakin kehilangan jati diri dan kebanggaanya sebagai orang bali. Belum lagi pengaruh makanan yang sebagian besar mengandung zat berbahaya yang tentunya berimplikasi pada munculnya bermacam – macam penyakit sehingga kejernihan pikiran dan jiwapun semakin jauh rasanya. Melihat kondisi seperti itu, apakah yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki keadaan? Pedanda ingin mengutip wejangan dari Ida Rsi Patanjali. Disaat beliau melaksanakan Samadhi di suatu tempat, beliau mendapatkan wahyu berupa intisari dari weda yang kemudian dikumpulkan menjadi Yoga. Yoga inilah satu-satunya obat yang bisa mengembalikan eksistensi manusia sebagai seorang manusia. Manusia hanya akan bisa menjadi seorang manusia yang sesungguhnya hanya melalui yoga. Jaman sekarang ini banyak sekali manusia yang pedanda istilahkan hanya casing atau pembungkus luarnya saja yang manusia, ini karena nilai – nilai dan sifat -sifat luhur kemanusiaanya telah dikalahkan oleh keserakahan dan kesombongan. Keserakaan, kesombongan, iri hati dan aneka sifat buruk lainya ditambah dengan makanan yang tidak sehat dan berbahaya tentu merupakan sebuah mala petakan yang akan membawa manusia dalam kehancuran baik secara jasmani dan rohani. Yang terjadi hanyalah jiwa – jiwa yang terombang – ambing tanpa arah, tanpa tujuan, tidak mengenali diri sendiri bagaikan lingkaran kesedihan tiada tepi. Maka dengan itu pedanda menghimbau agar seluruh umat hendaknyalah mempelajari yoga dan meditasi agar mampu melewati jaman kaliyuga ini.

Kenapa mesti yoga?

Jika pedanda analogikan manusi sepeti sebuah ember, maka fisik manusia adalah embernya dan jiwa serta pikiran adalah air di dalam ember tersebut. Jika fisik sudah hancur, airnya keruh dan kotor maka mustahil akan bisa menampakan bayangan bulan. Jika kondisi tubuh manusia tidak sehat maka pikiran dan jiwanya juga tidak akan bisa berfikir sehat. Yoga mampu merekonstruksi fisik manusia, baik itu otot, urat, syafat dan juga pikiran dan jiwa manusia.

Seperti kata pepatah, bahwa di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat, begitulah yoga yang mampu merekronstuksi fisik dan jiwa manusia sehingga kembali seperti semula sebagai seorang manusia sejati.  Banyak umat manusia yang tidak menyadari bahwa setiap bagian tubuh kita menyimpan jutaan macam kombinasi gerak. Karena kesibukan, pola hidup yang tidak sehat, kurang olah raga maka sebagian besar program kombinasi gerak tersebut tidak pernah digunakan, sehingga otot menjadi kaku, urat menjadi tegang dan aliran darah pun menjadi tidak

lancar yang tentunya berujung pada bermunculnya bermacam penyakit. Jika tubuh sudah tidak sehat (menahan rasa sakit) tentu pikiran pun tidak akan tenang dan jiwapun akan bergejolak. Disaat seperti itu maka mustahil bagi kita untuk melakukan perjalanan spirituan kedalam jiwa.

Yoga tidak semata – mata hanya olah tubuh, tetapi yoga adalah adalah satu rangkaian  berkesinambungan antara olah tubuh (asana), olah pernafasan yang bertujuan untuk mensehatkan fisik dengan meditasi dan rangkaian tahapan pengendalian indria hingga pencerahan spiritual.

Seperti di kutip dari: http://www.idapedandagunung.com

Oleh: Gusti Sudiartama | Desember 16, 2010

Siwa Siddhanta di Bali

Ajaran Agama Hindu yang dianut sebagai warisan nenek moyang di Bali adalah ajaran Siwa Siddhanta yang kadang – kadang juga disebut Sridanta. Siddhanta artinya akhir dari sesuatu yang telah dicapai, yang maksudnya adalah sebuah kesimpulan dari ajaran yang sudah mapan. Ajaran ini merupakan hasil dari akulturasi dari banyak ajaran Agama Hindu. Didalamnya kita temukan ajaran Weda, Upanisad, Dharmasastra, Darsana (terutama Samkya Yoga), Purana dan Tantra. Ajaran dari sumber – sumber tersebut berpadu dalam ajaran Tattwa yang menjadi jiwa atau intisari Agama Hindu di Bali. Dalam realisasinya, tata pelaksanaan kehidupan umat beragama di Bali juga menampakkan perpaduan dari unsur – unsur kepercayaan nenek moyang. Wariga, Rerainan (hari raya) dan Upakara sebagian besarnya merupakan warisan nenek moyang. Warisan ini telah demikian berpadu serasi dengan ajaran Agama Hindu sehingga merupakan sebuah satu kesatuan yang bulat dan utuh. Dengan demikian, Agama Hindu di Bali mempunyai sifat yang khas sesuai dengan kebutuhan rohani orang Bali dari jaman dahulu hingga sekarang. Di masa sekarang ini, warisan Agama yang adhiluhung tersebut perlu kita jaga, rawat dan menyempurnakan pemahaman kita sehingga tetap bisa memenuhi kebutuhan jiwa keagamaan umatnya.

 

