Oleh: Gusti Sudiartama | Januari 22, 2011

Tujuan Kehidupan adalah Realisasi Diri

Oleh : Swami Nirlipananda

Bhagavad Gita, atau ‘Song of God’, adalah salah satu teks suci Hindu, yang menceritakan dialog antara Krishna, inkarnasi Wisnu, dan Arjuna, murid-Nya.

Kematian datang selalu tiba-tiba. Misalnya, ketika ada bencana alam, ribuan orang mungkin pulang dari kerja suatu hari dan pergi tidur tanpa mengetahui bahwa mereka tidak akan bangun lagi esok harinya. Dalam satu cara atau yang lain, kita semua mungkin berada di takdir yang sama. Kita tidak bisa mengatakan apa yang besok pagi akan terjadi. Kita pergi tidur setiap malam dan apakah kita akan bisa bangun esoknya. Kita tidak tahu.

Para Resi (Wise Ones) dan Munis (Silent Ones) mengajarkan bahwa, oleh karena itu, penting untuk hidup setiap hari seolah-olah itu adalah hari terakhir dalam hidup kita, setiap menit dalam kehidupan kita sebagai moment yang tidak boleh kita sia-siakan, karena setiap menit sangat bernilai bagi kita. Jika kita hidup seperti itu maka kita siap, bila waktunya tiba, untuk mati.

Dalam Bhagavad Gita, Krishna mengatakan kepada Arjuna bahwa ia tidak harus bersedih hati atas apa yang tak terelakkan dalam hidup. Ketika kita datang ke dunia fisik ini, tubuh kita akan mengalami penyakit, usia tua dan kematian. Ini adalah hal-hal alami. Tetapi ketika bencana alam mengorbankan banyak kehidupan, kita mungkin bertanya-tanya dan berpikir: “Kenapa?” Lalu apa yang harus kita lakukan? Kita tidak dapat menjelaskan ini. Bukan karena penyakit atau wabah, bukan karena usia tua: kematian juga menyerang mereka yang kuat dan sehat. Tapi, ketika Krishna berkata, ketika hal ini terjadi, kita harus ingat bahwa kematian adalah sesuatu yang pasti, hidup juga, adalah yang pasti: bahwa setelah kita mati kita akan lahir kembali di dunia ini dan, karena itu, ketika hal ini terjadi kita tidak harus bersedih .Terus menerus berduka tidak bijaksana bagi yang hidup maupun bagi yang mati.

Mereka yang berpikir bahwa Atma – Soul – dapat mati atau dihilangkan tidak mengetahui sebenarnya. Oleh karena itu, orang bijak tidak berduka sama sekali, karena kita tidak harus bersedih untuk sesuatu yang mereka tidak seharusnya meratapinya.

Hukum Peluruhan

Banyak orang bersukacita ketika seseorang lahir dan menangis ketika seseorang meninggal, yang lain menangis ketika seseorang lahir dan bersukacita ketika seseorang meninggal. Seperti Krishna mengatakan, keduanya adalah reaksi yang alami ketika kita tidak mengerti, tetapi bagi orang yang bijaksana – yang benar-benar memahami kehidupan – tidak akan bersedih hati, karena tidak pernah ada waktu ketika kita tidak eksis, tidak akan ada waktu ketika kita akan tidak ada lagi. ini bukan pertama kalinya bahwa kita telah ada, dan ketika kita menyerahkan wujud fisik ini akan ada waktu ketika kita akan ada lagi. Sebagai bentuk fisik, yang menempati, Jiwa, mengalami masa kanak-kanak, remaja dan usia tua di dalam tubuh, ini diteruskan kepada badan lain. Maha Esa, Jiwa yang Satu, tidak terpengaruh oleh apa yang terjadi pada bentuk fisik. Tubuh fisik harus menjalani proses yang mengarah pada kematian. Setiap orang dan segala sesuatu harus mengalami Hukum Peluruhan. Alam semesta dengan planet mengikuti hukum yang sama. Itu adalah hukum alam yang mengatur seluruh alam semesta, hukum yang kita tidak dapat menghindarinya. Karena kita tidak dapat menghindarinya, orang bijaksana tidak merasa terganggu dengan itu.

Proses Psikologis

Kontak indra dengan objek menciptakan perasaan panas dan dingin, rasa sakit dan kesenangan. Mereka datang dan pergi, mereka tidak kekal – Oleh karena itu, kita harus menghadapinya dengan sabar. Semua hal yang kita jalani, seperti kesedihan dan kesenangan, penderitaan dan kebahagiaan, adalah pengalaman indra. Ketika kita mendapatkan sesuatu yang kita merasa bahagia dan ketika kita kehilangan sesuatu yang kita merasa tidak bahagia.Ini adalah proses psikologis yang terjadi di dalam pikiran manusia sepanjang waktu.

Seperti dikatakan oleh Krishna, kita harus memahami bahwa ini adalah bagian alami dari kehidupan dan karena itu kita harus menanggungnya dengan berani karena itu adalah fana. Ketika kita memiliki disiplin yang tidak terganggu bila ada rasa sakit, kita akan menjadi sabar, kita akan bertahan. Kemudian, tak ada yang dapat membujuk kita dari jalan kita yang khusus ini. Kita mengetahui keabadian kita, karena dunia ini tidak dapat mempengaruhi kita, yang tidak nyata ini tidak mempunyai eksistensi dan yang nyata ini tidak pernah berhenti menjadi. Kebenaran ini diwujudkan oleh para pelihat, ‘apa yang tidak’ tidak bisa menjadi, dan ‘apa yang ada’ tidak dapat gagal menjadi. Apa yang nyata akan selalu nyata. Tubuh fisik relatif nyata, tapi tidak benar-benar nyata, melainkan berubah dari waktu ke waktu. Yang Mutlak tidak berubah. Bentuk fisik kita terbuat dari unsur yang berbeda dan dengan demikian, secara alami, ia harus kembali ke sifat-sifatnya masing-masing. Dalam meditasi, Resi besar dan Munis memungkinkan mereka melepaskan diri dari tubuh dan dunia mengijinkan mereka mengamati itu, dan sebagainya Mereka bisa memberitahu kita semua tentang kehidupan nyata. Mengetahui itu, dimana semua sesungguhnya tidak bisa dihancurkan. Tidak ada yang dapat menyebabkan kehancuran kekal.

Seluruh alam semesta adalah Ilahi yang didiami oleh Esensi dari Jiwa. Jiwa adalah penyebab dari semua yang ada. Ketika semua hal fisik yang ada berhenti ada, Jiwa tidak akan terpengaruh. Jiwa tidak tergantung pada alam semesta untuk Keberadaannya, atau pada tubuh – mereka bergantung pada jiwa untuk eksistensi mereka. Jiwa adalah kekal dan tak dapat dihancurkan. Dalam ketidaktahuan kita berpikir bahwa ketika tubuh mati keberadaan individu juga selesai. Tetapi – siapa diri kita sebenarnya – bukanlah keberadaan fisik kita. Kita sesungguhnya adalah jiwa. Ketika kita menyadari hal itu, maka rasa takut akan hilang dari hati kita. Tapi selama kita tidak menyadari Jiwa dalam diri kita kita tidak mengalami rasa takut, karena ketika kita merasa terancam, kita merasa bahwa itu adalah ancaman bagi eksistensi kita.

Realisasi Atmic

Ketika Alexander Agung bepergian ke India, salah satu tentara mengatakan kepadanya tentang seorang yogi. Alexander memerintahkan yogi tersebut untuk dibawa menghadapnya tapi yogi itu menolak. Jadi Alexander mengancam akan membunuhnya jika dia tidak datang. Sang yogi menjawab bahwa apa yang ia miliki, pedang tidak dapat menyentuh – bahwa tubuh fisiknya mungkin akan diambil, tapi bukan Jiwanya. Jadi Alexander pergi ke sang yogi dan tercengang karena di depan yogi tersebut, walaupun ia adalah Alexander sang kaisar, ia merasa seperti seorang pengemis. Ketika seseorang memiliki realisasi Atmic seseorang tidak menginginkan apa-apa. Alexander, meskipun semua yang telah dicapai, masih selalu memiliki keinginan untuk lebih, karena itu ia merasa seperti seorang pengemis di depan yogi tersebut.

Tidak ada yang bisa membunuh Jiwa.