Sumber – Sumber Ajaran

Walaupun sumber – sumber ajaran Agama Hindu di Bali berasal dari kitab – kitab berbahasa Sansekerta, namun sumber – sumber tua yang kita warisi kebanyakan ditulis dalam dua bahasa yaitu Bahasa sansekerta dan Bahasa Jawa Kuno. Kitab yang di tulis dalam bahasa Sansekerta umumnya adalah kitab Puja, namun bahasa Sansekerta yang digunakan adalah bahasa Sansekerta kepulauan khas Indonesia yang sedikit berbeda denga bahasa Sansekerta versi India. Sedangkan kitab – kitab yang ditulis dalam bahasa jawa kuno antara lain Bhuwanakosa, Jnana Siddhanta, Tattwa Jnana, Wrhaspati tatwa dan Sarasamuscaya. Kitab Bhuwanakosa, Jnana Siddhanta, Tattwa Jnana dan Wrhaspati Tattwa adalah kitab – kitab yang Tattwa yang mengajarkan Siwa Tattwa yang mana juga kitab – kitab ini menjadi unsur dari isi Puja. Sedangkan Sarasamuscaya adalah kitab yang mengajarkan susila, etika dan tingkah laku. Disamping itu juga terdapat banyak lontar – lontar indik yang menjadi rujukan pelaksanaan kehidupan umat beragama dan bermasyarakat di Bali seperti lontar Wariga, lontar tentang pertanian, pertukangan, organisasi sosial dan yang lainnya. Disamping itu juga terdapat kitab – kitab Itihasa dan gubahan – gubahan yang berasal dari purana, seperti Parwa ( kisah Maha Bharata), Kanda (Ramayana) dan juga kekawin – kekawin yang menjadi alat pendidikan dan pedoman dalam bertingkah laku bagi masyarakat. Itihasa dan juga purana juga menjadi sumber dalam kehidupan berkesenian di Bali terutama kesenian yang masuk kategori Wali atau sakral, seperti wayang, topeng, calonarang dan yang lainnya, yang mana pementasan kesenian tersebut umumnya mengangakat tema cerita yang berasala dari Itihasa, purana atau kekawin. Tidak semua pelaksanaan kehidupan beragama di Bali yang dapat dirujuk kedalam sumber – sumber ajaran sastra agama, yang dikarenakan Agama Hindu di Bali begitu menyatu dengan Budaya, adat, seni dan segala aspek kehidupan orang Bali, sehingga banyak warisan budaya para leluhur orang Bali yang tetap diwariskan turun – temurun dan menjadi satu keatuan denga Agama Hindu di Bali.

 

Pokok – Pokok Ajaran

Ajaran Siwa Siddhanta di Bali terdiri dari tiga kerangka utama yaitu Tattwa, Susila dan Upacara keagamaan. Tatwa atau filosofi yang mendasarinya adalah ajaran Siwa Tattwa. Di dalan Siwa Tattwa, Sang Hyang Widhi adalah Ida Bhatara Siwa. Dalam lontar Jnana Siddhanta dinyatakan bahwa Ida Bhatara Siwa adalah Esa yang bermanifestasi beraneka menjadi Bhatara – Bhatari.

 

Sa eko bhagavan sarvah

Siwa karana karanam

Aneko viditah sarwah

Catur vidhasya karanam

Ekatwanekatwa swalaksana bhatara ekatwa ngaranya

Kahidup makalaksana siwatattwa

Tunggal tan rwatiga kahidep nira

Mangekalaksana siwa karana juga tan paphrabeda

Aneka ngaranya kahidup Bhataramakalaksana caturdha.

Caturdha ngaranya laksananiram stuhla suksma sunya.

Artinya :

Sifat Bhatara eka dan aneka. Eka artinya ia dibayangkan bersifat Siwa Tattwa, ia hanya esa tidak dibayangkan dua atau tiga. ia bersifat Esa saja sebagai Siwakarana (Siwa sebagai pencipta), tiada perbedaan. Aneka artinya Bhatara bersifat Caturdha. Caturdha adalah sifatnya, sthula, suksma dan sunia. Sumber – sumber lain yang menyatakan Dia yang Eka dalam Beraneka juga kita temukan dalam banyak mantra – mantra, diantaranya adalah :

 

Om namah Sivaya sarvaya

Dewa-devaya vai namah

Rudraya Bhuvanesaya

Siwa rupaya vai namah

Artinya :

Sembah bhakti dan hormat kepada Siwa, kepada Sarwa

Sembah bhakti dan hormat kepada dewa dewanya

Kepada Rudra raja alam semesta

Sembah hormat kepada dia yang rupanya manis

 

Twam Sivas twam Mahadewa

Isvara Paramesvara

Brahma Visnuca Rudrasca

Purusah Prakhrtis tatha

 

Artinya :

Engkau adalah Siwa Mahadewa

Iswara, Parameswara

Brahma, Wisnu dan Rudra

Dan juga sebagai Purusa dan Prakerti

 

Tvam kalas tvam yamomrtyur

varunas tvam kverakah

Indrah Suryah Sasangkasca

Graha naksatra tarakah

 

Artinya :

Engkau adalah Kala, Yama dan Mrtyu

Engkau adalah Varuna, Kubera

Indra, Surya dan Bulan

Planet, naksatra dan bintang – bintang

 

Prthivi salilam tvam hi

Tvam Agnir vayur eva ca

Akasam tvam palam sunyam

Sakhalam niskalam tatha

Artinya :

Engkau adalah Bumu, Air

dan juga Api

Angkasa dan alam sunia tertinggi

Juga yang berwujud dan tak berwujud

 

Dengan contoh – contoh ini menunjukkan bahwa semua Bhatara – Bhatari itu adalah Bhatara Siwa sendiri. Bhatara Bhatari itulah yang dipuja sebagai Ista Dewata. Banyaknya Ista Dewata yang dipuja akan berkaitan dengan banyaknya Pura dan Pelinggih, Pengastawa, Rerainan dan Banten. Ista Dewata adalah Bhatara Siwa yang aktif sebagai Sada Siwa, sedangkan Bhatara Siwa sebagai Parama Siwa bersifat tidak aktif atau sering disebut Sunia. Dalam manifestasi beliau sebagai Dewa Brahma, Wisnu dan Iswara yang paling mendominasi pemujaan yang ada di Bali. Konsep penciptaan, pemeliharaan dan pemrelina menunjukkan Bhatara Siwa sebagai apa yang sering disebut Sang Hyang Sangkan paraning Numadi, yaitu asal dan kembalinya semua yang ada dan tidak ada di jagat raya ini. salah satu yang menarik dari keberadaan Bhatara Siwa, ialah Beliau berada dimana – mana, di seluruh penjuru mata angin dan di pengider – ider. Di timur Ia adalah Iswara, di tenggara Ia adalah Mahesora, di selatan Ia adalah Brahma, di barat daya Ia adalah Rudra, di barat Ia adalah Mahadewa, di barat laut Ia adalah Sangkara, di utara Ia adalah Wisnu, di timur laut Ia adalah Sambhu dan ditengah Ia adalah Siwa. Sebagai Sang Hyang kala, di timur Ia adalah kala Petak (putih), di selatan Ia adalah Kala Bang (merah), di barat ia adalah Kala Gading (Kuning), di utara Ia adalah Kala Ireng (hitam) dan ditengah Ia adalah kala mancawarna.

Selain ajaran ke-Tuhanan, ajaran Siwa Siddhanta juga memuat beberapa ajaran diantaranya ajaran tentang Atma yang sesungguhnya berasal dari Bhatara Siwa dan akan kembali kepada-Nya juga, ajaran Karma Phala yang berkaitan dengan Punarbawa atau siklus reinkarnasi, ajaran pelepasan yang berkaitan tentang Yoda dan Samadhi. Terdapat pula ajaran tata susila yang erat hubungannya dengan ajaran Karma Phala. Tumpuan dari ajaran tata susila itu adalah Tri Kaya Parisuddha yaitu Kayika Parisuddha (berbuat yang benar), Wacika Parisuddha (berbicara yang benar) dan Manacika Parisuddha (berfikir yang benar).

 

Siwa Siddhanta Dalam Pelaksanaan Kehidupan Beragama di Bali. Ada relasi antara manusia dengan Tuhan. Relasi ini diwujudkan dalam bentuk bakti sebagai wujud Prawrtti Marga. Tuhan dipuja sebagai saksi agung akan semua perbuatan manusia di dunia. Tuhan yang memberikan berkah dan hukuman kepada semua mahluk. Di Bali, bhakti kepada Tuhan direalisasikan dalam berbagai bentuk. Untuk orang kebanyakan, bhakti diwujudkan dengan sembahyang yang diiringi dengan upakara. Upakara artinya pelayanan dengan ramah diwujudkan dengan banten. Upakara termasuk Yajna atau persembahan suci. Baik sembahyang maupun persembahan Yajna memerlukan tempat pemujaan. Pemangku, Balian Sonteng dan Sulinggih mengantarkan persembahan umat kepada Tuhan dengan saa, mantra dan puja. Padewasan dan rerainan memengang peranan penting, yang mana pada semua ini ajaran sradha kepada Tuhan akan selalu tampak terwujud. Demikian juga misalnya saat Bhatara Siwa sebagai Dewata Nawa Sanga diwujudkan dalam banten caru, beliau disimbulkan pada banten Bagia Pula Kerti, beliau dipuja pada puja Asta Mahabhaya, Nawa Ratna dan pada kidung beliau dipuja pada kidung Aji Kembang. Bhatara Siwa sebagai Panca Dewata dipuja dalam berbagai Puja, Mantra dan saa, ditulis dalam aksara pada rerajahan dan juga disimbulkan pada alat upacara serta aspek kehidupan beragama lainnya.

Tempat – tempat pemujaan menunjukkan tempat memuja Bhatara Siwa dalam manifestasi beliau. Belia dipuja sebagai Siwa Raditya di Padmasana, dipuja sebagai Tri Murti di sanggah, paibon, Kahyanga Desa dan kahyangan jagat. Pemujaan Tuhan pada berbagai tempat sebagai Ista Dewata sesuai dengan ajaran Tuhan berada dimana – mana.

 

Demikianlah orang Bali menyembah Tuhan disemua tempat, di Pura Dalem, Pura Desa, Pura Puseh, Bale Agung, Pempatan Agung, Peteula, Setra, Segara, Gunung, Sawah, Dapur dan sebagainya. Disamping itu diberbagai tempat Tuhan dipuja sebagai Dewa yang “Ngiyangin” atau yang memberkati daerah pada berbagai aspek kehidupan, seperti Dewa Pasar, Peternakan, Kekayaan, Kesehatan, Kesenian, Ilmu Pengetahuan dan sebagainya. Dengan demikian hampir tidak ada aspek kehidupan orang Bali yang lepas dari Agama Hindu. Dalam pemujaan ini Tuhan dipuja sebagai Ista Dewata, Dewa yang dimohon kehadirannya pada pemujaannya, sehingga yang dipuja bukanlah Tuhan yang absolut sebagai Brahman dalam Upanisad atau Bhatara Siwa sebagai Parama Siwa, namun Tuhan yang bersifat pribadi yang menjadi junjungan yang disembah oleh penyembahnya. Ista Dewata ini dipandang

sebagai tamu yang dimohon kehadirannya oleh hambanya pada waktu dipuja untuk menyaksikan sembah bakti umatnya. Oleh karena itu Tuhan dipuja sebagai “Hyang” dari aspek – aspek kehidupan yang rasa kehadiran-Nya sangat dihayati oleh hambanya sama seperti penghayatan umat terhadap aspek kehidupan tersebut. Pemujaan dilakukan dalam suasana, tempat cara dan bahan yang paling tepat dan paling dihayati oleh para pemuja-Nya. Terdapat persembahan Banten, pakaian, hiasan yang semuanya dipersembahkan dengan begitu serasi dengan penghayatan, perasaan dan cita rasa dari penyembah-Nya sehingga penghayatan menyusup kedalam lubuk hati yang terdalam.

Apapun yang dipersembahkan, maka itu adalah sesuatu yang terbaik menurut para penyembah-Nya. Akibat dari semua itu adalah adanya variasai dan pelaksanaan hidup beragama di Bali.

Namun inti dari prinsip ajaran agama Hindu adalah sama, yaitu Tuhan yang ada dimana – mana sama dengan Tuhan Yang Maha Esa yang menampakkan diri dalam berbagai wujud dan pandangan penyembah-Nya, yang abstrak dihayati melalui bentuk.

 

sumber : Kalender Pasraman Yogadhiparamaguhya 2009, susunan IBG Budayoga, S Ag, Msi

Oleh: Gusti Sudiartama | Desember 16, 2010

Siwaratri

Sehari sebelum Tilem sasih Kapitu atau yang sering di sebut prawaning tilem kapitu, umat hindu memperingati Hari Siwaratri. Jika di urut dari asal katanya, siwa itu dapat diartikan sebagai terang dan ratri itu dapat diarikan gelap. Jadi Siwaratri dapat diartkan bahwa yang terang telah menjadi gelap dan yang gelap menjadi terang kembali. Pedanda menggunakan ilustrasi tersebut untuk menggambarkan kondisi perjalanan kita sebagai manusia. Dalam diri manuasia bersemayam tuhan beserta sifat – sifat ketuhanan, namun seiring perjalanan hidup, kegelapan dan ilusi duniawi membuat manuasia semakin lupa akan asal dan jati diri.

Dalam siwaratri Kalpa dijelaskan bahwa bagaimana Sang Hyang Atma kelangen, begitu terpesonanya dengan segala kenikmatan yang diperoleh dari panca indria walaupun semua keindahan dan kenikmatan tersebut bersifat semu dan palsu. Semakin hari pikiran semakin memberi ruang gerak yang semakin leluasa kepada panca indria, sehingga akhirnya jiwa menjadi dikendalikan oleh panca idria. Mata selalu ingin melihat sesuatu yang bagus, senang melihat wanita cantik atau lelaki tampan. Hidung selalu mencari bau yang harum, lidah selalu ingin makan makanan enak, telinga selalu ingin mendengar suara yang merdu, dan kulitpun selalu ingin sentuhan lembut. Karena begitu hebatnya pengaruh kenikmatan duniawi sehingga akhirnya sang jiwa terbelenggu dalam kesibukan untuk selalu mengejar keinginan panca indria sampai lupa akan asal dan jati diri sebagai manuasia.