Jiwa tidak dilahirkan atau mati. Bagi Jiwa, datang pada keberadaan dan kemudian berhenti  tidak akan terjadi. Jiwa adalah abadi, konstan dan kekal. Ketika kita memiliki realisasi semuanya ini tentang Jiwa- kita akan mengetahui bahwa Jiwa tidak dapat dibunuh dan bahwa ia tidak dapat menjadi penyebab makhluk lain dibunuh. Jiwa keluar dari tubuh yang telah selesai dipakai dan mengambil tubuh yang baru. Senjata tidak bisa membunuh Ini, api tidak dapat membakar ini, air tidak dapat membuat basah kuyup itu, angin tidak bisa membuat kering ini, – Diri adalah tidak dapat dihancurkan, tidak dapat dimusnahkan. Jiwa adalah stabil, tak tergoyahkan, dan abadi. Krishna mengatakan, unsur-unsur tersebut tidak bisa mempengaruhi Jiwa, karena Jiwa lebih halus dari pada bumi, air, api, udara dan eter – mereka bergantung pada Jiwa untuk keberadaan mereka, bukan jiwa bergantung pada mereka.

Jiwa bisa dikatakan tidak berwujud, tak terpikirkan, dan, oleh karena itu, dengan mengetahui hal ini kita tidak harus bersedih. Kematian adalah kepastian bagi orang yang lahir, karena kelahiran adalah pasti bagi orang yang meninggal. Kematian bukanlah akhir dari keberadaan kita. Sebagai pengelana kita datang dengan tangan kosong ke dalam dunia ini, dan ketika saatnya tiba kita harus pergi dengan tangan kosong juga, kita harus kembali dari mana kita datang, Sumber kita. Sepanjang hidup orang-orang saling bertarung dan membunuh untuk hal-hal sepele dan bukan bertanya-tanya tentang filosofi kehidupan dan kematian.

Kita datang ke dunia ini dan ketika kita di sini kita harus menyadari siapa kita, karena itu adalah tujuan kita. Dan jika kita dapat menyadari siapa diri kita, kita dapat memiliki kehidupan yang kekal. Satu-satunya cara agar kita bisa mendapatkannya adalah berusaha untuk memperoleh pengetahuan karena dengan pengetahuan kita akan mengatasi ketidaktahuan kita. Kemudian kita akan memiliki ketenangan pikiran, maka kita akan mendekati Tuhan, maka kita akan mendekati Diri sejati kita – siapa diri kita sebenarnya. Ketika kita berada dalam ketidaktahuan, kita akan mengidentifikasi diri hanya dengan tubuh fisik, perasaan dan pikiran kita. Tapi ketika kita mengidentifikasi diri dengan Jiwa, maka seluruh sikap kita terhadap kehidupan akan berubah: kita menjadi lebih obyektif, kurang posesif, kita peduli lebih untuk orang lain, karena kita merasa bahwa segala sesuatu adalah bagian dari diri kita sendiri. Krishna menyarankan kita untuk berjuang untuk membebaskan diri kita dari keterikatan dengan dunia fisik ini. Ketika kita berusaha untuk itu, kita akan menemukan bahwa rasa sakit kematian tidak dapat mempengaruhi kita. Kita  akan hidup dalam ketakutan yang terus-menerus terhadap kematian jika kita lupa siapa kita sebenarnya, yang adalah Jiwa, yang adalah inti dari segala sesuatu.

Swami Nirlipananda adalah Swami senior di salah satu kuil dari komunitas Asia di London.

Sumber: http://henkykuntarto.wordpress.com

Iklan
Oleh: Gusti Sudiartama | Januari 20, 2011

SAMADHI DENGAN OMKARA (menurut Prasna Upanisad)

Seorang yang terpelajar (dengan mengucapkan dan meditasi pada Om sampai akhir hayatnya) hanya dengan bantuan saya mencapai Tuhan dalam satu dari dua bentuk, yaitu eter sebagai memiliki sifat moksa atau sebagai pemberi kebahagiaan pada dunia ini. (Prasna Upanisad )

Sungguh satu frase yang menarik dan menyodorkan salah satu jalan bagi pencari kebenaran sejati. Seperti di ketahui Om adalah aksara suci yang berawal dari tiga aksara suci A U M.  Ada yang menyebut  A=Pencipta, U=Pemelihara M=Pelebur, ada pula yang menyebut A=Siwa, U=Sada Siwa, M=Parama Siwa.

Dalam Prasna Upanisad ketiga aksara ini dijelaskan sebagai A=Rg weda, U=Yajur Weda, M=Sama weda. Lebih jauh dijelaskan dari sudut pandang meditasi, orang yang melakukan meditasi dengan memusatkan pikiran kepada satu huruf yang pertama (Amkara) akan memperoleh pengetahuan sejati  dari mantra mantra suci(Rg Weda)dan kelak akan terlahir kembali menjadi manusia utama seperti dinyatakan dalam prasna Upanisad.

Seorang yang memusatkan pikiran kepada salah satu matra misalnya huruf pertama (yang berarti Yang Maha Meliputi dan Maha Mengetahui, sifat hakekat Tuhan), ia akan mendapat kesempurnaannya, segera akan terbebas dari dunia ini. Ilmu mantra dari Rg. Weda menyebabkan ia lahir sebagai orang bijaksana dan oleh karena kesuciannya/kekuatan tapanya, kebrahmacariannya dan keyakiannya, ia mengalami kebesaran Tuhan(Prasna Upanisad)

Sedangkan bagi mereka yang memusatkan meditasinya kepada dua huruf yang pertama A U akan mendapatkan berkah  ia akan mencapai tingkat pikiran (manasi), yang mengantarkannya mencapai somaloka, dunia ruang angkasa. Kemudian pada saatnya  akan turun kembali kedunia (punar awartate) sebagai manusia yang menikmati sifat Dewa-dewa, sebagaimana di nyatkan dalam Prasna Upanisad

Dan apabila ia memusatkan pikirannya kepada dua matra , dua huruf pertama,, (sebagaimana dijelaskan diatas yang menunjukkan kemaha kuasaan dan sifat-sifat mulia Tuhan), ia dengan pengetahuan mantra Yajur, Weda, mengantarnya ke Soma Loka, yaitu dunia bulan, sebagai seseorang yang memiliki sifat kemanusiaan yang luar biasa dan karena itu ia mengalami sifat Dewa-dewa(Prasna Upanisad)

Bagi mereka yang telah mampu melakukan meditasi dengan memusatkan pikiran kepada ketiga aksara suci ini.. AUM (Om) akan memperoleh berkah kesempurnaan tidak akan terlahir kembali(Moksa) diumpamakan sebagai seekor ular yang melepaskan kulesnya demikian pula roh(atma) melepas pengaruh triguna dan dosa-dosanya.

Seseorang yang kemudian memusatkan pikiran kepada Maha jiwa dengan ketiga matra Omkara, misalnya (sebagaimana dijelaskan diatas dan yang memberi makna kemahakuasaan dan sifat-sifat kemaha Tahuna Tuhan), ia menjadi terang seperti matahari, seperti halnya seekor ular menjadi bebas dengan mengelupas kulitnya, demikianlah orang seperti itu, karena bebas dari segala dosa-dosa, mencapai rakhmatnya dengan mempelajari Weda mantra Sama weda, dan melihat Tuhan yang ada diatas semua jiwa manusia dan ada dimana-mana dialam semesta ini. (Prasna Upanisad)

Lebih jauh dijelaskan ketiganya bila disatukan akan memberi keutamaan bagi yang mengucapkan dengan jiwa, diucapkan secara batin(diketahui makna ketiga aksara kemudian diucapkan dengan penghayatan kepada ketiga makna tersebut).

Ketiga matra (Om) berhubungan sangat eratnya antara yang satu dengan yang lain apabila diucapkan secara lahiriah, membuat seseorang mati dan lahir berkali-kali, tetapi bila tidak hanya diucapkan secara lahiriah saja atau luarannya saja, tetapi dipusatkan pikiran itu dengan benar, pahami maknanya yang sesungguhnya kepada Tuhan dan mencapai moksa(Prasna Upanisad,)

Dengan mengucapkan dan memahami mantra Rg Weda, seorang dialhirkan didunia ini (dimuka bumi). Dengan mengucapkan dan memahami mantara Yajur weda, seseorang akan dilahirkan di eter (angkasa) dengan jasad suksma sariranya), dengan mengucapkan dan memahami mantra Sama weda, seorang akan dilahirkan pada yang bijaksana, misalnya lahir sebagai orang yang bijaksana hanya akan mencapai Tuhan hanya dengan memusatkan pikiran pada om (memahami sepenuhnya dan merealisir makna ketiga matra sepenuhnya, yaitu A,U, dan M), dimana terdapat kedamaian yang sempurna, tidak ada penderitaan umur tua, tidak ada kematian, tidak takut tetapi rakhmat tertinggi yaitu moksa(Prasna Upanisad).

Mudah-mudahan  memberi manfaat…

Oleh: Gusti Sudiartama | Januari 18, 2011

Ganapati Tatwa sebuah bahasan Jnana

Ganapati Tattwa adalah salah satu Lontar Tattwa, Lontar Filsafat Siwa, yang digubah dengan mempergunakan methode tanya jawab. Ganapati, putera Siwa, adalah dewa penanya yang cerdas. Dan Siwa adalah Maheswara, yang menjabarkan ajaran rahasia Jnana, menjelaskan tentang misteri alam semesta beserta isinya. Terutama tentang hakikat manusia : dari mana ia dilahirkan, untuk apa ia lahir, kemana ia akan kembali dan bagaimana caranya agar bisa mencapai kelepasan.

Tanya jawab yang ditulis di dalam 37 lembar daun Tal ini disusun dalam 60 bait anustubh Sansekerta yang disertakan dengan ulasan dalam bahasa Kawi. Penjelasan masing-masing sloka sansekerta itu, ada yang cukup singkat ada pula yang panjang, terutama pada sloka permulaan. Isi ringkasnya sebagai berikut :

Omkara adalah sabda sunya, nada Brahman, asal mula dari mana Panca Daiwatma : Brahma, Wisnu, Iswara, Rudra dan Sang Hyang Sadasiwa dilahirkan. Dan Panca daiwatma adalah sumber dari mana Panca Tanmantra diciptakan. Panca Tanmantra : ganda, unsur bentuk; rasa, unsur rasa/kenikmatan; sabda, unsur suara adalah sumber dari Panca Mahabhuta : akasa, bayu, angin, teja, sinar; apah, zat cair; dan perthiwi, zat padat. Dari Panca Mahabhuta inilah alam semesta beserta isinya diciptakan, dan Sang Hyang Siwatma menjadi sumber hidup yang menggerakkan segala ciptaan-Nya sloka 1-2,25-39).

Sadanggayoga : Pratyaharayoga, Dyahayoga, Pranayamayoga, Dharanayoga, tarkkayoga dan Semadhiyoga adalah jalan spiritual untuk mencapai kelepasan, dijelaskan dlam sloka 3 – 9.

Sloka 10, 18, 19, 22-24 menjelaskan tentang Padma Hati sebagai Siwalingga dimana Beliau harus direnungkan. Hanya ia yang bijaksana, berhati suci dan penuh keyakinan yang dapat mengetahui Beliau. Sang Hyang Caturdasaksara. Sedangkan sloka 11-17 menjelaskan tentang berbagai jenis lingga.

Sloka 20 menerangkan anggapan orang yang bodoh dan sombong tentang atma.

Sloka 21 menjelaskan stana Bhatara Wisnu, Brahma dan Siwa pada badan jasmani.

Sloka 40-42 menjelaskan bahwa Sang Hyang Bheda Jnana adalah ajaran rahasia tentang manusia, yang berhak menerima ajaran rahasia ini adalah ia yang sungguh-sungguh melaksanakan dharma.

Sloka 43-45 menjelaskan tentang kelepasan. Ada tiga prilaku orang yang mengutamakan kebebasan dan pengetahuan yang suci adalah sarana untuk mencapai penyatuan diri dengan Sang Roh Yang Agung.

Sloka 56-59 menjelaskan tentang panglukatan Ganapati. Sarana upakara yang diperlukan, mantra yang mesti dipergunakan dan kegunaan panglukatan tersebut.

Dan sloka 60 adalah mantra pujaan yang ditujukan kepada Sang Hyang Ganapati dan Saraswati.

sumber: Buku  Ganapati Tatwa diterbitkan Upada sastra

Oleh: Gusti Sudiartama | Januari 18, 2011

SWETA SWATARA UPANISAD

Kitab Swetaswatara adalah merupakan kitab Sruti yang tergolong pada kitab Taittiriya pada Yajur Weda. Nama Sweswatara tidak  jelas tetapi banyak para akhli Indologi berpendapat bahwa nama ini adalah nama Maharsi yang menghimpun dan menyusunnya Sweta artinya putih atau bersih atau suci. Aswa adalah indriya atau panca indra.

Melihat isinya dapat disimpulkan bahwa kitab Swetaswatara memusatkan pokok bahasanya pada ajaran ketuhanan yang berusaha menjelaskan bahwa otensitas ajaran menurut Weda adalah berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Dengan penemuan dan penulisan kitab Swetaswatara itu dimaksud untuk lebih menjelaskan dan menegaskan bahwa ajaran Weda adalah bersifat Monothesitis.

Dalam menulis atau menyusun pokok-pokok penjelasan ajaran weda, terutama yang bersumber dari Yajur Weda itu, Maharsi telah berusaha dengan secara sistim dan metodologinya untuk memberi kejelasan tentang pengertian Tuhan yang didalam kitab itu lebih umum disebut dengan gelar Brahman (n). apa yang dibahas meliputi mulai dari pengertian, sifat-sifatnya, cara mencapai tujuan atau  sebagai jalan agar sampai pada pengertian yang benar atau sebagai jalan menuju Tuhan Yang Maha Esa. Masih banyak lagi yang dapat kita kemukakan yang tentunya untuk memahami dan mengkajinya perlu membacanya dengan teliti baik terjemahan maupun teksnya agar supaya dapat mengerti dengan jelas.

Oleh karena dasar bahasa mencakup masalah ajaran Ketuhanan, maka tidak jarang kalau kitab Swetaswatara sering dijadikan sebagai bahan referensi sumber informasi yang amat penting dalam mempelajari Theology Hindu Dharma, disamping berbagai kitab lainnya dalam mempelajari filsafat Hindu. Dari dalam kitab ini pula kita mulai mendapat kejelasan pengertian tidak saja mengenai arti Tuhan Yang Maha Esa itu saja tetapi juga tentang sifat pengertian immanen dan transcenden yang pada dasarnya memang sangat sukar untuk dicerna dan dimengerti oleh orang biasa. Demikian pula mengenai hakekat umum diterapkan oleh agama Buddha sebagai jalan menuju pada kesempurnaan hidup manusia, baik rokhani maupun jasmani.

Kitab Swetaswatara Upanisad terbagi atas enam bab. Masing-masing bab terbagi atas beberapa topic atau sub pokok bahasan yang umumnya merupakan syair-syair singkat saja. Keseluruhan isinya terdiri atas 111 sair atau sloka yang tidak sama pula panjangnya. Adapun keseluruhan isinya singkatnya adalah sebagai berikut :

  1. Bab I terdiri atas 16 sloka atau sair
  2. Bab II terdiri atas 17sloka atau sair
  3. Bab III terdiri atas 21 sloka atau sair
  4. Bab IV terdiri atas 22 sloka atau sair
  5. Bab V terdiri atas 14 sloka atau sair, dan
  6. Bab VI terdiri atas 23 sloka atau sair.

Dari daftar isi ini tampak bahwa Bab V merupakan bab terpendek, terdiri atas 14 sloka sedangkan Bab VI merupakan bab terpanjang, terdiri atas 23 sloka.

Melihat dari isinya maka secara singkar garis besar pokok isi kitab Swetaswatara Upanisad ini dapat disimpulkan sebagai berikut dibawah ini.

Bab I, yaitu yang merupakan bagian pertama dari kitab itu mencoba mengungkapkan permasalahan pokok yang menjadi topik bahasan yang selalu dibahas dalam pondok-pondok pasraman antara guru Brahmana yang dianggap akhli dengan para muridnya atau cantriknya yang telah diinisiasi menjadi brahmacari. Pokok bahasan ini terutama menyangkut  pemikiran-pemikiran tentang pengertian mengenai hakekat Ketuhanan baik sebagai ajaran maupun sebagai jalan yang didalam Weda pengertiannya belum dapat dipahami dengan jelas dan tegas. Sebagai bahasan tentang hakekat itu maka para pengkaji memerlukan nama dan karena itu timbullah pemberian nama mengenai hakekat itu, yaitu dengan nama atau gelar Brahman untuk menamakan hakekat itu yang sekarang lebih kita kenal dengan nama Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai nama umum. Dengan demikian maka gelar Brahman pun maksudnya adalah sebagai nama umum atau biasa yang harus dapat diterima atau sedikit-tidaknya bisa diterima secara rasional. Oleh karena itu dipersoalkan pula apakah itu identik dengan pengertian Tuhan Yang Maha Esa atau tidak.