Kenapa Siwaratri dilaksanakan pada Prawaning Tilem Kepitu?

Sifat ketuhanan beserta segala kemampuan luar biasa yang menyertainya yang ada pada diri manusia semakin hari semakin dalam terkubur karena manusia telah lupa diri, manusia telah dirasuki sapta timira, tujuh kegelapan atau sifat kemabukan yaitu:

  1. Surupa yang mana manusia mabuk akan rupa yang cantik dan tampan, padahal ini sifatnya hanya sementara, sekarang cantik maka lima atau sepuluh tahun lagi semua itu akan hilang, namun sangat banyak yang masih memburu hal tersebut.
  2. Dhana yaitu kita yang takabur dan mabuk oleh kekayaan, sekarang ini bisa dikatakan mereka yang punya uang yang berkuasa, namun inipun hanya semu, tidak ada uang yang bisa menjanjikan kebahagiaan.
  3. Guna  artinya lupa diri karena merasa diri lebih pintar sehingga merendahkan orang lain, namun pengetahuan itu ibarat samudera yang tanpa batas.
  4. Kulina adalah orang yang merasa diri lebih tinggi kedudukannya karena faktor keturunan,
  5. Yowana yaitu lupa diri karena masa remaja,
  6. Kasuran yaitu sifat sombong karena mabuk kemenangan dan
  7. Sura karena mabuk minumam keras.

Jika ada yang bertanya, kenapa Siwaratri dirayakan pada prawaning tilem kapitu? kenapa bukan sasih yang lain? Prawaning Tilem atau sehari sebelum tilem merupakan malam yang paling gelap dan sasih kepitu merupakan lambang sapta timira, jadi Ida Mpu Kuturan memilih Prawaning Tilem Kepitu sebagai hari perayaan Siwaratri untuk mengingatkan kita bahwa kita yang berasal dari Tuhan (siwa) telah masuk kejurang kegelapan (ratri) karena pengaruh tujuh sifat kemabukan (pitu). Hal ini menjelaskan kepada kita bahwa karena pengaruh ikatan duniawi yang kuat manusia telah melupakan asal muasalnya. Karena kuatnya keinginan duniawi maka manusia akan menemuai klesa yaitu kekotoran, menuju ke papa yaitu kegelapan jiwa dan pikiran yang pada akhirya akan bermuara kepada dosa.

Siwaratri merupakan momentum bagi kita untuk introspeksi diri, bertanya dalam keheningan jiwa, “betulkan saya adalah percikan sinar suci tuhan?” jika betul apakah sifat dan perilaku kita sudah mencerminkan hal tersebut?. Malam Siwaratri hendaknya dijadikan sebuah momentum untuk merenungkan diri karena sangat jarang kita punya waktu untuk berbicara dengan diri sendiri. Saat Siwaratri hendaknya kita sadari semua kekeliruan dan kebodohan kita sebagai manusia dan jadikan itu sebagai sebuah bara  semangat untuk memulai kehidupan yang lebih baik sehingga terang yang menjadi gelap bisa kembali bersinar terang.

Siwaratri dan Penebusan Dosa

Banyak yang beranggapan bahwa Siwaratri adalah malam peleburan dosa, hal ini mungkin karena pemahaman yang kurang jelas tentang cerita sang lubdaka yang katanya adalah pembunuh namun terbebas dari dosa karena bergadang saat malam Siwaratri. Dalam ajaran Hindu tidak ada peleburan dosa, dosa adalah hasil perbuatan (karma) yang harus tetap ditebus oleh akibat (phala). Dalam Siwarati umat manusia berusaha menyadarkan diri sehingga terhindar dari papa (kegelapan pikiran dan jiwa) seperti yang tertuang dalam puja tri sandya “Om papo ‘ham papakarmaham papatma  papasambhavah” yang pada akhirnya akan menghindarkan manusia dari segala perbuatan dosa

Sang Lubdaka Seorang Pembunuh Binatang

Banyak yang bertanya, bukankah membunuh itu dosa? Dalam ajaran Agama Hindu khususnya di Bali, memang diperbolehkan membunuh binatang. hal ini termuat dalam lontar Werthi Sesana. Ada dua hal yang diperbolehkan dalam membunuh binatang, yang pertama untuk upacara yadnya dan yang kedua untuk dimakan. Jika kita membandingkan dengan cerita Lubdaka, dalam sastra disebutkan bahwa Sang Lubdaka tersebut melakukan pembunuhan binatang hanya untuk dimakan, tidak untuk upacara yadnya. Dalam Bhagawadgita disebutkan bahwa segala sesuatu bersumber dari Tuhan, sehingga apapun yang kita makan harus kita persembahkan terlebih dahulu, jika makan tanpa persembahan maka itu sama artinya dengan kita mencuri dan itu adalah dosa. Dalam cerita dikatakan bahwa Sang Lubdaka berburu binatang tanpa melakukan persembahan, hanya mengutamakan nafsu untuk makan saja, sehingga Sang Lubdaka telah melakukan perbuatan mencuri. Oleh karena itu, umat Hindhu khususnya di Bali selalu diharuskan melakukan persembahan berupa yadnya sesa sebelum makan.

Dalam sastra Hindu, banyak tatwa – tatwa yang terkandung dalam cerita yang dijadikan tuntunan dalam menjalankan kehidupan, namun demikian cerita atau tatwa tersebut harus di telaah dan dipahami lebih dalam sehingga maksud atau inti dari cerita itu dapat kita petik. Dalam cerita Lubdaka dikatakan bahwa Lubdaka adalah seorang pembunuh binatang namun saat bergadang pada malam Siwaratri sang Lubdaka mendapat sebuah pencerahan dari Tuhan. Sang Lubdaka sebagai pembunuh binatang, hal dapat kita artikan sebagai seseorang yang telah mampu membunuh sifat – sifat kebinatangannya, sehingga saat dia sadar (terjaga / tidak tidur) akan hakikatnya sebagai Siwa (setiap manuasia bersumber dari Tuhan / Siwa) yang telah diliputi maya dan kegelapan (ratri) maka saat itulah kesadaran akan kesejatian sebagai seorang manusia mulai bersinar. Dalam cerita para penglingsir kita, Lubdaka juga diartikan sebagai Lud (melepaskan) dan Daki (kekeotoran). Jadi Siwaratri merupakan sebuah momentum guna menyadarkan diri akan hakikat kita sebagai manusia yang sesungguhnya mempunyai sinar suci (Siwa) namun kita telah terbelenggu oleh kegelapan duniawi, dan kesadaran tersebut tidak hanya pada Hari Raya Siwaratri saja, tetapi setiap hari kita harus terjada dan sadar.

Pelaksanaan Siwaratri

Pelaksanaan Hari Raya Siwaratri intinya lebih dipusatkan kedalam diri sehingga lebih ditekankan pada pelaksanaan brata dan tapa. Dalam Agama Hindu selalu ada tingkatan Nista, Madya dan Utama yang bisa dipilih sesuai kemampuan, begitu pula tingkatan brata dalam melaksanakan Siwaratri. Ada tiga jenis brata Siwaratri, Upayasa (puasa) yaitu brata tidak makan dan minum, Monabrata yaitu puasa tidak berbicara dan Jagra yaitu tidak tidur. Dalam tingkatan nista Upayasa dilaksanakan selama 12 jam yaitu mulai jam 6 sore sampai jam 6 pagi keesokan harinya. Tingkat Madya dilaksanakan selama 24 jam yaitu dari pagi hingga pagi keesokan harinya, dan tingkat Utama dilaksanakan selama 36 jam yaitu dari pagi hingga sore keesokan harinya. Begitupun tingkatan bratanya, tingkat nista hanya jagra, tingkat madya upayasa dan jagra, dan utama melaksanakan ketiganya. Mengawali hari raya Siwaratri sebaiknya dimulai dengan melukat dan bersembahyang di pagi harinya, lalu jalankan brata sesuai kemampuan dan malamnya lakukan perenungan akan hakikat dan jati diri kita sebagai manusia.