Ini satu pertanyaan yang dikemukakan dan harus dapat dijelaskan berdasarkan ungkapan-ungkapan yang ada dalam Weda (mantra) sebagai pembuktian otentik.

Sebagai dasar dikemukakan bahwa hakekat Ketuhanan adalah dasar (sumber utama) atau penyebab pertama yang adaNya tanpa ada yang mengadakan kecuali diriNya sendiri. Dia ada melainkan sendiri dan sebagai sebab Ia disebut sebagai pemberi hidup yang menghidupkan semua ciptaan ini, sebagai pencipta yang mengadakan seluruh alam semesta dengan segala isinya dan lain-lain sebaginya menurut sifat dan nama sifat atau gelar yang diberikan kepadaNya oleh manusia menurut bahasa manusia dengan sifat manusia yang menamakanNya.

Masalah kedua yang dipersoalkan adalah sifat hakekat itu sendiri yang bersifat relative yang membedakanNya dari sifat-sifat keabsolutannya yang hakiki, seperti waktu, tempat dan unsur  elemen yang pada hakekatnya merupakan hakekat sifat phenomena dan impirisis. Oleh karena masalahnya dianggap sangat sulit untuk dapat dipahami tanpa perenungan yang mendalam maka sifat pengertian dan hubunan dasar pengertian berbagai phenomena itu tidak mungkin dapat dipikirkan begitu saja tanpa perenungan yang mendalam dan dalam keheningan bathin. Dengan diperlukannya perenunganyang mendalam serta keheningan bathin maka dianggap perlu adanya satu metode pendekatan dalam perenungan itu yang melahirkan pentingnya arti yoga-samadhi dimana bila yang penerapannya diikuti dengan keyakinan yang mendalam (bhakti) maka pikiran tidak akan tergoyahkan dalam kontak hubungan kejiwaan itu.

Kontak kejiwaan ini merupakan bentuk “Samadhi” atau “dhyana – Samadhi” dimana melalui kekuatan penglihatan bathin akhirnya dapat diketahui berbagai hakekat yang berbeda-beda dari yang satu dengan yang lain, seperti Dewa Sakti, Purusa, Prakrti (Pradhana), Tri Guna, Maya sakti, dll. Demikian pula hakekat pengertian Iswara sebagai Atman atau Prakrti yang diibaratkan sebagai roda (cakra) dalam dunia lami. Penggunanan roda (cakra) sebagai perumpamaan tidak bertujuan mengidentifikasikan melainkan sekedar membantu orang awam untuk memahamiNya. Ini berarti dari alam abstrak dibawa kealam nyata, dari alam numenal kealam phenomenal.

Apa yang dikemukakan lebih jauh dalam Bab I adlaah mengenai tentang pentingnya mengetahui Brahman karena dengan pengetahuan ini akan membawa pada keselamatan bersama karena bersama-sama merasa sebagai satu persaudaraan dalam satu ikatan bathin dimana Brahman sebagai dasarnya. Dari sloka 10 bab I dapat diketahui bahwa nama Brahma tidak mutlak demikian karena Ia disebut pula dengan nama lain, misalnya, hara, yang artinya yang dipertuan atau yang dijunjung atau penguasa.

Dengan dasar pengetahuan itu maka timbul satu masalah yang harus dapat dijelaskan, yaitu, bagaimana menyadari hakekat yang bersifat numenal sebagai satu kebenaran mutlak karena apa yang ada ini sesungguhnya tidak kekal. Untuk menjelaskan hal ini maka Swetaswatara memberi keterangan dengan mempergunakan perumpamaan baru, yaitu, ibarat sang pencari api (Agni), ia harus berusaha mendapatkannya dengan cara menggosok-gosokkan dua batang kayu  sampai keluar api. Hubungan antara dua potong kayu yang sama diibaratkan sebagai lingga-yoni, yang melahirkan api setelah diusahakan dengan  kekuatan atau sakti. Apa yang dimaksud dengan kekuatan tenaga penggerak dalam hubungan ini adalah aksara OMKARA yaitu suara AUM yang dikatakan apabila pengucapannya dengan benar dan penuh keyakinan, tanpa henti-hentinya pada akhirnya akan mencapai titik puncak  pada dhyanasamadhi waktu melakukan yoga dimana akhirnya kekuatan itu mempunyai kemampuan untuk memperlihatkan apa yang dicari didalam hati atau pikiran, suatu bentuk tertentu yang merupakan hakekat yang dicari-cari. Yang tampak kelihatan itulah yang diberi nama dengan nama Iswara atau Dewata (Ista Dewata) sebagai Godhead. Hakekat itulah yang dicari dan yang tidak diketahui oleh orang yang awidya, yang tidak berkeyakinan karena tidak yakin akan kebenaran itu sehingga mudah putus asa dan gagal untuk mendapatkannya.

Adapun bab II, mencoba memberi penjelasan lebih lanjut tentang proses kejadian itu, satu proses panjang dalam mewujudkan bentuk (rupa) yang tidak mempunyai wujud, proses perubahan dari alam numenal kealam phenomenal, dari alam Sunya kealam nyata (bhawa). Sloka 1 memulai dengan pujian atau menghubungkan diri kepada yang tak nyata sebagai pemberi inspirasi atau yang memberi rangsangan pada pikiran dimana sang Perangsang itu disebut dengan nama Sawitri. Sawitri artinya yang memberi inspirasi dan sebagai alam phenomena digambarkan sebagai Dewi Fajar disanjung dan dipuji pada setiap subuh. Dengan pengaruh Sawitri, pengendali sang pikir maka tercapai satu bentuk atau rupa pada pikiran (manah) sehingga melahirkan bentuk sinar atau cahaya atau yang memancarkan terang. Dari pancaran itu melahirkan api. (Agni) yang kemudian diturunkan kedua (Prthiwi) yang lebih jauh kalau dikembalikan kepada perumpamaan itu, api timbul dari gosokkan dua buah kayu kering. Tentang sifat Sawitri dikemukakan bahwa beliau adalah penguasa alam surga (swarga) dan karena itu ilmu agama mengajarkan tentang bentuk surga yang digambarkan sebagai tempat yang terang dan didalam alam surga itu bersemayam semua para Dewa-dewa. Demikian pula makna doa atau puji-pujian sebagai rangsangan dan merupakan petunjuk jalan yang akan mengantarkan manusia kealam matahari.

Disamping hal-hal yang telah disebut diatas, bab ini juga menekankan akan pentingnya memahami pokok-pokok pengertian yoga-semadhi yang kalau dibiasakan akan mempunyai akibat baik karena bersifat ganda kepada yang mempraktekkannya, yaitu tidak saja  membuka jalan menuju kepada jalan yang benar, jalan yang diridhoi  atau disebut sebagai jalan menuju kepada Tuhan Yang Maha Esa tetapi juga akan membantu mereka untuk melihat serta memahami hakekat Yang Maha Esa dengan segala nama sifatnya yang pluralistis dan berbeda dari manusia biasa.

Bab III pada hakekatnya menjelaskan makna kasunyataan tertinggi. Apakah sebagai Yang Maha Esa, hakekat yang kekal abadi, hakekat yang maha mengetahui serta menguasai seluruh ciptaan ini.  Ia juga diperkenalkan dengan gelar Rudra, gelar yang paling umum dijumpai didalam Weda, jauh sebelum gelar Siswa diperkenalkan. Istilah Rudra sebagai gelar inipun pengertiannya tidak berbeda dari apa yang telah diberikan sebelumnya melainkan karena sifat kekuasaan yang hendak ditampilkan dilihat dari sifat lainnya Ia juga disebut Wiswa yang berarti hakekat Yang Maha Asa dan merupakan prabhawa.

Salah satu topik  terpenting dalam bab ini adalah hakekat pengertian “Bhagawan” dengan mengibaratkannya sebagai diri kosmos dan didalam Rg weda semua dikenal dengan nama Wirat Purusa atau Maha Purusa. Pengertian inilah yang membawa pada satu pengertian dasar tentang pengindraan hakekat aspek transenden itu sebagai salah satu bentuk peningkatan pengertian dari numenal atau phenomenal.

Bab IV intinya mencoba menjelaskan sifat kemajemukan Yang Maha Esa yang tampaknya dalam dunia empirisis. Dengan demikian Ia adalah Agni, Ia adalah Aditya, Ia adalah  Wayu, Ia adalah Candra, Ia adalah Praja Pati, Ia adalah laki-laki Ia adalah istri atau wanita, dll. Jadi yang berbeda-beda itu adalah bentuk nama sifat hakekat yang sama itu pula.

Bab V memulai menegaskan pengertian hakekat ke Esaan Tuhan Y.M.E yang diangap sebagai bentuk immanen dan sebagai penguasa tertinggi. Dalam hal ini konsep Godhead atau Dewata merupakan bentuk yang paling nyata dari sifat hakekat Tuhan Yang Maha Esa itu.

Bab VI mencoba merangkai hubungan pengertian antara bentuk immanen dengan bentuk permanen atau transcenden sebagai satu bentuk proses kosmos. Hakekat sifat transcenden itu digambarkan dengan satu keadaan tanpa cirri yang dapat membeda-bedakan, hakekat tanpa sifat dan karena itu tiada nama dan tidak ada bnetuk yang dapat digambarkan pada tingkat ini. Bila sampai pada tingkat pengertian itu maka tidak ada lagi keterikatan dan pada pikiran manusia tidak ada keterkaitan kecuali kekaryaan yang selaras dengan hukum kasunyataan itu. Tingkat inilah yang merupakan tingkat pencapaian moksa dan merupakan tujuan hidup teringgi dalam ajaran Hindu Dharma.

Demikianlah secara singkat pokok-pokok isi kitab Swetaswatara ini yang diharapkan akan dapat membantu pembaca mengenal berbagai permasalaahn yang akan ditampilkan dalam terjemahan berikut ini.

Sumber : Sweta Swatara Upanisad, terjemahan Drs. R Sugiharto dan G Pudja MA.SH.

Oleh: Gusti Sudiartama | Januari 13, 2011

Kekasih-kekasih ku

Keluargaku ..inspirasi..   untuk-ku…  menjadikan-ku seseorang..

really My Heart

Cinta pertama-ku ..yang  slalu ada disisiku…  memberiku dorongan dan semangat untuk slalu berbuat dan berbuat yang terbaik…   bagi diri-ku, keluarga-ku  dan lingkungan-ku..  benar-benar bumi bagiku…  andaikan aku benar menjadi mentari baginya…  ketika ku saksikan lelap tidurnya…  betapa dia telah menjadikan-ku yang dia percayai…    membangkitkan haru dalam batinku… Tuhan  beri kekuatan untuk istri-ku tercinta…   ijinkan aku  untuk slalu memberinya kedamaian ..  kuatkan aku untuk mampu menjaga percaya-nya…

keduanya arka bagi-ku

Cahaya hidupku…   dua-duanya slalu hadir….  dalam setiap doa yang ku panjatkan…  yang kumohonkan hanyalah  kedua cahaya-ku benar.. menjadi “arka”  bagi dirinya…, semoga keduanya menjadi manusia sejati seutuhnya…  Melihat keduanya tumbuh…  seolah jiwaku tumbuh..  cerianya… menjadi ceriaku…  keduanya istimewa  bagiku…   Tuhan terima kasih telah mempercayaiku..  untuk membantu hadirnya jiwa-jiwa muda ini menuju takdirnya…

semoga semua diberkati kedamaian

Betapa aku telah diberkati oleh-Nya… dihadirkan untuk-ku manusia-manusia baik disekelilingku…  betapa  mereka telah memberiku ruang untuk berbuat… walau mereka mungkin tak sepenuhnya paham ..   apa  yang kuyakini… walau mungkin mereka tak sepenuhnya  mengerti..  tapi kusaksikan usaha mereka untuk slalu mengerti…    Semoga kita selalu diberkati kebersamaan …  kemauan untuk saling berbagi…  semoga…

menyatukan dua jaman yang berbeda

Oleh: Gusti Sudiartama | Januari 5, 2011

Pura Mrajapati Tempat Pemujaan Alam Kosmis

Oleh Adang Suprapto

P ura Dalem, Mrajapati, Kahyangan dan Setra berikut para Dewa yang berstana di sana, tampak adanya konsep dasar yang mengatur hubungan makna ketiga tempat itu, berikut tugas yang dijalankan para Dewa, yakni konsep Siwaisme. Pemaknaan ketiga tempat suci itu berhubungan dengan kekuasaan Siwa dengan saktinya Durga. Oleh karena pada umumnya Durga dicitrakan sebagai tokoh dewa yang menyeramkan, maka ketiga tempat itu juga dipersepsikan sebagai tempat pemujaan yang terkesan angker dan menyeramkan.

Dari ketiga tempat suci itu, orang menghubungkan lagi dengan unsur-unsur bhuana agung yang juga ditemukan dalam bhuana alit. Hubungan unsur-unsur itu seakan-akan diatur oleh sistem kosmis melalui jaringan makna yang renik dan manusia terkurung di dalam jaringan makna itu. Sistem kosmik ini kemudian mengatur perilaku dan aktivitas ritual umat Hindu Bali dalam siklus yang tidak pernah terhenti, terus menerus, meskipun kemudian hubungan jaringan maknawi itu semakin kabur oleh nuansa yang menyeramkan dan magis. Mungkin itu sebabnya mengapa orang Bali agak sulit melepaskan pikirannya ke dunia mistik, leak misalnya.

Apa hubungan Pura Dalem, Mrajapati, Kahyangan dan Setra gandamayu? Menurut sebuah sumber, mrajapati adalah tempat pemujaan alam kosmis, sedangkan setra atau pemuwunan atau tempat pembakaran mayat adalah tempat atau panggung transformasi ajian Dewi Durga yang cenderung bergerak ke kiri atau kiwa. Karena itu, Pura Dalem adalah stana Siwa yang berfungsi sebagai penetralisir kekuatan positif dan negatif yang ditimbulkan oleh praktik-praktik ajian Durga tersebut. Jika demikian tata hubungan ketiga tempat pemujaan itu, maka di Pura Dalem umat melakukan aktivitas ritual dan persembahan yang bertujuan untuk mendapatkan kerahayuan dan terhindar dari pengaruh negatif dua kekuatan lainnya, yakni mrajapati dan setra. Di mrajapati umat membayangkan kekuatan alam, dan setra adalah tempat untuk melakukan upacara kematian dan pembakaran jenasah.

Di mrajapati sendiri distanakan Durga dengan tiga kekuatannya, yakni anggapati, prajapati dan banaspati. Kanda Pat menyebutkan anggapati berarti kala atau nafsu di badan, mrajapati berarti penguasa Durga setra gandamayu, sedangkan banaspati berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti iblis, tonya atau hantu hutan, atau raja hutan, raja pepohonan, dan penjaga lembah, sungai dan tempat-tempat angker lainnya. Akan tetapi, sumber lain menyebutkan banaspati adalah gelar Hyang Siwa yang mengendalikan dan menentukan hidup dan kehidupan semua ciptaannya (sarwa bhutesu). Tidak heran kalau beliau selalu digambarkan sebagai dewa yang menyeramkan dan mengerikan.

Dalam menjalankan tugas dan fungsinya yang demikian itu, beliau bersikap tegas, cepat, adil dan penentu segalanya. Dalam hal memberi keadilan, beliau memperoleh julukan Hyang Yama. Dalam menjalankan tugas itu, beliau dibantu oleh para rencangan beliau, yakni para Yama Bala. Tugas utama para Yama Bala adalah menjemput dan memberikan tempat yang pas bagi para atma yang ingin menghadap Hyang Siwa.

Para atma yang baru hadir untuk menuju alam Siwa tidak langsung diterima di Siwaloka, tetapi sebelumnya dicatat terlebih dahulu oleh rencangan beliau yang bernama Sang Suratma. Tugas utama Sang Suratma adalah mencatat atau menuliskan segala perilaku manusia saat masih di alam manusia.

Segala hal yang benar dan salah selama hidup manusia wajib dilaporkan oleh sang atma kepada juru tulis Sang Suratma. Jika semasa hidup di alam manusia seseorang mungkin dapat berbohong, maka di hadapan Sang Suratma sang atma tidak mungkin berbohong, karena Sang Suratma telah mencatatnya secara detail dan teliti.

Bilamana semuanya telah tercatat barulah para Yama Bala melanjutkan perjalanan para atma untuk menuju tempat yang telah dipersiapkan, yakni tegal penangsaran. Di tempat ini para atma menerima perlakuan sesuai dengan perbuatannya di alam kehidupan manusia. Tentu saja tegal penangsaran memiliki kondisi yang berbeda-beda, antara lain ada tempat yang sangat panas, tempat yang menyakitkan, tempat yang mengerikan dan tempat untuk memberikan sanksi bagi atma sesuai perbuatannya di alam manusia dulu. Di tegal penangsaran tidak terdapat pohon-pohon yang menyejukkan, kecuali pohon yang berisi benda-benda tajam yang digunakan untuk memberikan hukuman kepada para atma yang telah berbuat kejahatan, kesalahan dan perilaku yang tidak sesuai dengan ajaran dharma.