Seperti di kutip dari www.idapedandagunung.com

Oleh: Gusti Sudiartama | Desember 15, 2010

Wija Aksara

Di Bali telah lama dikenal aksara atau huruf yang diperkirakan merupakan modifikasi dari huruf Jawa. Dan huruf Jawa ini mungkin berasal dari huruf Sansekerta. Diduga bahwa huruf ini dibawa oleh Raja Aji Saka yang dating ke Jawa pada tahun 78 Masehi. Sebab pada waktu itu mulai diterapkan Tahun Saka yang berbeda sekitar 78 tahun dengan tahun Masehi. Huruf yang diperkenalkan pada waktu itu sebenarnya bukan huruf tetapi suku kata, yang terdiri atas suku kata: Ha, na, ca, ra, ka, ga, ta, ma, nga, ba, sa, wa, la, pa, da, ja, ya, nyaKedelapan belas aksara ini dapat dirangkaikan menjadi suatu kalimat untuk memudahkan menghapalkannya, yakni: Hana caraka gata mangaba sawala pada jayanya. Artinya: ada (dua orang) hamba berpengalaman membawa surat, sama perwiranya. Tetapi ada pula yang menulis aksara ini sebagai berikut: Hana caraka dhata sawala pada jayanya magabathanga. Artinya: Ada (dua) prajurit berkelahi, sama saktinya (akhirnya) keduanya menjadi mayat.
Kedelapan belas aksara ini merupakan wre-astra, yakni aksara yang tampak dan dapat diajarkan kepada siapa saja. Sedangkan aksara yang tidak tampak yang terdiri atas dua buah aksara disebut swalalita yaitu Ah dan Ang; merupakan aksara yang tidak boleh diajarkan kepada sembarang orang. Kedua aksara swalalita ini dilengkapi dengan pangangge sastra, yaitu kelengkapan aksara berupa ardha-candra berbentuk bulan sabit, windu yang melambangkan matahari berbentuk bulatan dan nada melambangkan bintang yang dilukis sebagai segi tiga. Ketiga pangangge sastra ini sering dipasangkan dengan aksara huruf hidup: a, i, u, e, o sehingga dibaca menjadi: ang, eng, ing, ong, dan ung. Suku kata ini disebut: ang-kara, eng-kara, ing-kara, ong-kara, dan ung-kara. Bentuk seperti ini disebut modre
Kelengkapan ketiga aksara swalalita ini sering dihubungkan dengan kekuatan dan simbol dari dewa, sehingga bentuk windu adalah lambang agni, Dewa Brahma, sama dengan aksara Ang. Bentuk ardha-candra adalah lambang air, Dewa Wisnu sama dengan aksara Ung. Dan bentuk nada adalah lambang udara, Dewa Siwa sama dengan aksara Mang. Ketiga aksara ini jika disatukan akan menjadi Ang-Ung-Mang atau A-U-M yang dibaca Aum atau Om. Di Bali diucapkan Ong. Aksara Ong-kara inilah sumber dari semua aksara, sehingga disebut wija-aksara, aksara yang maha suci, lambang Dewa Trimurti.
Kedudukan kedelapan belas aksara Bali tersebut di dalam tubuh manusia atau bhuana alit adalah sebagai berikut:
Ha di ubun-ubun
Na di antara kedua alis
Ca di dalam kedua mata
Ra di kedua telinga
Ka di dalam hidung
Da di dalam mulut
Ta di dalam dada
Sa di tangan (lengan) kanan
Wa di tangan (lengan) kiri
La di hidung
Ma di dalam dada kanan
Ga di dalam dada kiri
Ba di pusar
Nga di dalam alat kelamin
Pa di dalam pantat (anus)
Ja di kedua tungkai (kaki)
Ya di tulang belakang
Nya di tulang ekor
Kelengkapan atau pangangge aksara mempunyai kedudukan atau tempat pula di dalam tubuh manusia, yakni:
Ulu di kepala (dalam otak)
Taling di hidung
Surang di rambut
Nania di lengan (tangan)
Wisah di telinga
Pepet di batok kepala
Cecek di lidah
Guwung di kulit
Suku di tungkai (kaki)
Carik di persendian
Pamada di alur jantung
Dari semua aksara ini ada beberapa yang mempunyai nilai yang tinggi dan peranan yang amat penting di dalam buana alit. Aksara tersebut
bergabung menjadi aksara rwa-bhineda: ang-ah, tri-aksara: a-u-m, panca-tirtha: na-ma-si-wa-ya, panda-brahma: sa-ba-ta-a-i. Jika panca
tirtha digabung dengan panca brahma maka terciptalah dasa aksara. Bila aksara yang ada di panca tirtha dipasangkan dengan aksara panca
brahma akan muncul Sang Hyang Panca Aksara. Inilah panca aksara tersebut:
Sa + Na menjadi Mang
Ba + Ma menjadi Ang
Ta + Si menjadi Ong
A + Wa menjadi Ung
I + Ya menjadi Yang
Ada pula yang memberikan ulasan tentang dasa aksara ini bahwa setiap aksara itu mempunyai arti sendiri-sendiri, yaitu:
Sa berarti satu
Ba berarti bayu
Ta berarti tatingkah
A berarti awak
I berarti idep
Nama berarti hormat
Siwa berartu Siwa
Ya berarti yukti
Dengan pengertian seperti itu, maka arti dari dasa aksara ini adalah orang yang mempunyai tingkah laku dan pikiran (idep) yang luhur saja
yang mampu mempergunakan bayu kekuatan dari Siwa. Dengan menyatukan tingkah laku dan pikirannya dia akan mampu mempergunakan dasa bayu
untuk kesehjateraan buana alit dan buana agung.
Jika panca tirtha digabung dengan panca brahma ditambah dengan tri aksara dan eka aksara akan terjadi catur dasa aksara. Catur dasa aksara ini terdiri atas: sa-ba-ta-a-i ditambah na-ma-si-wa-ya, serta digabung dengan ang-ung-mang dan ong-kara yang erat kaitannya dengan catur-dasa-bayu, suatu kekuatan yang ada di dalam buana alit dan buana agung, yang memungkinkan manusia dan dunia hidup dengan wajar.
Menurut Lontar Kanda Pat, jika manusia dapat menguasai cara penggunaan pangangge sastra atau sastra busana, maka dia dianggap telah menguasai ajaran Durga, dewi kematian yang ada di kuburan.. Seseorang yang mampu mempergunakan wisah, yakni, huruf h, maka orang tersebut akan mampu melakukan aneluh, membencanai orang lain. Bila dia mampu mempergunakan aksara wisah dan taling maka dia dapat melakukan tranjana (ilmu sihir). Kalau dia mampu mempergunakan wisah dan cecek, maka dia akan dapat melaksanakan hanuju, menunjukkan kekuatannya ke suatu sasaran yang tepat.
Seseorang yang dapat memanfaatkan busana sastra wisah, taling, cecek, dan suku sekaligus maka dia dapat menjadi leak. Dia adalah seorang
leak ahli bathin yang amat besar.
Dia mampu mengendalikan semua kekuatan negatif atau pangiwa yang ada di dunia ini. Untuk mampu menggunakan aksara pangangge ini yang
merupakan gambar dan lambing yang rumit ini perlu ketekunan dan kemauan keras untuk mempelajarinya. Jika salah mempelajarinya maka kekuatan aksara ini akan dapat membahayakan jiwa orang yang mempelajarinya. Tetapi bagi orang yang mampu mempelajarinya dengan baik, maka orang ini dapat mempergunakan kekuatan aksara ini untuk tujuan baik sehingga menjadi balian panengen, untuk menyembuhkan orang sakit akibat terkena sihir balian pangiwa. Untuk mempelajari lebih dalam mengenai aksara pangangge ini dapat dibaca di dalam lontar Tutur Karakah Durakah, Panglukuhan Dasaksara, Tutur Karakah Saraswati, Tutur Bhuwana Mabah, Usada Tiwas Punggung, Usada Netra dan lainnya lagi.
Setiap aksara apalagi setelah digabungkan beberapa aksara sehingga menjadi dasa aksara, panca aksara, catur aksara, tri aksara, dwi aksara, dan eka aksara mempunyai gambar atau lambang sendiri-sendiri dengan kekuatan bayu atau vayu yang dapat dimanfaatkan untuk kebaikan dan kesehjateraan umat manusia. Tetapi ada pula orang yang mempelajari aksara ini dengan tujuan utnuk membuat sakit orang lain, sehingga dia disebut balian pangiwa. Hal ini tentunya tidak dikehendaki oleh umat manusia.
Sumber: Usada Bali
Pengarang: Prof. Dr. Ngurah Nala, M.P.H

Oleh: Gusti Sudiartama | Desember 2, 2010

Pedoman Perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan

 

 

 

 


1. ACUAN

  1. Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-aspek Agama Hindu disyahkan PHDI Pusat.
  2. Kidung Panji Amalat Rasmi
  3. Lontar Purana Bali Dwipa
  4. Lontar Sri Jayakasunu
  5. Lontar Sundarigama

2. TUJUAN

Perayaan Galungan dan Kuningan bertujuan mengingatkan umat Hindu agar senantiasa memenangkan dharma dalam kehidupan sehari-hari.

Dharma adalah kecenderungan Trikaya parisuda yang disebut sebagai Dewa Sampad, sedangkan kebalikannya, yaitu Adharma adalah kecenderungan sifat dan prilaku keraksasaan atau Asura Sampad.

Sanghyang Tiga Wisesa berwujud sebagai Bhuta Dungulan, Bhuta Galungan dan Bhuta Amangkurat adalah symbol Asura Sampad yang ada dalam diri setiap manusia, yaitu kecenderungan ingin lebih unggul (Dungul), kecenderungan ingin menang dalam pertikaian (Galung), dan kecenderungan ingin berkuasa (Amangkurat).