Dengan adanya Sang Suratma di sana, beserta para Yama Bala, dapat ditafsirkan bahwa mrajapati menjadi semacam birokrasi niskala yang melayani kepentingan para atma sebelum ke Siwaloka. Disana, roh orang yang baru meninggal harus menyelesaikan administrasi kependudukannya, yang berhubungan dengan perbuatannya di masa lalu. Dengan demikian, mrajapati yang mungkin berasal dari kata praja berarti tata (penguasaan) dan pati yang berarti mati, maka prajapati yang mengalami perubahan konsonan p menjadi m, sehingga menjadi mrajapati dapat diartikan sebagai tata, penguasaan atau birokrasi kematian. Tugasnya yang demikian itu kemudian menyebabkan mrajapati sebagai tempat pemujaan yang misterius, mengerikan dan menakutkan. Pemahaman akan kekuatan Tuhan sudah sejak zaman Bali kuno. Hal ini diketahui dari berbagai lontar, antara lain Lontar Kanda Pat, Usana Bali Gong Besi, dan Taru Pramana. Semua itu merupakan hasil lokal genius masyarakat Bali yang diakulturasikan dengan budaya sehingga masyarakat dapat membayangkan dan melihat kekuatan Tuhan dalam berbagai perwujudan atau pelawatan. Suatu perwujudan kekuatan Tuhan bukanlah sembarangan. Hal ini merupakan hasil imajinasi yang luar biasa dari kekuatan yogi jaman dulu.

Salah satu pemahaman akan kekuatan Tuhan itu adalah keyakinan terhadap Banaspatiraja. Banaspatiraja merupakan simbol atau wahana Ida Bhatara yang berlandaskan pada ajaran Çiwa. Ajaran ini mengandung filosofi Tantrayana dan Bhairawa di dalamnya. Filosofi ini tidak bisa dipisahkan dari sejarah perkembangan Hindu di Bali. Sejak Mpu Kuturan datang ke Bali dan menyatukan ajaran berbagai sekte yang pernah hidup di Bali, berkembanglah yang disebut ajaran Trimurti. Ajaran ini bermakna tiga manifestasi Tuhan yang mempunyai kedudukan yang sama. Inilah cikal bakal ajaran Çiwa Sidanta yang kita warisi sampai sekarang.

Pemahaman Banaspatiraja tidak bisa dipisahkan dari konsep empat bersaudara yang terdiri atas Anggapati, Prajapati, Banaspati, dan Banaspatiraja itu sendiri. Konsep itu disebut nyama papat (saudara empat). Nyama papat ini jangan selalu dibayangkan seram, karena kalau kita telusuri itu semua adalah kekuatan Tuhan dalam berbagai manifestasinya. Hal ini termuat dalam Lontar Çiwa Tatwa.

Dilihat dari sumber sastra lain yakni Lontar Usana Bali, Banaspatiraja adalah kekuatan pelindung dari segala macam penyakit atau hama yang ada di sawah. Karenanya beliau berfungsi sebagai nangluk merana untuk menetralisir kekuatan negatif, dan juga dalam usadha yang berperan sebagai dewanya balian. Di dalam Lontar Gong Besi, Banaspatiraja lambang Taksu. Orang yang ingin memiliki Taksu, Beliaulah sumbernya. Di jajaran Pelinggih Sanggah atau Merajan atau Tempat Suci Keluarga, beliau berada di Pelinggih Taksu.

sumber: http://www.parissweethome.com

Oleh: Gusti Sudiartama | Januari 5, 2011

Ilmu Kewisesan Pengiwa Dan Penengen

Oleh Ahmad Prajoko

K ata kiwa adalah bahasa Jawa Kuno yang artinya kiri; kiwan; sebelah kiri, Ngiwa = Nyalanang aji wegig (menjalankan aliran kiri), seperti ; pengeleakan penestian, Menggal Ngiwa = nyemak (melaksanakan) gegaen dadua (pekerjaan kiri dan kanan). Pengertian Kiwa dan Tengen artinya ilmu hitam dan ilmu putih, Ilmu Hitam disebut juga ilmu pengeleakan, tergolong aji wegig. Aji berarti ilmu, Wegig berarti begig yaitu suatu sifat yang suka mengganggu orang lain. Karena sifatnya negatif, maka ilmu itu sering disebut “ngiwa”. Ngiwa berarti melakukan perbuatan kiwa alias kiri.

Ilmu leak ini bisa dipelajari dari lontar-lontar yang memuat serangkaian ilmu hitam, antara lain; Cabraberag, Sampian Emas, Tangting Mas, Jung Biru. Buku tersebut ditulis pada zaman Erlangga, yaitu pada masa Calonarang masih hidup. Disamping itu ilmu leak mempunyai tingkatan. Tingkatan leak paling tinggi menjadi bade (menara pengusung jenasah), di bawahnya menjadi garuda, dan lebih bawah lagi binatang-binatang lain, seperti monyet, anjing ayam putih, kambing, babi betina dan lain-lain. Ilmu putih sangat bertentangan dengan ilmu hitam. Ilmu putih sebagai lawannya, yang disebut pula ilmu penangkal leak yang bisa dipakai untuk memyembuhkan orang sakit karena diganggu leak, sebab aji usadha berhaluan kanan, disebut haluan “tengen” berarti kanan. Ilmu putih ini mengandung ilmu “kediatmika”.

Berbicara pengiwa yang direalisasikan oleh Rangda (Janda) ring Dirah melawan Mpu Beradah, pada zaman pemerintahan Prabhu Erlangga. Naskah ini disalin dalam huruf Bali pada pemerintahan Raja Klungkung, kurang lebih sinopsis isinya sebagai berikut :

Seorang raja yang bernama Sri Aji Erlangga, yang berstana di Kerajaan Kediri. Dalam pemerintahannya masyarakat menjadi makmur dan sejahtera, sehingga banyak negara-negara lain yang menyatukan diri dengan Beliau. Dalam wilayah Kerajaan terdapat sebuah perguruan, yang mengajarkan untuk kehancuran kerajaan. Karena menerapkan ajaran Sad Atatayi. Berbuat ulah untuk kematian dunia, berbuat Sad Atatayi dan bermurid mendirikan perguruan, menjadi sarana untuk memuja siwa, diberi anugrah oleh Hyang Bagawati.

Para menteri dan patih mencari bantuan kepala Mpu Beradah, kemudian Mpu Beradah menugaskan kepada muridnya yang bernama Mpu Bahula yang masih muda dan perparas rupawan untuk menyelidiki keberadaan di Dirah dengan melangsungkan perkawinan dengan anak janda di Dirah.

Setelah setengah bulan lamanya Pendeta menginap di Jirah (Dirah), maka datanglah Janda Jirah, memohon kepada Mpu Beradah agar merubah dirinya menjadi brahmana, karena telah banyak membunuh orang tanpa dosa. Mpu Beradah tidak bersedia meruwat sebab sastra utama menyebutkan perbuatan itu harus diterima oleh pelakunya melalui pembersihan Upeti, Stiti dan Pralina. Janda Jirah menjadi marah, bahwa dia tidak memerlukan sastra untuk peleburan dosa sehingga memutuskan untuk mengadu kesaktian dengan Mpu Bradah.

Akhirnya mereka berdua mengadu kewisesan di kuburan. Rangdeng Dirah menuding dengan mata melotot, muncul api berkobar, taring bergesek tajam. Hidung dan mulutnya besar menganga, lidah menjulur keluar api berkobar, “Lihatlah sekarang Baradah, ada pohon beringin besar, aku bakar menjadi abu, menunduk melihat tanah, tanah menjadi bubur, terbang berhamburan bagaikan hujan pasir, dilihat sampai di lautan, bagaikan bergoncang, kacau berganti-ganti. Lagi dilihatnya gunung lahar dengan hujan batu, binatang menjadi terbirit-birit ke sana kemari, kayunya roboh saling tindih, satu dengan yang lainnya, bumi menjadi gemetar”. “sekarang apa keinginanmu hai Baradah, sungguh berani tidak mengalah”.

Rangdeng Dirah kemudian membakar tubuh Mpu Baradah dengan api yang keluar dari mulutnya, namun tak mempan. Dua tiga kali dibakar tetap kokoh. Kemudian Mpu Baradah segera melakukan yoga kemudian menghidupkan kembali pohon beringin yang tadinya telah hancur terbakar. “Lihat sekarang olehmu dengan waspada hai Janda !