3. RANGKAIAN UPACARA

  1. Tumpek Wariga. Memuja Sanghyang Sangkara, memohon agar semua tumbuh-tumbuhan subur dan berbuah lebat. Upacara dipusatkan di kebun, sawah dan Sanggah Pamerajan.
  2. Coma Paing Warigadean. Memuja Bhatara Brahma, memohon keselamatan diri. Upacara dipusatkan di Sanggah Pamerajan.
  3. Wraspati Wage Sungsang (Sugihan Jawa). Mensucikan Bhuwana Agung. Upacara dipusatkan di Sanggah Pamerajan.
  4. Sukra Kliwon Sungsang (Sugihan Bali). Mensucikan Bhuwana Alit. Upacara dipusatkan di Sanggah Pamerajan, dan melaksanakan tirtha yatra.
  5. Redite Paing Dungulan (Penyekeban). Anyekung jnana sudha nirmala, menggelar samadhi menguatkan tekad memenangkan dharma. Upacara dipusatkan di Sanggah Pamerajan.
  6. Coma Pon Dungulan (Penyajaan). Menguatkan samadhi melawan pengaruh-pengaruh Asura Sampad. Upacara dipusatkan di Sanggah Pamerajan.
  7. Anggara Wage Dungulan (Penampahan). Jaya prakoseng prang, memenangkan Dewa Sampad. Upacara mabeakala bagi seluruh keluarga dan memasang penjor diluar pekarangan rumah.
  8. Buda Kliwon Dungulan (Galungan). Memuja Ida Sanghyang Widhi atas asung wara nugraha-Nya memberi kehidupan dan perlindungan bagi umat manusia. Upacara dipusatkan di Pura, Sanggah Pamerjan dan tempat-tempat suci lainnya.
  9. Wraspati Umanis Dungulan (Manis Galungan). Melakukan dharma santi, saling mengunjungi keluarga dan sahabat serta saling maaf memaafkan. Di malam hari terus menerus sampai dengan Sukra Wage Kuningan selama 9 (sembilan) malam melakukan samadhi Nawa Ratri, berturut-turut memuja Bhatara Iswara, Mahesora, Brahma, Rudra, Mahadewa, Sangkara, Wisnu, Sambu, dan Tri Purusha (Siwa, Sada Siwa, Parama Siwa).
  10. Saniscara Pon Dungulan (Pemaridan Guru). Ngelungsur upakara Galungan, membersihkan Sanggah Pamerajan dan metirtha yatra.
  11. Redite Wage Kuningan (Ulihan). Memuja Bhatara dan Leluhur menstanakan di pelinggih masing-masing. Upacara dipusatkan di Sanggah Pamerajan.
  12. Coma Kliwon Kuningan (Pemacekan Agung). Nyomia Sanghyang Tiga Wisesa. Upacara di halaman rumah dengan mecaru alit.
  13. Budha Paing Kuningan. Pujawali Bhatara Wisnu. Upacara di Sanggah Kemulan.
  14. Saniscara Kliwon Kuningan (Kuningan). Memuja Ida Sanghyang Widhi dan Roh Leluhur mohon senantiasa berada di jalan dharma. Upacara di Sanggah pamerajan sebelum jam 12 siang agar getaran kesucian dan kekuatan Dewa Sampad merasuk kedalam diri kita.
  15. Buda Kliwon Paang (Pegatuakan). Memuja Ida Sanghyang Widhi Wasa dalam manifestasi-Nya sebagai Sanghyang Suksma Licin. Upacara dipusatkan di Sanggah Pamerajan. Mencabut penjor.

4. PENJOR

  1. Penjor adalah upakara yang wajib disertakan pada setiap hari raya Galungan, mulai ditancapkan pada Anggara Wage Dungulan dan dicabut pada Buda Kliwon Paang.
  2. Makna penjor: Ucapan terima kasih kepada Bhatara Maha Meru yang telah memberikan pengetahuan dan kemakmuran kepada umat manusia.
  3. Kelengkapan dan arti symbol-symbol:
    • Sebatang bambu sebagai symbol keteguhan hati untuk berbhakti kepada Ida Sanghyang Widhi.
    • Hiasan berbentuk bakang-bakang sebagai symbol Atarva Veda
    • Hiasan berbentuk tamyang sebagai symbol Sama Veda
    • Hiasan berbentuk sampyan sebagai symbol Yayur Veda
    • Hiasan berbentuk lamak sebagai symbol Rg Veda
    • Pala gantung, pala bungkah dan kain putih-kuning sebagai symbol kemakmuran dan kecukupan sandang-pangan-perumahan
    • Ubag-abig sebagai symbol kekuatan dharma
    • Sanggah cucuk untuk menempatkan sesaji berupa tegteg daksina peras ajuman
  4. Cara memasang penjor:
    Sebelum penjor ditanam, lobang galian agar disucikan dengan banyuawang kemudian didasar lobang diletakkan kwangen dengan uang logam11 kepeng. Juntaian ujung penjor mengarah ke “teben”, yaitu Barat (Pascima) atau Kelod (untuk di Buleleng, arah ke Utara/ Uttara) sehingga sanggah cucuk yang diikatkan di penjor menghadap ke “hulu”, yaitu Timur (Purwa) atau Kaja (untuk di Bulleng, arah ke Selatan/Daksina). Penjor ditancapkan disebelah kiri pemedal rumah/Sanggah Pamerajan/ Pura. Setiap hari penjor di haturi canang burat wangi.
  5. Cara mencabut penjor:
    Semua hiasan penjor dibakar, dan abunya dimasukkan kedalam lobang bekas penjor, kemudian diletakkan sebuah takir berisi bubur susuru (tepung beras, madu, susu dan tiga helai padang lepas digodok menjadi bubur). Setelah itu lobang ditimbun tanah. Bambu bekas penjor dapat digunakan untuk keperluan lain.

5. GALUNGAN NADI

Adalah Galungan yang bertepatan dengan Purnama. Rangkaian upacaranya sama dengan Galungan biasa, tetapi jenis upakaranya setingkat lebih tinggi. Galungan Nadi lebih diistimewakan karena diberkahi oleh Sanghyang Ketu, sebagaimana halnya perayan Galungan pertama pada tahun 804 Saka yang bertepatan dengan Purnama sasih Kapat.

6. GALUNGAN NARA MANGSA

Adalah Galungan yang bertepatan dengan Tilem sasih Kapitu atau Tilem sasih Kesanga. Disebut sebagai hari “Dewa mauneb bhuta turun”. Pada hari Galungan Nara Mangsa upakara yang disebut tumpeng Galungan ditiadakan, diganti dengan caru nasi cacahan dicampur keladi. Tidak memasang penjor, tetapi upacara lainnya tetap dilaksanakan.

dari  http://www.stitidharma.org



Oleh: Gusti Sudiartama | November 28, 2010

PURA JAGASATRU

Pura  Muncaksari   di Kecamatan Penebel Kabupaten Tabanan, tentu sudah banyak yang tahu, akan tetapi Pura Jagasatru  sangat jarang yang kenal padahal lokasinya tidak jauh dari Pura muncak sari.  Untuk  menuju lokasi Pura  Jagasatru  jalan terdekat harus melalui  Pura Muncaksari,   kira-kira 800 meter tepatnya  arah Timur laut dari Pura Muncaksari. Jalanan yang dilalui masih jalan setapak berliku, ditengah hutan  kalo  musim hujan  agak licin dan becek.