Ini menunjukkan tugas yang diemban oleh Mpu Baradah berhasil mengalahkan Rangda Ring Dirah. Artinya Ilmu Pengiwa akan selalu dikalahkan oleh Ilmu Penengen.

Sabuk Kekebalan

Dalam kemajuan teknologi yang berkembang pesat saat ini ternyata di masyarakat masih mejadi trend penggunaan alat-alat kekebalan dalam berbagai bentuk baik yang dipakai maupun yang masuk dalam tubuhnya.
Adapun fungsi dari alat tersebut untuk menambah kepercayaan diri agar merasa lebih mampu dibandingkan dengan yang lainnya. Harus disadari fungsi dari alat ini bagaikan pisau bermata dua. Kalau tujuanya untuk kepentingan umum dalam hal menolong masyarakat tidak menjadi masalah. Yang menjadi masalah adalah jika alat itu digunakan untuk pamer dan menguji orang lain, ini yang sangat riskan. Karena setiap alat yang kita pakai memiliki kadar tersendiri, tergantung dari sang pembuatnya. Karena ini berhubungan dengan kekuatan niskala yang berupa panengen dan pengiwa. Atau dalam istilah lainnya mengandung kekuatan pancaksara maupun dasaksara. Tidak sembarang orang bisa membuat alat seperti ini apalagi memasangnya karena berhubungan dengan pengraksa jiwa. Kalau berupa sesabukan (tali pinggang) menggunakan bahan-bahan tersendiri, berupa biji-bijian seperti kuningan, timah, perak, bahan panca datu. Ditambah sarana yang lainnya sebagai persyaratannya. Untuk menghidupkan ini perlu mantra pasupati biar benda tersebut menjadi hidup. Disinilah kekuatan penengen dan pengiwa berjalan sebagai satu kesatuan yang menjadi kekuatan panca dhurga.

Kalau sabuk pengeleakan lagi berbeda, di sini kekuatan pengiwa murni dipakai, sehingga yang memakainya akan memasuki dunia lain, tanpa disadari ia akan berubah secara sikap. Dan kita diolah oleh alat itu tanpa disadari kita menjadi kehilangan kontrol. Ini yang sangat berbahaya, jika tidak segera ditolong ia akan terjerumus, disinilah kekuatan penengen akan berjalan sebagai penetralisir. Di sinilah perlunya kita pemahaman apa itu penengen dan pengiwa jangan sepengal-sepenggal.

Kalau yang memasukan dalam tubuh juga hampir sama prosesnya dengan yang memakai alat, yang menjadi perbedaan adalah kalau yang memakai alat berada di luar tubuh dan yang memasukan berada di dalam tubuh, inipun prosesnya tidak gampang perlu orang yang tahu untuk memasangnya, memang tubuh menjadi kebal tapi perlu proses. Tidak langsung jadi. Disinilah kejelian seorang senior terhadap yuniornya apakah sudah siap secara mental atau tidak. Kalau sudah siap secara mental maka akan cepat benda itu bereaksi dan bisa dikontrol oleh dirinya sendiri, jika tidak akan sebaliknya akan membahayakan dirinya sendiri. Karena alat-alat yang dipasang akan menjadi energi. Di sinilah muncul keegoissan kita jika sudah merasa hebat seolah-olah kita yang paling unggul di antara orang lain, padahal kita tahu ilmu seperti ini sangat banyak.

Pengendalian diri sangat penting untuk membawa hal yang positif bagi kita sendiri, jangan terjebak oleh keinginan sesaat. Tapi sebaiknya kita gunakan alat-alat itu untuk kepentingan yang lebih baik seperti untuk jaga diri.

sumber : http://www.parissweethome.com

Oleh: Gusti Sudiartama | Januari 5, 2011

Kelahiran Manusia Mempunyai Saudara Empat

Dalam Kanda Pat diceritakan kelahiran manusia mempunyai saudara sebanyak empat yang terdiri dari Anggapati, Prajapati, Banaspati, dan Banaspatiraja. Pada usia kehamilkan enam bulan terbentuklah empat saudara yakni Babu Lembana, Babu Abra, Babu Ugian, Babu Kekered. Pada umur kehamilan sepuluh bulan lahirlah sang bayi beserta saudaranya yakni ari-ari disebut Sang Anta, tali pusar (Sang Preta), darah (Sang Kala), air ketuban (Sang Dengen). Keempat saudara ini yang memelihara semasih dalam kandungan. Ketika lahir keempat saudara tersebut berpisah dan berganti nama menjadi I Salahir (Anta), I Makahir (Preta), I Mekahir (Kala), dan I Salabir (Dengen), sedangkan badan manusia sendiri disebut dengan I Legaprana. Keempat saudara yang telah terpisah tersebut masih saling ingat satu sama lain. Kemudian kira-kira selama empat tahun kemudian, keempat saudara tersebut saling melupakan, dan menjelajahi dunianya sendiri-sendiri. I Salahir ke timur berganti nama menjadi Sang Hyang Anggapati, I Makahir ke selatan berganti nama menjadi Sanghyang Prajapati, I Mekahir ke barat menjadi Sanghyang Banaspati, I Salabir ke utara menjadi Sanghyang Banaspatiraja.

Kemudian keempat saudara tersebut dengan kuat melakukan tapa – yasa dan berganti nama lagi. Anggapati bergelar Bagawan Penyarikan berkedudukan di timur, sedangkan di badan manusia tempatnya di kulit. Prajapati bergelar Bagawan Mercukunda berkedudukan di selatan, dalam tubuh manusia letaknya di daging. Banaspati menjadi Bagawan Shindu Pati berkedudukan di Barat, dalam tebuh manusia tempatnya di urat. Banaspatiraja menjadi Bagawan Tatul, berkedudukan di utara, dalam tubuh manusia tempatnya di tulang.

Dan terakhir, berkat tapanya yang teguh, saudara empat tersebut mendapat julukan : Anggapati mendapat julukan Sang Suratma, Sang Prajapati berjuluk Sang Jogormanik, Sang Banaspati menjadi Sang Dorakala, dan Sang Banaspatiraja mendapat julukan Sang Maha Kala. Ini dalam Kanda Pat Rare.

Dalam mitologi disebutkan bahwa ketika Dewi Uma telah kembali ke Siwa Loka, maka yang tinggal di dunia adalah perwujudan beliau dengan segala sifatnya. Jasad ini kemudian oleh Dewa Brahma dihidupkan dan menjadi empat tokoh yang disebut dengan catur sanak, yakni : Anggapati menghuni badan manusia dan mahluk lainnya. Ia berwenang mengganggu manusia yang keadaannya sedang lemah atau dimasuki nafsu angkara murka. Mrajapati sebagai penghuni kuburan dan perempatan agung. Ia berhak merusak mayat yang ditanam melanggar waktu/dewasa. Juga ia boleh mengganggu orang yang memberikan dewasa yang bertentangan dengan ketentuan upacara. Banaspati menghuni sungai, batu besar. Ia berwenang mengganggu atau memakan orang yang berjalan ataupun tidur pada waktu-waktu yang dilarang oleh kala. Misalnya tengai tepet atau sandikala. Banaspatiraja, sebagai penghuni kayu-kayu besar seperti kepuh, bingin, kepah, dll yang dipandang angker. Dia boleh memakan orang yang menebang kayu atau naik pohon pada waktu yang terlarang oleh dewasa. Itu termuat dalam lontar Kanda Pat.

Dalam kanda pat Buta disebutkan bahwa Anggapati berarti kala atau nafsu di badan kita sendiri. Merajapati berarti penguasa Durga setra gandamayu. Banaspati diwujudkan berupa jin, setan, tonya sebagai penjaga sungai, jurang atau tempat kramat. Dan Banaspatiraja diwujudkan dalam bentuk barong sebagai penguasa kayu besar atau hutan. Sebagai tambahan bahwa kalau di Jawa sering disebut dengan Banaspati, yakni raksasa yang berkepala merah.

Barong berasal dari kata beruang (binatang hutan), kemudian berkembang menjadi Barung yang artinya berjalan beriringan. Seperti misalnya gambelan mebarung, artinya gambelan yang berjejer atau berbarengan. Jadi perkembangan kata barong menjadi beruang menjadi barung dan bareng, maka dapat kita artikan di sini adalah barong merupakan perwujudannya sebagai binatang hutan (beruang), dan fungsinya di dalam kehidupan social masyarakat Bali adalah sebagai beriringan atau berbarengan. Yang lebih luas kita artikan sebagai simbolisasi dari persatuan dan kesatuan masyarakat. Jadi barong juga sebagai lambang pemersatu.