Nama Jagasatru   asalnya adalah Nagasatru  yang  merupakan “Pesengan” dari sesuhunan yang dipuja di Pura tersebut. Pura ini pertama kali ditemukan oleh  warga desa Wongaya gede  yang berniat membuka lahan di hutan di sekitar lokasi Pura Jagasatru sekarang. Satu keanehan yang dialami oleh keempat warga, ketika menebang sebatang pohon , saat itu konon pohon yang dimaksud sudah terpotong seluruhnya namun tidak mau tumbang , sampai beberapa hari. Mengalami keanehan tersebut keempat warga kemudian mengambil inisiatif untuk ”nunas bawos” kenapa hal itu bisa terjadi. Pada saat nunas baos tersebut, “dasaran” tersebut  dalam keadaan “kelinggihan” kemudian berlari sambil “nyunggi” daksina menuju kelokasi penebangan pohon yang ternyata didekatnya terdapat sebuah baturan . Di lokasi baturan tersebut  disebut merupakan tempat yang disucikan  dan Ida Sesuhunan yang  melinggih di tempat itu mepesengan Ida Bhatara Nagasatru .Konon  Pura Jagasatru ini adalah tempat untuk memohon kerahayuan jagat, karena yang bersemayam disana adalah Beliau yang bertugas  sebagai “tabeng wijang” atau Pecalang jagad.

Lokasi Pura Jagasatru ini ada di sebuah tebing batu yang cukup terjal, saat ini dilokasi pura telah berhasil dibangun tiga buah bangunan pesandekan, namun  jalan setapak  tepat di sebelah selatan pura  beberapa waktu yang lalu sempat longsor, sehingga pengempon berinisiatif membangun jembatan kayu tepat di bawah natar pura. Di Lokasi ini terdapat Pelinggih Agung, Pelinggih suku empat, Pelinggih pesimpangan Suralaya, Pelinggih pesimpangan watukaru, Pelinggih Pesimpangan Muncaksari, Pesimpangan jatiluwih, Pura Beji, dan Pelinggih Raja Peni/Bale Kukul.

Bersembahyang di Pura ini memang menumbuhkan suasana magis yang luar biasa, lokasi Pura di tebing, gemericik suara air yang muncul dari tebing batu, dan hutan  disebelah barat yang asri menambah suasana religius, sehingga umat yang berniat sembahyang akan tergoda untuk memejamkan mata, merasakan suasana batin aura magis Pura Jagasatru.  Tempat ini sangat cocok untuk dijadikan tempat memohon kesucian batin. Sebelum  menuju lokasi pura sebaiknya sembahyang dulu di Pura Muncaksari mohon ijin, kemudian melanjutkan perjalanan melalui jalan setapak ditengah  hutan yang asri sungguh suatu pengalaman batin yang sulit untuk dilukiskan.

Pemedek yang berniat tangkil dapat menghubungi Jero Mangku melalui no Hp.085237297023

Oleh: Gusti Sudiartama | November 27, 2010

DHARMA DAN KAMA

oleh: Putu

Hendaknya Dharma-lah sebagai jalan untuk memperoleh kama(nafsu keinginan)  dan Artha .

Kama.(keinginan, kesenangan akan kenikmatan indria)  adalah suatu anugrah bagi manusia dari Ida Sang Maha Pencipta….  dengan kama-lah manusia  memperoleh dan menjalani hidupnya, apa jadinya kalo manusia tidak  mempunyai  kama/keinginan?

Pemenuhan keinginan yang tak terkendali tak akan pernah terpuaskan, karena ia akan tumbuh semakin besar, seperti api yang dituangi bensin, semakin diikuti  semakin  kuat ia menguasai , semakin sulit dikendalikan  seperti nyala api yang semakin berkobar .

Apalagi  kama yang disebut dengan birahi(raga) sangat sulit ditundukkan, semakin dipenuhi semakin berkobar semakin dikuasai, ketika tidak lagi terpenuhi maka munculah kebencian(dwesa). Orang yang mendudukan birahi(raga) sebagi tujuan akan selalu diikuti oleh kebencian(dwesa),kemudian kemarahan, ketika orang tersebut telah dikuasi oleh “ragadwesa” (benci yang disebabkan nafsu berahi) tersesatlah ia, karena tidak lagi mampu melihat “dharma” dan “etika”

Keinginan/Kama/Nafsu yang tidak terpenuhi akan menimbulkan kekecewaan , kekecewaan memunculkan kemarahan, gelap mata , membutakan  pikiran dan menutup kecerdasan . Dari kemarahan timbullah kebingungan, dari kebingungan hilangnya ingatan, dari hilangnya ingatan, kecerdasan terhancurkan  setelah hancurnya kecerdasan apa lagi yang tersisa?  hanya  debu-debu  penyesalan bagaikan debu – debu kayu  yang terbakar  … musnah..

“Ada tiga jenis gerbang menuju neraka yaitu: Nafsu, Kemarahan dan Ketamakan. Oleh karena itu, seseorang harus melepaskan ketiganya (Bhagavad Gita XVI.21).

Jika ada orang yang dapat (berhasil) mengendalikan keinginan akan kenikmatan , perlahan akan berhasil meninggalkan kemarahan hatinya berdasarkan kesabaran hati sebagai keadaan ular yang meninggalkan kulesnya (kulitnya yang terlepas), karena kesemuanya itu tidak akan kembali lagi; orang yang demikian keadaannya itu adalah ia disebut berbudi luhur dan patut disebut manusia sejati”

“Sebenarnya, meskipun orang itu selalu jaya terhadap musuh-musuhnya, serta tak terbilang jumlah musuh yang dibunuhnya(asal yang dibencinya musnah), maka selama hidupnyapun, jika ia hanya akan menuruti kemarahan hatinya belaka, tentu saja tidak akan habis-habisnya musuhnya itu. Akan tetapi yang benar-benar tidak mempunyai musuh, adalah orang yang berhasil mengekang kemarahan hatinya.

Demikian pula orang yang telah mampu mengekang hawa nafsunya, dimana dharma(kebenaran), etika(susila) sebagai  ukurannya..  maka orang tersebut akan  di berkati jalan kebenaran…  niscaya kemuliaan akan menantinya.

Nafsu(birahi)  adalah sebuah anugrah …    hanya saja–  sebaiknya digunakan dengan didasari dharma dan etika , sehingga mampu memberi manfaat…  bukan kehancuran…   Birahi tanpa dharma dan etika …. apa bedanya dengan binatang????

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.