Apabila kita dapat memahami hakekat dan mendalami dari ajaran kanda pat ini maka akan dapat meningkatkan kemampuan spiritual dan supranatural dari manusia itu sendiri.

Banaspati sesungguhnya gelar Hyang Siwa, yang mengendalikan kehidupan. Dimana segala kehidupan adalah ciptaan beliau. Banaspati sering digambarkan sebagai dewa yang seram yang mengerikan. Beliau juga yang menentukan nasib hidup dan kehidupan semua ciptaannya (sarwa bhutesu). Bilamana beliau dalam menjalankan tugas dan fungsinya maka beliau sebagai sosok yang tegas, seram, berlaku cepat, adil dan penentu segalanya. Dalam hal tugas untuk memberikan keadilan, maka beliau bergelar Hyang Yama, memiliki tugas mulia sebagai penegak keadilan. Dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh para tenaga andal (rencang) yakni Yama Bala. Tugas utama para Yama Bala adalah untuk menjemput dan memberikan tempat yang pas bagi para atma yang ingin menghadap Hyang Siwa.

Para atma yang baru hadir untuk menghadap Hyang Siwa tidak langsung diterima di Siwa Loka, tetapi sebelummnya dicatat terlebih dahulu oleh rencangan beliau yang bernama Sang Suratma, yang tugas utamanya adalah mencatat segala perilaku manusia ketika hidup di dalam manusia. Kemudian Yama Bala menghantarkan sang atma ke tempat khusus yang disebut dengan Tegal Penangsaran. Tempat dengan beragam kondisi sebagai tempat atma menerima perlakuan sesuai dengan kelakuannya di dunia. Ada tempat yang panas bara, menyakitkan, mengerikan, dll. Di tempat ini tidak terdapat tumbuhan, kecuali pohon-pohon yang berisi benda-benda tajam serta benda lainnya yang digunakan untuk memberikan hukuman kepada para atma.

Dalam naskah Tattwa Jnana, Hyang Siwa bersifat sadar (cetana) yang bersifat tak sadar (acetana). Pada saat beliau bersifat sadar, maka beliau memiliki hakiki sejati sebagia Siwa (Siwa Tattwa), sedangkan pada saat beliau tak sadar, maka beliau bersifat maya sesuai murthi beliau, yang digelari maya tattwa. Dalam sifat beliau sebagai cetana atau Siwa Tattwa, maka beliau meliputi Paramasiwattatwa, Sadasiwatattwa, dan Atmikatattwa. Yang utama adalah kemahakuasaan beliau yang disebut dengan cadu sakti. Dengan cadu sakti inilah beliau Hyang Siwa sebagai Banaspati, Yama, Sang Suratma dan Yama Raja, telah memerankan tugas sesuai murthi beliau.

Beliau memiliki kemahakuasaan yang dasyat yakni dapat mendengarkan segala ciptaan (durasrawana), maha melihat (duradarsana), sehingga beliau tidak dapat dibohongi dalam murtinya sebagai Banaspati, Yama Raja, Sang Suratma, dan Yamadipati.

Semua atma yang hadir untuk menghadap Hyang Siwa di Siwaloka, maka terlebih dahulu diterima oleh rencang beliau, termasuk juga para cikrabala Hyang Siwa. Setelah semua tuntas proses penerimaan, pencatatan, pemberian hukuman, maka sebagai pemutus utama adalah Hyang Siwa, apakah diterima di alam niskala atau tidak. Apabila perbuatannya baik, maka ia akan diterima di swarga. Namun demikian, masih ada lagi yang wajib dilunasi yakni adanya dosa-dosa yang luas. Maka pada saat itulah sang atma dikembalikan ke alam manusia (menjelma) dinamai swargasyuta.

Oleh Ahmad Prajoko

sumber http://www.parissweethome.com

Oleh: Gusti Sudiartama | Januari 4, 2011

2010 in review

The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here’s a high level summary of its overall blog health:

Healthy blog!

The Blog-Health-o-Meter™ reads Fresher than ever.

Crunchy numbers

Featured image

A helper monkey made this abstract painting, inspired by your stats.

A Boeing 747-400 passenger jet can hold 416 passengers. This blog was viewed about 2,600 times in 2010. That’s about 6 full 747s.

 

In 2010, there were 19 new posts, growing the total archive of this blog to 37 posts. There were 39 pictures uploaded, taking up a total of 14mb. That’s about 3 pictures per month.

The busiest day of the year was January 14th with 68 views. The most popular post that day was Puja Mantra Siwaratri.

Where did they come from?

The top referring sites in 2010 were facebook.com, id.wordpress.com, google.co.id, lintasberita.com, and ads.masbuchin.com.

Some visitors came searching, mostly for sundarigama, mantra siwaratri, manusa yadnya, hari kiamat menurut hindu, and lontar kanda pat.

Attractions in 2010

These are the posts and pages that got the most views in 2010.

1

Puja Mantra Siwaratri May 2009

2

Upacara Manusa Yadnya November 2009

3

DOA dan MANTRAM May 2009

4

Pustaka Lontar July 2010

5

Cara Mendekatkan Diri Dengan KANDAPAT November 2009

Oleh: Gusti Sudiartama | Januari 2, 2011

Tatacara Pelaksanaan Upacara Siwaratri

  1. Pengertian.
    Siwaratri adalah hari suci untuk melaksanakan pemujaan ke hadapan Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa dalam perwujudannya sebagai Sang Hyang Siwa. Hari Siwaratri mempunyai makna khusus bagi umat manusia, karena pada hari tersebut Sang Hyang Siwa beryoga. Sehubungan dengan itu umat Hindu melaksanakan kegiatan yang mengarah pada usaha penyucian diri, pemusatan pikiran ke hadapan Sang Hyang Siwa, dalam usaha memunculkan kesadaran diri (atutur ikang atma ri jatinya). Hal itu diwujudkan dengan pelaksanaan brata berupa upawasa, monabrata dan jagra. Siwarâtri juga disebut hari suci pajagran.
  1. Waktu Pelaksanaan.
    Siwarâtri jatuh pada hari Catur Dasi Krsna paksa bulan Magha (panglong ping 14 sasih Kapitu).
  2. Brata Siwarâtri.
    Brata Siwarâtri terdiri dari: 

    1. Utama, melaksanakan:
      1. Monabrata (berdiam diri dan tidak berbicara).
      2. Upawasa (tidak makan dan tidak minum).
      3. Jagra (berjaga, tidak tidur).
    2. Madhya, melaksanakan:
      1. Upawasa.
      2. Jagra.
    3. Nista, hanya melaksanakan:
      Jagra.
  3. Tata cara melaksanakan Upacara Siwarâtri.
    1. Untuk Sang Sadhaka sesuai dengan dharmaning kawikon.
    2. Untuk Walaka, didahului dengan melaksanakan sucilaksana (mapaheningan) pada pagi hari panglong ping 14 sasih Kapitu. Upacara dimulai pada hari menjelang malam dengan urutan sebagai berikut:
      1. Maprayascita sebagai pembersihan pikiran dan batin.
      2. Ngaturang banten pajati di Sanggar Surya disertai persembahyangan ke hadapan Sang Hyang Surya, mohon kesaksian- Nya.
      3. Sembahyang ke hadapan leluhur yang telah sidha dewata mohon bantuan dan tuntunannya.
      4. Ngaturang banten pajati ke hadapan Sang Hyang Siwa. Banten ditempatkan pada Sanggar Tutuan atau Palinggih Padma atau dapat pula pada Piasan di Pamerajan atau Sanggah. Kalau semuanya tidak ada, dapat pula diletakkan pada suatu tempat di halaman terbuka yang dipandang wajar serta diikuti sembahyang yang ditujukan kepada:
        – Sang Hyang Siwa.
        – Dewa Samodaya.
        Setelah sembahyang dilanjutkan dengan nunas tirta pakuluh. Terakhir adalah masegeh di bawah di hadapan Sanggar Surya.
      5. Sementara proses itu berlangsung agar tetap mentaati upowasa dan jagra.
        Upawasa berlangsung dan pagi hari pada panglong ping 14 sasih Kapitu sampai dengan besok paginya (24 jam).
        Setelah itu sampai malam (12 jam) sudah bisa makan nasi putih berisi garam dan minum air putih.
        Jagra yang dimulai sejak panglong ping 14 berakhir besok harinya jam 18.00 (36 jam).
      6. Persembahyangan seperti tersebut dalam nomor 4 di atas, dilakukan tiga kali, yaitu pada hari menjelang malam panglong ping 14 sasih Kapitu, pada tengah malam dan besoknya menjelang pagi  sumber:            http://www.Babadbali.com

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori